*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-012-01*
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun kemudian telah menemui Mahisa Bungalan serta sekaligus menghadap paman mereka, Mahisa Agni dan Witantra.
Keterangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, memang sangat menarik perhatian. Mahisa Bungalan telah berusaha untuk mendapat keterangan sejauh-jauh diketahui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dalam pada itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menjelaskan segala sesuatunya yang mereka mengerti. Baik tentang Talang Amba, maupun tentang Gagelang.
“Kau yakin bahwa yang kau ketahui itu adalah keadaan yang sebenarnya?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Maksud kakang, apakah Ki Sendawa tidak mengelabui kami berdua?” Mahisa Murti ganti bertanya.
“Ya. Menilik keteranganmu, maka Ki Sendawa memang seorang yang cerdik. Bahkan licik” sahut Mahisa Bungalan.
“Tetapi ia sudah menemukan dirinya. Aku percaya bahwa ia benar-benar menyesal. Ketika hatinya tersentuh oleh sikap kemanakannya perempuan, isteri Ki Sendawa, maka hatinya itu menjadi luluh. Apalagi kenyataan yang dihadapinya tentang pribadi Ki Sanggarana telah membuatnya bercermin tentang pribadinya sendiri” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Singasari memang harus mengambil langkah-langkah. Ketika Singasari memberikan peringatan kepada Gagelang tentang kemungkinan yang dapat terjadi di Talang Amba berdasarkan keterangan Ki Waruju. Seakan-akan Ki Sanggarana telah melangkahi kuasa Akuwu Gagelang. Dengan demikian, maka langkah yang akan diambil kemudian harus dipertimbangkan sebaik-baiknya. Akuwu di Gagelang akan dapat mencari jalan apapun untuk menutupi kesalahannya. Bahkan memutar balikkan keadaan. Tanpa bukti-bukti yang meyakinkan, maka tidak akan dapat diambil tindakan yang seharusnya bagi Akuwu di Gagelang itu”
“Jadi, apa yang sebaiknya kami lakukan kakang?” bertanya Mahisa Pukat, “apakah Singasari akan dapat mengambil tindakan langsung hanya berdasarkan laporan saja, atau Singasari harus membuktikannya lebih dahulu”
“Setiap laporan tentu akan diperhatikan” jawab Mahisa Bungalan, “tetapi laporan saja, agaknya masih belum cukup, karena setiap orang akan dapat membuat laporan palsu tentang satu persoalan yang dihadapi”
“Jadi, apakah dalam hal ini Singasari akan dapat menyelidikinya” desak Mahisa Pukat.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sikap Mahisa Pukat memang agak lain dari Mahisa Murti. Namun terhadap Mahisa Pukat, maka Mahisa Bungalan pun harus bersikap lebih berterus terang. Karena itu, maka jawabnya, “Baiklah Mahisa Pukat. Aku sendiri akan berada di Talang Amba. Aku akan melihat apa yang telah terjadi. Mungkin aku akan berada di Talang Amba bersama dua atau tiga orang yang memiliki pengetahuan khusus tentang tugas-tugas sandi. Mereka akan membantu aku meyakinkan pendapat tentang Akuwu di Gagelang. Baru kemudian, kami akan dapat mengambil langkah-langkah tertentu”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya iapun berkata, “Keadaan sudah begitu mendesak. Dan kita baru akan mulai lagi dengan satu penyelidikan. Jika demikian, lalu kapan kita akan mengambil sikap”
“Mahisa Pukat” berkata Mahisa Bungalan, “seandainya Akuwu mulai dengan penebangan hutan itu, maka kita masih belum terlambat. Sehari atau dua hari, hutan itu masih belum akan berkurang. Sementara itu, kita sudah mendapatkan bukti yang cukup untuk mengambil langkah-langkah”
“Mungkin kakang” jawab Mahisa Pukat, “tetapi anak-anak muda Talang Amba tentu sudah mengambil satu kesimpulan tentang Ki Sendawa. Jika mereka kemudian mengambil tindakan sendiri atas Ki Sendawa, maka keadaan akan menjadi gawat. Selain Ki Sendawa akan mengalami nasib buruk, maka Akuwu di Gagelang akan dapat menuduh orang-orang Talang Amba telah memberontak”
“Mahisa Pukat” berkata Mahisa Bungalan, “Jika aku sudah berada di Talang Amba atas nama pimpinan prajurit di Singasari yang mengemban tugas, maka sikap mereka tentu akan berbeda”
“Kakang akan datang sebagai seorang Senopati?” bertanya Mahisa Murti.
“Tentu tidak” jawab Mahisa Bungalan, “tetapi beberapa orang tertentu akan dapat mengetahuinya, seperti yang kau katakan, bahwa beberapa orang anak muda kau percaya untuk mengetahui sikap sebenarnya dari Ki Sendawa”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah kakang. Jika kakang dapat berbuat demikian, maka agaknya kami pun tidak berkeberatan”
Namun dalam pada itu, agaknya Mahisa Pukat masih belum puas. Lalu katanya, “Tetapi apakah yang dapat kita lakukan, seandainya kehadiran kakang kemudian dapat ditangkap oleh petugas sandi Akuwu, sehingga ia mengambil satu langkah tertentu?”
“Tergantung kepada kelembutan kita” jawab Mahisa Bungalan, “Namun jika terjadi demikian, seperti Akuwu di Gagelang, maka kita pun akan mengambil langkah tertentu yang akan kita putuskan kemudian”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi kesediaan kakaknya untuk hadir di Talang Amba telah membuatnya agak tenang. Anak-anak muda Talang Amba akan dapat melihat satu perkembangan keadaan yang paling baik bagi Talang Amba.
“Jika demikian” berkata Mahisa Bungalan kemudian, “besok aku akan membenahi rencana ini dan mengajukannya kepada pimpinan tertinggi apakah rencanaku itu baik atau masih harus disempurnakan. Kemudian dengan restunya, aku akan berangkat ke Talang Amba”
“Jika kau dapat berangkat dalam dua hari ini, kami akan menunggumu” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Bungalan merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku kira aku akan dapat berangkat dalam dua hari ini. Biarlah Panglima menyampaikan laporan ini kepada Sri Maharaja”
“Baiklah” sahut Mahisa Murti jika demikian, aku akan menunggu. Kita akan berangkat bersama-sama”
“Tetapi kita tidak bersama-sama memasuki Talang Amba” jawab Mahisa Bungalan.
“Ya. Mungkin aku dan Mahisa Pukat akan berada dalam kelompok yang terpisah. Biarlah Ki Sendawa mengatur, dimana kita masing-masing akan tinggal” jawab Mahisa Murti.
Demikianlah, maka Mahisa Bungalan pun telah meneruskan laporan itu kepada Panglimanya, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah banyak mendapat petunjuk dari ayahnya dan kedua pamannya, Mahisa Agni dan Witantra.
“Kau berdua harus menyelesaikan lebih dahulu persoalan yang terjadi di Talang Amba” berkata Mahisa Agni, “baru kemudian kau dapat menelusuri persoalan Ki Sarpa Kuning yang terbunuh. Tetapi untuk mengatasi persoalan itu, mungkin kau masih juga memerlukan kakakmu atau bahkan orang-orang tua ini”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka memang harus menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi di Talang Amba. Hubungan antara Ki Sendawa dan Ki Sanggarana harus dipulihkan sebagaimana hubungan antara paman dan kemanakannya. Talang Amba harus pulih menjadi satu daerah yang tenang dan tidak boleh terancam oleh arus air yang tidak tertahan di lereng perbukitan.
Demikianlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menunggu dua malam di Singasari. Di pagi buta menjelang hari ketiga, maka sebuah iring-iringan kecil telah meninggalkan rumah Mahendra. Mahisa Bungalan dan dua orang kawannya ternyata telah bermalam di rumah itu pula, agar pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, mereka sudah dapat berangkat.
Seperti ketika berangkat, maka ketika iring-iringan itu kembali ke Talang Amba, mereka pun telah bermalam di perjalanan. Baru di hari berikutnya mereka mendekati Talang Amba.
Namun pada hari itu mereka masih belum memasuki Kabuyutan itu. Baru ketika malam sudah turun, iring-iringan kecil itu dengan hati-hati mendekati regol Kabuyutan.
Seperti yang direncanakan maka mereka tidak bersama-sama memasuki Kabuyutan Talang Amba. Tetapi mereka telah membagi diri. Mahisa. Murti bersama dua orang kawan Mahisa Bungalan, sementara Mahisa Pukat bersama kakaknya langsung menuju ke rumah Ki Sendawa.
Namun meskipun mereka menempuh jalan yang berbeda, tetapi akhirnya mereka pun telah berkumpul pula di rumah Ki Sendawa.
“Aku hampir gila menunggu kedatangan kalian” desis Ki Sendawa.
“Bukankah selama ini tidak ada apa-apa yang terjadi?” bertanya Mahisa Murti.
“Dalam satu dua pekan ini, Akuwu sudah akan mulai menebang hutan di lereng bukit” jawab Ki Sendawa.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Segalanya akan kami serahkan kepada kakang Mahisa Bungalan”
Kepada Ki Sendawa, Mahisa Murti berterus terang, siapakah orang yang datang bersamanya. Orang itu adalah kakaknya yang menjadi seorang Senopati di Singasari. Sedang dua orang yang lain adalah dua orang petugas sandi dari Singasari pula.
Ki Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah sebabnya, bahwa kalian memiliki kemampuan yang mengagumkan. Ternyata kalian adalah keluarga seorang Senopati dari Singasari.
“Satu kebetulan saja Ki Sendawa” jawab Mahisa Murti, “namun yang penting, apakah yang akan kita lakukan kemudian”
Demikianlah, Mahisa Bungalan dan kedua orang petugas sandi dari Singasari itu diperkenalkan dengan Ki Sendawa. Orang yang terpaksa menerima tugas memangku jabatan Buyut di Kabuyutan Talang Amba.
Tetapi malam itu Mahisa Bungalan mendapat kesempatan untuk beristirahat. Mereka masih belum berbuat banyak selain mendengarkan beberapa keterangan Ki Sendawa melengkapi keterangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Baru di hari berikutnya, Ki Sendawa memanggil beberapa orang anak-anak muda yang mempunyai pengaruh atas kawan-kawannya untuk datang ke rumah Ki Sendawa.
Dari wajah-wajah mereka nampak betapa kegelisahan benar-benar telah mencengkam mereka.
“Atas kepercayaanku kepada kalian, maka kalian akan aku perkenalkan dengan tiga orang tamu yang datang ke Kabuyutan Talang Amba” berkata Ki Sendawa yang kemudian memperkenalkan Mahisa Bungalan kepada mereka.
Anak-anak muda yang mendapat kepercayaan dari Ki Sendawa itu termangu-mangu. Mereka tidak langsung dapat mempercayai keterangan itu. Baru ketika Mahisa Bungalan mendapat kesempatan untuk berbicara kepada mereka, kepercayaan mereka pun mulai tumbuh. Apalagi ketika Mahisa Bungalan menunjukkan ciri keprajuritannya dengan menunjukkan sebentuk cincin Senopati dan timang ikat pinggangnya, yang semula tertutup oleh pangkal kain panjangnya.
“Aku berharap bahwa kali ini, kalian tidak menaruh kecurigaan lagi” berkata Ki Sendawa, “persoalannya telah sampai kepada Sri Maharaja di Singasari. Namun sekali lagi aku minta, bahwa kalian harus dapat memegang rahasia ini. Sementara kita berusaha untuk mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya bagi Talang Amba, dan bagi Sanggarana serta Ki Waruju”
Anak-anak muda Talang Amba itu pun mengangguk-angguk. Mereka yang masih meragukan kejujuran Ki Sendawa menjadi semakin mempercayainya. Meskipun Ki Sendawa pernah melakukan kesalahan yang berakibat panjang, tetapi akhirnya ia berusaha untuk memperbaiki kesalahannya itu.
Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian berkata, “Aku memerlukan bantuan kalian. Biarlah Akuwu mulai melakukan apa yang ingin dilakukan. Kami memerlukan bukti keterlibatan Akuwu di Gagelang atas usaha beberapa pihak Kediri untuk melawan Singasari dengan cara yang sangat licik. Baru kemudian Singasari akan dapat mengambil langkah-langkah terhadap Akuwu di Gagelang. Agaknya Akuwu di Gagelang termasuk salah satu orang yang mempunyai jalur lurus dengan para pemimpin di Kediri. Karena kedudukannya tentu agak lain dengan kedudukan Ki Sapa Kuning”
Anak-anak muda Talang Amba itu pun mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Bungalan itu pun melanjutkan, “Karena itu, kalian pun harus menyadari bahwa kalian harus selalu berhati-hati menghadapi persoalan yang mungkin akan timbul”
“Apakah mungkin akan terjadi kekerasan atas Pakuwon Gagelang?” bertanya anak-anak muda itu.
“Kemungkinan itu memang ada” jawab Mahisa Bungalan karena itu, kita harus bersiap-siap sebaik-baiknya. Mungkin kalian belum pernah mendapat bimbingan yang baik untuk melakukan pertempuran yang sebenarnya jika hal itu terpaksa terjadi. Tetapi karena Talang Amba ini berada di daerah kekuasaan Singasari, maka Singasari tentu akan berusaha melindunginya. Meskipun demikian, kalian harus selalu besiap-siap. Setidak-tidaknya kalian harus berusaha untuk melindungi diri sendiri”
“Hal ini pernah mereka lakukan” berkata Ki Sendawa, “ketika pertentangan terjadi di Kabuyutan Talang Amba, anak-anak muda dari kedua belah pihak yang bertentangan telah bersiap-siap dengan menyiapkan senjata. Karena itu, maka pada saat ini, senjata-senjata itu jika diperlukan tentu masih ada. Tetapi sebenarnyalah, bahwa kemampuan kami disini tidak akan dapat diperbandingkan dengan kemampuan para pengawal di Gagelang. Meskipun demikian, jika diperlukan, kami akan berbuat apa saja bagi kepentingan kampung halaman kita ini”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Jawabnya, “Terima kasih Ki Sendawa. Tetapi sebaiknya kita membuat perhitungan yang sebaik-baiknya. Menghadapi pengawal Pakuwon Gagelang yang bobot kemampuannya tidak ubahnya dengan prajurit Singasari. kita memang harus berhati-hati. Meskipun aku belum melihat langsung, tetapi menurut penilaianku, anak-anak muda di Talang Amba masih belum memiliki bekal yang memadai jika mereka harus berhadapan dalam perang terbuka melawan para pengawal. Namun bukan berarti bahwa anak-anak muda di Talang Amba sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Jika diantara anak-anak muda itu terdapat kekuatan yang memiliki kemampuan seimbang dengan para pengawal, maka keadaan mereka akan ikut menentukan”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, mereka tentu tidak akan tinggal diam. Seandainya mereka tidak dapat membantu langsung di medan, maka apa yang dapat mereka lakukan, akan mereka lakukan. Mungkin mereka akan dapat ikut menentukan akhir dari keadaan yang parah itu sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Bungalan.
Demikianlah, anak-anak muda di Talang Amba itu berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan. Mereka merasa wajib untuk berbuat sesuatu.
Karena itulah, maka atas kehendak mereka sendiri, maka anak-anak muda itu telah mengadakan persiapan-persiapan tertentu. Di malam hari mereka berada di gardu-gardu, sedangkan di siang hari mereka banyak berkumpul di saat-saat mereka tidak bekerja di sawah.
Sementara itu, Akuwu di Gagelang pun telah mempersiapkan sekelompok orang yang akan menebang hutan di lereng bukit. Beberapa orang pengawalnya yang terpercaya telah mempersiapkan segala-galanya. Beberapa kali kepercayaan Akuwu telah menghubungi Ki Sendawa yang berpura-pura menerima keputusan Akuwu, bahkan ia berjanji untuk membantu sepenuhnya.
“Tetapi kedudukan hamba dapat diselamatkan” mohon Ki Sendawa.
“Jangan takut” jawab Akuwu, “Aku pun telah memberitahukan kepada Sanggarana dan Waruju. bahwa mereka tidak mempunyai kemungkinan apapun lagi di Talang Amba.
Wajah Ki Sendawa menjadi tegang. Jika demikian akan dapat timbul salah paham dengan Ki Sanggarana.
“Tetapi aku akan dapat menjelaskannya kemudian. Aku mempunyai banyak saksi” berkata Ki Sendawa kepada diri sendiri.
Namun dalam pada itu, langkah-langkah yang diambil Akuwu itu telah menumbuhkan persoalan dilingkungan Pakuwon Gagelang Senopati yang pernah diperintahkan memanggil dan kemudian menangkap Ki Sanggarana merasa heran atas sikap Akuwu. Ia bukan termasuk pengawal kepercayaan Akuwu yang mengetahui segala seluk beluk niat Akuwu, karena ia adalah Senopati yang berkedudukan pada jenjang di bawah. Apalagi ketika Senopati itu kemudian mengetahui, bahwa Akuwu telah mempersiapkan beberapa orang untuk menebang hutan di lereng bukit. Satu hal yang pernah akan dilakukan oleh Ki Sarpa Kuning di saat-saat pertentangan di Talang Amba sedang memuncak.
Tetapi Senopati itu tidak mempunyai tempat untuk bertanya karena ia menjadi curiga kepada beberapa orang Senopati yang lain, yang mempunyai kedudukan lebih dekat dengan Akuwu.
Dengan demikian maka Senopati itu lebih banyak bertanya kepada diri sendiri dan sejauh-jauh dapat dilakukan ia telah berbicara dengan seorang kawannya yang dapat dipercayanya.
“Sikap Akuwu memang aneh” berkata kawannya, “Aku mendengar semua persoalan yang terjadi”
“Akulah yang memanggil Ki Sanggarana dan Ki Waruju. Mereka dipersalahkan telah melampaui kuasa Akuwu dan melaporkan langsung persoalan Talang Amba ke Singasari” berkata Senopati itu. Lalu, “sehingga dengan demikian, maka kedua orang itu sudah ditahan”
“Dengan demikian maka ada kesempatan lagi bagi Ki Sendawa untuk memegang jabatan yang semula diperebutkan itu” berkata kawannya, “dan yang menarik, perjanjian yang dibuat oleh Ki Sendawa dengan Sarpa Kuning itu kini dilanjutkan lagi”
“Aneh” desis Senopati itu, “nampaknya persoalannya memang menarik”
“Rasa-rasanya ada keinginan untuk mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi di Kabuyutan itu” berkata kawannya.
“Keinginan itu memang menggelitik hati jawab Senopati itu, “tetapi untuk melakukan satu pengamatan, akibatnya akan dapat mencekik leher sendiri”
Kawannya mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia menjawab, “Aku tidak akan melakukan satu pengamatan khusus. Tetapi untuk mendengarkan keterangan tentang Talang Amba akan sangat menarik hati”
Senopati itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah kita menunggu, apa yang akan terjadi”
Kawannya tidak mempersoalkannya lagi. Tetapi ada semacam panggilan untuk melihat lebih dekat lagi peristiwa-peristiwa yang terjadi di Talang Amba.
Dengan demikian, maka atas kehendak mereka sendiri, kedua orang Senopati itu telah memperhatikan keadaan dengan seksama. Kecurigaan mereka pun meningkat ketika mereka melihat persiapan-persiapan untuk menebang hutan di lereng bukit itu.
Namun dalam pada itu, betapa orang-orang Talang Amba berusaha untuk merahasiakan semua persoalan yang berkembang, namun ternyata mereka memang bukan orang-orang yang memiliki pengalaman yang luas sebagaimana para pengawal di Pakuwon Gagelang. Pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan dengan rahasia itu, ternyata ada juga yang tidak tertahankan dalam kerahasiannya. Satu dua orang yang mendengar rahasia itu ternyata tidak berhasil menahan diri untuk tidak mengatakan kepada orang-orang terdekat. Setiap kali seseorang mengatakan sesuatu yang bersifat rahasia itu, mereka selalu berpesan agar hal itu tidak disampaikan kepada orang lain. Namun dengan pesan yang demikian itu, rahasia itu pun semakin lama menjadi semakin tersebar.
Akhirnya orang-orang yang tidak berkepentingan pun mendengar bahwa Ki Sendawa telah menyiapkan rencana tertentu untuk menjebak Akuwu.
Hal itu merupakan satu hal yang sangat menarik bagi orang diluar lingkungan Kabuyutan Talang Amba. Ketika seseorang berbicara tentang hal itu di sebuah kedai di sudut pasar, maka seseorang yang lain telah mendengarkannya dengan seksama. Seorang yang nampaknya tidak berarti apa-apa. Seorang yang tidak lebih dari petani kebanyakan yang sedang beristirahat di kedai itu setelah menjual hasil sawahnya.
“Aku sudah mendengarnya” berkata pemilik kedai itu tanpa curiga, “tetapi hal ini tidak boleh dikatakan kepada orang lain”
“Ya. Aku juga tidak pernah mengatakan kepada orang lain” sahut orang yang sedang berada dalam kedai itu, “Aku hanya mengatakan kepadamu. Tetapi ternyata, bahwa agaknya kau telah mendengarnya pula”
Orang yang duduk di kedai itu dan seolah-olah sama sekali tidak memperhatikan pembicaraan mereka, ternyata berusaha untuk mendengarnya sampai ke persoalan yang terkecil. Namun apa yang dipercakapkan oleh orang itu dengan pemilik kedai itu pun masih belum terlalu jelas.
Tetapi yang menarik perhatian adalah, bahwa Ki Sendawa sebenarnya tidak benar-benar menerima tawaran Akuwu. karena ia benar-benar ingin menebus kesalahannya.
Ketika orang yang memakai pakaian petani itu kemudian meninggalkan kedai itu, dengan tergesa-gesa iapun menuju ke sebuah rumah terpencil di pategalan. Tidak banyak yang dipersoalkan dengan orang yang tinggal di rumah itu. Diberinya pemilik rumah itu sekeping uang. Kemudian orang itu pun mengganti bajunya dan mengambil kudanya di halaman belakang rumah terpencil itu.
Malam itu juga, dua orang Senopati telah bertemu. Dengan sungguh-sungguh Senopati yang telah memanggil ki Sanggarana dan Ki Waruju itu pun berkata, “Aku mendengar sesuatu yang sangat menarik”
“Tentang apa?” bertanya kawannya yang dipercayainya Senopati itu pun kemudian menceriterakan apa yang telah didengarnya. Bahwa sebenarnya ada yang tersembunyi di Talang Amba.
“Menarik sekali” jawab kawannya, “tetapi kita tidak akan dapat langsung hubungan dengan Ki Sendawa”
“Ya. Tetapi hal ini tentu akan segera didengar pula oleh Akuwu. Ia akan dapat melakukan tindakan yang mengejutkan” berkata Senopati itu.
“Bagaimana dengan dua orang anak muda yang disebut-sebut oleh orang di kedai itu menurut pendengaranmu?” bertanya kawannya, “apakah keduanya mungkin dapat dihubungi?”
Senopati itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan mencoba berhubungan dengan Ki Sanggarana. Mungkin aku akan mendapat bahan yang dapat aku pergunakan untuk menilai persoalan ini lebih dalam lagi”
Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Kita akan terlibat terlalu dalam. Tetapi apa boleh buat. Rasa-rasanya memang ingin mengetahui, apa yang sebenarnya sedang berkembang di Tanah ini”
Namun tiba-tiba Senopati itu berdesis, “Kau adalah seorang Senopati seperti aku. meskipun kita berada di jenjang yang rendah. Namun rasa-rasanya kita mempunyai tanggung jawab atas segala peristiwa yang terjadi di Pakuwon ini. He, apakah kau menaruh perhatian terhadap juru taman yang seorang itu?”
“Ya. Pengaruhnya terlalu besar untuk seorang juru taman. Ia sering berada di serambi bersama Akuwu” jawab kawannya.
“Aku pernah melihat ia berada dalam sekelompok peronda dengan mengenakan pakaian seorang pengawal. Tetapi aku tidak tahu. apakah ada hubungannya dengan persoalan Talang Amba” berkata Senopati itu.
“Jika ia mengenakan pakaian pengawal, apakah pimpinan pengawal yang membawanya tidak menanyakan tentang dirinya” berkata kawannya.
“Jika Senopati yang memimpinnya tahu kedudukannya yang sebenarnya?” jawab Senopati itu.
Kawannya mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “He, bukankah kita semula membicarakan tentang dua orang anak muda itu”
“Sudah aku katakan, aku akan mencari kesempatan untuk bertemu dengan Ki Sanggarana” berkata Senopati itu.
Namun kata-katanya itu benar-benar dilakukannya. Senopati itu telah berusaha untuk dapat bertemu dengan Ki Sanggarana dan Ki Waruju. Dengan diam-diam pada satu malam Senopati itu berhasil mendekati ruang tahanan tanpa dilihat oleh orang yang menjaganya. Karena penjaga itu menganggap bahwa tidak akan ada persoalan dengan kedua orang tahanannya yang nampaknya sangat jinak itu.
Waktu yang tidak terlalu lama itu telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Senopati itu. Melalui lubang udara yang bersekat balok-balok kayu. ia mengemukakan pendengarannya tentang sikap Ki Sendawa. Bahkan kemudian rencana Ki Sendawa untuk menjebak Akuwu agar kesalahan Akuwu terbukti dihadapan kekuasaan Singasari.
“Tetapi Akuwu pernah mengatakan, bahwa paman Sendawa benar-benar telah menerima jabatan itu” berkata Ki Sanggarana.
Menilik sikapnya yang dapat dilihat dengan mata wadag memang demikian. Tetapi ia telah bekerja bersama dengan dua orang anak muda yang berada di Talang Amba untuk dapat membuktikan bahwa Akuwu bersalah. Bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Senopati itu.
Ki Sanggarana termangu-mangu. Namun Ki Waruju lah yang menjawab, “kami tidak melihat apa yang terjadi di Talang Amba. Adalah sulit sekali bagi kami untuk memberikan jawaban yang tepat. Bahkan mungkin kami akan mempunyai tanggapan yang salah.
Senopati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Ki Waruju. Tetapi aku memerlukan satu pegangan untuk melangkah. Sebagai seorang Senopati aku ikut bertanggung jawab atas masa depan Pakuwon Gagelang dan juga termasuk Kabuyutan Talang Amba”
Ki Waruju menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mempunyai kepercayaan yang cukup kepada Senopati itu. Ki Waruju merasakan sikap Senopati itu di saat ia akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan, sebagai satu sikap yang jujur.
Karena itu, maka Ki Waruju pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Aku tidak tahu, apakah sikapku ini benar. Tetapi aku mempercayai Ki Sanak. Karena itu, Ki Sanak memang dapat mencoba menghubungi kedua anak muda itu”
“Apakah keduanya akan mempercayai aku?” bertanya Senopati itu.
“Aku tidak tahu, tetapi jika aku berkesempatan menemui mereka, maka aku akan dapat menjelaskan persoalannya” berkata Ki Waruju.
“Bagaimana mungkin kau dapat menemui mereka” berkata Senopati itu, “Kau berada di dalam tahanan ini”
“Ki Sanak” berkata Ki Waruju, “Jika Ki Sanak dapat menyediakan seekor kuda, maka aku akan dapat menemuinya”
“Seekor kuda?” bertanya Senopati itu.
“Ya” jawab Ki Waruju, “sebutkan dimana kuda itu dapat kau sediakan. Aku akan pergi ke Talang Amba dan kemudian kembali lagi memasuki bilik ini”
“Kau mengigau” geram Senopati Itu.
“Percayalah. Aku sudah memeriksa ruangan ini. Tidak ada yang sulit bagiku. Bahkan seandainya aku ingin keluar sekarang juga aku dapat melakukannya. Tetapi bukankah dengan demikian Talang Amba lah yang akan mengalami kesulitan” berkata Ki Waruju.
Senopati itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata Baiklah., “Aku akan menyediakan kuda untukmu. Aku akan menyiapkannya di luar lingkungan istana ini. Aku berada di sudut alun-alun”
“Bukankah masih ada waktu jika sekarang aku pergi ke Talang Amba dan kembali lagi sebelum fajar?” bertanya Ki Waruju.
“Jika tidak ada halangan, maka hal itu akan dapat kau lakukan” jawab Senopati itu.
“Baiklah. Siapkan kuda itu. Aku akan pergi ke sudut alun-alun” berkata Ki Waruju kemudian.
Senopati itu masih saja termangu-mangu. Namun iapun kemudian dengan hati-hati meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Senopati itu, maka Ki Sanggarana bertanya dengan nada bimbang, “Bagaimana mungkin Ki Waruju akan pergi ke Talang Amba sekarang ini?”
“Aku akan keluar dari tempat ini. Setelah aku kembali dari Talang Amba, aku akan kembali lagi memasuki ruangan ini. Dengan demikian tidak seorang pun mengetahui, apa yang telah aku lakukan” jawab Ki Waruju.
“Tetapi bagaimana Ki Waruju akan keluar? Apakah Ki Waruju akan memecahkan pintu?” bertanya Ki Sanggarana.
“Tentu tidak. Dengan demikian, maka kepergianku akan segera diketahui” jawab Ki Waruju.
“Jadi, apa yang akan kau lakukan?” Ki Sanggarana menjadi semakin heran.
Ki Waruju pun menengadahkan wajahnya. Sambil memandang atap bilik itu, ia berkata, “Aku akan keluar dari ruangan ini melalui atap”
“Melalui atap?” Ki Sanggarana menjadi heran.
“Mudah-mudahan aku berhasil” jawab Ki Waruju.
Ki Sanggarana tidak bertanya lagi. Tetapi Ki Waruju lah yang kemudian mulai bersiap-siap. Namun demikian ia masih berpesan, “Kau dapat membentangkan kain panjang di atas segulung tikar. Jika penjaga itu menengok ke dalam lewat lubang angin itu, maka ia akan melihat aku seakan-akan sedang tidur. Katakan bahwa aku merasa kurang sehat”
Ki Sanggarana mengangguk. Namun ia masih dicengkam oleh kegelisahan, bagaimana Ki Waruju akan keluar dari ruang itu.
Namun sejenak kemudian, setelah minta diri, maka Ki Waruju itu benar-benar telah melakukan sesuatu yang bagi Ki Sanggarana terasa mentakjubkan. Dengan seolah-olah tanpa bobot, Ki Waruju melenting menggapai atap. Kemudian dengan tangkasnya ia menyibakkan ijuk yang rapat dan menyingkirkan beberapa batang rusuk-rusuk atap itu dengan tanpa bunyi sama sekali.
Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih bertanya kepada diri sendiri, bagaimana Ki Waruju itu nanti meloncat turun dari atas atap yang cukup tinggi.
“Tetapi sebagaimana ia dapat meloncat menggapai atap itu, maka ia akan dapat dengan mudah meloncat-loncat turun” berkata Ki Sanggarana di dalam hatinya.
Sebenarnyalah, maka bagi Ki Waruju, sama sekali tidak ada kesulitan untuk meloncat turun dari atas atap tanpa diketahui oleh para pengawal. Seperti seekor kucing ia meloncat turun. Kemudian mengendap dan hilang di dalam kegelapan.
Sejenak kemudian, Ki Waruju itu sudah meloncati dinding istana Akuwu di Gagelang. Dan dalam sesaat kemudian, ia sudah berada di sudut alun-alun.
Ternyata bahwa Ki Waruju telah datang lebih dahulu dari Senopati yang menyanggupinya untuk membawakan seekor kuda.
Tetapi ia tidak menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian ia melihat dua orang berkuda mendatanginya dengan membawa seekor kuda yang tidak berpenunggang.
Senopati itu merasa heran, bahwa justru Ki Waruju telah menunggunya. Karena itu dengan serta merta ia bertanya, “Bagaimana kau dapat datang ke tempat ini begitu cepat?”
“Ki Waruju tersenyum. Katanya, “Aku takut terlambat. Karena itu aku agak tergesa-gesa”
“Ki Sanak” berkata Senopati itu, “Aku sudah membawa seekor kuda. Tetapi rasa-rasanya kami berdua ingin mengikuti Ki Sanak pergi ke Talang Amba. Mungkin ada hal-hal yang dapat langsung kita bicarakan dengan orang-orang Talang Amba. Bahkan mungkin dengan Ki Sendawa sendiri”
Ki Waruju mengangguk-angguk. Ternyata ia tidak berkeberatan. Justru dengan demikian, maka persoalannya akan lebih cepat terpecahkan.
Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu pun telah berpacu menuju ke Talang Amba. Mereka harus mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Besok sebelum matahari terbit, mereka harus sudah berada di Kabuyutan lagi.
“Kuda-kuda ini akan terlalu letih” desis Senopati itu.
“Ya. Untuk berlari kencang semalam suntuk, agaknya kuda-kuda ini akan kehabisan tenaga” jawab Ki Waruju. Tetapi kemudian, “Mungkin nanti kita akan dapat menukarkan kuda ini di Talang Amba.
Demikianlah maka mereka bertiga telah berpacu sekencang-kencangnya. Waktu mereka memang tidak terlalu banyak.
Kedatangan mereka di Talang Amba memang sangat mengejutkan. Ki Waruju telah membawa kedua orang Senopati itu langsung menuju ke banjar.
Dalam waktu yang singkat, maka pertemuan dengan Ki Sendawa pun telah dapat diatur. Bahkan hadir pula dalam pertemuan itu Mahisa Bungalan dan kedua orang kawannya.
Dengan singkat, maka persoalan tentang sikap Akuwu Gagelang itu pun telah dibicarakan. Namun dalam hubungan sikap Ki Sendawa, maka harus diperhitungkan, bahwa mungkin sekali Akuwu akan dapat mendengarnya.
“Ya” berkata salah seorang kawan Mahisa Bungalan, “persoalan yang seharusnya dianggap sebagai rahasia ini sudah bukan rahasia lagi. Hampir setiap orang telah membicarakannya, meskipun selalu dengan pesan, agar lawan bicaranya tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Tetapi semua orang di Talang Amba ini rasa-rasanya memang sudah mendengar”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Dengan demikian kita harus segera mengambil sikap. Mungkin Akuwu juga sudah mendengarnya”
“Itulah yang aku cemaskan” berkata Senopati itu, “bahkan aku pun telah mendengarnya pula”
Ki Sendawa menjadi gelisah. Tetapi iapun menyadari, bahwa anak-anak Talang Amba memang bukan prajurit atau pengawal yang dapat menyimpan rahasia sebagaimana seharusnya.
Namun Ki Sendawa tidak dapat sekedar untuk mengerti saja. Tetapi harus ada satu cara Untuk mengatasinya.
Mahisa Bungalan dan kedua kawannya pun menjadi cemas. Bahkan Mahisa Bungalan kemudian berkata, “Kita tidak akan sempat pergi ke Singasari untuk memanggil sekelompok prajurit”
“Kita akan mempersiapkan anak-anak muda Talang Amba jika Akuwu akan mengambil satu tindakan” berkata Mahisa Pukat.
“Tidak semudah itu Mahisa Pukat” jawab Mahisa Bungalan, “Yang dihadapi adalah Pakuwon Gagelang. Pakuwon yang memiliki pengawal yang kuat”
Tetapi Senopati yang mengikuti Ki Waruju itu berkata, “Ki Sanak. Aku adalah salah seorang Senopati di Gagelang itu. Meskipun aku berada di jenjang yang di bawah, tetapi aku ikut bertanggung jawab terhadap keadaan Pakuwon Gagelang. Menilik keterangan dari beberapa pihak, maka aku dapat mengambil satu kesimpulan bahwa Sang Akuwu telah melakukan satu kesalahan. Nampaknya Sang Akuwu telah berhubungan dengan satu kekuatan yang tidak sah di Kediri untuk melakukan satu pemberontakan terhadap Singasari”
“Lalu, apa yang dapat Ki Sanak lakukan?” bertanya Ki Waruju.
“Malam ini aku harus menentukan sikap. Besok pagi-pagi aku akan dapat berhubungan dengan beberapa pihak di Gagelang. Mungkin satu dua orang yang dapat aku percaya telah mencium pula persoalan yang sedang kita bicarakan ini meskipun belum sejauh yang aku lakukan” berkata Senopati itu.
“Tetapi kemungkinan yang kita cemaskan itu dapat terjadi. Besok Akuwu memerintahkan pasukannya untuk menduduki Talang Amba dan menangkap Ki Sendawa. Kemudian meletakkan orang yang asing sama sekali untuk menjabat Buyut di Talang Amba” berkata Mahisa Murti.
“Aku minta kalian mempersiapkan anak-anak muda Talang Amba sejauh dapat kalian lakukan” berkata Senopati itu” aku akan membantu kalian. Betapapun kecilnya, aku mempunyai kekuatan di Gagelang. Sementara aku dapat berhubungan dengan beberapa orang Senopati yang aku percaya sebagaimana sudah aku katakan. Kalian tidak akan sempat lagi pergi ke Singasari untuk memohon bantuan. Karena dengan demikian kalian akan memerlukan waktu sekitar tiga atau empat hari”
Ki Sendawa menjadi tegang. Ia tahu pasti, bahwa anak-anak muda Talang Amba tidak akan dapat berbuat banyak. Namun kesediaan Senopati itu untuk membantunya sedikit memberikan harapan kepadanya, meskipun masih ada juga semacam keragu-raguan.
Tetapi agaknya memang tidak ada jalan lain. Karena itu. maka katanya, “Bagaimana pertimbangan kalian tentang hal ini. Bagiku sudah tidak ada pilihan lagi. Aku akan bertahan seandainya Akuwu benar-benar akan menduduki Talang Amba. Jika terjadi sesuatu, maka biarlah aku mengalami akibat dari tingkah lakuku sendiri. Aku telah bermain api Dan sekarang, api itu akan membakar diriku sendiri. Namun yang aku pertimbangkan adalah anak-anak muda Talang Amba. Apakah dengan demikian, anak-anak muda tidak akan menjadi korban”
“Mungkin kita memang memerlukan pengorbanan” Senopati itulah yang menjawab. Tetapi aku memang memerlukan kawan untuk berbuat sesuatu demi keselamatan Pakuwon Gagelang. Karena jika tidak ada usaha penyelematan, maka pada suatu saat, kekuasaan Singasari tentu akan menggulung Pakuwon Gagelang. Apalagi disini sudah ada seorang Senopati yang dengan mata kepala sendiri telah menyaksikan apa yang terjadi disini. Penangkapan Ki Sanggarana dan Ki Waruju merupakan satu bukti, bahwa Akuwu di Gagelang sudah menyimpang dari paugeran seorang Akuwu, Ia sudah mengambil satu kebijaksanaan yang tidak sewajarnya, dengan menuduh Ki Sanggarana dan Ki Waruju seolah-olah telah bersalah”
“Baiklah” berkata Mahisa Bungalan, “Kita memang tidak mempunyai kesempatan lagi. Kedua kawanku telah mengetahui bahwa rahasia yang seharusnya tersimpan rapat itu telah didengar oleh orang banyak. Dan bahkan oleh petugas-petugas yang dipasang oleh Akuwu di Gagelang. Karena itu, maka kita memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Jika Senopati akan berbuat sesuatu bagi. kepentingan Gagelang, maka aku akan berterima kasih. Hal itu akan menjadi laporan, bahwa Gagelang masih juga ada orang yang bersikap sebagaimana seharusnya terhadap Singasari dan Kediri”
“Baiklah” jawab Senopati dari Gagelang itu, “Jika demikian aku minta diri. Aku harus mempergunakan waktu sebaik-baiknya”
“Aku juga akan kembali ke Gagelang” berkata Ki Waruju, “nampaknya kita memang harus menyusun kekuatan. Karena itu. maka aku dan Ki Sanggarana pun harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Mudah-mudahan Akuwu masih tetap memandang Ki Sanggarana dan Ki Waruju saling bermusuhan, sehingga setiap tindakan yang akan dikenakan kepada Ki Sendawa tidak juga dikenakan kepada Ki Sanggarana”
“Kita harus berbuat sebaik-baiknya dalam keadaan seperti ini. Agaknya Akuwu tidak akan menebang hutan itu lebih dahulu. Tetapi ia tentu akan membereskan Kabuyutan Talang Amba ini lebih dahulu” berkata Ki Sendawa.
“Baiklah. Kita akan menentukan tugas kita masing-masing” jawab Senopati itu.
“Kita harus pasti” berkata Mahisa Bungalan, “Ki Sendawa akan menyiapkan anak-anak muda dan Senopati akan menyiapkan pasukan seberapa pun dapat dikumpulkan di Gagelang yang akan dapat membantu kita. Termasuk menyelamatkan Gagelang itu sendiri”
Kedua Senopati dari Gagelang itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka sudah mendapat kepastian di dalam hati, bahwa sebenarnyalah Akuwu telah menyimpang dari tugas-tugas yang dibebankan kepadanya sebagai seorang Akuwu yang berada di bawah perintah Singasari.
Demikianlah, maka Senopati itu pun kemudian menjawab, “Ada dua kemungkinan yang dapat aku lakukan, jika aku mendapat perintah untuk menyertai pasukan Akuwu memasuki Kabuyutan ini, maka aku akan datang bersama pasukan itu. Tetapi disini aku dan orang-orang yang sejalan dengan pikiranku akan membawa ciri-ciri yang akan dapat dikenali. Para pemimpin kelompok akan mempergunakan sampur berwarna kuning. Sementara itu, apabila harus terjadi pertempuran, maka, semua orang yang berpihak kepada Talang Amba akan mempergunakan ciri seperti itu juga yang sudah mereka bawa sejak mereka berangkat dari Gagelang. Tetapi jika aku dan beberapa orang yang sejalan dengan jalan pikiranku tidak mendapat perintah untuk mengikuti pasukan Akuwu, maka kami akan berangkat sendiri melalui jalan memintas di tengah-tengah hutan kami, kami masih akan dapat mendahului pasukan yang akan menuju ke Talang Amba melalui jalan yang biasa kita tempuh. Tetapi jika ada sebagian dari kami yang mendapat perintah dan sebagian lagi tidak, maka akan berlaku kedua cara yang sudah aku sebutkan. Diantara kami yang berada di dalam pasukan Akuwu akan mempergunakan ciri-ciri seperti yang aku katakan, sementara yang lain akan menyusul lewat hutan perdu”
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar