Minggu, 27 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 017-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 017-03*

“Kadang-kadang memang dapat keliru” jawab kawannya, “sebelum kau disini, pernah terjadi satu kekeliruan. Seorang yang dituduh pengkhianat telah dibantai disini. Tetapi ternyata ia bukan pengkhianat. Orang itu memang agak kurang waras. Keluarganya yang datang mencarinya, menyesal bukan buatan karena kekeliruan itu. Tetapi apaboleh buat. Semuanya sudah terlanjur”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia yakin, bahwa kesalahan seperti itu pernah terjadi bukan hanya satu kali. Namun dalam keadaan seperti itu, maka kesalahan yang demikian memang sulit untuk dihindari”

Dalam pada itu, seorang yang bertubuh tinggi, tegap dan berkumis lebat telah mendekati orang yang terikat itu sambil membawa sepotong rotan.

“Katakan, siapakah kawan-kawanmu yang ada di daerah ini he? Jika kau menyebut seorang di antara mereka, maka kau tidak akan dipukuli. Kau akan mendapat pengampunan dan perlakuan yang lebih baik. Jika kau menyebut dua orang, maka kau akan dibebaskan dari hukuman apa pun juga. Sedangkan jika kau mau menyebut tiga orang, maka kau justru akan mendapat hadiah dan perlindungan disini”

Orang yang terikat itu sama sekali tidak menjawab. Bahkan matanya bagaikan menyala memandang orang berkumis lebat itu.

“Sebut” geram orang berkumis itu, “Aku akan menghitung sampai tiga”

Orang berkumis itu benar-benar menghitung sampai tiga. Karena orang yang terikat itu tidak menjawab, maka rotannya benar-benar telah terayun dan menghantam tubuh orang itu.

Orang itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia sama sekali tidak mengaduh.

“Setan” geram orang berkumis itu, “kau tidak menangis dan merengek minta am pun he?. Jadi kau benar-benar ingin mati?”

“Persetan” geram orang yang terikat itu, “Kau kira aku cucunguk seperti kau”

“Kau kira kau apa he?”

“Pengkhianat” geram orang berkumis itu.

“Kaulah pengkhianat. Kau sudah berpihak kepada pemberontak” jawab orang itu dengan berani.

Orang berkumis itu marah sekali. Sekali lagi rotannya telah terayunkan menghantam dada orang itu. Orang itu berdesis perlahan. Tetapi wajahnya tetap menyala dan ia sama sekali tidak mengeluh.

Dengan demikian, maka orang berkumis itu menjadai semakin marah. Tiba-tiba saja rotannya telah dilemparkannya. Dengan serta merta ia telah menarik pisau belati di lambungnya.

Sambil menggeram ia berkata dengan suara bergetar oleh kemarahan yang menghentak-hentak didadanya, “Iblis. Kau akan mendapat hukuman picis. Dalam tiga hari kau akan menderita. Pada hari keempat kau baru akan mati”

“Tikus busuk” orang yang terikat itu masih mengumpat, “kau kira kau dapat menakut-nakuti aku”

“Setan” kemarahan orang berkumis itu tidak dapat dikendalikannya lagi. Tiba-tiba saja ia mengangkat pisaunya.

Tetapi ketika pisau itu hampir saja terayun kearah dada orang yang terikat itu, maka terdengar suara lantang, “Jangan. Jangan kau bunuh orang itu”

Orang berkumis itu berpaling. Dilihatnya seorang perwira pengikut Pangeran Kuda Permati mendekatinya sambil berkata, “Orang ini jangan kau bunuh. Aku memerlukannya”

“Mengapa kau tidak berani membunuh aku” geram orang yang terikat itu.

“Sikapmu meyakinkan. Kau tentu benar-benar seorang petugas sandi. Berbeda dengan orang-orang yang merengek-rengek minta ampun. Mereka adalah kelinci-kelinci yang tidak berarti. Aku tidak peduli jika mereka dibunuh dengan cara apapun” berkata perwira itu.

“Kalian memang tidak mempunyai adat sama sekali. Jadi kau sudah sering membunuh orang-orang yang tidak bersalah itu, namun kemudian takut membunuh aku?” orang terikat itu berteriak.

Tetapi perwira itu tertawa. Katanya, “Dalam pergolakan seperti ini memang sering jatuh korban. Justru mereka yang tidak bersalah. Tetapi itu tidak apa-apa. Mereka benar-benar korban yang bernasib buruk. Tetapi diatas pengorbanan mereka akan kita bangun keadaan yang lebih baik”

“Alasan seorang yang biadab” geram orang yang terikat itu, “kalian telah melakukan pembunuhan diluar batas perikemanusiaan. Itu tidak apa-apa jika terjadi atasku atau kawan-kawanku. Tetapi jika terjadi atas orang-orang yang tidak tahu menahu?”

“Itulah yang namanya korban. Dan pengorbanan mereka tidak berarti sia-sia” jawab perwira itu.

“Gila. Satu sikap orang yang sudah tidak waras lagi” suara orang yang terikat itu menjadi gemetar. Namun tiba-tiba saja ia berteriak, “Sekarang, bunuh aku jika kau mempunyai keberanian untuk melakukannya”

Orang berkumis itulah yang tidak sabar. Katanya, “Aku akan membunuhnya”

“Aku ingin melihat ia hidup lebih lama lagi. Baginya kematian adalah jalan yang paling singkat untuk menghindarkan diri kepahitan pada saat-saat terakhirnya” jawab perwira itu.

“Jadi, apakah orang ini akan dibiarkan hidup?” bertanya orang berkumis itu.

“Ya. Justru karena ia benar-benar seorang petugas sandi” jawab perwira itu, “ia akan tetap terikat. Aku berbicara dengan orang itu. Sudahlah semua orang pergi”

Orang berkumis itu termangu-mangu. Namun perwira itu pun kemudian memberikan beberapa isyarat kepada beberapa orang prajurit yang kebetulan ada di sekitar tempat itu untuk mengusir semua orang yang ada di halaman.

Sejenak kemudian, maka para prajurit dan orang berkumis itu pun mulai menyingkirkan orang-orang yang semula mengikuti orang yang terikat itu. Dengan lantang perwira itu menjelaskan, “Aku akan berbicara dengan orang itu. Pergilah. Besok kalian akan mengetahui apa yang akan terjadi dengan orang ini”

Orang-orang yang berkerumun di halaman banjar itu menjadi kecewa. Mereka sudah terbiasa menyaksikan orang-orang yang disebut pengkhianat atau petugas sandi mengalami perlakuan yang kasar dan yang akhirnya dibunuh.Tetapi kali ini justru orang yang paling menjengkelkan, mendapat kesempatan untuk hidup lebih lama.

Tetapi orang-orang itu tidak dapat membantah. Para prajurit minta agar mereka meninggalkan halaman itu.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian halaman itu menjadi sepi. Yang ada di muka regol adalah beberapa orang gembala yang termangu-mangu. Namun akhirnya para gembala itu pun telah meninggalkan halaman itu pula.

Perwira itu kemudian berusaha untuk mendapatkan keterangan dari orang yang terikat itu. Tetapi ternyata bahwa usahanya sia-sia. Orang yang terikat itu sama sekali tidak mau memberikan keterangan apa pun juga, meskipun ia mengalami perlakuan yang sangat berat.

“Kau memang seorang yang berhati tabah” desis perwira itu sambil tersenyum, “kau tentu sudah mendapat latihan yang berat untuk menjadi seorang petugas sandi seperti ini. Agaknya aku memang akan mengalami kegagalan memeras keterangan dari mulutmu. Tetapi aku memang ingin membiarkan kau hidup dan terikat disitu. Besok aku akan menyerahkan kau kepada rakyat. Apa saja yang ingin mereka lakukan atasmu. Kecuali jika kau bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku”

Orang itu sama sekali tidak menjawab, sementara perwira itu tersenyum sambil berkata, “Bagus. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Tinggal aku. Apakah kau akan dapat mengimbangi sikapmu. Apakah aku dapat berbuat seperti kau. Melakukan tugasku dengan baik”

Orang yang terikat itu masih tetap berdiam diri. Dengan gigi gemertak ia memandang perwira itu dengan tajamnya.

“Baiklah” berkata perwira itu, “kau dapat memikirkan nasibmu semalam nanti”

Orang yang terikat itu mengumpat. Tetapi perwira itu sama sekali tidak menghiraukannya. Dibiarkan saja orang yang terikat itu berkata apa saja.

Baru kemudian, ketika orang itu sendiri, wajahnya yang keras telah menunduk. Tubuhnya yang penuh dengan luka dan goresan-goresan senjata dan rotan itu terasa sangat pedih. Titik-titik keringatnya membuatnya luka-lukanya bagaikan tersiram air.

Tetapi orang yang terikat itu memang seorang prajurit sandi. Itulah sebabnya, maka ia tetap pada sikapnya. Karena bagi seorang petugas sandi, mati adalah batas yang memang sudah disadari sebelumnya.

Ketika petugas sandi itu memandang ke pendapa banjar, dilihatnya beberapa orang duduk berjaga-jaga. Di regol halaman, para peronda berjalan hilir mudik.

Beberapa orang sibuk menyalakan obor di beberapa tempat ketika kemudian, malam turun. Sementara di pendapa lampu minyak pun telah menyala pula.

Petugas sandi itu masih tetap terikat di sebatang tonggak di tengah-tengah halaman. Ia tidak merasa betapa kerongkongannya menjadi kering oleh kehausan. Yang terasa adalah kemarahan dan kebencian yang menghentak-hentak didalam dadanya.

Namun petugas sandi itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Tangannya sudah terikat pada sebatang tonggak dengan kuatnya. Betapa pun ia menghentakkan ilmunya, tali pengikat itu tidak akan putus karenanya.

Wajah petugas sandi itu menjadi tegang ketika ia melihat ampat orang mendekatinya. Seorang di antara mereka membawa obor yang menyala.

Beberapa langkah dihadapannya empat orang itu terhenti. Salah seorang di antara mereka adalah perwira yang memerintahkan untuk membiarkannya hidup. Dengan demikian, maka perwira itu akan berusaha untuk memeras keterangan dari mulutnya.

“Ki sanak” berkata perwira itu, “kau sudah mendapat kesempatan untuk berpikir tentang dirimu sendiri. Apakah kau lebih senang mukti bersama kami, atau mati terkapar di halaman banjar ini”

Petugas sandi itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia sudah bertekad sebagaimana ia mendapat tempaan lahir batin untuk menjalankan tugasnya sebaik-baiknya. Dan tugasnya yang terakhir yang harus ia tunaikan setelah ia terikat pada tonggak itu adalah merahasiakan dirinya sendiri dan orang-orang yang pernah dikenalnya.

Apapun yang terjadi atas dirinya, petugas sandi itu tidak akan membuka mulutnya.

“Ki Sanak” berkata perwira yang mendekatinya itu, “seharusnya kau tidak mengeraskan hatimu pada sikap yang salah itu. Kau tahu, bahwa kita adalah bangsa yang besar yang memiliki masa lampau yang kita kagumi bersama. Karena itu, kenapa kita tidak berusaha untuk mendapatkan kembali kebesaran itu”

Petugas sandi itu masih tetap berdiam diri.

“Ki Sanak” berkata perwira itu sambil mengambil obor di tangan seorang pengawalnya, “Kenapa kau tidak mau bekerja bersama kami? Jangan keras kepala. Kau masih belum terlalu tua. Kau masih dapat menikmati hidup ini untuk waktu yang panjang dalam keadaan yang lebih baik, daripada kau harus mati terkapar di halaman banjar ini dalam keadaan yang menyedihkan. Karena besok aku tentu tidak akan dapat mencegah lagi kemarahan rakyat yang akan mencincangmu. Mereka akan minta kau dilepaskan di antara rakyat yang marah. Kau dapat membayangkan, bagaimana cara mereka membunuhmu besok. Kecuali jika kau mau bekerja bersama kami, maka kami akan melindungi kalian dari kemarahan orang-orang yang dapat menjadi buas itu”

Petugas itu tetap berdiam diri. Sementara perwira itu berjalan maju semakin dekat. Katanya, “Aku ingin melihat wajahmu yang keras dan menyala lebih besar dari obor ini.

Tiba-tiba perwira itu mengacukan obor itu kedepan wajah petugas sandi yang terikat itu. Demikian dekatnya, sehingga dengan gerak naluri, petugas sandi itu memalingkan wajahnya yang serasa telah terbakar oleh panasnya api itu.

Perwira itu tertawa. Katanya, “Api memang panas. Jika ia menyentuh wajahmu, maka wajahmu akan segera berubah ujudnya. Wajahmu akan terbakar dan mungkin matamu akan menjadi buta. Kau akan kehilangan kesempatan untuk melihat betapa hijaunya dedaunan dan betapa gemerlapnya bintang dilangit. Dalam keadaan yang demikian, besok kau akan dibunuh beramai-ramai di halaman banjar ini”

Petugas sandi itu hanya dapat, menggeretakkan giginya. Ia sama sekali tidak berdaya berbuat apa-apa atas tali yang kuat yang membelit tangannya.

“Kau masih mempunyai waktu” berkata perwira itu, “aku akan datang lagi tengah malam. Kau akan mendapat kesempatan terakhir sebelum aku mengambil keputusan tentang dirimu”

Sekali lagi perwira itu mendekatkan api obornya ke wajah orang yang terikat itu, dan sekali lagi orang yang terikat itu memalingkan wajahnya dari api yang terasa hampir menyentuh kulit wajahnya.

Namun dadanya hampir saja meledak ketika ia kemudian mendengar perwira itu tertawa berkepanjangan. Katanya disela-sela derai tertawanya, “Kau masih sayang pada wajahmu? Kenapa tidak kau biarkan saja wajahnya terbakar dan menjadi hitam. Atau barangkali perutmu?”

Yang dapat dilakukan oleh orang yang terikat itu hanyalah menggeram. Namun tangannya tetap terikat dengan eratnya.

Yang kemudian tertawa bukan saja perwira itu. Tetapi pengawalnya pun tertawa pula. Rasa-rasanya orang yang terikat itu ingin meloncat menerkam. Namun tali pengikatnya terlalu erat dan kuat, sehingga ia tidak mampu untuk melepaskan dirinya.

“Baiklah” berkata perwira itu, “masih ada waktu. Jika besok pagi-pagi kau masih tetap keras kepala seperti ini, maka kau akan kami serahkan kepada orang banyak. Entahlah, apa jadinya kau dengan tubuhmu. Tetapi agaknya itulah yang kau pilih sebagai jalan kematianmu”

Orang yang terikat itu sama sekali tidak menjawab. Ketika perwira itu kemudian meninggalkannya, terdengar giginya gemeretak menahan marah.

Sejenak kemudian halaman itu pun menjadi sepi. Perwira itu sempat singgah sebentar di gardu di regol halaman. Kepada para peronda ia berkata, “Berhati-hatilah. meskipun orang itu terikat, namun kalian harus mengawasinya baik-baik. Ia orang yang sangat berbahaya. Mungkin nilainya lebih dari sepuluh orang di antara kalian”

Pemimpin peronda itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “kami akan berbuat sebaik-baiknya. Yang menjaga halaman ini bukan hanya berkumpul di regol ini. Di setiap sudut di tempatkan dua orang penjaga berganti-ganti”

“Jangan ajari aku” jawab perwira itu, “dimana pun penjaga itu berada, bukankah kendalinya ada di gardu ini?”

Penjaga itu mengangguk kecil. Jawabnya sambil menunduk, “Ya. Demikianlah agaknya”

“Karena itu, aku berpesan kepada kalian. Hati-hatilah” berkata perwira itu, “di banjar ada beberapa orang prajurit. Jika kalian memerlukan bantuannya, kalian dapat memanggilnya. Bahkan jika perlu panggil aku”

Peronda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kami akan melakukannya”

Perwira itu pun kemudian meninggalkan para peronda di regol. Namun agaknya ia kurang mempercayai para peronda itu. Karena itu, maka ia telah memerintahkan prajurit-prajuritnya yang ada di banjar itu untuk membantu para peronda bergantian.

“Kalian berganti-ganti tidak perlu beranjak dari gardu itu. Kau awasi orang yang terikat itu dari gardu. Biarlah yang nganglang para peronda. Karena itu, maka setiap saat harus ada seorang di antara kalian di gardu itu” perintah perwira itu.

Para prajurit pun kemudian mengatur diri untuk bergantian berada di gardu. Sehingga dengan demikian, maka pemimpin peronda itu merasa menjadi lebih tenang mengawasi seorang yang dianggap sangat penting karena orang itu adalah petugas sandi dari Kediri.

Dalam pada itu, maka para peronda pun telah mengatur tugas mereka sebaik-baiknya. Di setiap sudut diletakkan dua petugas yang mengamati keadaan. Sementara itu masih ada beberapa orang yang mengelilingi halaman banjar itu pada saat-saat tertentu.

