*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 024-02*
“Ya. Ia sudah berubah,” jawab Panembahan Bajang, “namun akhirnya aku dapat menduga apa yang tersimpan didalam padepokannya.”
“Apa? Apakah kau berhasil menyusup memasuki bilik-bilik rahasianya?” bertanya mPu Lengkon.
“Ah, alangkah dangkalnya caramu berpikir,” berkata Panembahan Bajang.
“O.” MPu Lengkon tertawa. Katanya, “Hampir aku lupa bahwa aku berhadapan dengan seseorang yang mempunyai ketajaman penglihatan jiwani. Apa yang kau lihat dengan jiwamu yang kecil sebagaimana tubuhmu.”
“Jangan menghina,” jawab Panembahan Bajang. “Aku dapat menenungmu dan membuatmu gila.”
“Mungkin kau dapat melakukannya atas orang-orang dungu. Tetapi aku dapat menyusupkan keris masuk ke dalam ususmu,” jawab mPu Lengkon.
“Baiklah. Aku minta diri,” berkata Panembahan Bajang kemudian, “Kita mencoba siapakah yang lebih kuat diantara kita. Kau yang menjadi gila, atau perutku yang koyak oleh kerismu.”
“Besok kita dapat mulai. Tetapi katakan, apa yang kau lihat di rumah Ajar yang gila itu,” berkata mPu Lengkon.
“Aku merasakan sesuatu yang asing. Dan pada malam hari aku melihat teja yang memancar dari salah satu ruangan di lingkungan padepokan Ajar yang tamak itu. Menurut pengamatanku teja itu tentu bersumber dari sesuatu yang sangat berharga. Bukan saja nilainya sebagai benda, tetapi juga tuahnya.”
mPu Lengkon mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin kau memang melihat sesuatu yang berharga untuk diperhatikan. He apakah yang kau lihat itu Wahyu Keraton?”
“Aku tidak dapat mengatakannya,” jawab Panembahan Bajang.
mPu Lengkon tidak mendesaknya lagi. Untuk beberapa saat mereka justru terdiam.
Namun kemudian mPu Lengkon itu bertanya, “Apakah kau akan bermalam disini dan dengan ketajaman penglihatan perasaanmu kau juga akan mencari Wahyu Keraton disini.”
“Aku memang akan tinggal disini barang satu dua hari. Mungkin kita bisa berbicara, apakah kita akan pergi ke padepokan Ajar itu untuk menanyakan apakah ia memang sedang berusaha untuk melanjutkan perjuangan Pangeran Kuda Permati,” jawab Panembahan Bajang.
“Aku tidak peduli. Aku sudah jemu dengan pembunuh-pembunuhan yang tidak berkeputusan. Akhirnya tidak ada hasil yang dapat kita lihat. Kediri tetap berkiblat kepada Singasari. Kekuatan Pangeran Singa Narpada tidak terbendung. Dan penderitaan batin isteri Pangeran Kuda Permati sendiri akhirnya menjadi alat untuk mengakhiri pembunuhan yang terjadi hampir di seluruh tlatah Kediri, terutama di sekitar Kota Raja itu,” jawab mPu Lengkon.
Panembahan Bajang tidak banyak memberikan tanggapan. Bahkan kemudian ia berkata, “Aku lapar. Apakah kau masih mempunyai persediaan makan?”
“Marilah,” Mpu Lengkon mempersilahkan. “Masih ada beberapa buah jagung muda. Kita dapat membakarnya diatas perapian. Mungkin dapat menjadi penangkal laparmu itu.”
Suara keduanya pun terhenti. Yang terdengar adalah derit pintu yang kemudian tertutup. Akhirnya sepi.
Untuk beberapa saat lamanya, Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan masih tetap berada di atas dinding halaman samping. Mereka menunggu sampai kedua orang itu benar-benar tenggelam dalam kerja mereka diatas perapian untuk membakar jagung muda.
Beberapa saat kemudian, maka Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Agni itupun meloncat turun, memasuki kembali daerah kebun tanaman para cantrik. Kemudian mereka pun hilang didalam kegelapan. Untuk beberapa saat lamanya keduanya masih tetap berdiam diri. Meskipun mereka sudah berada diluar dinding halaman, dan melintasi kebun para cantrik padepokan mPu Lengkon, namun rasa-rasanya suara mereka mungkin masih akan dapat didengar. Mungkin oleh orang-orang yang berada didalam dinding padepokan, mungkin satu dua orang cantrik yang berada di antara tanaman-tanamannya. Baru setelah mereka terlepas sama sekali dari lingkungan padepokan, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Kita ternyata telah mendapat satu petunjuk yang sangat berharga. Meskipun mungkin bukan yang kita cari, tetapi setidak-tidaknya kita dapat melakukan sesuatu yang pada saat ini paling mungkin kita lakukan.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk kecil. Jawabnya, “Ya Pangeran. Kita condong untuk menduga, bahwa ada hubungan antara ceritera yang dibawa oleh Penembahan Bajang itu dengan kepentingan kita. Meskipun demikian, kita belum dapat memastikan sesuatu.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagaimanapun juga, sebagaimana yang sudah kita rencanakan, kita akan pergi ke padepokan Ajar Bomantara itu.”
“Menurut perhitunganku, Panembahan Bajang dan mPu Lengkon akan pergi ke padepokan Ajar Bomantara,” berkata Mahisa Bungalan.
“Aku sependapat,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Jadi, apakah kita akan mendahului mereka atau kita justru akan datang sesudah mereka?”
“Bagaimana mungkin kita mengetahui saat keberangkatan mereka?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Kita harus menunggui padepokan ini siang dan malam,” berkata Pengeran Singa Narpada, “Tetapi pekerjaan itu akan memakan waktu dan tenaga.”
“Menurut pendapatku, apakah tidak lebih baik jika kita menuju ke padepokan Lemah Teles?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Kita akan menentukan langkah kita kemudian. Apakah kita akan menunggu orang itu, atau kita akan mendahului memasuki padepokan itu,” Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara dengan kedua orang adikmu. Mungkin mereka mempunyai pendapat yang dapat kita pertimbangkan.”
Mahisa Bungalan menyahut, “Ya. Kita akan mendengarkan pendapat mereka.”
Keduanya pun kemudian kembali menuju ke hutan perdu tempat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menunggu. Dengan singkat Mahisa Bungalan telah menceriterakan apa yang mereka lihat dan apa yang telah mereka dengar di padepokan itu.
“Bagaimana menurut pendapat kalian?” bertanya Mahisa Bungalan.
Dengan serta merta Mahisa Pukat menjawab, “Kita pergi ke padepokan Lemah Teles.”
“Untuk apa?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Kita lihat, apakah yang tersimpan didalam padepokan itu. Panembahan Bajang tentu tidak sekedar berkhayal tentang teja yang dilihatnya dengan ketajaman penglihatan batinnya. Mungkin kita juga tidak akan dapat melihatnya. Seandainya benda yang bertuah itu telah dipindahkannya atau bahkan telah disingkirkan dari padepokan itu, kita tidak akan dapat mengetahuinya,” jawab Mahisa Pukat.
Jadi bagaimana menurut pendapatmu untuk mengetahui dimana benda itu disimpan jika kita tidak dapat melihat dengan penglihatan batin kita teja yang memancar dari benda itu?” bertanya Mahisa Bungalan.
Kita bongkar seluruh padepokan jika Ajar Bomantara tidak mau menunjukkan dimana benda itu disimpannya,” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya. “Cobalah berpikir. Jangan menjawab dengan serta merta. Meskipun kau masih muda, tetapi kau sudah memiliki ilmu puncak yang diturunkan oleh ayah kita. Karena itu, maka kau harus mencoba merubah caramu berpikir. Menangkap persoalannya, mencernakannya dan kemudian mengurai sebelum jalan pemecahannya.”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata, “Aku melihat cara yang paling cepat.”
“Dalam beberapa hal, kita memang dapat menempuh jalan pintas seperti itu,” jawab Mahisa Bungalan, “Tetapi menghadapi lingkungan orang-orang berilmu tinggi, kita harus memikirkan banyak pertimbangan.”
“Ya. Aku mengerti,” berkata Mahisa Pukat kemudian. Sambil berpaling kepada Mahisa Murti ia bertanya, “Bagaimana menurut pendapatmu?”
“Hampir saja aku juga menjawab sebagaimana kau katakan,” berkata Mahisa Murti, “untunglah bahwa kaulah yang mengucapkannya lebih dahulu.”
“Nah, setelah itu, kau mau berbicara apa?” desak Mahisa Pukat.
“Aku tidak akan berbicara apa-apa,” jawab Mahisa Murti.
“Mungkin kau berpendapat lain daripada yang hampir saja kau ucapkan itu,” berkata Mahisa Bungalan.
Mahisa Murti berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku tidak dapat mengatakan sesuatu. Tetapi aku kira, kita harus segera sampai di padepokan itu. Jika terjadi perubahan atau hal-hal lain, mudah-mudahan kita dapat melihatnya.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku kira langkah pertama adalah, kita pergi ke Lemah Teles. Kemudian kita akan merencanakan langkah-langkah berikutnya.
Ternyata bahwa semuanya pun sepakat untuk segera pergi ke Padepokan Lemah Teles. Langkah-langkah berikutnya akan ditentukan kemudian.
Tetapi mereka masih akan menunggu sampai fajar. Menurut pendengaran Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan, Panembahan Bajang akan berada di padepokan itu barang satu dua hari. Namun mereka tidak dapat berpegangan kepada kata-kata yang dilontarkan dengan serta merta itu. Mungkin Panembahan Bajang merubah keputusannya dan tiba-tiba saja berniat untuk pergi ke Padepokan Lemah Teles.
Pada sisa malam itu, mereka berempat masih sempat beristirahat meskipun seorang diantara mereka harus tetap berjaga-jaga. Namun bergantian mereka mendapat kesempatan meskipun hanya sekejap untuk memenjamkan matanya.
Ketika langit menjadi merah, maka keempat orang itupun telah bersiap-siap. Merekapun kemudian membenahi diri dan mencuci muka di sebuah anak sungai yang kecil, namun berair sangat jernih.
Seperti biasanya, maka keempat orang itu tidak berjalan beriringan. Tetapi dua orang berjalan agak ke depan dan beberapa langkah kemudian baru Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan. Bahkan kadang-kadang di tempat yang ramai, jarak diantara mereka itupun diperpanjang menjadi beberapa langkah lebih jauh.
Dengan ketajaman pengamatan mereka, maka berdasarkan atas petunjuk dari Arya Rumput, maka mereka telah menemukan jalur jalan yang benar. Namun mereka tidak akan dapat mencapai jarak yang akan mereka tempuh dalam sehari perjalanan. Mereka harus bermalam di perjalanan meskipun hal itu tidak akan menjadi persoalan bagi mereka, sebagaimana makan dan minum mereka selama mereka menempuh perjalanan itu. Bekal uang yang mereka bawa cukup banyak untuk membeli makanan dan minuman di kedai-kedai dan di warung-warung.
Sementara itu, ketika mereka melintasi hutan di lereng pegunungan, hati mereka menjadi berdebar-debar. Ternyata hutan di lereng pegunungan itu telah pernah mengalami bencana karena pokal para pengikut Pangeran Kuda Permati. Beberapa puluh patok hutan itu telah digundulinya.
Beberapa pokok pohon-pohon yang tumbang mulai semi kembali, sementara jenis-jenis pohon yang baru telah tumbuh pula menjadi semak-semak.
“Untunglah bahwa usaha ini dapat dicegah dan dihentikan,” berkata Mahisa Bungalan, “Jika usaha ini tidak dapat dibatasi dan dihentikan, maka bencana tentu benar-benar akan melanda bukan saja lereng gunung ini. Tetapi daerah di sekitar bukit ini dalam lingkungan yang luas.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun menjadi ngeri membayangkan, apa yang akan terjadi jika usaha untuk menebangi pepohonan di hutan-hutan di lereng pegunungan itu tidak dapat dihentikan.
Demikianlah keempat orang itu berjalan bagaikan sebuah tamasya. Sekali-sekali mereka menyusuri tepi-tepi hutan. Kemudian mereka melintas di bulak-bulak panjang, menyusup hutan. Kemudian mereka melintas di bulak-bulak panjang, menyusup diantara pepohonan di padukuhan-padukuhan serta menyeberangi sungai besar dan kecil. Mendaki bukit, menuruni jurang, dan lereng-lereng pegunungan.
Jika mereka merasa haus dan lapar, maka mereka pun singgah di warung-warung untuk membeli minuman dan makanan. Meskipun kadang-kadang, di tempat yang sangat jauh dengan kedai atau warung, mereka dapat minum titik-titik air dari belik.
Ketika malam turun, maka mereka berempat telah mencari tempat untuk bermalam. Mereka ternyata telah menemukan satu tempat yang paling baik. Di pinggir hutan perdu, agak jauh dari jalan yang ramai, tetapi dekat dengan sebuah mata air.
Semalam penuh mereka dapat beristirahat, meskipun bergantian mereka berjaga-jaga. Tetapi rasa-rasanya mereka mempunyai waktu terlalu banyak untuk tidur.
Mereka melanjutkan perjalanan menjelang matahari terbit. Mereka berjalan cepat meskipun tidak sampai menarik perhatian orang yang berpapasan dengan mereka. Semakin dekat, mereka justru menjadi semakin ingin segera mencapai padepokan Ajar Bomantara.
Seperti yang pernah mereka lakukan, maka mereka akan mendekati padepokan itu di malam hari.
Dalam pada itu, beberapa puluh patok dari padepokan itu, Mahisa Bungalan minta Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menunggu. Tetapi agaknya kedua anak yang sudah merasa menjadi dewasa itu pada satu saat telah membantah.
Dengan nada yang dalam Mahisa Murti berkata, “Kakang, kenapa kakang tidak memberi kesempatan sama sekali kepada kami berdua. Jika demikian apakah artinya kami sampai ke tempat ini.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Pangeran Singa Narpada menyahut, “Meskipun kehadiran kalian disini adalah atas keinginan kalian sendiri, tetapi baiklah jika dengan demikian kalian akan kehilangan kejemuan kalian.”
“Jadi kami berdua diijinkan mendekat?” bertanya Mahisa Pukat.
“Tetapi kita harus sangat berhati-hati,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Kalian harus menyadari, bahwa jika kita salah langkah, maka persoalan akan menjadi semakin rumit. Akibat lain yang dapat terjadi adalah, kita tidak akan keluar lagi dari tempat ini bersama wadag kita.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan sungguh-sungguh Mahisa Murti berkata, “Kami akan berusaha untuk tidak mengecewakan Pangeran dan kakang Mahisa Bungalan.”
Pangeran Singa Narpada memandangi kedua anak muda itu. Namun sebenarnyalah bahwa mereka sudah bukan kanak-kanak lagi.
Menilik ujud dan sikapnya, keduanya benar-benar telah menjadi anak-anak muda yang dewasa sepenuhnya. Yang sudah sepantasnya untuk mendapatkan kepercayaan dalam saat-saat yang penting.
Demikianlah, maka keempat orang itupun telah mendekati padepokan yang disebut padepokan Lemah Teles, ketika malam telah turun. Keempat orang itu tidak bersama-sama berada di satu tempat. Tetapi telah membagi diri. Karena keadaan-yang mereka hadapi adalah keadaan yang gawat, maka mereka tidak lagi membagi sebagaimana yang pernah mereka lakukan. Tetapi Mahisa Murti berada di sisi kiri bersama Pangeran Singa Narpada, sementara Mahisa Pukat bersama Mahisa Bungalan berada di sisi kanan.
Dengan sangat berhati-hati mereka mendekati padepokan, melintasi pategalan yang agaknya diusahakan oleh para cantrik. Namun agak berbeda dengan padepokan mPu Lengkon, padepokan ini dibatasi oleh dinding padepokan berlapis dua. Selapis membatasi kebun buah dan bunga yang tumbuh mengitari padepokan. Kemudian selapis membatasi halaman padepokan yang gilar-gilar di muka pendapa. Halaman yang bersih dan tidak ditanami apapun juga, sehingga terbuka seperti sebuah lapangan yang cukup luas.
Seperti yang pernah mereka lakukan, maka baik mereka yang di sisi kiri maupun yang berada di sisi kanan telah meloncati dinding dilapis pertama. Kemudian mereka pun berusaha untuk mendekati dinding dilapis kedua. Baru setelah mereka yakin bahwa tidak ada orang yang ada di sekitar mereka, maka mereka pun berusaha untuk memanjat. Mereka harus lebih berhati-hati daripada memanjat dinding halaman yang mempunyai batang-batang pohon buah-buahan dan bunga-bungaan, sehingga mereka dapat berlindung dibalik bayangan pepohonan.
Karena itu, maka mereka tidak dapat meloncat dan hinggap diatas dinding. Tetapi mereka dengan sangat hati-hati berusaha untuk memanjat dan menjengukkan kepala mereka. Ternyata bahwa halaman yang luas dan bersih itu kosong sama sekali. Tidak ada seorang pun yang nampak.
Untuk beberapa saat mereka bertahan di tempat mereka dengan tangan yang bergantung pada bibir dinding yang untuk tidak terlalu tinggi. Kaki mereka mencari alas untuk dapat bertahan beberapa lama dalam keadaan yang demikian.
Namun mereka pun menjadi berdebar-debar ketika mereka tiba-tiba melihat tiga orang keluar lewat pintu pringgitan. Dua diantara mereka adalah orang-orang yang pernah mereka kenal sebelumnya, terutama Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan. Kedua orang itu adalah Panembahan Bajang dan mPu Lengkon.
“Gila,” desis Pangeran Singa Narpada didalam hatinya, “Kedua orang iblis itu telah berada disini pula.”
Namun keempat orang yang berada di sebelah menyebelah halaman itu tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Mereka berbicara perlahan-lahan, tidak sebagaimana dilakukan oleh mPu Lengkon dan Panembahan Bajang di padepokan Empu Lengkon. Tetapi dengan Ki Ajar Bomantara mereka seakan-akan hanya berbisik-bisik saja.
Tetapi agaknya mereka berbicara dengan sungguh-sungguh. Bahkan seakan-akan telah terjadi perselisihan diantara mereka. Namun akhirnya mereka bertiga pun terdiam beberapa saat.
Keempat orang yang mengintip keadaan padepokan itu masih bertahan di tempatnya. Untunglah bahwa mereka mempunyai bekal kekuatan yang dapat mengikat mereka dalam keadaan yang sulit itu, sehingga mereka berempat sempat untuk melihat peristiwa yang terjadi di pendapa, dibawah cahaya lampu minyak yang tidak begitu terang.
Dalam keadaan yang demikian, maka tiba-tiba saja mPu Lengkon berdiri sambil berkata lantang, sehingga lamat-lamat keempat orang itu sempat mendengarnya, “Aku tidak ikut campur. Aku akan kembali ke padepokan.”
Ki Ajar Bomantara berusaha untuk mencegahnya. Katanya, “Tunggu. Kita dapat berbicara.”
“Tidak,” suara mPu Lengkon tetap lantang.
Panembahan Bajang termangu-mangu sejenak. Agaknya ia menjadi bingung, apakah yang sebaiknya dilakukan.
Namun ketika mPu Lengkon telah turun di halaman, maka Panembahan Bajang pun berkata, “Tunggu. Aku mempunyai pendapat.”
mPu Lengkon berhenti. Pembicaraan mereka menjadi keras sehingga Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Murti serta Mahisa Bungalan dan Mahisa Pukat pun dapat mendengarnya.
“Bukankah kita akan dapat tetap bersama-sama,” berkata Panembahan Bajang.
“Tetapi kau tidak mau lagi melihat kematian-kematian yang tidak berarti melanda Tanah ini,” berkata mPu Lengkon.
“Baiklah,” berkata Panembahan Bajang, lalu, “Tetapi kemarilah. Duduklah.”
“Aku akan pulang,” jawab mPu Lengkon.
“Jangan pergi,” suara Ki Ajar lantang. “Kau harus tetap tinggal disini. Ikut atau tidak ikut.”
“Kau takut aku berkhianat?” bertanya mPu Lengkon. “Sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan mencampuri persoalan kalian dan persoalan yang akan dapat menumbuhkan kembali pembunuhan-pembunuhan disini.”
“Bukankah kita baru akan membicarakannya,” berkata Panembahan Bajang. “Kita belum yakin bahwa kita akan melangkah, karena banyak masalah yang harus kita perhitungkan. Nah, dalam keadaan yang demikian kami memerlukan kau.”
mPu Lengkon termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya. Aku akan pulang. Jika kalian memerlukan aku, cari aku di Ara-ara Amba.”
“Setan kau,” geram Ki Ajar.
Tetapi mPu Lengkon ternyata tidak berhenti. Ia berjalan. Ia berjalan terus meninggalkan Ki Ajar dan Panembahan Bajang, melintasi halaman menuju ke regol.
“MPu, barangkali … “ berkata Panembahan Bajang.
mPu Lengkon memang berhenti dan berpaling. Sementara itu Panembahan Bajang pun berkata, “Apakah kau benar-benar akan meninggalkan aku disini?”
“Ya. Kecuali jika kau mau meninggalkan tempat ini pula sekarang,” jawab mPu Lengkon.
“Jadi untuk apa kau kemari?” bertanya Panembahan Bajang.
“Untuk mencoba meyakinkan kalian, bahwa usaha berikutnya akan sia-sia kecuali hanya menambah kematian saja,” berkata mPu Lengkon.
“Tetapi ingat,” berkata Panembahan Bajang. “Jika kau berkeras, aku dapat membuatmu gila.”
“Lakukanlah jika kau dapat,” tantang mPu Lengkon. “Tetapi kau pun harus sadar, jika kau mencoba, maka aku akan dapat mengoyak perutmu dari padepokanku dimanapun kau berada, dan dimanapun kau berusaha bersembunyi, kerisku mempunyai ketajaman penglihatan melampaui ketajaman penglihatanmu.”
Panembahan Bajang tidak menjawab lagi. Sementara mPu Lengkon benar-benar meninggalkan padepokan Ki Ajar Bomantara.
“Biarlah,” berkata Ki Ajar, “Kita tidak memerlukannya.”
Panembahan Bajang termangu-mangu.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Ajar berkata, “Atau kita akan menyelesaikannya sama sekali?”
Panembahan Bajang menggeleng. Katanya, “Tidak mungkin. Kecuali Empu Lengkon memiliki ilmu yang sangat tinggi, maka kita tidak akan sampai hati melakukannya.”
“Jika demikian, baiklah. Kita biarkan saja orang itu pergi. Bukankah kita akan dapat berbuat banyak tanpa orang itu. Kecuali jika mPu Lengkon berkhianat,” berkata Ki Ajar.
“Aku yakin, bahwa ia tidak akan berkhianat, meskipun ia tidak mau melibatkan diri,” berkata Panembahan Bajang.
Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita tidak akan mempersoalkannya lagi.”
Panembahan Bajang pun mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Ajar mempersilahkannya, “Marilah. Kita masuk.”
Keduanya pun kemudian memasuki rumah induk dari padepokan Ki Ajar yang bersih itu.
Dalam pada itu Pangeran Singa Narpada, Mahisa Murti, Mahisa Bungalan dan Mahisa Pukat menunggu sejenak. Baru kemudian mereka dengan hati-hati telah meninggalkan tempat masing-masing di sebelah menyebelah halaman.
Beberapa saat kemudian, maka mereka pun telah berada di tempat yang mereka sepakati. Mereka ternyata melihat dan mendengar sebagian besar dari pembicaraan ketiga orang di dalam lingkungan padepokan itu, sehingga mereka pun mengerti, apa yang ternyata telah terjadi di padepokan itu dan terutama bagi kegentingan Kediri.
“Ki Ajar Bomantara telah bertekad untuk menumbuhkan kembali pertentangan itu,” berkata Pangeran Singa Narpada.
“Ya,” jawab Mahisa Bungalan, “Agaknya Ki Ajar yakin akan mendapat dukungan kekuatan dari beberapa pihak. Tetapi agaknya mPu Lengkon lebih melihat kenyataan daripada Ki Ajar dan Panembahan Bajang.”
“Kita harus mengambil langkah sekarang,” berkata Mahisa Pukat, “Memang mereka belum sempat menghimpun kekuatan.”
“Kita tidak dapat tergesa-gesa,” berkata Mahisa Bungalan kemudian, “Kita belum tahu, apa yang tersimpan didalam padepokan itu. Kita tidak tahu, apakah didalamnya terdapat sejumlah pasukan atau tidak.”
Mahisa Murti lah yang menjawab, “Tidak terdapat penjagaan-penjagaan. Jika padepokan itu menyimpan kekuatan, maka tentu akan nampak penjagaan-penjagaan yang ketat dimana-mana di seputar padepokan itu.”
“Menurut penglihatan kita yang baru sekilas,” berkata Mahisa Bungalan, “Kita tidak tahu bahwa penjagaan yang ketat itu berada dibalik-balik dinding.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara itu Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Memang sebaiknya kita harus berhati-hati. Kita akan menunggu beberapa lama untuk meyakinkan diri atas isi padepokan itu. Baru kemudian kita akan berbicara apa yang akan kita lakukan. Bukankah sejak berangkat kita sudah berpendirian demikian.”
“Ya,” jawab Mahisa Bungalan, “Namun ternyata bahwa perjalanan kita terlalu lamban. Kita yang ingin mendahului kedua orang itu, justru mereka telah berada di padepokan ini.”
“Orang-orang seperti kedua orang itu memang sulit untuk diperhitungkan sikap dan pendiriannya,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kita harus melangkah dengan hati-hati,” berkata Mahisa Bungalan, “Kita harus menemukan benda yang paling berharga bagi Kediri sekaligus tempat persembunyian Pangeran Lembu Sabdata. Menurut perhitungan kita, ada hubungan yang erat antara hilangnya Pangeran Lembu Sabdata dan benda berharga itu. Apalagi cara yang dipergunakan oleh orang-orang yang mengambilnya ternyata sama.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi untuk menunggu terlalu lama agaknya akan menjadi beban perasaan yang sangat berat.”
“Kau bukan saja harus menempa kemampuan ilmumu, tetapi kau juga harus menempa ketahanan batinmu menghadapi persoalan-persoalan yang rumit, termasuk kejemuan,” berkata Mahisa Bungalan.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang Mahisa Murti, maka Mahisa Murti pun tersenyum kepadanya.
Dengan demikian maka kedua orang anak muda itupun saling berdiam diri. Mereka dapat mengerti sepenuhnya pendapat Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan, sehingga mereka tidak merasa terpaksa untuk melakukannya.
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Dengan demikian, maka kita memerlukan satu tempat yang akan dapat kita tempati untuk waktu yang agak lama. Mungkin kita akan berada di tempat itu untuk satu bahkan dua pekan.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita harus mencarinya. Tempat itu harus dijaga agar tidak diketemukan sengaja atau tidak oleh kedua orang berilmu tinggi itu, maupun cantrik-cantrik dari padepokan Ki Ajar.
“Besok pagi-pagi kita harus sudah menemukannya. Mungkin kita harus bergeser ke tempat yang agak jauh,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Malam itu, mereka masih dapat beristirahat di tempat itu. Namun mereka pun harus tetap berhati-hati. Bergantian mereka harus berjaga-jaga.
Sebagaimana mereka rencanakan, maka ketika matahari terbit, mereka pun membenahi diri. Mereka meninggalkan tempat itu untuk menemukan tempat yang lebih baik, yang dapat mereka pergunakan untuk waktu yang lebih lama dari satu atau dua malam saja.
Namun sebagai pengembara-pengembara yang berpengalaman, mereka tidak banyak mengalami kesulitan. Setelah menelusuri hutan dan sungai, maka akhirnya mereka menemukan suatu tempat yang terlindung oleh bukit-bukit kecil, namun tidak terlalu jauh dari sebatang anak sungai yang tidak begitu besar.
“Tetapi ingat,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Meskipun tempat ini terlindung, tetapi jika kita membuat api disini, maka asapnya akan kelihatan dari jarak yang jauh.”
“Jadi kita tidak akan membuat api? Jika malam dinginnya menggigit kulit sampai menembus tulang?” bertanya Mahisa Murti.
“Kita akan mempergunakan selimut kain panjang kita,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Atau jika malam telah larut kita dapat membuat perapian. Tetapi tidak terlalu besar, agar cahaya apinya tidak nampak membayangi pekatnya malam.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun iapun sadar, bahwa mereka memang tidak begitu perlu untuk membuat api. Udara yang dingin dapat mereka hindari dengan selimut rangkap, sementara jika mereka lapar, mereka dapat membeli makanan apa saja yang mereka kehendaki di pasar terdekat. Karena itu, maka mereka tidak akan menemui kesulitan apa pun juga selama mereka berada di tempat itu.
Namun ketika malam datang, mereka pun segera mempersiapkan diri untuk mengamati padepokan Ki Ajar. Mereka ingin melihat apa yang ada didalam padepokan itu.
Namun seperti yang direncanakan, maka mereka memang tidak tergesa-gesa. Mereka ingin tidak melakukan kesalahan sehingga usaha mereka gagal sama sekali. Bahkan mungkin akan dapat membayangi jiwa mereka.
Karena itu, maka yang mereka lakukan adalah langkah-langkah yang sangat berhati-hati. Seperti pada malam mereka melakukan pengintaian dan mendengarkan pembicaraan Panembahan Bajang. Empu Lengkong dan Ki Ajar, maka malam itupun mereka hanya sekedar melihat-lihat dari luar dinding halaman.
Tetapi mereka tidak melihat sesuatu. Malam itu padepokan Ki Ajar nampak terlalu sepi. Jika mereka melihat satu dua orang cantrik lewat di halaman. maka para cantrik itupun tidak berbuat apa-apa.
Dengan demikian, maka di malam pertama itu, mereka tidak melihat orang yang mereka cari. Sehingga setelah mereka berada beberapa lama di sekitar padepokan itu, maka mereka pun telah kembali ke tempat mereka bersembunyi.
“Kita akan beristirahat saja,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Tetapi besok siang kita akan bekerja. Kita akan mengamati pintu gerbang padepokan itu. Tetapi karena padepokan itu agak terpencil, maka kita harus berhati-hati. Mula-mula kita dapat mengamati keadaan dari jarak yang agak jauh. Kita akan lewat di jalan yang membujur melintasi bulak di dekat padepokan itu. Tetapi kita tidak menelusuri jalan yang melalui padepokan itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah mengetahui maksud Pangeran Singa Narpada. Mereka harus mengamati kemungkinan-kemungkinan yang dapat diambil dengan memperhatikan lingkungan di sekitar padepokan itu. Baru kemudian dapat diambil langkah-langkah berikutnya.
“Nah, agaknya orang yang paling tepat disini adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, seandainya didalam padepokan itu tinggal Pangeran Lembu Sabdata. Meskipun kalian pernah bertemu, tetapi Lembu Sabdata tidak akan mengira bahwa kalian akan berada disini. Jika kebetulan kalian berpapasan di jalan, atau bersama-sama membeli apapun juga di warung dan di kedai-kedai, maka kalian harus berusaha untuk tidak dikenal oleh Pangeran itu.” pesan Mahisa Bungalan.
“Mudah mudahan,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi aku pernah bertempur melawannya. Mudah-mudahan ia memang tidak akan teringat aku lagi.” Mahisa Murti berhenti sejenak, namun kemudian, “Tetapi jika kita berpapasan dan Pangeran Lembu Sabdata mengenal kami?”
Sebelum Mahisa Bungalan menjawab, Mahisa Pukat telah mendahului. “Tidak ada jalan lain kecuali menangkapnya. Bukankah begitu kakang?”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam, sementara Mahisa Pukat berusaha menjelaskan, “Bukankah tujuan akhir kita menangkap Pangeran itu? Jika kita yakin bahwa yang mengambil benda berharga itu juga orang yang mengambil Pangeran Sabdata maka kita akan dapat bertanya kepadanya.”
Pangeran Singa Narpada tersenyum. Katanya, “Aku dapat mengerti. Jika kita berhasil menangkap Pangeran Lembu Sabdata, maka ia tentu akan dapat berbicara, siapakah yang telah membebaskannya. Orang yang membebaskannya itu pulalah yang dapat dipastikan, bahwa ia pulalah yang telah mengambil benda berharga itu dari gedung perbendaharaan.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Memang dapat dimengerti. Tetapi harus diingat. Tidak mudah untuk menangkapnya. Jika ia berada di padepokan orang yang berilmu tinggi dan berniat untuk memperalatnya sebagaimana Pangeran Kuda Permati, maka Pangeran Lembu Sabdata tentu sudah menjalani laku, sehingga ia akan menjadi seorang yang pilih tanding.”
“Kami akan berusaha menangkapnya,” berkata Mahisa Pukat, “Tetapi jika ternyata kamilah yang justru tertangkap atau bahkan terbunuh, itu merupakan salah satu akibat yang harus sudah diperhitungkan sebelumnya.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi aku masih berpesan, jika terjadi sesuatu diluar kemampuan kalian, maka kalian segera memberikan isyarat.”
“Isyarat apa?” bertanya Mahisa Pukat, “Mungkin kami dapat memberikan isyarat dengan suitan. Tetapi apakah kakang pasti dapat mendengarnya?”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Memang tidak mudah untuk memberikan isyarat. Karena itu, maka setiap kalian pergi kalian harus memberi tahukan tujuan kalian. Jika kami merasakan gejolak didalam perasaan kami, maka kami akan segera dapat mencari kalian. Mungkin kalian tidak berjumpa hanya dengan Pangeran Lembu Sabdata saja jika ia memang berada disini. Tetapi mungkin Pangeran Lembu Sabdata itu bersama-sama dengan Ki Ajar Bomantara atau bersama-sama mPu Lengkon. Nah, kalian dapat membayangkan, jika Pangeran Lembu Sabdata itu mengenali kalian dan bersama-sama dengan Ki Ajar dan mPu Lengkon berusaha menangkap kalian, maka yang terjadi tentu sebaliknya dari yang kita kehendaki.”
“Kami menyadari,” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Tetapi sudah tentu bahwa kami tidak akan menjerit-jerit seperti seorang anak perempuan dijalari seekor ulat ditengkuknya.”
Mahisa Bungalan pun tersenyum pula. Katanya, “Baiklah. Kalian tentu juga terikat oleh harga diri. Tetapi seandainya hal seperti itu terjadi, maka aku kira bukan salah kalian, jika kalian berusaha memancing mereka mendekati tempat kita ini, sehingga apabila aku dan Pangeran Singa Narpada melihat, maka kami dapat ikut serta menangkap mereka.”
“Kakang menganjurkan kami untuk melarikan diri dari medan meskipun dengan istilah memancing mereka mendekati tempat ini,” berkata Mahisa Pukat.
“Sulit berbicara dengan kalian,” berkata Mahisa Bungalan, “Apapun kehendak kalian sebut, tetapi sebaiknya kita berbuat berdasarkan nalar. Jangan perasaan semata-mata. Jika aku dan Pangeran Singa Narpada dapat ikut melibatkan diri, maka setidak-tidaknya kami akan dapat menempatkan diri melawan orang-orang tua itu, meskipun masih juga merupakan pertanyaan, apakah kami akan dapat bertahan atau tidak. Tetapi bagaimanapun juga pengalamanku dan pengalaman Pangeran Singa Narpada tentu lebih banyak dari pengalamanmu berdua meskipun kalian juga pernah mengembara.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Meskipun demikian mereka telah mengangguk-angguk kecil. Memang ada semacam pertentangan antara pengertiannya atas pendapat kakaknya dengan harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
“Kita akan lihat, apa yang akan terjadi.” Katanya di dalam hati. Bahkan kemudian ia berkata kepada diri sendiri. “Persoalan ini memang dapat dibicarakan tiga hari tiga malam tanpa berkesudahan. Tetapi tahu-tahu Pangeran Lembu Sabdata tidak berada di padepokan ini.”
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapatkan tugas untuk mengamati padepokan itu, tidak dari jarak yang terlalu dekat. Bahkan agar mereka berada di tempat-tempat yang ramai, mungkin di pasar atau tempat-tempat lain yang dapat memberikan kemungkinan melihat atau bertemu dengan penghuni padepokan itu, terutama jika Pangeran Lembu Sabdata berada di tempat itu. Untuk beberapa saat lamanya, maka keduanya berjalan, menyusuri jalan yang melalui padukuhan yang berada di seberang bulak padepokan Ki Ajar yang memang agak terpencil. Dari padukuhan itu mereka melihat, padepokan seakan-akan sebuah daerah pemukiman yang terpisah dari lingkungan di seputarnya, meskipun tidak menutup kemungkinan penghuninya saling berhubungan dengan orang-orang di padukuhan-padukuhan sekitarnya.
“Kita tidak melihat apa-apa dari padukuhan ini,” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti termangu-mangu. Namun mereka melihat sebuah anak sungai yang mengalir melalui gumuk kecil di sebelah padepokan itu.
“Kita menelusuri sungai itu. Tebingnya cukup tinggi, apa lagi jika kita sampai di balik gumuk itu,” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Ada baiknya kita agak mendekat. Setidak-tidaknya kita dapat melihat, bagaimana para cantrik bersikap dan berpakaian. Jika kita bertemu dengan mereka, maka kita akan dapat mengenalinya.”
“Dengan demikian maka kedua anak muda itu telah sepakat untuk pergi ke gumuk kecil lewat anak sungai yang tebingnya cukup tinggi melindungi tubuh mereka.
Namun bagaimanapun juga mereka harus berhati-hati. Tidak mustahil mereka bertemu dengan satu dua orang cantrik yang sedang berada di sungai. Bahkan mencari ikan.
Untunglah bahwa saat kedua anak muda itu menelusuri sungai, tidak dijumpainya seorang pun juga, sehingga mereka kemudian telah mencapai gumuk kecil diatas tebing.
Perlahan-lahan mereka memanjat tebing dan kemudian mereka telah berada di belakang semak-semak di gumuk kecil yang ternyata ditumbuhi pepohonan perdu yang lebat. Ada satu dua batang pohon yang agak besar dan rimbun, dijalari oleh sulur-sulur liar yang bergayutan.
Kedua anak muda itu terkejut ketika mereka hampir saja menginjak seekor ular berwarna loreng. Setapak mereka surut. Namun dengan pengamatan yang tajam, mereka-pun menyadari, bahwa gumuk itu tentu jarang sekali di sentuh kaki manusia, karena tempat itu nampak terlalu liar dan terlalu banyak ular yang berkeliaran.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mencemaskan dirinya terhadap bisa yang betapapun tajamnya. Mereka telah memiliki penangkal bisa yang dapat melindungi tubuh mereka dari bisa dan racun setajam apapun juga. Meskipun demikian keduanya masih juga berusaha agar mereka tidak digigit ular ataupun sejenis serangga yang mempunyai bisa yang sangat tajam.
Untuk beberapa saat mereka melintasi gerumbul-gerumbul liar yang mendebarkan. Betapapun juga keduanya berusaha menghindar, namun ternyata Mahisa Pukat telah digigit seekor ular berleher merah yang bisanya sangat tajam.
Untuk melepaskan gigitan ular itu memang agak sulit. Jika ular itu ditariknya dengan paksa, maka tentu akan menimbulkan luka pada kulit Mahisa Pukat.
Namun kedua anak muda itu telah membawa semacam serbuk yang dapat membunuh ular-ular yang menggigit mereka. Dengan menaburkan serbuk itu pada tempat ular itu menggigit, maka ular itupun kemudian bagaikan menjadi mabuk. Lambat laun gigitannya pun terlepas dan ular itu mati lemas.
Dalam pada itu, maka kedua anak muda itupun telah menemukan sebongkah batu besar yang dapat mereka pergunakan untuk melindungi diri mereka, sementara itu, mereka dapat melihat-lihat dengan agak jelas ke arah padepokan Ki Ajar yang terpencil itu.
Tetapi ternyata mereka tidak melihat sesuatu. Namun demikian keduanya tidak segera menjadi jemu dan meninggalkan tempat itu. Meskipun setiap kali mereka melihat seekor ular yang menelusur dekat dibawah kaki mereka, namun mereka tetap bertahan untuk beberapa saat. Agar mereka tidak lagi diganggu oleh ular-ular itu, maka mereka telah menaburkan serbuk yang mereka bawa itu di seputar tempat mereka duduk.
Ternyata usaha mereka itu tidak sia-sia. Beberapa saat kemudian mereka melihat dua orang keluar dari regol padepokan. Keduanya tidak memakai ikat kepala, tetapi ikat kepalanya disangkutkan melingkar leher mereka.
Bertelanjang dada dan mengenakan kain panjang yang tinggi sekali. Bahkan diatas lututnya. Ikat pinggang mereka terbuat dari kulit yang lebar dengan dua kantong di bagian depan, sebelah menyebelah.
“Mungkin keduanya secara kebetulan mengenakan pakaian dengan cara yang sama,” desis Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
Namun dalam pada itu, beberapa saat kemudian mereka melihat seorang yang memasuki regol dengan mengenakan pakaian yang sama pula.
“Kau lihat,” desis Mahisa Pukat.
“Ya. Mungkin ciri para cantrik di padepokan itu,” sahut Mahisa Murti, “Tetapi kita tidak tahu, apakah jika mereka pergi ke padukuhan lain atau ke tempat ramai seperti pasar dan lain-lain mereka berpakaian seperti itu juga.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Besok kita pergi ke pasar. Kita menunggu apakah kita menjumpai seseorang dalam pakaian seperti itu.”
“Kita dapat saja mengamati untuk dua tiga hari. Tetapi apakah hal itu akan mengarah kepada kemungkinan kita bertemu dengan Pangeran Lembu Sabdata?” bertanya Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Ya. Kadang-kadang kita melupakan, bahwa yang dicari adalah Pangeran Lembu Sabdata. Tetapi siapa tahu, bahwa diantara para cantrik itu memang terdapat Pangeran Lembu Sabdata.”
“Jika ia berada di padepokan itu, agaknya ia tidak akan dipersamakan dengan para cantrik,” jawab Mahisa Murti.
Sekali lagi Mahisa Pukat mengangguk-angguk sambil bergumam, “Yang aku katakan, selalu terdapat kelemahan-kelemahannya.”
Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Aku hanya memberikan pertimbangan.”
“Ya. Karena itu, sebaiknya kita berada disini untuk dua tiga hari. Mungkin Pangeran Lembu Sabdata akan keluar juga sekali-sekali dari regol padepokan. Jika dalam dua tiga hari kita tidak melihatnya keluar atau masuk, maka orang itu tentu tidak ada di padepokan itu,” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tidak membantah lagi. Sambil tersenyum ia berkata, “Aku setuju. Tetapi besok kita akan membawa bekal makanan yang dapat kita makan disini.”
Mahisa Pukat mengangguk kecil. Katanya, “Hari ini kita tidak akan menunggui regol itu sehari penuh.”
Mahisa Murti tidak menjawab. Namun mereka melihat seorang lagi di regol. Hanya berdiri di regol. Tetapi orang itu-pun mengenakan ikat kepalanya sebagaimana yang lain. Disangkutkan di lehernya, sementara rambutnya digelungnya diatas ubun-ubun.
Dengan demikian mereka mengambil satu kesimpulan, bahwa orang-orang yang menghuni padepokan itu mengenakan pakaian sebagaimana dilihatnya.
Tetapi seperti yang sudah mereka pertanyakan sebelumnya, apakah jika mereka pergi ke tempat yang agak jauh atau ke tempat orang lain berkumpul, misalnya di pagar, mereka juga mengenakan pakaian seperti itu.
Dalam pada itu, ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah yakin bahwa para cantrik dari padepokan itu mempunyai ciri tersendiri dalam mengenakan pakaian, maka mereka pun bersepakat untuk meninggalkan tempat itu. Mereka merasa sangat terganggu oleh jenis-jenis binatang di gumuk itu. Diantaranya beracun sangat tajam. Meskipun keduanya tidak lagi akan dipengaruhi oleh racun dan bisa, namun rasa-rasanya binatang-binatang itu membuat mereka merasa terganggu juga.
Karena itu maka sejenak kemudian mereka pun telah meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat mereka bersembunyi. Tetapi yang ada di tempat itu hanyalah Pangeran Singa Narpada, sementara Mahisa Bungalan pergi mencari makanan ke warung atau kedai yang terdekat.
Kepada Pangeran Singa Narpada, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melaporkan apa yang telah dilihatnya, namun mereka pun mempertanyakan pula, apakah pakaian itu juga dikenakan jika mereka berada di tempat banyak orang.
“Cobalah besok kalian melihat-lihat ke tempat-tempat orang banyak berkumpul. Jika kalian menemukan seorang saja dalam pakaian seperti itu, maka ternyata bahwa mereka mempergunakan pakaian seperti itu dimanapun juga,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Demikianlah, ketika Mahisa Bungalan kembali sambil membawa makanan, iapun sependapat sebagaimana dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada. Besok Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebaiknya pergi ke pasar sebelum mereka kembali ke gumuk yang penuh dengan binatang berbisa itu.
Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan telah bersepakat untuk berusaha melihat sesuatu yang asing di padepokan itu. Jika benar dipadepokan itu ada sebuah benda yang keramat dan memancarkan teja, maka keduanya akan berusaha dengan memusatkan nalar budi, agar dengan mata batin mereka dapat melihat cahaya itu.
“Jika Panembahan Kerdil itu melihatnya, kita pun akan dapat melihatnya. Aku yakin, bahwa yang dikatakan oleh Panembahan kerdil itu tidak sekedar dicari-cari. Bukankah dalam percakapan mereka dengan mPu Lengkon sudah membayangkan apa yang akan mereka lakukan? Menurut dugaanku, mereka tidak akan berani merencanakannya tanpa Pangeran Lembu Sabdata dan tanpa benda keramat itu,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk sehingga mereka pun kemudian telah mengambil keputusan, bahwa malam nanti, mereka akan mendekati padepokan itu dan berusaha untuk melihat ke dalam lapisan dinding-dinding yang telah membatasi ruangan-ruangan.
Demikianlah, ketika matahari kemudian turun dan bersembunyi di balik perbukitan, maka keempat orang itupun telah bersiap. Mereka mulai meninggalkan tempat mereka dan berjalan dengan hati-hati ke padepokan yang memang agak terpencil itu.
Beberapa tonggak dari padepokan itu mereka berhenti. Setelah mendapatkan tempat yang baik, maka mereka pun telah mengatur tugas yang akan mereka lakukan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus mengamati keadaan, sementara Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan akan mencoba untuk mempergunakan penglihatan batin mereka, mengamati isi dari padepokan itu.
Untuk beberapa saat Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan duduk tepekur sambil memandangi padepokan yang sudah diselubungi oleh gelapnya malam. Mereka tengah mempersiapkan diri dalam usaha mereka mengamati dengan kekuatan dan ketajaman penglihatan batin mereka. Setapak demi setapak mereka menarik diri ke dalam batasan kekuatan jiwani, sehingga dengan demikian, maka perlahan-lahan mereka seolah-olah telah terpisah dari lingkungan mereka secara kewadagan.
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar