Senin, 21 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 010-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 10-02*

“Ya. Tetapi apa yang dapat kita lakukan?” bertanya orang-orang Talang Amba.

Ternyata Ki Waruju telah membuat satu rencana yang sudah disusun bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Pada malam yang sudah ditentukan, beberapa malam menjelang purnama, saat Ki Sendawa akan mengumumkan dirinya menjadi Buyut di Talang Amba, orang-orang yang tinggal di beberapa pedukuhan telah membuat satu upacara. Upacara yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Mereka telah berkumpul di tempat terbuka dan membakar seonggok kayu dan ranting-ranting yang kering.

“Api itu tidak boleh padam semalam suntuk” berkata Ki Waruju.

Sementara itu, di rumah Ki Sendawa, Mahisa Murti telah berusaha lewat murid Ki Sarpa Kuning yang kecewa untuk menyusupkan benda-benda aneh ke dalam rumah Ki

Sendawa. Sebilah mata tombak yang sudah geripis dan sebuah cumplung kelapa yang sudah kering. Di dalam cumplung kelapa itu terdapat beberapa jenis bunga.

Ternyata bahwa usaha itu dapat mempengaruhi ketabahan hati Ki Sendawa. Dari beberapa orang kepercayaannya, ia mendengar bahwa semalam disemua padukuhan telah diadakan satu upacara yang khusus. Orang-orang padukuhan itu telah menyalakan api semalam suntuk. Sementara itu di sudut longkangan bagian dalam rumahnya telah diketemukan mata tombak dan cumplung kelapa.

Usaha yang telah berhasil mengguncang keteguhan hati Ki Sendawa, membuatnya tergesa-gesa memanggil beberapa orang kepercayaannya termasuk Ki Sarpa Kuning.

“Mereka mempergunakan cara yang lembut” berkata Ki Sendawa.

“Omong kosong, “Ki Sarpa Kuning hampir berteriak. Orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu memandanginya dengan wajah yang tegang. Sementara itu Ki Sarpa Kuning berkata selanjutnya, “Hanya orang-orang yang penakut sajalah yang percaya akan hal itu”

“Jangan berkata begitu Ki Sarpa Kuning” sahut seseorang, “bagaimanapun juga, percaya atau tidak percaya, laku yang lembut seperti itu memang ada. Nampaknya menantu Ki Buyut yang putus asa itu telah mempergunakan cara itu”

“Seandainya ada cara seperti itu” berkata Ki Sarpa Kuning kemudian, “Ki Sendawa juga dapat mempergunakannya. Seandainya menantu Ki Buyut itu memanggil seorang dukun atau seorang juru tenung, apakah Ki Sendawa tidak dapat melakukannya?”

“Tetapi mereka telah melakukannya lebih dahulu” jawab Ki Sendawa.

“Apa bedanya” jawab Ki Sarpa Kuning.

“Sementara kita baru bersiap-siap serangan-serangan lembut itu berdatangan. Untunglah, kali ini aku masih selamat. Ujung tombak itu tidak menyusup ke dalam dadaku” berkata Ki Sarpa Kuning, “namun mereka tentu akan mempergunakan cara yang lain lagi.

“Aku tidak percaya” berkata Ki Sarpa Kuning. Namun kemudian, “Tetapi jika kalian semua percaya akan kemampuan yang demikian, maka tidak ada jalan lain kita harus lebih cepat bertindak. Kita tidak usah menunggu saat purnama naik. Kita akan mengangkat Ki Sendawa menjadi Buyut di Kabuyutan ini. Sekarang atau besok”

Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang. Maksud mereka adalah menunda atau jika mungkin mengu-rungkan niat Ki Sendawa mempergunakan caranya sendiri, dengan mengangkat dirinya sendiri menjadi Buyut. Tetapi akibatnya akan dapat justru sebaliknya. Ki Sarpa Kuning justru akan mempercepat pelaksanaan dari rencana itu.

“Orang itu memang gila” berkata Mahisa Pukat didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, seorang kepercayaan Ki Sendawa yang hadir itu pun berkata, “Sebenarnya kita mempunyai satu cara yang dapat mengakhiri laku lembut menantu Ki Buyut itu”

“Bagaimana menurut caramu” bertanya Ki Sendawa. “Jika terjadi benturan kekerasan, apaboleh buat. Kita memang sudah bersiap. Aku kira Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya tentu tidak berkeberatan untuk melibatkan diri” jawab orang itu.

“Kita akan menyerang mereka?” bertanya Ki Sendawa. “Tidak. Tetapi kita ambil menantu Ki Buyut itu” jawab orang yang mengusulkan cara itu jika arang itu atau pengikut, “pengikutnya melawan, bukan salah kita. Orang itu telah bertindak lebih dahulu”

Tiba-tiba saja Ki Sarpa Kuning menyahut, “Bagus. Aku sependapat. Kita ambil menantu Ki Buyut. Kita akan mengadilinya, karena ia telah menyerang dengan tenung saudaranya sendiri. Pamannya sendiri”

Ki Sendawa termangu-mangu. Namun kepercayaannya itu pun berkata, “Kita tidak akan melepaskan kesempatan ini, justru pada saat menantu Ki Buyut itu melakukan satu kesalahan. Meskipun yang melakukan seluruh pengikutnya dengan membuat api yang menyala semalam suntuk. Namun tentu menantu Ki Buyut itulah yang telah memerintahkannya”

Beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu mengangguk-angguk. Nampaknya beberapa orang di antara mereka telah sependapat.

Yang benar-benar menjadi tegang adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ternyata perhitungan mereka keliru. Ki Sendawa tidak mengurungkan niatnya atau menunda rencananya, tetapi karena pengaruh orang-orang disekitarnya dan Ki Sarpa Kuning, akibatnya justru sebaliknya.

Dalam pada itu, Ki Sarpa Kuning pun kemudian berkata, “Kapan kita akan mengambil orang itu”

“Jangan terlalu lama. Besok kita akan mengambilnya. Sekarang sudah menjelang malam” jawab salah seorang diantara mereka.

Ki Sendawa pun akhirnya tidak berkeberatan. Ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Jika hal itu tidak dilakukan, maka menantu Ki Buyut itu tentu akan dapat melakukan perbuatan yang lebih keji lagi. Mungkin malam berikutnya, usaha menantu Ki Buyut itu berhasil, dan ujung sebilah keris yang patah, akan menyusup ke jantungnya. Jika anak itu sudah ditangkap, maka aku akan dapat mengadilinya atas nama Buyut di Talang Amba” gumam Ki Sendawa di dalam hatinya, karena menurut penilaiannya, memang tidak ada kekuasaan yang lebih sah dari kekuasaannya.

Demikianlah, maka Ki Sendawa dan para pengikutnya telah sepakat. Mereka akan mengerahkan kekuatan yang ada, sementara kekuatan Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya akan menjadi ujung kekuatan Ki Sendawa.

“Jika terjadi benturan kekuatan, aku akan membuat pengeram-eram. Aku akan menunjukkan kepada rakyat Talang Amba. bahwa aku mempunyai kekuasaan yang tidak terlawan. Sebenarnya aku dapat berbuat lebih banyak dari yang aku lakukan sekarang, misalnya memiliki hutan itu tanpa berbicara dengan siapa pun dari Kabuyutan ini. Tetapi aku memang tidak mau berbuat demikian. Aku akan melakukannya dengan tenang tanpa terganggu oleh siapapun, dan tanpa terganggu oleh perasaan bersalah karena aku telah mengambil milik orang” berkata Ki Sarpa Kuning. Lalu, “Memang agak berbeda dengan jika aku memiliki hutan itu dengan sah, atas ijin orang yang berkuasa di Kabuyutan ini.

Orang-orang yang mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Bagi mereka, Ki Sarpa Kuning adalah orang yang bersih dan jujur. Meskipun Ki Sarpa Kuning dan pengikut-pengikutnya memiliki kemampuan untuk merampas hutan itu dengan kekerasan, tetapi ia tidak melakukannya. Bahkan ia telah menyerahkan kekuatan yang ada padanya untuk menegakkan kekuasaan yang sah di Kabuyutan itu.

Demikianlah, orang-orang yang kerkumpul itu akhirnya berniat bulat untuk melakukan sebagaimana telah mereka bicarakan. Besok menantu Ki Buyut akan mereka ambil. Jika perlu dengan kekerasan. Meskipun para pengikut menantu Ki Buyut itu jauh lebih banyak, tetapi di antara mereka terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat tinggal diam. Mereka harus berbuat sesuatu, sebelum orang-orang Ki Sendawa itu benar-benar memasuki halaman rumah menantu Ki Buyut itu.

Tetapi jika mereka berdua meninggalkan pondok Ki Sendawa, atau salah seorang dari mereka, dalam keadaan yang demikian, tentu akan dapat menimbulkan kecurigaan. Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya, terutama Gajah Wareng, masih belum mempercayainya sepenuhnya.

Namun akhirnya menemukan akal. Mereka berbicara dengan murid Ki Sarpa Kuning yang kecewa karena kematian adiknya.

“Kau lebih leluasa untuk berbuat sesuatu” berkata Mahisa Murti.

Orang itu termenung sejenak. Lalu katanya, “Apa yang harus aku lakukan?”

“Kita sudah bekerja sama dengan baik selama ini” berkata Mahisa Murti, “tetapi sayang hasilnya justru sebaliknya dari yang kita harapkan. Kita berharap bahwa dengan cara kita itu Ki Sarpa Kuning akan menunda rencananya. Tetapi yang terjadi, justru mempercepat ledakan yang ingin dihindarkan itu”

“Ya. Tetapi apa yang harus aku lakukan?” desak murid Ki Sarpa Kuning itu.

“Kau temui Ki Waruju. Bukankah kau sudah pernah mengenalnya?” bertanya Ki Sarpa Kuning.

“Ya. Pada suatu saat kau sudah pernah mempertemukan aku dengan orang yang bernama Ki Waruju itu” jawab murid Ki Sarpa Kuning.

“Baik. Datanglah kepadanya atau langsung kepada menantu Ki Buyut itu. Katakan apa yang akan terjadi” berkata Mahisa Murti.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Mahisa Pukat berkata, “Soalnya rangkap. Bukan karena aku mengetahui rahasiamu dan memerasmu. Tetapi yang penting, dengan demikian kita akan dapat menyelamatkan menantu Ki Buyut yang tidak bersalah dan mungkin akan dapat mengurangi korban yang akan berjatuhan, jika terjadi kekerasan”

“Apakah justru bukan sebaliknya” berkata orang itu, “dengan demikian orang-orang yang menjadi pengikut menantu Ki Buyut akan bersiap-siap, sehingga akan, terjadi pertempuran”

“Kita akan terlibat ke dalamnya. Tetapi jika yang terjadi kemudian benturan-benturan yang pecah dimana-mana, maka korbannya akan jatuh dimana-mana. Para pengikut menantu Ki Buyut itu akan kehilangan pengekangan diri dan menyerang tanpa perhitungan. Jika itu terjadi diluar pengamatan kita, maka mereka akan menjadi korban yang parah. Mungkin Gajah Wareng, mungkin saudara seperguruanmu yang berkumis itu. Atau mungkin Ki Sendawa sendiri yang agaknya juga memiliki kemampuan. Selebihnya orang-orang yang selalu mengawalnya itu nampaknya orang-orang yang tidak berjantung sama sekali” jawab Mahisa Pukat.

Murid Ki Sarpa Kuning itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Jika terjadi benturan kekerasan, apakah kita akan berdiri dipihak menantu Ki Buyut?”

“Ya. Kita akan berdiri dipihak menantu Ki Buyut. Dengan tenang murid-murid Ki Sarpa Kuning akan segera selesai” berkata Mahisa Murti”Bukankah kau sudah mengetahuinya?”

Murid Ki Sarpa Kuning itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan berdiri dipihakmu”

“Pergilah malam ini. Hanya kau sajalah yang dapat melakukannya” berkata Mahisa Murti kemudian.

Demikianlah, ketika malam menjadi semakin kelam, maka murid Ki Sarpa Kuning itu pun telah pergi keluar gandok. Kepada Gajah Wareng ia berkata, “Aku akan pergi kesungai. Hati-hatilah dengan kedua orang anak muda itu. Kadang-kadang tengah malam ia keluar. Meskipun setelah mereka tahu bahwa aku mengawasinya mereka hanya pergi ke sungai, tetapi jika tidak ada orang yang melihatnya, aku tidak tahu, apa yang akan mereka lakukan”

“Kau tidak usah menggurui aku” sahut Gajah Wareng, “aku lebih tahu dari pada kau”

“Mungkin, tetapi ternyata kau tidak melihatnya ketika kedua orang anak itu keluar malam itu” berkata murid Ki Sarpa Kuning itu.

Gajah Wareng tidak menjawab. Tetapi ia berkata, “Jika kau mau pergi, pergilah”

Murid Ki Sarpa Kuning yang kecewa itu tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan gandok itu.

“Nampaknya ia terlalu iri” berkata murid Ki Sarpa Kuning yang berkumis, “tetapi itu bukan salahnya. Guru tidak pernah memperlakukan murid yang baru seperti anak-anak itu”

“Kita memerlukan tenaganya dalam waktu dekat ini” jawab Gajah Wareng. Kemudian suaranya menjadi semakin lambat, “Jika kita tidak memerlukannya lagi, aku pun ingin memilih lehernya”

Kawannya yang berkumis itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun tertawa sambil berkata, “Aku mempunyai rencana lain yang lebih menarik. Kita bawa kedua orang anak itu ke padepokan. Saudara-saudara kita seperguruan tentu akan mendapatkan satu permainan yang mengasyikkan”

“Apalagi anak yang merasa iri itu” jawab Gajah Wareng, “rencanamu memang menarik sekali. Semakin lama kedua orang itu semakin menjemukan, sementara guru berusaha mengambil hatinya, agar keduanya merasa benar-benar murid Ki Sarpa Kuning sebagaimana kita semuanya”

Kawannya tidak menjawab. Sekilas mereka memperhatikan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang duduk beberapa langkah dari kedua orang itu. Sementara Ki Sarpa Kuning sama sekali tidak menghiraukan murid-muridnya. Nampaknya ia sedang merenungi.

Dalam pada itu, murid Ki Sarpa Kuning yang kehilangan adiknya dan pergi ke rumah menantu Ki Buyut itu melangkah dengan ragu-ragu. Bagaimanapun juga ia adalah orang asing di Kabuyutan itu. Mungkin sekali ia akan mengalami sikap yang kurang menguntungkannya.

Tetapi ia memang tidak mempunyai cara lain dari yang dapat dilakukannya itu. Ia memang memiliki kemungkinan yang lebih baik dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Dalam pada itu, malam pun menjadi semakin pekat. Dengan langkah yang ragu, Orang itu pun melintasi bulak-bulak persawahan menuju ke padukuhan induk dari Kabuyutan Talang Amba, langsung menuju kerumah menantu Ki Buyut.

Ketika ia berada beberapa langkah dari sebuah padukuhan yang harus dilaluinya, hatinya menjadi berdebar-debar. Orang itu melihat dari jarak yang masih belum terlalu dekat, obor yang ada di sudut gardu.

“Agaknya di gardu itu penuh dengan anak-anak muda. Bahkan semua laki-laki padukuhan itu agaknya telah keluar dari rumah mereka dan berada di gardu-gardu” berkata orang itu di dalam hatinya.

Karena itu, maka keragu-raguan telah menghambat langkahnya. Orang itu pun kemudian telah memilih jalan lain. Ia lebih baik melingkari padukuhan itu dan berjalan di pematang.

Namun ia tidak dapat melakukannya, ketika ia sampai di padukuhan induk. Ia tidak dapat sekedar melingkari padukuhan itu. Tetapi ia harus memasukinya. Karena itu, maka ia pun tertegun beberapa saat ketika ia mendekati mulut lorong padukuhan induk itu. Dengan bimbang ia harus memilih, apakah akan berjalan memasuki padukuhan induk itu lewat pintu gerbang yang penuh dengan anak-anak muda itu, atau ia harus memilih jalan lain.

Namun akhirnya murid Ki Sarpa Kuning itu memilih jalan lain. Ia tidak memasuki padukuhan induk itu lewat pintu gerbang yang manapun. Tetapi murid Ki Sarpa Kuning itu memilih meloncati dinding padukuhan.

Namun ia memang memiliki bekal ilmu. Yang dilakukannya itu bukan sesuatu yang sulit baginya. Dengan mudah ia meloncat memasuki lingkungan padukuhan induk Talang Amba.

Meskipun murid Ki Sarpa Kuning itu telah mengetahui letak padukuhan induk, tetapi ia belum pernah melihat rumah menantu Ki Buyut. Namun dari Mahisa Murti ia telah mendapat petunjuk sebagaimana dikatakan oleh Ki Waruju.

Sebagai seorang petualang, maka tidak sulit baginya untuk menemukan rumah menantu Ki Buyut. Namun seperti yang telah terjadi, ia mengalami kesulitan. Ternyata di rumah menantu Ki Buyut itu terdapat beberapa orang anak muda. Bagaimanapun tidak harus berhenti di regol, maka ia tentu akan berhadapan dengan anak-anak muda itu dalam keadaan yang belum diketahui. Apakah anak-anak muda itu akan menanggapi kedatangannya dengan baik, atau justru sebaliknya.

Dalam pada itu, murid Ki Sarpa Kuning itu memang harus mempersiapkan diri. Ia bersedia membantu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru karena kekecewaan dan dendamnya kepada Ki Sarpa Kuning. Namun itu bukan berarti bahwa ia pun harus membiarkan dirinya dibantai oleh anak-anak muda itu.

Untuk beberapa saat, murid Ki Sarpa Kuning itu menyiapkan dirinya. Baru kemudian ia menemukan satu ketetapan, bahwa ia akan memasuki halaman rumah itu lewat regol halaman, apa pun yang terjadi. Namun, dengan satu tekad pula, bahwa jika ia dihadapkan pada satu keadaan yang sulit, maka ia akan mempertahankan dirinya.

Dengan ketetapan itu, maka murid Ki Sarpa Kuning itu pun kemudian mendekati regol halaman. Langkahnya memang masih di warnai oleh keragu-raguan hatinya. Tetapi ia berusaha untuk tidak nampak gelisah.

Dalam pada itu, kedatangannya telah membuat anak-anak muda yang berada di regol halaman memperhatikannya. Anak-anak muda itu melihat orang itu melangkah mendekati mereka.

Murid Ki Sarpa Kuning itu berhenti beberapa langkah dihadapan anak-anak muda itu. Sejenak ia termangu-mangu. Namun sementara itu, seorang anak muda. maju selangkah sambil bertanya, “Apakah Ki Sanak mencari seseorang?”

Murid Ki Sarpa Kuning itu ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Aku mencari Ki Sanggarana. Menantu Ki Buyut yang sudah tidak ada lagi”

Anak-anak muda itu ragi-ragu sejenak. Namun mereka nampaknya tidak begitu mudah untuk memenuhi keinginan itu.

Ternyata seseorang bertanya, “Siapakah Ki Sanak dan untuk keperluan apa?”

Murid Ki Sarpa Kuning itu tercenung sejenak Sekilas diamatinya beberapa orang yang berdiri disekitarnya. Anak-anak muda garang dan penuh kecurigaan. Dengan demikian, maka murid Ki Sarpa Kuning itu pun menjadi ragu-ragu. Jika ia salah langkah, maka sesuatu yang tidak dikehendaki akan dapat terjadi. Karena itu, dengan sangat berhati-hati ia pun kemudian menjawab, “Aku adalah salah seorang kawan Ki Sanggarana. Ada sesuatu yang penting harus aku sampaikan”

“Kami belum pernah melihat kau sebelumnya” berkata seorang anak muda bertubuh tinggi.

“Ya. Aku memang jarang sekali pergi kerumah ini” jawab murid Ki Sarpa Kuning itu.

“Jarang pun tentu tidak, “ sahut anak muda yang lain, “kau orang asing bagi kami. Nah, apa keperluanmu menemui menantu Ki Buyut itu?”

“Ada sesuatu yang akan aku katakan kepada Ki Sanggarana” jawab murid Ki Sarpa Kuning.

“Katakan kepada kami” bentak seorang anak muda bertubuh kekar, “Kami akan menyampaikannya kepada menantu Ki Buyut itu”

“Katakan kepada menantu Ki Buyut, bahwa aku akan menemuinya” berkata murid Ki Sarpa Kuning itu.

“Aku siapa?” bentak seorang laki-laki yang sudah melampaui masa mudanya.

Murid Ki Sarpa Kuning itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Rampon. Namaku Rampon. Tetapi mungkin sekali Ki Sanggarana telah lupa akan nama itu. Karena itu, jika aku dapat menemuinya, maka ia akan mengenalku. Aku akan memberitahukan satu masalah yang penting sekali baginya”

“Jangan membuat kami kehilangan kesabaran” geram anak muda bertubuh kekar, “jawabanmu berbelit-belit.”

“Ki Sanak” berkata murid Ki Sarpa Kuning itu, “aku hanya seorang diri dan sama sekali tidak membawa senjata. Jika aku berniat buruk, aku tidak akan mempergunakan cara ini”

Orang yang sudah lebih dewasa mendengarkan kata-kata itu. Mereka melihat kebenarannya dan menganggap bahwa orang itu berkata sebenarnya. Karena itu, salah seorang dari mereka bertanya, “Ki Sanak. Jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan kepada menantu Ki Buyut, katakan, dalam hubungan apa?”

Murid Ki Sarpa Kuning itu menjadi semakin ragu-ragu. Tetapi ia pun akhirnya tidak melihat kemungkinan lain yang lebih baik dari mengatakan yang sebenarnya.

“Ada sesuatu yang penting diketahui oleh menantu Ki Buyut dalam hubungan dengan kemungkinan pengangkatan Buyut yang baru” jawab murid Ki Buyut.

Orang yang sudah lebih dewasa itu mengangguk-angguk. Orang itu memang hanya sendiri. Tidak mungkin ia akan dapat berbuat sesuatu dihadapan sekian banyak orang.

Tetapi anak-anak yang lebih muda nampaknya sulit untuk mengekang diri. Ketika seorang menjadi marah, maka yang lain pun menjadi marah pula.

“Kau tentu orang yang ingin membuat onar disini”, seorang anak muda berambut keriting berteriak.

“Ya. Orang itu tentu bukan orang yang berniat baik. Hanya karena ia tidak dapat mengelak lagi setelah kita melihatnya, maka ia telah berbuat seolah-olah ia ingin berjasa” sahut yang lain.

Namun seorang yang lebih tua berkata, “Baiklah kita bawa saja orang itu kepada Ki Sanggarana. Apa yang dikatakannya, kita akan menurut saja”

“Menantu Ki Buyut itu orang yang terlalu baik. Bahkan orang yang mencekik untuk membunuhnya pun masih juga diterimanya dengan ramah disaat lain, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu” jawab seorang anak muda yang gemuk.

Namun tiba-tiba seseorang diantara mereka berkata, “Aku pernah melihatnya”

“Dimana?” bertanya yang lain.

Orang itu merenung. Kemudian katanya, “Aku hanya bertemu saja di jalan. Agaknya orang itu berada di lingkungan pengikut Ki Sendawa”

“Nah, bukankah dugaanku benar?” teriak anak muda yang berambut kerinting, “orang itu telah melihat kelemahan kita. Hanya karena ia tidak dapat mengelak saja maka ia justru datang kepada kita”

“Lalu, apa artinya niat yang dikatakannya untuk menemui menantu Ki Buyut itu” bertanya seorang yang sudah separuh baya.

“Satu cara untuk melepaskan diri. Ia yakin, bahwa Sanggarana akan melepaskan jika ia sedikit saja mengutarakan satu alasan” sahut seorang anak muda bertubuh gemuk.

“Apa yang sebaiknya kita lakukan?” teriak anak muda yang berambut kerinting.

“Kita menangkapnya dan mengikatnya di halaman” teriak yang lain.

“Ya. Orang itu kita tangkap dan kita jadikan pengewan-ewan. Orang itu tentu pengikut Sendawa” yang lain lagi berteriak.

Murid Ki Sarpa Kuning menjadi termangu-mangu. Ia tidak ingin terjadi salah paham. Apalagi ia tidak mempunyai waktu yang cukup lama. Ia harus segera kembali. Jika Ki Sarpa Kuning mengetahui apa yang dilakukannya, artinya mati tanpa dapat membela diri lagi.

Dalam pada itu, selagi di regol terjadi keributan, maka suara itu telah terdengar dari pendapa. Karena itu, maka menantu Ki Buyut yang sedang duduk bersama Ki Waruju itu pun kemudian tertarik juga kepada keributan itu. Tetapi agaknya mereka telah terlambat.

Anak-anak muda yang berdarah panas itu, tidak lagi dapat menahan diri. Kebencian mereka kepada Ki Sendawa, kejemuan mereka terhadap keadaan yang tidak menentu, serta kekecewaan mereka terhadap sikap menantu Ki Buyut, telah membuat mereka cepat mengambil sikap menurut selera mereka sendiri.

Demikianlah, anak-anak muda itu berniat untuk menangkap murid Ki Sarpa Kuning itu. Baru dikeesokan harinya mereka akan meyakinkan, siapakah orang itu sebenarnya”

“Jika orang itu benar-benar jujur, maka ia tentu tidak akan berkeberatan untuk kami tangkap dan menunggu sampai esok pagi” berkata seorang anak muda.

Murid Ki Sarpa Kuning itu benar-benar menjadi gelisah. Ia tidak mau menjadi korban seandainya Ki Sarpa Kuning mengetahuinya. Jika ia harus menunggu sampai esok, itu berarti bahwa Ki Sarpa Kuning akan mendengar apa yang telah terjadi itu.

Namun dalam pada itu, agaknya anak-anak muda itu tidak lagi dapat diajak berbicara. Mereka telah mengambil satu sikap. Bahkan mereka tidak mau lagi mendengarkan pendapat kawan-kawan mereka sendiri yang lebih tua dan berpikir lebih bening.

“Dengar” tiba-tiba murid Ki Sarpa Kuning itu berteriak, “aku tidak berkeberatan menunggu sampai kapanpun. Tetapi aku harus dapat bertemu dengan Ki Sanggarana sekarang, sebelum kalian semuanya menjadi korban yang tidak berarti”

“Omong kosong” teriak anak-anak muda itu.

“Apa yang dapat mengancam kami?” bertanya seseorang.

Tetapi murid Ki Sarpa Kuning itu ragu-ragu untuk mengadakan dihadapan orang banyak.

“Jika kau tidak mengatakannya, maka kau tidak akan mendapat kesempatan apa pun juga” berkata anak muda yang berambut keriting.

Setelah ragu-ragu sebentar, maka murid Ki Sarpa Kuning itu pun akhirnya menjawab, “Baiklah. Beri kesempatan aku mengatakan sesuatu yang gawat dalam hubungan Ki Sanggarana dengan Ki Sendawa”

“Jadi kau utusan Ki Sendawa” tiba-tiba saja seseorang berteriak.

“Bukan, sama sekali bukan” jawab murid Ki Sarpa Kuning yang mengaku bersama Rampon itu.

“Omong kosong” yang lain berteriak, “tangkap saja. Kita tidak usah terlalu baik hati kepada orang-orang Ki Sendawa”

Keadaan memang tidak menguntungkan bagi murid Ki Sarpa Kuning itu. Ada sedikit penyesalan di dalam hatinya, bahwa ia telah memenuhi permintaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun ia harus mengambil sikap.

Demikian anak-anak muda itu benar-benar akan menangkapnya, maka tidak ada lain sikap yang dapat diambilnya, kecuali melawan. Perlawanannya itulah yang membuat anak-anak muda itu semakin yakin, bahwa orang itu memang berniat buruk.

Pada saat orang itu sudah terlibat ke dalam satu benturan kekerasan, barulah Ki Sanggarana dan Ki Waruju sampai ke regol halaman.

Namun dalam pada itu, perlawanan orang itu benar-benar mengejutkan. Ketika anak-anak muda itu berusaha menangkapnya, maka perlawanan orang itu telah melemparkan beberapa orang anak muda keluar lingkaran, justru pada langkah-langkah permulaan.

“Sudah aku katakan” berkata orang itu, “aku tidak ingin mencari persoalan. Tetapi kalian tidak mempercayainya. Karena itu, apaboleh buat bahwa aku harus memberikan perlawanan”

Dalam pada itu, anak-anak muda yang ada di regol itu pun menjadi semakin marah. Beberapa orang bersama-sama menyerang murid Ki Sarpa Kuning itu.

Namun anak-anak muda Kabuyutan Talang Amba bukannya anak-anak muda yang memiliki kemampuan yang dapat diperbandingkan dengan kemampuan murid Ki Sarpa Kuning. Karena itu, maka dalam saat-saat berikutnya, mereka pun menjadi semakin berdebar-debar melihat perlawanan orang yang menyebut dirinya bernama Rampon itu.

Dalam pada itu, menantu Ki Buyut yang melihat peristiwa itu telah meloncat mendekat untuk berusaha melerainya. Namun Ki Waruju menangkap lengannya sambil berkata, “Biarkan saja”

“Mereka berkelahi” desis menantu Ki Buyut.

“Tidak akan terjadi apa-apa. Biarlah mereka saling berkenalan sebentar. Aku mengenal orang itu” jawab Ki Waruju.

Menantu Ki Buyut menjadi semakin gelisah. Namun Ki Waruju yang nampaknya sama sekali tidak menjadi cemas, justru melangkah maju sambil berkata lantang, “Bagus. Satu latihan yang baik bagi kedua belah pihak”

Beberapa orang berpaling kepadanya Murid Ki Sarpa Kuning itu juga.

Murid Ki Sarpa Kuning itu menarik nafas dalam-dalam. Kehadiran Ki Waruju memberikan ketenangan kepadanya. Nampaknya Ki Waruju tetap mengenalnya dan bahkan murid Ki Sarpa Kuning itu pun rasa-rasanya dapat menangkap maksud Ki Waruju.

Sebenarnyalah Ki Waruju pun berkata kepada anak anak muda Talang Amba, “Perhatikan anak-anak muda. Demikianlah caranya seseorang berkelahi dengan mempergunakan ilmu kanuragan. Bukan sekedar mempergunakan kekuatan yang terasa sudah ada di dalam diri tanpa diungkapkan dengan baik dan teratur”

Sikap Ki Waruju itu ternyata telah mendorong murid Ki Sarpa Kuning untuk bertempur lebih keras. Rasa-rasanya ia menangkap maksud Ki Waruju untuk menunjukkan kekerasan dunia kanuragan.

Dengan demikian maka murid Ki Sarpa Kuning yang menyebut dirinya Rampon itu pun justru telah meningkatkan kemampuannya. Ia mulai menunjukkan kepada anak-anak muda Talang Amba, bahwa mereka belum mengenal arti kekerasan yang sebenarnya.

Demikianlah, maka anak-anak muda Talang Amba itu menjadi sangat terkejut melihat tata gerak murid Ki Sarpa Kuning itu. Dengan tangkasnya ia berloncatan. Sekali menyerang orang yang berada di depannya, sejenak kemudian tubuhnya berputar melingkar bertumpu kepada satu kakinya. Sedangkan kakinya yang lain menyambar seorang kawannya dan terlempar jatuh keluar arena.

Dengan demikian, maka anak-anak muda Talang Amba itu pun mulai menjadi cemas. Satu-satu mereka mulai disakiti oleh lawannya.

Tetapi ternyata anak-anak muda Talang Amba itu bukan anak-anak muda yang berhati kerdil. Meskipun mereka menjadi berdebar-debar dan mengalami kesulitan yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, ternyata pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang berkeyakinan. Setiap unsur yang mereka nilai sebagai pembantu atau orang yang berpihak kepada Ki Sendawa, maka mereka adalah musuh-musuh yang harus dilawan.

Namun kemudian mereka tidak dapat ingkar dari satu kenyataan. Satu-satu anak-anak muda yang ada di regol itu tidak lagi mampu berbuat apa-apa lagi. Tenaga mereka terperas dan perasaan sakit menyengat-nyengat. Sentuhan tangan orang yang menyebut dirinya bernama Rampon itu bagi anak-anak muda Talang Amba bagaikan sambaran besi baja.

Ki Waruju menyaksikan perkelahian itu dengan saksama. Ia justru mendapat kesempatan untuk melihat apa yang dapat dilakukan oleh anak-anak muda Talang Amba apabila benar-benar akan terjadi kekerasan diantara dua golongan yang ada di Talang Amba.

Dalam pada itu, selagi Ki Waruju mengangguk-angguk di saat-saat ia menilai perkelahian itu, Ki Sanggarana merasa sangat cemas. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Ki Sanak. Bagaimana dengan anak-anak itu? Apakah mereka akan dihancurkan oleh orang asing yang tidak kita kenal itu?”

“Tidak apa-apa. Orang itu tidak akan berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakai anak-anak muda Talang Amba” jawab Ki Waruju.

“Mereka telah mengalami. Beberapa orang terlempar dari arena dan tidak dapat bangkit lagi” jawab menantu Ki Buyut itu.

“Satu latihan yang baik. Aku yakin bahwa tidak akan terjadi sesuatu. Aku mengenal orang itu. Orang itu sama sekali bukan orang asing” jawab Ki Waruju.

Menantu Ki Buyut itu tidak mengerti sikap Ki Waruju. Namun nampaknya Ki Waruju sama sekali tidak menjadi cemas melihat keadaan.

Tetapi yang terjadi ternyata diluar perhitungan.. Tiba-tiba saja salah seorang anak muda telah berlari ke serambi gandok.

Sebelum Ki Waruju dapat berbuat sesuatu, anak muda itu sudah menggapai pemukul kentongan.

Tetapi Ki Waruju tidak ingin membuat seluruh Kabuyutan menjadi kisruh. Jika kentongan itu sempat ditabuh dalam nada titir maka seisi Kabuyutan tentu akan menjadi gelisah. Bahkan mungkin akan dapat mempercepat benturan antara para pengikut Ki Sendawa dan para pengikut menantu Ki Buyut itu.

Karena itu, tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan oleh Ki Waruju selain mempergunakan kemampuannya.

Untunglah bahwa dalam pada itu, perhatian sebagian besar orang-orang yang ada di regol, termasuk Ki Sanggarana sendiri tertuju kepada seorang anak muda yang berteriak kesakitan karena kaki murid Ki Sarpa Kuning itu mengenai perutnya. Pada saat yang demikian itulah, maka Ki Waruju sempat meraih sebutir batu kerikil. Dengan dorongan kemampuannya maka Ki Waruju telah melontarkan kerikil itu dengan jari-jarinya.

Akibatnya adalah mengejutkan sekali. Ternyata daya tahan anak muda yang menggapai pemukul kentongan itu terlalu ringkih dibandingkan dengan kekuatan yang mendorong batu kerikil yang mengenai tubuhnya.

Karena itu, ketika punggungnya tersentuh batu kerikil itu, anak muda itu pun telah berteriak nyaring. Sejenak kemudian tubuhnya terhuyung-huyung dan jatuh terjerembab sebelum tangannya sempat terayun dan menyentuh kentongan yang tergantung di serambi itu.

Teriakan anak muda itu memang sangat mengejutkan. Semua orang yang berada di regol telah berpaling kepadanya. Beberapa orang telah berlari-lari mendekatinya.

Dalam kekalutan itn, maka Seolah-olah telah terdengar aba-aba untuk menghentikan perkelahian. Anak-anak muda Talang Amba yang mulai menjadi gentar melihat sikap dan tata gerak Rampon tidak lagi memaksa diri untuk bertempur. Apalagi setelah terjadi peristiwa yang mengejutkan di serambi gandok itu.

Ki Waruju ternyata cepat menanggapi keadaan. Dalam keragu-raguan yang mencengkam ia berkata lantang, “Kita hentikan perkelahian. Marilah, kita akan naik ke pendapa. Aku akan mengatakan sesuatu yang penting bagi kalian”

Namun dalam pada itu, seseorang bertanya, “Bagaimana dengan anak yang pingsan itu?”

“Bawa anak itu ke pendapa” jawab Ki Waruju.

“Tetapi kenapa tiba-tiba saja ia menjadi pingsan?” bertanya yang lain.

“Aku kurang tahu. Nanti kita akan bertanya kepadanya setelah ia sadar” jawab Ki Waruju pula.

Untuk sesaat orang-orang yang ada dihalaman dan diregol menjadi termangu-mangu. Namun Ki Waruju pun kemudian berkata kepada Ki Sanggarana, “Marilah. Kita akan berbicara”

Menantu Ki Buyut itu memandangi orang-orang yang ada di sekitarnya. Namun kemudian tatapan matanya telah terhenti pada orang yang menyebut dirinya bernama Rampon itu.

Ki Waruju seolah-olah dapat menangkap perasaan menantu Ki Buyut itu. Karena itu, maka katanya kepada orang yang menyebut dirinya bernama Rampon itu, “Marilah Ki Sanak. Kita akan berbicara di pendapa”

Murid Ki Sarpa Kuning itu menjadi ragu-ragu. Meskipun ia mempercayai Ki Waruju, namun ia digelisahkan oleh waktu yang semakin mendesak.

Karena itu, maka katanya, “Ki Waruju. Aku tidak mempunyai waktu terlalu banyak”

“Baiklah” berkata Ki Waruju, “jika demikian, apakah kau akan mengatakan sesuatu sekarang atau kau memerlukan hubungan khusus dan tersendiri?”

“Tidak. Aku akan dapat mengatakannya sekarang” jawab murid Ki Sarpa Kuning.

“Jika demikian, katakanlah” sahut Ki Waruju. Murid Ki Sarpa Kuning itu menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya ia bergeser mendekat.Katanya, “Ki Waruju. Sebenarnya kedatanganku ini membawa berita yang barangkali penting bagi Ki Sanggarana. Tetapi aku tidak mendapat kesempatan untuk menemuinya karena aku tertahan di regol. Sementara itu, aku tidak dapat menyampaikan pesan itu lewat orang lain, karena selain pesan itu mungkin tidak dipercaya, ada pula kemungkinan pesan itu diabaikan tidak sampai pada saatnya”

“Apakah kau dapat mengatakan pesan itu sekarang?” bertanya Ki Waruju.

Murid Ki Sarpa Kuning yang menyebut dirinya bernama Rampon itu memandang beberapa orang disekitarnya. Namun kemudian katanya, “Ki Sanggarana. Pesan itu sangat penting bagi Kabuyutan Talang Amba, karena akan menyangkut pertumbuhan Kabuyutan ini untuk selanjutnya”

Menantu Ki Buyut itu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, murid Ki Sarpa Kuning itu melanjutkan, “Hari ini telah diambil keputusan oleh Ki Sendawa, bahwa Ki Sanggarana dianggap bersalah telah melakukan tindakan yang tercela terhadap Ki Sendawa. Ki Sanggarana telah melakukan semacam tenung yang mengakibatkan kegelisahan di dalam lingkungan keluarga Ki Sendawa. Untuk mencegah kemungkinan yang lebih buruk maka Ki Sendawa mengambil keputusan, akan menangkap Ki Sanggarana untuk diadili”

“Apa yang sudah aku lakukan?”Ki Sanggarana itu menjadi heran.

“Tenung” jawab Rampon, “semua yang berpihak kepada Ki Sanggarana telah melakukannya dengan membuat api semalam suntuk dan telah melontarkan semacam senjata tajam ke dalam lingkungan keluarga Ki Sendawa”

“Tidak” bantah Ki Sanggarana.

Namun Ki Waruju lah yang memotong, “Kenapa dengan senjata tajam itu?”

“Ki Waruju” berkata murid Ki Sarpa Kuning itu kemudian, “ternyata akibat dari permainan dengan cumplung dan ujung tombak itu berakibat sebaliknya. Ki Sendawa tidak menjadi cemas dan mengurungkan atau menunda niatnya, tetapi justru ia akan mengambil tindakan secepatnya”

“Apa yang akan dilakukan?” bertanya Ki Waruju.

“Sudah aku katakan. Ki Sendawa akan menangkap Ki Sanggarana” jawab orang itu.

Wajah Ki Waruju menjadi tegang. Sesaat dipandanginya Ki Sanggarana yang menjadi cemas pula.

Sementara itu, murid Ki Sarpa Kuning itu pun berkata perlahan-lahan, “Ki Waruju, seperti yang sudah aku katakan, aku tidak mempunyai waktu banyak. Aku harus segera kembali sebelum Ki Sarpa Kuning mengetahui apa yang aku lakukan sekarang ini. Sementara itu, aku ingin menjelaskan sikapku, bahwa aku telah melawan ketika aku hendak ditangkap. Jika aku membiarkan diriku ditangkap dan baru dikeesokan harinya aku dipertemukan dengan Ki Sanggarana, mungkin semuanya sudah terlambat. Selebihnya, maka nyawaku pun akan terancam karena Ki Sarpa Kuning mengetahui bahwa aku telah berkhianat kepadanya”

Ki Waruju mengangguk-angguk. Kemudian katanya kepada menantu Ki Buyut, “Ki Sanggarana. Orang ini tidak akan dapat lebih lama tinggal. Biarlah ia kembali agar ia tidak mengalami nasib yang sangat buruk. Aku akan dapat menjelaskan semuanya yang telah terjadi dan yang akan terjadi”

Menantu Ki Buyut itu masih bimbang menanggapi keadaan. Namun sementara itu, murid Ki Sarpa Kuning itu pun berkata, “Aku minta maaf, atas semuanya yang terjadi. Mungkin aku telah menyakiti beberapa orang di antara anak-anak muda Kabuyutan ini”

“Tidak apa-apa” Ki Warujulah yang menyahut, “kau justru sudah memperkenalkan anak-anak muda itu dengan kerasnya benturan olah kanuragan. Apalagi apabila anak-anak muda itu membentur langsung kekuatan olah kanuragan yang sebenarnya”

Murid Ki Sarpa Kuning itu menarik nafas dalam-dalam, sementara Ki Waruju berkata, “Marilah Ki Sanggarana. Kita akan membicarakan persoalan ini di pendapa. Biarlah orang ini kembali ketempatnya, agar ia tidak mengalami kesulitan di lingkungannya nanti”

Ki Sanggarana yang masih bimbang itu hanya mengangguk saja. Namun dalam pada itu murid Ki Sarpa Kuning itu pun berkata, “Mudah-mudahan tidak semua pembicaraan ini ditangkap oleh anak-anak muda disekitar kita. Terutama agar mereka tidak mengetahui bahwa aku adalah murid Ki Sarpa Kuning”

Murid Ki Sarpa Kuning yang mengaku bernama Rampon itu termenung sejenak. Beberapa orang memang memperhatikan pembicaraan mereka. Tetapi agaknya mereka memang tidak akan dapat mengetahui seluruh isi pembicaraan, terutama tentang keadaan murid Ki Sarpa Kuning itu sendiri.

Dalam pada itu, maka murid Ki Sarpa Kuning itu pun kemudian berkata, “Aku akan minta diri. Lakukan apa yang dapat dilakukan. Besok Ki Sendawa akan datang bersama Ki Sarpa Kuning dengan murid-muridnya, termasuk kedua orang anak muda itu”

Ki Waruju memandangi Ki Sanggarana yang menjadi cemas. Namun kemudian katanya, “Jangan cemas. Kita akan dapat melakukan banyak usaha untuk mencegahnya.

“Tetapi paman Sendawa akan membawa sekelompok orang-orang dari luar lingkungan Kabuyutan ini. Mereka tentu akan membantai orang-orang yang tidak bersalah, jika besok aku mencoba bertahan” berkata menantu Ki Buyut, “karena itu, biarlah besok aku menyerah. Apa saja yang akan dilakukan oleh paman Sendawa. Namun dengan demikian, korban tidak akan berjatuhan”

“Jadi, kau akan menyerah?” bertanya Ki Waruju dengan jantung yang tegang.

“Apaboleh buat. Aku tidak boleh mengorbankan kawan-kawanku untuk keselamatanku. Orang-orang asing itu akan dengan mudah membantai anak-anak muda Kabuyutan ini tanpa dapat melawan. Satu contoh yang tidak dapat diragukan, saat ini mereka tidak dapat berbuat apa-apa hanya karena satu orang. Apalagi jika yang datang besok lebih dari satu orang, dan gurunya ada pula diantara mereka”

“Tetapi jangan cepat berputus asa. Kau harus berusaha” berkata Ki Waruju, “lihat anak-anak muda kawan-kawanmu. Kau kira jika kau menyerah, persoalannya akan sudah selesai? Kau kira jika kau digantung oleh Ki Sendawa dengan tuduhan tenung, persoalannya sudah teratasi? Tidak. Jika kau kali ini menolak jatuhnya korban, katakan sepuluh dua puluh orang anak muda, dan selanjutnya kau menyerah, maka setelah kau digantung, korban akan tetap berjatuhan. Tidak hanya sepuluh atau pemerintahan Ki Sendawa, akan jatuh korban yang tidak terhitung banyaknya. Orang-orang yang akan digantung dan dengan cara-cara yang lain akan menemui kematian mereka yang menyedihkan sekali. Nah, apakah kira-kira yang akan mereka katakan menjelang ajal mereka? Mereka akan mengumpatimu, karena kau besok telah menyerah dan sama sekali tidak berjuang untuk merebut kedudukan itu. Bukan karena satu keinginan untuk berkuasa, tetapi dengan menggenggam kekuasaan itu, kau akan dapat mengendalikan kekuasaan itu sendiri”

Kata-kata Ki Waruju itu ternyata mampu menyentuh hati menantu Ki Buyut itu. Namun ia masih tetap ragu-ragu untuk menerimanya.

Dalam pada itu, murid Ki Sarpa Kuning itu pun berkata, “Baiklah. Apa pun yang akan kalian lakukan, lakukanlah. Aku akan segera kembali agar aku tidak mengalami nasib lebih buruk dari anak-anak muda Kabuyutan ini”

Ki Waruju tidak mencegahnya. Murid Ki Sarpa Kuning itu pun kemudian meninggalkan halaman rumah Ki Sanggarana, kembali ke padukuhan tempat Ki Sendawa tinggal.

Sepeninggal murid Ki Sarpa Kuning, beberapa orang anak muda berusaha mendapatkan penjelasan. Namun Ki Waruju pun kemudian berkata, “Jangan sebut, bahwa seseorang telah datang untuk memberitahukan tentang rencana itu. Kalian harus mengerti, orang itu berusaha menolong Ki Sanggarana. Apa pun tanggapan kita atas usaha baiknya, kita harus mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Siapakah orang itu?” bertanya seseorang.

“Untuk sementara kita tidak usah menyebutnya. Mungkin ada satu dua orang yang mendengar pembicaraan kami dengan orang itu. Tetapi sekali lagi aku minta, jangan sebut kedatangannya kepada siapa pun juga. Ia sudah berusaha menolong kita, sehingga sewajarnya kita membalas budinya. Bukan justru menjerumuskannya ke alam kesulitan. Bahkan mungkin akan mengancam jiwanya” berkata Ki Waruju pula.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Meskipun mereka tidak pasti apa yang dimaksud Ki Waruju, tetapi mereka mengerti, bahwa mereka tidak boleh berbicara dengan siapa saja tentang orang itu.

Dalam pada itu, Ki Waruju pun sekali lagi bertanya kepada menantu Ki Buyut, “Bagaimana keputusanmu? Kabuyutan Talang Amba ini sebagian terbesar tergantung kepada keputusanmu kali ini. Jika kau salah mengambil keputusan, maka akibatnya akan sangat parah bagi orang-orang Kabuyutan ini. Sedangkan tanggung jawab kesalahan itu ada di tanganmu”

“Kau menyudutkan aku” berkata Ki Sanggarana.

“Sama sekali tidak” jawab Ki Waruju, “semuanya terserah kepadamu. Aku memberikan pendapatku. Bagaimana jika kau bertanya kepada anak-anak muda itu, apakah mereka akan menyerahkan kau ditangkap dan diadili oleh Ki Sendawa. Kau dapat membayangkan, bahwa benturan kekerasan yang ingin kau hindari itu akan tetap terjadi. Bahkan akan dapat berakibat jauh lebih buruk jika kau sudah tidak ada diantara mereka. Dendam dan kebencian akan paling banyak berbicara daripada tujuan yang semula. Dengan demikian, maka Kabuyutan ini akan menjadi ajang pembalasan dendam turun tumurun tidak ada henti-hentinya.

Dendam anak akan terlimpahkan kepada cucu-cucu lawannya, sementara cucu-cucu lawannya akan mendendam cicit-cicit dipihak pertama”

Menantu Ki Buyut itu merenung sejenak. Sementara mereka sudah tidak mempunyai waktu cukup banyak.

Karena itu, maka halaman rumah Ki Sanggarana itu menjadi tegang. Sementara itu, isteri Ki Sanggarana, anak perempuan Ki Buyut Talang Amba yang sudah tidak ada lagi mendengar hiruk pikuk di halaman. Tetapi ia tidak berani keluar rumahnya. Karena itu, maka dengan jantung yang berdebaran ia menunggu.

Tetapi Ki Sanggarana tidak seagera masuk ke ruang dalam. Karena itu, ketika keadaan sudah menjadi tenang, dan rasa-rasanya tidak lagi terjadi keributan, maka isteri Ki Sanggarana itu berusaha untuk dapat mengetahui keadaan di halaman. Tetapi ia tidak langsung keluar lewat pintu pringgitan dan menemui suaminya di pendapa. Tetapi ia telah keluar lewat pintu butulan dan turun ke longkangan.

Ketika ia melihat seseorang di longkangan, maka orang itu pun telah dipanggilnya.

“Apa yang terjadi di halaman?” bertanya isteri Ki Sanggarana kepada orang itu.

“Tidak begitu jelas Nyai. Tetapi nampaknya semuanya sudah selesai” jawab orang itu.

“Bagaimana dengan Ki Sanggarana?” bertanya perempuan itu pula.

“Tidak apa-apa. Ia tidak mengalami sesuatu” jawab orang itu, “sekarang ia pergi ke pendapa untuk merawat seorang yang pingsan”

“Kenapa?” bertanya isteri Ki Sanggarana pula. “Aku tidak tahu Nyai” jawab orang itu.

Anak perempuan Ki Buyut itu termangu-mangu. Tetapi ia tahu pasti bahwa tidak terjadi sesuatu dengan suaminya.

Dalam pada itu, orang-orang yang berada di halaman sudah naik ke pendapa. Mereka menekuni peristiwa yang baru saja terjadi. Sementara Ki Waruju masih saja mendesak, “Cepatlah ambil keputusan Ki Sanggarana. Malam menjadi semakin larut”

Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah-wajah di sekitarnya. Rasa-rasanya semua orang memang sedang memandanginya.

Dalam pada itu, selagi orang-orang yang duduk di pendapa itu mengalami ketegangan karena sikap Ki Waruju, maka murid Ki Sarpa Kuning itu dengan tergesa-gesa telah kembali kerumah Ki Sendawa. Ketika ia sampai ke regol, maka ia pun menjadi ragu-ragu.

“Aku sudah pergi terlalu lama” berkata orang itu di dalam hatinya.

Karena itu, agar tidak seorang pun yang dapat mengetahui jarak waktu yang dipergunakannya, maka orang itu pun telah mengambil jalan lain. Dengan tangkasnya ia telah meloncati dinding halaman. Kemudian diam-diam ia telah pergi ke serambi gandok dan langsung berbaring diamben bambu digandok itu.

“Aku akan tidur disini saja” berkata orang, itu didalam hati. Dengan demikian ia berharap, bahwa tidak seorang pun yang akan dapat menyebutnya, bahwa ia telah berada diluar lingkungan halaman rumah itu terlalu lama.

“Jika seseorang bertanya, bagaimana aku masuk, maka aku akan dapat mengatakan, bahwa anak-anak yang ada di regol itu telah tertidur pada saat aku datang” berkata orang itu kepada diri sendiri. Lalu, “asal aku mengatakannya dengan pasti, kedua orang penjaga itu tentu akan ragu-ragu tentang diri mereka sendiri, sementara beberapa orang di gardu itu nampaknya benar-benar telah tertidur. Besok mereka akan melakukan tugas yang besar, sehingga mereka perlu beristirahat”

Sebenarnyalah, sebelum dini hari, seseorang telah keluar dari gandok. Dengan gelisah orang itu mengamati halaman. Sementara murid Ki Sarpa Kuning yang berada di serambi itu benar-benar telah tertidur.

Tarikan nafasnya telah terdengar oleh orang yang berdiri dipintu itu. Sambil mengumpat orang itu mendekati murid Ki Sarpa Kuning yang tidur nyenyak itu.

“Orang gila” geram orang yang mendekati itu, “aku kira ia melarikan diri”

Orang itu tidak menghiraukannya lagi. Tetapi ia pun kemudian turun kehalaman dan pergi ke pakiwan.

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...