Dalam pada itu, maka malam pun semakin lama menjadi semakin dalam. Perwira yang berada di banjar itu sudah membaringkan dirinya. Ia mulai menjadi tenang, setelah ia memerintahkan setiap saat, seorang prajuritnya untuk berada di gardu mengawasi orang yang terikat itu. Dengan demikian maka pengawasan sudah dilakukan sebaik-baiknya, sementara para peronda-peronda pun di setiap malam jumlahnya cukup banyak, apalagi malam itu, di saat di halaman terikat seorang yang mereka sebut sebagai pengkhianat. Jumlah peronda pun telah dilipatkan.

Demikianlah, malam pun menjadi semakin malam. Angin yang basah bertiup semilir. Udara terasa demikian segarnya, sehingga para prajurit, peronda dan orang-orang lain pun mulai disentuh oleh perasaan kantuk. Bahkan perwira yang berada didalam biliknya, yang merasa menjadi tenang karena ia sudah menugaskan bukan saja para peronda, tetapi juga prajurit-prajuritnya yang ada di banjar itu untuk berjaga-jaga, telah tertidur pula dengan nyenyaknya.

Perlahan-lahan bintang di langit pun mulai bergeser ke-barat, melampaui puncak langit dan turun perlahan-lahan. Tidak ada bulan sama sekali. Tetapi bintang nampaknya menjadi semakin cemerlang.

Angin yang segar bertiup semakin lama terasa menjadi semakin merata. Bukan hanya di halaman, di pendapa dan di kebun banjar. Tetapi di bilik-bilik. di dalam gardu dan di regol pun angin menyentuh tubuh para peronda.

Ternyata baik para peronda, mau pun para prajurit yang telah mengatur diri bergantian untuk berjaga-jaga, telah kehilangan kesadaran mereka. Mereka ternyata tidak dapat melawan perasaan kantuk yang mencengkam mereka dengan kuatnya.

Seorang demi seorang, para peronda pun telah jatuh tertidur. Mereka yang berada disudut-sudut halaman sama sekali tidak mampu bertahan lagi. Prajurit yang sedang bertugas di gardu berusaha untuk membangunkan setiap orang yang tertidur, tetapi prajurit itu sendiri pun akhirnya tertidur pula.

Sejenak kemudian, maka banjar itu pun menjadi semakin sepi. Tidak seorang pun lagi yang mampu bertahan melawan kantuknya. Semua orang telah tertidur nyenyak.

Tetapi yang terikat itu tidak tertidur. meskipun ia pun merasakan segarnya udara di malam hari, sehingga perasaan pedih pada luka-lukanya berkurang, namun perasaan sakit itu masih menderanya, sehingga betapapun perasaan kantuk itu mengganggunya, namun setiap kali ia masih saja berdesis menahan pedih.

Dalam keadaan yang demikian itulah, maka nampak beberapa sosok bayangan mendekati dinding halaman. Perlahan-lahan mereka memanjat dinding dan memperhatikan keadaan di dalam halaman itu.

Ternyata bahwa keadaan di dalam halaman dan di dalam banjar telah menjadi sepi. Orang-orang yang datang itu yakin, bahwa tidak ada seorang pun lagi yang masih terbangun di antara para petugas dan para peronda.

“Marilah” desis yang seorang, “kita segera bertindak”

Tidak ada jawaban. Namun kemudian orang-orang yang ternyata berjumlah tiga orang itu telah berloncatan masuk. Perlahan-lahan mereka mendekati tonggak di tengah-tengah halaman, tempat petugas sandi itu terikat.

Petugas sandi yang terikat itu memang tidak tidur meskipun ia merasakan pula sesuatu yang asing. Namun karena sakit ditubuhnya, maka ia tetap terjaga, sehingga dengan demikian ia pun melihat tiga orang mendekatinya.

Seorang dari ketiga orang itu pun kemudian berdiri menghadap ke pendapa, membelakangi orang yang terikat itu untuk mengawasi keadaan, sementara kedua orang yang lain mendekati orang yang terikat itu sambil berdesis, “Kau benar petugas sandi dari Kediri?”

Orang itu memandangi keduanya berganti-ganti. Namun kemudian ia pun berdesis, “ Apakah kau membawa bintang?”

“Jangan sebut kalimat sandi” desis yang seorang, “kami tidak akan mengerti, karena kami memang bukan petugas sandi. Kami melakukan hal ini hanya karena kami menganggap perjuangan menegakan pemerintahan,

“Baik” berkata petugas sandi itu, “tetapi kau yakin bahwa kau juga berhubungan dengan tugas-tugas sandi. Tetapi agaknya benar, bahwa kau bukan petugas sandi dari Kediri. Namun agaknya kalian bertiga adalah justru petugas sandi dari Singasari, sehingga kalian tidak mengerti kalimat sandi para petugas dari Kediri”

“Sudahlah” berkata salah seorang dari kedua orang yang mendekatinya itu, “Yang penting bagi kami, kau dapat terlepas dari tangan Pangeran Kuda Permati, meskipun kami belum pernah melihat, yang manakah yang disebut Pangeran Kuda Permati itu”

“Terima kasih” jawab orang itu, “Aku akan melaporkan bahwa aku sudah mendapat pertolongan dari para petugas sandi dari Singasari. Aku yakin. Kalian tentu bukan orang kebanyakan, karena kalian sempat melepaskan aji yang kuat ini. Bukankah kalian telah menyebarkan sirep sehingga sema orang tertidur?”

“Jangan sebut-sebut siapa kami, karena dengan demikian kau dapat keliru. Sekarang ijinkan kami membuka ikatanmu” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

Orang yang terikat itu tidak menyahut. Ia membiarkan saja tangannya dilepaskan dari ikatan yang kuat. Dengan sebilah pisau yang sangat tajam, salah seorang dari mereka yang menolongnya itu telah memutuskan talai ikatannya.

Demikian tali itu terputus, maka orang itu pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Aku mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan kita akan dapat bekerja bersama untuk seterusnya”

“Kita akan berpisah sampai di sini” berkata orang yang menolongnya itu.

“Tetapi darimana kau tahu, bahwa aku adalah petugas sandi dari Kediri?” bertanya orang itu.

“Sikapmu” jawab salah seorang yang menolongnya.

Orang itu mengangguk-angguk. Perasaan sakit dan pedih pada tubuhnya seakan-akan menjadi jauh susut, meskipun sekali-sekali ia masih harus berdesis.

“Sekarang, silahkan meninggalkan tempat ini sebelum mereka terbangun” berkata orang yang menolongnya.

Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Aku tahu, bahwa dalam keadaan seperti ini bukannya sifat seorang kesatria jika aku membunuh mereka yang tertidur nyenyak. Tetapi, aku masih ingin memberikan satu pertanda kepada perwira yang telah mengancam aku akan menyerahkan aku kepada rakyat besok”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya orang yang menolongnya.

“Mengikatnya dalam tidur” jawab orang itu, “percayalah bahwa aku tidak akan membunuhnya”

Orang yang menolong itu tidak mencegahnya. Dengan demikian orang yang di tubuhnya terdapat luka di beberapa tempat itu telah mencari seutas tali. Dengan hati-hati ia memasuki banjar dan mencari perwira yang memimpin prajurit Pangeran Kuda Permati di banjar itu untuk kemudian mengikatnya dengan amben tempatnya berbaring. Namun orang yang telah disakiti itu agaknya benar-benar ingin membuat perwira itu berdebar-debar, karena ia pun kemudian mengambil keris yang terdapat dibawah alas kepalanya. Menariknya dari wrangkanya dan meletakan keris itu di dadanya dengan tajamnya menghadap ke arah hidung perwira itu.

Baru kemudian orang itu meninggalkan banjar sambil membawa tali yang telah diputus dengan pisau yang semula mengikat tangan orang itu.

“Untuk apa tali itu kau bawa?” bertanya orang yang menolongnya.

Orang itu tersenyum saja. Namun orang-orang yang menolongnya itu mengetahui, bahwa orang itu akan menghilangkan kesan bahwa ia telah ditolong oleh seseorang, melihat tali yang yang terputus oleh senjata.

Dengan demikian maka sejenak kemudian sejenak halaman itu telah menjadi semakin sepi. Empat orang dengan diam-diam meninggalkan halaman itu. Namun sekali-sekali orang yang tertolong itu masih juga berdesis menahan pedih di tubuhnya.

Meski pun demikian, keempat orang itu belum berarti terbebas sama sekali dari kemungkinan lain yang dapat terjadi. Semakin jauh dari halaman banjar, pengaruh sirep itu menjadi semakin tipis. Karena itu, maka di gardu-gardu di ujung-ujung lorong, para peronda tetap merupakan bahaya bagi keempat orang itu.

Dengan sangat berhati-hati keempat orang itu telah memilih jalan. Sebagaimana ketiga orang itu memasuki padukuhan, maka demikian pula mereka keluar. Namun agaknya petugas sandi yang terluka di seluruh tubuhnya itu mengalami sedikit kesulitan ketika mereka meloncat dinding padukuhan.

Namun akhirnya mereka pun selamat sampai di luar dinding tanpa diketahui oleh para peronda.

Tetapi mereka pun sadar, bahwa mereka masih belum bebas sepenuhnya. Mereka masih tetap berada di dalam lingkungan yang berbahaya. Karena itu, maka mereka pun kemudian dengan secepat-cepatnya berusaha menjauhi padukuhan itu.

Dalam pada itu, sambil berjalan di pematang, petugas sandi yang telah dibebaskan itu beberapa kali telah mengucapkan terima kasih. Namun beberapa kali ia berusaha untuk mengetahui orang-orang yang menolongnya, namun ketiga orang itu sama sekali tidak menyebut tentang diri mereka.

“Yang kami lakukan adalah satu kewajiban siapa pun kami” berkata salah seorang dari ketiga orang itu.

Petugas sandi yang dibebaskan kemudian tidak mendesak lagi- Agaknya ketiga orang itu benar-benar tidak ingin diketahui siapakah sebenarnya mereka.

Namun dalam pada itu, petugas sandi yang terluka di seluruh tubuhnya itu berdesis, “Maaf Ki Sanak. Aku tidak dapat berjalan secepat kalian. Namun bukan berarti bahwa kalian harus menunggu aku. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Selanjutnya, jika kalian ingin berjalan lebih dahulu, silahkan. Aku akan berusaha untuk mencari jalan sendiri. Bukan karena aku tidak mau bersama kalian, tetapi sebenarnyalah tubuhku sudah terlalu lemah”

Salah seorang dari ketiga orang yang menolongnya itu menjawab, “Aku mengerti keadaanmu Ki Sanak. Baiklah kita baristirahat sejenak. Agaknya kita memang sudah cukup jauh. Rasa-rasanya aku mendengar suara aliran sungai”

“Jika demikian, marilah Ki. Sanak. Kita mencoba, mengobati luka-luka di tubuhmu. Mungkin tidak sempat untuk berbuat lebih banyak dari sekedar mengurangi rasa sakit dan sedikit menambah daya tahan. Baru besok dan seterusnya kau dapat berobat lebih baik lagi”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih”

Demikianlah, keempat orang itu pun kemudian menuju ke sebatang sungai yahg tidak begitu besar. Dalam kegelapan malam mereka mencari sebuah belik di sepanjang tepi sungai itu untuk mendapatkan air jernih.

Akhirnya mereka mendapatkannya juga. Dengan air itu, maka salah seorang dari ketiga orang yang menolong itu telah mencairkan sejenis serbuk dari sebuah tabung kecil dengan daun talas yang terdapat dipinggir sungai itu.

“Mungkin terasa pedih Ki Sanak” berkata orang itu, “tetapi mudah-mudahan akan bermanfaat”

Sebenarnyalah ketika obat itu diusapkan pada luka-luka yang terdapat di seluruh tubuhnya, terasa luka-luka itu bagaikan menyengat. Pedih dan panas. Beberapa saat lamanya orang itu menggeliat menahan perasaan pedih sambil berdesis. Namun lambat laun perasaan pedih itu pun semakin susut. Apalagi ketika kemudian ia pun telah minum sejenis obat yang lain, yang juga dicairkan dengan air dari belik kecil dipinggir sungai itu.

Untuk beberapa saat mereka menunggu sambil beristirahat. Sementara malam pun merambat mendekati akhir.

“Ki Sanak” berkata petugas sandi itu, “kalian telah memberikan satu pertolongan yang utuh. Bukan saja aku telah terbebas dari kematian, tetapi kalian juga telah mengobati luka-lukaku. Agaknya tidak ada cara yang dapat aku pergunakan untuk menyatakan perasaan terima kasih”

“Sudahlah” berkata salah seorang dari ketiga orang yang menolongnya, “jika keadaanmu sudah menjadi lebih baik, marilah kita teruskan perjalanan ini. Kita harus keluar dari wilayah kuasa Pangeran Kuda Permati”

“Jaraknya sudah tidak terlalu jauh” berkata orang itu, “sebenarnyalah aku memang seorang petugas. Aku mengenal daerah ini dengan baik. Beberapa saat lagi, aku sudah akan memasuki satu padukuhan yang dapat memberikan perlindungan kepadaku meskipun padukuhan itu masih termasuk kuasa Pangeran Kuda Permati secara bayangan.

Namun demikian keempat orang itu pun kemudian meneruskan perjalanan mereka. Dengan hati-hati mereka naik keatas tebing sungai menuju ke padukuhan yang disebut oleh orang yang terluka itu.

Namun sementara itu, di banjar padukuhan yang telah mereka tinggalkan terjadi kegemparan yang luar biasa. Perwira yang terikat tangannya itu telah terbangun ketika kekuatan sirep menjadi semakin lenyap.

Betapa ia terkejut mengalami peristiwa yang tidak pernah diduganya, meskipun hanya dalam mimpi. Ternyata tangannya sudah terikat dan sebilah keris terletak di dadanya. Ujungnya menghadap ke hidungnya.

“Gila” geram perwira itu. Dengan susah payah ia berusaha memiringkan tubuhnya, sehingga keris itu terjatuh dari dadanya.

Baru setelah keris itu jatuh, perwira itu berteriak memanggil prajurit-prajuritnya.

Suara perwira itu memang telah membangunkan prajurit-prajuritnya yang sudah terbebas dari pengaruh sirep.

Berlari-lari mereka menuju ke bilik perwira yang memanggil mereka.

Dengan jantung yang berdebar-debar mereka melihat perwiranya yang masih terikat, dan sebilah keris yang sudah telanjang tergolek disisinya.

“Apakah yang sudah terjadi?” bertanya seorang prajurit.

“Lepaskan dahulu ikatan keparat ini” geram perwira itu.

Para prajurit pun menjadi sibuk melepaskan ikatan itu. Dan demikian ikatan itu terlepas, maka prewira itu pun segera meloncat dari pembaringan dan beteriak, “Lihat, apa iblis itu masih terikat ditonggak.

Tidak seorang pun yang semula teringat kepada petugas sandi yang terikat. Demikian mereka mendengar perintah itu, maka mereka pun segera berlarian ke halaman, sementara perwira itu sempat memungut keris yang ternyata adalah keris sendiri.

“Setan alas” geram perwira itu sambil berlari menyusul para prajurit ke halaman.

Jantung perwira itu hampir meledak ketika ia melihat satu kenyataan, bahwa orang yang terikat di tonggak di-tengah-tengah halaman itu sudah tidak lagi. Petugas sandi itu sudah hilang.

Tidak banyak bekas-bekas yang dapat memberikan petunjuk.

Bahkan tali pengikat tangan petugas sandi itu pun tidak ada lagi di sekitar tonggak itu.

“Di mana para peronda he?” teriak perwira itu. Berlari-lari prajurit-prajurit yang kebingungan itu pergi ke gardu. Ternyata semua orang yang ada di dalam gardu itu masih tertidur nyenyak, termasuk seorang prajurit yang sedang bertugas.

Kemarahan perwira itu memuncak sehingga ia tidak membangunkan orang-orang yang tertidur itu. Tetapi ia langsung memukul kentongan yang tergantung di serambi gardu itu.

Orang-orang yang tertidur itu terkejut mendengar suara kentongan yang dipukul sekeras-kerasnya. Demikian mereka terbangun, muka mereka pun menjadi bingung.. Apa yang sebenarnya telah terjadi. Bahkan ada di antara anak-anak muda itu yang tidak tahu, di mana sebenarnya ia sedang berada.

Baru ketika pewira itu membentak-bentak mereka baru sadar.

Serentak mereka menghambur ke halaman. Dan serentak jantung mereka berdenyut keras. Tawanan vang terikat itu sudah tidak ada di tempatnya. Hilang tanpa bekas. Tanpa se-orang pun yang mengetahui.

Dalam pada itu bunyi kentongan yang tidak biasa itu menumbuhkan kebingungan di gardu-gardu yang lain. Karena itu, hampir setiap gardu telah mengirimkan beberapa orang untuk datang ke banjar, karena mereka dapat mengenal bahwa suara kentongan yangberbunyi keras-keras dengan suara yang lain itu adalah kentongan di banjar.

Akhirnya berita hilangnva tawanan yang terikat di tonggak itu telah tersebar di penjuru padukuhan. Dengan marah perwira itu telah memerintahkan beberapa orang prajurit untuk mencarinya.

Sejenak kemudian, lima orang berkuda telah meninggalkan banjar. Tiga orang prajurit dan dua orang anak muda.

Sejenak kemudian, kuda-kuda itu sudah berderap. Mereka berusaha untuk menemukan orang yang tidak mereka ketahui, kearah mana orang itu lari.

Meskipun demikian para prajurit itu dapat menerka, bahwa orang itu tentu akan menuju ke arah daerah yang berada di luar pengaruh bayangan kekuasaan Pangeran Kuda Fermati. Karena itu, maka kuda mereka pun berpacu kearah itu.

Tetapi ternyata mereka tidak melihat seorang pun di jalan-jalan yang mereka lalui. Sehingga akhirnya mereka telah bersepakat untuk membagi kelampok kecil itu menjadi dua bagian. Sekelompok terdiri dari dua orang sementara kelompok yang lain terdiri dari tiga orang. Kelompok yang terdiri dari dua orang, semuanya terdiri dari prajurit-prajurit Kediri sedangkan yang tiga orang, dua di antara mereka adalah anak-anak muda padukuhan itu.

“Petugas sandi itu hanya seorang” berkata prajurit yang tertua di antara mereka, “ apalagi orang itu sudah termica parah. Ia tidak akan dapat berbuat banyak seandainya kita dapat menjumpainya.

Sejenak kemudian, maka prajurit-prajurit dan kedua anak muda itu pun telah berpacu kearah yang berbeda.

Meskipun demikian, ternyata mereka tidak menemukan orang yang mereka cari.

“Orang itu akan dengan mudah bersembunyi jika ia mendengar derap kaki kuda” berkata prajurit yang seorang kepada kawannya.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu saja. Demikian ia mendengar derap kaki kuda, maka ia akan dapat menyuruk ke bawah gerumbul-gerumbul.

“Pencaharian ini tidak ada gunanya” berkata kawannya.

Ternyata usaha mereka memang sia-sia. Ternyata empat orang yang sedang menyingkir itu memang mendengar derap kaki kuda.

Tetapi mereka sempat menelungkup di pematang. Dan orang berkuda itu tidak sempat melihat mereka.

Dalam pada itu, sebentar kemudian langit sudah menjadi semakin cerah, sementara petugas itu pun berkata, “Sudahlah. Terima kasih. Aku sudah sampai ke padukuhan yang aku tuju.”

Ketiga orang yang telah menolong itu pun kemudian menyadari pula bahwa fajar hampir menyingsing. Karena itu, maka salah seorang di antara mereka berkata, “Baiklah. Kita berpisah sampai disini. Mudah-mudahan kita masing-masing mendapatkan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Agung”.

Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Agaknya ada sesuatu yang ingin ditanyakannya. Tetapi niatnya diurungkan, karena ia menyadari bahwa pertanyaannya tidak akan mendapatkan jawaban sebagaimana dikehendakinya.

Namun yang kemudian diucapkannya adalah, “Kita akan berpisah sebagaimana kita belum pernah bertemu.

Ketiga orang yang menolongnya termenung sejenak. Tetapi yang tertua di antara mereka tersenyum. Katanya, “Kita telah pernah bersentuhan dalam tugas. Silahkan melakukan sebagaimana harus kau lakukan.

“Terima kasih. Tetapi sikap kalian memberikan satu keyakinan bahwa kalian adalah orang-orang Singasari. Tetapi seandainya aku salah, maka setidak-tidaknya kalian bukan orang yang berpihak kepada Pangeran Kuda Permati.

“Begitulah” jawab yang tertua di antara ketiga orang itu, “Kita berpisah sampai di sini, sebentar lagi hari menjadi pagi.

Demikianlah akhirnya mereka pun berpisah. Petugas sandi itu menuju ke sebuah padukuhan yang dikatakannya akan dapat memberikan perlindungan kepadanya, meskipun padukuhan itu masih tetap berada dalam bayangan kekuasaan Pangeran Kuda Permati.

Sepeninggal orang itu, maka ketiga orang yang menolongnya itu pun telah dengan tergesa-gesa pula meninggalkan tempatnya menuju ke sebuah padukuhan yang agak jauh. Karena itu, maka langkah mereka pun dipercepat ketika langit menjadi semakin cerah. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak langsung pergi ke padukuhan itu. Mereka sempat singgah di sebuah mata air, mencuci muka dan membenahi pakaiannya, kemudian langsung menuju ke sebuah pasar hewan di sebuah padukuhan yang hari itu akan ramai dikunjungi para pedagang, karena hari pasaran.

Ternyata bahwa tiga orang itu sudah terbiasa di antara para pedagang ternak. Mereka sudah mempunyai banyak kawan di antara para pedagang itu.

Untuk beberapa saat ketiga orang itu sibuk berbincang dengan para pedagang tentang beberapa jenis ternak yang terdapat di pasar itu.

“Kau tidak membawa dagangan hari ini?” bertanya salah seorang pedagang kepada orang tertua di antara ketiga orang itu.

“Aku akan mencari dagangan hari ini jika ada yang harganya agak murah. Aku sudah tidak mempunyai persediaan di rumah” jawab orang itu.

Kawannya mengangguk-angguk. Kemudian ditunjukkan nya beberapa ekor kerbau yang masih muda.

Namun dalam pada itu, selagi pasar itu mulai bertambah sibuk, tiba-tiba saja terjadi kegemparan yang membuat orang-orang di dalam pasar itu kebingungan.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka menyadari keadaan setelah semua pintu dijaga oleh beberapa orang prajurit. Sementara beberapa orang yang lain telah memasuki pasar itu sambil berteriak, “Jangan ada yang berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakai kalian sendiri.

Semua orang seakan-akan telah membeku di tempatnya. Beberapa orang prajurit itu menyusup di antara orang-orang yang sedang di pasar itu. Mereka mengamati setiap orang dengan saksama.

“Kami mencari seseorang” geram prajurit itu.

Tidak seorang pun yang menjawab. Mereka yang ada di dalam pasar itu hanya dapat berdiri termangu-mangu. Sementara para prajurit itu telah mengacu-acukan senjata mereka.

“Siapa yang menyembunyikan orang yang aku cari, akan ikut dianggap bersalah, “ teriak seorang prajurit.

Namun dala pada itu, seseorang telah memberanikan diri bertanya, “Siapakah yang tuan-tuan cari?”

“Seorang pengkhianat” jawab prajurit itu, “kemarin orang itu sudah kami tangkap dan kami bawa ke banjar. Tetapi setan itu sempat melarikan diri.

Orang yang bertanya itu mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “ Bagaimana dengan ciri-ciri orang itu? Mungkin kami dapat membantunya.”

“Orang itu sudah terluka pada tubuhnya. Luka yang cukup parah. Namun ia masih sempat melarikan diri” jawab prajurit itu. Lalu, “Karena itu, siapa yang melihat seseorang yang terluka parah, harus menyerahkannya kepada kami.

Ketiga orang yang menolong petugas sandi itu hanya saling berpandangan. Tetapi mereka tidak mengatakan sesuatu.

Tetapi prajurit-prajurit itu tidak menemukan seseorang yang disebutnya sudah terluka parah. Yang semalam telah melarikan diri dari banjar.

Karena prajurit-prajurit itu tidak menemukan yang mereka cari, maka mereka pun menjadi kasar. Mereka sudah mencari tidak hanya di pasar itu. Tetapi sudah di-beberapa tempat.

Namun mereka tidak menemukannya. Padukuhan-padukuhan telah mereka masuki pintu demi pintu. Namun orang yang mereka cari tidak mereka ketemukan.
Orang-orang di dalam pasar itu menjadi gelisah. Bahkan Prajurit-prajurit itu mulai mendorong, membentak dan bahkan memukul orang-orang yang dianggap mengganggu usaha mereka mencari tawanan yang hilang. Namun usaha mereka tetap sia-sia.

Sementara itu, di sebuah padukuhan yang lain, beberapa prajurit telah memasuki rumah demi rumah. Para prajurit itu sadar, bahwa padukuhan itu merupakan padukuhan yang sangat rawan. Karena itu, mereka dengan sungguh-sungguh telah memeriksa rumah-rumah dengan sangat teliti.

Dalam pada itu, seorang perempuan tua yang terbongkok-bongkok tengah melayani beberapa orang yang sedang menggeledah rumahnya. Rumahnya yang tidak seberapa, yang terdiri dari sebuah rumah dan sebuah kandang yang dihuni oleh beberapa ekor kambing.

“Kau sembunyikan pengkhianat itu he?” bentak seorang prajurit.

Perempuan itu termangu-mangu. Tetapi kemudian ia bertanya dengan suaranya yang terbata-bata, “Tuan-tuan mencari siapa?”

”Seorang pengkhianat, “ teriak seorang prajurit.

“O” Perempuan itu mengangguk-angguk.

“Apa?” bertanya prajurit itu. Perempuan itu menjadi bingung.

“Perempuan gila” geram seorang prajurit, “marilah. Kita cari di rumah yang lain.

Prajurit-prajurit itu meninggalkan rumah perempuan tua yang agak tuli itu. Meskipun demikian, mereka masih sempat menengok kedalam kandang yang berisi beberapa ekor kambing.

Namun demikian para prajurit itu pergi, maka perempuan tua itu tidak lagi terbongkok-bongkok. Ia berdiri di depan kandang sambil bergumam, “Mereka telah pergi”

Seonggok jerami kering pun terkuak. Seseorang menjengukkan kepala dari antara jerami kering itu. Katanya, “Tetapi mungkin mereka masih akan lewat halaman ini. Hati-hatilah.”

Perempuan itu mengangguk-angguk. Jerami itu telah menutup kembali. Dan kepala itu pun hilang didalam onggokkan jerami di atas kandang itu.

Dalam pada itu, maka perempuan tua itu telah kembali menjadi terbongkok-bongkok. Ia sadar, bahwa ia harus melakukan peranannya sebaik-baiknya. Yang akan mengamati tingkah lakunya bukan saja para prajurit yang berada di bawah pengaruh Pangeran Kuda Permati, tetapi juga orang-orang di sekitarnya, yang dengan tanpa malu-malu telah menjilat para prajurit yang berada dibawah pengaruh Pangeran Kuda Permati.

Dalam pada itu, petugas sandi yang tubuhnya sudah terluka parah itu tetap bersembunyi di dalam kandang, di atas kambing-kambing yang tidak tahu menahu apa yang telah terjadi di sekitarnya.

Menurut rencana petugas sandi itu, malam nanti ia baru akan meninggalkan tempat persembunyiannya. Sementara luka-lukanya menjadi berangsur baik. Ternyata obat yang diberikan oleh orang yang menolongnya itu benar-benar dapat memperingan penderitaannya. Lukanya tidak lagi terasa pedih. Bahkan ketahanan tubuhnya serasa sudah pulih kembali.

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...