Selasa, 22 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 011-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 011-03*

“Akuwu memerintahkan, agar pemangku jabatan Buyut di Talang Amba di bawa ke Pakuwon. Ia harus mempertanggung jawabkan sikapnya yang melampaui kuasa Sang Akuwu” berkata Senopati itu.

“Apa yang sudah aku lakukan. Senopati?” bertanya Ki Sanggarana,

“Kau telah melaporkan kedatangan orang asing yang ingin menguasai hutan di lereng bukit itu ke Singasari sebelum kau melaporkannya ke Gagelang” berkata Senopati itu.

Wajah Ki Sanggarana menjadi tegang. Dengan cemas ia berkata, “Senopati. Aku sama sekali belum melaporkannya kepada siapa pun juga. Apalagi kepada para pemimpin di Singasari. Selama ini aku masih berusaha untuk menyelesaikan persoalan yang timbul di dalam Kabuyutan ini. Persoalan yang hampir saja membenturkan aku dengan pamanku sendiri karena pokal orang asing itu”

“Apa yang terjadi?” bertanya Senopati itu. Ki Sanggarana pun kemudian menceriterakan, apa yang telah terjadi antara dirinya dan pamannya. Ki Sendawa.

Namun yang kemudian telah dapat diatasinya, meskipun harus mengorbankan orang-orang asing yang berada di Kabuyutan itu.

Senopati itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Ki Sanggarana dengan tajamnya. Namun kemudian katanya, “Jadi kau dan orang-orangmu mampu mengalahkan Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya?“

Ki Sanggarana menjadi berdebar-debar. Ia ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi ia ragu-ragu, apakah Ki Waruju sependapat jika ia berbuat demikian.

Namun dalam keragu-raguan itu terdengar Ki Waruju berkata, “Senopati. Kami ternyata telah dapat mengatasi ilmu ketiga orang itu dengan jumlah dan keberanian kami. Anak-anak muda Talang Amba telah bergerak dengan cepat dan pada saat yang tepat, sehingga mereka dapat mengalahkan orang yang disebut Ki Sarpa Kuning itu”

“Tanpa korban sama sekali?” bertanya Senopati itu.

Ki Waruju pun menjadi ragu-ragu. Namun sebelum ia menjawab Senopati itu berkata, “Mustahil jika anak-anak muda Talang Amba mampu menyelesaikan orang yang bernama Ki Sarpa Kuning tanpa korban seorang pun. Seandainya anak-anak muda Talang Amba serentak bergerak, maka di samping tiga orang korban itu, tentu akan jatuh berpuluh korban di antara anak-anak muda itu sendiri. Apalagi jika ada dua sisi yang saling bermusuhan”

Ki Waruju pun menjadi semakin ragu-ragu. Agaknya ia memang tidak akan dapat berbohong. Senopati itu mempunyai wawasan yang cukup tajam mengenai keadaan yang terjadi di Talang Amba. Sehingga karena itu, maka akhirnya Ki Waruju berketetapan hati untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi atas dirinya, meskipun ia masih berusaha untuk melindungi Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan seorang murid Ki Sarpa Kuning.

Karena itu, maka katanya, “Senopati. Baiklah aku berterus terang Sebenarnyalah bahwa aku telah berdiri di pihak Ki Sanggarana saat perselisihan itu terjadi Namun sebelum terjadi benturan kekerasan, Ki Sanggarana berhasil menumbuhkan kesadaran di hati pamannya, meskipun dengan cara yang tidak terduga-duga.

Dengan singkat, Ki Waruju pun menceriterakan, apa yang telah dilakukan olehnya Sanggarana sebagai kemanakan langsung dari Ki Sendawa yang ternyata berhasil menyentuh perasaannya”

Senopati itu mengangguk-angguk Dipandanginya Ki Waruju sejenak. Lalu katanya, “Jadi kau merasa dirimu dapat mengimbangi kemampuan Ki Sarpa Kuning?“

“Mungkin secara kebetulan saja. Senopati. Sementara itu kegelisahan Ki Sarpa Kuning pun ikut menentukan kekalahannya. Sikap Ki Sendawa yang menyadari kesalahannya itu membuat Ki Sarpa Kuning marah dan kecewa. Dengan demikian, maka sebagian besar kekalahan Ki Sarpa Kuning adalah karena dirinya sendiri. Aku hanya sekedar menjadi lantaran untuk meyakinkan kematiannya saja”

Senopati itu mengangguk-angguk. Namun katanya, “Meskipun demikian, aku tidak dapat menolak perintah Akuwu untuk membawa pemangku jabatan Buyut di Talang Amba ini. Tetapi karena menurut keterangan Ki Waruju. ia telah ikut mencampuri persoalan ini, maka aku akan membawanya pula menghadap Akuwu. Namun jika kalian dapat meyakinkan apa yang terjadi, maka agaknya Akuwu pun akan mempercayainya. Apalagi jika kalian dapat menjelaskan bahwa kalian belum pernah melaporkannya ke Singasari. Jika Singasari mengetahui persoalan yang terjadi itu adalah karena ketajaman pengamatan para petugas sandi dari Singasari itu sendiri”

“Begitulah Senopati” jawab Ki Sanggarana, “mungkin pada saat itu, secara kebetulan atau sengaja, ada satu atau lebih petugas sandi dari Singasari yang berada di Kabuyutan Talang Amba atau di sekitarnya. Atau setelah hal itu terjadi dan menjadi bahan pembicaraan orang-orang di pasar dan di sepanjang jalan, maka kabar tentang peristiwa itu ditangkap oleh para petugas dari Singasari”

“Mungkin. Tetapi anehnya, bahwa kami belum mendengar peristiwa itu secara terperinci” berkata Senopati itu.

