Kamis, 24 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 013-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 013-02*

“Jangan tergesa-gesa. Jika kalian berada disini, itupun merupakan satu pengalaman yang baik bagi pengembaraan kalian. Kalian akan melihat perkembangan dari sekelompok anak-anak muda yang merasa dirinya bertanggung jawab bagi masa depan. Bukan masa depan mereka sendiri, tetapi masa depan kampung halamannya” jawab Ki Waruju.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya untuk menetap disatu tempat terlalu lama, mereka seakan-akan telah kehilangan waktu.

Namun mereka ternyata berniat juga untuk memenuhi permintaan Ki Waruju. Apalagi karena kemudian Ki Waruju sendiri telah ikut pula menangani anak-anak muda Talang Amba sebagaimana pernah disanggupkannya.

Anak-anak muda Talang Amba telah dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk berlatih siang malam kecuali untuk kepentingan tertentu. Namun mereka justru telah dibagi dalam kesempatan yang berbeda-beda agar waktu mereka tidak seluruhnya dirampas untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Dengan pembagian waktu yang sebaik-baiknya, seorang anak muda masih sempat pergi ke sawah dan ladangnya untuk membantu memelihara tanaman dan mengatur air.

Dengan tertib Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan Ki Waruju telah membagi bukan saja waktu tetapi juga unsur-unsur yang mereka berikan kepada anak-anak muda Talang Amba itu. Ki Waruju telah mendapat bagian untuk memberikan kemampuan kanuragan secara pribadi. Anak-anak muda Talang Amba telah mendapat petunjuk, bagaimana mereka harus membela diri dalam keadaan tertentu dengan atau tidak dengan senjata.

Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat tugas untuk mengajari anak-anak Talang Amba mempergunakan segala macam senjata. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membagi diri pula dalam tugas mereka. Mahisa Murti mengajari anak-anak muda Talang Amba mempergunakan senjata bertangkai panjang, sementara Mahisa Pukat mengajari anak-anak muda Talang Amba mempergunakan senjata yang lebih pendek.

Jika Mahisa Murti mengajari anak-anak muda itu mempergunakan tombak, trisula bertangkai panjang, canggah dan bahkan senjata lontar, maka Mahisa Pukat mengajari anak-anak muda itu mempergunakan pedang, trisula bertangkai pendek, luwuk, bindi dan sebagainya.

Anak-anak muda Talang Amba dapat memilih, yang manakah yang paling sesuai dengan anak-anak muda, itu masing-masing. Namun secara umum mereka harus menguasai segala macam senjata yang dapat mereka ketemu kan. Karena itu, maka secara umum mereka bergantian mendapat tuntunan dari Ki Waruju, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun mereka yang condong mempergunakan senjata bertangkai panjang, akan lebih banyak berhubungan dengan Mahisa Murti, sementara yang lebih mantap mempergunakan senjata pendek, akan lebih sering berhubungan dengan Mahisa Pukat.

Dengan demikian, maka ternyata anak-anak muda Talang Amba itupun setingkat demi setingkat telah menjadi semakin mapan dalam olah kanuragan. Meskipun apa yang mereka pelajari itu baru sekedar ilmu yang masih mendasar sekali, namun ilmu itu akan dapat bermanfaat bagi mereka.

“Hutan di lereng bukit itu memerlukan pengawal yang tangguh“ berkata Ki Waruju kepada anak-anak muda itu “pada satu saat mungkin akan datang sekelompok orang yang dengan tanpa menghiraukan kewenangan Buyut di Talang Amba, langsung saja merusak hutan itu, karena mereka merasa memiliki kekuatan. Nah, pada saat yang demikian, maka kalian mendapat tantangan yang harus mampu kalian jawab”

Anak-anak muda Talang Amba itu mengangguk-angguk. Hal itu tidak mustahil terjadi. Pengalaman mereka telah mengatakan, bahwa hutan di lereng bukit itu memang menjadi sasaran sebagaimana telah terjadi di beberapa tempat yang lain.

“Kalian memang dapat memohon perlindungan dari Akuwu di Gagelang, tetapi sebelum perlindungan itu datang, kalian harus melindungi diri kalian sendiri” berkata Ki Waruju lebih lanjut. Lalu “Apalagi kini Gagelangpun baru membentuk dirinya setelah tubuh Pakuwon itu dikoyak-koyak oleh Akuwu Gagelang itu sendiri”

Anak-anak muda Talang Amba menjadi semakin mantap dan merasa bertanggung jawab sepenuhnya. Merekapun mengerti, apa yang telah terjadi di Gagelang. Gagelang memang baru memperkuat dirinya dengan pasukan yang baru dibentuknya.

Yang terjadi di Gagelang memang satu kesibukan yang tinggi. Tetapi berbeda dengan anak-anak muda Talang Amba. Mereka yang menyatakan diri menjadi pengawal di Gagelang, telah menyerahkan segala waktu dan kesempatannya untuk dipersiapkan menjadi pengawal sentuhnya, sehingga dengan demikian mereka mendapat kesempatan untuk menempa diri lebih baik dari anak-anak Talang Amba. Namun demikian, kemajuan anak-anak muda Talang Amba juga tidak mengecewakan.

Dalam pada itu, sebenarnyalah yang dicemaskan oleh orang-orang Gagelang dan orang-orang Talang Amba. Pada saat yang demikian. Pangeran Lembu Sapdata dari Kediri yang merasa terpukul oleh peristiwa di Talang Amba itu, tidak dapat melupakan peristiwa itu begitu saja. Ketika ia melarikan diri dari medan di Talang Amba, rasa-rasanya jantungnya telah terbakar oleh dendam. Pengkhianatan dari sebagian pengawal di Gagelang terhadap Akuwu dan rencananya, telah membuat Pangeran itu berniat untuk menghancurkan Gagelang dan sekaligus Talang Amba dan hutan di lereng bukit itu.

Tetapi Pangeran Lembu Sapdata tidak dapat dengan ter gesa-gesa melepaskan dendamnya. Ia memerlukan kekuatan dan sekaligus mengamati apa yang telah terjadi di Gagelang dan Talang Amba.

“Semakin lama mereka akan menjadi semakin kuat” berkata Pangeran Lembu Sapdata kepada beberapa orang saudara-saudaranya yang mempunyai pendirian yang sama “menurut beberapa orang pengamat yang aku perintahkan untuk melihat-lihat perkembangan keadaan di Gagelang dan Talang Amba. mereka memberikan beberapa keterangan tentang usaha Gagelang untuk memulihkan kekuatannya. Beberapa bagian dari para pengawal yang telah membantu usaha Akuwu di Gagelang, telah ditangkap dan dibawa ke Singasari. Sebagian dari mereka mendapat kesempatan untuk kembali kedalam lingkungan pasukan pengawal. Namun ternyata bahwa kekuatan Gagelang telah jauh susut. Untuk memenuhi kebutuhan, Gagelang telah memanggil anak-anak muda untuk dilatih menjadi pengawal Tetapi sudah tentu, bahwa mereka membutuhkan waktu untuk menempa anak-anak muda itu sehingga mereka benar-benar menjadi seorang pengawal yang cukup”

“Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya saudara-saudaranya.

“Mumpung kekuatan itu belum pulih kembali” jawab Pangeran Lembu Sapdata.

“Apakah tidak ada kekuatan Singasari yang berada di Gagelang?” bertanya salah seorang saudaranya.

“Tidak ada. Yang ada hanya beberapa orang Senopati Singasari yang membantu para pemimpin pengawal yang tersisa untuk melatih anak-anak muda yang memasuki kesatuan pengawal yang baru dibentuk” jawab Pangeran Lembu Sapdata.

Saudara-saudaranya mengangguk-angguk. Salah seorang diantara mereka kemudian bertanya “Bagaimana dengan orang-orang Talang Amba?“

“Menurut laporan, nampaknya Talang Ambapun telah bersiap-siap. Tetapi aku tidak mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh. Apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang Talang Amba? Jika pasukan Gagelang pada saat menyerang Talang Amba dapat dihalau, ternyata sama sekali bukan karena kemampuan orang-orang Talang Amba. Ketajaman penglihatan para pemimpin Singasari ternyata dapat membuat perhitungan yang tepat, sehingga mereka dapat memperdayakan orang-orang Gagelang. Seolah-olah mereka telah melawan kekuatan Gagelang yang tidak tertembus. Tetapi kemudian dapat aku Ketahui bahwa yang ada di Talang Amba waktu itu adalah prajurit-prajurit Singasari”

Saudara-saudaranya mengangguk-angguk. Merekapun telah mendengar sebelumnya apa yang telah terjadi di Gagelang. Namun merekapun sependapat, bahwa mereka tidak boleh menunggu pasukan pengawal, Gagelang menjadi semakin kuat.

“Kita memang dapat melakukan dengan segera” berkata salah seorang saudaranya “bagi kita yang penting bukan lagi hutan di lereng bukit itu. Tetapi harga diri kami yang tersinggung karena kegagalan itu. Meskipun Singasari tidak akan mudah menelusuri, siapakah yang sebenarnya berada di belakang Akuwu Gagelang waktu itu, namun kegagalan itu rasa-rasanya telah menusuk hati kami”

“Tidak ada yang mengetahui, siapakah sebenarnya aku” berkata Pangeran Lembu Sapdata “kecuali Akuwu di Gagelang yang terbunuh itu. Dengan demikian, maka sepeninggal Akuwu. aku tidak merasa cemas sama sekali, bahwa orang-orang Singasari akan dapat menelusuri siapakah sebenarnya yang telah mendorong Gagelang melawan kekuatan Singasari”

“Tetapi Singasari akan dapat melakukan satu langkah yang kasar terhadap Kediri” berkata saudaranya yang bertubuh tinggi.

“Kasar bagaimana?” bertanya Pangeran Lembu Sapdata.

“Orang-orang yang mengenalmu di Gagelang dapat dihadapkan kepada semua orang yang dicurigai di Kediri.

Bahkan semua Pangeran di Kediri dapat dipanggil untuk dikenali seorang demi seorang”

“Tentu tidak” jawab Lembu Sapdata “itu tidak mungkin dilakukan. Tetapi jika demikian, agaknya akan lebih baik. Saudara-saudara kita yang selama ini tertidur dan tidak menghiraukan lagi hubungan antara Singasari dan Kediri, tentu akan terbangun. Mereka akan merasa, betapa sakitnya menjadi orang yang berada dibawah kekuasaan orang lain”

Saudara-saudaranya mengangguk-angguk. Pendapat Lembu Sapdata itu memang masuk akal. Agaknya Singasari memang tidak akan berani mengambil langkah yang demikian.

Dalam pada itu Pangeran Lembu Sapdatapun berkata selanjutnya “Namun dalam pada itu, tanpa orang lain, kita akan berjalan terus. Rencana jangka panjang itu harus dilakukan, sehingga pada satu saat, Singasari menjadi lemah, sementara kita disini benar-benar telah terbangun untuk mengambil langkah yang lebih baik, sehingga akhirnya Kediri akan bangkit sebagaimana seharusnya satu negara yang besar”

“Kita harus membuat pertimbangan-pertimbangan yang cermat sebelum kita melangkah. Kegagalan di Talang Amba itu merupakan satu pengalaman yang sangat berarti bagi kita”
Tetapi sementara mereka berbincang tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat mereka lakukan untuk memperlemah Singasari, tiba-tiba saja Pangeran Lembu Sabdata berkata “Tetapi sebenarnya hubungan dengan Gagelang dan Talang Amba telah dipengaruhi oleh persoalan lain”

“Persoalan apa?” bertanya salah seorang diantar Saudara-saudaranya.

“Harga diri” jawab Pangeran Sabdata “rasa-rasanya aku telah dibebani oleh perasaan dendam terhadap orang-orang Talang Amba dan orang-orang Gagelang. Terutama mereka yang telah membuat segala rencana ini menjadi gagal. Jika semua orang Gagelang saat itu patuh kepada Akuwu, maka,aku kira, Gagelang akan dapat mengalahkan orang-orang Singasari yang berada diantara orang-orang Talang Amba”

“Kita akan membual perhitungan. Tetapi kita memang harus membuat perhitungan yang cermat” jawab salah seorang diantara para Pangeran yang sedang berbincang itu.

“Kau benar” jawab Lembu Sabdata “tetapi seperti aku katakan. Talang Amba bukan apa-apa. Karena itu, rasa-rasanya aku ingin kembali ke Talang Amba. Aku ingin menghancurkan hutan itu. Aku ingin mengambil jalan yang lebih dekat untuk memusnakan hutan itu”

“Bagaimana?” bertanya salah seorang saudaranya.

“Jika kita menebangi hutan selama ini, maka persoalannya karena kita tidak ingin menarik perhatian Singasari. Dengan diam-diam kita memusnakan hutan-hutan yang ada di lereng-lereng pegunungan. Namun sebenarnya kita dapat mengambil jalan yang lebih dekat” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

“Apakah kau dapat menyebut cara itu?” bertanya yang lain.

“Kita dapat membakar hutan itu” jawab Pangeran Lembu Sabdata “apalagi dengan dendam yang menyala di hati. Hutan di lereng bukit itu akan musna menjadi debu”

“Tetapi sekali lagi aku peringatkan” berkata seorang Pangeran yang lain “dengan demikian, maka Singasari akan semakin tertarik dan mungkin Singasari akan berbuat jauh lebih banyak dari yang dilakukannya sekarang”

Pangeran Lembu Sabdata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Talang Amba memang sudah menjadi daerah pengamatan Singasari. Tetapi Singasari tidak menempatkan pasukannya di Talang Amba dan di Gagelang. Mungkin Singasari merasa bahwa pasukan Gagelang yang disusun demikian kuatnya, sehingga akan dapat mengatasi segala kesulitan yang dapat timbul”

“Apakah itu bukan sekedar gelar ujud lahiriahnya saja?” sahut saudaranya yang bertubuh tinggi “Kau akan dapat terjebak lagi. Anak-anak muda yang dilatih di Gagelang itu sebenarnya adalah prajurit-prajurit Singasari dalam ujud samarannya sebagaimana mereka berada di Talang Amba.

Tetapi Pangeran Lembu Sabdata menggeleng, jawabnya “Kali ini aku tidak akan terjebak. Aku telah meletakkan beberapa orang kepercayaanku untuk mengamati keadaan di Gagelang. Orang-orangku melihat anak-anak muda itu datang dari beberapa sudut kota Gagelang. Mereka melihat, bagaimana para Senapati di Gagelang mengadakan pendadaran. Dan merekapun melihat kelompok-kelompok itu mulai berlatih. Diantara para pelatih memang terdapat beberapa orang yang dikirim oleh Singasari”

Seorang Pangeran yang bertubuh gemuk berkata “Kita jangan terpancing oleh persoalan-persoalan kecil seperti itu. Dendam dan kebencian harus kita singkirkan, agar dengan demikian rencana kita dalam keseluruhan akan dapat kita laksanakan”

“Tetapi yang akan aku lakukan sejalan dengan rencana itu dalam keseluruhan” jawab. Pangeran Lembu Sabdata “Aku sudah membayangkan satu pembalasan yang menyenangkan. Bukan saja hutan di lereng bukit yang akan menjadi abu, tetapi beberapa padukuhan di Talang Amba. Terutama padukuhan-padukuhan yang telah dipergunakan oleh orang-orang Talang Amba dan orang-orang Singasari menggagalkan rencanaku di Talang Amba itu. Bahkan dengan demikian, maka yang nampak lebih jelas adalah justru unsur balas dendamku kepada orang-orang Talang Amba daripada pembakaran hutan itu sendiri”

Saudara-saudaranyapun kemudian mengangguk-angguk. Agaknya mereka memang tidak akan imungkin menenangkan hati Pangeran Lembu Sabdata. Apalagi nampaknya hatinya tidak sekedar panas dibakar oleh dendamnya. Tetapi ia masih juga memperhitungkan segala macam hubungan dengan rencana besar sebagian para bangsawan di Kediri yang menjadi jemu berada dibawah pemerintahan Singasari.

“Segalanya masih mungkin dilakukan” berkata seorang Pangeran yang rambutnya mulai berubah “tetapi jangan terlalu tergesa-gesa. Perhitungan yang cermat akan dapat banyak menolong kita dari kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi”

“Aku mengerti” jawab Pangeran Lembu Sabdata “Akupun tidak menjadi mata gelap. Tetapi aku masih dapat berpikir dengan tenang meskipun dendamku menyala di dalam dadaku”

“Sukurlah” jawab yang lain “buatlah rencana yang masak. Kita masih akan membicarakannya sekali lagi sebelum kau dapat bertindak. Kami merasa wajib untuk ikut mencampuri rencanamu, karena langkah yang kau ambil akan dapat menyagkut kami semuanya”

“Ya“ sambung Pangeran yang sudah mulai berubah “Kita akan membantu. Tetapi dengan sangat hati-hati”

Pangeran Lembu Sabdata menarik nafas dalam-dalam. Ternyata saudara-saudaranya menjadi semakin berhati-hati. Tetapi ia yakin bahwa saudara-saudaranya tidak akan membiarkannya berbuat sendiri di Talang Amba yang telah menyakiti hatinya sehingga dendam telah menyala di hatinya itu.

Namun bagi Pangeran Lembu Sapdata, Talang Amba memang bukan apa-apa. Ia akan dapat dengan mudah memaksa Talang Amba menyerah dan membiarkannya membuat gunung itu menjadi gundul. Bahkan orang-orang Talang Amba tidak akan mampu mencegahnya membuat Kabuyutan Talang Amba itu sendiri menjadi karang abang.

Perhatian Pangeran Lembu Sapdata lebih banyak ditujukan kepada Gagelang. Namun ia akan dapat bertindak cepat. Menghancurkan Talang Amba sebelum Gagelang sempat berbuat sesuatu. Bahkan kemudian dengan bantuan saudara-saudaranya, maka Gagelang itupun akan dihancurkannya juga, karena Gagelang telah mengkhianatinya.

Yang harus diperhatikan oleh Pangeran Lembu Sapdata itu adalah campur tangan pasukan Singasari dengan cara sebagaimana telah dilakukan di Talang Amba.

Karena itu, maka orang-orangnya harus benar-benar mengamati apakah di Talang Amba hadir orang-orang yang pantas dicurigai.

Sebenarnyalah tidak ada kekuatan Singasari yang berada di Talang Amba. Namun satu kesalahan bagi Pangeran Lembu Sapdata, bahwa ia tidak memperhitungkan usaha orang-orang Talang Amba untuk menempa diri.

“Latihan-latihan itu diadakan setiap saat. Setiap kali anak-anak muda Talang Amba mempunyai waktu setelah mereka bekerja di sawah” berkata salah seorang yang mengamati Kabuyutan Talang Amba itu.

“Apa yang dapat mereka lakukan. Latihan-latihan yang mereka lakukan tidak akan banyak membawa hasil. Sementara di Gagelang, yang memiliki Senopati-senopati terlatih, masih harus dibantu oleh para Senopati dari Singasari. Apalagi Talang Amba yang tidak mempunyai pelatih yang berbobot” jawab Pangeran Lembu Sapdata.

“Ada dua orang anak muda disana” jawab orang yang mengamati keadaan “merekalah yang memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda Talang Amba itu. Agaknya keduanya juga mempunyai ilmu yang pantas untuk diperhatikan”

“Apakah latihan-latihan orang Talang Amba seberat orang-orang Gagelang?” bertanya Pangeran Lembu Sapdata.

“Ah, tentu tidak Pangeran. Tidak ada seperlimanya. Anak-anak muda Talang Amba hanya melakukannya jika mereka sempat. Setelah mereka bekerja di sawah dan di ladang” jawab orang-orang kepercayaannya.

Pangeran Lembu Sapdata mengangguk-angguk. Katanya “jika demikian, maka perkembangan ilmu orang-orang Talang Amba itu benar-benar tidak berarti. Karena itu, kau dan kawan-kawanmu harus benar-benar mengamati agar Talang Amba tidak disisipi oleh orang-orang Singasari atau orang-orang Gagelang yang mungkin telah memperhitungkan dendam yang mungkin akan membakar Kabuyutan mereka”

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa orang-orang Talang Amba telah bekerja jauh lebih keras dari yang diperkirakan. Sejak Mahisa Murti dan Manisa Pukat memasuki Kabuyutan itu, maka mereka sudah melihat gejolak perasaan orang-orang Talang Amba. Meskipun saat itu telah terjadi benturan diantara mereka sendiri, tetapi orang-orang Talang Amba, terutama anak-anak mudanya telah bersiap-siap menghadapi kekerasan. Mereka telah menyiapkan senjata yang akan dapat mereka pergunakan untuk membela diri. Meskipun senjata itu adalah senjata yang sederhana saja, namun dengan senjata itu seseorang memang akan dapat melumpuhkan lawannya.

Hampir setiap pande besi yang ada di Talang Amba telah membuat senjata. Pedang, tombak dan senjata-senjata lain yang akan dapat berarti bagi anak-anak muda. Meskipun pada saat itu orang-orang Talang Amba termasuk anak-anak mudanya masih belum memiliki ilmu yang berarti dalam mempergunakan senjata. Apalagi senjata-senjata yang sangat sederhana itu.

Namun dengan kehadiran Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan apalagi Ki Waruju, maka anak-anak muda Talang Amba yang telah bertaut kembali setelah mereka terpisah untuk beberapa saat diantara kelompok-kelompok yang berpihak Ki Sendawa dan yang berpihak Ki Sanggarana, menjadi semakin bergairah untuk menempa diri.

Dengan gelora yang menyala di dalam setiap dada, maka anak-anak Talang Amba telah dengan sungguh-sungguh dan tekun menempa diri mereka. Dengan mematuhi segala macam petunjuk dari Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Ki Waruju, maka anak-anak muda Talang Amba itu benar-benar telah maju dengan cepat. Bahkan pada saat-saat mereka berada di sawah, diladang dan dimanapun juga, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan yang mereka dapatkan. Ketika mereka berada disungai, maka mereka telah melatih keseimbangan mereka dengan berlari-lari dan berloncatan dari batu ke batu. Di pematang, mereka telah berlari-lari dan meloncati parit-parit. Diladang, mereka melatih kemampuan tangan mereka dengan berayun di dahan-dahan dan menghunjamkan jari-jari tangan mereka yang mengembang kedalam seonggok pasir. Memukuli gundukan tanah dan batang-batang pisang yang sudah waktunya ditebang.

Apalagi jika mereka telah berada di dalam kelompok-kelompok yang siap untuk menerima tuntutan berlatih mempergunakan senjata atau ketangkasan gerak. Maka mereka mempergunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.

Orang-orang yang mendapat tugas mengamati keadaan di Talang Amba melihat juga latihan-latihan yang diselenggarakan oleh orang-orang Talang Amba. Tetapi merekapun berpendapat sebagai mana Pangeran Lembu Sapdata. Apa yang dapat mereka pelajari dalam waktu yang sempit dan cara yang1 kurang mapan itu?.

Sebenarnyalah, betapa kerasnya orang-orang Talang Amba rnemeras keringat untuk menempa diri, tetapi kemajuan mereka bukanlah satu loncatan panjang yang lang. sung dapat mengimbangi kemampuan para prajurit di Singasari atau para pengawal di Gagelang. Meskipun anak-anak muda di Talang Amba itu maju setingkat demi setingkat, namun tidak ada satu keajaiban yang dapat membuat mereka tiba-tiba memiliki kemampuan seorang pengawal.

Hal itu agaknya dimengerti juga oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Apalagi Ki Waruju. Tetapi yang dapat mereka lakukan itu adalah yang terbaik dari segala pilihan menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Talang Amba.

Dalam pada itu. Pangeran Lembu Sapdata tidak mau terlambat menghadapi keadaan. Dendamnya telah membakar seisi dadanya. Betapa sakitnya jika Pangeran itu mengenang, bagaimana ia harus melarikan diri dari arena pertempuran. Kemudian seperti binatang buruan ia meninggalkan daerah Gagelang yang diharapkan dapa dikuasainya.

“Aku harus mendapatkan kesempatan untuk menangkap anak muda yang melawan aku dipertempuran itu” berkata Pangeran Lembu Sapdata di dalam hatinya “sekaligus memusnahkan Talang Amba dan hutan di lereng bukit itu. Meskipun kemudian orang Gagelang uan Singasari mengetahui bahwa hutan itu telah dibakar oleh salah seorang Pangeran dari Kediri, tetapi mereka tidak akan segera mengetahui bahwa orang yang dicarinya adalah aku, Pangeran lembu Sapdata. Jika Singasari bertindak kasar terhadap para bangsawan di Kediri, adalah satu kesempatan yang sangat diharapkan”

Demikianlah, maka segala persiapanpun telah dilakukan oleh Pangeran Lembu Sapdata. Sepasukan pengawal Kediri, justru yang terpilih telah disiapkan dengan diam-diam diluar pengamatan para Panglimanya. Namun agaknya perasaaan lain memang sudah mulai menjalar diantara para pemimpin di Kediri. Namun beberapa orang pemimpin masih berusaha menahan diri dan berusaha menghindari benturan yang mungkin dapat terjadi. Apalagi benturan kekerasan yang terbuka. Karena jika demikian, Kediri justru akan mengalami kesulitan yang tidak akan mungkin teratasi.

Beberapa orang berusaha menghembuskan sikap bahwa Kediri telah diperintah oleh Singasari. Meskipun setiap kali Singasari meyakinkan, yang ada adalah satu lingkungan keluarga besar yang hidup bersama. Bukan pihak yang diperintah dan yang memerintah.

Dalam suasana yang demikian itulah, maka Pangeran Lembu Sabdata telah melakukan rencananya untuk membalas dendam kepada orang-orang Talang Amba. Dan bahkan jika mungkin kemudian terhadap orang-orang Gagelang.

Tetapi bagaimanapun juga Pangeran Lembu Sabdata harus melakukan rencananya dengan hati-hati. Ia sadar bahwa diantara para pemimpin di Kediri yang melihat wajah muram dari beberapa orang bangsawan dan bahkan mereka yang masih menahan diri, namun yang lain merasakan betapa akrabnya hubungan mereka dengan Singasari, karena Singasari memang bersikap sebagaimana yang mereka katakan. Hidup dalam satu lingkungan keluarga besar yang saling menghormati. Justru karena itu, maka mereka merasa satu dengan Singasari.

Dengan persiapan yang rumit, maka akhirnya Pangeran Lembu Sabdata lelah mendapatkan sekelompok orang-orang terpilih. Ia memang tidak memerlukan terlalu banyak orang. Yang sedikit itupun akan mampu menghancurkan sasarannya. Menjadikan Talang Amba neraka dan lereng bukit itu menjadi abu.

Sedemikian cermatnya persiapan itu dilakukan, sehingga sekelompok pengawal yang dipergunakan telah dapat dilepaskan dari tugasnya. Senopati yang memimpin sekelompok pengawal itu membawa pasukannya seolah-olah untuk satu tugas pengamanan karena segerombolan perampok yang ganas sedang mengancam ketenangan hidup sebuah Kabuyutan yang terpencil.

Sementara itu, beberapa orang kepercayaan Pangeran Lembu Sabdata pun telah mengamati Talang Amba dengan cermat. Tidak ada orang asing yang menyusup kedalam Kabuyutan itu. Yang ada hanyalah orang-orang Talang Amba sendiri yang dungu dan pandir, karena mereka merasa diri mereka akan mampu melindungi diri mereka.

Namun betapapun cermatnya orang-orang yang dipasang oleh Pangeran Lembu Sabdata mengamati setiap padukuhan di Talang Amba, namun mereka tidak melihat ketika beberapa anak muda menyusup memasuki padukuhan induk Kabuyutan Talang Amba.

Seorang anak muda itu ternyata telah menyusup masuk kedalam sebuah pedati orang Talang Amba yang sedang membawa hasil bumi ke pasar. Seorang perempuan yang duduk di dalam pedati selelah mualannya dibongkar hampir saja berteriak ketika tiba-tiba saja seseorang telah duduk disampingnya.

“Jangan berteriak“ orang itu mengancam.

Perempuan itu bagaikan membeku. Namun terasa bahwa tubuhnya gemetar.

Ketika suaminya kemudian datang, maka orang itu berdesis “Jangan berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakakan isterimu. Aku tidak akan berbuat apa-apa jika kau membantuku. Aku akan mengikutimu masuk ke padukuhan induk Talang Amba. Bukankah kau orang Talang Amba? Dari beberapa orang pedagang yang sering berhubungan denganmu, aku mengetahui bahwa kau adalah orang Talang Amba”

“Apa maksudmu sebenarnya?” bertanya pemilik pedati itu “Jika kau hanya ingin pergi ke Talang Amba, maka kau tidak usah memakai cara ini”

Orang yang ada di dalam pedati itu memandanginya dengan tajamnya. Namun kemudian iapun berdesis “Lekas. Jalankan pedatimu. Kita akan bersama-sama pergi ke Talang Amba”

Pemilik pedati itu tidak dapat menolak perintah anak muda yang sudah ada di dalam pedatinya. Ia tidak mau menerima akibat buruk atas isterinya jika ia menolak.

“Setelah sampai di Talang Amba, aku akan dapat berbuat sesuatu atasnya” berkata pemilik pedati itu di dalam hatinya.

Demikianlah, akhirnya pedati itupun merayap mendekati padukuhan induk Talang Amba. Disepanjang jalan, anak muda yang berada di dalam pedati itu memang tidak berbuat apa-apa. Ia duduk saja dengan tenang. Namun agaknya anak muda itu sengaja tidak mau dilihat oleh seseorang yang mungkin dijumpai diperjalanannya menuju ke Talang Amba.

Dengan cara itu,-maka anak muda itu dapat langsung diantar ke rumah Ki Sanggarana yang untuk sementara melakukan tugas sebagai Buyut di Talang Amba meskipun secara resmi ia belum diwisuda. Bahkan Akuwu Gagelang yang harus mewisudanyapun masih belum ditetapkan.

Kehadiran anak muda itu telah menarik perhatian beberapa orang pemimpin Kabuyutan Talang Amba-. Namun dihadapan para bebahu di Talang Amba anak muda itu minta, agar kehadirannya dirahasiakan.

“Kau mempergunakan cara yang aneh untuk datang ke Talang Amba ini” bertanya Ki Sanggarana.

“Bukan hanya aku” jawab anak muda itu “ada lima orang yang akan datang dengan cara yang mungkin kalian anggap aneh. Tetapi ketahuilah, bahwa Kabuyutan Talang Amba sekarang telah dilingkari oleh pengawasan yang ketat. Kehadiran orang asing akan sangat menarik perhatian.

“Apa maksudmu” bertanya Ki Sanggarana.

“Sekali lagi aku berpesan. Kehadiranku bersifat rahasia. Juga pemilik pedati itu harus mengerti. Aku akan mengancamnya jika ia mengetahui kehadiranku ini kepada siapapun juga. Kepada anaknya atau kepada tetangganya. Ia akan dapat dihukum mati” berkata anak muda itu.

Pemilik pedati itu menjadi cemas. Tetapi iapun kemudian menjadi ketakutan ketika anak muda itu berkata “Aku adalah petugas sandi dari Singasari”

Ki Sanggarana mengangguk-angguk, ia sadar, bahwa kehadiran petugas sandi dari Singasari dengan cara yang khusus itu tentu berhubungan dengan peristiwa yang baru saja terjadi di Talang Amha

Sebenarnyalah pada saat itu, ketika malam menyelimuti Talang Amba, dua orang petani berjalan dipematang dengan cangkul dipundaknya. Agaknya keduanya baru saja membuka pematang sawahnya untuk mengaliri tanaman padi mudanya dengan air parit yang tidak begitu lancar dimusim kering.

Keduanya sama sekali tidak menghiraukan ketika mereka melihat seseorang melintas di jalan bulak didepan mereka, seolah-olah mereka tidak melihatnya.

Namun demikian orang yang melintas itu menjauh, seorang diantara mereka berkata “Aku curiga bahwa orang itu bukan orang Talang Amba yang sedang pergi ke sawah.

Yang lain mengangguk. Katanya “Jika orang itu orang Talang Amba, merekalah yang justru akan mencurigai kita. Karena mereka tidak mengenal kita”

“Seperti yang sudah dilaporkan, Talang Amba mendapat pengamatan dari pihak-pihak tertentu. Peristiwa yang baru saja terjadi, memang bukan peristiwa yang dapat dianggap selesai. Seorang Pangeran yang tidak dapat dikenali dari Kediri yang berhasil melarikan diri itu tentu masih akan membawa persoalan-persoalan berikutnya. Dan agaknya perhitungan itu tidak salah” berkata orang yang pertama.

“Ya. Tetapi merekapun telah belajar dari pengalaman. Mereka tidak mau terjebak lagi oleh kehadiran prajurit-prajurit Singasari, sehingga dengan demikian, mereka kini melakukan pengamatan yang cermat. Orang itu tentu salah seorang dari pengamat-pengamat yang ada disekitar Kabuyutan ini” iawab kawannya.

“Tetapi ternyata mereka masih kurang cermat. Mereka tidak melihat, siapa kita sebenarnya hanya karena kita berjalan di pematang sambil memanggul cangkul”

Tetapi kawannya menyahut “Belum tahu. Mungkin mereka mempunyai cara lain untuk mengamati kita”

Yang seorang mengerutkan keningnya. Tetapi orang yang melintas itu telah menjadi jauh dan hilang dalam keremangan malam.

Ketika kedua orang itu telah meloncati parit dan berdiri dijalan bulak yang menyilang, maka merekapun kemudian memutuskan untuk cepat-cepat memasuki Talang Amba. Mereka harus segera berada di padukuhan induk dan langsung menuju ke rumah Ki Sanggarana.

“Jika kita sudah berada di dalam padukuhan itu, kita justru akan dapat dengan diam-diam tanpa merasa cemas menuju ke rumah Ki Sanggarana, karena Talang Amba ten-rii. sudah tertidur nyenyak” berkata salah seorang dari mereka.

“Tetapi anak-anak mudanya berada di gardu-gardu atau sedang menempa diri” sahut kawannya.

“Kita akan melintasi halaman-halaman dan meloncati dinding yang menyekat halaman-halaman itu” jawab yang lain.

Kawannya mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah, ketika mereka telah memasuki padukuhan induk, maka angkul yang mereka bahwa itupun telah mereka letakkan di tempat yang tersembunyi. Kemudian seperti yang mereka rencanakan, mereka menyusup kedalam melalui halaman demi halaman.

Sementara itu, dari sudut lain, dua orang merayap mendekati padukuhan induk. Mereka tidak mempergunakan menyamaran apapun juga. Tetapi mereka telah beradu ketajaman pengamatan dengan orang-orang Kepercayaan Pangeran Lembu Sabdata.

Ketika keduanya yakin, bahwa tidak ada orang yang melihatnya, maka keduanya telah meloncat masuk kedalam padukuhan induk itu. Dan seperti dua orang yang berpakaian petani, maka merekapun telah menyusup dari halaman ke halaman menuju ke rumah Ki Sanggarana. Mereka tidak mau dilihat oleh anak-anak muda yang berada di gardu-gardu atau yang sedang berlatih di halaman-halaman yang luas.

Dengan demikian, maka para petugas sandi dari Singasar seluruhnya telah berada di rumah Ki Sanggarana.

Dengan demikian, maka merekapun kemudian telah menyampaikan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Kabuyutan itu. sehingga mereka berlima mendapat tugas untuk memasuki Kabuyutan itu dengan rahasia.

Agaknya Pangeran yang telah berhasil melepaskan diri dari tangan orang-orang Talang Amba dan orang-orang Singasari itu tidak dapat menerima kenyataan itu dengan ikhlas. Karena itu. maka persoalan Talang Amba dengan Pangeran itu agaknya masih belum selesai” berkata salah seorang dari petugas sandi dari Singasari itu.

Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Watuju, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah diPanggil dan ikut serta menemui kelima orang itupun mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Waruju bertanya Apakah Ki Sanak berlima, atau salah seorang diantara kalian membawa pertanda petugas sandi dari Singasari?”

Kelima orang itu saling berpandangan. Namun yang tertua diantara merekapun kemudian sambil tersenyum berkata Ki Sanak ternyata cukup cermat mengamati kehadiran kami. Baiklah, barangkali Ki Sanak dapat mengenali timang ini.

Ki Waruju mengerutkan keningnya ketika orang itu kemudian menunjukkan timangnya yang semula tertutup oleh kain panjangnya.

Sambil mengangguk-angguk Ki Waruju berkata “Aku mengenali pertanda itu. Pertanda keprajuritan sebagaimana dipakai oleh para prajurit Singasari”

“Ya. Kami adalah prajurit-prajurit Singasari pula. meskipun dalam tugas sandi” jawab prajurit itu.

Pertanda dan sikap kelima orang itu telah menghilangkan keragu-raguan orang-orang Talang Amba, sehingga pembicaraan diantara merekapun dapat berlangsung semakin mendalam.

“Ki Sanggarana“ berkata salah seorang dari mereka atas pertimbangan-pertimbangan itulah, maka Talang Amba harus mengatur persiapan yang mantap. Tetapi kita tentu tidak akan dapat mengulangi cara yang pernah kita lakukan sebelumnya.

“Maksud Ki Sanak” bertanya Ki Sanggarana.

Kita lidak akan dapat menyiapkan pasukan Singasari di sekitar tempat ini, sehingga pada saat yang pendek akan dapat digerakkan seperti yang pernah terjadi. Apalagi dalam penyamaran yang dapat membingungkan lawan. Pengalaman Pangeran dari Kediri itu merupakan guru yang baik bagi mereka, sehingga mereka jauh sebelumnya telah menebarkan pengawas-pengawas apakah ada kekuatan lain yang berada di Talang Amba”

Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Lalu katanya “Jadi apakah yang sebaiknya kita lakukan?

“Aku belum dapat mengatakan sekarang Ki Sanak. Aku masih harus melihat lihat keadaan. Mungkin dalam satu dua hari ini. kami menemukan cara yang paling baik untuk menjebak Pangeran yang mendendam itu” jawab petugas sandi itu.

Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Memang sulit untuk menentukan sikap dengan tiba-tiba. Mereka harus melihat keadaan dan medan yang akan mereka hadapi.

Namun pelugas sandi itupun kemudian berkata “Tetapi adalah menjadi salu keharusan, bahwa Taiang Amba bersiap sebaik-baiknya menghadapi segala, kemungkinan. Dan kitapun telah dapal memperhitungkan, bahwa kekuatan yang ada di Talang Amba sendiri lidak akan mungkin dapat mengatasinya. Yang menjadi masalah adalah, bagaimana kila memasukkan bantuan itu ke Talang Amba lanpa diketahui oleh para pengawas. Kali ini kami berlima dapat masuk dengan selamat. Bahkan seandainya mereka mengetahui, mereka tentu akan mengabaikan kehadiran kami.

Tetapi jika yang memasuki padukuhan ini sekelompok prajurit, maka sulitlah bagi kita untuk menghindari pengamatan. Dan jika para pengawas itu mengetahui, bahwa di padukuhan ini lerdapal prajurit-prajurit Singasari, maka mereka tentu akan membual perhitungan-perhitungan baru sehingga usaha kami untuk menjebaknya mungkin akan gagal”

“Kami mengerti“ sahul Ki Waruju “dan agaknya kamipun sependapat, bahwa kita akan melihat keadaan. Justru unluk menentukan satu sikap yang tepat”

Demikianlah, para petugas sandi itupun telah berada di Talang Amba untuk menentukan langkah-langkah yang akan dapat menjebak Pangeran yang lepas dari tangan prajurit-prajurit Singasari.

Namun dalam pada itu, Ki Warujupun telah bertanya kepada salah seorang pelugas sandi itu “apakah Singasari mendapat petunjuk bahwa Pangeran itu akan melakukan balas dendam?”

“Ya” jawab petugas sandi itu “petugas-petugas kami yang lelah bekerja keras di Kediri setelah peristiwa itu, menemukan petunjuk seperti itu. Ada beberapa pertimbangan yang memperkuat dugaan bahwa Pangeran itu akan mengambil langkah demikian. Bahkan bukan saja terhadap Talang Amba, Tetapi mungkin juga dendam itu tertuju kepada Gageiang. Namun Gagelang akan mampu membuat dirinya menjadi kuai”

Ki Waruju mengangguk-angguk. Tetapi masih ada beberapa hal yang kurang dimengertinya. Karena itu maka iapun kemudian bertanya pula “Apakah dengan demikian berarti bahwa Singasari telah menemukan Pangeran yang telah melakukan pelawanan terhadap Singasari itu dan akan melakukan balas dendam terhadap Talang Amba.

Petugas sandi itu menggeleng. Katanya “Bukan berarti demikian Ki Sanak. Singasari masih belum dapat menemukan Pangeran yang lepas dari tangan kita itu. Tetapi petugas-petugas sandi di Singasari mencium adanya persiapan-persiapan justru dilingkungan para pengawal. Kita tidak menutup mata melihat kemungkinan yang buruk yang terjadi di Kediri. Sudah beberapa rambahan, bangsawan-bang-sawan di Kediri melakukan perlawanan. Beberapa kali Singasari harus mengambil kebijaksanaan khusus. Dan kali ini hal itu terulang lagi. Bahkan kali ini beberapa pihak di Kediri benar-benar dengan satu keyakinan berusaha melepaskan diri dari kesatuan yang besar bersama Singasari dan daerah-daerah yang lain, sementara di beberapa saat yang lalu, persoalan agak berbeda. Seorang yang menjadi kecewa telah mengambil satu sikap, seakan-akan ia seorang pahlawan bagi saudara-saudaranya di Kediri”

Ki Waruju mengangguk-angguk. Ia m enjadi jelas. Dan iapun menganggap bahwa Singasari memang sangat berhati-hati menghadapi sikap beberapa orang bangsawan di Kediri, karena Singasari merasa dibebani oleh satu kewajiban untuk memelihara satu ikatan persatuan yang besar bagi seluruh wilayah Singasari.

“Karena itu, kita tidak akan dapat mencari Pangeran itu di Kediri dengan cara yang kasar agar kita tidak semakin melukai hati orang-orang Kediri” berkata petugas sandi itu “tetapi kita harus memancingnya keluar dan menangkapnya pada satu peristiwa yang memungkinkan”

Ki Waruju mengangguk-angguk. Katanya “Jadi, Singasari ingin menjebaknya disini? Usaha membalas dendam. itu merupakan satu kesempatan yang ditunggu oleh Singasari”
“Tetapi persoalannya adalah, kita mengalami kesulitan untuk memasang perangkap karena kita mempunyai beberapa keterangan tentang pengamatan yang ketat disekitar Talang Amba. Pangeran dari Kediri itu tidak akan melakukan kesalahan yang sama” berkata petugas sandi itu.

Ki Waruju mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti kesulitan para petugas Singasari itu. Jika orang-orang Singasari itu menyusup dengan cara yang sama seperti yang ditempuh oleh kelima petugas sandi itu, maka pada satu saat, para pengawas dari Kediri itu tentu akan dapat melihatnya. Dengan demikian, maka Pangeran itupun akan membuat perhitungan baru sehingga mungkin sekali rencananya akan diurungkan atau ditunda. Satu rencana-rencana lain yang belum dapat diduga.

Sementara itu Singasaripun mempunyai perhitungan, bahwa untuk membantu mempertahankan Talang Amba dari dendam dan sakit hati itu, memerlukan orang yang cukup banyak. Apalagi menurut pendengaran pimpinan petugas sandi atas dasar laporan-laporan dari Kediri, maka sekelompok pengawal terpilih dari Kediri akan terlibat.

Demikianlah, para petugas sandi itu telah mempelajari keadaan Talang Amba sebaik-baiknya. Diamatinya ujung ke ujung padukuhan sampai padukuhan yang paling kecilpun. Namun memang sulit bagi satu pasukan yang cukup kuat untuk memasuki Kabuyutan Talang Amba tanpa diketahui oleh para pengawas.

Para pengawas itu akan dapat saja berada dipadukuhan di Kabuyutan tetangga. Atau mungkin di pategalan dan di hutan-hutan kecil disebelah Talang Amba, sehingga dari arah manapun pasukan itu masuk, maka pengawas itu tentu akan dapat melihatnya.

Karena itu, untuk menentukan cara yang akan diambil oleh pasukan Singasari itupun masih belum dapat diketemukan.

Namun dalam pada itu, Ki Waruju yang ikut pula memikirkan segala kemungkinan yang dapat terjadi, telah berbicara dengan Mahisa Pukat dan Mahisa Murti, apakah yang sebaiknya dilakukan untuk memberikan kemungkinan pasukan Singasari berada di Talang Amba tanpa diketahui oleh para pengawas dari Kediri.

“Kita tidak tahu, pengawas itu berada dimana. Tetapi secara naluriah akupun percaya, bahwa pengawas-pengawas semacam itu memang ada” berkata Ki Waruju.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Mahisa Murti berkata “Kita ajak satu atau dua orang Singasari yang ada di Talang Amba itu untuk mengikuti latihan-latihan yang kita adakan”

“Lalu?” bertanya Ki Waruju.

“Mungkin kemungkinan itu akan diketemukannya” berkata Mahisa Murti kemudian “aku sering membawa anak-anak muda itu berlari-lari kelereng bukit. Kadang-kadang memasuki hutan di lereng pegunungan untuk memberikan latihan ketahanan tubuh dan ketrampilan”

“Ya” jawab Ki Waruju “tetapi yang kita perlukan adalah jalan masuk”

Mahisa Murti tiba-tiba saja tersenyum. Katanya “Bagaimana jika kita berangkat dengan sepuluh orang misalnya dan kembali dengan dua belas orang? Jika hal yang demikian dilakukan berkali-kali, maka dalam beberapa hari, kita akan mempunyai sejumlah prajurit Singasari yang siap di Talang Amba”

Ki Waruju berpikir sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya “Aku mengerti. Prajurit-prajurit Singasari itu menunggu di hutan di lereng bukit “

“Ya” jawab Mahisa Murti.

“Bagus” sahut Mahisa Pukat “para pengawas itu jika memang ada, tentu sering melihat kami naik kelereng bukit“

Ki Waruju mengangguk-angguk, la memuji ketangkasan berpikir anak-anak Mahendra itu. Agaknya jalan itu akan dapat ditempuh jika para petugas sandi dari Singasari itu menyetujui.

Namun dalam pada itu, Ki Warujupun berkata “Tetapi kau harus menjaga, agar anak-anak muda itu tidak terlalu sering berlari-lari ke hutan di lereng bukit. Sebab jika tiba-tiba saja acara itu menjadi berlipat dari gelombang-gelombang sebelumnya, para pengawas dari Kediri itu tentu akan menjadi curiga pula”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...