*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 006-03*
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Akan tetapi ia tidak dapat melepaskan pikirannya dari rencana orang-orang yang ditemuinya di pasar itu untuk membuat kapak yang demikian banyaknya.
“Bahkan mungkin ada orang lain yang memesan kepada pande besi yang lainnya lagi,” berkata Mahis Agni di dalam hatinya.
Demikianlah, maka perjalanan kelompok kecil itupun semakin lama menjadi semakin jauh dari pasar yang mendebarkan itu. Widati yang cemas sekali-kali bertanya pula kepada ayahnya apakah yang sebenarnya telah terjadi.
”Aku tidak begitu pasti,” jawab Ki Buyut. Meskipun ia juga berusaha mendapat keterangan dari Mahisa Agni dan Witantra, namun ia tidak membuat anak gadisnya menjadi semakin gelisah. Karena itu ia tidak menjelaskan sebagaimana yang ia dengar sepenuhnya.
Tetapi serba sedikit Widati juga sudah mendengar, bahwa yang terjadi di pasar itu bukan satu peristiwa sepotong yang tidak ada hubungannya dengan persoalan yang lebih besar. Karena itu, bagaimanapun juga ayahnya berusaha untuk menyembunyikan persoalannya. Widati masih juga nampak gelisah.
Meskipun demikian ia tidak mendesak ayahnya sepanjang dalam perjalanan. Menurut pendapatnya, ayahnya akan dapat dimintanya untuk berbicara lebih banyak jika mereka sudah berada di rumahnya. Karena itu, maka Widatipun tidak bertanya lebih banyak lagi.
Perjalanan mereka selanjutnya. tidak lagi banyak diisi dengan pembicaraan-pembicaraan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berkuda di paling depan. Kemudian Ki Buyut dan anak gadisnya, Widati, sedangkan di paling belakang adalah Mahisa Agni dan Witantra.
Perjalanan yang panjang itu akhirnya dapat mereka selesaikan juga. Dengan hati yang berdebar-dehar, Widatipun lalu memasuki padukuhan induk Kabuyutan Randumalang.
“Kita telah sampai ayah,” berkata Widati kepada ayahnya.
Ki Buyutpun menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Bersyukurlah kepada Yang Maha Agung. Kita telah sampai dengan selamat di rumah.”
Widati mengangguk kecil. Bahkan terasa pelupuk matanya menjadi panas.
Kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh penghuni Kabuyutan Randumalang. Ki Jagabaya yang mulai merasa cemas karena kepergian yang terasa terlalu lama itupun menyambut kedatangan Ki Buyut dengan pernyataan syukur.
“Ternyata kalian telah kembali,“ desis Ki Jagabaya kemudian.
Betapapun terasa kelelahan di tubuh Ki Buyut, namun sesaat ia berada di rumahnya, orang-orang di Kabuyutan seakan-akan telah dihentakkan oleh satu perintah, agar mereka datang ke rumah Ki Buyut.
Dengan begitu maka di rumah Ki Buyut itu bagaikan telah dilangsungkan satu perhelatan. Ketika malam turun, maka lampu minyakpun telah terpasang di mana-mana. Ki Buyut tak dapat menolak. Orang-orang tua dan bebahu Kabuyutan dipersilahkan duduk di pendapa, sementara yang lain berada di halaman dan bahkan di jalan-jalan di seputar rumah Ki Buyut itu.
Di ruang dalam, Widatipun di kerumuni oleh perempuan-perempuan tua di Kabuyutannya. Merekapun menanyakan keselamatan Widati dan bertanya tentang pengalamannya.
Dengan tersendat-sendat Widati berusaha untuk dapat memenuhinya biarpun yang bisa diceriterakannya hanya sebagian kecil saja dari segala peristiwa yang pernah dialaminya disepanjang perjalanan.
Malam itu di rumah Ki Demang benar-benar menjadi ramai, sehingga baik Ki Demang, Widati dan orang-orang yang datang bersamanya tidak sempat untuk beristirahat.
“Untunglah, semua kesulitan itu sudah teratasi,” berkata Ki Jagahaya, “dan Ki Buyut serta Widatipun telah memberikan sumbangan betapapun kecilnya untuk keberhasilan rencana itu dalam keseluruhan.”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Kelelahan dan kantuk rasa-rasanya sudah tidak dapat lagi dielakkannya. Akan tetapi ia masih harus duduk dan menjawab berhagai pertanyaan yang kadang-kadang merupakan ulangan sampai tiga empat kali dari orang-orang yang pernah bertanya sebelumnya.
Tetapi akhirnya Ki Jagabayapun sadar bahwa Ki Buyut benar-benar mengalami kelelahan. Karena itu maka iapun kemudian berusaha menutup pertemuan itu dengan memberikan sedikit penjelasan, bahwa Ki Buyut, anak gadisnya dan tamu-tamunya itu tentu sangat letih setelah menempuh perjalanan yang panjang.
Dengan demikian, maka para tetangga dan orang-orang tua di Kabuyutan itupun segera minta diri, meskipun ada diantara mereka yang masih belum puas mendengarkan ceritera Ki Buyut tentang perjalanannya yang panjang.
“Biarlah besok Ki Buyut berceritera lagi,” kata Ki Jagabaya. “Sekarang beri kesempatan kepadanya untuk beristirahat.”
Sejenak kemudian maka rumah Ki Buyut itupun menjadi sepi, yang tinggal di pendapapun kemudian tinggal Ki Buyut serta tamu-tamunya. Karena itu, maka Ki Buyutpun kemudian mempersilahkan tamu-tamunya agar segera beristirahat di gandok yang telah disediakan.
Mahisa Agni, Witantra dan kedua orang anak muda anak Mahendra itupun kemudian segera masuk ke dalam bilik mereka. Sebuah amben yang besar yang dialasi dengan tikar pandan yang putih bersih telah tersedia di gandok itu.
Malam itu, keempat orang itupun telah tidur dengan nyenyaknya. Mereka merasa berada di tempat yang aman dan terlindung dari dinginnya udara malam. Demikian Mahisa .Murti menyelarak pintu, maka iapun telah membaringkan dirinya disamping tiga orang lainnya. Kelelahan dan ketenangan merupakan dorongan yang membuat mereka tidur dengan nyenyaknya.
Betapapun nyenyaknya mereka tidur, tetapi ketika terdengar ayam jantan berkokok untuk ketiga kalinya di dini hari, ternyata Mahisa Agni dan Witantra sudah terbangun. Mereka pun kemudian dengan hati-hati bergeser dan duduk di bibir pembaringan yang besar itu.
“Aku akan ke pakiwan,” desis Mahisa Agni.
Witantra mengangguk. Katanya, “Kita bergantian. Silahkan.”