“Kami memang baru menyiapkan laporan yang akan kami bawa ke Pakuwon Gagelang, sekaligus tentang kemungkinan pengangkatan seorang Buyut di Kabuyutan Talang Amba” berkata Ki Sanggarana kemudian.

Senopati dari Pakuwon Gagelang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah kau sudah menentukan seorang calon bagi Buyut di Talang Amba? Atau karena kau sendiri sekarang menjadi pemangku jabatan itu, kau akan mengusulkan dirimu sendiri?”

“Aku tidak akan mengusulkan diriku sendiri” jawab Ki Sanggarana terserah kepada kebijaksanaan Akuwu. Mungkin Akuwu memandang ada orang lain yang lebih tepat untuk menjadi Buyut di Talang Amba daripada aku yang sekarang menjadi pemangku”

Senopati itu mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Jika demikian, bersiaplah. Kita akan pergi ke Gagelang menghadap Sang Akuwu”

Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Akuwu menganggap bahwa ia telah melakukan satu kesalahan. Namun bagaimana pun juga ia memang harus menghadap. Ia harus menyampaikan satu pertanggungan jawab atas peristiwa yang baru saja terjadi. Bahkan Senopati itu telah meminta agar Ki Waruju ikut bersama dengan Senopati itu pula.

Demikianlah, maka Ki Sanggarana pun menyahut, “Baiklah Senopati. Aku tidak akan menolak perintah itu. Aku akan menghadap Akuwu. Tetapi tentang Ki Waruju, sebaiknya Ki Waruju menyatakan sikapnya. Karena sebenarnyalah ia bukan warga Kabuyutan ini dan bahkan bukan warga Pakuwon Gagelang”

“Meskipun ia bukan orang Gagelang, tetapi ia melakukan satu perbuatan di Gagelang. Karena itu, maka ia pun wajib menghadap untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya atau mungkin hanya sekedar memberikan keterangan saja” jawab Senopati itu.

Ki Waruju pun kemudian mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baiklah Senopati. Aku tidak akan berkeberatan. Aku memang sudah berbuat sesuatu di Kabuyutan ini yang termasuk daerah kekuasaan Akuwu di Gagelang. Karena itu, maka aku pun tidak akan menolak perintah untuk menghadap Akuwu di Gagelang”

Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Ki Waruju memang akan mempertanggung jawabkan sendiri langkahnya. Karena dengan demikian agaknya Ki Waruju memang benar-benar ingin membantunya.

Sejenak kemudian, maka Senopati Gagelang bersama beberapa pengawalnya telah membawa Ki Sanggarana dan Ki Waruju ke Pakuwon untuk menghadap Sang Akuwu. Sementara itu, isteri Ki Sanggarana benar-benar menjadi gelisah. Ia telah sejak semula menganjurkan agar suaminya menarik diri dari seluruh persoalan Buyut di Talang Amba yang kosong. Dengan demikian, maka keluarga kecilnya tidak akan selalu merasa terganggu.

Namun Nyai Sanggarana itu pun mengerti, bahwa suaminya tidak akan dapat mengabaikan sama sekali pendapat anak-anak muda Talang Amba yang telah mengungkitnya untuk tampil dalam arena pencalonan Buyut di Talang Amba.

Dalam pada itu, maka Ki Sanggarana dan Ki Waruju pun telah meninggalkan Talang Amba. Beberapa orang anak muda memperhatikan kedua orang yang mereka anggap telah menjadi pusat perhatian orang-orang Talang Amba yang ternyata telah dibawa oleh sekelompok pengawal dari Pakuwon Gagelang.

“Apa salah mereka?“ orang-orang Talang Amba itu pun saling bertanya.

Namun tidak seorang pun yang dapat menjawab. Baru kemudian ketika mereka pergi ke rumah Ki Sanggarana, mereka mendapat penjelasan dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tentang kedatangan sekelompok pengawal dari Pakuwon Gagelang.

“Apakah Ki Sanggarana dapat dianggap bersalah?” bertanya anak-anak muda yang datang ke rumah Ki Sanggarana itu.

“Menurut Senopati yang datang itu, Ki Sanggarana memang dianggap bersalah” jawab Mahisa Murti, “tetapi nampaknya Senopati itu dapat mengerti. Karena itu, menurut Senopati yang datang itu, mungkin Ki Sanggarana dan Ki Waruju hanya akan diminta untuk memberikan keterangan saja”

Anak-anak muda Talang Amba itu mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian tidak memikirkannya lagi persoalan yang semula mereka anggap gawat.

Tetapi ternyata bahwa persoalan itu tidak secepat yang diduga oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk mendapat penyelesaian. Ternyata Akuwu Gagelang berpendirian lain dengan Senopati yang telah mengambil dua orang yang terlibat langsung dalam peristiwa yang terjadi di Talang Amba.

Ketika Ki Sanggarana dan Ki Waruju menghadap, maka mula-mula Akuwu memerintahkan agar keduanya memberikan keterangan yang sebenarnya tentang apa yang telah terjadi di Talang Amba.

Ki Sanggarana dan Ki Waruju pun telah melakukannya sebagaimana diperintahkan oleh Akuwu. Mereka telah mengatakan apa yang telah terjadi. Meskipun demikian, mereka dengan sengaja tidak menyebut sama sekali tentang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta seorang murid Ki Sarpa Kuning yang masih tetap hidup.

Namun tanggapan Akuwu Gagelang benar-benar mengejutkan. Ki Sanggarana dan Ki Waruju, bahkan Senopati yang telah mengambil mereka pun tidak menduga sama sekali, bahwa Akuwu kemudian memerintahkan, “Keduanya telah melakukan pelanggaran. Aku memerintahkan agar keduanya dimasukkan ke dalam ruang tahanan”

“Ampu Akuwu“ diluar sadarnya Senopati yang mengambil mereka itu pun memohon, “apakah perintah tuanku itu sudah tuanku pertimbangkan semasak-masaknya?“

“Aku sudah mengambil keputusan. Setiap keputusanku telah aku pertimbangkan sebaik-baiknya” jawab Akuwu.

“Tetapi apakah kesalahan mereka cukup berat untuk dimasukkan ke dalam tahanan. Bukankah mereka hanya terlambat membuat laporan”

Wajah Akuwu menjadi tegang. Dipandanginya Senopati itu sambil berkata, “Ternyata kau tidak menjadi semakin cakap, tetapi justru menjadi semakin dungu. Jangan bertanya sekarang. Nanti kau akan tahu jawabnya”

Senopati itu tidak berani bertanya lagi. Bahkan ia pun kemudian menundukkan kepalanya ketika Akuwu itu berkata Lantang, “Sekali lagi, kau perintahkan agar keduanya ditahan sampai pengusutan selesai dan aku yakin, bahwa yang dilakukan oleh Ki Sanggarana bukan satu kesengajaan melampaui kuasaku”

Senopati itu tidak berani bertanya lagi. ia telah mengenal watak Akuwu itu dengan baik. Jika ia mencoba bertanya sekali lagi, maka Akuwu itu tentu akan menjadi marah dan mengambil satu tindakan yang akan dapat merugikan kedua orang yang akan ditahan itu. Karena itu, maka Senopati itu pun hanya dapat menyaksikan Ki Sanggarana dan Ki Waruju digiring oleh beberapa orang pengawal untuk dibawa ke dalam tahanan. Meskipun di dalam hatinya, kenapa Akuwu bertindak terlalu keras terhadap Ki Sanggarana.

Namun sementara itu. setelah Ki Sanggarana dan Ki Waruju dimasukkan ke dalam tahanan, serta para Senopati dan pemimpin Pakuwon Gagelang yang menghadap sudah meninggalkan istana Akuwu di Gagelang, maka Akuwu telah menerima seorang yang tidak banyak dikenal di Gagelang. Bahkan termasuk seorang yang bermatabat sangat rendah, karena orang itu adalah seorang juru taman.

Tetapi ketika juru taman itu masuk ke dalam ruangan khusus Akuwu Gagelang, maka juru taman itu pun lelah diterimanya dengan penuh hormat.

“Silahkan duduk Pangeran“ Akuwu itu pun mempersilahkan.

Juru taman itu mengangguk kecil sambil berkata, “Bersikaplah wajar. Aku adalah juru taman disini”

“Tetapi, Pangeran bagiku adalah orang yang pantas aku hormati” jawab Akuwu.

“Terima kasih. Tetapi kita mempunyai keterikatan terhadap lingkungan kita” jawab juru taman itu, “apabila kita harus memperhitungkan, bahwa kita tidak boleh memancing perhatian orang lain”

“Baiklah Pangeran. Namun di ruang ini tidak akan ada orang lain jika orang itu tidak aku panggil” jawab Akuwu.

“Ternyata kehadiranku di sini ada juga gunanya” berkata juru taman itu., “Aku ingin berbicara tentang kedua orang yang kau masukkan ke dalam tahanan itu”

“Bukankah aku tidak salah langkah?” bertanya Akuwu. “Kedua orang itu aku anggap berbahaya bagi kelanjutan rencana gagal karena Ki Sarpa Kuning terbunuh”

“Ya. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa kau sudah mengambil langkah yang benar. Menurut pendengaranku. Sanggarana ternyata orang yang berbahaya bagi keseluruhan rencana paman Pangeran untuk menghancurkan Singasari dengan cara yang telah dipilihnya. Perlahan-lahan tetapi pasti” jawab juru taman itu.

“Jadi bagaimana sebaiknya yang harus aku lakukan selanjutnya?” bertanya Akuwu.

“Biarlah keduanya berada di dalam tahanan untuk waktu yang tidak ditentukan. Aku akan membuat hubungan dengan Sendawa. Apakah benar ia telah menarik diri dari niatnya untuk menjadi Buyut di Talang-Amba” jawab juru taman itu.

“Pangeran akan berhubungan langsung dengan orang itu?“ Akuwu itu mengerutkan keningnya.

“Tentu tidak dalam kedudukan yang sebenarnya” jawab Pangeran itu, “tetapi aku dapat menyebut diriku siapa saja. Aku hanya ingin meyakinkan sikapnya yang sebenarnya. Apakah benar ia telah bersikap seperti yang aku dengar itu” jawab juru taman itu.

“Terserah kepada Pangeran. Tetapi hati-hatilah. Agaknya di Talang Amba telah hadir kekuatan lain” jawab Akuwu.

“Orang itu sudah ada disini” berkata juru taman itu, “Bukankah kau sudah menahan orang yang bernama Ki Waruju?”

“Apakah Pangeran yakin bahwa Ki Waruju hanya seorang diri atau seperti laporan yang pernah kita dengar, bahwa ada orang lain di belakangnya?” bertanya Akuwu.

“Aku akan melihat semuanya. Aku yang tidak dikenal oleh orang-orang Talang Amba akan mempunyai kesempatan yang lebih luas dari Akuwu” jawab juru taman itu.

Silahkan Pangeran. Jika Pangeran telah mendapatkan satu kesimpulan, maka aku akan melakukan apa yang paling baik menurut pertimbangan Pangeran” jawab Akuwu.

“Rencanaku mengarah kepada usaha untuk menempatkan Ki Sendawa pada kedudukan buyut di Talang Amba Jika Ki Sarpa Kuning gagal, karena ia telah melakukannya dengan wantah. Tetapi mungkin aku akan dapat mengambil jalan lain. Mudah-mudahan tugas ini cepat selesai. Hutan di lereng bukit itu cepat menjadi gundul, karena daerah tugasku masih cukup luas. Aku harus melakukan tugas di tempat lain. Yang akan melanjutkan tugasku disini adalah Akuwu. Jika daerah ini kelak tenggelam oleh banjir dan dilanda kelaparan karena sawah ladang yang rusak, maka Akuwu akan dapat mengambil langkah-langkah. Tentu bukan langkah satu-satunya. Pakuwon ini harus bekerja dalam rencana yang tersusun bersama dengan daerah-daerah lain. sehingga tujuan akhirnya, pecahnya Singasari. Kediri dan Pakuwon-pakuwon yang telah bersepakat untuk mengembalikan kekuasaan pada tahta Kediri akan bergerak bersama-sama. Tidak sendiri-sendiri”

Akuwu Gagelang mengangguk-angguk. Hal itu telah dimengertinya dengan baik sejak semula.

Karena itu, maka juru taman itu pun kemudian berkata pula, “Aku akan datang menemui Ki Sendawa sebagai seorang prajurit dari Pakuwon ini. Aku akan menjajagi sikapnya, dan aku akan segera memberikan laporan kepada Akuwu”

“Silahkan. Apa yang baik bagi Pangeran, silahkan melakukannya” jawab Akuwu itu.

Demikianlah, juru taman yang sebenarnya adalah seorang Pangeran dari Kediri itu mulai dengan usahanya setelah Ki Sarpa Kuning gagal. Ia tetap berniat untuk memecah Kabuyutan Talang Amba. Pangeran itu tetap berniat untuk memberikan kedudukan Buyut kepada Ki Sendawa. Sebab dengan demikian, Ki Sendawa akan lebih mudah untuk dikuasai.

Sebagai seorang yang bertugas untuk mengamati keberhasilan tugas Ki Sarpa Kuning, maka Pangeran itu sangat merasa kecewa atas peristiwa yang telah terjadi di Talang Amba. Hadirnya orang yang bernama Ki Waruju memang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Demikianlah, maka Pangeran itu telah menunggu satu kesempatan yang paling baik untuk menghubungi Ki Sendawa. Dengan pakaian sebagai pengawal Pakuwon Gagelang, maka bersama sekelompok pengawal yang lain. Pangeran itu pun mengelilingi daerah kekuasaan Akuwu di Gagelang.

Ketika iring-iringan itu sampai ke Talang Amba, maka Pangeran yang menyamar sebagai seorang prajurit itu pun sempat singgah di rumah Ki Sendawa.

Kedatangan beberapa orang pengawal itu mengejutkan hati Ki Sendawa. Ada kecemasannya, bahwa para pengawal itu akan mengambil tindakan atas tingkah lakunya beberapa waktu yang lewat, yang mendahului keputusan Akuwu Gagelang telah berusaha untuk merebut kedudukan Buyut di Talang Amba.

Namun ternyata sikap para pengawal itu terlalu baik kepada Ki Sendawa. Sama sekali tidak ada kesan yang mencemaskan. Mereka bersikap hormat dan ramah. Bahkan terasa oleh Ki Sendawa agak berlebih-lebihan.

“Apakah kami diperkenankan beristirahat di sini beberapa lama Ki Sendawa” berkata Pangeran yang menyamar sebagai pengawal itu.

“Tentu Ki Sanak, Silahkan” Jawab Ki Sendawa, “Jika Ki Sanak merasa haus, biarlah kami mengambil beberapa butir kelapa muda”

“Terima kasih” jawab Pangeran itu, “kami tidak haus. Kami hanya ingin beristirahat sebentar. Halaman rumahmu terasa sangat sejuk”

“Silahkan” berkata Ki Sendawa.

Namun Ki Sendawa tidak membiarkan tamu-tamunya duduk merenungi kesejukan halamannya saja. Ternyata Ki Sendawa juga menyiapkan minuman dan makanan bagi para pengawal itu.

Semula memang tidak ada pembicaraan yang menarik sekali. Para pengawal hanya menanyakan perkembangan padukuhan itu. Menanyakan tentang sawah dan ladang, tentang kebun dan juga tentang tata kehidupan rakyatnya.

Namun semakin jauh mereka berbincang, maka akhirnya Pangeran yang menyamar sebagai seorang pengawal itu pun sampai kepada satu persoalan yang membuat Ki Sendawa menjadi berdebar-debar.

“Ki Sendawa” bertanya Pangeran itu, “apakah menurut kesan Ki Sendawa, keadaan sekarang di Kabuyutan ini sudah menjadi baik?“

“Sudah Ki Sanak” jawab Ki Sendawa, “segalanya telah pulih kembali. Nalarku pun telah pulih kembali. Aku yakin, bahwa Ki Sanak telah pernah mendengar, apakah dari orang lewat dan para pedagang di sepanjang jalan, atau lewat laporan yang sampai ke Pakuwon, atau lewat jalur-jalur yang lain, tentang persoalan yang sudah terjadi di Kabuyutan ini”

Pangeran itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Syukurlah, bahwa semuanya telah berjalan dengan baik. Tetapi bukankah sekarang ini Ki Sanggarana dan seorang yang disebut bernama Ki Waruju sedang menjalani masa tahanan?“

“Ya. Aku menyesal sekali, bahwa hal itu telah terjadi” jawab Ki Sendawa, “sebenarnya di Kabuyutan ini sudah tidak ada masalah lagi. Semuanya sudah dapat diselesaikan sepeninggal Ki Sarpa Kuning yang hampir saja telah memutar balik otak dan nalarku”

Pangeran itu mengangguk-angguk. Lalu tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapakah yang sebenarnya lebih berhak atas Kabuyutan ini? Kau atau Ki Sanggarana”

Ki Sendawa terkejut mendengar pertanyaan itu. Karena itu, maka ia pun tidak segera menjawab.

Namun sebenarnyalah Pangeran itu telah mendengar beberapa keterangan tentang Ki Sendawa. Pangeran itu sempat menugaskan seorang petugas sandinya untuk mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi di Kabuyutan itu.

Karena itu, maka Pangeran itu pun dapat bertanya, “Ki Sendawa. Menurut beberapa orang yang mengetahui serba sedikit tentang Kabuyutan ini, mereka mengatakan bahwa kau memiliki hak pula atas Kabuyutan ini, karena kau adalah saudara sepupu dari Ki Buyut yang meninggal itu. Bahkan seandainya ayahmu dahulu tidak terbunuh, maka hak itu sebenarnya ada padamu”

“Ah“ desah Ki Sendawa, “hanya sebuah mimpi buruk. Tetapi aku sekarang sudah bangun Ki Sanak. Aku tidak mau mengulangi mimpi buruk itu lagi. Biarlah Sanggarana dapat melakukan tugasnya dengan tenang. Dengan demikian, maka Kabuyutan ini akan menjadi bertambah baik. Kehidupan rakyatnya akan menjadi semakin sejahtera lahir dan batin.

Pangeran itu mengangguk-angguk. Namun kerut di keningnya membayangkan, bahwa ada sesuatu yang bergejolak di dalam jantungnya.

“Nampaknya Ki Sendawa benar-benar telah kehilangan minatnya” berkata Pangeran itu di dalam hatinya.

Tetapi agaknya Pangeran itu masih akan mencobanya Seandainya tidak saat itu, maka pada yang lain ia akan menemuinya lagi.

Meskipun demikian, namun Pangeran itu masih berkata, “Ki Sendawa. Baiklah. Katakanlah bahwa Ki Sendawa sudah tidak bermimpi lagi untuk menjadi Buyut di Kabuyutan ini. Tetapi pada saat seperti ini, selagi Ki Sanggarana tidak ada di Kabuyutan, apakah tidak ada niat Ki Sendawa untuk mengatasi segala macam persoalan yang mungkin timbul”

“Masih ada beberapa orang bebahu Ki Sanak. Jika aku tampil pada saat seperti ini, maka akibatnya tentu akan sebaliknya. Orang-orang Kabuyutan ini masih melupakan, bahwa aku pernah dihinggapi satu penyakit untuk merampas kedudukan Sanggarana. Dan niat itu agaknya telah menyebabkan orang-orang Kabuyutan ini terpecah. Hampir saja terjadi pertumpahan darah antara saudara-saudara sendiri di Kabuyutan ini” berkata Ki Sendawa.

Prajurit itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak lagi mendesak Ki Sendawa. Pangeran yang menyamar sebagai pengawal itu kemudian berbicara tentang banyak hal, tetapi ia tidak lagi menyentuh persoalan KI Sendawa sendiri.

Demikianlah setelah mereka berada di rumah Ki Sendawa itu untuk beberapa saat, maka Pangeran itu pun segera minta diri. Bersama sekelompok orang-orangnya, para pengawal yang memang sudah dipersiapkan oleh Akuwu Gagelang. Pangeran itu pun kembali ke istana Akuwu,

Dengan kerut-merut di kening Pangeran itu berkata, “Sulit sekali. Tetapi aku tidak berputus asa. Aku akan mencari cara yang sebaik-baiknya untuk mendesak Ki Sendawa kembali ke kedudukan Buyut di Talang Amba”

“Terserah kepada Pangeran” jawab Akuwu Gagelang.

“Tetapi sekelompok pengawal yang sudah Akuwu siapkan itu harus benar-benar dapat dipercaya. Seorang saja diantara mereka kehilangan penguasaan diri dan berceritera tentang langkah-langkah kita, maka segalanya akan gagal, “berkata Pangeran itu.

“Jangan bimbang Pangeran. Kelompok itu sudah aku bentuk untuk kepentingan itu” jawab Akuwu.

“Terima kasih” jawab Pangeran itu, “Aku masih mencari kesempatan”

Dalam pada itu, kegelisahan memang mulai timbul di Kabuyutan Talang Amba karena Ki Sanggarana dan Ki Waruju ternyata tidak segera dilepaskan.

“Biarlah keduanya disini” berkata Pangeran itu kepada Akuwu, “kegelisahan di Talang Amba akan mendorong Ki Sendawa untuk berbuat sesuatu. Jika ia sudah merasakan betapa senangnya memegang kekuasaan, maka ia akan terdorong kembali untuk menginginkan kedudukan itu. Dengan demikian, maka ia akan membiarkan Sanggarana dan Waruju tidak akan kembali lagi ke Talang Amba. Atau jika mereka akan kembali kelak, kedudukan Sendawa sudah cukup kuat”

Akuwu Gagelang sendiri tidak banyak mempunyai rencana. Ia lebih banyak menyerahkan segalanya kepada Pangeran yang dalam keadaan sehari-hari tidak lebih dari seorang juru taman. Namun yang dalam saat-saat tertentu ia adalah seorang pengawal atau orang lain yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang Gagelang dan bahkan pada Senopati dan pengawal Gagelang yang lain, kecuali yang memang sudah dipersiapkan oleh Akuwu.

Dalam pada itu. orang-orang Talang Amba rasa-rasanya memang kehilangan ikatan karena KI Sanggarana yang sedang ditahan di Pakuwon Gagelang. Namun mereka tidak tahu. apa yang sebaiknya mereka lakukan. Ketika kegelisahannya itu tidak lagi terbendung, maka beberapa orang anak muda telah menemui Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih berada di banjar Kabuyutan.

“Apa yang dapat kami lakukan?” bertanya anak-anak muda itu.

“Aku tidak dapat memberikan pendapatku” jawab Mahisa Murti, “Aku kurang menguasai hubungan antara Kabuyutan ini dengan Akuwu di Gagelang”

“Jika keadaan ini berlangsung terlalu lama, maka kehidupan di Talang Amba akan menjadi semakin suram” berkata anak-anak muda itu pula.

“Kalian harus mendorong para bebahu yang ada untuk melakukan kewajiban mereka sebaik-baiknya. Kalian harus siap untuk berbuat apa saja yang menurut para bebahu dianggapnya baik” jawab Mahisa Murti.

“Tetapi bagaimana dengan Ki Sanggarana? Apakah sebenarnya kesalahannya? Apakah benar menurut pendengaranku, bahwa ia sudah melanggar hak dan wewenang Sang Akuwu di Gagelang, karena Talang Amba langsung berhubungan dengan Singasari?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

Mahisa Murti menggeleng. Jawabnya, “Aku kurang tahu. Tetapi tidak mustahil bahwa kita akan mencari keterangan tentang hal itu. Namun sudah barang tentu, tidak dengan terbuka. Kita akan mencari jalan yang sebaik-baiknya.

“Tetapi“ seorang anak muda berdesis, “apakah hal ini bukan karena sikap Ki Sendawa? Ia sebenarnya tidak ikhlas menyerahkan kekuasaan di Talang Amba ini kepada kemanakannya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain pada waktu terjadi benturan di banjar. Tetapi sekarang, ia telah berhubungan dengan beberapa pihak di Pakuwon Gagelang.

Pendapat itu memang masuk akal. Tetapi Mahisa Murti ternyata berpendapat lain. Katanya, “Ki Sanak. Menurut pendapatku, apa yang dilakukan oleh Ki Sendawa itu benar-benar terpancar dari hatinya yang tulus. Sekeras-keras hati seseorang, namun pada suatu saat akan luluh juga. Sikapnya Sanggarana nampaknya ikut menentukan”

“Tetapi, apakah kita tidak dapat mengambil satu kesimpulan apapun juga tentang kedatangan sekelompok prajurit ke rumahnya?” bertanya anak muda itu, “Bukankah hal itu jarang sekali terjadi? Rumah siapakah diantara kita yang pernah mendapat kunjungan sekelompok pengawal dari Gagelang?“

Beberapa orang mengangguk-angguk. Namun Mahisa Pukat pun menyahut, “Tetapi kita tidak dapat dengan tergesa-gesa mengambil satu kesimpulan. Kita harus berpikir lebih bening. Justru pada saat Ki Sanggarana tidak ada. Langkah yang tergesa-gesa hanya akan menambah kebingungan orang-orang Talang Amba saja”

Beberapa orang pun mengangguk-angguk pula. Rasa-rasanya setiap pendapat dapat mereka mengerti dan dapat mereka benarkan, justru karena kebingungan mereka.

Namun dalam pada itu, seorang diantara mereka berkata, “Bagaimanapun juga kita harus menyusun langkah-langkah. Nah. apa yang sebaiknyya kita lakukan lebih dahulu”

“Kita akan menunggu beberapa saat” berkata Mahisa Murti, “Jika Ki Sanggarana dan Ki Waruju tidak segera dibebaskan, kita akan bertanya kepada Akuwu. Sekaligus kita mohon petunjuk apa yang sebaiknya dapat kita lakukan”

“Kita masih harus menunggu lagi?” bertanya beberapa anak muda hampir bersamaan.

“Hanya beberapa hari saja” jawab Mahisa Pukat, “Kita lebih baik bersabar tetapi menentukan langkah-langkah pasti dari pada tergesa-gesa tetapi langkah kita tersesat”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Namun tidak seorang pun yang menjawab. Mereka mencoba untuk mempercayai kedua anak muda yang telah membuktikan kelebihan mereka dihadapan anak-anak muda Talang Amba.

Untuk sementara anak-anak muda Talang Amba dapat ditenangkan. Mereka berusaha untuk bersabar sambil menunggu apa yang akan terjadi dengan Ki Sanggarana dan Ki Waruju.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sebenarnya diam menunggu seperti yang dikatakannya. Tetapi mereka berusaha untuk mengetahui lebih jauh sikap Ki Sendawa. Apakah Ki Sendawa benar-benar ingkar dari sikap yang dinyatakannya di banjar, atau ia memang tidak mempunyai hubungan apapun dengan kehadiran para pengawal ke rumahnya, karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun sebenarnya bertanya pula di dalam diri, apa saja yang dilakukan oleh para pengawal itu justru pada saat Ki Sanggarana dan Ki Waruju masih berada di Gagelang.

Karena itulah, maka diluar pengetahuan anak-anak muda di Talang Amba, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengamati padukuhan dan rumah Ki Sendawa di malam hari. Sementara di siang hari, anak-anak muda Talang Amba akan dapat melihat dan mengatakan, apabila ada orang yang tidak dikenal apalagi sekelompok pengawal yang datang ke rumah itu.

“Di malam hari, kemungkinan yang lain dapat terjadi” berkata Mahisa Murti kepada Mahisa Pukat, “mungkin anak-anak Talang Amba lengah. Tetapi mungkin orang itu dengan diam-diam sengaja datang ke rumah Ki Sendawa mencari hubungan. Jika orang itu memiliki sedikit kelebihan ilmu, maka hal itu tidak mustahil dapat dilakukannya.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berusaha dalam waktu yang dekat, sebelum anak-anak muda Talang Amba kehabisan kesabaran, untuk mengetahui apa saja yang terjadi di rumah Ki Sendawa.

Ketika sudah dua tiga hari, keduanya tidak menemukan sesuatu yang penting, maka keduanya mulai menjadi gelisah. Jika anak-anak muda Talang Amba tidak sabar lagi. mungkin mereka akan mengambil sikap sendiri-sendiri.

Namun pada hari yang kelima, ternyata yang mereka tunggu itu pun datang. Ketika kedua anak muda itu dengan diam-diam mengintip regol halaman rumah Ki Sendawa dari halaman di muka rumah itu, mereka melihat dua orang yang dengan hati-hati mendekati regol. Kemudian keduanya dengan sikap yang mencurigakan telah memasuki halaman itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mau kehilangan buruannya. Mereka pun telah berusaha untuk mendekat. Dari balik dinding kedua mengintip apa yang dilakukan oleh kedua orang itu.

Dengan hati yang berdebar-debar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat keduanya kemudian naik ke pendapa dan mengetuk pintu pringgitan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengar ketukan pintu. Tetapi ia tidak mendengar dengan jelas jawaban kedua orang itu ketika suara dari dalam menyapanya.

Demikian pula ketika mereka melihat Ki Sendawa membuka pintu dan mempersilahkan kedua orang itu duduk di pendapa.

Untuk beberapa saat ketiga orang itu berbicara dengan sungguh-sungguh. Tetapi yang dilihat oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah sikap menolak Ki Sendawa. Bahkan akhirnya ketika Ki Sendawa berbicara lebih keras. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengar, “Tidak Ki Sanak. Aku tidak akan mengkhianati kemanakanku itu. Aku sudah berjanji dihadapan rakyat Talang Amba”

“Tetapi kau dapat mencoba Ki Sendawa. Seandainya kau tidak bersedia memegang jabatan ini untuk seterusnya, kau dapat melakukannya di saat Ki Sanggarana tidak ada di Kabuyutan ini.

Ki Sendawa mengerutkan keningnya. Kata-kata itu ternyata direnunginya. Sementara Ki Sanggarana tidak ada, maka memang perlu ada orang yang memegang pimpinan di Talang Amba, agar rakyatnya tidak berbuat sekehendak hati mereka.

Namun ternyata jawab Ki Sendawa tidak seperti yang dikehendaki oleh kedua orang yang datang itu. Katanya, “Ki Sanak. Aku setuju bahwa selama Sanggarana tidak ada di Kabuyutan, perlu ada orang yang menggantikannya untuk sementara. Tetapi di Kabuyutan Talang Amba ada beberapa orang bebahu yang membantu Ki Buyut selama memerintah Kabuyutan ini. Aku akan menghubungi mereka. Yang tertua di antara mereka akan ditetapkan untuk sementara memegang tugas sebagaimana tugas seorang Buyut sampai saatnya Sanggarana dibebaskan”

“Kau jangan menyia-nyiakan kesempatan Ki Sendawa” berkata orang yang datang itu. Nampaknya ia pun mulai kehilangan kesabaran, “lebih daripada itu, kau jangan mengorbankan rakyat Talang Amba. Mungkin kau dapat duduk berpangku tangan. Kau tidak perlu memikirkan keadaan Kabuyutanmu. Kau tidak perlu memikirkan keadaan rakyatmu. Tetapi pada suatu saat kau akan mendengar tangis orang-orang Talang Amba yang kehilangan masa depan mereka Waktu yang singkat ini akan mungkin dapat menyesatkan sasaran rakyat Talang Amba yang patuh dan setia ini”

“Aku akan dapat ikut menentukan arah perkembangan Kabuyutan ini Ki Sanak. Hanya untuk waktu sepekan atau dua pekan sampai saatnya Sanggarana kembali. Apa arti waktu yang singkat itu bagi perjalanan hidup Kabuyutan ini. Seandainya yang singkat itu ikut menentukan, maka aku pun akan dapat berbuat sesuai dengan kemampuanku tanpa menyebut diriku pemimpin, karena aku dapat memberikan pen dapatkan kepada para bebahu. Jika pendapatku dianggap baik, maka pendapatku itu tentu akan diterimanya, karena bagaimanapun juga, mereka masih tetap memandang aku sebagai orang yang dekat dan bahkan paman dari Sanggarana”

“Ki Sendawa” berkata salah seorang dari keduanya, “jangan berbelit-belit. Sebaiknya kau terima saja tawaran kami. Kau akan diangkat untuk sementara menjadi Buyut di Talang Amba. Jika Sanggarana telah dibebaskan, kau akan menyerahkan jabatan itu kepadanya. Tetapi jika Sanggarana tidak kembali lagi Ke Kabuyutan ini, maka di Kabuyutan ini sudah ada seorang Buyut yang pantas”

“Aku tidak tahu maksud Ki Sanak” jawab Ki Sendawa.

“Aku ingin meneruskan perjanjian yang sudah dibuat oleh Ki Sarpa Kuning. Kau akan menjadi Buyut disini tetapi hutan itu menjadi milikku” jawab orang itu.

“Aku menjadi semakin bingung” jawab Ki Sendawa.

“Dengarlah” berkata orang itu. yang nampaknya benar-benar sudah kehilangan kesabarannya, “Jika kau tidak mau menerima tawaran ini, maka kau akan mengalami nasib seperti Sanggarana. Kau akan ditangkap dan yang akan diangkat menjadi Buyut di Talang Amba adalah orang lain sama sekali”

Wajah Ki Sendawa menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia menjawab, “Ki Sanak ternyata aneh bagiku. Siapakah sebenarnya kalian ini? Jika kalian benar-benar seperti yang kalian katakan, pengawal dari Gagelang, kalian tentu tidak akan berkata seperti itu. Kalian tentu akan berkata dengan dasar yang mapan. Dan kalian tentu mengetahui paugeran bagi satu Kabuyutan”

“Jangan banyak berbicara Ki Sendawa” jawab salah seorang dari kedua orang itu, “Akuwu di Gagelang mempunyai kekuasaan untuk berbuat apa saja. Yang biru dikatakan kuning, dan yang kuning dikatakan hijau. Karena itu, dengarlah. Kau terima tawaran yang menguntungkan sekali bagimu. Yang sudah kau impikan sejak lama. Menjadi Buyut di Talang Amba, atau malahan kau akan ditangkap dan dipenjarakan, sementara yang menjadi Buyut di Talang Amba adalah orang lain sama sekali. Tidak ada yang dapat menentang keputusan Akuwu Gagelang”

“Kata-katamu aneh Ki Sanak” berkata Ki Sendawa. Ternyata Ki Sendawa tetap orang yang keras hati. Karena itu, maka jawabnya, “Aku justru menjadi curiga kepada kalian berdua. Kalian tentu bukan pengawal dari Gagelang. Tetapi kalian tentu orang-orang yang ingin mengotori Pakuwon Gagelang dengan perbuatan-perbuatan yang gila itu. Aku memperingatkan kepada kalian Ki Sanak. Jangan mencoba membuat onar disini. Aku masih dapat menahan diri sekarang. Tetapi lain kali aku akan bertindak dan menyerahkan kalian kepada Akuwu di Gagelang, karena kalian telah mengotori nama Pakuwon Gagelang”

Tetapi kedua orang itu tertawa. Seorang di antaranya berkata, “Kau jangan menjadi gila. Aku adalah utusan Akuwu Gagelang. Jika kau tidak percaya, besok kau dapat menghadap. Aku akan berada di sana. Kau akan berbicara dengan Akuwu. sementara aku akan memberikan petunjuk-petunjuk penting kepada Akuwu. Kau tidak percaya?“

Ki Sendawa mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Baik. Aku akan menghadap Akuwu. Aku akan berbicara tentang Kabuyutan Gagelang jika aku diperkenankan untuk menghadap”

“Benar? Kau akan datang besok?” bertanya salah seorang dari keduanya, “tetapi jika kau tidak datang, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk. Lebih buruk dari Sanggarana, karena tidak seorang pun yang dapat mengelak dari jaring-jaring kuasaku dan kuasa Akuwu di Gagelang”

Ternyata Ki Sendawa benar-benar seorang yang berhati batu padas Ia benar-benar ingin membuktikan kata-kata itu. Karena itu. maka katanya, “Aku besok memang akan menghadap. Tetapi ingat, jika kalian berbohong, maka kalian akan ditangkap. Para pengawal Pakuwon akan menangkapmu dan mengadilimu”

Ketetapan hati Ki Sendawa memang berpengaruh atas kedua orang itu. Agaknya Ki Sendawa berkeras seperti itu juga saat ia ingin menjadi Buyut di Talang Amba. Hanya satu keajaiban sajalah yang dapat mematahkan kekerasan hatinya itu. Namun sekarang kekerasan hatinya dihadapkannya kepada persoalan yang sebaliknya.

Namun demikian, salah seorang dari kedua itu pun berkata pula dengan tegas, “Aku menunggumu besok di gerbang istana Akuwu di Gagelang”

Kedua orang itu tidak menunggu jawaban Ki Sendawa. Keduanya segera minta diri. Namun ketika mereka sampai di tangga pendapa, salah seorang di antaranya masih berkata, “Aku akan menunggumu besok. Kau dapat menentukan sikap sekarang. Malam ini kau masih mempunyai waktu”

Ki Sendawa tidak menjawab. Dipandanginya saja kedua orang tamunya yang aneh itu melangkah meninggalkan regol rumahnya.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan cepat telah berlindung di balik dinding halaman. Mereka menunggu kedua orang itu pergi menjauh. Baru kemudian kedua anak muda itu pun telah berkisar dari tempatnya.

Meskipun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap menghindarkan diri dari kemungkinan untuk diketahui oleh Ki Sendawa. Bagaimana pun juga, mereka masih belum yakin, bahwa Ki Sendawa tidak akan mencurigainya. Karena kedua anak itu merasa, bahwa keduanya bukan orang-orang Talang Amba yang sebenarnya.



Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...