*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 005-02*
“Ternyata keduanya adalah orang-orang yang tangguh” desis Witantra disamping Mahendra.
Mahendra berpaling sejenak kearah kedua Empu yang sedang bertempur itu.
“Pulung Geni memang sangat berbahaya” desis Mahendra.
“Sesuai dengan niat Mahisa Bungalan” jawab Mahisa Agni, “mereka harus dihentikan. Kegiatan padepokan mereka pun harus dihentikan pula”
Dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi semakin jelas. Apalagi ketika Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra ikut pula, meskipun tanpa menarik perhatian, karena mereka bertempur sebagaimana yang lain bertempur. Namun dengan caranya sendiri, ketiga orang itu telah berhasil memperlemah pertahanan lawan mereka.
Dalam pada itu. Empu Pulung Geni semakin lama menjadi semakin tidak dapat lagi mengendalikan diri. Wataknya yang sebenarnya akhirnya melonjak pula dalam ujudnya yang mendebarkan.
Semakin lama Empu Pulung Geni itupun menjadi semakin garang. Teriakan-teriakannya menjadi semakin keras dan tingkah lakunya pun menjadi semakin keras dan kasar. Namun dengan demikian, ia menjadi semakin berbahaya pula. Kekuatannya bagaikan bertambah oleh hentakkan-hentakkan kekuatan dibarengi dengan teriakan-teriakan nyaring.
Tetapi Empu Nawamulapun telah meningkatkan kemampuannya pula sampai ke puncak. Ia menjadi semakin cepat bergerak. Dengan cekatan ia berusaha mengimbangi tingkah laku lawannya. Namun kemudian Empu Nawamula tidak lagi banyak membentur kekuatan Empu Pulung Geni yang bagaikan berlipat. Ia berusaha menghindari benturan-benturan langsung. Namun dengan cepat menyusup pertahanan lawan dengan serangan- serangan yang berbahaya.
Ternyata bahwa kedua tajam senjata kedua Empu itu masih belum berhasil menyentuh lawannya Keduanya adalah senjata yang luar biasa. Meskipun keduanya tentu membawa obat penawar racun, tetapi pengobatan itu tentu juga memerlukan waktu.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan serta para prajurit yang menyertainya menjadi semakin cepat mendesak lawan-lawan mereka. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Betapa garang dan kasarnya lawan-lawan mereka, namun ternyata bahwa mereka tidak dapat mengimbangi kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, seorang melawan seorang. Karena itulah, maka mereka berusaha untuk mengurung kedua anak muda itu dalam kepungan.
Singatama yang telah mengetahui tingkat kemampuan kedua anak muda itu, telah memimpin beberapa orang untuk bersamanya membatasi gerak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan senjata teracu beberapa orang bersama-sama telah mengepungnya.
Namun dalam pada itu. di luar perhitungan mereka, maka dibagian lain dari arena itu, beberapa pengikut Empu Pulung Geni telah terdorong surut dengan luka di tubuh mereka. Meskipun luka-luka itu tidak terlalu parah, tetapi luka-luka itu telah memperlemah mereka.
Ternyata bahwa Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra telah melakukan hal yang serupa. Mereka melukai lawan- lawan mereka. Tidak terlalu parah, tetapi memaksa mereka menyingkir untuk mengobati luka mereka. Namun bagaimanapun juga, luka-luka itu telah menghambat perlawanan mereka, karena setiap kali, darah yang telah pampat pun akan mengalir lagi jika mereka terlalu banyak bergerak.
Dengan demikian, maka para cantrik dari padepokan yang untuk sementara dipimpin oleh Empu Nawamula, dan yang kemudian menyingkir kedalam apa yang mereka sebut padepokan itu, tidak lagi terlalu banyak mengalami kesulitan. Meskipun pada dasarnya secara pribadi, kemampuan saudara-saudara seperguruan Singatama lebih baik, tetapi dalam keseluruhan, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta para cantrik itu mampu mendesak lawan mereka Apalagi Mahisa Bungalan dan para prajurit yang menyertainya.
Empu Pulung Geni yang bertempur melawan Empu Nawamula itupun akhirnya tidak dapat lagi mengingkari satu kenyataan, bahwa para pengikutnya ternyata tidak berhasil mengalahkan lawan-lawan mereka, apalagi menghancurkannya dan mengambil seorang gadis dari apa yang disebut padepokan itu dan sekaligus membebaskan dua orang diantara murid-muridnya yang tertawan.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan dan para prajuritnya benar-benar berusaha untuk melumpuhkan para pengikut Empu Pulung Geni. Meskipun mereka berusaha menghindari pembunuhan, karena mereka ingin menangkap lawan-lawan mereka hidup-hidup dan membawa mereka ke Singasari, namun kadang-kadang para prajurit itu tidak dapat menahan senjata mereka yang terlanjur menghunjam kedalam tubuh lawan, menggores jantung, sehingga lawan mereka itu pun kemudian terkapar tidak bernafas lagi.
Empu Pulung Geni hanya dapat mengumpat kasar. Ternyata ia tidak dapat mengalahkan Empu Nawamula dengan cepat. Bahkan kemudian ia harus mengakui, bahwa Empu Nawamula itu pun mampu mengimbangi kemampuannya. Kerisnya yang besar dapat mengimbangi pedang kebanggaannya, sehingga dengan demikian maka Empu Nawamula yang mampu bergerak dengan cepat itu, sama sekali tidak akan dapat didesaknya.
Menyadari keadaannya, serta keadaan para pengikutnya, maka Empu Pulung Geni harus cepat mengambil satu sikap. Jika ia terlambat, maka seluruh pengikut yang datang bersamanya itu akan dihancurkan oleh lawan yang ternyata memiliki banyak kelebihan.
Dengan demikian, maka tidak ada pilihan lain dari Empu Pulung Geni selain menghindar dari pertempuran. Karena itu. maka dalam satu kesempatan. Empu Pulung Geni telah meloncat meninggalkan lawannya sambil bersuit nyaring. Satu isyarat bagi para pengikutnya, bahwa mereka tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.
Isyarat itu tidak perlu diulangi. Para pengikutnya yang kecemasan itu pun memang tidak lagi mempunyai harapan. Sehingga karena itu, maka dengan serta merta, para pengikutnya pun telah berloncatan untuk mencari kesempatan meninggalkan medan.
Tetapi Mahisa Bungalan dan para prajurit Singasari tidak membiarkan mereka terlepas. Karena itu. maka mereka pun telah berusaha untuk mencegah sejauh mungkin. Bahkan beberapa orang prajurit telah berusaha mengejar lawan-lawannya yang melarikan diri sampai jauh dari dinding apa yang disebut padepokan itu.
Namun dalam pada itu, ada juga diantara mereka yang berhasil lolos dari kejaran lawan-lawan mereka. Empu Pulung Geni sendiri berhasil lepas dari tangan Empu Nawamula. Bahkan ia masih sempat meneriakkan ancaman, “Empu, pada saatnya kau akan mati di tanganku”
Sementara itu, Singatama pun telah menghindarkan diri dari tangan Mahisa Murti.
Meskipun demikian, banyak di antara mereka yang tidak lagi sempat melepaskan diri. Bagaimanapun juga, mereka terpaksa melepaskan senjata mereka dan menjadi tawanan.
Empu Nawamula yang semula berusaha untuk mengejar Empu Pulung Geni terpaksa menghentikan usahanya, sebagaimana beberapa orang prajurit Singasari. Beberapa orang, termasuk Empu Pulung Geni dan Singatama berhasil mencapai kuda-kuda mereka dan dengan kecepatan yang sangat tinggi, kuda-kuda itu berpacu menjauh.
Namun dalam pada itu. ternyata Mahisa Bungalan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berhasil menguasai sebagian besar dari lawan-lawan mereka, sehingga dengan demikian, maka mereka pun yakin bahwa kekuatan padepokan Empu Pulung Geni sudah lumpuh sama sekali.
“Ia harus membangun kekuatan baru untuk waktu yang lama” berkata Mahisa Bungalan kepada para prajuritnya.
Sementara itu, Empu Nawamula telah kembali mendekati apa yang disebut padepokan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian menyongsongnya, setelah ia memerintahkan para cantrik untuk menguasai para tawanan sepenuhnya.
Namun Empu Nawamula pun kemudian terkejut ketika ia melihat seseorang, yang pernah dikenalnya mendekatinya. Sambil tersenyum orang itupun berkata,, “Kau memang luar biasa Empu”
“Mahendra” desis Empu Nawamula,, “kau berada di sini”
Mahendra pun tertawa sebagaimana Empu Nawamula. Katanya, “Aku memperhatikan, bagaimana kau bertempur melawan Empu Pulung Geni. Ternyata bahwa kau memiliki ilmu yang tidak ada duanya”
“Ah. Kau masih juga senang memuji” desis Empu Nawamula, “jika aku tahu kau ada disini, aku tidak akan memaksa diri untuk datang ke tempat ini. Bahkan mungkin kau berhasil menangkap orang yang menyebut dirinya Empu Pulung Geni itu”
“Tentu tidak” jawab. Mahendra, “ia bergerak terlalu cepat dan tidak terduga”
“Ia sempat mengancamku” jawab Empu Nawamula. “Aku mendengar. Pada suatu saat ia akan membunuh Empu” berkata Mahendra.
“Karena itu, aku harus selalu berhati-hati. Nampaknya ia tidak bermain-main atau asal saja berteriak. Ia membawa dendam yang tidak ada taranya” berkata Mahisa Bungalan.
Empu Nawamula memandang anak muda itu sambil berkata, “Kau juga luar biasa anak muda. Siapakah kau sebenarnya? Kau tentu bukan seorang cantrik dari padepokanku”
“O” Mahendralah yang menyahut. Lalu, “Aku memang ingin memperkenalkan beberapa orang yang datang bersamaku ke tempat ini. Anak ini bernama Mahisa Bungalan. Salah seorang dari tiga orang anakku yang ada di sini”
“O, jadi anak ini saudara angger Mahisa Murti dan Mahisa Pukat” sahut Empu Nawamula.
“Ya. Kakaknya” jawab Mahendra.
Empu Nawamula pun menganggukkan kepalanya, sementara Mahisa Bungalan mengangguk pula dengan hormatnya. Sementara itu, Mahendrapun berkata, “Selain anakku itu, aku datang bersama saudara-saudaraku. Mahisa Agni dan Witantra. Keduanya adalah orang-orang yang namanya pernah dikenal di Kediri, sebagai orang yang mendapat kekuasaan pada masa kekuasaan Sri Rajasa di Singasari”
Empu Nawamula pun telah mengangguk hormat pula sebagaimana Mahisa Agni dan Witantra. Sementara itu, Empu itu pun berkata, “Kedatanganku ternyata telah sia-sia. Aku kira aku telah berjasa menyelamatkan para cantrik dari kekasaran dan kebuasan Empu Pulung Geni dan pengikutnya. Ternyata apa yang aku lakukan tidak berarti apa-apa. Bahkan seandainya aku tidak hadir disini, Empu Pulung Geni tentu sudah dapat dibinasakan”
“Jangan diulang lagi” sahut Mahendra, “Marilah. Kita akan berbicara di dalam padepokan ini. Padepokan yang sejak esok pagi sudah tidak akan berarti lagi”
“Aku mempersilahkan kalian singgah di padepokanku. Meskipun tidak terlalu dekat, tetapi agaknya akan lebih baik daripada kalian berada di sini. Selebihnya, akan menenangkan hatiku, karena jika datang pembalasan dari Empu Pulung Geni, maka aku akan dapat berlindung di antara kalian.
Mahendra tertawa. Katanya, “Jangan Empu kira, kami tidak melihat apa yang terjadi. Tetapi kita akan dapat berbicara lebih panjang. Sekali lagi kami mempersilahkan Empu untuk singgah”
Empu Nawamula tidak menolak. Ia pun kemudian bersama dengan Mahendra memasuki regol apa yang dinamakannya padepokan diikuti oleh orang-orang lain. Ternyata bahwa Empu Nawamula kagum juga melihat apa yang disebut padepokan itu. Meskipun sederhana, tetapi nampak bahwa barak-barak yang ada di dalamnya cukup bersih dan terpelihara.
Dalam pada itu, Widati yang ketakutan, hampir menangis ketika ia mengetahui bahwa pertempuran telah selesai. Bahwa isi apa yang disebut padepokan itu berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Bahkan menangkap sebagian besar diantara mereka. Rasa-rasanya ia telah terbebas dari tajamnya ujung duri yang sudah melekat di jantungnya.
“Bersukurlah anakku” berkata ayahnya.
Namun demikian Widati masih juga berkata, “Tetapi bagaimana kemudian ayah. Apakah mereka telah benar- benar dilumpuhkan, dan tidak akan dapat bangkit kembali?”
Pertanyaan itu ternyata telah mendebarkan jantung ayahnya pula. Tetapi ia masih juga menjawab untuk menenangkan anaknya, “Tetapi setidak-tidaknya kau sekarang terlepas dari penderitaan yang paling pahit dan bahkan maut”
Widati tidak menjawab.
Dalam pada itu. Empu Nawamula pun kemudian telah duduk bersama dengan Mahendra, Mahisa Agni dan Witantra, sementara beberapa orang telah mengambil kudanya yang disembunyikannya di belakang sebuah gerumbul. Bahkan para cantrik itu dapat pula menangkap beberapa ekor kuda yang ditinggalkan oleh para pengikut Empu Pulung Geni atau para pengikut yang tertangkap
Tidak banyak yang dibicarakan oleh orang-orang tua itu. Namun mereka kemudian sepakat untuk meninggalkan tempat itu dan memasuki padepokan Empu Nawamula.
“Bagaimana jika ia kembali” bertanya Mahisa Murti.
“Mudah-mudahan tidak segera” jawab Empu Nawamula, “sementara itu para cantrik sudah mendapatkan ilmu kanuragan yang memadai. Selama ini, kanuragan seolah-olah sekedar untuk mengisi waktu mereka yang tertuang saja. Bukan satu ilmu yang dituntut dengan sungguh-sungguh. Tetapi agaknya sekarang telah terbukti, bahwa mereka memerlukan ilmu yang lebih baik”
Namun dalam pada itu, mereka tidak sempat untuk berbicara terlalu panjang. Mereka pun segera dituntut uatuk mengobati para cantrik yang terluka.
Bagaimanapun juga, dalam benturan kekuatan telah jatuh beberapa orang korban. Babkan ada di antara mereka yang dengan berat hati harus dilepaskan untuk selama-lamanya.
Hari itu, orang-orang dari apa yang mereka sebut padepokan kecil itu telah bekerja dengan keras. Bukan saja para cantrik dari padepokan Empu Nawamula, tetapi mereka pun harus mengobati para pengikut Empu Pulung Geni, yang dengan heran telah mengalami perawatan yang tidak berbeda dengan lawan-lawan mereka.