Sebenarnyalah keduanya bergantian pergi ke pakiwan, Ketika kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terbangun setelah fajar memerah di langit, maka Mahisa Agni dan Witantra telah selesai membersihkan diri.
“Aku terlambat bangun paman,” desis Mahisa Murti.
“Tidak,“ jawab Mahisa Agni, “matahari belum terbit.”
Mahisa Murti mengusap matanya. Namun kemudian iapun meloncat bangun diikuti oleh Mahisa Pukat.
“Kita bersiap-siap,” berkata Mahisa Agni kepada Witantra.
“Baiklah,” jawab Witantra. “Kita melanjutkan perjalanan hari ini.”
“Tetapi…“ potong Mahisa Murti, “bagaimana jika Ki Buyut masih ingin mempersilahkan kedua paman untuk beristirahat, dan baru besok melanjutkan perjalanan kembali Ke Singasari?“
Mahisa Agni dan Witantra saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Agni berkata, “Kita akan melihat suasana.”
Sebenarnyalah bahwa hari itu Ki Buyut berusaha untuk menahan agar Mahisa Agni dan Witantra tidak meninggalkan Kabuyutan mereka. Sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Ki Jagabaya, hari itu tentu masih banyak orang yang akan datang ke rumah Ki Buyut dan menanyakan apa saja yang telah terjadi selama Ki Buyut bersama anak gadisnya pergi meninggalkan Kabuyutannya.
Mahisa Agni dan Witantra tidak dapat menolak. Meskipun orang-orang Kabuyutan itu ingin mendengar Ki Buyut sendiri berceritera, tetapi kehadiran kedua orang itu seolah-olah akan dapat menjadi saksi, bahwa yang diceritera-kanoleh Ki Buyut itu bukan sekedar ceritera ngayawara.
Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka para tetangga telah mulai berdatangan. Satu-satu mereka naik ke pendapa. Mereka masih belum puas dengan ceritera Ki Buyut semalam.
Namun dalam pada itu, yang dapat hadir di pendapa itu, selain Ki Buyut, Mahisa Agni dan Witantra, hanyalah Mahisa Pukat. Agaknya Mahisa Murti tidak sempat ikut berbicara dengan mereka di pendapa itu.
Tidak banyak orang yang melihat, ternyata Mahisa Murti telah meninggalkan halaman rumah Ki Buyut bersama Widati. Mereka berjalan menyusuri jalan kecil yang kemudian muncul di daerah persawahan. Perlahan-lahan mereka menyusuri jalan setapak diantara hijaunya dedaunan dan kemudian mengikuti sehuah lorong sempit menuruni tebing sebuah sungai kecil.
“O“ langkah Widati tertegun. Ia melihat beberapa orang kawannya sedang mencuci. Tetapi ia tidak sempat melangkah surut. Kawan-kawannya telah melihatnya dan hampir berbareng mereka menyebut namanya.
“Widati. He, dengan siapa kau turun ke sungai hari ini?” bertanya seorang gadis bertubuh gemuk.
Kawan-kawannya tertawa. Sementara Widati hanya menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan. Mahisa Murti sendiri menjadi bingung. Tetapi iapun justru telah membeku di tempatnya.
“Marilah kemari. Jangan malu. Kami sudah mengenal kawanmu itu. Bukankah anak muda itu yang telah melepaskan padukuhan kita dari kerusuhan beberapa saat yang lalu?” kata seorang gadis bertubuh tinggi.
Widati justru mengangkat wajahnya. Meskipun tidak diucapkan, tetapi seolah-olah ia ingin bertanya, dari mana kawannya itu mengetahuinya.
“Seisi Kabuyutan ini sudah mengetahuinya,“ gadis bertubuh tinggi itu meneruskan. “Tetapi tidak banyak kawan-kawan kami yang berani menatap wajahnya untuk mengenalinya. Tetapi aku sempat mengenalnya dan aku tidak akan dapat melupakannya.”
“Ah kau ini,“ teriak seorang gadis berkulit kuning. Kawan-kawannyapun tertawa semakin riuh.
Wajah Widati serasa menjadi panas. Namun segalanya sudah terlanjur Sehingga karena itu, maka iapun justru melang kah setapak maju sambil berkata, “Aku sedang mengantar tamu ayahku yang ingin melihat-lihat keadaan Kabuyutan ini.”
“O“ hampir berbarengan kawan-kawannya menyahut. Seorang diantara mereka berkata “Bagus Widati. Beri kesempatan ia melihat-lihat kami.”
Suara tertawa meledak sehingga dengan demikian terasa jantung Widati menjadi semakin berdebaran.
Tetapi Mahisa Murtipun tidak dapat berbuat lain, kecuali menghanyutkan diri suasana itu. Karena itu, maka katanya “Ki Buyutlah yang menyuruh aku agar saat-saat begini turun ke sungai. Karena aku belum tahu letaknya, maka Widatilah yang telah mengantar aku.”
“Aneh sekali,” kata seorang gadis berkulit kehitam-hitaman. Katanya kemudian “Menurut pengetahuanku, kau sudah pernah berada di rumah Ki Buyut untuk beberapa lamanya. Tentu kau sudah mengenal semua jalan di Kabuyutan ini.”
“Ada gunanya juga berpura-pura tidak tahu,“ sahut seorang kawannya.
Yang lainpun tertawa pula dengan riuhnya.
Mahisa Murti tidak lagi sempat mengelak. Bahkan iapun kemudian melangkah mendekat dan duduk di sebongkah batu padas. Katanya, “Aku menyerah.”
Gadis-gadis yang berada di sungai itu tertawa semakin riuh. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata “He, jika kau berada disitu, maka pekerjaan kami tidak akan selesai.”
“Kenapa?“ bertanya Mahisa Murti.
“Kami sedang mencuci. Dan kamipun akan mencuci pakaian yang kami pakai sekarang,” jawab seorang gadis bertubuh gemuk.
“Ah, kau,“ kawannya yang berkulit kehitam-hitaman mencubitnya sehingga gadis gemuk itu mengaduh kecil.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berdiri sambil berkata, “Baiklah, aku akan pergi.”
Tetapi Widati menjadi bimbang. Apakah ia akan pergi bersama Mahisa Murti atau ia akan tinggal bersama kawan-kawannya.
Tetapi agaknya kawan-kawannya mengetahui kebimbangan itu. Karena itu seorang gadis yang bertubuh tinggi berkata, “Widati, agaknya tamu ayahmu itu telah tersesat, sebaiknya kau tunjukkan jalan untuk kembali ke rumahmu.”
“Ah,” desis Widati, sementara kawan-kawannyapun tertawa pula.
Namun dalam pada itu, di luar pengetahuan gadis-gadis di tepian yang sedang mencuci itu, dua orang laki-laki berwajah kasar sedang memperhatikan mereka dengan seksama.
“Anak muda itu akan pergi,” desis yang seorang.
“Persetan. Seandainya ia ada disitu, apa salahnya?” jawab yang lain.
“Tetapi gadis yang baru datang itu akan pergi bersamanya. Nampaknya gadis itulah yang paling cantik,” desis yang seorang.
Namun kawannya tidak begitu menghiraukannya. Meskipun ia juga melihat bahwa gadis yang baru datang bersama anak muda itu namun yang kemudian meninggalkan tepian itu adalah gadis yang paling cantik.
“Aku tidak memerlukan yang paling cantik. Yang manapun dapat aku ambil dan aku bawa ke hutan itu,“ katanya.
Yang satunya mengangguk-angguk. Dengan kening yang berkerut ia menjawab “Baiklah, akupun akan mengambil satu. Yang manapun juga. Tetapi bukan yang gemuk.”
Kawannya tersenyum. Kemudian katanya, “Kita tidak tahu, berapa lama lagi kita akan menunggu. Karena itu, agar aku tidak mati kesepian, aku akan mencari seorang kawan. Mungkin sepekan, dua pekan atau bahkan lebih.”
“Tetapi bagaimana kata orang-orang kita tentang gadis-gadis itu?“ bertanya yang lain.
“Jika mereka menghendaki, biarlah mereka mencari sendiri. Disini terdapat banyak gadis-gadis. Yang sering mencuci di pinggir kali, yang sering pergi ke sawah, bahkan mereka dapat mengambilnya di pasar-pasar” jawab kawannya. Lalu, “Kapak-kapak itu seharusnya sudah siap dan diberikan kepada kami disini, agar kami segera dapat mulai dengan kerja itu. Tapi menunggu adalah pekerjaan yang paling menjemukan sehingga aku memerlukan kawan. Bukan salahku jika aku mengambil satu dua orang gadis disini.”
Yang lain mengangguk-angguk. Lalu katanya “Marilah. Kita lakukan sekarang. Mereka tentu akan berteriak-teriak. Tetapi tidak ada orang yang akan mendengarnya.”
“Aku tidak takut seandainya ada orang yang mendengar sekalipun. Kita memang orang-orang yang dilahirkan untuk melakukan apa saja tanpa memikirkan akibatnya. Dan aku sudah siap untuk membunuh,” berkata kawannya.
Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun akhirnya yang seorang sudah berdiri sambil berkata, “Sebelum saat menebang pepohonan itu datang, maka gadis-gadis itu akan memberikan suasana tersendiri.“
Kawannyapun berdiri pula dan mengikutinya ketika yang lain melangkah menuruni tebing.
Kedatangan mereka memang mengejutkan. Beberapa orang gadis terpekik kecil. Namun merekapun kemudian berpura-pura tidak melihat, apa yang terjadi. Mereka seakan-akan tidak melihat kedua orang itu turun ke sungai.
“Kita dapat memilih,“ gumam salah seorang dari dua orang kasar itu. “Ternyata disini ada berbagai macam jenis. Yang manis, yang cantik, yang tinggi atau yang kuning keputih-putihan. Atau yang manapun yang kau kehendaki.”
Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku akan mengambil dua.”
“Jangan persulit dirimu. Bagaimana kau akan membawanya? Mungkin kita terpaksa harus membuat mereka pingsan kemudian membawanya di atas pundak kita, karena jika tidak demikian, gadis-gadis itu akan berteriak-teriak di sepanjang jalan.”
“Alangkah segarnya mencuci pakaian pagi-pagi seperti ini,” berkata salah seorang laki-laki berwajah kasar itu.
Gadis-gadis itu mulai beringsut saling mendekati. Kini wajah mereka telah berubah sama sekali. Baru saja mereka tertawa gembira saat mereka mengganggu Widati. Namun tiba-tiba wajah-wajah itu membayangkan kecemasan yang ketakutan.
Kawannya mengangguk-angguk. Namun desisnya, “Aku menjadi bingung. Semua sangat menarik.”
“Gila. Cepat. Sebelum suasana berubah,” geram yang lain.
Kedua orang itupun kemudian mendekati gadis-gadis yang baru mencuci di pinggir sungai kecil itu. Dengan tanpa ragu-ragu keduanya berdiri beberapa langkah saja dari gadis-gadis itu sehingga gadis-gadis itu menjadi ketakutan.
“Kalian memang gadis-gadis cantik,” berkata orang berwajah kasar itu. Lalu “He, siapa diantara kalian yang bersedia membantu aku?”
Gadis-gadis itu menjadi semakin ketakutan.
“Kami di rumah sama sekali tidak mempunyai kawan seorang perempuanpun. Tidak ada yang dapat memasak untuk kami. Tidak ada yang dapat mencuci pakaian kami dan tidak ada yang dapat berdendang disaat-saat hati kami sedang risau. Nah, kedatangan kami membawa niat yang baik. Kami berdua ingin mengajak dua diantara kalian untuk tinggal bersama kami. Tidak terlalu jauh, sehingga setiap saat jika kalian inginkan, kalian dapat kembali kepada keluarga kalian, dan kami berdua akan mengambil dua orang lain sebagai gantinya,” berkata salah seorang dari keduanya.
Gadis-gadis itu menjadi semakin ketakutan. Sementara kedua orang itu sama sekali tidak berperasaan. Gadis-gadis yang sedang mencuci itupun bergeser semakin menjauh Tetapi yang seorang diantara orang-orang berwajah kasar itu tertawa. “Jangan takut. Kalian tidak dapat mengelak. Kalian harus menuruti kehendak kami. He, soalnya sekarang, siapakah yang pertama-tama akan pergi bersama kami berdua.”
Ketakutan semakin mencekam hati gadis-gadis itu. Nampaknya Kabuyutan mereka yang untuk beberapa saat sudah mulai tenang itu, kini telah bergejolak kembali biarpun gadis-gadis itu tidak tahu, siapa lagi yang telah membuat kabuyutan mereka menjadi kisruh.
Tetapi gadis-gadis itu memang tidak berdaya. Dua orang berwajah kasar itu dapat berbuat apa saja atas mereka. Bahkan mereka akan dapat membunuh mereka semuanya tanpa kesulitan. Meskipun sungai kecil itu memang tidak terlampau jauh dari padukuhan induk, tetapi pada saat-saat yang demikian, sungai itu memang sepi. Dan gadis-gadis memilih saat-saat sepi itu untuk mencuci dan mandi beramai-ramai.
