Selasa, 22 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 011-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 011-02*

Karena itu, maka ia pun menjadi sangat berkepentingan untuk membakar hati Ki Sendawa. Ia tidak peduli apakah orang-orang Talang Amba akan saling berkelahi atau saling membunuh. Ia sama sekali tidak berkepentingan, berapa banyaknya orang yang akan mati. Yang penting bagi dirinya adalah keselamatannya sendiri.

Dengan demikian, maka ia pun telah berteriak pula, “Ki Sendawa. Jangan menunggu lebih lama lagi. Orang-orangmu tentu lebih baik dari orang-orang yang telah memihak Sanggarana. Apalagi mereka bertempur dengan landasan tekad untuk memenangkan satu perjuangan berdasarkan satu keyakinan”

Darah Ki Sanggarana rasa-rasanya mengalir semakin cepat. Apalagi ketika Ki Sendawa yang benar-benar menjadi terbakar dan berteriak, “Aku memberimu kesempatan sampai hitungan ketiga. Jika kau tidak menyerah, maka orang-orangku akan mengangkat senjata”

“Tunggu paman. Soalnya bukan karena aku menjadi ketakutan. Orang-orangku berjumlah lebih banyak. Dan aku tahu, bahwa orang-orang Talang Amba, baik yang berpihak kepada paman, maupun yang berpihak kepadaku, semuanya bukan orang-orang yang pernah dengan sungguh-sungguh mempelajari dan berlatih oleh kanuragan. jika pertempuran itu terjadi, mereka benar-benar akan saling membunuh tanpa memperhatikan cara dan paugeran yang manapun juga.

“Aku tidak peduli. Jika kau mencemaskannya, menyerahlah” teriak Ki Sendawa,

Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat tidak membiarkan lawannya berkesempatan untuk berteriak lagi Dengan garangnya ia menyerang beruntun, sehingga untuk berteriak pun Gajah Wareng sudah tidak sempat lagi.

Ketegangan benar-benar telah mencengkam. Ki Sanggarana sudah berada di antara orang-orangnya. Ia sadar, bahwa pertempuran memang benar-benar akan dapat terjadi. Tetapi ia pun yakin bahwa orang-orangnya dibantu oleh Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Ki Waruju dan mungkin juga murid Ki Sarpa Kuning yang berada di luar arena itu, akan dapat memenangkan pertempuran. Tetapi berapa puluh orang yang kemudian akan menjadi banten.

Dalam pada itu, jantung Ki Sanggarana bagaikan akan meledak ketika ia mendengar Ki Sendawa mulai meneriakkan hitungan, “Satu“

Gajah Wareng bertahan mati-matian. Ia masih mencoba untuk menunggu sampai hitungan ketiga. Kemudian akan menyala pertempuran yang kacau, sehingga mungkin sekali id akan dapat melarikan diri.

Jantung Ki Sanggarana benar-benar akan. pecah ketika ia mendengar Ki Sendawa meneriakkan hitungan berikutnya, “Dua“

“Tidak ada pilihan lain” geram Ki Sanggarana di dalam hati untuk memantapkan sikapnya, “jika paman memang menghendaki demikian, apaboleh buat. Kami tidak akan membiarkan leher kami di tebas tanpa perlawanan”

Namun dalam pada itu, sebelum Ki Sendawa meneriakkan hitungan yang ketiga, tiba-tiba saja terdengar suara nyaring dari belakang orang-orang yang sedang berkerumun di halaman banjar Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang perempuan berdiri di atas lincak bambu di bawah sebatang pohon jambu kelutuk.

Paman teriak perempuan itu di sela-sela isaknya, “paman tidak usah menyelesaikan hitungan paman. Jika paman memang ingin merampas kekuasaan yang seharusnya diwariskan oleh ayah kepada kakang Sanggarana, aku tidak berkeberatan. Aku dapat memaksa kakang Sanggarana untuk menolaknya kemungkinan untuk menerima warisan itu jika warisan itu harus dilandasi oleh darah dan jiwa anak-anak terbaik dari Talang Amba. Apakah mereka berpihak kepada paman, atau berpihak kepada kakang Sanggarana. Jika pembantaian itu benar-benar terjadi, aku membayangkan, apakah yang akan dikatakan oleh ayah jika ia menyaksikannya. Sepanjang umurnya ia bekerja untuk kesejahteraan Kabuyutan ini. Sementara itu, kekerasan akan memecah dan menghancurkan Kabuyutan ini.

Suasana telah dicengkam oleh satu ketegangan yang dalam. Sementara itu, Nyai Sanggarana yang berdiri di atas lincak itu pun meneruskan, “Paman. Ambillah kedudukan itu, jika itu akan dapat menyelamatkan anak-anak muda Talang Amba, apakah mereka pengikut paman atau pengikut kakang Sanggarana. Aku tahu, bahwa pengikut kakang Sanggarana jumlahnya jauh lebih banyak dari pengikut paman. Sementara itu, taruhan di arena itu pun telah dimenangkan kakang Sanggarana. Tetapi jika usaha-usaha untuk menghindari pertumpahan darah itu tidak berhasil, maka ambillah paman. Ambillah kedudukan Buyut di Talang Amba. Aku yakin suamiku tidak akan berkeberatan. Hal itu merupakan satu pengorbanan bagi keselamatan anak-anak muda Talang Amba. Segalanya akan dilakukannya, jika akibatnya akan berarti bagi anak-anak dan Kabuyutan ini”

Ki Sendawa memandang kemanakannya itu dengan wajah yang tegang. Namun kata-kata kemanakannya itu terasa menyentuh jantungnya. Apalagi ketika Nyai Sanggarana itu berkata, “Kakang. Marilah kakang Tinggalkan tempat ini. Katakan kepada anak-anak muda, bahwa kau sangat berterima kasih kepada kesediaan mereka untuk mendukungmu. Tetapi katakan, bahwa kau tidak ingin melihat pertumpahan darah terjadi. Kau tidak ingin duduk di atas bangkai yang bertimbun. Lebih baik kau lepaskan harapanmu untuk mewarisi kedudukan ayah daripada kau biarkan kita saling berbunuhan disini”

Ketika Nyai Sanggarana itu terdiam, maka halaman itu benar-benar menjadi hening. Pertempuran antara Gajah Wareng dan Mahisa Pukat pun telah terhenti. Sementara yang terdengar kemudian adalah isak tangis Nyai Sanggarana itu.

Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian melangkah mendekati isterinya. Dibimbingnya isterinya turun dari lincak bambu itu. Namun kemudian ia sendirilah yang naik ke atas lincak itu sambil berkata, “Paman. Paman sudah mendengar kata-kata isteriku, kemanakan paman itu. Isteriku tidak rela jika aku harus menukarkan kedudukan itu dengan setimbun mayat kawan-kawanku sendiri. Karena itu paman, sudahlah. Aku akan menyerahkan kedudukan itu kepada paman. Tetapi dengan pesan, bahwa Talang Amba untuk selanjutnya tidak akan menjadi korban. Talang Amba akan tetap menjadi sebuah Kabuyutan yang besar. Hutan di lereng bukit itu pun merupakan hutan milik Kabuyutan ini yang tidak boleh jatuh ke tangan orang lain. karena di dalam hutan itulah tersimpan nafas Kabuyutan ini. Di hutan di lereng bukit itu tersimpan air yang dapat membasahi Kabuyutan ini di segala musim. Dan hutan-hutan di lereng bukit itu pulalah yang melindungi kita dari banjir bandang dan tanah longsor”

Wajah Ki Sendawa menjadi merah. Ternyata Sanggarana sudah mengetahui perjanjian yang telah dibuatnya dengan orang-orang yang ternyata tidak dapat memenuhi janji mereka itu. Sementara anak-anak Talang Amba sudah saling berhadapan dengan senjata di tangan.

Dalam pada itu. selagi ketegangan menjadi semakin mencengkam, tiba-tiba saja terdengar suara Ki Sendawa, “Sanggarana. Sikapmu justru telah melunakkan hatiku. Betapapun garangnya nafsu yang bergejolak di dalam hatiku, namun sikap kalian benar-benar telah menyentuh perasaanku. Baiklah Sanggarana. Bukan kau yang harus mengalah. Tetapi biarlah aku yang tua inilah yang menarik diri dari perebutan ini. Mungkin hatiku tidak dapat kau tundukkan dengan kemenangannmu di arena atau bahkan sampai kematianku sekali. Tetapi sikapmu yang tidak aku duga sebelumnya, seakan-akan telah membuka kesadaranku tentang masa depan Kabuyutan ini”

Kata-kata Ki Sendawa itu benar-benar telah mengguncang perasaan orang-orang yang berada di halaman itu. Apalagi ketiga Ki Sendawa melanjutkan, “Anak-anak muda Talang Amba. Dengarlah. Bersukurlah bahwa pertumpahan darah itu masih belum terjadi Kalian, anak-anak terbaik dari Talang Amba telah terjebak ke dalam sikap yang saling bermusuhan karena tingkah lakuku. Baiklah. Sejak sekarang, lupakan apa yang pernah terjadi. Untunglah belum ada korban diantara kita yang jatuh. Meskipun di arena ini terbaring dua sosok tubuh, namun keduanya bukan orang Talang Amba. meskipun keadaannya itu pun adalah akibat dari tingkahku. Namun keduanya menyadari apa yang telah mereka lakukan”

Dengan tidak disadari, maka setiap orang telah memperhatikan dua sosok tubuh yang terbaring diam di arena itu. Sementara itu Mahisa Pukat berdiri termangu mangu. Sementara Gajah Wareng pun menjadi tegang menghadapi perkembangan keadaan yang justru sebaliknya dari yang diharapkannya.

Namun dalam pada itu. maka nampaknya Ki Sendawa benar-benar telah menemukan satu sikap yang berarti bagi Talang Amba. Satu kesadaran yang memercik dari dasar hatinya yang semula terbalut oleh sikap tamaknya, justru karena kedua kemanakannya suami isteri yang merelakan kedudukan yang diperebutkan itu.

Tetapi dalam suasana yang mencengkam perasaan orang-orang Talang Amba itu, tiba-tiba saja telah terjadi sesuatu yeng mengejutkan. Gajah Wareng yang merasa dirinya terpencil itu pun telah mengambil sikap tersendiri. Ia tidak mau berada dalam kesulitan mengingat perubahan sikap Ki Sendawa. Bahkan ia mulai membayangkan, orang-orang Talang Amba itu akan menangkapnya dan mencincangnya beramai-ramai.

Karena itu. maka ia pun harus mengambil sikap yang cepat yang memungkinkannya untuk melepaskan diri.

Sejenak Gajah Wareng termangu-mangu Namun kemudian selagi semua perhatian tertuju kepada Ki Sendawa yang mulai berubah itu. Gajah Wareng telah memungut paser-paser beracun dari dalam kantong ikat pinggangnya. Namun ia masih menunggu kesempatan. Justru ketika Ki Sendawa kemudian mulai berbicara lagi kepada Ki Sanggarana tentang niatnya untuk mengundurkan diri.

Dengan hati-hati Gajah Wareng itu bergeser. Setapak demi setapak. Namun dengan tiba-tiba ia pun telan meloncat berlari meninggalkan arena itu.

Tetapi Gajah Wareng tidak membiarkan dirinya dikejar dan ditangkap oleh lawannya. Dengan serta merta ia pun teluh melemparkan sebuah paser langsung ke arah dada Mahisa Pukat.

Mahisa Pukat tidak mengira bahwa lawannya telah menyerangnya dengan cara yang sangat licik dan justru pada saat perhatiannya tertuju kepada Ki Sendawa.

Dengan demikian maka Mahisa Pukat tidak sempat menghindari serangan itu. Meskipun demikian, ia masih sempat menangkis serangan itu dengan tangannya yang melindungi dadanya.

Namun dalam pada itu, maka paser itu pun telah menancap di tangannya. Paser yang ternyata mengandung racun yang sangat tajam.

Tetapi sementara itu, saudara seperguruannya yang telah dikecewakan oleh Ki Sarpa Kuning karena adiknya telah dibunuhnya, dengan serta merta telah bertindak. Seperti yang dilakukan oleh Gajah Wareng, maka orang itu pun telah melemparkan sebuah paser kecilnya ke arah Gajah Wareng yang melarikan diri itu.

Ketika paser, itu tertancap di pundaknya, maka Gajah Wareng pun tertegun. Wajahnya menjadi pucat seperti kapas.

Dengan jantung yang rasa-rasanya berdegup semakin keras. Gajah Wareng berdiri memandangi adik seperguruannya yang telah melontarkan paser itu ke arahnya, “Kau memang pengkhianat” geram Gajah Wareng.

Adik seperguruannya tidak menjawab. Namun wajahnya menjadi sangat tegang, karena ia pun melihat paser yang mengenai tangan Mahisa Pukat.

Dalam pada itu, Gajah Wareng itu pun kemudian berkata dengan suara bergetar, “Racun yang mengenai tubuhku adalah racun yang terkutuk. Tidak ada obat yang dapat menyelamatkan seseorang yang terkena racun keluarga Ki Sarpa Kuning. Aku akan mati. Tetapi orang itu pun akan mati.

Semua orang kemudian memandang ke arah Mahisa Pukat yang ditunjuk oleh Gajah Wareng dan jarinya yang gemetar.

Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat seolah-olah tidak menghiraukannya. Selangkah ia maju mendekati Gajah Wareng sambil berkata, “Racun itu memang racun yang kuat sekali. Racun itu tidak akan terlawan oleh obat apa pun juga. Tetapi racun itu tidak akan dapat membunuhku”

“Omong kosong” geram Gajah Wareng, “tidak ada kecualinya. Racun itu akan membunuh dengan garangnya”

Tetapi Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya, “Jangankan paser-paser itu. Kau melihat sendiri, bahwa ular-ular yang ganas itu tidak dapat membunuh Ki Waruju”

“Tetapi kau bukan Ki Waruju“ orang itu berteriak. Mahisa Pukat masih tertawa. Katanya, “Kita sekeluarga sebagaimana keluargamu yang bermain-main dengan bisa. Kami adalah keluarga yang memang mempunyai ketahanan terhadap bisa. Kau memang tidak akan dapat membunuhku”

Wajah Gajah Wareng menjadi semakin tegang. Namun dalam pada itu, racun yang keras itu pun mulai menusuk tubuhnya lewat jalur-jalur arus darahnya. Semakin lama semakin mencengkam, sehingga tubuhnya pun menjadi gemetar.

“Kau juga akan mati” teriaknya.

Tetapi Mahisa Pukat masih tetap berdiri tegak. Bahkan selangkah lagi ia maju mendekat.

Tubuh Gajah Wareng benar-benar telah gemetar. Racun itu telah bekerja di dalam tubuhnya, sehingga sejenak kemudian, maka Gajah Wareng itu pun tidak lagi dapat berdiri.

Ketika Gajah Wareng itu jatuh pada lututnya, maka terdengar ia mengumpat-umpat. Apalagi ketika pandangannya yang menjadi kabur masih menangkap tubuh Mahisa Pukat yang tetap tegak.

“Anak iblis“ suaranya sudah menjadi semakin sendat.

Tetapi suara itu pun segera lenyap. Gajah Wareng pun telah jatuh tertelungkup Tubuhnya bagaikan menjadi kejang dan kulitnya menjadi bernoda kehitam-hitaman.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun telah berakhir. Di arena itu terbaring tiga sosok mayat. Ternyata Ki Sarpa Kuning dan dua muridnya tidak dapat bertahan menghadapi orang-orang yang tidak diduganya akan dijumpai di Kabuyutan kecil itu.

Dengan demikian, maka yang berhadapan kemudian adalah orang-orang Kabuyutan Talang Amba itu sendiri. Tidak ada orang lain yang dengan sengaja berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari pertentangan yang terjadi di Kabuyutan itu. Apalagi Ki Sendawa tiba-tiba telah melihat satu sikap yang dapat menggugah hatinya yang kelam.

Dalam pada itu, maka dalam ketegangan itu terdengar Ki Sendawa berkata, “Sanggarana. Baiklah. Biarlah aku kembali bersama orang-orang yang berpihak kepadaku. Namun aku pun akan berusaha agar racun yang telah aku taburkan pada pengikut-pengikutku itu akan dapat aku lenyapkan. Aku akan memberitahukan kepada mereka, bahwa tidak seharusnya kita saling bermusuhan”

Ki Sanggarana memandang pamannya dengan hati yang bergejolak. Namun akhirnya ia mendekati pamannya sambil berkata lembut, “apakah paman berkata sebagaimana paman kehendaki”

“Percayalah. Aku berkata sebenarnya” jawab Ki Sendawa.

“Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga paman. Bukan saja karena aku akan dapat mewarisi jabatan tertinggi di Kabuyutan ini. tetapi aku pun akan menikmati satu kebahagiaan karena pertumpahan darah di daerah ini dapat dicegah”

Ki Sendawa mengangguk-angguk. Katanya, “Selama ini aku telah diselubungi oleh ketamakan yang tidak teratasi oleh nalarku. Tetapi kini aku merasa, bahwa dunia telah menjadi terang. Aku tidak lagi merasa duniaku gelap seperti saat-saat sebelumnya”

“Aku mohon maaf. paman, bahwa selama ini aku telah berbuat tidak sepantasnya terhadap paman, pengganti orang tuaku” berkata Ki Sanggarana.

“Bukan kau yang harus minta maaf, tetapi aku” jawab Ki Sanggarana.

Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Ki Sendawa pun berkata, “Baiklah. Aku minta diri. Mudah-mudahan untuk seterusnya hatiku selalu mendapat terang dari Sang Maha Pencipta, sehingga peristiwa seperti ini tidak akan terjadi lagi”

“Terima kasih paman. Sebenarnya aku ingin mengharapkan paman singgah barang sebentar” berkata Ki Sanggarana.

“Terima kasih. Aku harus menenangkan diri dan menenangkan gejolak perasaan orang-orangku. Aku harus memberikan pertanggungan jawab dan penjelasan, sehingga untuk selanjutnya tidak akan terjadi sesuatu?”

Ki Sanggarana tidak menahan lagi. Ki Sendawa pun kemudian masih sempat minta diri kepada orang-orang Talang Amba dan bersama orang-orangnya ia meninggalkan halaman banjar dan tiga sosok mayat dan perguruan Sarpa Kuning, termasuk. Ki Sarpa Kuning itu sendiri.

Orang-orang yang berpihak kepada Ki Sanggarana menyaksikan Ki Sendawa yang meninggalkan banjar itu bersama dengan para pengikutnya dengan hati yang berdebar-debar.

Ternyata mereka tidak harus bertempur. Yang terjadi pertempuran di arena adalah orang-orang tertentu. Orang-orang lain yang mencoba ikut mencampuri persoalan Kabuyutan Talang Amba.

Hampir diluar sadar, maka orang-orang Talang Amba kemudian bersyukur di dalam hati, bahwa Sang Maha Pencipta masih melindungi rakyat Talang Amba sehingga pertempuran yang akan dapat mengakibatkan pertumpahan darah dapat dihindarkan.

Sementara itu, para pengikut Ki Sendawa yang meninggalkan banjar itu pun mempunyai perasaan yang sama. Mereka pun merasa terlepas dari satu jebakan perasaan yang tidak dapat dikendalikannya sebelumnya. Mereka pun bersyukur, bahwa tidak terjadi pertumpahan darah itu Mereka tidak harus saling berbunuh-bunuhan diantara keluarga sendiri.

Baru kemudian mereka dapat menyebut di dalam hatinya, bahwa diantara para pengikut Ki Sanggarana adalah saudara-saudara mereka. Bahkan ada yang terlalu dekat dalam pertalian darah. Ada di antara orang-orang Talang Amba yang berpihak Ki Sanggarana adalah kemanakan mereka. Bahkan ada yang saudara sepupu dan saudara kandung.

“Namun Sang Maha Pencipta masih melindungi kita semuanya” berkata seseorang kepada orang yang berjalan di sebelahnya.

“Ya. Rasa-rasanya hati ini telah dikuasai oleh satu sikap yang kurang kita mengerti sedalam-dalamnya akan maknanya” jawab yang lain. Lalu, “Kita seakan-akan demikian saja hanyut oleh arus yang deras yang tidak terbendung lagi”

“Kita telah terbebas” sahut yang lain, “apakah artinya bagi kita, siapa pun yang akan mewarisi jabatan Kabuyutan. Bahkan seandainya orang lain pun seharusnya kita tidak berkeberatan jika mereka benar-benar akan menguntungkan bagi rakyat Talang Amba”

Kawan-kawannya pun mengangguk-angguk. Setelah mendapat kesempatan berpikir dengan hati yang bening, maka mereka pun pada umumnya tidak berkeberatan sama sekali jika yang kemudian akan menjadi Buyut di Talang Amba adalah Ki Sanggarana. Bahkan seseorang telah berdesis, “Memang ia adalah orang yang paling berhak menjadi Buyut di Talang Amba jika hal itu diambil dari jalur keturunan seperti yang turun temurun terjadi”

“Baru sekarang hal itu dapat kita lihat dengan jelas” sahut yang lain, “rasa-rasanya selama ini mata kita telah menjadi buta”

“Tetapi segalanya telah lampau” jawab yang lain. Namun dalam pada itu, di antara sekian banyak orang, ternyata ada juga yang merasa kecewa. Mereka yang telah terlanjur merasa dirinya seseorang yang memiliki kelebihan dari orang lain. Seorang yang sudah siap untuk membunuh dan berbangga atas kemenangannya itu.

Namun ketika ia terkenang betapa dahsyatnya pertempuran antara Ki Sarpa Kuning melawan Ki Waruju dan kemudian pertempuran antara murid-murid Ki Sarpa Kuning itu sendiri, maka rasa-rasanya memang menjadi ngeri.

Mereka pun segera menyadari, bahwa kemampuan mereka dalam olah kanuragan, masih belum sekuku ireng dibandingkan dengan orang-orang yang kini berada di-lingkungan para pengikut ki Sanggarana.

Dengan demikian bulu-bulu tengkuk mereka pun meremang. Mereka melihat ular yang berbisa, menggigit tanpa menimbulkan akibat apapun juga. Paser yang beracun tajam. Yang dapat membunuh orang dengan cepat. Tetapi salah seorang murid Ki Sarpa Kuning itu ternyata tidak mengalami cidera apapun juga ketika tubuhnya terkena paser beracun itu.

Akhirnya orang itu pun harus mengucapkan syukur juga. Jika bukan perasaannya, maka nalarnya. Karena dengan demikian maka mereka masih tetap hidup dan dapat kembali kepada keluarga mereka dengan selamat.

Di pedukuhannya, maka Ki Sendawa masih sempat mengumpulkan orang-orangnya di banjar padukuhan. Dengan singkat ia menguraikan sikapnya untuk dimengerti oleh para pengikutnya. Dengan suara bergetar ia berkata, “Ternyata kita masih mendapatkan terang dari Sang Maha Pencipta. Pertempuran yang mengerikan itu dapat terhindar. Dan aku pun merasa bebas dari sikap yang tidak sewajarnya. Bagaimanapun juga, kedudukan Buyut di Talang Amba adalah hak Sanggarana”

Orang-orangnya mengangguk-angguk. Tetapi ada yang menjadi geli melihat ke dalam dirinya sendiri. Apa yang telah membuatnya bingung sehingga ia setuju, bahwa Ki Sendawa adalah pewaris yang sah.

“Apakah benar ia saudara sepupu Ki Buyut yang meninggal itu?“ pertanyaan itu baru timbul kemudian.

Tetapi orang-orang itu sudah tidak peduli lagi. Mereka telah merasa diri mereka terhindar dari benturan kekerasan yang akan dapat mengakibatkan saling berbunuhan.

“Bukan saling berbunuhan. Merekalah yang akan membantai kita. Kecuali jumlah mereka hampir berlipat, di antara mereka terdapat orang-orang yang ternyata mampu mengalahkan Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya yang lain.

Namun peristiwa itu agaknya telah menjadi satu pengalaman yang mahal sekali. Orang-orang Talang Amba akan selalu ingat kepada peristiwa itu, sehingga di masa mendatang, mereka tidak akan dengan cepat tergelincir ke dalam satu sikap yang dapat menghancurkan diri mereka sendiri.

Dalam pada itu. maka orang-orang Talang Amba yang tertinggal di Banjar Kabuyutan itu pun merasa dada mereka menjadi lapang. Mereka pun merasa sebagaimana dirasakan oleh saudara-saudara mereka yang semula berpihak kepada Ki Sendawa. Orang-orang Talang Amba yang semula berpihak kepada Ki Sanggarana itu pun merasa bahwa mereka terbebas dari kemungkinan yang paling buruk. Mereka tidak lagi jatuh ke dalam satu kemungkinan mati terbunuh oleh saudara sendiri.

Dengan demikian, maka mereka pun lelah mengucapkan syukur di dalam hati, bahwa pertempuran telah dapat dihindarkan. Sementara yang mereka inginkan pun akan dapat terjadi. Ki Sanggarana akan menggantikan kedudukan ayah mertuanya, menjadi Buyut di Talang Amba.

Namun dengan peristiwa itu, maka mata orang-orang Talang Amba pun telah terbuka. Mereka menjadi semakin hormat kepada Ki Sanggarana. Jika semula mereka menghormatinya hanya karena kebesaran nama Ki Buyut yang telah meninggal yang telah mengambilnya menjadi menantu, maka mereka pun kemudian menjadi hormat kepada Ki Sanggarana karena sikapnya. Ternyata Ki Sanggarana bukan seorang pengecut yang tidak berani bertindak apapun juga. Tetapi yang menjadi beban Ki Sanggarana adalah keselamatan rakyat Talang Amba. Ia sama sekali tidak dengan tamak menginginkan jabatan tertinggi di Kabuyutan Talang Amba, karena dengan demikian ia akan dapat membenturkan kekuatan rakyat Talang Amba kepada saudara-saudara sendiri. Namun pada saat tertentu, maka ia telah dengan berani tampil di arena melawan pamannya, Ki Sendawa.

Dengan demikian, maka rakyat Talang Amba menjadi semakin yakin, bahwa Ki Sanggarana akan dapat menjadi seorang pemimpin yang baik. Seorang pemimpin yang tidak mementingkan diri sendiri.

“Mudah-mudahan ia tidak berubah” berkata seorang yang berkumis keputih-putihan.

“Kenapa?” bertanya seorang kawannya.

“Hal yang mungkin sekali. Seorang yang baik, yang dengan kesungguhan hati berbuat sesuatu bagi kepentingan lingkungannya, setelah menjadi seorang pemimpin perlahan-lahan telah berubah sikap. Ia lebih senang menikmati kedudukannya daripada berjuang lebih berat lagi bagi rakyatnya itu” berkata orang berkumis keputihan-putihan itu.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin. Kedudukan akan dapat memadamkan nyala api perjuangan di dalam dadanya”

“Karena itu, kita memang harus berdoa mudah-mudahan Ki Sanggarana bukan termasuk orang yang demikian itu” berkata orang berkumis keputih-putihan itu.

Namun sementara itu, Ki Sanggarana yang berada di pendapa banjar tengah berbincang dengan Ki Waruju, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan murid Ki Sarpa Kuning yang tertinggal.

Sementara itu, Ki Sanggarana pun telah memanggil beberapa orang tua di Kabuyutan Talang Amba dan orang-orang yang dianggap berpengaruh untuk duduk bersama di pendapa. Duduk pula diantara mereka Nyai Sanggarana, keturunan langsung Ki Buyut, yang menjadi saluran warisan bagi Ki Sanggarana.

Pertemuan yang dengan tiba-tiba diadakan itu, merupakan satu tanggapan langsung terhadap peristiwa yang baru saja terjadi. Mereka berusaha untuk menilai keadaan. Apakah sikap Ki Sendawa itu cukup meyakinkan.

Beberapa orang Talang Amba sendiri masih tetap meragukan. Tetapi sebagian yang lain, yang menyaksikan langsung peristiwa itu menganggap, bahwa Ki Sanggarana tidak perlu ragu-ragu.

“Apakah kita akan dapat yakin terhadap sikapnya? seorang yang berdahi lebar bertanya.

“Aku percaya” jawab Ki Sanggarana.

“Apakah sikapnya bukan sekedar untuk menyelamatkan diri kemudian menyusun kekuatan yang lebih besar dengan menghubungi orang-orang kesediaan untuk memberikan imbalan yang lebih besar lagi. Bukan hanya hutan di lereng bukit yang tidak banyak berarti bagi kita itu. tetapi sawah dan ladang bahkan mungkin satu diantara pedukuhan yang ada di Talang Amba ini?” bertanya seseorang.

“Apakah sawah dan pedukuhan itu lebih berharga dari hutan di lereng bukit?” bertanya Mahisa Murti.

“Tentu Ngger” jawab orang itu, “apa artinya hutan itu bagi kita. Jika kita ingin memanfaatkannya, maka kita masih harus bekerja keras, menebang dan menyusun tataran tanah yang dapat kita jadikan sawah atau ladang”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya kita masih belum mengerti arti dari sikap Ki Sarpa Kuning yang telah terbunuh itu”

“Kami mengerti” jawab orang itu, “ia memilih daerah yang masih akan mudah dibentuk. Hutan itu memberi keleluasaan dan barangkali orang-orang itu melihat kayu yang mempunyai nilai tertentu hidup di hutan itu. Mungkin kayu cendana atau sejenis belendok yang berharga.

Mahisa Murti menggeleng lemah. Katanya, “Bukan Ki Sanak. Bukan itu. Ki Sarpa Kuning dan orang-orang tidak memerlukan hutan itu. Mereka akan menebanginya dan menjadi bukit itu bukit gundul”

“Mereka akan membuat tanah persawahan” jawab orang itu.

Tetapi Mahisa Murti masih juga menggeleng, “Bukan tanah persawahan. Tetapi justru tanah gundul itulah yang dikehendaki.”

“Kenapa dengan tanah gundul?” bertanya orang itu. Mahisa Murti pun berpaling kepada Ki Sanggarana. Ia yakin bahwa Ki Sanggarana tentu dapat mengerti masalahnya.

Ki Sanggarana kemudian bergeser setapak. Namun ia mengerti, bahwa Mahisa Murti menghendaki, agar ia menyatakan pendapatnya.

Karena itu, maka katanya, “Saudara-saudara di Kabuyutan Talang Amba. Bahwa orang-orang asing itu menghendaki hutan di lereng bukit memang agak mengherankan kita. Sebenarnya mereka dapat minta imbalan lebih dari itu. Jauh lebih baik. Tetapi mereka memang tidak memerlukan sawah atau ladang yang baik. Mereka memang memerlukan hutan di lereng bukit”

“Kami ingin mengetahui sebabnya” bertanya seseorang.

Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Sambil berpaling kepada Ki Waruju, ia pun berkata, “Aku sudah mendapat beberapa keterangan dari Ki Waruju yang telah membantu kami menghindarkan benturan yang dapat membawa korban lebih banyak lagi. Menurut Ki Waruju, maka hutan di lereng bukit itu telah menampung air di musim hujan. Air yang turun di lereng bukit karena hujan yang deras, akan tertahan dan tersimpan di dalam tanah. Air itu akan sangat bermanfaat di musim kering. Tetapi jika tanah itu menjadi gundul, maka akibatnya akan jauh berbeda. Air akan mengalir sederas-derasnya di musim hujan karena tidak ada penahannya sama sekali. Akibatnya adalah banjir bandang. Padukuhan serta sawah ladangnya akan hanyut dan barangkali kekayaan dan ternak pun akan terendam”

Orang-orang yang mendengarkan keterangan itu menjadi tegang. Salah seorang diantara mereka pun bertanya, “Tetapi apakah pamrih mereka dengan rencana itu. Apakah mereka hanya sekedar ingin merusak kehidupan kami, atau karena mereka memang mempunyai kesenangan melihat penderitaan orang lain atau kepentingan lain yang tidak kita ketahui?“

“Persoalan itu menyangkut satu tatanan kehidupan yang luas Ki Sanak” jawab Ki Waruju, “persoalan yang menyangkut hubungan antara Kediri dan Singasari, Beberapa orang bangsawan Kediri memang merasa bahwa selama ini Kediri berada di bawah pemerintahan Singasari. Mereka tidak mau menerima keadaan itu untuk seterusnya. Apalagi diantara mereka merasa bahwa yang sebenarnya berhak memerintah adalah Kediri. Pada saat Akuwu Tumapel yang bernama Ken Arok melihat satu kesempatan, maka ia telah bangkit dan mengalahkan Kediri. Pada saat itu berdirilah Singasari yang memerintah sampai ke tlatah Kediri”

Orang-orang, yang mendengarkan keterangan itu pun mengangguk-angguk. Mereka pun sebagian pernah mendengar cerita itu. Bahkan beberapa orang tua-tua masih ingat, apa yang pernah terjadi meskipun tidak langsung mereka alami.

Namun keterangan tentang hutan di lereng bukit itu nampaknya dapat mereka mengerti. Ternyata bahwa hutan di lereng bukit itu akan dapat berpengaruh terhadap dataran dibawahnya.

“Satu jenis perang yang berjangka panjang” desis salah seorang di antara mereka yang hadir.

“Tepat” jawab Ki Sanggarana, “perang yang berjangka panjang. Karena itu, apa yang terjadi di Talang Amba, bukannya satu persoalan yang berdiri sendiri, yang terpisah dari usaha yang lain yang dilakukan oleh beberapa orang bangsawan Kediri. Jika kali ini Ki Sarpa Kuning, yang merupakan salah seorang yang berdiri di belakang para bangsawan itu, telah gagal, mungkin pada saatnya akan datang lagi orang lain dengan cara yang berbeda. Mungkin mereka tidak lagi berhubungan dengan orang-orang Talang Amba. Mungkin mereka langsung merusak hutan itu”

Orang-orang yang mendengarkannya mengangguk-angguk. Tetapi nampak ada ketegangan di sorot mala mereka. Karena mereka menyadari, bahwa mereka ternyata berada di dalam lingkaran peperangan. Kabuyutan mereka menjadi sasaran perang yang aneh itu.

Dengan demikian mereka pun mengerti, bahwa Kabuyutan Talang Amba adalah satu Kabuyutan yang luas di tlatah Singasari, yang menjadi salah satu sasaran yang harus dimusnahkan.

Karena itu, maka menjadi kewajiban mereka untuk berbuat sesuatu, agar Kabuyutan mereka tidak menjadi hancur karenanya.

Usaha Ki Sarpa Kuning mendorong perpecahan di Talang Amba sehingga hampir saja terjadi pertumpahan darah, harus tetap mereka ingat sebagai satu pelajaran yang berharga.

“Saudara-saudaraku” berkata Ki Sanggarana kemudian, “tugas kita masih cukup banyak. Kita dapat bersyukur bahwa kita tidak terpecah karenanya. Tetapi kita pun harus bersiaga menghadapi kemungkinan yang bakal datang. Untunglah, bahwa kekuatan kita telah pulih dan Talang Amba telah menjadi satu kembali. Dengan demikian, maka di saat-saat mendatang, dalam pembicaraan seperti itu, kita tidak akan dapat meninggalkan paman Sendawa”

Orang-orang Talang Amba itu tidak berkeberatan. Bahkan mereka-mereka berkewajiban untuk menghimpun segenap kekuatan yang ada di Talang Amba, karena bahaya yang mereka hadapi mungkin justru akan bertambah besar.

Dalam pada itu, maka untuk sementara kehidupan di Talang Amba telah pulih kembali. Hubungan antara padukuhan-padukuhan yang semula dibatasi oleh sikap yang berbeda terhadap Buyut yang bakal mereka pilih, kemudian telah bertaut kembali. Sanak kadang yang terpisah, telah saling berkunjung dan yang pernah terjadi, kadang-kadang justru menjadi bahan kelakar yang segar.

Namun demikian, Ki Sanggarana tidak kehilangan kewaspadaan. Meskipun ia belum dilantik resmi sebagai Buyut di Talang Amba, namun justru karena peristiwa yang telah terjadi, seakan-akan telah menetapkannya untuk memangku jabatan Buyut yang ditinggalkan oleh mertuanya.

Sementara itu, peristiwa yang terjadi di Talang Amba itu pun didengar pula oleh para pemimpin di Singasari. Para Senopati pun telah memperbincangkannya pula. Mahisa Bungalan yang mengetahui beberapa hal tentang usaha itu pun telah memberikan laporannya.

Dengan demikian, maka Singasari pun menyadari, bahwa Kediri yang nampaknya tenang itu, telah bergejolak di bagian dalam. Bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali terjadi peristiwa yang sama. Satu dua orang bangsawan merasa bahwa Kediri bukan sewajarnya diperintah oleh Singasari.

Dalam pada itu, Akuwu Gagelang telah mendapat perintah langsung dari Singasari untuk menangani perkembangan keadaan di daerahnya, Kabuyutan Talang Amba.

“Orang-orang Talang Amba memang gila” geram Akuwu Gagelang, “mereka sama sekali tidak melaporkan kepadaku. Tiba-tiba aku mendapat perintah dari Singasari untuk menangani persoalan yang timbul di Kabuyutan itu”

Para Senopati Gagelang hanya dapat menundukkan kepala. Mereka memang merasa kecewa terhadap sikap orang-orang Talang Amba. Menurut dugaan orang-orang Gagelang, maka orang-orang Talang Amba langsung memberikan laporan kepada Singasari.

Tetapi sebenarnyalah bahwa berita tentang peristiwa di Talang Amba itu telah dibawa oleh Ki Waruju yang kembali untuk satu dua hari ke Singasari. Lewat Mahendra, maka persoalan itu sampai kepada para pemimpin di Singasari. Apalagi Mahisa Bungalan telah memberikan laporan pula sejauh dapat diketahuinya.

Sementara itu, Akuwu Gagelang telah memberikan perintah kepada seorang Senopatinya, “Bawa orang-orang yang merasa dirinya memerintah di Talang Amba itu menghadap aku. Aku harus memberi peringatan kepada mereka. Bahkan jika perlu hukuman atas kelancangan mereka”

“Tetapi Buyut Talang Amba telah meninggal” berkata salah seorang Senopatinya.

“Aku tahu. Tetapi dalam keadaan yang demikian, tentu ada seseorang yang tampil dan memimpin orang-orang Talang Amba” berkata Akuwu lantang, “orang itulah yang harus bertanggung jawab. Jika benar orang itu melaporkan kepada Sang Maha Prabu di Singasari sebelum memberi tahukan persoalannya kepadaku, maka orang itu telah mencemarkan namaku. Seolah-olah aku tidak tahu menahu tentang segala peristiwa yang terjadi di Kabuyutan di tlatah Pakuwon Gagelang”

Senopati itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Hamba Akuwu. Hamba akan memanggil orang itu”

Demikianlah, Senopati itu pun telah pergi ke Talang Amba. Kedatangannya memang sangat mengejutkan. Apalagi Senopati itu telah membawa beberapa. orang pengawal, karena menurut penilaian orang-orang Gagelang, keadaan di Talang Amba masih belum jelas.

Ketika Senopati itu bertemu dengan seseorang yang sedang bekerja di sawah, maka ia pun bertanya, “Siapa yang sekarang memangku kedudukan Buyut di Talang Amba sebelum ada seorang Buyut yang diangkat oleh Akuwu?“

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun akhirnya ia menjawab, “Ki Sanggarana. Menantu Ki Buyut yang telah meninggal”

“Dimana rumahnya?” bertanya Senopati itu.

“Juga di rumah Ki Buyut yang meninggal itu” jawab orang Talang Amba itu, “Apakah Senopati belum pernah melihat rumah Ki Buyut?“

“Aku sudah tahu” jawab Senopati itu sambil menggerakkan kendali kudanya. Sejenak kemudian maka sekelompok prajurit dari Pakuwon Gagelang itu pun telah lenyap meninggalkan debu yang terhambur di bulak panjang.

Ketika Senopati dan para pengawalnya memasuki rumah Ki Sanggarana, Ki Waruju telah berada di rumah itu pula. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan seorang murid Ki Sarpa Kuning pun juga masih berada di rumah itu, karena Ki Sanggarana telah menahan mereka untuk tinggal barang satu dua pekan atau lebih jika mereka menghendaki.

Meskipun demikian kehadiran Senopati dan pengawal-pengawalnya itu memang mengejutkan. Dengan hormat, Ki Sanggarana pun telah mempersilahkan Senopati itu naik ke pendapa.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, maka Senopati itu pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Siapakah yang saat ini memangku jabatan Buyut di Kabuyutan yang komplang ini?“

Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Maaf Senopati. Bukan maksudku mendahului titah Akuwu. Tetapi untuk sementara aku telah melakukan tugas itu, sekedar untuk mengisi kekosongan karena kebetulan aku adalah menantu Ki Buyut yang telah meninggal dunia”

Senopati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau sudah bertindak tepat Ki Sanak. Memang seharusnya seseorang tampil untuk memangku jabatan itu. Jika tidak ada yang berani tampil maka keadaan tentu akan menjadi kacau. Bukankah di Kabuyutan ini hampir saja timbul kekacauan?”

Ki Sanggarana memandang Ki Waruju sekilas. Namun karena Ki Waruju tidak memandang ke arahnya, maka ia pun menjawab, “Ya Senopati. Di Kabuyutan ini memang telah timbul satu persoalan, justru karena ada orang asing yang memasuki Kabuyutan ini dan berusaha mengendalikan persoalan yang timbul di dalam Kabuyutan ini sendiri”

“Aku telah mendengar laporan” jawab Senopati itu, “sekelompok orang asing yang ingin menguasai bukit berhutan itu“

Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Tekanan perhatian Senopati itu justru kepada orang asing yang bernama Ki Sarpa Kuning, tidak kepada perselisihan diantara orang-orang Talang Amba sendiri.

Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah penjelasan Senopati itu, bahwa para bebahu di Kabuyutan Talang Amba telah melakukan satu kesalahan yang besar. Mereka telah memberikan laporan kepada pimpinan pemerintahan di Singasari bahkan telah sampai kepada Sang Maha Prabu, sementara Akuwu di Gagelang masih belum mengetahuinya.

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...