Jumat, 25 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 014-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 014-02*

Mahisa Murti memang tidak menyadari. Sementara Mahisa Pukat bertempur melawan Pangeran Lembu Sabdata, serta Senopati yang memimpin pasukan Singasari itu berhadapan dengan seorang Senopati dari Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Lembu Sabdata, maka beberapa orang prajurit Singasari dan anak-anak muda Talang Amba telah membantu Mahisa Murti menghadapi orang yang memiliki ilmu tidak terlawan itu. Tetapi seperti yang sudah terjadi, maka sekelompok kecil diantara anak-anak muda itu sulit untuk dapat melawan orang yang memiliki ilmu yang luar biasa itu. Sementara mereka masih harus berhadapan dengan pengawal-pengawal Pangeran Lembu Sabdata yang lain.

Tetapi Mahisa Murti pantang untuk menarik diri dari pertempuran apapun yang terjadi. Sementara anak-anak muda yang lain telah menjadi korban. Apapun yang terjadi, maka iapun harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, karena Mahisa Murti bukannya tidak berilmu sama sekali.

Namun dalam pada itu, dalam keadaan yang paling gawat, selagi orang tua yang menjadi pelindung Pangeran Lembu Sabdata itu siap menerkam, maka terasa tubuh Mahisa Murti terdorong ke samping. Seorang yang terengah-engah berdiri di sampingnya sambil berkata, “Hampir saja aku terlambat. Untunglah bahwa aku tertarik untuk melihat lingkaran pertempuran ini”

“Ki Waruju” desis Mahisa Murti.

Ki Waruju tidak menjawab. Ia sadar, bahwa orang yang sedang dihadapi oleh anak-anak muda itu adalah orang yang sangat berbahaya. Namun ia merasa dirinya berkewajiban untuk melibatkan dirinya langsung menghadapi orang itu.

Orang tua itu memandang Ki Waruju dengan tatapan mata yang bagaikan menyemburkan api. Dengan suara geram ia bertanya, “Jadi kaulah yang menempatkan dirimu pertama kali untuk mati?”

Ki Waruju menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Biarlah kita yang tua-tua ini bermain-main dengan maut. Aku kira memang lebih baik orang tua-tua ini yang mati di medan dari pada anak-anak muda yang masih memiliki kemungkinan di masa depan yang panjang”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika kau ingin mati, maka aku akan membunuhmu. Tetapi yang perlu kau ketahui, anak-anak muda itu pun akan mati jika mereka masih tetap menghambat perjalanan kami”

“Seharusnya kalian tidak melarikan diri. Kalian lebih baik memasuki arena yang gawat bagi pasukan kalian. Sebentar lagi pasukan kalian akan pecah dan dihancurkan”

“Karena itu, kami akan menyingkir” jawab orang tua itu tanpa ragu-ragu.

“Kau sampai hati melakukan sementara orang-orangmu terbunuh” desis Ki Waruju.

“Apa pedulimu Nah, bersiaplah untuk mati sekarang ini” berkata orang tua itu sambil bergeser.

Ki Waruju telah bersiap sepenuhnya. Sebenarnyalah bahwa Ki Waruju pun bukan orang kebanyakan. Ia memiliki ilmu melampaui orang kebanyakan. Ia telah berhasil menempatkan diri berhadapan dengan Ki Sarpa Kuning.

Sejenak kemudian, keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran. Dalam benturan pertama, maka pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu pun segera menyadari, bahwa lawannya itu bukan sekedar sebagaimana anak-anak muda Talang Amba atau bahkan prajurit Singasari yang ada diantara anak-anak muda itu.

“Anak iblis” pengawal tua itu mengumpat. Namun dengan demikian iapun telah meningkatkan kemampuannya menghadapi orang yang bernama Ki Waruju itu.

Pertempuran antara dua orang berilmu tinggi itu pun menjadi semakin seru. Keduanya memang memiliki kelebihan sehingga dengan dahsyatnya benturan-benturan telah terjadi.

Dalam pada itu, dalam lingkaran pertempuran yang lain, kedua belah pihak telah mengerahkan kemampuan mereka. Pangeran Lembu. Sabdata ternyata sekali lagi membentur kekuatan yang dapat mengimbanginya. Sementara orang yang diharapkan akan dapat melindunginya itu pun telah mendapat lawannya sendiri.

Sementara itu, anak-anak muda Talang Amba dan prajurit Singasari yang ada diantara mereka, yang semula bertempur dalam satu kelompok melawan pengawal terpercaya Pangeran Lembu Sabdata itu, telah bebas dari tugas mereka. Setelah mereka menyaksikan pertempuran antara dua orang tua itu sejenak, serta atas keyakinan mereka bahwa Ki Waruju akan mampu bertahan untuk waktu yang cukup lama bahkan mungkin mampu mengimbanginya, maka beberapa orang diantara mereka telah menarik diri dan menghadapi lawan yang lain. Kecuali beberapa orang yang mendapat tugas khusus untuk mengamati pertempuran itu.

“Jika perlu sekali, berikan isyarat” berkata seorang prajurit Singasari.

Anak-anak muda yang mendapat tugas untuk mengamati pertempuran itu pun mengangguk. Mereka sadar, jika Ki Waruju mengalami kesulitan, maka beberapa orang prajurit Singasari akan membantunya melawan orang yang memiliki ilmu yang luar biasa itu.

Ternyata bahwa pertempuran antara kedua orang itu kemudian merupakan pertempuran yang sangat dahsyat. Keduanya memiliki ilmu yang sulit dicari bandingnya. Sehingga dengan demikian maka anak-anak muda yang mengamati pertempuran itu pun tidak lagi jelas, apakah keduanya masih tetap seimbang atau salah seorang diantara mereka telah berhasil mendesak lawannya.

Di bagian lain dari pertempuran itu, maka anak-anak muda Talang Amba dan prajurit Singasari yang ada diantara mereka telah berhasil mengepung para pengikut Pangeran Lembu Sabdata. Para pengawalnya ternyata telah mendapat tandingnya, sementara Pangeran Lembu Sabdata sendiri berjuang untuk melawan serangan-serangan Mahisa Pukat.

“Kau tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk melarikan diri Pangeran” geram Mahisa Pukat.

“Aku tidak akan melarikan diri. Aku akan membunuhmu” geram Pangeran Lembu Sabdata.

Namun ternyata bahwa Mahisa Pukat telah mendesaknya. Serangan-serangannya datang bagaikan badai yang mengamuk. Sementara kepungan anak-anak muda Talang Amba dan para prajurit Singasari yang ada diantara mereka menjadi semakin rapat. Sedangkan beberapa orang prajurit Singasari yang datang bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bertempur dengan serunya melawan para pengawal Pangeran Lembu Sabdata.

Bagaimanapun juga, jumlah pengawal Pangeran Lembu Sabdata yang tidak seberapa itu tidak mampu menembus kepungan anak-anak muda Talang Amba serta para prajurit Singasari yang ada diantara mereka. Apalagi setelah pengawal terpercaya Pangeran Lembu Sabdata terikat dalam pertempuran melawan Ki Waruju.

Dalam pada itu. Pangeran Lembu Sabdata pun menjadi gelisah. Sebenarnyalah bahwa ia memang ingin menghindar dari Talang Amba. Namun agaknya jalan telah tertutup Beberapa orang pengawalnya ternyata telah menghadapi lawan yang tangguh, sedangkan orang yang dianggapnya akan dapat menjadi pelindungnya telah menemukan lawan yang seimbang.

Ketika seorang pengawalnya mengeluh oleh goresan ditubuhnya, maka Pangeran Lembu Sabdata pun menjadi semakin gelisah.

Tetapi para pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu telah menimbulkan korban diantara anak-anak muda Talang Amba. Karena itu. maka menghadapi mereka, anak-anak muda Talang Amba itu pun menjadi garang.

Setelah orang yang memiliki kemampuan tidak terlawan bagi anak-anak muda Talang Amba itu terikat dalam pertempuran maka kekuatan para pengawal itu seakan-akan menjadi jauh susut. Mereka segera merasa mengalami kesulitan. Anak-anak muda Talang Amba dan para prajurit yang ada diantara mereka dalam waktu yang singkat, benar-benar telah menjepit mereka dari segala arah dengan kemarahan yang memuncak. Apalagi jika mereka mengingat kawan-kawan mereka yang terlempar dari arena, membentur dinding dan tidak akan dapat bangkit untuk selama-lamanya.

Mahisa Murti yang terluka itu pun telah menyempatkan diri untuk mengobati lukanya, sekedar untuk mengurangi arus darahnya. Dengan demikian maka iapun kemudian telah siap pula untuk tampil lagi di peperangan, meskipun ia sadar, bahwa ia harus berhati-hati agar darah di lukanya itu tidak justru mengalir semakin deras.

Namun menurut pengamatan Mahisa Murti, maka Ki Waruju yang turun di medan itu, telah dapat mengimbangi kemampuan pengawal Pangeran Lembu Sabdata yang paling dipercaya dan yang diharapkan dapat melindunginya. Bahkan sekali-sekali Ki Waruju berhasil mengejutkan lawannya dengan serangan-serangannya yang cepat dan tiba-tiba.

“Gila” geram pengawal Pangeran Lembu Sabdata. Dengan jantung yang berdegupan orang itu harus berloncatan. Sambaran serangan Ki Waruju terdengar berdesing di-telinganya, sehingga dengan demikian orang itu menyadari bahwa lawannya memang memiliki kekuatan yang mampu mengimbanginya.

Pengawal itu pun kemudian harus mengerahkan kemampuannya. Ketika la melawan anak-anak muda yang bertempur dalam kelompok kecil melawannya, maka ia merasa sebagai seekor harimau diantara domba-domba yang marah. Tanpa kesulitan, maka ia dapat melemparkan lawannya seorang demi seorang. Bahkan kadang-kadang dua orang sekaligus. Namun ketika ia bertemu dengan orang yang bernama Ki Waruju itu, maka rasa-rasanya ia benar-benar dihadapkan kepada kekuatan dan kemampuan yang sulit untuk diatasinya.

Namun demikian, dengan segenap kemampuan orang itu berusaha untuk mempengaruhi perhatian Ki Waruju. Dengan kemampuan yang ada padanya, maka orang itu dengan sengaja telah menghantam dinding halaman dan dahan-dahan pepohonan. Dengan demikian maka ia dapat menunjukkan kekuatannya yang luar biasa. Dahan-dahan berpatahan dan dinding halaman pun menjadi roboh pula karenanya.

Orang-orang yang menyaksikan kekuatan dan kemampuannya itu menjadi ngeri karenanya. Kadang-kadang memang timbul pertanyaan apakah Ki Waruju akan dapat mengimbanginya.

Sebenarnyalah dengan demikian pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu berusaha selain mempengaruhi perhatian Ki Waruju, tetapi juga menggertaknya agar hatinya menjadi kecut. Dengan demikian, maka gairah pertempurannya-pun akan menjadi susut pula karenanya.

Ki Waruju memang tertarik juga memperhatikan kekuatan yang luar biasa itu. Iapun melihat dinding yang roboh dan dahan yang berpatahan. Namun semuanya itu tidak membuatnya gentar dan apalagi mempengaruhi kemampuannya bertempur sehingga kehilangan pengamatan diri. Tetapi justru membuatnya menjadi semakin berhati-hati dan mendorongnya untuk mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.

Dengan demikian maka pertempuran antara pengawal Pangeran Lembu Sabdata yang terpercaya itu melawan Ki Waruju menjadi semakin seru. Ternyata Ki Waruju justru berusaha mengimbangi kemampuan lawannya. Untuk meyakinkan anak-anak muda Talang Amba agar mereka tidak menjadi cemas, maka kemudian Ki Waruju pun telah melakukan hal yang sama. Jika serangannya atas lawannya dihindari dan tenaganya itu membentur dinding halaman, maka dinding itu pun telah roboh karenanya. Sementara ayunan tangannya yang menggetarkan udara dengan suaranya yang berdesing telah meruntuhkan dedaunan dan mengguncang pepohonan.

“Anak iblis” geram pengawal Pangeran Lembu Sabdata, “ada juga orang Talang Amba yang memiliki ilmu iblis ini”

Ki Waruju tidak menyahut. Tetapi dengan demikian, maka anak-anak muda Talang Amba yang semula merasa ragu atas kemampuannya, telah bersorak bagaikan meruntuhkan langit Ternyata dipihak mereka pun terdapat orang yang memiliki ilmu yang nggegirisi.

Dalam pada itu, selagi kedua orang raksasa itu bertempur dengan dahsyatnya, maka anak-anak muda Talang Amba dan beberapa orang prajurit Singasari yang ada diantara mereka pun telah berhasil mendesak lawan-lawan mereka, bahkan perlahan-lahan mereka telah mematahkan perlawanan para pengawal Pangeran Lembu Sabdata.

Bagaimanapun juga kemarahan menghentak-hentak di jantung Pangeran itu, namun ia benar-benar tidak berhasil mengatasi kemampuan Mahisa Pukat, sementara para pengawalnya tidak mendapat kesempatan untuk membantunya dan apalagi mengamankannya: Bahkan pengawalnya yang terpercaya, yang dianggap sebagai pelindung oleh Pangeran Lembu Sabdata pun telah terlibat dalam satu pertempuran yang tidak dapat diatasinya.

Sementara itu. Senopati yang memimpin para pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu pun telah mengalami kesulitan melawan seorang Senopati dari Singasari yang membaurkan diri dengan anak-anak muda Talang Amba. Bahkan beberapa saat kemudian, Senapati yang memimpin para pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu pun telah kehilangan kesempatannya untuk dapat memenangkan pertempuran itu. Ketika senjata lawannya menggores di tubuhnya, maka rasa-rasanya titik-titik darah yang terlepas dari tubuhnya bagaikan terlepasnya harapan-harapan yang telah dibangunkannya bersama Pangeran Lembu Sabdata pada saat mereka menuju Talang Amba.

Tetapi Senapati itu adalah seorang prajurit. Karena itu maka bagaimanapun juga, ia sama sekali tidak menunjukkan kelemahannya. Meskipun ia menjadi semakin terdesak, tetapi tidak ada tanda-tanda kesediaannya untuk menyerah.

Namun tidak seharusnya kemenangan anak-anak muda Talang Amba dan para prajurit Singasari itu ditandai dengan pembunuhan tanpa ampun. Karena itu, maka mereka berusaha untuk menguasai lawannya dalam keadaan hidup sejauh dapat mereka lakukan.

Dalam pada itu, maka Senapati yang memimpin prajurit di Talang Amba itu masih juga berusaha berseru, “Dengar orang-orang yang sesat, apakah kalian tidak ingin menyerah? Ada beberapa hal yang dapat kita bicarakan. Mungkin sesuatu yang berarti. Bukan bagi kita masing-masing, tetapi bagi Singasari dan wilayah-wilayahnya.

“Persetan dengan Singasari” justru terdengar Pangeran Lembu Sabdata berteriak, “Kita justru ingin menghancurkan Singasari”

“Itulah yang ingin kita ketahui. Alasan-alasan yang barangkali masuk akal dan dapat dipertimbangkan” jawab Senopati itu.

“Kalian ingin menjebak kami” Pangeran Lembu Sabdata itu masih saja berteriak.

“Tidak. Tetapi jika kalian berkeras, kami tidak mempunyai pilihan lain kecuali menghancurkan kalian. Sebab kita masing-masing tentu sudah mengetahui, bagaimana akhir dari pertempuran ini” Senapati dari Singasari itu berteriak pula.

Untuk beberapa saat masih tidak ada jawaban. Pertempuran diantara kedua pihak itu pun masih berlangsung dengan sengitnya. Namun para pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu sudah benar-benar kehilangan kesempatan untuk dapat memenangkan pertempuran itu dan apalagi meninggalkan padukuhan kecil itu.

Dalam pada itu, Ki Waruju pun telah meningkatkan kemampuannya pula. Ia merasa bahwa lawannya telah sampai ke puncak kemampuannya, sehingga dengan menghentakkan kemampuan pada puncak ilmunya, maka Ki Waruju akan dapat menguasai lawannya itu sepenuhnya.

Demikianlah, pertempuran itu pun benar-benar telah sampai pada batas penyelesaian. Satu dua orang pengawal Pangeran Lembu Sabdata telah kehilangan keseimbangan untuk melawan. Diantara mereka telah tergores oleh senjata Bahkan ada pula diantara mereka yang tidak akan dapat bangkit lagi untuk selamanya.

Dalam pada itu, pertempuran di padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan induk pun berangsur semakin sengit. Tetapi seperti yang terjadi di padukuhan kecil itu, para pengikut Pangeran Lembu Sabdata benar-benar telah kehilangan harapan untuk keluar dari arena sebagai pemenangnya.

Perlahan-lahan mereka telah terdesak justru semakin jauh dari padukuhan yang ingin mereka jadikan karang abang. Padukuhan yang ingin mereka musnahkan sebelum tengah hari, kemudian mereka akan langsung menuju ke padukuhan induk.

Namun dalam pada itu, kekuatan Kabuyutan Talang Amba sebenarnyalah memang telah diletakkan di padukuhan-padukuhan di sekitar Padukuhan induk. Para pemimpin di Talang Amba dan para Senopati dari Singasari memang memperhitungkan bahwa, pasukan yang akan menyerang Kabuyutan Talang Amba tentu akan menjajagi padukuhan-padukuhan di seputar padukuhan induk itu. Tiga padukuhan yang cukup besar, sehingga dengan demikian maka kekuatan yang ada di padukuhan induk, justru kekuatan yang tidak banyak berarti.

Beberapa saat kemudian, maka anak-anak muda Talang Amba dan prajurit dari Singasari memperhitungkan bahwa pasukan yang menyerang Kabuyutan Talang Amba itu sebentar lagi akan dapat mereka pecahkan. Karena itu, maka untuk mencegah mereka melarikan diri, maka para penghubung yang sudah ditugaskan sejak semula segera mempersiapkan isyarat untuk memberikan aba-aba kepada para prajurit Singasari yang-berbaur dengan anak-anak muda Talang Amba di padukuhan-padukuhan kecil agar mempersiapkan diri, menghalangi sejauh mungkin dapat mereka lakukan atas para pengikut Pangeran Lembu Sabdata yang akan melarikan diri.

Dalam pada itu, maka para prajurit Singasari yang ada di Talang Amba dan anak-anak muda Kabuyutan itu pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk memecahkan perlawanan para pengikut Pangeran Lembu Sabdata.

Demikianlah, akhirnya para pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu tidak dapat bertahan lagi. Ketika pasukan Talang Amba bersama para prajurit dari Singasari yang membaur diantara mereka mendesak dengan sepenuh kekuatan, maka pasukan yang menyerang Kabuyutan Talang Amba itu pun. telah terdesak semakin jauh, sehingga akhirnya gelar mereka pun telah terkoyak karenanya.

Pada saat yang demikian, maka para penghubung yang telah menyiapkan isyarat itu pun segera melontarkan anak panah dari busur-busur mereka. Tidak ditujukan kepada para pengikut Pangeran Lembu Sabdata, tetapi anak panah itu telah meluncur ke udara.

Sejenak kemudian, maka panah sendaren itu telah bersuit dengan nyaringnya di udara.

Ternyata suara panah sendaren itu mengumandang di padukuhan-padukuhan kecil di tlatah Kabuyutan Talang Amba. Beberapa buah panah sendaren telah mencapai padukuhan kecil yang Sedang dicengkam oleh pertempuran antara Pangeran Lembu Sabdata dan para pengikutnya melawan kekuatan Kabuyutan Talang Amba.

Beberapa orang pemimpin anak-anak muda Talang Amba di padukuhan kecil itu serta para prajurit dari Singasari segera menyadari apa yang terjadi. Karena itu, maka mereka pun harus segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, maka anak-anak muda Talang Amba yang sudah tidak terlibat dalam pertempuran serta beberapa orang prajurit Singasari segera mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang baru. Sementara itu, para prajurit yang datang kemudian bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap bertempur melawan Pangeran Lembu Sabdata dan para pengawalnya.

Namun akhirnya para pengawal Pangeran Lembu Sabdata tidak mampu lagi bertahan. Beberapa orang telah menjadi korban, yang lain terluka berat, sementara ada yang karena putus asa segera melemparkan senjatanya.

Dengan demikian maka kekuatan Pangeran Lembu Sabdata telah dipatahkan. Namun Pangeran Lembu Sabdata sendiri masih juga berusaha mempertahankan dirinya dari serangan-serangan Mahisa Pukat.

Tetapi Pangeran itu pun sudah tidak berpengharapan lagi. Yang dilakukannya kemudian adalah justru ungkapan dari keputus-asaannya.

Tetapi di bagian lain, pengawalnya yang paling dipercaya masih tetap bertempur dengan garangnya menghadapi Ki Waruju. Tetapi, betapapun tinggi ilmunya, namun orang itu sudah tidak berbahaya, lagi bagi orang lain. Setelah Ki Waruju melepaskan segenap kemampuannya dan justru mulai menekan lawannya, maka orang itu tidak dapat berbuat apapun lagi terhadap orang lain kecuali lawannya yang ternyata memiliki kemampuan lebih baik daripadanya.

Karena itu, maka yang kemudian bertempur di padukuhan kecil itu seakan-akan tinggallah Pangeran Lembu Sabdata melawan Mahisa Pukat dan pengawalnya yang paling terpercaya itu melawan Ki Waruju. Yang lain sama sekali sudah tidak berdaya lagi, sehingga senjata mereka pun telah dikumpulkan oleh anak-anak muda Talang Amba.

Namun agaknya Mahisa Pukat tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk mencampuri pertempuran itu. Karena itu, maka Mahisa Murti lah yang kemudian mencegah para prajurit Singasari untuk membantu Mahisa Pukat.

“Amati saja, dan jangan beri kesempatan Pangeran itu lari lagi dari pertempuran” berkata Mahisa Murti.

Sementara itu. tidak ada orang yang akan dapat mencampuri pertempuran antara Ki Waruju melawan pengawal Pangeran Lembu Sabdata yang terpercaya itu. Karena itu, maka yang terjadi seakan adalah perang tanding yang nggegirisi.

Dalam pada itu, panah sendaren itu telah mengejutkan Pangeran Lembu Sabdata. Ia tidak mengerti arti dari isyarat tersebut sehingga karena itu, maka iapun menduga bahwa isyarat itu diberikan justru karena kehadirannya di padukuhan itu.

Karena itu, maka kegelisahan di hatinya pun menjadi semakin memuncak. Ia sadar, bahwa para pengawalnya tidak ada lagi yang masih bertempur kecuali pengawalnya yang paling terpercaya. Pengawalnya yang dianggapnya akan dapat melindunginya.

Namun dalam pada. itu. Pangeran Lembu Sabdata masih berpengharapan. Jika pengawalnya itu kemudian berhasil mengalahkan lawannya, maka yang lain tidak akan dapat menghalanginya untuk meninggalkan arena itu, sekaligus meninggalkan padukuhan yang akan dapat menjadi neraka baginya itu.

Sejenak kemudian Pangeran Lembu Sabdata justru berusaha untuk bertempur semakin sengit. Dihentakkannya kemampuannya menghadapi Mahisa Pukat.

Namun sebenarnyalah Mahisa Pukat pun telah mencapai puncak kemampuannya pula, sehingga Pangeran Lembu Sabdata tidak berhasil mengalahkannya dengan segera.

Bahkan dalam pada itu, Pangeran Lembu Sabdata yang sekali-sekali sempat berpaling ke arah pertempuran antara kepercayaannya melawan Ki Waruju itu pun sempat pula melihat, bahwa orang yang dianggapnya akan dapat melindunginya itu telah terdesak. Bahkan dalam satu benturan yang dahsyat, maka kepercayaannya itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah. Meskipun orang itu segera meloncat bangkit, namun dengan demikian, maka Pangeran Lembu Sabdata pun dengan jantung yang , berdebaran melihat satu kemungkinan yang pahit akan dapat terjadi atas kepercayaannya itu.

Sementara itu. ia sendiri tidak dapat berbuat banyak. Ketika ia sampai ke puncak ilmunya, ternyata lawannya pun masih juga mampu mengimbanginya.

Benturan demi benturan pun telah terjadi. Namun tidak ada harapan setitikpun bagi Pangeran Lembu Sabdata untuk dapat mengalahkan lawannya.

Dalam pada itu. puncak kemampuan kepercayaannya-pun tidak berhasil melampaui kemampuan ilmu Ki Waruju. Ketika keduanya terlibat dalam benturan kekuatan dalam puncak ilmu masing-masing, maka ternyata kepercayaan Pangeran Lembu Sabdata itu telah jatuh berguling, sementara Ki Waruju terdorong dua langkah surut. Namun Ki Waruju masih dapat mempertahankan keseimbangannya, sehingga ia tidak terjatuh karenanya.

Sementara itu, beberapa orang diantara anak-anak muda Talang Amba dan para prajurit Singasari yang ada di padukuhan itu pun telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Meskipun kekuatan mereka telah susut, karena ada diantara mereka yang menjadi korban melawan para pengawal Pangeran Lembu Sabdata, serta yang lain harus mengamati para tawanan, namun para prajurit yang datang kemudian bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sudah tidak lagi bertempur akan dapat membantu mereka, sementara dua orang masih tetap mengamati Pangeran Lembu Sabdata yang bertempur melawan Mahisa Pukat, agar tidak sempat melarikan diri dari arena.

Dalam pada itu, gelar perang pasukan para pengikut Pangeran Lembu Sabdata telah tidak tertolong lagi. Gelar itu sudah benar-benar terkoyak dan beberapa orang mulai melarikan diri dari arena.

Dalam pada itu, anak-anak muda Talang Amba dan para prajurit Singasari tidak mau melepaskan mereka. Dengan cepat mereka berusaha menguasai keadaan Sebagian dari anak-anak muda Talang Amba dan prajurit Singasari berusaha untuk mengejar mereka, sementara yang lain menguasai beberapa orang yang akan menjadi tawanan.

Sementara itu, yang menggelisahkan mereka yang melarikan diri itu, karena tiba-tiba di setiap padukuhan telah terdengar suara kentongan dengan irama titir, sementara beberapa orang anak muda telah keluar dari padukuhan-padukuhan kecil untuk menghadang mereka yang melarikan diri dalam keadaan yang tercerai berai serta kecemasan yang i mencekam jantung. Sehingga dengan demikian, maka mereka yang melarikan diri itu tidak dapat lagi berpikir secara jernih menghadapi keadaan yang berkembang demikian cepat diluar dugaan.

Orang-orang yang melarikan diri itu tidak sempat berpikir. bahwa kemampuan anak-anak muda yang tersebar di padukuhan-padukuhan itu tentu tidak cukup untuk menahan mereka, jika mereka mengundurkan diri dengan teratur. Tetapi orang-orang yang menjadi pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu telah melarikan diri terpecah-pecah dan tercerai berai sehingga mereka tidak lebih dari kekuatan-kekuatan kecil yang terpecah-pecah.

Sebagian dari kekuatan kecil yang terpecah-pecah itu telah jatuh ke tangan mereka yang mengejarnya. Sementara yang lain karena dengan tiba-tiba saja mereka telah berhadapan dengan sekelompok anak-anak muda di sebuah padukuhan kecil, maka mereka pun segera melemparkan senjata mereka dan menyerah.

Demikianlah, sebagian terbesar dari para pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu pun telah menyerah. Meskipun ada juga sebagian dari mereka yang berhasil menyusup diantara padukuhan-padukuhan kecil dan hilang di bulak-bulak panjang, namun jumlah mereka sama sekali tidak berarti.

“Namun demikian, orang-orang itu akan dapat memberikan laporan kepada saudara-saudara Pangeran Lembu Sabdata yang mempunyai pendirian yang sama” berkata Ki Sanggarana.

“Ya” jawab salah seorang Senopati dari Singasari, “tetapi biar sajalah. Kita sudah berusaha sejauh jauh dapat kita lakukan. Namun kemungkinan yang demikian memang sulit untuk dielakkan”

Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Namun sebagian besar dari para pengikut Pangeran Lembu Sabdata memang sudah tertangkap.

Demikianlah, pergolakan itu tidak berlangsung lebih lama. Pasukan Singasari yang berbaur dengan anak-anak muda Talang Amba segera menguasai keadaan. Sementara itu, para pemimpin dari para pengikut Pangeran Lembu Sabdata pun telah tertangkap pula.

Ki Sanggarana dan para pemimpin Talang Amba dan Singasari yang mendapat laporan tentang Pangeran Lembu Sabdata pun segera datang ke padukuhan kecil itu. Sementara itu, dengan putus asa Pangeran Lembu Sabdata masih bertempur terus tanpa menghiraukan kenyataan yang dihadapinya.

Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat lah yang berusaha menyesuaikan diri. Ia mengerti, bahwa ia dapat dengan cepat-mengakhiri pertempuran jika ia tidak berusaha untuk tetap membiarkan Pangeran Lembu Sabdata tertangkap hidup dan utuh.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun berusaha untuk bertempur secara khusus. Dibiarkannya Pangeran Lembu Sabdata yang gelisah, cemas dan putus asa itu mengerahkan segenap kemampuannya yang sudah tidak terarah lagi, sehingga akhirnya akan kehabisan tenaga dan berhenti dengan sendirinya. Namun agar dijaga bahwa Pangeran itu jangan mendapat kesempatan untuk membunuh diri dengan cara apapun. Mungkin dengan bertempur membatu buta tetapi mungkin benar-benar membunuh diri dalam arti yang sebenarnya.

Mahisa Murti yang terluka menunggui saudaranya yang sedang bertempur itu. Setelah ia sempat menaburkan obat pada lukanya, maka lukanya itu tidak lagi mengucurkan darah.

Di luar padukuhan, beberapa orang anak muda Talang Amba dan prajurit Singasari telah berhasil menawan beberapa orang lagi yang berusaha melarikan diri. Dengan demikian, maka mereka pun segera mengumpulkan tawanan-tawanan mereka menjadi satu.

Beberapa saat kemudian, maka Ki Sanggarana dan beberapa orang Senopati yang membaurkan diri sebagaimana orang-orang Talang Amba telah sampai ke padukuhan kecil itu pula. Dengan jantung yang berdebaran mereka melihat Pangeran Lembu Sabdata masih juga bertempur tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya. Seakan-akan nalarnya benar-benar telah menjadi gelap.

Tetapi yang tidak kalah menarik adalah pertempuran antara Ki Waruju dengan pengawal Pangeran Lembu Sabdata yang paling terpercaya. Orang itu pun sama sekali tidak ingin menyerah bagaimanapun keadaannya. Ia sadar, bahwa tidak lagi ada harapan untuk melepaskan diri atau apalagi menang. Tetapi karena Pangeran Lembu Sabdata sendiri masih juga bertempur, maka kesetiaannya tidak membenarkannya untuk berbuat lain. Juga harga dirinya sebagai seorang laki-laki akan pudar jika ia menyerah. Sehingga yang paling baik baginya dalam keadaan yang demikian adalah bertempur sampai tuntas. Bahkan iapun sadar, seandainya ia memenangkan pertempuran melawan orang yang bernama Ki Waruju itu, maka tidak akan dapat keluar dari arena itu kecuali hanya namanya.

“Tetapi namaku tidak akan ternoda” berkata orang itu di dalam hatinya, “Aku mati di peperangan dengan sikap seorang laki-laki. Aku mati dalam peperangan tanpa menyerahkan diri dalam keadaan yang bagaimanapun juga”

Dengan demikian, maka orang itu pun telah menghentakkan sisa-sisa kemampuannya untuk menunjukkan bahwa ia lebih menghormati namanya daripada jiwanya.

Ki Waruju pun akhirnya tidak dapat mengekang diri lagi. Ia mengalami kesulitan untuk menyelesaikan pertempuran itu sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Pukat. Orang itu memiliki ilmu yang tinggi, sehingga jika Ki Waruju melakukan sedikit saja kesalahan, maka kemungkinan yang paling buruk akan dapat terjadi atasnya.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari Ki Waruju untuk berbuat sejauh dapat dilakukannya. Dikerahkannya segenap kemampuan yang ada padanya untuk segera menyelesaikan pertempuran itu.

Benturan-benturan ilmu pun segera terjadi dengan dahsyatnya. Keduanya justru tidak lagi terlalu banyak bergerak. Tetapi keduanya seakan-akan tidak lagi berusaha untuk menghindari serangan-serangan lawannya. Mereka justru membenturkan ilmu mereka dalam setiap kesempatan.

Nampaknya keduanya memang ingin segera menyelesaikan pertempuran itu, bagaimanapun juga akibatnya. Ki Waruju mengetahui bahwa pertempuran yang sebenarnya antara para pengikut Pangeran Lembu Sabdata dan orang-orang Talang Amba serta para prajurit Singasari sudah selesai, nampaknya juga menjadi jemu untuk bertempur sendiri. Sementara itu, lawannya pun telah menjadi jemu pula menjadi tontonan dan apabila keadaan memaksa, maka orang-orang yang menontonnya itu akan dapat ikut serta memasuki arena dan mencincangnya.

Karena itu, maka tanpa perhitungan yang mapan, orang itu pun telah berusaha untuk membentur-benturkan dirinya dalam puncak ilmunya.

“Jika aku harus mati, biarlah segera terjadi” geram orang itu.

Ki Waruju nampaknya menanggapi cara yang ditempuh oleh lawannya. Iapun dengan dahsyatnya telah menyerang lawannya tanpa mengenal surut.

Orang-orang yang menyaksikan benturan ilmu dalam tataran yang sangat tinggi itu termangu mangu. Bahkan para Senopati dari Singasari pun menjadi berdebar-debar. Mereka melihat dinding-dinding halaman yang tersentuh salah seorang dari keduanya menjadi pecah berderakan. Dahan-dahan pepohonan berpatahan dan daun-daunan berguguran. Benturan-benturan yang terjadi bagaikan telah mengguncang udara Talang Amba dan tanah pun bagaikan digetarkan oleh gempa.

Benturan-benturan yang semakin lama menjadi semakin sengit itu pun akhirnya mencapai puncaknya. Ketika pengawal Pangeran Lembu Sabdata itu menyerang dengan segenap sisa kekuatan dan kemampuannya. Namun Ki Waruju memang tidak ingin menghindar atau mengelak. Dengan sepenuh kemampuannya pula ia sengaja membentur serangan itu.

Sejenak kemudian maka benturan dua kekuatan yang mengungkapkan ilmu yang tinggi itu telah terjadi. Benturan yang seakan-akan telah menggetarkan seluruh padukuhan kecil itu.

Ketegangan benar-benar telah mencengkam. Orang-orang yang menyaksikan benturan itu, seakan-akan merasa dada mereka menjadi sesak. Seolah-olah adalah mereka sendiri yang telah membentur ilmu yang luar biasa itu.

Beberapa saat kemudian suasana benar-benar menjadi beku. Baik Ki Waruju maupun orang yang menjadi kepercayaan Pangeran Lembu Sabdata itu telah terlempar surut.

Dengan susah payah Ki Waruju berusaha untuk mempertahankan keseimbangannya. Sejenak ia berdiri terhuyung-huyung. Dadanya serasa terhimpit oleh kekuatan yang tiada taranya. Matanya menjadi berkunang-kunang, sementara pepohonan di sekitarnya bagaikan bergoyang.

Untuk sesaat Ki Waruju masih tetap berdiri tegak. Namun akhirnya Ki Waruju tidak dapat mengelakkan diri dari kenyataan tentang dirinya. Perlahan-lahan iapun telah berjongkok, bahkan kemudian duduk bersila. Ia tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha untuk memusatkan nalar budinya, melawan himpitan yang menindih isi dadanya.

Dengan segenap kemampuan ilmu yang ada padanya, Ki Waruju berusaha untuk mengatur pernafasannya. Jika ia berhasil, maka ia akan dapat menguasai sebagian besar dari kesulitan di dalam dirinya.

Beberapa orang bergeser mendekatinya. Tetapi tidak seorang pun yang mengganggunya. Mereka membiarkan Ki Waruju berusaha dengan ilmunya untuk memperbaiki keadaannya.

Sementara itu, lawan Ki Waruju yang juga terlempar beberapa langkah surut, sama sekali tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya. Dengan serta merta orang tua itu jatuh terpelanting. Sesaat, orang itu pun berusaha untuk bangkit. Namun orang itu telah terjatuh kembali.

Ketika beberapa orang mendekatinya, orang itu masih menggeliat. Bahkan terdengar ia mengumpat. Namun akhirnya orang itu pun terdiam.

Darah mengalir dari sela-sela bibirnya. Matanya pun kemudian terpejam dan nafasnya terhenti sama sekali.

Tidak ada yang mampu menolongnya. Pengawal yang setia itu telah mati sebagai seorang prajurit yang tangguh di medan pertempuran sebagaimana dikehendakinya. Hal itu akan lebih baik baginya daripada menjadi seorang tawanan.

Suasana menjadi hening sejenak. Pangeran Lembu Sabdata yang mengetahui keadaan pengawalnya yang terpercaya dan yang diharapkan akan dapat melindunginya, benar-benar menjadi putus asa. Pangeran itu telah kehilangan semua yang ada padanya. Kegagalannya kali ini jauh lebih menyakitkan hati dari yang pernah dialaminya ketika ia datang ke Talang Amba bersama orang-orang Gagelang.

Orang-orang telah dikirimnya lebih dahulu untuk mengamati keadaan di sekitar Talang Amba, sama sekali tidak berarti apa-apa. Mereka gagal untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Orang-orangnya itu tidak dapat melihat, sepasukan prajurit Singasari telah memasuki Talang Amba dan membaurkan diri mereka dengan anak-anak muda Talang Amba. Sebagaimana peristiwa yang pernah terjadi terdahulu.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari Pangeran Lembu Sabdata untuk menghentikan semua perlawanannya. Dengan wajah yang kecut Pangeran itu telah meletakkan senjatanya.

“Tetapi jangan menjadi berbangga atas kemenangan kalian kali ini” geram Pangeran Lembu Sabdata, “Jika pada suatu saat, Kediri bangkit dan menguasai Singasari kembali, maka Talang Amba akan menjadi abu. Para pemimpin di Kediri mengetahui, bahwa Talang Amba adalah alas perlawanan yang paling berbahaya bagi Kediri”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah kau masih juga bermimpi bahwa Kediri dan Singasari akan saling berbenturan?”

“Aku yakin” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “ ketidak-puasan telah membakar jantung setiap kesatria di Kediri”

Mahisa Murti yang telah terluka itu pun melangkah mendekat. Dengan nada dalam ia bertanya, “Pangeran. Apakah menurut pendapat Pangeran, benturan kekuatan itu akan menjadi cara penyelesaian yang paling baik bagi hubungan antara Singasari dan Kediri?”

“Aku tidak melihat cara lain untuk membangunkan kembali kebesaran yang telah pudar pada masa yang paling buruk bagi Kediri. Tingkah laku Akuwu Tumapel yang lahir dari antara orang-orang yang dimusuhi oleh peradaban itu benar-benar menyakitkan hati. Karena itu, Singasari yang dibangun diatas harga diri orang-orang Kediri yang saat itu dikorbankan, harus ditebus dengan segala cara” geram Pangeran Lembu Sabdata.

“Dengan segala cara?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya. Dengan segala cara” jawab Pangeran Lembu Sabdata tegas.

“Jadi Pangeran termasuk salah satu diantara orang-orang yang dapat mempergunakan cara apapun untuk mencapai maksudnya?” bertanya Mahisa Murti pula.

Pangeran Lembu Sabdata menjadi ragu-ragu. Namun ia sudah melakukannya.

Meskipun demikian Pangeran Lembu Sabdata. itu tidak menjawab. Dengan wajah yang merah oleh kemarahan yang menghentak-hentak di dada, ia terpaksa harus berdiri membeku diantara anak-anak muda Talang Amba dan para prajurit Singasari yang berbaur diantara anak-anak muda itu, yang telah menggagalkan usahanya untuk kedua kalinya.

“Pangeran” tiba-tiba terdengar suara Ki Sanggarana, “marilah. Kita anggap saja permusuhan ini telah berakhir. Kami persilahkan Pangeran untuk pergi ke padukuhan induk”

“Tidak seorang kesatria pun dari Kediri yang akan menganggap bahwa permusuhan dengan Singasari sudah berakhir dengan kekalahan kecil ini. Kecuali mereka yang tidak mempunyai kepribadian sama sekali” geram Pangeran Lembu Sabdata.

“Baiklah hal itu kita lihat di kemudian hari” berkata Ki Sanggarana pula, “tetapi pertempuran yang terjadi kali ini di Talang Amba telah berakhir. Telah banyak korban yang jatuh sehingga kita harus merenunginya, apakah permusuhan yang demikian itu masih perlu dilanjutkan”

Pangeran Lembu Sabdata tidak menjawab. Tetapi ketika ia mengedarkan pandangan matanya, ia melihat beberapa orang pengikutnya telah menjadi tawanan pula.

Sejenak kemudian, maka Pangeran Lembu Sabdata itu pun telah dibawa oleh para prajurit Singasari dan anak-anak muda Talang Amba ke induk padukuhan. Tidak banyak yang dikatakan oleh Pangeran itu. Banyak pertanyaan yang tidak dijawabnya ketika ia berada di banjar Kabuyutan Talang Amba.

Namun dalam pada itu, setiap terdengar ia mengancam, “Pada satu saat akan datang pasukan yang kuat untuk menggilas kalian. Meskipun disini ada prajurit-prajurit Singasari segelar sepapan, namun mereka tidak akan gagal lagi. Kalian akan ditangkap dan dihukum gantung. Kecuali jika kalian membunuh diri di medan”

Ancaman itu memang menggetarkan jantung Ki Sanggarana. Agaknya Pangeran itu benar-benar mendendam, sementara ia tentu tidak berdiri sendiri. Tentu ada orang lain di Kediri yang berpendirian seperti Pangeran Lembu Sabdata, meskipun mungkin tidak terlalu banyak.

Demikianlah ketika para tawanan telah ditempatkan di tempat yang terjaga dengan baik, yang sebagian besar diletakkan di banjar-banjar padukuhan, maka para pemimpin di Talang Amba telah berbincang dengan sungguh-sungguh bersama dengan para Senopati dari Singasari. Mereka tidak dapat mengabaikan ancaman Pangeran Lembu Sabdata, karena hal yang demikian itu memang dapat terjadi.

Tetapi sedang Senopati pun kemudian berkata, “Kita tidak akan tinggal diam. Kita akan menelusur sampai ke sumbernya. Kita sudah tahu, bahwa Pangeran yang telah melakukan hal ini adalah Pangeran Lembu Sabdata. Pimpinan prajurit Singasari tentu akan berbuat sesuatu. Tidak perlu Sri Maharaja turun tangan dalam persoalan yang tidak begitu berarti ini”

“Jangan salah menilai” desis Ki Waruju, “persoalan ini bukan persoalan yang tidak begitu berarti. Mungkin persoalan yang terjadi di Talang Amba ini dapat dianggap persoalan kecil. Tetapi dalam hubungannya dengan peristiwa yang terjadi di tempat lain, maka persoalan ini adalah persoalan yang besar dan gawat bagi Singasari. Aku bukan seorang prajurit. Bukan pula seorang pemimpin pemerintahan. Tetapi aku mohon hal ini mendapat perhatian yang sewajarnya”

Senopati itu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab, seorang Senopati yang lain telah menyahut, “Kau benar Ki Waruju. Persoalan ini menyangkut daerah yang luas dan menyangkut masalah-masalah yang gawat. Karena itu, aku sependapat, persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai persoalan yang tidak begitu berarti. Tetapi untuk menanganinya tidak harus dilakukan oleh Sri Maharaja sendiri”

Ki Waruju mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Namun dalam pada itu, yang dibicarakan oleh para Senopati adalah masalah para tawanan yang harus mereka bawa ke Singasari. Ada beberapa hal yang mungkin terjadi. Perjalanan ke Singasari dari Talang Amba adalah perjalanan yang panjang, sehingga banyak hal dapat terjadi di perjalanan, karena mereka harus membawa tawanan yang cukup banyak.

“Kita akan menghubungi Singasari sebelum kita membawa mereka” berkata seorang Senopati.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Agaknya jalan itu adalah jalan yang paling baik. Mungkin Singasari akan mengambil satu kebijaksanaan yang lain dari yang direncanakan oleh. para Senopati di Talang Amba. Bahkan mungkin Singasari akan mengirimkan beberapa orang ke Talang Amba untuk mempelajari keadaan. Atau Singasari akan mengirimkan sepasukan pengawal yang akan membawa para tawanan itu bersama-sama prajurit Singasari yang berada di Talang Amba.

Dengan demikian, maka para pemimpin Talang Amba dan para Senopati akhirnya bersepakat untuk menempatkan para tawanan untuk sementara di Talang Amba dibawah pengawasan ketat anak-anak muda Talang Amba sendiri dan para prajurit Singasari itu tetap berada dalam kesiagaan tertinggi, karena kemungkinan yang buruk masih mungkin terjadi. Para Pangeran yang sependapat dengan Pangeran Lembu Sabdata dan para pengikutnya dengan kekerasan, setelah orang-orang yang sempat melarikan diri kembali kepada Para Pangeran itu serta melaporkan apa yang telah terjadi di Talang Amba, tentang kegagalan serta akibat yang parah dari para pengikut Pangeran Lembu Sabdata itu.

Sementara itu, para Senopati di Talang Amba pun telah menunjuk. sekelompok kecil diantara mereka untuk pergi ke Singasari. Melaporkan semua peristiwa yang terjadi dan menerima perintah tentang para tawanan yang masih berada di Talang Amba.

Namun dalam pada itu, sebelum kelompok kecil itu berangkat ke Singasari, maka Talang Amba telah dikejutkan sekali lagi hadirnya beberapa orang berkuda.

Para petugas di padukuhan-padukuhan kecil yang melihat kehadiran beberapa orang berkuda itu pun segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Beberapa orang telah berdiri di pintu gerbang. Yang lain berada di banjar d-alam kesiagaan penuh. Sedangkan kentongan pun telah siap untuk dibunyikan apabila perlu. Beberapa orang penghubung berkuda telah siap pula melakukan tugas mereka untuk menghubungi padukuhan-padukuhan lain.

Tetapi agaknya sekelompok orang berkuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melakukan tindak kekerasan. Ternyata ketika mereka mendekati pintu gerbang, kelompok itu pun segera berhenti. Dua orang diantara mereka mendekati anak-anak muda yang bertugas di pintu gerbang dengan senjata di tangan.

Kedua orang itu pun telah mengangkat tangan kanan mereka. Dengan demikian, keduanya menunjukkan sikap damai mereka, karena dalam keadaan yang demikian mereka tidak akan menggapai hulu senjata mereka.

Karena itu, maka anak-anak muda yang bertugas di pintu gerbang telah menanggapi sikap mereka dengan baik pula. Dua orang diantara anak-anak muda itu pun kemudian bergeser mendekat sambil mengangguk hormat.

Menilik pakaian yang dikenakan maka orang-orang berkuda itu bukannya orang kebanyakan. Mereka tentu orang-orang terhormat, dan bahkan para bangsawan.

, “Kami mohon maaf Ki Sanak” berkata salah seorang anak muda yang bertugas di regol, “apakah aku boleh bertanya tentang Ki Sanak dan keperluan Ki Sanak? Hal ini terpaksa kami lakukan karena keadaan Kabuyutan kami pada saat-saat terakhir ini agak suram oleh peristiwa-peristiwa yang tidak kami kehendaki”

“Kami mengerti anak muda” jawab salah seorang dari kedua penunggang kuda yang mendekat, “kami adalah sekelompok orang-orang Kediri dan Singasari”

Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja diluar sadarnya ia berpaling ke arah seorang anak muda yang lain, yang berdiri diantara anak-anak muda di dekat regol padukuhan kecil itu.

Anak muda yang dimaksud itu pun kemudian melangkah maju. Ketika ia berada dua langkah dari kedua orang yang mengaku orang Kediri dan Singasari itu pun ia berhenti.

Sejenak anak muda itu memperhatikan kedua orang berkuda itu, kemudian orang-orang lain yang berhenti beberapa langkah dari kedua orang berkuda itu.

Namun akhirnya ia berkata, “Kami mengenali sebagian dari tuan-tuan sebagai pimpinan prajurit di Kediri menilik pakaian dan kelengkapan tuan-tuan, sedangkan yang lain dari Singasari.

“Ya. Aku adalah Pangeran Singa Narpada, dari Kediri” berkata salah seorang dari kedua orang berkuda.

“Kami sudah mendapat laporan tentang semua peristiwa yang terjadi di Kabuyutan Talang Amba ini” berkata Pangeran yang menyebut dirinya Singa Narpada, “Karena itu, kami ingin menemui Pangeran Lembu Sabdata”

Anak muda yang sebenarnya adalah seorang prajurit dari Singasari itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Pangeran Lembu Sabdata sekarang adalah seorang yang dalam keadaan khusus karena perbuatannya”

“Katakan saja, bahwa Pangeran Lembu Sabdata menjadi tawanan di Talang Amba” sahut orang berkuda itu.

“Ya tuan. Agaknya memang demikian” jawab anak muda itu, “karena itu, untuk menemuinya diperlukan ijin tersendiri dari Ki Sanggarana, yang memangku jabatan Buyut di Talang Amba ini”

“Baiklah. Apakah aku diijinkan untuk memasuki Talang Amba dan berbicara dengan Ki Sanggarana?” bertanya orang yang menyebut dirinya Pangeran Singa Narpada itu.

“Kami akan mempersilahkan dua diantara tuan-tuan untuk pergi ke padukuhan induk” jawab Senopati itu, “ selebihnya kami mohon maaf, bahwa tuan-tuan masih harus menunggu sampai ada perintah lebih lanjut dari Ki Sanggarana”

“Baiklah” jawab Pangeran Singa Narpada, “kami berdua akan menemui Ki Sanggarana”

Anak muda yang sebenarnya adalah seorang Senopati muda dari Singasari itu pun kemudian mengatur beberapa orang penghubung berkuda untuk mengantarkan kedua orang itu ke padukuhan induk. Tempat orang penghubung itu, dua diantaranya adalah prajurit Singasari. Jika terjadi sesuatu, maka segalanya supaya diatur sebaik-baiknya.

Demikianlah, maka beberapa diantara orang-orang berkuda itu harus menunggu. Mereka dipersilahkan memasuki sebuah halaman rumah yang tidak begitu besar dan dipersilahkan untuk duduk di pendapa. Sementara itu, beberapa orang anak muda mengawasi mereka dari kejauhan.

Namun dalam pada itu, Senopati muda dari Singasari itu telah berbisik kepada pemimpin anak-anak muda di padukuhan itu, “Aku mengenal salah seorang perwira dari Singasari yang juga seorang Pangeran”

Anak muda Talang Amba itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kenapa mereka tidak mengirimkan orang yang telah kita kenal dengan baik. Mahisa Bungalan misalnya”

Senapati muda dari Singasari itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Entahlah. Mungkin karena disini tertawan Pangeran Lembu Sabdata, maka Singasari pun mengirimkan satu atau dua orang perwira tinggi yang juga seorang Pangeran. Demikian juga agaknya Kediri. Sementara yang lain adalah pengawal-pengawal mereka”

Anak-anak muda Talang Amba mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Tetapi apakah kau yakin bahwa sekelompok orang berkuda itu benar-benar akan membawa satu penyelesaian. Bukan sekedar untuk memberikan pertolongan kepada satu pihak.

“Aku kira, mereka benar-benar akan membawakan satu penyelesaian” jawab Senapati muda dari Singasari. Tetapi iapun kemudian melanjutkan, “Tetapi segalanya kita tunggu dari hasil pertemuan mereka dengan Ki Sanggarana.

Anak-anak muda Talang Amba hanya mengangguk-angguk saja.

Sementara itu, dua orang diantara orang-orang berkuda itu telah diantarkan ke padukuhan induk untuk bertemu dengan Ki Sanggarana.

Sebenarnya kedatangan kedua orang berkuda itu telah mengejutkan Ki Sanggarana. Dengan jantung yang berdebaran, keduanya telah dipersilahkan duduk di pendapa.

“Seorang diantara mereka mengaku bernama Pangeran Singa Narpada” berkata salah seorang dari empat orang yang mengantar kedua orang itu kepada Ki Sanggarana.

“Apa maksudnya?, “ bertanya Ki Sanggarana.

“Itulah yang harus kita ketahui dengan pasti. Menurut keterangannya mereka ingin dengan Pangeran Lembu Sabdata yang tertawan itu” jawab anak muda yang mengantarkan kedua orang berkuda itu.

Ki Sanggarana mengangguk. Namun kemudian ia tidak menemui kedua tamunya itu seorang diri atau hanya bersama Ki Sendawa dan para bebahu Kabuyutan. Tetapi Ki Sanggarana juga mengajak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Selain kedua orang anak muda itu, Ki Sanggarana juga mengundang Ki Waruju untuk ikut serta berbicara tentang para tawanan.

Dalam pada itu, maka orang-orang Talang Amba itu pun menjadi berdebar-debar. Apakah yang telah mereka lakukan itu salah, sehingga orang-orang yang datang itu ingin menangkapnya dan memenjarakannya.

Tetapi para prajurit dari Singasari akan menjamin langkah kami tersebut. Jika langkah itu salah, maka prajurit-prajurit Singasari itu pun akan terkena akibatnya pula.

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...