“Mereka tidak membunuh kita” desis salah seorang dari mereka.
Tetapi kawannya menjawab, “Ini adalah pembunuhan yang paling keji. Mereka mengobati luka-luka kita. Tetapi sesudah kita sembuh mereka akan memerlukan kita dengan sangat kejam”
Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi menilik sikap lawan mereka yang telah menawan mereka, agaknya mereka mempunyai sikap yang lain dari lingkungan mereka sehari-hari. Meskipun demikian, mereka masih belum berani membayangkan, apa yang sebenarnya akan terjadi atas diri mereka.
Dalam pada itu, di tempat lain, Mahisa Bungalan telah berbincang dengan orang-orang tua, termasuk Empu Nawamula. Sebagaimana ia berangkat mengikuti Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Mahisa Bungalan telah berniat untuk membawa orang-orang yang berhasil ditangkap itu ke Singasari, “Mereka akan mendapat perlakuan sewajarnya dan dari mereka akan dapat di tarik satu keterangan yang lebih luas tentang padepokan mereka.”
“Silahkan” berkata Empu Nawamula, “tetapi tentu tidak dengan tergesa-gesa. Aku masih ingin mempersilahkan kalian untuk singgah”
“Ayah dan kedua paman akan singgah bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat” jawab Mahisa Bungalan, “tetapi kami akan membawa mereka kembali ke Singasari”
“Kenapa begitu tergesa-gesa” bertanya Empu Nawamula.
“Atas dasar perhitunganku, maka dalam waktu singkat Empu Pulung Geni tentu belum akan bertindak lagi. Karena itu, maka kami akan merasa aman untuk membawa para tawanan ke Singasari”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Mahendra lah yang menyahut, “Bagaimanapun juga, aku. tidak dapat melepaskan kau sendiri membawa orang-orangnya Empu Pulung Geni, nampaknya seorang yang sangat licik. Mungkin ia akan muncul dengan tiba-tiba. Karena itu, biarlah aku ikut pergi ke Singasari. Biarlah kakang Mahisa Agni dan Witantra tinggal bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk sementara”
Ternyata Empu Nawamula tidak dapat mencegahnya. Karena itu, maka Mahendra telah memutuskan untuk kembali ke Singasari menyertai Mahisa Bungalan, karena bagaimanapun juga, ia tidak sampai hati melepaskan anaknya yang akan membawa para tawanan para pengikut Empu Pulung Geni. Jika empu Pulung Geni tiba-tiba saja mengganggu iring-iringan itu, meskipun hanya dengan beberapa pengikutnya yang tersisa, maka Mahisa Bungalan akan mengalami kesulitan, karena menurut pengamatannya. Empu Pulung Geni adalah seseorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Apabila dengan keamanan dan keliarannya. Maka Empu Pulung Geni benar-benar seorang yang sangat berbahaya.
Dengan demikian, maka Mahendra pun kemudian telah bersiap-siap bersamaan Mahisa Bungalan dan para prajurit Singasari. Mereka akan berangkat ke Singasari dengan membawa para tawanan Hanya mereka yang terluka parah, akan tinggal dan akan dibawa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ke padepokan Empu Nawamula. Pada saatnya, prajurit Singasari akan mengambil mereka dan mereka akan dikumpulkan kembali dengan kawan-kawan mereka.
Karena itulah, maka di hari berikutnya, Mahisa Bungalan telah meninggalkan apa yang disebut padepokan itu mendahului orang-orang lain yang akan singgah kepadepokan Empu Nawamula. Dengan cermat Mahisa Bungalan telah mengatur para prajuritnya yang akan membawa para tawanan kembali ke Singasari. Berbeda dengan saat mereka berangkat, maka agar perjalanan mereka tidak mengalami gangguan dan menarik perhatian, karena mereka membawa tawanan, maka Mahisa Bungalan telah memerintahkan mereka untuk mengenakan tanda-tanda keprajuritan mereka. Mahisa Bungalan sendiri telah mengenakan pakaian keprajuritannya dengan pertanda kebesaran pasukannya. Ia telah memasang kelebet pada sepucuk tombak yang dipakainya sebagai tunggal. Ia berharap bahwa dengan demikian, maka mereka tidak akan mendapat banyak gangguan. Adalah wajar bahwa sepasukan prajurit Singasari telah membawa sejumlah tawanan.
Mungkin iring-iringan itu akan bertemu dengan sepasukan pengawal dari sebuah pasukan. Tanpa mengenakan pakaian keprajuritan Singasari, maka akan dapat timbul masalah antara mereka dengan para pengawal dari Pakuwon yang mencurigai mereka karena mereka telah membawa sekelompok orang yang tertawan.
Demikianlah, maka Mahisa Bungalan pun kemudian telah minta diri kepada paman-pamannya, kepada adik- adiknya dan kepada Empu Nawamula. Namun sementara itu, maka iapun telah menyatakan akan kembali ke padepokan Empu Nawamula untuk mengambil sisa para tawanan yang terluka parah.
Ketika iring-iringan itu meninggalkan apa yang disebut sebagai padepokan itu, maka Widati telah mengeluh disisi ayahnya. Dengan suara dalam ia berkata, “Apa yang dapat akau lakukan ayah. Seorang perwira prajurit itu pun masih harus memperhitungkan kehadiran Empu Pulung Geni. Apalagi aku. Bahkan kita. Singatama dapat saja setiap saat datang kerumah kita. Adalah sangat mengerikan jika ia datang bersama dengan gurunya yang terlepas dari tangan Empu Nawamula, bahkan menurut pendengaranku, ia masih juga sempat mengancam”
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti kecemasan anak gadisnya. Namun dalam pada itu, ia berkata, “Singatama belum mengetahui, dimanakah rumah kita”
Widati mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mengangguk ia berkata, “Ya ayah. Singatama belum tahu, di manakah rumah kita. Meskipun demikian, rasa- rasanya aku ngeri juga untuk kembali”
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Setelah merenung sejenak maka ia pun berkata, “Widati. Sebenarnya aku agak berkeberatan untuk mengatakan. Tetapi terdorong oleh satu keinginan untuk mencari perlindungan. Bagaimana pendapatmu jika untuk sementara kira ikut bersama dengan orang-orang yang tinggal ini pergi ke padepokan Empu Nawamula?”
Widati menundukkan wajahnya. Sebenarnya ia senang sekali melakukannya. Kecuali ia akan mendapatkan perlindungan untuk sementara, juga karena ia mengetahui, bahwa anak muda yang sebenarnya bernama Mahisa Murti itu akan pergi ke Padepokan itu juga.
“Bagaimana pendapatmu Widati” bertanya ayahnya. Widati masih saja menunduk.
“Katakan pendapatmu Widati” desak ayahnya.
Dengan nada dalam Widati menjawab, “Segalanya terserah kepada pertimbangan ayah. Mana yang baik bagi ayah, akupun menganggapnya baik juga”
Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka biarlah kita pergi ke padepokan itu. Pada sualu saat yang baik, kita akan kembali ke Kabuyutan kita”
Widati tidak menjawab lagi. Namun jantungnya menjadi berdebar-debar.
Demikianlah, maka ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta Mahisa Agni dan Witantra merasa tidak berkeberatan untuk pergi ke padepokan Empu Mawamula, maka mereka pun telah mengambil satu keputusan, bahwa setelah mereka selesai berkemas dan memungkinkan untuk meninggalkan tempat itu bersama mereka yang terluka, maka mereka akan pergi ke padepokan Empu Nawamula.
Sebagaimana di harap oleh Ki Buyut, maka Empu Nawamula itu pun telah mempersilahkannya pula untuk singgah. Sehingga tanpa diulangi, Ki Buyut menjawab, “Terima Kasih Empu. Meskipun sebenarnya aku ingin sekali segera kembali ke Kabuyutan yang sudah terlalu lama aku tinggalkan, namun rasa-rasanya ada semacam kecemasan bahwa Singatama akan menemukan tempat tinggal kami. Meskipun Singatama dan gurunya sudah tidak mempunyai kekuatan lagi bagi kalian, tetapi bagi kami, mereka tetap hantu yang sangat menakutkan”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, betapa Ki Buyut itu akan dibayangi oleh ketakutan selama Singatama atau Empu Pulung Geni masih berkeliaran.
Karena itu maka katanya, “Kita harus menemukan pemecahan Ki Buyut. Tetapi baiklah Ki Buyut dan anak perempuan Ki Buyut berada bersama kami di padepokan untuk satu dua hari. Mungkin kita akan menemukan satu pemecahan yang paling baik”
Demikianlah, maka pada saat-saat kemudian, orang- orang seisi apa yang disebut padepokan itu telah mengemasi diri. Mereka juga mengobati yang terluka sebaik-baiknya, agar dalam waktu yang dekat, mereka dapat bersama-sama menempuh perjalanan menuju ke padepokan Empu Nawamula. Padepokan yang benar-benar sudah berujud padepokan.
Tetapi bagaimanapun juga Empu Nawamula selalu ingat, bahwa padepokan itu bukan haknya. Yang seharusnya memiliki padepokan itu adalah Singatama. Namun ia tidak akan sampai hati melepaskan padepokan itu kepada pemiliknya, selama Singatama masih diliputi oleh pikiran-pikirannya yang gelap.
“Mudah-mudahan pengalamannya kali ini akan berarti bagi hidupnya. Ia akan melihat, bahwa seseorang tidak akan dapat memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Karena di dunia ini ada kekuatan yang merasa wajib menghalangi tindak sewenang wenang seperti itu” berkata Empu Nawamula di dalam hatinya.
Selama orang-orang seisi padepokan itu berkemas, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat menghubungi orang-orang padukuhan terdekat sebagaimana selalu dilakukannya. Ternyata bahwa orang-orang dipadukuhan itu pun menaruh perhatian atas peristiwa yang baru saja terjadi atas padepokan yang baru saja dibuka itu.
“Kami memperhatikan dari jauh apa yang telah terjadi” berkata salah seorang dari orang-orang padukuhan terdekat, “kami melihat sekelompok orang yang kemudian telah berkelahi dengan para penghuni padepokan itu”
“Ya” jawab Mahisa Murti, “mereka ingin merampas hak dan wewenang kami”
“Tetapi bukankah tidak terjadi sesuatu atas kalian” bertanya yang lain.
“Kami bersyukur, bahwa kami semuanya berhasil mengusir mereka. Meskipun demikian ada juga kawan- kawan kami yang terluka. Bahkan ada diantara kami yang menjadi sangat parah. Mudah-mudahan dengan segala usaha, mereka akan dapat tertolong dan dapat tetap bersama kami” sahut Mahisa Pukat.
“Tetapi kami lihat, sebagian dari kalian telah meninggalkan padepokan. Bahkan kami melihat satu pertanda dari satu lingkungan yang resmi, karena kami melihat kelebet pada tunggul yang dibawa oleh kawan- kawan kalian yang mendahului kalian” bertanya seorang yang sudah berambut putih, yang nampaknya memiliki pengalaman yang lebih banyak dari kawan-kawan mereka.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun akhirnya Mahisa Murti berkata, “Mereka membawa lawan-lawan kami yang tertangkap untuk menghadap para pemimpin keprajuritan di Singasari”
“Singasari” orang berambut putih itu berdesis, “apakah mereka prajurit Singasari?”
“Ya” jawab Mahisa Murti.
Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Di antara bibirnya terdengar ia bergumam, “Sukurlah. Kalian telah tertolong”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Agaknya orang berambut putih itu memiliki satu pengalamanan yang lebih luas dari tetangga-tetangganya, sehingga ia mengenali pertanda keprajuritan yang dibawa oleh Mahisa Bungalan.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengatakan pula kepada para penghuni padukuhan itu, bahwa pada satu saat yang pendek, apa yang disebutnya sebagai padepokan itu akan ditinggalkannya.
“Apakah kalian akan membuat padepokan yang lebih baik” bertanya salah seorang penghuni padukuhan itu.
“Ternyata seorang Empu yang baik telah memberikan kesempatan kepada kita untuk tinggal di padepokannya” jawab Mahisa Murti.
“Sukurlah. Kalian akan mendapat tempat yang lebih baik dari yang kalian huni sekarang ini” berkata yang lain.
Namun dalam pada itu, salah seorang dari mereka bertanya, “Lalu, apakah padepokan kalian itu akan kalian bongkar?”
Mahisa Murti menggeleng. Katanya, “Tidak. Justru kami ingin menyerahkan apa yang kami sebut padepokan itu kepada kalian. Terserah, apakah padepokan itu akan kalian pergunakan untuk apa? Mungkin untuk satu lingkungan peternakan, atau untuk kepentingan apapun juga”
“O” orang-orang padukuhan itu mengangguk-angguk. Dalam pada itu orang berambut putih itu berkata, “Terima kasih Ki Sanak. Kami akan menerima dengan senang hati. Ada satu hal yang barangkali dapat kami lakukan dengan apa yang pernah kalian sebut sebagai padepokan itu”
“Terserahlah kepada kalian” berkata Mahisa Pukat pula, “jika kami harus meninggalkannya, maka apa yang pernah kami anggap sebagai padepokan itu, tidak akan menjadi sia- sia”
Ternyata bahwa orang-orang padukuhan itu merasa berterima kasih juga kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Barak-barak di lingkungan apa yang disebutnya padepokan itu akan dapat dimanfaatkan oleh mereka.
Dalam pada itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih beberapa hari tinggal di padepokan mereka. Sementara itu mereka yang terluka parah pun menjadi berangsur baik. Tetapi ternyata bahwa ada diantara mereka, baik dari pihak kawan-kawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maupun diantara para pengikut Empu Pulung Geni yang tidak lagi dapat tertolong jiwanya.
Karena itu, dengan hati yang sangat berat, para cantrik dari padepokan Empu Nawamula harus melepaskan kawan-kawan mereka untuk selama-lamanya.
Demikianlah, ketika saatnya tiba, maka seisi padepokan kecil itu telah siap untuk meninggalkan tempat itu. Mereka akan menempuh satu perjalanan yang cukup panjang, menuju ke sebuah padepokan yang pernah menjadi landasan langkah yang menentukan bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Tetapi perjalanan yang panjang itu merupakan satu langkah untuk menuju ke satu masa yang diharapkan akan menjadi lebih baik baik para cantrik yang akan kembali ke padepokan mereka semula.
Ternyata bahwa perjalanan itu sama sekali tidak mengalami hambatan. Meskipun para cantrik itu tetap bersiaga, karena Empu Pulung Geni yang terlepas dari tangkapan Empu Nawamula, bahkan yang sempat mengancamnya pula, akan dapat muncul setiap saat.
Dengan pasti iring-iringan itu mendekati padepokan yang untuk sementara dipimpin oleh Empu Nawamula. Meskipun mereka ternyata terhalang oleh gelapnya malam yang turun, namun iring-iringan itu sama sekali tidak berhenti untuk bermalam di perjalanan. Jika mereka harus berhenti, adalah sekedar untuk beristirahat. Tetapi mereka bertekad untuk mencapai tujuan.
Widati mengalami kelelahan yang membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Tetapi ia tidak mengeluh. Ia tidak mau menjadi hambatan yang dapat dipersalahkan apabila terjadi sesuatu di perjalanan mereka.
Ternyata bahwa mereka memasuki regol padepokan Empu Nawamula sebelum tengah malam. Perjalanan yang terhitung tidak terlampau cepat itu mereka selesaikan dengan hati yang lega. Seolah-olah mereka telah terlepas dari satu ancaman yang dapat mengganggu mereka setiap saat di perjalanan.
“Marilah” berkata Empu Nawamula, “inilah padepokan yang untuk sementara harus aku pimpin. Padepokan yang sebenarnya harus diwarisi oleh Singatama”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki regol itu dengan hati yang gelisah. Rasa-rasanya ada sesuatu yang membuat mereka menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka tidak melihat kelainan yang nampak pada saat-saat mereka memasuki regol, namun padepokan yang lenggang itu rasa-rasanya telah mencekam jantungnya.
Tetapi memang ada yang menarik perhatian. Pendapapa depokan itu masih diterangi oleh lampu minyak sebagaimana jika pendapa itu sedang dilangsungkan satu pertemuan atau jika ada tamu yang mengunjungi padepokan itu. Namun adalah menjadi kebiasaan, bahwa di malam hari yang telah larut, lampu itu akan dikecilkan.
“Apa ada seseorang yang mengunjungi padepokan ini” bertanya Empu Nawamula di dalam hatinya.
Dalam pada itu, ternyata bahwa satu diantara murid Empu Nawamula yang nampaknya mendapat giliran berjaga-jaga, telah melihat kehadiran iring-iringan itu. sehingga iapun telah menyosongnya.
“Empu” desis orang itu.
“Ya, aku dan para cantrik” jawab Empu Nawamula.
“Silahkan Empu” berkata murid itu sambil menerima kendali kuda Empu Nawamula.
Dalam pada itu; maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mendekatinya sambil bertanya, “Bukankah kalian dalam keadaan baik di padepokan ini?”
“Ya anak muda” jawab murid Empu Nawamula itu, “kami dalam keadaan baik. Justru kami mencemaskan keadaan kalian. Ternyata kalian telah kembali dengan selamat”
“Tetapi ada yang terpaksa kami lepaskan untuk selamanya” jawab Mahisa Pukat.
Murid Empu Nawamula itu memandangi gurunya dengan tajamnya. Sementara Empu Nawamula mengangguk sambil berdesis, “Kami tidak kuasa berbuat apapun juga atas takdir yang telah memungut mereka”
Murid empu Nawamula itu mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian terdengar suaranya lirih, “Memang ada seorang tamu di padepokan ini Empu”
“Siapa” bertanya Empu Nawamula.
“Singatama” jawab murid Empu Nawamula itu. Semua orang yang mendengar jawab itu terkejut. Mahisa Pukat telah terloncat mendekat sambil mengulang, “Singatama?”
“Ya anak muda. Ia datang seorang diri ke padepokan ini” jawab murid Empu Nawamula itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berpaling kearah Mahisa Agni dan Witantra, sementara Widati bergeser mendekati ayahnya dengan jantung yang berdebaran.
“Untuk apa ia datang kemari” bertanya Empu Nawamula.
“Empu dapat bertanya sendiri” jawab muridnya itu, “ia ada di dalam bilik di rumah induk. Aku tidak tahu. apakah ia sudah tidur atau belum”
Empu Nawamula memandang pendapa padepokan yang kosong itu. Namun ia tahu, bahwa di salah satu bilik di rumah induk itu terdapat seorang anak muda yang bernama Singatama.
Sementara Empu Nawamula termangu-mangu, maka pintu pringgitan di belakang pendapa itupun terbuka. Seorang anak muda melangkah keluar perlahan-lahan. Singatama.
“Gila” geram Empu Nawamula, “apakah ia memang ingin membunuh diri?”
Empu Nawamula tiba-tiba saja telah melangkah dengan tergesa-gesa mendekati kemanakannya. Wajahnya menjadi tegang, dan sorot matanya memancarkan gejolak perasaannya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian mengikutinya dan membiarkan kudanya di halaman. Namun seorang cantrik kemudian telah menarik kendali kuda itu dan mengikatnya pada patok-patok yang terdapat dihalaman. Demikian pula Mahisa Agni dan Witantra pun telah mengikat kuda-kuda mereka. Sementara itu, para cantrik menjadi sibuk. Sebagian mengikat kuda-kuda mereka, sedang yang lain mengawasi para tawanan dan membantu kawan-kawan mereka yang terluka.
Sesaat kemudian suasana dicengkam oleh ketegangan. Ketika Empu Nawamula sampai ke tangga pendapa, maka iapun naik dengan wajah yang semakin tegang.
“Kenapa kau berada disini Singatama” bertanya Empu Nawamula.
Singatama menundukkan kepalanya. Namun kemudian katanya, “Paman, aku persilahkan paman duduk sejenak. Aku akan mengatakan sesuatu yang barangkali memerlukan waktu untuk dicernakan”
Empu Nawamula menjadi ragu-ragu. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di pendapa pula.
“Mungkin keteranganku agak panjang paman” berkata Singatama.
Bagaimanapun juga, Singatama adalah kemanakannya. Apalagi agaknya Singatama tidak akan dapat berbuat curang karena kekuatannya sudah dihancurkan. Meskipun demikian Empu Nawamula itu berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Biarlah para cantrik itu berjaga- jaga”
“Aku tidak akan berbuat sesuatu paman” berkata Singatama yang agaknya mengetahui perasaan Empu Nawamula.
Empu Nawamula tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian duduk di atas tikar yang sudah terhampar, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memperingatkan kepada para cantrik untuk berhati-hati.
“Amati para tawanan sebaik-baiknya” berkata Mahisa Murti.
“Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Keadaan tubuh mereka belum memungkinkan” desis Witantra.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga, mereka memang tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa pengamatan.
Dalam pada itu, Empu Nawamula yang duduk di pendapa bersama Singatama telah bertanya, “Apa yang akan kau katakan?”
Singatama menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Aku menyesal paman. Ternyata bahwa karena sikapku, maka hal yang tidak perlu itu telah terjadi. Bahkan mengakibatkan beberapa orang korban jatuh dari kedua belah pihak”
Empu Nawamula mengerutkan keningnya. Sementara Singatama berkata selanjutnya, “Yang terjadi itu benar-benar telah menyentuh perasaanku. Seolah-olah hatiku menjadi terbuka, sehingga aku dapat melihat tembus ke masa laluku”
“Apa yang kau lihat” bertanya Empu Nawamula.
“Kegelapan” jawab Singatama, “aku sangat menyesal. Tetapi apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki ketelanjuran itu”
Empu Nawamula tidak menjawab. Dipandanginya kemanakannya seolah-olah ingin melihat sampai ke dasar jantung.
Namun dalam pada itu, tidak jauh dari padepokan itu, Empu Pulung Geni duduk di atas sebuah batu di dalam bayangan kelam sambil berkata di dalam hatinya, “Mudah-mudahan Singatama berhasil mengelabui hati pamannya. Dengan itu tidak boleh membakar jantungku sendiri. Aku harus mendapat kesempatan untuk membunuhnya, kapan saja”
Gejolak perasaan Empu Pulung Geni rasa-rasanya tidak dapat dikendalikan lagi. Tetapi Empu Pulung Geni sadar, bahwa ia harus mempergunakan nalarnya sebaik-baiknya. Dengan memperalat Singatama ia sudah membuat perhitungan yang mapan, bahwa Empu Nawamula harus dibunuhnya.
“Jangan kau racun dengan cara apapun” pesan Empu Pulung Geni kepada Singatama, “aku sendiri harus dapat menghunjamkan pedangku ke jantungnya selagi jantungnya masih berdetak. Dengan demikian, maka tuah luwukku itu akan bertambah-tambah. Darah seorang yang memiliki ilmu yang setinggi ilmu Empu Nawamula, akan sangat berarti bagiku”
Dengan pesan itulah, Singatama memasuki padepokannya yang untuk sementara masih dipimpin oleh pamannya, Empu Nawamula.
Sementara itu, Singatama masih duduk dengan kepala tunduk Ternyata ia telah memainkan peranannya dengan baik sekali, sehingga akhirnya Empu Nawamula berkata “Aku akan melihat Singatama. Apakah yang kau katakan itu benar-benar memancar dari ketulusan hatimu”
“Aku tidak mempunyai kemampuan untuk mengatakannya paman” berkata Singatama kemudian, “tetapi aku berharap paman masih mempunyai sisa kepercayaan kepadaku”
“Baiktah” Empu Nawamula mengangguk-angguk, “aku sekarang datang bersama para cantrik. Kau harus dapat menyesuaikan dirimu, sehingga kau akan merasa satu dengan mereka. Jika masih ada tanda-tanda bahwa kau belum dapat melepaskan diri dari pengaruh ilmu hitammu, maka aku akan mengambil satu jalan yang paling baik. Jika kau benar-benar menghendaki dirimu terlepas dari cengkeraman ilmu terkutuk itu, maka aku akan menolongmu”
Singatama mengerutkan keningnya. Meskipun ia tidak benar-benar ingin melepaskan diri dari pengaruh gurunya, namun ia bertanya, “Apakah paman dapat berbuat demikian?”
“Tentu” jawab pamannya.
“Caranya” bertanya Singatama.
Empu Nawamula termangu-mangu. Tetapi nampaknya Singatama benar-benar tertarik kepada rencananya. Karena itu, maka iapun menjawab, “Aku dapat mengosongkan dirimu. Tetapi dengan demikian kau akan benar-benar menjadi kosong. Kau kehilangan semua kemampuanmu”
“Dan aku sama sekali menjadi orang yang tidak berarti?” bertanya Singatama.
“Untuk sementara” jawab Empu Nawamula, “karena sesudah itu, semisal sebuah jambangan yang kosong, maka jambangan itu akan dapat diisi dengan air yang baru. Menurut keinginan. Yang jernih atau justru yang lebih kotor”
Singatama mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi dengan demikian aku memerlukan waktu yang lama untuk dapat memulihkan kemampuanku”
Empu Nawamula mengangguk. Jawabnya, “Itu adalah satu ujian bagi kesungguhan hatimu. Kau memang memerlukan waktu dua atau tiga tahun untuk mempelajari dasar-dasar olah kanuragan yang baru. Tetapi tata gerak dasarnya memang tidak akan banyak berbeda. Yang lain adalah watak dan sifat gerak serta landasan ilmu itu sendiri sehingga kemampuan cadangan yang muncul di dalam diri kita mempunyai warna yang berbeda pula”
Singatama menganguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, seolah-olah memang memancar dari dasar jiwanya, “Paman. Seandainya aku tetap memilih ilmuku yang sekarang, tetapi aku sudah berjanji untuk melakukan hal-hal yang baik, apakah tidak akan sama saja artinya?”
“Memang agak berbeda Singatama” jawab pamannya, “meskipun kau mendasari tingkah lakumu kemudian dengan maksud baik, tetapi cara yang kau pergunakan masih saja caramu sekarang, mungkin sekali akan dapat berakibat sebaliknya. Untuk mencapai satu tujuan yang baik dengan mempergunakan segala cara, termasuk cara yang tidak baik, atau mempergunakan ilmu yang mempunyai watak dan sifat tidak baik, maka akibatnyapun akan dapat sebaliknya dari yang dikehendaki”
Singatama mengangguk-angguk. Namun katanya, “Baiklah paman. Aku akan memikirkannya. Tetapi yang sudah aku mulai adalah satu penyesalan. Mungkin aku akan mendapatkan satu cara. yang dapat merubah, bukan saja sifat dan watakku, tetapi juga sifat dan watak ilmuku”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan melihat, apakah kau berhasil menaklukkan dirimu sendiri atau apakah lebih sulit menguasai dirinya sendiri daripada menguasai orang lain” Empu Nawamula berhenti sejenak, lalu, “Para cantrik sekarang telah kembali ke padepokan ini. Kau akan mendapatkan kawan-kawanmu kembali dengan sifatmu yang baru.”
“Aku tidak akan menempatkanmu di antara mereka dalam ujud lahiriah, karena sebenarnya kaulah yang memiliki padepokan ini. Tetapi secara batiniah, kau harus satu dengan para cantrik”
“Paman” berkata Singatama, “secara lahiriahpun, aku akan menyesuaikan diri dan menyatu dengan mereka. Aku akan tidur bersama mereka dan aku akan bekerja sebagaimana mereka bekerja”
Empu Nawamula memandangi kemanakannya sejenak. Lalu katanya, “Sukurlah. Baiklah, pergilah kepada mereka dan nyatakan dirimu sebagaimana kau kehendaki. Mereka masih berada di halaman untuk mendapatkan kepastian sikapmu”
Empu Nawamula pun kemudian mengajak Singatama berdiri di tangga pendapa. Dengan lantang ia berbicara kepada para cantrik, “Anak-anakku, para cantrik. Kau tentu masih menunggu, untuk mengetahui maksud kedatangan Singatama di padepokan ini. Kalian tentu mencurigainya dan bahkan mungkin ada yang mendendamnya. Baru saja kalian bertempur melawan Singatama dan kawan-kawannya beberapa saat lalu”
Para cantrik itu pun saling berpandangan. Mahesa Murti dan Mahisa Pukat merasa heran juga mendengar kata-kata Empu Nawamula, sementara Mahisa Agni dan Witantra mendengarkan keterangan itu dengan berdebar-debar.
Dalam pada itu. Empu Nawamula melanjutkan, “Para cantrik sebaiknya kalian mendengar sendiri, apa yang akan dikatakan oleh Singatama, sebagaimana dikatakan kepadaku”
Singatama mengerutkan keningnya. Kemudian iapun berdesis, “Biarlah paman saja yang mengatakannya”
“Katakanlah sendiri. Mereka akan mendengar langsung isi hatimu. Mereka akan menjadi saksi, apakah kau benar-benar mungucapkan kata-kata sebagaimana kau ucapkan di dalam hatimu itu” berkata Empu Nawamula Singatama termangu-mangu. Namun ia pun kemudian berdiri di tangga pendapa itu sambil memandangi para cantrik yang berdiri dalam keremangan malam.
Ternyata ada juga keragu-raguan dihati Singatama. Para cantrik itu akan menjadi saksi, apakah yang dikatakan itu benar-benar sebagaimana kata nuraninya. Justru karena Singatama sendiri menyadari, bahwa yang akan dikatakan itu justru bertentangan dengan kata hatinya yang sebenarnya, maka rasa-rasanya setiap pasang mata para cantrik itu menghujam langsung memandang ke arah jantungnya.
Namun dalam pada itu, perlahan-lahan Singatama berhasil mengatasi gejolak di dadanya. Dengan ragu-ragu ia mulai berkata, “Para cantrik. Aku mohon, kalian masih bersedia mendengarkan kata-kataku”
Tidak seorangpun yang bergerak. Seolah-olah semua telah membeku.
Sementara itu Singatama melanjutkannya, “Telah aku katakan kepada paman Nawamula, bahwa aku berusaha untuk memandang satu kenyataan yang tidak dapat aku ingkari lagi”
Para cantrik mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Singatama dengan jantung yang berdebar-debar. Sesaat kemudian, maka Singatama pun mulai mengatakan maksudnya, sebagimana dikatakannya kepada pamannya. Dengan nada yang meyakinkan, Singatama minta maaf kepada para cantrik dan berniat untuk hidup diantara mereka.
Ternyata bahwa Singatama bukan saja seorang yang garang dan bengis serta mementingkan dirinya sendiri. Ia pun mampu untuk membuat dirinya memelas dan beriba- iba. Sehingga dengan demikian, maka ia telah berhasil menyentuh hati para cantrik padepokan Empu Nawamula.
Namun dalam pada itu. Empu Nawamula Kemudian berkata, “Marilah, kita terima Singatama. Tetapi dengan sikap yang tidak mutlak. Maksudku, kita akan melihat, apakah ia benar-benar dapat dipercaya. Baru setelah kita yakin, maka kita akan menganggapnya sebagai seseorang yang memang pantas untuk memimpin padepokan ini, yang memang sebenarnya adalah haknya”
Para cantrik itu pun mengangguk-angguk. Sama sekali tidak terkilas di dalam angan-angan mereka, kepalsuan yang tersimpan di balik wajah Singatama yang memelas itu, yang seolah-olah telah menjadi putus asa dan kehilangan segala harapan untuk meneruskan sikapnya.
Apalagi nampaknya Empu Nawamula pun mempercayainya, sehingga meskipun masih juga dengan sikap hati-hati, namun Empu Nawamula telah menerimanya.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Empu Nawamula itupun berkata, “Baiklah. Kita semuanya memang letih sekarang ini. Karena itu, kembalilah ke tempat kalian semula. Kalian tentu masih dapat mengenali bilik dan barak kalian masing-masing. Kecuali beberapa orang yang kami anggap sebagai tamu”
Widati menjadi bardebar-debar. Agaknya Singatama belum melihatnya, karena ia berdiri di belakang ayahnya yang memang berada di dalam kegelapan. Namun dalam pada itu, Witantra pun berbisik di telinga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Bukahkan kau pernah berada di padepokan ini pula?”
“Ya paman” jawab Mahisa Murti.
“Kau sudah mempunyai tempat disini” bertanya Witantra pula.
“Sudah paman” jawab Mahisa Murti selanjutnya.
“Bawa kami ke bilik kalian. Biarlah kami tinggal bersama kalian saja” desis Mahisa Agni yang agaknya mengerti maksud Witantra.
Namun dalam pada itu. Mahisa Murti bertanya, “Tetapi bagaimana dengan Ki Buyut dan anak gadisnya?”
Witantra pun termangu-mangu. Pertanyaan itu tidak akan dapat dijawabnya. Tetapi sementara itu Empu Nawamula pun berkata, “Ada beberapa orang tamu yang kita terima sekarang ini. Di antaranya adalah Ki Buyut bersama anak gadisnya”
“O” Widati berpegangan baju ayahnya.
“Jangan takut Widati” berkata ayahnya, “segalanya masih akan dapat di atasi. Di sini ada dua orang anak muda yang nampaknya tidak terlalu mementingkan diri sendiri”
Widati mengerutkan keningnya. Ia masih ingat, bagaimana ayahnya melarangnya bergaul terlalu dekat dengan anak-anak muda yang belum diketahui lebih jauh lagi tentang sifat-sifatnya itu.
Singatama yang mendengar keterangan pamannya itu terkejut. Hanya ada seorang gadis yang diketahuinya berada di dalam apa yang disebut padepokan kecil itu. Gadis itu adalah Widati. Jika yang dimaksud gadis anak Ki Buyut itu adalah Widati, maka hal itu akan dapat merupakan satu masalah baru baginya, karena ia sama sekali tidak menyangka, bahwa gadis itu akan ikut pula ke padepokan Empu Nawamula itu.
Namun dalam pada itu, bagaimanapun juga Singatama masih berusaha untuk menguasai dirinya sendiri sebaik- baiknya. Betapapun jantungnya bergejolak, tetapi ia berusaha untuk tidak memberikan kesan yang demikian. Karena itu, ia sama sekali tidak menyahut. Bahkan ia berkata kepada pamannya tentang dirinya sendiri, seolah- olah tidak menghiraukan bahwa pamannya telah menyebut seorang gadis, “Paman,apakah aku boleh tetap berada di bilik di ruang dalam, atau aku harus berada di tempat lain?”
“Kau tetap berada disitu” berkata pamannya, “biarlah tamu-tamu kita berada di rumah sebelah”
Singatama mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa ia sudah dapat mengatasi gejolak perasaannya yang paling berat.
Dalam pada itu, para cantrik pun telah pergi ke bilik masing-masing, setelah mereka menempatkan kuda-kuda mereka di kandang, yang sebagian adalah kuda-kuda yang dapat mereka rampas dari kawan-kawan Singatama. Sementara beberapa orang yang bertugas, telah menempatkan para tawanan di tempat yang dengan tergesa-gesa disiapkan.
Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian telah bersiap untuk mengikuti Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ke dalam biliknya. Sementara Ki Buyut dan anak gadisnya telah dipersilahkan untuk berada di rumah sebelah.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tiba-tiba saja telah berpikir lain. Jika kedua pamannya itupun dapat dianggap tamu dan berada di rumah sebelah, maka keadaan Widati tentu akan menjadi lebih baik.
Karena itu, maka ketika Empu Nawamula mempersilahkan mereka juga pergi kerumah sebelah, maka mereka pun tidak membantahnya.
Meskipun demikian, Mahisa Agni dan Witantra masih tetap dalam sikapnya yang sederhana. Bahkan Empu Nawamula sendiri belum dapat menjajagi, betapa tinggi sebenarnya ilmu kedua orang itu. Meskipun ia sudah mendengar beberapa hal tentang Mahisa Agni dan Witantra, namun dalam pertempuran yang baru saja terjadi, kedua orang itu sama sekali tidak menunjukkan satu kelebihan.
Namun di dalam hati Empu Nawamula itu pun berkata, “Juga Mahendra telah membaurkan diri dengan para cantrik yang para prajurit kebanyakan, sehingga aku tidak segera mengenalinya”
Bahkan dalam pada itu, Singatama memang agak kurang memperhatikan kehadiran kedua orang tamu itu. Menurut anggapan Singatama, maka keduanya dihormati, karena usia mereka yang tua, sebagaimana Ki Buyut yang hadir bersama anaknya. Meskipun Singatama pun kemudian mengetahui, bahkan kedua orang tua itu adalah paman Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Bahwa pamannya telah dapat menerimanya untuk tinggal bersamanya di padepokan itu, maka Singatama merasa tugasnya yang pertama telah dapat diselesaikannya dengan sebaik-baiknya. Sedang tugasnya yang berikut adalah mencari kesempatan untuk mempersilahkan gurunya dengan diam-diam memasuki padepokan itu dan membunuh dengan tangannya sendiri Empu Nawamula. Agaknya Empu Pulung Geni yang mendendam itu tidak lagi memilih cara yang baik dan jantan untuk menghadapi Empu Nawamula.
Sementara itu, Empu Pulung Geni masih saja berkeliaran di sekitar padepokan itu. Ia harus dapat meyakinkan diri, bahwa Singatama telah dapat diterima kembali oleh pamannya, dan bukan sebaliknya, bahwa Singatama mendapat bencana.
Satu dua pengikutnya yang lepas dari tangan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan para cantrik telah diperintahkannya untuk kembali ke padepokan dan mempersiapkan sisa orang yang ada untuk kerja berikutnya yang akan diberitahukan kemudian.
Ternyata bahwa di hari pertama, Singatama belum berhasil memberikan penjelasan kepada gurunya, karena ia masih merasa sulit untuk keluar dari padepokan. Tetapi ia sudah memberikan satu isyarat sebagaimana telah disepakati. Singatama telah meletakkan tiga buah batu di sisi kanan regol, berjajar.
Ketika pada malam hari yang gelap. Empu Pulung Geni lewat di jalan yang menjelujur di depan regol padepokan itu dengan sangat hati-hati, maka ia melihat isyarat itu. Meskipun ia belum dapat bertemu dan berbicara dengan Singatama, namun ia sudah dapat mengetahui bahwa Singatama telah berhasil.
“Sampai kapan aku harus menunggu” geram Empu Pulung Geni. Tetapi iapun menyadari, bahwa Singatama harus berhati-hati. Anak muda itu harus mendapatkan kesempatan yang sebaik-baiknya untuk melakukan kewajiban yang berat. Bukan saja di dalam langkah-langkah kewadagan untuk mengatur Empu Pulung Geni dapat memasuki bilik Empu Nawamula di malam hari, kemudian membangunkannya tetapi tidak memberinya kesempatan untuk melawan, sehingga dengan demikian Empu Nawamula dapat dibunuh dengan menyadari sepenuhnya bahwa pembunuhnya adalah Empu Pulung Geni. Tetapi Singatama harus berjuang untuk menindas perasaan segannya terhadap orang yang bernama Empu Nawamula itu, karena orang itu adalah pamannya sendiri.
“Aku yakin, Singatama akan dapat melakukannya” berkata Empu Pulung Geni kepada diri sendiri, “pekerjaan ini sebenarnya bukan satu kewajiban yang langsung berkaitan dengan kewajibanku. Tetapi aku harus melakukannya. Harga diriku telah dihancurkan oleh Empu Nawamula dan cantrik-cantriknya”
Karena itulah, maka ia telah berhasil mengekang diri. Menunggu sampai saatnya Singatama memberikan jalan baginya untuk dengan diam-diam memasuki bilik Empu Nawamula.
Dalam pada itu, Widati benar-benar merasa tersiksa untuk tinggal di padepokan itu. Tetapi sebagaimana dikatakan oleh ayahnya, kembali ke rumahnya pun sangat berbahaya. Mungkin Singatama benar-benar belum mengetahui rumah itu. Tetapi jika dugaan itu salah dan Singatama datang kepadanya, maka itu berarti malapetaka.
Karena itu. maka untuk beberapa saat lamanya. Widati harus menekan perasaannya, karena ia masih harus tinggal di padepokan itu.
Sebenarnyalah, kehadiran Widati di padepokan itu telah menyiksa Singatama pula. Hampir saja ia tidak dapat menahan diri. Namun ketika ia menyadari, bahwa ia mendapat tugas dari gurunya dan sekaligus merasa bahwa dirinya terlalu kecil di hadapan Empu Nawamula. maka ia pun selalu berusaha untuk dapat mengendalikan dirinya.
Namun pada saat-saat tertentu. Singatama berusaha untuk berjalan lewat halaman depan rumah yang diperuntukkan bagi Widati, dengan harapan untuk dapat melihatnya barang sekilas.
Tetapi ternyata bahwa Widati tidak pernah dijumpai berada di serambi depan maupun serambi samping. Sehingga dengan demikian, maka Singatama selalu menjadi kecewa. Namun bagaimanapun juga. Singatama berusaha untuk menahan perasaan kecewanya.
Dalam pada itu, dengan dorongan keinginan yang kuat untuk memenuhi perintah gurunya. Singatama selalu berusaha untuk bersikap baik. Tidak pernah ia memperlakukan para cantrik dengan kasar. Bahkan ia telah
berada dalam satu lingkungan sikap dengan para cantrik. Singatama bekerja sebagaimana para cantrik bekerja. Dengan demikian, muka kepercayaan terhadap Singatamapun semakin lama menjadi semakin besar.
Empu Nawamula sendiri telah memberinya tugas yang semakin besar diantara para cantrik Apalagi Empu Nawamula masih tetap menganggap, bahwa Singatama memang berhak atas padepokan itu apabila saatnya
dianggap tepat.
Dalam keadaan yang demikian itu. Ki Buyut yang melihat anak gadisnya selalu diliputi oleh kemurungan dan kecemasan, pada satu malam telah berbincang dengan Mahisa Agni dan Witantra.
Apakahyang sebaiknya dilakukannya.
“Apakah aku harus membawanya pulang?“ bertanya Ki Buyut.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan ragu ia menjawab “Bagaimana pendapat Ki Buyut
tentang Singatama?”
“Aku jarang menemuinya. Tetapi menilik sikap Empu Nawamula. agaknya ada kemajuan berpikir pada anak itu. Agaknya ia benar-benar ingin memperbaiki hidupnya” jawab Ki Buyut.
“Aku juga menduga demikian” desis Witantra
“agaknya ia benar-benar telah menyesal”
“Bagaimana pendapat Ki Sanak, jika aku mengajak anakku pulang?“ bertanya Ki Buyut aku mempunyai beberapa pertimbangan.
Pertama. Singatama agaknya belum pernah melihat rumahku. Kedua, ia sudah menyadari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya sebelumnya”
“Dalam waktu dekat ini?” bertanya Mahisa Agni.
“Bagaimana menurut pendapat Ki Sanak?” bertanya Ki Buyut.
Mahisa Agni termangu-mangu. Namun kemudian katanya. Menurut penglihatanku, memang terdapat perubahan pada anak muda itu. Tetapi aku ingin menyarankan, agar Ki Buyut masih tetap berada di padepokan ini untuk beberapa hari. Jika kita sudah yakin
benar, maka kita akan dapat menentukan sikap dengan mantap dan dengan hati yang tenang”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Kecemasan memang masih ada terselip di hatinya. Persoalan Singatama bukan persoalan yang dapat di tentukan oleh sikapnya satu
dua hari saja. Meskipun nampaknya anak muda itu sudah menjadi jinak, tetapi pengaruh perasaan seorang anak muda terhadap seorang gadis kadang-kadang membuat seseorang tidak dapat dimengerti. Bahkan kadang-kadang seseorang telah melakukan sesuatu yang menurut pertimbangan nalar
tidak akan pernah dilakukan.
Karena itu maka katanya “Baiklah Ki Sanak. Aku akan tinggal di padepokan ini beberapa hari lagi. Meskipun aku sadar, bahwa orang-orang di Kabuyutanku tentu sedang menunggu aku, tetapi kecemasan itu agaknya telah
mencegahku untuk tergesa-gesa kembali ke Kabuyutanku, betapapun Kabuyutanku menunggu kedatanganku”
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar