Minggu, 27 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 017-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 017-04*



Hari itu, ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Ia makan di tempat itu juga. Beberapa potong pohung yang direbus. Ia pun minum di tempat itu pula dengan bumbung bambu.

Namun dengan demikian, ia telah selamat dari tangan para prajurit dan orang-orang yang menjilat kepada Pangeran Kuda Permati, karena salah pengertian tentang satu sama bagi Kediri.

Dengan demikian, maka para pengikut Pangeran Kuda Permati hari itu tidak berhasil menemukan pengkhianat yang sudah terluka parah itu. Betapa kemarahan menghentak-hentak didada perwira yang berada di banjar, yang bertanggung jawab langsung tentang tawanan itu. Bahkan pengkhianat itu masih sempat menghinanya dengan mengikat tangannya dan meletakkan keris didadanya, seolah-olah orang itu ingin mengatakan, seandainya ia ingin membunuhnya, maka ia sudah mati pada saat itu.

Perwira itu mengumpat. Namun demikian ia sempat juga bertanya kepada diri sendiri, kenapa orang itu tidak membunuhnya.

Dalam pada itu, di pasar hewan, para prajurit pun kemudian meninggalkan tempat itu juga. Tetapi ketiga orang yang menolong petugas sandi itu sadar, bahwa sepeninggal para prajurit itu tidak berarti bahwa apa yang terjadi di pasar itu tidak diketahui oleh mereka, karena tidak seorang pun mengetahui, siapa saja di antara orang-orang yang ada di pasar itu yang sebenarnya pengikut Pangeran Kuda Permati.

Dengan demikian, maka kegiatan di pasar itu telah berlangsung pula. Tidak seorang pun yang membicarakan tentang orang yang hilang itu serta kemungkinan-kemungkinannya, karena setiap orang tidak tahu tanggapan lawan bicaranya.

Yang mereka bicarakan kemudian adalah ternak yang sedang diperdagangkan itu saja sebagaimana yang mereka lakukan sebelumnya.

Dalam pada itu, dengan cermat dan penuh kemarahan, para prajurit itu berusaha untuk menemukan seorang yang sudah terluka parah di tubuhnya, yang menurut dugaan mereka tidak akan sempat lari terlalu jauh. Karena itu, maka mereka telah menyebarkan orang-orang untuk mencarinya. Bukan saja dipasar itu, tetapi juga di paduku-han-padukuhan dan pasar-pasar yang lain.

Namun ternyata bahwa di pasar hewan itu, para prajurit tidak menemukan seseorang, sebagaimana yang mereka sebut telah terluka parah. Yang ada adalah para pedagang dan orang-orang yang membutuhkan ternak untuk beberapa macam keperluan.

Meskipun demikian para prajurit itu tidak segera pergi. Bahkan mereka masih sempat memeriksa kedai-kedai di-sekitar pasar hewan itu.

Namun dalam pada itu, dihari berikutnya, peristiwa yang terjadi itu telah sampai ketelinga para perwira di Kediri. Mereka menyaksikan sendiri, bagaimana seorang perwira petugas sandi yang tertangkap oleh Pangeran Kuda Permati mengalami perlakuan yang sangat pahit. Bahkan seandainya petugas itu tidak sempat mendapat pertolongan dan melepaskan diri, serta kemudian benar-benar diserahkan kepada rakyat yang telah dihasut, maka nasibnya akan menjadi semakin buruk.

Dengan laporan dan kenyataan itu, para Senopati di Kediri sudah mendapatkan beberapa bukti atas tingkah laku Pangeran Kuda Permati dan para pengikutnya. Sementara itu, Sri Baginda masih tetap menyimpan Pangeran Singa Narpada yang memungkinkan untuk mengambil langkah yang lebih keras untuk menundukkan Pangeran Kuda Permati.

“Kita hadapkan perwira petugas sandi itu kepada Sri Baginda” berkata salah seorang Senapati. “Jika Sri Baginda menerima, mungkin akan ada juga pengaruhnya” jawab yang lain.

Namun, ternyata usaha mereka untuk menghadapkan petugas sandi itu tidak berhasil. Sri Baginda sedang sibuk dengan persoalannya sendiri.

“Kita akan terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu” berkata seorang Senapati, “Pangeran Kuda Permati dapat berbuat apa saja. Sementara kita menjadi sangat terkekang”

“Ya. Kita sudah kalah pada langkah-langkah permulaan” berkata Senopati yang lain, “namun menurut pendengaranku, Sri Baginda menyimpan Pangeran Singa Narpada dengan satu keinginan bahwa persoalannya tidak diselesaikan dengan darah semata-mata. Karena jika Pangeran Singa Narpada bebas bertindak, maka ia akan melakukan kekerasan yang tidak akan dapat dielakkan oleh Pangeran Kuda Permati, sehingga akan menimbulkan satu benturan kekerasan yang akan menelan sangat banyak korban.”

“Aku juga mendengar” jawab kawannya, “ tetapi dalam sikap yang adil. Sekarang, justru terjadi sebaliknya. Kita yang dibantai perlahan-lahan tanpa dapat berbuat apa-apa. Bukankah dengan demikian korban akan justru jatuh di satu pihak dan tidak adil sebagaimana dua pihak yang berhadapan.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih belum menemukan suatu cara yang baik untuk melangkah.

Namun dalam itu, para Senopati itu pun telah mendengar laporan pula sikap yang diambil oleh Panji Sempana Murti. Namun sikap itu pun terbentur oleh lingkungan yang berada di bawah bayangan kekuasaan Pangeran Kuda Permati.

Jika Panji Sempana Murti langsung mengambil langkah-langkah kekerasan, maka ia akan berhadapan dengan orang-orang yang tidak banyak mengetahui persoalannya, tetapi diperalat oleh Pangeran Kuda Permati, sehingga korban pun akan jatuh dengan sia-sia.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menyampaikan hal itu kepada Pugutrawe, meskipun mereka segera kembali lagi menemui Ki Waruju dan tinggal bersamanya. Dengan terperinci Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat memberikan laporan tentang usaha pelepasan, petugas sandi yang ditangkap oleh para pengikut Pangeran Kuda Permati.

“Laporan yang berharga” berkata Pugutrawe, “mudah-mudahan Panji Sempana Murti mendapat laporan pula. Jika tidak, maka lewat petugas kita, aku akan menyusupkan laporan ini tidak langsung ke dalam lingkungan Panji Sempana Murti, agar ia dapat mengambil langkah-langkah.

Dalam pada itu, Petugas-petugas Panji Sempana Murti memang menangkap berita, bahwa seorang petugas sandi dari Kediri yang sudah tertangkap dan siap dikorbankan untuk memuaskan gejolak perasaan rakyat yang sudah dihasutnya telah terlepas. Tidak seorang pun dapat mengatakan, bagaimana petugas itu melepaskan diri. Namun menurut dugaan, petugas sandi itu telah menyebarkan ilmu sirep, sehingga semua orang yang mengawasinya telah tertidur nyenyak. Bahkan petugas sandi itu sempat menghina perwira yang-bertanggung jawab atas dirinya dengan mengikat tangannya dan meletakkan keris didadanya tanpa menyakitinya.

Sepeninggal Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Pugutrawe sempat memperkuat berita itu lewat salah seorang petugas sandi Singasari yang ada di antara pasukan Panji Sempana Murti, meskipun ia tidak mengatakan, bahwa orang-orangnyalah yang telah terlibat dalam usaha melepaskan petugas sandi itu.

Dengan demikian, maka Panji Sempana Murti telah mendapat gambaran yang semakin jelas tentang daerah yang dikuasai oleh Pangeran Kuda Permati. Namun ternyata Panji Sempana Murti masih belum mendapat laporan, dimanakah Pangeran Kuda Permati sendiri tinggal.

“Jika pasukan kita menyerang daerah itu, maka kita hanya akan berhadapan dengan rakyat yang tidak tahu menahu. Kita akan memasuki daerah yang bagaikan bayang-bayang. Kita akan menjumpai para petani, pedagang dan orang-orang dalam kesibukan mereka sehari-hari.Namun yang dalam saat-saat tertentu mereka akan menyerang kita,karena sebagian dari mereka adalah prajurit Pangeran Kuda Permati yang- menyatu dengan rakyat yang sudah terpengaruh oleh mereka. Tetapi kita akan sangat sulit untuk membalas serangan itu apalagi berhadapan dalam satu garis pertempuran.

“Kita harus menemukan satu cara” berkata perwira pengikut Pangeran Singa Narpada yang bergabung dengan Panji Sempana Murti. Lalu, “Langkah-langkah yang kita ambil di sini sudah memadai. Kita membentuk pasukan di antara rakyat itu sendiri sehingga mereka akan dapat melawan dan melindungi dirinya sendiri, disamping para prajurit kita yang kita sebarkan.

Panji Sempana Murti termangu-mangu sejenak. Ia sadar sepenuhnya apa yang dihadapinya. Jika ia dengan kasar membenturkan kekuatannya bersama rakyat yang telah mendapat sedikit latihan keprajuritan melawan Pangeran Kuda Permati serta rakyat yang telah dipengaruhinya, maka korban akan jatuh tanpa hitungan, justru di antara rakyat. Sementara itu belum tentu bahwa pada suatu keadaan yang demikian ia dapat bertemu dengan Pangeran Kuda Permati yang belum diketahui dimana tempatnya.

Karena itu, untuk sementara Panji Sempana Murti tetap masih berjuang untuk menemukan satu saat yang paling tepat untuk bertindak. Namun ia tidak membiarkan kekuatan Pangeran Kuda Permati untuk tetap menghantui rakyat di daerah yang kemudian langsung mendapat perlindungannya, bahkan telah dibinanya untuk menjadi alas dan pancadan apabila benar-benar ia harus menghadapi kekuatan Pangeran Kuda Permati itu secara terbuka.

Sebenarnya setelah sekian lama Panji Sempana Murti berusaha lewat para petugas sandinya, ia masih belum mendapat gambaran yang pasti, berapa besar kekuatan Pangeran Kuda Permati. Namun lambat laun ia pun telah berhasil mengaburkan kekuatannya yang sebenarnya sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati. Rakyat Ka-buyutan yang mendapat perlindungannya langsung, nampaknya tanggapsebagaimana aiketahui olehPanji Sempana Murti. Mereka benar-benar telah menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Perasaan takut lambat laun menjadi semakin berkurang, karena Panji Sempana Murti setiap kali telah mengadakan semacam pameran kekuatan.

Bahwa kekuatan Panji Sempana Murti seakan-akan menjadi berlipat memang telah menarik perhatian para petugas sandi Pangeran Kuda Permati. Namun akhirnya mereka pun mulai curiga, bahwa yang hadir di Kabuyutan itu bukan saja pasukan Panji Sempana Murti. tetapi juga pasukan Pangeran Singa Narpada.

Namun dalam pada itu, Pangeran Kuda Permatimasih ingin mempergunakan caranya yang lama. Ia ingin menggertak salah satu padukuhan dengan satu langkah tiba-tiba. Ia telah memerintahkan sepasukan prajuritnya untuk dengan tiba-tiba memasuki sebuah padukuhan dan mengu asainya untuk beberapa saat, kemudian meninggalkannya. Maksudnya sebagaimana terdahulu, agar rakyat di daerah bayangan kekuasaannya masih tetap dalam suasana ketakutan dan tidak berani menentang perintahnya. Bahkan meskipun pasukan Panji Sempana Murti ada di Kabuyutan itu.

Demikianlah, ketika fajar menyingsing disebuah padukuhan, maka orang-orang dipadukuhan itu telah dikejutkan oleh hadirnya sepasukan prajurit di dalam padukuhannya. Orang-orang padukuhan itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Sebagaimana pernah terjadi, bahwa seolah-olah setiap kentongan telah ditunggui oleh para prajurit yang datang.

Dalam kebingungan orang-orang padukuhan itu hanya dapat berdiam diri tanpa berbuat apa-apa. Bahkan anak-anak muda yang berjaga-jaga di gardu pun tidak mampu berbuat apa-apa. Ketika mereka menyadari keadaan mereka, maka seolah-olah gardu itu sudah ditunggui oleh sekelompok prajurit yang sambil tersenyum mengejek.

Bahkan seorang prajurit yang berdiri di depan sebuah gardu melihat anak-anak muda yang kebingungan sambil berkata, “Selamat pagi anak-anak muda. Ternyata kalian memang anak-anak muda yang patuh dan memiliki kemauan yang keras untuk berbuat sesuatu bagi kampung halaman kalian”

Anak-anak muda di dalam gardu itu tidak menyahut. Mereka hanya dapat berdiam diri sambil menahan hati.

Sementara itu, beberapa orang pemimpin dari pasukan itu telah berusaha menemui para bebahu padukuhan. Dengan nada mengancam salah seorang perwira berkata, “Kalian jangan mencoba menentang kehendak kami. Kami akan tetap melakukan tugas kami. Mungkin di padukuhan ini sudah tidak terdapat lagi seekor kudapun. Tetapi mungkin di saat lain kami memerlukan binatang yang lain. Tidak sebagai tunggangan, tetapi kami memerlukannya bagi perjuangan kami yang panjang”

Tidak seorang pun yang dapat menentang. Karena itu, maka mereka hanya dapat menundukkan kepala sambil berdiam diri.

“Nah” berkata perwira itu, “kalian harus menyadari, bahwa kalian tidak akan dapat menggantungkan diri dengan kehadiran Panji Sempana Murti didaerah ini. Katakan, apa artinya kehadirannya bagi keselamatan kalian”

Tidak ada seorang pun yang dapat menjawab.

Karena itu, maka para prajurit itu kemudian telah merasa berhasil menakut-nakuti penduduk padukuhan itu. Mereka mengancam dan bahkan menantang kekuatan Panji Sempana Murti yang ada di Kabuyutan itu.

Demikianlah, setelah puas menakut-nakuti rakyat, maka seperti yang pernah mereka lakukan, maka mereka pun segera menarik diri untuk meninggalkan padukuhan itu kembali ke daerah bayangan kekuasaan Pangeran Kuda Permati.

Namun dalam pada itu, ada yang tidak diperhitungkan oleh Senopati yang memimpin pasukan itu. Sebenarnyalah di setiap padukuhan terdapat beberapa orang prajurit yang telah menyatu dengan rakyat. Beberapa orang di antara mereka yang terjebak di gardu-gardu memang tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi ternyata bahwa ada juga prajurit Panji Sempana Murti yang mampu melepaskan diri.

Dengan kecepatan yang dapat dilakukannya ia mencapai padukuhan sebelah. Dengan tergesa-gesa ia mengabarkan apa yang terjadi di padukuhan yang ditinggalkannya.

“Cepat, siapkan kekuatan yang ada disini. Tetapi jangan bunyikan isyarat. Aku mempunyai rencana tersendiri” berkata prajurit itu.

Beberapa orang prajurit yang ada di padukuhan itu termangu-mangu. Tetapi mereka tidak sempat banyak bertanya karena prajurit itu berkata, “Apakah masih ada seekor saja kuda di padukuhan ini.?

“Satu-satunya adalah milik bebahu padukuhan ini” jawab prajurit yang ada di padukuhan itu.

Prajurit yang sempat melepaskan diri dari padukuhan sebelah itu ternyata sempat pula meminjam kuda itu. Kemudian katanya kepada kawan-kawannya yang ada di padukuhan itu, “Siapkan pula padukuhan-padukuhan di sebelah menyebelah. Tetapi seperti pesanku, jangan ada suara isyarat kentongan. Aku akan ke padukuhan induk Kabuyutan ini untuk menyiapkan pasukan berkuda.

Para prajurit itu pun segera mengetahui maksud kawannya itu. Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Pergilah. Kami akan bersiap secepat mungkin.

Sejenak kemudian maka seekor kuda yang merupakan satu-satunya kuda yang tinggal dipadukuhan itu pun telah berpacu ke padukuhan induk, sementara beberapa orang prajurit penghubung telah berlari-lari ke padukuhan-padukuhan sebelah menyebelah. Dalam waktu singkat, maka kekuatan yang ada di padukuhan-padukuhan itu pun telah siap untuk melakukan tugas mereka.

Anak-anak muda yang telah mendapat latihan meskipun belum begitu banyak telah mampu dipersiapkan pula di antara para prajurit Panji Sempana Murti dan para prajurit Pangeran Singa Narpada.

Kehadiran prajurit itu di padukuhan induk memang mengejutkan. Ia langsung minta bertemu dengan Panji Sempana Murti dan melaporkan apa yang terjadi serta menyampaikan rencananya.

Panji Sempana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Tetapi baiklah aku berbicara dengan para prajurit Pangeran Singa Narpada.

Ternyata perwira tertinggi yang memimpin para Prajurit Pangeran Singa Narpada yang bergabung dengan Panji Sempana Murti sependapat dengan rencana itu. Karena itu, maka dengan cepat Panji Sempana Murti telah menyiapkan pasukannya. Terutama pasukan berkudanya.

“Kita akan berangkat lebih dahulu” berkata Panji Sempana Murti, “ pasukan berkuda ini akan menahan mereka, sementara itu kalian cepat menyusul sebelum kami mengalami kesulitan.”

Demikianlah, dalam waktu singkat semua rencana dan persiapan dilakukan sebaik-baiknya. Baru sesaat kemudian, Panji Sempana Murti sendiri telah memimpin pasukannya menuju ke padukuhan yang menjadi sasaran sergapan pasukan Pangeran Kuda Permati.

Kehadiran pasukan berkuda itulah yang tidak di perhitungkan lebih dahulu. Apalagi sama sekali tidak terdengar suara kentongan, sehingga menurut dugaan para pemimpin pasukan Pangeran Kuda Permati, yang terjadi itu sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya.

Dalam pada itu, pasukan berkuda yang dipimpin langsung oleh Panji Sempana Murti sendiri, tidak langsung memasuki padukuhan yang menjadi sasaran pasukan Pangeran Kuda Permati. Tetapi mereka menuju ke bulak, di luar padukuhan mencegat pasukan Pangeran Kuda Permati yang keluar dari padukuhan itu.

Sementara seorang prajurit yang lain harus menyusup memasuki padukuhan itu kembali dan mempersiapkan kekuatan yang ada sehingga orang-orang dipadukuhan itu kemudian, tidak menjadi sandera jika pasukan Kuda Permati mundur kembali memasuki padukuhan itu. Dengan kekuatan yang ada di antaranya beberapa orang prajurit maka padukuhaan itu sendiri harus mempersiapkan perlawanan. meskipun kesempatannya hanya terlalu sedikit, tetapi Panji Sempana Murti sempat, melakukan rencananya dengan cermat. Mereka vang memperhitungkan bahwa pasukan lawan masih berada di padukuhan itu, telah berhenti beberapa puluh tonggak untuk menunggu sampai pasukan yang sedang menakut-nakuti padukuhan itu keluar. Sementara itu, para penghubung tengah merayap mendekati pasukan itu.

Demikianlah, pasukan Pangeran Kuda Permati yang merasa telah berhasil sebagaimana hari-hari sebelumnya, untuk mempertahankan anggapan, bahwa Pangeran Kuda Permati masih tetap berkuasa meskipun ada pasukan Panji Sempana Murti di Kabuyutan itu.

Tetapi pasukan itu ternyata telah dikejutkan oleh hadirnya berkuda yang dengan tiba-tiba telah menghamburkan debu di tengah-tengah bulak memotong garis perjalanan pasukan Pangeran Kuda Permati. meskipun pasukan berkuda itu tidak terlalu banyak, namun kehadirannya benar-benar telah membuat jantung setiap orang di dalam pasukan Pangeran Kuda Permati itu menjadi berdebar-debar.

Tetapi perwira yang memimpin pasukan itu pun kemudian berteriak, “Kita hancurkan mereka. Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Sementara itu, mereka harus menebus kelancangan mereka dengan akibat yang sangat buruk bagi padukuhan yang baru saja kita tinggalkan. Kita akan menjadikan padukuhan itu karang abang, sehingga untuk lain kali, mereka tidak akan berani berbuat seperti itu lagi.

Sebenarnyalah pasukan berkuda yang dipimpin langsung oleh Panji Sempana Murti itu tidak terlalu banyak dibanding dengan pasukan Pangeran Kuda Permati yang sengaja menakut-nakuti rakyat di Kabuyutan itu.

Namun dalam pada itu, dengan perhitungan yang cermat, maka para penghubung telah memasuki padukuhan itu. Dengan cepat mereka mengabarkan apa yang telah dilakukan oleh Panji Sempana Murti, sehingga mereka harus bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi kemudian.

Pemberitahuan itu telah mengejutkan para prajurit yang ada di padukuhan itu. Begitu cepatnya kawannya bertindak, sehingga akan terjadi sesuatu yang dapat menentukan perkembangan keadaan berikutnya.

Namun para prajurit dan anak-anak muda di padukuhan yang baru saja ditinggal oleh pasukan Pangeran Kuda Permati itu ternyata berusaha untuk mengimbangi keadaan.

Meskipun mereka masih berdebar-debar karena sergapan yang tiba-tiba dari pasukan Pangeran Kuda Permati, namun ketika mereka mendapat pemberitahuan bahwa pasukan Panji Sempana Murti sudah siap memotong perjalanan pasukan Pangeran Kuda Permati itu, maka hati mereka pun segera telah berkembang.

Karena itulah, maka dalam, waktu yang singkat, tanpa isyarat dan tanda-tanda dengan kentongan, maka para prajurit yang ada di padukuhan itu bersama anak-anak mudanya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, dalam waktu yang sangat sempit, para prajurit dan anak-anak muda di padukuhan itu telah berusaha untuk menyingkirkan perempuan dan anak-anak ke sisi yang lebih jauh dari arah yang mungkin akan diambil oleh pasukan Pangeran Kuda Permati untuk memasuki kembali padukuhan itu.

Namun dalam pada itu, pasukan yang lain yang lebih besar dengan tergesa-gesa telah meninggalkan padukuhan induk. Pasukan yang tidak dapat bergerak secepat pasukan berkuda. Namun karena latihan-latihan yang berat yang pernah mereka lakukan, maka mereka dapat bergerak cukup cepat untuk menyusul pasukan berkuda yang akan menghentikan perjalanan pasukan Pangeran Kuda Permati Namun perwira yang memimpin pasukan itu sadar, bahwa jika mereka terlambat, maka pasukan berkuda yang dipimpin langsung oleh Panji Sempana Murti itu akan mengalami kesulitan.

Tetapi dalam pada itu, pasukan-pasukan kecil lainnya yang ada di padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan itu pun telah siap pula. Bahkan mereka telah berbaris di luar dinding padukuhan dan siap untuk memasuki bulak yang akan menjadi ajang pertempuran, sementara yang lain harus memasuki padukuhan untuk membantu para prajurit dan anak-anak muda padukuhan itu apabila pasukan Kuda Permati menarik diri untuk memasuki padukuhan itu kembali.

Dalam pada itu, ternyata kedua pasukan yang berada di bulak, di luar padukuhan itu sudah bertemu. Pasukan berkuda terpilih Panji Sempana Murti tidak menunggu lebih lama lagi.

Dengan garangnya mereka mulai menyerang pasukan lawan. Karena jumlah mereka yang lebih kecil, maka Panji Sempana Murti berusaha untuk bertempur di atas punggung kuda. Namun medannya agak kurang menguntungkan, meskipun dengan sedikit mengesampingkan pertimbangan tentang kerusakan yang dapat terjadi atas ladang di bulak .itu.

Jika pasukan berkuda itu terlalu memikirkan tanaman yang mungkin akan dirusakkan oleh kaki kuda mereka, maka hal itu akan sangat merugikan pertempuran dalam keseluruhannya, karena persoalannya kemudian akan menyangkut bukan saja hidup dan mati para prajurit, tetapi juga imbangan kekuatan antara pasukan Panji Sempana Murti dan Pangeran Kuda Permati.

Demikianlah, maka pertempuran pun segera terjadi dengan sengitnya. Pasukan Pangeran Kuda Permati yang tidak menduga. bahwa mereka akan dihadapkan pada sepasukan prajurit berkuda menjadi sangat marah karenanya. Apalagi ketika mereka melihat bahwa lawan mereka terlalu kecil, sehingga rasa-rasanya Panji Sempana Murti menjadi terlalu sombong untuk melakukan pemotongan perjalanan pasukannya.

“Apakah mereka tidak mendapat keterangan tentang jumlah pasukanku” berkata perwira yang menjadi Senopati pasukan Pangeran Kuda Permati itu

Namun dalam pada itu, pasukan yang lain yang lebih besar ternyata sedang mendekat dengan cepat. Bahkan ketika pertempuran itu sudah terjadi, maka pasukan-pasukan di padukuhan-padukuhan di sekitar bulak itu pun mulai bergerak.

Sementara itu kemarahan Senapati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati itu dengan marah telah memerintahkan sekelompok pasukannya untuk kembali ke padukuhan yang baru saja ditinggalkannya, sebagaimana telah diperhitungkan, dengan perintah, padukuhan itu harus menjadi abu.

Tetapi ketika sekelompok pasukan itu mendekati padukuhan, maka mereka pun terkejut pula. Dihadapannya telah bersiap sepasukan kecil prajurit dan anak-anak muda dari padukuhan itu serta padukuhan di sebelah.

“Gila” geram pemimpin kelompok itu, “iblis manakah yang telah menggerakkan mereka begitu cepat”

Namun sebenarnyalah para prajurit Pangeran Kuda Permati itu menyadari, bahwa anak-anak. muda padukuhan itu telah mendapat latihan-latihan tentang olah kanuragan. Namun sampai saat terakhir, mereka menganggap bahwa masalah itu adalah masalah yang terlalu kecil, sehingga seakan-akan dapat mereka abaikan.

Persiapan yang tiba-tiba dan telah dilakukan setiap padukuhan itu ternyata telah menarik perhatian Pugutrawe. Dalam keadaan yang demikian, ia telah menutup warungnya dan meskipun ia termasuk orang yang tidak diharuskan, tetapi ia telah menggabungkan diri dengan sekelompok anak-anak muda untuk pergi pula ke padukuhan yang menjadi sasaran pasukan Pangeran Kuda Permati.

“Sayang, anak-anak itu tidak ada” berkata Pugutrawe di dalam hatinya, karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru sedang berada di Kabuyutan lain yang menjadi alas kekuasaan bayangan Pangeran Kuda Permati bersama Ki Waruju.

Karena tidak hadirnya kedua anak muda itu, maka Pugutrawe sendiri ingin melihat apa yang terjadi.

Pugutrawe yang ikut bersama pasukan dari padukuhannya yang terdiri dari beberapa orang prajurit yang ada di padukuhan itu, kelompok yang termasuk golongan pertama, yang terdiri dari anak-anak muda yang sudah mendapat latihan-latihan dan mereka yang dengan suka rela menyediakan diri untuk ikut dalam pertempuran itu.

“Yang ragu-ragu supaya keluar dari barisan” berkata prajurit yang memimpin pasukan itu, “Kita akan benar-benar bertempur. Bukan sekedar latihan. Lawan kita adalah prajurit-prajurit Kediri yang sebenarnya.

Namun agaknya orang-orang yang sudah terlanjur masuk ke dalam barisan, termasuk Pugutrawe tidak beranjak dari tempatnya. Mereka sudah dengan mantap ikut bersama kawan-kawannya pergi ke medan.

Meski pun para prajurit masih juga memperingatkan, “Bagi yang kurang menguasai senjatanya, jangan tergesa-gesa melibatkan diri.”

Demikianlah, sekelompok orang-orang bersenjata telah keluar dari padukuhannya dan dengan tergesa-gesa pergi ke padukuhan sebagaimana diberitahukan oleh seorang penghubung.

Dalam pada itu, di padukuhan yang disebutkan, pertempuran memang telah terjadi. Sebagian dari prajurit yang kembali ke padukuhan itu untuk menghancurkannya sama sekali sehingga menjadi debu, telah bertemu dengan kekuatan yang ada di padukuhan itu, dibantu oleh kekuatan-kekuatan yang berhasil menyusup kedalamnya.

Ternyata, seperti yang dibangun oleh Pangeran Kuda Permati sendiri, prajurit-prajuritnya telah menemui keadaan yang sama. Orang-orang yang dalam keadaan sehari-hari mereka kenal sebagai petani, pedagang, peternak dan orang-orang kebanyakan lainnya, tiba-tiba telah membawa senjata menghadapi sepasukan prajurit tanpa gentar.

Dengan demikian, maka pertempuran di bulak dan di pintu gerbang padukuhan itu pun menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak berusaha untuk dapat segera menguasai lawannya dan mendesak mereka.

Namun pertempuran yang terjadi di bulak, ternyata memang berat sebelah. Jumlah pasukan Pangeran Kuda Permati memang jauh lebih banyak.

Namun Panji Sempana Murti yang memimpin sendiri pasukannya, berusaha untuk memanfaatkan kuda mereka sebaik-baiknya.

Dengan sigap mereka datang menyerang bagaikan gelombang, susul menyusul. Namun dengan cepat pula mereka bergeser menjauh.

Serangan-serangan beruntun dari pasukan berkuda atas satu sisi dari pasukan Pangeran Kuda Permati yang dipimpin oleh seorang Senapatinya dan kemudian menjauh, telah menimbulkan persoalan tersendiri dari pasukan itu. Tetapi karena jumlah mereka lebih banyak, maka yang dapat dilakukan oleh pasukan berkuda itu seakan-akan hanya merupakan gangguan-gangguan yang tidak menentukah, meskipun menimbulkan kemarahannya menghentak-hentak di dada Senapati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati itu.

Namun kemudian, Senapati yang menjadi jemu itu telah menjatuhkan perintah, agar berusaha untuk menjebak pasukan berkuda itu, sehingga mereka memasuki lingkaran pertempuran lebih dalam lagi.

Tetapi pada saat yang demikian, beberapa kelompok pasukan dari beberapa padukuhan telah mulai mendekat. Mereka terdiri dari para prajurit dan anak-anak muda yang belum cukup matang dalam olah peperangan. Tetapi dengan tekad yang bulat, mereka tidak gentar menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi kemudian atas mereka.

Namun ternyata Panji Sempana Murti lah yang menjadi cemas melihat kehadiran mereka, justru karena lawan terlalu kuat dan memiliki bekal ilmu kanuragan yang cukup. Karena itu, maka ia pun kemudian memerintahkan pasukannya untuk memecah perhatian, agar pasukan-pasukan yang datang itu tidak menjadi sasaran yang terlalu lunak bagi pasukan Pangeran Kuda Permati yang garang itu.

Sementara itu, Senapati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati itu pun melihat kedatangan beberapa kelompok orang-orang bersenjata dari padukuhan-padukuhan. Kemarahan yang tidak tertahankan, telah mendorongnya untuk meneriakkan perintah, “Hancurkan mereka. Adalah salah mereka sendiri, bahwa mereka telah menjerumuskan diri ke dalam kesulitan di medan yang garang ini”

Tetapi agaknya tidak semudah itu untuk melakukannya, justru karena perhatian Panji Sempana Murti lebih banyak tertuju kepada keselamatan mereka.

Namun, bagaimanapun juga, kehadiran kelompok-kelompok pasukan, yang kemudian semakin lama menjadi semakin banyak itu, benar-benar mulai terasa membebani pastikan Pangeran Kuda Permati, sehingga dengan demikian, maka mereka pun semakin lama menjadi semakin garang.

Di padukuhan yang baru saja mereka tinggalkan, sebagian kecil dari pasukan Pangeran Kuda Permati itu tidak segera berhasil menembus kekuatan perlawanan yang dipimpin oleh beberapa orang prajurit. Bukan saja para prajurit yang ada di padukuhan itu, tetapi juga yang berada di padukuhan sebelah yang telah berhasil menyusup ke dalam padukuhan itu.

Para prajurit itulah yang bertempur di paling depan, meskipun dalam ujud yang sama dengan para penghuni padukuhan itu. Namun sebagaimana terjadi di daerah bayangan kekuasaan Pangeran Kuda Permati, pasukannya pun menyadari, tentu ada di antara mereka prajurit-prajurit yang bertugas di padukuhan-padukuhan, setidak-tidaknya mereka yang memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda di padukuhan-padukuhan itu.

Karena itu, maka prajurit itu seakan-akan telah menghentakkan kekuatan mereka untuk memecahan pertahanan orang-orang padukuhan itu. Mereka mengemban tugas dari Senapatinya untuk menjadikan padukuhan itu karang abang. Isi padepokan itu harus menjadi abu agar hal yang serupa tidak akan terulang lagi. Panji Sempana Murti harus menyadari kesalahan yang telah dilakukannya, sehingga sebuah padukuhan bersama isinya telah menjadi hancur karenanya.

Tetapi para penghuni padukuhan itu dibantu oleh beberapa orang prajurit Panji Sempana Murti dan kekuatan dari padukuhan sebelah yang jumlahnya menjadi lebih banyak dari sebagian kecil pasukan lawan itu, telah bertahan-dengan sekuat tenaga sehingga usaha lawan itu tidak segera berhasil.

Namun dalam pada itu, yang dicemaskan oleh Panji Sempana Murti telah mulai nampak gejalanya akan terjadi di daerah pertempuran di bulak. Para prajurit pengikut Pangeran Kuda Permati mulai mendesak pasukan yang datang dari padukuhan-padukuhan. meskipun jumlah mereka semakin lama semain banyak, namun di antara mereka yang mampu mempergunakan senjata dengan baik hanyalah sebagian kecil saja. Terutama para prajurit yang memang berada di antara anak-anak muda itu.

Bahkan semakin lama pasukan Pangeran Kuda Permati itu benar-benar menjadi semakin garang, sehingga dengan demikian maka pasukan berkuda yang dipimpin langsung oleh Panji Sempana Murti itu harus bekerja keras menyelamatkan anak-anak muda yang datang dari padukuhan-padukuhan.

Namun dalam pada itu, pada saat-saat yang paling mendebarkan bagi anak-anak muda yang turun ke arena, maka sepasukan prajurit Panji Sempana Murti yang lain telah datang menyusul. Sepasukan prajurit dalam jumlah yang cukup, namun karena mereka bukan pasukan berkuda, maka kedatangan mereka berjarak beberapa saat dengan pasukan yang mendahuluinya.

Bahkan yang datang bukan saja para prajurit, tetapi juga anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang lebih jauh dari padukuhan induk, telah mengikuti pasukan itu di ujung belakang.

Kedatangan pasukan itu telah mendebarkan jantung pasukan lawan. Mereka memang tidak jelas, jenis pasukan apakah yang datang itu. Apakah mereka terdiri dari anak-anak muda sebagaimana yang datang terdahulu atau bukan.

Namun ketika mereka semakin dekat, maka jelas bagi para pengikut Pangeran Kuda Permati, bahwa yang datang itu adalah sepasukan prajurit.

“Gila” geram Senapati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati itu, “Yang datang itu tentu sebagian pasukan Panji Sempana Murti, yang akan membantu pasukan berkuda yang datang lebih dahulu.

Para prajurit Pangeran Kuda Permati pun mulai berdebar-debar. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak. Tetapi kehadiran mereka tentu akan memberikan pengaruh yang besar pada keseimbangan pertempuran itu rasa-rasanya masih saja mengalir, meskipun dalam kelompok-kelompok kecil.

Dengan demikian, maka Senapati itu pun telah memberikan perintah, bahwa perhatian terbesar harus diberikan kepada prajurit dari pasukan Panji Sempana Murti. Mereka tentu memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit. Karena itu, maka mereka harus diberi perlawanan dengan sungguh-sungguh agar mereka tidak dapat berbuat sekehendak hati mereka di peperangan itu.

“Jangan banyak dihiraukan lagi pasukan berkuda yang datang dan pergi itu, “ perintah Senapati itu, “Mereka tidak akan banyak menentukan akhir dari pertempuran ini. Tetapi pasukan darat yang menyusul itu benar-benar harus dihadapi dan dihancurkan sebagaimana pasukan yang lain.

Dengan demikian, maka para prajurit Pangeran Kuda Permati itu telah bertempur semakin keras. Justru pada saat-saat pasukan yang datang itu semakin dekat. Untunglah bahwa di antara anak-anak muda itu terdapat juga beberapa orang prajurit di samping pasukan berkuda yang selalu berusaha untuk memecah perhatian pasukan lawan. Dengan demikian maka usaha mereka untuk menghancurkan pasukan lawan agak dapat dihambat, meskipun akibatnya terasa pula. Beberapa orang anak muda memang harus di angkat keluar dari arena, karena luka-luka yang parah, sementara yang lain terpaksa berlari-lari kecil karena senjata mereka yang terlempar dari tangan.

Namun lawan-lawan mereka yang garang sama sekali tidak berniat untuk melepaskan seorang pun di antara mereka. Dengan garangnya mereka berusaha memburu. Tetapi justru pada saat yang demikian, pasukan Panji Sempana Murti telah berlari-lari memasuki arena dalam tebaran gelar yang sederhana, namun mendekati kelengkapan gelar Garuda Nglayang.

Dengan demikian, maka pasukan berkuda yang dipimpin langsung oleh Panji Sempana Murti yang telah berhasil menghentikan para prajurit Pangeran Kuda Permati itu pun telah menyibak, sementara pasukan yang sedang bertempur di medan itu telah mendapat perintah untuk menyusup ke belakang gelar yang telah mendekati pasukan lawan.

Melihat gelar yang meskipun sederhana tetapi memiliki unsur-unsur gelar itu, pasukan lawan menjadi gelisah. Mereka menghadapi pasukan berkuda dan kelompok-kelompok yang datang terdahulu sama sekali tanpa pembentukan gelar apapun.

Ada semacam kecemasan di dalam hati Senapati yang memimpin pasukan Pengeran Kuda Permati. Jika mereka bertempur tanpa gelar, atau bahkan dengan gelar Gelatik Neba sekalipun akan dapat terjebak oleh gelar pasukan Panji Sempana Murti betapa pun sederhananya gelar itu. Tetapi gelar itu memiliki unsur pengapit, unsur sayap dan paruh.

Nampaknya pasukan itu juga memusatkan kekuatannya pada paruh, pengapit dan ujung-ujung sayapnya yang lengkung.

Namun para pengikut Pangeran Kuda Permati itu juga terdiri sebagian besar prajurit-prajurit dan pengawal Kediri. Karena itu, maka mereka pun dengan cepat menyesuaikan diri menghadapi lawannya.

Tiba-tiba saja maka terdengar aba-aba yang diteriakkan oleh Senapati yang memimpin pasukan itu, sambung bersambung dari pemimpin kelompok ke pemimpin kelompok yang lain. Dalam pada itu, sejenak kemudian, maka pasukan itu seakan-akan telah ditarik susut beberapa puluh langkah. Demikian cepatnya sehingga terjadi jarak antara kedua pasukan itu. Namun dengan sigap, para prajurit dan pengawal yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati itu telah menyusun diri. Ketika mereka berderap maju, maka susunan pasukannya juga telah berujud gelar yang sederhana. Wulan Punanggal yang mempunyai watak yang sama dengan Garuda Nglayang. Namun pada Wulan Punanggal kekuatan pada induk pasukan tidak dipusatkan pada paruh gelar, tetapi merata menebar di sebelah menyebelah Senapatinya. Sementara itu ujung-ujung gelar yang runcing seakan-akan telah siap menusuk sayap-sayap gelar pasukan lawan dan mengoyaknya.

Panji Sempana Murti sempat menyaksikan perubahan ujud pada pasukan lawannya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesis, “Benar-benar sebuah pasukan yang trampil”

Namun pasukan Panji Sempana Murti tidak gentar melihat kenyataan yang mereka hadapi. Beberapa saat kemudian, mereka yang semula bertempur diatas punggung kuda telah meloncat turun, menyerahkan kuda-kuda mereka kepada beberapa orang dan mereka pun langsung berada di dalam gelar. Panji Sempana Murti sendirilah yang kemudian memimpin gelar itu. Sementara ia memerintahkan beberapa orang perwiranya untuk mengatur pasukan-pasukan yang berdatangan dari padukuhan-padukuhan.

“Mereka berada di lapisan kedua sayap kanan dan kiri” berkata seorang perwira.

“Awasi mereka” perintah Panji Sempana Murti, “jumlah mereka cukup banyak, tetapi kemampuan mereka masih di bawah syarat kemampuan seorang prajurit. Karena itu, seorang pun di antara mereka jangan ada yang berada dilapis pertama. Biarkan para prajurit menghadapi kekuatan Pangeran Kuda Permati”

Perintah itu benar-benar ditaati oleh para pemimpin kelompok. Anak-anak muda yang ikut dalam pasukan itu pun lelah berada di belakang para prajurit. Mereka yang sudah terlibat dalam pertempuran, telah menyusup memasuki dan berada dibelakang gelar. Sementara saat-saat pasukan lawan menyusun gelar, merupakan kesempatan bagi anak-anak muda untuk menempatkan diri, meskipun ada di antara mereka yang sudah terlanjur menjadi korban.

Dengan demikian, maka pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Kedua belah pihak mempunyai alas kekuatan para prajurit dan pengawal dari Kediri, sehingga dengan demikian, maka mereka mempunyai dasar kemampuan yang seimbang.

Namun dalam pada itu, bagaimanapun juga jumlah orang di dalam pertempuran ikut menentukan. Jumlah orang di dalam pasukan Panji Sempana Murti ternyata melampaui jumlah orang yang ada di dalam pasukan lawan. Anak-anak muda yang meskipun berada dilapis kedua dan berikutnya, namun mereka kadang-kadang mendapat kesempatan pula untuk bertempur. Tidak seorang lawan seorang, tetapi mereka berusaha untuk bertempur berpasangan. Namun karena jumlah mereka cukup banyak, maka hal itu telah ikut menentukan keseimbangan kekuatan.

Senapati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati mengumpat tidak habis-habisnya. Ia merasa bahwa pasukannya telah terjebak oleh Panji Sempana Murti berani melakukan pemotongan perjalanan mereka kembali ke induk pasukan.

“Panji yang gila itu tentu akan mendapat hukuman yang setimpal dengan kegilaannya” geram Senapati itu.

Namun Panji Sempana Murti mempunyai perhitungan tersendiri. Jika ia berhasil menghancurkan kekuatan itu, maka ia sudah berhasil mengurangi kekuatan Pangeran Kuda Permati.

Justru sebagian yang cukup besar. Dengan demikian, maka pasukan yang tersisa tidak akan lagi sangat berbahaya baginya dan apalagi bagi Kediri.

Karena itu, maka Panji Sempana Murti berusaha dengan sekuat tenaganya untuk benar-benar menghancurkan pasukan itu dan menawan sisanya jika mereka menyerah. Tetapi jika tidak, maka apaboleh buat.

“Sikap itu adalah sikap yang paling baik” geram Panji Sempana Murti, seorang Senapati yang dikenal sebagai seorang Senapati yang keras, yang pada beberapa saat terakhir, hampir kehilangan kepribadiannya. Sebenarnyalah bahwa Panji Sempana Murti adalah seorang Senapati yang mempunyai kepribadian yang mirip dengan Pangeran Singa Narpada, kepribadian yang dicemaskan oleh Sri Baginda akan dapat menimbulkan korban yang tidak terbilang.

Namun tanpa ketegasan sikap seperti yang dilakukan oleh Panji Sempana Murti, maka suasana akan tetap tidak menentu untuk waktu yang lama.

Dalam pada itu, maka pertempuran yang keras pun segera terjadi. Para pengikut Pangeran Kuda Permati yang telah menyatakan diri tidak lagi mengakui kekuasaan Singasari atas Kediri, benar-benar telah menunjukkan sikapnya yang tegas.

Mereka menentang Singasari atau orang-orang yang menurut pendapat mereka adalah tangan-tangan dari kekuasaan yang tidak sewajarnya atas Kediri itu. Bagi mereka, semua orang yang menjadi alat kekuasaan Singasari harus dimusnakan.

Sementara itu, bagi Panji Sempana Murti, Pangeran Kuda Permati adalah seorang pemberontak. Orang-orang yang berpihak kepadanya adalah pemberontak-pemberontak pula. Seorang pemberontak adalah seorang pengkhianat yang harus dibinasakan apabila mereka tidak mau menyerah.

Dengan sikap dan landasan pandangan masing-masing tentang persoalan yang mereka hadapi, maka mereka benar-benar telah bertempur dengan segala kemampuan yang ada pada mereka.

Kedua gelar itu saling mendesak dan saling menekan. Setiap kali terdengar sorak yang bagaikan memecah langit. Kemenangan-kemenangan kecil ditandai dengan sorak yang gemuruh, meskipun sejenak kemudian lawan-lawan merekalah yang bersorak.

Sementara itu, ujung-ujung gelar pasukan Pangeran Kuda Permati yang tajam yang mencoba mengoyak sayap pasukan Panji Sempana Murti ternyata tidak segera berhasil, karena sayap-sayap pasukan itu diperkuat oleh beberapa orang perwira yang memiliki kemampuan yang melampaui para prajurit yang lain.

Dalam pada itu, Panji Sempana Murti yang memegang kendali gelar berada di paruh pasukan. Untuk beberapa saat ia masih memimpin pasukannya dan belum langsung bertempur di induk pasukan. Namun ketika ia melihat Senapati yang memimpin pasukan Kuda Permati itu mengamuk bagaikan harimau lapar, maka Pangeran Panji Sempana Murti pun telah menyerahkan pengamatan dan kendali gelar itu kepada seorang perwira yang telah memiliki pengalaman yang cukup.

“Setan itu tidak boleh menjadi buas di lingkungan kambing-kambing yang lemah” geram Panji Sempana Murti.

Sejenak kemudian, maka Panji Sempana Murti dengan pedangnya yang besar telah turun menghadapi Senapati yang sedang mengamuk itu.

“Kau kira kau satu-satunya laki-laki di medan ini” geram Panji Sempana Murti.

“Bagus” jawab Senapati itu, “Aku berhadapan dengan Panglima pasukan budak-budak Singasari di daerah perbatasan Utara.

“Aku merasa lebih terhormat menjadi budak daripada seorang pengkhianat” jawab Panji Sempana Murti, “betapa hinanya budak-budak, tetapi ia masih mempunyai harga diri untuk berjuang melawan pemberontakan. Nah, sekarang menyerahlah pengkhianat. Tidak ada tempat bagimu di tanah ini selama yang kau sebut budak bernama Panji Sempana Murti ini masih ada”

“Setan budak yang hina” geram Senapati itu, “kau jangan berlagak sebagai seorang pahlawan. Apa artinya sikapmu itu? Katakan kau memiliki kelebihan dari kebanyakan orang, namun kelebihanmu justru kau pergunakan untuk menindas kadangmu sendiri atas nama orang-orang Singasari”

“Nalarmu memang sudah terbalik” berkata Panji Sempana Murti, “Aku melihat satu kesatuan yang besar saat ini. Jika kita masing-masing masih berpijak kepada kepentingan diri sendiri, maka kita akan tetap terpecah belah dan kita akan menjadi bangsa yang paling ringkih di seluruh muka bumi ini. Pada saat-saat kita membuka hubungan dengan orang-orang asing yang mulai merambah tanah ini, maka kita harus kuat, lahir dan batin, agar kita tidak memberikan kesan sebagai anak sapi yang lemah, yang akhirnya akan diterkam oleh harimau-harimau yang garang dari daerah di luar rangkah”

“Omong kosong” geram Senapati itu, “alasan yang tidak masuk akal. Kau ingin mencari alasan untuk membela sikap budakmu”

“Persetan” geram Panji Sempana Murti, “apa pun yang kau katakan, aku adalah Panglima pasukan Kediri di daerah perbatasan Utara dengan kekancingan yang di beri pertanda atas kuasa Seri Baginda di Kediri. Sekarang menyerahlah, atau kau akan binasa. Aku telah mengambil sikap yang tidak ragu-ragu. Semua pengkhianat harus ditangkap atau dibinasakan”

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...