*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-008-01*
“Kita harus menyingkir,” jawab pemimpinnya itu.
“Menyingkir?” salah seorang di antara mereka mengulangi. Lalu , “Apakah kita akan melepaskan kesempatan ini? Bukankah kita akan mendapatkan imbalan yang cukup banyak dengan rencana penebangan hutan itu, sementara pada kesempatan-kesempatan lain kita masih tetap dapat melakukan pekerjaan kita di Kabuyutan-kabuyutan di sekitar tempat ini”
Pemimpinnya memandanginya dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Aku tidak sekedar menebak. Tetapi aku mempunyai perhitungan. Seandainya dua orang, jatuh ke tanganku. Aku akan dapat memeras semua keterangan tentang segala hal yang mereka ketahui. Jika orang itu tidak mengatakan, maka berarti bahwa mereka benar-benar tidak mengetahuinya”
Para pengikutnya itu pun mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan, apa saja dapat dilakukan oleh orang-orang Singasari itu atas kedua orang kawannya yang tertawan.
Karena itu, maka salah seorang diantara mereka pun bertanya, “Jika demikian, maka apakah sebaiknya kami lakukan?”
“Kita dapat mencari sasaran yang lain. Maksudku, kita minta untuk melakukannya di tempat yang lain. Tidak di tempat ini, karena setiap saat, orang-orang Singasari itu akan datang dengan pasukannya” jawab pemimpinnya, “tentu kita tidak ingin mati tanpa arti seperti yang sudah terjadi atas ketiga orang kawan kita. Sebagaimana kita ketahui, untuk melawan empat orang, kita bersepuluh tidak dapat menguasai mereka. Bahkan seandainya kita tidak melarikan diri, maka kita semuanya tentu akan mereka tumpas”
Para pengikutnya pun mengangguk-angguk. Mereka memang tidak dapat mengingkari satu kenyataan, bahwa mereka sepuluh orang tidak bernasil mengalahkan empat orang di antara prajurit Singasari. Dua orang di antara ke empat orang itu masih sangat muda. Apalagi jika yang datang sebanyak sepuluh orang setingkat dengan dua orang prajurit Singasari yang tua-tua itu.
Dengan demikian, maka akhirnya mereka telah sepakat untuk meninggalkan tempat itu. Mereka tidak sempat berbicara tentang orang-orang Kabuyutan Randumalang, karena mereka menganggap bahwa orang-orang Randumalang tidak terlibat langsung dalam persoalan mereka dengan prajurit-prajurit Singasari. Bahkan mereka telah menentukan bahwa kedua orang kawannya yang tertangkap itu telah melakukan satu kesalahaan besar sehingga akibatnya, mereka seluruhnya harus meninggalkan tempat yang sudah mereka siapkan sebaik-baiknya bagi sarang mereka, apabila mereka mulai dengan tugas-tugas barunya.
Tetapi mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Sehingga karena itu, maka mereka pun segera bersiap-siap untuk mencari sasaran, baru yang akan mereka sampaikan kepada orang yang menjanjikan imbalan yang cukup apabila mereka dapat menebangi dan kemudian membuat hutan menjadi gundul. Sekaligus menyingkir dari jangkauan tangan orang-orang Singasari yang telah menahan dua orang diantara mereka, karena salah mereka sendiri.
Namun dalam pada itu, yang terjadi itu telah menarik perhatian orang-orang Singasari. Mahisa Agni dan Witantra yang masih berada di perjalanan, sudah mulai membicarakan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh Singasari.
“Sudah pasti bahwa ada satu rencana yang luas dan tersusun rapi” berkata Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Memang agak berbeda dengan apa yang terjadi saat Mahisa Bungalan mengembara. Jika ada beberapa orang bangsawan Kediri yang mengangkat senjata, sumber persoalannya bukan rancangan yang masak untuk menghancurkan Singasari. Tetapi sekedar didorong oleh luapan perasaan anak-anak muda yang terpesona melihat cantiknya wajah perawan. Tetapi agaknya tidak demikian halnya yang terjadi sekarang ini. Tentu satu rancangan yang telah disusun dengan cermat. Bahkan untuk jangka waktu yang panjang”
“Mereka memandang Singasari sekarang masih sebagai satu kekuatan yang tidak terlawan” jawab Mahisa Agni, “karena itu, maka mereka telah menempuh satu cara yang akan sangat berbahaya. Bukan saja untuk satu tujuan, memperlemah Singasari dan mengalahkannya. Tetapi dengan perhitungan yang lebih luas. Bahkan dengan demikian maka Singasari akan tidak mungkin lagi akan hancur dilanda musim hujan. Singasari akan menjadi miskin dan kehilangan kemampuannya untuk bangkit. Penghuninya akan meninggalkan tanah yang menjadi gersang mencari pemukiman baru yang memberikan harapan bagi masa depan”
Witantra mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berpaling. Dilihatnya kedua orang tawanan itu menundukkan kepalanya, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berkuda di belakang mereka nampak selalu siap menghadapi segala kemungkinan.
Demikianlah iring-iringan itu berjalan tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak terlalu lambat. Demikianlah, maka iring-iringan itu ternyata tidak dapat mencapai Singasari hari itu juga, karena mereka terhenti untuk bertempur melawan sepuluh orang kawan kedua orang tawanan itu. Karena itu, maka mereka harus memilih, apakah mereka akan berkuda meskipun malam menjadi kelam.
“Aku lelah sekali” desis salah seorang tawanan itu kepada kawannya. Namun demikian, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat mendengarnya.
“Jadi, apakah kalian ingin berhenti bermalam di perjalanan yang sudah sangat pendek ini?” bertanya Mahisa Murti.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam Katanya, “Jika kalian sependapat. Ketika aku sadar dari pingsanku, terasa tubuhku sangat letih. Rasa-rasanya aku sudah tidak mampu lagi untuk melanjutkan perjalanan ini” Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya , “Biarlah membicarakannya dengan kedua pamanku itu”
Orang itu tidak menjawab. Tetapi nampaknya keduanya memang sudah sangat letih. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata kepada Mahisa Pukat, “Aku akan membicarakannya dengan kedua paman itu”
“Baiklah” jawab Mahisa Pukat, “tetapi menurut pendapatku, hal itu tidak sangat perlu. Betapapun lelahnya, jika kita masih ingin melanjutkan perjalanan, maka aku kira kita masih akan mampu melakukannya, kecuali beristirahat justru untuk kepentingan kuda-kuda kita”
Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian kedua orang itu untuk menyusul Mahisa Agni dan Witantra yang berkuda di depan.
Dengan pendek Mahisa Murti mengatakan permintaan kedua orang itu untuk beristirahat di perjalanan, karena mereka merasa sangat letih.
Mahisa Agni dan Witantra saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Witantra berkata, “Apakah hal itu sangat penting?” Bukankah kita tidak berkuda terlalu depat?”
“Tetapi agaknya kuda-kuda kita juga memerlukan beristirahat” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa Mahisa Murti pun baru saja terluka, Meskipun luka itu sudah pampat, tetapi luka itu tentu berpengaruh atas ketahanan tubuhnya, sehingga sebenarnya Mahisa Murti pun ingin untuk beristirahat barang sebentar.
Namun demikian Mahisa Agni berkata, “Baiklah. Tetapi kita harus berhati-hati. Sebenarnya kedua orang itu tentu tidak ingin atau tidak terpaksa harus beristirahat oleh keletihan yang tidak tertahankan lagi. Tetapi malam di perjalanan akan dapat memberikan beberapa kemungkinan bagi mereka. Mungkin mereka mendapat satu cara yang paling baik untuk melepaskan diri. Atau mungkin sekali kawan-kawan mereka masih akan menyusulnya”
Mahisa Murti mengangguk angguk. Lalu katanya, “Apakah jika demikian, mereka hanya mencari kesempatan untuk melepaskan diri?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Kita akan beristirahat. Kaupun memerlukan berisitirahat barang sebentar, meskipun mungkin tidak sampai fajar”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah ia sendiri memerlukan waktu sejenak untuk beristirahat, karena pengaruh luka-lukanya. Karena itu, maka katanya, “Baiklah paman. Kita beristirahat meskipun harus sangat berhati-hati”
Ketika kemudian Mahisa Murti kembali berkuda di samping Mahisa Pukat, di belakang kedua orang tawanan itu, maka Mahisa Agni dan Witantra telah berusaha untuk mendapatkan tempat yang baik bagi mereka untuk bermalam.
Akhirnya iring-iringan itu berhenti di sebuah padang perdu berpadas. Mereka berhenti di tempat yang cukup lapang. Setelah mereka mengikat kuda-kuda mereka pada batang-batang perdu yang di bawahnya ditumbuhi rerumputan yang memungkinkan kuda mereka untuk makan, maka merekapun segera menempatkan diri mereka masing-masing.
“Ada sebatang sungai kecil yang mengalir di sebelah” berkata Mahisa Agni yang sempat melihat-lihat keadaan sekitar tempat mereka berhenti.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka mendengar gemercik air sungai kecil itu. Dengan demikian esok mereka akan dapat memberi minum kepada kuda-kuda mereka.
Kedua anak muda itu pun kemudian mengumpulkan ranting-ranting kering untuk menyalakan sebuah perapian. Agaknya mereka ingin mengatasi dinginnya malam yang semakin mencengkam.
Sementara itu, kedua orang tawanan itu sudah berbaring di tempat yang mereka pilih sendiri. Agaknya jauh dari perapian, di atas rerumputan kering bersandar batu padas. Namun keduanya tidak pernah terlepas dari pengamatan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Namun dalam pada itu, seorang diantara mereka berdesis, “Anak iblis. Mereka sama sekali tidak melepaskan pengamatan mereka barang sekejap.
“Kita sudah berhasil menahan mereka untuk bermalam. Mungkin kita akan mendapat kesempatan” sahut yang lain.
Tetapi yang seorang menggeleng. Katanya, “Sulit sekali. Kecuali jika keduanya tertidur nyenyak. Sementara kedua orang tua itu nampaknya telah mempercayakan kita kepada kedua orang anak muda itu”
Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Marilah, kita tidur barang sejenak. Malam masih panjang.”
Keduanya pun kemudian memejamkan matanya sambil bersandar batu padas. Agaknya mereka memang benar-benar ingin tidur. Baru kemudian jika mereka terbangun, maka mereka akan membuat satu rencana untuk melepaskan diri.
Bahkan masih juga ada sepercik harapan, bahwa kawan-kawan mereka akan mengikuti iring-iringan itu dan bertindak pada saat yang tepat sehingga mereka akan dapat melepaskan diri.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mengawasi kedua orang itu pun telah membagi diri. Mereka akan tidur bergantian. Mereka telah sepakat tidak akan mengganggu kedua orang tua yang ada di dalam iring-iringan itu pula., “Terserah kepada mereka” berkata Mahisa Murti, “apakah mereka juga akan bergantian tidur, atau tidak”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kau saja tidur dahulu. Bukankah kau perlu beristirahat. Lukamu akan cepat sembuh”
Mahisa Murti termangu-mangu. Namun kemudian iapun menjawab, “Baiklah. Aku memang merasa terlalu letih. Mungkin darah yang keluar dari lukaku cukup banyak”
“Tidurlah. Aku akan mengawasi mereka dari perapian ini” jawab Mahisa Pukat.
“Tetapi bagaimana jika aku kemudian malas untuk bangun lewat tengah malam?” bertanya Mahisa Murti.
“Aku akan menggelitikmu sampai kau bangun” jawab Mahisa Pukat.
“Jika aku masih letih karena lukaku?” bertanya Mahisa Murti pula.
“Aku bangunkan kau dengan menyentuh lukamu” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tersenyum. Namun ia pun kemudian bersandar sebongkah batu padas di dekat perapian itu. Sementara Mahisa Pukat duduk di sebelah perapian menghadap kedua orang tawanan yang nampaknya benar-benar ingin tidur.
Mahisa Agni dan Witantra memperhatikan kedua anak muda itu sambil tersenyum. Mereka menyadari, bahwa kedua anak muda itu merasa bahwa mereka dapat menyelesaikan persoalan kedua orang tawanan itu tanpa mengganggu Mahisa Agni dan Witantra.
Namun demikian, Mahisa Agnipun berkata kepada Witantra, “Mari, kitapun membagi diri”
“Silahkan beristirahat” berkata Witantra, “aku akan mengawani Mahisa Pukat. Pada saatnya, kau akan mengawani Mahisa Murti”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku juga akan tidur di dekat perapian itu seperti Mahisa Murti.
Keduanya pun kemudian mendekati perapian itu pula. Tanpa mengatakannya kepada Mahisa Pukat, bahwa mereka pun akan membagi diri, Mahisa Agni langsung bersandar batu padas yang sama dengan Mahisa Murti. Sejenak kemudian, maka Mahisa Agni pun berusaha untuk benar-benar beristirahat, agar saatnya ia akan dapat mengganti Witantra berjaga-jaga.
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Agni sudah memejamkan matanya, maka Witantrapun bergeser mendekati Mahisa Pukat sambil bertanya, “Kau tidak letih?”
“Tidak paman” jawab Mahisa Pukat, “aku akan berjaga-jaga bergantian dengan Mahisa Murti. Biarlah ia lebih banyak beristirahat karena luka-lukanya”
Witantra mengangguk-angguk. Namun ketika ia melihat kedua orang tawanan itu tidur dengan nyenyaknya, maka iapun berkata, “Berhati-hatilah dengan kedua orang itu. Apakah mereka benar-benar tidur nyenyak, atau sekedar ingin mengelabuimu”
“Baik paman” jawab Mahisa Pukat, “aku tidak akan lengah”
Witantra mengangguk-angguk, ia percaya bahwa Mahisa Pukat akan berbuat sebaik-baiknya. Anak muda itu agaknya ingin memberi kesempatan kepada saudara laki-lakinya yang terluka untuk beristirahat sebaik-baiknya.
Sejenak kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Agni itupun benar-benar telah tertidur sambil duduk bersandar. Kedua orang tawanan itu pun agaknya telah tertidur nyenyak pula. Seolah-olah mereka sama sekali tidak mempunyai persoalan apapun juga yang dapat menggelisahkan hatinya. Karena itu, maka merekapun sama sekali tidak menjadi gelisah.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat yang duduk di sebelah perapian itu, dengan sebatang ranting yang panjang telah bermain-main dengan api yang sedang menyala. Namun demikian, pengawasannya terhadap kedua orang tawanan itu tidak menjadi lengah. Bahkan ia pun mengamati keadaan di sekitarnya dengan cermat, karena kemungkinan kawan-kawan kedua orang itu datang, masih juga harus diperhitungkan.
Sekali-sekali Mahisa Pukat itu justru berdiri. Menggeliat, kemudian melangkah memutari perapian. Untuk menghilangkan kejemuan, kadang-kadang anak muda itu Wahisa Agni mengerutkan keningnya. Sementara itu juga melangkah mendekati kedua tawanannya dan kemudian mengamati keadaan di sekitarnya.
Namun yang nampak memang hanya kegelapan.
Jika Mahisa Pukat menengadahkan wajahnya, maka ia melihat bintang yang bergayutan di langit. Berkeredipan tidak henti-hentinya.
Witantra masih saja tetap duduk di tempatnya. Sekali-sekali ia pun memandang langit. Namun kemudian perhatiannya lebih banyak tertuju kepada kedua orang tawanan itu.
Namun tiba-tiba Witantra itu berdesis, “Pukat. Kemari” Mahisa Pukat terkejut. Tetapi ia mengerti bahwa pamannya benar-benar memanggilnya. Karena itu, maka iapun segera mendekatinya.
Witantra sesaat menjadi tegang. Bahkan ia pun kemudian berdiri tegak. Di tangannya tergenggam sebutir kerikil kecil.
“Bangunkan Mahisa Murti. Jangan mengejutkannya” berkata Witantra tiba-tiba sambil melempar Mahisa Agni dengan kerikilnya. Namun ia tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan tangkasnya ia meloncati batu-batu padas berlari kedalam gelap.
Mahisa Agni yang tersentuh sebutir kerikil itupun telah terbangun. Ketika ia melihat Mahisa Pukat termangu-mangu, maka iapun bertanya, “Ada apa?”
“Paman Witantra. Ia berlari ke arah itu” jawab Mahisa
Pukat sambil menunjuk ke kegelapan.
Mahisa Pukat telah membangunkan Mahisa Murti dengan hati-hati. Seperti pesan Witantra ia tidak ingin mngejutkan saudaranya itu.
“Aku akan mencari pamanmu Witantra” berkata Mahisa Agni, “berhati-hatilah berdua”
Tetapi sebelum Mahisa Agni beranjak dari tempatnya, tiba-tiba saja ia mendengar kedua orang tawanan itu hampir berbareng berteriak. Keduanyapun terlonjak dari tidurnya. Namun sejenak kemudian keduanya menjadi pucat dan gemetar.
“Ular, ular” keduanya menghentak-hentakkan kakinya. Namun ular yang mematuk mereka tidak segera dapat terlepas dari tubuh mereka.
“Ular bandotan” desis Mahisa Agni.
Ketika ular itu kemudian terlepas, maka Mahisa Agnipun telah meloncat disusul oleh Mahisa Pukat mendekati kedua orang tawanan yang menjadi menggigil.
Mahisa Murti yang juga mendekati keduanya, berdiri termangu-mangu. Rasa-rasanya ia masih belum menyadari keadaan sepenuhnya. Meskipun demikian, ia telah berada dalam kesiagaan tertinggi. Tangannya telah berada di hulu pedangnya.
Sejenak kemudian, kedua orang itupun telah menggigil. Mahisa Pukat dan Mahisa Agni telah membantu mereka mendekati perapian yang masih menyala.
“Aku digigit ular” berkata salah seorang dari mereka., “Ya” jawab Mahisa Agni, “aku tidak mempunyai obat yang paling baik untuk melawan racun seperti itu Meskipun demikian, aku akan mencobanya”
Ketika Mahisa Agni mengambil bumbung obatnya, maka salah seorang dari kedua orang itu berkata, “Tidak ada gunanya”
Tetapi Mahisa Agni tidak menghiraukannya. Iapun kemudian berusaha untuk menemukan luka bekas gigitan ular bandotan itu dan menaburinya dengan obat yang dibawanya.
Tetapi ternyata kedua orang itu sama sekali sudah tidak berpengharapan lagi. Salah seorang dari keduanya berkata, “Ular itu bukan ular kebanyakan. Ular yang dipeliharanya mempunyai ketajaman racun melampaui ular kebanyakan. Jika obatmu dapat menyembuhkan gigitan ular bandotan, maka aku kira tidak dengan ular bandotan yang telah menggigit kakiku”
Kata-kata itu sangat menarik bagi Mahisa Agni, karena itu, maka ia pun segera berjongkok di samping kedua orang yang terbaring dalam keadaan yang gawat. Keduanya telah menggigil seluruh tubuhnya. Keringat yang dingin bagaikan terperas dari tubuh mereka.
“Ki Sanak” berkata salah seorang dari keduanya, “sebenarnyalah mereka ingin menghilangkan jejak mereka dengan membunuhku. Tetapi alangkah sakitnya. Orang yang memiliki ular itu adalah orang yang paling aku hormati. Bukan sekedar kawan-kawanku seperti yang telah mencegat kalian di tikungan. Tetapi orang ini adalah guruku sendiri.
“Gurumu?” bertanya Mahisa Agni.
“Ya. Ia terkenal dengan nama Ki Sarpa Kuning. Tetapi ia lebih senang mempergunakan ular-ular yang berwarna hitam” jawab orang itu. Lalu, “Biarlah aku jelaskan, sebelum aku mati. Orang itu pun terlibat dalam usaha untuk menghancurkan Singasari”
Mahisa Agni tidak memotong kata-kata orang itu. Ia masih ingin mendengar lebih banyak lagi tentang orang yang bernama Ki Sarpa Kuning. Tetapi kedua orang itu sudah menjadi semakin lemah.
Namun sementara itu, seorang diantara mereka berdesis, “Ki Sanak. Aku benar-benar merasa sakit karena perbuatan guru. Aku justru mengharap guru akan membebaskan aku. Tetapi yang dilakukan sangat menyakitkan hati”
“Kau akan sembuh Ki Sanak” jawab Mahisa Agni.
Tetapi seperti yang dikatakannya oleh itu. Racun ular bandotan yang dipelihara oleh guru kedua kawanan itu memiliki kekuatan racun melampuai ular bandotan kebanyakan. Obat yang diberikan oleh Mahisa Agni hanya dapat memperpanjang umur kedua orang itu beberapa saat saja. Ternyata bahwa keduanya menjadi semakin lemah. Keringat mereka telah membasahi tubuh mereka.
“Ki sanak” berkata salah seorang dari mereka dengan lemahnya, “aku harap kau bersedia membalas sakit hatiku ini” ia berhenti sejenak. Suaranya menjadi semakin lemah, “Orang itu tinggal di padukuhan Banjar Kuning”
“Padepokan Banjar Kuning” ulang Mahisa Agni aku belum pernah melihatnya Ki Sanak. Dimanakah letaknya padepokan itu?”
Tetapi kedua orang itu tidak sempat menjawab. Wajah mereka menjadi semakin tegang. Sejenak kemudian maka nafas yang terakhir telah lolos dari lubang hidung mereka. Hampir dalam saat yang bersamaan keduanya terbunuh oleh guru mereka sendiri.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Kedua orang ini dianggap akan dapat membahayakan kedudukannya di padepokan yang tidak kita kenal itu paman”
“Ya Nampaknya mereka tidak lagi mengingat hubungan antar sesama. Apalagi kedua orang ini adalah muridnya. Mereka hanya mementingkan diri sendiri meskipun harus mengorbankan murid-muridnya” sahut Mahisa Agni.
Namun dalam pada itu Mahisa Pukatpun kemudian berdiri tegak sambil berkata, “Dimana paman Witantra?”
Mahisa Agnipun tiba-tiba merasa cemas. Karena itu maka iapun bertanya, “Kemana ia pergi?”
“Bukankah paman berlari ke arah pohon itu” Jawab Mahisa Pukat.
“Ya” Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ketika ia terbangun oleh kerikil yang dilemparkan oleh Witantra yang tergesa-gesa ia masih melihat sekilas arah Witantra yang memasuki kegelapan.
Karena itu maka katanya, “Marilah kita menyusulnya” Kedua anak muda itu pun kemudian mengikuti Mahisa
Agni berlari-lari kecil mengikuti Witantra. Mahisa Agni tidak mau meninggalkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat karena ia menyadari bahwa orang yang disebut Ki Sarpa Kuning itu tentu orang yang memiliki ilmu yang tinggi.
Sebagaimana dapat dilihat pada kemampuan kedua orang muridnya dan caranya untuk membunuh kedua muridnya itu.
Dalam pada itu ternyata Witantra masih sempat mengikuti orang yang telah melepaskan dua ekor ular untuk membunuh kedua muridnya.
Orang itu memang sudah mendengar, bahwa orang-orang yang membawa kedua muridnya adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Terlebih-lebih dua diantara mereka justru yang tua-tua. Sepuluh orang dari kawan-kawan kedua tawanan itu tidak dapat mengalahkan empat orang Singasari itu.
Tetapi Ki Sarpa Kuning tidak menyangka, bahwa Witantra masih juga dapat mendengar desir langkahnya ketika ia melepaskan kedua ekor ular itu. Karena itu, maka Ki Sarpa Kuning itu pun berusaha untuk menghindar. Ia merasa terlalu sulit menghadapi ke empat orang itu sekaligus.
Namun ternyata bahwa yang mengejarnya hanyalah seorang saja. Itulah sebabnya maka timbullah niatnya untuk menjajagi kemampuan orang Singasari itu. Sehingga dengan demikian maka, Ki Sarpa Kuning itu pun telah berhenti di ujung padang perdu berbatu padas itu.
Witantra yang mengejarnya pun menyadari bahwa orang itu tentu memiliki kelebihan. Karena itu maka Witantra pun menjadi semakin berhati-hati.
“Luar biasa” desis Ki Sarpa Kuning ketika Witantra mendekatinya, “Kau dapat mendengar langkahku. Pertanda bahwa kau benar-benar orang berilmu. Tetapi ilmumu mungkin terbatas pada kemampuanmu mendengarkan suara di sekitarmu. Aku belum yakin bahwa kau juga berkemampuan untuk menangkapku”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berdiri tegak sambil memandang orang itu. Dalam keremangan malam ia tidak dapat dengan jelas melihat lekuk dan garis wajah orang yang dikejarnya itu.
“Apa maksudnya sebenarnya?” berkata Witantra.
“Membunuh kedua orang muridku itu” jawab Ki Sarpa Kuning, “ia dapat menjadi sumber bencana. Bukan saja bagi kawan-kawannya. Tetapi juga bagiku sebagai gurunya. Tetapi kematiannya akan membawa semua rahasia yang diketahuinya. Ia tidak akan dapat berbicara tentang kawan-kawannya dan ia tidak akan dapat berbicara tentang gurunya dan padepokannya”
“Kau sampai hati membunuh muridmu sendiri” bertanya Witantra.
“Mereka telah melakukan satu kesalahan yang besar” jawab Ki Sarpa Kuning.
“Kenapa kau tidak berusaha untuk membebaskannya? Kau adalah orang berilmu tinggi” bertanya Witantra.
Ki Sarpa Kuning mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku tidak yakin bahwa aku akan berhasil. Seperti sepuluh orang kawan-kawan muridku itu. Sepuluh orang itu ternyata telah kalian kalahkan. Karena itu, jalan yang paling aman bagiku dan kawan-kawannya, adalah membunuhnya”
“Itukah ciri kehidupan kalian? Meskipun murid sendiri, kau sama sekali tidak mempunyai ikatan batin yang mendalam sehingga kau sampai hati membunuhnya” berkata Witantra kemudian, “bukankah dengan demikian berarti bahwa kalian hanya mementingkan dirimu sendiri?”
“Pikiranmu terbalik Ki Sanak” jawab orang itu, “aku justru telah mengorbankan muridku sendiri. Mengorbankan orang-orang yang aku anggap bagian dari diriku sendiri untuk kepentingan yang jauh lebih besar dari kepentingan sendiri. Tetapi bukannya tanpa alasan jika aku terpaksa melakukannya. Mereka telah melakukan satu kesalahan yang besar sehingga akan dapat menyeret satu lingkungan yang besar itu kedalam satu keadaan yang parah”
Witantra mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Ki Sanak. Apaboleh buat. Aku tidak tahu, apakah kau berhasil membunuh muridmu atau tidak, karena aku tergesa-gesa mengejarmu. Jika kau ternyata berhasil, maka aku kira jalan yang paling baik bagiku untuk tidak kehilangan jejak, adalah menangkapmu”
Ki Sarpa Kuning tertawa. Katanya Ki Sanak., “Jangan salah menilai orang lain. Meskipun kau berempat dapat mengalahkan sepuluh anak-anak ingusan itu, namun kau harus berpikir dua atau tiga kali jika kau hendak menangkap aku”
Witantra mengerutkan keningnya. Namun ia pun menjawab, “Aku sudah berpikir masak-masak. Aku memang akan menangkapmu”
“Kau sendiri mengatakan, sebagaimana aku katakan atasmu, bahwa kita adalah orang-orang yang mempunyai lambaran ilmu. Kau sangka bahwa jika kau mengancam untuk menangkapku, aku tidak akan berbuat apa-apa dan mengulurkan kedua pergelanganku untuk kau ikat?” berkata Ki Sarpa Kuning.
Witantra memandanginya dengan tajamnya. Meskipun malam gelap, tetapi Witantra dapat menangkap sikap orang itu. Orang itu memang cukup meyakinkan. Karena itu, maka Witantra memang harus berhati-hati menghadapinya.
Dalam pada itu, maka Witantra pun kemudian bergeser setapak sambil berkata, “Bagaimanapun juga, aku mengemban satu kewajiban. Karena itu, betapa tinggi ilmumu, aku akan menangkapmu”
“Kau mungkin memang seorang prajurit yang patuh. Tetapi jika hal itu dapat mengancam keselamatanmu, apa tidak lebih baik kau menghindar. Tidak ada orang yang tahu, bahwa kau bertemu dengan aku. Karena itu. jika kau tidak usah berusaha mengejarku, kau tidak akan mendapat hukuman apapun juga. Dan itu tentu akan lebih baik dari pada kau harus mati di tanganku”
Witantra termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Niatku adalah menangkapmu hidup atau mati. Bukan untuk membunuh diri. Karena itu, aku akan benar-benar berbuat sesuatu atasmu”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau benar-benar tidak tahu, dengan siapa kau berhadapan”
“Ya. Aku tidak tahu. Siapa kau sebenarnya” tiba-tiba saja Witantra bertanya., “Kau tidak perlu tahu siapa aku. Maksudku, bahwa kau belum mengetahui, bahwa orang-orang yang mencoba melawanku akan mati di tanganku betapapun juga ia mengaku orang berilmu. Karena itu, pikirkanlah sebaik-baiknya”
Witantra memang melihat kelebihan pada sikap orang itu. Tetapi ia sendiri adalah orang yang memiliki bekal ilmu dan pengalaman yang sangat luas. Karena itu, bagaimanapun juga, ia tidak akan menjadi gentar menghadapinya.
“Ki Sanak” berkata Witantra, “Aku sudah siap untuk menangkapmu. Hati-hatilah. Agaknya lebih baik kau tertangkap hidup dari pada mati”
Orang itu menggeram. Tetapi ia sudah tidak menjawab lagi.
Sejenak kemudian keduanya telah saling mempersiapkan diri. Witantra yang melihat kemantapan sikap pada lawannya, menghadapinya dengan hati-hati.
Sejenak keduanya masih belum berbuat sesuatu. Namun ketika Witantra bergeser selangkah, maka orang itu pun telah meloncat menyerang. Namun serangan itu dengan mudah dapat dielakkan oleh Witantra, karena nampaknya orang itu memang belum bersungguh-sungguh sebagaimana dilakukan oleh Witantra kemudian. Ia pun telah bergeser mendekat sambil menjulurkan tangannya. Namun orang itu pun telah bergeser pula surut.
Tetapi yang terjadi kemudian, bukanlah sekedar memancing gerak lawannya. Orang yang bernama Ki Sarpa Kuning itupun benar-benar telah mulai menyerang Witantra. Dengan loncatan panjang ia menjulurkan tangannya mengarah kening. Namun ketika Witantra mengelak, maka tangannya itu pun segera berputar dan terayun mendasar mengarah ke wajah Witantra.
Witantra mengelak dengan menarik wajahnya. Dengan cepat ia memiringkan tubuhnya. Tiba-tiba saja satu kakinya telah terjulur menyambar lambung orang yang menyerang wajahnya itu.
Tetapi, serangan itu pun masih belum berhasil. Lawannya dengan sigapnya mengelak dengan menarik tubuhnya condong kebelakang. Bahkan tiba-tiba itu telah berputar, bertumpu pada tumitnya. Satu kakinya menyambar dengan putaran mendatar menyerang Witantra.
Witantra lah yang kemudian harus meloncat. Bagaimanapun juga lawannya adalah seseorang yang mampu bergerak cepat.
Yang terjadi kemudian adalah perkelahian yang cepat. Tetapi masing-masing masih berusaha untuk menjajagi kemampuan lawannya yang nampaknya masih membatasi diri dengan kemampuan wadag mereka.
Namun dalam pada itu, karena keduanya adalah orang-orang berilmu tinggi, maka perlahan-lahan ilmu mereka pun meningkat semakin tinggi pula.
Gerak mereka menjadi semakin cepat dan serangan-serangan merekapun kemudian tidak lagi sekedar dilontarkan oleh tenaga wadag mereka. Tetapi mereka sudah mulai merambah ke tenaga cadangan mereka.
Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin lama semakin dahsyat. Kemampuan yang terungkap di dalam pertempuran itupun menjadi semakin tinggi pula. Mereka bukan saja bergerak semakin cepat, tetapi lontaran kekuatan tenaga merekapun menjadi nggegirisi. Jika mereka kehilangan sasaran karena lawan mereka mengelak, maka sentuhan serangan itu telah memecahkan batu-batu padas yang berserakan. Dahan-dahan perdu pun telah berpatahan dan gerumbul-gerumbulpun telah terguncang.
Ternyata orang yang bernama Sarpa Kuning itu pun memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk beberapa saat, ia dapat mengimbangi kemampuan Witantra. Namun ketika Witantra semakin meningkatkan kemampuannya, maka terasa bahwa ilmu orang itupun masih ketinggalan.
Perlahan-lahan orang itupun mulai terdesak. Kemampuan dan pengalaman Witantra sejak ia mengabdi kepada Akuwu di Tumapel sampai rambutnya sudah ubanan, ternyata membuat lawannya mengalami banyak kesulitan.
Tetapi Ki Sarpa Kuning masih belum merasa kalah. Ia pun segera mempergunakan senjata-senjatanya yang sangat berbahaya. Ketika serangan Witantra datang membadai, maka Ki Sarpa Kuning telah berloncatan menghindarinya. Bahkan ia pun kemudian telah mengambil jarak dari lawannya dengan loncatan yang panjang.
Namun sejalan dengan itu, maka Ki Sarpa Kuning itu pun telah meloncatkan sesuatu kepada Witantra. Seolah-olah hanya seutas tali.
Tetapi Witantra cukup berhati-hati Apapun yang dilemparkannya, akan dapat berbahaya baginya. Karena itu, dengan cepatnya ia meloncat mengelak. Sehingga dengan demikian, benda itu terbang tidak ada sejengkal dari wajahnya.
Pada saat itulah, Witantra melihat, meskipun dalam keremangan malam, namun ketajaman pengamatan Witantra dapat mengetahui bahwa yang dilemparkan oleh lawannya adalah seekor ular.
Witantra dengan cepat dapat menangkap arti dari senjata itu. Senjata yang tentu sangat berbahaya. Karena itu, dengan kecepatan yang tidak kasat mata, didorong oleh kemampuan ilmunya, maka Witantra telah menarik pedangnya. Sebelum ular itu jatuh ketanah, maka tubuh ular itu telah terpenggal menjadi tiga.
Darah Ki Sarpa Kuning tersirap melihat kecepatan gerak Witantra. Hampir ia tidak bercaya atas penglihatannya. Dalam waktu sekejap dan tiba-tiba, lawannya itu mampu menarik pedangnya dan sekaligus menyambar ular yang dilemparkannya dengan dua kali ayunan. Namun demikiaa, Ki Sarpa Kuning masih mencobanya.
Sekali lagi ia melemparkan seekor ular ke arah Witantra. Namun sekali lagi ular itu bagikan dicincang menjadi berpotong-potong.
Karena itulah, maka Ki Sarpa Kuning merasa, bahwa tidak ada gunanya lagi untuk bertahan lebih lama lagi. Lawannya adalah seorang yang tidak akan dapat dikalahkannya, meskipun ia mempergunakan senjatanya yang paling berbahaya.
Karena itu, maka tidak ada cara lain untuk menyelamatkan diri selain melarikan diri jauh-jauh dari orang itu.
Demikianlah, maka Ki Sarpa Kuning itu masih juga melemparkan seekor ke arah Witantra yang menyambutnya dengan pedangnya. Namun pada saat yang demikian, Ki Sarpa Kuning itu telah mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Witantra sama sekali tidak membiarkan orang itu berlari tanpa dikejarnya. Karena itu, maka ia pun segera meloncat mengikuti arah lari orang yang telah melemparkan ular-ularnya.
Tetapi Witantra merasa terganggu oleh sikap lawannya. Ia tidak saja lari tanpa Berbuat sesuatu. Tetapi beberapa kali orang itu telah melemparkan ular-ular yang berbahaya itu di belakangnya.
Dengan demikian, maka langkah Witantra pun terhambat. Ia tidak ingin menginjak dan kemudian dipatuk oleh seekor ular yang tentu ular yang sangat berbisa, yang akan dapat membahayakan jiwanya. Karena itu, maka setiap kali ia berusaha untuk menghindarkan diri dari ular-ular yang ditebarkan oleh lawannya.
Namun, karena itulah, maka jarak antara keduanya semakin lama semenjadi semakin jauh, sehingga pada suatu saat, Witantra benar-benar kehilangan buruannya ketika Ki Sarpa Kuning menyusup di antara gerumbul-gerumbul yang rimbun.
Akhirnya Witantra tidak lagi melanjutkan usahanya untuk menangkap lawannya. Bahkan kemudian, ia pun mengambil keputusan untuk kembali ke tempat Mahisa Agni menunggu.
Dengan hati-hati ia berjalan di atas rerumputan. Sekali-sekali Witantra memilih berjalan di atas tanah yang berpadas sehingga baginya lebih mudah untuk melihat sesuatu daripada di rerumputan.
Witantra tertegun ketika ia melihat sesuatu tergolek di atas tanah berpadas. Sebuah benda yang memanjang kehitam-hitaman. Namun benda itu tidak bergerak sama sekali.
Timbul niat Witantra untuk mengetahuinya, apakah benda itu ular seperti yang ditaburkan oleh Ki Sapar Kuning.
Namun ketika dengan ujung pedangnya ia mengungkit benda itu barulah ia menyadari, bahwa lawannya benar-benar seorang yang licik. Agaknya ia tidak memiliki ular cukup banyak untuk ditaburkan, sehingga sebagian besar dari benda-benda yang dikirakan ular itu tidak lebih dari hanya seutas tali.
Namun Witantra percaya, bahwa orang itu benar-benar mampu bermain-main dengan ular, karena ular-ular yang dilemparkan kepadanya sebelumnya adalah benar-benar seekor ular.
Dalam pada itu, dengan hati-hati Witantrapun telah melangkah kembali. Ia harus memberitahukan yang terjadi itu kepada Mahisa Agni dan kepada kedua orang anak Mahendra.
Namun dalam pada itu, ternyata Witantra pun kemudian bertemu dengan Mahisa Agni dan kedua anak muda yang mengikutinya itu. Ternyata bahwa mereka telah menyusulnya.
“Apa yang terjadi?” bertanya Mahisa Agni. Witantra pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi. Sehingga akhirnya, ia telah kehilangan orang yang memiliki senjata ular-ular berbisa itu.
“Ular-ular itu benar-benar berbisa melampaui biasa kebanyakan ular” berkata Mahisa Agni, yang kemudian juga menceriterakan apa yang telan terjadi atas kedua orang tawanan itu.
“Jadi obat penawar bisa itu tidak dapat menyembuhkannya?” bertanya Witantra.
Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Harus ada obat lain yang lebih baik. Kita memang harus mengusahakannya, karena mau tidak mau, kita sudah berhadapan dengan orang berilmu tinggi dan mempunyai pengetahuan tentang bisa yang paling tajam itu”
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita sudah menempatkan diri menghadapinya. Kedua muridnya itu sudah dikorbankannya. Karena itu, maka ia pun tentu akan mendendam kita”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri dengan jantung yang berdebaran. Mereka mendengarkan pembicaraan Mahisa Agni dan Witantra. Dan merekapun dapat membayangkan apa yang dapat terjadi jika seekor ular mematuk kakinya.
Sejenak kemudian, maka mereka berempat pun segera kembali ke tempat perapian. Mereka melihat dua orang tawanan mereka telah membeku.
“Kita telah kehilangan” desis Witantra.
“Jalur itu telah terputus sampai di sini” berkata Mahisa Agni, “tetapi kita sudah mendapat keterangan serba sedikit tentang orang yang telah melemparkan ular-ularnya itu.
Mahisa Agni pun kemudian mengatakan, apa yang telah dikatakan oleh kedua orang tawanan itu menjelang tarikan nafasnya yang terakhir.
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Kita memang harus berhati-hati. Kecuali kita sudah melihat satu usaha yang perlahan-lahan akan menghancurkan Singasari lewat satu usaha yang luas dan berbahaya itu, maka kita pun akan berhadapan dengan satu padepokan yang berbahaya. Tanpa persoalan hutan dan pepohonan itu pun, padepokan itu merupakan sumber persoalan bagi kita.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengerti pula. Nampaknya mereka masih ingin melanjutkan petualangan mereka yang setiap kali telah terganggu. Rasa-rasanya mereka masih belum berbuat apa-apa karena setiap kali mereka masih harus berhubungan dengan ayahnya, kedua pamannya itu dan orang-orang Singasari yang lain, termasuk para prajurit dibawah pimpinan kakaknya, Mahisa Bungalan.
Dalam pada itu, agaknya Mahisa Agni dan Witantra masih belum akan mempersoalkan rencana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selanjutnya. Yang akan mereka lakukan kemudian adalah mengubur orang-orang yang telah terbunuh itu.
“Kita tidak perlu menunggu matahari terbit” berkata Mahisa Agni kemudian.
Demikianlah, mereka pun kemudian telah mengubur kedua orang yang telah terbunuh oleh guru mereka sendiri. Ketika kemudian matahari terbit, ke empat orang itupun telah membersihkan diri di sebuah sungai kecil yang mengalir tidak jauh dari tempat mereka bermalam. Memberi minum kuda-kuda mereka dan kemudian berkemas untuk meneruskan perjalanan yang sudah tidak terlalu panjang lagi.
“Apakah kami berdua juga harus kembali lebih dahulu ke Singasari?” bertanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Ya Kau harus mempersiapkan dirimu sebaik-baiknya” jawab Mahisa Agni, “kau mengerti, kemampuan bisa ular yang sangat berbahaya itu. Obat yang diberikan kepadanya sama sekail tidak menolongnya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Ia memang harus membawa persiapan yang lebih baik dalam petualangannya. Mereka pun menyadari, bahwa orang-orang berilmu tinggi telah melibatkan dirinya meskipun tidak langsung. Kematian kedua orang itu, tentu bukannya tidak akan membawa akibat. Meskipun kedua orang itu dibunuh sendiri oleh gurunya, tetapi karena satu sebab yang dapat dituntutnya kepada kedua anak muda itu bersama Mahisa Agni dan Witantra sebagai orang-orang yang menyebabkan gurunya itu mengambil satu keputusan untuk mengakhiri hidup kedua muridnya.
Karena itu, maka ketika matahari kemudian mulai memanjat langit, maka ke empat orang itu pun telah melanjutkan perjalanan mereka ke Singasari dengan satu laporan yang sangat penting tentang usaha untuk membuat hutan-hutan menjadi gersang.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masing-masing telah menuntun seekor kuda yang ditinggalkan oleh kedua orang tawanan mereka yang terbunuh.
Tidak ada rintangan apa pun dalam perjalanan mereka yang pendek. Namun Mahisa Agni dan Witantra tertarik kepada seseorang yang berdiri di sebuah pematang. Orang yang berusaha melindungi wajahnya dengan sebuah caping bambu yang lebar. Namun terasa oleh Mahisa Agni dan Witantra, bahwa orang itu telah memperhatikan mereka berempat.
“Menarik sekali” disis Witantra, “meskipun semalam aku tidak sempat memperhatikan dengan seksama, tetapi rasa-rasanya orang itu mempunyai hubungan dengan orang yang bersenjata ular itu”
Mahisa Agnipun telah memperhatikan orang itu pula. Namun kemudian katanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Sebaiknya kalian berada di sebelah kami, yang tua-tua ini. Biarlah orang itu dapat mengenali kami. Tetapi sebaiknya mereka tidak mengenalimu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebenarnya tidak ingin menyembunyikan dirinya. Tetapi mereka mematuhi perintah Mahisa Agni dan mereka pun kemudian berkuda di sebelah Mahisa Agni dan Witantra, sehingga keduanya tidak dapat dilihat dengan jelas oleh orang yang berada di pematang. karena dibayangi oleh kedua paman mereka.
Orang yang berdiri di pematang itu bergeser setapak. Orang itu berusaha untuk tidak menarik perhatian dengan sekali-sekali merunduk mengusap tanaman yang hijau di bawah kakinya. Namun setiap kali, orang itu berdiri tegak dan memandang ke empat orang berkuda yang lewat.
Ternyata orang itu mengumpat di dalam hati. Ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah dua orang yang berkuda di sebelah kedua orang-orang tua yang diketahuinya memiliki kemampuan yang luar biasa.
Sebenarnyalah orang itu adalah orang yang memiliki kemampuan menguasai ular dan membuat bisanya bertambah tajam. Orang itu ingin melihat dengan jelas, ke empat orang yang telah menguasai kedua muridnya yang terpaksa dibunuhnya. Orang itu mengerti, bahwa seorang dari kedua orang tua berkuda itu adalah orang yang telah bertempur melawannya semalam. Yang tidak dapat ditundukkannya dengan senjata ularnya. Bahkan dengan ayunan senjatanya yang cepat, ular-ular itu menjadi terpotong-potong.
“Gila” geram orang bercaping lebar itu, “aku tidak dapat melihat kedua orang yang lain, yang nampaknya masih muda. Agaknya kedua orang tua itu menjadi curiga dan dengan sengaja membayangi kedua anak muda itu. Atau barangkali orang tua itu dapat mengenaliku”
Sebenarnyalah orang itu terkejut, ketika tiba-tiba saja, Witantra yang lewat berjarak sekotak sawah di depan orang itu telah mengangkat tangannya sambil memandanginya.
“Kau yakin bahwa orang itu adalah orang yang semalam kau kejar?” bertanya Mahisa Agni.
“Mungkin. Aku mencurigainya. Tetapi seandainya bukan, bukankah aku hanya sekedar melambaikan tanganku?” jawab Witantra.
Mahisa Agni pun tersenyum. Namun melihat sikap orang bercaping lebar itu, maka ia pun menjadi curiga.
“Orang itu menjadi sangat gelisah dan bahkan berusaha untuk pergi” berkata Mahisa Agni.
“Mungkin orang itu benar-benar orang yang semalam aku kejar” jawab Witantra, “tetapi apakah kita akan melakukannya sekarang?”
Mahisa Agni termangu-mangu. Namun kemudian ia pun menjawab, “Apakah ada gunanya?”
Witantra termenung sejenak. Kemudian ia pun menggeleng sambil menjawab, “Memang tidak ada gunanya. Ia akan dapat melarikan diri dan peristiwa yang demikian tentu akan sangat menarik perhatian”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ketika ia memandang orang bercaping lebar itu, maka orang itu pun telah beringsut semakin jauh.
“Agaknya orang itupun mengerti, bahwa kita sedang membicarakan satu kemungkinan untuk menangkapnya” berkata Mahisa Agni.
Witantra tersenyum. Katanya, “Tetapi jika benar orang itu adalah orang yang semalam melemparkan ular-ularnya, ia pun tentu merasa, bahwa akupun dapat menelannya”
“Hanya karena kau melambaikan tanganmu” sahut Mahisa Agni.
Witantra tertawa. Sementara itu katanya kemudian kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Orang itu adalah orang yang sangat berbahaya. Karena itu, kita harus berhati-hati menghadapinya. Ia adalah seorang yang tidak berdiri sendiri”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara Mahisa Agni berkata, “Kedua orang murid yang dibunuhnya itu mendendamnya sebelum mereka menghembuskan nafasnya yang terakhir”
“Nama dan padepokan yang disebutnya, akan dapat menjadi petunjuk bagi kita untuk menelusuri” jejaknya.
Tetapi aku masih ingin mendengar rencana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kemudian. Apakah mereka masih akan menelusuri lembah dan lereng-lereng pegunungan atau mereka akan mempunyai rencana lain yang langsung berkaitan dengan usaha orang-orang tertentu untuk mengacaukan tatanan kehidupan di Singasari” berkata Witantra kemudian.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi merekapun mulai memikirkan langkah-langkah yang akan mereka lakukan kemudian.
Sementara itu, orang yang berada di pematang itu sudah menjadi semakin jauh di belakang mereka. Bahkan orang itu pun telah meninggalkan tempatnya, melangkahi parit dan justru mendekati jalan yang baru saja dilalui oleh ke empat orang berkuda dari Singasari itu.
“Gila” geram orang itu, “agaknya orang itu dapat mengenali aku. Dengan sengaja mereka melindungi kedua orang yang muda-muda itu, agar keduanya tidak menjadi sasaran dendamku, karena agaknya keduanya belum memiliki ilmu sebagaimana orang-orang tua itu”
Sejenak orang itu berdiri tegak memandangi kuda-kuda yang berjalan semakin jauh menyusuri bulak yang panjang.
Baru sejenak kemudian, maka ia pun berjalan menuju ke arah yang berlawanan. Namun ia masih saja merasa bahwa dendamnya belum dapat dilunakkannya.
Tetapi iapun harus tetap menyimpannya sampai datang satu kesempatan. Karena ia merasa tidak akan dapat berbuat banyak terhadap kedua orang tua yang mengaku prajurit-prajurit Singasari itu.
Namun menurut perhitungannya, kedua muridnya yang dibunuhnya itu tidak sempat mengatakan, siapakah ia sebenarnya dan berasal dari padukuhan dan padepokan mana.
Tetapi ternyata bahwa kedua orang muridnya yang diobati oleh Mahisa Agni. meskipun tidak menolong jiwanya, namun memberi kedua orang itu kesempatan untuk berbicara dan berpesan untuk membalaskan sakit hatinya.
“Untuk sementara aku harus melupakannya” berkata orang itu, “tetapi pada suatu saat, Sarpa Kuning akan menemukan satu cara untuk membalas sakit hati ini. Dua orang muridku sudah aku korbankan. Maka aku harus dapat membunuh prajurit Singasari sejumlah muridku yang terbunuh itu lipat lima”
Dalam pada itu. maka Mahisa Agni, Witantra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi semakin jauh. Mereka tidak menghiraukan lagi orang bercaping lebar, meskipun Witantra kemudian yakin, bahwa orang itu adalah orang yang semalam telah bertempur melawannya.
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar