*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-018-01*
Senopati itu tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan sebatang tombak pendek.
Panji Sempana Murti sudah bersiap. Karena itu, maka ia pun masih sempat meloncat menghindar sehingga ujung tombak lawannya sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan sesaat kemudian Panji Sempana Murti masih sempat meloncat sambil mengayunkan pedangnya yang besar mengarah lambung.
Senapati lawannya sempat bergeser sambil memutar tombaknya. Sekejap kemudian tombak itu telah mematuk. Tetapi Panji Sempana Murti sempat memukul kes amping. Namun tombak itu justru terayun berputar. Tiba-tiba saja justru landean tombak itulah yang menyerang ke arah kening Panji Sempana Murti.
Hampir saja kulit pada kening Panji Sempana Murti terkojak oleh landean tombak yang dilapisi dengan perunggu. Untunglah Panji Sempana Murti sempat mengelak. Sambil merendah pada lututnya, Panji Sempana Murti menjulurkan pedangnya ke perut Senapati yang sedang memukulnya dengan landean tombaknya itu.
Namun, Senapati itu pun masih sempat mengelak pula dengan loncatan panjang. Tetapi Panji Sempana Murti tidak melepaskannya. Ia pun segera memburunya dengan pedang terjulur.
Demikianlah pertempuran di antara kedua orang itu menjadi semakin sengit di antara gemuruhnya perang dalam keseluruhan.
Sebagaimana para prajurit di dalam gelar itu, maka kedua orang Senapati itu pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk segera dapat mengalahkan lawan.
Dalam pada itu, di padukuhan yang baru saja ditinggalkan oleh pasukan Pangeran Kuda Permati, pertempuran pun terjadi dengan sengit pula. Tetapi jumlah para prajurit pengikut Pangeran Kuda Permati jauh lebih sedikit dari lawan mereka.
Meskipun mereka memiliki ketrampilan secara pribadi ma-lampau lawan-lawannya, namun bagaimanapun juga, jumlah lawan yang banyak itu telah membingungkan mereka.
Apalagi di antara anak-anak muda itu memang terdapat beberapa orang prajurit yang dapat mengimbangi kemampuan lawan-lawan mereka, sehingga dengan demikian yang sedikit itu telah memberikan kesan yang mendebarkan bagi para pengikut Pangeran Kuda Permati.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, para pengikut Pangeran Kuda Permati itu telah terdesak. Dalam pertempuran yang keras dan garang itu, maka korban pun telah berjatuhan.
Tidak ada lagi usaha untuk mengekang diri. Setiap senjata yang terhunjam di tubuh lawan justru telah ditekan agar menyentuh jantung.
Anak-anak muda yang baru menginjak tataran pertama dalam dunia kanuragan, bertempur dalam kelompok-kelompok kecil menghadapi seorang lawan. Sementara para prajurit yang berpihak kepada mereka, menghadapi lawan mereka seorang demi seorang.
Ada di antara mereka yang berhasil membunuh lawannya. Tetapi ada juga di antara mereka yang terbunuh. Anak-anak muda yang bertempur dalam kelompok-kelompok itu pun ada yang terkoyak dadanya. Tetapi secara bersama-sama mereka sempat juga membunuh lawan mereka beramai-ramai.
Bagaimanapun juga, akhirnya para pengikut Pangeran Kuda Permati menjadi semakin terdesak. Mereka justru bergeser semakin jauh dari padukuhan yang harus dibakarnya menjadi abu. Ketika beberapa orang berusaha untuk menyusup dan memasuki padukuhan itu untuk membakar satu dua rumah, maka ternyata mereka telah dicegat oleh sekelompok anak-anak muda.
Bagaikan memburu bajing orang-orang itu telah dikepung oleh beberapa orang sehingga akhirnya, sebagaimana terjadi di peperangan yang garang dan buas, maka tidak seorang pun di antara mereka yang sempat keluar lagi dari padukuhan itu.
Demikianlah yang terjadi di seluruh medan. Di luar padukuhan itu dan di dalam perang gelar. Semua orang di dalam arena pertempuran itu menjadi seperti orang kesurupan. Demikian pula Panji Sempana Murti dan Senapati yang memimpin para pengikut Pangeran Kuda Permati itu. Keduanya dibekali dengan kebencian yang menggelegak di dalam dadanya. Panji Sempana Murti merasa sudah cukup lama ia dipermainkan oleh para pengikut Pangeran Kuda Permati, sementara para pengikut Pangeran Kuda Permati merasa terganggu oleh tingkah Panji Sempana Murti yang sombong. Dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di tempat Ki Waruju telah mencium pula kepergian sepasukan prajurit ke padukuhan-padukuhan sebagaimana pernah dilakukan sebelumnya justru dari Ki Waruju. Namun ketika ia dengan tergesa-gesa kembali, pertempuran itu sudah terjadi.
“Semua orang telah pergi ke medan” berkata beberapa orang laki-laki yang sudah dianggap tidak lagi mampu bertempur. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun berlari-lari pula menyusul ke medan yang garang itu. Dengan susah payah, keduanya berhasil mendekat dan mencari Pugutrawe yang menurut beberapa orang tetangganya telah ikut pula bersama pasukan.
“He, demikian cepat kau kembali?” bertanya Pugutrawe ketika kedua anak-anak muda itu menemukannya di peperangan, karena Pugutrawe justru berada di belakang garis pertempuran meskipun ia memegang parang yang besar. Aku mendengar berita tentang pasukan ini desis Mahisa Murti, “tiba-tiba saja aku merasa gelisah. Ternyata hal seperti ini telah terjadi.”
Pugutrawe menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pembantaian yang mengerikan. Kedua belah pihak tidak lagi mengekang diri. Pertempuran ini benar-benar merupakan neraka tempat sesama saling berbunuhan.
“Watak dari peperangan” desis Mahisa Pukat.
“Tetapi dendam dan kebencian telah membakar jantung dari kedua belah pihak” jawab Pugutrawe.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam.
Benar-benar satu pertempuran yang sangat dahsyat.
“Kalian akan ikut bertempur?” bertanya Pugutrawe.
“Aku berada di belakang garis perang seperti beberapa anak-anak muda yang lain, yang hanya sekali-sekali mengayunkan senjata mereka. Mereka yang sedikit bersombong untuk menyentuh garis perang, kulit mereka tentu akan terkoyak.” desis Mahisa Murti, “bukankah sudah ada beberapa orang anak muda yang mencoba-coba dan terpaksa digotong keluar arena?” “Tetapi kalian dan mereka” berkata Pugutrawe. “Tidak. Aku sama saja dengan mereka” jawab Mahisa Murti.
Pugutrawe tidak mendesak mereka. Tetapi ketiga orang itu telah berada dekat dengan garis perang. Mereka membawa senjata masing-masing, dan dalam keadaan yang tiba-tiba merekapun telah terlibat pula dalam benturan senjata. Namun di depan mereka para prajurit dalam pasukan Panji Sempana Murti tengah bertempur dengan garangnya pula.
Dalam pertempuran selanjutnya, ternyata bahwa bagian dari pasukan Pangeran Kuda Permati itu semakin lama semakin mengalami kesulitan. Pasukan Panji Sempana Murti dalam jumlah yang lebih besar, karena telah dikerahkan semua pasukannya yang ada ditambah dengan sebagian dari pasukan Pangeran Singa Narpada yang bergabung dengan kekuatan di daerah perbatasan Utara itu, apalagi dengan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang seakan-akan tidak terhitung jumlahnya karena semakin lama menjadi semakin banyak, telah menekan pasukan lawan dengan sepenuh kekuatan yang ada. Sementara pasukan Pangeran Kuda Permati yang mendapat perintah untuk menjadikan padukuhan yang baru saja mereka tinggalkan menjadi abu, mengalami keadaan yang paling parah.
Senapati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati, sempat melihat keadaan itu meskipun ia sendiri bertempur dengan sengitnya melawan Panji Sempana Murti. Setiap kali prajurit Kediri dibawah pimpinan Panji Sempana Murti itu telah bersorak-sorak bagaikan meruntuhkan langit. Tekanan yang sangat berat telah mendesak pasukan Pangeran Kuda Permati perlahan-lahan surut, sehingga gelar pasukan Panji Sempana Murti bergerak maju. Sayap-sayapnya yang tidak berhasil dikoyak oleh ujung gelar lawan yang runcing, berusaha untuk menguasai dan menutup ujung-ujung pasukan itu.
Korban masih terus berjatuhan di antara kedua belah pihak. Tetapi keadaan yang sulit dari pasukan Pangeran Kuda Permati menjadi bertambah ketika pasukan kecilnya yang diperintahkannya menghancurkan padukuhan yang ditinggalkannya itu telah benar-benar dilumatkan oleh lawan mereka. Yang tersisa dalam jumlah yang sangat kecil telah berlari-lari dan bergabung pada pasukan induknya. Sementara itu, lawan mereka pun telah mengejarnya pula.
Namun demikian pasukan yang mengejar itu mendekati arena, maka seorang perwira dari pasukan Panji Sempana Murti yang ada di antara para prajurit yang berbaur dengan anak-anak muda yang bertempur di padukuhan itupun memberikan isyarat agar anak-anak muda itu mengekang diri.
“Biarlah para prajurit yang langsung menghadapi mereka yang sudah bergabung di induk pasukan.” berkata perwira itu, “agaknya medan itu merupakan medan yang sangat garang dan terlalu berbahaya bagi kalian.“
“Kami sudah cukup mengerti apa yang kami hadapi berkata salah seorang anak muda.
“Kami sudah cukup mendapat latihan-latihan” sahut yang lain.
“Tetapi kalian harus melihat keganasan di medan yang tidak mengenal apapun selain pembantaian itu” sahut perwira itu, “karena itu, jangan mencoba-coba. Dalam medan yang ganas itu, kalian tidak akan mendapat kesempatan untuk sekedar menjajagi ilmu-ilmu kalian. Sekali kalian tersentuh garangnya pertempuran seperti itu, maka kita harus menghadapi dua pilihan, membunuh atau dibunuh. Karena itu jangan menganggap pertempuran itu sebagai tempat bermain.“
Anak-anak muda itu mulai memperhatikan kenyataan di hadapan mereka. Sementara itu, perwira itu dan para prajurit tidak lagi menunggu mereka. Berlari-lari mereka memasuki medan dengan tekad seorang prajurit dengan senjata di tangan.
Kedatangan sekelompok prajurit yang meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, namun karena mereka menyer angdari arah belakang gelar, maka para prajurit yang sekelompok kecil itu terasa benar-benar mengganggu. Apalagi para prajurit pengikut Pangeran Kuda Permati yang melarikan diri dari padukuhan itu dan bergabung di induk pasukan, tidak mampu menghadapi para prajurit yang mengejarnya.
Dengan demikian, maka mereka harus mencari bantuan dari para prajurit yang berada di dalam gelar, sementara gelar wulan punanggal itu sendiri sudah mulai terdesak.
Dengan demikian, maka keseimbangan pertempuran itu menjadi semakin jelas telah menjadi goyah. Pasukan Panji Sempana Murti akan segera menguasai keadaan.
Meskipun demikian, pertempuran itu masih tetap merupakan pertempuran yang garang, bahkan buas. Kedua belah pihak benar-benar tidak lagi memikirkan apapun juga selain membunuh lawan sebanyak-banyaknya.
Sementara itu, Panji Sempana Murti masih bertempur dengan dahsyat nya melawan Senopati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati. Senopati yang garang itu berusaha untuk secepatnya mengalahkan lawannya kemudian memperbaiki keadaan pasukannya. Tetapi, Panji Sempana Murti yang mendapatkan kekuasaan untuk memegang pimpinan pasukan Kediri di daerah, perbatasan sebelah Utara itu, benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang memadai bagi seorang Panglima yang menghadapi tugas yang cukup berat.
Karena itu, maka pertempuran itu merupakan pertempuran yang sangat dahsyat.
Pertempuran antara dua orang Senopati yang memiliki ilmu yang tinggi, yang sulit dicari bandingnya, seolah-olah tidak seorang prajurit pun yang dapat mencampurinya.
Dengan tombak pendeknya Senapati yang memimpin para prajurit pengikut Pangeran Kuda Permati itu mengamuk bagaikan angin pusaran yang melanda semak-semak di padang perdu.
Namun pedang Panji Sempana Murti pun berputaran dan menggulung lawannya bagaikan prahara.
Benturan-benturan yang keras dan dahsyat tidak terhindarkan. Agaknya keduanya memang dengan sengaja membentur kekuatan masing-masing tanpa kekangan.
Tetapi, keduanya memang memiliki kekuatan yang besar dan mengagumkan. Sementara itu senjata mereka pun terbuat dari bahan yang terpilih. Betapapun kerasnya benturan yang terjadi, namun landean tombak pendek yang terbuat dari kayu berlian bersalut baja itu tidak dapat terpatahkan. Sementara pedang di tangan Panji Sempana Murti pun tetap dipertahankannya, meskipun kadang-kadang tombak pendek lawannya sempat mengungkit pedang itu. Namun pedang itu tidak akan pernah terlepas dari tangan, seakan-akan hulu pedang itu telah menyatu dengan telapak tangan Panji Sempana Murti.
Betapa dahsyatnya pertempuran antara kedua orang itu, ternyata kemudian, bahwa para prajurit di kedua belah pihak justru telah menyibak, sehingga dalam pertempuran yang betapa dahsyatnya itu, keduanya seakan-akan terlibat dalam satu perang tanding yang nggegirisi.
Tetapi ternyata bahwa Panji Sempana Murti, Panglima di daerah perbatasan Utara itu, memiliki kelebihan dari lawannya. Meskipun keduanya memiliki ilmu yang seimbang, tetapi Panji Sempana Murti memiliki daya tahan yang lebih besar, sehingga ketika keduanya telah menghentakkan semua kekuatannya dan kemampuannya, maka daya tempur Senapati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati itulah yang lebih dahulu mulai susut.
Panji Sempana Murti yang memiliki pengalaman yang sangat luas, telah mempergunakan saat-saat yang demikian untuk mengakhiri pertempuran. Ia justru meningkatkan serangan-serangannya. Pedangnya berputaran semakin cepat. Kemudian menyerang dengan ayunan mendatar yang kuat. Disusul dengan juluran ujung pedangnya yang mematuk mengarah langsung ke jantung lawannya.
Tetapi Senapati itu masih belum mau mati. Ia sadar, bahwa di medan yang buas itu tidak ada kesempatan lain kecuali membunuh atau dibunuh. Karena itu, maka iapun telah mengerahkan segala sisa kekuatannya. Ia masih berusaha untuk mempertahankan hidupnya dan mematikan lawannya dalam kesempatan terakhirnya.
Namun Senapati itu ternyata memang tidak mempunyai kesempatan untuk bertahan lebih lama lagi. Panji Sempana Murti pun sadar, jika ia ragu-ragu membunuh, maka kemungkinan terbesar ia sendirilah yang akan mati di peperangan itu.
Karena itu, pada kesempatan terakhir, serangan Panji Sempana Murti pun datang bagaikan amuk seekor banteng yang terluka. Pedangnya berputar, terayun dan mematuk. Serangan-serangannya datang beruntun susul menyusul.
Senapati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membalas serangan-serangan itu. Bahkan akhirnya justru karena tenaganya yang menyusut, setelah ia mengarahkan segenap kekuatannya, maka kecepatannyapun mulai menurun pula. Ketika pedang Panji Sempana Murti yang besar itu terayun mendatar, maka dengan susah payah Senapati itu berusaha untuk menangkisnya. Tetapi ternyata pedang itu telah berubah arah. Mematuk dengan derasnya kearah lambung.
Senapati itu hanya sempat bergeser sedikit. Namun ternyata kemampuan ilmu pedang Panji Sempana Murti masih sempat menggerakkan ujung pedangnya, sehingga lambung Senapati itupun telah terkoyak karenanya.
Senapati itu mengumpat tertahan. Tetapi ia masih sempat berpikir. Ia melihat medan dalam keseluruhan, dan iapun tidak mempunyai harapan. Karena itu, maka demikian lambungnya terluka, maka iapun telah meneriakkan satu isyarat kepada para prajuritnya.
Pada saat yang menentukan itu ternyata Panji Sempana Murti tidak melepaskannya. Sekali lagi ia sempat menjulurkan pedangnya, dan sekali lagi ujung pedang itu telah mengoyak dada Senapati itu.
Namun pada saat yang demikian, isyarat itu telah didengar oleh para prajuritnya. Isyarat yang memberi kesempatan kepada prajurit-prajuritnya yang semakin susut untuk meninggalkan medan.
Demikianlah, pada saat Senapati itu kemudian jatuh pada lututnya, maka medan itu telah bergejolak sejenak. Para prajurit, pengikut Pangeran Kuda Permati telah dengan serta merta berusaha untuk menarik diri dari pertempuran.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapat menekan dadanya melihat akibat dari pertempuran itu. Meskipun ada juga sebagian dari para prajurit Pangeran Kuda Permati yang lolos, namun sebagian dari mereka tidak lagi sempat menarik nafas lebih lama lagi. Bahkan hanya beberapa orang dalam jumlah yang kecil sajalah yang mendapat kesempatan untuk tetap hidup setelah mereka melemparkan senjatanya dan menyatakan diri menyerah.
Demikianlah, maka pertempuran itu telah berakhir. Medan itu benar-benar telah menjadi neraka bagi kedua belah pihak. Yang kalah maupun yang menang.
Namun dalam pada itu, bagaimanapun juga, sebagai seorang Panglima, maka Panji Sempana Murti berusaha untuk menahan diri.
Dengan kesadaran seorang Panglima, maka Panji Sempana-Murti memerintahkan untuk tidak mengusik para tawanan yang memang sudah menyerah. Betapapun jantung bergejolak oleh kebencian dan dendam karena kematian kawan-kawannya, namun para prajurit Kediri dibawah pimpinan Panji Sempana Murti itupun telah mematuhi perintah itu.
Namun dalam pada itu, merupakan satu kenyataan di hadapan Pugutrawe dan kedua anak muda yang bertugas bagi Singasari bahwa perbedaan sikap dan pendapat di Kediri akan memungkinkan terjadinya satu pembantaian yang mengerikan. Pertentangan antara sesama saudara justru dapat membangkitkan satu permusuhan yg tidak berkesudahan.
Dengan jantung yang terasa berdegup semakin cepat, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyaksikan, bagaimana para prajurit Kedidri dibawah pimpinan Panji Sempana Murti itu membenahi diri. Selain mengurus para tawanan, maka mereka harus mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka. Bahkan sesuai dengan sifat-sifat kesatria, meskipun kadang-kadang tidak menarik untuk dilakukan, mereka pun harus merawat lawan-lawan mereka yang terluka. Mengumpulkan kawan dan lawan yang terbunuh dan menyelenggarakan mayatnya.
Demikianlah, maka saat-saat berikutnya adalah kesibukan pasukan Panji Sempana Murti dan anak-anak muda yang telah melibatkan diri didalam pertempuran itu. Tangan mereka yang sudah basah oleh darah, kemudian telah dibebani pula untuk mengangkat mayat-mayat yang terbujur lintang di bulak.
Pematang, parit dan jalan di bulak itu pun telah menjadi merah pula. Tanaman yang tumbuh subur di kotak-kotak sawah telah rusak terinjak bukan saja oleh kaki-kaki kuda, tetapi juga oleh kaki-kaki prajurit yang bertempur dalam gelar yang melebar.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bersama Pugutrawe telah membantu mengumpulkan para prajurit yang terluka. Namun peristiwa itu memang harus menjadi bahan laporan yang terperinci kepada para pemimpin di Singasari.
“Jika Singasari masih berdiam diri atau sekedar mengamati saja keadaan yang berlarut-larut ini, maka semakin lama Kediri akan semakin parah dilanda oleh permusuhan di antara mereka sendiri,” berkata Pugutrawe di-telinga anak-anak muda itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapat mengangguk-angguk saja. Namun sebenarnya keduanya sependapat sepenuhnya, bahwa pertempuran-pertempuran semacam itu akan merenggut banyak jiwa prajurit Kediri sendiri.
Dalam pada itu, Panji Sempana Murti ternyata masih sempat merenungi keadaan. Tetapi ia benar-benar berdiri di satu batas simpang yang sulit.
Ketika pertempuran sudah selesai, barulah ia menyadari, betapa garangnya medan yang baru saja membakar bulak itu. Korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak merupakan satu kenyataan yang sangat pahit. Namun tanpa sikap yang tegas menghadapi Pangeran Kuda Permati, maka kematian justru hanya akan terjadi di satu pihak saja. Pangeran Kuda Permati akan dapat berbuat apa saja, sementara orang lain berpikir dua tiga kali untuk melakukan tindakan yang sama.
Bagi Panji Sempana Murti tindakan yang tegas itu me mang sangat diperlukan. Tetapi kenyataan dari pertempuran itu telah membuat jiwanya berguncang.
“Apakah aku harus kembali pada sikapku, berdiam diri, menunggu apa saja yang terjadi? Sementara itu rakyat akan mengalami tekanan yang semakin lama semakin membenahi hidup mereka karena tingkah Pengeran Kuda Permati?” pertanyaan itu terasa tajam menusuk-nusuk perasaan Panji Sempana Murti.
Karena itu, maka ketika semuanya telah selesai, Panji Sempana Murti duduk di pendapa Kabuyutan bersama beberapa orang pemimpin dari pasukannya. Sementara itu di gandok Kabuyutan dan di banjar, orang-orang yang terluka mendapat perawatan dari beberapa orang yang memiliki kemampuan untuk melakukannya. Sedangkan satu rumah khusus telah dipergunakan oleh para prajurit Sempana Murti untuk menawan beberapa orang lawan yang menyerah.
Dengan para pemimpin pasukannya, Panji Sempana Murti masih juga memperbincangkan pertempuran yang baru saja terjadi, sementara dibawah lampu minyak beberapa potong makanan masih berasap disamping minuman yang panas dan gula kelapa.
“Pangeran Kuda Permati tentu tidak akan tinggal diam berkata Panji Sempana Murti. ”Ya” jawab salah seorang perwira, “tetapi kekalahannya hari ini memaksanya untuk merenungi langkah-langkahnya yang sudah dan akan diambil berulang kali. Pasukan yang dikirimkan itu merupakan pasukan yang cukup kuat. Kehancuran pasukan itu akan mempengaruhi kekuatan Pengeran Kuda Permati dalam keseluruhan.“
Panji Sempana Murti mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Dalam waktu singkat, Pangeran Kuda Permati akan dapat memperbaiki keadaannya. Tetapi aku sependapat, bahwa kekalahannya itu akan mempunyai akibat yang harus dipikirkan dengan sungguh-sungguh oleh Pangeran Kuda Permati. Mudah-mudahan ada sesuatu yang menghambat langkah-langkahnya yang sampai saat ini seakan-akan tidak terkendali dan yang berbahaya tidak ada kekuatan apapun yang dirasa dapat menghalangi.”
Para perwira di dalam pasukan Panji Sempana Murti itu sependapat. Tetapi agaknya memang ada dua sikap yang agak berbeda terdapat di antara para perwira itu. Dua sikap yang mencerminkan sikap Panji Sempana Murti.
Di suatu pihak ia memang berusaha untuk menghancurkan pasukan Pengeran Kuda Permati sampai orang yang terakhir, namun ia tidak dapat mengingkari satu kenyataan, bahwa pertempuran yang baru saja terjadi telah membunuh sekian banyak orang.
Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat meyakinkan pihak yang lain bahwa pendapatnyalah yang paling benar, sebagaimana Panji Sempana Murti mendapat kesulitan untuk nenentukan, langkah yang manakah yang paling baik untuk dilakukan.
Namun para prajurit itu sependapat, bahwa mereka sama sekali tidak boleh lengah. Semua pihak berpendapat, bahwa lebih baik mereka saling membantai di dalam satu pertempuran yang jujur, betapapun keras dan buasnya daripada salah satu pihak dengan curang telah membantai yang lain tanpa terkendali.
Karena itu, maka dalam kebimbangan, Panji Sempana Murti masih memerintahkan pasukannya untuk berjaga-jaga dan bersiap untuk setiap saat melakukan tugas mereka. Terutama para prajurit dari pasukan berkuda.
Sementara itu, Pugutrawe telah bersiap-siap pula untuk memberikan laporan yang akan memberi kesan sebagaimana yang telah terjadi. Menurut pendapat Pugutrawe, maka harus ada langkah-langkah yang diambil oleh Singasari, untuk melerai pertikaian yang tidak berkeputusan. Tetapi sudah tentu Singasari akan mengambil landasan sikap, bahwa satu di antara dua pihak yang bertempur itu menghendaki Kediri terlepas sama sekali, bahkan sebaliknya, Kedirilah yang sepantasnya menguasai Singasari sebagaimana pada masa Tumapel yang terbatas sebagai satu Pakuwon. Mereka tidak rela melihat bentuk persatuan yang ada pada saat itu, karena Kediri justru berada dibawah naungan Singasari. Mereka sama sekali tidak mau mendengar, jika seseorang menjelaskan bahwa yang ada kemudian adalah Singasari sebagai satu kesatuan dan Kediri merupakan unsur dari kesatuan itu.
Dalam pada itu, kekalahan pasukan Pangeran Kuda Permati itu segera sampai kepada Pangeran Kuda Permati sendiri. Kemarahan yang tiada terhingga telah membakar jantungnya. Tetapi Pengeran Kuda Permati harus menerima kenyataan itu. Pasukannya memang sudah dihancurkan oleh Panji Sempana Murti. Sebagian dari prajurit-prajuritnya yang terbaik telah binasa di medan pertempuran yang garang.
“Panji itu memang gila” geram Pangeran Kuda Permati.
Seperti beberapa orang Senapati yang lain, maka Pangeran Kuda Permati pun berpendapat, bahwa Panji Sempana Murti ternyata telah berbuat sebagaimana mungkin dilakukan oleh Pengeran Singa Narpada. Karena itu. maka Panji Sempana Murti bagi Pangeran Kuda Permati adalah orang yang sangat berbahaya.
Tetapi, Pangeran Kuda Permati memang tidak segera dapat membalas kekalahan-yang baru saja diderita. Ia harus menghimpun kekuatan yang cukup untuk menghancurkan Panji Sempana Murti, karena pasukannya yang baik, sebagian telah dihancurkan dalam kelengahan yang menurut Pangeran Kuda Permati sangat bodoh.
Dengan jantung yang bagaikan retak, Pangeran Kuda Permati telah memanggil para Senapatinya. Dengan tegas ia telah menjatuhkan perintah, bahwa kekalahan itu harus ditebus.
“Tetapi jangan justru mengulangi kebodohan itu” geram Pangeran Kuda Permati. Seandainya Senopati yang bertanggungjawab atas kekalahan itu tidak terbunuh di peperangan, maka ia akan mendapat hukuman yang sesuai dengan kedunguannya itu.”
“Sudah sepantasnya ia menebus kebodohannya dengan nyawanya” berkata seorang Senopati.
Tetapi Pengeran Kuda Permati menyebut dengan lantang, “itu tidak cukup. Kedunguannya telah menghancurkan sebagian, dari pasukanku. Pasukan yang sangat aku perlukan dalam keadaan ini. Dengar, kehancuran pasukan itu, aku harus menghimpun kembali. Yang tersisa harus diperkuat dengan tenaga-tenaga baru yang kurang berpengalaman.”
“Tetapi kita tidak perlu cemas Pangeran” berkata salah seorang perwiranya, “dengan cepat kita akan dapat memulihkan kekuatan pasukan kita. Yang hancur itu sebenarnya bukan landasan kekuatan kita. Yang hancur itu hanya sebagian kecil dari seluruh kekuatan kita.“
“Kau juga bodoh” geram Pengeran Kuda Permati, “Kau kira cara untuk menutup-nutupi kenyataan seperti itu akan bermanfaat? Kau kira berpura-pura seperti itu, kekuatan kita benar-benar akan tumbuh? Permulaan dari kesalahan berikutnya adalah justru pada usaha ingkar dari kenyataan seperti itu. Menyenangkan hatinya sendiri dengan mimpi dan kebodohan.” Perwira itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun justru tertunduk dalam-dalam. Ia mengerti sifat dan watak Pangeran Kuda Permati, sehingga ia tidak berani lagi untuk membantah.
Pada saat api dendam dan kemarahan membakar Pangeran Kuda Permati dan para Senapatinya, maka berita tentang peristiwa yang terjadi itu telah menusuk ke jantung istana Kediri. Sri Baginda yang mendengar berita itu benar-benar menjadi sedih. Tanpa Pangeran Singa Narpada, maka pertempuran yang mengerikan itu telah terjadi pula. Panji Sempana Murti lah yang telah bertindak dengan tegas.
Tetapi Sri Baginda tidak dapat memperlakukan Panji Sempana Murti sebagaimana dilakukan atas Pengeran Singa Narpada. Jika ia berbuat demikian justru pada saat yang gawat itu, maka mungkin sekali terjadi, bahwa Pangeran Kuda Permati akan melakukan balas dendam. Dan terulang lagilah pembantaian yang ganas itu, justru dalam keadaan yang berat sebelah.
Karena itu, maka yang dapat dilakukan oleh Sri Baginda untuk sementara hanyalah merenung dengan hati yang gelap. Seakan-akan tidak ada setitik sinarpun yang akan dapat menerangi hatinya.
Namun dalam pada itu, laporan tentang peristiwa di Kediri itu sudah terbaca di Singasari. Tidak hanya dari seorang petugas atau satu urutan jaringan. Tetapi dari beberapa urutan nadanya hampir sama. Pada dasarnya, keadaan seperti yang terjadi di Singasari itu tidak boleh berlarut-larut. Dalam keseimbangan kekuatan di daerah perbatasan sebelah Utara, maka telah terjadi benturan kekuatan yang sangat garang. Kedua belah pihak yang merasa dirinya lebih kuat dari yang lain membuat kedua belah pihak tidak mau mengekang diri. Seperti dua ekor ayam jantan yang merasa masing-masing kuat. Maka keduanya akan selalu bertempur tanpa henti-hentinya. Baru jika yang seekor dian-tara mereka merasa lemah dan kalah, maka pertarungan di antara keduanya akan berakhir.
“Hanya itulah jalan yang paling baik ditempuh pada saat ini” berkata Mahisa Bungalan Kepada para Senapati yang membicarakan tentang peristiwa di Kediri itu.“
Beberapa orang Senapati yang mendapat tugas untuk membahas persoalan yang tumbuh dan berkembang di Kediri itu sependapat. Salah satu pihak harus dinyatakan lebih kuat dari yang lain.
“Pangeran Singa Narpada harus segera dilepaskan dengan pesan” berkata Mahisa Bungalan, “Laporan-laporan telah cukup yang menyatakan, bahwa Seri Baginda di Kediri memang sedang bingung menghadapi sikap Pangeran Kuda Permati. Meskipun masih diragukan, tetapi agaknya memang ada secercah pikiran di dalam dada Sri Baginda, bahwa Pengeran Kuda Permati bukannya tidak beralasan dalam sikap dan langkahnya. Namun ia pun dapat mengerti pula, bahwa bagi Pangeran Singa Narpada sikap itu adalah sikap perlawanan terhadap pemimpin tertinggi di Kediri. Sedangkan Sri Baginda sadar sepenuhnya, apa saja yang akan dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada. Bahkan ia telah menjadi sangat cemas akan nasib Pangeran Lembu Sabdata yang telah diserahkan oleh Pengeran Singa Narpada.”
Akhirnya para Senapati muda di Singasari itupun telah mengambil satu pendapat, bahwa Pengeran Singa Narpada harus segera dibebaskan, meskipun harus dengan pesan-pesan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang cermat atas tindakan-tindakannya.
“Jika Sri Baginda di Kediri masih berpegangan kepada pendiriannya untuk menahan Pangeran Singa Narpada sebagai imbanganpenahanan Pangeran Lembu Sabdata serta usaha untuk mengekang tindakan kekerasan yang berlebihan, maka Pangeran Kuda Permati lah yang akan melakukan langkah-langkah yang keras, bahkan tanpa merasa harus bertanggung jawab kepada siapapun juga. Sedangkan Pangeran Singa Narpada masih mempunyai kekang tanggung jawab terhadap Sri Baginda.” berkata Mahisa Bungalan.
Namun sebenarnyalah ada dugaan bahwa Sri Baginda memang sedang mengalami keragu-raguan atas hubungan antara Kediri dan Singasari, sehingga karena itu, maka langkah-langkahnya pun menjadi kurang mapan.
“Itu adalah tugas wakil Sri Maharaja di Singasari untuk Kediri” berkata Mahisa Bungalan, “justru pada saat terakhir mulai diperkecil artinya, bahkan seakan-akan telah ditarik sama sekali.“
“Itulah agaknya sebabnya” berkata seorang Senapati yang lain” dengan demikian maka ikatan antara Singasari dan Kediri menjadi kendor.“
Namun dalam pada itu, dengan nada rendah Mahisa Bungalan berkata, “Tetapi mungkin ada sebab lain yang tidak diketahui kenapa Pangeran Singa Narpada telah ditahan justru saat Pangeran itu telah menyerahkan Pangeran Lembu Sabdata.
Para Senapati itu pun mengangaguk angguk. Namun mereka telah mempunyai satu rumusan yang akan mereka ajukan kepada Sri Maharaja di Singasari untuk mengatasi kemelut di Kediri dengan usaha membatasi korban sekecil-kecilnya. Namun bagaimanapun juga, korban yang akan jatuh tentu tidak akan dapat dihindarkan sama sekali.
Demikianlah, maka para Senapati itu telah menyampaikan pendapat mereka langsung kepada Sri Maharaja, karena mereka berpendapat bahwa persoalannya harus lebih cepat diselesaikan.
Ternyata Sri Maharaja telah mempertimbangkan persoalan itu dengan sungguh-sungguh. Dipanggilnya para pemimpin dan orang-orang yang dianggapnya akan dapat memberikan pertimbangan, termasuk Mahisa Agni dan Witantra.
“Tidak ada pilihan lain Sri Maharaja” berkata Mahisa Agni, “hamba berpendapat, bahwa jalan itu adalah jalan yang paling baik. Namun demikian, apabila dalam pelaksanaannya terdapat kemungkinan-kemungkinan lain, maka segalanya akan dapat diperhitungkan sesuai dengan perkembangan keadaan.”
Sri Maharaja di Singasari itu merenung sejenak. Memang agaknya tidak ada jalan lain bagi Kediri untuk memberikan kesempatan kepada Pangeran Singa Narpada, namun dengan pesan bahwa yang dihadapinya adalah justru saudaranya sendiri.
“Sri Baginda di Kediri sudah mengenal dengan baik sifat Pengeran Singa Narpada” berkata salah seorang Senapati, “sehingga menurut laporan petugas sandi, Sri Baginda di Kediri menganggap bahwa pengakuan Pangeran Lembu Sabdata itu disebabkan karena tindak kekerasan Pengeran Singa Narpada.”
Sri Maharaja di Singasari itu pun mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Jika demikian, maka aku akan segera mengirimkan utusan ke Kediri. Kecuali mengamati secara langsung perkembangan di Kediri selain petugas sandi yang sudah ada disana, maka orang yang akan aku kirimkan itu mempunyai wewenang sebagai wakilku dan mempunyai kekuasaan bertindak atas namaku. Karena itu, maka ia akan membawa pertanda kerajaan bagi tugasnya.“
“Jadi, akan diletakkan lagi seseorang yang memegang kekuasaan Sri Maharaja Singasari di Kediri” bertanya seorang Senapati.”
“Ya” jawab Sri Maharaja, “aku akan memerintahkan Mahisa Agni dan Witantra bersama-sama. Keduanya pernah melakukan tugas seperti ini di Kediri.“
“Hamba akan menjunjung tinggi segala titah” jawab Mahisa Agni, “namun sekarang hamba sudah terlalu tua. Meskipun demikian, hamba akan melakukannya sejauh ke mampuan hamba.“
Sri Maharaja mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Berangkatlah dengan segera. Mungkin kehadiran kalian di Kediri ada manfaatnya. Kalian akan dapat membawa pasukan kecil untuk mengawal perjalanan kalian. Tetapi jika diperlukan, maka kalian akan dapat memanggil pasukan seberapa saja kalian perlukan. Mungkin kalian benar, bahwa dengan menunjukkan kekuatan yang besar, justru akani bermanfaat untuk memadamkan sama sekali usaha perlawanan Pangeran Kuda Permati. Namun segala sesuatunya terserah kepada pengamatan kalian. Bagiku sebaiknya Kediri dapat mengatasi persoalan ini dengan kekuatan yang ada di Kediri sendiri, agar tidak ada kesan, bahwa Singasari telah melakukan penindasan. Apalagi jika hal itu dikemukakan oleh Pangeran Kuda Permati.”
Mahisa Agni dan Witantra, dua orang tua yang memiliki pengalaman yang sangat luas, meskipun karena ketuaan mereka, maka mereka sudah tidak lagi setangkas sebelumnya, merasa mendapat beban yang berat. Tetapi sebagai seorang yang selama hidupnya pengabdian dirinya kepada keyakinan dan kepentingan sesama, maka betapapun beratnya tugas itu bagi orang setua umurnya, maka keduanya tidak akan mengelak.
Meskipun demikian, Mahisa Agni masih mengajukan satu permohonan, “Sri Maharaja, apabila berkenan, hamba mohon Mahisa Bungalan akan ikut bersama hamba, memimpin pasukan kecil yang akan mengawani hamba pergi ke Kediri.“
Sri Maharaja mengangguk-angguk. Katanya, “Aku tidak berkeberatan. Bawalah Mahisa Bungalan dengan sepasukan prajurit terpilih. Mudah-mudahan perjalanan kalian tidak terganggu oleh pihak manapun juga, terutama pihak-pihak yang menentang ujud kesatuan Singasari sekarang ini.“
Demikianlah, maka sesuai dengan perintah Sri Baginda, maka Mahisa Agni dan Witantra pun segera berkemas, sementara Mahisa Bungalan telah menyiapkan pasukan berkuda yang akan menemani Mahisa Agni dan Witantra ke Kediri.
Namun dalam pada itu, Mahendra yang mendengar akan keberangkatan anaknya ke Kediri menyertai Mahisa Agni dan Witantra, sempat menemuinya untuk memberikan beberapa pesan.
“Mungkin adikmu berada di Kediri” berkata Mahendra, “karena itu, mudah-mudahan kau dapat bertemu dengan mereka.”
“Aku melakukan tugas yang cukup berat. Tetapi mudah-mudahan aku mendapat waktu untuk menemukan mereka, jika memang mereka berada di Kediri” jawab Mahisa Bungalan, “keduanya sedang memanjat pada umur-umur yang memungkinkan mereka ingin melakukan pengembaraan. Karena itu, maka ada kemungkinan bahwa keduanya justru sudah berada di tempat lain.“
“Mungkin. Tetapi jika kau bertemu dengan kedua adikmu, maka berilah mereka petunjuk dalam suasana kemelut di Kediri” berkata ayahnya kemudian.
“Baiklah ayah” jawab Mahisa Bungalan, “aku akan berusaha.“
Mahendra mengangguk-angguk. Kepada Mahisa Agni, Witantra pun ia berpesan, apabila mereka bertemu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, agar mereka memberikan petunjuk-petunjuk bagi keselamatan kedua anak muda itu.
Demikianlah, setelah semua persiapan selesai, maka Mahisa Agni dan Witantra pun telah berangkat ke Kediri dengan sepasukan prajurit. Lengkap dengan pertanda kebesaran Singasari karena Mahisa Agni dan Witantra tengah mengemban limpahan kuasa Sri Maharaja di Kediri.
Perjalanan pasukan itu memang menarik perhatian. Baik orang-orang Singasari, maupun kemudian orang-orang Kediri. Namun dengan cepat mereka telah menghubungkan kedatangan pasukan itu dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di Kediri.
Tetapi pasukan itu terlalu kecil untuk dikatakan, bahwa Singasari telah datang untuk menindas pemberontakan di Kediri. Pasukan itu hanya terdiri dari beberapa orang prajurit berkuda meskipun dalam sikap sebagaimana pasukan yang membawa pertanda kuasa Sri Maharaja, dan sekedar melindungi kedua orang yang datang atas nama Sn Maharaja itu.
Kedatangan Mahisa Agni dan Witantra di Kediri memang telah disampaikan lebih dahulu kepada Sri Baginda di Kediri. Sebenarnya Sri Baginda di Kediri tidak mengharapkan sama sekali kehadiran mereka. Namun Sri Baginda di Kediri tidak akan dapat menolak.
Tetapi ketika Sri Baginda menyadari bahwa pasukan Singasari yang datang dalam jumlah yang sangat kecil, maka mengertilah Sri Baginda di Kediri, bahwa Singasari masih tetap bertindak dengan bijaksana.
“Ternyata dugaanku salah” berkata Sri Baginda, “Singasari tidak datang dengan pasukan segelar sepapan untuk menindas Kediri.“
Sementara itu, petugas sandi Pangeran Kuda Permati yang berada di Kota Rajapun melihat pasukan itu. Hanya sekelompok kecil. Karena itu, maka mereka tidak akan dapat mengatakan bahwa pasukan itu merupakan pasukan yang dengan sengaja dikirim oleh Singasari justru pada saat terjadi kemelut di Kediri dan memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan Singasari.
Namun dengan demikian, maka Pangeran Kuda Permati justru merasa bahwa geraknya tidak akan banyak terganggu. Usahanya untuk menghimbau kekuatan dan membalas sakit hatinya terhadap Panji Sempana Murti masih akan tetap dilakukannya.
“Justru pada saat orang-orang Singasari itu ada di sini” berkata Pangeran Kuda Permati, “merasa harus melihat, bahwa aku memiliki kekuatan yang cukup besar untuk menghancurkan para penjilat itu, dan bahkan menghancurkan pasukan Singasari apabila mereka berani datang ke Kediri.“
Demikianlah maka Mahisa Agni dan Witantra yang datang di Kediri itu tidak langsung diterima oleh Sri Baginda. Mereka dengan pasukan kecilnya telah ditempatkan di sebuah istana yang memang khusus diperuntukkan bagi para tamu yang dihormati.
Namun untuk menjaga hal-hal yang tidak dikehendaki, justru pada saat utusan Sri Maharaja itu berada di Kediri, maka Sri Baginda telah memerintahkan sejumlah petugas sandi untuk selalu mengawasi, bahwa tidak akan terjadi sesuatu dengan sekelompok orang-orang Singasari itu. Bahkan di sebuah barak prajurit Kediri, Sri Baginda telah memerintahkan untuk mempersiapkan prajurit-prajurit itu untuk dapat bergerak setiap saat.
Sri Baginda merasa bertanggung jawab atas keselamatan orang-orang Singasari itu selama mereka berada di Kediri. Bahkan di perjalanan.
Tetapi menurut perhitungan Mahisa Agni dan Witantra, orang-orang Kediri, meskipun Pangeran Kuda Per mati sekalipun tidak akan mengganggunya, karena jika mereka berbuat demikian sehingga terjadi bencana atas pasukan itu, maka Kediri tentu benar-benar akan menjadi parah karena tindakan yang akan diambil oleh Sri Maharaja di Singasari.
Pada saat yang demikian, justru telah timbul pikiran di hati Pangeran Kuda Permati untuk menunjukkan kekuatannya kepada orang-orang Singasari. Pangeran Kuda Permati ingin mengatakan, bahwa langkahnya bukannya tidak mendapat dukungan dari orang-orang Kediri. Karena itu, maka dengan beberapa orang Senapatinya ia telah membicarakan satu rencana yang akan dapat menarik perhatian.
“Semua orang laki-laki akan ikut bersama kita” berkata Pangeran Kuda Permati.
“Bagaimana jika Panji Sempana Murti juga melakukan hal yang sama” bertanya seorang Senapatinya.
“Dengan diam-diam kita panggil semua prajurit kita yang tersebar” berkata Pangeran Kuda Permati, “kemudian kita mulai bergerak dari perbatasan sebelah Utara. Justru pada saat Panji Sempana Murti belum siap menghadapinya. Kita akan melintasi daerah kuasanya dengan kekuatan penuh. Dengan tidak mengulangi kebodohan pasukan kita yang dihancurkan itu, maka kita akan dapat memberikan kesan, bahwa kita memang kuat. Kemudian kita akan melewati daerah perbatasan Barat dan Selatan. Tanpa mengadakan benturan kekuatan, kita sudah akan dapat menyatakan kepada orang-orang Singasari, bahwa pasukan kita memang kuat. Prajurit kita yang besar cukup banyak, sementara semua laki-laki yang berpihak kepada kita akan kita bawa serta sebagaimana para, prajurit dengan sikap prajurit pula. Dengan tanda-tanda yang memberikan kesan kebesaran Kediri maka kita akan memaksa Singasari untuk berpikir.”
Beberapa orang Senapati Pangeran Kuda Permati menyetujui rencana itu. Tetapi beberapa orang lainnya meragukannya, karena mereka yakin, bahwa beberapa orang Perwira Kediri yang termasuk Panji Sempana Murti tentu tidak akan tinggal diam. Mungkin mereka tidak akan dengan langsung menghadapi seluruh kekuatan Pangeran Kuda Permati yang akan dikerahkan. Tetapi pada saat lain, mereka pun akan dapat berbuat sama. Bahkan mungkin akan dapat timbul benturan-benturan lain yang mengerikan bagaimana pernah terjadi. Tetapi mereka yang tidak sependapat dengan Pengeran Kuda Permati itu merasa segan memberikan pendapatnya untuk menolak rencana itu.
Meskipun demikian Sri Baginda tidak tergesa-gesa menentukan sikap. Ternyata Sri Baginda masih memerlukan pendapat para penasehatnya.
“Karena itu maka kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan mengadakan pembicaraan dengan beberapa orang yang aku anggap dapat memberikan petunjuk kepadaku. Baru kemudian, aku akan menentukan sikap yang paling baik yang dapat aku lakukan menghadapi persoalan ini. Mudah-mudahan aku tidak perlu mengganggu kesibukan para petugas di Singasari, karena aku bertekad untuk menyelesaikan persoalan yang timbul di Kediri ini atas dasar perkembangan keadaan di Kediri pula.”
“Terima kasih Sri Baginda. Demikian pula yang dikehendaki oleh Sri Maharaja di Singasari. Kedatangan kami di sini adalah sekedar memberikan pendapat dan barangkali bantuan apapun jika diperlukan. Hanya jika diperlukan.“
Dengan demikian, maka Sri Baginda pun minta kepada Mahisa Agni dan Witantra untuk menunggu, setelah Sri Baginda berbicara dengan beberapa orang penasehatnya.
Pada malam hari, Sri Baginda memang telah memanggil beberapa orang yang dianggapnya mampu memberikan pertimbangan kepadanya tentang perkembangan keadaan di Kediri berhubung dengan sikap Pangeran Kuda Permati.
Memang ada beberapa pendapat yang berbeda. Tetapi ternyta bahwa nada umumnva mereka tidak dapat menutup kenyataan, bahwa Pangeran Kuda Permati telah melangkah terlalu jauh. Ia tidak saja berdiri diatas keyakinannya tentang hubungan antara Kediri dan Singasari, tetapi ternyata Pangeran Kuda Permati telah mengambil langkah-langkah yang kurang terpuji.
“Sebenarnyalah bahwa Pengeran Kuda Permati telah menakut-nakuti rakyat di beberapa Kabuyutan dan merampas milik mereka” berkata salah seorang di antara para penasehat Sri Baginda, “apalagi, satu hal yang sangat berbahaya bagi masa depan, adalah usaha untuk melumpuhkan Singasari dengan cara yang sangat tercela. Dengan bantuan banyak pihak, bahkan tanpa memandang sifat dan watak seseorang, Pangeran Kuda Permati telah memerintahkan untuk menebangi hutan di lereng-lereng bukit terutama yang menghadap ke Kota Raja Singasari, dengan harapan bahwa Singasari lambat laun akan menjadi lemah, sehingga akhirnya Kediri akan dapat menghancurkannya. Sebenarnyalah bukit-bukit yang gundul itu akan sangat berbahaya bukan saja bagi saat ini, tetapi untuk waktu yang sangat panjang. Semakin lama semakin parah, karena tanah akan menjadi dan bukit-bukit akan tinggal bebatuan yang kering dan gersang tanpa dapat menyimpan air sama sekali. Banjir bandang, tanah longsor dan di musim kemarau air-air menjadi kering”
Bersambung.......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar