*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 018-02*
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mendengarnya lebih dari seribu kali.“
Penasehat Sri Baginda itu mengerutkan keningnya, sementara Sri Baginda berkata, “Yang aku perlukan sekarang, apa yang sebaiknya aku lakukan. Bukan sekedar mengumpat-umpat, mencela dan mencari kesalahan orang lain.“
Orang-orang yang hadir itu menundukkan kepalanya. Namun seorang di antara mereka telah memberanikan diri berkata, “Baiklah Sri Baginda. Agaknya hamba mempunyai pendapat, yang segala sesuatunya terserah kepada Sri Baginda, apakah pendapat hamba itu dapat dipergunakan atau tidak.“
“Apa pendapatmu. Tetapi aku tidak mau mendengar lagi umpatan-umpatan yang tidak berarti sama sekali untuk memecahkan masalah yang kita hadapi sekarang ini.” berkata Sri Baginda.
“Hamba Sri Baginda.” jawab orang itu, “menurut pendapat hamba, maka sebaiknya Sri Baginda memanggil Pengeran Kuda Permati. Persoalan ini harus kita pecahkan dengan usaha menghindari korban sejauh-jauhnya. Sri Baginda dapat memerintahkan Pangeran Kuda Permati untuk menghentikan langkah-langkahnya yang saat ini tidak akan menguntungkan siapapun juga. Sementara itu, Sri Baginda dapat menjelaskan kepada Pangeran Kuda Permati, perlunya ketenangan yang dapat memberikan perasaan damai kepada rakyat Kediri. Hubungan antara Kediri dan Singasari dapat disusun berdasarkan pembicaraan yang mapan dan dewasa. Tidak dengan cara sebagaimana ditempuh oleh Pangeran Kuda Permati.“
Sri Baginda mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun bertanya, “Apakah menurut pendapatmu, jika aku memanggil Pangeran Kuda Permati, ia akan bersedia menghadap, apalagi tahu saat ini ada baberapa orang Singasari di Kediri.”
“Jika Sri Baginda mempertanggungjawabkan keselamatannya, maka aku kira Pangeran Kuda Permati akan datang menghadap” jawab penasehatnya itu, “kita berharap bahwa semua permusuhan akan dapat dihentikan. Sementara itu, Pangeran Singa Narpada pun tidak usah terlalu lama dibatasi geraknya, karena sebenarnya pembatasan gerak Pangeran Singa Narpada itu karena beralasan.“
“Kau ingin mengatakan bahwa aku telah bertindak tidak adil dalam hal ini?“ bertanya Sri Baginda.
“Bukan maksud hamba Sri Baginda. Hamba tahu, bahwa maksud Sri Baginda dengan membatasi gerak Pangeran Singa Narpada adalah untuk menghindari pertumpahan darah terlalu banyak.” jawab orang itu, “namun ternyata yang terjadi pada pertempuran antara pasukan Pangeran Kuda Permati dan Panji Sempana Murti telah merenggut korban yang tidak sedikit di kedua belah pihak.”
Sri Baginda mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku sependapat. Aku akan memerintahkan seseorang untuk mencari Pangeran Kuda Permati.”
Demikianlah, maka setelah dianggap cukup beristirahat, maka Sri Baginda di Kediri pun telah menerima kehadiran Mahisa Agni dan Witantra. Betapapun keseganan bergumul di dalam dadanya, namun Sri Baginda di Kediri itu tidak akan dapat menolak kehadiran kedua orang yang membawa pertanda kuasa Sri Maharaja di Singasari.
Setelah saling mempertanyakan keadaan masing-masing dan lingkungannya, sebagaimana kebiasaan di setiap pertemuan, maka pembicaraan mereka mulai menjadi bersungguh-sungguh. Mahisa Agni dan Witantra atas nama Sri Baginda ingin mendapatkan laporan langsung dari Sri Baginda di Kediri.
“Kami sudah mendengar beberapa peristiwa di Kediri” berkata Mahisa Agni, “tetapi kami ingin mendengar dari Sri Baginda, atas nama Sri Maharaja.”
Sri Baginda mengerutkan keningnya. Tetapi ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat berbohong. Singasari tentu sudah menyebar petugas sandinya di daerah Kediri. Bahkan di dalam pertempuran yang baru saja terjadi dengan dahsyat nya itu, tentu hadir petugas sandi dari Singasari.
Sebenarnyalah Mahisa Murti, dan Mahisa Pukat dan Pugutrawe melihat langsung keadaan yang mengerikan itu, sehingga mereka dapat memberikan laporan yang terperinci tentang peristiwa itu.
Karena itu, maka yang kemudian dikatakan oleh Sri Baginda adalah keadaan di Kediri yang terjadi secara singkat.
Memang ada beberapa hal yang sengaja tidak disebut, meskipun Sri Baginda menduga, bahwa hal itu sudah diketahui.
Mahisa Agni dan Witantra mendengarkan laporan Sri Baginda itu dengan sungguh-sungguh. Terutama mengenai pertempuran yang baru saja terjadi, yang telah membunuh terlalu banyak orang.
“Sri Baginda” berkata Mahisa Agni kemudian, “bagaimana sikap Sri Baginda menghadapi keadaan yang menjadi semakin gawat itu? Apakah Sri Baginda akan membiarkan peristiwa ini semakin berlarut-larut? Aku tahu maksud Sri Baginda. Agaknya Sri Baginda berusaha untuk tidak memperuncing persoalan sehingga akan menumbuhkan permusuhan yang tajam. Tetapi sekarang Sri Baginda dapat melihat, apakah perhitungan Sri Baginda itu tepat.“
Sri Baginda di Kediri itu termangu-mangu. Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab. Tetapi memang sudah menjadi satu kenyataan bahwa perang itu telah terjadi. Terlalu dahsyat. Panji Sempana Murti telah menghancurkan satu pasukan dari para pengikut Pangeran Kuda Permati.
“Bagaimana pendapat Sri Baginda?” desak Witantra.
Sri Baginda itu menarik nafas. Katanya, “Ya. Perang itu memang terlalu dahsyat. Panji Sempana Mufti ternyata tidak dapat mengekang diri. Mungkin Pangeran Kuda Permati selalu berpesan kepada para pengikutnya, bahwa mereka tidak boleh bertindak melampaui batas, karena mereka berhadapan dengan saudara sendiri. Tetapi agaknya tidak demikian dengan Panji Sempana Murti.“
“Jadi menurut Sri Baginda, yang menyebabkan pertempuran itu menjadi sangat mengerikan adalah sikap Panji Sempana Murti?” bertanya Mahisa Agni.
Sri Baginda itu menjadi termangu-mangu. Tetapi sementara itu Witantra bertanya pula, “Bagaimanakah kira-kira akibat dari pertempuran itu seandainya Panji Sempana Murti tidak bertindak tegas? Apakah Sri Baginda juga mendapat laporan bahwa Senapati yang memimpin para pengikut Pangeran Kuda Permati itu telah mengirimkan sebagian kecil dari pasukannya kembali ke padukuhan? Apakah kira-kira yang akan mereka lakukan, apabila mereka berhasil memasuki padukuhan itu?“
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Jangan bertanya kepadaku sebagaimana kalian sedang mengadili aku. Katakan, apa perintah Sri Maharaja. Aku mengerti, bahwa Sri Maharaja tidak akan mengambil jalan kekerasan. Karena itu, pasukan yang dikirim bersama kalian tidak lebih dari sekelompok pengawal dari pasukan berkuda. Tetapi agaknya kalian memang membawa perintah dari Sri Maharaja.“
Tetapi Mahisa Agni menggeleng. Katanya, “Tidak ada perintah khusus. Kamilah yang mendapat perintah untuk datang sebagai wakil Sri Maharaja. Kami harus melihat, suasana di Kediri, kemudian atas dasar keadaan itulah maka kami akan berbicara dengan Sri Baginda untuk mencari jalan keluar.”
Sri Baginda memandang Mahisa Agni dan Witantra berganti-ganti. Tiba-tiba saja ia bertanya, “Bukankah kalian telah melihat, dan sebelumnya mendengar laporan tentang Kediri? Jika demikian, apakah kalian mempunyai petunjuk yang akan dapat aku pertimbangkan?”
”Sri Baginda” berkata Mahisa Agni, “para petugas sudah mempelajari keadaan di Kediri ini dengan seksama. Kami mempunyai beberapa jalur laporan tentang keadaan di Kediri. Ternyata bahwa sulit bagi Sri Baginda untuk mengekang gejolak perasaan Pangeran Kuda Permati.“
Sri Baginda mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian bertanya, “Tuduhan itu dapat kami mengerti, karena menurut penilaian Singasari, Pangeran Kuda Permati memang menentang kekuasaan Singasari di Kediri.”
“Ya” jawab IMahisa Agni tegas, “bagaimana sikap Sri Baginda sendiri? Bahwa Sri Baginda telah menangkap Pangeran Singa Narpada, ternyata telah menumbuhkan pertanyaan di hati kami.”
Sri Baginda di Kediri tidak segera menjawab. Tetapi pertanyaan itu memang sudah diduga akan diucapkan oleh utusan Sri Maharaja di Singasari itu.
Namun kemudian Sri Baginda itu berkata, “Aku kira laporan tentang hal itu sudah sampai di Singasari. Sehingga dengan demikian Singasari dapat mengambil kesimpulan, kenapa aku menangkap Pangeran Singa Narpada.”
“Laporan tentang penangkapan itu memang sudah kami terima justru pada saat Pangeran Singa Narpada menghadapkan Pangeran Lembu Sabdata” jawab Mahisa Agni, “tetapi karena kami tidak mengerti maksud Sri Baginda maka kami merasa perlu untuk bertanya.”
Sri Baginda termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Jika kalian ingin tahu alasanku. Sebenarnya Pangeran Singa Narpada tidak bersalah dalam hubungannya dengan tertangkapnya Pangeran Lembu Sab data. Tetapi cara yang dipergunakannya untuk mendapatkan keterangan tentang persoalan yang ingin diketahuinya, selalu disertai dengan kekerasan. Ia selalu memaksa orang lain untuk mengatakan sebagaimana di kehendaki.”
“Apakah hal itu dilakukannya juga atas Pangeran Lembu Sabdata?” bertanya Mahisa Agni.
“Pangeran Singa Narpada tidak akan dapat meninggalkan cara itu” jawab Sri Baginda, “selanjutnya, jika ia tidak dibatasi geraknya, maka ia tentu akan melakukan satu tekanan yang.tidak terkendali atas Pangeran Kuda Permati.”
Mahisa Agani mengangguk-angguk, sementara itu Witantra lah yang bertanya, “Sri Baginda. Apakah usaha Sri Baginda membatasi gerak Pangeran Singa Narpada berhasil menghindari benturan kekuatan di Kediri?”
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan itu terulang kembali, dan ia pun mengalami kesulitan untuk menjawabnya. Tetapi kenyataan telah terjadi. Perang yang dahsyat itu tidak dapat dihindari. Ternyata selain Pangeran Singa Narpada, maka Panji Sempana Murti pun telah bertindak sebagaimana mungkin dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada.
“Sri Baginda” berkata Witantra, “kami dapat mengerti usaha Sri Baginda untuk menghindari korban yang berlebihan. Tetapi jika hal Itu terjadi pada kedua belah pihak. Pada saat Sri Baginda membatasi gerak Pangeran Singa Narpada, Pangeran Kuda Permati berusaha membatasi geraknya sendiri. Tetapi yang terjadi adalah tidak demikian. Ketika Sri Baginda membatasi gerak Pangeran Singa Narpada, maka justru saat itu dipergunakan sabaik-baiknya oleh Pangeran Kuda Permati untuk memperkuat diri. Mengumpulkan kebutuhan-kebutuhannya, terutama yang bersangkutan dengan gerak pasukan. Namun yang parah, kebutuhan-kebutuhan itu telah diambil dari lingkungan rakyat yang hidupnya sudah sulit. Tentu Sri Baginda pernah mendapat laporan, bahwa Pengeran Kuda Permati telah memerintahkan untuk merampas kuda yang ada di Kabuyutan terutamadi perbatasan Utara. Tentu daerah itu bukan satu-satunya daerah yang mengalami nasib buruk. Setelah ia berhasil melakukan di daerah itu, maka ia tentu akan melakukannya di daerah lain. Namun ternyata yang memangku jabatan Panglima di daerah perbatasan itu adalah Panji Sempana Murti, sehingga dengan kekuatan yang ada telah melawan tindakan sewenang-wenang, bukan dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada, tetapi dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati. Bahkan Pangeran Kuda Permati dengan terbuka telah menyatakan sikapnya terhadap Singasari. Jadi bukan sekedar khayalan Pangeran Singa Narpada dan dengan kekerasan memaksa Sabdata menyebut namanya.”
Sri Baginda mengerutkan keningnya. Tetapi sebenarnyalah bahwa Pangeran Kuda Permati memang sudah menyatakan sikapnya itu kepada rakyat yang telah dipengaruhinya.
Sementara itu, Mahisa Agni pun berkata, “Sri Baginda, selain sikap Pangeran Kuda Permati, apa pendapat Sri Baginda dengan usaha beberapa pihak yang berada di sekitar Singasari menebangi hutan di lereng-lereng bukit”
Sri Baginda mengerutkan keningnya. Dengan sungguh-sungguh ia bertanya, “Apa maksud kalian“
“Usaha untuk menghancurkan Singasari perlahan-lahan, dengan banjir, tanah longsor dan kekeringan. Baru kemudian akan datang pasukan prajurit yang tinggal saja Singasari yang sudah menjadi sangat lemah.” jawab Mahisa Agni.
Sri Baginda termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku juga pernah mendengar laporan.“
“Dan Sri Baginda tidak menaruh perhatian apalagi mengambil satu tindakan” bertanya Witantra.
“Aku ingin meyakinkan lebih dahulu” jawab Sri Baginda.
“Ternyata bahwa urutan persoalan berpusar pada Pangeran Kuda Permati. Bukan sekedar fitnah.” desak Mahisa Agni.
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya orang lain tidak perlu mengatakan kepadanya tentang hal itu. Sri Baginda di Kediri itu sudah mendapatkan banyak bahan untuk mengambil kesimpulan yang demikian. Namun ternyata bahwa ada sesuatu yang kurang dikenalnya sendiri bergejolak di dalam hatinya. Namun ketika ia berhadapan dengan utusan Sri Maharaja di Singasari, maka rasa-rasanya ia ingin menyembunyikan perasaan itu.
Namun kemudian Sri Baginda itu berkata kepada diri sendiri, “Tetapi semuanya belum terlanjur. Masih ada jalan untuk memperbaiki.“
Dengan demikian, maka Sri Baginda telah melakukan sebagaimana dikatakannya. Seorang telah mendapat tugas dengan pertanda kuasa Sri Baginda di Kediri untuk mencari, menemukan dan kemudian memanggil Sri Baginda untuk datang menghadap.
Tugas untuk menemukan Pangeran Kuda Permati bukanlah tugas yang mudah. Sri Baginda yang memang menugaskan hanya seorang, agar tidak menimbulkan banyak persoalan di sepanjang jalan itu, berharap bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, Pangeran Kuda Permati telah datang menghadap.
Jarak yang ditempuh petugas itu memang tidak terlalu jauh. Menurut dugaan, Pangeran Kuda Permati berada di luar Kota Raja di daerah perbatasan sebelah Utara, daerah yang berada dibawah pengawasan pasukan yang dipimpin oleh Panji Sempana Murti dan yang sebagian lagi berada di perbatasan sebelah Barat. Namun yang telah menunjukkan kegiatannya adalah yang berada di daerah Utara, sehingga banyak orang yang menduga, bahwa Pangeran Kuda Permati memang berada di daerah Utara.
Orang yang mendapat tugas untuk menemukan Pangeran Kuda Permati itu telah berusaha untuk menyusup ke daerah yang berada di bawah pengaruh Pangeran Kuda Permati. Orang itu sama sekali tidak merahasiakan dirinya. Kepada orang-orang yang dianggapnya mempunyai pengaruh di daerah itu, ia menunjukkan pertanda kuasanya agar orang itu tidak ragu-ragu untuk menunjukkan, dan kemudian mempertemukannya dengan Pangeran Kuda Permati.
Ternyata bahwa dengan pertanda itu, utusan Sri Baginda itu memang mendapatkan kepercayaan. Seseorang yang pernah melihat pertanda kuasa Sri Baginda itu telah melaporkan kepada Pangeran Kuda Permati, bahwa seseorang telah mencarinya dengan membawa pertanda kuasa Sri Baginda.
“Untuk apa?” bertanya Pangeran Kuda Permati.
“Aku tidak tahu Pangeran. Tetapi malam ini ia berada di banjar padukuhan. Ia telah menemui beberapa orang dengan menunjukkan pertanda itu, dengan harapan akan dapat bertemu dengan Pangeran dalam waktu singkat.” berkata orang yang melaporkannya itu.
“Apakah bukan sekedar satu jebakan“ bertanya Pangeran itu.
“Semula kami juga berpikir demikian. Tetapi setelah kami adakan mengamatan, maka tidak ada pasukan siapapun juga di sekitar daerah ini.” berkata orang yang melaporkan itu.
Pangeran Kuda Permati mengangguk-angguk. Memang tidak banyak orang yang mengetahui tentang dirinya, kecuali orang-orang yang mendapat kepercayaannya.
Namun dalam pada itu, Pangeran Kuda Permati masih tetap curiga terhadap siapapun. Karena itu, maka katanya, “Jika kau yakin akan pertanda yang dibawanya, maka bawa orang itu ke bukit Buntas. Aku akan menemuinya di sana. Sementara itu, adakan pengawasan yang ketat, bahwa orang itu tidak akan menjebakku. Kau jangan menyebut dimana aku menunggu sebelumnya.”
Dengan demikian, maka pertemuan dengan Pangeran Kuda Permati itu pun segera diatur. Pangeran Kuda Permati akan menunggu utusan yang membawa pertanda kuasa Sri Baginda itu di bukit Buntas. Bukit kecil yang tidak mempunyai kekhususan apa-apa sebagaiman bukit-bukit yang lain. Ternyata bahwa utusan Sri Baginda itu melakukan tugasnya sebagaimana dikatakannya. Seorang diri, hanya dengan seorang kepercayaan Pangeran Kuda Permati.
Di bukit Buntas, Pangeran Kuda Permati sudah menunggu. Sebagaimana orang yang mencarinya itu mempergunakan ciri-ciri dan pertanda kuasa Sri Baginda di Kediri, maka Pangeran Kuda Permati pun telah mengenakan pakaian kebesaran seorang Pengeran di Kediri.
“Selamat datang Ki Sanak” sapa Pangeran Kuda Permati ketika orang itu datang menghadap. Pangeran Kuda Permati ternyata telah menerima utusan itu juga seorang diri, di bawah sebatang pohon preh yang tumbuh di bukit buntas itu.
Utusan Sri Baginda itu pun kemudian duduk di atas rerumputan kering sebagaimana Pangeran Kuda Permati. Sementara itu, orang yang telah membawa utusan Sri Baginda itu ikut pula duduk bersama mereka.
“Apakah benar bahwa kau adalah seorang utusan dari Sri Baginda” bertanya Pangeran Kuda Permati kemudian.
”Ya Pangeran. Aku adalah utusan Sri Baginda yang mendapatkan pertanda kuasa Sri Baginda” jawab orang itu. Di acukannya tangannya yang pada jari-jarinya terdapat sebentuk cincin yang memang dikenal sebagai pertanda kuasa Sri Baginda.”
“Apakah kau pernah mengenal aku sebelumnya” bertanya Pangeran Kuda Permati.
“Sudah Pangeran. Aku sudah mengenal Pangeran dengan baik. Tetapi mungkin sekali Pangeran tidak mengenalku” jawab orang itu.
“Jadi kau yakin, bahwa yang menerimamu sekarang ini memang Pangeran Kuda Permati, dan bukannya orang lain?” bertanya Pangeran itu.
“Aku yakin Pangeran, karena aku sudah mengenal Pangeran sebagaimana aku katakan tadi jawab utusan itu.”
“Baiklah. Jika kau yakin, bahwa bernama Kuda Permati adalah aku, maka katakanlah, apakah perintah Sri Baginda, sehingga kau bersusah payah mencari aku” berkata Pangeran itu.
Utusan itu termenung sejenak. Tetapi jika ia terpilih untuk menemui Pangeran Kuda Permati, maka utusan itu-pun tentu mempunyai kelebihan dari orang kebanyakan. Karena itu, maka dengar, yakin ia memastikan bahwa yang berhadapan dengan dirinya waktu itu sebenarnyalah Pangeran Kuda Permati.
Karena itu, maka untuk selanjutnya utusan itu tidak ragu-ragu lagi. Dengan tegas ia berkata, “Pangeran. Aku mengemban perintah Sri Baginda, Pangeran Kuda Permati dipanggil oleh Sri Baginda untuk menghadap.“
“Aku?” bertanya Pangeran Kuda Permati.
“Ya. Pangeran. Ada persoalan yang ingin dikemukakan kepada Pangeran menanggapi keadaan terakhir di Kediri. Sri Baginda ingin berbicara dengan Pangeran” utusan itu menjelaskan.
“Tentu bukan kehendak Sri Baginda sendiri. Ini tentu akal licik orang-orang Singasari yang kebetulan sedang berada di Kediri. Jika aku menghadap, maka aku tentu akan ditangkap karena mereka sudah kehabisan akal untuk menangkap aku. Tanpa cara yang licik begitu maka mereka tidak akan berhasil menangkap aku.” geram Pangeran Kuda Permati.
“Sri Baginda akan bertanggung jawab atas keselamatan Pangeran.” berkata utusan itu lebih lanjut.
“Aku tidak percaya” jawab Pangeran Kuda Permati.
“Apakah kepercayaan Pangeran kepada Sri Baginda sudah larut sebagaimana kepercayaan Pangeran terhadap orang-orang Singasari. Jika demikian, maka cara Sri Baginda menghadapi Pangeran tentu akan berlainan” berkata utusan itu.
“Apakah Baginda juga mengancam aku seperti itu?” bertanya Pangeran Kuda Permati.
“Apakah ada nada mengancam” utusan itu ganti bertanya, “aku hanya seorang utusan Pangeran. Segala sesuatunya akan aku serahkan kembali kepada Sri Baginda. Sri Baginda memerintahkan aku untuk memanggil Pangeran. Jika Pangeran tidak bersedia datang, bukankah Sri Baginda tentu akan mengambil cara lain?”
Pangeran Kuda Permati menggeram. Katanya, “Jangan terlalu sombong Ki Sanak. Jika kau kebetulan menjadi seorang utusan yang membawa pertanda kuasa Sri Baginda itu bukan berarti bahwa kau adalah Sri Baginda” Pangeran Kuda Permati diam sejenak, lalu, “bersikaplah lebih baik terhadap aku. Kau tahu arti dari sikapku. Jika aku sudah berani menentang Singasari itu berarti bahwa aku tidak terikat lagi kepada siapapun juga yang berada dibawah pengaruh Singasari itu.“
“Itukah jawaban Pangeran” bertanya utusan itu, “selama ini Sri Baginda berusaha untuk menyelamatkan rakyat Kediri dari pertentangan yang dapat menelan terlalu banyak korban. Tetapi dengan sikap Panji Sempana Murti yang sudah kehilangan kesabaran, maka korban itu tidak dapat dihindari lagi. Dan sikap kehilangan kesabaran itu tentu akan segera menjalar kepada Senapati-senapati yang lain, selain Pangeran Singa Narpada yang dibatasi geraknya sekarang ini. Karena itulah, maka Sri Baginda memanggil Pangeran untuk berbicara langsung. Kecuali jika Pangeran memang sudah tidak mempunyai kepercayaan sama sekali kepada Sri Baginda.”
“Kau memang orang gila” geram Pangeran Kuda Permati, “kata-katamu sangat menyakitkan hati. Kau tidak mencerminkan sifat dan watak orang Kediri. Tetapi kau pun telah menjadi budak orang-orang Singasari.”
“Aku adalah utusan Sri Baginda yang berkuasa di Kediri. Pangeran, sekali lagi aku menyampaikan perintah Sri Baginda. Pangeran dipanggil menghadap untuk membicarakan perkembangan keadaan terakhir di Kediri, sedangkan keselamatan Pangeran akan dipertanggung jawabkan oleh Sri Baginda. Itulah keseluruhan perintah Sri Baginda. Aku ingin mendengar jawaban Pangeran yang akan aku sampaikan kepada Sri Baginda.”
“Gila” bentak Pangeran Kuda Permati, “jika kau tidak memakai pertanda kuasa Sri Baginda, maka aku sudah mencekik lehermu sampai putus. Sikap dan kata-katamu sangat menyakitkan hati. Atau kau memang memancing suasana agar aku menolak memenuhi perintah itu”
“Tidak” jawab utusan itu, “suasana ini terbentuk karena sikap Pangeran. Aku sudah berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya.”
“Diam” potong Pangeran Kuda Permati, “aku muak mendengar kata-katamu.“
“Terserahlah Pangeran, tetapi bagaimana jawab Pangeran” bertanya utusan itu.
Hampir saja Pangeran Kuda Permati kehilangan kesabaran. Namun ia masih menyadari, bahwa ia sedang berhadapan dengan utusan Sri Baginda di Kediri.
Dengan nada keras Pangeran Kuda Permati berkata, “Pergilah. Kembalilah ke Kediri.”
“Dan apa yang harus aku sampaikan kepada Sri Baginda sebagai jawaban perintah Sri Baginda” bertanya orang itu.
“Aku akan menghadap Sri Baginda atas perintah Sri Baginda, bukan karena berhasil menakut-nakuti aku” jawab Pangeran Kuda Permati sambil menggeretakkan giginya.
Utusan itu tidak peduli, apakah yang mendorong Pangeran Kuda Permati menghadap. Tetapi yang penting baginya, bagaimana ia akan menyampaikannya kepada Sri Baginda.
“Baiklah Pangeran” berkata utusan itu, “aku akan kembali ke Kediri dan menyampaikan kepada Sri Baginda bahwa Pangeran akan menghadap. Tetapi kapan saat yang akan Pangeran pergunakan untuk menghadap”
“Sekehendakku. Apa pedulimu?” jawab Pangeran itu.
Wajah utusan itulah yang kemudian menjadi merah. Jawaban itu adalah jawaban yang tidak diduganya sama sekali. Namun karena itu, maka jawabnya, “Baiklah. Tetapi jika karena kami tidak mengetahui saat kedatangan Pangeran, sehingga perjalanan Pangeran terganggu, bukanlah tanggung jawab kami. Tanggung jawab Sri Baginda berlaku sejak Pangeran berada di istana dan sampai saatnya Pangeran keluar dari pintu gerbang.“
“Persetan” Pangeran Kuda Permati membentak, “saat aku menghadap akan aku beritahukan kepada Sri Baginda. Tidak kepadamu.”
Utusan itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian maka aku mohon diri. Aku akan menyampaikan segala jawaban Pangeran kepada Sri Baginda.”
Pangeran Kuda Permati sama sekali tidak menjawab. Dibiarkannya utusan itu bangkit dan meninggalkan tempatnya kembali ke Kota Raja.
Demikian orang itu sampai di Kota Raja, maka ia pun langsung menghadap Sri Baginda berdasarkan pertanda kuasanya. Dilaporkannya pertemuannya dengan Pengeran Kuda Permati, serta kesediannya untuk menghadap.
“Pangeran akan memberitahukan, kapan Pangeran itu akan menghadap” berkata utusan itu.
Sri Baginda mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menunggu. Namun demi pertanggungan jawabku atas Pangeran Kuda Permati, maka pada saatnya ia akan menghadap, maka aku akan mengirimkan beberapa orang yang akan mengawalnya memasuki Kota Raja dan kemudian keluar lagi dari Kota Raja.”
Utusan itu tidak lagi menghiraukannya meskipun nampaknya ia duduk sambil menundukkan kepalanya. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Terserah, apa yang akan terjadi dengan Pangeran yang sombong itu.”
Setelah mengembalikan pertanda kuasa Sri Baginda, maka utusan itupun diperkenankan untuk meninggalkan Sri Baginda yang kemudian dengan para pemimpin Kediri, menentukan langkah-langkah yang akan diambil jika Pangeran Kuda Permati benar-benar akan menghadap.
Seperti yang dikatakan oleh Sri Baginda, maka para pemimpin di Kediri itu sependapat, bahwa kedatangan Pangeran Kuda Permati harus di sambut di luar batas Kota Raja, sehingga dengan demikian keselamatannya dapat dipertanggung-jawabkan pada saat Pangeran Kuda Permati memasuki Kota Raja.
Seperti yang dikatakannya, maka sebelum menghadap Pangeran Kuda Permati telah mengirimkan dua orang petugasnya untuk lebih dahulu menghadap Sri Baginda, menyampaikan maksudnya serta saat-saat yang sudah ditentukan.
“Dihari terakhir pekan ini Pangeran Kuda Permati akan menghadap” berkata utusan itu.
“Baiklah” jawab Sri Baginda, “aku akan mengirimkan sekelompok prajurit untuk menjemputnya di perbatasan Barat. Mungkin agak jauh bagi Pangeran Kuda Permati, tetapi agaknya akan lebih aman baginya, karena jika ia berada di daerah pengawasan Panji Sempana Murti, mungkin akan dapat menimbulkan keadaan yang kurang menguntungkan.”
“Segalanya terserah kepada Sri Baginda” jawab utusan itu.
“Sampaikan kepada Pangeran Kuda Permati, bahwa sejak di perbatasan itu sampai keperbatasan itu pula keselamatannya aku pertanggung jawabkan.” berkata Sri Baginda.
“Hamba Sri Baginda. Selanjutnya akan hamba sampaikan kepada Pangeran Kuda Permati.” jawab utusan itu.
Demikianlah, maka utusan itu pun kemudian mohon diri untuk menyampaikan pesan Sri Baginda dan seterusnya mengatur rencana Pangeran Kuda Permati untuk menghadap Sri Baginda di Kediri.
Pada saat yang ditentukan, maka segalanya berjalan sebagaimana dikehendaki. Baik oleh Sri Baginda, maupun oleh Pangeran Kuda Permati dalam pertemuan itu.
Di perbatasan, sekelompok prajurit terpilih memang sudah menunggu, ketika Pangeran Kuda Permati yang dibayangi oleh pasukannya mendekati perbatasan.
Selanjutnya, dengan sisa kepercayaan kepada Sri Baginda di Kediri, maka Pangeran Kuda Permati telah mempercayakan dirinya kepada sekelompok prajurit yang kemudian membawanya ke istana dengan satu perintah kepada para pengikutnya. Jika malam ini aku belum keluar dari perbatasan, maka berarti bahwa aku telah dijebak. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. Nampaknya pasukan Kediri di daerah Barat tidak segarang pasukan Panji Sempana Murti. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus mencegah pembalasan jika aku tidak keluar dari kota malam ini. Apa saja dapat kalian lakukan untuk membalas dendam. Apa saja dapat kalian lakukan. Bahkan sampai yang paling kasar sekalipun.“
Perwira yang diserahi untuk memimpin pasukan selama Pangeran Kuda Permati meninggalkan mereka itu pun mengangguk. Dengan nada dalam ia menjawab, “Baiklah Pangeran. Aku akan melakukan segala perintah Pangeran.
“Ingat, Sri Baginda telah dibayangi oleh orang-orang Singasari. Karena itu, semua kemungkinan akan dapat terjadi.” berkata Pangeran Kuda Permati kemudian.
Perwira itu mengangguk pula.
Demikianlah maka Pangeran Kuda Permati seorang diri bersama para prajurit dari Kediri kemudian memasuki perbatasan Kota Raja menuju ke istana untuk menghadap Sri Baginda sebagaimana sudah direncanakan.
Kehadiran Pangeran Kuda Permati di Kota Raja memang menggemparkan. Beberapa orang yang mengenalnya dengan baik terkejut melihat kehadirannya, karena mereka sudah mengetahui apa yang dilakukannya oleh Pangeran itu selama ini.
Tetapi yang mengherankan bagi mereka, justru Pangeran Kuda Permati telah dikawal oleh beberapa orang prajurit yang lengkap dengan tanda-tanda kesatuan mereka dan tunggul kerajaan.
“Apa yang telah terjadi dengan Pangeran itu” berkata beberapa orang yang mengenalnya, “apakah Sri Baginda akan berbicara dengan Pangeran Kuda Permati dan memberinya pengampunan atau justru akan memenuhi segala macam tuntutannya? Bahkan mungkin Sri Baginda akan menyatakan diri berpihak kepada Pangeran Kuda Permati justru pada saat beberapa orang Singasari ada di Kota Raya?”
“Jika demikian, maka akan benar-benar terjadi pertumpahan darah. Perang yang lebih besar tidak akan dapat dihindari lagi.” sahut yang lain.
“Perang di antara saudara sendiri selamanya akan berakibat lebih parah. Kita akan berada dalam satu lingkungan yang sama antara kawan dan lawan. Kita tidak segera mengenal apakah orang yang makan bersama kita hari ini besok tidak akan membunuh kita atau orang yang sekarang kita kejar-kejar, justru sebenarnya orang yang harus kita selamatkan” berkata orang yang pertama.
Namun dalam pada itu, tidak seorang pun yang mengusik Pangeran Kuda Permati yang dikawal oleh sekelompok prajurit pilihan dengan panji-panji pasukan dan tunggul kebesaran.
Sejenak kemudian, maka Pangeran Kuda Permati itu-pun telah memasuki lingkungan istana Kediri. Dengan dada tengadah Pangeran Kuda Permati turun dari kudanya dan berjalan diiringi oleh para prajurit menuju ke paseban dalam.
Ternyata Sri Baginda, memang sudah menunggu. Sejenak kemudian, maka Pangeran Kuda Permati itu telah duduk dihadapan Sri Baginda dengan kepala tunduk. Namun terasa bahwa sikap Pangeran Kuda Permati agak berbeda dengan sikap orang-orang lain yang menghadap pula pada saat itu. Bahkan di antara mereka terdapat dua orang utusan dari Singasari. Meskipun Pangeran Kuda Permati juga menunduk hormat, tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang membuatnya merasa lebih penting dari orang-orang lain yang berada di ruang itu.
Setelah Sri Baginda menanyakan keselamatannya sebagai suatu ucapan yang biasa dalam satu pertemuan yang jarang terjadi, maka Sri Baginda pun telah bertanya, “Kau sudah menerima pesanku?”
“Ya Sri Baginda. Jika hamba tidak menerima pesan Sri Baginda, maka hamba tidak akan sampai di tempat ini.”
Sri Baginda mengerutkan keningnya. Sementara beberapa orang telah berpaling ke arahnya meskipun hanya sekilas.
“Baiklah Kuda Permati” berkata Sri Baginda kemudian, “aku memang menginginkan kau hadir dalam pertemuan ini. Aku ingin berbicara dengan beberapa orang pemimpin Kediri untuk mencari jalan agar peristiwa yang pahit ini tidak berlarut-larut.“
“Adalah menjadi harapan hamba Sri Baginda, bahwa Kediri akan dapat menjadi daerah yang tenang dan damai. “jawab Pangeran Kuda Permati.
“Keinginan kita agaknya memang sama, seperti keinginan semua orang yang hadir di sini sekarang” berkata Sri Baginda, lalu, “karena itu, maka marilah kita mencari jalan, agar masa depan yang kita hadapi akan menjamin ketenangan dan kedamaian itu.“
“Hamba akan mendengarkan titah Baginda untuk mencapai hal itu” sahut Pangeran Kuda Permati.
“Kuda Permati” berkata Sri Baginda pula, “dengan prihatin aku telah mendengar laporan, bahwa di perbatasan Utara telah terjadi pertempuran yang merenggut banyak jiwa orang-orang Kediri dimanapun ia berpihak.“
“Benar Sri Baginda. Hamba memang mengalami perlakuan yang licik dari Panji Sempana Murti yang telah menyergap dan kemudian membantai sekelompok orang yang berpendirian sebagaimana pendirian hamba. Orang-orang itu tidak dapat dipaksa oleh Panji Sempana Murti untuk memilih sikap yang lain, sehingga akhirnya mereka harus menebus dengan nyawanya. Memang satu peristiwa yang sangat menyedihkan.” desis Pangeran Kuda Permati.
Tetapi Sri Baginda menyahut, “Jangan seperti kanak-kanak Kuda Permati. Jangan kau sangka bahwa laporan tentang peristiwa itu tidak sampai kepadaku.“
“Aku tidak akan mempersoalkan laporan yang sampai kepada Sri Baginda. Tetapi hamba mengatakan, yang tersirat di hati hamba. Diterima atau tidak diterima.“
“Jangan terlalu kasar Kuda Permati” potong Sri Baginda.
“Ampun Sri Baginda. Sebenarnyalah hamba kurang senang dengan hadirnya orang-orang Singasari di tempat ini. Mereka sama sekali tidak mempunyai kepentingan apapun dengan pembicaraan di antara kita.”
“Aku menghendaki mereka hadir. Bahkan kau tidak akan dapat menolak, siapapun yang aku undang sekarang ini. Meskipun seandainya aku mengundang utusan dari negeri seberang sekalipun” jawab Sri Baginda.
Wajah Pangeran Kuda Permati menjadi merah sekilas. Namun dengan susah payah ia berusaha penahan diri. Meskipun demikian, ia masih juga berkata, “Itukah kepentingan Sri Baginda memanggil hamba?”
Terasa jantung Sri Baginda berdenyut semakin cepat. Dengan suara yang mulai bergetar Sri Baginda itu menjawab, “Kau adalah hamba Kediri. Kau adalah hambaku. Kau harus mengahadap jika aku memanggilmu untuk kepentingan apa saja.”
Rasa-rasanya Pengeran Kuda Permati tidak dapat menahan diri lagi. Ia sudah bertekad untuk mengadakan perlawanan. Apapun yang akan dihadapinya ia sama sekali tidak akan gentar. Juga seandainya Sri Baginda itu mengambil keputusan yang akan dapat menjerat lehernya.
Meskipun demikian, Pangeran Kuda Permati itu masih juga berusaha mengekang diri. Katanya, “Baiklah. Sri Baginda dapat berbuat apa saja terhadap hambanya. Sekarang, hamba sudah menghadap.“
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Tetapi suasana telah menjadi hangat. Baik Sri Baginda, maupun Pengeran Kuda Permati sudah tidak lagi dapat berbicara dengan hati yang bening.
Namun demikian, adalah di luar dugaan, bahwa justru salah seorang dari utusan dari Singasari itu berkata, “Ampun Sri Baginda. Bagi Kediri, maka yang paling baik adalah ketenangan dan ketenteraman seperti yang aku dengar pada permulaan dari pembicaraan ini. Karena itu, apakah pembicaraan ini dapat dikembalikan kepada satu keinginan semula. Kediri sedang mencari jalan untuk menemukan satu ketenangan tanpa campur tangan pihak manapun juga. Karena segala pihak masih mempunyai sisa-sisa kepercayaan yang satu terhadap yang lain. Sisa-sisa itu akan dapat dikembangkan dan kemudian menemukan satu rumusan yang paling mengikat.”
Sri Baginda di Kediri menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan berusaha untuk berbuat demikian, selama Pangeran Kuda Permatijuga berbuat demikian.”
“Tentu tidak ada keberatannya. Bukankah kita semua menghendaki ketenangan dan ketenteraman?” Mahisa Agni menambahkan.
Sri Baginda mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Pangeran Kuda Permati masih saja dicengkam oleh ketegangan. Meskipun demikian, iapun berkata, “Hamba akan menyesuaikan diri Sri Baginda.”
Sri Baginda merenung sejenak. Ketika ia memandang orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, terasa, bahwa ketegangan memang sedang mencekam.
Karena itu, dengan susah payah, Sri Baginda yang merasa dirinya bertanggung jawab atas masalah yang lebih luas dari sekedar mengikuti arus perasaannya itu pun kemudian berkata, “Kuda Permati. Jika pada saat ini aku memanggilmu, maka aku ingin mendapatkan satu jalan yang paling baik bagi semua untuk mendapatkan satu suasana kehidupan yang tenang dan damai di Kediri.”
Pangeran Kuda Permati mengerutkan keningnya. Ketika terpandang olehnya orang-orang Singasari yang ada ruang itu, maka terasa jantungnya bagaikan membara.
Karena itu, maka katanya, “Sri Baginda, menurut pendapat hamba, maka satu-satunya cara untuk membuat Kediri tenang dan tenteram adalah mengembalikan kewibawaan Kediri sebagaimana sebelum Tumapel menyombongkan dirinya, mengambil dengan kekerasan kekuasaan Kediri dan bahkan kemudian memerintah Kediri dengan semena-mena.”
Jawaban itu memang sudah diduga. Baik oleh Sri Baginda maupun oleh Mahisa Agni dan Witantra. Karena itu, maka mereka sama sekali tidak terkejut.
Dalam pada itu Sri Baginda lah yang menjawab, “Kuda Permati. Dalam hati kecil setiap orang Kediri memang tersimpan satu kenangan atas kebesaran Kediri pada masa lampau. Tetapi yang nampak itu bukannya yang harus kita genggam sebagai satu keharusan, seolah-olah tidak ada cara lain untuk menggalang ketenangan dan ketenteraman. Jika kita sekarang merupakan satu keluarga dengan Singasari, maka kita berharap bahwa dengan demikian akan tergalang satu kebesaran yang melampaui Kediri, yang meliputi daerah yang jauh lebih luas, sehingga satunya Singasari akan lebih besar dan lebih menyeluruh dari satunya Kediri dimasa lampau.”
“Itu adalan pertanda kelemahan hati Sri Baginda” berkata Kuda Permati, “bagi kami, Kediri adalah puncak dari segala kebesaran.”
“Jika jalan pikiran itu yang kita tanamkan, maka setiap tempat yang menyebut namanya, akan berbuat seperti itu, sehingga yang satu itu akan pecah berkeping-keping. Beberapa Pakuwon akan dapat berbuat serupa dan dengan demikian, apakah yang akan terjadi? Ketenangan dan ketenteraman?” sahut Sri Baginda.
“Kebesaran Kediri akan meliputi” berkata Kuda Permati kemudian, “karena itu Singasari harus lebur. Itu sudah menjadi tekad dan keyakinan hamba. Hamba akan berjuang untuk mewujudkannya. Kemudian, hamba sama sekali tidak ingin untuk mendapatkan kedudukan apapun juga. Hamba akan mempersembahkan kebesaran Kediri kepada Sri Baginda”
“Jadi kau tidak mau mendengarkan kata-kataku”? bertanya Sri Baginda.
Pangeran Kuda Permati termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Sri Baginda, kemudian ia berpaling kepada dua orang utusan Singasari yang ada. di ruangan itu.
Namun demikian Pangeran Kuda Permati itu masih saja menjawab, “Sri Baginda. Sekali lagi hamba tegaskan, bahwa hamba akan mempersembahkan kebesaran Kediri kepada Sri Baginda.”
“Kuda Permati” jawab Sri Baginda, “aku tidak menginginkan pertumpahan darah ini berkepanjangan. Bantai membantai tanpa peri-kemanusiaan. Sementara itu kebesaran Kediri tidak akan ada bedanya dengan kebesaran Singasari karena wilayah Kediri yang besar itu juga wilayah Singasari sekarang. Jika sekarang orang Kediri merasa di kuasai oleh orang Singasari, maka kelak perasaan serupa akan timbul pula pada orang-orang Singasari, atau katakanlah orang-orang Tumapel.”
Wajah Pangeran Kuda Permati menjadi tegang. Perasaannya bergejolak penuh kebencian. Dengan suara bergetar-ia berkata, “Sri Baginda, apakah Sri Baginda bersabda atas dasar hati nurani, atau karena di sini ada dua orang utusan dari Singasari yang mungkin dapat menakut-nakuti Sri Baginda.”
Tetapi akibat dari kata-kata itu ternyata sangat tajam menusuk perasaan Sri Baginda. Dengan wajah yang menyala Sri Baginda berkata, “Kuda Permati. Kau sangka aku seorang pengecut yang tidak berarti apa-apa? Kau sangka aku tidak mempunyai keberanian untuk menentukan sikap? Jika aku tidak memikirkan nasib rakyatnya yang terpecah dan akan saling membunuh, aku tidak akan memanggilmu. Aku tidak akan berbicara apapun dengan seorang pemberontak seperti kau? Jika aku sekarang bersikap lunak terhadapmu, adalah karena aku masih berusaha untuk meyakinkanmu bahwa kita mungkin akan dapat menemukan jalan yang lebih baik dari peperangan.”
Namun ternyata Pangeran Kuda Permati pun sudah dikungkung oleh satu sikap vang tidak dapat dilepaskannya. Maka jawabnya, “Hamba mohon maaf Sri Baginda. Bukan maksud hamba merendahkan Sri Baginda. Bagaimanapun juga Sri Baginda adalah seorang kesatria terbesar di Kediri. Tetapi sikap Sri Baginda yang kadang-kadang menumbuhkan pernyataan dihati hamba. Selama ini hamba sudah berbesar hati, bahwa Sri Baginda telah menunjukkan sikap yang lebih tegas, dengan di batasinya gerak kakangmas Singa Narpada. Bahwa Sri Baginda tidak bertindak kasar terhadap gerakan hamba dan bahwa Sri Baginda membiarkan para prajurit tetap di tempatnya masing-masing. Tetapi dengan kehadiran kedua orang utusan dari Singasari, sikap Baginda telah berubah.“
“Kuda Permati” bentak Sri Baginda, “jika aku membatasi gerak Pangeran Singa Narpada itu karena aku memikirkan kemungkinan korban yang akan jatuh tanpa hitungan. Tetapi ternyata tanpa Pangeran Singa Narpada, peristiwa yang aku cemaskan itu telah terjadi. Aku tidak dapat menangkap Panji Sempana Murti karena sesudah Panji Sempana Murti, tentu ada Senapati lain yang bertindak sebagaimana dilakukannya, karena sebenarnyalah bahwa mereka justru telah bertindak sebagaimana seorang prajurit.“
Wajah Pangeran Kuda Permati lah yang kemudian menjadi semakin tegang. Namun akhirnya ia berkata, “Sri Baginda. Hamba mohon ampun. Hamba mohon Sri Baginda memberi kesempatan kepada hamba untuk menegakkan kembali kebesaran Kediri dan kemudian mempersembahkannya kepada Sri Baginda.“
“Aku tidak memerlukannya” jawab Sri Baginda.
“Jika demikian, maka hambalah yang akan memerintah di Kediri. Hamba adalah juga keturunan ayahanda Sri Baginda di Kediri sebelum Sri Baginda sendiri. Jika Sri Baginda, saudara hamba yang. berhak atas tahta berkeberatan untuk memegang kendali pemerintahan, maka hamba, saudara Sri Baginda, berhak juga untuk memerintah atas nama ayahanda.” jawab Pangeran Kuda Permati.
Persoalannya sudah menjadi jelas bagi Sri Baginda dan bagi orang-orang yang hadir. Tidak ada lagi yang dapat dibicarakan. Sehingga karena itu, maka Sri Bagindapun berkata, “Pembicaraan kita tertutup sampai di sini. Aku memenuhi janjiku. Aku bertanggung jawab mengembalikan kepada pasukanmu. Tetapi sesudah nyawamu akan terancam oleh sikapku yang akan lebih tegas daripada sikapku sebelumnya. Aku mengira bahwa kau dapat mengerti. Tetapi ternyata kau justru memanfaatkan kelemahanku bahwa aku tidak sampai hati melihat darah terlalu banyak mengalir, untuk memperoleh pengaruhmu.“
“Terima kasih Sri Baginda” jawab Pangeran Kuda Permati” pada saatnya seluruh Kediri akan bangkit.“
“Kau akan kecewa” jawab Sri Baginda, “aku akan segera memerintahkan, melepaskan Pangeran Singa Narpada dari keterbtasan geraknya. Ia akan bergabung dengan para Senapati di perbatasan yang sudah siap mengahadapimu, terutama Panji Sempana Murti yang sudah menghancurkan sebagian dari pasukanmu.“
Wajah Pangeran Kuda Permati semakin menegang. Namun kemudian jawabnya, “Pangeran Singa Narpada tidak lagi berbahaya bagi hamba. Ia tidak akan banyak berarti. Seorang yang sudah dikecewakan seperti Pangeran Singa Narpada, akan bertindak jauh lebih buruk dari yang sebenarnya dapat dilakukan? Jika ia dilepaskan, maka yang pertama-tama dilakukan adalah mengutuk Sri Baginda sendiri dihadapan banyak orang dan pasukannya.“
Tubuh Sri Baginda menjadi gemetar menahan ke marahan yang bagaikan meledakkan dadanya. Dengan lantang maka iapun kemudian berkata, “Bawa orang itu pergi. Kembalikan keperbatasan sebagaimana aku janjikan, karena aku bukan hendak menjebaknya dengan licik. Aku ingin menangkapnya dengan cara seorang laki-laki yang berhadapan di medan perang.”
Pangeran Kuda Permati tidak menjawab. Seperti pada saat datang, ia pun kemudian dikawal oleh sekelompok prajurit, dikembalikan kepada pasukannya yang membayanginya ketika ia berangkat menghadap Sri Baginda.
Ternyata, setelah Sri Baginda bertemu langsung dengan Pangeran Kuda Permati sama sekali tidak dapat diajak untuk berbicara, mencari kemungkinan untuk mengurangi korban yang terbunuh tanpa arti.
Sebenarnya Sri Baginda sendiri memaklumi keinginan orang-orang Kediri untuk mengembalikan kebesaran Kediri sebagaimana sebelum Tumapel merebut kekuasaan dan kebesaran Kediri. Tetapi Sri Baginda di Kediri itupun tidak akan dapat membiarkan rakyatnya terbantai dengan sewenang-wenang.
Karena itu, sepeninggal Pangeran Kuda Permati, maka Sri Bagindapun segera memerintahkan untuk memanggil Pangeran Singa Narpada di tempatnya untuk batasi geraknya.
Ketika Pangeran Singa Narpada memasuki ruangan itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia melihat dua orang pemimpin tinggi dari Singasari hadir di tempat itu.
Ketika Pangeran Singa Narpada sudah duduk di antara mereka yang berada diruangan itu, maka Sri Baginda pun mulai menguraikan keadaan yang berkembang di Kediri. Dengan nada dalam Sri Baginda berkata, “Singa Narpada, aku membatasi gerakmu karena aku mengerti, bahwa kau adalah orang yang tidak dapat menahan perasaanmu. Kau dapat bertindak dengan keras dan kadang-kadang meloncat dari batas kewajaran. Namun ternyata bahwa keadaan tidak mereda meskipun kau tidak ikut terlibat didalam pertentangan ini.”
Pangeran Singa Narpada menundukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Sekarang, apa yang tuanku kehendaki?“
“Di perbatasan Utara, ternyata Panji Sempana Murti telah bertindak dengan tegas. Pertumpahan darah tidak dapat dicegah lagi. Sementara itu, aku sudah memanggil Pangeran Kuda Permati.. untuk berbicara mencari jalan penyelesaian yang paling baik.” berkata Sri Baginda.
“Jadi, Sri Baginda sudah memanggil adimas Kuda Permati?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Ya” Jawab Sri Baginda.
“Baginda” wajah Pangeran Singa Narpada menjadi merah, “jadi Sri Baginda sudah merendahkan diri, berbicara dengan seorang pemimpin pemberontak yang telah menodai nama baik Sri Baginda selama ini?“
“Singa Narpada” jawab Sri Baginda, “aku memanggil dan berbicara dengan Kuda Permati karena aku ingin mencari., pemecahan masalah yang kita hadapi dengan kemungkinan yang lebih baik daripada saling berbunuhan. Aku memanggil Kuda Permati untuk memberikan penjelasan kepadanya, bahwa permusuhan selama ini tidak akan ada artinya. Aku berusaha untuk menjelaskan kepadanya, hubungan antara Kediri dan Singasari.
“Apa katanya?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Kuda Permati tidak mau tahu” jawab Sri Baginda.
“Hamba sudah menduga. Sebenarnya Sri Baginda haras sudah mengetahui sikap itu. Atas dasar sikap itulah hamba ingin bertindak. Tetapi pada saat hamba membawa adimas Lembu Sabdata yang akan dapat memberikan beberapa keterangan tentang adimas Kuda Permati, maka hamba sudah dijerat dalam tahanan” geram Pangeran Singa Narpada.
Sri Baginda termangu-mangu sejenak. Terngiang di-telinganya kata-kata Pangeran Kuda Permati, bahwa yang pertama-tama dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada adalah mengutuknya.
Namun dalam pada itu, Sri Baginda pun bertanya kepada Pangeran Singa Narpada, “Kau tahu, kenapa aku membatasi gerakmu selama ini. Sekarang, aku minta pertimbanganmu, apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku sudah berusaha untuk mencari penyelesaian dengan baik untuk menghindari pertumpahan darah. Tetapi aku tidak berhasil. Kuda Permati tidak mau mendengarkan kata-kataku.“
“Sri Baginda bersikap aneh” jawab Pangeran Singa Narpada, “Sri Baginda tidak pernah bertanya kepada hamba, apakah hamba sependapat untuk menyelesaikan persoalan ini dengan menghindari pertumpahan darah. Tetapi yang Sri Baginda lakukan terhadap hamba adalah dengan tiba-tiba saja menangkap dan menahan hamba, meskipun istilah yang Sri Baginda pergunakan adalah membatasi gerak hamba. Tetapi tidak demikian terhadap Kuda Permati. Kuda Permati datang sebagai seorang pahlawan yang sempat berbicara dengan Sri Baginda. Sesudah itu, Kuda Permati dipersilahkan untuk kembali ke tempat persembunyiannya, dengan aman dibawah pengawalan pasukan Kediri, sehingga kadang-kadang hamba berpikir, apakah dengan demikian sebaiknya hamba bertindak atas nama hamba sendiri menurut kesenangan hamba, karena hambapun merasa mempunyai kekuatan sebagaimana Kuda Permati. Tetapi ternyata hamba tidak sampai hati berbuat demikian.“
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar