*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-024-01*
Wajah-wajah di halaman itu menjadi semakin tegang. Ternyata Pangeran Singa Narpada pun mengulangi seruan Mahisa Pukat, “Kami tidak sekedar main-main. Kami bersungguh-sungguh dan orang yang akan mati terbunuh kemudian pun sungguh-sungguh mati dan tidak akan dapat hidup kembali. Kami sudah jemu dengan permainan ini, dan kami pun menjadi jemu melihat sikap kalian.”
Penegasan Pangeran Singa Narpada ternyata telah mempercepat keputusan yang harus diambil oleh orang-orang padukuhan itu, sementara Mahisa Pukat mulai menghitung, “Satu, dua, tiga …”
Setiap bilangan yang disebutkan membuat debar jantung orang-orang padukuhan itu semakin cepat. Mereka benar-benar harus mengambil keputusan sebelum bilangan ke sepuluh. Dan keputusan itu memang tidak dapat lain jika mereka masih menghendaki untuk tetap hidup.
Ki Bekel lah yang paling tegang diantara orang-orang padukuhan itu. Setiap bilangan yang didengarnya, rasa-rasanya ujung-ujung senjata yang menusuk jantungnya.
Namun memang tidak dapat lain dari yang harus terjadi. Ketika Mahisa Pukat mengucapkan bilangan ke sepuluh, maka semua orang yang berada di halaman banjar itu telah melepaskan senjatanya.
“Jangan bodoh,” teriak Ki Bekel, “Bunuh mereka. Lontarkan semua senjata ke arah mereka, maka mereka tentu tidak akan dapat menghindar dan menangkis. Satu atau dua diantara senjata kalian tentu akan mengenainya.”
Tetapi tidak seorang pun yang mendengarkannya. Mereka lebih takut kepada kenyataan bahwa mereka tidak akan dapat melawan keempat orang itu daripada teriakan-teriakan Ki Bekel yang tidak berbuat apa-apa.
Ki Bekel yang merasa bahwa suaranya tidak lagi dapat mempengaruhi orang-orangnya, menjadi kehilangan akal. Ia sadar bahwa keempat orang itu tentu akan meletakkan pertanggungan jawab atas peristiwa yang terjadi itu diatas pundaknya. Karena itu, maka tidak ada jalan lain bagi Ki Bekel selain melarikan diri.
Demikianlah, ketika Ki Bekel sudah tidak melihat harapan apapun lagi, tiba-tiba saja iapun telah meloncat berlari ke pintu gerbang. Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Ki Bekel terkejut bukan kepalang. Sebatang tombak pendek telah meluncur dan tertancap di hadapannya, hanya sedepa dari tubuhnya.
Dengan serta merta Ki Bekel pun telah berpaling. Dilihatnya Mahisa Bungalan berdiri di bibir pendapa. Dengan lantang ia berkata, “Maaf Ki Bekel. Jangan melarikan diri.”
Ki Bekel termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun telah naik ke pendapa pula. Merekapun melihat Ki Bekel yang berdiri termangu-mangu beberapa langkah dari pintu gerbang. Dibawah cahaya obor yang berada di pintu gerbang, nampak Ki Bekel yang dicengkam oleh kebimbangan.
“Kemarilah Ki Bekel,” berkata Mahisa Bungalan.
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Dengan berat, maka ia melangkahkan kakinya kembali ke halaman.
Namun ternyata bahwa ia tidak sungguh-sungguh ingin kembali. Dengan serta merta maka iapun telah meloncat berbalik dan berlari untuk mencapai pintu gerbang. Ia berharap bahwa lepas dari pintu gerbang, maka ia tentu akan dapat mencari jalan keluar dari padukuhan itu tanpa diketahui oleh keempat orang itu jika mereka mengejarnya. Karena Ki Bekel merasa bahwa ia menguasai medan jauh lebih baik dari keempat orang yang agaknya baru pertama kali memasuki padukuhan itu.
Tidak ada kesempatan untuk mencegah. Seandainya salah seorang dari keempat orang yang telah bertempur melawan orang-orang padukuhan itu mencoba mengejarnya, maka mereka tentu akan kehilangan jejak. Padukuhan itu terlalu rumit untuk dapat dijelajahi seandainya Ki Bekel memasuki halaman demi halaman yang penuh dengan gerumbul-gerumbul liar, rumpun-rumpun bambu yang lebat dan dinding-dinding halaman yang menyekat-nyekat padukuhan itu.
Karena itu, yang terjadi pun sangat mengejutkan orang-orang padukuhan itu. Sementara Mahisa Bungalan memikirkan cara yang paling baik untuk menangkap Ki Bekel, Mahisa Pukat telah lebih dahulu mengambil sikap.
Yang kemudian terdengar adalah pekik yang menyayat. Semua mata terbelalak melihat sebatang tombak yang meluncur dengan cepatnya, seperti anak panah lepas dari busurnya, terbang memburu dan kemudian hinggap di punggung Ki Bekel.
Orang-orang padukuhan itu menyaksikan dengan jantung yang hampir terlepas dari tangkainya. Ki Bekel itu jatuh tertelungkup. Masih terdengar jeritnya memanjang. Namun kemudian suaranya itupun lenyap ditelan sepinya malam.
Suasana di halaman banjar itupun menjadi sepi namun penuh ketegangan. Tidak seorang pun yang bergerak. Mereka hanya memandang tubuh Ki Bekel yang terkapar dengan darah yang memancar dari lukanya yang masih digantungi oleh tombak pendek yang dilontarkan Mahisa Pukat.
Namun sejenak kemudian kesepian itu telah dipecahkan oleh suara Pangeran Singa Narpada. Dengan kematangan jiwanya ia telah mempergunakan satu saat yang tepat untuk mengakhiri pertempuran itu. Dengan suara lantang ia berkata, “Letakkan senjata kalian, atau kalian akan mengalami nasib seperti Ki Bekel. Tidak ada lagi kekuatan diantara kalian dan tidak ada lagi orang yang mendorong kalian untuk melakukan kejahatan.”
Orang-orang padukuhan itu tidak mempunyai kesempatan lain. Namun ternyata tidak seorang lagi yang masih bersenjata. Pada hitungan kesepuluh yang diucapkan oleh Mahisa Pukat, mereka sudah meletakkan senjata. Karena itu, maka yang diucapkan oleh Pangeran Singa Narpada adalah satu penegasan bahwa mereka memang harus menyerah.
