*HIJAUNYA LEMBAH : JILID 002-02*
Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Namun Akuwu itu pun ke mudian berkata, “Aku akan beristirahat”
Akuwu pun kemudian pergi ke tempat yang sudah disediakan bersama seorang Senapatinya, sementara Senapati yang lain bersama beberapa orang pengawal dan para peronda tetap berada di banjar untuk mengamati benda-benda upacara. Apalagi setelah mereka mengetahui, bahwa benda-benda itu sama sekali tidak dapat menyelamatkan diri mereka sebagaimana diduga sebelumnya, seolah-olah benda-benda itu dapat berubah dalam ujud dua orang anak muda yang perkasa.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di pintu gerbang padukuhan. Para peronda yang bertugas di pintu gerbang, sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Karena itu, mereka tidak memberikan tanggapan apapun terhadap dua orang yang diantar oleh dua orang pengawal keluar pintu gerbang.
“Siapa mereka?” berkata seorang pemuda ketika kedua orang pengawal itu kembali memasuki pintu gerbang.
“Dua orang pengembara” jawab pengawal itu.
Para peronda itu termangu-mangu sejenak. Lalu, “Bukankah orang itu anak-anak muda yang ditangkap dan dibawa ke rumah Ki Buyut?”
“Mereka kemudian dibawa ke banjar. Untunglah, keduanya adalah anak-anak muda yang rendah hati. Sehingga mereka sama sekali tidak berbuat apa-apa terhadap orang-orang yang telah berusaha menangkap, kalian memperlakukannya sebagai orang-orang yang berniat jahat”
Para peronda di pintu gerbang padukuhan itu mengerutkan dahi mereka. Namun pengawal itu pun segera menceriterakan apa yang telah terjadi di banjar dengan kedua orang anak muda itu.
Para peronda itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Untunglah. Jika kedua anak muda itu mampu mengimbangi kemampuan Akuwu, bukankah berarti bahwa keduanya benar-benar memiliki ilmu yang tinggi?”
“Ya. Keduanya telah dapat mengalahkan sekelompok penjahat yang besar di banjar itu” jawab salah seorang pengawal.
Anak-anak muda yang meronda itu menjadi kagum. Apalagi ternyata kedua orang anak muda itu benar-benar dapat mengekang diri sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam satu sikap yang sewenang-wenang meskipun hati mereka telah disakiti.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di gelapnya malam di luar padukuhan. Mereka berjalan di bulak yang panjang menuju ke padang perdu.
“Udara terasa dingin” desis Mahisa Murti. Mahisa Pukat mengangkat wajahnya. Dilihatnya bintang bergayutan di langit.
“Justru langit bersih” berkata Mahisa Pukat, “agaknya lebih hangat berada di banjar. Bahkan mungkin kita akan mendapat makanan dan minuman yang hangat”
Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Menarik. Tetapi kenapa kita pergi juga”
“Itulah sulitnya Kadang kadang harga diri itu dapat merugikan” jawab Mahisa Pukat sambil tertawa pula.
“Kalau kita mau mengorbankan harga diri, sekedar untuk mendapatkan nasi hangat, tentu saja kita akan dapat melakukannya” desis Mahisa Murti.
“Itulah sulitnya” jawab Mahisa Pukat. Lalu, “Tetapi itu adalah laku dari keprihatinan kita”
“Darimana kau tahu hal itu?” bertanya Mahisa Murti., “He, bukankah ayah dan paman-paman selalu mengatakan demikian?” Mahisa Pukat ganti bertanya.
“Bagus. Artinya kau masih selalu ingat akan pesan ayah dan paman-paman” jawan Mahisa Murti.
“Jika tidak, maka barang-barang upacara itu agaknya memang dapat dijual dengan nilai yang tidak terhingga” sahut Mahisa Pukat.
Sekali lagi Mahisa Murti tertawa. Mahisa Pukat memandanginya sejenak. Namun iapun telah ikut tertawa pula.
Ketika keduanya kemudian berbelok ke padang perdu yang sepi dan jarang di datangi seseorang, maka mereka mulai merasakan kesepian yang mencengkam. Baru saja mereka melihat banjar padukuhan yang ramai dengan anak-anak muda dan para penghuni padukuhan yang lain dibawah nyala obor yang terang. Namun kemudian mereka telah terdampar ke dalam gelapnya padang perdu dan dinginnya udara malam.
Sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun telah duduk bersandar pepohonan perdu yang tumbuh dengan liar dipadang itu. Angin malam berhembus perlahan-lahan mengusap wajah-wajah mereka yang mulai di bayangi oleh kantuk.
Sebenarnyalah kedua anak muda itu menjadi letih. Mereka harus melayani beberapa orang dalam perkelahian. Yang terakhir mereka harus melawan Akuwu yang telah memaksa mereka untuk menitikkan keringat.
“Ternyata perut ini merasa lapar juga” desis Mahisa Pukat.
Mahisa Murti yang sudah memejamkan matanya menyahut, “Malam malam begini, bagaimana kita mendapatkan makan. Besok pagi pagi kita berburu burung. Agaknya menyenangkan juga makan daging burung selagi perut merasa lapar.
“Aku akan membeli saja ketela pohon. Kita akan dapat membuat perapian. Ketela itu kita panggang di atas api, maka kita akan segera menjadi kenyang” guman Mahisa Pukat.
“Bagus” jawab Mahisa Murti, “kau membeli ketela pohon di pasar. Aku akan mencari burung”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi matanya mulai terpejam. Namun sementara itu Mahisa Murti tidak segera tertidur. Ia masih berusaha untuk tetap berjaga-jaga. Jika Mahisa Pukat sudah cukup lama tidur, maka tentu tidurnya tidak akan terlalu lelap. Barulah kemudian ia akan tidur menjelang pagi hari.
Ketika matahari mulai membayang. Mahisa Pukat lah yang bangkit lebih dahulu. Ia melihat langit menjadi merah, sementara Mahisa Murti masih tidur bersandar puhon. Nampaknya Mahisa Murti masih nyenyak bermimpi.
Mahisa Pukat tidak membangunkannya, tetapi ia pun mulai mencari kekayuan dan dahan-dahan kayu kering yang berpatahan. Perutnya memang sudah terasa lapar Karena itu. ia benar-benar akan pergi ke pasar yang sudah diketahuinya letaknya.
Baru sejenak kemudian Mahisa Murti terbangun. Ketika ia melihat Mahisa Pukat sudah mengumpulkan kekayuan dan dahan dahan kering, maka iapun tersenyum., “Aku memang sudah lapar” berkata Mahisa Pukat, “Baiklah” jawab Mahisa Murti aku akan pergi ke sumber air itu sebentar. Kemudian aku akan segera berburu burung”
“Dengan apa?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku masih yakin akan kemampuan bidikku. Aku akan melempar burung-burung yang hinggap di dahan-dahan yang rendah itu dengan batu” jawab Mahisa Murti.
“Sulit” jawab Mahisa Pukat, “mungkin Kau akan dapat mengenai sasaran mati. Tetapi burung-burung itu akan segera terbang mendengar desir lontaran batumu. Yang tidak akan terbang adalah ketela pohon atau jagung”
“Aku sependapat” jawab Mahisa Murti tetapi kita harus berhemat”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Jika kita kehabisan uang, kita akan dapat bekerja apa saja kepada seseorang. Kita akan mendapatkan uang dengan cara yang baik.
Mahisa Murti pun kemudian tersenyum pula. Katanya, “Aku sependapat. Meskipun demikian, kau jangan terlalu banyak mempergunakan uang yang ada pada kita sekarang ini”
Mahisa Pukat mengangguk. Katanya, “Baiklah. Setelah hari ini, kita akan memasuki hutan yang memberikan kesempatan kepada kita untuk mencari buah-buahan dan berburu. He, apakah kita memerlukan busur dan anak panah?”
“Sebaiknya kita memang mempunyai alat berburu. Tetapi bukan busur dan anak panah. Kita memerlukan sumpit. Alat yang tidak terlalu menarik perhatian, karena sumpit tidak banyak dipergunakan selain hanya untuk berburu. Kitapun dapat mempergunakan alat yang lebih sederhana, yang barangkali pernah juga kita pelajari. Bandil”
“Ya Dengan bandil kita akan dapat berburu binatang di hutan-hutan. Kita hanya memerlukan tali ijuk yang lemas dan kuat. Aku akan membelinya” berkata Mahisa Pukat.
“Tidak perlu. Kita akan dapat mencari daun nanas. Aku telah melihat beberapa batang nanas liar tumbuh di padang perdu ini. Kita akan membuat seratnya menjadi tampar kecil yang dapat kita pergunakan untuk membuat bandil. Tetapi baik juga jika kita mempunyai sumpit” jawab Mahisa Murti.
Tetapi mereka tidak tahu, dimanakah mereka akan mendapatkan sumpit. Meskipun mereka akan dapat membelinya, namun jarang mereka dapat menemukan seseorang yang menjual sumpit. Kecuali jika mereka bertemu dengan seorang pemburu yang mempergunakan sumpit dan bersedia menjual sumpitnya.
Dalam pada itu, maka Mahisa Pukat pun kemudian telah pergi ke pasar untuk membeli ketela pohon atau jagung, sementara Mahisa Murti sempat mencari daun nanas yang tumbuh liar di tepi sebuah mata air kecil di tengah-tengah padang perdu. Dengan pisaunya Mahisa Murti memotong beberapa helai daun nanas dan kemudian mengurut seratnya. Serat itu akan dijemurnya dan kemudian dianyam menjadi tali yang kuat dan lemas. Lebih baik dari tampar ijuk untuk dipergunakan sebagai pelempar batu.
Pagi itu, mereka telah menyalakan api di tengah-tengah padang perdu. Mereka pun mengerti, bahwa asap api itu akan menarik perhatian. Tetapi, orang-orang yang melihat asap itu pun akan mengira bahwa ada seseorang pencari kayu yang Berada di padang perdu itu. Jika apinya tidak menjalar dan semakin besar, maka asap itu tentu tidak akan memaksa orang-orang yang melihatnya untuk mendatanginya.
Sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun dengan lahapnya telah makan jagung yang dipanggang di atas api. Beberapa saat mereka duduk di sebelah perapian, sehingga akhirnya mereka pun menjadi kenyang.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti pun telah menjemur serat dauri nanas yang masih basah. Ternyata kedua anak muda itu, bersepakat, bahwa mereka pada hari itu juga akan meneruskan pengembaraan mereka yang terhenti.
Setelah mengemasi diri, maka kedua orang anak muda itu pun telah meninggalkan padang perdu itu. Mahisa Murti membawa serat nanasnya yang akan dibuatnya menjadi bandil. Sementara Keduanya masih juga berusaha untuk dapat menemukan seseorang yang mungkin akan dapat memberinya satu atau dua batang sumpit.
Kedua anak muda itu tertegun ketika mereka melintasi sebuah gerumbul bambu di padang perdu yang lain. Mereka melihat batang-batang bambu cendani yang beruas panjang. Sejenak mereka tertegun. Namun kemudian Mahisa Pukat berkata, “Apakah kita dapat membuat sumpit sendiri dengan pering cendani ini?”
“Jenis pering cendani yang jarang dijumpai” berkata Mahisa Murti, “ruasnya panjang sekali. Agaknya bambu ini sengaja disediakan bagi kita untuk membuat sumpit”
“Atau bambu ini sengaja di tanam orang, setidak- tidaknya dimiliki oleh seseorang” berkata Mahisa Pukat, “lihat bekas-bekasnya. Beberapa batang bambu telah dipotong. Bekasnya adalah bekas pisau. Bukan sekedar patah oleh angin atau binatang-binatang liar yang berlari- larian”
Mahisa Murti memang melihat beberapa batang bambu telah dipotong. Bekasnya adalah bekas pisau atau semacam kapak kecil. Karena itu, maka katanya, “Memang mungkin sekali. Tetapi agaknya bambu ini tumbuh saja disini tanpa ada orang yang menanamnya. Tetapi sekelompok orang yang mengetahuinya kemudian telah mengambil beberapa batang untuk dibuat sumpit dan kepentingan-kepentingan lain yang sesuai dengan ruas-ruasnya yang panjang.
“Jika demikian, apa salahnya jika kita mengambil satu atau dua batang Kita dapat memilih yang sudah tua, lurus dan bernas paling-panjang” berkata Mahisa Pukat.
Keduanya pun kemudian mulai memilih batang bambu cendani yang kecil beruas panjang. Tetapi cendani yang mereka ketemukan itu agaknya bambu cendani yang khusus. Ruasnya terlalu panjang bagi bambu cendani yang biasa dijumpainya.
Tetapi keduanya pun memang pernah melihat sumpit bambu cemani yang beruas panjang seperti jang mereka ketemukan itu.
Namun dalam pada itu. Selagi keduanya sibuk memotong bambu cendani itu dengan pisau-pisau mereka, tiba-tiba saja dua ekor kuda telah berpacu menembus batang-batang perdu. Nampaknya kedua pununggangnya terkejut juga melihat dua orang yang sedang sibuk memotong bambu cendani yang khusus itu. Karena itu, maka seorang di antara mereka telah berkata, “Kita dekati mereka”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun terkejut pula. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain, kecuali berdiri tegak sambil menunggu kedua ekor kuda yang mendekat itu.
“Apakah mereka yang memiliki pohon bambu cendani ini?” desis Mahisa Murti.
Dalam pada itu, kedua orang penunggang kuda itu menjadi semakiin dekat. Beberapa langkah dari kedua orang anak muda itu, keduanya telah berhenti.
“He, siapakah kalian yang telah mengambil ruas-ruas pering cendani ini?” bertanya seorang di antara mereka, seorang yang bertubuh tinggi besar.
“Kami adalah dua orang bersaudara yangsedang mengembara” jawah Mahisa Murti.
“Kenapa kalian berani mengambil pering cendani itu?” bentak yang seorang lagi. Seorang yang juga bertubuh tinggi, tetapi agak kurus.
“Apakah kami tidak diperkenankan mengambil pering cendani ini?” bertanya Mahisa Pukat.
“Rumpun bambu itu milik kami” berkata orang yang bertubuh tinggi besar.
“Maaf Ki Sanak” sahut Mahisa Pukat, “kami tidak mengetahui bahwa bambu ini ada pemiliknya. Kami mengira bahwa bambu yang tumbuh di padang perdu ini adalah bambu liar. Bambu tanpa pemilik sehingga siapapun dapat mengambilnya”, “Gila. Kau kira kau berhak mengambil bambu itu” bentak orang yang kekurusan.
“Demikianlah Ki Sanak. Tetapi jika bambu ini memang ada pemiliknya, kami mohon maaf” berkata Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Pukat berkata, “Bahkan jika Ki Sanak pemiliknya, maka perkenankanlah kami berdua mohon diijinkan untuk mendapatkan satu bambu saja masing- masing. Satu batang bambu itu mempunyai ruas yang cukup panjang sebanyak tiga atau ampat ruas. Memang pering cendani yang luar biasa”
“Tutup mulutmu” bentak yang bertubuh tinggi besar, “bambu itu tidak boleh diambil oleh siapapun juga, kecuali kami berdua”
“O” Mahisa Murti mengangguk dalam-dalam, “jika demikian, kami minta maaf. Kami akan menyerahkan bambu yang sudah terlanjur kami potong”
“O, demikian mudahnya” jawab orang yang bertubuh kecil, “kau kira kau dapat melakukan kesalahan tanpa mendapat hukuman. He, coba katakan, untuk apa kalian mencuri bambu cendani itu?”
“Kami ingin membuat sumpit. Kami memerlukan sumpit untuk berburu burung. Dalam pengembaraan kami, kami memang memerlukan binatang buruan. Namun agaknya bagi kami, beberapa ekor burung telah cukup untuk menyambung hidup kami”
“Persetan” geram orang yang bertubuh besar, “nampaknya kau memiliki kemampuan mempergunakan sumpit?”
“Tidak. Tetapi kami akan mencoba” jawab Mahisa Pukat.
“Omong kosong. Kalian tentu pernah belajar mempergunakan sumpit. Jika tidak, kalian tidak akan mencobanya, karena mempergunakan sumpit memerlukan ketrampilan tersendiri” jawab orang bertubuh besar itu.
Mahisa Murtilah yang kemudian menjawab, “Ki Sanak. Ayahku adalah seorang petani miskin yang sering juga harus mencukupi kehidupannya dengan berburu burung. Aku dan saudaraku ini memang pernah mengikutinya sekali dua kali. Dan kami pun pernah mencoba mempergunakan sumpit. Karena itu, dalam pengembaraan ini kamipun ingin mempergunakan sumpit sebagaimana ayahku pernah mempergunakan”
Kedua orang berkuda itu saling berpandangan. Namun yang seorang kemudian bergumam, “Kau percaya kepada omongannya?”
Kawannya menggeleng. Katanya, “Bagaimanapun juga, mereka telah mencoba mencuri. Keterangannya itu semata-mata untuk mencoba memperingan kesalahan. Tetapi aku tidak sependapat dengan ceriteranya”
“Ya” geram orang bertubuh besar itu, “aku memang ingin membawa keduanya. Mungkin keduanya dapat memberikan keterangan yang berguna bagi kita. Dengan demikian, maka kita tidak akan pernah mendapat kesulitan lagi dari tikus-tikus kerdil itu”
Kawannya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Anak-anak yang malang. Kami telah mengambil keputusan untuk menangkap kalian. Kami ingin membawa kalian ke rumah kami”
“Kami tidak berbuat kesalahan. Jika kami berani memotong bambu ini, semata-mata karena kami tidak tahu, bahwa bambu di padang perdu ini ada pemiliknya” jawab Mahisa Pukat, “menurut pengamatan kami, pepohonan yang tumbuh di padang ini adalah pepohonan liar. Pandan, nanas, ilalang, pepohonan perdu, dan satu dua pohon yang agak besar tetapi gersang seperti pohon waru itu. Karena itu, maka kami pun menyangka bahwa rumpun bambu ini-pun tumbuh liar dan tidak terpelihara”
“Kau dapat mengatakan alasan apa saja” jawab orang bertubuh tinggi kurus itu, “tetapi kami ingin membawa kalian. Kami sudah cukup lama merasa terganggu oleh orang-orang yang iri terhadap keberhasilan kami”
“Cukup” bentak orang bertubuh besar itu, “jangan menjawab lagi. Kalian harus ikut kami. Jika tidak, maka kalian akan kami ikat kedua tangan kalian dan kami seret di belakang kuda-kuda kami, sehingga kalian terpaksa sampai ke rumah kami pula”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun saling berpandangan. Bahkan dengan geram Mahisa Pukat bergumam, “Baru beberapa langkah kami meninggalkan Kabuyutan itu”
“Ya” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu, “Aku kira, kita masih berada di dalam Pakuwon yang sama.
“Ya” jawab Mahisa Pukat. Tetapi kata-katanya terpotong oleh suara orang bertubuh besar itu, “Apa yang kalian katakan? Jangan mengada-ada. Menyerahlah, agar kalian tidak mengalami perlakuan yang kasar”
“Jangan memaksa begitu Ki Sanak” berkata Mahisa Pukat, “tingkah laku kalian memaksa kami untuk ingin mengetahui latar belakang dari sikap kalian”
Kedua orang itu benar-benar menjadi marah, sehingga mereka tidak dapat menahan diri lagi.
Sejenak kemudian keduanya telah menambatkan kuda-kuda mereka. Dengan langkah yang pasti keduanya mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih saja termangu-mangu.
“Sekali lagi aku memberi kesempatan kepada kalian. Menyerahlah” berkata orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan.
“Jangan bersikap seperti kalian menghadapi seorang penjahat. Kami tidak berniat mencuri. Kami tidak tahu bahwa bambu liar itu ternyata ada yang memilikinya. Sementara itu kami pun sudah bersedia menyerahkan kembali apa yang telah kami ambil” jawab Mahisa Pukat.
“Tutup mulutmu” bentak yang berkuda besar, “sikap kalian miembuat kami sangat marah”
“Dan sikap kalian sangat menarik perhatian” jawab Mahisa Pukat. Lalu tiba-tiba saja ia bertanya, “He, apakah kalian datang dari antara sekelompok penjahat? Atau sekelompok gerombolan yang mempunyai tujuan tertentu? Jika kalian adalah orang-orang padukuhan kebanyakan, kalian tidak akan bersikap seperti itu. Bahkan seandainya kalian adalah pengawal-pengawal sebuah Kabuyutan, kalian tentu akan dapat bertindak lebih baik”
“Cukup” orang bertubuh besar itu hampir berteriak, “aku memang ingin menyayat mulutmu”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Orang bertubuh tinggi besar itu melangkah mendekatinya, sementara kawannya yang lebih kecil meskipun tidak kalah tingginya, mendekati Mahisa Murti.
“Anak-anak yang malang” geram yang bertubuh kecil, “apaboleh buat. Nasibmu memang sangat buruk justru karena sikapmu yang kasar”
“Kau aneh Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “apakah sebenarnya sikap kami terlalu kasar? Apakah Ki Sanak sudah memperbandingkan dengan, sikap Ki Sanak sendiri?”
“Aku dapat berbuat apa saja di sini” jawab orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu, “tidak ada orang yang dapat mencegah tingkah laku kami. Apakah yang kami lakukan, adalah keputusan yang tidak dapat diganggu gugat. Juga terhadap kalian”
“Kalian adalah orang-orang yang aneh. Terhadap pengembara seperti kami berdua, kalian bersikap seolah-olah kalian menghadapi sepasukan pencuri yang tangguh” berkata Mahisa Murti, “Tetapi justru karena kalian bersikap demikian, maka kami terpaksa mempertahankan diri kami”
“Anak setan” geram orang bertubuh besar, “kalian belum tahu siapa kami”
“Memang belum” sahut Mahisa Pukat, “kami memang belum tahu siapakah kalian yang sebenarnya? Apakah justru kalian yang harus ditangkap dan diserahkan kepada Ki Buyut atau bahkan Akuwu”
Orang bertubuh besar itu tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil mengayunkan tangannya ke arah mulut Mahisa Pukat.
Tetapi Mahisa Pukat sudah menduganya. Karena itu, ketika tangan orang itu terayun, maka ia pun bergeser surut sambil menarik tubuhnya. Dengan demikian tangan orang bertubuh tinggi besar itu sama sekali tidak menyentuhnya.
Orang bertubuh besar itu menjadi semakin marah. Dengan serta merta ia pun telah bersikap dan langsung menyerang Mahisa Pukat. Tangannya seolah-olah ingin menerkam wajah anak muda itu dengan jari-jarinya yang terkembang.
Sekali lagi Mahisa Pukat meloncat surut. Namun orang itu ternyata telah memburunya. Ia tidak sabar lagi untuk dapat benar-benar meremas mulut Mahisa Pukat. Tetapi ia sudah salah menilai anak muda itu. Mahisa Pukat tidak mudah untuk disentuhnya, sehingga serangan-serangannya yang beruntun sama sekali tidak mengenai sasarannya.
Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan menjadi heran. Justru karena itu ia tertegun diam. Dipandanginya Kawannya yang bertubuh besar itu. Namun yang tidak dapat segera menyakiti lawannya sebagaimana dikehendakinya.
Orang bertubuh tinggi itu terkejut ketika ia mendengar Mahisa Murti berkata, “Kawanmu terlalu garang Ki Sanak, sehingga ia kurang dapat mengendalikan dirinya”
“Diam” orang bertubuh tinggi itu menggeram. Namun kemudian ia pun telah menghadapi Mahisa Murti sambil berkata, “Nasibmu akan menjadi lebih buruk lagi. Sebentar lagi kawanmu itu akan menjadi lumat. Tetapi kau akan mengalaminya lebih dahulu. Seandainya kau memiliki kecepatan gerak seperti kawanmu itu, namun aku pun memiliki ilmu yang lebih baik dari kawanku itu”
“Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “sebenarnya persoalan kita tidak pantas untuk di selesaikan sampai dengan sikap yang paling keras dan korban yang paling besar. Apakah artinya pering cendani dibandingkan dengan nyawa seseorang”
“Kau memang dungu” bentak orang itu, “bukan nilai sebatang pering cendani. Tetapi bahwa kalian telah melanggar hak dan harga diri kami. Tidak seorang pun yang berani menyentuh segerumbul pering cendani yang khusus beruas sangat panjang itu selain kalian. Karena itu, maka hukuman yang paling berat akan kami berikan kepada kalian”
“Itu adalah sikap yang sangat cengeng. Apakah kalian tidak dapat bersikap lebih baik Ki Sanak?” bertanya Mahisa Murti.
Orang itu tidak menjawab. Tetapi setapak ia maju. Sesaat ia mempersiapkan diri. Katanya, “Aku tidak akan melepaskan anak-anak muda gila seperti kalian”
Mahisa Murti pun sadar, bahwa iapun harus bertempur seperti Mahisa Pukat. Orang bertubuh tinggi kekurusan itu nampaknya memang mempunyai kelebihan dari orang yang bertubuh raksasa yang telah menyerang Mahisa Pukat dengan kasar.
Dalam pada itu, Mahisa Murti pun telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Ia harus berhati-hati menghadapi orang bertubuh tinggi itu, karena menilik sikapnya, ia tentu memiliki sesuatu yang dapat dibanggakannya.
Selangkah orang itu mendekat. Ketika Mahisa Murti bergeser, maka tiba-tiba saja orang itu pun melenting sam bil menjulurkan tangannya menyerang.
Mahisa Murti yang sudah bersiap sepenuhnya itu pun bergeser pula secepat datangnya serangan, sehingga serangan itutidak mengenainya sama sekali. Tetapi seperti tatit, orang bertubuh tinggi itu meloncat dengan kaki terjulur menyamping. Dangan kecepatan dan derasnya serangan itu menyamhar Mahisa Murti. Tetapi serangan yang cepat itu tidak mangejutkan Mahisa Murti yang sudah bersiaga menghadapi kemungkinan yang bagaimanapun juga. Karena itu, maka ia pun masih sempat mengelak ke samping sambil menarik tubuhnya.
Lawannya menggeram. Bahwa serangannya sama sekali tidak mengenai sasarannya, telah membuatnya semakin marah itu, demikian kakinya menyentuh tanah, maka ia pun segera berputar bertumpu pada tumitnya. Sedangkan kaki yang lain menyambar Mahisa Murti pada lambungnya.
Mahisa Murti mulai berniat untuk menyerangnya kembali. Karena itu. Ketika ia bergeser surut, tangannya telah dengan cepat disertai dengan mengerahkan kekuatannya pada tangannya itu, menangkis kaki lawannya. Sambil merendah Mahisa Murti menempatkan tangannya berjajar rapat di muka dadanya, ditekuk pada sikunya. Sehingga ayunan kaki lawannya telah membentur kedua tangan Mahisa Murti yang telah dijadikannya sebagai perisai.
Sebuah benturan yang keras telah terjadi. Mahisa Murti yang belum mengetahui sepenuhnya kekuatan lawannya, ternyata telah terkejut. Bukan karena ia terlempar surut,. tetapi justru lawannyalah yang terlempar beberapa langkah dan kemudian jatuh berguling di tanah berpasir.
Mahisa Murti yang masih berdiri tegak itu memandangi lawannya dengan termangu-mangu. Ternyata kekuatan lawannya tidak seimbang dengan tingkah lakunya yang seolah-olah sangat meyakinkan itu.
Tetapi orang itu dengan cepat melenting berdiri. Meskipun demikian, pada wajahnya nampak betapa ia berusaha menahan sakit pada kakinya yang seolah-olah telah membentur batu padas di lereng pegunungan.
“Gila” geramnya.
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia sempat berpaling kearah Mahisa Pukat, maka ia pun melihat, bagaimana Mahisa Pukat menguasai lawannya sepenuhnya.
“Kau sangka bahwa ilmu iblismu itu akan dapat menundukkan aku” geram orang itu.
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Nampaknya orang itu justru menjadi semakin marah. Sebenarnyalah orang itu pun kemudian bergeser mendekatinya sambil berkata, “Kau telah salah langkah anak muda. Kau sangka bahwa dengan demikian, kau memiliki kekuatan jauh lebih besar dari kekuatanku” orang itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi ketahuilah, bahwa aku belum bersungguh-sungguh. Aku masih berusaha untuk mengalahkanmu tanpa merontokkan iga-igamu. Namun kau telah mulai dengan sikap yang kasar. Karena itu, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk”
Mahisa Murti tidak menjawab. Ia sudah bersiap menghadapi apapun juga. Apalagi ketika ia sudah berhasil menjajagi kekuatan lawannya, meskipun barangkali kekuatan itu masih belum sampai kepuncak kekuatannya.
Tetapi yang dikerahkan oleh Mahisa Murti barulah kekuatan wadagnya sewajarnya. Ia pun masih belum menambah pada kekuatan cadangannya. Karena itu, seandainya orang itu masih akan meningkatkan kemampuannya, maka Mahisa Murti akan menghadapinya dengan tanggon.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat telah semakin mendesak lawannya. Orang bertubuh tinggi besar itu ternyata tidak mampu melawan kecepatan gerak dan kekuatan Mahisa Pukat. Meskipun Mahisa Pukat masih juga mempergunakan tenaga wajarnya. Benturan-benturan yang terjadi telah mendesak orang bertubuh tinggi besar itu sehingga ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menyerang.
“Menyerahlah” berkata Mahisa Pukat, “aku dapat berbuat baik, tetapi aku dapat berhuat kasar”
“Gila” geram orang bertubuh tinggi besar itu, “jika demikian kau tentu salah seorang gerombolan Hantu Jurang Growong”
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan” jawab Mahisa Pukat, “apa artinya Hantu Jurang Growong”
“Jangan berpura-pura anak muda” jawah orang bertubuh besar itu, “orang-orang dari Hantu Jurang Growong benar-benar bersikap seperti hantu. Mereka dapat berbuat baik, tetapi sebenarnyalah mereka berhati iblis. Dan kau pun dapat berbuat seperti itu. Apalagi menilik rencanamu mencuri pering cendani itu. Maka aku mengambil kesimpulan, bahwa kalian adalah orang-orang dari Hantu Jurang Growong”
“Kau membingungkan” sahut Mahisa Pukat, “yang kau maksudkan orang-orang dari Jurang Growong, atau Hantu dari Jurang Growong”
“Kau memang dungu” bentak orang itu, “yang disebut Hantu Jurang Growong adalah orang-orang yang menamakan dirinya demikian. Sama sekali bukan hantu. Tetapi mereka memang memiliki ilmu seperti hantu” orang itu berhenti sejenak. Tetapi tiba-tiba katanya, “he, jangan berpura-pura. Kau salah seorang dari antara mereka”
Mahisa Pukat tidak segera menjawab. Tetapi ia melihat lawannya mulai dibayangi oleh kecemasan. Sorot matanya membayangkan ketegangan di dalam jiwanya.
“Ki Sanak” berkata Mahisa Pukat aku bukan orang dari Jurang Growong. Aku sama sekali tidak tahu menahu tentang orang apalagi hantu dari Jurang itu”
“Persetan” geram orang itu kau harus dibinasakan. Seluruh penghuni Jurang Growong memang harus dibinasakan”
“Jangan mengigau seperti orang kesurupan” bentak Mahisa Pukat.
Ternyata orang itu benar-benar terkejut, sehingga ia telah meloncat mundur. Ketegangan yang membayang disorot mata orang itu telah berubah menjadi ketakutan.
Mahisa Pukat ingin memanfaatkan keadaan itu. Karena itu sekali lagi ia membentak, “Menyerahlah. Atau kau akan aku cincang di sini”
Ketakutan yang sangat telah semakin mencengkam orang bertubuh raksasa itu. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan orang bertubuh tinggi kekurusan itu masih saja bertempur.
Tetapi pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama. Mahisa Murti telah menguasai lawannya pula. Sejenak kemudian lawannya telah terdesak, sehingga akhirnya orang bertubuh tinggi kekurusan itu tidak sempat melawan lagi.
Kedua orang itu akhirnya benar-benar harus mengakui keunggulan lawannya. Meskipun rasa-rasanya nyawa mereka belum terancam, tetapi mereka menyadari, bahwa mereka sama sekali tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika pertempuran itu dilanjutkan, maka mereka hanya dapat menggugah kemarahan yang lebih besar saja dari kedua orang anak-anak muda itu.
Karena itu, maka akhirnya, pada batas tahan tertentu, orang bertubuh tinggi kekurusan itu meloncat jauh surut sambil berkata, “Tunggu Ki Sanak. Aku masih ingin berbicara”
“Menyerah atau aku akan membunuhmu dengan cara seperti yang kau katakan? Cara yang kau rencanakan akan kau perlakukan terhadap kami?” bentak Mahisa Murti, “jika kau menyerah, cepat menyerahlah. Jika tidak, aku akan mengikat tanganmu dan menyeretmu di belakang kaki kudamu sendiri”
“Jangan Ki Sanak. Jangan” minta orang itu.
“Jika demikian, menyerahlah” berkata Mahisa Murti pula.
Orang itu ragu-ragu. Agaknya ia masih juga berpikir tentang harga dirinya. Namun orang itu bergeser surut ketika Mahisa Murti sekali lagi membentak, “Menyerahlah. Cepat. Atau aku akan kehilangan kesabaranku”
“Baik. Baik” jawab orang yang kekurusan, “aku menyerah”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu terdengar suara Mahisa Pukat, “Nah, kau dengar. Kawanmu telah menyerah. Apakah kau akan tetap bertahan?”
Orang itu tidak dapat lagi menyembunyikan ketakutannya. Karena itu, maka dengan terbata-bata ia pun berkata, “Aku, aku juga menyerah”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Jika kalian telah menyerah, maka berikan kedua tangan kalian. Kalian akan kami ikat pada kuda kalian masing-masing. Kemudian kami akan mencambuk kuda kalian ke arah padang perdu yang liar itu. Nah, kau akan dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas kalian”
“Jangan. Jangan lakukan itu” minta orang bertubuh raksasa itu.
“Kenapa? Bukankah kalian juga akan memperlakukan kami demikian jika kalian memenangkan perkelahian ini?” bertanya Mahisa Murti.
“Tidak” jawab orang yang kekurus-kurusan, “kami tidak akan benar-benar berbuat demikian. Kami hanya bermaksud menakut-nakuti kalian saja”
“Setelah kalian kami kalahkan, maka kau dapat berkata seperti itu” bantah Mahisa Murti.
“Tidak. Sebenarnya kami tidak akan berbuat apa-apa. Kami hanya ingin menggertak saja, agar kalian menganggap kami orang-orang yang garang dan menakutkan” jawab orang bertubuh kekurusan itu, “sebenarnyalah kami hanya ingin membawa kalian ke padukuhan kami.
“Untuk apa?” bertanya Mahisa Murti.
“Kalian kami anggap bersalah, karena kalian telah mencuri pering cendani itu” jawab orang bertubuh kekurusan
Mahisa Murti menarik nafas panjang. Sementara itu Mahisa Pukat telah melangkah maju sambil bertanya, “Kenapa kalian sangat berkeberatan jika seseorang mengambil satu batang saja pering cendani vang kami sangka tumbuh liar itu?”
Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian orang bertubuh kekurusan itu berkata, “Marilah. Aku berharap kalian singgah barang sebentar di padukuhan kami.
“Dan kalian akan mengeroyok kami berdua beramai- ramai” jawab Mahisa Pukat.
“Tidak. Sama sekali tidak” jawab orang bertubuh tinggi kekurusan.
“Aku tidak akan singgah. Aku akan mengikat kedua tangan kalian masing-masing di belakang kuda kalian” berkata Mahisa Pukat. Lalu, “Itu sudah menjadi keputusan kami”
“Jangan. Aku mohon” suara orang bertubuh raksasa itu menjawab gemetar.
“Karena itu, coba katakan. Kenapa kalian mempertahankan pering cendani itu sampai dengan mempertaruhkan nyawa kalian. Bukankah sebentar lagi kalian akan mati diseret kuda-kuda kalian sendiri hanya karena pering cendani itu?” bertanya Mahisa Pukat.
“Sebenarnyalah aku mohon. Jangan bunuh kami” suara orang yang kekurusan itu pun menjadi gemetar.
Mahisa Murti akhirnya tidak sampai hati untuk menakut-nakuti orang itu lebih lama lagi. Karena itu, maka katanya kemudian, “Baiklah. Aku tidak akan membunuh kalian. Tetapi katakanlah, apa arti pering cendani beruas panjang ini bagi kalian”
Orang bertubuh tinggi kekurusan itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Sebenarnya kami minta kalian untuk singgah. Kalian akan mendapat penjelasan lebih terperinci”
“Sementara itu kau menyiapkan orang-orangmu untuk menangkap aku beramai-ramai dengan tuduhan, seolah-olah aku termasuk hantu yang kau sebut dari Jurang Growong itu”
“Tidak. Aku berjanji” jawab orang bertubuh kekurusan, “Aku akan memperkenalkan kalian dengan tetangga-tetanggaku. Mereka akan dapat menceriterakan kepada kalian tentang pering cendani ini”
“Tidak perlu” jawab Mahisa Murti, “katakan menurut pengertianmu tentang pering cendani itu”
Orang bertubuh kekurus-kurusan itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak diamatinya wajah kawannya yang tegang. Namun agaknya ia memang tidak mempunyai pilihan lain, sehingga karena itu, maka katanya kemudian, “Baiklah. Tetapi bukankah kalian bukan orang-orang dari gerombolan Hantu Jurang Growong?”
“Aku belum pernah mendengar nama itu. Seandainya kami orang-orang dari Jurang Growong, apakah kalian dapat menolak untuk tidak mengatakan sesuatu tentang pering cendani ini?” bertanya Mahisa Pukat.
Orang itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia menggeleng. Katanya, “Kami memang tidak akan dapat menolak. Tetapi aku kira mereka memang tidak akan bertanya seperti Itu”
“Baiklah. Katakan apa yang kau ketahui tentang pering cendani itu?” bertanya Mahisa Murti.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Aku memang harus mengatakannya, siapapun kalian” ia berhenti sejenak, lalu, “pada saat terakhir, kami telah mendapat seorang tamu di padukuhan kami yang telah memperkenalkan kami dengan pering cendani ini. Bambu ini sebelumnya memang tumbuh liar tanpa arti sama sekali. Tetapi sejak seorang tamu dari salah seorang penghuni padukuhan kami itu memberitahukan kemungkinan yang dapat kami lakukan dengan pering cendani ini, maka kami menganggap bahwa pering cendani itu merupakan tanaman yang sangat penting artinya”
“Apa yang dikatakan tamu itu?” bertanya Mahisa Pukat., “Tamu itu memperkenalkan satu jenis senjata yang sangat menarik. Sumpit seperti yang kau sebut-sebut” jawab orang bertubuh kekurusan itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mahisa Murti bertanya, “Jadi kalian mengenal sumpit belum terlalu lama?”
“Baru saja. Kami telah membuat beberapa contoh dan kami sedang mempelajari, bagaimana kami mempergunakannya” jawab orang bertubuh kurus itu, “karena itu, maka bagi kami, pering cendani ini sangat penting artinya. Senjata yang diperkenalkan kepada kami itu ternyata mempunyai kemungkinan yang jauh lebih baik dari senjata-senjata seperti yang pernah kami miliki”
“Sungguh menarik” berkata Mahisa Pukat, “bagaimana mungkin kalian mempergunakannya sebagai senjata? Kami sudah mengenal sumpit sejak lama. Tetapi yang kami lakukan, semata-mata sekedar untuk berburu. Dengan sumpit kami memang dapat membunuh seekor burung. Bahkan mungkin sekedar melumpuhkannya”
“Kami dapat membunuh lawan kami dengan sumpit” berkata orang bertubuh tinggi kekurusan itu.
“Bagaimana mungkin. Apakah kau mempergunakan cara tertentu yang belum kami kenal?” bertanya Mahisa Murti.
“Aku tidak dapat mengatakannya, karena apa yang kami ketahui itu adalah satu-satunya cara” jawab orang itu.
“Katakan, bagaimana kau membunuh lawanmu dengan sumpit? Apa yang kalian lontarkan dengan sumpit itu?” bertanya Mahisa Pukat.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Apa yang kalian pergunakan?”
“Kami melontarkan biji-bijian, atau sebutir kecil lempung yang sudah mengeras” jawab Mahisa Pukat.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Kami melontarkan senjata yang berbahaya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Bukannya mereka tidak mengerti, tetapi-mereka memang ingin mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.
“Kami mempergunakan paser-paser kecil” jawab orang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah mereka sudah menduga. Orang-orang itu tentu mempergunakan paser-paser kecil yang ujungnya beracun. Mungkin duri pepohonan, tetapi mungkin pula duri ikan air. Duri itu telah direndam di dalam sejenis racun yang dapat membunuh seseorang yang terluka karenanya.
“Siapakah tamumu itu sebenarnya?” bertanya Mahisa Murti kemudian.
“Salah seorang tetangga kami mempunyai seorang saudara yang pernah merantau dan kini menetap di Kota Raja. Ia datang untuk menengok tetanggaku itu. Ketika ia mengetahui kesulitan yang kami alami, maka ia pun berusaha membantu kami. Ia memperkenalkan kami dengan senjata pering cendani, karena kebetulan ia melihat sejenis bambu itu di pinggir padang perdu ini. Tetapi ruasnya tidak sepanjang pering cendani yang tumbuh disini” jawab orang yang tinggi kekurusan itu.
“Kami mengerti. Pering cendani bagi kalian adalah lambang satu harapan. Tetapi apa yang sebenarnya telah terjadi, sehingga kalian memerlukan senjata yang lebih baik dari senjata yang sudah kalian miliki?” bertanya Mahisa Murti.
Kedua orang itu saling berpandangan Agaknya mereka merasa ragu-ragu untuk mengatakannya. Namun menilai sikap Kedua anak muda yang sungguh-sungguh dan tidak memancarkan niat vang buruk itu, orang bertubuh tinggi itupun berkata, “Sudah kami sebut. Hantu Jurang Growong.
“Siapakah yang kalian maksud sebenarnya? Gerombolan perampok? Atau gerombolan apa?” bertanya Mahisa Pukat.
“Mungkin. Kami tidak tahu pasti. Tetapi mereka memang sering melakukan kejahatan seperti itu” jawab orang bertubuh besar.
“Dan kalian ingin melawan mereka?” bertanya Mahisa Murti.
“Ya. Tingkah laku mereka sudah keterlaluan. Kami tidak dapat tinggal diam. Sementara itu, kami tidak akan dapat melawan mereka dengan senjata pendek. Kami tidak akan mampu mengimbangi ilmu pedang mereka. Juga kemampuan mereka mempergunakan tombak dan bahkan bindi” jawab orang yang Kekurusan, “karena itu kami mencari senjata yang berjarak lebih panjang”
“Kenapa kalian tidak mempergunakan panah?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kami juga sudah mempertimbangkan” jawab orang itu, “tetapi nampaknya kami akan lebih berhasil dengan mempergunakan sumpit. Selebihnya, kami akan dapat membuat sumpit jauh lebih banyak dari pada jika kami membuat busur dan anak panah”
“Tetapi kau harus bermain-main dengan racun” sahut Mahisa Murti, “bukankah bukan pekerjaan yang mudah untuk menampung racun dan merendam duri pada racun itu. Jika duri itu tergores ditangan kalian sendiri, maka kalian-pun akan mengalami nasib yang buruk”
“Ada seorang dukun di padukuhan kami yang mempunyai pengetahuan tentang racun dan bisa. Ia dapat membantu kami” jawab orang bertubuh tinggi besar.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian katanya, “Kami lebih senang mempergunakan busur dan panah. Nampaknya lebih tanggon dari pada mempergunakan racun. Anak panah memang dapat melumpuhkan lawan. Tetapi tanpa racun mereka yang terkena anak panah masih lebih mudah diobati, meskipun lawan sekalipun”
Orang-orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian orang bertubuh tinggi besar itu bertanya, “Tetapi bukankah kita memang ingin membunuh? Dengan racun kita akan dapat membunuh mereka”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka merasakan ketakutan yang mencengkam orang-orang itu terhadap yang disebutnya Hantu dari Jurang Growong. Ketakutan yang sangat itu telah membuat orang- orang itu menjadi garang, kasar dan bahkan hampir liar. Tetapi pada saat tertentu, mereka masih menampakkan sifat-sifat mereka yang sebenarnya.
“Mereka orang-orang padukuhan seperti yang lain” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di dalam hatinya. Justru karena itu, maka timbullah keinginan mereka untuk singgah. Mereka ingin melihat suasana di padukuhan itu dan tamu yang telah memberikan beberapa petunjuk tentang cara membuat dan mempergunakan sumpit. Sementara itu, keduanya juga ingin mengetahui serba sedikit tentang orang-orang yang mereka sebut Hantu dari Jurang Growong itu.
Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata, “KI Sanak. Seandainya kami bersedia singgah, apakah kalian berdua menjamin bahwa tidak akan terjadi sesuatu atas diri kami?”
“Kami menjamin keselamatan kalian” jawab orang bertubuh tinggi kekurusan itu.
“Bukan untuk keselamatan kami” sahut Mahisa Pukat, “tetapi sekedar mencegah agar kami berdua tidak membunuh terlalu banyak. Karena jika kalian ingin berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya terhadap kami berdua, maka kami akan melakukan satu usaha untuk mempertahankan diri. Akibatnva dapat kau bayangkan. Mungkin orang sepadukuhanmu akan mati oleh kami. Sumpit beracun kalian tidak akan berpengaruh terhadap kami yang mempunyai obat penawar bisa”
Kedua orang itu nampak menjadi berdebar-debar. Sementara itu Mahisa Murti telah menggamitnya. Tetapi Mahisa Pukat justru tersenyum karenanya.
“Ki Sanak” berkata orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu, “kami mengerti, betapa tinggi kemampuan kalian. Karena itu silahkan singgah, kami tidak akan mengganggu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun hampir bersamaan keduanya mengangguk kecil.
“Baiklah” berkata Mahisa Pukat, “kami akan singgah jika kalian percaya bahwa kami bukan orang-orang dari Jurang Growong” Mahisa Pukat berhenti sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “He, apakah kalian belum pernah melaporkannya kepada Akuwu yang memiliki kemampuan dan ilmu tidak ada bandingnya? Selain itu ia mempunyai pasukan pengawal yang kuat, yang tentu akan dapat menghancurkan Hantu Jurang Growong itu”
“Kami memang belum pernah melaporkannya” jawab orang bertubuh tinggi kekurusan, “kehadiran Hantu Jurang Growong itu belum terlalu lama. Dan kami masih harus meyakinkan, agar kami dapat memberi keterangan yang jelas baru kemudian melaporkan kepada Akuwu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Bahkan keduanya pun mulai menimbang, apakah orang-orang yang berniat jahat di banjar Kabuyutan itu juga orang-orang dari Jurang Growong. Jika demikian, maka kekuatan di Jurang Growong itu tentu sudah jauh berkurang, setelah beberapa orang dapat ditangkap dan bahkan ada yang telah terbunuh”
“Tetapi mungkin pula bukan. Nampaknya mereka adalah pendatang baru yang mulai dengan kegiatan-kegiatan yang mengganggu orang-orang padukuhan,” berkata Mahisa Murti didalam hatinya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat pun bertanya kepada diri sendiri, “Dimana letaknya Jurang Growong itu?”
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah sepakat untuk singgah barang sebentar di padukuhan kedua orang berkuda yang berusaha untuk memiliki pering cendani itu bagi mereka dan lingkungan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengambil meskipun hanya sebatang saja.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, kedua anak muda itupun telah berkemas untuK mengikuti kedua orang berkuda itu.
“Pakailah kuda kami” berkata orang yang bertubuh tinggi besar, “Ya. Biarlah kami berjalan kaki” berkata yang kekurusan.
“Terima kasih” sahut Mahisa Murti, “biarlah kami berjalankah saja. Kami sudah terlalu biasa berjalan”
“Silahkan kalian berkuda” sambung Mahisa Pukat jika kalian ingin mendahului kami, pergilah. Kami akan menyusul”
“Apakah kalian sudah mengetahui dimanakah letak padukuhan kami?” bertanya orang yang bertubuh tinggi kekurusan.
“Bukan soal yang sulit bagi kami” jawab Mahisa Pukat, “kami dapat mengikuti jejak kuda kalian kemanapun kalian pergi”
Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Mereka menjadi semakin kagum terhadap kedua orang anak muda itu Nampaknya keduanya memang meyakinkan sekali. Namun keduanya tidak ingin mendahului. Merekapun kemudian berjalan sambil menuntun kuda mereka bersama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Apakah padukuhan kalian jauh?” bertanya Mahisa Murti.
“Tidak terlalu jauh. Jika kita sudah keluar dari padang perdu ini, kita sudah sampai di daerah persawahan dari padukuhan kami” jawab orang bertubuh kekurusan itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mengetahui, bahwa letak padukuhan mereka memang masih dalam lingkungan satu Pakuwon dengan Kabuyutan yang baru saja mewisuda Buyutnya yang baru”
Demikianlah, kedua anak muda itu mengikuti dua orang yang menuntun kudanya melintasi padang perdu yang agak luas. Ternyata bahwa di padang perdu itu terdapat beberapa rumpun pering cendani. Tetapi ruasnya tidak sepanjang pering cendani yang telah menimbulkan persoalan diantara kedua anak muda itu dengan orang-orang yang merasa berhak. Pering cendani yang tumbuh di bagian lain dari padang perdu itu ruasnya memang cukup panjang untuk membuat sumpit, tetapi jauh lebih pendek dari pering cendani yang khusus itu.
Karena itu, maka pering cendani yang beruas panjang itu telah mendapat perhatian yang khusus dari orang-orang padukuhan yang sedang berusaha mempersenjatai diri mereka dengan senjata-senjata yang belum pernah mereka pergunakan sebelumnya.
Beberapa saat empat orang itu berjalan di udara yang terik. Beberapa batang perdu sempat melindungi tubuh mereka dari sengatan matahari yang meskipun sudah condong, tetapi panasnya masih terasa membakar kulit.
Namun akhirnya mereka pun mencapai pinggir padang perdu itu. Di hadapan mereka kemudian terbentang tanah persawahan yang subur. Dengan parit yang membelah dan kemudian menusuk sampai ke segenap bagian tanah persawahan, maka tanaman pun menjadi hijau segar. Padi dapat ditanam di segala musim, karena tidak tergantung sekali kepada air yang turun dari langit. Parit yang mengalirkan air yang diangkat dari sungai yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi mengalir cukup deras.
“Kita sudah memasuki daerah Kabuyutan kami” berkata orang bertubuh tinggi dan agak kekurusan itu, “padukuhan yang nampak di seberang bulak panjang itu adalah salah satu dari padukuhan di Kabuyutan kami”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kau juga tinggal di padukuhan itu?”
“Tidak” jawab orang yang kekurusan, “aku tinggal di padukuhan di belakang padukuhan itu Aku tinggal di padukuhan induk”
“Dan kau?” bertanya Mahisa Pukat kepada orang yang bertubuh besar.
“Aku juga tinggal di padukuhan induk” jawab orang bertubuh besar itu.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi sikap kalian pada mulanya sama sekali tidak mencerminkan sikap orang-orang padukuhan. Aku justru mengira bahwa kalian adalah bagian dari berandal atau gerombolan penjahat yang lain”
“Kami minta maaf” sahut yang kekurusan, “kami berusaha untuk menutupi kekerdilan kami. Kami telah menjadi sasaran yang menyakitkan hati dari orang-orang yang menyebut diri mereka Hantu Jurang Growong”
“Dan kalian tidak dapat melawan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Terlalu sulit. Mereka terdiri dari orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Padukuhan-padukuhan di seluruh kabuyutan kami telah menderita karenanya. Bahkan Kabuyutan-Kabuyutan yang lain pun mengalami nasib yang sama. Karena itu, kami telah berusaha mencari cara yang paling baik untuk mempertahankan padukuhan dan Kabuyutan kami” jawab orang yang kekurusan, “diantaranya dengan membuat senjata baru itu”
“Kenapa kalian mempertahankan pering cendani itu dengan segala macam pengorbanan Kenapa kalian tidak justru berusaha memberi tahukan kepada tetangga-tetangga Kabuyutan kalian untuk bersama-sama memanfaatkan pering cendani itu”
“Setelah kami merasa cukup. Sebelumnya kami akan mempertahankannya” jawab orang bertubuh besar. Lalu, “Ketakutan dan kegelisahan telah membuat kami menjadi orang-orang yang terlalu mementingkan diri sendiri. Bahkan kemudian kami pun menjadi buas dan liar. Tetapi pada dasarnya, kami ingin mempertahankan diri kami dan segala macam milik kami”
Tetapi kalian berdua berani memasuki padang perdu. Bagaimana jika kalian bertemu dengan orang-orang Jurang Growong?”
Orang bertubuh tinggi kekurusan itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menjawab, “Jarang sekali orang-orang Jurang Growong itu muncul. Apalagi di siang hari. Tetapi sekali mereka datang, maka mereka tidak akan kembali tanpa membawa sesuatu yang berharga. Jika perlu mereka tidak segan-segan mengorbankan nyawa sasarannya”
“Kalian sudah mengenali tabiatnya” berkata Mahisa Murti, “tetapi kalian masih belum melaporkannya kepada Akuwu. Apakah justru bukan kalian yang telah bersalah? Jika kalian melaporkan hal ini, maka para pengawal akan segera bertindak. Dan korban pun tidak akan menjadi semakin banyak”
“Kami berusaha untuk mengenal mereka lebih banyak. Kamipun belum tahu pasti, dimanakah sarang mereka” jawab orang yang kekurusan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi heran. Dengan demikian maka Mahisa Murti pun bertanya, “Bukankah mereka orang-orang yang bersembunyi di Jurang Growong sehingga mereka disebut Hantu Jurang Growong”
“Mereka memang menyebut nama mereka demikian” jawab yang bertubuh besar, “tetapi kami belum tahu, dimana letak Jurang Growong Itu”
“He” kedua anak muda itu menjadi semakin heran. Dengan nada tinggi. Mahisa Pukat bertanya, “Jadi kalian tidak tahu, dimana letaknya jurang yang disebut Jurang Growong itu?”
Kedua orang itu menggeleng. Yang kekurusan menyahut, “Kami mengenal beberapa jurang di daerah ini. Tetapi jurang itu bukan tempat yang dapat dihuni orang. Jurang itu sekedar tebing sungai yang curam dan tinggi. Terdiri dari batu-batu padas yang membujur panjang. Namun jurang batu padas itu tidak mempunyai sebuah lekuk pun yang pantas untuk tempat tinggal, bahkan untuk berteduh dari hujan gerimis sekalipun. Apalagi sebuah goa atau semacamnya yang dapat dipergunakan oleh segerombolan orang-orang yang menyebut diri mereka Hantu Jurang Growong. Sementara Jurang di lembah sebelah pebukitan itupun tidak akan dapat dihuni oleh satu orang pun. Apalagi jurang di lembah itu terdiri dari tanah yang lebih lunak, sehingga setiap kali akan dapat terjadi bencana tanah longsor”
“Lembah yang mana? Dan apakah di lereng itu sama sekali tidak terdapat pepohonan?“ bertanya Mahisa Murti.
“Tidak sebatang pohon pun. Menurut sebuah dongeng, di lereng lembah di pebukitan itu terdapat sebuah hutan cendana. Hutan yang ditumbuhi kayu cendana. Namun karena setiap hari kayu itu ditebang orang, maka akhirnya
hutan dilereng itu menjadi gundul. Tanahnya menjadi rawan dan setiap kali akan dapat longsor menimbun daerah dibawahnya” jawab orang, bertubuh kekurusan
”Kayu cendana adalah sejenis kayu yang mahal”
“Hutan itu tidak dilindungi? Maksudku, apakah Akuwu tidak melarang orang-orang yang menebangi kayu cendana
di hutan itu?“ bertanya Mahisa Murti.
“Akuwu sudah melarangnya. Tetapi orang-orang itu telah mencurinya, sehingga kayu cendana Itu kini telah habis. Yang tinggal hanyalah beberapa batang saja, yang
diawasi oleh orang-orang yang tinggi dipadukuhan terdekat atas perintah Akuwu.
Bahkan Akuwu telah mengancam hukuman yang sangat berat bagi mereka yang mencuri kayu cendana. Tetapi agaknya sudah terlambat. Lereng itu sudah menjadi gundul” jawab orang bertubuh tinggi kekurus-
kurusan.
“Apakah mereka membawa dua orang tawanan?“
“Mungkin. Mungkin Ki Jagabaya melihat langsung kedua orang anak muda itu melakukan kejahatan”
“Apakah sekarang masih ada sisa-sisa pohon cendana itu?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Masih ada beberapa batang pohon“ jawab orang itu “ dan Akuwu yang sekaranglah. yang memerintahkan orang-orang padukuhan terdekat untuk mengawasinya.
Agaknya ia bersikap lebih keras dari Akuwu sebelumnya. Tetapi yang dapat dilakukan tinggallah menyelamatkan sisa
pohon cendana itu. Akuwu yang sekarang tidak dapat berbuat banyak mengatasi bukit yang lerengnya telah dibersihkan itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapat
mengangguk-angguk saja Jika mereka ingin mempersoalkan lereng dan jurang yang gundul itu, maka mereka akan bertemu lagi dengan Akuwu yang memiliki beberapa macam benda upacara dihari wisuda itu.
Sementara itu, merekapun menjadi semakin dekat dengan padukuhan dihadapana mereka. Tetapi padukuhan itu bukannya padukuhan induk. Mereka masih harus melintasi lagi bulak dibelakang padukuhan itu, sebelum
mereka memasuki padukuhan induk.
Ketika mereka memasuki padukuhan itu, maka beberapa orang memperhatikan mereka dengan heran. Kedua orang yang mereka kenal itu telah menuntun kudanya bersama
dua orang anak muda yang masih asing bagi mereka.
“Siapa mereka?“ bertanya seseorang kepada tetangganya.
“Yang mana?“ tetangganya ganti bertanya.
“Tentu yang dua orang anak muda itu“ jawab yang lain.
Lalu
“Yang dua orang aku tidak akan bertanya”
Tetangganya tidak sempat menjawab. Keempat orang itu lewat dihadapan kedua orang yang sedang berbincang itu.
Orang yang menuntun kudanya itu mengangguk kecil sambil tersenyum. Tetapi mereka tidak berbicara kepada kedua orang di pinggir jalan itu.
Demikian kedua orang yang menuntun kuda itu menjauh, seorang diantara kedua orang itu berkata
“Apakah mereka membawa dua orang tawanan?“
“Mungkin. Mungkin Ki Jagabaya melihat langsung kedua orang anak muda itu melakukan kejahatan. Ki Jagabaya sekarang ini nampaknya telah berubah menjadi
sangat keras. Bahkah kadang-kadang kasar” jawab yang lain.
“Ia telah didorong untuk berbuat demikian. Kesulitan demi kesulitan telah terjadi di padukuhan dan bahkan di Kabuyutan ini. Karena itu, diperlukan sikap yang keras”
berkata yang lain pula.
Kawannya mengangguk-angguk. Ketika mereka berpaling, dua orang yang menuntun kuda bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu sudah hilang di balik tikungan.
Namun dalam pada itu, seorang diantara mereka bergumam “Kasihan. Mereka masih sangat muda. Apakah mereka telah terdorong oleh kesesatan yang tidak teratasi oleh jiwanya, sehingga anak-anak semuda itu telah
melakukan kejahatan” Kawannya mengangguk-angguk.
Katanya “Lalu kepada siapa masa depan ini akan kami percayakan, jika anak-anak
muda sebaya kedua anak itu telah terdorong melakukan kejahatan”
Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Sambil beranjak pergi ia berkata
“Aku akan kesawah. Selama ini siang
malam aku berdoa, jika anakku nanti menjadi dewasa, mudah-mudahan ia tidak terseret kedalam arus yang menyedihkan”
“Ya. Sangat menyedihkan. Mereka memang harus dikasihani. Bukan dimusuhi. Jika Ki Jagabaya salah langkah, maka akibatnya akan sebaliknya” desis yang lain.
Keduanya kemudian berpisah. Masing-masing pergi ke sawah mereka sendiri yang terletak diarah yang berbeda.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melalui padukuhan yang pertama.
Mereka kembali berjalan di bulak yang tidak begitu panjang. Padukuhan berikutnya
adalah padukuhan induk dari sebuah Kabuyutan yang subur. Namun karena sesuatu, maka telah terjadi beberapa perubahan dalam tata kehidupannya.
Ki Jagabaya dan beberapa orang pembantunya menjadi garang. Kejahatan telah mulai menjamah padukuhan-padukuhan di Kabuyutan itu.
Orang-orang padukuhan itu memang memerlukan perlindungan Mereka mengerti, bahwa Ki Jagabaya memang harus bersikap lain menghadapi suasana yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Namun yang kadang-
kadang sikap itu justru menakutkan bagi penghuni Kabuyutan itu sendiri.
Ternyata pada suatu kali Ki Jagabaya pernah berkata
“Tentu ada pengkhianat didalam lingkungan kita sendiri. Jika tidak maka para penjahat itu tidak akan segera mengetahui sasarannya. Apalagi Hantu Jurang Growong itu belum lama berada di sekitar daerah kita”
(Bersambung)
***************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar