Rabu, 23 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 012-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 012-03*

Kemarahan orang-orang Gagelang menjadi semakin memuncak. Sambil berteriak nyaring, maka pasukan itu justru telah meluncur semakin cepat tanpa menghiraukan hujan anak panah yang menjadi semakin lebat.

Namun dalam pada itu, ketika pasukan Gagelang itu menjadi semakin dekat dengan sasaran, tiba-tiba saja telah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan mereka dan sangat mengejutkan Akuwu serta kedua Senapati pengapitnya. Dari antara pasukan Gagelang itu telah terdengar satu teriakan nyaring mengatasi segala macam suara yang terdapat di medan. Kemudian disusul dengan teriakan-teriakan yang lain merayap diantara para pengawal dari Gagelang terutama mereka yang berada di bagian belakang.

Sejenak kemudian, seolah-olah pasukan Gagelang itu telah terbelah. Bagian yang berada di belakang dari pasukan Gagelang itu telah memisahkan diri. Mereka dengan cepat telah mengambil jarak.

Perubahan susunan pasukan Gagelang itu membuat orang-orang Talang Amba menjadi berdebar-debar. Mahisa Bungalan dan kedua kawannya menyaksikan perubahan itu dengan jantung yang bergejolak.

“Ternyata di Gagelang masih juga ada orang yang mempunyai penglihatan bening atas tingkah laku Akuwunya” desis Mahisa Bungalan.

Kedua kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti bergumam, “Senapati itu telah memenuhi janjinya”

Dalam pada itu, seperti yang telah dijanjikan, maka para pengawal dari Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu pun telah mengenakan ciri-ciri yang sudah disepakati. Namun diantara mereka yang tidak memiliki pertanda yang telah ditetapkan, telah mempergunakan janur kuning. Ternyata mereka telah membawa janur kuning yang tersembunyi. Baru setelah isyarat itu diberikan, mereka telah mengenakan pertanda itu di tempat yang jelas pada tubuh mereka. Ada yang dipergunakan sebagai kalung di leher. Tetapi ada juga yang dikenakan dilengan atau dililitkan pada dahi mereka, atau pada kedua pergelangan tangan mereka.

Dalam pada itu, Akuwu yang sangat terkejut telah tertegun di tempatnya, sementara pasukannya yang bergerak langsung ke padukuhan yang berada dihadapan telah terhenti pula.

“Lihat, apa yang telah terjadi” perintah Akuwu. Pangeran yang dalam wujudnya sebagai pengawal itu menggeram, la mengulangi perintah Akuwu itu kepada pengawal pengapit yang lain, “Cepat. Beri aku laporan segera”

Pengawal itu pun kemudian bergeser dari tempatnya, ia pun segera menyusup diantara pasukan Gagelang dengan membawa dua orang pengawal yang lain. Ketika ia berada di batas pasukan yang menyibak itu, maka iapun bertanya kepada seorang pemimpin kelompok yang sedang kebingungan, “Apa yang sudah terjadi?”

“Aku kurang mengerti. Tetapi Senapati itu telah membawa pasukannya memisahkan diri. Juga ada beberapa kelompok pasukan di kedua sayap itu yang memisahkan diri pula”

Pengawal itu menggeram. Kemudian iapun berdiri diantara para pengawal yang termangu-mangu itu sambil menghadap ke arah pasukan yang telah memisahkan diri itu. Dengan nada tinggi ia berteriak nyaring, “He, apakah maksud kalian dengan sikap yang kalian ambil tanpa ada perintah itu?”

Senapati yang memimpin pasukan yang memisahkan diri itu pun kemudian berdiri di depan pasukannya sambil menjawab, “kami mempunyai sikap sendiri”

“Ya. Katakan, sikap yang manakah yang telah kalian ambil itu?” bertanya Pengawal Pengapit itu.

Senapati itu termenung sejenak Ketika ia menebarkan pandangannya, maka dilihatnya seakan-akan pertempuran di depan padukuhan-padukuhan itu pun telah terhenti.

Orang-orang Talang Amba tidak lagi meluncurkan anak panah ke arah orang-orang Gagelang yang tertegun dan bahkan justru berpaling. Namun peristiwa yang mengejutkan itu telah merampas semua perhatian kedua belah pihak.

Namun sejenak kemudian, maka iapun berkata, “Jelaskan sikapku kepada Akuwu. Aku tidak suka kepada langkah-langkah yang diambilnya”

Tetapi kau adalah prajurit. Kau harus tunduk kepada semua perintah yang diberikan kepadamu” berkata pengawal itu.

“Aku memang seorang prajurit. Tetapi Akuwu tidak berhak memerintahkan aku untuk memberontak terhadap Singasari” jawab Senapati itu, “aku tahu. bahwa langkah Akuwu sekarang ini adalah ungkapan dari sikap perlawanannya terhadap Singasari meskipun seolah-olah ia masih tetap merupakan seorang Akuwu yang setia. Tetapi setiap orang di Gagelang kini mengetahui, siapakah sebenarnya Akuwu yang selama ini mereka sembah. Langkah-langkah yang diambil di Talang Amba telah menunjukkan, siapa sebenarnya Akuwu di Gagelang dan bagaimana sikapnya terhadap Singasari dan terhadap Kediri.

“Omong kosong” teriak pengawal itu kau jangan memutar balikkan kenyataan. Kalau yang sekarang memberontak melawan kekuasaan yang sah berdasarkan atas limpahan kekuasaan Sri Maharaja di Singasari. Karena itu, sebelum semuanya terlanjur, menyerahlah”

“Aku sudah mengambil keputusan. Aku takut melawan kekuasaan Singasari. Karena itu lebih baik aku melawan kekuasaan Gagelang saja” jawab Senapati itu

“Jumlah pasukan yang dapat kau racuni tidak seimbang dengan mereka yang masih tetap setia kepada Akuwu. Coba katakan, apa yang dapat kau lakukan?” bertanya pengawal itu.

“Apapun yang terjadi, kami sudah menentukan sikap. Kami tidak akan memberontak melawan Singasari Karena kami adalah prajurit, maka kemungkinan yang paling pahit pun telah kami perhitungkan. Dan kami adalah pasukan yang setia sampai di ambang maut sekalipun” jawab Senapati itu.

“Omong kosong” geram Pengawal yang marah itu, “Kau telah merusak segala rencana. Tetapi jika kau tetap pada pendirianmu, maka hal itu tidak akan terlalu banyak mengganggu. Jumlah kalian terlalu sedikit. Karena itu. maka orang-orang Talang Amba justru akan mengalami nasib yang lebih buruk lagi, karena dengan demikian maka penumpasan terhadap mereka pun akan dipercepat, karena pasukan Gagelang masih harus melawan orang-orangnya sendiri yang berkhianat”

“Terserah apa yang akan kalian lakukan” jawab Senapati itu, “tetapi kami sudah siap. Mati adalah akibat wajar dan seorang prajurit yang memeluk keyakinan kebenaran. Karena itu, silahkan, mengambil satu langkah menghadapi sikap kami. Sementara itu jumlah kami yang sedikit, akan bergabung dengan orang-orang Talang Amba”

Pengawal itu menggeram. Kemarahan memancar di wajahnya. Senapati itu benar-benar telah mengganggu semua rencana yang sudah disusun sebaik-baiknya. Termasuk usaha mereka untuk melenyapkan semua bekas tindakan Akuwu yang bertentangan dengan keinginan Singasari termasuk melenyapkan tiga orang Senapati Singasari yang ada di Talang Amba.

Karena itu maka tidak ada jalan lain kecuali menghancurkan orang-orang Talang Amba sekaligus para pengawal yang telah melawan kehendak Akuwu Di Gagelang itu. Mereka tidak boleh menjadi sumber keterangan yang akan dapat membuka rahasia Akuwu di Gagelang itu kepada pimpinan di Singasari sampai saatnya beberapa Pangeran di Kediri menganggap saatnya telah tiba.

Karena itu, maka sejenak kemudian iapun berteriak, “Baiklah Senapati yang dungu. Kalian memang harus dibinasakan sempai orang yang terakhir”

Dengan jantung yang berdebaran. kemarahan yang menghentak di dadanya, maka pengawal itu pun segera kembali kepada Akuwu di Gagelang yang menunggunya dengan hampir tidak sabar.

Demikian Akuwu mendengar laporan, maka dengan gigi yang gemeretak Akuwu memerintahkan agar pasukannya segera bergerak menghancurkan orang-orang Talang Amba dan pasukan Gagelang yang telah melawan.

“Jumlah mereka tidak terlalu banyak” berkata pengawal yang telah melihat pasukan yang memisahkan diri itu.

“Cepat, hancurkan saja mereka” perintah Akuwu, “kita tidak boleh terlalu baik hati kepada orang-orang yang telah memberontak. Orang-orang yang telah menodai perjuangan Pakuwon Gagelang untuk mencapai satu cita-cita yang sejalan dengan perintah dari Singasari.

Demikianlah maka perintah itu pun segera mengumandangkan. Pasukan Gagelang pun segera bersiap menghadapi dua jenis lawan. Orang-orang Gagelang yang tidak memiliki kemampuan bertempur sama sekali dan sekelompok pasukan Gagelang sendiri.

Dalam pada itu, beberapa orang Senapati yang menyatakan diri melawan niat Akuwu yang bertentangan dengan tugas-tugasnya yang sebenarnya itu menyadari, bahwa jumlah mereka dibanding dengan pasukan Gagelang seluruhnya memang terlalu kecil. Tetapi mereka berharap bahwa orang-orang Talang Amba yang jumlahnya cukup banyak, akan dapat menarik perhatian sebagian pasukan Gagelang. sementara itu kekuatan para Senapati yang tidak terlalu banyak itu mendapat kesempatan untuk merubah keseimbangan.

Namun para Senapati itu masih juga memikirkan nasib orang-orang Gagelang. Jika para pengawal itu harus menebus langkah mereka dengan kematian. bagi mereka tidak lagi menjadi persoalan. Tetapi jika orang-orang Talang Amba itu benar-benar akan dibinasakan, maka nasib mereka memang kurang baik.

Dalam pada itu, maka pasukan Gagelang yang setia kepada Akuwu pun segan mulai bergerak. Mereka masih tetap menuju ketiga sasaran. Namun sebagian dari mereka harus berkisar untuk menghadapi pasukan Gagelang yang telah memisahkan diri. Lawan mereka bukan sekedar anak-anak Talang Amba yang tidak tahu apa-apa. Tetapi lawan mereka adalah para pengawal yang memiliki kemampuan seperti pasukan Gagelang yang lain.

Sementara itu, orang-orang Talang Amba yang menyadari, bahwa pasukan Gagelang telah kembali bergerak ke arah mereka, maka mereka pun telah mempersiapkan anak panah dan busur mereka kembali. Mereka harus menghambat gerak pasukan Gagelang dan bahkan mengurangi jumlah mereka.

Namun para pengawal Gagelang yang sudah terlatih dan berpengalaman itu pun dengan cerdik telah melindungi diri mereka, meskipun ada juga anak panah orang Talang Amba yang menyayat kulit satu dua orang pengawal dari Gagelang.

Pertempuran justru lebih dahulu telah terjadi antara pasukan Gagelang yang saling memisahkan diri itu. Pertempuran yang berkobar dengan dahsyatnya, karena keduanya memiliki kemampuan yang seimbang. Agaknya pasukan Gagelang yang setia kepada Akuwu tidak ingin bertempur terlalu lama. Ternyata mereka telah menyediakan kekuatan yang hampir berlipat untuk menghadapi kawan-kawan mereka yang mereka anggap memberontak, sementara untuk menghadapi orang-orang Talang Amba. pasukan Gagelang sama sekali tidak mencemaskannya.

Namun dalam pada itu, hujan anak panah pun masih belum juga berkurang. Dengan perisai dan senjata yang ada pada pasukan Gagelang mereka merayap maju mendekati tiga padukuhan yang dipergunakan oleh orang-orang Talang Amba untuk membangunkan pertahanan.

Tetapi agaknya sesuatu telah terjadi di padukuhan yang berada di hadapan pasukan induk pengawal dari Gagelang diluar pangetahuan orang-orang Gagelang. Ketika Mahisa Bungalan sedang mengamati gerak orang-orang Gagelang dengan tegang, maka seseorang telah datang kepadanya.

“Ki Sanak, ada orang yang mencari Ki Sanak Mahisa Bungalan” berkata orang itu.

“Siapa?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Kami tidak tahu. Tetapi orang itu telah dibawa kemari karena kawan-kawan yang ada di ujung lorong menjadi curiga” jawab orang itu.

Mahisa Bungalan pun kemudian menyerahkan pengamatan orang-orang Gagelang kepada kedua kawannya, sementara ia harus menemui seseorang yang sedang mencarinya.

Dengan hati yang berdebar-debar Mahisa Bungalan dengan tergesa-gesa telah pergi ke sebuah rumah kecil di pinggir jalan. Agaknya orang yang dicurigai itu telah dibawa ke rumah itu.

“Apakah orang itu ada disini?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. Orang itu ada di dalam rumah itu” jawab orang yang memanggil Mahisa Bungalan.

Dengan langkah-langkah panjang Mahisa Bungalan memasuki rumah itu. Ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan orang-orang Talang Amba yang sudah mulai melontarkan anak panah mereka kembali, ketika pasukan Gagelang sudah mulai bergerak. Jika ia terlalu lama, maka ia tidak akan dapat menyaksikan benturan yang terjadi. Mungkin orang-orang Talang Amba akan segera menjadi kacau dan kehilangan kesempatan untuk melawan jika tidak ada orang yang akan dapat mendorong tekad mereka, meskipun sejak sebelumnya niat mereka sudah bulat. Tetapi suasana medan dibenturan pertama, memang akan sangat berpengaruh.

Untunglah bahwa beberapa kelompok pasukan Gagelang sendiri menyadari, bahwa yang dilakukan oleh Akuwu mereka adalah langkah yang sesat, sehingga mereka telah mengambil satu sikap yang benar. Dengan demikian, maka kelompok-kelompok itu akan sangat berarti bagi orang-orang Talang Amba. Meskipun demikian, Mahisa Bungalan masih tetap mencemaskan nasib orang-orang Talang Amba itu.

“Waktuku hanya sedikit sekali” desis Mahisa Bungalan.

Orang yang mengantarkannya tidak menjawab. Sementara itu beberapa orang yang mengawal orang yang tidak dikenal itu telah menyibak ketika mereka melihat Mahisa Bungalan memasuki pintu.

Namun demikian Mahisa Bungalan masuk ke ruang dalam, maka tiba-tiba saja jantungnya telah bergetar. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Kau. Apa kerjamu disini?”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ada masanya untuk berceritera panjang. Tetapi bukankah sekarang waktumu sudah hampir habis”

“Ya” jawab Mahisa Bungalan.

“Baiklah. Tetapi secara singkat aku dapat mengatakan, bahwa sejak kepergianmu dari Singasari, maka perintah telah jatuh atas beberapa pertimbangan untuk mengirimkan aku kemari, tanpa menunggu lagi. Beberapa keterangan telah didapat sejak sebelumnya. sehingga kedatangan kedua adikmu itu menjadi semakin meyakinkan. Karena itu aku memang sudah berada di sekitar tempat ini. berkata orang itu.

“Bagus” jawab Mahisa Bungalan, “cepat, lakukan yang paling baik menurut pertimbanganmu”

“Aku akan membawanya kemari. Mereka tidak dalam ujud yang resmi sebagaimana kami perhitungkan sebelumnya” jawab orang itu.

“Cepat. Sebentar lagi benturan itu akan terjadi. Tetapi benturan itu tidak hanya terjadi di satu tempat. Tetapi di tiga tempat. Pergilah ketiga tempat. Dua orang kawan kita akan mengantarkan kelompok-kelompok itu”

Mahisa Bungalan tidak menunggu jawaban. Iapun segera berlari keluar rumah itu menuju ke garis pertahanan. Sementara itu pasukan Gagelang sudah menjadi semakin dekat. Tetapi hujan anak panah memang dapat menghambat laju mereka.

Ketika ia sampai kepada kedua kawannya, mereka sudah menjadi tegang karena sebentar lagi, benturan itu tentu sudah akan terjadi.

Tetapi sementara itu, pertempuran antara pasukan Gagelang yang berdiri berhadapan itu menjadi semakin sengit. Agaknya para Senapati yang menentang kebijaksanaan Akuwu Gagelang telah bertempur dengan tekad yang menyala, sehingga mereka justru mulai mendesak lawan mereka yang jumlahnya seimbang.

Karena itu, maka para Senapati dari pasukan Gagelang yang berpihak kepada Akuwu telah mengambil keputusan untuk menambah jumlah pasukan yang harus menghadapi kawan mereka sendiri.

“Jangan tanggung-tanggung” perintah Senapati yang beradu pada jenjang pertama, “hancurkan saja para pengkhianat itu dengan kekuatan yang cukup meyakinkan. Biarkan saja orang-orang Talang Amba. Mereka akan mati ketakutan jika mereka melihat para pengkhianat itu kita bantai di medan ini”

Perintah itu tidak perlu diulang. Beberapa orang Senapati segera menempatkan diri. Akhirnya, sekelompok pasukan telah memutar arah dan bergabung dengan mereka yang bertempur melawan para pengawal Gagelang yang memisahkan diri.

Tetapi ternyata tidak terlalu mudah untuk membinasakan mereka. Para pengawal yang telah membulatkan tekad untuk menentang Akuwu itu, sama sekali tidak mengenal gentar. Seakan-akan mereka benar-benar telah pasrah, nasib apa yang akan menimpa diri mereka. Bahkan sampai kemungkinan yang paling pahit sekalipun.

Sementara itu, Mahisa Bungalan pun segera memberitahukan kepada kedua kawannya apa yang terjadi. Karena itulah, maka mereka bertiga pun segera berlari-lari kecil menuju ke rumah kecil itu.

Segalanya segera diatur bersama orang-orang Talang Amba sendiri yang ada di rumah itu. yang semula mengawasi orang yang mencari Mahisa Bungalan Dengan tergesa-gesa mereka pun telah meninggalkan rumah itu pula, karena waktu mereka memang tinggal beberapa saat saja.

Namun ternyata mereka sempat melakukan tugas itu sebaik-baiknya Agaknya persiapan mereka dapat mendahului sergapan pasukan Gagelang yang menjadi semakin dekat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang kurang mengetahui persoalannya menjadi bertanya-tanya di dalam hati. Namun ia percaya bahwa kakaknya tentu akan mengambil satu sikap yang paling baik bagi Talang Amba pada saat yang gawat itu.

Karena itu. maka yang dilakukannya bersama orang-orang Talang Amba adalah menghambat pasukan Gagelang yang maju mendekati mereka. Namun dengan pengalaman yang matang, akhirnya pasukan Gagelang itu pun menjadi semakin dekat. Bahkan kemudian mereka berhasil menggapai orang-orang Talang Amba dengan lontaran-lontaran pisau belati untuk mengurangi tekanan anak panah mereka.

Lemparan-lemparan pisau belati itu benar-benar berpengaruh. Ketika salah seorang anak muda Talang Amba tersentuh pisau belati dan mengoyak pundaknya, maka kawan-kawannya menjadi sangat berhati-hati. Anak-anak Talang Amba mulai mencari perlindungan agar mereka tidak tergores oleh pisau yang dilontarkan dengan kerasnya oleh tangan-tangan yang terlatih.

Ternyata bukan hanya seorang dua orang Talang Amba sajalah yang telah terkena pisau belati. Semakin lama, pisau-pisau itu menuntut korban semakin banyak. Karena itu, maka lontaran-lontaran anak panah pun menjadi semakin jarang, karena orang-orang Talang Amba tidak lagi dapat melontarkannya dengan leluasa.

Pada saat yang demikian maka pasukan Gagelang pun telah maju semakin cepat. Beberapa langkah lagi, mereka akan mencapai dinding padukuhan dihadapan mereka. Tiga padukuhan yang menjadi sasaran utama orang-orang Gagelang. Dengan wajah yang menyala oleh kemarahan yang bergejolak di dalam hati, maka para pengawal dari Gagelang itu sudah berniat untuk membinasakan semua orang Talang Amba yang telah melawan. Apalagi beberapa orang diantara orang-orang Gagelang itu sudah terluka.

Dalam keadaan yang demikian, bukan saja orang-orang Talang Amba menjadi tegang. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi tegang pula. Dengan pedang di tangan kedua anak muda itu sudah siap menyongsong para pengawal dari Gagelang yang sudah siap meloncati dinding.

Namun dalam pada itu, ketika jantung orang-orang Talang Amba serasa akan meledak oleh ketegangan, maka tiba-tiba saja diantara mereka telah menyusup beberapa orang. Beberapa orang yang tidak mereka kenal. Mereka menyusup diantara orang-orang Talang Amba sambil berdesis, “Jangan cemas. Aku ada diantara kalian”

Orang-orang Talang Amba itu menjadi bingung. Menilik pakaiannya orang-orang itu tidak ubahnya seperti petani biasa. Namun nampaknya wajah-wajah mereka memancarkan kepercayaan kepada diri sendiri yang jauh lebih mantap dari para petani di Talang Amba sendiri. Bahkan cara mereka memegang senjata pun seakan-akan sama sekali tidak ada kecanggungan lagi.

Orang-orang yang belum dikenal itu telah menyusup diantara orang-orang Talang Amba dari ujung sampai ke ujung. Mereka menebar sepanjang pertahanan orang-orang Talang Amba sendiri di tiga padukuhan. Sementara itu Mahisa Bungalan pun telah berada pula di tempatnya, sementara kedua kawannya ternyata telah terbagi ke dalam dua padukuhan di sebelah menyebelah.

“Siapa mereka?”bertanya Mahisa Murti

“Tidak ada kesempatan untuk berceritera, “Lihat, orang-orang Gagelang telah mulai melompat. Yang di regol berusaha memecahkan regol” tiba-tiba terdengar suara Mahisa Bungalan lantang, “letakkan busur kalian. Hadapi orang-orang Gagelang dengan senjata dalam genggaman”

Perintah itu pun telah mengumandang. Beberapa orang pimpinan kelompok orang-orang Gagelang telah meneriakkan aba-aba itu pula, tepat pada saat orang-orang Gagelang berloncataan.

Tetapi adalah sangat mengejutkan. Yang menyambut mereka pertama-tama bukannya orang Talang Amba. Tetapi orang-orang yang baru datang dan menyusup dalam garis pertahanan mereka. Dengan tangkas orang-orang yang juga dalam pakaian seperti kebanyakan orang-orang Talang Amba itu menahan gerak orang-orang Gagelang.

Orang-orang Gagelang sama sekali tidak menduga, bahwa mereka akan dihadapi oleh lawan diluar dugaan mereka Ketika mereka dengan dada tengah mengayunkan pedang tanpa berprasangka apapun, ternyata pedang mereka telah membentur senjata lawan yang menggetarkan. Ada diantara orang-orang Gagelang yang dalam benturan pertama telah kehilangan senjata mereka. Dalam benturan kekuatan yang dahsyat, maka orang-orang Gagelang yang menganggap bahwa orang-orang Talang Amba itu bukan lawan yang seimbang, benar-benar telah terkejut.

Untunglah bahwa kawan-kawan mereka yang berhasil mempertahankan senjata mereka sempat memperbaiki keadaan. Mereka segera menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang berbahaya.

Dengan demikian, maka orang-orang Gagelang itu mulai mengamati lawan mereka. Namun nampak dalam ujud lahiriah, lawan-lawan mereka adalah memang petani-petani dari Talang Amba.

Dalam keheranan, maka orang-orang Gagelang tidak mau lagi membuat kesalahan. Mereka segera bertempur dengan sungguh-sungguh, Mereka tidak dapat lagi menganggap bahwa orang-orang Talang Amba sebagai anak bawang dalam permainan kejar-kejaran di terangnya bulan purnama.

Orang-orang Talang Amba sendiri pun untuk sesaat menjadi bingung. Tetapi mereka harus segera terbangun pula, karena orang-orang Gagelang pun segera mengayunkan senjata mereka dengan sepenuh kekuatan dan kemampuan.

Namun dalam pada itu, pertempuran yang seru pun segera berkobar Orang-orang Talang Amba telah bertahan dengan sebaik-baiknya. Sikap orang Gagelang merasa, bahwa mereka telah terjebak ke dalam satu anggapan yang salah, bahwa lawan mereka sama sekali tidak berdaya menghadapi mereka. Namun ternyata bahwa yang mereka jumpai adalah orang-orang yang dengan tangkas dan trampil mempermainkan senjata. Bahkan berbagai macam senjata.

Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Orang-orang Talang Amba sendiri, yang melihat bahwa diantara mereka terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang seimbang dengan para pengawal dari Gagelang, menjadi semakin mantap. Apalagi jumlah mereka pun menjadi semakin banyak karena kedatangan orang-orang yang kurang mereka kenal, namun yang tiba-tiba saja telah bertempur bersama mereka.

Sementara itu, di seberang, pasukan Gagelang yang setia kepada Akuwu pun masih bertempur dengan dahsyatnya pula.

Ternyata pasukan yang menentang Akuwu benar-benar tidak mudah mereka tundukkan. Mereka bertempur dengan keyakinan yang teguh, bahwa Akuwu lelah melakukan satu kesalahan. Menentang tugas yang seharusnya dilakukan atas nama Singasari.

Dengan demikian maka pertempuran antara dua belahan pasukan Gagelang itu menjadi semakin seru. Keduanya memiliki dasar kemampuan yang sama dan persenjataan yang hampir serupa pula Namun jumlah pasukan yang setia kepada Akuwu ternyata menjadi lebih banyak, sehingga karena itu, maka pasukan yang melawannya menjadi agak mulai terdesak karenanya.

Tetapi di bagian lain, yang tidak terduga-duga itu sudah terjadi. Orang-orang Talang Amba dan orang-orang yang tidak mereka kenal tetapi langsung berada di dalam pasukan mereka telah mampu bertahan atas serangan orang-orang Gagelang yang semula menganggap tugas mereka itu bukan tugas yang berai. Bahkan di padukuhan yang merupakan pertahanan induk orang-orang Talang Amba, telah terjadi satu hal yang sangat menyakitkan hati orang-orang Gagelang.

Akuwu yang berada di ujung pasukannya telah bertemu dengan Mahisa Bungalan, yang berada di belakang regol padukuhan. Ketika regol yang tertutup itu dipecahkan oleh pasukan Gagelang, maka Mahisa Bungalan sudah menduga bahwa Akuwu akan memasuki padukuhan itu lewat regol yang sudah pecah itu. Karena itu, ketika orang-orang yang menyusup diantara orang-orang Gagelang itu menahan sergapan orang-orang Gagelang, maka Mahisa Bungalan telah menunggu Akuwu di belakang regol yang pecah.

Demikian Akuwu dan pengapitnya memasuki regol padukuhan. maka Mahisa Bungalan dalam pakaian kebesaran seorang Senopati berdiri tegak menghadapinya, sementara pertempuran pun berkobar semakin seru.

“Kita bertemu sekarang di medan Akuwu” berkata Mahisa Bungalan.

Akuwu menggeram. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah bersiap menghadapi kedua pengawal pengapit Akuwu yang seorang diantara mereka adalah seorang Pangeran dari Kediri yang menyelubungi dirinya dengan pakaian seorang pengawal biasa dari Gagelang.

“Bagus” berkata Akuwu, “kau memang harus dibunuh”

“Tetapi aku masih berusaha untuk memperingatkanmu Akuwu. Atas nama perintah yang aku bawa dari kekuasaan Singasari, maka menyerahlah. Aku sudah tahu, apa yang sebenarnya terjadi di Talang Amba sekarang ini. Kau ingin memaksakan satu keadaan yang akan dapat membantumu, membuat Talang Amba sebagai sumber hasil bumi serta daerah-daerah subur di sekitarnya menjadi tandus, kering dan gersang. Daerah yang akan mengalami malapetaka di setiap tahun karena banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau” berkata Mahisa Bungalan.

“Omong kosong” geram Akuwu, “kau jangan mengada-ada. Kaulah yang harus ditangkap dan bahkan dihukum gantung, karena kaulah yang agaknya telah menghasut orang-orang Talang Amba untuk memberontak.

“Jangan mengada-ada Akuwu” jawab Mahisa Bungalan, “memang disini pernah terjadi perebutan diantara keluarga Ki Buyut yang telah meninggal Namun hal itu telah dapat mereka atasi sendiri. Ki Sendawa telah menemukan kepribadiannya yang telah hilang karena diracuni oleh Ki Sarpa Kuning. Tetapi ketika itu Ki Sanggarana justru telah kau tangkap. Kau berharap bahwa Ki Sendawa akan dapat kau bujuk sebagaimana Sarpa Kuning membujuknya untuk menjadi Buyut di Talang Amba dengan imbalan yang sama sebagaimana dituntut oleh Ki Sarpa Kuning”

“Tutup mulutmu” bentak Akuwu, “di Gagelang kau jangan mengigau seperti orang kesurupan”

“Tidak Akuwu. Dengar, sekarang Ki Sanggarana dan Ki Waruju itu pun sudah berada di Talang Amba ini pula. Mereka berada di padukuhan sebelah menyebelah. Mereka akan dapat menjadi saksi yang baik atas apa yang telah kau lakukan” berkata Mahisa Bungalan.

Tetapi Akuwu justru tertawa. Katanya, “Kau jangan mengigau. Sanggarana dan orang yang bernama Waruju itu berada di bilik tahanan di Gagelang”

“Kau salah Akuwu. Keduanya tidak menemui kesulitan untuk keluar dari bilik itu. Ki Waruju telah pernah datang ke, “Kabuyutan ini sebelumnya meskipun ia seorang tahanan. Baginya dinding-dinding bilik tahanan itu tidak berarti apa-apa.

“Omong kosong” bentak Akuwu.

Mahisa Bungalan lah yang kemudian tertawa. Katanya, “Kau agaknya telah salah menilai orang-orang Talang Amba Akuwu. Lihat, selain Ki Waruju dan Ki Sanggarana, orang-orang Talang Amba pun sama sekali tidak gentar melihat pasukanmu yang datang dengan segelar sepapan. Apa artinya pasukan pengawal Gagelang menghadapi orang-orang Talang Amba yang benar-benar sudah siap seperti sekarang ini?. Apa kau kira orang-orang Talang Amba tidak mampu bermain-main dengan senjata. Jika mereka semula melontarkan anak panah dengan sikap yang nampaknya gelisah, sebenarnyalah orang-orang Talang Amba memang ingin bermain-main dengan para pengawal dari Gagelang”

Wajah Akuwu menjadi tegang. Namun diluar sadarnya, iapun telah memperhatikan pertempuran yang terjadi di sekitarnya. Ternyata Akuwu memang harus melihat kenyataan, bahwa orang-orang yang disangkanya orang-orang Talang Amba karena mereka pun berpakaian seperti orang-orang Talang Amba, telah memberikan perlawanan yang seimbang. Bahkan karena jumlah mereka yang cukup banyak, agaknya orang-orang Talang Amba itu akan mampu bertahan dan bahkan mendesak lawannya.

Dalam pada itu, terdengar Mahisa Bungalan berkata, “Nah, bukankah kau menghadapi satu kenyataan yang lain sekali dengan gambaranmu sebelumnya?”

Demikianlah, ternyata orang-orang Gagelang telah menjumpai satu keadaan yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya. Di satu pihak, sebagian dari pasukan Gagelang telah terpecah. Beberapa orang Senapati telah berkhianat, karena mereka tidak mau mendukung niat Akuwu yang justru bertentangan dengan tugas yang seharusnya dipikulnya. Sementara dipihak lain, pasukan Gagelang telah membentur kekuatan Talang Amba yang jauh lebih besar dari dugaan mereka.

Orang-orang Talang Amba itu bukan saja berhasil menahan serangan orang-orang Gagelang, tetapi mereka justru berhasil mendesaknya kembali keluar dari padukuhan-padukuhan yang mereka jadikan sasaran.

Akuwu Gagelang benar-benar menjadi marah melihat keadaan itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Lawannya, Senapati dari Singasari yang bernama Mahisa Bungalan itu ternyata memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka Akuwu harus mengerahkan segenap ilmunya untuk menghadapi Senapati muda itu, sementara pasukannya telah mengalami satu kesulitan yang sulit untuk diatasi.

“Gila” geram Akuwu, “ternyata para petugas sandi Gagelang tidak lebih dari monyet-monyet dungu yang tidak mampu menilai keadaan”

Sebenarnyalah pasukan Gagelang memang mengalami kesulitan.

Namun dalam pada itu, pasukan Gagelang yang bertugas menghadapi kawan-kawan mereka yang dianggap berkhianat itu mampu mendesak mereka. Betapapun pasukan Gagelang yang melawan kehendak Akuwu itu bertahan, namun jumlah mereka memang lebih kecil dari pasukan yang ditugaskan untuk menumpas mereka.

Dalam keadaan yang demikian, Senapati yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu pun sempat mencemaskan nasib orang-orang Talang Amba. Bahkan Senapati itu menjadi agak menyesal. Karena sikapnya, maka Talang Amba telah berani mengambil langkah kekerasan. Ternyata kekuatan gabungan antara pasukannya dan orang-orang Talang Amba akan sulit untuk mengimbangi kekuatan Gagelang.

“Jika pasukanku berhasil disapu bersih oleh pasukan Gagelang yang dungu itu, maka Talang Amba pun akan mengalami nasib yang sama” berkata Senapati itu di dalam hatinya.

Namun dengan demikian, pasukannya masih tetap bertahan. Meskipun mereka terus terdesak, namun Senapati itu masih menunggu berita tentang Talang Amba.

“Jika perlu, maka pasukan ini akan berbuat jauh lebih banyak meskipun akibatnya akan sangat parah” berkata Senapati itu di dalam hatinya.

Namun nampaknya para pengawal yang memisahkan diri itu sama sekali tidak menjadi terlalu cemas akan nasib mereka sendiri, tetapi mereka lebih banyak mencemaskan nasib orang-orang Talang Amba. Jika Akuwu benar-benar kehilangan pengamatan diri, maka orang-orang Talang Amba itu tentu akan dibantainya tanpa ampun.

Namun para pengawal dari Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu tidak mengetahui, bahwa telah hadir sekelompok orang yang tidak diketahui dan langsung berbaur dengan orang-orang Talang Amba itu.

Karena itu, ketika beberapa orang diantara para pangawal Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu melihat pasukan Gagelang yang memasuki padukuhan masih saja bertempur pada batas padukuhan, dan bahkan sebagian dari mereka masih saja berada diluar dinding, maka mereka menjadi heran.

“Apa yang telah terjadi di Talang Amba?” bertanya para pengawal itu.

Sebenarnyalah, orang-orang Talang Amba bersama dengan orang-orang yang kurang mereka kenal itu telah berhasil mendesak pasukan Gagelang. Tetapi agaknya orang-orang Gagelang itu memang memiliki tempat yang lebih lapang untuk menghadapi lawan yang mengejutkan. Karena itu, maka sebagian dari mereka memang tidak ingin memasuki padukuhan-padukuhan yang mereka duga semula tidak menyimpan kemampuan yang mengejutkan.

Karena itu, maka orang-orang Gagelang itu justru telah keluar lagi dari padukuhan-padukuhan. Mereka ingin melihat lawan mereka lebih jelas dan mereka pun ingin bertempur di tempat yang terbuka.

Karena itu, maka pertempuran pun telah bergeser pula. Orang-orang Talang Amba telah mendesak orang-orang Gagelang keluar dari padukuhan-padukuhan. Bahkan Akuwu pun telah bertempur sambil bergeser surut.

“Kita bertempur di tempat yang lapang” berkata Akuwu kepada Mahisa Bungalan.

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi iapun mendesak Akuwu keluar regol dan kemudian bertempur di jalan yang mulai memasuki daerah persawahan, sementara para pengawal Gagelang dan orang-orang Talang Amba telah bertempur di sawah-sawah yang nampaknya hijau subur. Tetapi oleh kaki para pengawal yang sedang bertempur itu, maka tanaman pun telah menjadi berserakan.

Keadaan itu benar-benar berpengaruh atas medan pertempuran antara kedua kelompok pengawal Gagelang yang berbeda pendiriannya itu. Ketika mereka melihat pasukan Gagelang telah terdesak keluar, maka telah tumbuh harapan di hati para pengawal yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba, bahwa Talang Amba akan dapat diselamatkan dari ketamakan Akuwu di Gagelang.

Namun demikian, mereka sendiri telah terdesak semakin jauh. Beberapa orang di kedua belah pihak telah jatuh menjadi korban.

Wajah Akuwu menjadi tegang. Tetapi ia memang menghadapi kenyataan itu. Orang-orang yang disangkanya orang-orang Talang Amba itu mampu mengimbangi kemampuan para pengawal dari Gagelang. Bahkan kemudian Akuwu itu melihat, bahwa orang-orangnya yang telah berloncatan masuk ke dalam dinding padukuhan telah tertahan dan bahkan perlahan-lahan mereka telah terdesak kembali oleh kekuatan yang tersembunyi di belakang dinding padukuhan itu.

Wajah Akuwu menjadi sangat tegang. Seakan-akan ia telah menghadapi satu mimpi yang sangat buruk tentang pasukannya. Orang-orang Talang Amba yang disangkanya tidak lebih dari petani-petani yang dungu tetapi sombong itu, ternyata memiliki kemampuan yang mengagumkan.

Para pengawal dari Gagelang sendiri pun menjadi heran. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun juga. Orang-orang Talang Amba itu menyerang mereka dengan garangnya. Senjata mereka teracu dan terayun-ayun menggetarkan jantung para pengawal Gagelang yang mendapat tempaan dan mempunyai pengalaman yang sangat luas.

Namun bagaimanapun juga, Akuwu di Gagelang itu telah mengambil satu keputusan untuk menghancurkan orang-orang Talang Amba. Itulah sebabnya, maka Akuwu itu pun justru telah menggeram penuh kemarahan. Dengan serta merta, maka Akuwu itu pun telah menyerang Mahisa Bungalan sambil menggeram, “Kubunuh kau lebih dahulu. Kemudian aku pun akan ikut membantai orang-orang Talang Amba yang dungu ini”

Tetapi Mahisa Bungalan telah bersiap. Karena itu, maka dengan tangkasnya ia bergeser menghindari serangan Akuwu itu.

Namun kemarahan Akuwu sudah tidak tertahankan lagi. la tidak membiarkan Mahisa Bungalan terlepas. Dengan kecepatan yang tinggi, Akuwu telah meloncat memburunya

Namun Mahisa Bungalan benar-benar telah siap. Dengan loncatan panjang ia menghindari. Namun demikian kakinya menyentuh tanah, maka Mahisa Bungalan lah yang kemudian meloncat menyerang sambil menjulurkan pedangnya.

Akuwu lah yang kemudian terkejut. Ternyata orang yang mengenakan pakaian seorang Senapati Singasari itu memiliki kemampuan bergerak yang sangat tinggi pula.

Sementara Akuwu mulai terlibat ke dalam pertempuran, maka dua orang pengawal yang menyertainya telah bersiap pula. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiap menerima keduanya dalam pertempuran itu pula.

Mahisa Murti lah yang kebetulan mendapat lawan seorang pengawal yang sebenarnya adalah seorang Pangeran dari Kediri. Keduanya segera telah terlibat ke dalam satu pertempuran yang cepat dan keras. Namun Mahisa Murti yang memiliki pengalaman yang cukup luas itu pun menjadi gentar karenanya ketika ia dilibat dalam pertempuran yang cepat dan keras. Mahisa Pukat lah yang bertempur melawan pengapit Akuwu yang lain. Pengawal ini tidak terlalu banyak memiliki kelebihan. Karena itu, sejak benturan yang pertama, terasa oleh Mahisa Pukat, bahwa ia tidak akan terlalu banyak mengalami kesulitan.

Dalam pada itu, di padukuhan-padukuhan yang lain pun telah terjadi peristiwa yang serupa. Ketika Senapati, kawan Mahisa Bungalan datang bersama orang-orang yang tidak dikenal oleh orang-orang Talang Amba. namun langsung menyusup diantara mereka, maka orang-orang Talang Amba itu tidak sempat bertanya terlalu banyak. Lawan mereka telah mulai meloncati dinding padukuhan seperti yang terjadi di pasukan induk orang-orang Talang Amba.

Namun demikian orang-orang itu meloncat masuk, maka mereka telah diterima dengan senjata telanjang oleh orang-orang yang datang dan langsung berada diantara orang-orang Talang Amba itu, sehingga pasukan Gagelang menjadi sangat terkejut karenanya.

Ketika Ki Waruju bertanya kepada orang yang mengenakan pakaian Senapati dan datang bersama Mahisa Bungalan di padukuhan Talang Amba itu, maka Senapati itu pun menjawab, “Ceritanya agak panjang Ki Waruju. Kita harus mengusir orang-orang Gagelang itu dahulu. Baru kita akan berbicara tentang diri kita”

Ki Waruju tidak bertanya lagi. Bersama seorang murid Ki Sarpa Kuning itu pun terjun ke arena pertempuran yang menjadi semakin seru. Orang-orang Gagelang yang tidak menduga akan mengalami benturan yang sangat keras itu, menjadi bukan saja heran, tetapi cemas.

Di padukuhan yang lain, Ki Sanggarana dan Ki Sendawa pun tidak sempat berbincang terlalu banyak. Namun mereka pun harus segera turun ke arena. Namun oleh orang-orang yang dibawa Senapati kawan Mahisa Bungalan, orang-orang Gagelang telah tertahan. Dan bahkan perlahan-lahan mulai terdesak keluar dari padukuhan itu.

Dalam pada itu, orang-orang Talang Amba sendiri, menjadi semakin berbesar hati. Mereka menjadi semakin berani. Diantara orang-orang yang berilmu perang, maka orang-orang Talang Amba itu pun merasa, seakan-akan mereka pun memiliki kemampuan seperti orang-orang yang datang membantu mereka itu.

Sebenarnyalah orang-orang Gagelang akhirnya tidak mampu lagi bertahan terhadap orang-orang Talang Amba yang bertempur diantara orang-orang yang tidak mereka kenal. Meskipun orang-orang Talang Amba sendiri tidak memiliki ilmu perang yang memadai, namun mereka dapat bertempur berpasangan atau bahkan bersama orang-orang yang memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi orang-orang Gagelang itu.

Namun setiap kali terdengar orang-orang Talang Amba dan orang-orang yang tidak dikenal yang berpihak kepada mereka bersorak, maka para pengawal dari Gagelang menggeretakkan giginya oleh kemarahan yang memuncak.

Dalam pada itu. para pengawal yang bertempur di padukuhan sebelah menyebelah dari pasukan induk yang bertempur dengan serunya, semakin lama telah semakin berhasil mendesak lawan mereka. Semakin lama justru menjadi semakin jauh dari padukuhan ke tengah-tengah persawahan yang luas.

Tetapi beberapa orang yang ada di padukuhan Talang Amba berhasil mendesak lawannya itu telah melihat, bahwa pasukan Gagelang yang berpihak kepada mereka justru telah terdesak. Bahkan keadaan mereka semakin lama menjadi semakin gawat, karena lawan mereka jumlahnya lebih banyak sementara kemampuan mereka seimbang.

Karena itu, maka dengan isyarat. Senapati, kawan Mahisa Bungalan telah memberikan perintah, agar sebagian kecil dari mereka yang datang menyusup diantara orang-orang Talang Amba itu dapat memisahkan diri, membantu orang-orang Gagelang yang mengalami kesulitan.

“Ingat, mereka memakai tanda-tanda di tubuh mereka. Janur kuning atau warna kuning lainnya” berkata Senapati itu.

Sejenak kemudian, maka dengan pemisahan yang rapi, dilandasi dengan pengalaman yang mapan, maka pasukan Talang Amba itu telah terbagi. Sebagian kecil dari mereka segera memisahkan diri dari medan, langsung berlari lari menuju ke medan pertempuran antara kedua belahan pasukan Gagelang yang sedang bertempur itu.

Sikap orang-orang Talang Amba benar-benar mengherankan bagi orang-orang Gagelang. Sikap itu bukan sikap orang-orang padukuhan yang tidak biasa berlatih olah peperangan. Tetapi sikap itu adalah sikap satu pasukan yang telah terlatih dengan matang.

Kehadiran orang-orang yang mengenakan pakaian petani biasa mendekati arena pertempuran antara kedua pasukan orang Gagelang itu benar-benar mendebarkan. Orang-orang yang bertempur terpisah itu tidak melihat bagaimana orang-orang yang disangka orang Talang Amba itu bertempur. Merekapun tidak melihat bagaimana mereka memisahkan diri dengan tertib dan bagaimana mereka mampu mengimbangi kemampuan orang-orang Gagelang.

Karena kehadiran mereka, justru membuat orang Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba menjadi berdebar-debar, sementara orang-orang Gagelang yang setia kepada Akuwu tidak terlalu banyak menaruh perhatian alas kedatangan mereka yang jumlahnya tidak terlalu banyak meskipun dari padukuhan yang sebelah lain juga terjadi hal yang serupa.

Tetapi adalah satu kenyataan bahwa orang-orang Talang Amba di padukuhan itu berhasil mengusir orang-orang Gagelang berkata orang-orang Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba.

Sementara itu, maka orang-orang yang disangka orang-orang Talang Amba itu sudah menjadi semakin dekat. Sementara pertempuran antara orang-orang Gagelang itu pun menjadi semakin sengit. Orang-orang yang setia kepada Akuwu telah mendesak lawannya semakin jauh dan korban pun menjadi semakin banyak berjatuhan. Namun orang-orang Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu sama sekali tidak berniat meninggalkan medan. Jika demikian, maka yang akan mengalami nasib yang sangat buruk adalah orang-orang Talang Amba sendiri.

Namun sejenak kemudian, orang-orang Gagelang dari kedua belah pihak yang bertempur itu terkejut bukan buatan. Ketika orang-orang yang disangka orang-orang Talang Amba itu mencapai medan, maka mereka langsung menunjukkan, bahwa kemampuan mereka tidak berada di bawah kemampuan pasukan pengawal Gagelang yang manapun juga.

Karena itu, maka kehadiran mereka, benar-benar telah merubah keseimbangan antara kedua pasukan Gagelang yang bertempur itu.

“Ternyata mereka adalah anak-anak iblis” geram orang-orang Gagelang.

Sebenarnyalah orang-orang yang mengenakan pakaian petani sebagaimana orang-orang Talang Amba itu telah menunjukkan kemampuan mereka yang menggetarkan. Orang-orang Gagelang yang harus menghadapi mereka, benar-benar tidak dapat mengerti, bagaimana mungkin orang-orang Talang Amba memiliki ilmu pedang yang cukup dan kuat. Dalam benturan-benturan yang terjadi maka ternyata bahwa orang-orang yang mengenakan pakaian petani itu mampu mengimbangi kemampuan orang-orang Gagelang.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...