Sementara itu Pangeran Singa Narpada pun melanjutkan, “Jika demikian, maka kumpulkan senjata yang telah kalian lemparkan itu di pendapa. Cepat.”
Orang-orang padukuhan itu tidak menunggu perintah Pangeran Singa Narpada itu diulangi. Karena itu, maka mereka pun segera memungut senjata mereka dan mengumpulkannya di pendapa.
Demikian senjata-senjata itu telah terkumpul, maka Pangeran Singa Narpada pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan jantung yang berdegupan ia melihat beberapa sosok mayat yang terbaring di pinggir halaman, sementara mereka yang terluka telah dikumpulkan pula di serambi gandok banjar.
Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada itupun berkata, “Uruslah kawan-kawanmu yang terbunuh. Sementara itu panggillah dukun yang terbaik untuk mengobati kawan-kawanmu yang terluka di pertempuran ini.”
Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Tidak seorang pun yang berani beranjak. Mereka takut, bahwa di depan pintu gerbang mereka akan mengalami nasib seperti Ki Bekel.”
Namun Pangeran Singa Narpada mengulangi, “Cepat. Panggil dukun terbaik dari padukuhan ini atau padukuhan terdekat, agar kawan-kawanmu yang terluka tidak mati karenanya.”
Orang-orang di halaman itu masih belum beranjak, sehingga Pangeran Singa Narpada pun akhirnya bertanya, “Siapakah bebahu padukuhan ini yang ada dan yang masih hidup.”
Tidak ada yang menjawab. Tetapi menilik tatapan mata beberapa orang padukuhan yang ada di halaman itu kepada seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, maka nyatalah bahwa orang itu tentu salah seorang diantara para bebahu.
Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata kepada orang itu, “Aku perintahkan kau berangkat. Kau harus segera kembali sambil membawa dukun yang aku maksudkan.”
Orang itu tidak dapat ingkar lagi. Iapun kemudian beringsut ke pintu gerbang. Tetapi ia tidak melangkah membelakangi Pangeran Singa Narpada, sehingga karena itu, maka iapun melangkah surut sehingga akhirnya orang itupun telah berada diluar pintu gerbang.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia telah keluar dari lingkungan neraka yang paling buruk.
Namun iapun segera teringat akan tugas yang harus dilakukannya. Ia harus mendapatkan seorang dukun yang akan mengobati kawan-kawannya yang terluka parah.
“Apakah orang itu berkata dengan jujur?” bertanya orang itu didalam hatinya.
Namun ternyata bahwa ia telah dibiarkan untuk keluar dari pintu gerbang.
Memang ada niat untuk melarikan diri. Tetapi ia tidak sampai hati melakukannya, meninggalkan kawan-kawannya yang terbunuh dan terluka parah.
Karena itu, maka iapun telah berjalan dengan tergesa-gesa ke rumah seorang dukun yang ahli dalam hal pengobatan atas luka-luka senjata, betapapun tajamnya racun yang mungkin ada pada senjata itu.
Ketika ia sampai di muka rumah dukun itu, maka ia menjadi ragu-ragu. Pintu rumah dukun itu sudah tertutup rapat. Namun ia tidak boleh kembali ke banjar tanpa membawa seseorang yang akan dapat mengobati kawan-kawannya yang terluka, apalagi yang parah.
Namun akhirnya orang itupun telah mengetuk pintu rumah dukun yang telah tertutup rapat itu.
Beberapa kali orang itu mengetuk pintu. Namun tidak terdengar jawaban sama sekali. Bahkan dari lubang-lubang dinding rumah itu. bebahu itu melihat bahwa didalam rumah itu gelap pekat. Tidak ada lampu yang terpasang.
“Mungkin di bagian belakang,” gumam bebahu itu.
Namun demikian dan bahkan ketika kesabarannya hampir habis, rasa-rasanya bebahu itu akan memecahkan pintu yang tertutup rapat itu.
Ternyata penghuni rumah itu tidak dapat bertahan lebih lama untuk berdiam diri. Dukun itu merasa cemas juga bahwa orang yang mengetuk pintunya itu benar-benar akan memecahkannya. Karena itu. maka dukun itu terpaksa juga berdiri dari pembaringannya dan membukakan pintu rumahnya.
“Nah, ternyata kau ada di rumah Kiai,” berkata bebahu itu.
Dukun yang masih mengusap matanya itu kemudian berdesis. “Kenapa kau membangunkan aku di malam seperti ini?”
“Apakah kau tidak mendengar isyarat di banjar?” bertanya bebahu itu.
Dukun itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah yang terjadi sebagaimana yang sering terjadi?”
“Ya,” jawab bebahu itu.
“Jika demikian untuk apa aku harus datang ke banjar? Bukankah biasanya orang-orang yang sudah dibantai di banjar itu dilemparkan saja ke lubang di kuburan itu. Buat apa aku datang ke banjar, karena pesan jiwani yang ada didalam diriku dan kalian berbeda. Kalian lebih senang membunuh, sedangkan tugasku justru menyembuhkan orang-orang yang sakit. Panggilan jiwaku justru menghindari kematian.”
“Tetapi di banjar sekarang terdapat beberapa orang yang terluka yang memerlukan pengobatan,” jawab bebahu itu.
“Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi,” bertanya dukun itu, “Biasanya kalian tidak pernah datang kepadaku pada saat seperti ini untuk mengobati seseorang. Biasanya kau atau orang lain datang untuk memaksa setiap orang di padukuhan ini ikut dalam tindakan kalian yang sesat itu.”
“Kiai, sekarang kita menghadapi keadaan yang berbeda. Justru orang-orang padukuhan inilah yang terluka. Mereka memerlukan pertolonganmu,” jawab bebahu itu.
“Aku tidak tahu maksudmu,” jawab dukun itu.
“Pergilah ke banjar. Kau akan mengetahui apa yang terjadi,” jawab bebahu itu.
“Tidak ada gunanya,” jawab dukun itu, “Aku sudah jemu dengan lingkungan kehidupan seperti ini. Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan padukuhan ini dan menetap di tempat lain dimana aku dapat mengembangkan pesan jiwani didalam diriku untuk berusaha mengurangi kematian, bukan sebaliknya.”
Bebahu itu menggeram. Katanya, “Jika dalam keadaan sewajarnya maka kau akan dapat digantung bersama orang-orang yang tersesat memasuki padukuhan ini. Tetapi pergilah ke banjar. Ki Bekel justru telah terbunuh.”
Wajah dukun itu menjadi tegang. Dengan suara gemetar ia bertanya, “Apa yang sebenarnya telah terjadi.”
“Bawalah obat-obatan sebanyak-banyaknya. Beberapa orang telah terluka dan yang lain terbunuh. Bukan orang-orang yang kita jebak di banjar yang terbunuh, justru kawan-kawan kita termasuk Ki Bekel sendiri,” jawab bebahu itu.
Keterangan itu rasa-rasanya sangat menarik. Karena itu maka timbullah keinginan dukun itu untuk melihat, apa yang telah terjadi. Bahkan seandainya ia sendiri akan terjebak didalamnya. Karena itu maka katanya, “Tunggu. Aku akan menyediakan obat-obatan.”
Sejenak kemudian, maka dukun itu telah menyiapkan reramuan yang akan dapat dipergunakan untuk mengobati orang-orang yang terluka, meskipun ia tidak yakin apakah sebenarnya yang telah terjadi.
Dengan jantung yang berdebaran oleh keragu-raguan yang mencengkam, dukun itu mengikuti untuk pergi ke banjar. Ia sudah bertekad apapun yang terjadi untuk melepaskan diri dari dunia yang sangat bertentangan dengan kata nuraninya itu. Namun demikian dukun itu memasuki halaman banjar, ia menjadi berdebar-debar, ia melihat orang-orang padukuhannya duduk berkumpul di salah satu sudut halaman itu, sementara di pendapa terdapat beberapa orang terluka yang terbaring. Di sisi lain terdapat beberapa sosok mayat yang terbujur membeku termasuk Ki Bekel.
“Apakah yang telah terjadi,” desis dukun itu.
“Orang-orang yang berada di pendapa itu akan memberikan penjelasan,” jawab bebahu itu.
Dukun itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian terdengar Pangeran Singa Narpada memanggilnya, “Kemarilah. Apakah kau seorang dukun yang dapat mengobati orang-orang yang terluka ini?”
Dukun itu melangkah mendekat. Sambil naik ke pendapa ia bertanya, “Siapakah kalian?”
“Kami adalah empat orang pengembara yang tersesat memasuki padukuhan ini. Kami berharap untuk dapat beristirahat dengan tenang dan hangat karena kebiasaan kami bermalam di tempat terbuka. Ternyata hal itu telah menjerumuskan kami ke dalam neraka ini. He, apakah kau salah seorang diantara orang-orang gila yang hidup dengan cara yang terkutuk di padukuhan ini?”
Dukun itu memandang Pangeran Singa Narpada sejenak. Namun ternyata bahwa ia mempunyai kesan yang lain tentang orang itu.
Karena itu, maka sikapnya pun telah berubah pula. Suaranya merendah, “Ki Sanak. Apakah yang telah terjadi?”
“Kau melihat, apa yang telah terjadi disini. Sebagai orang padukuhan ini, maka kau pun tentu dapat menjawab, seandainya pertanyaan itu kau dengar dari orang lain,” sahut Pangeran Singa Narpada.
Dukun itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku mengerti, bahwa kau pun menyangka aku merupakan bagian dari orang-orang padukuhan ini. Tetapi hal itu wajar sekali.”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Dengar ragu-ragu ia bertanya, “Apakah yang kau maksud?”
“Aku dan orang-orang padukuhan ini mempunyai landasan sikap jiwani yang berbeda. Jika mereka mendambakan kematian, maka aku berusaha mengatasi kematian meskipun aku sadar, bahwa ketentuan terakhir ada pada Yang Maha Agung. Tetapi aku merasa wajib untuk memenuhi panggilan nuraniku, mengobati orang yang mengalami kesulitan pada dirinya dan berjalan menuju ke ambang kematian,” jawab orang itu.
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Tetapi sebagai mana dukun itu menghargainya, maka iapun kemudian menghargai pula orang itu.
Sementara itu dukun itu berkata, “Bukan kebiasaanku untuk dipanggil seperti ini. Jika aku harus datang, maka aku harus membawa senjata dan ikut membunuh, bukan dipesan untuk membawa obat-obatan seperti ini.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Aku minta maaf Ki Sanak. Agaknya yang terjadi malam ini bukannya sebagaimana biasa terjadi. Saat ini ada beberapa orang padukuhan ini yang terluka dan bahkan terbunuh. Kami berempatlah yang telah melakukannya. Bahkan orang yang disebut Ki Bekel itupun telah terbunuh pula.”
“Kenapa kalian membunuh disini?” bertanya dukun itu.
“Bukan maksud kami. Tetapi tetangga-tetanggamu dipimpin oleh bekelmu telah berusaha merampok aku. Bukankah wajar jika kami berempat mempertahankan diri?” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Aku percaya. Memang isi padukuhan ini telah ditempa untuk menjadi perampok-perampok yang baik. Mereka adalah pembunuh-pembunuh seperti yang sudah aku katakan. Tetapi agaknya kalian berempat adalah lain dari orang-orang yang pernah dibantai disini. Bahkan kalianlah yang agaknya telah membantai orang-orang di padukuhan ini,” berkata dukun itu pula.
“Sudah aku katakan, bukan maksudku. Tetapi aku memang harus mempertahankan hidupku,” jawab Pangeran Singa Narpada. lalu, “Nah, bagaimana dengan orang-orang yang terluka itu?”
Dukun itu memandang berkeliling. Kemudian tatapan matanya terhenti pada orang-orang yang terbaring karena luka yang menganga di tubuhnya.
Sekilas terbersit niat buruknya. Kenapa orang-orang itu tidak dibiarkan saja mati? Bukankah orang-orang itu adalah orang-orang yang sudah terbiasa membunuh? Merampok orang-orang yang lewat, tidak di bulak yang sepi. tidak di pinggir hutan yang jarang dilalui orang, dan tidak di malam hari mengetuk dan mengancam dengan pisau belati, tetapi justru merampok, menyamun dan membantai orang-orang yang memasuki padukuhannya dengan keperluan apapun juga.
Namun hatinya sudah didasari pesan gurunya, yang memberinya petunjuk tentang ilmu obat-obatan, bahwa ia harus mengamalkan ilmunya itu bagi siapa pun juga.
“Kalau aku menyelamatkan nyawa seorang pembunuh, kemudian ia melakukan pembunuhan lagi, apakah aku termasuk ikut bersalah dan menjadi penyebab kematian orang itu?” pertanyaan itu telah mengguncang jantungnya.
Tetapi dukun itu tidak akan dapat mengingkari kewajibannya. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Aku akan mengobati mereka. Tetapi apa yang akan mereka lakukan kemudian, bukan tanggung jawabku.”
“Tidak seorang pun yang bertanggung jawab tentang tingkah lakunya,” berkata Pangeran Singa Narpada. Lalu, “orang itu sendirilah yang bertanggung jawab atas kelakuannya sendiri terutama di hadapan Yang Maha Agung,” sahut Pangeran Singa Narpada.
Demikianlah, maka dukun itu mulai bekerja. Ia minta bantuan bebahu padukuhan itu. Ia memerlukan air dan beberapa buah mangkuk untuk mencairkan obat-obatnya. Sebagian obat yang diulaskan pada luka-luka, sedangkan yang lain adalah obat yang harus diminum.
Sejenak kemudian maka dukun itu sudah tenggelam dalam tugasnya. Iapun sudah melupakan siapakah orang yang sedang diobatinya. Apakah ia penjahat atau korban kejahatan. Namun sudah menjadi panggilan jiwanya, bahwa ia harus berusaha menyelamatkan nyawa orang yang terancam.
Sementara itu, keempat orang yang mengaku sebagai pengembara itu telah memanggil beberapa orang bebahu yang ada di halaman itu.
Meskipun dengan gemetar, namun para bebahu itu masih juga mempunyai rasa tanggung jawab untuk datang mendekat mewakili orang-orang padukuhan itu.
“Kita akan berbicara,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Sepeninggal Ki Bekel, maka para bebahulah yang akan mempertanggung jawabkan keadaan padukuhan ini.”
Para bebahu itu hanya menundukkan kepalanya. Mereka tidak akan dapat ingkar dan mengelak apapun yang dikatakan oleh para pengembara itu.
Sejenak kemudian maka mereka pun telah memasuki banjar. Para bebahu dengan Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan. Sementara itu. Mahisa Bungalan berbisik kepada kedua adiknya, “Hati-hatilah. Awasi orang-orang yang ada di halaman itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan demikian ketika Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan masuk ke ruang dalam banjar, maka keduanya masih tetap berada di pendapa.
Sementara itu, dukun yang dipanggil atas perintah Pangeran Singa Narpada itupun telah bekerja dengan keras, ia berusaha sejauh-jauh dapat dilakukan untuk mengobati orang-orang padukuhannya yang terluka.
Namun dukun itupun berdesis kepada seseorang yang membantunya, “Kita berusaha. Tetapi segala sesuatunya terserah kepada Yang Maha Agung.”
Orang yang membantunya itu mengangguk kecil. Ia mengerti apa yang dikatakan oleh dukun itu. Pengertian yang untuk beberapa lama seakan akan tergeser dari relung hatinya, karena ia sudah berada dibawah pengaruh tetangga-tetangganya dan terutama Ki Bekel dari padukuhan itu.
Sementara itu, di ruang dalam. Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan duduk bersama beberapa orang bebahu yang masih tersisa. Dengan wajah yang keras oleh kerut di kening. Pangeran Singa Narpada berkata, “Dengarkan kata-kataku baik-baik.”
Para bebahu itu hanya menundukkan kepalanya saja.
“Ki Bekel dan beberapa orang bebahu telah terbunuh. Nah, bagaimana pendapat kalian?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
Para bebahu itu tidak segera menjawab. Mereka masih tetap menundukkan kepala mereka.
“Aku minta kalian menjawab pertanyaanku,” berkata Pangeran Singa Narpada kemudian, “Apa kata kalian setelah Ki Bekel dan beberapa kawanmu terbunuh. Apakah kalian masih tetap ingin memaksa untuk merampok kami?”
Tidak seorang pun yang menjawab.
“Jawab,” tiba-tiba saja Pangeran Singa Narpada membentak sehingga orang-orang yang berada di dalam itu terkejut karenanya.
Salah seorang diantara para bebahu itupun mencoba untuk memberanikan diri menjawab pertanyaan itu. Katanya, “Ki Sanak. Kami sudah tidak berdaya. Kami mengakui kekalahan kami. Karena itu maka kami telah meletakkan senjata. Dengan demikian sudah pasti bahwa kami tidak akan memaksa untuk merampok kalian.”
“Aku mengerti. Tetapi yang aku maksud selanjutnya adalah pengertian yang lebih dalam. Adakah kalian masih akan menjadi perampok dan penyamun sepeninggal Ki Bekel dan beberapa orang bebahu. Bagiku, ada dua jalan yang dapat aku tempuh untuk menyelesaikan persoalan dengan kalian sampai tuntas. Cara yang pertama adalah membunuh kalian semuanya tanpa kecuali. Semua orang yang berada di halaman ini.”
Wajah para bebahu itu menjadi semakin tegang. Sementara keringat mengalir di seluruh tubuh mereka.
“Kenapa kalian menjadi gelisah?” bertanya Pangeran Singa Narpada, “Kematian bukan apa-apa. Bukankah kalian sama sekali tidak pernah menghargai nyawa seseorang? Tentu juga nyawamu sendiri. Apa artinya kematian bagi seseorang sebagaimana kau artikan selama ini.”
Orang-orang itu tidak menjawab. Tetapi terasa jantung mereka berdebar semakin keras. Namun demikian mereka masih berharap untuk mendengarkan jalan yang dapat ditempuh oleh pengembara itu. Mungkin jalan kedua itu masih memberi kesempatan yang lebih baik bagi mereka daripada mati.
Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata selanjutnya, “Adapun cara yang kedua adalah mendapat satu kepastian bahwa kalian benar-benar tidak akan melakukannya lagi.”
Salah seorang diantara para bebahu itupun telah memberanikan diri untuk menjawab, “Kami berjanji untuk tidak melakukannya lagi.”
“Kau dapat saja berjanji di hadapanku. Tetapi aku tidak dapat kau yakinkan hanya dengan janji,” berkata Pangeran Singa Narpada.
“Lalu, bagaimanakah cara yang dapat kami lakukan untuk meyakinkan Ki Sanak, bahwa kami memang sudah berniat untuk tidak mengulangi lagi perbuatan kami,” bertanya bebahu itu.
“Bukan aku yang harus menunjukkan cara itu. Kalianlah yang harus mencari cara agar dapat kalian dapat meyakinkan aku,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Bebahu itu menjadi bingung. Ia tidak melihat jalan yang manapun yang akan dapat dipergunakannya untuk meyakinkan para pengembara itu. Karena itu maka katanya, “Ki Sanak. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkan Ki Sanak.”
Pangeran Singa Narpada memandang wajah bebahu itu dengan tajamnya, sehingga tengkuk bebahu itu telah meremang. Seakan-akan dari mata orang yang dianggap pengembara itu telah memancar bayangan kematian. Bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi seluruh laki-laki di padukuhan itu.
“Cepat, lakukanlah sesuatu yang dapat meyakinkan aku,” bentak Pangeran Singa Narpada.
“Tidak ada yang dapat kami lakukan,” jawab bebahu itu, “Kecuali dengan sungguh-sungguh berniat menghentikan segala perbuatan yang dianggap bertentangan dengan kepentingan banyak orang.”
“Aku memerlukan bukti itu. Jika tidak maka aku akan mengambil cara yang pertama. Semua laki-laki yang berada di banjar dan di halaman banjar ini akan terbunuh malam ini. Tidak akan ada yang sempat mengurusi mayat kalian, karena semua perempuan akan menangisi mayat kalian dan kemudian pergi menyingkir dari neraka terkutuk ini.”
Para bebahu itu menjadi bingung. Mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Pangeran Singa Narpada. Karena itu, maka dengan jantung yang berdebaran salah seorang diantara para bebahu itu akhirnya berkata, “Ki Sanak, Kami tidak akan dapat memberikan bukti apapun juga. Tetapi sebenarnyalah bahwa kesalahan yang telah terjadi di padukuhan ini sebagian besar terletak di tangan Ki Bekel dan para bebahu. Kami, para bebahu tidak akan mengelakkan tanggung jawab karena Ki Bekel telah terbunuh. Seandainya Ki Sanak akan menghukum kami, maka sebaiknya Ki Sanak tidak perlu membunuh semua laki-laki yang ada disini. Tetapi mungkin Ki Sanak dapat membunuh orang-orang yang bertanggung jawab sesudah Ki Bekel tidak ada. Bunuh sajalah kami para bebahu dan mungkin dua orang kepercayaan Ki Bekel itu jika mereka belum mati. Sepeninggal kami para bebahu dan orang-orang yang dianggap memiliki kelebihan dan dapat menentukan sikap menghadapi orang-orang yang sedikit mempunyai kekuatan telah tidak ada, maka mereka dengan sendirinya akan menjadi lemah dan lunak. Mereka tidak akan berbuat apa-apa.”
Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba wajahnya nampak memancarkan kekerasan hatinya. Dengan suara yang garang ia berkata, “Baik. Kita akan membunuh semua bebahu dan orang-orang yang dianggap berilmu disini. Dengan demikian orang-orang padukuhan ini tidak mempunyai kekuatan lagi untuk mengganggu orang-orang yang lewat.”
Wajah, para bebahu itu menjadi tegang. Ada di antara mereka yang menjadi pucat.
Namun bebahu yang mengatakan kesediaannya itu menyahut, “Baik Ki Sanak. Bunuh kami semua sebagai pertanggungan jawab kami atas segala peristiwa yang pernah terjadi di padukuhan ini.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “bersiaplah untuk mati. Kami akan membunuh kalian di halaman. Di hadapan orang-orang padukuhan ini.”
Mahisa Bungalan pun menjadi ragu-ragu menanggapi sikap Pangeran Singa Narpada. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa agar tidak justru terjadi perselisihan diantara mereka.
“Berdirilah,” Pangeran Singa Narpada membentak sambil bangkit berdiri, “aku sendiri yang akan memenggal leher kalian.”
Para bebahu itu menjadi sangat gelisah. Tetapi bebahu yang telah menyatakan kesanggupannya untuk dibunuh itu melangkah dengan pasti ke halaman. Sementara yang lain mengikutinya, meskipun ada juga diantara mereka yang gemetar. Bagaimanapun juga kematian bukannya sesuatu yang menyenangkan.
Namun ternyata mereka memang harus memikul tanggung jawab atas semua yang pernah terjadi di padukuhan mereka.
Bebahu yang telah pasrah akan kematiannya itu sempat juga berbicara kepada kawan-kawannya, “Kitalah yang selama ini menikmati paling banyak hasil dari tingkah laku penghuni padukuhan ini di samping Ki Bekel. Orang-orang itu hanya sekedar kita peralat dan mendapat sedikit bagian dari kerja yang kotor dan membekas darah selama ini. Biarlah mereka tetap hidup dan menempuh satu kehidupan yang lain daripada kehidupan yang selama ini dijalaninya karena pokal kita. Karena itu, kita sudah sepantasnya menerima tanggung jawab ini dengan dada lapang.”
Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka memang tidak akan dapat berbuat apa-apa jika keputusan itu memang harus demikian.
Beberapa orang bebahu itupun kemudian berdiri di halaman. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berdiri di bibir pendapa. Di belakangnya berdiri Mahisa Bungalan yang menjadi tegang, sedangkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum jelas apa yang terjadi.
Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata dengan suara lantang kepada orang-orang yang berada di halaman.
“Nah, orang-orang padukuhan yang kelam ini. Kalian akan menjadi saksi. Untuk membersihkan padukuhan ini dari langkah-langkah kejahatan maka para bebahu ini akan mendapatkan hukuman mati sebagai tanggung jawab mereka terhadap semua kejadian di padukuhan ini. Seharusnya termasuk pula Ki Bekel yang justru mempunyai tanggung jawab tertinggi. Tetapi Ki Bekel itu sudah terbunuh, sehingga ia tidak akan dapat dibunuh untuk kedua kalinya. Yang sekarang masih hidup adalah para bebahu. Para bebahulah yang harus memikul tanggung jawab.”
Semua orang menjadi tegang. Sementara itu para bebahu itupun telah pasrah apa yang akan terjadi atas mereka.
“Berikan pedang itu,” berkata Pangeran Singa Narpada kepada Mahisa Murti sambil menunjuk sebilah pedang yang terletak diantara setumpuk senjata dari mereka yang telah menyerah.
Mahisa Murti menjadi ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian mengambil pedang itu dan menyerahkannya kepada Pangeran Singa Narpada.
“Nah, sekarang aku akan melaksanakannya. Seorang demi seorang aku harap maju untuk kemudian menundukkan kepala sehingga aku akan dengan mudah memenggal kepala itu,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Namun dalam pada itu, dukun yang datang untuk mengobati orang-orang yang terluka telah bangkit berdiri diantara orang-orang yang terbaring, “Apa yang akan kau lakukan?”
“Memenggal leher para bebahu. Jika hal ini tidak dapat dilakukan karena sesuatu hal, maka aku justru akan membunuh semua orang yang ada disini,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Bagaimana mungkin hal itu kau lakukan,” berkata dukun itu, “disini aku kau suruh mengobati orang-orang yang terluka sementara itu kau membunuh dengan sewenang-wenang.”
Pangeran Singa Narpada memandang dukun itu dengan sorot mata yang membara. Dengan lantang ia menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di padukuhan ini.”
“Biarkan mereka mempertanggung-jawabkannya,” berkata dukun itu, “Tetapi tidak dengan cara yang kejam seperti yang akan kau lakukan.”
“Yang akan aku lakukan jauh lebih baik daripada aku membunuh semua laki-laki yang ada disini,” jawab Pangeran Singa Narpada.
Dukun itu termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Jika demikian, tidak ada artinya aku mengobati orang-orang yang terluka itu jika kau ternyata ingin membunuh para bebahu yang tersisa, karena yang lain telah mati terbunuh pula termasuk Ki Bekel sendiri.”
“Itu terserah kepadamu. Kau adalah orang padukuhan ini. Jika kau ingin melihat tetangga-tetanggamu yang terluka parah itu mati, maka kau dapat saja menolak untuk mengobati mereka. Tetapi kau tidak akan dapat mempengaruhi keputusanku untuk membunuh para bebahu ini,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Karena itu, jika kau tidak mau mengobati orang-orang yang terluka, kematian akan bertambah-tambah lagi.”
Dukun itu tidak menjawab. Tetapi terdengar giginya gemeretak menahan gejolak didalam dadanya.
Namun demikian, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat mencegah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang dianggapnya sebagai pengembara. Namun mempunyai kemampuan yang luar biasa, yang mampu mengalahkan seisi padukuhan yang mempunyai kebiasaan yang sangat buruk itu.
Sementara itu, Mahisa Bungalan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi berdebar-debar. Tetapi mereka pun tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu, maka mereka pun hanya dapat berdiri termangu-mangu memandang Pangeran Singa Narpada yang sudah menggenggam pedang di tangannya.
Sementara itu, maka katanya, “Cepat. Siapakah yang pertama akan mati.”
Para bebahu itu memang ragu-ragu sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka, bebahu yang memang sudah menyatakan kesediaannya untuk mati itupun melangkah maju.
Tetapi Pangeran Singa Narpada membentaknya, “Bukan kau. Kau akan mati terakhir. Kau harus menyaksikan kawan-kawanmu mati dengan kepala terpisah. Baru kemudian kau akan dipenggal kepalamu pula.”
Bebahu itu termangu-mangu sejenak. Namun Pangeran Singa Narpada membentaknya, “Mundur.”
Bebahu itu melangkah surut. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata pula, “Siapa yang akan mati lebih dahulu?”
Bebahu yang memang sudah pasrah akan kematiannya itu memandang kawan-kawannya yang berdiri berjajar, seolah-olah ingin mempersilahkan seorang diantara mereka untuk mendahuluinya mati.
Sebenarnyalah, salah seorang diantara para bebahu itu maju mendekati Pangeran Singa Narpada. Seorang bebahu yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban.
“Aku sudah tua.” Katanya didalam hati, “Apalagi yang aku tunggu jika kematian itu memang harus datang.”
Dengan langkah yang sendat ia datang ke arah Pangeran Singa Narpada yang menggenggam pedang di tangannya.
Ketika orang itu berdiri di muka Pangeran Singa Narpada, maka iapun telah dengan pasrah berkata, “Silahkan Ki Sanak. Apapun yang akan kalian lakukan, jika ini dapat menyelamatkan orang-orang padukuhan ini yang sebenarnya tidak banyak berbuat kesalahan.”
“Bagus,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Tundukkan kepalamu.”
Bebahu itu tidak membantah. Iapun kemudian menundukkan kepalanya, siap untuk dipenggal lehernya. Pangeran Singa Narpada memandang para bebahu yang lain. Nampaknya mereka pun benar-benar telah pasrah untuk mati, karena hanya dengan demikian mereka dapat menyelamatkan orang-orang padukuhan itu.
Perlahan-lahan dengan pedang di tangan Pangeran Singa Narpada mendekati bebahu yang sudah menundukkan kepalanya itu. Sementara bebahu itupun telah memejamkan matanya. Ia menunggu tajamnya pedang mengenai lehernya dan memisahkan kepalanya dengan tubuhnya. Karena itu, ketika ia merasakan sesuatu menyentuh kulit lehernya, maka rasa-rasanya kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya. Namun ternyata bahwa kepalanya masih berada di tempatnya. Ketika ia membuka matanya, ia masih melihat sebagaimana sewajarnya. Bahkan ia tidak melihat setetes darah pun yang menitik dan lehernya itu.
Dalam pada itu hampir tidak percaya ia mendengar suara di sisinya, “Tegaklah.”
Bebahu itu masih menundukkan kepalanya, sehingga terdengar suara itu mengulangi, “Tegaklah.”
Bebahu itu mengangkat kepalanya. Sementara itu orang yang dianggapnya pengembara yang memegang pedang itu berkata, “Aku percaya akan kesungguhan kalian. Karena itu, maka aku percaya akan janji kalian, bahwa kalian tidak akan mengulangi kejahatan yang pernah kalian lakukan.”
Para bebahu itu termangu-mangu. Namun Pangeran Singa Narpada yang dianggap sebagai pengembara itu berkata, “Aku tidak akan menghukum kalian. Tetapi aku menuntut bahwa kalian tidak akan melakukan kejahatan lagi. Pada saat-saat tertentu aku akan memerintahkan sekelompok prajurit melihat apakah kalian benar-benar telah sembuh dari kejahatan yang sangat keji itu.”
Para bebahu itu termangu-mangu. Namun bebahu yang telah menyatakan kesediaannya untuk mati itu bertanya, “Apakah yang Ki Sanak maksudkan dengan prajurit-prajurit untuk melihat apakah isi padukuhan ini benar-benar telah sembuh dari tingkah lakunya itu?”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengatakannya dengan sengaja. Bukan karena sekedar salah ucap. Karena menurut perhitungannya, dengan menakut-nakuti, maka orang-orang padukuhan itu akan benar-benar menjadi sembuh.
Karena itu, maka jawabnya, “Kalian tidak usah tahu siapakah aku. Tetapi aku memang berwenang memerintahkan sekelompok prajurit. Atau anggap saja aku akan melaporkan perbuatan kalian kepada para pemimpin di Kediri dan Singasari. Nah pada saat-saat tertentu maka akan dikirim peronda yang akan melihat keadaan padukuhan ini. Tetapi yang lebih banyak dapat memberikan laporan adalah para petugas sandi. Tanpa kalian sadari, maka tingkah laku kalian telah diamati.”
Para bebahu itu mengangguk-angguk. Tetapi semua bebahu itu memang berkesimpulan bahwa pengembara itu memang memiliki kuasa untuk memerintahkan sekelompok prajurit untuk datang ke padukuhan mereka.
Dalam pada itu, dukun yang hampir saja kehilangan kepercayaannya kepada para pengembara itu menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya iapun berkata lantang, “Aku minta maaf akan kedunguanku Ki Sanak.”
Pangeran Singa Narpada memandanginya dengan tajam. Lalu katanya kepada Mahisa Bungalan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini.”
“Apakah kalian tidak menunggu sampai esok pagi? Kalian masih sempat beristirahat,” berkata salah seorang bebahu itu.
“Aku tidak mungkin beristirahat dalam keadaan seperti ini. Karena itu biarlah aku minta diri. Aku akan beristirahat di bulak yang sepi,” jawab Pangeran Singa Narpada.
Mahisa Bungalan dan kedua adiknya pun telah membenahi diri. Kemudian mereka pun minta diri kepada penghuni padukuhan itu untuk melanjutkan perjalanan.
“Terserah, apa yang akan kalian lakukan atas kawan-kawan kalian yang mati dan yang terluka,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Dengan demikian, maka empat orang pengembara itupun telah meninggalkan padukuhan itu tanpa dapat dicegah lagi dengan meninggalkan kesan yang aneh. Orang-orang padukuhan itu menganggap bahwa mereka telah mendapat satu peringatan yang sangat keras dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Beberapa orang diantara mereka, termasuk Ki Bekel telah terbunuh oleh orang-orang yang mengaku pengembara, namun yang menurut orang-orang padukuhan itu, tentu bukan sekedar pengembara, sebagaimana melihat apa yang telah melihat apa mereka lakukan di padukuhan itu.
Karena itu, maka para bebahu itu benar-benar telah berjanji kepada diri sendiri, untuk mengakhiri cara hidup yang kotor itu. Mereka tidak akan melakukannya lagi, karena dengan demikian maka akan dapat timbul bencana yang tentu lebih parah lagi bagi padukuhan itu. Jika malam itu beberapa orang telah terbunuh dan terluka, maka pada kesempatan lain, maka keadaan akan menjadi lebih parah.
Jika yang datang itu sekedar orang-orang yang mendapat perintah, tanpa membuat pertimbangan-pertimbangan lebih dalam, maka yang terbunuh tentu akan jauh lebih banyak lagi. Mungkin pada bebahu itu benar-benar sudah mati.
Sementara itu. Pangeran Singa Narpada, Mahisa Bungalan dan kedua adiknya telah berada diluar padukuhan itu. Dengan ragu-ragu Mahisa Bungalan berkata, “Pangeran telah membuat aku menjadi berdebar-debar. Aku mengira bahwa Pangeran benar-benar akan membunuh.”
Pangeran Singa Narpada tersenyum. Katanya, “Untuk memberikan tekanan kepada orang-orang itu, maka aku memerlukan satu langkah yang akan dapat menjadi sangat berkesan. Dengan demikian mereka akan selalu teringat akan kesan itu.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti berkata. “Aku justru menjadi bingung dan tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan.”
Pangeran Singa Narpada justru tertawa. Katanya, “Ternyata aku berhasil. Jika aku gagal, entahlah apa yang akan aku lakukan saat itu.”
“Satu langkah yang sangat berbahaya,” berkata Mahisa Pukat, “Aku masih saja berdebar-debar sampai sekarang.”
Mahisa Bungalan pun menyambung, “Tetapi bagaimanapun juga, kita telah benar-benar harus membunuh. Tetapi aku kira itu bukan salah kita.”
“Biarlah itu dianggap sebagai hukuman atas padukuhan itu. Terutama bagi Ki Bekel. Karena hukuman itu akan dapat menumbuhkan pertimbangan-pertimbangan bagi mereka yang mengalaminya,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Demikianlah maka keempat orang itupun menjadi semakin jauh dari padukuhan yang aneh itu. Mereka memang ingin melupakan apa yang pernah terjadi, karena ketika mereka memasuki padukuhan itu, sama sekali tidak terpercik niat didalam hati mereka untuk melakukan pembunuhan. Tetapi kematian itu telah terjadi.
Dalam pada itu, keempat orang itu ternyata sudah tidak sempat beristirahat lagi. Langit sudah menjadi cerah. Karena itu, mereka justru telah singgah dan turun sejenak sebuah belik di tepi sebuah sungai.
Dari belik itu mereka mengambil air untuk mencuci wajah dan sekedar membersihkan, diri. Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
Seperti yang telah mereka rencanakan, maka mereka pun berniat untuk pergi ke padepokan mPu Lengkon di Ara-ara Lawang. Mungkin orang yang mereka cari itu berada di sana bersama Panembahan Bajang. Atau Lembu Sabdata memang berada di padepokan itu.
Jarak yang harus mereka tempuh ternyata tidak terlalu jauh lagi. Dengan demikian mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka tidak ingin justru kedatangan mereka diketahui lebih dahulu oleh mPu Lengkon atau oleh orang-orangnya.
Untuk mengurangi kemungkinan itu, maka Pangeran Singa Narpada telah menjadikan kelompok kecilnya dua bagian. Ia sendiri bersama Mahisa Bungalan, dan yang lain adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Sebagaimana dikatakan oleh Arya Rumpit, maka padepokan mPu Lengkon bukanlah padepokan yang terpencil. Sebagaimana Penembahan Bajang, ia banyak dikenal oleh orang di padukuhan-padukuhan di sekitarnya, meskipun letaknya memang agak terpisah.
Namun justru karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun harus berhati-hati.
Untuk mengurangi kemungkinan buruk, maka mereka sepakat untuk mendekati padepokan itu di malam hari. Pangeran Singa Narpada telah berpesan agar Mahisa Pukat tidak berusaha untuk ikut mendekati padepokan itu.
“Kau tunggu sajalah di hutan perdu itu,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Aku dan kakakmu akan mencari keterangan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat mengelak. Meskipun sebenarnya mereka lebih senang untuk ikut melihat-lihat keadaan padepokan, namun Pangeran Singa Narpada cukup berhati-hati menanggapi keadaan.
Demikianlah, ketika malam turun, Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan telah mendekati dinding padepokan. Dengan kemampuan ilmunya mereka berusaha untuk memastikan bahwa tidak ada orang melihatnya waktu itu. Sehingga karena itu, maka keduanya telah meloncat ke atas dinding padepokan.
Yang nampak didalam padepokan itu hanyalah tanam-tanaman yang hijau subur memenuhi halaman. Sambil menelungkup melekat dinding keduanya mengamati halaman yang hijau itu dengan saksama. Nampaknya padepokan itu adalah padepokan yang tenang dan damai. Tidak ada seorang pun yang berjaga-jaga mengamati keadaan. Tidak ada tanda-tanda kegelisahan dan kesiagaan untuk melindungi diri. Regol depan halaman padepokan itupun tidak tertutup rapat. Sebuah lampu obor berada didalam regol dan sebuah lagi diluar regol.
Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan saling berpandangan. Namun mereka masih belum berbuat apa-apa.
Dalam pada itu, selagi mereka masih termangu-mangu di tempatnya, mereka telah dikejutkan oleh derit pintu regol. Kemudian seleret bayangan bagaikan terbang dari regol itu menuju ke pendapa padepokan.
Pangeran Singa Narpada memberikan isyarat kepada Mahisa Bungalan. Namun agaknya Mahisa Bungalan pun telah melihat bayangan itu pula.
“Tentu orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi,” berkata keduanya didalam hatinya.
Sebenarnyalah bayangan itu menunjukkan banyak kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Bayangan itu bagaikan tidak menyentuh tanah. Hampir saja keduanya kehilangan bayangan itu, karena terhalang oleh dedaunan dan pepohonan. Namun ternyata mereka berhasil melihat bayangan itu berdiri di pendapa.
Hanya dengan ketajaman ilmu masing-masing, maka keduanya dapat mengikuti orang yang naik ke pendapa itu. Namun kemudian keduanya menjadi berdebar-debar. Ternyata orang itu ada lah seorang yang bertubuh kerdil.
“Panembahan Bajang,” kedua orang itu berdesis didalam hati masing-masing.
Untuk beberapa saat keduanya menunggu. Keduanya harus benar-benar berhati-hati. Mereka harus menjaga agar tarikan nafas mereka tidak terdengar oleh Panembahan Bajang. Meskipun jarak mereka cukup jauh, namun kemampuan pendengaran yang tajam sebagaimana kemampuan penglihatan kedua orang yang menelungkup di atas dinding itu akan dapat menangkapnya. Untunglah bahwa kedua orang diatas dinding halaman itupun orang-orang yang berilmu tinggi, sehingga mereka mampu menjaga, agar nafas mereka tidak melontarkan bunyi yang mungkin dapat ditangkap oleh ketajaman pendengaran Panembahan Bajang.
Sejenak kemudian, maka terdengar satu isyarat di pendapa itu. Agaknya Panembahan Bajang telah melontarkan isyarat yang ditujukan kepada penghuni padepokan itu.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka terdengar pintu berderit. Seorang telah keluar dari pintu pringgitan sambil mengalungkan ikat kepalanya di lehernya. Sementara itu rambutnya yang nampak memutih dibawah cahaya obor di pendapa, nampak terurai di punggungnya.
“Apa kerjamu di sini Panembahan?” bertanya orang yang baru keluar itu.
“Empu, ternyata kau benar-benar seorang pemalas. He, kau tidak punya kerja lain daripada tidur?” berkata Panembahan Bajang.
“Sudah tiga hari tiga malam aku tidak tidur,” jawab orang yang keluar dari pintu pringgitan itu.
“Kenapa?” bertanya Panembahan Bajang.
“Aku sedang menempuh laku. Aku akan tidak tidur selama empat puluh hari empat puluh malam,” jawab penghuni padepokan itu.
“Apa yang ingin kau capai? Wahyu keraton?” bertanya Panembahan Bajang.
Orang-orang rambutnya terurai itu tidak segera menjawab. Namun yang menjadi berdebar debar adalah Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan.
Karena itu, kedua orang itupun telah berusaha dengan mengerahkan ilmunya untuk dapat menangkap, baik dengan pendengarannya maupun penglihatannya, apa yang terjadi di pendapa. Sementara itu. karena orang-orang yang berada di pendapa itu sama sekali tidak menduga, bahwa ada orang yang mengintainya, maka mereka sama sekali tidak berusaha untuk mengatasinya, sehingga mereka berbicara sebagaimana sewajarnya.
Dalam pada itu, maka pemilik padepokan itupun menjawab, “Buat apa aku mencari Wahyu Keraton? Kau sangka bahwa aku masih mempunyai keinginan untuk menguasai tahta Kediri siapapun duduk di atasnya? Sepeninggal Pengeran Kuda Permati, tidak ada lagi orang yang berarti bagiku.”
“Bagaimana dengan Pengeran Lembu Sabdata?” bertanya Panembahan Bajang.
“Entahlah,” jawab pemilik padepokan yang rambutnya terurai. “Marilah, silahkan duduk.”
Keduanya kemudian duduk di pendapa. Orang yang rambutnya terurai itu adalah benar mPu Lengkon. Untuk beberapa saat lamanya keduanya berbincang di pendapa. Suara mereka kadang-kadang terdengar, tetapi kadang-kadang tidak. Sedangkan Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan sudah tidak dapat berusaha untuk mendekat lagi. Mereka tidak yakin bahwa bila mereka mendekat, kedua orang itu tidak akan mengetahuinya.
Lamat-lamat antara terdengar dan tidak, Pangeran Singa Narpada mendengar Panembahan Bajang berkata, “Aku telah pergi ke padepokan Ajar yang tamak itu.”
“O.” Terdengar mPu Lengkon menjawab, “Apa yang kau ketemukan di sana?”
“Suara yang asing,” jawab Panembahan Bajang, “rasa-rasanya aku diterima dengan penuh kecurigaan.”
“Mungkin ia sudah berubah,” berkata mPu Lengkon.
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar