*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-002-01*
“He, apakah aku sedang berbicara dengan hantu?” berkata pengawal itu kepada dirinya sendiri.
Sejenak pengawal itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian meninggalkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Didekatinya seorang anak muda yang memandanginya tanpa berkedip. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “He, apakah kau melihat dua orang anak muda yang tadi duduk di sebelahku?”
Anak muda yang ditanya itu menjadi heran. Namun ia menjawab.
“Ya, Bukankah mereka masih duduk itu”
Pengawal itu memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Keduanya memang masih berada ditempatnya.
“Kami sedang mengawasinya” berkata anak muda itu, “keduanya adalah anak-anak muda yang mencurigakan”,
“Kenapa?” bertanya pengawal itu.
“Keduanya mengaku telah berada di banjar pada saat para perampok datang untuk mencuri pusaka-pusaka itu. Bahkan keduanya mengaku sebagai perujudan benda-benda berharga yang dipergunakan untuk upacara itu” jawab anak muda itu.
“He” pengawal itu termangu-mangu, “keduanya mengaku demikian? Dan apakah benar mereka itu kedua anak muda yang telah hadir saat itu?”
“Itulah yang harus mereka buktikan. Mereka ternyata telah menodai kesaktian benda-benda upacara yang dapat memberikan ujud seperti ujud kita” jawab anak muda itu. Pengawal itu mengangguk-angguk. Tetapi menurut penglihatan matanya, keduanya memang anak-anak muda yang telah menolong para pengawal. Membangunkan para pengawal dari pengaruh sirep yang luar biasa.
“Tetapi mana mungkin?” pengawal itu bertanya ke pada diri sendiri, “jika keduanya benar-benar ujud manusia wantah seperti aku dan orang-orang ini. apakah mereka memiliki kemampuan yang luar biasa itu”
Dalam keragu-raguan itu. tiba-tiba halaman itu menjadi riuh. Beberapa orang telah menyibak. Seorang Senopati yang naik ketangga pendapa berkata,, “Akuwu berkenan hadir di pendapa banjar ini”
Semua orang pun telah menepi. Mereka menyaksikan Akuwu naik ke pendapa diiringi oleh Senopati yang seorang lagi dengan para pengawal. Kemudian Ki Buyut yang baru saja diwisuda itu pun ikut naik pula ke pendapa dengan langkah tertegun-tegun.
Ketika Akuwu sudah duduk, maka ia pun kemudian bertanya kepada Senopati, “Bawa anak itu kemari”
Senopati itupun kemudian memerintahkan para pengawal yang mengawasi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, agar membawa kedua orang anak muda itu menghadap Akuwu di pendapa.
Sambil berjalan dengan berjongkok keduanya naik ke pendopo bergeser setapak demi setapak mendekati Akuwu yang duduk menunggu.
Beberapa orang menjadi tegang. Para pengawal yang lain, yang pada hari pertama telah bertempur bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang dapat mengenalinya. Keduanya adalah anak-anak muda yang telah mereka sebut sebagai penjelmaan dari benda-benda upacara yang keramat itu.
Namun anak-anak muda itu kemudian menghadap Akuwu dalam ujud wadag sepenuhnya. Tidak lagi mempunyai pengaruh yang mendebarkan sebagaimana mereka lihat pada waktu itu
“Tetapi pada waktu itu, aku pun menganggap mereka sebagai orang-orang biasa” berkata salah seorang pengawal di dalam hatinya, “baru kemudian ketika mereka lenyap, tumbuh berbagai macam tanggapan di antara kami”
Para pengawal itu mulai mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Tetapi mereka memang tidak mengetahui dari mana anak-anak muda itu datang. Apalagi pada keadaan yang sama di hari berikutnya. Tidak seorang pun yang mengetahui, selain ceritera dari para tawanan. Namun mereka telah meninggalkan bekas yang membuat dugaan para pengawal itu semakin kuat. Pada hari yang kedua dari serangan para perampok itu, para pengawal melihat tutup peti yang agak bergeser.
Dalam pada itu, dalam ketegangan yang mencengkam, terdengar Akuwu bertanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Siapakah nama kalian?”
“Hamba bernama Pinta tuanku dan saudara hamba ini bernama Soma” jawab Mahisa Murti.
“Pinta dan Soma” desis Akuwu, “tetapi apakah kau mengetahui sebabnya, kenapa kau telah dibawa ke banjar ini?”
Pinta dan Soma memandang Ki Buyut sejenak, seolah-olah hendak bertanya, apakah Ki Buyut sudah mengatakan kepada Akwu, kenapa mereka berdua berada di Banjar. Namun agaknya Ki Buyut justru menundukkan kepalanya.
“Aku bertanya kepadamu berdua” berkata Akuwu kemudian, “tidak kepada Ki Buyut. Seandainya Ki Buyut sudah mengatakan kepadaku, aku akan tetap bertanya kepada kalian, apakah kalian mengetahui alasannya, kenapa kalian dibawa kemari”
Mahisa Murti membungkuk hormat. Dengan menunduk ia pun kemudian berkata, “Tuanku, sebenarnyalah hamba berdua memang memohon untuk dibawa ke Banjar atau langsung menghadap Akuwu”
Akuwu mengangguk-angguk. Sementara Ki Buyut mengangkat sedikit wajahnya. Namun Ki Buyut itu pun kemudian telah menunduk lagi.
“Jadi kalian sedirilah yang minta agar kalian dibawa ke Banjar ini?” bertanya Akuwu kemudian.
“Hamba tuanku” jawab Mahisa Murti.
“Apakah kepentinganmu, sehingga kau berdua mohon agar kau berdua dibawa ke Banjar ini?”
Mahisa Murti bergeser setapak. Kemudian katanya, “Tuanku, memang ada yang ingin hamba sampaikan kepada tuanku. Mungkin persoalannya pernah dikatakan oleh Ki Buyut kepada taunku”,
“Sudah aku katakan. Aku ingin mendengar darimu. Bukan dari Ki Buyut” potong Akuwu.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah tuanku. Perkenankanlah hamba menyampaikan niat hamba, sehingga hamba menyatakan keinginan hamba untuk menghadap tuanku” Mahisa Murti sejenak, lalu, “sebenarnyalah hamba telah mendengar satu dongeng yang mendebarkan hamba. Menurut ceritera yang hamba dengar, bahwa pusaka-pusaka yang dipergunakan sebagai pelengkap upacara itu dapat menjelma, berujud sebagai dua orang anak muda. Dongeng itu pun mengatakan bahwa dua orang anak muda itu telah terlibat dalam pertempuran melawan para perampok. Tuanku, menurut dongeng itu, maka hamba mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan dua orang anak muda jelmaan dari benda-benda upacara yang keramat itu, adalah hamba berdua. Karena itu, maka hamba memerlukan datang menghadap untuk memberikan kesan yang sebenarnya dari persoalan kedua pusaka itu”
“Jadi bagaimana menurut pendapatmu? Apakah ceritera itu tidak benar?” bertanya Akuwu.
“Hamba tuanku. Ceritera itu memang tidak benar. Seperti yang sudah hamba katakan, yang dimaksud dalam ceritera itu adalah tidak memperdulikannya. Tetapi akhirnya hamba menganggap bahwa ceritera itu akan dapat menyesatkan Akuwu jika Akuwu mempercayainya. Namun sebenarnyalah kami menganggap bahwa Akuwu yang sudah mengenal benda-benda upacara itu sejak lama, tidak akan mempercayai dongeng itu”
Akuwu mengangguk-angguk. Namun kemudian bertanya, “Tetapi ingat anak muda, bahwa kedua ujud itu memiliki kemampuan yang mengagumkan. Kedua anak muda itu pada malam berikutnya mampu melawan sekelompok penjahat yang jumlahnya berlipat ganda dari jumlah kedua orang anak muda itu”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Memang terasa agak segan untuk mengatakan, bahwa ia pun memiliki kemampuan seperti yang disebut-sebut pada dua orang anak muda dalam dongeng yang menarik itu.
Tetapi Mahisa Pukat lah yang kemudian berkata, “Ampun tuanku. Sebenarnyalah sulit bagi hamba berdua untuk mengatakan yang demikian. Mungkin akan dapat menumbuhkan kesan, alangkah sombongnya kami berdua. Tetapi untuk melengkapi keterangan saudara hamba, maka biarlah hamba mengatakan bahwa kemampuan yang demikian itu memang ada pada hamba berdua, karena sebenarnyalah kedua anak muda yang disebut-sebut itu memang hamba berdua adanya”
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja seorang pengawal mengangguk hormat sambil berkata, “Ampun tuanku, apakah hamba diperkenankan menyampaikan pendapat hamba”
Akuwu memandang pengawal itu sekilas. Kemudian sambil mengangguk Akuwu berkata Apakah yang akan kau katakan?”
“Tuanku” berkata pengawal itu, “sebenarnyalah menurut penglihatan hamba, kedua anak muda itu memang dua orang anak kedua orang anak muda yang hadir di Banjar dan bertempur bersama hamba dan kawan-kawan hamba. Atas pertolongan keduanyalah maka hamba dapat mempertahankan benda-benda upacara yang keramat itu. Namun menilik keadaannya sekarang, hamba sangsi, apakah benar kedua orang anak muda itu benar-benar kedua orang anak muda yang menolong hamba itu seutuhnya”
“Apakah yang kau maksudkan?” bertanya Akuwu., “Maksud hamba, mungkin yang menghadap Akuwu sekarang hanyalah wadagnya saja. Wadag yang dipergunakan oleh kekuatan yang tersimpan di dalam benda-benda keramat itu. Menurut dugaan hamba, kekuatan yang tersimpan itu memang tidak akan dapat menjelma dalam ujud tubuh wantah seperti kita. Tetapi kekuatan itu agaknya telah meminjam tubuh anak-anak muda itu. Namun demikian, pada saat peristiwa itu terjadi, anak muda tersebut tidak kehilangan seluruh kepribadiannya. Sehingga karena itu, maka ia masih sempat mengingat apa yang telah terjadi di Banjar itu. Bahkan mereka telah menganggap bahwa mereka berdualah kekuatan yang sebenarnya untuk mengatasi kesulitan itu. Keduanya merasa seolah-olah merekalah yang telah memenangkan pertempuran melawan para penjabat itu” berkata pengawal itu lebih lanjutnya.
Akuwu mendengarkan pendapat pengawal itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Namun kemudian katanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Apakah kau sependapat dengan kata-kata pengawal itu? Bahwa sebenarnya bukan kau dalam keadaan yang utuhlah yang lelah melakukannya pada malam itu?”
“Ceritera ini sama berbahayanya dengan ceritera yang pertama seolah-olah benda-benda upacara yang keramat itu dapat menjadikan diri mereka berujud sebagaimana diri kita” jawab Mahisa Murti.
“Jadi kau berkeras mengatakan, bahwa kedua orang anak muda itu benar-benar kalian berdua?” bertanya Akuwu.
“Hamba Akuwu” jawab Mahisa Pukat, “hanya karena hamba ingin mendudukkan persoalannya pada keadaan yang sebenarnya”
Akuwu mengangguk-angguk. Tetapi seorang di antara para Senopatinya berkata, “Anak-anak muda. Jika kau berkeras menganggap diri kalian seutuhnya yang telah bertindak malam itu, maka kau akan mengalami sedikit kesulitan, karena kau harus membuktikan bahwa kau memang mampu berbuat demikian”
“Kami telah melakukannya” jawab Mahisa Pukat, “di halaman rumah Ki Buyut, kami telah mengalami pendadaran. Kami harus berkelahi melawan seorang yang bertubuh raksasa, sehingga dengan kemenangan kami. Maka kami mendapat kesempatan untuk menghadap Akuwu sekarang ini”
Senopati itu tersenyum. Ternyata Akuwu pun tersenyum pula.
Dengan suara datar Akuwu bertanya, “Jadi kau berdua telah berkelahi melawan anak padukuhan ini yang bertubuh raksasa?”
“Hamba tuanku jawab Mahisa Murti” maksud hamba, hamba sendiri, bukan berdua. Ki Buyut menjadi saksi”
Akuwu berpaling ke arah Senopatinya yang masih saja tersenyum. Katanya, “Agaknya pendapat pengawal itu perlu mendapat perhatian. Meskipun demikian segalanya masih perlu dibuktikan”
Senopati itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya nepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Anak muda, apakah kau dapat membayangkan, kekuatan apakah yang nampak pada kalian berdua pada waktu itu. Jika kau benar- benar anak muda itu, maka kau akan mengingatnya, apakah yang menjadi lawanmu. Berapa orang dan apakah kau dapat membayangkan kekuatan mereka masing-masing. Apakah dengan memperbandingkan kekuatan itu atas anak muda padukuhan ini meskipun bertubuh raksasa itu sudah kau anggap cukup?”
“Demikianlah yang dikatakan oleh anak muda itu” jawab Mahisa Murti.
“Anak muda” berkata Senopati itu lebih lanjut, “pada malam kedua, dua orang anak muda itu harus bertempur melawan sekitar dua puluh orang penjahat. Di antara mereka memiliki ilmu sirep yang dahsyat, yang dapat membuat para pengawal yang terlatih baik itu tertidur nyenyak. Nah. bayangkan, apakah kau mampu berbuat seperti itu? Atau kau justru tidak dapat menilai betapa besarnya kekuatan mereka itu”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun Mahisa Pukat lah yang menjawab, “Baiklah hamba berterus terang tuanku, meskipun hamba tidak berniat ingin menyombongkan diri. Sebenarnyalah hamba berdua pada waktu itu harus berjuang mengatasi ilmu sirep itu. Kemudian bertempur melawan sejumlah penjahat yang berniat mengambil benda-benda pusaka yang keramat itu. Hamba tidak tahu, bagaimana hamba harus membuktikannya. Namun beberapa saksi telah menyatakan, bahwa sebenarnyalah hamba berdua hadir pada saat-saat yang gawat itu”
Senopati itu masih saja tersenyum. Kemudian katanya kepada Akuwu, “Tidak ada cara lain untuk membuktikannya, tuanku”
Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Anak muda. Aku nasehatkan agar kau tarik pengakuanmu itu sebelum aku memutuskan bahwa kau harus mengalami satu pendadaran untuk membuktikan kebenaran kata katamu”
Mahisa Murti berkisar sejengkal. Namun Mahisa Pukat langsung saja menjawab, “Apakah hal itu yang dimaksudkan oleh Senopati? Jika memang demikian, maka apa boleh buat. Hamba berdua akan melakukannya. Kecuali ada jalan lain yang dapat hamba tempuh”
Senopati itu mengerutkan keningnya Namun Akuwu berkata, “Agaknya kalian memang kehilangan kepribadianmu. Tetapi baiklah, aku akan menyaksikan pendadaran itu.
Mahisa Murti berpaling kearah Mahisa Pukat sekilas. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Satu-satunya cara untuk membuktikan kebenaran kata-katanya adalah pendadaran itu. Karena itu. maka katanya, “Tuanku. Jika hamba berdua menerima cara ini, semata-mata karena hamba berdua ingin berbakti kepada Akuwu. Hamba tidak ingin pendapat Akuwu menjadi sesat atas benda benda berharga milik Akuwu sendiri”
“Terima kasih” jawab Akuwu, “jika benar seperti apa yang kau katakan itu, aku akan mengucapkan berulang kali terima kasih. Karena sebenarnyalah sejak aku memiliki benda itu pertama kali. sebagai warisan dari ayahanda Akuwu, aku memang belum pernah mengalami peristiwa seperti dongeng itu. Tetapi nampak dongeng itu demikian menariknya, sehingga aku menjadi ragu-ragu karenanya. Dengan demikian usahamu untuk menegaskannya, aku hargai sebaik-baiknya”
Wajah Mahisa Murti menegang sejenak, ia tidak melihat sikap yang keras pada Akuwu. Tetapi lebih condong pada sikap belas kasihan. Sehingga karena itu, maka Mahisa Murti pun mengetahui, bahwa Akuwu bukan seorang yang kasar. Tetapi ia lebih banyak berusaha untuk mengerti perasaan rakyatnya.
Sejenak kemudian, maka Senopati itu pun telah memerintahkan kepada para pengawal untuk membuat arena di halaman. Arena yang akan menjadi tempat pendadaran, apakah yang dikatakan oleh kedua anak muda itu benar.
Sejenak kemudian, maka Akuwu pun berkata, “Arena itu sudah siap. Marilah, kita akan membuktikan. Tetapi sekali lagi aku peringatkan, dua puluh orang penjahat adalah kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan”
“Tetapi karena tidak ada cara lain untuk membuktikan kebenaran kata-kata hamba, maka apa boleh buat. Hamba akan melakukannya” jawab Mahisa Murti.
Sejenak kemudian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun lelah turun ke halaman Sementara itu, Akuwu dan para Senopatinya pun telah turun pula diikuti oleh Ki Buyut.
Sejenak kemudian Akuwu pun berkata, “Aku akan mulai dengan para pengawal. Dua orang pengawal akan berkelahi melawan dua orang anak muda itu Tetapi aku masih memberi peringatan kepada para pengawal, agar mereka dapat menjaga diri. Kedua orang anak muda itu bukan orang-orang hukuman. Mereka berniat baik, tetapi mereka telah salah langkah. Karena itu, perlakuan kalian terhadap anak muda ini harus berbeda dengan perlakuan kalian terhadap para penjahat yang sebenarnya”
Demikianlah, dua orang pengawal telah turun ke arena. dua orang pengawal yang telah salah ikut bersama kedua anak muda itu bertempur. Dengan demikian mereka akan dapat mengenali tingkah laku dan tabiat keduanya dalam pertempuran.
“Kalian tidak akan membawa senjata” berkata Akuwu, “dan kalian akan berhenti jika kalian telah meyakini keadaan lawan dan diri sendiri”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandang Akuwu sejenak. Sementara Akuwu menjelaskan, “Jika kalian telah merasa kalah, maka kalian harus menyatakan diri dengan jujur”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk hormat. Ternyata Akuwu dan Ki Buyut itu mempunyai sifat yang mirip. Keduanya bukan orang yang senang melihat kekerasan, meskipun nampaknya Akuwu itu bukannya orang yang tak berilmu.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berhadapan dengan dua orang pengawal. Masing-masing akan berkelahi seorang melawan seorang.
“Tuanku” bertanya Mahisa Pukat, “apakah hamba benar-benar harus menunjukkan kemampuan sebagaimana dilihat pada malam-malam yang dikuasai ooleh sirep itu?”
Akuwu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Pukat sejenak. Namun kemudian Akuwu itu mengangguk sambil tersenyum.
“Lakukanlah anak muda” jawabnya, “keyakinanmu akan dirimu memberikan keyakinan pula kepadaku, bahwa kalian berkata dengan jujur. Seandainya yang kami lihat kemudian berbeda dengan yang kalian katakan, kalian sama sekali tidak bermaksud berhobong. Tetapi kalian benar- benar tidak mengerti apa yang kalian lakukan”
Mahisa Murti mengangguk dalam-dalam. Sementara Mahisa Pukat baru melakukannya kemudian.
“Hamba mengucapkan terima kasih atas tanggapan Akuwu terhadap, sikap hamba berdua. Hamba berdua mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ternyata hamba salah menilai diri hamba berdua”
Demikianlah, maka kedua orang pengawal itupun telah bersiap.
Mahisa Pukat yang berdiri di sebelah Mahisa Murti bertanya, “Apa yang akan kita lakukan kakang? Apakah kita akan segera mengakhiri perkelahian?”
“Apakah hal itu tidak akan menyinggung perasaan mereka?” bertanya Mahisa Murti.
“Tetapi jika di pendadaran ini kita tidak meyakinkan Akuwu. maka pendadaran ini tentu akan diulang” jawab Mahisa Pukat.
“Baiklah” jawab Mahisa Murti, “kita akan membuktikannya sekaligus. Dengan demikian pekerjaan kita cepat selesai”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera bersiap siap. Mereka akan menghadapi dua orang pengawal yang terpilih. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah dapat mengetahui kemampuan kedua orang pengawal itu pada saat mereka bersama bertempur melawan para penjahat di banjar itu pula.
Beberapa saat lamanya, mereka yang berada di arena itu saling berputaran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata telah berpencar. Mereka tidak menghadapi kedua lawannya dengan berkelahi berpasangan. Tetapi mereka akan menghadapi lawan mereka seorang dengan seorang.
Dalam pada itu, anak-anak muda dan orang-orang yang berkerumun itu pun menjadi berdebar-debar. Mereka akan melihat perkelahian yang seru. Orang-orang itu menganggap bahwa para pengawal itu tentu orang terpilih. Orang yang lain dari orang kebanyakan di dalam olah kanugaran. Sementara itu, mereka pun menganggap bahwa dua orang anak muda itu tentu dua orang yang memiliki kemampuan yang melampaui kebanyakan vang. Apalagi mereka yang telah melihat, bahwa orang bertubuh raksasa di padukuhan mereka sama sekali tidak berdaya melawan salah seorang dari kedua orang itu.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, masing-masing telah menghadapi seorang lawan. Mereka justru telah tertekad untuk sekaligus meyakinkan Akuwu, bahwa mereka memiliki kemampuan yang tinggi.
Sejenak mereka masih berputaran. Namun sejenak kemudian, seorang dari kedua pengawal itu telah meloncat menyerang Mahisa Murti. Namun keadaan Mahisa Pukat justru berbeda. Karena pengawal yang akan dihadapinya tidak segera menyerang, maka Mahisa Pukatlah yang kemudian menyerang.
Namun ternyata akibatnya hampir sama. Kedua anak muda itu benar-benar telah mempergunakan kesempatan itu untuk memerlukan kemampuan mereka, sekedar untuk menghindari keadaan yang akan menjadi semakin berlarut- larut.
Demikianlah, maka ketika lawan Mahisa Murti menyerangnya, maka Mahisa Murti pun bergeser selangkah surut Namun tiba-tiba saja ia telah meloncat maju. Bukan menghantam lawannya dengan tangan atau kakinya. Namun dengan cepat, ia berhasil menangkap pergelangan tangan lawannya. Hampir tidak dapat diikuti dengan tatapan mata telanjang, maka tiba-tiba saja tangan lawannya telah terpilin. Tidak ada kesempatan untuk berbuat sesuatu. Demikian cepatnya.
Sementara itu, Mahisa Pukat yang menyerang lawannya, ternyata dapat dihindari pada langkah pertama. Tetapi serangan yang pertama, telah disusul oleh serangan yang kedua. Demikian cepat.
Sehingga pengawal itu tidak sempat mengelak Serangan Mahisa Pukat telah mengenai lambung lawannya. Dalam keadaan terhuyung-huyung, maka Mahisa Pukat sempat mendorongnya sehingga jatuh.
Pada saat pengawal itu siap untuk melenting berdiri, Mahisa Pukat telah berjongkok disampingnya. Tangannya terangkat dan siap menghantam dada orang itu dengan sisi telapak tangan yang terangkat itu.
“Jangan bergerak” berkata Mahisa Pukat, “persoalan kita akan cepat selesai”
Pengawal itu menggeram. Namun yang tidak diduganya, ternyata Akuwu justru tertawa. Katanya, “Jangan melawan lagi. Kekalahanmu sangat meyakinkan. Demikian pula kawanmu yang terpilin tangannya. Jika anak muda itu mau, maka tangan itu akan dapat patah. Tetapi ia menepati janji. Yang terjadi bukan perkelahian yang sebenarnya”
Para pengawal itu justru bagaikan membeku. Namun Mahisa Murti kemudian telah melepaskan tangan yang dipilinnya itu perlahan-lahan. Sementara itu, Mahisa Pukatpun telah bergeser pula dan kemudian bangkit berdiri beberapa langkah dari pengawal yang dikalahkannya itu.
Orang-orang yang menyaksikan kekalahan kedua pengawal itu hampir tidak percaya kepada penglihatannya. Seolah-olah mereka belum dapat melihat apa yang terjadi. Mereka menduga akan terjadi perkelahian yang sengit. Namun belum lagi mata mereka berkedip, segalanya telah selesai, Kedua pengawal itu telah dinyatakan kalah. Justru oleh Akuwu sendiri.
Dalam pada itu, orang-orang itu pun menunggu dengan tegang. Apakah yang akan terjadi kemudian.
Sementara itu Akuwupun kemudian melangkah maju sambil berkata, “Kailan memang luar biasa anak muda. Aku hampir percaya bahwa yang telah kalian katakan itu benar. Kalian adalah anak-anak muda yang telah kalian katakan itu benar. Kalian adalah anak-anak muda yang hadir malam pertama dan di malam kedua telah mengalahkan seluruh kekuatan perampok itu. Yang kalian lakukan itu bukan satu kebetulan. Yang kalian lakukan itu memang mengagumkan, Kedua orang pengawal itu benar-benar dapat kalian kalahkan pada langkah langkah pertama”
“Ampun tuanku” berkata Mahisa Murti, “apa yang hamba berdua lakukan, semata-mata melaksanakan perintah tuanku”
“Ya, ya. Aku tahu. Kalian memang tidak bersalah” berkata Akuwu.
Sementara itu kedua pengawal yang tidak berdaya itupun telah bangkit. Wajah mereka menjadi pucat. Ketika Akuwu mendekati mereka, maka kepala mereka pun telah menunduk dalam-dalam.
“Kalian pun tidak bersalah” berkata Akuwu, “kalian tidak usah merasa berkecil hati mengalami kekalahan ini. Itu sudah wajar sekali. Kalian memang harus kalah dalam waktu yang singkat. Bukan karena kalian tidak melaksanakan tugas kalian dengan baik, atau bukan berarti bahwa kalian adalah pengawal-pengawal yang lemah. Tetapi lawan kalian lah yang memang terlalu kuat. Karena itu jangan sakit hati. Kalianpun tidak usah malu kepada orang-orang padukuhan ini. Sebenarnyalah aku memberitahukan kepada kalian, bahwa kedua orang anak muda itu mempunyai ilmu yang penunjul”
Kedua pengawal itu masih menunduk dalam-dalam Sementara itu orang-orang yang berada di halaman banjar itupun menjadi berdebar-debar. Namun mereka mengerti apa yang dimaksudkan oleh Akuwu.
Karena itu, maka merekapun mulai berpikir tentang kebenaran pengakuan kedua orang anak muda itu, bahwa keduanyalah yang oleh banyak orang disangka ujud dari pusaka-pusaka yang berada di Banjar itu.
Dalam pada itu, orang-orang di Banjar itu pun menunggu, apa yang akan dilakukan oleh Akuwu kemudian. Meskipun nampaknya Akuwu tidak marah, tetapi kadang kadang yang terjadi adalah di luar dugaan mereka, saat orang-orang dan para pengawal yang sedang berada di Banjar itu menunggu. Apa yang akan dikatakan oleh Akuwu tentang kedua orang anak-anak muda itu.
Namun seperti yang mereka duga, bahwa sesuatunya memang dapat terjadi. Karena itu, dengan berdebar-debar mereka menunggu Akuwu itu berkata sesuatu tentang persoalan yang sedang mereka hadapi.
“Anak-anak muda” berkata Akuwu itu, “kalian memang telah menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Kalian dalam waktu yang sangat singkat telah mengalahkan para pengawal. Tetapi anak-anak muda. Bukan, maksudku untuk memaksa kalian tunduk kepada keputusanku. Tetapi aku hanya ingin lebih meyakinkan, apakah aku telah mengambil satu keputusan yang benar”
Kedua orang anak muda itu termangu-mangu sejenak, sementara Akuwu itu berkata, “Untuk itu, maka aku ingin memperingatkan, bahwa kalian telah mengalahkan para perampok itu dalam jumlah yang cukup banyak. Karena itu, maka aku ingin melihat kekuatan kalian yang sebenarnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar- debar. Apalagi yang harus mereka lakukan? Apakah mereka harus bertempur melawan jumlah orang sebagaimana mereka kalahkan pada malam kedua dari perampokan yang telah terjadi di Banjar itu.
“Anak-anak muda” berkata Akuwu “aku sendiri bukannya orang yang memiliki ilmu kanuragan. Aku bukan orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi meskipun demikian, aku ingin menjajagi langsung kemampuan kalian berdua”
Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang. Keduanya tentu akan mengalami kesulitan. Jika mereka benar-benar harus bertempur melawan Akuwu, maka keduanya tidak akan dapat mengambil satu sikap yang pasti. Apakah mereka harus mengalahkan Akuwu atau tidak.
Dalam ketegangan itu Akuwu pun berkata, “Anak-anak muda. Aku tidak bermaksud untuk menguji kemampuan kalian sampai tuntas. Aku tidak akan mampu melakukannya. Tetapi dalam satu dua langkah, aku akan dapat mengambil satu kesimpulan. Apakah yang kalian katakan itu benar-benar dapat aku percaya”
“Tetapi” Mahisa Murti tergegap, “apakah artinya kami berdua bagi Akuwu. Kami sama sekali tidak akan berani melakukannya”
“Kalian harus melakukannya” jawab Akuwu, “jika tidak, maka untuk seterusnya aku akan tetap ragu-ragu akan keputusanku yang akan aku jatuhkan saat ini tentang kalian berdua”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun saling berpandangan. Namun mereka memang tidak akan dapat ingkar. Karena itu. maka Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Jika tuanku memang menghendakinya, apa boleh buat. Tetapi hamba berdua hanya sekedar ingin melakukan perintah”
Akuwu tersenyum. Katanya, “Unggah-ungguhmu utuh anak muda. Marilah, biarlah para pengawal dan orang- orang Kabuyutan ini melihat, bahwa kalian memang anak- anak muda seperti yang kalian katakan. Yang telah menyelamatkan Kabuyutan ini dan benda-benda keramat yang dibawa ke Kabuyutan ini untuk melengkapi upacara wisuda Ki Buyut yang baru itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat mengelak lagi. Namun dalam pada itu. ketika Akuwu sedang mempersiapkan diri, Mahisa Murti sempat berbisik, “Kita harus berhati-hati. Jangan menyakitinya dan jangan menunjukkan kemenangan”
“Apa yang kita lakukan?” bertanya Mahisa Pukat., “Melayaninya saja. Sampai Akuwu Menjadi jemu” jawab Mahisa Murti.
“Jangan terlalu sombong. Jika Akuwu memiliki ilmu yang sangat tinggi?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kita akan terkapar di sini” jawab Mahisa Murti. Mahisa Pukat mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tersenyum.
Sejenak kemudian Akuwu ternyata sudah siap. Ia pun kemudian memasuki arena. Beberapa orang pengawal berdiri di sekeliiing arena dengan tegangnya. Bagaimanapun juga mereka merasa wajib untuk mengamati keadaan.
“Marilah anak-anak muda” berkata Akuwu, “jangan segan. Lakukanlah apa yang dapat kalian lakukan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja termangu- mangu. Sementara itu Akuwu pun melihat keraguan anak- anak muda itu, sehingga ia pun berkata, “Marilah. Aku mengajak kalian berdua. Tidak seorang demi seorang”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan ragu melangkah memasuki arena pula sebagaimana dilakukan oleh Akuwu. Mereka berdiri pada jarak tiga langkah.
“Jangan ragu-ragu” berkata Akuwu, “sudah aku katakan. Jangan ragu-ragu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi bagaimanapun juga, mereka tidak dapat merasa bebas menghadapi Akuwu.
Namun sejenak kemudian Akuwu itu pun telah bergeser. Cepat sekali. Langkahnya tiba-tiba bagaikan melontarkannya di antara kedua anak muda itu. Dengan cepat pula ia berputar. Kakinya terayun deras menyambar Mahisa Murti.
Tetapi dengan gerak nalurilah dilambari dengan kemampuan ilmunya, Mahisa Murti sempat juga melenting selangkah surut, sehingga serangan Akuwu yang tiba-tiba itu tidak menyentuhnya. Namun dalam pada itu, ternyata sambil menarik kakinya, Akuwu pun sempat meloncat. Tangannya terjulur lurus menghantam dada Mahisa Pukat.
Sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat pun bergeser ke samping. Tangan Akuwu menyambar sejengkal di depan dada Mahisa Pukat. Hampir saja Mahisa Pukat memukul tangan itu dengan sisi telapak tangannya. Tetapi rasa-rasanya ada yang telah mencegahkan, sehingga Mahisa Pukat itu pun tidak berbuat apa-apa.
Karena serangan Akuwu itu tidak menyentuh kedua orang anak muda itu, maka Akuwu pun bergeser seru. Namun Mahisa Pukat lah yang berdiri di paling dekat. Karena itu, maka sekali lagi Akuwu telah melenting dengan tiba-tiba. Cepat sekali. Seolah-olah tidak dapat dilihat dengan tatapan mata sewajarnya. Sekali lagi tangan Akuwu terayun. Mendatar mengarah kening. Mahisa Pukat ternyata memiliki ketangkasan yang mengagumkan. Dengan cepat, ia merendahkan dirinya, sehingga serangan Akuwu itu tidak mengenainya. Tetapi sekali lagi serangan Akuwu memburunya. Pada saat Mahisa Pukat merendah, Akuwu telah menarik tangannya dan menyerang dengan kakinya.
Mahisa Pukat terkejut. Tetapi ia masih sempat berpikir. Ia tidak ingin membenturkan kekuatannya. Karena itu, maka yang dilakukannya kemudian adalah menjatuhkan dirinya dan berguling menjauh. Dengan cepat iapun kemudian melenting berdiri, dan bersiap menghadapi serangan-serangan berikutnya.
Mahisa Murti berdiri saja termangu-mangu. Sebenarnya ia dapat membantu Mahisa Pukat dengan menyerang Akuwu. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu, sehingga karena itu, ia justru bagaikan penonton yang paling tegang.
Mahisa Pukat yang sudah berhasil lolos dari serangan- serangan beruntun itu pun tidak dapat membalas menyerang Akuwu karena keseganannya. Karena itu, maka yang dilakukannya hanyalah sekedar menghindarnya saja.
Ternyata Akuwu tidak memburunya. Ia berpaling kepada Mahisa Murti yang berdiri semakin jauh. Sejenak ia memandang anak muda itu dengan tajamnya. Namun kemudian katanya, “Kalian tidak berusaha untuk menyerangku. Lakukanlah. Aku ingin melihat kalian dalam kemampuan ilmu yang sebenarnya”
Kedua anak muda itu masih tetap ragu-ragu. Namun Akuwu berkata seterusnya, “Jika kalian tetap ragu-ragu. Maka, aku akan memaksa kalian untuk melakukannya”
Sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjawab, maka Akuwu telah berkisar. Ia pun kemudian meninggalkan Mahisa Pukat dan mendekati Mahisa Murti.
Mahisa Murti pun kemudian mempersiapkan diri. Ia sadar arti dari kata-kata Akuwu itu. Sementara Mahisa Pukat yang menjadi tegang itu pun bergeser pula mengikuti Akuwu.
Dalam pada itu para pengawal yang berada di sekitar arena itu pun menjadi tegang pula. Mereka melihat Akuwu kemudian mempersiapkan dirinya menghadap ke arah Mahisa Murti. Seolah-olah ia tidak lagi menghiraukan Mahisa Pukat yang berdiri di belakangnya.
Mahisa Murti memang sudah bersiap. Ia pun mulai mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan untuk menyerang. Jika ia selalu tedesak oleh serangan-serangan Akuwu yang datang beruntun, maka pertahanan yang paling baik adalah menyerang dalam setiap kesempatan.
Mahisa Murti tidak mendapat kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan. Sejenak kemudian Akuwu telah menyerangnya.
Cepat dan keras, sehingga Mahisa Murti harus mengerahkan kemampuannya untuk mengimbangi kecepatan gerak Akuwu.
Sebenarnyalah Akuwu telah menyerangnya beruntun tanpa ragu-ragu. Seolah-olah Akuwu benar-benar telah bertempur untuk menentukan menang atau kalah. Untuk beberapa saat Mahisa Murti memang terdesak surut.
Bahkan hampir saja Mahisa Murti meloncat keluar arena. Namun akhirnya. Mahisa Murti telah mengambil satu sikap, ia tidak ingin menghindar agar tidak menimbulkan kesan lain pada Akuwu tentang pengakuannya.
Karena itulah, maka akhirnya Mahisa Murti telah memberanikan diri. untuk membalas serangan Akuwu dengan sebuah serangan rendah pada kakinya.
Akuwu terkejut mendapat serangan balasan. Tetapi ia masih sempat meloncat menghindari sambaran kaki Mahisa Murti pada betisnya. Namun demikian ia berjejak di atas tanah, maka Mahisa Murti sekali lagi menyerang Akuwu pada lututnya dari arah samping.
Sekali lagi Akuwu terpaksa menghindar Namun loncatannya yang panjang telah melemparkannya beberapa langkah mendekati Mahisa Pukat.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat masih tetap termangu- mangu. Tetapi ia sudah melihat Mahisa Murti telah mulai menyerang Akuwu meskipun dengan serangan-serangan rendah.
Sementara itu, maka agaknya Akuwu telah siap menyerang Mahisa Pukat. Dengan nada datar Akuwu berkata, “Aku akan melawan kalian berdua”
Mahisa Pukat tidak sempat menjawab. Serangan Akuwu pun datang beruntun. Semakin lama semakin cepat.
Mahisa Pukat pun mencoba untuk mengurangi tekanan Akuwu dengan menyerangnya pula pada setiap kesempatan. Tetapi serangan Akuwu itu semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga memaksa Mahisa Pukat untuk bekerja lebih keras untuk menyelamatkan tubuhnya dari sentuhan serangan Akuwu.
Nampaknya Akuwu berusaha untuk memancing kedua orang anak muda itu untuk bertempur bersama. Sekali ia menyerang Mahisa Murti, sekali Mahisa Pukat. Namun kemudian, Akuwu telah berhasil menempatkan diri pada satu sisi di arena, sehingga ia berhadapan langsung dengan kedua orang anak muda itu.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai merasa bahwa sebenarnyalah Akuwu memiliki ilmu yang tinggi. Sebagai seorang Akuwu, maka ia tentu melandasi dirinya pada tataran tingkat yang memungkinkan mendukungnya pada jabatannya, sebagaimana Akuwu-akuwu yang pernah didengar namanya.
Dengan demikian maka akhirnya kedua anak muda itu lelah dipaksa untuk mempergunakan kemampuannya pula melawan Akuwu.
Karena itulah, maka pertempuran itu pun telah meningkat menjadi semakin seru. Meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap dibatasi oleh keseganannya untuk menyerang pada bagian-bagian yang berbahaya pada Akuwu. Namun mereka telah mulai menyerang pada bagian bawah tubuh Akuwu yang mampu bergerak dengan sangat cepat dan tangkas.
Tetapi agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar ingin membuktikan bahwa yang dikatakannya tentang diri mereka adalah benar. Bahwa mereka adalah dua orang yang dianggap ujud dari kekuatan gaib yang ada di dalam benda-benda keramat milik Akuwu yang dipergunakan untuk kelengkapan wisuda Ki Buyut yang baru itu.
Demikianlah, maka kedua orang anak muda itu pun telah bergerak secepat Akuwu bergerak. Meskipun masih dengan sikap yang enggan, namun justru karena mereka telah bekerja bersama, maka semakin lama menjadi semakin nampak, bahwa Akuwu mulai mengalami kesulitan.
Tetapi pada keadaan yang sulit, tiba-tiba saja Akuwu berkata Anak-anak muda. “Jika benar kalian adalah anak-anak muda yang telah mengalahkan para perampok itu, maka kalian tentu memiliki kebanggaan ilmu yang dapat kalian tunjukkan kepadaku. Aku akan memaksa kalian untuk berbuat sampai batas kemampuan kalian, agar aku yakin, bahwa kalian berdua saja dapat bertempur dan memenangkan pertempuran itu melawan perampok pada jumlah yang berlipat ganda”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika mereka melihat. Akuwu benar-benar telah meningkatkan kemampuannya pada tata gerak yang sulit dimengerti oleh kebanyakan orang.
Karena Akuwu nampaknya seolah-olah bersungguh- sungguh maka kedua orang anak muda itu tidak dapat berbuat lain, kecuali melindungi diri mereka dari serangan- serangan Akuwu yang keras.
Mahisa Pukat lah yang ternyata lebih dahulu bersikap dari Mahisa Murti Namun akhirnya Mahisa Murti pun telah melakukannya pula. Karena keduanya masih tetap merasa segan untuk menyerang pada bagian-bagian yang dapat berbahaya bagi Akuwu. maka yang dapat mereka lakukan adalah membenturkan kekuatan mereka melawan kekuatan Akuwu. Kedua orang anak muda, anak dan sekaligus murid Mahendra dilengkapi oleh Witantra dan unsur ilmu yang lain dari Mahisa Agni itu, maka keduanya adalah anak- anak muda yang memiliki kemampuan dan kekuatan yang mendebarkan.
Itulah sebabnya, maka keduanya telah menempatkan kekuatan mereka tidak untuk menyerang, tetapi untuk mempertahankan diri terhadap serangan-serangan yang keras dari Akuwu yang ingin meyakinkan kemampuan kedua orang anak muda itu.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi benturan-benturan kekuatan di antara Akuwu dengan kedua orang anak muda yang memiliki dasar kemampuan yang tinggi itu.
Untuk beberapa saat lamanya, pertempuran itu masih berlansung justru semakin keras dan cepat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang segan menyerang pada bagian-bagian yang gawat itu telah mempergunakan kekuatan mereka untuk memaksa Akuwu mengetahui tingkat kemampuan mereka. Benturan-benturan itu adalah cara menyerang yang lain yang dipergunakan oleh Mahisa Pukat dan kemudian juga Mahisa Murti. Karena dalam benturan- benturan itu, akan terasa oleh Akuwu hentakan-hentakan di dalam dirinya.
Akuwu adalah seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Tetapi ketika kemampuannya harus dibenturkan kepada kemampuan dua orang anak muda itu, maka terasa, bahwa kedua anak muda itu bersama-sama memiliki beberapa kelebihan dari Akuwu. Keduanya dalam pertempuran berpasangan, mampu menunjukkan kemampuan mereka yang mendebarkan. Bahkan benturan-benturan yang terjadi semakin lama menjadi semakin sering, telah menimbulkan kesan kepada Akuwu, bahwa kedua anak muda itu benar-benar anak muda yang perkasa.
Sehingga, akhirnya Akuwu tidak dapat ingkar lagi akan satu kenyataan, bahwa ia berada dalam kesulitan. Meskipun orang-orang yang menyaksikan bahwakah para pengawal dan Senapatinya belum melihat, tetapi Akuwu. sudah merasakan, kelebihan kedua anak muda itu sulit untuk dapat diatasinya jika permainan itu akan diteruskan.
Karena itu, maka sesuai dengan keinginan Akuwu. sekedar untuk menjajagi kemampuan kedua orang anak muda itu, maka sejenak kemudian, Akuwu yang menjadi semakin sulit mengatasi kecepatan gerak kedua orang anak muda itu pun telah meloncat jauh surut sambil berkata, “Cukup anak-anak muda”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berusaha untuk mendekatinya telah tertegun. Sementara itu, mereka melihat Akuwu berdiri bertolak pinggang sambil tersenyum, “Aku sudah berhasil mengetahui tingkat kemampuan kalian”
Kedua orang anak muda itu termangu-mangu. Bahkan para Senapati, para pengawal dan apalagi orang-orang padukuhan yang menyaksikannya, berdiri tegak dengan wajah-wajah yang tegang.
“Kalian memang luar biasa” desis Akuwu, “kalian telah menyatakan satu kenyataan kepadaku”
“Ampun Akuwu” berkata Mahisa Murti, “apa yang kami lakukan, adalah sekedar melayani keinginan Akuwu.”
“Ya, ya. Aku mengerti” berkata Akuwu, “dan kalian telah melakukan sebaik-baiknya. Kalian telah menunjukkan kepadaku bahwa kalian memang memiliki ilmu yang luar biasa. Kalian telah meyakinkan aku, bahwa apa yang kalian katakan itu benar semata-mata”
“Ampun Akuwu” berkata Mahisa Murti, “bukan maksud hamba berdua untuk menyombongkan diri. Tetapi semata-mata karena hamba berdua ingin menempatkan persoalannya pada tempat yang sebenarnya”
Akuwu tersenyum. Kedua anak muda itu memang sangat menarik hatinya. Keduanya tangkas dan kuat. Bahkan melampaui dugaan Akuwu sendiri. Dengan penjajagan itu Akuwu mengerti bahwa anak-anak muda itu tentu memiliki ilmu yang sudah mapan, sehingga mereka mampu melakukan seperti apa yang mereka katakan.
“Anak-anak muda” berkata Akuwu, “ternyata bahwa aku harus mempercayaimu. Apa yang dikira, ujud duri benda-benda keramat yang menjadi kelengkapan upacara itu, adalah kalian berdua”
“Hamba tuanku. Seperti sudah hamba katakan, maksud hamba adalah semata-mata untuk meluruskan pendapat yang keliru tentang pusaka-pusaka tuanku itu. Jika pendapat itu tidak dibetulkan, maka pada suatu saat. Akuwu akan menyesal, karena benda-benda itu akan dapat hilang dari gedung perbendaharaan istana Akuwu. Para pengawal akan terlalu percaya bahwa pusaka-pusaka itu akan dapat menyelamatkan diri sendiri, sehingga seakan- akan tidak memerlukan pengawalan lagi” berkata Mahisa Murti.
“Kau benar anak muda” jawab Akuwu, “dan aku mengucapkan terima kasih. Kalian telah berbuat sesuatu yang sangat berarti bukan saja bagiku, tetapi juga bagi seluruh pakuwon. Karena itu, maka sebenarnyalah aku ingin tahu, siapakah kalian berdua yang sebenarnya dan dari manakah kalian datang?”
Sudah hamba katakan, hamba berdua adalah anak-anak yang kabur kanginan. Hamba berdua mengembara dari satu tempat ketempat yang lain. Dari lereng pegunungan ke lereng pegunungan. Dari lembah yang satu ke lembah yang lain” jawab Mahisa Murti.
“Kau sangka aku percaya?” Akuwu tersenyum, “tetapi baiklah. Agaknya kalian adalah pengengembara yang sebenarnya. Karena itu, maka aku tidak akan memaksa menyebut siapakah kalian sebenarnya. Namun demikian, sebaiknya aku mengajukan satu permintaan kepada kalian. Permintaan yang barangkali dapat kalian terima”
“Maksud Akuwu?” bertanya Mahisa Murti
“Aku sudah yakin akan kalian. Kalian bukan sekedar wadag yang dipergunakan oleh kekuatan pusaka-pusaka itu. Tetapi sebenarnyalah kalian memang dua orang anak muda yang memiliki tingkat ilmu yang luar biasa. Karena itu, agar kekuatan yang semula disangka terdapat pada pusaka- pusaka itu tetap berada bersamanya, maka aku. Berharap kalian berdua akan bersedia tinggal bersama aku di istana Pakuwon. Kalian akan aku anggap sebagai anak-anakku. Dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian ingini” berkata Akuwu kemudian, “dengan kehadiran kalian berdua, aku berharap bahwa kalian akan dapat menempa para Senapati dan pengawal, untuk menjadi Senapati dan pengawal yang memiliki kemampuan yang cukup”
“Ampun tuanku” jawab Mahisa Pukat, “bukankah di Pakuwon sudah ada tuanku. Apakah kekurangan tuanku dibanding dengan kami berdua yang tidak berarti apa-apa. Jika tuanku berkenan, maka tuanku akan dapat menjadikan para Senapati dan pengawal melampaui kemampuan kami.
Akuwu itu pun tertawa. Katanya “Jangan terlalu merendah anak muda. Menilik ujud dan pakaian kalian dibandingkan dengan kemampuan serta ilmu yang ada pada kalian berdua, maka aku sudah menduga bahwa kalian adalah orang yang rendah hati. Cara kalian membantu orang-orang padukuhan ini serta para pengawal, kemudian dengan diam-diam kalian pergi sebelum kami sempat mengucapkan terima kasih adalah pertanda bahwa kalian telah berbuat tanpa pamrih dengan sikap yang rendah hati. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku tidak dapat melihat apa yang sebenarnya tersimpan didalam diri kalian. Dalam keseganan, kalian telah menunjukkan kepadaku, betapa tinggi ilmumu. Apalagi jika kalian harus benar-benar bertempur menghadapi lawan”
“Tuanku terlalu memuji, sehingga hamba berdua merasa malu karenanya” jawab Mahisa Murti, “sebenarnyalah hamba tidak banyak berarti bagi Pakuwon ini. Karena itu, maka perkenankanlah hamba melanjutkan pengembaraan hamba tanpa tujuan, sebagaimana menurut langkah kaki hamba berdua”
“Aku masih ingin minta kesediaan kalian” jawab Akuwu, “bagaimanapun juga, kehadiran kalian akan sangat berarti bagi kami”
“Ampun tuanku” sembah Mahisa Pukat, “satu-satunya permohonan hamba berdua saat ini adalah perkenan tuanku bagi hamba berdua untuk melanjutkan perjalanan kami”
“Kalian jangan bergurau” jawab Akuwu “setidak-tidaknya kalian memerlukan bermalam malam ini. Besok kalian akan melanjutkan perjalanan. Tetapi sekali lagi, aku minta kalian tinggal di istana Pakuwon barang satu dua musim. Dengan demikian maka kalian akan dapat membuat benteng di Pakuwon kami menjadi teguh. Bukankah kau lihat, bahwa di padukuhan ini telah hadir sekelompok penjahat yang kuat. Pada kesempatan lain, mungkin akan tumbuh kekuatan lain yang melampaui kekuatan yang telah kau hancurkan dalam dua malam itu”
“Hamba yakin, bahwa hal itu tidak akan banyak berarti bagi Akuwu” jawab Mahisa Murti, “sebaiknya hamba mohon diri. Hamba sudah merasa berhasil karena tuanku telah meyakini, bahwa sama sekali tidak ada kekuatan yang dapat menjelma menjadi ujud wadag pada benda-benda milik tuanku, juga kekuatan yang mampu mempergunakan wadag seseorang bagi ungkapannya. Jika hal ini hamba jelaskan, semata-mata karena niat baik hamba”
“Aku mengerti. Tetapi kenapa kalian tidak mau singgah barang satu dua saat di istanaku?” bertanya Akuwu.
“Bukan hamba tidak bersedia” jawab Mahisa Murti, “tetapi sebenarnyalah hamba ingin melanjutkan perjalanan hamba”
“Malam ini?” desak Akuwu.
“Hamba tuanku” jawab Mahisa Pukat.
Tidak ada yang dapat mencegah kedua orang anak-anak muda itu. Ki Buyut pun mencoba mempersilahkan keduanya untuk bermalam di banjar. Tetapi keduanya berkeberatan, karena keduanya ingin meneruskan pengembaraan mereka.
Meskipun demikian, Akuwu masih berusaha menunda keberangkatan anak-anak muda itu beberapa saat. Akuwu memberikan beberapa petunjuk apabila pada suatu saat anak-anak muda itu ingin singgah di istananya.
“Jika pada suatu saat dalam pengembaraanmu kau lewat di depan istanaku, aku berharap. Bahwa kalian berdua mau singgah barang sejenak” berkata Akuwu.
“Terima kasih Akuwu” jawab Mahisa Murti, “memang tidak mustahil bahwa pada suatu saat, hamba berdua melewat istana Akuwu. Mungkin pada satu putaran pengembaraan aku memang akan melalui daerah ini lagi. Karena pada suatu saat aku tentu akan pergi ke Kota Raja yang tidak terlalu jauh dari tempat ini”
“Baiklah” berkata Akuwu, “jika kalian memang tidak ingin aku cegah lagi, apaboleh buat. Tetapi barangkali kalian berdua mempunyai satu permintaan yang barangkali dapat kami penuhi. Jika bukan aku, mungkin Ki Buyut atau orang-orang lain di Kabuyutan ini bagi bekal perjalananmu”
“Terima kasih Akuwu” jawab Mahisa Murti, “kami tidak memerlukan bekal apapun juga. Kami akan dapat hidup dalam pengembaraan kami karena kami yakin akan kebaikan hati sesama”
Ki Buyut pun menyahut, “Di antaranya adalah tawaran kami jika kalian memerlukan. Bukan karena kebaikan hati kami, tetapi semata-mata karena kami ingin mengucapkan terima kasih”
“Terima kasih Ki Buyut” jawab Mahisa Pukat, “kebaikan Akuwu dan Ki Buyut sudah cukup memberikan kesan tersendiri di dalam pengembaraan kami. Sebelum semua peristiwa ini terjadi, kami telah menerima kebaikan isi Kabuyutan ini. Kami bermalam di banjar ini dan mendapat makan dan minuman panas di tengah malam yang dingin sementara kami memang sangat lapar pada waktu itu”
“Baiklah anak-anak muda” berkata Akuwu, “kami hanya dapat berdoa, semoga perjalanan kalian selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Selamat dan tercapai segala cita-citamu, meskipun aku tidak tahu, apa yang sebenarnya kalian inginkan dengan pengembaraan kalian. Tetapi menilik sikapmu disini, aku yakin bahwa kalian bukan orang yang pantas di cemaskan bahwa kalian akan merugikan sesama. Tetapi sebaliknya, kalian telah mempergunakan ilmu kalian yang sulit di jajagi sampai tuntas itu, untuk kepentingan sesama”
“Akuwu masih saja selalu memuji” jawab Mahisa Murti, “yang hamba berdua lakukan, semata-mata karena hamba mempunyai kewajiban bagi sesama. Itu sajalah” Mahisa Murti berhenti sejenak, lalu, “Sudahlah. Hamba mohon diri Akuwu”
Akuwu dengan berat kemudian melepaskan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meninggalkan banjar. Demikian pula Ki Buyut, para Senapati dan para pengawal. Terlebih- lebih para pengawal yang telah mendapat pertolongan langsung dari kedua anak muda itu.
Beberapa orang telah melepas kedua orang anak muda itu sampai keregol. Dua orang pengawal akan mengantarkannya sampai ke regol, agar kedua orang anak muda itu tidak mendapat kesulitan karena para penjaga regol tidak mengenali mereka.
Untuk beberapa saat, Akuwu dan Ki Buyut yang berdiri di bawah cahaya obor di regol halaman banjar termangu-mangu. Kedua anak muda itu adalah anak-anak muda yang aneh bagi mereka.
“Aku yakin, nama-nama itu bukannya nama mereka yang sebenarnya” berkata Akuwu tiba-tiba.
“Ya” desis Ki Buyut, “hambapun sudah menyangka, bahwa keduanya bukan pengembara kebanyakan. Tentu pengembaraan kedua anak muda itu akan menjadi laku pembajaan diri mereka masing-masing”
“Mudah-mudahan anak-anak yang baik itu akan tetap menjadi manusia yang baik. Banyak sekali pengalaman yang akan mereka dapatkan di perjalanan. Dengan kemampuan mereka, maka mereka akan banyak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Dan pengalaman itu akan dapat mempengaruhi sikap dan pandangan hidup mereka” berkata Akuwu, “karena itu, semoga yang mereka temui di perjalanan mereka, justru mempertegas sikap dan pandangan hidup mereka sebagai kasatria.yang berbudi”
“Hamba Akuwu” berkata Ki Buyut, “sayang sekali, keduanya tidak mau tinggal di Kabuyutan ini, atau di Pakuwon ini”
Bersambung....!
**********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar