*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 016-03*
Mahisa Pukat yang menyerahkan wedang jae itu dengan nada sekedar ingin tahu bertanya, “Ki Sanak. Bagaimana dengan kuda Ki Sanak itu?”
“Apa maksudmu?” bertanya orang itu”
“He” desis Pugutrawe, “jangan mencampuri persoalan yang kau tidak tahu ujung dan pangkalnya”
“Ah, tidak paman” jawab Mahisa Pukat, “dua hari yang lalu, aku melihat Ki Sanak ini mengalami kesulitan. Aku memang tidak tahu persoalannya. Tetapi aku hanya ingin tahu, bukankah tidak terjadi sesuatu”
“Sudahlah” Mahisa Murti memotong, “jangan terlalu banyak ingin tahu”
Mahisa Pukat tidak menyahut lagi. Dua orang yang berada di warung itu pun mengerutkan keningnya. Namun mereka sama sekali tidak menghiraukannya lagi.
Dari pembicaraan yang pendek itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengambil satu kesimpulan bahwa benar orang itulah yang mereka maksudkan.
Demikian ketika orang itu kemudian meninggalkan warung itu, maka Mahisa Murti sempat mengamati, kemana saja orang itu singgah. Dengan demikian maka Mahisa Murti dapat menduga, tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh orang itu, dan kepada mereka Mahisa Murti akan menanyakan rumahnya.
“Kenapa kau tanyakan rumah orang itu?” bertanya seorang penjual kurungan ayam.
“Aku harus mengembalikan uangnya” jawab Mahisa. Murti, “paman Pugutrawe salah menghitung harga makanan yang dibelinya. Aku sudah menganjurkan agar biar saja uang itu disimpan di warung. Lain kali jika ia datang kita kembalikan. Atau jika orang itu sudah lupa, apaboleh buat”
“Ah, jangan begitu. Kau masih muda, tetapi kau sudah mempunyai pikiran buruk” desis penjual kurungan itu.
“Tidak. Tidak sebenarnya. Aku hanya bergurau” sahut Mahisa Murti, “tetapi dimana rumahnya”
Penjual kurungan itu pun kemudian menjawab tanpa curiga, “Karang Kembar. Sebuah padukuhan kecil di sebelah utara gumuk karang itu”
“Jauh?” bertanya Mahisa Murti pula.
“Tidak. Itu, gumuknya kelihatan dari ujung padukuhan ini” jawab penjual kurungan itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah berusaha untuk mencari rumah orang itu. Penjual kurungan itu telah memberikan ancar-ancar dimana letak rumahnya di padukuhan dekat gumuk karung.
“Letaknya tidak terlalu dalam” berkata Mahisa Murti hanya sekitar tiga atau empat rumah dari mulut lorong padukuhan itu”
Dengan pengamatan seorang pengembara, maka usaha mereka pun segera berhasil. Keduanya dengan cepat menemukan rumah yang dikehendaki. Sebuah rumah dengan halaman yang tikda terlalu luas. Beberapa buah kurungan ayam bertebar di halaman, berisi ayam aduan yang terpilih.
Dipinggir halaman itu terdapat sebuah kandang kuda. Tetapi tidak ada seekor kuda pun di dalam kandang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian memasuki halaman rumah itu dengan sikap seorang kemenakan pemilik warung. Keduanya nampaknya agak ketakutan dan berjalan menyusuri pinggir halaman.
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat seorang perempuan berada di seketheng, maka keduanya pun segera mendekat.
Dengan sangat hati-hati Mahisa Murti menanyakan apakah pemilik rumah itu ada.
“Untuk apa?” bertanya perempuan itu.
“Ada pesan dari Paman Pugutrawe. Pemilik warung di pasar prapatan itu” jawab Mahisa Murti.
“Apa pesannya?” bertanya perempuan itu.
“Paman minta aku menyampaikan sesuatu” jawab Mahisa Murti.
Perempuan itu mengamati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sejenak. Namun pada kedua anak muda itu nampak sikapnya yang sama sekali tidak mencurigakan. Bahkan nampaknya keduanya justru agak ketakutan.
Karena itu, maka perempuan itu pun berkata, “Tunggulah”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian menunggu di tangga pendapa. Karena perempuan itu tidak mempersalahkan mereka, maka mereka tidak berani naik ke pendapa itu. Dengan demikian, maka keduanya hanya duduk saja di tangga pendapa sambil berbicara perlahan-lahan.
Mereka menunggu untuk waktu yang cukup lama. Baru kemudian seorang laki-laki muncul, tidak di pendapa, tetapi dari seketheng juga.
Ketika laki-laki itu melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka ia pun segera mengenali bahwa kedua orang anakmuda itu adalah kemanakan Pugutrawe.
“Ada apa?” bertanya orang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun dengan terbongkok-bongkok mendekatinya.
“Aku mendapat pesan dari paman Pugutrawe” berkata Mahisa Murti dengan kepala tunduk.
“Pesan apa?” bertanya orang itu, “ bukankah aku sudah membayar makanan dan minuman yang aku ambil”
“Justru paman ternyata salah menghitung. Ada sisa uang pada paman Pugutrawe” berkata Mahisa Murti, “Aku mendapat pesan untuk mengembalikannya”
“O” orang itu mengangguk-angguk, “Aku. aku masih berhutang kepada pamanmu. Jika hanya tersisa sedikit saja, sebenarnya kau tidak perlu datang kemari”
“Paman takut. Sisa uang orang lain kadang-kadang dapat mengganggu ketenangan hati paman” berkata Mahisa Murti, “dahulu paman pernah mendapat bayaran lebih karena kesalahan paman menghitung. Ternyata hampir setiap malam paman selalu diganggu oleh anak-anak kecil di dalam tidurnya”
“Thuyul” desis orang itu sambil tertawa, “he, kau kira aku juga memelihara thuyul seperti itu? Tidak anak-anak. Aku mencari rejeki dengan cara yang wajar”
“Thuyul” ulang Mahisa Pukat, “paman tidak pernah menyebutnya”
“Ya. Orang yang memiliki uang milik orang lain dengan tidak sah seperi kelebihan pembayaran karena kesalahan pamanmu itu memang dapat dituntut dengan gangguan pada tidurnya di setiap malam” berkata orang itu, “tetapi karena aku tidak mempunyai thuyul, maka pamanmu tidak akan mengalami gangguan seperti itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun sambil mengeluarkan beberapa keping uang kecil, maka Mahisa Murti pun berkata, “Bagaimana pun juga, paman sudah jera. Inilah kelebihan itu”
Orang itu tertawa lagi. Diterima juga beberapa keping uang kecil itu. Katanya, “Baiklah. Terima kasih”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian minta diri. Dengan tidak sengaja Mahisa Murti memandang ke arah kandang kuda yang kosong itu sambil bertanya, “Dimanakah isi kandang itu?”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sebenarnya mempunyai dua ekor kuda. Seekor telah diambil oleh orang-orang gila itu. Sedangkan seekor yang lain telah aku berikan kepada kemanakanku. Tetapi yang kemudian justru menjadi persoalan”
“Ya. Itulah akibatnya. Mereka menganggap aku dengan sengaja menyingkirkan kuda yang oleh mereka dianggap sangat berguna itu” jawab orang itu.
“Mereka siapa, “ bertanya Mahisa Murti seakan-akan tidak sengaja.
Orang itu memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti-ganti. Namun karena Mahisa Murti bertanya seakan-akan tanpa maksud apapun juga, orang itu justru menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang gila”
“Gila” ulang Mahisa Murti, “Aku tidak tahu maksudmu”
“Sudahlah, jika kau tidak tahu, pulanglah. Katakan bahwa aku berterima kasih kepada pamanmu, bahwa ia telah mengembalikan sisa uangku. Meskipun tidak seberapa, tetapi hal itu menunjukkan kejujurannya”
“O” Mahisa Murti mengangguk, “baiklah. Akan aku katakan kepada paman”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun kemudian meninggalkan orang itu. Tetapi beberapa langkah dari kandang yang kosong itu Mahisa Murti berhenti dan berkata Apakah kandang ini tidak akan diisi lagi”
Aku tidak sebodoh itu untuk mengisinya lagi. Bukankah dengan demikian aku hanya akan membuang uang saja, karena kuda itu akan mereka ambil lagi” jawab orang itu.
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Mahisa Pukat dengan sikap yang bodoh bertanya, “Jadi, apakah orang itu dapat mengambil milik sesamanya begitu saja?
“Tentu tidak. Tetapi mereka bukan orang kebanyakan” jawab orang itu.
“Mereka lagi” desis Mahisa Pukat, “tentu orang-orang gila itu”
“Ya” jawab orang itu. Lalu, “Tetapi sudahlah. Pergilah”
“Baiklah” jawab Mahisa Murti. Namun katanya kemudian. Tempat ini terasa sangat sejuk. Apakah pada kesempatan lain aku diperkenankan datang lagi kemari meskipun tanpa keperluan apapun, sekedar untuk menikmati kesejukan udara di sini.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kenapa tidak boleh. Asal kau tidak menimbulkan persoalan di sini, maka aku tidak akan berkeberatan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian minta diri. Di regol halaman keduanya mengangguk sekali lagi. Kemudian keduanya pun hilang di balik regol halaman itu.
Ketika kedua anak muda itu telah keluar dari regol halaman dan berjalan menyusuri jalan pedukuhan, maka Mahisa Murti pun berkata, “Satu hal yang kita ketahui dengan pasti. Pangeran Kuda Permati memang sedang mengumpulkan kuda bagi pasukannya. Dengan demikian, maka pasukan Pangeran Kuda Permati telah dipersiapkan menjadi pasukan yang mampu bergerak dengan cepat
“Ya. Tetapi yang kurang aku mengerti. Pangeran itu serta orang-orangnya dapat melakukannya di daerah ini tanpa kesulitan” berkata Mahisa Pukat, “rakyat daerah ini seakan-akan sama sekali tidak mendapat perlindungan atas harta benda mereka.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kita menjadi semakin tertarik untuk melihat-lihat Kediri secara keseluruhan. Apakah yang sebenarnya terjadi di antara para pemimpin di Kediri. Jika yang terjadi atas Pangeran Lembu Sabdata itu hanya sekedar kesalahan langkah Pangeran Lembu Sabdata yang dibakar oleh dendamnya terhadap Talang Amba, maka sebenarnya yang dilakukan oleh Pangeran Lembu Sabdata itu justru telah mengganggu rencana mereka secara utuh”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Memang ada beberapa macam kemungkinan dapat terjadi. Untuk melihat kemungkinan-kemungkinan itulah mereka kemudian berada di Kediri”
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di dalam warung Pugutrawe lagi, maka warung itu telah menjadi semakin sepi seperti warung-warung yang lain. Sehingga karena itu, maka Mahisa Murti sempat memberikan laporan kunjungannya ke rumah orang yang telah di rampas kudanya.
“jika demikian, kalian akan dapat melihat, apakah masih ada orang yang mempunyai kuda dikandangnya pada saat ini” berkata Pugutrawe.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Malam nanti kami akan melihat”
Sebenarnyalah, ketika malam kemudian turun di atas padukuhan-padukuhan di daerah perbatasan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan rumah Dandang Panumping yang juga disebut Pugutrawe.
Dalam keheningan malam keduanya telah melihat-lihat padukuhan yang di siang harinya telah mereka kunjungi. Mereka ingin melihat, apakah masih ada kandang di antar kandang di padukuhan itu yang berisi kuda.
Beberapa saat keduanya berkeliling. Namun beberapa kandang yang mereka temui memang sudah kosong sama sekali.
“Kuda-kuda itu sudah diungsikan” berkata Mahisa Pukat.
“Mereka tidak akan berani melakukannya” jawab Mahisa Murti, “orang yang menyingkirkan kudanya, justru akan mengalami kesulitan yang lebih besar lagi. karena ia harus menukar kuda yang disingkirkan itu dengan seekor kuda yang besar dan tegar, sehingga mereka justur akan menjual miliknya yang lain untuk membeli kuda itu. jika mereka tidak ingin mengalami kesulitan dan bahkan barangkali lebih dari sekedar kesulitan”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia pun berkata, “Tetapi mungkin masih ada juga kuda yang belum diambil. Agaknya mereka mengambil kuda-kuda itu tidak bersama-sama”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Mereka meneruskan langkah mereka, mengelilingi padukuhan itu dengan diam-diam. Setiap kali mereka berhenti untuk memperhatikan kandang yang berada di halaman, apakah di dalam kandang itu masih ada seekor kuda.
“Hanya kudalah yang mereka ambil” berkata Mahisa Pukat, “kerbau dan sapi di biarkan saja di dalam kandang mereka”
Namun kemudian Mahisa Murti itu berkata, “Tetapi mungkin pada suatu saat akan datang giliran, sapi, dan kambing pun akan dibawa oleh orang-orang itu”
Mahisa Pukat pun menyahut, “Mungkin. Hal itu memang mungkin sekali”
Sementara itu, langkah mereka pun tertegun ketika mereka mendengar ringkik seekor kuda. Keduanya segera mengetahui, bahwa di sebuah kandang masih terdapat seekor kuda.
Dengan hati-hati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mendekati kandang itu. Di dalam kandang itu terdapat seekor kuda yang cukup besar dan tegar.
Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengamati kuda itu. Namun kemudian keduanya saling berpandangan ketika mereka mendengar suara tangis didalam rumah pemilik kuda itu.
“Bukan tangis seorang bayi” berkata Mahisa Murti, “tetapi tangis anak-anak yang sudah pandai-membantu ayahnya di sawah” desis Mahisa Murti.
Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi dengan hati-hati ia melangkah mendekati dinding rumah yang lengang itu. Yang terdengar hanyalah tangis seorang anak yang sudah besar terisak-isak.
“Sudahlah” terdengar suara yang berat “Tidak ada gunanya kau tangisi kuda itu”
Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengamati kuda itu. Namun kemudian keduanya saling berpandangan ketika mereka mendengar suara tangis di dalam rumah pemilik kuda itu.
“Apakah kita tidak dapat berbuat sesuatu ayah?” bertanya anak yang menangis itu.
“Tidak anakku. Kuda-kuda yang lainnya telah diambil pula. Besok datang giliran kuda kita” jawab ayahnya, “Aku pun sayang sekali dengan kuda itu. Kuda itu aku beli dengan memeras keringat. Aku menabung sekeping demi sekeping. Namun akhirnya aku harus melepaskannya begitu saja”
Anaknya masih manangis. Katanya, “Bagaimana jika kita berusaha mempertahankan kuda itu ayah”
“Bagaimana kita akan mempertahankan” sahut ayahnya.
“Kita melawan orang-orang yang datang mengambil kuda itu” berkata anaknya.
“Kau tentu tahu akibatnya jika hal itu kita lakukan. Mereka bukannya orang yang tidak berkawan di sini. Ada satu kelompok yang kuat dibangun di daerah perbatasan ini. Jika kita mencoba melawan, maka kita akan berhadapan dengan kekuatan yang sangat besar” berkata ayahnya. Lalu, “Sudahlah. Kau sudah bukan kanak-kanak lagi yang pantas untuk menangis. Kau sudah terlalu besar untuk menitikkan air mata. Apalagikau adalah seorang laki-laki” berkata ayahnya.
“Tetapi kuda itu” jawab anaknya, “kuda itu sudah seperti saudaraku sendiri”
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apa-boleh buat. Bagaimanapun juga, kita tentu lebih sayang kepada nyawa kita. Pada suatu saat, jika Tuhan Yang Maha Pemurah akan mengganti. Mungkin jauh lebih baik dari Dawuk yang akan diambil itu”
“Betapapun baiknya kuda yang mungkin dapat kita beli kelak ayah, tetapi kuda itu tentu bukan Dawuk itu” jawab anaknya.
Ayah terdiam sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Marilah kita belajar menerima satu kenyataan”
Anaknya tidak menyahut. Tetapi masih terdengar isak tangisnya yang tertahan-tahan.
Untuk beberapa saat pembicaraan antara ayah dan anak itu terhenti. Namun tiba-tiba saja terdengar lagi suara anak itu, “Apakah kita tidak dapat minta perlindungan kepada siapa pun juga? Bukankah kita berada di dalam wewenang Kediri?”
“Sudahlah” suara ayahnya menjadi berat, “Kita harus mengiklaskannya”
“Bagaimana jika kita melaporkan hal ini kepada penguasa yang berwenang melindungi kita?” bertanya anaknya pula, “apakah mereka akan tetap membiarkan kita hidup dalam bayangan kekuasaan sekelompok orang yang selalu merampas harta benda kita?”
“Kapan mereka merampas harta benda kita seenaknya” ayahnya justru bertanya, “bukankah mereka baru sekali ini datang mengambil kuda kita. Itu pun baru akan terjadi besok. Sebelumnya kita tidak pernah merasa kehilangan apapun juga”
“Tetapi kuda yang satu ini lain ayah. Bagaimana jika kita tukar saja kuda itu dengan kuda yang lain” betanya anaknya pula.
“Mereka telah datang dan melihat kuda itu” jawab ayahnya, “Aku tidak akan dapat menukarnya” ayahnya berhenti sejenak Lalu, “Sudahlah. Jangan melawan kekuatan yang tidak akan terlawan. Jika kau mengikhlaskannya, maka beban hati kita justru akan menjadi ringan. Kita akan berdoa, semoga kita kelak akan mendapatkan ganti yang jauh lebih baik dari yang hilang itu”
Anaknya tidak menjawab lagi. Isaknya yang tertahan-tahan pun sudah menjadi semakin menurun.
“Tidurlah” berkata ayahnya, “besok kita harus bekerja di sawah”
Anaknya tidak menjawab. Agaknya anak itu hanya mengangguk saja.
Sejenak kemudian terdengar pintu berderit dan pembaringan yang berderak. Agaknya anak itu benar-benar ingin menerima satu kenyataan seperti yang dikatakan oleh ayahnya dan berusaha untuk tidur. Tetapi ternyata bahwa anak itu tidak ingin tidur.
Namun dalam pada itu, keadaan pun menjadi hening. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang tidak melihat apa yang terjadi di dalam bilik anak itu, perlahan-lahan bergeser menjauh. Tetapi mereka pun ternyata tidak segera pergi. Keduanya telah pergi ke kandang untuk sekali lagi , memperhatikan kuda yang disebut dengan Dawuk itu.
Warna bulu kuda itu memang dawuk. Nampaknya kuda itu tegar dan kuat. Tetapi lebih dari itu, anak yang menangis itu tentu merasa bahwa kuda itu sudah terlalu akrab dengan dirinya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut ketika mereka mendengar pintu berderit. Dengan serta merta mereka bergeser dan bersembunyi di belakang kandang yang berada di halaman depan itu.
Sejanak mereka menunggu. Perlahan lahan pintu depan rumah itu telah terbuka. Seorang anak yang umurnya berusia antara empat belas tahun telah keluar dengan sangat hati-hati. Dengan kaki berjingkat ia menyeberangi pendapa dan turun ke halaman.
Mahisa Murti telah menggamit Mahisa Pukat. Tanpa berbicara sepatah kata pun keduanya mengerti, bahwa mereka perlu untuk mengikuti anak itu.
Tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya anak itu berialan dalam keremangan malam tanpa mengenal takut. Tetapi ia menghindari regol jalan padukuhan, karena di mulut lorong itu terdapat beberapa orang meronda.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan diam-diam telah mengikutinya. Mereka berjalan lewat jalan sempit yang menuju ke regol kecil pada dinding padukuhan itu. Regol yang tidak pernah mendapat perhatian.
“Apakah kita akan bertanya?” desis Mahisa Pukat.
Mahisa Murti menggeleng sambil Berbisik, “Jangan kita biarkan saja ke mana anak itu pergi. Baru kemudian, barangkali kita dapat bertanya ketika ia kembali”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia sependapat. Karena jika mereka bertanya lebih dahulu, maka mungkin anak itu mengurungkan niatnya.
Dalam pada itu, maka anak itu pun telah menelusuri jalan-jalan bulak. Angin malam yang sejuk menampar wajah anak itu. Sekali-sekali tangannya mengusap wajahnya yang terasa semakin dingin. Namun anak itu tidak kembali.
Ternyata bahwa anak itu anak yang cerdas. Meskipun ia tergesa-gesa, namun ia masih sempat juga berpikir untuk menghindari padukuhan. Ia lebih senang melingkar dan tidak mau berjalan lewat padukuhan karena anak itu tidak mau bertemu dengan para peronda.
Beberapa buah bulak sudah dilewati. Anak itu akhirnya menuju ke sebuah padukuhan yang besar. Namun seperti yang dilakukan, ia menghindari jalan-jalan besar dan pintu-pintu regol induk padukuhan. Jika terpaksa ia harus melintasi padukuhan, maka ia lebih senang lewat regol yang sepi, atau bahkan meloncat dinding. Ia baru mau memasuki regol induk, jika ia pasti, bahwa di regol itu tidak ada peronda.
Namun dalam pada itu, langkah anak itu pun terhenti. Dua orang yang tiba-tiba saja muncul dari kegelapan bayangan gerumbul semak-semak telah mendekati anak itu dengan tergesa-gesa.
Anak itu terkejut. Ia ingin meloncat dan berlari. Tetapi kedua orang itu agaknya lebih cepat memotong jalan kembali anak yang kemudian menjadi ketakutan itu
“He” bertanya salah seorang di antara kedua orang itu, “kau siapa?”
Suaranya menjadi lebih lunak dari sikapnya ketika kedua orang itu melihat, bahwa yang berdiri dihadapannya adalah seorang anak yang masih remaja.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan tergesa-gesa pula ia telah bersembunyi di belakang semak-semak yang tersebar. Namun keduanya berusaha untuk dapat lebih dekat kepada anak itu untuk dapat mendengar pembicaraan mereka.
Karena anak itu tidak segera menjawab, maka salah seorang dari kedua orang itu mengulangi, “Siapa kau. Dan malam-malam begini kau akan pergi ke mana?”
Anak itu termangu-mangu. Namun yang seorang lagi dari kedua orang itu berkata, “Katakan, barangkali aku dapat membantumu. Jusrtru karena kau pergi malam-malam begini, tentu ada kepentingan yang sangat mendesak”
Kata-kata yang lembut itu telah menumbuhkan keberanian pada anak itu. Karena itu, maka dengan suara parau ia berkata, “Aku akan pergi ke rumah Ki Buyut”
“Ke rumah Ki Buyut malam-malam begini. Ada apa?” bertanya orang itu pula.
Anak itu menjadi ragu-ragu pula. Tetapi kemudian ia pun menjawab, “Aku akan mengadu”
“Mengadu? Apa yang telah terjadi? Kenapa kau yang pergi ke rumah Ki Buyut? Bukan ayahmu atau orang lain yang lebih tua dari kau” bertanya orang itu.
“Ayah tidak mau, dan ibu tidak berani. Karena itu, aku merasa berkewajiban untuk melakukannya” jawab anak itu.
“Apa sebenarnya yang telah tejadi? Mungkin kami berdua dapat membantumu, meyakinkan Ki Buyut atau langkah-langkah lain yang lebih baik” berkata salah seorang dari keduanya”
“Aku akan mohon perlindungan kepada Ki Buyut. Besok kudaku akan diambil dengan paksa” jawab anak itu.
“Kuda?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.
“Ya. Kudaku akan diambil oleh orang-orang yang tidak dikenal. Ayah tidak berani menolak, karena menolak akan dapat berarti bencana. Karena itu, maka ayah condong untuk menyerahkan saja kuda itu. Tetapi kuda itu adalah kuda yang sangat baik bagiku. Bahkan seakan-akan seperti saudaraku sendiri”
Kedua orang yang mendengarkan ceritera anak itu termangu-mangu. Sejenak kemudian keduanya mengangguk-angguk. Salah seorang di antara mereka berkata kepada kawannya Laporan ini bukannya satu-satunya. Persoalan ini merupakan persoalan yang tidak akan dapat dibiarkan berlarut-larut”
“Biarlah anak ini bertemu dengan Ki Buyut sebagaimana di kehendaki” sahut yang lain. Lalu katanya kepada anak itu, “Marilah. Aku antar kau kepada Ki Buyut”
Anak itu termenung sejenak. Namun satu pertanyaan yang kemudian timbul justru setelah ia dekat dengan rumah Ki Buyut, “Tetapi apakah kedatanganku malam-malam begini tidak membuat Ki Buyut marah?”
Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun salah seorang dari mereka bertanya, “jika demikian, kenapa kau pergi juga malam-malam begini?”
Anak itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Besok kuda itu sudah akan diambil”
“Karena itu, marilah. Jangan bertanya apakah Ki Buyut akan marah atau tidak” jawab salah seorang dari keduanya.
Demikianlah, maka anak itu pun telah mengikuti kedua orang itu menuju ke pedukuhan yang agak lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang lain. Anak itu tidak perlu lagi mencari jalan masuk padukuhan itu dan menghindari orang-orang yang sedang meronda.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatlah yang kemudian harus mencari jalan mereka sendiri. Kedua orang yang membawa anak itu memasuki regol padukuhan. Beberaa orang peronda menjadi heran melihat kedua orang itu membawa seorang anak remaja. Namun ketika seseorang bertanya tentang anak itu, maka salah seorang dari yang membawanya itu menjawab, “Besok aku beritahu kalian, apa yang telah terjadi dengan anak ini”
Orang-orang yang meronda itu tidak bertanya lagi. Dua orang itu ternyata adalah dua orang bebahu padukuhan itu.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meloncat memasuki padukuhan itu pula. Mereka dengan tergesa-gesa telah meloncat dari halaman ke halaman yang lain, sehingga akhirnya mereka pun sampai ke sebuah lorong yang terbesar di padukuhan ini. Menurut pengalaman mereka, maka jalan itu tentu akan menuju ke rumah Ki Buyut dan banjar padukuhan.
Karena itu, maka keduanya pun kemudian menelusuri jalan itu dengan hati-hati. Mereka berusaha untuk tidak diketahui oleh siapapun. Apalagi oleh para peronda.
Sebenarnyalah, maka langkah mereka tertegun ketika mereka melihat sebuah obor pada sebuah regol yang lebih besar dari regol-regol yang lain. Ketika dengan hati-hati keduanya mengamatinya, maka keduanya yakin bahwa regol itu tentu regol rumah Ki Buyut.
Ketika dengan diam-diam keduanya menjenguk dinding halaman maka mereka pun telah melihat kedua orang yang membawa anak yang akan kehilangan kudanya itu sudah duduk di pendapa.
Mahisa Murti dan Mahisa. Pukat tidak puas sekedar melihat dari kejauhan. Mereka pun kemudian berusaha untuk lebih mendekat dan apabila mungkin dapat mendengarkan pembicaraan anak itu dengan Ki Buyut yang sedang dibangunkan oleh seorang peronda.
Agaknya Ki Buyut memang sudah berpesan. Jika ada sesuatu yang penting, seseorang supaya membangunkannya dengan mengetuk dinding di arah senthong-tengen.
Dengan kemampuan mereka, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian berhasil meloncat masuk. Dengan sangat hati-hati mereka bersembuhyi di belakang semak-semak yang ada di halaman samping. Namun di sekitar pendapa itu sama sekali tidak terdapat tanaman apapun juga, sehingga sulit bagi mereka untuk dapat mendekat dan mendengarkan pembicaraan dengan jelas.
Tetapi keduanya berputus-asa. Keberanian mereka sebagai pengembara telah membawa mereka untuk mendekat dan berlindung di bayangan sudut pringgitan. Ternyata dua buah keranjang rumput bagi persediaan ternak Ki Buyut berguna bagi kedua anak muda itu untuk sekedar menyamarkan diri dalam kegelapan malam.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah menumpuk kedua keranjang itu dan meletakkannya pada jarak yang memungkinkan keduanya berada di antaranya dengan dinding sudut pringgitan.
Ternyata dari tempat mereka, keduanya akan dapat mendengar pembicaraan antara Ki Buyut dengan anak yang tidak mau kehilangan kudanya itu.
“Tunggulah sebentar” berkata salah seorang dari ke dua bebahu itu. “Ki Buyut tentu akan segera keluar. Seorang peronda sedang membangunkannya.”
Anak itu tidak menjawab. Namun sikap kedua orang bebahu itu tidak membuatnya agak tenang.
Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka Ki Buyut telah terbangun. Setelah membenahi diri, maka ia pun segera keluar dari biliknya. Bagi Ki Buyut, jika para peronda membangunkannya, tentu ada yang penting telah terjadi.
Ketika ia keluar dari pintu depan, dilihatnya dua orang bebahu duduk di pendapa bersama seorang anak yang masih remaja. Dengan dahi yang berkerut, Ki Buyut itu betanya, “Apakah kalian yang berkepentingan dengan aku?”
“Ya Ki Buyut” jawab salah seorang dari kedua orang bebahu itu.
Ki Buyut pun mengangguk-angguk, kemudian duduk pula bersama mereka. Sejenak kemudian, maka ia pun bertanya, “ Apa yang telah terjadi?”
“Anak ini akan menyampaikan satu persoalan kepada Ki Buyut. Persoalan yang sudah tidak dapat kita abaikan lagi”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Kemudian dengan suara datar ia bertanya, “Persoalan apakah yang kau maksud?”
Bebahu itu memandang anak yang tidak ingin kehilangan kudanya itu. Katanya, “Laporkan semuanya kepada Ki Buyut. Jangan takut”
Anak itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian telah menceriterakan kepada Ki Buyut apa yang dialami oleh keluarganya. Satu-satunya kuda yang dimilikinya akan diambil oleh orang yang tidak dikenal. Tetapi orang-orang itu sangat menakutkan”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara datar ia berkata, “Sudah lebih dari sepuluh laporan yang sampai kepadaku tentang hal seperti ini. Aku kira masih banyak lagi di antara mereka yang tidak melaporkan kepadaku. Entah karena segan atau karena takut”
“Apakah hal semacam ini akan kita biarkan saja Ki Buyut?” bertanya bebahu itu.
“Pertanyaanmu aneh” jawab Ki Buyut, “ bukankah kau sudah tahu jawabnya?”
“Kita harus mencari jalan” jawab bebahu itu.
Ki Buyut itu pun termangu-mangu. Katanya hampir kepada diri sendiri, “Aku tidak ada pilihan. Aku tahu bahwa orang orang yang mengambil kuda itu di dukung oleh satu kekuatan yang tidak terlawan, meskipun tidak nampak dengan jelas. Bukankah kalian juga mengetahui? Setiap kali persoalan itu di sampaikan kepadaku, maka setiap kali jantungku terasa akan terlepas”
“Tetapi bagaimanapun juga, kita tidak dapat membiarkannya terjadi untuk seterusnya Ki Buyut” berkata salah seorang bebahunya.
“Aku tahu. Tetapi aku tidak tahu, pemecahan yang manakah yang harus aku pilih” jawab Ki Buyut, “apakah aku harus mengerahkan semua orang laki-laki di Kabuyutan ini untuk melindungi hak milik kita yang akan dirampas oleh orang-orang yang kita sebut tidak dikenal itu, meskipun sebenarnya kita dapat mengenal mereka? Seandainya aku lakukan juga hal itu, apakah bukan berarti bahwa lebih dari tiga perempat laki-laki akan mati dan hasilnya, seisi Kabuyutan ini justru akan mereka rampas. Bukan hanya kuda, tetapi juga isi peti-peti yang kita sembunyikan”
“Ki Buyut, apakah kita tidak dapat mencari jalan, untuk mohon perlindungan kepada pimpinan pemerintahan di Kediri misalnya?” bertanya bebahu itu.
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya kedua bebahu itu berganti-ganti. Kemudian katanya, “Apa yang dapat dilakukan oleh Panji Sempana Murti? Aku kira Panji Sempana Murti bukannya tidak tahu apa yang telah tcrjadi di sini. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat apa-apa”
Kedua bebahu itu mengerutkan keningnya. Namun salah seorang di antara keduanya bertanya, “Kenapa? Bukankah Panji Sempana Murti mempunyai wewenang di daerah ini? Seandainya kita tidak melewati Panji Sempana Murti dan langsung melaporkan persoalan-persoalan di daerah ini kepada para perwira pengawal di Kediri dan apalagi Singasari, maka Panji Sempana Murti akan marah kepada kita”
“Ya” jawab Ki Buyut. Tetapi katanya kemudian, “Meskipun demikian, Panji Sempana Murti tidak ingin mengalami nasib seperti Pangeran Singa Narpada”
“Kenapa dengan Pangeran Singa Narpada?” bertanya salah seorang dari kedua orang bebahu itu.
“Jangan seperti kanak-kanak yang berlagak bodoh” jawab Ki Buyut.
“Kami memang tidak mengetahui” desis seorang dari kedua orang bebahu itu.
“Jangan berpura-pura. Tetapi baiklah, aku sebut saja, bahwa Pangeran Singa Narpada justru ditangkap setelah ia berhasil menangkap Pangeran Lembu Sabdata yang di-anggap telah melawan kekuasaan Kediri sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati” jawab Ki Buyut.
Kedua bebahu itu menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang di antara mereka berkata, “Aku sudah pernah mendengar tentang hal itu. Tetapi bukankah itu sekedar dugaan.
“Aku ingin mendengar alasan yang sebenarnya, kenapa Pangeran Singa Narpada telah ditahan pula. Mungkin cara Pangeran itu memaksa adiknya mengakui kesalahannya, sehingga yang dikatakan oleh Pangeran Lembu Sabdata bukannya tentang keadaan yang sebenarnya. , tetapi karena lekanan Pangeran Singa Narpada”
Ki Buyut menggeleng. Katanya, “Tidak seorang pun yang mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Tetapi yang kita tahu, Pangeran itu telah ditahan, justru setelah ia berhasil mengatasi kesulitan yang timbul di Kabuyutan Talang Amba. Bukankah dengan demikian. Panji Sempana Murti akan menjadi ragu-ragu juga bertindak. Katakan ia berhasil menahan gerak Pangeran Kuda Permati, atau bahkan berhasil menangkapnya, belum tentu Panji Sempana Murti akan memperoleh ucapan terima kasih dari Sri Baginda. Mungkin justru Panji Sempana Murti akan mengalami nasib yang sama seperti Pangeran Singa Narpada”
“Tetapi seandainya demikian, maka Panji Sempana Murti tidak akan berdiri sendiri. Kami, semua rakyat Kabuyutan ini, akan membantu. Daerah perbatasan ini jangan menjadi daerah yang tidak berperlindungan. sehingga apa saja dapat dilakukan atas orang-orang yang lemah” berkata salah seorang dari kedua bebahu itu.
Ki Buyut termangu-mangu. Sebenarnya peristiwa-peristiwa seperti itu benar-benar membuatnya pening. Namun ia masih belum menemukan pemecahan yang paling baik untuk mengatasinya.
Dalam pada itu, anak yang akan kehilangan kudanya itu mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdegupan. Namun dengan demikian, ia mendapat gambaran yang semakin jelas tentang orang-orang yang ingin merampas kudanya. Meskipun masih remaja, namun pikirannya sudah mampu mengurangi persoalan yang dihadapinya.
Ternyata bahwa sikap ayahnya kemudian justru dapat dimengertinya. Ayahnya tidak akan dapat melawan satu kenyatan tentang orang-orang yang tanpa belas kasihan mengambil kuda dan bahkan kelak barang-barang lain yang dikehendakinya.
Apalagi ayahnya, sedangkan Ki Buyut pun mempunyai banyak kesulitan untuk, menentang kehendak orang-orang yang tidak dikenal namun yang sebenarnya sudah dikenal itu.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mendengarkan pembicaraan itu pun menahan nafasnya. Mereka menjadisemakin jelas tentang persoalan yang terjadi di daerah perbatasan ini. Agaknya bukan hanya orang-orang yang berada di luar Kediri saja yang menjadi bingung terhadap sikap Seri Baginda di Kediri, tetapi orang-orang Kediri, justru Ki Buyut yang memerintah daerah perbatasan Kota Raja itu pun menjadi bingung pula. Bahkan Senapati yang menguasai daerah yang lebih luas dari sebuah Kabuyutan pun tidak dapat bertindak tegas, meskipun alasannya masih diduga-duga.
Karena itu, maka betapapun pedihnya, anak itu ternyata lebih kasihan kepada ayahnya daripada mempertahankan kudanya. Ia sadar, jika ia mempertahankan kudanya atau membawa kudanya itu lari dari rumahnya, maka akibatnya akan dapat mencekik ayahnya. Mungkin ayahnya hanya sekedar diancam dan dalam batas waktu tertentu iharus menyediakan seekor kuda, namun mungkin ayahnya akan mengalami kesulitan yang lebih parah lagi.
Tetapi sementara itu, ternyata kedua bebahu Kabuyutan rlu telah berpikir lebih jauh lagi. Salah seorang di antara mereka tiba-tiba berkata, “Ki Buyut. Selama ini kita masih belum yakin, apa yang kira-kira akan dilakukan oleh Panji Sempana Murti. Karena itu, aku berdua bersedia malam ini menghadap Panji Sempana Murti untuk menyampaikan persoalan anak ini. Bukan semata-mata persoalan anak ini, tetapi persoalan yang kita hadapi dalam keseluruhan. Sementara itu, kami akan minta Ki Jagabaya untuk bersiap-siap seandainya kita memang harus melakukan satu langkah yang lebih keras daripada yang kita lakukan selama ini”
Ki Buyut termangii-mangu. Namun kemudian katanya Kita sedang kehilangan pegangan sekarang ini. Kita tidak lahu sikap yang pasti dari Sri Baginda terhadap Singasari. Hulah sumber dari segala keragu-raguan”
“Tetapi kita harus berbuat sesuatu. Jika langkah kta salah, apaboieh buat. Tetapi kita tidak dengan langsung menanggapi persoalan hubungan antara Kediri dan Singasari, tetapi kita membatasi persoalan yang lebih kecil dan terbatas pada lingkungankita. Kita tidak dapat membiarkan seseorang, siapa pun orang itu, dengan sewenang-wenang merampas milik orang lain. Apa pun alasannya”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata, “Baiklah. Pergilah kepada Panji Sempana Murti”
“Terima kasih atas ijin Ki Buyut. Kami tidak tahu, apa yang akan terjadi kemudian” jawab salah seorang dari kedua bebahu itu.
Sementara itu, maka bebahu yang lain pun berkata, “Kita harus segera berangkat. Tetapi bagaimana dengan anak ini”
“Biarlah anak itu pulang. Mungkin persoalan kudanya akan merupakan persoalan yang akan menjadi titik api yang dapat membakar suasana. Tetapi mungkin pula keluarganya harus menerima satu kenyataan, bahwa kuda itu memang harus diserahkan” jawab bebahu yang lain.
Kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Buyut pun kemudian berkata, “Biarlah dua orang peronda mengantarkan anak itu pulang”
Demikianlah, maka kedua orang bebahu itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka ingin bergerak dengan cepat, sehingga mereka pun telah minta ijin Ki Buyut untuk mempergunakan kuda yang ada di Kabuyutan.
“Mungkin pada suatu saat kuda-kuda ini pun akan diambilnya pula” berkata bebahu itu.
Ki Buyut menjawab. Namun ia berdiri di tangga pendapa ketika kedua bebahu itu meninggalkan halaman. Katanya, “Kami akan singgah di rumah Ki Jagabaya”
Ki Buyut tidak menjawab. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah bergeser menjauh. Mereka berada tidak jauh dari kandang kuda ketika kedua bebahu itu mengambil dua ekor kuda dari kandang itu.
Sepeninggal kedua bebahu itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat melihat Ki Buyut memerintahkan dua orang peronda untuk mengantarkan anak yang menangisi kudanya itu pulang. Namun ternyata sikap anak itu sudah berbeda. Ia tidak akan dapat mengorbankan ayahnya untuk mempertahankan kudanya. Bagaimanapun juga, ia harus mengerti bagaimana keadaan ayahnya menghadapi keadaan yang tidak akan mungkin dapat ditentangnya.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti pun berbisik di telinga Mahisa Pukat, “Marilah. Kita juga harus segera melaporkan hal ini kepada Pugutrawe. Mungkin ada sesuatu yang dianggapnya penting untuk diketahui dari peristiwa yang dapat saja terjadi setiap saat”
“Tetapi bagaimana dengan anak itu?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Dilihatnya dua orang peronda telah meninggalkan halaman Ki Buyut bersama anak yang akan pulang itu.
“Anak itu akan pulang bersama dengan dua orang peronda” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Biarlah kita mengikuti kedua peronda itu. Rasa-rasanya kurang tenang juga membiarkan anak itu pulang hanya dengan dua orang peronda pada saat seperti ini”
Mahisa Murti mengerti perasaan Mahisa Pukat. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah. Kita akan mengikuti mereka sebagaimana saat anak itu berangkat”
Sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun lelah berloncatan dari dinding ke dinding halaman berikutnya. Ternyata bahwa mereka telah lebih dahulu berada di luar pedukuhan. Di tempat yang terlindung, mereka menunggu dua orang peronda yang mengantar anak yang melaporkan tentang kudanya itu lewat.
Ternyata mereka tidak usah menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian, mereka pun segera melihat dua orang peronda yang mengantarkan anak itu melalui jalan yang juga dilalui saat anak itu pergi ke Kabuyutan.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berusaha untuk mengikuti anak itu. Keduanya kurang yakin melihat sikap para peronda. Agaknya mereka adalah anak-anak muda Kabuyutan yang kurang mendapat tuntunan olah kanuragan, karena mereka adalah anak-anak muda yang berjaga-jaga menghadapi kerusuhan di Kabuyutan masing-masing di malam hari, terutama terhadap pencuri.
Dalam pada itu, beberapa bulak kecil telah dilewati tanpa mengalami gangguan apapun juga. Namun ketika mereka sampai di sebuah jalan yang menghadap ke sebuah bulak yang panjang kedua orang peronda itu menjadi ragu-ragu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mengikuti mereka, namun sekali-sekali harus melingkari sebuah padukuhan apabila mereka melalui jalan di dalam padukuhan, justru telah menunggu di pinggir bulak itu, meskipun masih belum terlalu jauh dari mulut lorong di padukuhan yang haru saja dilingkarinya.
“Kenapa mereka belum juga lewat?” desis Mahisa lukat.
“Mungkin mereka beristirahat di padukuhan itu” jawab Mahisa Murti.
“Atau para peronda telah mencurigai mereka dan menahan mereka di gardu peronda” berkata Mahisa Pukat kemudian.
“Ah, tentu tidak. Kedua peronda itu tentu sudah saling mengenal dengan anak-anak muda sekabuyutan” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kedua peronda itu masih belum lewat.
Mahisa Pukatlah yang kemudian kurang sabar. Karena itu,maka katanya, “Aku akan melihat mereka sebentar. Mungkin mereka sudah berada di ujung bulak ini”
Tetapi ternyata bahwa Mahisa Murti pun mengikutinya pula, kembali mendekati padukuhan yang baru saja dilampaui.
Keduanya kemudian melihat kedua peronda itu berjalan dengan ragu-ragu mengantarkan anak yang melaporkan tentang kudanya itu.
“Tidak apa-apa” justru anak itulah yang berjalan di paling depan. Ketika berangkat aku berjalan sendiri”
“Kau berani pulang sendiri?” bertanya kedua peronda itu.
“Kenapa tidak” jawab anak itu.
Tetapi kedua perondaa itu ragu-ragu. Salah seorang dari keduanya berdesis, “Tetapi jika terjadi sesuatu, maka kami berdualah yang bertanggung jawab”
“Aku tadi juga pergi sendiri” berkata anak itu, “jika kalian akan kembali, kembalilah”
Tetapi salah seorang dari kedua peronda itu akhirnya menjawab, “Marilah. Mudah-mudahan tidak apa-apa. Bulak ini terkenal dengan kesuramannya”
“Jangan berkata begitu” potong kawannya., “Ya. Aku tidak akan mengatakannya lagi” jawab yang pertama.
Demikianlah dengan ragu-ragu ketiga orang itu berjalan menyeberangi bulak panjang yang gelap. Ada beberapa batang pohon pelindung yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan. Di siang hari pohon-pohon itu sangat berarti bagi orang-orang yang berjalan kaki menyeberangi bulak. Dalam terik matahari, maka pohon-pohon itu akan dapat menjadi tempat berteduh yang sejuk. Namun di malam hari pohon-pohon besar itu rasa-rasanya seperti bayangan hantu yang siap untuk menerkam. Apalagi sebatang randu alas yang tumbuh di tengah-tengah bulak itu. Pohon randu alas raksasa yang menakutkan.
Tetapi anak muda yang melaporkan tentang kudanya itu tidak takut meskipun tidak lagi seperti saat berangkat, ia berjalan sambil sekali-sekali mengusap air matanya.
“Anak itu agaknya memang anak yang berani” desis Mahisa Pukat
“Ya. Bukan hanya sekedar terdorong oleh sakit hatinya karena ia akan kehilangan kudanya” jawab Mahisa Murti.
Dalam pada itu, justru kedua peronda itulah yang kelihatan menjadi ketakutan. Semakin mereka melangkah ke tengah bulak, maka langkah mereka pun menjadi semakin ragu-ragu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja mengikuti mereka. Keduanya berusaha untuk berada dalam jarak tertentu, sehingga keduanya tidak akan diketahui oleh mereka bertiga. Jika kedua orang peronda itu mengetahui hadirnya dua orang yang tidak mereka kenal, mungkin keduanya akan melarikan diri.
Semakin lama maka ketiga orang itu pun menjadi semakin ketengah bulak yang panjang itu. Mereka menjadi semakin dekat dengan pohon randu alas yang besar yang tumbuh di tengah-tengah bulak.
Kedua orang peronda itu justru melangkah semakin lamban karena bayangan pohon randu alas itu di mata mereka bagaikan bayangan seorang raksasa yang siap untuk menerkam.
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar