Kamis, 10 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 001-02

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID 001-02*

Pengawal yang pernah mengalami sirep sebelumnya menjadi pucat. Dengan nada gemetar ia berkata, “Sirep itu telah terulang”

Dengan tidak menunggu tanggapan, ia pun segera meloncat berdiri dan berlari ke bilik penyimpanan. Sekali lagi la terkejut, ia melihat dua batang tombak pendek bersilang di lantai di depan pintu.

“Senjata siapa?”ia bertanya kepada diri sendiri. Pengawal itu terkejut ketika ia melihat tutup peti itu bergeser.

Hampir berteriak ia berkata, “Peti itu terbuka”

Para pengawal pun telah berlari-lari ke bilik itu. Bahkan pengawal yang terluka pun telah mendekat pula.

“Pintu ini bergeser” desis pengawal yang pertama melihat peti itu.

“Lihat isinya” sahut yang lain.

Dengan dada yang berdebar-debar mereka membuka tutup peti itu. Namun ternyata peti-peti kecil di dalam peti yang besar itu masih tetap berada di tempatnya. Ketika satu demi satu peti itu dilihat, maka isinya masih seperti semula. Demikian pula peti-peti kecil pada peti yang sebuah lagi.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” bertanya pengawal itu tanpa sasaran.

Namun seorang peronda telah menjawab Telah terjadi pertempuran di halaman. Beberapa orang terluka, bahkan ada yang mungkin telah terbunuh. Sementara beberapa orang yang lain terikat di pepohonan, “

“Apakah kau mengigau?” geram seorang pengawal

“Lihat sendiri” jawab peronda itu. “Kalian yang melakukannya?” bertanya pengawal itu pula.

“Aku kira kalianlah yang melakukannya” jawab peronda itu dengan heran.

Sejenak mereka saling berpandangan. Namun merekapun kemudian telah menghambur berlari ke halaman.

Sebenarnyalah mereka melihat beberapa orang terbaring ditanah. Darah memerah di tubuh mereka. Sementara beberapa orang yang lain telah terikat di batang pepohonan.

Dengan serta merta seorang pengawal berlari ke arah seorang di antara mereka yang terikat. Dengan garang sambil mengacukan pedang ke dada orang yang terikat itu ia bertanya, “Siapa kau, he? Apa maksudmu dan apa yang telah terjadi. Katakan yang sebenarnya. Jika kau berbohong, maka aku akan memenggal kepalamu tanpa melepaskan ikatanmu lebih dahulu”

Bentakkan itu telah menggetarkan nalar orang yang terikat itu, sehingga hampir diluar kehendaknya, orang itupun telah mengatakan apa yang terjadi atas dirinya.

Sejak mereka memasuki padukuhan itu, melepaskan sirep dan semuanya yang mereka dengar dan saksikan pada kedua anak muda yang menyebut diri mereka berasal dari benda-benda keramat itu, bagaimana kedua orang anak muda itu mengeluh ketika langit menjadi terang, namun dengan demikian sikap mereka menjadi semakin garang.

“Mereka tidak mau kamanungsan” bertanya orang yang terikat itu.

“Keduanya bersenjata tombak pendek?” bertanya pengawal itu.

“Ya” jawab orang yang terikat.

Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan kerut dikeningnya ia berkata, “Sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh orang itu telah terjadi. Kedua anak muda itu telah muncul kembali pada saat-saat yang paling gawat. Mereka tidak sempat membangunkan kita, tetapi mereka telah menyelesaikan tugas itu dengan tuntas. Kedua senjata itu terletak di muka bilik penyimpanan, sedangkan tutup peti itu telah bergeser sedikit Para pengawal yang lain pun mengangguk angguk. Seorang pengawal yang baru datang kemudian berkala Semula aku mengira bahwa semuanya itu hanyalah dongeng ngayawara. Tetapi agaknya apa yang aku anggap dongeng itu telah benar-benar terjadi”

“Ya. Dua orang anak muda” desis yang lain, “tetapi kami tidak tahu. Pusaka yang manakah yang telah menjelma menjadi kedua orang anak muda itu?”

“Topeng emas?” desis yang lain.

“Topeng itu hanya satu. Tentu bukan topeng itu” jawab kawannya.

Tetapi mereka tidak sempat berbantah. Mereka pun kemudian menjadi sibuk mengurusi orang-orang yang terluka dan mengalami keadaan yang gawat. Bahkan orang bertubuh tinggi dengan perut yang besar itu ternyata tidak dapat tertolong lagi jiwanya.

Darahnya terlalu banyak mengalir dari tubuhnya, sementara seorang pengikutnya telah terbunuh pula. Sementara yang lain masih mempunyai kemungkinan untuk hidup meskipun terluka parah.

Dalam pada itu, kegemparan telah terjadi di padukuhan itu.

Orang-orang yang mulai terbangun setelah dicengkam oleh sirep itupun telah turun ke jalan-jalan. Mereka mulai membicarakan apa yang telah terjadi. Dan ceritera yang mereka dengar tentang peristiwa di banjar itu pun mulai merambat dari mulut ke mulut.

“Luar biasa” berkata seseorang, “pusaka-pusaka itu benar-benar benda-benda keramat”

“Sungguh di luar akal bahwa benda-benda di dalam peti itu dapat menjelma menjadi dua orang anak muda” sahut yang lain.

Beberapa orang bahkan telah pergi ke banjar untuk memastikan ceritera yang mereka dengar. Sementara itu, orang yang akan di wisuda menjadi Buyut itu pun telah berlari-lari kecil menuju ke banjar bersama beberapa orang kawan-kawannya.

Di banjar ia telah menemui sesuatu yang memang sangat mengejutkan. Namun ternyata bahwa barang-barang yang ada didalam peti itu masih utuh.

“Dua malam berturut-turut kita mendapat cobaan” berkata calon buyut di padukuhan itu.

“Ya. Dua malam berturut-turut. Memang tidak masuk, akal. Terlebih lebih tentang dua orang anak muda itu jawab seorang pengawal.

Kesibukan di banjar itu menjadi semakin bertambah- tambah. Namun mereka tidak akan mengurungkan rencana untuk melakukan wisuda. Akuwu tentu akan sangat marah, jika persiapan di banjar itu tidak dilakukan sebagaimana seharusnya.

“Lupakan apa yang telah terjadi berkata pemimpin pengawal yang berada di banjar itu, “kita lanjutkan segala persiapan yang harus dilakukan menjelang tengah malam nanti. Akuwu tidak pernah terlambat melaksanakan rencana yang sudah disusun. Apalagi dalam wisuda itu diperlukan kesungguhan dan upacara sebagaimana seharusnya dilakukan”

Demikianlah, maka orang orang padukuhan itu pun telah kembali kedalam kesibukan mereka, meskipun mereka masih saja berbincang tentang peristiwa yang terjadi semalam.

“Kita tidak perlu melaporkannya” berkata seorang pengawal, “malam nanti Akuwu berada di sini. Biarlah malam nanti saja kita melaporkan sekaligus”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun salah seorang dari mereka berkata malam nanti kita harus benar- benar bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kita tidak boleh lengah. Seolah-olah yang baru saja terjadi semalam, tidak akan terulang kembali di malam berikutnya. Kita pun harus siap menghadapi sirep Apalagi saat Akuwu berada di padukuhan ini”

“Ya. Kita tidak boleh kehilangan kesadaran sebagaimana terjadi dua malam berturut turut, jika malam nanti kita digilas lagi oleh sirep itu. maka agaknya tidak akan ada ampun lagi. Baik dari orang-orang yang ingin memiliki benda benda berharga itu, maupun oleh benda-benda itu sendiri, sehingga dua orang anak muda itu tidak akan bersedia muncul kembali” berkata yang lain.

Dengan demikian, maka para pengawal itu pun telah bertekad untuk berbuat apa saja bagi tugas mereka. Mereka akan bertanggung jawab langsung kepada Akuwu. Seandainya benda-benda keramat itu benar-benar telah hilang, maka mereka akan digantung karena kelengahan mereka.

Pada hari itu, seisi padukuhan itu pun kembali di telan oleh kesibukan di banjar. Mereka melakukan persiapan-persiapan menjelang wisuda. Sementara perempuan-pun sibuk di dapur.

Namun selain di banjar, anak-anak muda di padukuhan itu telah bersiap-siap di gardu-gardu meskipun di siang hari Tidak mustahil akan terjadi sesuatu di luar dugaan dan bahkan yang tidak pernah mereka anggap dapat terjadi.

Di regol masuk padukuhan itu. beberapa anak muda berjaga-jaga dengan senjata. Mungkin mereka akan menghadapi peristiwa yang sangat tiba-tiba dan tidak masuk akal. Sementara di simpang-simpang tiga dan tikungan, anak-anak muda duduk-duduk di pinggir jalan. Hampir semuanya membawa berbagai jenis senjata yang mereka punyai. Dari tombak panjang, tombak pendek, pedang, sampai ke parang pembelah kayu. Namun sebenarnyalah mereka masih harus bertanya kepada diri sendiri, seandainya benar-benar terjadi sesuatu, apakah mereka akan dapat mempergunakan senjata mereka itu. Tetapi bahwa mereka bersiaga adalah karena mereka pun merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan benda- benda berharga yang berada di padukuhan mereka, yang berarti mereka pun ikut bertanggung jawab atas terselenggaranya wisuda yang telah direncanakan. Bahkan seandainya benda-benda keramat itu hilang, tentu beberapa orang terpenting dari padukuhan itu akan mengalami kesulitan dan harus mempertanggung-jawabkannya kepada Akuwu bersama-sama dengan para pengawalnya yang bertugas.

Namun sehari itu. tidak terjadi sesuatu yang berarti. Kesibukan di padukuhan itu pun menjadi semakin meningkat menjelang sore hari. Seperti yang direncanakan, Akuwu akan datang ke padukuhan itu menjelang senja. Ia akan berada di padukuhan itu semalam suntuk. Tengah malam wisuda akan berlangsung. Setelah upacara selesai, akan diselenggarakan bujana bersama di pendapa banjar sampai semalam suntuk.

Karena itu, maka sebuah rumah yang paling baik di sekitar banjar itu sudah disiapkan. Akuwu setelah diterima oleh para bebahu banjar itu, akan beristirahat barang sejenak di tempat yang sudah disiapkan. Baru menjelang tengah malam Akuwu akan hadir di banjar.

Sebenarnyalah bahwa tidak ada rumah yang memadai yang dapat dipergunakan bagi Akuwu. Tetapi mereka pun mengerti, bahwa Akuwu bukanlah seorang yang tidak dapat menyesuaikan diri. Akuwu adalah juga seorang Senopati. Karena itu, ia pun memiliki sifat seorang prajurit yang dapat berada di segala macam medan. Bahkan medan yang paling sulit sekalipun.

Demikianlah, menjelang saat-saat kehadiran Akuwu di padukuhan itu, suasananya menjadi semakin tenang. Anak-anak muda menjadi semakin bersiaga. Sementara para bebahu sudah berkumpul di pendapa banjar untuk menerima Akuwu yang akan segera hadir.

Sementara itu, di sepanjang jalan raya yang menjulur ke padukuhan iti, sebuah iring-iringan orang berkuda sedang melaju. Di antara mereka terdapat Akuwu yang diiringi oleh para pengawalnya Justru laporan tentang peristiwa yang gawat itu, telah mendorong Akuwu untuk berhati-hati. Ia tidak hanya diiringi oleh seorang Senopati dan delapan orang pengawal sebagaimana kebiasaannya menempuh perjalanan di daerahnya sendiri atau pada saat-saat ia berburu. Tetapi perjalanannya itu merupakan iring-iringan yang agak lebih besar. Akuwu telah membawa dua orang Senopati dan lima belas orang pengawal pilihan.

Sebagaimana direncanakan, menjelang senja Akuwu telah mendekati regol padukuhan yang sedang mempersiapkan wisuda bagi calon buyut yang akan menggantikan buyut yang terdahulu.

Ketika anak-anak muda yang berjaga-jaga melihat kehadiran sebuah iring-iringan dengan pertanda sebuah tunggul dengan sehelai kelebet kecil, maka mereka pun segera mengetahui bahwa yang hadir adalah Akuwu.

Karena itu, merekapun segera bersiap-siap. Di antara mereka telah dengan tergesa-gesa pergi ke banjar untuk memberitahukan kehadiran Akuwu itu.

Sementara Akuwu mendekati regol padukuhan. maka di sebuah gubug kecil di tengah sawah, dua orang anak muda memandangi iring-iringan itu sambil tersenyum

“Akuwu akan mendengar dongeng yang aneh itu” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya Sebenarnya aku ingin melihat, bagaimana tanggapan Akuwu tentang dongeng itu. Bahkan dari dalam peti itu telah muncul dua orang anak muda yang telah membantu para pengawal menghadapi sekelompok penjahat.

Bahkan di malam berikutnya, mereka hanya tinggal menemukan bekas-bekas pertempuran saja”

“Malam nanti kita memasuki lagi padukuhabn itu berkata Mahisa Murti.

“Tetapi tentu tidak akan ada peristiwa apapun lagi”, “Mungkin kekuatan kelompok penjahat itu benar-benar telah lumpuh. Tetapi juga karena kehadiran Akuwu yang membawa cukup banyak pengawal di samping para pengawal yang memang sudah berada di padukuhan itu” jawab Mahisa Pukat

“Kita akan menonton wisuda. Tentu banyak orang yang menonton di dalam gelapnya malam, atau di bawah obor yang remang-remang sehingga kita tidak akan dengan mudah dikenali orang” berkata Mahisa Murti kemudian.

Mahisa Pukat pun setuju. Mereka akan memasuki padukuhan itu setelah malam hari.

Sementara itu, di banjarpun telah terjadi kesibukan yang luar biasa. Akuwu yang sudah memasuki padukuhan itu pun segera diikuti oleh orang-orang padukuhan itu, sehingga terjadi sebuah iring-iringan yang panjang menuju ke banjar.

Namun dalam pada itu, akan-anak muda pun tidak menjadi lengah. Di antara mereka tetap berada di regol untuk menjaga segala kemungkinan yang mungkin timbul.

Akuwu kemudian telah diterima di banjar oleh para bebahu. Dengan disaksikan oleh para penghuni padukuhan itu, Akuwu pun kemudian naik ke pendapa banjar dan duduk di atas sebuah alas tikar pandan rangkap yang putih.

Ternyata Akuwu benar-benar seorang prajurit Sama sekali tidak nampak kecanggungan sama sekali ketika ia duduk di atas tikar. Sementara itu, para bebahu telah menghadapnya dengan wajah-wajah tunduk

Sejenak kemudian, maka Akuwu pun berkenan mendengarkan laporan segala macam persiapan bagi kelengkapan wisuda yang akan dilakukan menjelang tengah malam nanti.

Orang yang akan mendapat wisuda itu pun telah memberikan laporan sesuai dengan yang sebenarnya terjadi. Ia bukan saja melaporkan bahwa persiapan seluruhnya telah siap. Tetapi dengan jujur sesuai dengan pengertiannya, ia melaporkan bahwa sekelompok penjahat telah berniat untuk merampas barang barang keramat yang ada di banjar itu.

“Ternyata kami dan para pengawal tidak dapat berbuat banyak menghadapi para penjahat itu.” Berkata calon buyut itu lalu, “tetapi tuanku mungkin lelah mendengar, bahwa benda-beda berharga itu telah menyelamatkan dirinya sendiri. Dua orang anak muda telah muncul dari dalam peti dan bertempur bersama dengan para pengawal. Sementara pada malam kedua, justru dua orang anak muda itu lah yang benar-benar telah menyelamatkan bukan saja benda-benda berharga itu, tetapi juga para pengawal yang tidak dapat melawan kekuatan sirep yang sangat tajam. Karena menurut keterangan mereka yang tertangkap hidup-hidup dan telah diikat oleh kedua orang anak muda itu di pepohonan, para penjahat itu berniat membunuh semua pengawal yang ada di banjar.”

Akuwu mengangguk-angguk. Namun katanya, “Aku yang memiliki benda-benda itu, belum mengetahui bahwa benda-benda itu dapat menjelma menjadi ujud sebagaimana ujud kita”

“Tetapi menurut penilikan hamba, demikianlah yang terjadi Akuwu” sahut calon buyut itu.

“Baiklah” berkata Akuwu, “aku tidak akan mempersoalkan itu. Tetapi kenyataan yang terjadi, benda-benda berharga itu lelah diselamatkan Bukankah begitu?”

“Hamba tuanku. Benda-benda itu masih tetap berada di tempatnya. Semuanya masih utuh dan akan dapat dipergunakan sebagai kelengkapan upacara tengah malam nanti” jawab calon buyut itu.

Akuwu mengangguk-angguk. Meskipun demikian ceritera tentang benda-benda keramat itu memang menarik perhatiannya. Tetapi ceritera tentang anak-anak muda itu justru baru didengarnya saat itu. Meskipun demikian Akuwu tidak bertanya lebjh lanjut. Setelah ia mendapat kepastian bahwa benda-benda keramat itu masih tetap utuh dan siap dipergunakan, maka Akuwu itu pun berkata, “Aku akan beristirahat. Nanti menjelang tengah malam upacara akan dimulai. Kedua orang Senopatiku akan mengatur segala sesuatu. Dimana benda-benda itu diletakkan, dan di mana orang yang akan menerima wisuda itu harus berada”

Dengan demikian maka Akuwu itu pun meninggalkan banjar. Sebagaimana telah dipersiapkan, maka Akuwu itupun kemudian telah dipersilahkan singgah di rumah yang dianggap paling baik di sebelah banjar itu. Ternyata Akuwu pun tidak kecewa. Akuwu masuk ke dalam sebagaimana ia memasuki rumahnya sendiri. Kemudian kepada seorang pengawalnya ia berkata, “Aku akan beristirahat di amben ini”

Pengawalnya yang sudah terbiasa melayani Akuwu itupun tidak ragu-ragu pula. Iapun menerima kelengkapan pakaian Akuwu. Sebilah keris dan ikat kepalanya.

Sebagaimana orang kebanyakan, Akuwu pun kemudian berbaring di atas amben bambu yang dibentangi tikar pandan yang putih bergaris biru. Nampaknya memang nyaman sekali. Sementara dua orang pengawal duduk di sebelah. Seorang di antaranya mengamati keris pusaka Akuwu yang dilepas karena Akuwu hendak berbaring.

Sementara itu. di banjar pun segala persiapan telah diselenggarakan. Pusaka-pusaka yang berada di dalam peti telah dikeluarkan dari peti yang besar. Pusaka-pusaka itu diletakkan pada sebuah babut yang berwarna merah yang juga dibawa dari istana Akuwu. Sebuah mangkuk berisi air diletakkan di pinggir babut itu ditaburi dengan kembang setaman.

Kedua orang Senopati kepercayaan Akuwu itulah yang mengatur segalanya. Mereka sudah terbiasa melakukan hal yahng serupa dalam wisuda buyut di padukuhan-padukuhan lain.

Di paling dekat dengan mangkuk air itu adalah sebilah keris yang besar, luk tiga belas dan di sebelahnya adalah topeng yang berwarna kuning mengkilap. Topeng wajah seorang laki-laki yang garang tetapi berwatak kesatria.

Dalam pada itu, kedua Senopati yang juga mendengar ceritera tentang kedua orang anak muda itu dengan ragu- ragu memperhatikan topeng dan keris itu. Bahkan salah seorang di antara mereka berkata, “Apakah kedua pusaka itu yang telah menjelma menjadi kedua orang anak muda itu?”

“Nampaknya bukan” jawab yang lain, “bukankah menurut beberapa orang yang melengkapi ceritera itu mengatakan, bahwa kedua orang anak muda itu telah menyebut kakang atau saudara tua?”

Senopati yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Tawanan itu memang mendengar anak-anak muda itu mengatakan tentang saudara tua. Bahkan dikatakan bahwa jika saudara tua itu marah, maka seolah-olah bumi ini mau kiamat”

“Mungkin topeng itulah yang dimaksud dengan saudara tua” desis Senopati yang pertama.

Yang lain tidak menjawab. Hal itu akan tetap menjadi teka-teki, karena sudah barang tentu, anak-anak muda yang sebenarnya adalah pusaka-pusaka itu tidak akan menampakkan diri pada setiap saat.

Dalam pada itu, saat-saat wisuda pun menjadi semakin dekat. Orang-orang sudah berkerumun di sekeliling pendapa. Mereka akan menyaksikan Sang Akuwu mewisuda anak Ki Buyut yang sudah meninggal itu menjadi seorang Buyut yang baru.

Seperti biasa, maka dalam wisuda itu Akuwu akan menyentuh air di dalam mangkuk itu dengan topeng emas yang keramat. Kemudian Akuwu akan menarik keris besar luk tiga belas itu dan mencelup ujungnya ke dalam air di- mangkuk itu pula. Baru kemudian, Akuwu akan memercikkan air itu kepada pusaka-pusaka lain dalam upacara itu dan sekaligus kepada orang yang sedang menerima wisuda itu, mengesahkan kedudukan orang itu menjadi Buyut.

Dalam pada itu, Ki Buyut yang baru itu harus mengenakan topeng itu meskipun hanya sekejap sambil menunduhkan kepalanya, sementara Sang Akuwu akan meletakkan ujung keris yang besar itu dikepalanya.

Baru setelah upacara itu selesai, orang yang menerima wisuda itu syah menjadi seorang Buyut dan bertindak sebagaimana seorang pemimpin dari Kabuyutannya.

Dalam pada itu, di antara orang-orang yang berkerumun itu terdapat dua orang anak muda yang memasuki padukuhan itu tidak melalui regol yang masih dijaga. Di antara orang yang banyak itu, mereka dapat menyaksikan apa yang akan dilakukan di pendapa.

Apalagi ketika saatnya telah tiba. Menjelang tengah malam, maka halaman banjar itu telah menjadi penuh sesak. Alangkah sulitnya menyibakkan sekian banyak orang di halaman untuk lewat Sang Akuwu yang akan melakukan wisuda. Para pengawal berialan di sebelah menyebelah dengan senjata terhunus. Sementara dua orang Senopatinya berjalan selangkah di hadapan Akuwu.

Ketika Akuwu naik tangga pendapa, maka terdengar ak bagaikan membelah langit. Semua orang yang ada di halaman itu mengangkat tangan sambil berteriak-teriak sekerasnya. Baru ketika Akuwu duduk di atas tikar, maka suasana menjadi tenang. Tetapi sejenak kemudian mereka mulai berdesakan lagi, karena mereka ingin melihat apa yang sednag dilakukan oleh Akuwu yang sedang duduk itu.

Sejenak kemudian terdengar sesorah dari babahu tertua di padukuhan itu Kemudian Senapati kepercayaan Akuwu itupun bergeser mendekati benda benda keramat yang ada di atas babut berwarna merah itu.

Seorang di antara kedua Senapati itu pun kemudian memberikan beberapa keterangan dan penjelasan.

Sejenak kemudian maka upacara itu pun telah dimulai. Kedua Senapati itu telah membantu Akuwu yang mewisuda calon Buyut uang menggantikan ayahnya yang telah meninggal.

Dengan singkat Akuwu memberikan sesorah dan kemudian, petuah-petuah. Kewajiban dan hak seorang Buyut. Dan kesanggupan calon Buyut itu untuk menyanggupinya.

Baru kemudian Akuwu mulai dengan upacara yang sesungguhnya dari wisuda itu sebagaimana yang selalu dilakukan oleh Akuwu.

Pada saat terakhir, maka orang yang menerima wisuda itu pun mengenakan topeng yang berwarna kuning cemerlang itu. Sambil menundukkan kepalanya dan mengenakan topeng itu. orang yang diwisuda itu pun mendapat beberapa percikan air kembang selapanan. Kemudian Akuwu telah meletakkan keris luk tiga belas di atas kepalanya sambil mengucapkan beberapa kalimat pendek yang pada dasarnya Akuwu telah mengesahkan kedudukan orang itu menjadi seorang Buyut.

Pada saat yang demikian, maka orang-orang yang berada di sekitar pendapa itu pun telah bersorak. Mereka bergembira karena seiak saat itu mereka telah mempunyai seorang Buyut yang sah.

Demikianlah maka wisuda itu pun selesai, yang akan berlangsung kemudian tinggalah bujana yang akan diselenggarakan pendapa itu juga sambil berjaga jaga semalam suntuk, termasuk Akuwu sendiri.

Karena itulah maka perhatian orang kepada mereka yang berada di pendapa itupun mulai berkurang. Meskipun orang-orang yang berada di halaman itu tidak segera beranjak pergi, tetapi mereka tidak lagi dicengkam oleh ketegangan upacara wisuda itu.

Karena itulah, maka orang-orang di halaman itu pun mulai saling berbicara di antara mereka. Orang-orang itu mulai memperhatikan siapa yang berdiri di sebelahnya. Mungkin tetangga dekatnya, mungkin orang yang tinggal di sudut padukuhan. mungkin orang lain yang tinggal agak jauh. Namun pada umumnya mereka telah saling mengenal.

Tetapi di antara mereka ternyata telah berdiri di se belah seorang anak muda yang belum dikenalnya Bahkan seorang anak muda lagi berdiri di sisi anak muda yang pertama.

Dua orang anak muda yang belum dikenal sama sekali. Karena itu, maka orang itu pun tiba-tiba telah bertanya, “He, siapakah kau anak muda?”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Keduanya tidak segera menjawab. Namun nampak kegelisahan tercermin di sikap mereka.

“He, siapakah kau?” desak orang itu.

“He, kau siapa?” orang itu mendesak lagi.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang menjadi bingung. Bagaimana mereka harus menjawab. Mereka pun menyadari, bahwa pada umumnya orang-orang padukuhan itu tentu sudah saling mengenal. Sehingga kehadiran mereka tentu merupakan hal yang dapat menarik perhatian.

Tetapi kedua anak muda itu tidak sempat berpikir. Beberapa orang di sekitarnya telah berpaling pula ke arah mereka dengan tatapan mata bertanya-tanya.

Ternyata orang-orang itu sama sekali tidak teringat akan ceritera tentang dua orang anak muda yang hadir dua malam berturut-turut. Menurut gambaran mereka, kedua orang anak muda yang terdiri dari kekuatan gaib pusaka- pusaka yang berada di atas kabut merah itu, tentulah anak- anak muda yang gagah, tampan dan berpakaian sangat menarik. Mungkin wajah mereka bercahaya sedangkan sorot mata mereka bagaikan kilatan cahaya tatit dilangit. Sedangkan kedua orang anak muda yang berdiri di sebelahnya itu adalah anak muda dalam pakaian yang kusut dan berwajah muram.

Karena itu. ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih termangu-mangu maka orang yang bertanya kepadanya itu telah membentak, “He, sebut, siapa kalian he?”
“Kami datang dari padukuhan sebelah” jawab Mahisa Murti di luar sadar.

“Dari padukuhan mana? Anak siapa? Aku mengenal semua orang di sekitar padukuhan ini” jawab orang itu.

Mahisa Murti menjadi semakin bingung, sementara orang-orang yang berdiri di sekitarnya telah mengerumuninya.

Tiba-tiba seorang di antara mereka berkata, “Apakah kau salah seorang dari perampok-perampok yang akan mengacaukan wisuda ini seperti dua malam berturut-turut?”

“Tidak. Aku hanya ingin melihat wisuda ini” jawab Mahisa Murti.

“Tentu kau anggota perampok itu” geram seorang bertubuh pendek. Lalu, “Dengar, kawan-kawanmu telah kena kutuk pusaka pusaka itu. Kawan-kawanmu telah dihancurkan oleh kekuatan pusaka itu sendiri. Dan sekarang kau datang untuk mencurinya he? Apakah kau tidak takut kuwalat?”

Kedua anak muda itu menjadi semakin bimbang. Apakah mereka akan mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi sebelum mereka sempat menemukan keputusan, terdengar seorang berkata, “Tangkap saja. Kita serahkan saja kepada para pengawal”

“Gila” geram anak-anak muda itu di dalam hatinya.

Tetapi nampaknya orang-orang itu benar-benar akan melakukannya. Mereka agaknya benar-benar akan menangkap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Beberapa orang telah menyibak, ketika ampat orang laki-laki berusaha mengepung kedua orang anak muda. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi bimbang menghadapi orang-orang itu. Namun akhirnya Mahisa Murti berbisik di telinga Mahisa Pukat “Kita harus menghindar dari keadaan yang tidak menguntungkan ini. Aku ingin memukul orang pendek itu sekali saja” jawab Mahisa Pukat.

“Jangan membuat perkara di sini. Wisuda itu dapat terganggu karena pokalmu itu” jawab Mahisa Murti.

Tetapi Mahisa Pukat tidak senang melihat sikap orang bertubuh pendek itu. Meskipun demikian ia tidak dapat membantah niat Mahisa Murti.

Dalam pada itu, maka empat orang laki laki itu sudah siap menangkap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sementara beberapa orang yang berada di sekitarnya seolah-olah telah bersiap-siap untuk membantu keempat orang itu.

“Baiklah berkata Mahisa Murti” jika kalian tidak senang melihat kehadiranku di sini. Biarlah aku pergi meninggalkan halaman ini”

Tetapi jawaban orang bertubuh pendek itu sangat menjengkelkan. Katanya, “Kami tidak dapat melepaskan kau. Kau sudah melihat keadaan di banjar ini. Kau akan memberitahukan kepada kawan-kawanmu. Sebentar lagi mereka akan datang untuk merampok seisi banjar ini”

Tetapi Mahisa Murti menjawab, “Sudah aku katakan, bahwa kami hanya ingin melihat wisuda itu. Seandainya kami bermaksud jahat, apakah yang akan dapat kami kerjakan. Di sini ada sepasukan pengawal di samping Akuwu sendiri yang tentu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Selain itu anak-anak muda padukuhan ini berjaga-jaga di segala tempat. Apakah dengan demikian ada sekelompok orang akan berani mengusik padukuhan ini pada saat yang demikian”

“Persetan” jawab orang pendek itu, “kau pandai mencari alasan untuk membebaskan diri dari tangkapan kami. Bagaimanapun juga kami akan menangkapmu. Katakan nanti segala ceriteramu itu kepada para pemimpin kami dan barangkali kepada para pengawal itu.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang-orang itu benar-benar akan menangkapnya, sehingga karena itu. maka ia pun harus segera mengambil sikap.

Dalam keadaan yang paling gawat itu. maka Mahisa Murti pun sempat berbisik, “Kita melarikan diri”

Sebenarnya Mahisa Pukat segan berbuat demikian. Tetapi ia tidak menolak. Agaknya Mahisa Murti benar- benar tidak ingin mengganggu acara yang ada di pendapa. Karena itu, maka setelah memberi isyarat kepada Mahisa Pukat. Mahisa Murti pun dengan tiba-tiba telah menyibakkan orang-orang di sekitarnya diikuti oleh Mahisa Pukat.

Yang dilakukan itu demikian cepatnya sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya, terkejut karenanya, karena mereka tidak menduga hal itu akan terjadi. Beberapa orang terdorong sehingga hampir terlentang. Sementara yang lain terdesak kesamping.

“Gila” geram orang bertubuh pendek.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah berlari keluar dari kerumunan orang orang yang berada dihalaman itu.

Ternyata hiruk pikuk itu telah menarik perhatian. Beberapa orang segera mendekat. Namun dalam pada itu. beberapa orang telah sempat mengejar kedua orang anak muda yang berlari itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak dapat berlari keluar lewat pintu regol yang dijaga oleh beberapa orang anak muda. Karena itu. maka mereka pun telah berlari meloncati dinding halaman banjar itu.

Beberapa orang memang mengejarnya. Beberapa orang dengan susah payah telah meloncati dinding itu pula, sementara beberapa orang lain telah berlari menghambur ke luar regol.

“Ada apa?” beberapa orang anak muda bertanya kepada orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu.

Seseorang di antara mereka telah berceritera tentang orang-orang yang agaknya telah dikirim oleh para penjahat untuk melihat-lihat kemungkinan dihalaman banjar ini.

Beberapa orang anak muda tidak sempat bertanya lebih jauh. Merekapun segera berlari menyusul orang-orang yang sudah terdahulu dengan senjata di tangan.

Ternyata hal itu menarik perhatian para pengawal yang mengamati keadaan. Dua orang pengawal telah mendatangi tempat yang ribut itu. Dengan singkat mereka pun telah mendapat keterangan tentang orang-orang yang mencurigakan itu.

Setelah melapor kepada kawannya, maka kedua orang pengawal itu telah menyusul pula anak-anak muda yang telah mendahului. Dengan keributan itu. maka upacara agak terganggu Untunglah bahwa acara pokok, wisuda itu lelah diselesaikan. Sehingga yang tinggal hanyalah rangkaian acara yang tidak terlalu penting.

Hal itu telah dilaporkan pula oleh salah seorang Senapati yang telah mendengarnya, kepadaAkuwu. Namun nampaknya Akuwu tetap tenang duduk di tempatnya. Sehingga karena itu, maka upacara itu pun dapat dilangsungkan sesuai dengan rencana.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan sengaja tidak mau meninggalkan orang-orang yang mengejarnya. Karena itu ketika Mahisa Murti menunggunya sejenak dan mengejarnya, Mahisa Pukat menjawab, Aku akan mengajak mereka berlari-lari menjelang dini hari”

“Kenapa tidak kita tinggalkan saja mereka?” bertanya Mahisa Murti.

Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia tertawa saja. Sebenarnyalah, orang-orang yang mengejar mereka tidak tertinggal terlalu jauh di belakang kedua anak muda itu.

Mahisa Murti hanya menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud Mahisa Pukat. Sebenarnya Mahisa Murti tidak ingin berbuat demikian. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan Mahisa Pukat. Karena itu keduanya berlari tidak sepenuh kemampuan mereka. Bahkan mereka telah menyesuaikan kecepatan mereka dengan orang-orang yang mengejar.

Beberapa orang yang menyusul di belakang orang-orang yang mengejar kedua anak muda itu telah membawa obor-obor minyak yang besar. Karena itu, maka malam itu pun menjadi riuh, justru di luar halaman banjar Di halaman banjar sendiri, keadaannya justru telah menjadi tenang.

Apalagi ketika orang-orang di halaman itu melihat Akuwu tetap tenang-tenang saja. Di sekitar pendapa itu terdapat para pengawal yang bersiaga.

Bahkan bujana di banjar itu berjalan sebagaimana direncanakan. Orang-orang yang berada di halamanpun dapat ikut makan bersama dengan Akuwu di pendapa. Tetapi mereka harus mengambil bagian mereka di tempat lain yang sudah ditentukan.

Dalam pada, itu para pengawal di luar banjarlah yang berkejaran. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menuju keregol padukunan. Mereka tahu bahwa regol itu tentu dijaga. Jika mereka memaksa diri melalui regol, berarti mereka harus berkelahi. Meskipun tentu tidak akan ada seorang pun yang dapat menahan mereka, tetapi mereka berniat untuk menghindari pertempuran.

Karena itu, maka keduanya te ah berlari menuju ke dinding padukuhan. Tetapi Mahisa Pukat sengaja memilih daerah yang tidak terlalu jauh dari regol.

“Kenapa di situ?” bertanya Mahisa Murti.

“Jika mereka melalui regol biarlah jaraknya tidak terlalu jauh. sehingga mereka tidak kehilangan kita. jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti tidak membantah, meskipun sebenarnya ia tidak sependapat. Karena itu, maka mereka pun telah berlari seolah-olah menuju ke regol. Karena itu, maka orang-orang yang memburunya itu telah berteriak-teriak memberikan isyarat kepada para penjaga regol.

Orang-orang yang mengejar itu sengaja tidak membunyikan isyarat kentongan justru karena Akuwu berada di banjar, sehingga tidak memberikan kesan menggelisahkan.

Orang-orang yang berada di regol itu pun telah mendengar teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. Karena itu, maka mereka pun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

“Jangan biarkan mereka lolos” teriak salah seorang di antara mereka yang mengejar.

Anak-anak muda yang berada di regol itu pun justru memencar. Mereka sudah menggenggam senjata di tangan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat anak-anak muda diregol sudah bersiap. Obor yang tersedia telah dinyalakan pula disamping obor yang memang sudah menyala di regol itu.

Namun ternyata bahwa Mahisa Pukat telah berbelok. Ia tidak benar-benar menuju keregol. Tetapi ia menuju ke dinding di sebelah regol. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat meloncat disusul oleh Mahisa Murti.

Yang dilakukan oleh anak-anak muda itu sangat mengejutkan. Orang-orang diregol itu tidak mengira bahwa kedua anak muda itu akan meloncati dinding.

“Jangan sampai lepas” teriak orang-orang yang mengejarnya.

Bahkan dua orang pengawal yang ikut di antara anak-anak muda yang mengejar itu pun telah sampai ke regol pula. Beberapa orang tidak mengejar kedua anak muda itu, dengan meloncat dinding padukuhan. Mereka berlari melalui regol dan berusaha memotong arah kedua anak muda itu di luar dinding.

Namun ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah lebih dahulu meloncat turun. Mereka pun kemudian berlari menyusuri dinding padukuhan.

Orang-orang yang mengejarnya masih saja berlari-lari di belakang kedua anak muda itu. Sebagaimana diatur oleh Mahisa Pukat, jarak di antara mereka tidak begitu jauh. Bahkan seolah-olah orang-orang yang mengejar itu hampir dapat menyusulnya. Tetapi jarak di antara merekapun telah bertambah lagi.

Kedua pengawal yang ada di antara mereka yang mengejar itupun kemudian justru berada di paling depan. Ia memiliki kemampuan tubuh melampaui orang-orang padukuhan itu. Sesuai dengan tugas mereka, maka mereka dapat berbuat lebih banyak dari anak-anak muda yang semakin lama menjadi semakin ketinggalan.

“Berhenti” teriak salah seorang dari kedua pengawal itu. Tetapi Mahisa Pukat dan Mahisa Murti berlari terus.

Ketika mereka sampai di sebuah simpang tiga, maka mereka telah memilih jalan berbelok yang menuju ke sebuah bulak yang panjang.

Kedua pengawal itu tidak berhenti. Mereka masih mengejar terus. Apalagi kadang-kadang seakan-akan mereka hampir berhasil mengejar kedua anak muda itu. Tetapi dengan kemarahan yang memuncak mereka harus menyaksikan jarak di antara mereka dengan orang yang mereka kejar itu menjadi semakin panjang.

Di belakang mereka, anak-anak muda padukuhan itu masih mengejar pula. Ada juga di antara mereka yang masih membawa obor di tangan.

“Apa yang kau maui Mahisa Pukat?” bertanya Mahisa Murti.

“Sekedar berkejaran” jawab Mahisa Pukat.

“Apakah masih belum cukup?” bertanya Mahisa Murti.

“Biarlah mereka berhenti dengan sendirinya” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti hanya dapat menggelengkan kepalanya. Mahisa Pukat agaknya masih marah kepada orang-orang padukuhan itu, sehingga ia ingin membalas dengan membuat mereka marah pula.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, mereka telah berkejaran di bulak yang panjang.

Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain, kecuali mengikuti saudara laki-lakinya yang marah itu. Ia pun ikut berlari-lari di sepanjang bulak, sementara di belakang mereka orang-orang padukuhan mengejar sambil berteriak-teriak Di paling depan terdapat dua orang pengawal yang marah. Apalagi Mahisa Pukat dengan sengaja telah membuat mereka marah. Sekali sekali ia dengan sengaja membiarkan dirinya hampir tertangkap. Namun kemudian ia berlari semakin cepat, sehingga jaraknya menjadi semakin jauh.

Seperti yang dikehendaki oleh Mahisa Pukat, maka orang-orang yang mengejarnya itu pun semakin marah. Mereka berteriak-teriak tidak menentu. Apalagi jika jarak mereka tinggal dua langkah. Seolah-olah tangan pengawal yang di paling depan itu dapat menggapai pundak Mahisa Pukat. Namun usaha mereka sia-sia. Karena Mahisa Pukat pun kemudian menjadi semakin jauh sambil sekali-kali berpaling.

Mahisa Murti yang kemudian berada di depan Mahisa Pukat, kadang-kadang terlalu cepat berlari, sehingga ia pun harus menunggu. Tetapi ia pun kemudian menjadi tidak telaten. Katanya kepada Mahisa Pukat, “Kita tinggalkan saja mereka”

“Jangan kau rusakkan permainanku” jawab Mahisa Pukat.

“Apakah keuntunganmu dengan permainan ini?” desis Mahisa Murti.

“Mereka akan menganggap kita sebagaimana mereka. Dan kita akan dapat membuat mereka menjadi lelah. Itu adalah salah mereka sendiri” jawab Mahisa Pukat.

“Aku akan berlari mendahului” berkata Mahisa Murti., “Terserah kepadamu” jawab Mahisa Pukat. Mahisa Murti menjadi jengkel. Tetapi ia tidak dapat mencegah tingkah laku Mahisa Pukat itu. Ia benar-benar ingin membalas sakit hatinya dengan caranya.

Sebenarnyalah, orang-orang yang mengejarnya menjadi letih. Bahkan pengawal yang berada di paling depan itu pun menjadi letih. Keduanya merasa bahwa mereka tidak akan dapat mengejar dan menangkap kedua orang buruan itu dengan caranya. Karena itu maka mereka pun mulai mengancam “Jika kalian tidak berhenti, aku akan melakukan sikap yang lebih keras” berkata salah seorang dari kedua orang pengawal itu.

“Apa yang dapat tuan lakukan terhadap kami yang tidak dapat tuan tangkap?” bertanya Mahisa Pukat sambil berlari.

“Jangan menyangka kalian dapat lepas dari tangan kami” bentak pengawal itu.

“Kalian tidak dapat menyusul kami” jawab Mahisa Pukat pula

“Sebentar lagi kalian akan kami ikat” bentak pengawal lain.

Tetapi Mahisa Pukat justru tertawa. Namun sebenarnyalah orang-orang yang mengejarnya tidak dapat menggapainya.

Namun dalam kemarahan yang memuncak, pengawal itu ternyata tidak mempunyai pilihan lain kecuali menghentikan kedua orang yang dikejarnya, atau salah seorang, daripadanya. Jika salah seorang di antara mereka dapat di tangkap maka yang lain pun akan dapat ditangkap pula.

Karena itu, maka seorang di antara kedua pengawal itu telah mencabut pisau belati kecilnya. Sekali lagi ia meng geram, “Aku akan menangkapmu dengan cara yang tidak kau sukai jika kau tetap tidak mau berhenti”

Mahisa Murti menjadi curiga. Kata-kata itu tentu bukan sekedar untuk menakuti-nakuti. Karena itu, maka iapun lelah berhenti menunggu Mahisa Pukat sambil berkata

“Hati-hati. Orang itu bersungguh-sungguh”

Mahisa Pukat pun mempunyai perhitungan serupa. Karena itu, sebelum hal-hal yang tidak dikehendakinya terjadi, sehingga dapat membuatnya menjadi benar-benar marah, maka Mahisa Pukat pun memutuskan untuk menghentikan permainan itu.

Dengan loncatan panjang, maka Mahisa Pukat pun mempercepat langkahnya sehingga dengan cepat jarak antara kedua orang anak muda itu dengan mereka yang mengejarnya menjadi semakin jauh.

Yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga pengawal itu telah terlambat mengambil sikap. Ketika ia benar-benar melontarkan pisaunya, maka Mahisa Pukat sudah menjadi semakin jauh. Karena itu. maka pisaunya ternyata tidak lagi dapat mengejar. Mahisa Pukat yang berlari semakin kencang

“Anak setan” geram pengawal itu.

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti tidak menghiraukan lagi. Mereka berlari semakin jauh memasuki ujung bulak dan kemudian berbelok menuju padang perdu.

Orang-orang yang mengejarnya ternyata telah kehabisan nafas. Mereka tidak lagi mampu berlari. Kedua orang pengawal berlari di paling depan pun lelah menjadi kelelahan, sehingga akhirnya keduanyapun berhenti dengan sendiri, sementara. Orang-orang lain tertinggal agak jauh di belakang mereka.

“Mereka adalah penjahat yang benar-benar berpengalaman” berkata salah seoang dari kedua pengawal itu, “ternyata mereka terlatih, bagaimana mereka harus melepaskan diri”

“Ya. Mereka terbiasa berlari-lari. Aku tidak mampu lagi” sahut yang lain.

Kedua pengawal itu berdiri sambil bertolak pinggang. Nafas mereka berkejaran di antara desah kelelahan. Baru sejenak kemudian, orang-orang yang mengejar di belakang kedua pengawal itu mendekat. Sambil menjatuhkan diri di atas rerumputan di pinggir jalan, salah seorang di antara mereka bertanya, “Bagaimana?”

“Kenapa kau bertanya begitu” bentak salah seorang pengawal yang kelelahan, “kau lihat, kami tidak dapat menangkap mereka?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ia pun sadar bahwa kedua pengawal itu tidak berhasil menangkap dua orang yang lari itu.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun sejenak kemudian pengawal itupun berkata, “Kita kembali ke banjar. Bagaimanapun juga penjahat itu sudah lari. Agaknya mereka tidak akan berani datang lagi. Mereka tentu sudah melihat bahwa seisi padukuhan sudah bersiap sedia. Jika mereka berani datang, dengan jumlah yang banyak sekalipun, maka mereka akan dimusnahkan. Tetapi dalam pada itu, kita pun harus berhati-hati”

Demikianlah, maka kedua orang pengawal dan orang-orang padukuhan yang mengejar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun segera kembali ke banjar.

Nampaknya Akuwu benar benar tidak terpengaruh oleh peristiwa itu. Sebenarnyalah Akuwu merasa, bahwa kehadirannya bersama para pengawalnya ditambah para pengawal yang terdahulu, telah merupakan telah merupakan satu kesatuan yang tidak lemah menghadapi kekuatan yang manapun juga. Karena itu Akuwu masih tetap duduk tenang menikmati bujana yang diselenggarakan di banjar. Semalam suntuk.

Dalam pada itu, di padang perdu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk bersandar batang pepohonan. Terdengar Mahisa Pukat berdesis, “Aneh”

“Apa yang aneh?” bertanya Manisa Murti.

“Keadaan kita” jawab Mahisa Pukat, “orang-orang Kabuyutan itu menganggap kita sebagai penyelamat mereka, bahkan telah tumbuh satu dongeng yang mendebarkaan, seolah-olah kita telah muncul dari kekuatan benda-benda keramat itu, namun sekaligus mereka mencurigai kita dan menganggap kita sebagai penjahat yang perlu mereka buru seperti memburu seekor binatang buas yang tersesat memasuki padukuhan”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya “Memang menggelikan. Orang-orang yang mengejar kita tentu tidak pernah membayangkan bahwa dua orang anak muda yang didengarnya dari dongeng itu seperti kita sekarang ini”

“Memang menarik. Tetapi apakah orang-orang yang melihat kita tidak pernah mengatakan, ujud dari dua orang yang telah mereka anggap ungkapan kekuatan pusaka- pusaka itu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Mungkin juga. Tetapi bagaimanapun juga., agaknya orang-orang itu mempunyai gambaran lain dari penglihatan mereka atas kita” jawab Mahisa Murti, “apalagi dalam gelap. Agaknya mereka tidak dapat melihat dengan jelas”

Mahisa Pukat menggeliat. Sambil menguap ia pun kemudian menyilangkan tangannya di dadanya. Katanya. “Lelah juga rasanya berlari-lari. Aku akan tidur”

“Tidurlah” jawab Mahisa Murti, “agaknya aku sudah sulit untuk tidur di sisa malam ini. Tetapi mungkin justru siang nanti aku akan dapat tidur nyenyak”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Ia pun kemudian memejamkan matanya. Sejenak kemudian, maka iapun sudah tertidur.

Mahisa Murti yang tidak dapat tidur, justru berdiri dan berjalan mondar-mandir. Ia pun kadang-kadang tersenyum sendiri mengenang tingkah laku orang-orang Kabuyutan itu.

Berdua dengan Mahisa Pukat ia mengalami dua anggapan yang saling berlawanan. Sebagai pahlawan dan sekaligus sebagai penjahat yang diburu.

Dalam pada itu langit pun menjadi terang. Akuwu dan para pengawalnya telah tidak ada lagi di banjar. Sebelum mereka kembali, maka mereka masih akan beristirahat. Akuwu akan berada di rumah yang disediakan baginya. Separo dari para pengawal akan beristirahat pula, sementara yang lain akan bergantian. Demikian pula dua orang Senopatinya.

Sementara itu. beberapa orang pengawal telah saling berbincang tentang dua orang penjahat yang tidak dapat dikejar oleh dua orang diantara para pengawal disertai beberapa puluh ornag anak-anak muda di padukuhan itu.

“Seandainya dua orang yang hadir dari pusaka-pusaka itu sempat keluar dari selongsongnya, maka mereka tentu akan dapat menangkapnya” berkata seorang dari kedua pengawal yang ikut mengejar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Mereka tentu mempunyai sandaran ilmu” berkata kawannya, “tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak dapat ditundukkan. Malam nanti, kita harus berhati-hati. Akuwu agaknya ingin berada di padukuhan ini dan meninggalkannya bersama barang-barang berharga itu. Akuwu tidak ingin meninggalkan barang-barang itu lagi dan baru akan dikembalikan kemudian meskipun dengan delapan atau sepuluh orang pengawal sekalipun”

“Jadi Akuwu akan bermalam lagi?” bertanya seorang kawannya.

“Agaknya demikian” jawab kawannya, “tetapi entahlah, Senopati pun masih belum pasti. Tetapi agaknya hari ini Akuwu akan beristirahat penuh sampai malam nanti. Sementara kita akan menempatkan pusaka-pusaka itu di tempatnya. Kita akan berusaha pedati dari Kabuyutan ini dan esok kita akan berangkat bersama barang-barang itu”

Pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Akuwu akan ke banjar. Berapa orang yang ada di sana?”


Bersambung.....!


******************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...