Senin, 28 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 019-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 019-03*

Namun kemudian Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian menyadari bahwa ia berhadapan dengan isteri Pangeran Kuda Permati.

“Diajeng,” desis Pangeran Singa Narpada kemudian, “jadi selama ini kau berada disini?”

Sejenak perempuan itu termangu-mangu. Namun ia-pun kemudian menggeretakkan gigi sambil menjawab, “Ya. Aku selama ini berada disini dan akan tetap berada disini. Tempat ini akan kami pertahankan sampai orang yang terakhir.”

“Aku tidak percaya. Mereka akan bertahan sampai mati, sebagaimana akan aku lakukan,” jawab Purnadewi.

Pangeran Singa Narpada yang garang itu ternyata berkata dengan nada yang sabar, “Diajeng. Jangan kehilangan akal. Masih banyak jalan yang dapat kau tempuh. Kau masih cukup muda, sehingga masa mendatang bagimu masih panjang.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Namun ia-pun kemudian menyarungkan senjatanya. Katanya, “Apakah kau benar-benar akan mempertahankan tempat ini? Para pengawal yang ada di tempat ini sudah menyerah.”

“Aku adalah isteri Pangeran Kuda Permati. Senopati Agung dari pasukan pembebas bagi Kediri. Karena itu, maka aku-pun harus menyesuaikan diri dengan kedudukan suamiku. Kakangmas hanya akan dapat menyebut namaku. Tetapi Kakangmas tidak akan dapat membawa dan membelenggu tekadku dan tekad suamiku. Jika Kakangmas akan menangkap aku, maka yang dapat Kakangmas sentuh adalah tubuhku yang sudah tidak berjiwa lagi,” geram Purnadewi.

“Jangan berkata begitu Diajeng,” sahut Pangeran Singa Narpada, “Kita adalah keluarga sendiri. Mungkin sikap kita dapat berbeda. Tetapi bagaimana-pun juga aku adalah pengemban titah Sri Baginda. Kau adalah salah seorang keluarga dari Sri Baginda sebagaimana aku dan adimas Pangeran Kuda Permati.”

“Jangan membujuk Kakangmas,” berkata Purnadewi kemudian, “Sekarang kita berdiri berhadapan meskipun kita adalah keluarga. Jika aku sepupu Kakangmas, biarlah aku tetap menghormati sebagai saudara yang berdarah lebih tua. Tetapi tentang sikap dan pendirian kita terhadap Kediri adalah persoalan yang berbeda.”

“Jangan mengeraskan hatimu Diajeng. Kau dapat berpikir lebih jernih. Kita akan menghadap Sri Baginda. Kemudian katakan apa saja tentang tekadmu dan tekad suamimu kepada Sri Baginda,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Dan Kakangmas akan membawa aku sebagai tawanan perang menghadap Sri Baginda dalam keadaan hidup?” bertanya Purnadewi.

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “persengketaan ini akan berjalan untuk waktu yang lama. Jika kita tetap berkeras terhadap pendirian kita masing-masing. Korban akan berjatuhan dan keadaan Kediri justru akan menjadi semakin buruk.”

“Itu adalah kesalahan kalian,” jawab Purnadewi, “Jika kalian tidak menjadi alat orang-orang Singasari, maka Kediri akan bangkit. Tetapi kalian tidak menyadari kebesaran Kediri sebagaimana kita dengar pada saat Tumapel belum berkhianat? Tetapi pengkhianatan itu telah merubah Kediri menjadi daerah mati. Sedangkan pengkhianatan itu berlangsung terus dari masa kemasa. Dan agaknya sekarang-pun telah terjadi pengkhianatan, sehingga Kakangmas Singa Narpada dapat menemukan tempat ini.”

“Jangan menyesali sikap yang berbeda di antara kita,” berkata Pangeran Singa Narpada, “jangan pula menyesali orang yang telah menyadari kesalahan langkahnya dan menunjukkan tempat ini. Namun yang penting, apakah kita memang benar-benar tidak dapat menemukan satu titik yang paling baik bagi Kediri dalam keadaan sekarang ini?”

“Sudah aku katakan,” jawab Purnadewi, “Jika kalian dapat merubah sikap kalian dan berada didalam satu barisan dengan kami, maka segalanya akan berakhir dengan baik. Kediri akan berdiri sebagai satu kekuatan yang tidak terkalahkan.”

“Apa artinya kekuatan yang tidak terkalahkan? Dan untuk apakah kekuatan itu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Singasari harus tunduk dibawah perintah Kediri,” jawab Purnadewi.

“Dan peristiwa yang serupa akan terulang. Singasari lah yang akan bergolak, sehingga pada suatu saat, Singasari dapat mengalahkan Kediri atau kekuatan lain yang akan timbul,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Karena itu, maka kita harus melihat dari sisi yang lain. Kita adalah keluarga besar yang satu, dimana-pun pusat kekuasaan berada. Di Singasari atau di Kediri atau di Gagelang atau di tempat lain. Jika kita dapat hidup saling menghormati sebagaimana layaknya keluarga yang besar, maka pusat pemerintahan bukan soal yang harus dipertentangkan. Kecuali jika yang satu berusaha menghisap yang lain serta memperbudaknya, maka persoalannya akan berbeda. Tetapi yang kita hadapi sekarang ini adalah satu keluarga besar yang saling mengerti, bertenggang rasa dan saling menghormati.”

Wajah Purnadewi menegang. Namun kemudian jawabnya, “Aku mendengar alasan seperti itu dari orang-orang yang tidak bersikap, sebagaimana Kakangmas Singa Narpada.”

Kata-kata itu benar-benar menyinggung perasaan Pangeran Singa Narpada yang keras hati. Namun yang dihadapinya adalah seorang perempuan. Bukan Pangeran Kuda Permati sendiri. Karena itu, maka ia masih berusaha untuk mengekang diri. Bahkan kemudian dengan nada sareh ia bertanya, “Diajeng. Sebenarnya aku dapat mengerti sikap Diajeng sebagai isteri Pangeran Kuda Permati yang berdiri atas satu keyakinan, tanpa menghiraukan kenyataan yang dihadapinya. Tetapi apakah memang demikian sikap Diajeng sendiri? Selama ini Diajeng sudah merasakan betapa pahit getirnya bermusuhan diantara sesama kadang sendiri. Dan barangkali Diajeng Purnadewi juga mengerti gejolak perasaan Pangeran Kuda Permati yang sebenarnya atas keyakinannya.”

“Cukup,” Purnadewi itu berteriak sambil mengacukan keris di tangannya, “jangan Kakangmas mengira bahwa aku tidak akan berani menghujamkan keris ini di dada Kakangmas.”

“Aku percaya Diajeng. Keadaan yang selama ini membelenggumu telah menempa jiwamu menjadi seorang perempuan yang keras,” sahut Pangeran Singa Narpada, “Tetapi yang aku tanyakan, apakah sikap suamimu sesuai dengan sikap nuranimu yang mendasar.”

“Diam,” Purnadewi itu berteriak pula, “Kakangmas harus tahu. Aku adalah seorang isteri yang setia.”

“Aku tahu Diajeng. Justru karena sikapmu menunjukkan bahwa kau adalah seorang isteri yang setia. Betapapun sulitnya, pahitnya dan pedihnya hidup dalam pertentangan yang tidak berujung pangkal, kau tetap mendampingi Pangeran Kuda Permati. Tetapi yang ingin aku ketahui bukan kesetiaanmu. Aku yakin akan kesetiaanmu itu, sehingga akan dapat menjadi tauladan setiap perempuan di Kediri. Tetapi yang aku tanyakan adalah sikap nuranimu.”

“Kesetiaan adalah sikap nuraniku,” jawab Purnadewi.

“Benar sekali. Tetapi sikap nuranimu menghadapi perang diantara keluarga sendiri? Sikap nuranimu terhadap keyakinan Pangeran Kuda Permati yang aku ragukan kejujurannya, karena aku mengenal Pangeran Kuda Permati sejak anak-anak. Apakah Pangeran Kuda Permati benar-benar berjuang untuk kebebasan Kediri sebagaimana selalu diteriak-teriakkan meskipun dalam pengertian yang kabur atas kebebasan itu sendiri, atau sekedar memanfaatkan keadaan untuk mengangkat dirinya sendiri agar mendapat pengaruh yang besar atas rakyat Kediri?”

“Diam. Diam kau Kakangmas,” teriak Purnadewi lebih keras lagi sambil meloncat mengayunkan kerisnya.

Para pengawal Pangeran Singa Narpada telah bergeser selangkah. Tetapi ternyata bahwa Pangeran Singa Narpada tidak mengambil sikap apa-pun. Ia memang menghindari ujung keris Purnadewi, tetapi sama sekali tidak berusaha untuk melawan dan apalagi menyerang kembali.

Karena itu, maka para pengawalnya-pun tidak pula berbuat sesuatu.“

“Jangan bermain-main dengan keris itu Diajeng. Menilik ujudnya, keris itu adalah keris yang luar biasa. Jika keris itu menyentuh kulitku meskipun hanya segores kecil, maka jiwaku tidak akan tertolong lagi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Aku memang akan membunuh Kakangmas,” jawab Purnadewi.

“Apakah benar begitu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ya,” jawab Purnadewi singkat. Lalu, “Jika Kakangmas Pangeran akan mempertahankan diri, lakukanlah. Aku sama sekali tidak takut seandainya akulah yang akan terbunuh karena para pengawal Kakangmas Pangeran akan ikut membantu Kakangmas.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Diajeng pernah mendengar, entah dari orang lain atau dari suamimu, bahwa aku adalah seorang yang keras dan kasar. Namun dalam pada itu, aku ingin mengatakan kepadamu, bahwa di ruang ini dapat kau lihat contoh dari gejolak yang terjadi di seluruh Kediri sekarang ini karena api yang telah dinyalakan oleh Pangeran Kuda Permati. Kau ternyata sudah tidak lagi mempunyai satu keberatan apa-pun untuk membunuh aku. Saudara sepupumu. Memang hal yang demikian itu wajar sekali terjadi di peperangan. Seperti di ruangan ini, maka di daerah seluas Kediri telah terjadi pula saling membunuh diantara saudara tanpa lagi menumbuhkan penyesalan. Yang tumbuh kemudian adalah dendam diantara anak-anak mereka yang saling berbunuhan, sehingga dendam itu akan menyala lagi pada setiap tataran keturunan.”

Wajah Purnadewi menjadi semakin tegang sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata, “Diajeng. Selama kemelut terjadi di Kediri, maka berapa orang yang telah terbunuh. Dan ini akan berlanjut terus. Betapa keras hatiku seperti batu, dan bahwa setiap orang mengatakan, bahwa aku dapat membunuh lawan-lawanku dengan tatapan mata tanpa berkedip dan tanpa kesan apa-pun, namun semakin banyak mayat yang aku temui di peperangan, maka hatiku yang seperti batu itu, akan menjadi lekuk juga oleh titik-titik air hujan yang memukul terus-menerus. Yang kemudian ingin aku ketahui, bagaimanakah perasaan Diajeng sebagai seorang perempuan?”

Wajah Purnadewi yang tegang itu menjadi semakin tegang. Namun terasa kemudian jantungnya berdegup semakin keras. Kata-kata Pangeran Singa Narpada itu ternyata telah menyentuh hatinya.

Namun untuk beberapa saat lamanya, Purnadewi sama sekali tidak berkata sepatah kata-pun.

Untuk sejenak ruangan itu menjadi sepi. Meskipun demikian keris di tangan Purnadewi masih tetap teracu.

Pangeran Singa Narpada bergeser selangkah. Tetapi ia tertegun ketika arah ujung keris Purnadewi masih tetap mengikutinya.

Namun sikap Purnadewi sudah tidak segarang sebelumnya.

“Diajeng,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Bagaimanapun juga aku mohon kau sempat memikirkan apa yang terjadi di Kediri. Mungkin kau tidak pernah keluar dari ruangan ini, sehingga kau tidak melihat darah yang tercecer membasahi bumi Kediri. Kau tidak pernah mendengar tangis biyung yang kehilangan anaknya serta ratap gadis-gadis yang kehilangan kekasih,” Pangeran Singa Narpada terdiam sejenak, lalu katanya, “Aku tidak ingkar, bahwa sampai pertempuran yang terakhir, aku adalah orang yang garang. Aku masih tetap membunuh dan membantai lawan-lawanku. Namun sudah barang tentu aku menyadari, bahwa aku tidak akan dapat melakukannya terus-menerus. Aku menyadari bahwa pada suatu ketika aku harus berhenti membunuh. Dan itu hanya dapat aku lakukan jika Kediri menjadi tenang. Tidak ada lagi orang-orang yang ingin memanjakan nafsu ketamakannya dan kedengkiannya.”

Purnadewi memangdang wajah Pangeran Singa Narpada sejenak. Namun ia-pun kemudian menundukkan kepalanya perlahan-lahan.

Pangeran Singa Narpada adalah seorang yang memiliki pengalaman yang luas. Sikap Purnadewi memberikan isyarat kepadanya, bahwa kata-katanya berhasil menyentuh hati perempuan itu.

Karena itu, maka katanya pula, “Diajeng. Pintu masih terbuka. Jika kau tidak berkeberatan, aku dapat membawamu menghadap Sri Baginda. Tidak sebagai tawanan, tetapi sebagai kadang sendiri.”

Prunadewi mengangkat wajahnya. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kakangmas. Jangan bawa aku keluar dari tempat ini. Jika Kakangmas ingin membunuh aku, lakukanlah. Kematian bukan sesuatu yang harus ditakuti, karena lambat atau cepat, kita pasti akan sampai juga kepadanya.”

“Hatimu telah tertempa, sehingga menjadi sekeras baja,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Tetapi sebenarnyalah sikap itu tidak perlu. Aku tahu, bahwa dengan demikian kau telah menunjukkan kesetiaanmu. Tetapi kesetiaan yang demikian adalah kesetiaan yang tidak berjiwa. Jika kau bersedia mendengarkan nasehatku, sebaiknya kau pergi menghadap Sri Baginda. Kau akan dapat berbicara sebagaimana kau katakan kepadaku, atau mungkin alasan-alasan lain yang dapat dimengerti oleh Sri Baginda, bahwa Pangeran Kuda Permati harus melakukan perlawanan diatas satu keyakinan yang mapan. Diajeng, kau tentu sudah pernah mendengar, bahwa aku sendiri pernah ditangkap dan dimasukkan kedalam sebuah bilik yang sempit dan gelap sebagai tawanan. Aku merasa bahwa aku tidak pernah melakukan kesalahan apa-pun. Aku adalah seorang prajurit yang melakukan tugasku sebaik-baiknya menurut pendapatku. Namun Sri Baginda ternyata berpendapat lain. Menurut pendapat Sri Baginda, aku adalah seekor singa yang gila di medan perang. Yang membunuh tanpa pertimbangan, seolah-oiah aku adalah manusia yang tidak berjantung.”

Pangeran Singa Narpada terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Purnadewi yang menjadi semakin menunduk. Baru sejenak kemudian ia melanjutkan, “Diajeng. Aku juga akan berbicara tentang kesetiaan. Kesetiaan seorang prajurit. Bagaimanapun juga hatiku disakiti, tetapi ketika Sri Baginda memberikan tugas kepadaku, aku tidak ingkar. Tetapi satu hal yang dipesankan secara khusus oleh Sri Baginda, bahwa aku tidak dibenarkan untuk membunuh dan berbuat kasar menurut kehendakku saja.”

Wajah Purnadewi terangkat sejenak. Namun wajah itu kembali menunduk. Sementara itu Pangeran Singa Narpada melanjutkan, “Nah, itu adalah gambaran jiwa Sri Baginda yang menjadi sangat sedih melihat pertumpahan darah yang terjadi di Kediri sekarang ini. Bahkan Pangeran Kuda Permati pernah dipanggil oleh Sri Baginda, dan dengan hati terbuka Sri Baginda menyatakan sikapnya. Namun adimas Kuda Permati sama sekali tidak menanggapinya, sehingga akhirnya api peperangan menyala semakin besar. Korban semakin banyak berjatuhan dan Kediri dengan demikian akan menjadi semakin lemah.”

Ujung keris di tangan Purnadewi-pun menjadi semakin menunduk, sehingga dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada-pun menjadi semakin yakin, bahwa ia akan berhasil membujuk adik sepupunya itu.

Katanya kemudian, “Tetapi Diajeng. Aku tidak tahu, apakah aku dapat memenuhi keinginan Sri Baginda. Meskipun sudah aku pertimbangkan semasak-masaknya, bahwa aku ingin bersikap sebagaimana dikehendaki oleh Sri Baginda, namun jika aku sudah turun kemedan, maka persoalannya akan menjadi lain. Darahku serasa telah mendidih dan nalarku menjadi buntu. Aku kehilangan kemampuan untuk mengingat pesan itu. Tetapi aku kira bukan aku saja yang berbuat demikian. Orang lain-pun akan dapat terjebak dalam sikap serupa. Sehingga karena itu, maka kematian tidak terbendung lagi.”

Adalah diluar dugaan Pangeran Singa Narpada, bahwa tiba-tiba saja Purnadewi telah melepaskan kerisnya. Tubuhnya seakan-akan menjadi lemah, sehingga ia telah jatuh pada lututnya. Sambil menutup wajahnya, maka Purnadewi itu telah menangis.

Perlahan-lahan Pangeran Singa Narpada mendekatinya sambil berkata, “Diajeng. Kenalilah dirimu sendiri. Kau adalah seorang putri yang memiliki kehalusan budi. Karena itu, aku tahu apa kata nuranimu menghadapi peperangan yang sudah cukup membakar Kediri.”

Purnadewi tidak menjawab. Tetapi ia menjadi terisak-isak. Ia sama sekali tidak menghiraukannya lagi ketika Pangeran Singa Narpada memungut kerisnya.

“Marilah Diajeng,” Ajak Pangeran Singa Narpada, “Kita tinggalkan sarang yang pengab ini. Bukan karena kita kehilangan kesetiaan kita, tetapi kita mencari kemungkinan yang lebih baik dalam pengabdian ini. Apalagi jika kita harus mempertanggung jawabkannya kepada Yang Maha Agung.”

Purnadewi sama sekali tidak mengelak lagi. Pangeran Singa Narpada kemudian membimbing Purnadewi keluar dari ruangan itu.

Ketika Purnadewi sampai di halaman, maka ia-pun melihat satu kenyataan bahwa prajurit-prajuritnya memang sudah dilumpuhkan. Prajurit yang jumlahnya memang terlalu kecil untuk menghadapi pasukan Pangeran Singa Narpada.

Purnadewi-pun kemudian benar-benar telah menyerahkan diri. Ia menurut saja perintah Pangeran Singa Narpada yang membawanya mengahadap Sri Baginda.

Sri Baginda yang melihat seorang perempuan yang dibawa menghadapnya diluar paseban, karena keadaan yang mendesak, benar-benar telah terkejut ketika Pangeran Singa Narpada yang membawa perempuan itu berkata, “Hamba datang bersama Diajeng Purnadewi.”

“Purnadewi?” ulang Sri Baginda.

“Ya Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Jadi kau?” wajah Sri Baginda menjadi tegang.

Purnadewi hanya menunjuk saja dalam-dalam. Tetapi satu hal yang dikaguminya, Pangeran Singa Narpada yang garang itu telah membawanya mengahadap tidak sebagai seorang tawanan.

Untuk beberapa saat Sri Baginda memperhatikan Purnadewi yang menghadapinya. Kemudian katanya, “Kau berubah sama sekali Purnadewi. Kau menjadi kurus dan hitam. Meskipun sorot matamu masih juga sorot matamu yang penuh dengan panasnya gejolak perasaanmu. Agaknya kau telah melibatkan diri dalam kegiatan pasukanmu, atau kegiatan-kegiatan lain yang sejalan dengan sikap suamimu.”

Purnadewi sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Sementara itu Sri Baginda berkata pula, “Aku kasihan melihat ujud wajahmu Purnadewi.”

“Sri Baginda,” Pangeran Singa Narpada menengahi, “Sejak hari ini Diajeng Purnadewi akan berada didalam lingkungan istana. Yang terpenting adalah untuk melindungi jiwanya. Seseorang yang menyangka bahwa Diajeng Purnadewi telah menyerah, akan dapat mengambil langkah-langkah yang beraneka dan tidak wajar.”

“Baiklah,” kata Sri Baginda, “Kau akan tinggal di tempat yang khusus diperuntukkan bagimu dalam lingkungan dinding istana ini.”

Purnadewi masih tetap berdiam diri. Justru terasa nyatanya mulai menjadi panas. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan mendapat perlakuan yang terlalu baik menurut gambaran angan-angannya. Ia menyangka bahwa ia akan diperlakukan sebagai tawanan. Diperlakukan sebagai seorang budak yang harus berbuat apa saja menurut perintah tuannya.

Tetapi baik Pangeran Singa Narpada, maupun Sri Baginda sendiri tidak memperlakukannya seperti itu. Bahkan ia masih tetap mempunyai kedudukan yang terhormat sebagaimana sepupu Sri Baginda sendiri.

Purnadewi tidak terlalu lama menghadapi Sri Baginda. Ia sama sekali tidak berkata sepatah kata-pun juga. Agaknya Sri Baginda-pun memaklumi sikapnya, sehingga karena itu, maka Sri Baginda-pun berkata, “Bawalah Purnadewi ke tempat yang akan disediakan baginya. Biarlah ia beristirahat. Ia tidak hanya mengalami kelelahan lahiriah saja, tetapi ia juga mengalami kelelahan batin yang akan dapat sangat mengganggu jika ia tidak segera mendapat, kesempatan untuk beristirahat sebaik-baiknya.”

Pangeran Singa Narpada-pun kemudian menyerahkan Purnadewi kepada orang-orang yang bertugas untuk melayaninya. Dua orang perempuan akan selalu berada di dekatnya untuk mengawaninya dan melakukan segala perintahnya.

Sebenarnyalah, Purnadewi yang mendapat tempat yang jauh lebih baik dari tempatnya sendiri di lingkungan sarang para pengikut suaminya, mulai memikirkan langkah-langkah yang pernah diambilnya selama itu. Bahkan ia sempat heran kepada diri sendiri, bahwa pandangannya terhadap dunia diluar sarang para pengikut suaminya itu menjadi terlalu sempit, sehingga karena itu, ia tidak mendapat gambaran yang benar tentang keadaan di sekitarnya, di sekitar istana dan di sekitar Kota Raja.

Sementara itu, ketika Purnadewi telah mulai mapan, Sri Baginda telah berbicara dengan Pangeran Singa Narpada tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditempuh menghadapi perkembangan keadaan yang semakin memuncak.

“Apakah Purnadewi dapat membantu menyelesaiakan perang yang berkecamuk tanpa akhir ini?” berkata Sri Baginda.

“Kita akan mencoba jika Purnadewi sendiri setuju Sri Baginda. Jalan yang harus ditempuh adalah jalan yang agak sulit untuk dilewati. Tetapi jika ia bersedia, maka tentu akan ada jalan untuk memecahkan kesulitan itu,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Namun dalam pada itu, laporan tentang sergapan Pangeran Singa Narpada ke sarang pasukannya telah didengar pula oleh Pangeran Kuda Permati. Demikian ia mendengar bahwa Pangeran Singa Narpada menemukan sarangnya, telah membuatnya menjadi seperti gila.

Betapa-pun marahnya Pangeran Kuda Permati, namun ia tidak tahu kepada siapa ia harus menumpahkan kemarahannya itu. Meskipunia sadar, bahwa tentu ada seorang pengkhianat yang telah menunjukkan sarangnya itu kepada lawan.

“Ada beberapa orang yang tertawan,” berkata salah seorang kepercayaannya, “Tentu satu diantara mereka tidak dapat menahan diri untuk berterus-terang.”

“Ia adalah pengkhianat,” geram Pangeran Kuda Permati.

“Ya, orang itu memang pengkhianat,” jawab kepercayaannya itu, “Seharusnya ia berdiam diri sampai akhir hayatnya. Namun, tentu ada pengkhianat yang lain yang telah menyebut beberapa orang yang dianggap mengetahui sarang kita.”

“Ya,” jawab Pangeran Kuda Permati, “Jika kita dapat menemukan mereka, maka mereka akan aku cincang sampai lumat.”

“Mereka berada di tempat-tempat tawanan di Kediri,” jawab kepercayaannya itu.

Pangeran Kuda Permati menggeretakkan giginya. Hancurnya landasan utamanya itu tidak begitu penting baginya, karena di tempat itu memang tidak terdapat benda-benda yang bernilai bagi peperangan yang sedang berlangsung, seandainya di tempat itu tidak terdapat istri Pangeran Kuda Permati itu, Purnadewi.

Namun hal itu sudah terjadi. Purnadewi telah ditangkap oleh Pangeran Singa Narpada sendiri dan dibawa ke Kediri.

Dalam kemarahan yang tidak terkendali, maka Pangeran Kuda Permati telah menyusun rencana yang tidak dipertimbangkannya dengan jernih. Yang tersirat didalam dadanya adalah sekedar pemuasan kemarahannya, seakan-akan semua orang Kediri telah bersalah kepadanya, sehingga dengan demikian ia dapat membalas dendam kepada siapa-pun juga.

Tetapi hal itu sudah diperhitungkan oleh Pangeran Singa Narpada. Karena itu, maka ia-pun telah memerintahkan pasukannya untuk bersiap sepenuhnya. Pasukan berkudanya-pun telah mendapat perintah untuk setiap saat bergerak, sehari-semalam penuh.

Bahkan bukan saja pasukan Pangeran Singa Narpada. Namun menghadapi cara bergerak Pangeran Kuda Permati, maka Sri Baginda sendiri sudah memerintahkan semua pasukan, terutama di perbatasan untuk bersiap menghadapi gerak Pangeran Kuda Permati. Sebagian pasukan yang berada didalam lingkungan Kota Raja-pun telah disebarkan di daerah perbatasan, terutama pasukan berkuda yang akan dapat membantu setiap pasukan Kediri. Bahkan sebagaimana dilakukan oleh Panji Sempana Murti, maka para pemimpin pasukan di perbatasan telah memerintahkan semua anak-anak muda dan laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka harus menyiapkan kentongan untuk memberikan isyarat jika pasukan Pangeran Kuda Permati mendatangi padukuhan mereka.

Bagaimana-pun juga, sikap prajurit Kediri itu merupakan tantangan yang berat bagi Pangeran Kuda Permati. Meskipun Pangeran Kuda Permati masih tetap mempergunakan caranya, menyerang tempat-tempat yang dianggapnya lemah, namun pasukan berkuda yang di tempatkan berpencar berpengaruh pula bagi gerak Pangeran Kuda Permati itu. Apalagi pasukan Kediri tidak hanya sekedar menunggu, tetapi dengan cepat pasukan Kediri-pun melakukan sergapan-sergapan jika mereka mengetahui pemusatan kekuatan pasukan Pangeran Kuda Permati. Karena meskipun pemusatan pasukan itu berpindah-pindah tempat, tetapi pada saat-saat tertentu para prajurit Kediri mendapat laporan tentang gerakan pasukan Pangeran Kuda Permati.

Sebenarnyalah tugas pasukan sandi-pun menjadi semakin berat. Dengan gerak yang cepat dan berpindah-pindah, maka para petugas sandi harus bekerja dengan lebih cermat dan hati-hati. Demikian pula para petugas sandi dari Singasari yang mendapat kewajiban untuk mengikuti perkembangan keadaan di Kediri. Mereka bergerak tidak hanya di tempat tertentu, tetapi mereka berada di berbagai tempat untuk dapat mengetahui perkembangan keadaan sebaik-baiknya.

Dengan demikian, maka para petugas sandi dari Singasari itu-pun telah berpencar, namun mereka tetap selalu berhubungan dan tetap menganggap warung dan rumah Pugutrawe sebagai pusat hubungan diantara mereka, diluar Kota Raja, dan dari tempat itu pula laporan kepada pimpinan petugas sandi Singasari disusun.

Namun pada saat-saat terakhir, para petugas sandi justru telah menjadi cemas. Benturan-benturan kekuatan dan pertempuran-pertempuran telah terjadi dan bahkan semakin meningkat. Pasukan Pangeran Kuda Permati yang marah itu bergerak mengelilingi Kota Raja dan menyerang beberapa padukuhan di daerah perbatasan. Sementara pasukan Kediri-pun telah meningkatkan pula usahanya untuk menghancurkan pasukan Pangeran Kuda Permati. Nampaknya bukan saja Pangeran Singa Narpada dan Panji Sempana Murti yang bergerak dengan keras, tetapi beberapa Senapati yang lain mengikuti pula cara mereka menghadapi Pangeran Kuda Permati.

Dengan demikian, maka benturan kekerasan menjadi sering terjadi dan korban-pun semakin banyak berjatuhan.

Dalam kecemasan yang demikian itu, maka Pangeran Singa Narpada yang dianggap Senapati yang paling keras, telah berusaha untuk menemukan jalan lain, justru diluar kebiasaannya, kekerasan.

Bersama Sri Baginda, Pangeran Singa Narpada telah berusaha untuk memberikan satu keyakinan baru terhadap Purnadewi. Pertempuran di Kediri itu semakin lama telah menelan korban semakin besar. Sementara itu, belum ada tanda-tanda bahwa pertempuran itu akan berakhir pada suatu saat.

Sementara itu Singasari-pun telah menjadi semakin cemas pula. Kediri nampaknya tidak segera dapat mengatasi kesulitannya. Atas laporan para petugas sandi, maka Singasari tidak dapat untuk berdiam diri apabila keadaan menjadi semakin buruk.

Karena itu, maka Pugutrawe telah mengirim Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk menghadap para pemimpin petugas sandi di Singasari dengan pertanda khusus, bahwa kedua anak muda itu adalah adik Mahisa Bungalan, sehingga mereka mempunyai kedudukan yang khusus untuk membicarakan kemungkinan penggunaan kekuatan prajurit bagi ketenteraman Kediri.

Dengan pertanda khusus, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dihadapkan kepada Mahisa Bungalan untuk memberikan laporan secara langsung dibawah penilikan seorang perwira dari petugas sandi di Singasari.

“Baiklah,” berkata Mahisa Bungalan setelah mendengarkan laporan kedua adiknya, “Aku akan menyampaikan laporan ini kepada Panglima yang akan menyampaikannya kepada Sri Maharaja. Menurut pendapatku, pasukan Singasari harus bersiap-siap di perbatasan Kediri. Tetapi pada saat ini kita masih belum perlu bergerak memasuki daerah Kediri sebelum keadaan benar-benar menjadi gawat. Jika Sri Baginda, dengan pasukannya benar-benar tidak dapat menguasai pemberontakan Pangeran Kuda Permati, sehingga keadaan Kota Raja terancam, maka pasukan Singasari akan berada di Kota Raja Kediri. Namun sementara ini menurut laporan yang kami terima dari beberapa jalur, maka agaknya pasukan Kediri masih mampu menguasai Kota Raja dan sekitarnya dengan baik meskipun disana-sini terjadi benturan-benturan bersenjata, sementara arus pengungsi yang memasuki gerbang Kota Raja menjadi semakin banyak.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Murti berkata, “Aku akan melaporkannya kepada petugas sandi yang menjadi penghimpun dana memimpin kami.”

“Hati-hatilah,” pesan Mahisa Bungalan, “Keadaan menjadi bertambah buruk. Jika kalian salah langkah, maka kalian akan dapat dibantai oleh pasukan Pangeran Kuda Permati tetapi juga mungkin oleh pasukan Pangeran Singa Narpada atau prajurit Kediri yang lain karena mereka mencurigaimu, sementara tanda petugas sandi yang kau kenakan hanya dikenal oleh para petugas sandi dari Singasari.”

“Kami akan berhati-hati kakang,” jawab Mahisa Pukat.

Dengan demikian, maka kedua anak muda itu-pun telah meninggalkan Kediri. Sementara Mahisa Bungalan masih selalu berhubungan dengan perwira dari petugas sandi yang ikut mendengarkan laporan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Ketika Mahisa Bungalan lewat Panglima prajurit Singasari menyampaikan hal itu kepada Sri Maharaja, maka perintah Sri Maharaja di Singasari tidak berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan. Bahkan kemudian Mahisa Bungalanlah yang mendapat perintah untuk mempersiapkan sepasukan prajurit yang kuat di daerah perbatasan.

“Jangan menarik perhatian orang-orang Kediri,” pesan Panglima prajurit Singasari.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan-pun segera mempersiapkan sepasukan prajurit yang kuat. Tidak lagi sekelompok kecil untuk mengawal Mahisa Agni dan Witantra ke Kediri. Tetapi pasukan yang kemudian itu, jika perlu akan memasuki Kediri bagaikan bendungan yang pecah. Arus banjir bandang akan melanda Kediri dan menyapu pemberontakan Pangeran Kuda Permati tanpa ampun.

Tetapi dalam pada itu, Sri Baginda di Kediri justru bersama Pangeran Singa Narpada sedang dengan susah berusaha untuk menyelesaikan perang itu dengan cara yang lebih baik daripada saling berbunuhan.

Sri Baginda semula memang agak curiga dengan sikap Pangeran Singa Narpada yang disangkanya hanya sekedar berpura-pura. Namun ternyata Pangeran Singa Narpada telah berbuat dengan sungguh-sungguh untuk meyakinkan Purnadewi bahwa pertempuran yang tidak berkesudahan akan membuat Kediri semakin lemah, sehingga mungkin pada suatu saat Kediri akan terhapus dari jajaran susunan pemerintahan dibawah panji-panji persatuan Singasari.

Untuk memberikan tekanan kepada keterangan-keterangannya, maka Pangeran Singa Narpada telah membawa Purnadewi ke daerah yang menjadi ajang pertempuran. Di bekas arena itu Purnadewi menyaksikan korban yang terbujur lintang dari kedua belah pihak. Baik prajurit Kediri yang setia kepada Sri Baginda, mau-pun prajurit yang berpihak kepada Pangeran Kuda Permati.

“Diajeng,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Jika perang ini akan berkelanjutan, kau dapat membayangkan, sementara aku berbicara tentang cara lain yang mungkin dapat ditempuh, maka pasukanku masih bergerak dengan garang di medan-medan perang. Mereka membunuh sebagaimana kawan-kawan mereka dibunuh. Bahkan mungkin orang-orang yang tidak bersalah, karena kedua belah pihak salah menilai, maka yang terjadi adalah kematian yang menyedihkan justru tanpa arti apa-apa. Mungkin seseorang akan dibunuh di tangan siapa-pun ia jatuh.”

Purnadewi hanya dapat menundukkan kepalanya. Semuanya itu memang membuatnya ngeri. Bukan saja orang-orang di daerah perang selalu dibayangi oleh ketakutan, sebagaimana para prajurit menjadi semakin keras dan kasar karena kehidupan mereka di medan, tetapi orang-orang yang tinggal di Kota Raja-pun selalu dicengkam oleh ketegangan.

Orang-orang di Kota Raja selalu merasa takut, bahwa pada satu saat Kota Raja itu diserang dan apalagi jatuh ke tangan pasukan Pangeran Kuda Permati. Para pengikut Pangeran Kuda Permati tentu akan melakukan tindakan yang dapat mendirikan bulu-bulu tengkuk.

Demikian kerasnya pertempuran diantara saudara sendiri di Kediri, sehingga sulit dibayangkan, apa yang akan terjadi kelak. Mungkin Kediri akan benar-benar hancur sampai orang yang terakhir dalam benturan kekerasan dan saling membunuh.

Berbagai macam peristiwa telah didengar oleh Purnadewi. Bahkan sekali-sekali air matanya tidak dapat ditahannya lagi jika ia mendengar ceritera yang pedih dan sangat menyakitkan hati.

Purnadewi-pun juga mendengar kisah sepasang penganten baru yang melarikan diri dari tangan pasukan Pangeran Kuda Permati yang garang di medan perang. Mereka ditangkap dan hampir saja terjadi peristiwa yang sangat menyakitkan hati. Namun keduanya berhasil melarikan diri dengan menggali lubang di malam hari, menyusup dibawah dinding sebuah bilik yang dipergunakan untuk menyimpan mereka, sebelum pada pagi harinya, laki-laki dari sepasang penganten itu akan di bunuh, sementara isterinya akan tetap berada di tangan prajurit-prajurit yang menjadi buas. Namun ternyata bahwa perempuan yang malang itu tidak sempat menikmati kebebasannya. Ketika keduanya dikejar oleh para prajurit Pangeran Kuda Permati, maka perempuan itu terluka parah oleh anak panah di lambungnya. Meskipun keduanya berhasil menyembunyikan diri, tetapi luka parah itu tidak dapat diobati lagi. Perempuan itu meninggal dipelukan suaminya.

Sementara itu, setelah menguburkan isterinya di tepian sungai yang berpasir, maka laki-laki itu berusaha untuk menuju ke Kota Raja. Tetapi malang baginya. Di tempat ia mendekati Kota Raja telah terjadi pertempuran yang sengit antara pasukan Pangeran Kuda Permati dan pasukan Kediri di daerah perbatasan. Dalam pertempuran itu, laki-laki yang malang itu terbunuh oleh prajurit Kediri yang marah karena sergapan pasukan Pangeran Kuda Permati yang tiba-tiba.

Dalam kemarahan mereka memburu pasukan Pangeran Kuda Permati yang menarik diri. Sekelompok prajurit menemukan laki-laki yang kehilangan isterinya itu bersembunyi. Namun laki-laki itu tiba-tiba menjadi ketakutan dan melarikan diri. Tetapi ujung anak panah telah menembus punggungnya. Pasa saat terakhir sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia sempat menceriterakan peristiwa yang pahit dari dirinya itu.

Prajurit-prajurit Kediri menyesalkan. Tetapi orang itu kemudian sudah mati.

Dalam keharuan itu, Purnadewi mendengar Pangerar Singa Narpada berkata, “Diajeng. Ada satu cara yang mungkin dapat ditempuh. Mungkin akan berhasil tetapi mungkin juga tidak. Tetapi mudah-mudahan usaha ini dapat berarti bagi ketenangan hidup rakyat Kediri.”

Tiba-tiba saja Purnadewi menangis. Dalam isaknya ia berkata, “Aku mengerti yang kakangmas maksudkan. Kakangmas ingin mengirim aku kepada suamiku agar aku membujuknya untuk menghentikan perlawanan.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Panggraitamu tajam sekali. Kemudian terserah kepadamu. Apakah kau bersedia atau tidak. Jika kau bersedia, maka kami akan sangat berterima kasih. Apalagi jika kemudian Pangeran Kuda Permati benar-benar menghentikan perlawanannya.”

Wajah Purnadewi masih basah. Sementara ia bertanya, “Jika kakangmas Kuda Permati menyerah, apa yang akan dilakukan oleh Sri Baginda atasnya.”

“Aku akan mohon agar hukuman yang dijatuhkan atasnya menjadi ringan. Jika Pangeran Kuda Permati bersedia menghentikan perlawanan, maka itu berarti bahwa Pangeran Kuda Permati telah ikut menciptakan ketenangan di Kediri,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Purnadewi termenung sejenak. Ia teringat kepada Pangeran Lembu Sabdata yang masih menjadi tawanan. Ia-pun menyadari bahwa Pangeran Singa Narpada sendiri pernah ditawan.

Memang kadang-kadang timbul pertanyaan, apakah langkah Pangeran Singa Narpada itu bukan sekedar cara yang licik untuk menangkap suaminya dan kemudian membalas dendam dengan cara yang kasar?

Namun menilik kesungguhan sikapnya, maka Pangeran Singa Narpada, seorang Senapati yang paling garang di peperangan itu, berkata sebenarnya.

“Diajeng,” berkata Pangeran Singa Narpada kemudian, “untuk memperkuat landasan usaha Diajeng, maka aku akan membawa Diajeng menghadap Sri Baginda. Bukan sekedar atas perintahku. Dengan landasan perintah Sri Baginda, maka segalanya akan menjadi jelas. Masa depan Pangeran Kuda Permati pun akan dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan sabda Sri Baginda. Jika sekedar janji yang akan aku berikan, namun kemudian tidak berkenan di hati Sri Baginda, maka janjiku itu masih akan dapat terlepas karena nilainya lebih rendah dari titah Sri Baginda. Tetapi jika Sri Baginda sendiri yang berjanji, maka janji itu akan merupakan sabda Raja yang tidak akan berubah.”

Purnadewi masih ragu-ragu. Namun ia merasakan kesungguhan usaha para pemimpin di Kediri.

Untuk beberapa saat Purnadewi masih tetap berdiam diri. Satu pergolakan yang sengit telah terjadi di dalam dirinya.

Sementara itu, Pangeran Singa Narpada masih berkata selanjutnya, “Diajeng. Segala sesuatunya memang terserah kepadamu. Namun aku selalu teringat akan kata-katamu, bahwa kesetiaanmu kepada suamimu adalah kata nuranimu. Satu pertanyaan yang barangkali tidak usah kau jawab, bagaimanakah kesetiaanmu kepada Kediri. Tanah Kelahiranmu.”

Isaknya yang sudah mereka tiba-tiba telah menyesak lagi. Tetapi Purnadewi sama sekali tidak menjawab.

“Baiklah Diajeng,” berkata Pangeran Singa Narpada, “aku tidak menunggu jawabmu sekarang. Terserah kepadamu, kapan saja kau akan memberikan jawabanmu. Tetapi yang perlu kau ingat, bahwa setiap hari berapa orang Kediri terbunuh di peperangan. Semakin lama aku harus menunggu, maka kematian itu akan bertambah-tambah.”

Tangis Purnadewi menjadi semakin meninggi. Di sela-sela isaknya terdengar suaranya, “Kau telah menyudutkan aku kakangmas.”

“Tidak,” jawab Pangeran Singa Narpada dengan serta merta, “Aku tidak bermaksud demikian. Segala sesuatunya terserah kepada pertimbanganmu.”

Isak Purnadewi tiba-tiba saja menurun. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Suaranya yang masih terputus-putus oleh isaknya telah berubah pula. Tegas dan pendek.

“Bawa aku menghadapi Sri Baginda.”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah Purnadewi yang tidak lagi menunduk. Namun agaknya tatapan matanya memberikan keyakinan kepada Pangeran Singa Narpada bahwa Purnadewi berkata dengan sungguh-sungguh.

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada-pun telah membawa Purnadewi menghadap Sri Baginda. Dengan tulus hati Purnadewi itu berkata, “Sri Baginda. Perkenankanlah hamba mencari suami hamba. Hamba akan berusaha untuk memberikan kesadaran baru pada sikapnya. Mudah-mudahan ada gunanya, karena sebenarnyalah ia sangat mencintai Kediri. Tetapi ternyata ia mempunyai cara tersendiri untuk menyatakan cintanya kepada Kediri itu.”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara lembut ia berkata, “Aku mengerti Purnadewi. Kuda Permati memang sangat mencintai Kediri. Tetapi ia tidak mengingat kepentingan yang lebih besar dari sikapnya sendiri untuk menyatakan cintanya kepada Kediri. Karena itu, meskipun aku pernah gagal membujuknya, maka aku berharap mudah-mudahan kau berhasil melakukannya. Aku berjanji bahwa pengorbananmu dan pengorbanannya dengan melepaskan keyakinannya yang keliru akan aku pertimbangkan sebaik-baiknya. Karena aku yakin, jika Pangeran Kuda Permati bersedia menghentikan perlawanannya, maka pertempuran yang terjadi di mana-mana ini-pun akan segera susut dan akhirnya padam sama sekali.”

“Hamba mohon restu,” berkata Purnadewi kemudian. “Tetapi ada sesuatu yang hamba tidak tahu, dimanakah suami hamba sekarang berada. Dan hamba-pun meragukan, apakah hamba dapat melintasi perjalanan yang berbahaya ini.”

“Hal ini akan dapat dipecahkan oleh Pangeran Singa Narpada,” berkata Sri Baginda kemudian.

“Hamba akan berusaha untuk mendapat keterangan tentang gerak pasukan Pangeran Kuda Permati. Dengan demikian, maka kami akan dapat menempatkan Diajeng Purnadewi, sehingga ia akan diketemukan oleh pasukan Pangeran Kuda Permati”, berkata Pangeran Singa Narpada.

“Aku sendiri?” bertanya Purnadewi.

“Kami akan mengantar Diajeng sampai satu lingkungan yang akan didatangi oleh pasukan yang menjadi pengikut Pangeran Kuda Permati. Bukankah dengan demikian Diajeng akan dengan segera dibawa menghadap Pangeran Kuda Permati?” berkata Pangeran Singa Narpada.

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...