*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-025-01*
Namun ternyata bahwa keduanya menjadi semakin berhati-hati, karena rasa-rasanya mereka tidak pernah sampai ke batas. Seberapa pun mereka meningkatkan ilmu mereka, maka lawannya masih saja mampu membuat keseimbangan.
Dengan demikian maka baik Putut dari padepokan itu, maupun Mahisa Murti menyadari, bahwa yang mereka hadapi adalah orang yang memiliki ilmu sampai ke puncak.
Dengan demikian maka pertempuran antara keduanya pun semakin meningkat pula. Keduanya ternyata telah mulai melepaskan kemampuan ilmu mereka. Mereka telah melewati benturan-benturan kekuatan wantah mereka. Bahkan mereka telah menjajagi batas tertinggi kekuatan cadangan didalam diri masing-masing. Namun agaknya mereka masih berada diatas tingkat batas kemampuan kekuatan cadangan itu.
Karena itu, maka ternyata bahwa mereka pun segera tenggelam dalam benturan ilmu dalam tataran tertinggi.
Ki Ajar sempat melihat benturan-benturan yang terjadi. Dengan demikian maka jantungnya menjadi berdebar-debar. Anak-anak muda yang datang ke padepokan itu benar-benar anak-anak muda yang sudah siap. Tentu demikian pula dengan orang-orang yang lebih tua. Sebagaimana didengarnya, Pangeran Singa Narpada adalah seorang yang pilih tanding. Seolah-olah kekuatan Kediri tergantung di pundaknya. Jika Pangeran Singa Narpada dapat dikalahkannya, maka Kediri akan menjadi lumpuh dan kehilangan tumpuan.
Dengan demikian, maka pertapa yang berusaha untuk mengendalikan perjalanan dan perputaran kejadian di Kediri itu, harus menghadapi lawannya dengan sangat berhati-hati pula.
Tetapi yang dicemaskan oleh Ki Ajar yang pertama-tama justru Pangeran Lembu Sabdata. Ia kurang menghargai kemampuan lawannya yang ternyata berilmu sangat tinggi. Namun bahwa ia telah terlempar jatuh dalam satu benturan, adalah merupakan satu kesalahan dari lawannya. Seandainya lawannya mampu menyembunyikan kemampuannya yang sebenarnya sehingga Pangeran Lembu Sabdata tetap pada sikapnya, namun tiba-tiba dengan menghentakkan puncak ilmunya lawannya itu menyerang, maka Pangeran Lembu Sabdata akan mengalami kesulitan. Bahkan mungkin lawannya akan segera dapat menyelesaikan pertempuran itu.
“Untunglah bahwa lawannya sempat memperingatkannya,” berkata Ki Ajar didalam hatinya.
Sebenarnyalah, bahwa Pangeran Lembu Sabdata kemudian telah menghadapi lawannya dengan sikap yang berubah. Ia tidak dapat lagi menganggap bahwa lawannya sama sekali tidak sepantasnya untuk menghadapinya. Ternyata bahwa lawannya memiliki bekal ilmu yang sangat tinggi.
Pangeran Lembu Sabdata yang terlalu cepat ingin menyelesaikan pertempuran itu telah dengan cepat pula sampai ke tataran tertinggi ilmunya. Ia tidak mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain kecuali menghancurkan lawannya. Kemudian satu keinginan Pangeran Lembu Sabdata adalah berhadapan dengan Pangeran Singa Narpada.
Tetapi ternyata bahwa Pangeran Lembu Sabdata telah membentur kemampuan Mahisa Pukat. Sehingga dengan demikian, maka ia tidak dapat segera menyelesaikannya dan mengambil-alih perlawanan terhadap Pangeran Singa Narpada.
Bahkan pertempuran yang terjadi antara Pangeran Lembu Sabdata dan Mahisa Pukat itu semakin lama menjadi semakin seru. Mahisa Pukat benar-benar seorang yang mampu memancarkan ilmu yang diwarisinya dari ayahnya.
Dengan demikian maka Pangeran Lembu Sabdata yang telah menyadap ilmu dari Ki Ajar dalam laku yang berat itu, harus menghadapi satu kenyataan, bahwa ia bukannya satu-satunya orang yang mampu meningkatkan ilmunya sampai ke puncak. Mahisa Pukat yang diduganya masih saja pada tataran ilmu yang dahulu, ternyata telah meningkat pula menjadi seorang yang tangguh tanggon.
Pangeran Lembu Sabdata itu mengumpat didalam hati. Tetapi ia tidak dapat sekedar mengumpat-umpat saja. Tetapi ia harus mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi lawannya.
Serangan-serangannya yang datang membadai dengan kekuatan ilmunya, ternyata mampu dihindari, dan bahkan dalam benturan-benturan yang terjadi, ternyata bahwa ilmu Pangeran Lembu Sabdata tidak lebih baik dari ilmu Mahisa Pukat.
Yang masih saja terdengar suara tertawanya adalah Panembahan Bajang. Sekali-sekali ia menyerang dengan caranya. Loncatannya yang panjang seakan-akan membuatnya berputaran di sekitar lawannya. Semakin lama semakin cepat. Suara tertawanya terdengar berputaran sebagaimana tubuhnya yang kerdil.
Namun Mahisa Bungalan tidak terpengaruh karenanya. Ia berusaha untuk tetap pada alas perlawanannya yang mapan, sehingga karena itu, maka ia tidak banyak menghiraukan tingkah Panembahan Kerdil itu.
Namun suara tertawa Panembahan Bajang itu rasa-rasanya telah mengetuk-ngetuk telinganya menembus ke dalam dadanya.
Meskipun Mahisa Bungalan sama sekali tidak memperhatikannya, namun suara tertawa itu memang sangat mengganggunya. Getaran-getaran suara tertawa itu menggelitiknya sehingga Mahisa Bungalan telah menghentakkan daya tahannya untuk menghapuskan pengaruh itu sama sekali.
Ternyata bahwa Mahisa Bungalan adalah seorang yang memiliki ilmu yang mapan. Getaran-getaran yang dilontarkan oleh ilmu Panembahan Bajang lewat getaran suaranya itu, akhirnya mampu diserap dan seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Suara tertawa itu masih terdengar, tetapi sama sekali tidak mempengaruhi lagi jantung Mahisa Bungalan.
Ternyata getaran suara tertawa yang dilandasi kekuatan ilmu Panembahan Bajang itu bukan saja berpengaruh atas Mahisa Bungalan. Tetapi Panembahan Bajang sengaja melontarkannya untuk mengetuk setiap isi dada.
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun merasakan pengaruh itu pula. Sebagaimana Pangeran Lembu Sabdata dan Putut dari padepokan itu. Namun karena mereka dipisahkan oleh jarak yang tidak melekat sebagaimana jarak Panembahan Bajang dan Mahisa Bungalan, maka ketukan getaran suara tertawa itu tidak terlalu banyak mengganggu mereka. Meskipun demikian, mereka memang harus berusaha untuk melepaskan pengaruh getaran itu dari dalam diri mereka.
Panembahan Bajang pun akhirnya menyadari, bahwa suara tertawanya tidak mempunyai pengaruh apapun juga atas Mahisa Bungalan. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Kau memang luar biasa. Tetapi kau harus ingat, bahwa aku adalah Panembahan Bajang yang memiliki seribu macam ilmu. Yang kau dengar tadi baru permulaan dari ilmu yang disebut Gelap Ngampar. Jika aku melepaskan seluruh kekuatan ilmu Gelap Ngampar, maka aku kira jantungmu tidak akan dapat bertahan.”
“Aku akan menggeser arena ini,” jawab Mahisa Bungalan.
“Untuk apa?” bertanya Panembahan Bajang.
“Aku akan mendekati Pangeran Lembu Sabdata,“ jawab Mahisa Bungalan, “Jika isi dadaku rontok, maka biarlah isi dada Pangeran Lembu Sabdata juga rontok.”
“Kau salah,“ Panembahan Bajang tertawa. Tetapi serangannya tidak mengendor. Lalu katanya ketika ternyata Mahisa Bungalan sempat menghindar. “Pangeran Lembu Sabdata memiliki penangkal dari ilmu ini.”
“O,” sahut Mahisa Bungalan, “Jika Pangeran Lembu Sabdata dapat menghindarkan diri dari ilmu itu, maka aku-pun akan dapat menghindari pula, karena ilmu Gelap Ngampar bukan ilmu yang asing bagiku.”
“Persetan,“ geram Panembahan Bajang. ”Kau jangan menakut-nakuti aku. Bagimu lebih baik bertempur berhadapan dengan aku, daripada kau harus mati di pembaringanmu karena ilmuku.”
“Apa maksudmu?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Itulah agaknya maka kau tidak mengenal takut. Bukan karena kau seorang pemberani, tetapi karena kau tidak mengetahui bahayanya, sebagaimana seorang anak-anak yang baru dapat berjalan sama sekali tidak takut kepada seekor harimau yang garang,” jawab Panembahan Bajang.
Mahisa Bungalan tidak segera dapat menjawab. Panembahan Bajang itu meloncat menyerang, Ketika Mahisa Bungalan berhasil mengelak, maka Panembahan Bajang itu meloncat lagi dengan cepatnya, berkisar dan berputar di sekeliling Mahisa Bungalan.
Mahisa Bungalan dengan hati-hati berkisar. Tetapi kemudian ia sempat berkata, “Itukah caramu untuk menghina aku?”
“Sama sekali tidak,” jawab Panembahan Bajang. Agaknya Panembahan Bajang masih akan menjawab. Tetapi Mahisa Bungalan lah yang kemudian menyerang. Namun Mahisa Bungalan masih belum mengerahkan kemampuannya sampai ke puncak, sebagaimana Panembahan Bajang.
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada dan Ki Ajar Bomantara telah semakin dalam memasuki pertarungan ilmu yang nggegirisi. Keduanya ternyata benar-benar orang yang berilmu tinggi. Pangeran Singa Narpada adalah seorang prajurit yang dengan segenap hati menyerahkan diri ke dalam pengabdian bagi kepentingan Kediri menurut keyakinannya, yang telah mendalami segala macam ilmu dari beberapa macam cabang perguruan. Bukan sekedar mengenal, tetapi ia sudah menghayatinya sampai kemampuan puncaknya. Pangeran Singa Narpada sadar, bahwa ia harus mempunyai bekal yang cukup bagi tugas-tugasnya mengabdi kepada Kediri.
Sedangkan Ki Ajar Bomantara adalah seorang pertapa yang menghabiskan waktunya sebagian besar untuk menekuni ilmunya yang dikembangkannya dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Yang telah berusaha membentuk Pangeran Kuda Permati menjadi seorang prajurit linuwih dan kemudian juga Pangeran Lembu Sabdata. Namun yang ternyata bahwa Pangeran Lembu Sabdata masih belum sampai pada tataran kemampuan yang tertinggi dari ilmu yang pernah dituangkan oleh Ki Ajar.
Semula Ki Ajar Bomantara tidak mencemaskannya ketika ia melihat siapa yang akan melawannya. Tetapi ternyata anak muda yang bernama Mahisa Pukat itu adalah anak Mahendra yang telah mewarisi puncak kemampuannya, sehingga berhadapan dengan anak muda itu Pangeran Lembu Sabdata telah membentur kekuatan yang tidak dapat diabaikan. Bahkan dengan sikapnya yang angkuh, telah membuatnya terlempar dari arena.
Yang bertempur dengan sungguh-sungguh dan perhitungan-perhitungan yang cermat adalah Mahisa Murti dan Putut terpercaya dari padepokan Ki Ajar itu. Langkah-langkah mereka merupakan pertarungan perhitungan yang jika terjadi sedikit saja kesalahan dalam penilaian tataran ilmu maupun langkah-langkah yang diambil, maka akibatnya akan menjadi sangat gawat.
Tetapi baik Putut terpercaya dari padepokan Ki Ajar Bomantara itu, maupun Mahisa Murti, agaknya telah terlatih dengan mapan, sehingga se demikian jauh mereka tidak membuat kesalahan-kesalahan yang berarti.
Namun justru karena itu, maka pertempuran diantara keduanya kemudian nampaknya tidak terlalu sengit. Keduanya tidak terlalu banyak menyerang. Tetapi keduanya baru akan menyerang jika mereka melihat kemungkinan-kemungkinan keterbukaan pada pertahanan lawan. Itupun ternyata bahwa keduanya belum ada yang berhasil melukai bahkan menyentuh pun tidak, kecuali benturan-benturan yang memang sering terjadi diantara keduanya.
Dalam pada itu, maka Putut itupun telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi menggapai puncaknya. Dengan demikian terasa oleh Mahisa Murti, getaran-getaran yang seakan-akan telah menyengat dan menyusup ke dalam dirinya, sehingga terasa arus yang menjalar lewat nadi-nadi darahnya menusuk jantung.
“Bukan main,“ geram Mahisa Murti, “ilmu iblis ini mampu merambat dan menggigit jantung.”
Namun Mahisa Murti pun mampu mengerahkan daya tahannya. Ia berusaha membentengi dirinya dari kemungkinan yang lebih buruk dari getaran-getaran yang meloncat lewat benturan-benturan yang terjadi, kemudian merayap melalui saluran darahnya menyerang jantung.
Untuk beberapa saat lamanya, Mahisa Murti mampu bertahan. Tetapi Putut itu masih selalu meningkatkan kekuatan daya serangnya. Ketika ia tidak mampu lagi melampaui kecepatan Mahisa Murti, maka dipusatkannya serangan-serangannya lewat ilmunya yang aneh itu.
Namun Mahisa Murti pun telah berjuang pula mengatasinya. Dikerahkannya kemampuan ilmunya untuk meningkatkan daya tahannya, sehingga dengan demikian terjadi benturan-benturan ilmu diantara keduanya.
Bagaimanapun juga, sulit bagi Putut itu untuk mengalahkan Mahisa Murti. Daya tahan Mahisa Murti akhirnya mampu menahan serangan-serangan yang aneh melalui sentuhan tubuh dan benturan kekuatan itu.
Namun dengan demikian, ketika Putut itu menyadari, bahwa ia tidak mampu lagi menyerang lewat sentuhan itu, maka iapun berusaha untuk melepaskan ilmunya yang lain. Dengan mengerahkan ilmunya, dari tubuh Putut itu terasa seakan-akan memancar panas yang membakar udara di sekitarnya.
Sekali lagi Mahisa Murti terdesak. Ia merasa udara itu bagaikan uap air yang mendidih, sehingga dengan demikian, maka beberapa kali Mahisa Murti memang harus berloncatan menghindar.
Namun akhirnya Mahisa Murti sadar, bahwa ia tidak akan dapat terus menghindarkan diri. Ia harus langsung menusuk ke pusat sumber panas itu. Jika ia mampu mencapai sebab dari panasnya udara, maka ia akan dapat meredakannya.
Karena itu, maka untuk beberapa saat lamanya Mahisa Murti berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sambil meloncat menghindar ia memusatkan segenap kemampuan daya tahannya agar ia tidak hangus ditelan oleh panasnya udara.
Dengan demikian, setelah Mahisa Murti benar-benar bersiap menghadapi lawannya, tiba-tiba saja ia justru menyuruk ke dalam lingkungan panasnya udara itu. Dengan segenap kemampuan daya tahannya, serta dengan segenap kemampuan ilmunya. Mahisa Murti telah menyerang Putut yang memiliki ilmu yang nggegirisi itu.
Serangan itu memang mengejutkan. Putut yang merasa dirinya terlindung oleh panas itu tidak menyangka sama sekali bahwa serangan Mahisa Murti datang demikian cepat dan dengan tenaga yang sangat besar oleh dorongan ilmunya.
Sementara itu Mahisa Murti sendiri merasa kulitnya dibakar oleh panasnya udara. Namun ia masih berhasil menghentakkan tenaganya. Justru karena lawannya tidak menduganya sama sekali, maka kaki Mahisa Murti sempat memasuki lingkaran pertahanan Putut itu dan mengenai dadanya.
Terdengar Putut itu mengaduh tertahan. Justru karena ia tidak siap, maka iapun telah terlempar beberapa langkah dan terbanting jatuh.
Sementara itu, Mahisa Murti pun hampir saja jatuh di atas kedua lututnya pula. Panasnya udara hampir tidak tertahankan. Namun serangannya yang tiba-tiba dan berhasil menjatuhkan lawannya, maka rasa-rasanya udara yang panas itupun segera menyusut.
Tahulah Mahisa Murti, bahwa usahanya berhasil. Jika ia dapat merusakkan pemusatan nalar budi lawannya, maka lawannya tidak akan sempat melepaskan ilmunya yang dapat membakar udara di sekitarnya.
Karena itu, maka Mahisa Murti tidak mau terlambat. Dengan cepat ia berusaha untuk mengatasi perasaan nyerinya karena udara yang panas. Namun udara yang sejuk yang dibawa angin telah membuatnya mendapatkan kesegaran baru.
Dalam pada itu, Putut yang jatuh terguling itupun berusaha untuk segera bangkit. Dadanya terasa sesak oleh serangan Mahisa Murti. Bukan serangan dengan tenaga kewadagan sewajarnya. Tetapi dilambari dengan kekuatan ilmunya yang mapan dan disadapnya dari ayahnya sampai tuntas.
Sementara itu, Mahisa Murti tidak mau didera kembali oleh panasnya api yang membakar udara. Karena itu, demikian Putut itu berdiri, maka Mahisa Murti pun telah menyerangnya kembali.
Dengan serangan itu, maka Putut itupun tidak sempat membangunkan ilmunya yang mampu membakar udara.
Dengan demikian maka keduanya pun telah bertempur dengan serunya dengan saling membenturkan kekuatan ilmunya yang disalurkan lewat tenaganya.
Namun sekali lagi terasa oleh Mahisa Murti, kekuatan getaran ilmu lawannya telah meloncat dan menelusuri urat darahnya sampai ke jantung. Namun sekali lagi Mahisa Murti dapat mengatasinya sehingga ia dapat mengabaikan serangan ilmu yang aneh itu.
Sementara itu Pangeran Lembu Sabdata yang telah beberapa kali membentur kekuatan Mahisa Pukat, akhirnya benar-benar menyadari dengan siapa ia berhadapan. Betapa ia melepaskan kekuatan ilmunya, namun Mahisa Pukat masih saja mampu mengimbanginya.
“Anak iblis,” geram Pangeran Lembu Sabdata.
Namun ia tidak cukup mengumpat-umpat saja. Ternyata serangan-serangan Mahisa Pukat pun kemudian telah datang bagaikan angin pusaran. Membelit, memutar dan kemudian bagaikan meremas sasarannya dengan pusaran yang dahsyat.
Pangeran Lembu Sabdata termangu-mangu menghadapi kenyataan itu. Namun ia tidak dapat berdiam diri saja. Karena itu, maka ia telah berusaha untuk memecahkan pusaran yang mengelilingi tubuhnya dan membuatnya pening itu.
Sebenarnyalah bahwa Pangeran Lembu Sabdata memiliki alas ilmu yang sama dengan Putut padepokan itu. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk mempergunakan ilmu yang sama pula.
Dalam cengkaman putaran ilmu Mahisa Pukat, maka Pangeran Lembu Sabdata telah menggerakkan ilmunya sebagaimana Putut itu mampu memanasi udara di sekitarnya.
Mahisa Pukat terkejut ketika ia merasa udara semakin lama menjadi semakin panas. Semula Mahisa Pukat agak kebingungan, apakah yang menyebabkannya. Namun akhirnya iapun menemukan sumbernya. Tentu Pangeran Lembu Sabdata yang berdiri sambil menyilangkan tangannya di dadanya.
Mahisa Pukat bergeser agak menjauh. Tetapi seperti Mahisa Murti, maka iapun telah mengerahkan segenap kemampuan daya tahannya, agar jantungnya tidak meledak oleh panasnya udara.
Namun kekuatan pancaran udara panas itu mampu menerobos daya tahannya dan menyakitinya, sehingga Mahisa Pukat pun kemudian harus bergeser semakin jauh.
Tetapi yang kemudian memburunya adalah Pangeran Lembu Sabdata. Ia merasa bahwa dengan ilmunya itu, ia mampu mengatasi perlawanan Mahisa Pukat.
Tetapi karena Mahisa Pukat juga dari guru yang sama dengan Mahisa Murti, maka iapun mempunyai jalan pikiran yang sama pula dengan Mahisa Murti. Ketika ia sadar, bahwa sumber panas yang memancar itu adalah Pangeran Lembu Sabdata, maka iapun berniat untuk menghancurkan sumbernya sama sekali.
Namun agak berbeda dengan Mahisa Murti. Mahisa Pukat menyadari bahwa ada beban yang harus dipikulnya. Sejauh mungkin ia jangan sampai membunuh lawannya, karena jika terjadi demikian, mungkin Sri Baginda akan menganggapnya bersalah.
Karena itu, maka Mahisa Pukat harus bertempur lebih berhati-hati daripada Mahisa Murti.
Meskipun demikian, Mahisa Pukat tidak ingin dirinya sekedar menjadi sasaran. Karena itu, maka iapun kemudian telah berusaha untuk tiba-tiba menyerang lawannya dengan mengesampingkan perasaan nyeri yang membakar tubuhnya.
Seperti Mahisa Murti, maka usahanya pun berhasil. Mahisa Pukat sempat menyusup dan menembus pertahanan Pangeran Lembu Sabdata. Betapapun perasaan panas menghalanginya, namun Mahisa Pukat dapat mengenai pundak lawannya sehingga Pangeran Lembu Sabdata terdorong surut beberapa langkah.
Mahisa Pukat tidak melepaskan kesempatan itu. Meskipun ia masih merasakan kulitnya bagaikan dipanggang di atas bara, tetapi ia telah memburu lawannya dan menyerangnya sekali lagi.
Pangeran Lembu Sabdata berusaha untuk menghindari serangan-serangan itu. Namun dengan demikian pemusatan nalar budinya pun telah dikoyakkan oleh serangan-serangan Mahisa Pukat itu.
“Anak setan,“ Pangeran Lembu Sabdata mengumpat.
Namun ia benar-benar tidak dapat mengatasi serangan-serangan Mahisa Pukat.
Dengan demikian, maka Pangeran Lembu Sabdata harus melepaskan pemusatan nalar budinya, sehingga ia tidak dapat mempertahankan serangan panasnya atas lawannya.
Mahisa Pukat memang yakin, bahwa lawannya itu tidak akan mampu mempertahankan serangannya. Ternyata bahwa udara pun semakin lama menjadi semakin sejuk kembali. Apalagi angin bertiup agak kencang, sehingga perasaan nyeri pun semakin berkurang pula.
Sementara itu, Mahisa Bungalan yang bertempur melawan Panembahan Bajang, semakin lama menjadi semakin cepat pula. Ternyata bahwa Panembahan Bajang juga seorang yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Meskipun tubuhnya kerdil, tetapi serangannya bagaikan benturan kekuatan himpitan gunung anakan.
“Untunglah kau cekatan,” berkata Panembahan Bajang sambil berloncatan. Ternyata ia memang seorang yang banyak berbicara, ”Jika tidak, kau tentu sudah lumat tersentuh tanganku.”
Namun Panembahan Bajang tidak sempat berbicara lebih panjang ketika Mahisa Bungalan kemudian menyerangnya dengan lontaran kaki menyamping.
“Uh,” berkata Panembahan Bajang. ”Kau jangan main-main. Aku sudah memasuki kekuatan ilmuku yang aku andalkan. Jika kau masih saja berkelakar dengan tata gerakmu, maka kau akan menyesal, karena tiba-tiba saja terasa bahwa jantungmu telah aku rontokkan.”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi ia telah bersiaga sepenuhnya untuk mengatasi keadaan.
Sebenarnya bahwa Panembahan Bajang telah meningkatkan ilmunya sampai ke tataran tertinggi. Ketika perkelahian itu menjadi semakin sengit dan masih belum ada tanda-tanda siapakah yang akan mendesak lawannya, maka Panembahan Bajang mulai menjadi jemu. Karena iapun kemudian mampu bergerak semakin cepat, sementara kekuatannya itupun bagaikan menjadi berlipat.
Mahisa Bungalan harus menyesuaikan diri. Menghadapi lawan yang telah benar-benar menjadi masak, Mahisa Bungalan harus memeras segenap kemampuan yang ada didalam dirinya. Namun karena pengalaman dan bekal Mahisa Bungalan yang berlimpah tertimbun didalam dirinya, maka ia mampu mengimbangi lawannya. Sebelum Mahisa Bungalan berguru kepada Mahisa Agni, maka ia memang sudah memiliki bekal ilmu dari ayahnya. Bahkan sudah sampai pada tataran tertinggi pula. Namun ia mencapai puncak ilmunya justru pada saat ia berguru kepada Mahisa Agni. Namun sebagai seorang yang memiliki pandangan yang luas didasari pengalaman yang bertimbun di dalam dirinya, maka kedua ilmu itu telah luluh sehingga dengan demikian beberapa unsurnya yang berbeda justru dapat saling mengisi dan melengkapi. Dengan demikian ilmu yang dimilikinya justru menjadi semakin mapan dan kaya.
Dengan bekal itulah, maka Mahisa Bungalan telah menghadapi tingkat kemampuan Panembahan Bajang yang semakin memuncak.
Bahkan dalam beberapa hal, Mahisa Bungalan ternyata harus dengan sangat berhati-hati melihat permainan ilmu Panembahan Bajang yang kadang-kadang sangat mengejutkan. Loncatan-loncatan yang tiba-tiba, kadang-kadang memang membuat Mahisa Bungalan berusaha untuk mengambil jarak. Tetapi itu bukan berarti bahwa Mahisa Bungalan telah terdesak.
Bahkan Mahisa Bungalan pun telah mulai memanjat pula pada kemampuan tertingginya. Hampir diluar sadarnya, Mahisa Bungalan telah meningkatkan kemampuannya mendekati puncak kemampuan yang jarang ada duanya. Aji Gundala Sasra.
Tetapi Mahisa Bungalan masih belum ingin melepaskan kemampuan puncaknya itu. Ia masih berusaha untuk mengatasi lawannya dengan ilmunya pada tataran tertinggi. Tetapi jika tidak perlu sekali, maka ia tidak akan melepaskan ilmu puncaknya itu.
Namun dengan demikian, maka pertempuran antara kedua orang itu menjadi semakin cepat dan keras. Panembahan Bajang nampaknya tidak lagi mengekang dirinya. Bahkan, akhirnya Panembahan Bajang yang menjadi marah karena lawannya tidak segera dapat diatasinya itu, telah mulai melepaskan ilmu pada tataran tertingginya pula. Dalam saat-saat serangan Mahisa Bungalan yang perkasa datang membadai, maksud Panembahan Bajang yang yakin akan dapat mengalahkan lawannya yang masih jauh lebih muda daripadanya itu justru telah terdesak. Pada saat Panembahan Bajang menghindari serangan Mahisa Bungalan, maka Mahisa Bungalan tidak membiarkannya.
Ia pun telah sampai pada tataran tertinggi sehingga geraknya menjadi semakin cepat dan mengejutkan. Ketika Mahisa Bungalan kemudian memburunya, maka Panembahan Bajang harus beringsut lagi menghindar. Namun Mahisa Bungalan tidak ingin melepaskannya. Sekali lagi telah melancarkan serangan dengan segenap kekuatannya didorong oleh tenaga cadangan dan lambaran ilmunya.
Serangan itu datang demikian cepatnya, sehingga Panembahan Bajang tidak sempat menghindarinya. Karena itu, maka Panembahan Bajang telah berusaha untuk melindungi dirinya dengan menangkis serangan itu.
Yang terjadi adalah satu benturan yang keras. Dua kekuatan pada tataran tertinggi dari ilmu yang dahsyat telah saling berbenturan. Dengan demikian, maka akibatnya pun telah mengejutkan kedua belah pihak.
Ternyata Mahisa Bungalan yang mengenai Panembahan Bajang yang sengaja menangkis serangan itu, merasa bagaikan menghantam dinding baja. Karena itu, maka ia justru terdorong surut beberapa langkah. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan dan jatuh berguling. Untunglah, ia cepat menguasai diri dan berdiri tegak diatas kedua kakinya.
Namun sementara itu Panembahan Bajang sendiri telah terdorong pula oleh kekuatan Mahisa Bungalan. Tubuhnya yang kerdil itu bagaikan terlempar. Namun Panembahan Bajang itu dengan tangkasnya justru telah melenting dan berputar sambil berguling diatas tanah. Dengan serta merta iapun telah meloncat berdiri dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Pada saat itu Mahisa Bungalan telah tegak pula dengan kokohnya. Bahkan demikian Panembahan Bajang tegak, Mahisa Bungalan telah bersiap untuk menyerangnya. Namun ternyata Panembahan Bajang tidak ingin didahului lagi oleh Mahisa Bungalan. Dengan cepat Panembahan Bajang menggerakkan tangannya, membuka telapak tangannya menghadap ke arah Mahisa Bungalan.
Mahisa Bungalan terkejut. Namun iapun segera menyadari, bahwa Panembahan Bajang telah sampai ke puncak kemampuannya.
Pada saat yang demikian, seakan-akan dari telapak tangan Panembahan Bajang telah meloncat petir yang menyambar Mahisa Bungalan.
Namun Mahisa Bungalan yang sangat berhati-hati menghadapi lawannya yang kerdil itu, sempat melihatnya.
Karena itu, maka iapun telah sempat meloncat menghindar. Namun Panembahan Bajang tidak menghentikan serangannya hanya pada serangan yang pertama. Iapun telah menyusul serangan yang pertama dengan serangan berikutnya, sehingga Mahisa Bungalan harus berloncatan dengan cepat untuk selalu menghindari serangan itu.
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar