Sabtu, 19 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 008-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 008-03*

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat nwngangguk-angguk Ia sudah dapat menangkap keterangan pemilik kedai itu. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Dengan demikian, maka ada beberapa pihak yang ingin menggantikannya. Tetapi apakah Ki Buyut tidak mempunyai anak perempuan yang kemudian kawin dengan seseorang?”

“Ya” jawab pemilik kedai itu, “ada seorang anak perempuan Ki Buyut yang sudah kawin dan mempunyai dua orang anak laki-laki”

“Bukankah salah seorang cucunya itulah yang tidak akan dapat mewarisi kedudukannya?” bertanya Mahisa Pukat.

Tetapi pemilik kedai itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Seorang saudara sepupu Ki Buyut merasa dirinya berhak untuk menggantikan kedudukan itu. Karena itu, maka ia pun mulai berusaha untuk menguasai orang-orang padukuhan padukuhan di seluruh Kabuyutan ini”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia bertanya “Apakah orang-orang padukuhan menerimanya?”

“Sebenarnya tidak” jawab pemilik kedai itu, “tetapi menantu Ki Buyut kurang memiliki keberanian untuk melawannya. Apalagi karena saudara sepupu Ki Buyut yang menginginkan kedudukannya itu berhubungan dengan orang dari luar Kabuyutan ini”

“Itulan sebabnya kalian memerlukan pedang?” bertanya Mahisa Murti.

“Kami menganggap bahwa yang paling berhak atas ke dudukan Ki Buyut adalah cucunya yang sulung. Sementara ia belum dapat melakukan tugasnya, ayahnyalah yang akan memangkunya. Karena itu, maka kita merasa perlu untuk mempersiapkan diri. Meskipun nampaknya tidak ada kegelisahan dan tidak ada ketegangan, namun sebenarnyalah kami telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ada dua padukuhan yang dapat dipengaruhi oleh saudara sepupu Ki Buyut. Tetapi tujuh padukuhan yang lain, mutlak berpihak kepada menantu Ki Buyut, yang sayangnya agak lemah hati. Sedang ada dua lagi padukuhan yang nampaknya ragu-ragu” jawab pemilik kedai itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka mulai dapat membayangkan, apa yang sebenarnya telah terjadi di Kabuyutan itu. Kabuyutan yang nampaknya tenang itu ternyata menyimpan gejolak yang setiap saat akan dapat meledak.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun telah melemparkan sekeping yang lagi sambil bertanya, “Kau sebut bahwa saudara sepupu Ki Buyut berhubungan dengan orang luar. Apakah kau tahu, siapakah orang itu?”

Pemilik kedai itu menelan ludahnya. Sambil memandangi uang yang sekeping itu ia merenung, Ia tidak terlalu banyak mendapat laba dari barang-barang dagangannya. Uang yang sekeping itu akan sangat berarti baginya.

Dalam keragu-raguan itu terdengar Mahisa Murti berdesis, “Apakah kau memerlukan satu lagi? Atau tidak sama sekali?”’

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Anak muda. Kalian telah mendorong aku ke tepi jurang yang terjal. Uang itu sangat berarti bagiku. Tetapi keteranganku akan dapat menjerat leherku. Apalagi jika kalian berdua termasuk orang-orang yang justru telah dihubungi oleh saudara sepupu Ki Buyut itu”

“Ki Sanak. Aku orang asing disini. Aku hanya ingin tahu. Kau tidak usah mencurigai aku. Meskipun mungkin kau bertanya dari mana aku mendapatkan yang sebanyak ini. Karena itu, maka aku tidak mempunyai persoalan apapun dengan kalian, dengan padukuhan ini, kecuali sekedar ingin tahu” jawab Mahisa Murti.

Orang itu masih termangu mangu. Namun akhirnya ia berkata, “Sebenarnya tidak ada orang yang tahu dengan pasti. Tetapi menurut desas-desus yang sempat sampai ke telinga kami, bahwa orang orang itu akan membantu saudara sepupu Ki Buyut, tetapi dengan imbalan yang mereka tentukan sendiri”

“Imbalan apa? Uang, sawah atau sebagian dari Kabuyutan ini akan mereka pergunakan sebagai padepokan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Tidak. Bukan itu. Tetapi mereka minta untuk menguasai bukit dan lereng pegunungan yang menjadi daerah Kabuyutan ini” jawab pemilik kedai itu.

“Bukit dan lereng pegunungan?” Bertanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Ya” jawab orang itu, “mereka memerlukan kayu yang jumlahnya sangat banyak. Mereka akan mengambilnya dari bukit dan pegunungan itu”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun keduanya pun kemudian mengangguk-angguk. Dengan suara dalam Mahisa Murti berdesis, “’Kita bertemu lagi dengan persoalan itu”

“Ya. Bukankah memang kita kehendaki” jawab Mahisa Pukat.

Pemilik kedai itu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu bertanya, “Apa yang kalian maksud?”

“Tidak apa-apa” jawab Mahisa Murti, “kami hanya berdesah, bahwa di dalam pengembaraan kami, selalu saja kami jumpai pertengkaran dan permusuhan. Sebenarnya aku ingin melihat kehidupan yang tenang damai sehingga pengembaraan kami akan dapat memberikan arti bagi kehidupan kami kelak”

Pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi bukankah kalian tidak terlibat dalam persoalan ini”

“Tentu tidak. Tetapi kalian akan mengalami malapetaka dengan permusuhan ini. Pande-pande besi tidak lagi sempat mencari makan karena mereka terpaksa membuat senjata” berkata Mahisa Murti.

“Apaboleh buat” jawab pemilik kedai itu, “tetapi kami tidak bermaksud bermusuhan. Masih akan dicoba dengan segala cara untuk menyelesaikan persoalan ini dengan baik, sebagaimana penyelesaian yang wajar bagi keluarga”

“Bagus” desis Mahisa Pukat, “semua warga Kabuyutan ini harus berusaha. Termasuk saudara sepupu Ki Buyut itu”

Pemilik kedai itu menarik nafas dalam-dalam. Namun percakapan itu terhenti ketika ada dua orang memasuki kedai itu. Dua orang yang belum dikenal oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun yang agaknya sudah dikenal oleh pemilik kedai itu.

Dengan tergesa-gesa pemilik kedai itu menyongsong mereka. Dengan hormatnya ia mempersilahkan tamunya, untuk memasuki kedai itu”

“Hem” desis orang itu, “sepi sekali kedaimu hari ini?”, “Ya, Ki Sanak” jawab pemilik kedai itu, “hampir tidak ada orang yang singgah kecuali dua orang anak muda pengembara ini”

Orang itu mengangguk-angguk. Dipandanginya isi kedai itu dengan sapuan matanya. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Masih saja kau berusaha untuk mengelabui kami. Bukankah kami tidak bermaksud apa-apa? Aku lihat barang-barang daganganmu hampir habis. Aku lihat bungkus meniran dan nagasari berserakan. Aku lihat kulit pisang dan pincuk-pincuk di sudut kedaimu itu”

Wajah pemilik kedai itu menjadi pucat. Namun ia masih menjawab, “Maksudku, hari ini tidak begitu banyak seperti hari-hari pasaran yang lewat”

Orang itu tertawa. Lalu katanya, “Beri kami minuman panas. Apakah kau mempunyai daun cengkeh?”

“Ada, ada Ki Sanak. Kami mempunyai daun cengkeh” jawab pemilik kedai itu dengan serta merta, “apakah Ki Sanak akan minum wedang cengkeh?”

Beri kami dua mangkuk. Celup sama sekali gula kelapa. Jangan kurang manis” berkata orang itu.

Pemilik kedai itu dengan tergesa-gesa telah menyiapkan pesanan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandangi kedua orang itu dengan termangu-mangu. Namun agaknya orang itu sama sekali tidak menghiraukan mereka. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjadi gelisah pula. Mereka menghabiskan makanan dan minuman mereka. Baru kemudian, kedua anak muda itu pun telah minta diri.

Tetapi keduanya terkejut, ketika pemilik kedai itu berlari-lari mengejarnya sambil berteriak, “He, anak muda. Ada yang belum kalian bayar”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terhenti. Jarak mereka belum begitu jauh dari kedai yang telah mereka tinggalkan. Sementara dua orang yang ada di dalam kedai itu sama sekali tidak menghiraukannya.

“Apa yang kurang?” berkata Mahisa Murti.

“Kau belum menghitung makanan yang kau buang” berkata pemilik kedai itu.

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia berkata sesuatu, pemilik kedai itu berdesis, “Tidak ada yang kurang. Tetapi aku hanya ingin memberitahukan, bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang berbahaya. Mungkin, tetapi belum pasti, bahwa saudara sepupu Ki Buyut berhubungan dengan orang-orang itu”

“Kau pernah mengalami perlakuan buruk?” bertanya Mahisa Pukat.

“Tidak. Tetapi sikapnya membuat hatiku kecut” berkata pemilik kedai itu. Lalu, “Nah, sekarang beri aku uang seberapa saja, agar orang itu tidak menjadi curiga”

Mahisa Murti pun kemudian mengambil sekeping uang lagi dan diberikannya kepada pemilik kedai itu.

“Bukan maksudku untuk memerasmu anak muda” berkata pemilik kedai itu.

“Aku mengerti maksudmu. Terima kasih. Uang itu untukmu” jawab Mahisa Murti.

Pemilik kedai itu pun kemudian melangkah kembali ke kedainya sambil mengumpat-umpat. Ketika ia berdiri di muka pintu, ia berpaling sambil mengacungkan kepalan tangannya. Katanya lantang, “Kalian masih muda sudah mencoba untuk menipu”

Namun wajah pemilik kedai itu menjadi tegang ketika salah seorang dari kedua orang yang ada di dalam kedainya itu tertawa. Katanya, “Kenapa anak itu?”

“Ia berusaha untuk tidak membayar beberapa macam makanan yang sudah dimakannya atau sudah dibuangnya” jawab pemilik kedai itu” Alangkah sombong mereka. Ternyata mereka berusaha untuk menipu”

Tetapi wajah yang tegang itu menjadi semakin tegang, ketika kedua orang di dalam kedainya itu tertawa semakin keras. Salah seorang dari keduanya berkata, “Kenapa tidak kau tangkap saja keduanya dan kau serahkan orang-orang yang ada di pasar itu? Mereka akan memberinya pelajaran kepada anak-anak yang bengal seperti itu”

“Aku masih merasa kasihan kepada pengembara-pengembara itu” jawab pemilik kedai itu.

Namun wajahnya telah menjadi pucat ketika salah seorang dari kedua tamunya itu membentak, “Kau jangan berbohong lagi. Aku menjadi muak. Berkatalah terus-terang, agar kau tidak ingin mencekikmu”

Orang itu berdiri mematung. Ketika seorang di antara kedua tamunya itu berdiri, maka ia pun menjadi gemetar

“Kau anggap kami terlalu dungu” bentak orang itu, “kenapa kau tidak berterus terang saja kepada kami bahwa kau telah berusaha memberikan keterangan kepada anak-anak itu tentang kami. Mungkin kau katakan kepada mereka, bahwa kami adalah orang-orang yang berbahaya, sehingga karena itu. kedua anak-anak itu harus berhati-hati. Apalagi mereka ternyata membawa uang sekampil. He, kau mendapat berapa keping? Bukankah kau sudah menjual keterangan tentang saudara sepupu Ki Buyut yang telah berhubungan dengan orang luar. Dan barangkali kau katakan kepada anak-anak itu, bahwa yang dimaksud orang luar itu di antaranya adalah kami” orang berhenti sejenak, lalu, “Persetan dengan persoalan Ki Buyut. Aku tidak peduli. Persetan dengan orang-orang yang berpihak kepada saudara sepupunya yang ingin mendapat imbalan lereng pegunungan dan bukit-bukit berhutan lebat itu. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah justru uang di dalam kampil itu”

Pemilik kedai itu benar-benar menjadi gemetar. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika ia berpaling, maka kedua anak muda itu masih belum terlalu jauh.

“Aku berdiri di balik dinding ketika kau mengigau tentang Ki Buyut. Aku tahu, gemerincing kepingan uang di dalam kampil itu. Dan kawanku sempat melihat, kampil itu memang nampak terlalu berat bagi mainan kanak-kanak” berkata orang itu puia, “karena itu, biar kami sajalah yang bermain dengan uang itu. Nanti kau akan mendapat bagian seperti anak-anak itu telah memberimu. Mengerti?” orang itu meneruskan.

Pemilik kedai itu benar-benar menjadi gemetar. Karena itu, maka justru ia tidak dapat berbuat apa-apa selain tegak dengan keringat yang mengalir membasahi seluruh tubuhnya.

Dalam pada itu, kedua orang itu pun telah beringsut. Keduanya segera keluar dari kedai itu. Seorang di antaranya berkata, “Aku akan kembali dan membayar lipat lima setelah kampil itu ada di tanganku”

Pemilik kedai itu sama sekali tidak menyahut. Ia pun kemudian dengan perasaan kasihan memandang kedua orang anak muda yang berjalan belum terlalu jauh. Keduanya nampaknya anak baik-baik., “Entahlah, dari mana mereka mendapat uang itu. Mungkin keduanya memang anak orang berada. Tetapi keduanya terdorong untuk pergi mengembara mencari pengalaman hidup sebelum mereka menjadi dewasa sepenuhnya” berkata pemilik kedai itu kepada diri sendirl, “Namun, di sini mereka telah bertemu dengan dua orang penjahat yang tidak kenal belas kasihan”

Pemilik kedai itu memandang sampai semuanya hilang di balik tikungan.

“Terserahlah, apa yang akan terjadi. Aku tidak ikut campur. Aku sudah berusaha untuk menyelamatkan kedua anak-anak itu. Tetapi ternyata aku tidak berhasil” berkata pemilik kedai itu kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, perhatian pemilik kedai itupun segera telah berkisar kepada tamu-tamunya yang baru. Tiga orang pedagang ternak telah singgah di kedainya. Biasanya mereka membeli makanan dan minuman cukup banyak dan memberikan keuntungan yang baik kepada pemilik kedai itu.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berjalan semakin jauh. Mereka tidak menduga, bahwa dua orang yang mereka temui di kedai itu telah mengikutinya. Bahkan keduanya masih sempat berbicara tentang padukuhan-pedukuhan di Kabuyutan yang sedang kehilangan Buyutnya itu.

“Dua berbanding tujuh” berkata Mahisa Murti, “sementara dua yang lain ragu-ragu. Cukup meyakinkan” sahut Mahisa Pukat, “sayang, menantu Ki Buyut itu dikatakan sebagai berhati lemah. Mungkin orang itu segan berselisih. Atau mungkin ia memang benar-benar orang lemah”

“Tetapi jika orang luar ikut mencampuri persoalan di dalam satu lingkungan, biasanya akan benar-benar terjadi satu kekacauan yang sulit dikendalikan. Jarang ada orang luar yang ikut campur dengan mengorbankan beberapa kawan-kawan mereka tanpa mempunyai pamrih sama sekali. Tentu ada pamrih yang tersembunyi” desis Mahisa Murti.

“Ya” berkata Mahisa Pukat kemudian, “tetapi, kita juga sudah pernah ikut mencampuri persoalan sebuah Kabuyutan”

“Kita pun mempunyai pamrih” jawab Mahisa Murti, “tetapi pamrih itu kami sandarkan kepada kepentingan kemanusiaan pada umumnya. Kita berusaha menolong orang-orang lemah dan menempatkan mereka, pada keadaan yang lebih baik”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Itu bukan pamrih. Aku menganggapnya sebagai satu pengabdian. Kecuali jika kita berharap, dengan demikian kita akan dapat disebut seorang pahlawan besar”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. kau benar. Aku pun sependapat”

Dalam keasyikan pembicaraan, mereka tidak menyadari bahwa dua orang selalu mengikuti langkah mereka dari arah yang tidak terlalu dekat. Kedua orang yang mengikuti itu benar-benar ingin mendapatkan sekampil uang yang dibawa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu.

“Bahkan masing-masing telah membawa sekampil” berkata salah seorang dari orang-orang yang mengikutinya.

“Mudah-mudahan” jawab yang lain, “dengan demikian kita akan semakin beruntung. Kita akan membunuh mereka dan melemparkan mayat mereka ke pinggir sungai di sebelah”

Yang lain tidak menjawab lagi. Tetapi keduanya berjalan semakin cepat. Tanpa memperbincangkan lagi, maka keduanya-seolah-olah sudah sepakat, bahwa mereka akan melakukannya di tengah-tengah bulak panjang yang sedang mereka lalui.

Beberapa puluh langkah lagi mereka akan sampai di tengah bulak. Daerah yang jauh dari padukuhan sebelah menyebelah dan jarang sekali di lalui oleh orang-orang yang bepergian. Biasanya mereka memilih jalan lain. Memilih jalan yang tidak melalui bulak yang sangat panjang.

Dalam pada itu. ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah sampai ke tengah-tengah bulak panjang itu. maka salah seorang dari kedua orang yang mengikutinya itupun berdesis, “Sekarang. Tidak akan ada orang yang mengganggu kita”

Yang lain mengangguk. Geramnya, “Salah sendiri. Mereka terlalu sombong”

“Jangan terlambat” sahut yang lain.

Keduanya mempercepat langkah mereka. Bahkan dengan tidak sabar salah seorang dari mereka lelah berteriak, “He. Ki Sanak, berhentilah sebentar. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut mendengar teriakan itu. Keduanya serentak berhenti dan berpaling.

“Dua orang itu agaknya telah mengikuti perjalanan kita” berkata Mahisa Murti.

“Apa yang mereka kehendaki dari kita” gumam Mahisa Pukat, “kita sudah berbuat sebaik-baiknya dengan orang-orang yang pernah bertemu dan pernah saling membantu dalam satu tugas tertentu.

“He, lihat” berkata Mahisa Murti ketika kedua orang yang mengikuti mereka itu menjadi semakin dekat. Katanya lebih lanjut, “Bukankah keduanya orang orang yang singgah di kedai itu pula?”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun iapun kerpudian mengangguk sambil menjawab, “Ya”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Bagaimanapun juga kita harus bersiap. Pemilik kedai itu dan sekaligus suasananya telah memberi kita peringatan. Mahisa Pukat menjadi tegang. Dipandanginya kedua orang yang berjalan dengan tergesa-gesa mendekatinya. Nampaknya kedua orang itu menjadi semakin kasar menurut penglihatan Mahisa Pukat

Kedua orang itu pun akhirnya berhenti beberapa langkah saja dihadapan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Kenapa kalian menyusul kami?” bertanya Mahisa Murti.

“Anak-anak muda” jawab salah seorang dari mereka, “aku merasa kasihan terhadap pemilik kedai itu. Tetapi lebih kasihan lagi kepada kalian. Seandainya kau berhasil menipu pemilik kedai itu dengan tidak menghitung beberapa potong makanan yang kau makan, maka ia hanya sekedar kehilangan beberapa potong makanan itu. Tetapi kalian ternyata lebih pantas dikasihani”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Pukat

“Kalian masih sangat muda. Tetapi kalian telah menjerumuskan diri kedalam satu sikap yang sangat menodai watak kalian sendiri” jawab orang itu, “kenapa kalian menipu?”

“Kami tidak sengaja menipu” jawab Mahisa Murti. Ia menjadi agak kesulitan mencari jawab, karena ia tidak mengira akan menghadapi persoalan yang demikian. Tetapi ia tidak mau mengorbankan pemilik kedai itu dengan mengatakan apa yang sebenarnya. Karena itu, maka jawabnya selanjutnya, “yang terjadi adalah sekedar salah paham. Kami hanya terlupa menghitung beberapa potong makanan. Tidak dengan sengaja”

Tetapi kedua orang itu justru tertawa. Yang seorang kemudian berkata, “jangan berbelit-belit. Akupun tidak ingin berbelit-belit agar tugasku cepat selesai. Berikan kampil uangmu kepadaku. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut. Sementara itu, orang itu pun berkata selanjutnya, “Kami mendengar percakapan kalian dengan pemilik kedai itu. Kalian memancingnya dengan uang, agar ia menceriterakan tentang persoalan yang timbul antara Ki Buyut dengan saudara sepupunya. Mungkin pemilik kedai itu menganggap bahwa aku adalah orang yang mungkin terlibat kedalam persoalan itu. Tetapi itu salah sama sekali. Aku tidak tahu menahu persoalan Kabuyutan ini. Yang aku selalu ingin tahu, siapa saja orang memiliki uang yang cukup banyak untuk dihubungi. Ternyata hari ini aku bertemu dengan kalian yang membawa uang sekampil. Bahkan mungkin dua kampil.

Mahisa Murti menjadi tegang. Tetapi ternyata Mahisa Pukat dahululah yang menyahut, “Ya. Kami memang membawa uang. Aku tidak ingkar. Tetapi uang itu tidak akan aku berikan kepada siapapun juga tanpa timbul dari niat kami sendiri. Karena itu, kau jangan berusaha memaksa kami untuk memberikan uang itu kepadamu. Apalagi sekampil. Sekeping pun tidak”

Ternyata jawaban itu telah memanaskan telinga kedua orang itu. Anak muda itu nampaknya sama.sekali tidak menjadi ketakutan. Bahkan nada jawaban Mahisa Pukat telah menantang mereka untuk bertindak dengan kekerasan.

Karena itu, dengan nada yang semakin kasar salah seorang dari mereka berkata, “Kau jangan menjadi gila anak muda. Apakah kau lebih sayang kepada uangmu sekampil itu dari pada nyawamu”

“Aku sayang keduanya” Mahisa Pukat pulalah yang menjawab.

“Kenapa kau berusaha mempertahankan uangmu?” bertanya orang itu pula.

“Kalianlah yang agaknya lebih menghargai uang sekampil dari pada nyawamu” jawab Mahisa Pukat pula, “seharusnya kalian menyadari, bahwa dengan berusaha merebut uang kami, maka kalian telah bermain-main dengan nyawa kalian”

“Persetan” geram orang itu yang menjadi semakin marah, “rupa-rupanya kalian memang anak-anak gila. Sekali lagi aku bertanya, apakah kalian bersedia menyerahkan uang itu. atau kami harus membunuhmu lebih dahulu dan kemudian mengambil uangmu”

“Bukan aku yang akan terbunuh, tetapi kalian” jawab Mahisa Pukat.

Kedua orang itu benar-benar tidak lagi dapat menahan diri. Apalagi ketika ia melihat dua orang petani yang bekerja di sawah mereka. Bahkan di kejauhan masih ada orang lain lagi yang termangu-mangu.

“Jangan menunggu lagi” berkata salah seorang dari keduanya, “orang-orang itu dapat mengganggu. Jika mereka memberitahukan hal ini kepada tetangga-tetangga, mereka, maka mereka akan datang berkelompok. Meskipun kita tidak takut terhadap mereka, tetapi pekerjaan kita akan menjadi berkepanjangan”

Kawannya mengangguk. Dan tiba-tiba saja ia sudah menarik senjatanya, sebilah golok yang besar. Katanya, “Kami ingin menyelesaikan pekerjaan kami dengan cepat”

Mahisa Pukat bergeser beberapa langkah untuk mengambil jarak dari Mahisa Murti. Dengan tengadah dihadapinya orang yang telah membawa golok itu.

Orang yang membawa golok itu menggeram. Sikap Mahisa Pukat sangat menjengkelkannya, sehingga iapun tidak menunggu lagi. Dengan cepat ia telah meloncat menyerang dengan ayunan goloknya yang besar.

Ternyata bahwa Mahisa Pukat pun tidak ingin bertempur terlalu lama. Ia pun kemudian telah menarik sebilah pisau belati dari balik kain panjangnya. Meskipun pisau itu lebih kecil dibanding dengan golok lawannya, tetapi dengan pisau belati di tangannya, maka perlawanannya pun menjadi mantap.

Dalam pada itu. Mahisa Murti masih berdiri tegak menghadapi orang yang lain. Agaknya orang itu lebih banyak berpikir dari pada kawannya yang telah bertempur melawan Mahisa Pukat. Sebelum ia berbuat sesuatu, ia masih berkata, “Kalian adalah anak-anak muda yang berani. Benar-benar diluar dugaanku. Aku kira kalian akan menjadi gemetar dan tanpa berbuat apapun juga. menyerahkan uang kalian dalam kampil itu”

Mahisa Murti termangu-mangu. Dipandanginya orang itu dengan tajamnya. Baru sejenak kemudian ia pun menjawab, “Kami adalah pengembara. Kami menempuh perjalanan yang tidak kami tetapkan lebih dahulu arahnya. Kami tidak menghendaki permusuhan dengan siapa pun juga dalam pengembaraan kami. Tetapi kami pun tidak ingin membiarkan diri kami menjadi sasaran kejahatan seperti ini”

“Ya, ya anak muda. Baru sekarang aku yakin, bahwa kalian adalah pengembara yang berpengalaman. Aku tadi menyangka, bahwa aku mendapatkan satu sasaran yang sangat lunak kali ini. Namun ternyata aku salah. Aku telah membentur satu sikap seorang petualang sejati” berkata orang itu, “Karena itu alangkah bodohnya pemilik kedai itu. Dan alangkah bodohnya kami. Namun kami sudah terlanjur, sehingga kami tidak akan mengorbankan harga diri kami. Meskipun kami berhadapan dengan seorang petualang sejati, maka kami akan tetap pada sikap kami, karena kami benar-benar perampok sejati yang tidak memilih sasaran. Siapa yang memungkinkan dapat kami hisap, maka ia akan kami korbankan untuk kepentingan kami”

“Bagus” berkata Mahisa Murti, “aku lebih senang berhadapan dengan orang-orang yang bersikap jantan seperti kalian. Marilah kita sama-sama menjunjung harga diri kita masing-masing. Kita akan bertempur di atas landasan kita masing-masing. Kami adalah pemilik yang baik dari harta kami dan kalian adalah perampok yang kau sebut sejati yang ingin merampas harta kami karena itulah, maka kami akan bertempur”

“Aku mengerti anak muda. Kau ingin bertempur sampai tuntas. Sampai selesai dan tidak lagi akan dapat diulang” jawab orang itu.

Mahisa Murti tidak menjawab. Namun ia sudah memasuki arena pertempuran antara hidup dan mati.

Sejenak kemudian maka keduanya telah mulai berputaran. Masing-masing mulai menyerang, meskipun belum merupakan pertempuran yang sebenarnya. Namun semakin lama pertempuran itu menjadi semakin cepat dan semakin seru. Keduanya mulai menambah atas ilmu masing-masing.

Sebagaimana disebut oleh perampok itu, maka anak-anak muda itu adalah anak-anak muda yang memiliki sikap yang pasti sebagai pengembara. Mereka tidak diambang-ambingkan oleh angin yang, berubah arah dalam musim kesanga, sebagaimana batang ilalang. Tetapi mereka adalah batu karang yang kokoh menghadapi badai yang mengamuk bersama deru ombak di lautan.

Dengan demikian, maka pertempuran antara mereka semakin lama menjadi semakin seru. Mahisa Murti menyadari, bahwa lawannya masih belum mempergunakan senjatanya. Agaknya ia ingin mengetahui tingkat ilmu yang sebenarnya dari Mahisa Murti itu.

Semakin lama keduanya telah semakin meningkatkan ilmu mereka masing-masing, sehingga benturan-benturan yang terjadi kemudian, adalah benturan-benturan tenaga cadangan yang melumpui kekuatan wadag sewajarnya.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat pun telah bertempur semakin cepat pula. Karena senjatanya lebih kecil dari senjata lawannya, maka Mahisa Pukat harus mengimbangi kekurangannya itu dengan kecepatan geraknya.

Ternyata Mahisa Pukat pun telah mempergunakan tenaga cadangan untuk mendorong kecepatan geraknya. Seperti seekor burung sikatan ia berloncatan. Menghindar, namun tiba-tiba saja pisau belatinya telah terjulur mematuk ke arah jantung.

Tetapi lawannya pun bergerak cepat pula. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun harus mengerahkan kemampuannya untuk melawan sambaran-sambaran golok lawannya yang berputaran.

Namun Mahisa Pukat memiliki bekal yang cukup masak. Karena itu, maka ia pun dengan kemampuannya berhasil mengimbangi lawannya yang bersenjata golok yang besar itu. Bahkan semakin lama semakin nampak, ketepatan gerak Mahisa Pukat telah mampu membuat lawannya kadang-kadang kehilangan arah.

Tetapi lawannya pun adalah orang yang berpengalaman. Orang itu sudah mengalami berbagai macam benturan ilmu dengan berbagai macam lawan. Namun ia masih tetap mampu mengatasinya dan merampas harta milik lawannya yang tanpa belas kasihan menjadi korban kegarangannya.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun benar-benar merupakan satu pertempuran yang liar biasa cepat dan kerasnya. Mahisa Pukat pun bukan orang yang mampu menahan diri. Ia cepat mengambil sikap. Dan sikapnya pun tegas.

Karena itu, maka menghadapi orang yang keras itu pun Mahisa Pukat telah bertempur dengan keras pula. Apalagi ia hanya bersenjata sebilah pisau belati untuk menghadapi sebilah golok yang besar.

Namun demikian, terasa di tangan lawannya, setiap benturan teluh mengguncang genggamannya. Meskipun hanya sebilah pisau yang jauh lebih kecil, tetapi agaknya sebuah kekuatan yang besar telah tersalur ke dalamnya.

“Anak iblis” lawannya itu pun mengumpat. Sementara itu, semakin lama gerak Mahisa Pukat seakan akan menjadi semakin cepat. Serangannya menjadi semakin berbahaya menyusup diantara putaran golok lawannya.

Dalam pada itu. Mahisa Murti pun telah menunjukkan kelebihannya atas lawannya. Keduanya masih tetap tidak memegang senjata di tangan. Tetapi serangan-serangan maut yang dilambari dengan ilmu masing-masing telah mewarisi pertempuran itu.

Pada saat-saat terakhir, sentuhan-sentuhan tangan Mahisa Murti mulai mengenai lawannya. Ketika pundaknya tersentuh serangan Mahisa Murti karena lawannya itu terhambat mengelak, maka orang itu pun telah mengumpat. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Kau memang luar biasa anak muda”

Mahisa Murti tidak memburu lawannya. Namun ia pun berdiri tegang sambil menunggu. Sementara lawannya bersiap menghadapinya.

“Sungguh diluar dugaan” berkata orang itu, “namun dengan demikian, kau sudah menyinggung harga diriku anak muda. Seolah-olah aku tidak mampu melawan anak-anak yang baru pandai berloncatan. Jika sebelumnya aku hanya menginginkan kampil berisi uangmu, maka tingkah lakumu telah mendorong aku untuk menginginkan nyawamu”

Tetapi Mahisa Murti justru tertawa. Katanya, “Mungkin kau menganggap aku masih terlalu kanak-kanak. Tetapi dalam keadaanku sekarang, aku dapat membawa tingkat kemampuanmu. Kau sudah hampir sampai ke puncak kemampuanmu. Karena itu, jangan mencoba menggertak dan menakut-nakuti aku. Seolah-olah aku tidak mengerti bahwa kau mulai menjadi cemas”

Orang yang mempunyai pengalaman yang luas itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau semakin meyakinkan aku, bahwa kau adalah anak muda yang pilih tanding. Tetapi tingkahmu itu membuat keinginanku untuk membunuh menjadi semakin besar”

“Kau akan terperosok ke dalam lubang yang akan kau gali sendiri. Semakin dalam kau menggali, maka aku akan semakin sulit untuk meloncat keluar. Karena itu, terserah kepadamu. Sampai dimana kau akan mengerahkan kemampuanmu untuk melawanku. Aku hanya akan mengimbangimu saja” jawab Mahisa Murti.

Tetapi dugaan Mahisa Murti ternyata keliru. Orang itu tidak menjadi marah dan kehilangan perhitungan seperti yang diharapkannya. Tetapi orang itu masih menjawab dengan tenang, “Baiklah. Kita akan melihat. Aku atau kau yang akan terkapar mati disini. Sebaliknya aku memang tidak menganggapmu sebagai anak-anak yang tidak mengerti arti lawanmu. Tetapi sebaiknya aku pun menyadari, bahwa kau mengerti sepenuhnya apa yang sedang terjadi. Dan kau pun telah mempunyai takaran tersendiri tentang lawanmu”

“Tepat” jawab Mahisa Murti, “aku sudah mendapatkan takaran itu”

Orang itu tidak berkata lebih banyak lagi. Ia pun segera bersiap untuk menyerang dengan puncak kemampuannya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari balik pohon jarak yang rimbun. Yang mula-mula terdengar adalah suara tertawanya. Suara tertawa yang seolah-olah telah menggetarkan udara di sekitar tempat itu.

“Menarik sekali” berkata orang itu, “dua orang murid perguruan yang namanya bagaikan sundul langit, telah mencegat dua orang anak-anak yang sedang bermain sembunyi-sembunyian”

Semua orang telah berpaling kearah suara itu. Mahisa Pukat dan lawannya yang sedang bertempurpun telah berloncatan surut untuk mengambil kesempatan melihat orang yang baru saja muncul itu.

Sejenak orang-orang yang keheranan itu berdiri termangu-mangu. Sementara itu, orang yang baru muncul itu berkata lebih lanjut, “He, dimana guru kalian? Apakah yang kau lakukan itu mendapat restu dari gurumu?”

Kedua orang lawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu termangu-mangu. Namun seorang di antaranya mereka pun berkata, “Siapa kau?”

“Akapah gurumu tidak pernah mengatakan sesuatu tentang seseorang seperti aku ini?” jawab orang itu.

Lawan Mahisa Murti itu menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak pernah mendengar nama seseorang yang ujudnya seperti kau. Tetapi jika kau tidak berkeberatan, sebut namamu”

“Eh, kau benar-benar ingin tahu. Namaku Sarpa Kuning. Orang memanggilku Ki Sarpa Kuning” jawab orang itu.

Kedua orang lawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi tegang pula. Sekilas terbayang seseorang yang berdiri di Pematang memandangi sebuah iring-iringan kecil, menuju ke.Singasari, sementara itu Mahisa Agni dan Witantra berusaha untuk melindungi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat agar tidak dikenali oleh orang yang berdiri di pematang.

Orang itu agaknya yang sekarang berdiri di hadapan mereka. Namun dengan kepentingan yang berbeda.

“Ki Sarpa Kuning” desis lawan Mahisa Murti, “apa maksudmu datang ke tempat ini dan mengganggu permainanku”

“Tidak apa-apa. Aku tertarik pada pertempuran ini. Aku mengenali ilmumu meskipun aku belum pernah melihatmu. Bukanlah kau berdua murid dari perguruan Gemulung?” bertanya Ki Sarpa Kuning.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka tidak dapat ingkar, bahwa keduanya memang murid dari perguruan Gemulung.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi berdebar-debar. Orang itu pernah bertempur melawan paman mereka, Witantra. Sementara itu, ilmu yang menurun kepadanya dari ayahnya, memiliki beberapa unsur yang sama, karena ayah mereka, Mahendra adalah saudara seperguruan Witantra, meskipun mereka memiliki perkembangan ilmu mereka masing-masing. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga memiliki beberapa bagian unsur gerak yang mereka pelajari dari Mahisa Agni, sehingga dengan demikian, maka dalam ujud lahiriah, maka ilmu kedua anak muda itu memiliki perbedaan dari ilmu Witantra meskipun bersumber dari perguruan yang sama.

Tetapi ternyata orang itu tidak menghiraukan mereka berdua meskipun itu belum berarti bahwa orang itu tidak mengenali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Mereka menduga-duga di dalam hati, apakah orang itu akan mengenali mereka lewat ilmu mereka dihubungkan dengan ilmu Witantra, sebagaimana orang itu mengenali kedua lawannya lewat ilmu mereka.

“Tetapi mungkin kedua orang itu masih mempergunakan ilmu perguruannya dengan murni” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di dalam hatinya.

Dalam pada itu, orang yang menyebut dirinya Ki Sarpa Kuning itupun berkata, “He, anak-anak Gumulung. Apakah sebenarnya kerjamu disini?”

“Itu bukan urusanmu” jawab salah seorang dari murid perguruan Gemulung itu.

“Memang bukan urusanku. Tetapi sehubungan dengan tugas-tugasku, maka aku merasa, kehadiran kita disini tentu akan bersinggungan” jawab Ki Sarpa Kuning.

“Tugas apa?” bertanya lawan Mahisa Pukat.

“Apapun yang akan aku lakukan di sini, kau tidak usah menghiraukannya. Tetapi aku minta kepadamu berdua, agar kalian tidak mengganggu tugasku disini” jawab Ki Sarpa Kuning.

Kedua orang murid perguruan Gemulung itu saling-berpandangan sejenak. Namun tiba-tiba seorang di antaranya bertanya, “He, apakah kau mempunyai hubungan dengan saudara sepupu Ki Buyut?”

Ki Sarpa Kuning mengerutkan keningnya. Tetapi ia kemudian bertanya, “Siapa yang mengatakannya?”

“Perhitunganku tepat. Aku hanya tahu, bahwa saudara sepupu Ki Buyut telah berhubungan dengan orang luar Kabuyutan ini untuk merebut kedudukan yang ditinggalkan oleh Ki Buyut. Jadi orang yang dimaksud adalah kau” jawab orang itu.

“Menarik sekali” jawab Ki Sarpa Kuning, “apakah berita semacam itu sudah tersebar?”

“Hampir semua orang mengetahuinya. Orang-orang yang duduk di kedai-kedai pun mengetahuinya. Pande-pande besi telah membuat pedang dan anak-anak pun mempercakapkannya” jawab lawan Mahisa Pukat itu, “bahkan ada orang yang menyangka, bahwa kami juga termasuk orang-orang yang berhubungan dengan saudara sepupu Ki Buyut itu”

Ki Sarpa Kuning mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku pun tidak berkeberatan jika banyak orang yang mengetahui tentang hubungan kami dengan orang yang paling tepat untuk menjadi Buyut di Kabuyutan yang komplang ini. Namun Kehadiranmu rasa-rasanya agak mengganggu, karena kau sudah membuat keresahan tersendiri di sini”

“Jangan hiraukan kami” jawab lawan Mahisa Murti’, “urusan kami berbeda dengan urusanmu”

“Kau tidak dapat berkata begitu. Aku berkeberatan. Biarlah keresahan orang-orang Kabuyutan ini tidak bertambah tambah dengan tingkah lakumu itu” berkata Ki Sarpa Kuning.

Kedua orang itu menggeram. Tetapi mereka harus mempertimbangkan banyak segi untuk menghadapi orang yang menyebut dirinya Ki Sarpa Kuning itu.

“Nah, orang-orang Gemulung” berkata Ki Sarpa Kuning, “tinggalkan tempat ini. Meskipun sikapku ini berarti keselamatan bagimu. Aku tahu, jika pertempuran ini diteruskan, maka kalian berdua akan terbaring sebagai mayat di sini, karena kedua anak muda itu memang memiliki kelebihan dari pada kalian. Tetapi mayat kalian akan menumbuhkan persoalan tersendiri. Bahkan perkelahian ini jika berlarut-larut, akan memancing perhatian petani-petani yang melihatnya”

“Kami akan membunuh kedua kelinci dungu itu” geram lawan Mahisa Pukat.

Tetapi Ki Sarpa Kuning berkata, “Kalian tidak akan mampu melakukannya. Jangan gila. Jangan sangka aku tidak dapat melihat tingkat kemampuan kalian masing-masing”

Kedua orang murid Gemulung itu tidak dapat menjawab. Sebenarnyalah mereka memang merasakan kesulitan menghadapi kedua orang anak muda itu. Namun mereka tidak mau mengakui dengan sera merta keadaan itu.

Karena kedua orang itu nampak ragu-ragu, maka Ki Sarpa Kuning itu berkata Apakah kalian tidak percaya akan pengamatanku? Jika kalian memang ingin melanjutkan perkelahian ini sampai mati. maka aku akan mempersilahkan kalian meneruskannya di lereng bukit itu tanpa ada orang yang akan mengganggunya. Marilah. Aku akan menjadi saksi kematian dua orang murid dari perguruan Gemulung”

“Persetan, “geram lawan Mahisa Pukat, “kau terlalu sombong”

“Jangan bersikap kasar terhadapku. Gurumu pun tidak akan bersikap kasar seperti itu” berkata Ki Sarpa Kuning, “Nah, sekarang dengar permintaanku. Tinggalkan tempat ini. Jangan kembali lagi untuk mencampuri persoalanku jika perguruan Gemulung tidak ingin berhadapan dengan aku”

“Baiklah Ki Sarpa Kuning” jawab lawan Mahisa Murti, “kami akan meninggalkan tempat ini. Tetapi kami akan melaporkannya kepada guru kami”

“Terserahlah. Tetapi aku justru berpesan kepada kalian, agar guru kalian pun tidak mencampuri persoalanku. Persoalan yang besar yang tidak berdiri sendiri dalam hubunganya dengan Kabuyutan ini saja” berkata Ki Sarpa Kuning. Lalu, “Pada dasarnya aku tidak ingin bermusuhan dengan orang-orang Gemulung”

Kedua orang murid perguruan Gemulung itu termangu-mangu. Namun lawan Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Aku terima permintaanmu kali ini. Tetapi ini bukan berarti bahwa kau akan dapat memperlakukan perguruan Gemulung seperti ini intuk seterusnya”

Ki Sarpa Kuning tertawa berkepanjangan. Dengan suara serak di antara gelak tertawanya ia menjawab, “Baik, baik Ki Sanak. Aku tidak akan memperlakukan perguruan Gemulung seperti ini untuk waktu-waktu mendatang. Aku tahu, bahwa gurumu pun tentu akan marah, dan aku pun telah memikirkan jawaban jika pada suatu saat ia akan menemui aku. Tetapi aku justru berharap bahwa gurumu akan bersedia bergabung dengan aku untuk satu tugas yang saat penting yang berarti. Bukan sekedar menginginkan kampil uang dari anak-anak ingusan yang mengembara”

Wajah kedua orang murid dari Gemulung itu menjadi merah padam. Tetapi mereka tidak dapat ingkar, bahwa mereka memang harus menyingkir.

Sesaat kedua orang itu masih berdiri tegang. Namun kemudian keduanya pun bergeser perlahan-lahan menghindar dari arena pertempuran itu.

Sepeninggal kedua orang itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Mereka akan dapat menjadi sasaran berikutnya. Apalagi jika Ki Sarpa Kuning itu sudah mengetahui bahwa keduanya adalah orang-orang yang bersama dengan Witantra menangkap kedua murid Ki Sarpa Kuning dan yang terpaksa dibinasakannya.

Dalam pada itu. Ki Sarpa Kuningpun kemudian memandangi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti ganti. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Kalian adalah anak-anak muda yang luar biasa. He, siapakah kalian sebenarnya. Apakah kalian juga pernah mendengar Ki Sarpa Kuning”

Mahisa Murtilah yang kemudian menjawab, “Tidak Ki Sanak. Aku belum pernah mendengar nama itu”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun mengerti, bahwa Mahisa Murti berusaha menghindari persoalan yang dapat tumbuh.

“Kau mengingatkan aku kepada dua orang prajurit Singasari yang masih muda yang membawa dua orang muridku bersama dengan dua orang prajurit yang lain. yang lebih tua lagi dari kalian”

“Aku bukan prajurit Singasari” jawab Mahisa Murti, “kau dapat melihat pakaianku. Aku adalah anak padukuhan”

“Kau aneh anak-anak muda” jawab orang itu, “seandainya kau prajurit Singasari pun, kau tentu akan dapat bertindak dalam tugas sandi”

“Kau benar Ki Sanak. Tetapi aku adalah anak padesan Tidak ada hubungannya dengan prajurit Singasari” jawab Mahisa Murti.

“Kau panggil aku dengan Ki Sanak. Bukankah kau sudah mendengar namaku? Kenapa kau tidak, memanggil dengan namaku saja?” berkata Ki Sarpa Kuning kemudian.

Mahisa Murti mengerutkan keningnya Namun ia pun kemudian berkata, “Baiklah Ki Sarpa Kuning”

“Terima kasih. Aku lebih senang mendengar namaku kau sebut” Ki sarpa Kuning itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi kau tetap memberi kesan kepadaku, bahwa kau adalah dua orang di antara empat orang Singasari yang membawa dua orang muridku. He, apakah kau pernah mengembara sebelum ini?”

“Tidak” jawab Mahisa Murti. Namun Mahisa Pukat menggerutu di dalam hatinya, “Kenapa kita harus ingkar” Tetapi kata-kata itu tidak diungkapkannya.

Ki Sarpa Kuning mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku pernah bertempur melawan seorang dari empat orang Singasari itu. Orang Itu memang luar biasa Ia berhasil menghindari senjataku yang paling aku banggakan. Ular-ular hitamku. Apakah kau mampu juga berbuat begitu?”

Darah Mahisa Murti tersirap. Namun ia masih juga menjawab, “Sudah aku katakan. Aku tidak lebih dari anak-anak padesan”

“Tetapi kau dapat mengimbangi kemanisan anak-anak dari perguruan Gemulung. Kau memiliki ilmu yang cukup tinggi” berkata Ki Sarpa Kuning.

“Mungkin satu kebetulan. Mungkin orang-orang Gemulung memang terlalu ringkih. Tetapi kami sekedar mempertahankan milik kami yang tidak berharga” jawab Mahisa Murti.

“Aku mengerti. Kau sekedar bertahan. Tetapi kemampuanmu menarik perhatianku” berkata Ki Sarpa Kuning, “bahkan timbul niatku untuk melihat, apakah kau mempunyai hubungan ilmu dengan orang yang pernah menyerangku, saat aku membunuh dua orang muridku”

“Kenapa kau bunuh muridmu?” bertanya Mahisa Murti., “Nah. kau dengar?” Muridku sendiripun aku bunuh jika ia tidak sejalan dengan keinginanku. Apalagi orang lain”, berkata orang itu.

Namun Mahisa Pukat pun bertanya, “Mungkin kau dapat bertindak begitu terhadap muridmu. Tetapi tentu tidak terhadap orang lain”

Ki Sarpa Kuning mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa Katanya , “Tidak ada orang yang menentang kehendakku dapat melepaskan diri dari tanganku, “

“Setidak-tidaknya ada seorang” jawab Mahisa Pukat., “Siapa?” bertanya Ki Sarpa Kuning.

“Apakah kau berhasil membunuh prajurit Singasari yang kau katakan itu?” bertanya Mahisa Pukat pula.

Wajah Ki Sarpa Kuning menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Aku tidak berhasil membunuh prajurit itu. He. kalian memang sangat menarik perhatianku. Apakah kalian mempunyai hubungan ilmu dengan prajurit Singasari itu? Tiba-tiba saja aku ingin mengetahui, apakah kau benar-benar tidak mempunyai hubungan dengan mereka”

Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin tegang. Bagaimanapun juga orang yang menyebut dirinya Ki Sarpa Kuning itu tetap mencurigai mereka.

Namun dalam pada itu Mahisa Murti pun bertanya, “Ki Sarpa Kuning, apakah setiap prajurit Singasari itu mempunyai kesamaan ilmu? Mungkin dalam perang gelar, mereka mempunyai kesamaan langkah. Tetapi dalam perang secara pribadi, ilmu dasar mereka akan dapat berbeda”

“Tentu Ki Sanak” jawab Ki Sarpa Kuning, “tetapi rasa-rasanya hubungan anak-anak muda dan dua orang yang lebih tua dari mereka yang menyebut diri mereka prajurit Singasari itu agak lebih dalam dari hubungan antara para prajurit. Mungkin di antara mereka ada hubungan perguruan atau hubungan yang lain. Jika kalian meyakinkan aku, bahwa kalian tidak mempunyai hubungan ilmu dengan orang yang pernah bertempur melawan aku, maka aku tidak akan menganggapmu terlibat dalam persoalanku dengan orang-orang Singasari itu.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...