Namun saat yang mereka pilih pada hari itu telah menyulitkan mereka karena kehadiran orang-orang yang tidak mereka duga-duga sama sekali. Kedua orang kasar itu tidak saja mengganggu saat-saat mereka mencuci di pinggir sungai itu, bahkan mereka telah berniat untuk membawa dua orang diantara mereka.
Saat-saat berikutnya terjadi dengan cepat. Gadis-gadis itu memang tidak berdaya sama sekali. Dua orang berwajah kasar itu sempat memilih. Seorang gadis bertubuh tinggi ramping berwajah panjang dan yang seorang adalah gadis manis berkulit keputih-putihan.
“Kalian tidak dapat menolak. Ingat, aku dapat membunuh,” berkata orang-orang kasar itu.
Ketakutan yang sangat membuat gadis-gadis itu hampir pingsan. Namun sebenarnyalah mereka memang tidak dapat menolak keinginan kedua orang berwajah kasar itu kecuali jika mereka memang telah memilih kematian sebagai jalan lain untuk menghindarkan diri.
Pada saat itu Mahisa Murti dan Widati telah melangkah meninggalkan tepian. Akan tetapi mereka tidak tergesa-gesa pergi menjauh. Bahkan Mahisa Murti masih sempat bertanya kepada Widati, “Sampai kapan mereka akan mencuci pakaian itu?“
“Biasanya mereka berlama-lama disungai. Mereka tidak hanya mencuci, tetapi mereka akan mandi sambil bermain-main. Bahkan mereka akan menunggu cucian mereka kering agar mereka tidak usah membawa cucian basah kembali kerumah masing-masing” jawab Widati.
“Menunggu cucian kering memerlukan waktu yang lama,” berkata Mahisa Murti.
“Tetapi menjemur pakaian di tepian jauh lebih cepat dari menjemur pakaian di halaman. Di tepian pakaian dapat dibentangkan diatas bebatuan” jawab Widati pula.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi keduanya masih belum beranjak terlalu jauh. Keduanyapun kemudian duduk diatas sebongkah batu menghadap ke tanah persawahan yang hijau segar. Sementara cahaya matahari pagi yang menjamah embun yang masih bergayutan memantulkan cahaya yang gemerlap.
Akan tetapi tiba-tiba saja Mahisa Murti terkejut. Ia mendengar gadis-gadis di tepian itu menjerit. Karena Itu, maka tiba-tiba saja ia meloncat bangkit. “Ada apa?“
Widati menjadi tegang. Suaranya menjadi gemetar. “Entahlah”
“Marilah. Kita melihatnya” ajak Mahisa Murti.
Tetapi Widati menjadi takut. Dengan tidak dikehendakinya sendiri ia bergeser mendekati Mahisa Murti. ”Aku takut.”
“Kita tidak dapat membiarkan sesuatu terjadi atas gadis-gadis itu,” jawab Mahisa Murti.
Widati masih tetap ragu-ragu. Akan tetapi Mahisa Murtipun kemudian sudah menangkap tangan gadis itu dan membimbingnya. Widati tidak menolak. Dalam kecemasan ia tidak mempunyai tanggapan apapun juga atas Mahisa Murti yang kemudian menarik tangannya turun kembali ke tepian.
Demikian Mahisa Murti turun ke tepian, maka iapun melihat gadis-gadis itu berlari-larian. Seorang gadis yang bertubuh gemuk hampir saja melanggarnya, sehingga gadis yang ketakutan itu terkejut sambil berteriak lebih keras.
Mahisa Murtipun kemudian melihat apa yang terjadi. Dua orang berwajah kasar sedang menarik tangan dua orang gadis. Seorang gadis bertubuh tinggi dan seorang lagi gadis berkulit keputih-putihan.
Jantung Mahisa Murti bagaikan berdentang semakin cepat. Iapun kemudian melepaskan tangan Widati. Dengan tangkasnya ia meloncat ke tepian mendekati kedua orang yang berusaha membawa dua orang gadis yang sedang mencuci itu.
“Apa yang sedang kau lakukan?” bertanya Mahisa Murti.
“Persetan,” geram orang yang memegangi tangan gadis berkulit keputih-putihan. “Apa pedulimu?”
“Siapa kau dan apa maksudmu?“ bertanya Mahisa Murti pula.
“Anak gila. Kau sangka kedatanganmu akan dapat menolong mereka? Kau datang untuk mengantarkan nyawamu. Aku akan membunuhmu dan jika kau tidak membatalkan niatmu untuk turut campur daiam persoalan ini, aku justru akan membawa empat orang gadis sekaligus!” berkata orang berwajah kasar itu.
“Kau jangan menjadi gila,” jawab Mahisa Murti. “Kau telah melakukan sesuatu yang akan dapat mencelakai dirimu sendiri.”
“Kaulah yang akan mati. Jangan banyak bicara. Pergi atau mati disini,” geram orang kasar itu pula.
Mahisa Murti tidak melihat kemungkinan lain. Ia harus mempergunakan kekerasan untuk mencegah perbuatan mereka. Namun ia masih bertanya, “Siapa kalian sebenarnya?”
“Tidak ada gunanya kau mengetahui keadaan dan siapa kami,” jawab orang itu.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Dengan hati-hati ia bergeser mendekati sambil berkata, “Baiklah. Jika kalian tak mau menyebut nama, kedudukan atau sebutan apapun, maka kalian tentu orang-orang yang tidak seharusnya berada disini. Karena itu, sebelum terjadi sesuatu, pergilah!”
“Anak iblis!” geram yang seorang. “Anak ingusan seperti kau masih juga berani sesorah. Pergilah cepat!”
“Aku adalah pengawal Kabuyutan ini. Salah seorang pengawal. Karena itu, aku memang berkewajiban untuk menjaga ketertiban dan ketenangan Kabuyutan ini,” berkata Mahisa Murti.
“O, anak yang tidak tahu diri. Apa artinya pengawal Kabuyutan? Kau harus mendengar tentang kami agar kau menjadi tahu diri. Kami adalah petugas-petugas dari Kediri untuk membayangi kekuasaan Singasari. Nah. kau tahu siapa kami? Sekarang pergilah!” geram orang itu dengan marah.
Tetapi Mahisa Murti tidak beranjak dari tempatnya, bahkan ia masih berkata “Inikah ciri-ciri orang Kediri? Omong kosong. Aku mengenal orang-orang Kediri dengan baik. Tidak seperti watak dan tingkahmu ini.”
Wajah kedua orang itu menjadi merah padam. Ternyata anak muda itu sama sekali tidak menjadi ketakutan mendengar bahwa mereka adalah petugas dari Kediri. Bahkan anak itu telah menyebut tentang orang-orang Kediri pula.
“Ki Sanak,” kata Mahisa Murti. “Sebaiknya kalian berterus terang saja tentang diri kalian. Dengan demikian kami akan dapat menentukan sikap yang paling baik.”
“Kami siapa?“ bertanya salah seorang dari kedua orang itu.
“Kami para pengawal Kabuyutan ini,” jawab Mahisa Murti.
“Persetan!” bentak orang itu. “Baiklah kalau memang kau ingin tahu. Aku adalah prajurit dari satu kekuatan yang akan membangun Kediri sebagaimana seharusnya. Kami akan menghancurkan Singasari dengan cara kami. Kau dengar itu? Nah, sekarang pergilah. Jangan ganggu kami!”
“Kalian masih saja mengigau,” jawab Mahisa Murti “aku belum jelas tentang kalian. Kalian dapat saja menyebut sesuatu yang kalian sendiri tidak mengetahuinya”
“O, anak setan!“ bentak yang seorang lagi. “Dengar! Kami akan menghancurkan Singasari dengan cara yang paling menarik. He, agaknya aku tidak perlu merahasiakannya. Tetapi akibat dari pada itu, kau harus mati,” orang itu berhenti sejenak, lalu tiba-tiba saja ia telah menyentuh tengkuk gadis yang dipeganginya.
Sentuhan itu telah membuat gadis itu menjadi pingsan. Dengan perlahan-lahan orang itu kemudian meletakkan gadis itu di tepian, sementara lainnya telah melakukan hal yang sama.
“Dengar anak muda,” kata orang itu. “Aku telah melepaskan gadis itu, sehingga kini aku menjadi leluasa untuk membunuhmu. Kami datang dengan tugas yang sangat menarik. Membuat bukit-bukit menjadi gundul. Kau tahu akibatnya? Banjir akan melanda Singasari di setiap musim hujan. Sementara di musim kering, sungai-sungai akan menjadi kering.”
Gadis-gadis yang lain menjadi sangat ketakutan, sehingga kaki mereka bagaikan menjadi bergeletar dan tidak mampu untuk membawa tubuh mereka meninggalkan tempat itu. Apalagi ketika mereka melihat kedua orang kawannya bagaikan menjadi pingsan hanya oleh sentuhan-sentuhan kecil di tubuhnya.
“Mereka dapat berbuat apa saja,” berkata gadis-gadis itu di dalam hatinya. Sementara mereka telah bertebaran di tebing sungai.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti sama sekali-tidak gentar menghadapi kedua orang itu. Tetapi pengakuan kedua orang itu benar-benar telah menarik perhatiannya. Di dalam perjalanan menuju ke Kabuyutan Randumalang itu ia bertemu dengan orang-orang yang memesan kapak penebang kayu. Kemudian mereka telah berhubungan dengan dua orang pendatang. Sementara di Kabuyutan Randumalang, Mahisa Murti bertemu dengan orang-orang yang mengaku mendapat tugas untuk menebangi pepohonan.
Namun dalam pada itu. Mahisa Murti masih ingin mendengar lebih banyak tentang orang itu. Karena itu katanya, “Apa artinya yang akan kalian kerjakan itu? Jika dengan demikian niat Kediri hendak menjatuhkan Singasari dengan cara itu, maka niat itu baru akan dapat terjadi pada anak cucumu”
“Kau memang bodoh, anak muda,” berkata orang itu. “Banjir bandang, kekeringan dan bencana lain akan mempermudah kehancuran Singasari oleh satu sergapan kekuatan. Memang rencana ini tidak akan selesai dalam satu dua tahun. Tetapi lima atau bahkan sampai sepuluh tahun. Tetapi itu akan terjadi tidak pada masa anak cucuku,” orang itu berhenti sejenak ketika kawannya mendekatinya.
“Tidak ada gunanya hal itu kau ceritakan kepada anak dungu itu,” berkata kawannya itu “tetapi karena ia sudah mendengar sebagian dari rencana itu, maka ia memang harus dibunuh. Sekarang bunuh saja anak itu, lalu kita pergi membawa gadis-gadis yang sedang tidur itu. Kita tak akan kesepian lagi. Jika saatnya tiba, kita akan menukarkannya dengan yang lain.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sudahlah Ki Sanak. Aku sudah tahu dengan jelas apa yang akan kau lakukan. Karena itu, maka kesimpulanku, tidak ada yang lebih baik dari menangkap kalian supaya dengan demikian kalian dapat mengungkapkan rencana yang akan kalian lakukan itu.”
“He!“ kedua orang itu saling berpandangan, “kau akan menangkap kami? He, apakah kau sudah menjadi gila?“
Tetapi Mahisa Murti justru mendekat sambil berkata, “Menyerah sajalah agar hukumanmu tidak terlalu berat. Katakan segalanya yang kalian ketahui tentang rencana itu. Mungkin kalian justru akan mendapat pengampunan.”
Kata-kata Mahisa Murti itu benar-benar telah membakar jantung kedua orang itu. Dengan kasar seorang diantaranya berkata, “Anak tidak tahu diri. Kau telah memilih satu keadaan yang paling buruk bagimu.”
Mahisa Murti tidak menjawab. Pada saat ia melihat orang itu bersiap, maka iapun telah mempersiapkan diri pula.
Sebenarnyalah, salah seorang dari kedua orang itu telah menyerang Mahisa Murti dengan satu pukulan langsung mengarah ke wajahnya. Tetapi justru karena serangan itu terlalu langsung, maka dengan bergeser selangkah, Mahisa Murti sempat menghindari serangan itu sambil berkata, “Aku peringatkan sekali lagi. Atas nama para pengawal Kabuyutan, aku peringatkan agar kalian menyerah.”
“Anak setan!“ teriak orang itu sambil meloncat menerkam.
Sekali lagi Mahisa Murti mengelak. Sementara orang yang lain, begitu melihat serangan kawannya tak berhasil, dengan marah sekali langsung juga menyerangnya.
Mahisa Murti berputar sambil bergeser. Kemudian dengan loncatan panjang ia mengambil jarak dari kedua lawannya.
Dua orang itu benar-benar dibakar oleh kemarahan yang menghentak-hentak didadanya. Anak muda itu dapat menghindari serangan dari kedua orang yang datang berurutan itu.
Kedua orang itu kemudian berpencar. Agaknya mereka sudah tidak sabar lagi untuk bertindak. Karena itu, salah seorang dari mereka berkata “Kita habisi anak ini tanpa ampun.”
Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia bergeser mendekat.
Dalam pada itu, Widati dan gadis-gadis Kabuyutan itu menjadi sangat ketakutan. Mereka yang sudah berlari-larian itu berpencaran di tebing. Namun setapak demi setapak, mereka saling mendekati. Namun demikian ada pula diantara mereka yang benar-benar bagaikan menjadi lumpuh, sehingga untuk bergeserpun sudah tidak mungkin lagi.
Widati telah pernah melihat, setidak-tidaknya mendengar bahwa Mahisa Murti bertempur melawan orang-orang yang menakutkan. Akan tetapi hatinya menjadi berdebar-debar juga untuk menyaksikan anak muda itu berkelahi melawan dua orang sekaligus.
Dalam pada itu, sebenarnya kedua lawannya itu benar-benar ingin segera mengalahkan Mahisa Murti. Bahkan mereka benar-benar ingin membunuh. Serangan-serangan mereka mengarah kebagian tubuh Mahisa Murti yang berbahaya.
Tetapi Mahisa Murti telah siap menghadapi kedua lawannya itu. Karena itu, maka iapun dengan tangkasnya berlompatan menghindari serangan-serangan yang datang beruntun dari kedua orang lawannya.
Namun kedua orang lawan Mahisa Murti itu adalah dua orang yang memiliki kemampuan yang cukup. Mereka adalah bagian dari orang-orang yang mendapat kepercayaan dari satu kelompok kekuatan di Kediri untuk berusaha bangkit menghadapi Singasari seperti yang pernah dilakukan oleh beberapa orang sebelumnya yang merasa tidak puas atas keadaan yang berlaku. Kediri merasa dirinya lebih berhak memerintah dari Singasari yang didirikan oleh seorang anak buruan di padang Karautan. Anak yang masa mudanya selalu dikejar-kejar karena melakukan kejahatan.
Karena itu, maka Mahisa Murti benar-benar harus mengerahkan ilmunya untuk melawan kedua orang itu. Namun bagaimanapun juga, bekal ilmu Mahisa Murti agaknya berhasil melindunginya dari kedua lawannya. Dengan cepat Mahisa Murti berhasil menghindari setiap serangan, dan bahkan kemudian justru menyerang dengan langkah yang tiba-tiba.
Tetapi kemudian terjadi sesuatu yang mendebarkan. Kedua orang yang merasa bahwa mereka tidak segera berhasil mengalahkan anak muda yang mengaku sebagai pengawal Kabuyutan itu, benar-benar tidak lagi berniat untuk mengekang diri. Mereka benar-benar akan membunuh dengan cara bagaimanapun juga. Karena itu, tiba-tiba salah seorang diantara mereka telah menarik senjata mereka. Sebilah parang yang besar dan panjang.
“Persetan!” geramnya “kau benar-benar anak iblis. Kau mampu melawan kami berdua. Tetapi itu adalah justru kebodohanmu, karena dengan demikian, aku akan benar-benar membunuhmu!“
Mahisa Murti memandang parang yang panjang besar itu. Bagaimanapun juga senjata itu tentu akan berpengaruh. la sendiri tidak membawa senjata apapun juga, karena ia sama sekali tidak mengira bahwa ia akan bertemu dengan dua orang yang harus dilawannya.
“Kita tidak dapat berbuat lain,” kata orang yang bersenjata parang itu kepada kawannya.
“Kita memang harus membunuhnya,“ sahut yang lain, lalu, “Kita memang tidak usah ragu-ragu. Kau yang sudah bersenjata, lakukanlah. Jika kau tidak berhasil, akulah yang akan mencincangnya sampai lumat.”
Mahisa Murti bergeser surut selangkah. Ia harus benar-benar mapan dalam menghadapi lawannya yang bersenjata itu.
Namun dalam pada itu, ketika orang bersenjata parang itu mulai menyerang, tiba-tiba saja telah timbul keheranan di hati Widati yang pernah mengalami peristiwa-peristiwa yang mendebarkan. Perlahan-lahan ia bergeser dari tempatnya supaya tidak menarik perhatian. Akan tetapi kemudian iapun telah menyelinap dan berlari ke padukuhan induk Kabuyutan Randumalang.
Kawan-kawannya yang melihat Widati melarikan diri, menjadi bertambah gelisah. Namun mereka tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.
Tetapi Widati tidak sekedar melarikan diri. Dengan nafas terengah-engah ia memasuki gerbang padukuhan induk.
“Ada apa?“ bertanya seseorang yang melihatnya.
Widati tidak sempat menjawab. Tetapi ia berlari terus menuju ke rumahnya.
Kehadirannya benar-benar mengejutkan. Ki Buyut meloncat dari tempat duduknya dan berlari mendapatkan anak gadisnya yang terengah-engah.
“Ada apa, Widati?“ bertanya Ki Buyut.
Orang-orang yang berkumpul di pendapa itupun menjadi gelisah. Merekapun segera turun dan mengerumuni gadis yang ketakutan itu. Dengan nafas bekejaran, Widati bercerita dengan tersendat-sendat atas apa yang terjadi di tepian.
“Katakan dengan jelas,“ minta Ki Buyut. Lalu, “Ambil minum untuk anak ini.”
Tetapi Mahisa Pukat tidak menunggu Widati minum. Meskipun tidak begitu jelas, ia dapat mengerti bahwa telah terjadi sesuatu di tepian. Karena itu, tiba-tiba saja ia telah meloncat dan berlari meninggalkan halaman rumah Ki Buyut menuju ke sungai tempat gadis-gadis mencuci pakaiannya. Namun demikian anak muda itu masih sempat menyambar dua bilah pedang yang tergantung di dinding gandok rumah Ki Buyut di Randumalang.
Tanpa menghiraukan apapun juga, Mahisa Pukat berlari sekencang-kencangnya. Ia dapat merasakan, bahwa bahaya yang gawat sedang mengancam Mahisa Murti.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti telah mengalami satu keadaan yang sangat gawat. Ketika seorang saja dari lawannya yang menyerangnya, biarpun dengan pedang, dengan loncatan-loncatan panjang, Mahisa Murti berhasil menghindarinya. Dengan melingkari bebatuan, maka ia dapat mengelakkan diri dari ujung pedang lawannya.
Karena itu maka katanya “Jangan berteriak-teriak saja. Jika kau ingin melakukan, cepat lakukan!”
Kawannya mengumpat kasar. Namun tiba-tiba iapun telah mencabut goloknya. Golok itu tidak begitu panjang. Tetapi golok itu terlalu besar dan berat. Namun demikian, di tangan pemiliknya, golok itu bagaikan selembar daun yang tidak berbobot.
Namun dengan demikian, kegagalan demi kegagalan orang berpedang itu telah membuat kawannya menjadi kehilangan kesabaran. Dengan suara lantang ia berkata, “Aku tidak sabar. Akulah yang akan membunuh.”
Kawannya menggeram. Tetapi ia benar-benar tidak dapat segera membunuh anak muda itu.
Mahisa Murti menjadi tegang, la harus menghadapi dua orang bersenjata. Namun ia sudah dengan sengaja melibatkan dirinya, sehingga karena itu. maka ia tidak akan dapat ingkar, akibat apapun yang akan di alaminya.
Ketika kedua orang itu meloncat mendekat, maka Mahisa Murti telah bergeser menjauh. Namun ia tertarik ketika ia melihat sebatang pohon yang besar. Sebatang pohon beringin yang tumbuh di atas tebing.
“Aku tidak dapat melawan kedua pucuk senjata itu dengan tanganku,” kata Mahisa Murti di dalam hatinya. “Jika demikian aku hanya akan dapat meloncat-loncat menghindar dan menjauhi mereka. Tetapi aku tidak akan dapat menyerang mereka.”
Karena itu, Mahisa Murti kemudian telah mengambil satu keputusan untuk mendapatkan senjata. Sebagaimana telah dipelajarinya, maka iapun mampu mempergunakan apa saja yang didapatkannya untuk mempersenjatai diri dalam keadaan yang memaksa. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah meloncat meninggalkan kedua lawannya.
“Jangan lari!“ teriak salah seorang lawannya. “Ia harus dibunuh!”
Yang lain tidak menjawab. Tatapi iapun segera meloncat memhuru Mahisa Murti yang memanjat tebing.
Tetapi Mahisa Murti memang tidak akan melarikan diri. Ketika ia sudah berada diatas tebing maka iapun segera meloncat meraih sebatang sulur pohon beringin yang tumbuh di tepian itu. Dihentakkannya sulur itu hingga patah pada pangkalnya. Mahisa Murti sempat menggulung sulur itu sebelum kedua lawannya menyusulnya. Kemudian mempergunakan sepanjang yang dikehendakinya.
Kedua lawannya tidak sempat menghiraukan bagaimana anak muda itu bisa menghentak dan memutuskan sulur pada pangkalnya. Keduanya tak sempat menghitung dan menilai, betapa besar tenaga anak muda itu. Apalagi mereka sudah terlalu bangga akan kekuatan mereka masing-masing, sehingga mereka tidak mau melihat kelebihan pada orang lain.
Ketika kedua orang itu telah berada di atas tebing pula, kemudian dengan amat hati-hati mendekatinya dari dua arah, Mahisa Murti sudah bersenjata, meskipun tidak lebih dari sulur sebatang pohon beringin. Namun ketika kedua orang itu menjadi semakin dekat, maka Mahisa Murti mulai memutar ujung sulur ditanganya.
Sulur itu memang tidak terlalu besar. Tetapi kekuatan Mahisa Murti yang tersalur pada sulur itu akan dapat membuat sulur itu menjadi senjata yang sangat berbahaya.
Kedua lawan Mahisa Murti itu termangu-mangu. Mereka saling berpandangan sejenak. Namun kemudian merekapun telah mengambil keputusan untuk menyerang bersama-sama.
Mahisa Murti yang memegang sulur ditangannya itu menjadi semakin mapan. Meskipun sulurnya tidak sekuat senjata kedua orang lawannya, tetapi Mahisa Murti akan dapat mempergunakannya sebaik-baiknya.
Demikianlah, ketika orang bersenjata pedang itu meloncat menyerang, Mahisa Murti sempat mengelak. Sementara itu, ia sempat memutar sulur di tangannya, sehingga ketika lawannya yang lain kemudian menyusul menyerangnya pula, Mahisa Murti justru sudah menyambarnya dengan ujung sulurnya yang lebih panjang dari golok yang berat itu.
Orang itu mengumpat. Ia terpaksa mengurungkan serangannya dan justru menggeliat untuk menghindarkan diri dari sambutan ujung sulur Mahisa Murti.
Demikianlah, dua orang yang berwajah kasar itu telah bertempur melawan Mahisa Murti dengan garangnya. Keduanya berloncatan, menyerang berganti-ganti, bahkan beruntun.
Namun Mahisa Murti masih sempat melindungi dirinya dengan senjatanya yang cukup panjang, meskipun Mahisa Murti tidak berani membenturkan senjatanya pada senjata lawannya. Ketika lawannya pada satu kali sempat menangkis sulur Mahisa Murti dengan pedangnya, maka sulur itupun telah terpotong sejengkal pada ujungnya.
Demikianlah, pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Tetapi semakin lama Mahisa Murti memang menjadi semakin terdesak. Setiap kali sulurnya bersentuhan, maka ujungnya langsung terpenggal, sedangkan lawannya berusaha agar anak muda itu tidak sempat mencari sulur yang baru. Tetapi kecepatan gerak Mahisa Murti masih juga dapat menolongnya dari kegarangan kedua lawannya, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia masih akan dapat bertahan menghadapi karena kedua orang itu.
Ternyata bahwa akhirnya Mahisa Murti harus menyadari, bahwa sulur itu hanya mampu memperpanjang perlawanannya menghadapi kedua orang yang garang itu. Betapapun juga, Mahisa Murti mengalami kesulitan untuk dapat menyerang kedua lawannya.
Seandainya ia hanya melawan seorang saja diantara kedua lawannya, mungkin ia masih mempunyai kesempatan meskipun ia hanya bersenjata sulur saja. Tetapi menghadapi dua orang, maka ia benar-benar mengalami kesulitan. Tetapi Mahisa Murti tidak akan lari. Ia akan berbuat apa saja untuk memperpanjang perlawanannya.
Namun demikian, sebenarnya Mahisa Murti menjadi kecewa bahwa gadis-gadis di tepian itu tidak juga melarikan diri dalam kesempatan itu. Agaknya mereka benar-benar sudah dicengkam oleh ketakutan sehingga untuk bergerakpun sudah terlalu sulit.
Karena itu, maka Mahisa Murti berusaha untuk memancing pertempuran itu semakin jauh dari gadis-gadis yang ketakutan itu. Jika pada suatu saat, pertempuran itu sudah tidak mereka lihat lagi, mungkin timbul keberanian mereka untuk meninggalkan tepian.
Meskipun demikian, Mahisa Murti tidak bisa mengabaikan dua orang gadis yang bagaikan tertidur nyenyak karena sentuhan jari kedua orang berwajah kasar itu. Meskipun yang lain dapat melarikan diri, tetapi dua orang itu akan tetap menjadi korban kegarangan kedua orang kasar itu.
“Kalau saja aku dapat bertahan cukup lama,” berkata Mahisa Murti dalam hatinya. Tetapi ternyata semakin lama keadaannyapun menjadi semakin sulit.
Kedua orang itu melihatnya dari arah yang berbeda. Apalagi ketika mereka menyadari bahwa mereka sudah terlalu lama berada di tepian. Dengan menghentakkan kekuatan serta kemampuan mereka, maka Mahisa Murti menjadi semakin terdesak. Yang dapat dilakukannya kemudian adalah meloncat-loncat menghindar dan berusaha memancing arena pertempuran semakin jauh dari tepian.
Tapi lawan-lawannyapun menyadarinya sehingga mereka berusaha untuk menahan agar Mahisa Murti tidak dapat bergeser semakin jauh. Keadaan Mahisa Murti semakin lama memang menjadi semakin sulit. Sehingga akhirnya ia benar-benar tidak dapat berbuat terlalu banyak.
“Bunuh saja anak ini selekasnya,” geram yang seorang.
Yang bersenjata parangpun menyahut, “Aku akan mencincangnya dan melemparkannya kepada gadis-gadis itu.”
Yang lain tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Menarik sekali. Aku sependapat.”
Mahisa Murti sama sekali tidak menyahut. Ia sedang memikirkan cara untuk melepaskan diri. Namun yang memungkinkannya hanyalah satu-satunya jalan, yaitu menghindar dari pertempuran itu. Tetapi ia tidak sampai hati melakukannya, karena gadis-gadis masih ada di tepian, terlebih-lebih lagi, dua diantaranya dalam keadaan tidak sadar.
Selagi Mahisa Murti berada dalam kesulitan yang hampir tidak teratasi, maka Mahisa Pukat berlari sekencangnya ke tepian. Demikian ia turun ke sungai, maka ia tidak segera dapat melihat seseorang. Baru kemudian ia melihat dua orang gadis yang tergolek diatas pasir.
Dengan ragu-ragu ia mendekatinya. Ternyata kedua orang gadis itu tidak mati. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia menebarkan pandangannya ke tebing, menyusuri batu-batu padas dan pepohonan perdu, kemudian ia melihat beberapa orang gadis yang tegang dengan tubuh menggigil dan wajah pucat ketakutan.
“Kau lihat saudaraku?“ bertanya Mahisa Pukat dengan serta merta.
Gadis-gadis itu bagaikan membeku. Namun ada diantara mereka yang masih mampu menggerakkan tangannya, menunjuk kearah sebatang pohon beringin di seberang.
Mahisa Pukat mengerti, bahwa Mahisa Murti tentu di bawah pohon itu. Apalagi setelah ia memperhatikan dengan seksama, maka iapun dapat melihat suasana benturan kekuatan di sekitar pohon beringin itu, meskipun ia tidak melihat orang-orang yang bertempur itu.
Dengan sigapnya Mahisa Pukatpun segera meloncat ke seberang sambil berteriak, “Tinggalkan tempat ini. Kembalilah ke padukuhan.”
Akan tetapi gadis-gadis itu tidak segera bergerak. Baru sejenak kemudian mereka saling berpandangan dari kejauhan, lalu satu-satu mulai bergeser dan berdiri tegak. Kemudian merekapun berusaha untuk saling mendekati lebih rapat lagi.
Meskipun demikian, hampir semua mata dari gadis-gadis itu tengah menatap kedua orang kawannya yang terbaring diam. Pada saat mereka ingin melarikan diri, maka mereka telah dijalari oleh perasaan cemas atas kedua orang kawannya yang seakan-akan pingsan itu. Bahkan beberapa diantara mereka menganggap seolah-olah kedua kawannya itu akan segera mati jika tidak mendapatkan pertolongan. Namun untuk mendekati mereka, gadis-gadis itu masih saja merasa ketakutan.
Dalam keragu-raguan itu gadis-gadis itu terkejut mendengar suara lantang di atas tebing seberang. “Mahisa Murti. Bertahanlah!”
Suara itu memang mengejutkan. Mahisa Murti yang sudah terjepit oleh satu keadaan yang sangat gawat, tiba-tiba saja merasa dadanya menjadi lapang.
Kedua orang lawan Mahisa Murti juga mendengar suara itu. Dengan serta merta mereka pun telah berpaling. Ternyata mereka melihat seorang anak muda yang lain berdiri tegak diatas tebing sambil menjinjing dua buah pedang.
“Pengecut!” geram Mahisa Pukat. “Kalian berdua telah bertempur melawan seorang yang tidak bersenjata!”
“Persetan!” geram salah seorang dari kedua orang berwajah kasar itu. “Aku tidak peduli apa yang kau katakan. Tetapi jika kau ikut campur, maka kaupun akan aku bunuh pula. Siapapun juga kau!”
“Ia juga seorang pengawal Kabuyutan seperti aku,” jawab Mahisa Murti yang berdiri tegak dengan dada tengadah.
“Jangan banggakan kedudukan kalian sebagai pengawal,” berkata orang yang bersenjata pedang. “Sebentar lagi kalian akan mati!”
Mahisa Pukat justru tertawa. Ia tidak mengalami ketegangan seperti Mahisa Murti, meski pun sepanjang lorong saat ia berlari seperti dikejar setan, ia merasa gelisah juga.
“Jangan sesumbar,” kata Mahisa Pukat. Tanpa menghiraukan kedua orang itu ia berjalan mendekati Mahisa Murti. Katanya sambil menyerahkan pedang Mahisa Murti. “Ini senjata milikmu. Dengan pedang itu, kau akan dapat bertahan lebih baik lagi.”
Kedua orang berwajah kasar itupun kemudian menyadari keadaan mereka. Justru ketika Mahisa Pukat telah berdiri tegak menghadap ke arah mereka sambil memegang pedang masing-masing.
Dengan demikian berarti bahwa mereka harus bertempur seorang melawan seorang. Apalagi kedua anak muda itu akan menggenggam senjata di tangan.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menarik pedang mereka masing-masing dan menyisipkan wrangkanya di ikat pinggang mereka. Sambil menggerakkan pedangnya Mahisa Murti berkata, “Pedang ini tentu lebih baik dari sekedar sulur yang lemah itu. Namun bagaimana pun juga, aku mengakui bahwa kalian adalah orang-orang kuat yang pantas mendapat perhatian khusus.”
“Anak iblis!” geram orang yang bersenjata golok. “Kini bersiaplah untuk mati. Apa bila aku terlambat membunuh kalian, dan aku tidak sempat berbuat sesuatu segera atas kedua gadis di tepian yang pingsan itu, maka kedua gadis itupun akan mati pula.”
Tetapi Mahisa Murti menyahut, “Jangan memperbodoh orang lain. Aku tahu, gadis itu tidak akan mati meski pun dibiarkan sehari semalam dalam keadaannya. Bahkan pada saatnya, keduanya akan bangun dengan sendirinya, jika tidak ada orang lain yang membuka salah satu saraf yang kau sentuh di tengkuknya.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar