*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 018-04*
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Tetapi Mahisa Murti kemudian berkata, “Apakah hal itu akan menguntungkan tugasku? Jika ada di antara mereka yang dapat mengenali kami berdua, maka tugas-tugas kami selanjutnya akan sangat terbatasi. Mungkin orang yang mengenali kami itu akan dapat bertemu dengan kami pada suatu waktu di dalam daerah pengaruh Pangeran Kuda Permati.“
Witantra merenungi pendapat itu sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “Memang kemungkinan itu dapat terjadi. Tetapi jika kalian memang masih berniat untuk meneruskan tugas-tugas kalian di kemudian hari, maka memang sebaiknya kalian tidak menampakkan diri di antara kami.“
“Itulah sebabnya, aku menerimanya pada waktu-waktu yang tidak mudah dilihat orang” berkata Mahisa Bungalan kemudian Lalu, “Meskipun sebelumnya aku tidak tahu, bahwa kedua orang petugas itu adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”
“Baiklah” berkata Witantra kemudian, “bahkan jika demikian sebaiknya kalian tidak perlu terlalu lama di sini”
“Mereka akan kembali dan meninggalkan Kota Raja sebelum fajar” berkata Mahisa Bungalan.
Witantra mengangguk-angguk, sementara Mahisa Agni sempat memberikan pesan-pesan yang penting bagi kedua anak muda yang ternyata merasa sesuai dengan tugas sandi itu.
Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan, maka sebelum fajar kedua anak muda itu telah minta diri untuk kembali ke tugasnya.
Mahisa Bungalan mengantar keduanya ke seberang jalan serta melihat kemungkinan di sekitar istana itu, apakah kedua adiknya itu tidak akan mengalami kesulitan.
Ternyata bahwa Kota Raja masih tetap sepi. Tidak ada seorang pun yang lewat.
Tetapi Mahisa Bungalan masih berpesan Hindari para peronda. Kalian berdua tahu, apa yang harus kalian lakukan. Dalam keadaan yang gawat ini perondaan dan penjagaan telah diperketat.“
“Ya. Kami sudah mendapat petunjuk, jalan-jalan yang harus kami lalui untuk menghindari penjagaan,” jawab Mahisa Pukat.
“Tetapi para peronda akan menyusuri jalan-jalan tanpa diketahui waktu dan arahnya” jawab Mahisa Bungalan.
Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa tugas mereka cukup berat. Bukan saja pada saat mereka memasuki Kota Raja. Tetapi saat mereka meninggalkan Kota Rajapun akan merupakan perjalanan yang rumit.
Sejenak kemudian, maka kedua anak muda itupun telah meninggalkan Mahisa Bungalan, memasuki gelapnya malam di Kota Raja Kediri yang sepi. Namun pepohonan dan semak-semak di pekarangan sebelah menyebelah akan dapat menjadi tempat bersembunyi yang baik jika diperlukan.
Namun dalam pada itu, pesan yang disampaikan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu merupakan pesan yang penting. Orang-orang Singasari semula tidak mengira, bahwa Pangeran Kuda Permati akan mempunyai rencana yang gila itu. Namun ternyata bahwa serangan itu bukannya tidak mungkin dilakukannya.“
“Ada banyak cara untuk memancing perhatian pasukan Kediri itu” berkata Mahisa Bungalan kemudian setelah ia kembali menghadap Mahisa Agni dan Witantra.
“Ya. Tetapi kita tidak boleh melepaskan kepercayaan kita kepada mereka” berkata Mahisa Agni.
“Apakah hal ini dapat kita sampaikan kepada Senopati yang bertugas memimpin prajurit Kediri di barak itu?” bertanya Mahisa Bungalan.
Mahisa Agni merenung sejenak. Namun iapun kemudian menggeleng sambil berkata, “Tidak dalam waktu yang dekat ini. Kita masih akan melihat suasana. Jika kita tergesa-gesa memberikan laporan, maka akan mungkin terjadi salah paham, karena bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang Kediri. Sementara itu kita akan dapat menunjukkan sumber keterangan.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa kemungkinan terjadi salahpaham itu besar sekali. Bahkan mungkin laporan itu dianggap sebagai satu usaha untuk lebih menyudutkan keadaan Pangeran Kuda Permati sehingga akan timbul pertempuran yang lebih besar lagi. Apalagi apabila hal itu didengar oleh Pangeran Singa Narpada. Maka dapat terjadi, Pangeran Singa Narpada akan dengan serta merta bertindak.
Memang ada usaha Pugutrawe untuk menyusupkan berita tentang rencana itu kedalam pasukan Pangeran Singa, Narpada, sehingga Pangeran.Singa Narpada akan dapat mempersiapkan diri. Tetapi Pugutrawe masih menjumpai beberapa kesulitan sehingga ia masih belum sempat menghubungi petugas sandi yang ada didalam lingkungan pasukan Pangeran Singa Narpada.
Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Jika hal itu benar-benar terjadi, maka ia akan dapat berbuat sejauh kemampuan yang ada didalam pasukan kecilnya.
Sebenarnyalah, sebagaimana keterangan yang diberikan oleh Ki Waruju, maka Pangeran Kuda Permati memang bermaksud membinasakan utusan dari Singasari. Ia sudah berniat untuk merusak hubungan antara Singasari dan Kediri. Jika Singasari mengambil tindakan lebih jauh lagi, maka ia akan mendapat bahan untuk membakar hati rakyat Kediri, sehingga dengan demikian maka kedudukannya akan menjadi lebih kuat. Kediri akan benar-benar bangkit untuk melawan Singasari. Sementara itu, ia akan melanjutkan perintah yang tertunda. Menghapuskan semua hutan di lereng pegunungan. Jika perlu bukan sekedar dengan penebangan. Tetapi hutan itu akan dapat dibakarnya saja.
Dengan cermat Pangeran Kuda Permati membuat perhitungan-perhitungan yang teliti. Jika sekelompok prajuritnya menyerang orang-orang Singasari itu, maka segalanya harus berlangsung cepat. Sementara ia harus memancing pasukan yang mendapat tugas untuk setiap saat melindungi orang-orang Singasari itu untuk memalingkan perhatiannya dari tugas mereka.
Yang pertama-tama dilakukan oleh Pangeran Kuda Perniati adalah menghubungi orang-orangnya yang ada di dalam lingkungan para prajurit yang mendapat tugas melindungi orang-orang Singasari itu sendiri. Mereka harus membuat satu suasana, sehingga Panglima dari pasukan itu akan terpancing menjauhi istana yang dipergunakan oleh orang-orang Singasari di Kediri.
Hubungan yang luas dari Pangeran Kuda Permati di lingkungan para prajurit Kediri itulah yang selalu menyulitkan para prajurit Kediri: Demikian pula, rencana Pangeran Kuda Permati yang menyangkut keselamatan utusan dari Singasari itu.
Ketika semuanya sudah dipersiapkan dengan mantap, maka Pangeran Kuda Permati pun mulai dengan langkah-langkahnya. Ia mulai menyusupkan prajurit-prajuritnya memasuki kota Raja sebagaimana orang kebanyakan. Mereka berusaha untuk tinggal di rumah orang-orang yang menurut pengamatan mereka akan dapat melindungi mereka.
“Mereka harus sudah berada di dalam dinding Kota Raja berkata Pangeran Kuda Permati, sementara ia menyiapkan sebuah pasukan yang akan menyerang dan memecahkan pintu gerbang memasuki kota. Pasukan itulah yang harus dilawan oleh para prajurit Kediri yang disiapkan untuk melindungi para utusan di Kota Raja akan berhimpun dengan cepat dan memasuki istilah yang dipergunakan oleh para utusan dari Singasari.
Semuanya sudah diatur sebaik-baiknya. Pasukan yang akan memasuki Kota Raja lewat pintu gerbang pun telah disiapkan pula. Mereka tidak akan memasuki Kota lewat perbatasan Utara tetapi mereka akan memecahkan gerbang dari arah Timur. Menurut perhitungan mereka, arah timur akan memberikan kemungkinan lebih baik. Kecuali kesiagaan pasukan diperbatasan tidak sebagaimana dilakukan oleh Panji Sempana Murti, maka letak barak pasukan yang siap melindungi orang-orang Singasari itupun lebih dekat dengan pintu gerbang di sebelah Timur.
Ketika semua unsur dari gerakan itu-sudah siap, maka Pangeran Kuda Permati telah menentukan hari yang dikehendakinya. Menurut perhitungannya, orang-orangnya yang berada didalam Kota sudah cukup kuat untuk menghancurkan orang-orang Singasari yang berada di Kota Raja, sementara pasukannya yang akan memecahkan pintu gerbang pun cukup kuat untuk melindungi diri selagi mereka menarik pasukan itu mundur dan keluar dari pintu gerbang.
Namun bagaimanapun juga, kecermatan para petugas sandi memang mempengaruhi segala rencana. Dalam pertempuran yang demikian, maka para petugas sandi dari kedua belah pihak harus saling mengamati dengan cermat dan penuh perhitungan.
Hari-hari pun berjalan dengan penuh ketegangan bagi Pangeran Kuda Permati dan para pengikutnya. Ketika saat itu tiba maka pasukan yang cukup kuat pun telah dipersiapkan. Mereka akan mendekati gerbang sebelah Timur menjelang malam. Demikian gelap turun, maka mereka akan mulai dengan serangan mereka. Sementara itu, orang-orang yang berada di dalam Kota Raja pun harus sudah siap menuju ke istana. Mereka akan berkumpul di tempat yang sudah ditentukan untuk mendapat perintah-perintah terakhir. Demikian gerbang pecah dan pasukan di barak itu digerakkan untuk menyongsong mereka, maka pasukan itu akan memasuki istana.
Demikianlah, maka saat yang ditentukan itu akhirnya datang. Pasukan Pangeran Kuda Permati bergerak mendekati pintu gerbang melalui jalan-jalan yang sudah diperhitungkan. Menjelang gelap pasukan itu berada beberapa puluh tonggak dari pintu gerbang, sehingga pada saatnya gelap turun, pasukan itu benar-benar mendekati pintu gerbang dengan ratusan obor yang menyala.
Kedatangan pasukan itu telah mengejutkan para penjaga. Mereka tidak melihat sebelumnya. Yang mereka ketahui, tiba-tiba saja beratus-ratus obor itu sudah menyala di-hadapan mereka.
Dengan serta merta, para penjaga telah membunyikan tanda bahaya. Kentongan pun melontarkan irama titir sebagai isyarat bahwa bahaya yang besar telah mengancam.
Pasukan yang bertugas diregol pun segera bersiap. Tetapi obor itu terlalu banyak, sehingga mereka tidak akan dapat melawan hanya dengan pasukan penjaga yang ada.
Kedatangan pasukan itu memang tidak diduga sebelumnya oleh para prajurit. Mereka tidak menyangka, bahwa sekelompok pengikut Pangeran Kuda Permati akan dengan terang-terangan menyerang Kota Raja. Karena menurut perhitungan, betapapun kuatnya pasukan Pangeran Kuda Permati, namun mereka tidak akan mampu memecah pertahanan di batas Kota Raja.
Suara titir itu telah mengejutkan seisi Kota Raia. Prajurit di barak-barak pun segera mempersiapkan diri. Barak yang mendapat tugas untuk melindungi sekelompok utusan dari Singasari pun telah bersiap-siap pula.
Namun beberapa orang di antara para perwira memang sudah disiapkan oleh Pangeran Kuda Permati. Mereka telah membuat satu suasana, sehingga pasukan itu bersiap untuk pergi ke belakang pintu gerbang.
“Biarlah hal itu dilakukan oleh mereka yang bertugas” berkata Senopati yang memimpin pasukan itu, “tugas kita adalah melindungi utusan dari Singasari.“
“Mereka belum memasuki pintu gerbang” berkata seorang perwira yang berpengaruh, “kita akan dapat menahannya dengan tujuan yang sama.“
Senopati itu ragu-ragu. Namun ketika sejenak kemudian datang seorang petugas berlari-lari dan mengabarkan bahwa pasukan yang datang adalah pasukan yang kuat dengan beratus-ratus obor, maka Senopati itu berpikir ulang.
“Kita menahan mereka di pintu gerbang” berkata seorang perwira yang memang sudah mendapat pesan dari Pangeran Kuda Permati, “kita melindungi utusan dari Singasari dengan tidak memberi kesempatan pasukan itu memasuki gerbang Kota Raja.”
Senopati itu sempat membuat hubungan dengan beberapa orang Senopati yang lain lewat para penghubung berkuda. Namun akhirnya ia mengambil keputusan untuk membantu pasukan yang berada di pintu gerbang.
Sementara itu, beberapa kesatuan telah berangkat lebih dahulu. Namun utusan yang datang berlari-lari itu mengabarkan bahwa pasukan lawan agaknya memang terlalu banyak.
“Pangeran Kuda Permati telah mengerahkan segenap kekuatannya” berkata petugas itu.
Senopati; itu pun kemudian telah memerintahkan pasukannya untuk pergi ke pintu gerbang sebelah Timur. Tetapi ia tidak kehilangan kewaspadaan. Ia telah memerintahkan sekelompok pasukannya untuk tinggal. Bahkan mereka telah mendapat perintah untuk mengawasi langsung istana tempat orang-orang Singasari itu tinggal selama mereka berada di Kediri.
Demikianlah, sebagian besar dari pasukan itu telah berangkat menuju kepintu gerbang. Orang-orang Kediri memang tidak menyangka bahwa di dalam Kota Raja telah bertebaran para pengikut Pangeran Kuda Permati, justru yang terpilih untuk membinasakan orang-orang Singasari.
Pasukan Kediri tidak membiarkan pasukan yang menyerang itu memasuki pintu gerbang. Karena itu, maka mereka pun telah keluar dari pintu gerbang dan menyambut serangan itu di luar batas dinding Kota Raja.
Sementara itu, titir itu pun menjadi isyarat bagi para pengikut Pangeran Kuda Permati. Dengan demikian mereka memperhitungkan bahwa pasukan yang besar dari Pangeran Kuda Permati telah datang. Mereka mempercayakan kepada beberapa orang prajurit yang berpihak kepada Pangeran Kuda Permati yang berada di lingkungan pasukan yang justru harus melindungi para utusan dari Singasari, bahwa mereka akan berhasil mempengaruhi suasana pasukan itu sehingga mereka akan ikut menahan agar pasukan Pangeran Kuda Permati itu tidak masuk kedalam Kota Raja.
Namun pada saat yang demikian, dua orang anak muda tengah dengan tergesa-gesa mengendap-endap mendekati istana tempat utusan dari Singasari itu tinggal, diikuti oleh seorang petugas sandi yang telah berpengalaman. Mereka dengan susah payah akhirnya berhasil menyusup sampai ke-gerbang istana.
Demikianlah petugas sandi itu pun kemudian mengetuk pintu gerbang istana itu dengan hati-hati.
“Siapa?” bertanya petugas didalam pintu gerbang.
“Aku” jawab petugas sandi itu. Ia tidak dapat mengucapkan isyarat sandi, karena ia yakin prajurit yang bertugas itu tidak akan mengenalnya. Karena itu, maka jawabnya, “Aku ingin bertemu dengan Mahisa Bungalan. Senopati yang memimpin pasukan pengawal dari Singasari. Ada sesuatu yang penting sekali harus aku sampaikan.”
Tetapi penjaga pintu gerbang itu tidak begitu saja mempercayainya. Karena itu, maka salah seorang di antara mereka telah membuka lubang persegi empat yang terdapat pada pintu gerbang, yang memang merupakan semacam alat untuk melihat keluar bila terdapat keragu-raguan.
Dari lubang kecil yang dibuka itu, para penjaga melihat tiga orang berdiri termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak bersenjata.
Penjaga itu ragu-ragu, sementara Mahisa Pukat mendesak, “Ada yang sangat penting. Beri kami kesempatan untuk berbicara dengan Mahisa Bungalan sebelum bencana itu datang.“
Penjaga itu masih saja ragu-ragu. Namun yang ada di-luar itu hanya tiga orang. Seandainya mereka curang, maka jumlah mereka hanya bertiga dan tidak bersenjata lagi.
Dalam keragu-raguan itu terdengar seseorang bertanya dari halaman, “Ada apa?”
Penjaga itu berpaling. Mereka melihat Mahisa Bungalan dan dua orang pengawal berdiri tegak menghadap kepada para penjaga di regol.
“Tiga orang mencari tuan” berkata penjaga di regol itu.
Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun kemudian iapun mendekati gerbang dan melihat keluar lewat lubang persegi empat yang masih terbuka itu.
Dari lubang itu ia melihat kedua adiknya diantar oleh seorang yang tentu petugas sandi dari Singasari.
Karena itu, maka katanya, “Biarlah mereka masuk.” Para penjaga itupun segera membuka pintu gerbang yang besar dan berat itu. Dengan cepat, ketiga orang yang berada di luar pun segera meloncat masuk. Dengan segera pula pintu gerbang itu telah ditutup kembali dan diselarak dengan balok kayu yang besar dan berat.
“Apakah ada sesuatu yang penting?” bertanya Mahisa Bungalan ketika mereka telah berdiri di tengah-tengah halaman.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam untuk mengatur perasaannya yang bergejolak. Kemudian katanya, “Kami hampir saja terlambat. Tetapi keterangan ini baru saja kami dengar.”
“Tentang apa?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Serangan Pangeran Kuda Permati ke Kota Raja” jawab Mahisa Murti.
“Dan itu sudah terjadi” jawab Mahisa Bungalan.
Tetapi kami mendapat keterangan lain” berkata Mahisa Pukat” serangan ke pintu gerbang itu bukan tujuan utama. Kami mendapat keterangan, bahwa sebelumnya sekelompok prajurit telah berada di dalam dinding Kota Raja. Serangan itu sekedar menarik perhatian prajurit-prajurit Kediri, termasuk prajurit yang mendapat tugas untuk melindungi utusan dari Singasari ini. Prajurit-prajurit Kediri akan merasa lebih baik mengusir para pemberontak itu jangan sampai memasuki gerbang kota daripada harus bertempur di dalam kota. Namun mungkin mereka tidak mengetahui, bahwa sepasukan yang terpilih telah siap memasuki istana ini.”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berdesis, “Apakah aku dapat mempercayai keterangan itu?
”Nampaknya keterangan itu bukan keterangan yang dibuat-buat” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Bungalan pun kemudian dengan tergesa-gesa menghadap Mahisa Agni dan Witantra untuk mendapat pertimbangannya.
“Mungkin keterangan adik-adikmu itu benar” berkata Mahisa Agni, “nah, jika demikian, apa rencanamu?“
Mahisa Bungalan berpikir sejenak. Lalu katanya, “Tidak ada pilihan lain kecuali melawan mereka.“
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun katanya, “Apakah tidak sebaiknya kita mencari satu cara yang paling baik untuk melawan, karena mungkin mereka sudah memperhitungkan kekuatan yang ada pada kita sekarang ini.“
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Bagaimana menurut paman berdua?“
Mahisa Agni memandang Witantra sejenak, lalu katanya, “Kita dapat menentukan satu cara yang paling baik untuk menghadapi mereka yang aku yakin, kekuatannya tentu sudah diperhitungkan.“
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita memang harus mencari cara yang paling baik untuk menghadapi kekuatan yang tentu lebih besar dari kekuatan kita.
Demikianlah, maka untuk sesaat Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan berunding untuk menentukan cara yang paling baik melawan kekuatan yang lebih besar dari kekuatan mereka, sementara mereka tidak akan dapat mempercayakan diri kepada prajurit Kediri yang agaknya telah terpancing keluar kota menghadapi pasukan Pangeran Kuda Permati yang datang. Agaknya menurut perhitungan, memang lebih baik bertempur yang diluar pintu gerbang dan menghindari kerusakan-kerusakan yang dapat terjadi jika pertempuran itu terjadi di dalam Kota Raja.
Dalam pada itu, para pengikut Pangeran Kuda Permati yang telah lebih dahulu menyusup ke dalam kota telah “berkumpul sebagaimana mereka rencanakan. Mereka menerima beberapa penjelasan dari seorang Senopati yang bertanggung jawab untuk memimpin pasukan kecil terpilih yang akan menghancurkan sekelompok utusan dari Singasa-riitu.
Dengan tegas Senapati itu memerintahkan, bahwa serangan yang akan mereka lakukan merupakan serangan kilat yang tidak boleh gagal.
“Semua orang harus dibinasakan” perintah Senapati itu kita memang sengaja, memancing persoalan dengan Singasari.“
Peringatan itu cukup jelas. Karena itu, tidak seorang pun yang bertanya tentang tugas-tugas mereka. Mereka hanya akan melakukan satu tugas. Membinasakan orang-orang Singasari.
Demikianlah, maka kelompok orang-orang terpilih itu-pun kemudian dengan segera menuju keistana-orang-orang Singasari yang berada di Kediri, justru pada saat prajurit-prajurit Kediri bertempur untuk menghalau para prajurit yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati.
Sekelompok orang-orang terpilih itu tidak menemui kesulitan. Mereka berhasil dengan tidak diketahui oleh siapapun juga merayap mendekati istana tempat para utusan dari Singasari tinggal selama mereka berada di Kediri.
Sejenak kemudian orang-orang itu sudah mengepung istana itu. Mereka menunggu isyarat dari Senapati yang memimpin kelompok itu sambil mempersiapkan diri meloncati dinding halaman. Mereka tidak tidak perlu mengetuk pintu, berpura-pura atau dengan paksa memecahkan gerbang. Tetapi mereka akan bersama-sama meloncati dinding jika mereka sudah mendengar isyarat dari pimpinan mereka.
Ternyata mereka tidak menunggu terlalu lama. Segalanya memang harus terjadi dengan cepat. Sebelum orang-orang Kediri menyadari kekeliruannya, maka seisi istana itu harus sudah binasa.
Sesaat kemudian telah terdengar suara suitan bersambut. Ketika Senapati yang memimpin pasukan itu bersuit, maka orang-orang di sebelah menyebelah telah menyahut dengan cara yang sama, sehingga beberapa saat kemudian, semua orang yang mengepung istana itu sudah mendengar.
Karena itu, maka dengan serta merta setiap orang yang telah mendengar isyarat itu pun segera berdiri dan meloncat memasuki halaman istana yang luas itu.
Tetapi mereka sudah mendapat pengarahan dari pimpinan mereka, bahwa mereka harus melintasi halaman dan mengepung istana itu dengan rapat. Kemudian memasuki istana dan membinasakan semua orang yang ada di istana itu.
“Mungkin kita akan mendapat perlawanan yang gigih” berkata Senapatinya, “kita mengenal sifat para prajurit
Singasari. Tetapi jumlah mereka terlalu sedikit untuk dapat bertahan.“
Dengan demikian, maka setelah orang-orang Kediri itu berada di halaman maka mereka pun segera mengepung istana yang dihuni oleh orang utusan dari Singasari itu.
Namun orang-orang Kediri itu sudah mulai merasakan sesuatu yang aneh. ketika mereka meloncat masuk ke halaman istana, mereka sama sekali tidak menemukan seorang pun di halaman. Tidak ada prajurit yang bertugas di-regol dan tidak ada kesiagaan sama sekali dari para pengawal.
Menurut perhitungan mereka, setelah orang-orang Singasari itu mendengar suara kentongan yang dibunyikan oleh para petugas di gerbang Kota Raja, maka seharusnya mereka mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi halaman itu sama sekali tidak di jaga oleh seo-rangpun. Apakah ia petugas dari Kediri yang mendapat perintah untuk mengawal istana itu, maupun prajurit •Singasari sendiri.
Tetapi mereka tidak sempat membicarakan dengan para Senapati. Sebagaimana yang diperintahkannya, maka. merekapun telah mengepung istana itu ‘ dan dengan satu perintah, maka mereka telah menyerbu masuk lewat beberapa pintu yang ada. Pintu pringgitan, pintu samping dan pintu-pintu butulan. Sebagian dari mereka menerobos memasuki longkangan lewat seketheng sedangkan yang lain menyusup kedalam dapur lewat pintu belakang. Sebagian yang lain telah mendorong dan membuka pintu-pintu gandok dan bangunan-bangunan yang lain yang ada di halaman itu.
Namun mereka benar-benar terkejut. Mereka tidak menemukan seorangpun di halaman manapun didalam istana itu.
Senapati yang memimpin sergapan itupun telah memasuki pintu pringgitan dan langsung masuk ke ruang tengah. Namun yang mereka ketemukan adalah ruang yang kosong. Beberapa orang prajuritnya yang memasuki tiga buah senthong di bagian dalam istana itupun tidak menemukan seorang pun.
“Gila” geram Senapati itu, “apakah mereka mempunyai Aji penglimunan sehingga mereka dapat melenyapkan diri?“
Beberapa orang perwira pembantunya pun menjadi bingung. Seorang perwira yang bertubuh tinggi tegap dan berjambang lebat telah berteriak, “Cari di seluruh halaman. Di kandang, lumbung dan pakiwan.“
Para prajurit terpilih itu pun telah berlari-larian dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Namun mereka benar-benar tidak menemukan sesuatu.
“Anak iblis” Senapati itu mengumpat, “apa yang sebenarnya sudah terjadi?“
Dengan cepat ia memanggil semua perwira yang bertugas untuk membinasakan utusan dari Singasari itu. Mereka dengan jantung yang berdebaran berusaha untuk memecahkan teka-teki yang sedang mereka hadapi.
“Kita tidak mempunyai waktu banyak” geram Senapati yang memimpin pasukan kecil itu.
Tetapi para perwiranya tidak dapat memberikan jawaban atas peristiwa yang benar-benar di luar perhitungan mereka. Mereka sama sekali tidak mengerti, apa yang telah terjadi dan apa yang sebaiknya mereka lakukan.
Namun dalam pada itu, dalam ketegangan itu salah seorang dari para perwira itu berdesis, “Agaknya ada pengkhianatan di antara kita. Orang-orang Singasari itu tentu sudah tahu, bahwa kita akan datang. Dengan demikian maka mereka sempat menghindarkan diri.“
Wajah Senopati yang memimpin pasukan itu menjadi semakin tegang. Dengan suara bergetar menahan kemarahan yang akan meledakkan dadanya ia berkata, “Ya. Aku sependapat. Tentu ada seorang di antara kita yang memasuki istana ini. Tetapi orang lain yang ikut membicarakan rencana ini.“
Para perwira itu tiba-tiba saja saling berpandangan di antara mereka. Seakan-akan mereka mencari, sipakah yang paling pantas untuk menjadi pengkhianat itu.
Tetapi mereka tidak menemukan seorang pun yang pantas dicurigai.
Namun sejenak kemudian, Senopati yang memimpin pasukan itupun kemudian berkata, “Tetapi kita tidak dapat berdiam diri dan termangu-mangu seperti ini. Kita harus berbuat sesuatu.”
“Agaknya kehadirannya kita sudah diketahui” berkata salah seorang perwira, “karena itu, kita tidak boleh terlambat. Kita harus menghindar dari kemungkinan yang lebih buruk dari kekecewaan ini. Mumpung di pintu gerbang sebelah Timur terjadi pertempuran. Kita akan dapat menggabungkan diri sehingga kita akan mendapat kesempatan untuk bersama-sama mereka mengundurkan diri.”
“Apakah kita akan mengorbankan tugas kita?” bertanya Senopati yang memimpin pasukan itu.
“Apa yang dapat kita lakukan di sini? Kita tidak menemukan seorangpun? Jika kita meninggalkan Kota Raja, bukan karena kita gentar menghadapi tugas ini. Kita sudah sampai di arena. Tetapi kita tidak mendapatkan lawan. Sasaran yang harus kita hadapi sama sekali tidak kita ketemukan. Lalu apa lagi?” sahut perwira itu.
Senopati yang memimpin pasukan itu mengangguk-angguk. Memang tidak ada pilihan lain. Bukan sebaiknya mereka membunuh diri, dengan menunggu para prajurit Kediri siap mengepung dan menumpas mereka.
Karena itu, maka merekapun kemudian mengambil satu keputusan yang akan mereka pertanggung jawabkan bersama. Menarik diri dan keluar dari Kota Raja.
Dengan demikian, maka Senopati yang memimpin pasukan itupun kemudian memerintahkan untuk memanggil semua orang di dalam pasukannya.
“Mereka masih bertebaran di setiap bangunan yang ada di halaman ini” berkata seorang perwira.
“Kumpulkan mereka” perintah Senopati itu.
Para perwirapun kemudian menebar. Mereka memberikan isyarat untuk memanggil orang-orang mereka yang bertebaran di halaman dan disetiap bangunan istana yang dipergunakan oleh orang-orang Singasari itu.
Beberapa saat kemudian, maka beberapa bagian dari para prajurit itu sudah berkumpul. Tetapi ada beberapa orang yang masih belum hadir di antara mereka, sehingga para perwira terpaksa memberikan isyarat ulangan.
Sekali lagi para perwira memberikan isyarat agar setiap orang berkumpul di halaman depan. Namun beberapa orang masih tidak segera datang berkumpul bersama kawan-kawannya.
“Cari mereka” bentak seorang perwira, “apakah mereka tertidur?“
Para prajurit yang sudah berkumpul itupun telah menebar lagi untuk memanggil beberapa orang kawan mereka yang belum hadir
Namun tiba-tiba para perwira itu terkejut. Dua orang prajurit telah datang berlari-lari menemui para perwira, nafasnya terengah-engah dani’ wajahnya membayangkan kegelisahan hatinya.
Para perwira itupun menjadi tegang . Jika prajurit terpilih menjadi seperti orang ketakutan maka tentu ada sesuatu yang sangat penting telah terjadi.
“Ada apa? Katakan” desak salah seorang perwira.
“Kami menemukan dua orang kawan kami terbaring dilumbung dalam keadaan luka-luka. Agaknya keduanya tidak sempat mengadakan perlawanan ketika mereka ditusuk dari belakang” jawab salah seorang di antara mereka.
Wajah perwira itu menjadi merah seperti bara dalam cahaya obor di pendapa. Namun sebelum ia berbuat sesuatu, maka orang lain telah datang dengan gelisah dan memberikan laporan yang hampir sama, “Disudut longkangan, seorang kawan kami mengerang kesakitan.“
“Dan kau lari terbirit-birit seperti anjing dilempar batu?” perwira itu semakin marah.
“Tidak. Aku mencari seseorang yang mungkin melakukannya. Tetapi aku tidak menemukannya” jawab prajurit itu.
Sementara itu, salah seorang dari dua orang prajurit yang terdahulu berkata, “Kami sama sekali tidak menjadi ketakutan. Tetapi kami memang tergesa-gesa memberikan laporan. Tentu masih ada lawan di halaman ini yang bersembunyi dengan cara mereka sendiri.“
Para perwira dan Senapati yang memimpin pasukan Kediri terpilih yang menjadi pengikut Pengeran Kuda
Permati itu termangu-mangu. Namun kemudian Senapati yang memimpin pasukan itu berkata, “Ya. Aku sependapat. Tentu masih ada lawan tersembunyi. Jika demikian, kita akan mencari mereka sekali lagi dengan lebih teliti.“
Maka perintahpun sekali lagi dijatuhkan. Pasukan terpilih itu harus mencari orang-orang yang telah menyerang kawan-kawan mereka.
“Jangan dungu. Mereka masih ada didalam halaman ini” berkata Senapati itu dengan tegas. Lalu, “Kita ternyata adalah orang-orang yang dibayangi oleh perasaan takut dibalik kesombongan kita yang mendapat julukan prajurit terpilih. Dalam suasana seperti ini kita tidak dapat ingkar, sehingga dalam melakukantugas kita di istana ini sangat mengecewakan. Dengan tergesa-gesa kita mengambil kesimpulan bahwa istana ini kosong, karena kita ingin segera meninggalkan tempat yang mungkin dapat membahayakan jiwa kita ini.”
Para perwira dan para prajurit itupun merasa betapa mereka dibayangi oleh ketergesa-gesaan sikap karena suasana yang memang mendebarkan itu. Karena itu, maka mereka pun berjanji kepada diri sendidri untuk menunjukkan bahwa mereka memang prajurit terpilih.
Demikianlah, maka para perwira itu pun telah menyampaikan perintah itu kepada kelompoknya masing-masing dengan penuh kesungguhan.
Sekali lagi dengan dibebani julukan pada diri masing-masing sebagai prajurit pilihan, maka mereka telah menebar diseluruh halaman.
Sebenarnyalah, beberapa orang diantara mereka telah terbaring dengan luka-luka di tubuh mereka. Bahkan ada di antara mereka yang sudah tidak mungkin lagi untuk ditolong jiwanya.
Para pengikut Pengeran Kuda Permati itu tidak ingin lagi disebut sebagai orang-orang sombong yang pengecut. Karena itu, mereka telah mencari lawan-lawan mereka, orang-orang Singasari dengan lebih teliti.
Ternyata bahwa akhirnya mereka pun menemukan orang-orang Singasari itu. Mereka bersembunyi di dalam bangunan-bangunan yang ada, di sudut-sudut ruangan di belakang geledeg dan bahkan sebagian ada yang bersembunyi di atap yang terlindung oleh kegelapan, karena lampu minyak yang nyalanya tidak cukup memberikan penerangan.
Mereka meloncat dan menikam para prajurit terpilih itu, untuk kemudian bersembunyi lagi, sehingga dengan demikian maka mereka telah berhasil mengurangi jumlah lawan mereka.
Namun ketika sekali lagi para prajurit terpilih dengan marah memasuki setiap bangunan, maka mereka tidak lagi dapat tetap menyembunyikan diri. Para pengikut Pangeran Kuda Permati itu akan menilik setiap lekuk dan setiap sudut yang dibayangi oleh kegelapan. Bukan saja sekedar membuka pintu dan melihat* seluruh ruangan dengan sepintas. Tetapi ternyata bahwa setiap bangunan mempunyai lekuk dan sudut yang cukup banyak untuk memberikan perlindungan kepada orang-orangSingasari yang ada diistana itu.
Dengan demikian, maka pertempuran tidak dapat dielakkan lagi. Dalam keadaan demikian, maka orang-orang Singasari lah yang kemudian membunyikan isyarat, sehingga tiba-tiba saja beberapa orang telah berloncat dari atap-atap bangunan di halaman itu dengan senjata telanjang.
Namun sergapan yang tiba-tiba dari orang-orang Singasari ternyata mampu mengejutkan orang-orang Kediri dan sejumlah di antara mereka dengan serta merta dapat dilumpuhkan.
Pertempuran yang sengit tidak dapat dielakkan lagi. Kedua belah pihak adalah pasukan terpilih. Orang-orang Kediri merupakan orang-orang pilihan untuk menghancurkan sekelompok prajurit dari Singasari, sementara sekelompok kecil orang-orang Singasari yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan itulah memang prajurit pilihan pula.
Dengan demikian, maka pertempuran terjadi dengan sengitnya. Kedua belah pihak telah menunjukkan kemampuan mereka sebagai prajurit pilihan.
“Licik” geram Senapati yang memimpin pasukan Pangeran Kuda Permati, “mereka telah menyergap dengan diam diam setelah mereka bersembunyi di atap bangunan-bangunan yang ada.”
Namun dalam pada itu, seorang prajurit muda dari Singasari telah meloncat dari sebatang pohon di halaman, langsung berlari kearahnya sambil berkata lantang, “Kau yang memimpin sekelompok pemberontak ini.“
“Persetan orang-orang licik dan pengecut” geram Senapati itu, “kenapa kalian bersembunyi dan menyergap dengan diam-diam dari persembunyian kalian dan menikam punggung.“
“Apakah kau tidak melakukan hal yang sama? Menyerang istana ini dengan diam-diam justru pada saat kawan-kawanmu berhasil memancing perhatian pasukan Kediri yang setia kepada Sri Baginda di Kediri?“
“Persetan” geram Senapati itu sambil mengacukan pedangnya, “siapa kau?”
“Mahisa Bungalan” jawab prajurit muda akulah yagn bertanggung jawab atas sekelompok kecil pasukan Singasari yang mengawal kedua utusan itu.”
“Bagus” sahut Senapati itu, “kalau begitu kaulah yang pertama kali harus mati.“
”Orang-orangmu sudah ada yang mati” jawab Mahisa Bungalan.
Senapati itu menggeram. Ia sudah mengerti bahwa memang sudah ada orang-orangnya yang terbunuh dan terluka parah. Sementara itu pertempuran di seluruh bagian halaman itu sudah terjadi.
Tetapi Senapati itu yakin, bahwa orang-orangnya akan dapat menyelesaikan tugas mereka, karena jumlah mereka cukup banyak. Meskipun dalam sergapan pertama orang-orangnya sudah berjatuhan, namun prajurit Kediri pilihan itu tentu akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik.
Dalam pada itu, maka Senapati itupun kemudian dengan sepenuh kemampuannya telah mengahadapi Mahisa Bungalan, yang mengaku sebagai pemimpin dari para prajurit pengawal dari Singasari.
Ternyata Senapati dari Singsari itupun adalah Senapati pilihan. Karena itu, maka Mahisa Bungalan segera menempatkan diri sebagai lawan yang seimbang dari Senapati Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati itu.
Namun dalam pada itu, ada satu hal yang semula kurang diperhitungkan oleh Pangeran Kuda Permati. Pangeran Kuda Permati melupakan, siapakah Mahisa Agni dan Witantra. Menurut perhitungan Pangeran Kuda Permati, kedua orang itu adalah utusan dari antara pemimpin pemerintahan di Singasari yang pernah berada di Kediri. Tetapi Pangeran Kuda Permati lupa memperhitungkan keduanya sebagai dua orang yang memiliki ilmu tiada taranya.
Itulah sebabnya, maka ketika Mahisa Agni dan Witantra berada di antara hiruk pikuk pertempuran, maka para prajurit Singasari yang disebut sebagai pengawal-pengawal mereka sama sekali tidak mencemaskan keduanya.
Namun dalam pada itu, orang-orang Singasari itu tidak ingin menyelesaikan tugas mereka tanpa saksi orang-orang Kediri sendiri. Karena itu, sebelum segalanya itu terjadi, Mahisa Bungalan telah mengirimkan dua orang utusan yang dengan diam-diam harus pergi ke barak pasukan yang mendapat tugas untuk melindungi mereka.
“Jika barak itu kosong, cepatlah kembali” perintah Mahisa Bungalan, “kita akan bertahan dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi kita harus mempunyai akal yang tepat untuk menyergap mereka. Tetapi jika barak itu isi, laporkan apa yang akan terjadi di sini.“
Demikianlah, kedua utusan itu telah sampai ke barak pasukan Kediri yang telah meninggalkan barak mereka untuk pergi ke pintu gerbang sebelah Timur. Sesuai dengan pendapat beberapa orang perwira, mereka akan mengusir orang-orang Kediri sebelum mereka memasuki pintu gerbang sebagai salah satu cara untuk melindungi para utusan dari Singasari itu.
Namun demikian, ternyata Senapati yang menjadi panglima pasukan di barak itu telah» meninggalkan sekelompok di antara pasukannya untuk mengambil langkah-langkah jika diperlukan.
Kedatangan kedua orang prajurit Singasari itu telah mengejutkan mereka. Pemimpin kelompok pasukan yang ditinggalkan itu dengan cepat telah memanggil pasukannya dan mempersiapkan mereka untuk melakukan satu tugas yang justru tugas mereka yang sebenarnya.
“Kita akan pergi ke istana itu” berkata pemimpin kelompok pasukan yang ditinggalkan. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, tetapi bersama-sama dengan para pengwal dari Singasari sendiri, mereka akan dapat mengatasi orang-orang yang berusaha menyergap utusan dari Singasari itu.
Dengan tergesa-gesa pasukan itu pun segera pergi ke istana yang diperuntukkan bagi utusan dari Singasari itu. Mereka langsung pergi ke pintu gerbang halaman istana yang sudah terbuka setelah pertempuran itu terjadi.
“Apa yang sudah terjadi?” bertanya pemimpin kelompok pasukan Kediri itu.
“Ternyata mereka benar-benar telah datang. Pertempuran telah terjadi,” jawab prajurit Singasari yang mengabarkan kemungkinan itu kepada para prajurit Kediri.
Pemimpin sekelompok prajurit Kediri itu mengangguk-angguk. Kemudian iapun memberikan pesan-pesan singkat kepada pasukannya.
“Nah, sekarang kalian dapat memasukki regol halaman itu. Tetapi hati-hatilah. Demikian kalian melangkahi regol, maka kalian sudah memasuki-arena.“
Seorang prajurit tiba-tiba saja bertanya, “Kenapa kita tidak memanjat dinding dan memasuki halaman itu dari banyak arah?”
Pemimpin kelompok itu agaknya mempertibangkannya. Kemudian katanya, “Baiklah. Lakukanlah.“
Demikianlah pasukan yang jumlahnya tidak banyak itu menebar. Mereka kemudian dengan serta merta telah memasuki halaman istana tidak melalui regol, tetapi justru berloncatan dari beberapa arah.
Kedatangan para prajurit Kediri itu memang mengejutkan. Namun pemimpin pasukan Kediri yang jumlahnya hanya sedikit itu sempat berteriak dari atas dinding halaman disamping regol, “Sayang, kami telah terpancing untuk menyambut kedatangan pasukan Kediri di gerbang Kota Raja. Namun sekelompok kecil ini hendaknya akan membantu menyelesaikan persoalan yang terjadi di sini?
Sejenak kemudian, maka pasukan kecil itu sudah berloncatan menghambur memasuki arena di halaman istana itu.
Orang-orang yang sedang bertempur di halaman istana itu sempat berpaling. Dalam cahaya obor mereka sempat melihat beberapa orang berloncatan. Memang tidak terlalu banyak, karena pasukan di dalam barak itu telah mendapat perintah untuk pergi ke gerbang. Hanya sekelompok kecil saja yang ditinggalkan. Itupun masih harus terbagi. Beberapa di antara mereka tetap berada di barak, karena barak mereka tidak boleh kosong sama sekali.
Meskipun demikian, meskipun yang datang ke halaman itu hanya sekelompok kecil, tetapi hal itu akan sangat berarti bagi orang-orang Singasari yang jumlahnya memang hanya sedikit. Meskipun mereka sempat menyergap lebih dahulu dan mengurangi jumlah lawan, tetapi jumlah lawan mereka masih tetap terlalu banyak. Namun dengan kehadiran sekelompok kecil prajurit Kediri itu, maka imbangan antara keduanya menjadi lebih dekat, meskipun masih belum seimbang sepenuhnya.
Tetapi meskipun jumlahnya masih berselisih, namun ternyata bahwa pasukan Singasari yang terdiri dari prajurit pilihan ditambah dengan prajurit Kediri itu, merupakan kekuatan yang mengejutkan bagi para pengikut Pangeran Kuda Permati.
Tetapi merekapun adalah prajurit pilihan. Karena . itu, maka kedatangan sekelompok kecil prajurit Kediri itu sama sekali tidak menggetarkan mereka. Apalagi mereka sudah terbiasa mendapat pujian, bahwa mereka adalah prajurit pilihan yang tidak ada duanya di Kediri. Sementara prajurit Kediri yang berloncatan memasuki halaman itu adalah prajurit biasa.
Namun yang prajurit biasa itupun adalah prajurit yang telah ditempa oleh latihan-latihan yang cukup berat, sehingga karena itu, maka mereka pun tidak mudah pula untuk merasa dirinya terlalu kecil.
Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin lama semakin seru. Mahisa Bungalan yang bertempur melawan Senopati dari pasukan pengikut Pangeran Kuda Permati itupun telah sampai pula pada puncak kemampuannya, sebagaimana juga lawannya. Keduanya adalah orang-orang pilihan, sehingga keduanya mampu bergerak secepat angin pusaran. Saling menyerang dan saling mendesak.
Sementara itu, di seluruh halaman telah terjadi pula pertempuran yang sengit. Namun ternyata bahwa prajurit Singasari yang mengawal kedua utusan itu benar-benar prajurit terpilih dari prajurit pilihan. Mereka memiliki ilmu yang tinggi baik secara pribadi maupun sebagai seorang prajurit yang bertempur dalam kelompok-kelompoknya.
Tetapi sebenarnyalah orang yang paling berbahaya di-antara mereka adalah orang-orang yang justru harus mereka lindungi. Mahisa Agni dan Witantra.
Untuk beberapa saat Mahisa Agni dan Witantra masih belum menunjukkan tingkat kemampuan mereka yang sebenarnya. Tetapi dalam hiruk pikuk pertempuran yang merata di luar dan di dalam bangunan-bangunan yang ada. Mahisa Agni dan Witantra sudah cukup membuat lawan-lawan mereka yang berusaha menyerangnya kebingungan.
Namun ketika pertempuran menjadi semakin sengit, sementara jumlah pasukan para pengikut Pangeran Kuda Per-mati yang lebih besar itu mulai mendesak, maka Mahisa Agni mulai terpanggil untuk memasuki arena lebih dalam lagi.
“Marilah” berkata Mahisa Agni, “sebelum korban berjatuhan.“
Witantra mengangguk. Iapun mengerti apa yang harus dilakukannya, karena selama itu mereka baru sekedar bermain-main.
“Apa boleh buat” berkata Mahisa Agni, “tetapi sudah tentu bahwa kita tidak akan membiarkan selain diri kita sendiri, juga para pengawal.“
Sejenak kemudian maka Mahisa Agni dan Witantra pun melangkah ke arah yang berbeda. Keduanya harus menyesuaikan diri pada tingkatkan pertempuran yang menjadi semakin seru itu. Namun justru dalam kedudukan yang sebaliknya. Mahisa Agni dan Witantra lah yang kemudian harus menjaga agar korban dipihaknya tidak terlalu banyak jatuh.
Ketika kemudian Mahisa Agni memasuki arena di halaman samping dari istana itu, maka beberapa orang langsung datang menyerangnya. Tetapi Mahisa Agni sudah memutuskan, bahwa ia akan ikut dalam pertempuran itu. Jika tidak, maka korban akan menjadi sangat besar pada orang-orang Singasari yang jumlahnya lebih sedikit dari orang-orang Kediri, meskipun bersama mereka telah bertempur prajurit Kediri pula.
Sejenak Mahisa Agni memperhatikan pertempuran itu. Namun kemudian maka iapun mulai bersikap.
“Inilah salah seorang di antara mereka yang kita cari” tiba-tiba saja salah seorang di antara para pengikut Pangeran Kuda Permati itu berteriak, “aku sudah pernah mengenalinya. Akulah yang kemarin memasuki halaman ini sebagai penjual buah-buahan. Aku melihat orang ini dan dari pembicaraan yang aku dengar, maka orang inilah yang bernama Mahisa Agni.“
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata kau mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang sangat tinggi. Aku memang Mahisa Agni.“
“Bagus. Kau adalah satu di antara dua orang yang harus kami binasakan.” teriak orang itu.
“Apa salahku?” bertanya Mahisa Agni.
Orang Kediri itu termangu-mangu. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia akan mendapatkan pertanyaan yang demikian. Namun orang itupun kemudian menjawab, “Mungkin secara pribadi kau tidak bersalah. Tetapi sikap Singasari memang sangat menyakitkan hati.“
“Apa yang dilakukan oleh Singasari terhadap Kediri?“ bertanya Mahisa Agni pula.
“Jangan berpura-pura. Bersiaplah untuk mati.” geram orang Kediri itu.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata, “Sebaiknya kau berpikir baik–baik.“
“Jangan merajuk. Aku akan membunuhmu dengan apapun yang kau katakan” jawab orang itu.
“Jadi sebelum malam ini kau sudah pernah memasuki istana ini sebagai penjual buah-buahan?” bertanya Mahisa Agni tiba-tiba.
“Ya. Sebagai petugas sandi untuk mengetahui serba sedikit tentang keadaanmu dan keadaan pasukan pengawalmu. Dan karena nasibmu memang buruk, aku dapat mengenalimu sekarang” jawab orang itu.
“Apakah kau tidak mempunyai pertimbangan lain?” bertanya Mahisa Agni pula
Orang itu menggeram. Katanya, “Aku tidak mempunyai waktu lagi. Jangan memperpanjang waktu. Kau kira dengan demikian kau akan selamat? Saat ini pertempuran terjadi diseluruh lingkungan istana ini. Sebentar lagi semua pengawalmu mati terbunuh. Tetapi aku adalah salah seorang yang akan mendapat hadiah tertinggi, karena aku membunuh Mahisa Agni. Bahkan mungkin kemudian aku akan berkesempatan untuk membunuh orang yang bernama Witantra itu juga.“
Mahisa Agnipun tidak menjawab. Dipandanginya orang itu dengan tajamnya. Menilik sikapnya orang itu tentu seorang prajurit pilihan.
Mahisa Agni bergeser ketika orang itu melangkah maju. Sikapnya memang meyakinkan. Apalagi dengan sebilah pedang ditangan.....
Bersambung.......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar