Rabu, 16 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 005-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-005-01*

“Siapkan senjata kalian” teriak Mahisa Murti. “mereka sudah semakin dekat. Kecuali yang dengan sengaja ingin membunuh dirinya, biarlah mereka mulai meratapi nasibnya sejak sekarang”

Bagaimanapun juga, kata-kata dan sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta orang-orang yang datang bersama mereka telah membangunkan para cantrik itu dari ketakutan mereka. Karena itu, maka beberapa orang di antara mereka pun telah menggenggam hulu pedang mereka sambil menghentakkan perasaan sendiri, “Akupun seorang laki-laki”

Sikap itu ternyata berpengaruh atas kawan-kawan mereka. Seorang demi seorang mulai menengadahkan kepala mereka, sementara orang-orang berkuda itu pun menjadi semakin dekat.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menemui Ki Demang di Randumalang untuk mempersilahkannya berdiri di sebuah planggrangan bambu yang telah tersedia di sebelah pintu gerbang, agar mereka melihat dan tampak dari luar dinding apa yang mereka sebut padepokan itu.

“Aku takut ayah” desis Widati.

“Percayalah kepada mereka” jawab ayahnya, “nampaknya mereka bersungguh-sungguh. Bukan saja karena persoalan yang melibat dirimu, tetapi yang dilakukan oleh orang-orang ini adalah satu usaha yang lebih luas. Padepokan yang selalu melakukan tekanan terhadap lingkungan di sekitarnya itu memang tidak selayaknya lagi mendapat kesempatan untuk berkembang.

“Tetapi aku takut ayah” desis Widati kemudian, “jika ternyata mereka berhasil memecahkan dinding kayu ini ayah. Nampaknya dinding ini tidak terlalu kuat”

“Mudah-mudahan kita yang berada di dalam dinding kayu ini akan berhasil bukan saja bertahan, tetapi kemudian menangkap mereka dan memadamkan segala kegiatan mereka yang melawan hubungan antar sesama manusia itu” berkata ayahnya.

Namun bagaimanapun juga Widati masih tetap menggigil. Ia sadar, bahwa ia akan dipergunakan untuk memancing agar persoalan di antara kedua padepokan ini akan menjadi semakin masak untuk meledakkan satu pertempuran dan sekaligus meyakinkan para prajurit Singasari bahwa sifat dan watak orang-orang padepokan yang datang itu memang patut disesalkan dan bahkan sepantasnya untuk dihentikan.

Karena itu, maka sejenak kemudian, dengan tubuh yang gemetar Widati bersama ayahnya telah berdiri di atas sebuah pelanggrangan bambu di sebelah regol, sehingga mereka akan nampak oleh orang-orang yang berada di luar regol.

Sebenarnyalah, maka iring-iringan itu pun menjadi semakin dekat. Mereka langsung berkerumun di depan regol yang sudah tertutup rapat. Namun beberapa orang penghuni apa yang mereka sebut sebuah padepokan itu telah berada di sebelah menyebelah regol, berdiri di atas pelanggrangan yang memang sudah disiapkan.

Singatama yang melihat Widati ada di antara mereka itu pun menggeram. Dengan suara bergetar ia berkata, “Mereka memang sengaja menghina aku dan barangkali kita semuanya”

“Kenapa” bertanya gurunya.

“Perempuan itu adalah perempuan yang aku inginkan. Para cantrik aku perintahkan untuk mencari dan mengambil perempuan itu. Tetapi perempuan itu telah berada di antara para cantrik dan tidak pernah mereka serahkan kepadaku”

Dalam padu itu, Mahisa Murti yang berdiri di sebelah Widati itu pun kemudian berkata lantang, “He. Singatama. Kenapa kau datang kembali”

Singatama menggeram. Katanya, “Jangan terlalu sombong anak iblis. Aku datang untuk menyatakan kepada kalian, bahwa kalian adalah orang orang yang tidak tahu diri”

“Aku telah mengalahkanmu” berkata Mahisa Murti.

Wajah Singatama menjadi merah. Dengan suara bergetar oleh kemarahan yang memuncak ia berkata, “Sekarang aku datang untuk membuktikan bahwa aku adalah murid sebuah perguruan yang besar”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang tiba-tiba menurun, ia berkata, “Singatama. Aku sengaja membawa Widati sekarang ini, agar kau dapat mendengar sendiri sikapnya. Jika persoalan ini bermula dari hubungannya dengan Widati, maka aku kira, persoalan ini dapat dikembalikan kepada masalahnya tanpa menimbulkan korban yang sebenarnya tidak perlu”

“Apa maksudmu? Kau akan menyerahkan gadis itu kepadaku” bertanya Singatama.

“Masalahnya tidak pada menyerahkan atau tidak menyerahkan” jawab Mahisa Murti, “tetapi masalahnya adalah, apakah Widati bersedia atau tidak? Ia mempunyai wewenang untuk menentukan sikapnya. Mungkin ia akan menyatakan kesediaannya. Jika demikian maka tidak akan ada persoalan lagi di antara kita. Tetapi jika Widati menolak lamaranmu. maka kau tidak akan dapat memaksanya”

“Persetan” geram Singatama, “ia akan menerima lamaranku. Ia memang sudah menerimanya. Tetapi mungkin kalian telah mengancamnya. Mungkin di belakang gadis itu sekarang, seseorang berdiri dengan ujung pedang di punggungnya”

“Jangan berbicara seperti orang dungu” jawab Mahisa Murti” berkatalah dengan wajar. Bukankah kita masih dapat menghargai pendapat seseorang? Apakah caramu itu akan merubah kebenaran atas sikap Widati?”

“Persetan” geram Singatama, “aku tidak peduli. Berikan gadis itu kepadaku. Kalian akan mendapat pengampunan”

“Inilah yang harus kau pertimbangkan” jawab Mahisa Murti, “apakah kau dapat bersikap lebih baik, atau kau memang termasuk seseorang yang selalu memaksakan pendapat terhadap orang lain. Bahkan telah melanggar hak menentukan sikap sebagaimana seorang gadis yang bernama Widati”

“Kau licik. Berikan gadis itu kepadaku. Ia akan menjawab, dengan jujur jika ia terlepas dari ancamanmu” teriak Singatama.

Wajah Widati menjadi tegang. Kemarahan dan ketakutan telah berbaur di dalam dirinya. Dalam pada itu, Singatama berkata, “Jangan memperpanjang persoalan. Serahkan gadis itu kepadaku”

“Kau yakin bahwa ia akan menerimamu dengan ikhlas?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku yakin” teriak Singatama lebih keras.

Sejenak Mahisa Murti merenung. Namun tiba-tiba katanya, “Baiklah. Aku akan menyerahkan gadis ini kepadamu”

Jawaban itu benar-benar mengejutkan. Semua orang yang mendengarnya terkejut, termasuk Widati sendiri. Sehingga dengan serta merta ia telah berteriak di luar sadarnya, “Tidak. Aku tidak mau”

Jawaban itu telah mencengkam setiap jantung. Singatama yang berada di sebelah gurunya pun tercenung sejenak mendengar suara Widati yang melengking itu.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Widati telah memeluk ayahnya sambil berkata diantara isaknya, “Aku tidak mau ayah. Aku tidak mau”

Mahisa Pukat yang termangu-mangu telah melangkah mendekati Mahisa Murti dengan tatapan mata yang tegang. Hampir saja ia bertanya, apakah maksud Mahisa Murti sebenarnya.

Namun sementara itu, Mahisa Murti telah berkata, “Kata-kata itulah yang aku tunggu. Aku ingin membuktikan, bahwa dengan-serta merta gadis itu menolak untuk aku serahkan kepadamu. Nah, Singatama. Apakah kau tahu artinya?”

“Anak iblis” teriak Singatama, “kau licik. Kau sudah mempersiapkan permainan ini dengan sempurna. Kau ancam gadis itu untuk bermain sebaik-baiknya dalam peranannya sendiri”

“Kau masih juga bermimpi Singatama” jawab Mahisa Murti, “semuanya sudah jelas. Karena itu, aku minta kau kembali saja”

“Tidak. Aku akan menghancurkan kalian semuanya. Aku, atas persetujuan guru, akan membunuh kalian semua. Semalam senjata kami sudah dilekati oleh darah. Sekarang, senjata kami akan menjadi merah oleh darah kalian” geram Singatama

Dalam pada itu, maka guru Singatama pun bergeser selangkah maju. Dengan tenang ia berkata, “Aku puji kemampuan kalian mempermainkan perasaan muridku. Aku kagum atas kecerdikanmu anak muda. Tetapi apakah kau tidak berpendapat, bahwa sebaiknya, permainan ini diakhiri?”

“Siapa kau?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku adalah guru Singatama” jawab orang itu, “namaku tidak penting bagimu. Tetapi orang memberi aku panggilan yang aneh, yang sebenarnya aku kurang senang. Mereka menyebutku Pulung Geni. Aku tidak tahu apa artinya. Tetapi aku tidak menolak untuk dipanggil Empu Pulung Geni”

“Jadi kau guru Singatama. Dan kau telah terlibat pula dalam tindak kekerasan seperti ini” bertanya Mahisa Murti, “aku berharap bahwa kau akan berusaha untuk mencegah tindak sewenang-wenang dari muridmu. Tetapi kau justru melibatkan diri kedalamnya”

Orang yang disebut Empu Pulung Geni itu tertawa. Katanya, “Kau memang senang bergurau anak muda. Ada-ada saja yang kau ucapkan untuk memancing kegembiraan. Aku senang mendengar guraumu yang segar itu”

“Aku bersungguh-sungguh” Mahisa Murti lah yang kemudian hampir berteriak.

Tetapi orang yang disebut Empu Pulung Geni itu justru tertawa semakin keras. Wajah Mahisa Murti telah membara. Namun yang lebih tidak sabar lagi adalah Mahisa Pukat. Dengan lantang ia berteriak, “Kau sangka leluconmu itu baik?”

“O” guru Singatama itu masih tertawa, “kau jadi marah? Ternyata kau tidak mampu bergurau seperti kawanmu itu. Nampaknya kau bukan seorang periang. Tetapi seorang pemarah”

“Tutup mulutmu. Apa maumu sebenarnya” teriak Mahisa Pukat semakin keras”

Tetapi Empu Pulung Geni itu sama sekali tidak merubah sikapnya. Ia masih saja dengan tenang dan tertawa menanggapi sikap Mahisa Pukat. Katanya, “Sebenarnya kita dapat bersahabat. Terutama kawanmu yang pandai bergurau itu. Jika kalian menyerahkan gadis itu dan dua orang muridku yang kau tawan dengan sikap yang curang, maka persoalan di antara kita sudah selesai. Kalian bebas untuk kembali ke padepokan yang untuk sementara dipimpin oleh Empu Nawamula, tanpa perasaan takut untuk di hukum, meskipun tingkah laku kalian sampai saat ini memang perlu dipertimbangkan”

Kemarahan Mahisa Pukat telah tidak terkendali lagi. Justru karena itu, maka mulutnya bagaikan terbungkam. Tubuhnya bergetar dan sorot matanya bagaikan melontarkan api.

Karena itu. maka Mahendra merasa perlu untuk menolong kedua anaknya itu. Kedua anak-anak muda yang telah terpancing oleh sikap orang yang disebut Pulung Geni itu.

Karena itu, maka ia kemudian mendekati Mahisa Murti sambil berkata, “Tenanglah anak-anak. Jangan terbawa oleh arus perasaanmu. Biarlah aku mencoba menjawabnya.”

Ketika kemudian Mahendra berdiri pula disisi Mahisa Murti di atas sebuah pelanggrangan bambu, maka guru Singatama itu memandanginya dengan tajamnya. Bahkan kemudian dengan nada datar ia bertanya, “Siapa kau? Apakah kau juga akan turut campur?”

“Tidak Ki Sanak” jawab Mahendra, “aku hanya ingin menolong anak-anak ini untuk dapat mengendapkan perasaannya, agar ia dapat menjawab pertanyaanmu dengan baik”

Empu Pulung Geni menganguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Ajarilah anak-anak itu berpikir bening. Sebenarnya ia tidak dirugikan oleh tindakan Singatama, karena ia bukan keluarga gadis itu. Ia tidak bersangkut paut dan tidak wajib untuk ikut mencampurinya. Jika ia melepaskan diri dari keterlibatannya, maka ia tidak akan mengalami sesuatu yang akan dapat membuatnya menyesal”

Mahisa Murti sudah akan berteriak. Tetapi Mahendra mendahului, “Terima kasih Ki Sanak. Aku juga akan memberinya nasehat seperti itu. Tetapi manakah yang lebih baik. Tingkah laku anak-anak muda ini dengan muridmu yang bernama Singatama itu. Anak-anak ini melibatkan diri justru karena ia merasa tersinggung rasa keadilannya melihat tingkah laku muridmu yang bernama Singatama, karena Singatama telah memaksakan kehendaknya atas seorang gadis yang bernama Widati ini”

Empu Pulung Geni mengangguk-angguk. Katanya, “Pertanyaanmu tepat sekali Ki Sanak. Tetapi bagaimanakah jika kita bersetuju untuk tidak saling mengganggu. Soal hubungan antara Singatama dan gadis itu, biarlah diselesaikan oleh Singatama dan keluarganya”

“Jika hal itu terjadi, maka anak-anak muda ini merasa, bahwa mereka tidak bermanfaat bagi sesama di dalam hubungannya dengan sikap seseorang yang memaksakan kehendaknya atas orang lain” jawab Mahendra, lalu, “persoalan ini sebenarnya adalah persoalan manusia. Bukan persoalan yang dapat dibatasi antara dua belah pihak yang memaksakan kehendaknya dan yang tidak mempunyai kemampuan untuk menghindarkan diri dari paksaan itu, meskipun akibatnya adalah penderitaan”

“Jadi kalian benar-benar dengan sadar melibatkan diri kedalam persoalan ini” bertanya Empu Pulung Geni.

“Benar Ki Sanak” jawab Mahendra, “persoalannya tidak terbatas pada persoalan seorang gadis. Tetapi dengan demikian kami akan melihat pada pokok persoalannya. Kami tidak sependapat bahwa seseorang dibenarkan untuk memaksakan kehendaknya atas orang lain berdasarkan kepada kekuatan dan kekerasan. Yang nampak sekarang di sini adalah keinginan Singatama untuk mengambil gadis itu. Tetapi di tempat lain dan dalam kesempatan lain, kalian akan dapat berbuat jauh lebih banyak. Mungkin kalian ingin memaksakan kehendak kalian untuk mendapatkan perempuan, harta benda, kekuasaan dan akhirnya dunia ini ingin kau miliki”

Empu Pulung Geni mengangguk-angguk. Sementara itu, darah Singatama bagaikan sudah mendidih. Ia tidak mengerti, kenapa gurunya masih saja bersabar menghadapi orang-orang di dalam lingkungan dinding kayu itu.

“Baiklah Ki Sanak” berkata Empu Pulung Geni, “agaknya aku sudah tidak mempunyai pilihan lain. Soalnya bukan sekedar gadis itu. Tetapi kalian sudah menghina perguruan kami dengan menawan dua orang di antara kami. Apalagi jika keduanya ternyata telah kalian bunuh, maka kalian benar-benar akan menyesal”

“Jadi, apakah kalian ingin mengurungkan niat kalian” bertanya Mahendra.

“Tidak Ki Sanak” jawab guru Singatama itu dengan tenang, “kami akan membakar padepokanmu dan membunuh semua orang yang ada di dalam barak yang kau sebut padepokan itu. Kami akan mempergunakan darah kalian sebagai darah manusia yang pertama bagi sebuah upacara. Biasanya kami mempergunakan darah binatang. Tetapi pada saatnya, kami memang harus mempergunakan darah manusia”

Mahendra mengangguk-angguk. Sejenak ia memperhatikan orang-orang yang menebar di luar dinding apa yang di sebutnya padepokan itu.

“Jumlah mereka terlalu banyak bagi penghuni sebuah padepokan” berkata Mahendra di dalam hati.

“Apa yang sedang kau pikirkan Ki Sanak” tiba-tiba saja Empu Pulung Geni bertanya.

Dalam keadaan yang demikian Mahendra masih sempat tersenyum sambil menjawab, “Tidak apa-apa. Aku sedang menghitung orang-orangmu”

“Terlalu banyak” bertanya Empu Pulung Geni.

“Cukupan untuk menghancurkannya hari ini” jawab Mahendra.

Anak-anak muda dikedua belah pihak sudah tidak telaten lagi mendengar pembicaraan itu. Namun Empu Pulung Geni masih dengan sareh berkata, “Anak-anak. Bersiaplah. Kita akan segera mulai”

Para Putut dan cantrik dari padepokan orang yang disebut Empu Pulung Geni itu pun segera mempersiapkan diri. Merekapun kemudian menebar di bagian depan apa yang disebut sebuah padepokan. Nampaknya mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk memecah dinding kayu yang tidak begitu tinggi itu, atau bahkan meloncatinya.

Namun dalam pada itu, Mahendra pun telah memberikan isyarat kepada Mahisa Bungalan untuk bersiap. Mereka berada di belakang pintu regol yang tertutup. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah meninggalkan tempatnya berusaha untuk membangkitkan keberanian para cantrik yang masih saja ragu-ragu.

“Kita sudah berada di ujung tombak” berkata Mahisa Murti, “terserah kepada kita. Apakah kita akan membiarkan tombak itu menghunjam di perut kita, atau kita akan menghindarinya”

Ternyata dalam keadaan yang paling gawat, para cantrik itu sadar, bahwa mereka harus berusaha menyelamatkan jiwa mereka masing-masing.

Karena itu, maka Mahisa Pukatpun berkata, “Nah, sekarang kalian bersiap di dalam dinding. Jika mereka meloncat ke dalam atau berusaha merusak dinding, maka adalah menjadi kewajiban kalian untuk menghalau mereka”

Dalam pada itu, maka Empu Pulung Geni pun kemudian berkata tanpa kesan kemarahan, bahkan lebih mirip dengan aba-aba dalam permainan, “Lakukanlah anak-anak, kalian dapat berbuat apa saja. Bahkan membakar padepokan itu sampai lebur menjadi abu. Jika Singatama masih menginginkan perempuan itu, biar perempuan itu sajalah yang hidup. Tetapi jaga, agar kalian dapat menyelamatkan kedua orang saudaramu yang tertawan. Tetapi jika keduanya sudah terbunuh, maka aku minta kedua anak muda yang menawannya itu kalian tangkap hidup-hidup. Jangan beri kesempatan mereka membunuh diri, karena keduanya adalah wadag yang paling baik untuk mengantarkan upacara”

Sikapnya memang sangat menarik perhatian. Tetap Mahendra pun sepenuhnya dapat menguasai dirinya, sehingga katanya kepada orang-orang yang berada di dalam dinding, “Bersiaplah. Permainan akan segera dimulai”

Sebenarnyalah kedua belah pihak sudah bersiap. Para murid Empu Pulung Geni sama sekali bersikap lain dari gurunya. Bahkan, mereka pun merasa heran, bahwa gurunya bersikap terlalu sabar menghadapi orang-orang di dalam padepokan itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja mereka telah bergerak dengan hentakan yang mengejutkan. Mereka berteriak bersama dalam nada yang tinggi, seolah-olah hendak meruntuhkan langit.

Satu suasana yang jauh berbeda dengan sikap Empu Pulung Geni.

Namun Mahendra, Witantra dan Mahisa Agnipun segera dapat membaca sikap yang sebenarnya dari perguruan yang sedang mereka hadapi itu.

Dalam pada itu, para cantrik pun segera bersiap di belakang dinding. Sementara Widati yang menggigil ketakutan dibimbing oleh ayahnya masuk ke dalam barak.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memerintahkan empat orang cantrik untuk mengamati gadis itu dan melindunginya jika di luar dugaan, satu atau dua orang menyusup sampai ke tempatnya. Sementara di lingkungan apa yang mereka namakan padepokan, lima orang cantrik selalu berjaga-jaga. Untuk ketenangan hati Mahisa Murti, maka seorang dari prajurit pilihan telah berada bersama dengan para cantrik itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian pertempuran itu pun telah berkobar. Para cantrik yang berada di dalam dinding dengan ujung tombak dan pedang berusaha mencegah saudara-saudara seperguruan Singatama untuk memasuki dinding. Dipimpin oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berdiri berseberangan di sebelah menyebelah regol, para cantrik yang merasa dirinya tidak mempunyai pilihan lain daripada mempertahankan hidupnya itu pun telah menentukan satu sikap yang pasti.

Dengan demikian, maka benturan kekuatan pun tidak dapat dihindari lagi. Ujung-ujung senjata mulai berbicara di dinding apa yang disebut sebuah padepokan itu.

Namun dalam pada itu, adalah di luar dugaan guru Singatama yang disebut Empu Pulung Geni itu, ketika tiba- tiba saja pintu regol terbuka. Dengan serta merta, sekelompok orang dari dalam regol pun berlari-larian keluar dengan senjata telanjang di tangan.

Mereka adalah para prajurit Singasari yang dipimpin langsung oleh Mahisa Bungalan.

Sergapan yang tiba-tiba itu benar-benar mengejutkan para pengikut Empu Pulung Geni. Sejenak, mereka justru menyibak karena senjata yang berputaran. Namun beberapa saat kemudian ternyata merekapun telah berhasil menguasai diri mereka kembali.

Mahisa Agni dan Witantra masih mengamati pertempuran itu dari dalam dinding, sementara Mahendra tidak sampai hati membiarkan Mahisa Bungalan keluar tanpa pengamatannya, apabila tiba-tiba saja ia harus berhadapan dengan Guru Singatama. yang menurut perhitungan Mahendra, tentu seorang yang berilmu sangat tinggi.

Dalam pada itu, maka Mahisa Agni dan Witantra memperhatikan pertempuran itu dengan hati yang berdebar-debar. Di luar dugaan, maka Mahisa Agnimpun berdesis, “Apakah kau yakin, bahwa yang kita hadapi sekarang ini sebuah padepokan?”

Witantra mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Memang mungkin sebuah padepokan. Tetapi sebuah padepokan yang khusus”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Sebuah padepokan yang memang sangat menarik perhatian. Padepokan yang memiliki sebuah kekuatan yang besar Bahkan mungkin belum semua kekuatan dikerahkan.

Witantra tidak menjawab. Diamatinya pertempuran yang menjadi semakin dahsyat. Orang orang yang datang menyerang itu benar-benar orang-orang yang kasar dan keras. Namun mereka memang memiliki kelebihan dari sebuah padepokan biasa dan cantrik-cantriknya pun memiliki ilmu yang cukup baik. Lebih baik dari para cantrik di padepokan Empu Nawamula”

“Lebih baik dan lebih Banyak” berkata Witantra, “cantrik-cantrik dari padepokan Empu Nawamula ini masih dibayangi oleh ketakutan, sementara kemampuan mereka memang masih pada tataran permulaan”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah bahwa Mahisa Bungalan datang bersama sekelompok prajurit yang dapat membantu kedudukan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat”

“Tetapi yang sangat menarik adalah padepokan itu sendiri” berkata Witantra, “aku condong mempunyai dugaan, bahwa padepokan itu bukan sebuah padepokan yang biasa kita jumpai”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Sementara itu pertempuranpun menjadi semakin seru. Kedua belah pihak telah mengerahkan segenap kekuatannya.

Sebenarnyalah bahwa pasukan Empu Pulung Geni benar-benar merupakan sebuah pasukan yang sangat menggetarkan. Mereka bertempur dengan kasar dan keras. Mereka berteriak-teriak dengan liar dan mempergunakan cara apapun untuk menguasai lawannya.

Namun prajurit Singasari di bawah pimpinan Mahisa Bungalan itupun memiliki pengalaman yang luas. Karena itu, maka mereka tidak menjadi bingung menghadapi pasukan Empu Pulung Geni.

Para Putut dari padepokan Empu Pulung Geni itu pun telah memencar Mereka memimpin para cantrik dengan sasaran yang berbeda. Ada diantara mereka yang berusaha memasuki dinding. Tetapi sebagian dari mereka terpaksa bertempur menghadapi pasukan yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan, yang justru keluar dari batas dinding apa yang disebut padepokan itu.

Namun dalam pada itu ternyata, bahwa usaha para pengikut Pulung Geni memasuki dinding padepokan itu, semakin lama menjadi semakin mendesak. Meskipun sebagian di antara mereka harus menghadapi sekelompok prajurit Singasari yang tidak mempergunakan ujud keprajuritannya, namun yang lain berhasil mengguncangkan pertahanan para cantrik dari padepokan yang dipimpin oleh Empu Nawamula. Ternyata bahwa para pengikut Empu Pulung Geni memang mempunyai kelebihan sehingga mereka memaksa para cantrik dari padepokan Empu Nawamula yang memang masih selalu dibayangi oleh keraguan dan ketakutan, untuk menjadi semakin berdebar-debar.

“Kita tidak dapat tinggal diam” berkata Mahisa Agni. “Baiklah” jawab Witantra, “kita akan membagi diri. Aku disini. dan kau berada di sebelah regol”

Dengan demikian, maka di sebelah menyebelah regol terdapat Mahisa Murti dan Mahisa Agni. Sementara di seberang yang lain Witantra dan Mahisa Pukat. Dengan mereka, maka para cantrik berusaha untuk mengusir lawan mereka yang berusaha untuk memanjat dan meloncat dinding.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih muda itu pun bertempur dengan sepenuh hati. Karena itu, lawan mereka yang secara kebetulan berhadapan dengan kedua anak muda itu disaat mereka berusaha memanjat dinding, terpaksa harus meloncat surut dengan luka di tubuh.

Apalagi setelah Mahisa Agni dan Witantra ikut serta berusaha menghalau mereka, meskipun dengan cara yang agak berbeda dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun demikian, Mahisa Agni dan Witantra masih tetap mengamati cara yang dipergunakan oleh Empu Pulung Geni dan orang-orangnya untuk memecahkan apa yang disebut padepokan itu. Kekuatan yang ada pada Empu Pulung Geni benar-benar satu kekuatan yang besar. Seandainya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak disertai oleh Mahisa Bungalan dengan sekelompok pasukannya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan mengalami kesulitan.

Sementara itu, meskipun di pihak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah disertai sekelompok prajurit dibawah pimpinan Mahisa Bungalan, namun mereka tidak segera dapat menyelesaikan kewajiban mereka. Ternyata pertempuran itu menjadi semakin seru. Empu Pulung Geni ternyata mampu mempertahankan garis pertempuran dekat dengan dinding apa yang disebut padepokan itu.

Mahisa Agni dan Witantra masih saja berusaha untuk menilai lawan sambil berusaha mengusir mereka. Bahkan perkiraannya sampai pada satu kesimpulan, bahwa padepokan Empu Pulung Geni itu tentu bukan sekedar sebuah padepokan yang menurut laporan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dan yang telah disaksikannya sendiri, sering memaksakan kehendaknya atas orang Lain.

“Tentu lebih dari itu” berkata Manisa Agni di dalam hatinya sebagaimana pendapat Witantra.

Dalam pada itu, Empu Pulung Geni sendiri ternyata masih belum terjun kedalam peperangan. Ia memperhatikan dengan seksama apa ying terjadi. Dengan cermat ia mengamati tingkah laku para pengikutnya dan lawan-lawannya. Seorang Putut yang paling tua di dalam padepokannya, mendampinginya dengan senjata telanjang di tangan.

“Aneh” berkata Empu Pulung Geni, “aku tidak percaya bahwa yang bertempur di luar dinding itu juga para cantrik dari padepokan Singatama yang untuk sementara dipimpin oleh Empu Nawamula”

Putut yang berdiri di sampingnya itu pun mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat Empu. Mereka terlalu baik bagi seorang cantrik. Mereka lebih baik dari cantrik-cantrik kita. Bahkan jauh lebih baik”

Empu Pulung Geni mengerutkan keningnya ketika ia melihat, bagaimana Mahisa Bungalan bertempur menghadapi lawan-lawannya.

“Anak muda itu aneh” berkata Empu Pulung Geni. Lalu, “Ia memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Jika kau biarkan ia bergerak, maka ia akan menjadi pembunuh yang tidak dapat dicegah lagi”

Putut itu mengangguk. Ia melihat dua orang putut yang lain bertempur di ujung-ujung arena. Sementara itu, Singatama sendiri tengah berusaha dengan sepenuh hati untuk dapat memasuki apa yang disebut padepokan itu. Agaknya Singatama berkeras hati untuk dapat mengambil gadis yang diinginkannya.

Tetapi memasuki apa yang disebut padepokan itu ternyata tidak terlalu mudah. Apalagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta Mahisa Agni dan Witantra berada di dinding itu pula.

Putut yang semula mendampingi Empu Pulung Geni itu pun kemudian berusaha mendekati Mahisa Bungalan. Sejenak ia memperhatikan anak muda itu. Namun- kemudian ia pun bergeser maju sambil berdesis, “Kau luar biasa anak muda”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang yang menyapanya itu. Sementara Putut itu berkata pula, “Apakah kau termasuk salah seorang cantrik dari padepokan Nawamula?”

Sejenak Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Ya. Aku adalah seorang cantrik”

Tetapi Putut itu tertawa. Katanya, “Kau jangan berbohong. Aku tahu, bahwa para cantrik tidak akan berani melakukan hal seperti ini tanpa orang lain berdiri di belakangnya. Agaknya kau termasuk salah seorang yang telah menghasut para cantrik itu untuk memberontak terhadap Singatama”

Mahisa Bungalan tidak segera menjawab. Dipandanginya Putut yang berdiri dihadapannya itu. Nampaknya orang itu memang cukup meyakinkan.

“Siapa kau” tiba-tiba saja Mahisa Bungalan bertanya.

“Aku adalah salah seorang pembantu Empu Pulung Geni” jawab Putut itu, “aku adalah Putut tertua dari padepokannya. Aku mendapat perintah oleh Empu Pulung Geni, agar aku menghentikan tingkah lakumu yang sewenang-wenang”

“O” Mahisa Bungalan menjawab, “aku sama sekali tidak merasa berbuat sewenang-wenang. Aku berbuat wajar sebagaimana dilakukan oleh seseorang di peperangan. Jika kau sempat melihat, orang-orangrnu telah bertempur dengan kasarnya. Bahkan liar dan tidak terkendali. Dengan demikian aku dapat melihat watak dari padepokanmu. Padepokan yang dipimpin oleh orang yang disebut Empu Pulung Geni itu”

Putut itu mengangguk-angguk. Katanya “Pengamatanmu tajam sekali Ki Sanak”

“Tingkah laku Empu Pulung Geni sama sekali bertentangan dengan wataknya yang sebenarnya. Demikian pula kau” berkata Mahisa Bungalan kemudian, “kesabaran kalian bukan kesabaran yang sebenarnya. Tetapi merupakan satu bagian darai perhitungan kalian yang cermat”

Putut itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar Ki Sanak. Tetapi bukan berarti bahwa pendapatmu itu akan mempengaruhi kami dalam keseluruhan. Kami memang kasar dan bahkan buas. Karena itu, kalian akan mati dan berkubur di tempat ini”

Mahisa Bungalan tidak menjawab, Tetapi ia pun segera bersiap untuk bertempur.

Dalam pada itu, pertempuran pun telah menyala semakin besar dan seru. Senjata berdentangan dan darah pun mulai menitik dari luka.

Sementara itu, Mahendra yang berada di arena di luar regol apa yang di sebut padepokan itu, masih belum bertempur dengan sungguh-sungguh. Ia masih tetap berada di antara para prajurit Singasari yang memulas diri, sebagaimana orang kebanyakan. Namun Mahendra tetap mengawasi, apa yang akan dilakukan oleh Empu Pulung Geni.

Dalam pertempuran yang semakin sengit itu, Mahisa Bungalan telah terlibat kedalam pertempuran dengan Putut tertua dari perguruan Empu Pulung Geni. Ternyata Putut tertua itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Ilmu yang bersumber dari alam yang gelap dengan ujud yang kasar dan keras.

Tetapi Mahisa Bungalan telah membekali diri dengan ilmu yang mantap. Karena itu, sejenak kemudian mulai nampak bahwa Mahisa Bungalan mampu mengimbangi tingkat ilmu Putut tertua dari perguruan Empu Pulung Geni.itu.

Sementara itu, para pengikut Empu Pulung Geni yang lain masih belum berhasil memasuki dinding padepokan. Para cantrik yang berada di dalam dinding, ternyata mulai dibasahi oleh keringat dan kepercayaan kepada diri sendiri. Karena itu, maka mereka pun bertempur semakin mantap. Mereka berusaha menghalau setiap orang yang berusaha meloncati dinding yang tidak begitu tinggi itu dipimpin oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun dalam pada itu. Empu Pulung Geni menjadi semakin cemas melihat perkembangan dari pertempuran itu.

Karena itu, maka ia merasa wajib untuk segera ikut menerjunkan diri kedalam kobaran api pertempuran yang menjadi semakin menyala. Mahisa Bungalan menjadi semakin garang menghadapi lawannya. Sehingga sejenak kemudian, maka Putut tertua dari perguruan Pulung Geni itu semakin terdesak.

“Anak iblis” geram Putut itu di dalam hatinya, “anak ini memiliki ilmu yang tinggi”

Sebenarnyalah, meskipun Putut itu mengerahkan segenap kemampuannya, namun ia menjadi semakin terdesak pula, seperti para cantrik yang lain pun telah semakin terdesak pula oleh para prajurit Singasari, sementara kawan-kawan mereka masih belum berhasil memasuki halaman apa yang disebut padepokan itu.

Namun dalam pada itu, Widati benar-benar menjadi ketakutan. Ia merasa diumpankan untuk memancing perselisihan. Jika orang-orang di dalam lingkungan apa yang disebut padepokan itu gagal bertahan, maka ia akan menjadi barang rampasan yang jauh lebih tidak berharga dari apabila ia menerima lamaran Singatama.

Dengan hati yang berdebaran ia melihat para cantrik yang mengawalnya. Nampaknya para cantrik itu pun telah bersiaga sepenuhnya. Tetapi wajah mereka agak kurang meyakinkan, bahwa mereka pun siap menghadapi setiap kemungkinan.

Namun apabila di muka barak itu lewat seorang yang sebenarnya adalah prajurit Singasari yang mendapat tugas untuk membantu para cantrik mengawasinya, rasa-rasanya hatinya menjadi tenang. Sikap orang itu jauh lebih meyakinkan dari sikap para cantrik yang ada di sekitarnya, Tetapi tanpa para cantrik itu, hatinya tentu akan menjadi lebih ketakutan lagi.

Sementara itu, sorak dan teriakan di muka apa yang disebut padepokan itu menjadi semakin gemuruh. Orang- orang dari perguruan Pulung Geni bertempur sambil berteriak-teriak. Kadang-kadang kasar dan bahkan mengumpat-umpat.

Dalam pada itu, Empu Pulung Geni sudah menjadi semakin dekat dengan orang-orang yang sedang bertempur. Wajahnya kadang-kadang menegang. Namun kemudian wajah itu kembali menjadi tenang.

“Orang ini memang luar biasa” berkata Mahendra di dalam hatinya. Sehingga dengan demikian, maka Mahendrapun bergeser semakin mendekati orang yang disebut Empu Pulung Geni itu.

Ketika Empu Pulung Geni berhenti sejenak sambil mengamati pertempuran, maka Mahendra bertempur beberapa langkah saja dari padanya tanpa menarik perhatiannya.

Sementara itu Singatama berusaha dengan sekuat-kuat kemampuannya untuk menembus pertahanan para cantrik dengan memecah dinding. Beberapa orang saudara seperguruannya telah berusaha untuk membantunya. Mereka berteriak-teriak memanggil nama dua orang saudara seperguruannya yang tertawan. Namun sebenarnyalah yang lebih penting bagi Singatama adalah Widati.

Tetapi mereka menghadapi perlawanan yang gigih dari para cantrik. Dengan berdiri di atas alas kayu dan bambu, para cantrik berusaha mengusir para pengikut Pulung Geni dengan senjata mereka.

Dalam pada itu, dua orang saudara seperguruan Singatama yang tertangkap, masih tetap di sekap dalam sebuah ruang di dalam barak itu diawasi oleh para cantrik yang berada di antara barak-barak itu bersama seorang prajurit Singasari yang ditugaskan bersama mereka di samping para cantrik yang menunggui Widati. Namun mereka merasa heran, bahwa mereka justru mendapat perawatan yang baik. Luka-luka mereka telah diobati dan mereka sama sekali tidak diperlakukan dengan kasar. Sekali-sekali mereka memang dibentak dan dimaki, Tetapi yang mereka alami itu sama sekali tidak berarti, sebagaimana mereka memperlakukan orang lain.

Justru karena itulah, telah timbul berbagai pertanyaan di dalam hati mereka tentang sikap dan tingkah laku mereka sendiri sebelumnya, yang mereka anggap sebagai sikap yang wajar dan akan dilakukan oleh setiap orang. Namun ternyata bahwa mereka telah menjumpai satu sikap dari sekelompok orang yang berbeda sekali dengan sikap mereka dan orang orang dilingkungan perguruan mereka.

Dalam ketegangan yang semakin memuncak, maka Empu Pulung Geni tidak dapat lagi menahan dirinya. Dengan pasti ia telah mencabut pedangnya. Pedang yang besar dan bertajam ganda. Pedang yang dibuat dengan khusus sebagaimana seseorang membuat keris.

Sikap Empu Pulung Geni memang menumbuhkan ketegangan tersendiri. Mahisa Agni dan Witantra sempat menyaksikannya, bagaimana Pulung Geni itu menarik pedangnya dan mengangkatnya di atas kepalanya. Pamor dari pedang itu nampak berkilat sesaat di antara kehitaman tubuh pedang itu sendiri.

“Bukan main” desis Witantra, sebagaimana Mahisa Agni dan Mahendra yang mengagumi ujud pedang Empu Pulung Geni itu.

“Pedang itu akan dapat membantai lawan-lawannya” berkata Mahendra di dalam hatinya. Karena itu, maka iapun bergeser semakin dekat. Ia merasa wajib untuk menghalangi pembantaian yang dapat dilakukan oleh Pulung Geni Orang yang bersikap terlalu tenang dan dalam. Namun menilik pengamatan Mahendra, orang itu justru menyimpan sikap iblis di dalam dirinya.

Tetapi Mahendra yang bertempur di antara para prajurit yang menyamar sebagaimana kebanyakan orang itu tertegun ketika tiba-tiba saja ia melihat seseorang yang muncul dari balik gerumbul perdu. Agaknya pertempuran itu telah merampas segala perhatiannya, sehingga Mahendra tidak melihat kapan orang itu bersembunyi di belakang sebuah gerumbul yang tidak terlalu jauh dari ajang pertempuran itu.

“Empu Nawamula” desis Mahendra di dalam dirinya. Tetapi ia tidak menyebutnya, sementara agaknya Empu Nawamula juga tidak menduga, bahwa Mahendra berada di antara mereka yang bertempur itu. Karena itu. Empu Nawamula sama sekali tidak memperhatikan orang-orang yang sedang terlibat di dalam pertempuran. Perhatiannya sepenuhnya ditujukan kepada Empu Pulung Geni.

Dengan langkah yang mantap, Empu Nawamula mendekati Empu Pulung Geni yang agaknya terkejut pula melihat kehadiran orang itu. Dengan ragu-ragu ia memperhatikannya. Sementara itu langkah Empu Nawamula itupun menjadi semakin mantap.

Dalam pada itu, di luar sadarnya. Singatama telah melihat pula orang yang datang itu ketika dengan tidak sengaja ia berpaling kearah gurunya untuk menyatakan kekesalannya oleh kegagalannya untuk meloncati dinding yang tidak terlalu tinggi itu. Dengan demikian, maka di luar sadarnya pula ia telah memanggil pamannya, “Paman Nawamula”

Empu Nawamula memandang ke arah kemanakannya itu dengan sorot mata kemarahan. Tetapi ia tidak sempat berbicara kepada kemanakannya karena Empu Pulung Geni telah menegurnya, “Empu Nawamula. Kenapa Empu datang kemari?”

Empu Nawamula memandang Empu Pulung Geni dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Aku ingin melihat bagaimana seorang guru memanjakan muridnya yang paling dikasihinya”

Wajah Empu Pulung Geni menjadi tegang. Tetapi sejenak kemudian ia tersenyum, “Aku tahu, bahwa muridku itu adalah kemanakan seorang Empu yang mumpuni. Karena itu, aku ingin membuat anak itu mumpuni pula seperti pamannya. Nampaknya usahaku hampir berhasil. Ia sudah memiliki ilmu yang barangkali sejajar dengan ilmu Empu. Hanya karena kemanakan Empu itu kurang berpengalaman, maka ia masih memerlukan waktu untuk mengetrapkan ilmunya sebagaimana seorang yang berilmu tinggi”

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jadi menurutmu, Singatama telah memiliki ilmu sebagaimana aku miliki?”

“Ya” jawab Empu Pulung Genii singkat.

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah kau bermaksud mengatakan, bahwa dengan demikian maka kau, gurunya memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari ilmuku?”

“Aku tidak mengatakankannya. Tetapi kau dapat memperbandingkan Sendiri. Ilmumu setingkat dengan ilmu muridku. Meskipun muridku yang bernama Singatama itu adalah muridku yang sangat aku kasihi karena ia memiliki kemungkinan masa depan yang sangat cerah, namun ia bukan muridku yang memiliki ilmu tertinggi saat ini” sahut Empu Pulung Geni.

“Bagus sekali” desis Empu Nawamula, “jika demikian sepantasnyalah bahwa aku harus berguru kepadamu untuk beberapa tahun, agar aku mampu mengimbangi muridmu yang terbaik”

“Aku tidak berkeberatan Empu. Tetapi minggirlah. Aku akan bertempur melawan orang-orang sombong ini” jawab Empu Pulung Geni.

Tetapi Empu Nawamula justru menjawab, “Tunggu Ki Sanak. Aku masih ingin berbicara tentang rencanaku untuk berguru. Apakah kau sama sekali tidak menaruh perhatian?”

“Jangan bicarakan sekarang justru dalam kesibukan seperti ini” jawab Empu Pulung Geni.

“Maksudku, apakah kau tidak ingin melihat, sampai di mana batas kemampuan calon muridmu. Dengan demikian kau akan dapat menentukan tingkat yang manakah yang akan kau pakai sebagai landasan untuk mulai dengan latihan-latihan olah kanuragan yang akan kau berikan. Atau Putut yang manakah yang paling pantas untuk menangani seseorang dalam tataran tertentu setelah kau mengetahuinya”

“Sudahlah” berkata Empu Pulung Geni, “katakan saja bahwa kau menantangku. Aku kira dengan demikian kerjaku akan lebih cepat selesai. Aku akan membunuhmu kemudian membunuh orang-orang yang sombong, yang aku kira adalah karena bujukanmu bahwa mereka telah meninggalkan padepokan”

“Kau salah Ki Sanak” jawab Empu Nawamula, “aku sama sekali tidak membujuk mereka. Tetapi aku tidak sampai hati membiarkan mereka akan menjadi sasaran ketamakanmu sehingga kau akan membantai mereka tanpa ampun”

“Itu adalah hukuman yang paling pantas buat mereka” sahut Empu Pulung Geni.

“Itulah sebabnya aku hadir di sini. Sudah sehari semalam aku menunggu di sekitar tempat ini. Aku yakin bahwa kau tentu akan datang untuk membantai para cantrik atas pengaduan muridmu. Tetapi lebih dari itu, kau tentu akan menunjukkan kemampuanmu untuk menakut-nakuti berbagai pihak, agar mereka tidak berani melawanmu, “ berkata Empu Nawamula.

“Sudahlah” geram Empu Pulung Geni, “jangan banyak bicara. Aku akan mulai. Dan kau akan terbunuh di sini. Jika kau mati, aku harus minta maaf kepada Singatama, karena kau adalah pamannya. Tetapi aku memang tidak mempunyai pilihan lain”

Empu Nawamula pun segera bersiap untuk menghadapi Empu Pulung Geni. Sementara itu, Singatama justru menjadi termangu-mangu. Ia akan menyaksikan gurunya dan pamannya akan bertempur untuk saling membunuh. Ia tahu, bahwa gurunya adalah orang yang mumpuni. Namun ia pun tahu, bahwa pamannya adalah orang yang pilih tanding. Tetapi menurut penilaiannya, gurunya adalah orang yang tidak terkalahkan.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah bergeser. Sementara itu, Mahisa Bungalan yang tidak mengerti, siapakah yang datang, berusaha untuk membatasi diri. Ia membiarkan kedua orang itu menentukan sikap mereka masing-masing. Jika mereka akan bertempur, biarlah mereka bertempur. Ia sendiri masih mempunyai tugas untuk menyelesaikan para pengikut Empu Pulung Geni itu.

Yang kemudian memperhatikan kedua orang itu dengan seksama adalah Mahendra. Meskipun ia masih berada di antara mereka yang bertempur, tetapi ia mampu melakukannya.

Dalam pada itu, maka Empu Pulung Genipun segera bergeser mendekati lawannya. Ia sudah terlanjur membawa pedang di tangannya. Pedang yang memilki kelebihan dari pedang-pedang kebanyakan. Karena itu. Ia pun telah berniat untuk dengan pedangnya mengakhiri perlawanan Empu Nawamula.

“Aku tidak akan menyarungkan pedangku lagi sekedar untuk menjajagi kemampuan Empu gila ini” berkata Empu Pulung Geni dalam hatinya. Karena itu, maka sejenak kemudian, maka pedangnya pun telah terayun. Katanya, “Empu Nawamula. Menurut pendengaranku kau adalah seorang ahli membuat senjata. Karena itu, kau tentu dapat menilai pedangku ini. Pedang yang dibuat khusus dengan tuah yang khusus pula. Karena itu, sebelum Empu tersentuh oleh pedangku, sebaiknya Empu tidak meneruskan niat Empu untuk mencampuri perkara ini”

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya, “Luwuk di tanganmu itu memang sebuah senjata yang luar biasa. Jarang aku melihat senjata segawat senjatamu. Pamornya bagaikan menyala, sementara tajamnya yang ganda kau ulasi dengan warangan yang berbahaya.

“Karena itu. minggirlah” berkata Empu Pulung Geni.

Tetapi Empu Nawamula tidak menghindar. Bahkan kemudian iapun telah menarik sebilah keris lewat di atas punggungnya Sebilah keris yang tidak juga seperti kebanyakan keris. Keris itu terlalu besar dan panjang.

“Ki Sanak” berkata Empu Nawamula, “aku memang sudah menyiapkan senjata khusus untuk menghadapi senjatamu. Meskipun aku belum sempat mematangkan warangan pada kerisku seperti warangan pada luwukmu itu, tetapi sentuhan warangan kerisku ini cukup untuk mengantarkan menjelajahi daerah maut”

Empu Pulung Geni mengerutkan keningnya. Keris itu memang luar biasa. Bukan saja ukurannya yang teramat besar, tetapi juga buatannya dan keris itu seolah-olah memancarkan cahaya kebiru-biruan.

“Saat aku mulai dengan pembuatan keris ini” berkata Empu Nawamula, “aku telah mesu diri. Mengurangi makan dan minum. Juga mengurangi tidur dan beristirahat. Ternyata aku berhasil menyelesaikan keris ini dua hari yang lalu meskipun kelak masih harus aku matangkan lagi dengan berbagai laku. Tetapi saat ini keris ini sudah cukup untuk melawan luwukmu itu”

Empu Pulung Geni memandang lawannya dengan tajamnya. Namun tiba-tiba saja ia mengayunkan pedangnya. Tidak terlalu keras. Tetapi langsung mengarah ke kening Empu Nawamula.

Empu Nawamula terkejut. Karena itu dengan serta merta, ia menangkis serangan itu dengan kerisnya yang besar dan panjang.

Ketika dua bilah senjata itu berbenturan, maka bunga api-pun telah memercik ke udara. Seolah-olah kedua bilah senjata itu telah menyala dan memercikkan api yang berwarna merah kebiruan.

Empu Pulung Geni melangkah surut. Dengan tegang diamatinya senjata Empu Nawamula. Senjata yang baru dua hari siap. Namun ternyata keris itu nampaknya telah menjadi sebilah keris yang cukup berbahaya.

Demikianlah kedua orang itupun segera terlibat kedalam satu pertempuran yang sengit. Empu Pulung Geni menyerang lawannya bagaikan badai yang menghantam tebing pegunungan. Beruntun, susul menyusul.

Tetapi ternyata Empu Nawamula adalah seorang yang memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Betapapun dahsyatnya serangan Empu Pulung Geni, namun Empu Nawamula masih selalu dapat mengelakkannya, menangkis dan bahkan dengan cepat ia dapat membalas menyerang kembali.

Untuk beberapa saat keduanya berputaran, saling menyerang, desak mendesak. Keduanya memiliki kelebihan yang sulit dicari bandingnya. Sementara senjata di tangan mereka adalah senjata yang dapat dibanggakan.

Mahisa Bungalan yang sempat menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Ternyata keduanya adalah orang-orang yang luar biasa. Keduanya memiliki ilmu yang tinggi dan senjata yang jarang ada duanya.

Mahendra pun menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Namun menyaksikan pertempuran kedua orang itu, ia masih juga berdebar-debar.

Demikian pula Mahisa Agni dan Witantra yang masih berada di dalam lingkungan dinding apa yang disebut padepokan itu. Keduanya ternyata kagum juga melihat dua orang tua yang bertempur dengan senjata masing-masing yang memiliki kelebihan dari senjata lainnya.

Pertempuran itu telah menarik perhatian Singatama, sehingga seolah-olah ia menghentikan usahanya untuk meloncati dinding meskipun saudara-saudara seperguruannya tidak berbuat demikian. Ia tertarik untuk menyaksikan pertempuran antara guru dan pamannya. Pertempuran yang dalam waktu yang singkat telah meningkat menjadi sangat dahsyatnya.

Dalam pada itu, Empu Nawamula pun telah melawan Empu Pulung Geni dengan sangat hati-hati. ia melihat sikap lawannya yang nampaknya tenang dan sabar menghadapi perkembangan keadaan. Tetapi sikap itu bukan sikapnya yang sebenarnya. Empu Pulung Geni telah berusaha mengekang diri dan mempergunakan nalarnya sebaik-baiknya menghadapi orang-orang yang dianggapnya sangat berbahaya. Namun dalam pertempuran yang menjadi semakin dahsyat itupun segera terasa, bahwa Empu Pulung Geni bukannya orang yang tenang dan sabar. Semakin lama, maka sikapnya pun semakin jelas, bahwa Empu Pulung Geni adalah orang yang kasar dan keras.

Sekali-sekali terdengar juga Empu Pulung Geni itu berteriak sambil mengayunkan pedangnya. Namun Empu Nawamula ternyata mampu mengimbangi kekasaran gerak lawannya dengan kecepatannya. Sehingga dengan demikian pertempuran itu menjadi semakin lama semakin seru.

Dalam pada itu, pertempuran antara kedua orang Empu itu tidak luput dari perhatian Mahisa Bungalan. Meskipun ia sendiri masih harus bertempur dengan murid terpercaya dari perguruan Empu Pulung Geni itu, namun ia selalu berusaha untuk sekali-sekali dapat menilai apa yang telah terja di dengan dua orang tua itu.

Ternyata bahwa kemampuan keduanya cukup berimbang. Pertempuran itu semakin menjadi sengit. Senjata-senjata mereka berbenturan dan memercikkan bunga api. Kaki mereka berloncatan dengan cepat, sehingga seolah-olah tidak menyentuh tanah. Sementara angin putaran senjata mereka telah mengguncang dedaunan gerumbul di sekitar arena pertempuran.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam ketika ia hampir saja tergores ujung senjata lawannya. Namun dalam pada itu, ia pun segera mengambil satu sikap. Ia harus mempercepat usahanya untuk menyelesaikan pertempuran itu. Karena itu, maka dengan menggeretakkan giginya Mahisa Bungalan bertempur semakin cepat. Bahkan para prajuritnya pun telah ikut berbuat demikian pula.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan semakin mendesak lawannya dan bahkan kemudian dengan pasti telah menguasainya. Sedangkan para prajuritnya pun telah mendesak lawan-lawan mereka beberapa langkah surut.

Dengan demikian, maka pengaruh pertempuran itu pun terasa pada mereka yang berusaha memecahkan dinding. Ketika kawan-kawan mereka terdesak, maka mereka yang ingin memecah dan meloncati dinding itu pun mulai menjadi gelisah.

Dalam keadaan yang demikian, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memanfaatkan keadaan itu sebaik- baiknya. Dengan cermat mereka memperhitungkan kemungkinan untuk mengembangkan pertempuran itu.

Karena itu, ketika pasukan lawan di luar dinding itu semakin terdesak oleh pasukan Mahisa Bungalan, maka Mahisa Murti pun telah meneriakkan aba-aba, agar para cantriklah yang kemudian memburu keluar dengan meloncati dinding.

“Kita mempunyai kesempatan lebih luas untuk melakukannya, “ teriak Mahisa Murti.

Para cantrik menjadi ragu-ragu. Tetapi Mahisa Murti telah mendahului meloncati dinding yang tidak begitu tinggi, justru keluar.

“Mahisa Pukat melihat saudaranya telah meloncat keluar. Jika ia tidak berbuat serupa, maka Mahisa Murti akan mengalami kesulitan. Karena itu, maka iapun segera meloncat pula sambil memerintahkan para cantrik untuk melakukannya pula.

Dalam keragu-raguan, para cantrik menyaksikan beberapa orang lawan mulai mengepung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Betapapun juga mereka telah merasa terikat dalam sikap, sehingga sejenak kemudian ternyata beberapa orang cantrik pun telah berloncatan pula keluar dinding apa yang disebut padepokan itu. Bahkan akhirnya semua cantrik yang berada di dalam dinding itupun telah berada di luar. kecuali para cantrik yang harus mengawasi Widati, para cantrik yang harus mengamati seluruh padepokan itu bersama seorang prajurit, tetap berada di dalam halaman padepokan.

Dengan demikian, maka pertempuran yang sengit pun telah terjadi seluruhnya di luar dinding apa yang disebut padepokan itu. Kekuatan Mahisa Bungalan dan para prajuritnya ternyata sangat mempengaruhi medan. Di antara mereka justru telah menebar dan menyatu dengan para cantrik, sementara yang lain berusaha mendesak lawan-lawan mereka semula.

Mahisa Agni dan Witantra pun sudah berada di luar dinding pula. Mereka berada di antara para cantrik. Namun semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan Mahendra.

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...