*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-003-01*
Pedang itu menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Namun kemudian mematuk dengan cepat mengarah jantung lawannya.
Namun Mahisa Murti pun mempunyai kemampuan untuk bergerak cepat. Canggahnya berputar pula seperti baling-baling. Dalam benturan senjata, Mahisa Murti berusaha untuk tak secara langsung membenturkan tangkai canggahnya. Ia masih menjajagi kemampuan kayu gelugu yang meskipun sudah cukup tua dan kering, namun sudah terlalu lama tidak disentuh tangan. Dengan tangkas, Mahisa Murti selalu mengelakkan serangan lawannya dan menangkisnya ke samping.
Namun akhirnya ia pun semakin percaya kepada kemampuan kayu gelugu, tangkai canggahnya yang berwarna ke hitam-hitaman itu.
Dengan demikian, maka Mahisa Murti pun menjadi semakin berani. Sekali-kali ia menangkis serangan lawannya dengan menyilangkan tangkai canggahnya.
Lawannya menjadi semakin marah menghadapinya. Semakin lama semakin nyata pada lawannya itu, bahwa kemampuan Mahisa Murti pun tidak akan dengan mudah dapat diatasinya.
Karena itu, maka lawan Mahisa Murti itu telah berusaha dengan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menekan lawannya. Ilmu pedangnya yang dahsyat itu pun kemudian telah sampai ke puncaknya. Kecepatannya bergerak ternyata tidak lagi dapat dinilai oleh tetangga-tetangganya. Yang dilihat oleh tetangga-tetanganya itu adalah bayangan yang meloncat berputaran dan kilatan-kilatan cahaya yang memantul di daun pedang yang berputaran.
Namun setiap kali, cahaya yang memantul dan putaran pedang itu telah membentur putaran tangkai canggah yang kehitam-hitaman, yang seolah-olah telah berubah menjadi sebuah perisai yang besar melindungi tubuh Mahisa Murti.
Di arena yang lain, Mahisa Pukat menjadi semakin yakin akan dapat mengalahkan lawannya. Karena itu ia justru menjadi semakin berhati-hati. Jika ia membuat satu langkah yang salah, mungkin keadaannya akan segera berubah.
Sepasang pisau belatinya meskipun jauh lebih pendek dari pedang lawannya, namun mampu bergerak lebih cepat. Kadang-kadang justru berbahaya sekali, melampaui senjata panjang itu sendiri. Dengan sebilah pisau belati Mahisa Pukat menangkis pedang lawannya kesamping. Namun pada saat yang bersamaan ia meloncat maju sambil menyerang dengan pisau belatinya yang lain.
Namun ternyata bahwa lawannya yang semakin terdesak itu, tidak membiarkan pada suatu saat dirinya akan menjadi sasaran goresan pisau Mahisa Pukat. Bahkan gejolak kemarahan orang itu telah mendorongnya untuk berbuat lebih jauh lagi dari sekedar mempergunakan ilmu pedangnya.
Karena itu, ketika ia menjadi semakin terdesak, sebelum kulitnya terluka oleh senjata lawannya, maka ia pun bertekad untuk mempergunakan senjatanya yang paling berbahaya. Senjata yang jarang sekali dipergunakannya.
Pada saat kesempatan, maka lawan Mahisa Pukat itu telah meloncat mundur mengambil jarak. Dengan cepat, ia telah mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggangnya yang lebar.
Mahisa Pukat terkejut melihat sikap lawannya. Karena itu, maka iapun segera mengerti, apa yang akan dilakukan. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat itu justru meloncat surut.
Ketika ia melihat tangan lawannya bergerak dan melontarkan sesuatu, maka Mahisa Pukat pun dengan hati yang berdebar-debar telah meloncat pula menghindarinya.
Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat melepaskan tatapan matanya pada tangan lawannya. Sekali lagi ia melihat tangan lawannya mengambil sesuatu. Dan sekali lagi tangan itu terayun dengan derasnya.
Sekali lagi Mahisa Pukat harus melenting menghindari sebuah paser kecil yang menyambarnya.
“Gila” geram Mahisa Pukat, “kau pergunakan senjata-senjata racun itu?”
“Kau akan mati” sahut orang itu, “tidak ada orang yang mampu mengobati ketajaman racun yang terlontar lantaran paser-paser kecilku”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi sekali lagi dan sekali lagi ia harus berloncatan, ia tidak mengabaikan kata-kata lawannya bahwa paser itu telah direncam pada racun yang sangat tajam, sehingga sentuhan ujungnya akan dapat mengakhiri pengembaraannya. Dalam pada itu, Mahisa Murti pun melihat apa yang telah terjadi. Karena itu, maka hatinya pun menjadi terguncang pula. Senjata itu akan benar-benar berbahaya bagi keselamatan jiwa saudaranya. Karena itu, maka ia ingin memanfaatkan kelebihannya dari Mahisa Pukat. Ia memiliki senjata panjang yang justru melampaui panjang senjata lawannya. Karena itu, maka iapun telah berkata kepada diri sendiri, “Aku harus mampu mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya”
Karena itulah, maka Mahisa Murti pun kemudian telah menghentakkan kemampuannya. Ia tidak lagi dapat bertempur dengan batas imbangan pada kemampuan lawannya, karena ia melihat Mahisa Pukat yang mendesak lawannya. Tetapi dalam keadaan yang gawat itu, ia harus berbuat lebih banyak untuk mempercepat pertempuran itu.
Namun dalam pada itu, lawan Mahisa Murti pun telah mengerahkan kemampuannya pula. Ia yang sehari-hari dianggap sebagai seorang petani biasa seperti juga tetangga-tetanganya, ternyata memiliki ilmu yang luar biasa.
Tetapi lawannya adalah Mahisa Murti. Dengan kemampuan yang mengagumkan, ia pun telah memutar senjatanya. Canggah itu benar-benar merupakan senjata yang sangat berbahaya bagi lawannya. Apalagi ternyata bahwa tangkai canggah itu lebih panjang dari pedang panjang lawannya.
Karena itu, maka ketika Mahisa Murti benar-benar menghentakkan kemampuannya, maka ia pun mulai berhasil mendesak lawannya. Tetapi lawannya pun mempunyai perhitungan yang cerdik. Ia tidak melawan Mahisa Murti dengan benturan ilmu yang sehenarnya. Tetapi ia lebih banyak mengelak dan menghindar. Lawan Mahisa Murti itu mampu juga mengurai keadaan. Ia mengikat Mahisa Murti dalam pertempuran, sementara kawannya berusaha untuk membinasakan Mahisa Pukat dengan senjata-senjata racunnya.
Tetapi Mahisa Murti tidak membiarkan lawannya memperpanjang waktu. Ia dengan cepat dan tangkas, selalu memburunya. Canggahnya yang berputaran, sekali-kali mematuk dengan dahsyatnya. Meskipun canggah itu tidak lagi tajam berkilat-kilat karena karat yang kecoklat- coklatan, namun jika Mahisa Murti berhasil mematuk leher lawannya dengan canggah itu, maka ia akan dapat mengakhiri pertempuran itu.
Dengan pedang panjangnya, lawan Mahisa Murti itu masih mampu melindungi dirinya dan berusaha memperpanjang waktu dengan loncatan-loncatan panjang menghindari benturan ilmu yang langsung.
Sementara itu, Mahisa Pukat benar-benar dalam keadaan gawat. Setiap kali ia harus berloncatan menghindari serangan senjata senjata lembut dari lawannya, namun yang mengandung racun yang sangat tajam.
Mahisa Pukat sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menyerang dengan pisau-pisaunya yang pendek. Sehingga dengan demikian, maka ia lebih banyak menjadi sasaran serangan lawan dari sebuah perkelahian yang tanggon.
Untuk beberapa saat, Mahisa Pukat masih tetap dapat mengelakkan dirinya. Serangan-serangan paser lawannya, masih selalu dapat dihindarinya. Namun demikian, keringat Mahisa Pukat telah membasahi seluruh tubuhnya. Tenaganya pun menjadi semakin susut, karena ia harus mengerahkan kemampuannya untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan lawannya.
Sementara itu, Mahisa Murti masih tetap mendesak lawannya dengan canggahnya. Tetapi ia tidak dapat segera menggakhiri pertempuran itu. Dengan cerdik lawannya selalu menghindar, meloncat menjauhinya sambil melindungi dirinya dengan pedangnya.
Tetapi kemarahan Mahisa Murti kemudian bagaikan badai yang melanda hutan ilalang. Serangan senjata panjangnya yang terayun-ayun, berputar dan mematuk, membuat lawannya bukan saja dengan sengaja meloncat menjauhinya untuk memperpanjang waktu, namun akhirnya lawannya benar-benar tidak mempunyai kesempatan lain kecuali menghindar dan menjauhi amukan kemarahan Mahisa Murti.
Dalam tekanan yang semakin berat, lawannya telah bergeser berputaran. Namun halaman yang luas itu serasa menjadi semakin sempit. Meskipun orang-orang padukuhan itu yang semula melingkari arena, kemudian berpencar semakin jauh, namun rasa-rasanya lawan Mahisa Murti itu tidak lagi mempunyai tempat untuk mengelakkan senjata lawannya.
Setiap saat, terasa angin putaran dan ayunan canggah Mahisa Murti menyambar kulit lawannya. Bahkan dalam serangan yang cepat mendatar, pedang lawannya terlambat menangkis serangannya, sehingga canggah yang karatan itu telah tergores pada kulit lawan Mahisa Murti itu.
Terasa betapa pedihnya. Darah mulai mengalir dari luka. Sementara itu, Mahisa Murti masih saja menyerangnya beruntun tanpa memberinya kesempatan.
Tetapi luka itu tidak mematahkan perlawanannya. Lawan Mahisa Murti itu masih mampu berloncatan, mengelak dan menangkis. Sementara itu, ia mengharap kawannya akan segera menyelesaikan pertempurannya dengan melumpuhkan anak muda yang seorang lagi.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat masih tetap melawannya meskipun terasa kemampuan tenaganya menjadi susut. Yang dapat dilakukan kemudian benar-benar hanya sekedar mengelak sambil menunggu perkembangan pertempuran antara Mahisa Murti dan lawartnya yang semula hanya dikenal sebagai seorang petani biasa itu. Atau menunggu sampai paser-paser beracun itu habis sama sekali.
Tetapi agaknya jumlah paser-paser itu cukup banyak tersimpan di kantong ikat pinggang lawan Mahisa Pukat itu. Satu-satu paser itu di lontarkan. Semakin lama semakin cepat. Sementara itu Mahisa Pukat harus memperhatikan tangan lawannya baik-baik.
Dalam keadaan yang semakin sulit, Mahisa Pukat tidak dapat menunggu. Meskipun ia menyadari, bahwa Mahisa Murti berhasil mendesak-lawannya. tetapi ia tidak tahu pasti, kapan Mahisa Murti berhasil menguasai lawannya sepenuhnya. Sementara itu senjata lawannya menyambarnya tanpa henti-hentinya.
Karena itu, Mahisa Pukat pun akhirnya harus mencari pemecahan yang paling baik yang dapat dilakukannya, dalam pertempuran berjarak panjang itu.
Sementara itu, orang-orang yang memperhatikan pertempuran itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Meskipun mereka tidak tahu pasti apa yang terjadi, tetapi mereka melihat kesulitan yang dialami oleh Mahisa Pukat. Namun justru karena lontaran-lontaran paser itu, maka orang-orang yang mengitari halaman itu pun telah menyibak untuk menghindari agar paser-paser itu tidak justru tersesat mengenai mereka.
Demikianlah, maka pertempuran di halaman itu pun menjadi semakin menegangkan. Mahisa Pukat yang berloncatan menghindari serangan paser-paser lawannya akhirnya harus mengambil satu keputusan untuk melakukan sesuatu yang menentukan.
Namun untuk beberapa saat Mahisa Pukat masih harus menghindari paser-paser kecil itu. Ia melihat lawannya menjadi semakin garang, sementara pedangnya telah berpindah di tangan kirinya.
“Aku harus bertindak sekarang” berkata Mahisa Pukat. Dengan demikian, maka Mahisa Pukatpun telah mengerahkaan segenap kemampuannya. Meskipun terasa tenaganya sudah susut, tetapi ia harus bertindak cepat melampaui kecepatan tanggapan lawannya atas sikapnya itu.
Demikianlah ketika ia meloncat menghindari serangan lawannya, maka iapun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Demikian kakinya berjejak di atas tanah, maka ia pun telah mengayunkan tangannya dengan sisa kekuatan yang ada padanya.
Ternyata Mahisa Pukat telah menentukan satu pilihan. Ia telah melemparkan senjata ditangannya, meskipun ia sadar, bahwa jika ia gagal, maka hal itu akan sangat berbahaya baginya. Pedang panjang lawannya akan dengan mudah mematuknya justru karena ilmu pedang lawannya cukup baik. sementara tenaganya sudah mulai susut.
Lawan Mahisa Pukat itu terkejut. Namun ia masih berusaha mengelak. Paser yang sudah ditangannya tidak sempat dilontarkannya, karena ia harus meloncat menghindari sambaran pisau belati Mahisa Pukat.
Ternyata orang itu berhasil. Pisau belati Mahisa Pukat meluncur setebal daun di samping kening lawannya.
Namun segalanya telah diperhitungkan oleh Mahisa Pukat. Dalam keadaan yang demikian, kedudukan lawannya tentu menjadi lemah. Ia masih dalam sikap mengelak, ketika pisau yang sebuah lagi telah meluncur menyusul pisau yang pertama. Demikian cepatnya, melampaui kecepatan anak panah yang terlontar dari busurnya.
Serangan itu sama sikali tidak terduga. Lawan Mahisa Pukat tidak mengira bahwa pisau yang sebuah lagi itu pun telah dilontarkannya. Karena dengan demikian Mahisa Pukat tidak bersenjata sama sekali.
Tetapi dalam pada itu, perhitungan Mahisa Pukat itu tidak meleset. Orang itu tidak sempat lagi mengelakkan diri dari sambaran pisau yang kedua yang dilontarkan dengan sepenuh sisa kemampuan yang masih ada.
Ternyata pisau itu benar-benar berakibat gawat bagi lawannya. Pada saat terakhir, lawannya masih berusaha untuk beringsut dan bahkan berusaha mempergunakan pedangnya. Tetapi ia tidak berhasil. Pisau itu tidak terlepas dari sasarannya meskipun tidak satajam bidikannya, karena usaha lawannya untuk mengelak.
Tetapi pisau itupun kemudian menghunjam di dada orang bersenjata pedang dan paser itu, meskipun tidak tepat di arah jantungnya sebagaimana dibidik oleh Mahisa Pukat.
Meskipun demikian, namun pisau itu telah menentukan akhir dari pertempuran itu.
Perasaan sakit dan pedih yang sangat telah menyengat dada lawan Mahisa Pukat itu. Ia masih mencoba untuk mengangkat tangannya melontarkan sisa pasernya. Tetapi urat-uratnya yang terpotong oleh pisau Mahisa Pukat di dadanya telah menghambat gerak tangan orang itu.
Bahkan kemudian, terhuyung-huyung ia bergeser surut. Mahisa Pukat pun kemudian berdiri tegak memandanginya. Ia masih melihat pedang ditangan kiri orang itu berpindah ke tangan kanannya. Tetapi tangan itu sudah tidak berdaya.
Sejenak kemudian orang itu mulai terhuyung-huyung. Pisau itu menghunjam terlalu dalam di dadanya, oleh dorongan kekuatan Mahisa Pukat yang tersisa.
Ketika orang itu mengumpat, maka kedua kakinya tidak lagi mampu bertahan. Sehingga akhirnya, orang itupun tidak mampu lagi bertahan. Ia telah kehilangan keseimbangan, sehingga akhirnya ia pun jatuh pada lututnya.
Dengan tangannya yang lemah ia berusaha untuk menarik pisau itu dari dadanya. Tetapi ia tidak lagi mempunyai kemampuan melakukannya. Bahkan kemudian kedua tangannya pun telah menyangga berat badannya untuk beberapa saat. Tetapi akhirnya ia pun jatuh terguling. Darahnya mengalir di sela-sela lukanya yang masih tersumbat oleh pisau belati Mahisa Pukat.
Perlahan-lahan Mahisa Pukat melangkah mendekatinya. Ketika ia berdiri di sebelah orang yang terbujur di tanah. orang itu sama sekali sudah tidak mampu bergerak lagi.
Dalam pada itu, lawan Mahisa Murti pun tidak dapat mengelakkan diri dari pengaruh keadaan itu Apalagi ia sudah mulai terluka. Agaknya ia memang tidak akan mampu mengimbangi kemampuan anak muda yang seorang itu lagi, setelah yang lain melumpuhkan orang yang selama ini disebut sebagai tamunya dan yang telah berbaik hati memberikan beberapa petunjuk untuk melawan Hantu Jurang Growong dengan mempergunakan supit yang terbuat dari pering cendana beruas sangat panjang yang tumbuh di hutan perdu.
Tetapi ia tidak mempunyai satu pilihan pun untuk menyelamatkan diri. Ia melihat beberapa orang bergeser menutup kepungan di seputar arena. Bahkan Ki Jagabaya pun nampaknya telah menentukan satu sikap kepadanya, ia tidak dapat lagi mengelabui tetangga kebanyakan. Sehingga akhirnya, ia pun tidak akan lebih lama lagi bersembunyi di baalik kebohongannya.
Namun bagaimanapun juga, ia masih tetap bertempur melawan Mahisa Murti yang bersenjata canggah bertangkai panjang. Sementara itu terdengar Mahisa Murti berkata, “Saudaraku telah mengakhiri pertempuran. Bagaimana dengan kau?”
Orang yang semula disangka tidak lebih dari petani biasa di antara tetangga-tetangganya itu mengumpat. Ia memang tidak mempunyai pilihan. Namun ia sama sekali tidak ingin menyerah. Dengan demikian, maka ia akan menjadi pengewan-ewan. Ia tahu, apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang padukuhan yang sudah terpengaruh oleh orang yang disebut tamu itu, sehingga apa yang mereka lakukan terhadap mereka yang sedang diperiksa, benar-benar telah kehilangan paugeran.
“Aku tidak mau diperlakukan seperti itu” berkata lawan Mahisa Murti itu di dalam hatinya. Namun demikian ia tidak dapat menghindari kenyataan, bahwa ia memang tidak akan dapat berbuat banyak terhadap lawannya yang masih muda itu. Ujung canggah lawannya yang karatan itu telah menyayat kulitnya. Bahkan tidak hanya sekali, tetapi telah terjadi sentuhan berikutnya pula.
Sementara orang itu masih berusaha mempertahankan diri, maka iapun berusaha untuk melihat kemungkinan lain yang dapat dilakukan. Ketika ia melihat kelemahan pada lingkaran di halaman itu, maka tiba-tiba saja timbul niatnya untuk melarikan diri.
Dengan cerdik orang itu bergeser surut. Mahisa Murti yang mendesaknya sama sekali tidak mengetahui rencana orang itu dengan pasti. Ia merasa bahwa orang itu terdesak oleh serangan-serangannya yang semakin deras.
Namun, tiba-tiba justru pada saat yang paling baik menurut perhitungan lawan Mahisa Murti itu, orang itu menghentakkan kemampuannya. Dengan sisa tenaganya, orang itu justru berusaha menyusup di sela-sela putaran canggah Mahisa Murti.
Mahisa Murti terkejut. Ketika canggahnya terdorong menyamping, tiba-tiba saja ia melihat lawannya meloncat maju sambil menjulurkan pedangnya. Demikian cepatnya, sehingga Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain, kecuali mengelak sambil bergeser mundur.
Ternyata saat itulah yang ditunggu oleh lawan Mahisa Murti. Ketika Mahisa Murti bergeser mundur, orang itu sama sekali tidak memburunya. Bahkan dengan serta merta, ia pun telah meloncat pula meninggalkan arena.
Dengan pedang yang berputaran ia menerobos orang-orang yang berada di halaman itu. Dengan garangnya ia berteriak menggetarkan setiap jantung, sehingga dengan demikian, maka orang-orang yang berada di dalam lingkaran di seputar arena itupun menyibak.
Tidak seorang pun yang berani menahannya. Mereka telah melihat apa yang dapat dilakukan oleh orang yang sehari-hari mereka sangka tidak lebih dari mereka sendiri. Tetapi yang ternyata telah menunjukkan kemampuan yang mengagumkan.
Karena itu, maka orang itu tidak mengalami kesulitan untuk menembus kepungan yang semula menjadi semakin rapat. Namun yang ternyata tidak dapat menahan orang yang menembus dengan pedang berputaran itu.
Tetapi ternyata adalah di luar dugaan orang yang merasa dirinya telah berhasil mematahkan kepungan itu. Ketika orang itu benar-benar keluar dari kepungan, ternyata Ki Jagabaya dan pembantunya yang bertubuh raksasa itu telah siap menunggunya.
“Gila” geram orang itu.
Tetapi, Ki Jagabaya tidak bergeser. Ia justru mengacungkan pedangnya, sebagaimana dilakukan oleh pembantunya.
Namun, ternyata kemampuan Ki Jagabaya tidak dapat mengimbangi kemampuan orang itu. Bahkan hampir tidak berarti sama sekali. Dengan sekali tebas, pedang pembantu Ki Jagabaya itu telah terpental. Kemudian ketika Ki Jagabaya menusuk lambung orang itu, maka orang itu sempat mengelak. Putaran pedangnya yang cepat, justru telah melukai pundak Ki Jagabaya sehingga Ki Jagabaya terdorong surut, sementara pedangnya terlepas dari tangannya.
Untunglah bahwa orang yang melukainya itu tergesa- gesa. Karena itu, orang itu pun tidak sempat menusukkan pedangnya langsung kedada Ki Jagabaya dan pembantunya.
Sekejap kemudian, orang itu telah meloncat pula untuk menghindarkan diri dari kejaran Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Murti sengaja tidak mengejarnya. Karena pada saat-saat yang gawat itu, Mahisa Pukat telah dengan cepat mengambil sikap. Ia telah mengambil pedang lawannya yang tidak berdaya lagi. Waktu yang sesaat, yang telah dipergunakan oleh lawan Mahisa Murti melukai Ki Jagabaya dan pembantunya, telah dapat dipergunakan sebaik-baiknya oleh Mahisa Pukat.
Karena itu, orang yang melarikan diri itupun terkejut bukan buatan, ketika ia sadar, bahwa Mahisa Pukat dengan pedang di tangan, telah berdiri di tengah-tengah pintu regol.
Namun orang itu ternyata tidak berhenti. Sambil mengacungkan pedangnya ia berlari seakan-akan ingin menembus pintu yang telah dijaga oleh Mahisa Pukat itu.
Sementara itu Mahisa Murti pun telah berlari-lari pula mengikuti orang itu.
Mahisa Pukat mengerti apa yang sedang dihadapinya. Orang itu tentu orang yang telah kehilangan nalarnya. Orang itu telah berbuat di luar perhitungan karena putus asa. Karena itu, maka Mahisa Pukat tidak akan menghadapinya sebagaimana ia menghadapi lawan yang tanggon.
Karena itulah, maka orang-orang yang menyaksikannya terkejut ketika Mahisa Pukat pun kemudian telah meloncat menepi ketika orang itu menjadi semakin dekat sambil mengacu-acukan pedangnya, seolah-olah Mahisa Pukat pun menjadi ngeri seperti orang-orang lain yang menyibakkan kepungan.
Ternyata orang yang ingin melarikan diri itu tidak sempat berpikir lagi. Ia hanya melihat Mahisa Pukat meloncat menepi. Karena itu, maka ia merasa jalannya telah terbuka. Tanpa menghiraukan kemungkinan- kemungkinan lain, orang itu berlari sambil menyiapkan pedangnya, menangkis jika Mahisa Pukat menyerang pada saat ia melintas. Dengan demikian, maka yang diperhatikan oleh orang itu hanyalah tangan Mahisa Pukat yang menggenggam pedang.
Tetapi Mahisa Pukat justru telah menundukkan pedangnya. Ia sama sekali tidak akan mempergunakan senjata yang diambilnya setelah terlepas dari tangan pemiliknya itu.
Namun dalam pada itu, yang tidak terduga sama sekali adalah bahwa Mahisa Pukat ingin menangkap orang itu hidup-hidup. Ia ingin mendapat sumber untuk memberikan penjelasan dengan orang-orang yang disebut Hantu Jurang Growong. Apakah mereka memang ada, atau sekedar rekaan orang itu untuk membuat padukuhan dan Kabuyutan itu gelisah, sehingga orang itu dan kawannya yang dengan senjata teiah menimbulkan keresahan itu dapat mengambil keuntungan karenanya.
Karena itu, ketika orang itu berlari di depannya, Mahisa Pukat tidak menyerangnya dengan senjatanya, sementara orang yang herlari itu sudah siap melindungi dirinya dengan pedangnya.
Tetapi diluar dugaan orang itu, Mahisa Pukat justru telah mengait kaki orang itu. Mahisa Pukat berharap bahwa orang itu akan terjatuh sehingga ia akan dapat menangkapnya hidup-hidup. Tetapi jika ia menyerang dengan pedangnya, mungkin akibatnya akan lain.
Sebenarnyalah, ketika kaki orang itu terantuk kaki Mahisa Pukat, maka bagaikan dihentakkan oleh kekuatan larinya, orang itu telah terpelanting jatuh. Namun yang tidak diduga oleh Mahisa Pukat, bahwa pedang orang itu telah terlepas dari tangannya dan adalah sangat mengejutkan, bahwa tajam pedang itu ternyata menelentang ketika orang yang berlari itu jatuh menimpanya.
Yang terdengar adalah sebuah jerit yang panjang orang itu masih berusaha untuk bangkit. Tetapi darah yang bagaikan memancar dari dadanya yang luka dengan goresan memanjang itu, telah membuatnya kehilangan kekuatan sama sekali. Demikian ia tegak berdiri, maka iapun telah terhuyung-huyung dan sesaat kemudian, iapun telah terjatuh lagi.
Mahisa Pukat sendiri terkejut bukan buatan. Ia tidak mengira bahwa akibatnya akan sangat tidak terduga. Justru karena itu, maka ia pun telah memalingkan wajahnya sambil bergumam kepada diri sendiri, “Bukan main. Aku tidak sengaja berbuat seperti itu”
Mahisa Murti lah yang kemudian berlari-lari mendekatinya. Namun ia tidak sempat berbuat apa-apa. Demikian ia berjongkok di samping orang itu, maka orang itu telah menarik nafasnya yang terakhir.
Mahisa Murti pun kemudian bangkit berdiri. Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahisa Pukat menundukkan kepalanya di sebelah regol halaman.
“Kau tidak berniat membunuhnya dengan cara itu” ia bergumam., “Bukan salahmu” berkata Mahisa Murti, “yang terjadi adalah diluar kemampuan kita untuk mencegahnya”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia pun telah melangkah menjauhi orang-orang yang kemudian berkerumun di sekitar dua sosok mayat yang terbaring di halaman banjar itu.
Dalam pada itu. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti itu pun berpaling ketika Ki Jagabaya berkata, “Ki Sanak. Kami persilahkan Ki Sanak duduk”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun ketika terpandang olehnya orang yang hampir saja mati ketakutan karena mengalami tekanan badan dan dalam pemeriksaan yang tidak mapan itu, maka ia pun telah mendekatinya.
“Kau akan bebas” berkata Mahisa Murti.
Orang itu memandang wajah Mahisa Murti sejenak. Kemudian sambil mengusap air matanya yang meleleh di pipinya ia berdesis, “Terima kasih Ki Sanak. Aku tidak tahu, bagaimana aku akan membalas kebaikan budi Ki Sanak”
“Jangan memikirkannya” sahut Mahisa Pukat, “kami melakukannya karena kami merasa berkewajiban. Tidak ada yang dapat memberikan kepuasan lebih besar daripada keberhasilan kita melakukan kewajiban”
“Tetapi bagiku, Ki Sanak telah menyelamatkan jiwaku” berkata orang itu, “aku tidak akan tahan mengalami siksaan yang tidak berukuran itu”
“Aku minta maaf” berkata Ki Jagabaya dengan nada dalam, “semuanya terjadi di luar kesadaran. Kami. beberapa orang behahu telah terbius oleh hasutan orang-orang yang tidak kita ketahui niatnya yang sebenarnya itu. Namun yang menurut perhitunganku, mereka pulalah yang menyebut dirinya Hantu Jurang Growong, karena sampai saat ini kejahatan yang terjadi juga dilakukan oleh satu atau dua orang saja yang mengenakan topeng yang menakutkan itu”
“Orang-orang itu sengaja menimbulkan keresahan Ki Jagabaya” berkata Mahisa Murti, “pengalaman ini hendaklah menjadi pelajaran yang berharga. Kau tidak boleh cepat terpengaruh oleh sesuatu yang belum pasti, karena kau justru orang yang seharusnya memegang payung perlindungan bagi rakyat padukuhan ini. Bukan sebaliknya”
“Ya. ya anak-anak muda” jawab Ki Jagabaya” aku mengerti”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun yang kemudian duduk di pendapa melihat kesibukan orang-orang padukuhan itu mengurusi kedua sosok mayat yang terbunuh dalam benturan kekerasan itu. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun merasa bahwa orang-orang padukuhan itu tidak lagi membebankan kesalahan kepada mereka.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Ki Jagabaya. sebaiknya kau urusi lukamu itu”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku harap kalian berdua duduk sebentar. Mungkin lukaku memang memerlukan pengobatan”
Dalam pada itu, sepeninggal Ki Jagabaya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk bertiga saja dengan orang yang mengalami nasib malang itu, yang hampir saja menjadi korban yang tidak berarti apa-apa karena pengaruh sikap orang-orang yang membuat isi padukuhan itu menjadi gelisah.
Sementara itu, maka Mahisa Murti pun bertanya, “Ki Sanak. Apakah kau tahu, berapa orang yang telah mengalami nasib seperti yang kau alami? Apakah pernah terjadi korban karena keadaan yang sama seperti kau alami?”
Orang itu termangu-mangu. Agaknya ada sesuatu yanp menahannya untuk mengatakan apa yang sebenarnya pernah terjadi.
“Katakan” desis Mahisa Pukat, “kami tidak akan berbuat apa-apa Kami hanya ingin mengetahuinya. Nampaknya keadaan akan berubah”
Orang itu mengangguk-angguk Katanya kemudian dengan ragu-ragu, “Nampaknya memang ada Ki Sanak. Tetapi aku tidak tahu. siapakah yang telah melakukannya. Sepengetahuanku. Ki Jagabaya sebelumnya bukan orang yang demikian kasarnya. Tetapi pada saat terakhir, ia seperti orang kesurupan. Ia menjadi garang, kasar dan bahkan buas”
“Apakah kebuasannya itu pernah menelan korban?” desak Mahisa Pukat.
“Aku tidak dapat mengatakannya Ki Sanak. Tetapi kedua orang yang terbunuh itulah yang sebenarnya membuat padukuhan ini menjadi rusak. Nampaknya keduanya adalah orang-orang yang dengan penuh pengabdian berjuang bagi padukuhan ini. Seorang penduduk padukuhan ini telah mendapat seorang tamu yang dengan suka rela bekerja bagi kepentingan kami. Tetapi ternyata bahwa kami telah dikelabuinya” berkata orang itu.
“Tetapi apakah benar bahwa padukuhan ini sering didatangi oleh mereka yang disebut Hantu Jurang Growong?” bertanya Mahisa Murti pula.
“Itulah yang telah menyudutkan aku ke dalam keadaan yang sangat sulit. Adalah diluar kehendakku, bahwa pada suatu malam aku bertemu dengan kedua orang itu di tengah-tengah bulak. Aku menjadi curiga melihat cara mereka berpakaian Namun aku tidak berprasangka buruk, sehingga aku telah menyapa mereka” orang itu pun kemudian berceritera.
“Kenapa kau berada di tengah bulak di malam hari?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku berada di sawah” jawab orang itu.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara orang itu melanjutkan, “Agaknya kedua orang itu menganggap bahwa aku telah melakukan kesalahan. Aku telah melihat sesuatu yang dapat mengancam kedua orang itu”
“Apakah kau pernah berbuat sesuatu, menceriterakan apa kau lihat, atau semacam itu kepada orang lain?” bertanya Mahisa Murti.
“Tidak. Aku tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun juga. Tetapi aku tidak tahu apakah sebabnya bahwa aku kemudian ditangkap dan mengalami perlakuan yang sangat kasar itu Baru kemudian aku dapat menghubungkan persoalan ini dengan apa yang pernah aku temui di bulak itu. Jelasnya setelah aku mendengar pendapat kalian tentang kedua orang itu” jawab orang yang malang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka pun menjadi yakin, bahwa yang mereka tiupkan ke telinga orang-orang padukuhan ini dengan sebutan Hantu Jurang Growong adalah semata-mata satu usaha untuk membuat padukuhan itu gelisah, kehilangan pegangan dan kemudian timbul tingkah laku dan perbuatan yang tidak wajar.
Dengan demikian mereka akan dapat mengambil keuntungan tanpa dicurigai, karena segala kesalahan akan ditimpakan kepada Hantu Jurang Growong yang sebenarnya tidak ada. Sementara kesan hadirnya Hantu Jurang Growong adalah tingkah laku kedua orang itu sendiri. Merampas dan merampok. Karena tidak seorangpun yang pernah melihat wajah-wajah Hantu Jurang Growong.
“Menurut keterangan, siapakah yang pernah melihat dengan mata kepala sendiri atas tingkah laku Hantu Jurang Growong yang telah membuat padukuhan ini resah?” bertanya Mahisa Pukat.
“Tidak ada” jawab orang itu, “Hantu Jurang Growong selalu hadir dengan ujud yang menakutkan, meskipun mereka tidak membantah bahwa mereka adalah manusia biasa yang mempergunakan topeng, atau sebangsanya yang memberikan kesan yang menakutkan. Karena itulah, maka aku menjadi semakin jelas tentang apa yang terjadi sebenarnya di padukuhan ini”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk- angguk pula. Orang yang mengalami nasib buruk itu ternyata memiliki kemampuan berpikir yang cukup cerdas.
Namun pembicaraan mereka tidak berlanjut, karena Ki Jagabaya yang telah mengobati lukanya, telah hadir pula di pendapa itu.
Laporan tentang segara peristiwa yang terjadi itu, membuat Ki Buyut sangat berprihatin. Tetapi ia merasa bersyukur bahwa segalanya telah dapat diatasi justru karena kehadiran dua orang anak muda yang semula tidak mereka kenal. Karena itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah diminta oleh Ki Buyut untuk berada di rumahnya. Ki Buyut berharap banwa anak-anak muda itu akan dapat membantu pulihnya kewibawaan di Kabuyutannya.
Berbeda dengan saat keduanya berada di padukuhan yang baru saja mewisuda Buyutnya yang baru, maka di Kabuyutan itu keduanya dikenal dengan nama Pratista dan Narpada.
“Rasa-rasanya aku tidak akan dapat menguasai keadaan” berkata Ki Buyut ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah berada di Kabuyutan. Lalu, “Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu Kabuyutan ini seakan-akan telah dikuasai oleh pengaruh yang asing. Mereka tidak lagi mau mendengarkan kata-kataku. Bahkan akulah yang kemudian tersisih. Ki Jagabaya lah yang mengambil alih segala kekuasaannya akan memerintahkan aku untuk tetap tinggal di rumah”
“Ki Buyut tidak berbuat apa-apa?” bertanya Mahisa Murti.
“Tidak akan ada pengaruhnya” jawab Ki Buyut, “segalanya kemudian aku serahkan saja kepada Ki Jagabaya yang berhubungan dengan seorang tamu yang belum kita kenal sebelumnya. Tamu seorang di antara tetangga kami. Namun yang ternyata keduanya bukan orang yang pantas dipercaya”
“Demikianlah kenyataan yang kita hadapi, Ki Buyut” sahut Mahisa Pukat.
Sukurlah, bahwa semuanya sudah teratasi” berkata Ki Buyut. Lalu, “Meskipun demikian, agaknya Ki Jagabaya memang memerlukan perlindungan. Ia telah melukai hati sebagian dari penduduk Kabuyutan ini. Karena itu, maka ia minta kepada angger berdua untuk tinggal di sini beberapa lama. Selebihnya, aku yang sudah terpisah dari kekuasaanku untuk beberapa saat juga memerlukan pengaruh angger berdua untuk memulihkannya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat bertanya, “Selama ini, apakah Ki Buyut sudah mencoba berbuat sesuatu jika Ki Buyut melihat keadaan yang timpang?”
“Tidak ada gunanya ngger” jawab Ki Buyut.
Mahisa Pukat memandang Ki Buyut sejenak. Namun kemudian katanya, “Seharusnya Ki Buyut tidak bersikap demikian. Sebelumnya Ki Buyut sudah merasa bahwa pengaruh Ki Jagabaya memang terlalu besar di Kabuyutan ini. Sehingga ketika Ki Jagabaya tergelincir. Ki Buyut tidak dapat mencegahnya”,
“Apa yang dapat aku lakukan?” bertanya Ki Buyut.
“Ki Buyut adalah orang yang bertanggung jawab atas Kabuyutan ini. Hitam putih Kabuyutan ini terletak di bahu Ki Buyut. Bukan Ki Jagabaya. Jika terjadi selisih pendapat antara Ki Buyut dan Ki Jagabaya, maka Ki Buyutlah yang harus mengambil keputusan” berkata Mahisa Pukat.
Ki Buyut mengangguk-angguk. Tetapi ia menjawab, “Ki Jagabaya mempunyai banyak pembantu yang mendukung setiap pendapatnya. Karena itu, maka pendapatnyalah yang setiap kali berlaku di Kabuyutan ini”
“Tentu karena Ki Buyut tidak pernah berbuat sesuatu untuk mengatasinya” berkata Mahisa Pukat. Lalu, “Maaf Ki Buyut. Tetapi baiklah aku katakan, bahwa Ki Buyut kurang bersikap tegas. Seandainya Ki Buyut bersikap tegas, maka aku kira pendukung Ki Buyut akan dapat ikut menentukan. Karena akhirnya segala akibat dari perbuatan para pemimpinnya, akan ditanggungkan pula oleh para penghuni Kabuyutan ini, sebagaimana kita lihat”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang kurang mempunyai keberanian untuk berbuat demikian. Semula aku memang terlalu percaya kepada Ki Jagabaya, sehingga segala sesuatunya telah dilakukannya. Tetapi aku tidak pernah menyangka bahwa pengaruh kedua orang itu telah mencengkamnya terlalu kuat sehingga ia tidak segera dapat menyadarinya”
“Apakah Ki Buyut pernah memberi peringatan kepada Ki Jagabaya, setidak-tidaknya membicarakan sikap itu?” bertanya Mahisa Murti.
Ki Buyut termangu mangu sejenak. Namun kemudian iapun menggeleng sambil menjawab, “Tidak ada gunanya. Sudah aku katakan berulang kali, tidak ada gunanya”
“Tetapi Ki Buyut pernah mencobanya?” desak Mahisa Murti.
Ki Buyut memandang anak-anak muda itu berganti- ganti. Kemudian iapun menjawab, “Belum anak muda”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Merekapun segera menyadari, bahwa Ki Buyut itu adalah orang yang terlalu lemah bagi jabatannya. Tetapi karena kedudukan itu adalah kedudukan turun-temurun, maka Kabuyutan itu tidak mempunyai pilihan lain.
Meskipun demikian, agaknya masih ada kemungkinan bagi masa depan. Ki Buyut telah melihat akibat yang pahit bagi padukuhannya karena sikapnya.
Meskipun mereka belum sempat berbincang, tetapi keduanya merasa bahwa mereka berkewajiban untuk membantu Ki Buyut menemukan satu sikap yang lebih baik.
Karena itulah, maka ketika Ki Buyut minta agar keduanya untuk tinggal bersamanya dan tidak usah berada di banjar, keduanya tidak menolak. Sehingga dengan demikian untuk seterusnya mereka tidak bermalam di banjar, tetapi di rumah Ki Buyut yang berterima kasih sekali atas kehadiran keduanya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk, ia dapat membayangkan, apa yang telah terjadi. Ternyata dua orang itu telah berhasil membuat kesan yang mengerikan. Mereka dapat memberikan kesan, seolah-olah yang disebut Hantu Jurang Growong itu terdiri dari berpuluh-puluh orang yang melakukan kejahatan di mana-mana. Sementara itu ia pun dapat membuat orang-orang Kabuyutan itu menjadi saling mencurigai, membenci dan saling mendendam.
“Luar biasa” tiba-tiba saja Mahisa Murti berdesis yang sebenarnya hanyalah dua orang saja”
Tetapi Ki Jagabaya menyahut, “Mungkin memang demikian. Kami. penduduk Kabuyutan inilah yang dungu. Tetapi mungkin dua orang itu benar-benar mempunyai sekelompok orang yang mereka kendalikan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun dalam pada itu Ki Jagabaya berkata, “Tetapi aku condong mengatakan bahwa mereka memang hanya berdua”
“Baiklah Ki Jagabaya” berkata Mahisa Murti, “bagaimanapun juga, sepeninggal kedua orang itu, kalian dapat menyusun perubahan tata kehidupan di padukuhan ini. Sementara itu, kalian harus berusaha melenyapkan perasaan takut, saling mencurigai dan saling mendendam. Ki Jagabaya dan pembantu-pembantunya jangan lagi melakukan tindakan kekerasan untuk mendapatkan pengakuan seseorang seperti yang pernah kau lakukan. Sementara orang yang telah mengalami kekerasan itu belum tentu pernah melakukan kejahatan sekecil ujung kuku sekalipun”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata, “Kau harus memperhatikan orang-orang yang menjadi cacat karena cara-cara yang sudah kau tempuh Ki Jagabaya”,
“Ya. Ya. Ki Sanak. Aku benar-benar seperti terbius oleh kelicikan kedua orang itu. sehingga aku telah melakukan satu kesalahan yang sangat besar” desis Ki Jagabaya.
“Jika kau melihat tingkah laku Ki Jagabava itu sebagai satu kesalahan yang besar, artinya bahwa Ki Jagabaya tidak akan melakukannya lagi” sahut Mahisa Pukat.
“Aku berjanji” desis Ki Jagabaya.
Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Namun akhirnya keduanya pun saling berpandangan. Sejenak kemudian Mahisa Murti berkata, “Kita dapat melanjutkan perjalanan”
“Jangan Ki Sanak” cegah Ki Jagabaya, “tinggallah untuk sementara di padukuhan ini. Aku memerlukan bantuan kalian untuk memulihkan ketenangan. Aku merasa dosaku sudah terlalu besar, sehingga aku tidak akan mempunyai kekuatan untuk bangkit lagi di padukuhan ini tanpa bantuan seseorang selama aku harus membuktikan bahwa aku benar-benar telah bertaubat”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ketika mereka kemudian saling berpandangan, maka Mahisa Murti pun bertanya kepada Mahisa Pukat, “Apa pendapatmu?”
“Terserah kepadamu” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia mengerti keraguan saudaranya. Tetapi jika demikian, maka Mahisa Pukat memang mempunyai keinginan betapapun kecilnya untuk membantu Ki Jagabaya yang mengalami kesulitan.
Bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, persoalan yang dihadapi padukuhan dan Kabuyutan itu berbeda dengan Kabuyutan yang baru saja mereka tinggalkan. Penghuni Kabuyutan yang telah mereka tinggalkan masih mempunyai kepercayaan dan pegangan sepenuhnya atas wibawa Buyut mereka yang baru, sehingga Ki Buyut itu tidak akan banyak mengalami kesulitan untuk membina dan mengembangkan tata kehidupan di Kabuyutannya.
Dengan demikian maka padukuhan dan Kabuyutan yang baru mereka tinggalkan itu tidak akan banyak memerlukan kebijaksanaan khusus untuk memulihkan kepercayaan yang hilang sebagaimana terjadi di Kabuyutan itu.
Karena itu, atas dasar pertimbangan yang demikian, maka Mahisa Murti pun menjawab, “Baiklah Ki Jagabaya, jika demikian maka aku tidak akan berkeberatan untuk tinggal barang, satu dua hari. Aku akan berusaha membantu menurut kemampuanku dan kemampuan saudaraku agar kewibawaan di Kabuyutan ini dapat pulih kembali”
“Terima kasih Ki Sanak” desis Ki Jagabaya kemudian., “Jika demikian, maka kalian berdua akan berada di banjar untuk waktu yang tidak ditentukan. Kami akan menunjuk seseorang untuk menyediakan segala kebutuhan kalian. Makan, minum dan barangkali pering cendani beruas panjang itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kami memang ingin memiliki satu dua ruas pering cendani yang beruas panjang sekali itu. Tetapi aku tetap tidak menganjurkan kalian mempergunakan senjata beracun. Aku lebih senang melihat kalian belajar mempergunakan anak panah dan busur yang dapat kalian buat dengan kayu berlian. Apakah di sini ada kayu berlian?”
“Di hutan ada beberapa pohon berlian yang kami ketahui” jawab Ki Jagabaya, “kamipun pernah membuat busur dengan kayu berlian itu. Tetapi jika kami berpaling kepada supit dan paser beracun, itu adalah karena kebodohan kami sebagaimana kebodohan kami yang lain dalam hubungan kami dengan kedua orang itu”
“Baiklah” berkata Mahisa Murti, “aku akan berusaha untuk menyesuaikan diri dipadukuhan ini meskipun aku tidak akan lama berada di sini”
Ternyata Ki Buyut merasa gembira atas kesediaan itu. Sehingga ia dapat menjadi agak tenang.
Ki Jagabaya pun kemudian telah ikut pula duduk dengan mereka sementara orang-orang padukuhan itu masih saja sibuk di halaman.
Namun sebelum Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengatakan sesuatu tentang tanggapan mereka atas peristiwa yang terjadi di padukuhan itu, Ki Jagabaya telah berkata, “Selama ini, ternyata seisi padukuhan ini, bahkan Kabuyutan ini telah dapat dikelabui oleh dua orang itu. Bukan saja kami telah kehilangan banyak harta benda, bahkan kabuyutan ini telah dicengkam oleh keresahan yang mengerikan. Aku sendiri telah menjadi korban kelicikan mereka. Tetapi juga karena kedunguanku sendiri. Aku agaknya telah mereka bentuk menjadi seekor serigala yang paling bilas di Kabuyutan ini. justru karena aku adalah Jagabaya”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Satu pengalaman yang sangat berguna Ki Jagabaya, betapapun pahitnya”
Ki Jagabaya mengangguk-angguk Sekilas dipandanginya orang yang bernasib malang, yang hampir saja kehilangan harapan untuk dapat hidup dan kembali kepada keluarganya itu.
“Aku minta maaf” berkata Ki Jagabaya, “aku tidak saja bersalah. Tetapi aku sudah berdosa. Aku telah menyakiti orang yang sama sekali tidak bersalah. Bukan sekedar menyakiti, tetapi lebih biadab dari itu”
Mahisa Murti masih akan menyahut. Tetapi Mahisa Pukat telah bertanya lebih dahulu, “Ki Jagabaya. Apakah dalam persoalan yang serupa, Ki Jagabaya atau orang- orang Ki Jagabaya pernah membunuh? Memaksa seseorang untuk dengan menyiksanya sehingga orang itu mati?”
“Tidak, tidak anak muda” sahut Ki Jagabaya dengan serta merta, “Tetapi jangan bertanya tentang itu. Aku tidak berani melihat persoalan-persoalan yang telah terjadi itu”
“Belum Ki Sanak” sahut orang yang tersiksa, “menurut pendengaran kami, orang-orang Kabuyutan ini, mereka yang mengalami pemeriksaan seperti yang aku alami itu, pada umumnya memang tidak mati. Tetapi hampir semuanya menjadi cacat dan tidak berarti lagi”
“Bukan kehendakku” sahut Ki Jagabaya, “tetapi kedua orang yang telah mati itu yang melakukannya. Mereka membuat orang-orang yang dicurigai menjadi cacat sehingga mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa bagi kepentingan Hantu Jurang Growong.
“Bagaimana pendapat Ki Jagabaya tentang Hantu Jurang Growong?” bertanya Mahisa Pukat pula
“Aku seperti orang yang baru saja terbangun dari sebuah mimpi yang mengerikan Ki Sanak. berkata Ki Jagabaya” betapapun bodohnya aku. tetapi akhirnya aku dapat melihat apa yang sebenarnya kami, orang-orang padukuhan ini, hadapi pada saat-saat terakhir ini”
“Itulah yang aku tanyakan” desak Mahisa Pukat.
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Bagiku sekarang, semuanya itu ternyata hanyalah permainan yang licik dan kasar.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ternyata Ki Jagabaya itupun kemudian menyatakan pendapatnya tentang Hantu Jurang Growong seperti yang dikatakan oleh orang yang bernasib buruk itu. Dengan nada dalam, Ki Jagabaya itupun kemudian berkata, “Sekali lagi aku minta maaf, bahwa aku telah berbuat dosa terhadap beberapa orang saudara-saudaraku di Kabuyutan ini”
“Tetapi kedua orang itu telah menerima hukumannya” berkata orang yang bernasib buruk itu.
Ki Jagabaya mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang itu sejenak. Kemudian katanya, “kau memaafkan aku?”
“Tentu Ki Jagabaya” jawab orang itu, “kita semuanya telah menjadi korban kelicikan kedua orang itu. Ia berhasil membuat kami. seluruh isi Kabuyutan ini menjadi bingung, gelisah dan kehilangan pegangan”
“Terima kasih” berkata Ki Jagabaya kemudian, “tetapi aku tidak tahu. apa kata mereka yang sudah terlanjur menjadi cacat. Meskipun bukan tanganku langsung, tetapi yang terjadi atas mereka adalah sepengetahuanku. Aku tidak yakin bahwa mereka semuanya akan dapat memaafkan aku”
“Mereka semuanya?” potong Mahisa Pukat berapa orangkah yang sudah mengalami nasib yang sangat buruk itu.
“Tiga orang sudah menjadi cacat” jawab Ki Jagabaya, “tetapi kami sudah menyakiti lebih dari dua puluh orang. Kami memeriksa siapa saja yang ingin kami periksa dengan menyakiti mereka. Di antara mereka ada yang segera kami lepaskan dengan peringatan-peringatan, karena mereka kita sebut tidak terlibat langsung dengan Hantu Jurang Growong. Mereka hanya memberikan peluang terjadi kejahatan, karena mereka lalai meronda atau tugas-tugas padukuhan lain. Tetapi mereka yang kami anggap tersangka langsung dengan kegiatan Hantu Jurang Growong itu. kami tidak memberikan ampun lagi. Kami membuat mereka cacat meskipun sampai saat terakhir mereka tidak mengaku”
“Nampaknya memang demikian Ki Sanak sambung orang yang hampir saja menjadi korban itu, “aku menjadi sangat ngeri. Bukan saja oleh kesakitan yang hampir tidak tertanggungkan, tetapi juga karena ketakutanku bahwa akhirnya aku akan cacat, karena aku telah dituduh terlibat langsung dalam hubungan dengan Hantu Jurang Growong”
“Itulah kebodohanku” sahut Ki Jagabaya, “tetapi suasana padukuhan ini benar-benar dicengkam oleh kegelisahan dan keresahan yang tidak tertanggungkan. Perampokan, tidak saja di rumah-rumah, tetapi juga beberapa orang telah disamun di bulak-bulak panjang. Seolah-olah Hantu Jurang Growong itu terdiri dari sejumlah orang yang memiliki kemampuan yang tidak terlawan”
Dirumah Ki Buyut, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendapat tempat dan pelayanan yang sangat baik. Namun justru karena itu keduanya merasa kurang mapan. Sehingga karena itu, maka Mahisa Murti pun pada satu kesempatan berkata kepada Ki Buyut.
“Ki Buyut, perlakukan kami sebagaimana dua orang pengembara yang mendapatkan tempat bermalam. Kesempatan untuk tidur di serambi gandok sekalipun telah sangat memenangkan bagi kami berdua. Sementara makanan yang diberikan kepada kami terasa terlampau berlebih-lebihan. Dengan demikian, kami justru merasa segan dan kurang mapan”
“Jangan kau hiraukan anak-anak muda” berkata Ki Buyut, “biarlah kami memperlakukan kalian herdua sesuai dengan sikap kami terhadap kalian berdua. Meskipun kalian menyebut diri pengembara, tetapi kalian akan dapat memberikan beberapa peruhahan yang akan sangat herarti hagi kami”
“Kami akan tetap berbuat sesuai dengan tingkat jangkauan kami bagi kepentingan Kabuyutan ini, Ki Buyut” jawab Mahisa Murti, “tetapi perlakuan Ki Buyut membuat kami justru menjadi segan dan kaku”
“Sekali lagi aku minta, jangan hiraukan” berkata Ki Buyut.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah berusaha untuk mencegah sikap yang justru membuatnya tidak dapat bersikap wajar. Tetapi Ki Buyut ternyata kurang sependapat.
“Aku tidak peduli lagi” berkata Mahisa Pukat ketika keduanya berada di dalam biliknya aku akan berbuat apa saja sesuai dengan sifat kebiasaanku”
Mahisa Murti tersenyum. Namun katanya, “Kita terikat pada unggah-ungguh. Itulah sebabnya, maka rasa-rasanya kita justru terbelenggu disini”
Namun cemikian, pada saat-saat tertentu, keduanya minta diri untuk pergi ke sungai atau kemanapun juga. Pada saat-saat yang demikian, maka keduanya dapat berbuat apa saja untuk mengendorkan kekuatan tatanan di rumah Ki Buyut”
Tetapi sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai tertarik kepada ceritera tentang hutan pohon cendana yang menjadi gundul. Dengan demikian, maka hekas pohon cendana itu rasa-rasanya dapat di atur sehingga tidak lagi berupa tanah terbuka yang akan dapat sedikit demi sedikit menjadi aus.
“Kita dapat melihat tanah gundul dilereng bukit sebelah” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Namun nampaknya Akuwu yang sekarang, sudah menaruh perhatian yang cukup”
“Pada sisa-sisa pepohonan yang ada. Tetapi nampaknya tidak ada rencana Akuwu untuk menanam pepohonan yang baru apapun jenisnya untuk menghijaukan lereng yang gundul itu”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Kita dapat memberitahukan hal itu kepada Ki Buyut. Jika kita langsung menanganinya, maka kita akan tertahan di tempat ini untuk waktu yang lama. Kita mungkin akan bertemu lagi dengan Akuwu, sehingga untuk beberapa saat kita akan menjadi penghuni Pakuwon ini”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Mahisa Murti, bahwa mereka berdua hanya dapat memberikan pesan-pesan saja kepada Ki Buyut, karena mereka tidak berniat untuk tinggal di Kabuyutan itu terlalu lama. Mereka hanya ingin membantu Ki Buyut dan para bebahu Kabuyutan itu memulihkan wibawanya, setelah Ki Jagahaya melakukan perbuatan yang telah menyakiti hati rakyatnya, sementara Ki Buyut yang lemah hati tidak berbuat apa-apa.
Bersambung.....!
**************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar