*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-010-01*
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun Mahisa Murti pun berkata, “Biar sajalah kemana ia akan pergi. Kami akan pergi ke sungai”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah pergi ke arah Barat pula. Tetapi mereka sama sekali tidak menunjukkan sikap yang tergesa-gesa. Mereka melangkah sewajarnya memasuki kegelapan.
Namun demikian mereka merasa tidak terawasi oleh orang-orang yang meronda di regol, maka mereka pun telah mengambil satu sikap tertentu.
“Apa yang harus kita kerjakan?” berkata Mahisa Murti. “Orang itu memang mencurigakan” jawab Mahisa Pukat.
“Sudah lama aku memikirkannya” berkata Mahisa Murti, “ia adalah gambaran dari seorang yang kecewa”
“Tetapi ia sempat menyembunyikan perasaan itu terhadap Ki Sarpa Kuning. Nampaknya Ki Sarpa Kuning tidak mencurigainya” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku mempunyai dugaan buruk terhadap orang itu. Usahanya menyembunyikan perasaannya tentu ada batasnya. Agaknya kematian erupakan beban yang sulit untuk dilupakannya”
“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti merenung sejenak. Lalu katanya, “Aku mempunyai firasat bahwa orang itu ada di sekitar halaman rumah Ki Sendawa. Meskipun ia tidak mempunyai persoalan dengan Ki Sendawa, namun agaknya ia tidak segan-segan untuk berbuat sesuatu atas Ki Sarpa Kuning. Karena ia merasa bahwa ia tidak akan dapat berhadapan dengan Ki Sarpa Kuning, karena ia adalah muridnya, maka ia akan dapat mengambil jalan lain”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya Aku sependapat. Marilah kita lihat, apakah ia benar-benar ada di sekitar tempat ini”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian bersepakat untuk mencari orang yang meninggalkan gandok itu di sekitar halaman rumah Ki Sendawa.
Dengan hati-hati keduanya pun berputar memasuki halaman rumah disamping rumah Ki Sendawa Halaman yang sudah menjadi sepi. Dengan kemampuan mereka, maka kedua anak muda itu sama sekali tidak menimbulkan kegaduhan ketika mereka meloncati dinding dan sekat-sekat halaman.
Untuk beberapa saat keduanya mengamati keadaan. Mereka bergeser dari satu tempat ketempat yang lain. Bahkan keduanya seolah-olah telah melingkari halaman rumah Ki Sendawa yang luas itu. Namun mereka tidak melihat seseorang.
“Nampaknya orang itu tidak ada disini” desis Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk kecil. Jawabnya, “Mungkin orang itu benar-benar pergi ke sungai atau keluar dari padukuhan untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Tetapi rasa-rasanya sesuatu akan terjadi. Baiklah kita menunggu sejenak”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian menunggu dengan sabar meskipun ada juga kegelisahan didalam hati. Jika Ki Sarpa Kuning terbangun dan mencarinya, mungkin kesulitan akan terjadi.
“Mudah-mudahan ia mengira bahwa aku justru pergi bersama seorang muridnya” berkata Mahisa Murti didalam hatinya.
Namun dalam pada itu, keduanya mulai mendengar sesuatu. Keduanya mulai mendengar gemerisik tidak terlalu jauh dari tempat mereka menunggu.
Mahisa Murti menggamit lengan Mahisa Pukat yang ter-nyata sudah mendengar juga suara yang asing itu. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun mengangguk kecil ketika ia merasa Mahisa Murti menggamitnya.
Perlahan-lahan keduanya berusaha untuk mendekat suara itu. Dengan sangat berhati-hati. agar mereka sendiri tidak justru menimbulkan suara yang dapat menarik perhatian.
Setapak demi setapak mereka berusaha mendekati sumber suara yang tidak menarik perhatian mereka itu.
Kedua orang anak muda itu menjadi tegang. Apalagi ketika mereka melihat murid Ki Sarpa Kuning itu menarik sesuatu dari balik bajunya. Sumpit.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai meraba arti dari perbuatan orang itu. Orang yang pernah menjadi kecewa dan sakit hati. Apalagi setelah adiknya dibunuh oleh Ki Sarpa Kuning.
Dengan demikian, maka keduanya pun mulai dapat menebak teka-teki yang mereka hadapi. Karena itu, maka keduanya pun hampir diluar sadarnya telah bergeser mendekat.
Tetapi karena seluruh perhatian mereka tertuju kepada orang yang berada diatas atap itu, maka Mahisa Pukat menjadi kurang memperhatikan langkahnya. Diluar kehendaknya, ia telah menginjak sepotong ranting kering, sehingga kakinya itu telah menimbulkan suara yang berderik.
Suara itu telah menarik perhatian orang yang sedang berada diatas atap itu. Dengan serta mereka, maka ia pun telah berpaling.
Ternyata penglihatannya tidak kalah tajamnya dengan penglihatan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Meskipun malam cukup gelap, tetapi orang itu dapat melihat dalam keremangan malam, bayangan dua orang yang berdiri di belakang dinding halaman.
Tiba-tiba saja orang itu meletakkan sumpitnya di mulutnya. Dengan kecepatan yang tinggi, orang itu telah melepaskan sumpitnya kearah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Untunglah bahwa kedua orang anak muda itu mampu mengimbangi kecepatan gerak orang yang berada diatap rumah itu. Dengan serta merta, keduanya telah menjatuhkan diri di balik dinding halaman, sehingga mata sumpit itu tidak mengenai mereka.
Namun orang yang berada diatas atap itu merasa, bahwa perbuatannya telah diketahui seseorang. Karena itu, maka dengan tangkasnya orang itu pun kemudian berkisar dan meluncur turun lewat cabang dan batang pohon jambu air yang dipanjatnya. Dalam waktu yang sangat singkat orang itu sudah berdiri diatas dinding halaman dan meloncat turun.
Namun sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang menyadari apa yang telah terjadi, sempat mengambil satu keputusan bahwa mereka akan menyingkir dari tempat itu. Jika mereka harus berkelahi, mereka akan mengambil tempat yang agak jauh dari rumah Ki Sendawa.
Tetapi keduanya dengan sengaja telah memancing orang yang telah berada diatas dinding itu untuk mengikuti mereka
Dalam kegelapan mereka pun telah saling mengejar. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tidak ingin melepaskan diri dari pengamatan orang itu, sehingga akhirnya mereka telah berada di sebuah halaman kosong yang ditumbuhi semak semak belukar.
“Kita berhenti disini” berkata Mahisa Murti.
Sementara itu, orang yang mengejarnya pun telah berdiri beberapa langkah dihadapan mereka.
Ternyata sumber suara itu berasal dari balik dinding halaman, justru diarah halaman Ki Sendawa.
Kedua anak muda itu saling berpandangan sejenak. Kemudian dengan isyarat keduanya pun berusaha untuk dapat menjenguk. Tetapi keduanya harus berusaha, agar mereka tidak melakukan kesalahan dengan menimbulkan bunyi pula betapapun lemahnya. Karena dimalam yang sepi itu, suara yang lemuh pun akan mudah didengar seperti suara yang timbul di halaman rumah Ki Sendawa itu.
Yang paling mudah mereka lakukan kemudian adalah salah seorang dari keduanya berdiri di pundak yang lain. Perlahan lahan yang lain itu akan berdiri dan mengangkat yang berdiri dipundaknya sehingga ia akan dapat menjenguk apakah yang ada dibalik dinding itu tanpa menimbulkan bunyi.
Mahisa Pukatlah yang kemudian berdiri dipundak Mahisa Murti yang berjongkok. Perlahan-lahan Mahisa Murti berdiri sehingga akhirnya, Mahisa Pukat berhasil menjenguk halaman rumah Ki Sendawa.
Ternyata keduanya tidak menimbulkan suara sama sekali Karena itu. maka Mahisa Pukat sempat melihat, apakah yang sedang terjadi.
Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Pukat melihat murid Ki Sarpa Kuning yang telah keluar mendahuluinya itu berusaha untuk memanjat sebatang pohon yang tumbuh dibelakang gandok.
Dengan isyarat Mahisa Pukat pun kemudian minta agar Mahisa Murti menurunkannya, agar ia dapat berbicara serba sedikit apa yang sebaiknya mereka lakukan.
“Apa yang akan dilakukannya” desis Mahisa Murti yang kemudian mendengar hal itu dari Mahisa Pukat.
Mahisa Pukat menggelengkan kepalanya. Namun ia pun kemudian menunjuk sebatang pohon yang rimbun. Sebatang pohon jambu air.
Keduanya pun kemudian melekat dinding halaman disebelah agar orang yang memanjat itu tidak segera melihat mereka. Perlahan-lahan keduanya bergeser semakin dekat dengan arah pohon jambu air itu.
Dari halaman di sebelah keduanya kemudian dapat melihat dalam keremangan malam, orang itu memanjat semakin tinggi. Sehingga kemudian ia berada diatas atap gandok rumah Ki Sendawa.
Kedua anak muda itu saling berpandangan. Keduanya menjadi tegang, justru teka-teki yang dihadapinya tidak segera dapat dipecahkan.
Namun kemudian mereka melihat orang itu mulai menyingkapkan atap gandok itu. tepat diarah Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya itu tidur.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat semakin tertarik melihat sikap orang itu. Dengan sangat hati-hati dan hampir tidak menimbulkan suara apa pun juga, atap gandok itu mulai tersingkap.
Ketika mereka sudah berhadapan, maka jelaslah bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, siapakah yang berdiri dihadapan mereka. Orang itu adalah murid Ki Sarpa Kuning sendiri, yang telah keluar mendahului kedua anak muda itu.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan?” bertanya Mahisa Murti.
Wajah orang itu menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia pun bertanya, “Kau sengaja mengikuti aku?”
“Aku memang mencarimu. Para peronda melihat kau keluar dari gandok dengan sikap gelisah” jawab Mahisa Murti, “ternyata kau telah melakukan satu perbuatan yang dapat mencelakai guru”
“Orang itu bukan gurumu” potong orang itu, “kau telah masuk ke dalam perangkapnya. Sekarang terserah kepadamu. Apakah kau akan melawan atau tidak. Tetapi aku harus membunuh kalian karena kalian melihat, apa yang akan aku lakukan. Bukan karena aku seorang pembunuh seperti Ki Sarpa Kuning, tetapi jika aku tidak melakukannya, maka akulah yang akan dibunuhnya karena kalian akan melaporkannya”
“Terserah apa yang akan kau lakukan” jawab Mahisa Murti, “tetapi beri aku penjelasan akan sikapmu. Kemudian kita akan menentukan, kau atau kami berdua yang akan mati jika kau masih berniat untuk membunuh kami”
“Persetan” geram orang itu, “aku memang akan membunuh orang yang telah merampas kebebasan hidupku dan membunuh adikku itu”
“Kenapa kau mengambil jalan yang sulit. Kenapa kau tidak membunuh guru ketika kau masih berbaring disampingnya” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku tidak akan berhasil membunuh mereka semua. Jika aku membunuh orang yang berada di sisiku, maka yang lain tentu akan segera terbangun” jawab orang itu, “tetapi dari atas atap dengan paser beracun ini, aku akan dapat membunuh semua orang. Aku akan dapat menyumpit mereka dengan cepat seorang demi seorang. Sentuhan paser yang menjadi mata supitku ini tidak akan dapat ditawarkan.
Tetapi Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Kau salah. Ki Sarpa Kuning kebal akan segala bisa”
“Aku muridnya yang jauh lebih lama dari kehadiranmu yang baru saja” jawab orang itu, “aku tahu. Ki Sarpa Kuning memiliki obat tertentu. Tetapi jika ia tidak makan obatnya untuk waktu tertentu, maka kekebalannya akan bisa menjadi berkurang. Biasanya ia makan obat itu sebelum melakukan sesuatu dengan ular-ularnya yang tersimpan baik-baik di dalam kotaknya. Tetapi aku tahu, malam ini ia tidak menelan obat itu. Karena itu, aku akan mengambil kesempatan ini”
Wajah kedua orang anak muda itu menjadi tegang. Namun Mahisa Murti pun berkata, “Apakah tidak ada murid-murid Ki Sarpa Kuning yang lain yang akan menuntutmu kelak”
“Tidak ada yang tahu, bahwa aku yang telah melakukannya. Seandainya ada yang menduga demikian, tidak akan ada orang yang akan mampu mencari aku” jawab orang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Sementara orang itu berkata, “Baiklah. Jika kalian tidak keras kepala, maka kalian masih mempunyai kesempatan untuk hidup. Jika kalian menyerah, maka aku akan mengikat kalian pada batang-batang pohon itu. Aku akan melaksanakan rencanaku dan kemudian meninggalkan tempat ini tanpa seorang pun yang mengetahui tujuanku.
Besok kalian akan diketemukan oleh orang-orang padukuhan ini dan kalian akan dibebaskan. Tetapi seandainya murid-murid Ki Sarpa Kuning yang lain, yang mendengar kematian gurunya kemudian menyangka kalian yang melakukan pembunuhan, itu karena memang nasibmu yang terlalu buruk”
“Tunggu” berkata Mahisa Pukat, “apakah kau tidak mempunyai cara lain daripada membunuh?”
“Tidak ada cara lain terhadap Ki Sarpa Kuning” jawab orang itu, “meskipun sebenarnya aku bukan pembunuh. Karena itu, aku akan memberi kalian kesempatan”
“Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “sebaiknya kau tidak usah memikirkan aku dan saudaraku. Lakukan apa yang akan kau lakukan. Tetapi kalian tidak usah mengikat kami. Itu tidak perlu. Dan kami pun merasa cemas, bahwa setelah kami terikat, kau telah berubah pendirian. Tiba-tiba kau ingin membunuh kami berdua”
“Memang mungkin” jawab orang itu, “sebagaimana timbul pula keinginanku sekarang untuk membunuh kalian. Apalagi jika kalian memperlambat usahaku. Aku akan melakukannya sebelum Ki Sarpa Kuning bangun. Aku sudah mempelajari keadaan di sekitar gandok rumah itu sejak kita tinggal di sana. Aku sudah mempelajari keadaan batang jambu air itu. Dan aku pun telah mempelajari letak amben dimana Ki Sarpa Kuning tidur. Karena itu, kalian jangan mengganggu aku”
“Ki Sanak” berkata Mahisa Pukat, “aku tidak akan mengganggumu. Aku tidak akan menghalangimu. Tetapi aku pun tidak mau jika ingin mengikat kami”
“Kalian tidak mempunyai pilihan lain” jawab orang itu, “aku tinggalkan dengan terikat, atau aku akan membunuhmu sama sekali”
“Kami tidak memilih kedua-duanya” jawab Mahisa Pukat, “tetapi aku pun tidak akan menghalangi apa yang akan kau lakukan”
“Omong kosong” jawab orang itu, “cepat, ambil keputusan. Waktuku sudah habis. Jika Ki Sarpa Kuning terbangun, maka akulah yang akan mati”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang. Nampaknya orang itu tidak sekedar mengancam. Tetapi karena ia sendiri merasa terdesak oleh keadaan, maka ia akan dapat menjadi garang.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat meraba warna perasaan orang itu. Sebenarnyalah bahwa ia memang bukan seorang pembunuh. Mereka memang tidak sebenarnya ingin membunuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ia juga tidak ingin membunuh Ki Sarpa Kuning jika ia tidak tersudut ke dalam satu keadaan yang tidak lagi dapat diatasinya. Ia merasa terjebak ke dalam satu keterikatan yang Hangat menyakitkan hati. Ditambah lagi dengan kematian adiknya yang dibunuh oleh Ki Sarpa Kuning meskipun adiknya memang bersalah.
Gejolak perasaannya yang tidak dapat dikendalikannya lagi, kerinduannya atas perubahan sikap dan tatanan kehidupannya telah mendorongnya untuk mengambil satu sikap yang keras.
Meskipun demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mau menjadi korban keadaan orang itu. Mereka tidak mau menjadi sasaran kebingungan orang yang seakan-akan telah kehilangan pegangan itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak akan menghukumnya sebagaimana ia bersikap dengan orang-orang yang akan membunuhnya. Kedua anak muda itu justru merasa, betapa sakitnya hati orang itu menghadapi keadaannya sendiri. Kematian adiknya yang diketahuinya dengan pasti, tetapi tanpa dapat berbuat apa-apa, sementara itu iu merasa terpenjara dalam satu keadaan yang buram.
Selagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merenungi orang yang berdiri dihadapannya itu, tiba-tiba orang itu telah membentak, “Cepat. Jangan dengan sengaja memperlambat waktu. Cepat katakan, yang manakah yang kau pilih. Terikat dengan harapan bahwa besok kau akan diketemukan oleh seseorang, atau aku akan membunuhmu”
“Jangan Ki Sanak” jawab Mahisa Murti, “lakukan apa yang akan kau lakukan. Aku akan berada disini, tetapi tidak dengan tangan dan kaki terikat”
“Persetan” geram orang itu, “aku tidak mempunyai waktu lagi. Jika kalian tidak memilih kedua-duanya, maka akulah yang akan menentukan. Aku lebih mudah membunuh kalian daripada menangkap dan mengikat kalian”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyadari, bahwa orang itu ten!u akan melakukannya. Karena itu maka Mahisa Murti pun kemudian justru berkata kepada saudara laki-kalinya, “Hati-hatilah. Kita agaknya terpaksa mempertahankan diri”
Orang itu tidak ingin memperpanjang waktu lagi Ketika ia mendengar keputusan Mahisa Murti itu, maka tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan garangnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah menduga. Karena itu, maka serangan yang pertama yang diarahkan kepada Mahisa Murti itu pun dengan mudah dapat dihindarinya.
Tetapi orang itu benar-benar ingin menyelesaikan lawannya dengan cepat. Kegelisahannya tentang dirinya sendiri, telah mendorongnya untuk melakukan kekerasan dan bahkan sampai pada satu kemungkinan untuk membunuh.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti pun telah berusaha bergeser mendekati Mahisa Pukat sambil berdesis, “Kita hadapi orang itu berdua”
“Bagus” ternyata orang itu mendengarnya pula, “dengan demikian kita akan cepat sampai kepada satu keputusan akhir dari pertempuran ini”
Mahisa Murti bergeser pula ketika orang itu menyerangnya. Namun Mahisa Murti masih sempat berkata, “Kami akan melawan karena kami tidak mau diperlakukan tidak adil. Tetapi sebenarnya kami tidak ingin berbuat sesuatu atas perbuatanmu, karena hal itu harus kau pertanggung jawabkan sendiri”
“Aku tidak peduli. Tetapi membunuh kalian memang lebih mudah dari menangkap kalian dan mengikat pada sebatang pohon” berkata orang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mulai membalas serangan-serangan orang itu dengan serangan pula. Tetapi Mahisa Murti masih sempat berdesis, “Jangan sakiti orang itu”
“Kau menghina aku” orang itu hampir berteriak Sementara Mahisa Pukat memotong, “Jangan berteriak. Jika suaramu didengar seseorang, maka akibatnya akan semakin parah. Bukan bagi kami, tetapi bagi kau”
“Tidak. Timbul pikiran baru padaku. Jika Ki Sarpa Kuning atau saudara-saudara seperguruanku datang, aku akan dapat mengatakan bahwa kalian ingin melarikan diri” berkata orang itu.
“Tentu tidak akan dipercaya” jawab Mahisa Murti, “aku masih mempunyai sesuatu yane tertinggal di gandok”
Namun dengan demikian pekerjaan mereka menjadi sangat berat, karena yang mereka hadapi adalah seseorang yang memiliki ilmu yang cukup.
Dalam pada itu, ketika orang itu merasakan, tekanan yang semakin berat dari kedua lawannya, maka ia pun berdesis, “Agaknya kalian merasa memiliki ilmu yang cukup tinggi untuk menggangguku. Tetapi kalian akan segera menyesal, bahwa aku akan segera kehilangan pengekangan diri. Jika aku tidak segera dapat menyelesaikan kalian dengan cara yang lebih lunak, maka aku akan benar-benar membunuh”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi mereka telah meningkatkan tekanan mereka terhada lawannya
Semakin lama, orang itu pun semakin merasakan tekanan yang sulit untuk dielakkan Kedua anak muda itu mampu bergerak cepat. Jika yang seorang gagal menyerang, maka yang lain telah menyusul dengan serangan berikutnya, beruntun tanpa henti-hentinya.
“Gila” geram orang itu. Namun ia masih juga mengancam, “apakah kalian tidak berpikir untuk menghentikan perlawanan kalian”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap berdiam diri. Tetapi mereka masih juga berusaha untuk meningkatkan tekanan mereka terhadap lawannya.
Dalam pada itu, ketika orang itu merasa dirinya tidak mampu lagi menghadapi kedua anak muda itu, agaknya benar-benar telah dkengkam oleh kebingungan, karena sudah barang tentu bahwa ia tidak akan mau mati tanpa berbuat sesuatu. Jika ia dapat ditangkap atau dilumpuhkan oleh kedua orang anak muda itu, maka berarti bahwa ia akan mengalami kematian yang menyakitkan hati. Ki Sarpa Kuning akan membawa seekor ular sebesar jari kelingkingnya. Dan ular kecil itu akan dibiarkan mematuk kulitnya, sehingga akhirnya ia akan mati
Karena itu, maka orang itu tidak lagi berpikir terlalu panjang. Tiba-tiba saja ia sudah menarik pedangnya. Bagaimanapun juga, lebih baik baginya untuk membunuh daripada dibunuh.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bergeser surut. Mereka melihat lawannya telah kehilangan penalaran. Karena itu, maka mereka harus berhati-hati menghadapinya.
Sejenak kemudian, maka murid Ki Sarpa Kuning itu telah menyerang dengan ayunan pedangnya. Sekali sekali terayun mendatar, namun kemudian terayun dalam putaran yang berbahaya, sementara sejenak kemudian pedang itu terjulur lurus mematuk kearah dada lawan
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar harus berhati-hati. Orang itu agaknya sudah tidak sempat berpikir lagi.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berpencar. Keduanya berada di arah yang berlawanan, sehingga dengan demikian, mereka dapat memecah perhatian lawan mereka.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun berusaha untuk lebih cepat mengakhiri pertempuran itu. Dengan kemampuan mereka yang tinggi mereka mulai benar-benar mendesak lawannya. Mereka tidak merasa perlu untuk menyembunyikan unsur-unsur gerak yang manapun karena mereka tidak berhadap-hadapan dengan Ki Sarpa Kuning.
Dalam tingkat tertinggi dari ilmu mereka, ternyata kedua orang anak muda itu berhasil menguasai lawannya, meskipun lawannya itu berpedang. Dengan langkah panjang dan beruntun berganti-ganti, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai menyentuh tubuh lawannya. Dalam kecepatan tertinggi dari kemampuan gerak mereka, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti-ganti mampu menembus putaran pedang lawannya. Apalagi ketika kedua anak muda itu telah mempergunakan pisau-pisau belati yang selalu mereka selipkan dibawah kain panjang mereka.
Justru karena kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka orang yang kehilangan nalar itu menjadi semakin gugup. Sekali-kali ia merasa kecil. Namun kemudian kemarahannya telah membuatnya semakin garang.
Tetapi bagaimanapun juga, ternyata bahwa orang itu tidak akan mampu mengimbangi kecepatan gerak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Semakin lama orang itu justru semakin terdesak.
Akhirnya, dalam keadaan yang paling sulit, maka orang itu tidak lagi mempunyai pilihan lain. Dengan loncatan panjang, maka ia telah mengambil jarak sambil menarik sumpitnya yang diselipkannya diikat pinggangnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut. Mereka mereka mengerti, mata sumpit itu tentu beracun.
Namun murid Ki Sarpa Kuning itu bergerak terlalu cepat. Sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat berbuat sesuatu, orang itu telah meniup sumpitnya mengarah ke dada Mahisa Murti.
Mahisa Murti berusaha mengelak. Tetapi ternyata ia tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya. Mata sumpit itu telah menancap pada pundaknya.
Terdengar Mahisa Murti mengeluh pendek. Wajahnya menjadi tegang. Bagaimanapun juga, darah mudanya mulai mengaliri seluruh tubuhnya.
Sementara itu, Mahisa Pukat pun telah terkejut pula. la menyadari bahwa Mahisa Murti telah dikenai oleh mata sumpit murid Ki Sarpa Kuning itu.
Dalam pada itu, untuk sesaat, baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat seolah-olah justru telah membeku. Jantung mereka bagaikan bedegup semakin cepat. Dengan tajamnya kedua anak muda itu memandang lawan mereka dengan sorot mata yang menyala.
Namun dalam pada itu, selagi kedua anak muda itu mulai dipanasi oleh darah mereka yang mendidih, mereka melihat lawan mereka berdiri termangu-mangu. Dengan-sikap yang aneh orang itu memandang Mahisa Murti yang telah dikenai mata sumpitnya yang memang beracun.
“Ki Sanak” tiba-tiba saja orang itu berdesis, “kau kena mata sumpitku?”
Mahisa murti yang tidak mengerti sikap lawannya itu tidak segera menjawab. Tetapi kedua anak muda itu telah bersiap sepenuhnya menghadapi lawannya yang bersenjata sumpit itu.
Tetapi keduanya menjadi semakin bimbang ketika mereka melihat orang itu menundukkan sumpitnya. Bahkan dengan suara bergetar ia berkata, “Maafkan aku anak-anak muda. Aku tidak berniat untuk membunuh. Tetapi dalam keadaan yang sulit, aku tidak dapat menguasai diriku lagi”
Mahisa Murti melihat perubahan sikap itu dengan hati-hati. Namun nampaknya orang itu bersungguh-sungguh.
Dalam keremangan malam, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat orang itu melangkah mendekat. Namun, bagaimanapun juga keduanya masih belum dapat mempercayai lawannya itu sepenuhnya.
Tetapi ketika mereka melihat orang itu menyelipkan sumpitnya, maka keduanya menjadi semakin meyakini sikap orang itu.
“Ki Sanak” berkata orang itu, “mata sumpit itu beracun. Racun itu kuat sekali, sehingga tidak ada orang yang akan dapat membebaskan diri dari kematian tanpa mendapat pengobatan yang sebaik-baiknya. Karena itu, berilah aku kesempatan untuk mengobati lukamu. Aku sama sekali tidak ingin membunuh kalian. Karena sebenarnya aku tidak mempunyai persoalan dengan kalian, kecuali jika kalian memang akan melaporkan kepergianku dan usahaku untuk melenyapkan Ki Sarpa Kuning. Hal itu pun tidak akan aku lakukan, jika tidak merasa diriku kehilangan harapan untuk menyusun masa depanku”
“Apakah kau berkata dengan jujur?” bertanya Mahisa Murti.
“Aku berkata dengan jujur. Cepatlah. Beri aku kesempatan memperbaiki kekeliruanku” jawab orang itu
“Jika terlambat maka aku tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.
Mahisa Murti termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku mempunyai obat penawar racun Ki Sanak”
“Mungkin obatmu dapat mengobati luka beracun itu. Tetapi jika kalian gagal karena obatmu kurang tajam menghadapi racunku, maka pengobatan selanjutnya sudah terlambat.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun mereka semakin menyadari, bahwa orang itu telah berkata sebenarnya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Jangan risaukan racunmu Ki Sanak”
“Aku tidak bergurau” jawab orang itu, “racun itu adalah racun sebagaimana dipergunakan oleh Ki Sarpa Kuning. Kami, murid-muridnya telah mendapat senjata seperti ini, tetapi juga sekaligus obat untuk menawarkan racun setajam racun Ki Sarpa Kuning itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang melihat kesungguhan sikap kemudian mendekatinya. Sementara orang itu menjadi bertambah tegang. Katanya, “Aku tidak sedang bermain-main Ki Sanak. Nyawamu ada dalam bahaya”
Mahisa Murti yang terkena sumpit pada pundaknya itu pun kemudian dengan hati-hati menarik mata sumpit itu dari tubuhnya.
“Jangan. Tunggu, aku mengobatimu. Jika mata sumpit itu kau tarik sebelum obat dipersiapkan, maka segalanya akan terlambat” orang itu hampir berteriak.
Tetapi Mahisa Murti tersenyum sambil melangkah semakin dekat. Katanya, “Percayalah. Aku tidak akan terpengaruh oleh racunmu itu”
Orang itu termangu-mangu. Namun nampak pada sikap-sikapnya, bahwa ia benar-benar dicengkam oleh ketegangan.
“Jangan risau Ki Sanak. Kau tidak sedang melakukan pembunuhan, karena aku tidak akan mati karena racunmu. Bahkan karena carun siapa pun juga. Apakah kau tidak percaya?” berkata Mahisa Murti kemudian.
Orang itu masih berdiri tegang. Ditatapnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti-ganti, seolah-olah ia tidak percaya akan penglihatannya. Ternyata Mahisa Murti itu masih tetap berdiri tegak dan benar-benar tidak terpengaruh oleh racun pada mata sumpitnya.
Untuk beberapa saat orang itu dicengkam oleh satu perasaan yang kisruh di dalam dadanya. Ketika ia melihat anak muda itu tidak mati, maka perasaan cemasnya telah berubah. Bukan lagi kecemasan bahwa ia akan membunuh orang yang tidak mempunyai persoalan apa pun dengan dirinya, tetapi kecemasan tentang nasibnya sendiri. Anak muda itu akan dapat berbuat apa saja atasnya. Jika mereka tidak membunuhnya dengan tangannya, maka anak-anak muda itu akan dapat melaporkannya kepada Ki Sarpa Kuning yang akan membunuhnya juga.
Dalam kebimbangan dan kecemasan itu, akhirnya tidak ada pilihan lain baginya kecuali bertempur sampai mati. Agaknya cara mati yang demikianlah yang paling terhormat baginya.
Namun selagi ia mempersiapkan diri, terdengar Mahisa Murti berkata, “Ki Sanak. Aku kira kita tidak perlu bertempur lagi. Tidak akan ada gunanya”
“Apakah kau kira akan membiarkan diriku dibantu oleh Ki Sarpa Kuning jika kau melaporkannya” sahut orang itu.
“Tidak” jawab Mahisa Murti, “aku tidak akan melaporkannya”
“Omong kosong” jawab orang itu” agaknya kau telah mendapat kepercayaan Ki Sarpa Kuning melampaui aku, muridnya yang lebih tua. Kau telah mendapatkan kepercayaan untuk menerima obat penawar racun yang kuat itu, sehingga racunku tidak dapat membunuhmu”
“Tidak” jawab Mahisa Murti, “aku tidak mendapat apa pun juga dari Ki Sarpa Kuning. Karena itu, aku tidak akan melaporkanmu. karena kau pun akan dapat melaporkan aku. Nah, apakah kau percaya kepadaku”
“Aku tidak mengerti” desis orang itu.
Ki Sanak. Ki Sarpa Kuning tentu tidak akan senang melihat seseorang memiliki kemampuan melawan racun, karena dengan demikian, maka orang itu akan dapat melawan senjatanya yang paling berbahaya” jawab Mahisa Pukat.
Karena orang itu masih saja dicengkam oleh kebimbangan, maka Mahisa Pukat pun berkata, “Ki Sanak. Percayalah bahwa kami tidak akan melaporkanmu. Kita masing-masing telah mengetahui rahasia kedua belah pihak. Kami tahu, bahwa kau berniat untuk membunuh Ki Sarpa Kuning, sementara itu kau tahu, bahwa kami memiliki kekebalan atas bisa. Nah, bukankah jika kita saling membuka rahasia itu, kita semuanya akan dibunuhnya”
“Jadi apa maksud kalian sebenarnya?” bertanya orang itu.
“Kita akan kembali ke gandok itu. Kita akan saling berdiam diri. Tetapi kita sudah mengetahui, bahwa kita tidak dengan setulus hati berpihak kepada Ki Sarpa Kuning. Nah, apakah kau sudah mengerti maksud kami?” bertanya Mahisa Pukat kemudian. Lalu, “Sebenarnyalah kami tidak perlu melaporkan kepada Ki Sarpa Kuning jika kami ingin mencelakaimu, karena kami dapat melakukannya sendiri sekarang”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun akhirnyai ia pun mengerti maksud kedua orang anak muda itu. Ternyata kedua anak muda itu tidak benar-benar ingin menjadi murid Ki Sarpa Kuning.
“Anak-anak muda” berkata orang itu kemudian, “aku melihat sikap kalian yang bertentangan dengan yang kalian lakukan sehari-hari. Apakah dengan demikian kalian ingin mengatakan, bahwa apa yang kalian lakukan sekarang ini hanyalah pura-pura saja?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun akhirnya Mahisa Murti pun menjawab, “Ya. Kami tidak sebenarnya ingin menjadi murid Ki Sarpa Kuning. Kami hanya sekedar ingin tahu, apa yang akan dilakukannya. Kami pun menyadari bahwa Ki Sarpa Kuning tidak sepenuhnya percaya kepada kami. Namun kami telah berusaha untuk berbuat apa saja yang dapat mempertebal kepercayaan itu.
“Ya. Ki Sarpa Kuning tetap mencurigai kalian” berkata murid Ki Sarpa Kuning itu.
“Kami mengerti. Ketika Ki Sarpa Kuning memungut kami justru pada saat Kami sedang berkelahi, maka kami pun sudah menyadari” jawab Mahisa Murti. Lalu katanya, “Marilah kita kembali Jangan terlalu lama meninggalkan gandok”
“Apa kata Ki Sarpa Kuning nanti” desis muridnya itu. Katakan, bahwa kau telah mengikuti aku pergi ke sungai berkata Mahisa Murti” bukankah kami masih harus selalu mendapat pengawasan”
Orang itu mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat berkata, “Kita akan dapat bekerja sama untuk seterusnya. Bukankah kau sudah tidak ingin berada dibawah pengaruh Ki Sarpa kuning?”
“Ya. Tetapi Ki Sarpa Kuning adalah orang yang tidak terkalahkan” jawab muridnya. Lalu, “Bahkan orang orang berilmu pun segan menghadapinya”
Mahisa Murti mengangguk-angguk sambil menyahut, “Kami mengerti. Tetapi itu bukan satu alasan bahwa apa pun yang akan dilakukan tidak akan dapat dicegah”
“Aku mengerti, tetapi siapakah yang akan dapat mencegahnya?” bertanya orang itu.
Dalam pada itu, sebelum Mahisa Murti menjawab, terdengar suara dari dalam kegelapan, “Kita akan mencegah bersama-sama”
Ketiga orang itu pun dengan serta merta telah mempersiapkan diri. Mereka bergeser menghadap kearah suara itu.
Tetapi mereka terkejut ketika tiba-tiba saja terdengar suara dari arah lain” Aku akan disini ngger. Kenapa kalian justru menghadap kesana?”
Sekali lagi orang-orang itu terkejut. Sekali lagi mereka meloncat kearah yang lain Terdengar suara tertawa. Mereka melihat seseorang berdiri dihadapan mereka.
Sambil tertawa orang itu berkata, “Kalian masih harus belajar mengenal sumber suara lebih baik lagi. Aku ada disini. dan kalian menyangka bahwa aku berada di tempat lain. Dalam keadaan yang demikian, kalian berada dalam bahaya. Sementara kalian kebingungan, aku dapat berbuat banyak atas kalian”
Ketiga orang itu menjadi berdebar-debar. Namun mereka menyadari bahwa orang itu tentu orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga orang itu mampu mengacaukan tanggapan mereka atas suara yang ditimbulkannya.
Namun sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun menarik nafas dalam-dalam. Yang berdiri dihadapan mereka adalah Ki Waruju.
“Ki Waruju mengejutkan kami” berkata Mahisa Murti. “Aku mengamati kalian sejak kalian berada di halaman sebelah rumah Ki Sendawa” berkata Ki Waruju.
“Siapakah kau?” bertanya murid Ki Sarpa Kuning. Orang itu tersenyum sambil melangkah mendekat.
Katanya, “Kau belum mengenal aku Ki Sanak. Tetapi kedua anak muda ini sudah mengenalku sebelumnya” Ki Waruju berhenti sejenak, lalu, “aku adalah seorang petani dari padukuhan sebelah. Padukuhan yang di sebelah oleh sungai kecil yang mengalir di sebelah Timur padukuhan Ki Sendawa ini.
Murid Ki Sarpa Kuning itu termangu-mangu. Hampir tidak percaya ia bertanya, “Kau orang Kabuyutan ini?”
“Ya” jawab Ki Waruju, “aku memang orang Kabuyutan ini yang mengikuti perkembangan terakhir dengan jantung yang berdebar-debar. Agaknya persoalan yang semakin panas di Kabuyutan ini tidak akan segera dapat dipecahkan”
Murid Ki Sarpa Kuning itu menjadi heran. Jika benar orang itu adalah orang Kabuyutan yang sedang bergejolak itu, maka ternyata Kabuyutan itu mempunyai orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi sebagaimana orang yang berdiri dihadapannya itu.
“Ki Sanak” berkata Ki Waruju kemudian kepada murid Ki Sarpa Kuning, “aku dan beberapa orang kawan-kawanku menjadi cemas melihat perkembangan keadaan, sehingga kami merasa perlu untuk mengamati keadaan dengan saksama. Termasuk orang-orang asing yang berada di lingkungan Kabuyutan kami. Orang asing yang bukan saja tinggal di Kabuyutan kami, tetapi telah mempengaruhi perkembangan Kabuyutan kami dengan licik”
Murid Ki Sarpa Kuning itu menjadi berdebar-debar. Sementara Ki Waruju itu pun berkata, “Sampai saat ini kami baru sekedar mengamati-amati. Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang kami anggap asing bagi Kabuyutan kami”
“Jadi kalian selama ini selalu mengamati kami?” bertanya murid Ki Sarpa Kuning itu.
“Ya. Kami selalu mengamati kalian” jawab Ki Waruju, “kami pun mengerti bahwa murid-murid Ki Sarpa Kuning selalu menganggap bahwa gurunya tidak akan dapat dicegah niatnya oleh siapa pun juga. Tetapi ketahuilah, bahwa aku dan beberapa orang kawan-kawanku akan berusaha untuk mencegahnya”
Murid Ki Sarpa Kuning itu menjadi semakin gelisah. Sementara Ki Waruju itu pun berkata, “Tetapi sudahlah. Sekarang kembalilah ke rumah Ki Sendawa, agar Ki Sarpa Kuning tidak mencurigai kalian”
Murid Ki Sarpa Kuning itu termangu-mangu. Sementara Ki Waruju berkata, “Aku sudah mengerti sikap kalian. Sejak sebelumnya aku sudah mengerti tentang angger Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dan sekarang aku mengerti tentang kau Ki Sanak, bahwa kau sebenarnya tidak sejalan dengan pandangan dan sikap hidup Ki Sarpa Kuning. Karena itu, maka jangan cemas. Jika pada saatnya kawan-kawanku bertindak atas Ki Sarpa Kuning, maka kau akan mendapat perhatian khusus dari kami”
“Bagaimana dengan kedua orang anak muda ini?” bertanya murid Ki Sarpa Kuning.
Ki Waruju tertawa. Katanya, “Anak itu sejak semula adalah sebagian dari kami. Adalah kebetulan sekali, bahwa Ki Sarpa Kuning melihat mereka berkelahi dan tertarik kepada mereka, sehingga Ki Sarpa Kuning menawarkan kepada kedua anak itu untuk bergabung dengan mereka. Karena menurut dugaan Ki Sarpa Kuning kedua orang anak ini adalah dua orang perantau”
“Apakah keduanya bukan perantau?” bertanya murid Ki Sarpa Kuning itu.
“Bukan” jawab Ki Waruju, “mereka bukan perantau”. Orang itu berpikir sejenak. Lalu ia pun berkata, “Aku tidak mengerti. Tetapi kedua orang anak ini tentu bukan orang Kabuyutan ini”
“Kenapa?” bertanya Ki Waruju
“Jika keduanya orang Kabuyutan ini, keduanya tidak asing dengan anak-anak muda dipadukuhan Ki Sendawa”
Jawab murid Ki Sarpa Kuning, “tetapi kedua anak muda ini sama sekali tidak mengenal seorang di antara mereka”
Ki Waruju tersenyum. Katanya, “Kau memiliki pengamatan yang cukup cermat Ki Sanak. Keduanya memang bukan orang Kabuyutan ini sejak lahir. Tetapi keduanya adalah kemanakanku. Aku memanggil mereka untuk tinggal di Kabuyutan ini. Ternyata disini mereka mendapatkan satu kerja yang menarik”
Murid Ki Sarpa Kuning itu menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia tidak mempercayai ceritera itu sepenuhnya, namun ia tidak dapat menyangkal bahwa orang yang disebut Ki Waruju itu memiliki ilmu yang pantas diperhitungkan. Oleh gurunya sekalipun.
Namun dalam pada itu, Ki Waruju pun berkata, “Cepat Kembalilah. Kalian sudah terlalu lama* pergi. Mudah-mudahan kalian tidak dkurigai. Langkah-langkah berikutnya akan kita bicarakan kemudian”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mengajak murid Ki Sarpa Kuning itu kembali ke rumah Ki Sendawa, karena mereka masih harus melakukan peranan mereka untuk selanjutnya.
Di perjalanan itu, Mahisa Murti berkata kepada murid Ki Sarpa Kuning itu, “Kita tidak akan dapat saling membuka rahasia. Kita telah terikat ke dalam satu ikatan tanpa kita kehendaki. Kita harus bersama-sama melawan Ki Sarpa Kuning itu”
“Apakah kita akan membunuhnya saja?” bertanya murid Ki Sarpa Kuning itu.
“Kita harus memperhitungkannya” jawab Mahisa Murti, “karena selain Ki Sarpa Kuning sendiri, terdapat Ki Sendawa dan para pengikutnya. Pusar dari masalah yang dihadapi orang-orang Kabuyutan ini bukannya Ki Sarpa Kuning itu sendiri. Tetapi Ki Sendawa”
Orang itu mengangguk-angguk. Ia pun menyadari, bahwa hubungan antara Ki Sarpa Kuning dan Ki Sendawa nampaknya merupakan masalah yang harus mendapat pemecahan karena kedua belah pihak akan saling mendapatkan keuntungan.
Ki Sendawa akan mendapatkan kedudukan dan kekuasaan, sementara Ki Sarpa Kuning akan mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan satu tugas besarnya tanpa diganggu. Ia akan mendapatkan hak untuk menguasai hutan di lereng bukit dan kemudian menebang hutan itu sesuai dengan kehendaknya, dalam rangka pelaksanaan satu rencana yang besar bukan saja yang akan dilaksanakan oleh Ki Sarpa Kuning, tetapi oleh banyak pihak yang dikendalikan oleh beberapa orang bangsawan di Kediri.
Dengan demikian, maka baik murid Ki Sarpa Kuning, maupun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, harus membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan sebelum mereka melakukan satu tindakan yang akan berarti bagi mereka dan lingkungan mereka.
Dalam pada itu, maka ketiga orang itu pun semakin lama menjadi semakin mendekati halaman rumah Ki Sendawa. Karena itu, maka mereka pun mulai berpikir, alasan apakah yang akan mereka berikan jika Ki Sarpa Kuning ternyata mengetahui kepergian mereka bertiga untuk waktu yang cukup lama.
Namun akhirnya Mahisa Murti menemukan juga satu alasan yang mungkin akan dapat dipercaya oleh Ki Sarpa Kuning. Apa saja yang telah mereka lakukan selama mereka meninggalkan rumah Ki Sendawa.
“Katakan” berkata Mahisa Murti, “mudah-mudahan ia mempercayainya”
Murid Ki Sarpa Kuning itu mengangguk-angguk. Memang tidak alasan lain yang lebih baik daripada yang di katakan oleh Mahisa Murti.
Demikianlah, dengan hati yang berdebar-debar ketiga orang itu pun kemudian memasuki halaman rumah Ki Sendawa, Para peronda di regol halaman yang telah mengenal mereka, sama sekali tidak mengganggu. Mereka membiarkan ketiga orang itu melintas halaman menuju ke gandok.
Namun debar jantung ketiga orang itu serasa menjadi semakin cepat ketika mereka melihat Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya yang lain duduk di serambi gandok rumah Ki Sendawa.
Ketika Ki Sarpa Kuning melihat kehadiran mereka, maka sambil menarik nafas dalam-dalam ia pun bertanya, “Darimana kalian bertiga malam-malam begini?”
Murid Ki Sarpa Kuning itulah yang menjawab, sesuai dengan pembicaraannya dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Aku mengantar mereka pergi ke sungai. Aku tidak dapat melepaskan keduanya pergi tanpa pengawasan
Ki Sarpa Kuning menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa kedua anak muda itu harus diawasi?”
Ketegangan telah mencengkam jantung murid Ki Sarpa Kuning itu. Namun kemudian ia berkata, “Mereka termasuk orang baru bagi kita. Apakah yang aku lakukan itu keliru?”
Ki Sarpa Kuning merenungi wajah muridnya itu. Samun kemudian katanya, “Baiklah. Kau tidak melakukan kesalahan. Tetapi sebenarnya kau tidak perlu terlalu mencurigai kedua anak muda itu. Bukankah keduanya adalah adik seperguruanmu?”
“Aku mengerti guru. Tetapi selama ini, kita memang masih mengawasinya, apakah keduanya benar-benar dapat dipercaya” jawab murid Ki Sarpa Kuning itu.
Namun Ki Sarpa Kuning tertawa sambil berkata, “Baiklah. Kau memang seorang yang dungu. Jika hal itu kau katakan dihadapan kedua anak muda itu sendiri, apakah hal itu tidak akan menumbuhkan persoalan di dalam dirinya?”
Sementara itu, sebelum murid Ki Sarpa Kuning itu men jawab, Mahisa Murti lah yang menyahut, “Sebenarnya kami pun merasa bahwa kami memang masih dalam pengamatan. Tetapi kami mengerti bahwa kami adalah orang-orang baru yang belum pernah menunjukkan kesetiaan kami.”
Ki Sarpa Kuning mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah. Syukurlah jika kau tidak menjadi sakit hati Tetapi sudah menjadi kebiasaan kami untuk menilik setiap orang di dalam lingkungan keluarga kami, apakah mereka bersungguh-sungguh atau sekedar ingin menyadap ilmu tanpa memberikan kenyataan sebagai keluarga yang baik”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa Pukat dan murid Ki Sarpa Kuning itu pun merasa seolah-olah himpitan perasaan mereka telah terlepas Ki Sarpa Kuning ternyata mempercayai mereka, bahwa mereka tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kedudukan mereka sebagai muridnya.
Dalam pada itu, maka Ki Sarpa Kuning pun kemudian menyuruh murid-muridnya kembali ke ruang dalam gandok, karena sudah larut malam”
“Kepergian kalian memang membuat kami agak cemas” berkata Ki Sarpa Kuning, “Karena itu kami telah duduk di serambi sambil menunggu”, “Kami tidak ingin mengganggu” sahut murid Ki Sarpa Kuning, “karena itu, kami tidak memberitahukan kepergian kami”
“Baiklah. Masih ada waktu bagi kalian untuk tidur” berkata Ki Sarpa Kuning, “Aku akan melihat-lihat keadaan”
“Guru akan pergi kemana?” bertanya orang berkumis itu.
“Hanya berjalan-jalan saja” jawab Ki Sarpa Kuning.
“Apakah aku boleh menyertai guru?” bertanya orang berrkumis itu pula.
Sarpa Kuning termenung sejenak. Kemudian dipandanginya Gajah Wareng sambil berkata, “Biarlah ia pergi bersama aku”
“Silahkan” jawab Gajah Wareng, “aku akan tidur”
Ki Sarpa Kuning pun kemudian meninggalkan halaman rumah Ki Sendawa. Sementara itu, Gajah Wareng pun berkata, “Tidurlah. Jangan berkeliaran di malam hari”
“Kami pergi ke sungai” jawab saudara seperguruannya. Gajah Wareng tidak menyahut. Tetapi ia pun kemudian memasuki gandok dan menjatuhkan dirinya diatas amben yang besar.
Sementara itu, mereka yang masih di luar telah bangkit pula. Namun saudara seperguruan Gajah Wareng itu masih juga sempat berbisik, “Kami adalah orang-orang yang selalu berkeliaran di malam hari. Peringatan itu justru terdengar aneh ditelingaku”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi keduanya pun kemudian memasuki gandok itu. Baru kemudian murid Ki Sarpa Kuning itu masuk pula.
Tanpa berbicara apa pun juga, maka ketiga orang itu pun telah berbaring pula. Seolah-olah tidak ada persoalan sama sekali yang sedang mereka pikirkan, karena sejenak kemudian, ketiga orang itu seakan-akan telah tertidur nyenyak.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapatkan satu kepastian, bahwa orang yang telah kehilangan adiknya dan kebebasannya itu benar-benar memusuhi gurunya meskipun tidak dengan berterus terang. Dengan demikian, maka dalam keadaan yang khusus orang itu akan dapat diajak bekerja bersama.
“Orang itu tentu tidak akan menolak berkata Mahisa Murti pada suatu saat kepada Mahisa Pukat kita memegang satu rahasia besar yang akan dapat menjeratnya ke dalam kematian meskipun mungkin akan menjadi sumber kesulitan pula bagi kita”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan dapat mempergunakannya pada suatu. saat. Atau barangkali kita akan dapat saling membantu”
Mahisa Murti memang ingin merencanakan satu kerja sama yang sebaik-baiknya dengan orang itu untuk menggagalkan usaha Ki Sendawa.
“Bagaimanapun juga, Ki Sarpa Kuning tentu lebih percaya kepada muridnya itu daripada kepada kita, meskipun kita juga disebut sebagai muridnya” berkata Mahisa Murti, “karena itu, kita sangat memerlukannya”
“Tetapi apakah Ki Sarpa Kuning tidak akan mencurigainya juga?” bertanya Mahisa Pukat.
“Mungkin pada saat-saat mendatang” jawab Mahisa Murti, “tetapi tentu tidak dalam waktu dekat. Meskipun orang itu telah kehilangan adiknya, tetapi agaknya ia menyimpan dendamnya di dalam hatinya. Agaknya orang itu dengan berpura-pura seperti yang kita lakukan, mampu memelihara kepercayaan gurunya, sehingga pada suatu saat ia akan dapat membalas sakit hatinya itu”
“Lalu, apa yang dapat kita lakukan bersamanya” bertanya Mahisa Pukat.
“Kita mengganggu Ki Sendawa tidak pada bentuk lahiriahnya. Tetapi kita mengganggu perasaannya” jawab Mahisa Murti.
“Bagaimana. Aku belum mengetahui rencana semacam itu” sahut Mahisa Pukat.
“Kita meletakkan benda-benda yang aneh di dalam rumah Ki Sendawa. Tentu lebih baik bukan kita yang meletakkannya. Pada saat-saat tertentu, kita harus selalu berada di dekat Ki Sarpa Kuning atau murid-muridnya yang lain. Jika diketemukan sesuatu di dalam rumah itu, mereka tidak akan menuduh kita. Dan mereka pun tidak akan dengan cepat menuduh muridnya yang kehilangan adiknya itu asal ia tidak tertangkap pada saat ia melakukannya” jawab Mahisa Murti.
“Apakah ada gunanya?” bertanya Mahisa Pukat.
“Tentu ada. Jika di dalam satu sudut bilik rumah Ki Sendawa terdapat sebungkus bunga dengan beberapa rerangken yang aneh-aneh, misalnya duri ikan atau pecahan kulit kerang atau sebangsa itu, maka Ki Sendawa akan berpikir tentang benda-benda itu. Mudah-mudahan ia memperhatikannya” jawab Mahisa Murti.
“Apakah hasilnya dengan permainan itu” bertanya Mahisa Pukat.
“Kita ingin menunda saat Ki Sendawa mengangkat dirinya menjadi Buyut. Jika kita berhasil menyusupkan sesuatu yang mencurigakan, sekaligus memberikan sebangsa gangguan yang tidak perlu membunuhnya atau jenis-jenis permainan lain, maka ia akan memperhitungkan rencananya itu kembali. Mudah-mudahan permainan itu demikian mencengkam hatinya, sehingga ia akan menunda pengangkatannya sendiri itu. Sementara Ki Waruju akan mendapat gambaran sikap dari pihak yang lain dari perebutar ini”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia kurang yakin bahwa usaha itu akan berhasil. Meskipun demikian ia tidak akan mencegah hal itu dilakukan.
Demikianlah, pada saat-saat tertentu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat berbicara dengan murid Ki Sarpa Kuning yang kecewa itu. Disamping pembicaraan di antara mereka, maka setiap kali Ki Waruju sempat pula menemui Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dalam kesempatan-kesempatan yang khusus.
“Cobalah kau berusaha” minta Mahisa Murti kepada murid Ki Sarpa Kuning itu.
Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia mengerti sikap Mahisa Murti. Ternyata bahwa orang itu memang lebih leluasa bergerak dari pada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Nampaknya Gajah Wareng dan orang berkumis, murid Ki Sarpa Kuning itu masih tetap menganggap penting untuk mengawasi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Untunglah bahwa kadang-kadang mereka menyerahkan pengawasannya kepada saudara seperguruan mereka yang diluar pengetahuan mereka, mempunyai hubungan yang khusus dengan kedua orang anak muda itu.
Sesuai dengan rencana Mahisa Murti, maka orang yang kecewa itu telah berhasil pada satu saat menyusupkan sebilah keris tua yang sebenarnya tidak berarti apa-apa dengan sebungkus bunga dari berbagai jenis. Orang itu meletakkan benda-benda itu di sudut dapur Ki Sendawa.
Sebenarnyalah. benda-benda itu telah membuat seluruh keluarga Ki Sendawa menjadi ribut. Mereka menganggap yang terjadi itu satu peristiwa ajaib yang mempunyai pengaruh tertentu. Mereka tidak menganggap bahwa keris tua yang sudah karatan itu sebagai keris yang tidak berarti apa-apa. Tetapi justru melihat ujudnya, maka Ki Sendawa menganggap bahwa keris itu tentu mempunyai kekuatan tertentu bagi keluarganya.
Tetapi peristiwa yang pertama itu, masih belum dihubungkan oleh Ki Sendawa dan keluarganya dengan rencana Ki Sendawa untuk mengangkat dirinya sendiri menjadi Buyut Kabilyutan Talang Amba. Mereka menganggap bahwa yang terjadi itu adalah usaha orang-orang yang tidak menyukainya dalam hubungan yang lain.
Namun sementara itu, Ki Waruju dengan tidak jemu-jemunya telah menghubungi menantu Ki Buyut yang telah tidak ada lagi itu untuk bangkit dari keragu-raguannya.
“Tidak ada waktu untuk memikirkannya berkepanjangan” berkata, Ki Waruju kepada menantu Ki Buyut, “aku memang tidak banyak berkepentingan. Aku adalah orang lain bagi Kabuyutan ini. Tetapi aku tahu benar pendapat orang-orang Kabuyutan ini. Mereka merupakan harapannya kepadamu”
Menantu Ki Buyut itu memandangi orang-orang yang pada waktu itu ada di sekitarnya. Wajah-wajah mereka memancarkan berbagai macam perasaan.
Sebenarnyalah jantung orang-orang Kabuyutan Talang Amba itu bagaikan terguncang-guncang melihat sikap menantu Ki Buyut. Mereka merasa kasihan melihat kekerdilan sikap itu. Namun mereka pun menahan perasaan marah dan kecewa.
Karena menantu Ki Buyut itu masih belum juga dengan tegas menentukan sikap, juga karena isterinya berusaha mencegahnya melibatkan diri ke dalam pertentangan perebutan kekuasaan itu, maka orang-orang Kabuyutan itu telah mengambil langkah sendiri.
“Kita tidak akan mencegah usaha Ki Sendawa dengan kekerasan” berkata Ki Waruju, “nampaknya mereka memiliki kekuatan yang mungkin akan dapat membuat keadaan semakin rumit”
“Apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya beberapa orang anak muda yang perlahan-lahan terpengaruh oleh sikap Ki Waruju.
“Kita mempengaruhi Ki Sendawa dengan cara lain. Kekerasan hanya akan kita pergunakan dalam keadaan yang tidak terelakkan lagi” jawab Ki Waruju.
Bersambung.... ...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar