*HIJAUNYA LEMVAH. JILID 020-03*
Suasana di sekitar arena itu-pun menjadi goyah. Para pengikut Pangeran Kuda Permati dari kedua belah pihak mulai bergerak saling mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang lebih luas dari sekedar perang tanding.
Namun pemimpin pasukan di padukuhan itu, ternyata masih belum sampai pada akhir perlawanannya. Tiba-tiba saja ia telah menarik pedangnya. Sambil bangkit dan berdiri tegak ia mengacungkan pedangnya sambil menggeram, “Kita akan bertempur sampai mati.”
Pemimpin pengawal puteri Purnadewi itu termangu-mangu. Namun lawannya sudah mengacungkan pedangnya.
Sudah tidak ada pilihan lagi baginya. Sejak semula ia memang sudah berkata, apakah perang tanding itu akan berlangsung sampai salah seorang diantara mereka mati atau tidak.
Karena itu, maka pemimpin pengawal puteri Purnadewi itu-pun telah menarik senjatanya pula. Juga pedang. Tetapi agak berbeda dengan pedang yang lain yang terbiasa dipergunakan. Pedang pemimpin pengawal itu adalah pedang yang lurus dan tajam dikedua sisinya.
Dengan demikian, maka kedua orang pemimpin itu telah berhadapan dengan senjata di tangan. Kemarahan yang membakar jantung mereka telah membuat sorot mata mereka menjadi berapi-api.
Sejenak kemudian, maka kedua orang itu telah mulai mengacukan senjata mereka. Beberapa langkah mereka bergeser. Namun yang kemudian dengan tiba-tiba pemimpin pasukan yang ada di padukuhan itu-pun telah meloncat menyerang dengan pedangnya langsung mengarah dada.
Lawannya-pun segera menangkis serangan itu dengan pedang lurusnya. Sambil memutar pedangnya, maka pemimpin pengawal puteri Purnadewi itu bergeser setengah langkah. Dengan cepat, maka ia-pun menarik pedangnya dan mengayunkan mendatar menebas leher.
Dengan tangkasnya lawannya menyilangkan pedangnya. Ketika benturan kemudian terjadi, maka bunga api-pun telah memercik ke udara. Namun dengan cepat pemimpin pengawal itu memutar pedangnya dan sekali lagi pedang itu mematuk dada.
Tetapi ternyata pemimpin pasukan yang ada di padukuhan itu-pun memiliki ilmu pedang yang memadai. Karena itu, maka perang tanding dengan pedang itu-pun berlangsung semakin lama semakin cepat. Keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan mereka bermain pedang.
Mereka yang berdiri diseputar arena itu-pun menjadi berdebar-debar. Masing-masing berharap bahwa pemimpinnyalah yang akan menang.
Dengan demikian, maka mereka akan membuktikan bahwa pasukannya adalah pasukan yang lebih baik dari pasukan yang lain.
Namun kemudian, sebagaimana yang pernah terjadi, pemimpin pasukan pengawal puteri Purnadewi itu-pun mulai nampak menguasai arena. Pedangnya berputar lebih cepat dan sekali-sekali berhasil menyusup diantara putaran pedang lawannya meskipun belum menyentuh tubuh lawannya. Tetapi sekali-sekali keadaan lawannya menjadi sangat berbahaya, sehingga setiap kali ia harus berloncatan surut.
Meskipun demikian pertempuran berpedang itu berlangsung semakin seru. Keduanya menunjukkan kemampuan mereka mengusai ilmunya.
Mereka yang berada di sekitar arena itu, menyaksikan dengan ketegangan yang setiap kejap semakin meningkat. Apalagi pasukan yang berada di padukuhan itu. Mereka mulai melihat pemimpinnya benar-benar mulai terdesak.
Ujung pedang pemimpin pasukan pengawal puteri Purnadewi itu rasa-rasanya berterbangan semakin dekat tubuhnya.
Sebenarnyalah, ketika pertempuran itu berlangsung semakin cepat, maka tiba-tiba saja terdengar desah tertahan. Pemimpin pasukan di padukuhan itu-pun meloncat surut dengan loncatan panjang sambil menyilangkan pedangnya di depan dada.
Lawannya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak memburunya.
Sejenak kemudian ia-pun melihat bahwa pemimpin pasukan di padukuhan itu, ternyata tidak mampu lagi menghindari setiap serangan, sehingga lengan kirinya telah terluka tersayat oleh ujung pedang lawannya.
Orang itu mengumpat. Tetapi satu kenyataan, darah telah menitik dari lukanya.
Pemimpin pasukan pengawal itu-pun berdiri termangu-mangu. Namun dengan suara datar ia berkata, “Kau sudah terluka. Kita sudah membuktikan, siapa yang lebih baik diantara kita.”
“Tidak,” pemimpin pasukan itu-pun menjawab hampir berteriak, “Kita buktikan, siapakah yang akan mati di arena ini.”
“Kau sudah terluka,” berkata pemimpin pengawal.
“Hanya satu kelengahan kecil. Tetapi kemampuan ilmuku tentu lebih tinggi dari ilmumu, sehingga kau akan mati karenanya,” jawab pemimpin pasukan di padukuhan itu.
Sejenak pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia-pun berkata, “Aku sudah berusaha untuk mencari jalan yang paling baik. Aku sebenarnya hanya ingin menghapus kesan bahwa pasukanku adalah pasukan yang hanya pantas untuk mengungsi. Tetapi jika kau menjadi gila dengan ketamakanmu, maka aku tidak berkeberatan.”
“Persetan,” geram pemimpin pasukan itu, “Kau kira bahwa dengan luka ini kau sudah dapat menepuk dada.”
“Apa-pun yang kau katakan. Tetapi aku sudah mengatakan apa yang tersirat didalam hatiku. Tetapi aku tidak akan ingkar untuk memenuhi keinginanmu, karena aku adalah seorang prajurit,” jawab pemimpin pengawal itu.
Dengan demikian, maka kedua orang itu-pun sudah berhadapan kembali di arena. Wajah mereka menjadi semakin tegang, dan pada sorot mata mereka nampak bahwa mereka tidak lagi mempunyai pilihan lain kecuali saling membunuh.
Namun dengan demikian, maka para pengikut dari kedua pemimpin itu-pun tanpa perintah telah saling mempersiapkan diri. Rasa-rasanya mereka dihadapkan pada satu kemungkinan untuk juga saling membunuh.
Sejenak kemudian, maka pertempuran itu-pun telah berlangsung lagi. Semakin lama semakin cepat. Namun beberapa saat kemudian keseimbangan dari pertempuran itu-pun telah terulang lagi. Apabila ketika darah mengalir semakin banyak dari luka di lengannya.
Tetapi pemimpin pasukan di padukuhan itu agaknya tidak mau melihat kenyataan itu. Ia masih tetap bertempur dengan garangnya. Namun setiap ia mengerahkan tenaganya, maka darah bagaikan terperas dari luka itu.
Para pengawal yang berada di sekitar arena itu-pun menjadi berdebar-debar. Kedua belah pihak benar-benar telah mempersiapkan diri. Dengan demikian maka pertempuran itu akan dapat menjadi luas.
Sementara itu kedua orang pemimpin itu masih bertempui terus. Namun agaknya pemimpin pengawal itu memang memiliki kelebihan. Ketika keduanya membenturkan senjata mereka, maka terasa tangan pemimpin pasukan di padukuhan itu menjadi pedih,. Ketika pemimpin pengawal itu memutar pedangnya, maka hampir saja pedang pemimpin pasukan di padukuhan itu terlepas. Namun untunglah bahwa ia masih sempat mempertahankan senjatanya, meskipun ia harus meloncat surut.
Tetapi lawannya tidak melepaskannya. Justru pada saat pemimpin pasukan itu memperbaiki keadaannya, pemimpin pengawal itu telah meloncat menyerangnya. Ujung pedangnya bagaikan meluncur mematuk ke arah jantung.
Pemimpin pasukan itu terkejut. Denyut jantungnya terasa bagaikan berhenti. Namun ia masih berusaha untuk mengelak. Dengan keseimbangan yang kurang mapan ia telah bergeser. Namun pedang itu rasa-rasanya terus memburunya, sehingga akhirnya pemimpin pasukan itu tidak lagi mampu bertahan pada keseimbangannya, sehingga ia-pun telah terguling.
Namun pemimpin pasukan di padukuhan itu merasa bahwa justru karena itu, ia telah terlepas dari ujung pedang lawannya. Dengan serta merta, maka ia-pun berusaha untuk melenting berdiri.
Tetapi ketika tubuhnya mulai bergerak, terasa tajam ujung pedang lawannya menyentuh lambungnya. Dengan suara datar pemimpin pengawal itu berkata, “jangan bergerak.”
Pemimpin pasukan itu terkejut. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Jika ia bergerak, maka ujung pedang lawannya itu akan dapat menusuk menembus keperutnya.
Karena itu, maka ia tetap berada di tempatnya. Berbaring di tengah meskipun ia masih tetap menggenggam pedang.
“Apa yang kau kehendaki sekarang?” bertanya pemimpin pengawal itu.
Lawannya termangu-mangu. Ketika ia memandang kepada pasukannya di sekitar arena, maka pandangan matanya itu bagaikan aba-aba. Karena itu, maka pasukannya-pun tiba-tiba saja telah bergerak.
Namun pada saat yang bersmaan, para pengawal yang meskipun jumlahnya lebih sedikit, tetapi mereka adalah prajurit yang terlatih untuk menghadapi berbagai keadaan dalam keadaan yang khusus, sehingga karena itu, maka mereka-pun telah bersiap pula.
Pada saat yang tegang itu, pemimpin pengawal yang telah meletakkan ujung pedang di lambung lawannya itu-pun berkata, “Apa yang akan kalian lakukan? Kalian akan bertempur melawan kekuatan kita sendiri? Jika aku menantang perang tanding, maka aku berharap bahwa kita akan melihat satu kenyataan tanpa mengorbankan terlalu banyak orang. Sekarang kita sudah melihat kenyataan itu. Apakah masih kurang, sehingga setiap orang harus bertempur untuk membuktikan yang manakah diantara kita yang lebih baik. Aku tidak akan menantang perang tanding jika kalian tidak merendahkan martabat keprajuritan kami, seolah-olah kami bukannya prajurit yang pantas berada di peperangan, selain sekedar untuk mengatur para pengungsi. Nah, sekarang sudah ternyata bahwa kemampuan kami sama sekali tidak berada dibawah kemampuan kalian. Demikian pula setiap orang didalam pasukan kami. Kami memang mengantarkan seorang yang menyingkir dari kekalutan pertempuran. Tetapi yang seorang itu adalah isteri Pangeran Kuda Permati. Kalian tentu mengetahuinya, sehingga kalian akan dapat menilai, bahwa tugas kami bukannya tugas yang ringan sebagaimana kalian sebut bahkan dengan istilah-istilah yang mengejek.”
Orang-orang yang mendengar kata-kata itu menjadi tercenung bagaikan membeku. Sementara pemimpin pengawal itu meneruskan, “Tidak ada gunanya perang tanding sampai mati. Aku tidak merasa perlu membunuhnya, karena orang ini-pun mempunyai tugas yang penting pula didalam pasukan Pangeran Kuda Permati. Aku akan melepaskannya. Tetapi jika ia masih mengganggu tugasku, maka jika hal ini diketahui oleh Pangeran Kuda Permati, maka kalian akan tahu sendiri akibatnya. Kalian tentu pernah mendengar, tujuh orang digantung bersama-sama oleh Pangeran Kuda Permati karena atas kebodohan mereka, satu rancangan serangan yang matang telah gagal. Dan sekarang, jika kalian mengganggu tugas kami, berarti mengganggu keselamatan isteri Pangerah Kuda Permati, maka bukan hanya para perwira sajalah yang akan digantung. Tetapi kalian semuanya.”
Pasukan yang ada di padukuhan itu, yang telah mulai terpengaruh oleh kata-kata pemimpin pengawal itu-pun mulai berpikir sementara pemimpinnya masih tetap terbaring dengan ujung pedang melekat di lambungnya.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening namun tegang. Pemimpin pengawal itu-pun masih tetap mengancam pemimpin pasukan yang masih juga terbaring di tanah.
Pemimpin pengawal yang mengancam dengan pedangnya itu menunggu sejenak. Namun kemudian ia-pun menarik pedangnya dan melangkah menjauh sambil berkata, “Aku anggap bahwa perang tanding ini sudah selesai. Semua orang tahu, bahwa aku tidak kalah. Demikian pula orang-orangku. Mereka adalah prajurit-prajurit dari pasukan khusus yang mendapat kepercayaan untuk mengawal puteri Purnadewi. Karena itu, jangan sekali-kali menghina kami lagi.”
Wajah pemimpin pasukan yang kalah itu-pun menjadi tegang. Tetapi pemimpin pengawal itu benar-benar telah meninggalkannya.
Beberapa langkah kemudian, maka pemimpin pengawal itu-pun berkata kepada orang-orangnya, “Kita tinggalkan arena ini. Kita kembali kepada tugas kita.”
Tidak seorang-pun yang menyahut. Tetapi orang-orangnya-pun kemudian bergerak meninggalkan arena itu menuju ke tempat yang diperuntukkan bagi mereka.
Pemimpin pengawal itu langsung menuju ke sebuah rumah yang disediakan bagi Purnadewi. Rumah yang nampaknya tenang saja. Purnadewi memang tidak tahu apa yang telah terjadi dengan para pengawalnya. Karena itu, maka ia sama sekali tidak bertanya apa-pun juga tentang pasukan yang ada di padukuhan itu.
Sebenarnyalah Purnadewi tidak akan tetap tinggal di padukuhan itu. Menurut perintah Pangeran Kuda Permati, maka pada malam hari kemudian ia harus pergi bersama para pengawalnya ke sebuah padukuhan yang lain, yang telah ditunjuk pula oleh Pangeran Kuda Permati. Padukuhan yang lebih tenang dan aman dari padukuhan itu, dilihat dari kemungkinan direbut atau diserang oleh pasukan Kediri.
Dalam pada itu, pemimpin pengawal yang ditinggalkan dalam keadaan terluka itu mengumpat-umpat. Tetapi ia tidak dapat memerintahkan orang-orangnya untuk bertempur melawan pengawal Purnadewi. Jika ada satu saja diantara para pengawal itu yang hidup dan sempat melarikan diri dan dengan selamat bertemu dengan Pangeran Kuda Permati, maka seperti yang dikatakan oleh pemimpin pengawal itu, maka kedua orang dalam pasukannya akan dapat digantung tanpa ampun.
Karena itu, maka ia harus melihat satu kenyataan. Pemimpin pengawal yang sebelumnya disebut sebagai pengiring orang-orang yang mengungsi itu telah mengalahkannya. Tubuhnya telah terluka dan ia memang kalah.
Orang-orang didalam pasukan itu-pun kemudian menyadari, bahwa para pengawal puteri Purnadewi itu justru orang-orang terpilih yang dianggap akan dapat melindunginya.
Dalam pada itu, maka para pengawal puteri Purnadewi itu-pun telah bersiap-siap pula. Jika malam turun, maka mereka akan meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanan mereka.
Beberapa orang diantara para pengawal itu ternyata mulai merasa jemu dengan tugasnya. Mereka lebih senang dengan tugas-tugas yang lain di medan. Kecuali tidak menjemukan, anggapan orang terhadap mereka-pun akan berubah. Mereka jika dikirim kemedan, tidak akan ada lagi orang yang menganggap mereka tidak lebih dari sekelompok pengawal orang-orang yang sedang mengungsi itu.
Tetapi sebagaimana mereka merasa bahwa mereka masih juga seorang prajurit, maka mereka tidak akan dapat memilih tugas. Apa-pun perintah yang diberikan kepada mereka, maka mereka harus melakukannya. Senang atau tidak senang.
Demikianlah ketika malam turun, maka pemimpin pengawal itu-pun telah mempersiapkan diri. Pasukannya-pun telah dipersiapkan pula untuk meneruskan perjalanan.
Diperintahkannya salah seorang dari para perwira yang ada didalam pasukan pengawal itu untuk bertemu dengan pemimpin pengawal yang terluka itu, atau orang yang ditunjuk mewakilinya, untuk menyatakan bahwa mereka akan melanjutkan perjalanan.
Tanggapan pasukan yang ada di padukuhan itu memang berubah. Mereka tidak lagi menganggap bahwa pasukan pengawal itu tidak lebih dari sepasukan prajurit yang tidak berarti lagi di peperangan dan memberi tugas kepada mereka sekedar mengantar orang yang sedang mengungsi.
Namun akhirnya pasukan di padukuhan itu-pun menyadari, bahwa Pangeran Kuda Permati tentu akan menunjuk pasukan yang paling baik untuk mengawal isterinya.
Sebagaimana terbukti, bahwa pemimpin pengawal itu memiliki kelebihan dari pemimpin pasukan Pangeran Kuda Permati yang ada di padukuhan itu.
Demikianlah, maka ketika pasukan pengawal itu kemudian siap berangkat mengantar puteri Purnadewi melanjutkan perjalanan, maka pemimpin pengawal itu sempat memberitahukan, bahwa pasukan Pangeran Singa Narpada dan Panji Sempana Murti dari perbatasan Utara telah berada di mana-mana pula.
Sejenak kemudian, maka pasukan pengawal itu-pun bersiap. Pemimpin pengawal itu-pun kemudian mempersilahkan puteri untuk melanjutkan perjalanan bersama para pengawal. Mereka menuju kesatu tempat yang dirahasiakan, kecuali para pengawal itu sendirilah yang mengetahuinya. Karena itu, maka para pengawal itu-pun tidak mengatakan, kemana mereka akan membawa puteri Purnadewi itu.
Maka perjalanan yang sangat melelahkan telah dimulai lagi. Tetapi ternyata beberapa orang diantara para pengawal itu-pun telah sempat membawa sebuah bambu. Dengan dua batang bambu yang panjang, maka amben itu akan dapat dijadikan sebuah tandu yang sederhana. Dalam keadaan yang memaksa, maka Puteri Purnadewi akan dapat dipersilahkan untuk duduk diatas tandu itu.
Namun agaknya Purnadewi tidak senang dengan tandu itu. Ia lebih senang berjalan kaki, meskipun terasa sakit. Tetapi istirahat yang sehari serta kesempatan untuk merendam kakinya di air hangat serta mengolesnya dengan sejenis param yang dibuat khusus untuk memulihkan kelelahan, Purnadewi telah siap menempuh perjalanan pengikutnya.
Sementara itu pertempuran besar-besaran antara pasukan Pangeran Kuda Permati dan pasukan Kediri telah terjadi Pangeran Kuda Permati sengaja telah menyerang kedudukan Kediri di perbatasan sebelah Barat. Pasukan yang tidak segarang, di perbatasan Utara.
Tetapi perhitungan Pangeran Kuda Permati tidak seluruhnya benar. Sri Baginda telah memerintahkan semua pasukan Kediri bersiaga menghadapi segala kemungkinan.
Namun demikian menurut pengamatan para perwira petugas sandi Pangeran Kuda Permati, pasukan di sebelah Barat memang agak lemah. Dengan demikian, maka usaha untuk menghancurkan pasukan Kediri itu mempunyai kemungkinan yang cukup besar.
Dengan pasukan berkuda, Pangeran Kuda Permati telah mengelabui pemusatan pasukan Kediri. Pasukan Pangeran Kuda Permati telah menyerang sebuah padukuhan yang tidak terlalu kuat dijaga oleh pasukan Kediri. Ketika isyarat dibunyikan untuk memanggil pasukan yang lebih kuat, maka sebagian pasukan Pangeran Kuda Permati telah meninggalkan padukuhan itu untuk menyerang padukuhan yang lain. Dengan pasukan berkuda Pangeran Kuda Permati dapat bergerak dengan cepat mendahului gerak pasukan Kediri.
Tetapi isyarat yang menjalar kesegenap penjuru itu, akhirnya terdengar juga oleh para petugas sandi Kediri yang bertugas bagi Pangeran Singa Narpada. Sesuai dengan kedudukan Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Singa Narpada-pun telah mengerahkan pasukannya. Sementara itu, daerah perbatasan disisi Utara sepenuhnya berada di bawah pengawasan Panji Sempana Murti.
Dengan sikap yang hati-hati, Panji Sempana Murti telah menarik pasukannya, sebagian ke daerah perbatasan Utara yang berhadapan dengan sisi sebelah Barat, sementara Pangeran Singa Narpada dengan pasukan berkudanya langsung memasuki daerah Barat itu sendiri.
Dengan demikian, di perbatasan sebelah Barat itu telah terjadi pertempuran yang besar. Pertempuran yang melibatkan pasukan dalam jumlah yang banyak dari kedua belah pihak.
Namun ternyata bahwa pertempuran itu tidak terjadi pada satu garis yang panjang membujur dalam ujud gelar. Tetapi kedua belah pihak itu saling menyusup dan bertempur kapan dan dimana saja mereka bertemu.
Karena itu, maka pertempuran-pun terjadi dipadukuhan-padukuhan yang terpisah-pisah. Bahkan kadang-kadang dua pihak pasukan bertemu di sebuah simpang ampat. Mungkin kekuatan mereka seimbang, tetapi mungkin tidak.
Dengan demikian, maka perbatasan sebelah Barat itu telah berubah menjadi neraka. Baik pasukan Pangeran Kuda Permati mau-pun pasukan Kediri yang memang bertugas di perbatasan sebelah Barat, serta pasukan Pangeran Singa Narpada telah terlibat dalam pertempuran yang baur.
Karena itu, maka tidak seperti biasanya, Pangeran Kuda Permati sendiri telah berada di medan dengan sepasukan pengawal yang sangat kuat. Pangeran Kuda Permati sendiri mengendalikan langsung pertempuran yang kisruh itu. Namun demikian, dari pusat pengendalian pasukannya, Pangeran Kuda Permati telah mengikuti pertempuran yang terjadi di beberapa tempat dengan saksama. Setiap kali beberapa orang penghubung telah datang untuk memberikan laporan tentang pertempuran yang tersebar itu.
Di pihak lain, pasukan Kediri di daerah perbatasan sebelah Barat itu-pun telah menyebar pula. Mereka berusaha untuk mengimbangi pasukan Pangeran Kuda Permati. Namun agaknya Panglima pasukan Kediri di perbatasan sebelah Barat itu kurang menguasai cara-cara yang selalu ditempuh oleh Pangeran Kuda Permati, sehingga pasukannya mengalami kesulitan. Kadang-kadang sepasukan prajurit Kediri telah terjebak, sehingga mereka harus melarikan diri bercerai berai. Dengan susah payah mereka berusaha untuk berkumpul kembali dan menyusun kekuatan untuk melakukan pertempuran lebih lanjut.
Namun kemudian di daerah yang kisruh itu telah hadir sekelompok pasukan berkuda yang kuat. Atas beberapa petunjuk, maka Pangeran Singa Narpada berhasil menemukan pusat pengendalian pasukan Kediri di perbatasan sebelah Barat. Dengan demikian, maka dengan sepengetahuan Panglima pasukan Kediri, Pangeran Singa Narpada dengan pasukannya yang bagaikan sekelompok burung yang berterbangan kesegala penjuru, telah memasuki arena pertempuran yang garang itu.
Dengan hadirnya pasukan berkuda Pengeran Singa Narpada yang kuat dan mampu bergerak dengan cepat, maka kedudukan pasukan Kediri-pun kemudian menjadi lebih baik.
Dengan demikian, maka pertempuran itu-pun menjadi semakin seru. Seakan-akan tidak lagi dapat dikenal batas antara kedua kekuatan yang berbaur dalam pertempuran yang kisruh.
Pasukan Pangeran Kuda Permati yang semula berhasil mengejutkan dan membuat pasukan Kediri di perbatasan sebelah Barat menjadi bingung dan sebagian pecah bercerai berai, kemudian harus membuat pemusatan-pemusatan kekuatan untuk menghadapi pasukan lawan. Selain pasukan Kediri di perbatasan Barat yang masih terdapat disela-sela pasukan Pangeran Kuda Permati, maka pasukan berkuda Pangeran Singa Narpada yang dengan garangnya menjelajahi medan. Yang berada di jalur jalannya telah disapu bersih tanpa ampun, sebagaimana pasukan Pangeran Kuda Permati memperlakukan lawan-lawan mereka sebelumnya.
Dengan demikian, maka pertempuran di perbatasan sebelah Barat itu benar-benar merupakan pertempuran yang sangat dahsyat, sehingga Pangeran Kuda Permati sama sekali tidak mau meninggalkan pasukannya barang sekejap. Di tempat yang dirahasiakan ia mengatur pasukannya dengan perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk.
Memang agak berbeda dengan Pangeran Singa Narpada. Pangeran Singa Narpada itu langsung berada diantara pasukannya yang paling depan.
Sebelum Pangeran Singa Narpada memasuki arena, dengan menyesal ia berkata kepada Panji Sempana Murti, “Agaknya aku gagal mempergunakan Purnadewi untuk membujuk adimas Pangeran Kuda Permati. Karena itu, maka aku harus menempuh cara terakhir.”
“Tetapi masih ada kemungkinan Pangeran,” jawab Panji Sempana Murti, “Meskipun demikian kita harus menghadapi gerak Pangeran Kuda Permati sekarang ini dengan cara Pangeran Kuda Permati pula.”
“Berjaga-jagalah di perbatasan Utara dengan sebaik-baiknya, aku akan berada di daerah pertempuran sebelah Barat,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Dengan demikian, sepeninggal Pangeran Singa Narpada, maka Panji Sempana Murti telah bersiap sepenuhnya. Ia sadar, bahwa terjadi satu kemungkinan pasukan Pangeran Kuda Permati yang terdesak di sebelah Barat akan bergeser ke Utara. Atau sebaliknya pasukan Kediri di sebelah Barat memerlukan bantuan seperlunya.
Dengan demikian, maka yang dipersiapkan oleh Panji Sempana Murti bukan saja prajurit-prajurit Kediri. Tetapi pasukan yang terdiri dari anak-anak muda di setiap padukuhan sebagaimana dipersiapkan. Anak-anak muda yang tergolong dalam tataran pertama dan kedua, benar-benar telah bersiap untuk bertempur bersama para prajurit Kediri yang sebenarnya jumlahnya tidak terlalu banyak. Namun dengan cara yang ditempuh oleh Panji Sempana Murti, maka kekuatan pasukan Kediri di perbatasan di sebelah Utara itu cukup memadai.
Dalam pada itu, pasukan di Kediri di sebelah Selatan-pun telah bersiap-siap pula menghadapi segala kemungkinan. Karena di sisi Selatan itu tidak ditempuh cara sebagaimana dipergunakan oleh Panji Sempana Murti, maka pimpinan prajurit Kediri di sebelah Selatan telah menarik sebagian besar pasukannya untuk berada di ujung daerah pengawasannya menghadapi kekuatan Pangeran Kuda Permati di sebelah Barat. Namun agaknya dengan demikian, maka di beberapa tempat terdapat kekosongan kekuatan, sehingga merupakan noda-noda kelemahan kekuatan prajurit Kediri di sebelah Selatan.
Namun agaknya pimpinan prajurit Kediri di sebelah Selatan menyadarinya, sehingga karena itu, maka ia-pun telah mempersiapkan pasukan berkuda sebanyak dapat dihimpunnya untuk dapat mencapai tempat-tempat yang terasa lemah. Bahkan atas laporan dari segala pihak, maka di Kota Raja-pun telah disiapkan pula kekuatan pasukan berkuda yang dapat bergerak kesegala penjuru di samping pasukan Pangeran Singa Narpada yang memang mempunyai tugas untuk menghadapi pasukan Pangeran Kuda Permati.
Dalam pada itu, maka pertempuran di daerah perbatasan sebelah Barat benar-benar merupakan pertempuran yang menggetarkan, sehingga bagi rakyat di daerah itu, maka daerah mereka seakan-akan telah berubah menjadi neraka.
Bahkan tidak sedikit rakyat yang tidak tahu menahu telah menjadi korban. Setiap kecurigaan yang betapa-pun kecilnya telah memungkinkan untuk menghilangkan nyawa seseorang.
Demikianlah, maka meskipun tidak melihat sendiri secara langsung, ternyata Purnadewi-pun dapat mendengar tentang peristiwa itu dari tempat tinggalnya yang terbaru. Para pengawalnya memang mencoba untuk tidak menyampaikan apa-pun juga kepada puteri Purnadewi. Namun percakapan diantara mereka, sikap mereka dan kesiagaan mereka menunjukkan kepada Purnadewi bahwa keadaan semakin lama menjadi semakin gawat. Korban semakin banyak berjatuhan dan bahkan tanpa sebab. Kematian yang benar-benar sia-sia dari rakyat Kediri.
Dalam pada itu, kehadiran Pasukan Pangeran Singa Narpada dan gerak pasukan berkudanya yang cepat yang mampu mengimbangi kecepatan gerak Pangeran Kuda Permati telah menyebabkan pasukan Pangeran Kuda Permati menjadi kehilangan banyak ruang geraknya. Beberapa kesatuannya telah terdorong untuk bergeser menjauh. Jika semula mereka banyak berhasil menghancurkan kelompok-kelompok kecil pasukan Kediri, akhirnya merekalah yang lebih banyak melepaskan korban dalam pertempuran yang mengerikan itu.
Dengan hati yang pedih Purnadewi mengikuti perkembangan keadaan itu. Meskipun ia tidak beranjak dari rumah yang ditinggalinya sebagaimana dikehendaki oleh Pangeran Kuda Permati, namun ternyata bahwa mata hatinya telah menyaksikan apa yang telah terjadi. Perang yang dahsyat dan seakan-akan tidak berkesudahan. Padukuhan-padukuhan yang bagaikan berubah menjadi neraka. Mayat terbujur lintang di bunuh oleh orang. Darah yang mengalir dari luka-luka yang menganga telah menyiram bumi Kediri. Darah putera-puteranya yang berdiri berseberangan pada pihak-pihak yang saling bermusuhan.
Purnadewi yang berada didalam biliknya telah berbaring menelungkup sambil menangis. Seperti seorang ibu yang melihat anak-anaknya saling berkelahi dan bahkan saling berbunuhan.
“Pembantaian ini harus dihentikan,” desis puteri Purnadewi disela-sela isak tangisnya.
Tetapi Purnadewi tidak tahu, kepada siapa ia harus mengdukan pedih hatinya. Ia tidak akan dapat mengatakan kepada suaminya, karena sikap suaminya yang keras menghadapi Singasari.
Sementara itu pertempuran masih berlangsung dengan dahsyatnya. Pasukan Pangeran Singa Narpada yang menyusuri medan bagaikan arus angin prahara yang bertiup menyapu segala hambatan yang ditemuinya. Tidak ada yang dapat menahannya. Kekuatan yang besar yang terpecah menjadi tiga itu menjalajahi medan seperti sebuah trisula. Sebuah tombak yang bermata tiga. Menusuk dan kemudian menghancurkan sama sekali.
Dengan demikian, maka pasukan Pangeran Kuda Permati-pun telah bergeser mundur. Mereka mulai meninggalkan arena yang telah dibakar oleh kekerasan tanpa ampun.
Pasukan Pangeran Kuda Permati mulai mengambil tempat yang terlindung dan tidak terlalu mudah dicapai oleh pasukan berkuda Pangeran Singa Narpada, serta mempunyai jalur yang mudah untuk menyingkir.
“Kakangmas Singa Narpada memang gila,” geram Pangeram Kuda Permati, “ia benar-benar melakukan sebagaimana dikatakannya.”
Tetapi Pangeran Kuda Permati sama sekali tidak mau melihat, apa yang telah dilakukan oleh para pengikutnya. Meskipun ia tahu pasti, bahwa dalam perang yang dahsyat itu kedua belah pihak telah kehilangan nalar serta terlepas dari segala macam paugeran perang bagi para kesatria.
Perlahan-lahan pertempuran-pun mereda. Para pengikut Pangeran Kuda Permati telah melepaskan daerah-daeran yang untuk sementara telah didudukinya dan mengumpulkan kekuatannya pada tempat-tempat yang dapat dipergunakan untuk menjadi landasan perjuangannya selanjutnya.
Betapa-pun banyak korban yang dilepaskan, dan berapa-pun banyaknya lawan yang telah terbunuh sama sekali tidak meredakan niatnya dan melepaskan usahanya merebut kedudukan di Kediri. Baginya tidak ada jalan lain kecuali menguasai pemerintahan di Kediri, sehingga kemudian ia akan dapat menentukan sikap terhadap Singasari.
“Tidak ada orang lain yang akan berani melakukannya,” berkata Pangeran Kuda Permati, “Kakangmas Singa Narpada adalah hantu di medan perang. Tetapi ia tidak berani berbuat apa-apa terhadap Singasari.”
Pangeran Kuda Permati tidak mau tahu, bahwa keyakinannya tentang kedudukan Kediri terhadap Singasari berbeda dengan sikap dan pandangan Pangeran Singa Narpada, sehingga karena itu, maka orang-orang yang tidak sejalan dengan pikirannya dianggapnya sebagai pengkhianat.
Pangeran Singa Narpada yang telah berhasil menguasai sebagian besar medan di perbatasan sebelah Barat itu-pun kemudian telah menghentikan geraknya. Tetapi ia masih tetap berada di daerah pertempuran itu. Yang kemudian bergerak adalah pasukan Kediri yang memang bertugas di daerah perbatasan sebelah Barat.
Meskipun prajurit Kediri itu tidak segarang pasukan Pangeran Singa Narpada, tetapi pengaruh medan yang ganas itu telah membentuk setiap prajurit menjadi prajurit yang keras.
Dalam pada itu, Pangeran Kuda Permati dengan darah yang mendidih telah mempersiapkan pasukannya untuk gerakannya selanjutnya. Ia tidak mau memberikan kesempatan para prajurit Kediri untuk bernafas. Karena itu, maka ia-pun telah menyebarkan petugas sandinya untuk melihat daerah kelemahan prajurit Kediri itu. Bukan hanya di sisi Barat, tetapi juga di sisi Selatan dan Timur.
Yang kemudian dilihat oleh para petugas sandi adalah beberapa daerah yang kosong di sisi Selatan, karena sebagian besar prajurit Kediri di daerah Selatan telah berkumpul di baris yang berhadapan langsung dengan arena pertempuran yang dahsyat itu untuk membendung kemungkinan pasukan Pangeran Kuda Permati menembus ke Selatan.
Namun pasukan Pangeran Kuda Permati tidak akan dengan bodoh melalui pagar pasukan berjari-jari tombak. Pasukan Pangeran Kuda Permati akan dapat memasuki daerah lawan melewati lingkaran yang paling jauh sekali-pun untuk menghindari kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi dengan pasukannya.
Laporan itu ternyata telah menarik perhatian. Justru karena itu, maka Pangeran Kuda Permati menganggap bahwa pasukannya harus bergerak dengan cepat.
Tetapi Pangeran Kuda Permati yang baru saja merasa kelelahan menghadapi Pasukan Pangeran Singa Narpada, telah memerlukan beristirahat barang satu dua hari sebelum ia memasuki satu arena yang tentu tidak akan kalah dahsyatnya.
Dalam kesempatan itu Pangeran Kuda Permati ingin berbicara dengan isterinya. Ia ingin meyakinkan, bahwa tidak ada perjuangan yang lebih mulia dari perjuangan yang sedang ditempuhnya, meskipun harus melepaskan banyak sekali korban.
Dengan dikawal oleh beberapa orang prajuritnya yang terbaik, Pangeran Kuda Permati telah berpacu ke sebuah padukuhan yang ditentukannya sendiri bagi isterinya.
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar