Senin, 14 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 003-03

*HIJAUNYA LEMBAH JILID : 003-03*

“Ya. Nawamula. Bukankah kau pernah mendengar nama itu? Tentu Empu Nawamula adalah Empu yang pernah membual keris untuk ayah. Meskipun keris itu kemudian disampaikan oleh ayah kepada sahabatnya yang memesannya. Aku sekarang ingat dengan gamblang. Akupun ingat pula wajah Empu yang sejuk itu”

“Tetapi bagaimana dengan kita? Jika Empu itu mengenali kita?” desis Mahisa Pukat.

Sebelum keduanya menemukan pemecahan, terdengar langkah seseorang mendekat. Ternyata cantrik yang semula mempersilahkannya itu datang pula kepada keduanya sambil berkata, “Ki Sanak. Empu mempersilahkan kalian datang ke sanggar. Empu sedang menyiapkan sebilah keris. Baru sesaat nanti. Empu dapat meninggalkan pekerjaannya”

Keduanya ragu-ragu. Namun cantrik itu berkata pula, “Marilah. Aku sudah menyampaikan segalanya kepada Empu”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat membantah lagi. Keduanya pun kemudian mengikuti cantrik itu menuju ke bagian belakang padepokan.

Ketika mereka mendekati sebuah perapian yang terbuka, muka cantrik isu berkata, “Itu adalah sanggar khusus Empu Nawamula. Bukan sanggar untuk olah kanuragan. tetapi sanggar khusus untuk melakukan pekerjaannya, membuat keris.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun keduanya tidak menjawab.

“Silahkan duduk Ki Sanak,” cantrik itu mempersilahkan, “sebentar lagi. Empu Nawamula akan menemui kalian berdua”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun dipersilahkan duduk di atas sehelai tikar yang dibentangkan di serambi sebuah rumah kecil di hadapan sanggar Empu Nawamula.

Ketika cantrik itu kemudian meninggalkan mereka, maka Mahisa Murti itupun kemudian berkata, “Benar. Empu itulah yang pernah kita kenal”

“Ya” Sahut Mahisa Pukat, “aku tidak lupa lagi”

“Apa boleh buat. Bukankah kita tidak berbuat apa-apa? Seandainya pada suatu saat Empu itu bertemu dengan ayah dan mengatakan kehadiran kita di padepokan ini, justru sekaligus memberikan kabar keselamatan kami kepada ayah” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia pun tidak berkeberatan atas pengenalan mereka terhadap orang yang untuk sementara memimpin padepokan yang sejuk itu.

Beberapa saat mereka menunggu. Namun akhirnya Empu Nawamula itu meletakkan alat-alatnya. Kemudian menyeka keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Baru kemudian Empu itu berpaling ke arah kedua orang anak-anak muda yang duduk di serambi menunggunya.

Empu Nawamula mengerutkan keningnya. Kemudian iapun melangkah meninggalkan perapiannya mendekati kedua orang anak yang sedang menunggunya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun serentak berdiri. Sambil membungkuk hormat keduanya beringsut ke samping.

“Silahkan. Silahkan duduk anak-anak muda” Empu Nawamula mempersilahkan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun termangu-mangu. Namun ketika Empu Nawamula pun duduk pula di atas tikar itu, maka keduanya pun telah duduk kembali.

Sejenak Empu Nawamula mengamati kedua orang anak muda itu. Kemudian katanya, “Aku sudah tua ngger. Tetapi, rasa rasanya aku pernah mengenal kalian berdua. Tetapi mungkin aku keliru karena aku sudah hampir menjadi pikun”

“Mungkin Empu benar” jawab Mahisa Murti, “kami berdua yang sedang mengembara, tidak menduga, bahwa kami akan berjumpa dengan Empu di sini”

“Jadi pengenalanku benar? Tetapi sebut, siapa namamu berdua?” bertanya Empu itu.

“Aku Mahisa Murti Empu dan ini saudaraku Mahisa Pukat” Jawab Manisa Murti.

Empu itu mengerutkan keningnya, ia mencoba mengingat nama itu Namun Mahisa Pukat lah yang kemudian menjelaskan, “Kami adalah anak-anak laki-laki dari ayah. Mahendra”

“O” Empu itu mengangguk-angguk, “jadi kalian anak Muhendra. Aku mengenalnya dengan baik. Bahkan sudah seperti saudara sendiri”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Ternyata Empu itu memang mengenal ayah mereka, dan ia pun pernah melihat keduanya pula.

Dalam pada itu. Empu itu pun berkata, “Aku ingat sekarang. Aku ingat kalian berdua memang pernah mengikuti ayah kalian pergi ke gubugku. Tetapi tidak di padepokan ini”

“Ya Empu” jawab Mahisa Murti, “karena itu. Kamipun tidak menyangka, bahwa kami menjumpai Empu di padepokan ini”

“Adalah kebetulan sekali” jawab Empu Nawamula, “tetapi kemana sebenarnya kalian akan pergi?”

“Kami sedang mengembara Empu. Kami tidak mempunyai tujuan tertentu. Kami hanya ingin melengkapi pengalaman kami menginjak masa dewasa kami” jawab Mahisa Murti.

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Ketika seorang cantrik menyuguhkan minuman panas dan beberapa potong makanan, maka Empu itu pun telah mempersilahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk mencicipinya.

Sejenak kemudian pembicaraan mereka pun telah berkembang. Empu Nawamula telah menanyakan keselamatan seluruh keluarga Mahendra. Kemudian menanyakan beberapa hal tentang perjalanan kedua orang anak muda itu.

“Kalian telah membekali hidup kalian kelak dengan pengalaman yang akan sangat berarti” berkata Empu Nawamula, “ternyata Mahendra mempunyai wawasan yang luas atas masa depan anak-anaknya”

Kedua anak muda itu hanya menundukkan kepalanya. Sementara itu Empu Nawamula berkata, “Anakmas berdua. Sebaiknya kalian berdua tinggal di padepokan ini untuk satu dua pekan. Selama ini kalian telah menempuh jarak yang panjang. Sepekan dua pekan akan dapat kalian pergunakan untuk sekedar beristirahat. Sementara itu. kalian akan dapat menjadi kawan berbincang di sini di samping para cantrik”

Adalah kebetulan sekali bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang memang ingin beristirahat barang satu dua hari setelah menempuh perjalanan yang panjang. Sementara itu Empu Nawamula telah menawarkan agar mereka berada di padepokan itu barang satu dua pekan.

Karena itu. maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menolak. Bahkan dengan terus-terang Mahisa Murti berkata, “Empu. sebenarnyalah kami berdua memang ingin menyatakan keinginan kami untuk dapat berada di padepokan ini. Seandainya yang memimpin padepokan ini bukan Empu, kami memang ingin mohon untuk tinggal barang satu dua hari. Tetapi adalah kebetulan sekali, bahwa Empu yang berada di padepokan ini”

“Ya. Meskipun hanya untuk sementara. Pada saatnya aku harus menyerahkan padepokan ini kepada yang berhak. Kemenakanku yang sekarang sedang berguru di tempat yang jauh”

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyatakan kesediaannya untuk tinggal di padepokan itu barang satu dua pekan. Dalam waktu singkat, keduanya telah dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan itu. sehingga mereka pun segera dapat luluh dalam kehidupan para cantrik.

Namun dalam pada itu, pada saat-saat tertentu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah duduk di pendapa padepokan itu untuk berbincang dengan Empu Nawamula pada saat-saat senggangnya. Terutama di ujung malam. Dengan lampu minyak, mereka berbicara tentang satu segi kehidupan meloncat kesegi kehidupan yang lain.

Namun akhirnya Empu Nawamula itu pun sampai pula kepada persoalan padepokan itu sendiri.

“Apakah pada suatu saat Empu juga akan meninggalkan padepokan ini?” bertanya Mahisa Murti.

“Tentu ngger” jawab Empu Nawamula aku tidak akan tinggal di sini seterusnya. Jika kemenakanku itu kembali dari perguruannya maka padepokan ini akan aku serahkan kepadanya”

“Kapan kemenakan Empu itu akan kembali” bertanya Mahisa Pukat.

“Aku kurang pasti ngger” jawab Empu Nawamula, “tetapi pada saat-saat tertentu ia sering mengunjungi padepokan ini Kadang-kadang sebulan sekali ia kembali dan tinggal di padepokan ini sekitar dua tiga hari. Kemudian ia kembali ke perguruannya. Namun sementara itu ia minta agar aku tetap tinggal di sini”

“Ia akan kembali dengan ilmu yang mumpuni” berkata Mahisa Pukat, “bukankah itu pun satu usaha untuk membekali hidupnya kelak?”

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tetapi ia bukan anakku sendiri. Jika ia anakku, maka aku akan berusaha untuk menasehatinya”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Terasa pada nada kata-kata Empu Nawamula, seolah-olah ada penyesalan atas sikap kemenakannya itu”

“Angger berdua” berkata Empu itu selanjutnya, “aku sendiri tidak mempunyai anak. Ketika isteriku meninggal, rasa-rasanya hidup ini menjadi sepi. Aku tidak ingin kawin lagi dengan perempuan yang manapun juga. Namun akibatnya, aku benar-benar tidak mempunyai keturunan”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ingin mendengar serba sedikit tentang kemenakan Empu Nawamula. Tetapi mereka tidak berani menanyakannya. Karena itu. mereka hanya dapat menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Empu itu.

Tetapi Empu itu berkata tentang dirinya sendiri Terasa kesepian kadang-kadang mencengkam., “Tetapi aku memang sudah berniat demikian”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sekilas. Mereka melihat, terbersit satu perasaan yang kurang mapan di hati Empu itu.

Adalah diluar sadarnya, bahwa Mahisa Murti kemudian berkata, “Empu, kemanakan Empu itu akan dapat Empu anggap sebagai anak sendiri”

Empu Nawamula itu menggeleng. Katanya, “Ada bedanya ngger. Jika ia anakku sendiri, aku akan dapat memberinya arah”

“Apa tidak demikian dengan kemanakan Empu itu?”’ bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba saja.

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukan maksudku untuk mengeluh. Kau berdua adalah anak sahabatku yang menurut pengamatanku, kalian telah dapat berpikir dewasa. Karena itu. aku kira kau akan dapat mengatakan sesuatu yang akan dapat mengurangi beban perasaanku.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu mangu sejenak Sementara itu Empu Nawamula itupun berkata selanjutnya, “Ada sesuatu yang kurang sesuai dengan perasaanku. Kemanakanku itu telah terjerumus ke dalam satu perguruan yang menurut pendapatku, kurang menguntungkan bagi masa depannya”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut. Dengan ragu-ragu Mahisa Murti bertanya, “Perguruan yang bagaimanakah yang Empu maksud? Seandainya perguruan itu bukan perguruan yang baik, apakah ayahnya pada masa hidupnya tidak pernah mencegahnya?”

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah yang selama ini memberati perasaanku. Saudara tuaku, ayah anak itu, sudah tidak dapat mencegahnya lagi. Setiap kali keduanya berselisih, sehingga akhirnya ayah anak itu tidak lagi mempunyai harapan bagi masa depannya yang terasa sangat gelap. Tingkah laku anak laki lakinya mempercepat surutnya kesehatannya. Namun agaknya segalanya memang sudah menjadi guratan takdir. Saudaraku itu meninggal hampir setahun yang lalu dengan beban yang berat di hatinya karena tingkah laku anaknya. Sebelum meninggal ia menitipkan padepokan ini beserta anaknya kepadaku. Tetapi apa yang dapat aku lakukan atas anak itu? Aku dapat mengatur padepokan ini sementara anak itu belum bersedia memimpinnya. Tetapi untuk mengatur anak itu sendiri, aku sama sekali tidak mampu. Jangankan aku, ayahnyapun tidak dapat berbuat apa-apa”

“Apakah sebenarnya yang telah dilakukan oleh anak itu. Empu?” bertanya Mahisa Pukat

“Ia berguru kepada seorang pertapa ditempati yang jauh. Pertapa yang menganut aliran yang kurang dapat dipertanggung-jawabkan” berkata Empu Nawamula.

“Tetapi kenapa ia dapat menjadi murid seorang pertapa yang jauh itu?” bertanya Mahisa Murti.

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam Katanya, “Semuanya terjadi diluar pengamatan. Nampaknya seorang pertapa dari aliran yang tidak banyak disukai itu sedang mengembara. Ketika dijumpainya kemanakanku itu. Ia mulai tertarik. Dengan segala macam cara diluar pengetahuan saudaraku, pertapa itu telah memikat kemanakanku untuk menjadi muridnya, sehingga akhirnya hal itu terjadi tanpa dapat dicegah lagi”

“Tetapi apakah tanda-tanda bahwa pertapa itu menganut aliran yang kurang disukai?” bertanya Mahisa Murti

“Cara-cara pertapa itu memperoleh kekuatan” jawab Empu Nawamula, “pertapa itu menganut aliran seperti yang pernah terdapat di daerah Selatan. Satu aliran yang pernah juga diceriterakan oleh ayahmu. Mungkin kakakmulah yang pernah menemui satu aliran yang mempergunakan darah sebagai satu cara untuk menumbuhkan kekuatan di dalam dirinya”

“Darah?” bertanya Mahisa Pukat dengan serta merta., “Ya. Meskipun pada tahap pertama pertapa itu mempergunakan darah seekor binatang. Sebenarnyalah bahwa dengan minum darah kekuatan seseorang dapat tumbuh dengan cepat. Bahkan mungkin melampaui kekuatan orang kebanyakan. Apalagi dilambari dengan ilmu kanuragan. Namun minum darah bukan kelajiman yang pantas dianut. Apalagi dalam perkembangannya kemudian. Pada saatnya untuk mencapai puncak kemampuannya, ilmu yang demikian akan sampai pada satu pilihan, darah sesama”

Terasa tengkuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun meremang. Mereka memang pernah mendengar dari Mahisa Bungalan tentang satu aliran yang membasahi diri mereka dan senjata-senjata mereka dengan darah manusia di saat bulan bulat dilangit, “Mengerikan” desis Mahisa Pukat.

“Itulah yang membuat ayah anak itu menjadi sangat prihatin. Tetapi ternyata anak itu sudah tidak dapat dicegah lagi. Ia lebih percaya kepada gurunya daripada kepada ayahnya sendiri. Usaha ayahnya untuk menitipkan anak itu kepadaku, sama sekali tiak berhasil. Menurut anak itu. kemampuanku sama sekali tidak berarti dibanding dengan pertapa yang menjadi gurunya itu. Bahkan menurut kemanakanku itu, gurunya telah sanggup untuk membuatnya menjadi manusia yang paling kuat didunia. Manusia yang memiliki ilmu tertinggi di antara sesamanya” berkata Empu Nawamula.

“Tetapi apakah memang demikian Empu?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku tidak tahu ngger. Tetapi aku yakin, bahwa pertapa itu tidak akan lebih dari manusia biasa yang mempunyai batas kemampuan” jawab Empu itu, “aku tidak yakin akan adanya kekuatan yang tidak terkalahkan di dunia ini”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Empu Nawamula melanjutkan, “Selebihnya pertapa itu telah menyediakan sebuah pusaka yang tidak ada duanya didunia” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja mengangguk-angguk. Namun demikian, mereka mulai dapat membayangkan, apa yang sebenarnya tersimpan di belakang padepokan yang nampaknya tenang dan damai. Namun yang pada saatnya, padepokan itu akan menjadi sumber angin prahara yang sulit dikendalikan.

“Angger berdua” berkata Empu itu lebih lanjut, “tingkah laku anak itu benar-benar telah menyusahkan seluruh keluarganya. Bukan saja karena ia telah menyadap ilmu yang sesat. Tetapi tingkah lakunya kadang-kadang memang sangat menyakitkan hati. Untunglah, bahwa ia masih mempunyai rasa segan kepadaku. Betapa tinggi ilmunya, ia merasa bahwa ia masih belum dapat mengimbangi ilmuku. Karena itu, maka ia masib menghormatiku menilik sikap lahiriahnya. Aku tidak tahu, apa yang tersimpan di dalam hatinya. Tetapi menilik sikapnya kepada ayahnya dan kadang-kadang melihat gelagat dan tatapan matanya, ia justru mendendamku. Karena itu, maka pada suatu saat ia akan datang mengusirku. Mungkin dengan kekuatannya sendiri, tetapi mungkin ia akan mendapat pertolongan gurunya”

“Dan Empu akan bertahan?” bertanya Mahisa Pukat

“Jika ia berkata kepadaku dengan cara yang wajar, aku akan pergi. Padepokan ini memang padepokannya. Tetapi jika ia datang dan dengan sikapnya yang gila mengusir aku seperti mengusir anjing liar, maka aku akan memilih mati di sini” jawab Empu Nawamula. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa Murti bertanya, “Apakah ada tanda-tanda bahwa ia akan bersikap demikian?”

“Mungkin aku terlalu berprasangka ngger. Tetapi aku merasa bahwa ia akan datang dan mengusir aku seperti mengusir seekor anjing” jawab Empu Nawamula, “karena itu ngger. Aku telah berpuasa seratus hari sebelum aku mulai membuat keris yang sedang aku kerjakan itu. Aku membuat keris yang menurut niatku, akan menjadi keris yang mempunyai tuah yang berarti. Sedangkan ujudnya, memang mempunyai kelebihan dari keris-keris yang pernah aku buat sebelumnya. Keris ini jauh lebih besar dari keris kebanyakan”

Mahisa-Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi mereka dapat merasa, betapa ketegangan sebenarnya mencengkam padepokan itu. Namun agaknya Empu Nawamula berhasil menyembunyikan gejolak perasaannya, sehingga sama sekali tidak mempengaruhi para cantrik, sementara kemanakannya yang datang pada hari-hari tertentu itu pun tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keresahan, karena ia masih mempunyai perasaan segan kepada pamannya.

Namun sebenarnyalah bahwa ketenangan itu adalah ketenangan yang semu. Sementara itu. tiba-tiba saja Empu Nawamula itu berkata, “Angger berdua, sebenarnya aku tidak perlu mengatakan semuanya itu kepadamu. Tetapi bahwa kalian adalah anak Mahendra. tiba-tiba saja tumbuh kepercayaanku kepada kalian, sehingga dengan demikian, aku sudah mengurangi beban perasaanku. Selama ini seolah-olah tidak ada orang yang pantas aku ajak berbincang. Tiga orang pembantuku, memang orang-orang yang pantas diajak untuk berbicara. Tetapi mereka adalah bagian dari aku sendiri, sehingga meskipun aku telah mengatakan kepada mereka, namun rasa-rasanya beban itu masih saja harus aku pikul betapapun beratnya. Jika hal ini aku katakan kepada kalian, bukan maksudku, bahwa kalian harus ikut berprihatin karenanya. Anggaplah bahwa kalian cukup mengetahuinya saja, karena masalahnya tidak akan menyangkut kalian sama sekali”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun Mahisa Murti berkata, “Seandainya aku mempunyai kesempatan untuk membantu, maka aku dan saudaraku tentu akan membantu. Tetapi kami berdua adalah orang-orang jang tidak berarti”

Empu Nawamula tersenyum. Katanya, “Perbedaan yang sudah aku duga. Kalian tentu akan mengatakan demikian. Tetapi tidak dengan kemanakanku itu. Ia akan berkata bahwa ia adalah orang yang paling berarti”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa Pukat menyambung, “Kami hanya mengatakan yang sebenarnya”

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia berkata, “Sikap kalian telah menggelitik aku untuk mengukur kemampuan kalian. Benar-benar hanya untuk mengukur. Aku kenal Mahendra, karena itu aku mempunyai alasan untuk mengetahui ilmu kalian berdua”

Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang. Sekejap mereka saling berpandangan. Sambil mengangguk hormat Mahisa Murti kemudian berkata, “Tentu tidak akan terjadi Empu. Kami berdua tidak akan berani melakukannya. Sebenarnyalah kami berdua adalah orang-orang yang tidak berilmu. Jika kami mengembara. bahwa kami ingin melihat dunia ini dengan sikap paling dasar”

Tetapi Empu Nawamula tertawa pendek. Katanya sikapmu menambah keyakinanku, bahwa Mahendra sudah membekali kalian cukup banyak Anak-anak muda. Bersiaplah. Kita akan pergi ke sanggar. Mumpung hari telah semakin malam, agar para cantrik tidak menjadi heran. Kalian tidak usah berpura-pura lagi kepadaku. Tetapi kepada para cantrik, kau dapat berbuat demikian”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mempunyai kesempatan untuk membantah lagi. Mereka harus memenuhi permintaan Empu Nawamula. Bahkan akhirnya keduanya berkata di dalam hatinya, “Aku kira tidak akan ada ruginya. Justru akan dapat menambah pengalaman saja”

Demikianlah. Empu Nawamula telah membawa kedua orang anak muda itu ke dalam sanggar. Adalah di luar dugaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa tiga orang pembantu Empu Nawamula itu telah hadir pula. Agaknya mereka melihat tiga orang itu pergi ke Sanggar.

Dengan wajah bertanya-tanya kedua anak muda itu memandang Empu Nawamula. Karena keduanya tidak tahu, apakah ketiga orang itu termasuk cantrik seperti yang dimaksudkan oleh Empu Nawamula.

Agaknya Empu itu mengetahui isi hati kedua anak muda itu. Maka katanya, “Anak-anak. Ketiga orang itu adalah pembantu-pembantuku. Dalam olah kanuragan mereka adalah murid-muridku. Kalian tidak usah mencemaskannya. Mereka dapat dipercaya sepenuhnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun mengangguk-angguk. Sehingga dengan demikian, maka mereka tidak menghiraukan lagi ketiga orang yang juga telah berada dalam sangggar.

“Kita akan mencoba saling menjajagi” berkata Empu Nawamula, “menurut pengertianku, Mahendra adalah orang yang pilih tanding”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara itu Empu itu pun berkata, “Bersiaplah. Kita akan segera mulai”

Ternyata bahwa Empu Nawamula sendirilah yang akan langsung menjajagi kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bukan ketiga muridnya.

“Siapakah yang pertama?” bertanya Empu Nawamula. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Baru sesaat kemudian Mahisa Murti berkata, “Baiklah, aku yang akan memenuhi perintah Empu yang terdahulu”

Empu itu mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian segera mempersiapkan diri.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun mulai saling menjajagi. Namun Empu Nawamula telah berhasil memancing kemampuan Mahisa Murti meningkat dengan cepat.

Sebenarnyalah Empu Nawamula benar-benar ingin menjajagi kemampuan anak muda itu sampai tuntas. Karena itu. maka ia pun telah melakukannya dengan sungguh-sungguh, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi ragu-ragu. apakah Empu Nawamula hanya sekedar untuk memancingnya saja untuk sampai ke puncak ilmunya.

Namun agaknya Empu Nawamula tidak memaksa Mahisa Murti bertempur sampai ke aji pamungkasnya. Ketika Empu itu sudah mendapat gambaran tentang kemampuan anak muda itu. maka ia pun mulai mengendorkan serangan-serangannya, sehingga akhirnya berhenti sama sekali.

“Terima kasih” berkata Empu Nawamula, “aku tidak perlu melakukan hal yang sama atas angger Mahisa Pukat, karena agaknya ilmu kalian berimbang”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah jika ia harus bertempur pula, maka keadaannya tidak akan jauh berbeda dari yang sudah terjadi.

Dalam pada itu, maka Empu Nawamula berkata, “Aku memang sudah yakin, bahwa kalian memiliki ilmu yang luar biasa. Aku mengerti, bahwa di atas kemampuan yang nampak ini kalian tentu masih mempunyai ilmu pamungkas yang benar-benar dapat dipercaya. Dengan demikian, maka ternyata bahwa kemampuan kalian berada di atas kemampuan murid-muridku, dalam olah kanuragan”

Mahisa Murti mengusap keringatnya sambil berkata, “Sekedar sebagai bekal perjalanan Empu. Sebenarnyalah bahwa ilmu yang kami kuasai tidak berarti apa-apa”

“Kalian berdua sungguh sungguh mengagumkan ngger” berkata Empu Nawamula, “aku sudah kagum atas kemampuan ilmu kalian, selebihnya kalian adalah anak- anak muda yang rendah hati. Dalam usia kalian yang masih sangat muda. kalian sudah menguasai ilmu yang tinggi. Namun kalian sama sekali tidak menjadi sombong dan kehilangan pegangan sebagaimana anak-anak muda seumur kalian. Murid-muridku yang lebih tua dari kalian, masih harus berlatih untuk beberapa tahun lagi. apabila mereka ingin menyejajarkan diri dengan kalian”

“Ah. Empu terlalu memuji” desis Mahisa Murti.

“Tidak ngger. Aku tidak sekedar memuji. Tetapi bahwa kalian berdua memiliki bekal yang cukup, sebenarnyalah kalian akan dengan tenang berada di padepokan ini. karena apabila pada suatu saat kalian terbentur kepada satu keadaan yang tidak dikehendaki, maka kalian akan dapat mengatasinya” berkata Empu Nawamula.

Kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Empu, jika sekiranya kehadiran kami akan dapat menumbuhkan persoalan, tentu yang Empu maksud apabila kemanakan Empu itu kebetulan pulang, maka biarlah kami meninggalkan padepokan ini. Biarlah kami meneruskan pengembaraan kami sambil melihat-lihat lingkungan yang belum pernah kami kenal sebelumnya”

“Tidak ngger. Jangan pergi. Yang aku maksudkan, hanya apabila kalian dalam keadaan terpaksa. Tetapi tentu tidak harus terjadi demikian” jawab Empu Nawamula, “sudah aku katakan, bahwa kalian dapat menyembunyikan keadaan angger yang sesungguhnya terhadap para cantrik dan sudah tentu terhadap kemanakanku itu apabila kebetulan ia datang. Hanya dalam keadaan terpaksa, jika angger berdua harus melindungi jiwa kalian, maka aku tidak akan dapat menghalangi apabila angger terpaksa membela diri. Aku tidak akan menyalahkan angger berdua, meskipun kalian harus melawan kemanakanku sendiri”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi pandangan wajah mereka menunjukkan keraguan. Sehingga karena itu maka Empu Nawamula pun berkata, “Percayalah, bahwa aku berkata sebenarnya”

“Terima kasih Empu” jawab Mahisa Murti, “jika demikian, maka biarlah kami di padepokan ini barang dua pekan”

“Jangan kau batasi dengan dua pekan” jawab Empu Nawamula, “kau dapat berada di sini lebih lama lagi. Kau akan hidup sebagaimana para cantrik. Aku lihat kalian telah berusaha menyesuaikan diri. Kau akan mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana aku membuat keris. Terutama kerisku yang terakhir ini. Selebihnya, kalian akan menjadi kawan berlatih dari murid-muridku dan aku sendiri”

Pernyataan Empu Nawamula yang terakhir itulah yang lebih menarik bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan demikian mereka akan mengenal satu cabang perguruan lain dari yang pernah mereka kenal. Apalagi karena mereka telah mendapat tuntunan, baik dari Mahisa Agni maupun dari ayah mereka Mahendra dan Witantra, bagaimana mereka harus memperbandingkan ilmu. Mereka pun telah berhasil meluluhkan unsur-unsur yang ada didalam cabang ilmu Witantra dan ayah mereka Mahendra, sementara mereka menyadap ilmu dari Mahisa Agni. Bahkan sampai pada ilmu puncak yang berbeda pun dapat pula mereka kuasai dengan imbangan yang mapan dan seolah-olah tidak ada persoalan yang harus dipecahkan didalam penguasaannya.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar telah tertarik untuk tinggal lebih lama lagi. Pada hari-hari berikutnya, mereka justru hampir melupakan kemanakan Empu Nawamula yang semula mereka anggap akan dapat menimbulkan persoalan jika ia datang. Namun kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menempatkan diri mereka sebagaimana para cantrik sehingga seandainya kemanakan Empu Nawamula itu benar-benar datang, ia tidak akan menghiraukan kedua anak muda itu lagi, sebagaimana ia tidak menghiraukan para cantrik yang lain.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat kesempatan untuk berlatih dengan ketiga orang pembantu Empu Nawamula.

Ternyata bahwa ketiga orang itu pun memiliki ilmu yang tinggi meskipun dengan rendah hati Empu Nawamula mengatakan, bahwa ilmu mereka jauh berada di bawah tataran ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi yang paling menarik bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah kesempatan yang diberikan oleh Empu Nawamula kepada kedua orang anak muda itu untuk berlatih langsung bersamanya.

Dalam beberapa hal, terasa oleh kedua orang anak muda itu, bahwa sebenarnyalah Empu Nawamula berniat baik terhadap mereka. Ternyata bahwa Empu Nawamula bukan sekedar berlatih bersama, tetapi dalam beberapa hal Empu Nawamula telah memperkenalkan mereka dengan unsur- unsur baru yang dapat mengisi kekurangan mereka.

“Anak-anak” berkata Empu Nawamula pada saat mereka berada di sanggar kemudaan, “kalian telah memberikan gairah kepadaku untuk bekerja lebih keras. Namun lebih dari itu, kalian berdua memang sangat menarik perhatianku lebih dari murid-muridku sendiri. Mereka telah lewat usia dewasanya. Karena itu, maka rasa- rasanya peningkatan ilmu mereka tidak akan dapat bergerak secepat kalian yang sedang tumbuh. Karena itu. sebenarnyalah, aku ingin menitipkan sesuatu kepada kalian, agar apa yang sudah aku dapat selama ini tidak begitu saja dilupakan orang. Meskipun aku tahu, bahwa kemampuanku tidak akan melampaui ayahmu Mahendra yang perkasa itu, namun dengan meniupkan unsur-unsur yang ada di dalam jalur ilmuku, maka serba sedikit bagian-bagian yang dapat kau pergunakan itu akan tetap hidup bersama ilmu yang telah kau kuasai lebih dahulu”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menundukkan kepalanya. Apalagi ketika Empu Nawamula mengatakan, “Anak-anak muda, sebenarnya kemampuan daya serap murid-muridku tidak setajam kalian berdua. Karena itu, bagaimanapun aku berbuat bagi mereka, namun tingkat ilmu mereka tidak akan dapat mengimbangi kemampuan kalian berdua”

“Tetapi mereka juga berilmu tinggi” berkata Mahisa Pukat.

“Tetapi mereka sudah terlalu sulit untuk maju dengan cepat” berkata Empu Nawamula, “meskipun aku tidak pernah berputus-asa. Aku tetap meningkatkan kemampuan mereka sesuai dengan kemampuanku sendiri. Namun yang aku cemaskan, bahwa sebelum aku selesai, maka kesempatanku telah patah, karena aku sadar, bahwa umur manusia itu tetap terbatas”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mereka melihat kecemasan seorang guru yang kurang puas terhadap kerjanya sendiri atas murid- muridnya. Sehingga dengan demikian maka dengan tidak langsung, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah diterima menjadi murid Empu Nawamula itu pula.

Meskipun seperti yang dikatakan oleh Empu itu, bahwa ilmunya memang tidak melampaui Mahendra, Witantra dan Mahisa Agni, namun ada beberapa hal yang dapat mengisi bagian-bagian dari ilmu yang sudah dikuasai oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sehingga dengan demikian, maka kedua anak muda itu pun merasa sangat berterima kasih kepada Empu Nawamula yang merasa hidupnya sangat sepi di saat saat tertentu.

Namun dalam pada itu, padepokan itu sendiri sama sekali tidak mengalami perubahan suasana. Tenang dan terasa sejuk.

Sementara itu. Empu Nawamula sendiri, merasa sangat berbahagia bertemu dengan anak-anak muda yang sangat menarik baginya. Sikapnya dan tingkah lakunya. Dengan menilik sikap dan tingkah laku, maka Empu Nawamula dapat membaca sifat dan watak anak-anak muda itu.

Dalam pada itu, akhirnya Empu Nawamula telah menumpahkan segala macam ilmunya kepada kedua anak muda itu. Seperti yang diduganya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata lebih cepat menangkap dan menyadap ilmunya daripada ketiga murid Empu itu sendiri. Meskipun demikian, seperti yang dikatakannya, Empu Nawamula tidak jemu-jemunya berusaha untuk meningkatkan ilmu ketiga orang muridnya yang telah sekaligus menjadi pembantunya. Tetapi yang dicapai oleh murid-muridnya itu tidak sejauh yang dapat dicapai oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun ketiga orang murid Empu itu sama sekali tidak menjadi sakit hati ketika Empu Nawamula berterus terang kepada mereka. Dengan hati-hati Empu itu berkata, “Bukan maksudku mengkesampingkan kalian setelah kedua orang anak muda itu hadir di padepokan ini. Tetapi aku ingin segera mewariskan ilmuku sampai tuntas. Jika terjadi sesuatu dengan aku kemudian, maka aku tidak lagi menyembunyikan sesuatu. Yang aku wariskan adalah utuh seperti yang aku miliki. Aku yakin bahwa dengan demikian maka ilmu yang aku turunkan nilainya tidak akan susut, justru akan semakin meningkat. Aku akan sangat bergembira jika kalian dapat menyelesaikan usaha kalian untuk menyadap ilmuku dengan baik. Tetapi seandainya sebelum kalian selesai, aku tidak lagi dapat menuntunmu karena sesuatu hal, maka aku berharap bahwa anak-anak muda ini akan dapat membantumu. Aku akan memberikan petunjuk kepadamu, dimana kalian harus mencarinya, karena ayahnya adalah sahabatku yang baik”

Ketiga orang murid Empu Nawamula itu mengangguk-angguk. Namun mereka merasa, bahwa mereka seolah-olah sudah sampai pada puncak kemampuan mereka untuk menyadap tingkat ilmu yang lebih tinggi, sehingga kemajuan merekapun serasa sangat lambat. Agak berbeda dengan anak-anak muda yang sudah berbekal ilmu itu. Mereka seolah-olah dapat menyerap dengan cepat dan kemudian menguasainya.

Namun dengan demikian ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat segera meninggalkan padepokan itu. Dua pekan telah lewat. Tiga pekan, empat pekan, bahkan dua bulan telah lampau. Keduanya tetap berada di padepokan itu untuk menerima tuntunan ilmu dari Empu Nawamula. Dengan ilmu itu kedua anak muda itu dapat melengkapi ilmunya sehingga keduanya seolah- olah telah menjadi semakin meningkat. Pengalaman mereka dalam kanuragan menjadi semakin banyak sehingga dengan demikian maka keduanya pun mampu mengembangkan dasar ilmu yang mereka terima dari Mahisa Agni, Mahendra dan Witantra.

Dalam pada itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, seolah-olah telah tenggelam di dalam kesibukan di padepokan itu. Namun demikian, kegiatan yang dilakukannya itu masih saja selalu tersembunyi dari pengamatan para cantrik kebanyakan. Hanya tiga orang pembantu Empu Nawamula itu lah yang tahu, siapa sebenarnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Meskipun kedua anak muda itu dalam kehidupan mereka sehari-hari berada di antara para cantrik, namun ternyata bahwa mereka berada dalam satu tataran yang jauh berbeda. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap berbaur dengan mereka. Jika para cantrik itu menerima tuntunan kanuragan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun ikut pula berlatih bersama mereka. Keduanya berusaha untuk dapat menunjukkan kemampuan yang sama dengan tataran para cantrik itu. Bagaimanapun juga, ketiga orang pembantu Empu Nawamula itu kadang- kadang merasa segan pula bahwa di antara para cantrik yang harus dibimbingnya itu terdapat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sebenarnya memiliki kemampuan melampaui mereka sendiri.

Dalam usaha mewariskan ilmunya, Empu Nawamula telah bekerja dengan keras di malam hari. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun rasa-rasanya telah dibebani satu kewajiban untuk menerima uluran ilmu yang sangat berarti bagi mereka. Karena itu, maka merekapun telah bekerja sangat keras untuk dapat menanggapi keinginan Empu Nawamula dan harapan bagi mereka berdua itu sendiri.

Namun bagaimanapun juga. Empu Nawamula akhirnya merasa puas dengan usahanya. Sebagian besar ilmunya telah berhasil diwariskan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Empu Nawamula sadar, bahwa dengan demikian ilmunya tidak akan dapat dipisah-pisahkan secara murni lagi pada kedua anak muda itu. Tetapi Empu Nawamula tidak menyesal. Apalagi setelah lebih dari dua bulan ia bergaul dengan kedua orang anak muda yang mempunyai sifat yang yang menarik baginya.

Meskipun demikian, pada saat-saat tertentu, Empu Nawamula masih saja digelisahkan oleh sifat dan watak kemenakannya. Pada suatu saat ia akan datang ke padepokan itu. Biasanya anak itu tidak berjarak terlalu lama telah datang untuk menengok padepokan yang kelak akan dipimpinnya.

Dengan berbagai pesan. Empu Nawamula mempersiapkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat agar kehadiran mereka tidak akan menimbulkan persoalan jika kemenakannya itu datang. Kedua anak muda itu akan menjadi seolah-olah cantrik kebanyakan di antara para cantrik yang lain.

Meskipun bagaimanapun juga, terasa juga perbedaan di antara para cantrik yang lain dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dalam hubungan mereka dengan Empu Nawamula. Namun hal ini diterima dengan wajar ketika Empu Nawamula memberitahukan kepada para cantrik, bahwa perlu diadakan bimbingan khusus bagi kedua anak muda yang datang kemudian itu oleh ketiga orang pembantu Empu Nawamula agar kemampuannya dalam olah kanuragan dapat segera menyusul dan kemudian meningkat bersama-sama dengan para cantrik yang lain. Namun dalam pada itu, setelah untuk waktu yang lebih lama dari kebiasaannya, kemanakan Empu Nawamula itu tidak datang ke padepokan, maka pada suatu hari, tiba-tiba saja ia telah muncul di regol halaman bersama dengan dua orang saudara seperguruannya.

Kedatangannya disambut oleh para cantrik dengan penuh hormat. Namun bukan karena mereka merasa bersenang hati atas kehadiran anak muda itu, tetapi semata-mata karena para cantrik menjadi ketakutan oleh kehadirannya seperti setiap kali ia kembali.

“Hati-hatilah dengan anak muda itu” pesan seorang cantrik kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat” putera pemimpin padepokan ini yang telah meninggal setahun yang lalu, adalah seorang anak muda yang keras hati dan lebih dari itu, ia mempunyai kebiasaan yang kurang kami senangi”

“Kebiasaan apa?” bertanya Mahisa Murti.

“Tangannya terlalu ringan. Ia sering memukul kawan-kawan kami yang membuat kesalahan yang barangkali tidak berarti apa-apa” jawab cantrik itu.

“Tetapi pada saatnya ia akan memimpin padepokan ini” berkata Mahisa Pukat.

“Itulah yang kami takuti. Dibawah pimpinan Empu Nawamula padepokan ini terasa tenang dan sejuk” jawab cantrik itu, “tetapi pada suatu saat padepokan ini tentu akan menjadi neraka”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Menurut ceritera para cantrik dan Empu Nawamula sendiri, maka keduanya sudah dapat membayangkan, sifat dan tabiat anak muda kemanakan Empu Nawamula itu.

Dari hari pertama anak muda itu tidak berbuat apa-apa. Ia hanya berbincang saja dengan Empu Nawamula di pendapa. Sementara itu anak muda itu justru kelihatan ramah terhadap beberapa orang cantrik, bahwa mencoba bergurau pula dengan mereka.

“Nampaknya ia baik” berkata Mahisa Murti kepada seorang cantrik.

“Kadang-kadang ia memang suka bergurau” jawab cantrik itu, “tetapi ia tidak dapat ditebak. Jika kami berusaha untuk menanggapinya, kadang-kadang ia justru menjadi marah dan tiba-tiba memukul kami. Justru di kepala sehingga rasanya otak kami telah bergetar”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk

Dalam pada itu Mahisa Murti pun berkata, “Jika demikian, lebih baik kami berdua tidak menampakkan diri saja”

“Itu lebih baik” jawab cantrik itu, “tetapi jika secara kebetulan hal itu terjadi?”

“Apa boleh buat. Mudah-mudahan kepalaku tidak menjadi sasaran” desis Mahisa Pukat.

Dalam kegelisahan itu, ternyata salah seorang pembantu Empu Nawamula itu dapat berceritera kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Katanya, “Agak lama anak itu tidak datang ke padepokan ini, agaknya ia sedang jatuh cinta”

“He” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertanya berbareng, “jatuh cinta”

“Ya. Justru karena itu ia tidak mau meninggalkan gadis itu barang sehari” jawab pembantu Empu Nawamula itu.

“Tetapi akhirnya ia pun meninggalkan gadis itu” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Ternyata gadis itu telah pergi” jawab pembantu Empu Nawamula itu.

“Pergi? Kemana? Apakah gadis itu tidak mencintainya?” bertanya Mahisa Pukat.

“Agaknya demikian” jawab murid Empu Nawamula itu, “semalam aku mendengar ia berbicara tentang gadis itu dengan guru. Katanya Gadis itu telah disembunyikan oleh pamannya”

“Disembunyikan?” ulang Mahisa Pukat.

“Ya. Selebihnya aku tidak jelas” jawab murid Empu Nawamula itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi termangu- mangu. Namun mereka tidak dapat bertanya lebih lanjut, karena murid Empu Nawamula itu tidak dapat mendengarkan pembicaraan itu selanjutnya.

“Lain kali dalam satu kesempatan, guru tentu akan menceriterakannya kepada kalian” berkata murid Empu Nawamula itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, mereka pun menjadi gelisah jika pada suatu saat anak muda itu melihat mereka dan tertarik justru karena anak muda itu belum pernah melihat mereka sebelumnya.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk menyingkir dari kemenakan Empu Nawamula itu. Apalagi ketika kemudian dihari-hari berikutnya, keduanya melihat apa yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan oleb anak muda itu.

Sebenarnyalah bahwa ia seorang anak muda yang ringan tangan. Demikian mudahnya ia menjadi marah dan menampar para cantrik yang ketakutan. Dalam pada itu, seperti yang dikatakan oleh salah seorang murid dan sekaligus pembantu Empu Nawamula, maka pada satu kesempatan, Empu Nawamula telah berceritera kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tentang kemanakannya itu.

“Ia lebih senang menyebut dirinya Singatama daripada namanya sendiri” berkata Empu Nawamula.

“Siapa namanya sebenarnya?” bertanya Mahisa Murti” bukankah setiap kali Empu juga menyebut namanya Singatama?”

“Namanya yang sebenarnya bukan Singatama. Ayahnya menyebutnya dengan nama yang diberikan disaat lahirnya. Sembada”

“Nama yang bagus” desis Mahisa Pukat.

“Tetapi ia tidak senang dengan nama itu. Karena itu, ia sampai saat ini memakai nama pemberian gurunya, Singatama” jawab Empu Nawamula.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Empu Nawamula pun berceritera tentang kemanakannya itu, bahwa ia memang sedang jatuh cinta seperti yang dikatakan oleh salah seorang muridnya.

“Bukankah hal yang wajar jika seorang anak muda mencintai seorang gadis” berkata Mahisa Pukat.

“Memang wajar sekali ngger” jawab Empu Nawamula, “tetapi yang tidak wajar adalah, bahwa gadis itu tidak mencintainya”

“O” Mahisa Pukat mengangguk-angguk.

“Ia mencoba minta nasehatku. apa yang sebaiknya dilakukannya” berkata Empu Nawamula.

“Lalu apa yang Empu katakan kepadanya?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku berusaha untuk menenangkannya. Aku menasehatinya, bahwa sebaiknya ia melupakan saja gadis itu. Bukankah masa depan Singatama itu masih panjang, sehingga pada suatu saat ia akan dapat bertemu dengan gadis yang lain, yang akan dapat menanggapi perasaannya” jawab Empu Nawamula. Kemudian katanya melanjutkan, “Tetapi anak itu salah paham. Ia menganggap bahwa aku tidak berusaha membantunya di saat ia dalam kesulitan”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Agaknya sifat anak muda itu benar-benar sulit dikendalikan. Ia tidak pernah mendengarkan nasehat yang baik.

“Tetapi aku tahu persoalannya” berkata Empu Nawamula, “gurunya, pertapa itu samasekali tidak berusaha mencegah tingkah lakunya yang kurang baik. Aku kira justru gurunya yang menganjurkannya, agar ia datang kepadaku dan minta bantuanku”

“Apa yang ia kehendaki Empu?” bertanya Mahisa Pukat., “Ia justru minta agar aku mencari gadis itu dan melamar kepada orang tuanya bagi kepentingannya, karena aku adalah satu-satunya orang tua baginya saat ini” jawab Empu itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Memang agaknya menjadi kewajiban Empu Nawamula. Tetapi sayang, bahwa persoalannya tidak berjalan dengan lancar. Gadis itu sudah terlanjur menyatakan sikapnya.

Dalam pada itu, maka Empu itu akhirnya berkata, “Memang terasa sangat sulit bagiku ngger. Jika aku menolak, maka aku akan mengalami satu peristiwa yang sangat pahit. Anak itu tentu akan memaksaku dengan caranya, sehingga aku harus mempertahankan diri. Jika demikian, apakah akan terjadi benturan kekuatan antara aku dan kemanakanku. Bukankah hal itu berarti satu peristiwa yang sangat memalukan. Seandainya aku kehilangan pengamatan diri atau sebaliknya sehinga salah satu di antara kami menjadi korban, maka hal itu akan merupakan satu malapetaka”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu Mahisa Murti bertanya, “Lalu, apa yang akan Empu lakukan?”

“Empu Nawamula menjadi ragu-ragu pula. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya aku memenuhi permintaan itu ngger”

“Empu akan memaksa gadis itu untuk menjadi isteri seseorang yang tidak dicintainya?” bertanya Mahisa Pukat.

“Bukan begitu” jawab Empu Nawamula, “aku hanya akan melamarnya. Jika orang tuanya tidak mengijinkan. atau gadis itu berkeberatan, maka aku akan menyampaikannya kepada Singatama, bahwa lamarannya ditolak”

“Bagaimana jika anak itu menjadi marah?” bertanya Mahisa Murti.

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah gadis itu seharusnya mendapat perlindungan?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Meskipun tidak dikatakan, tetapi seolah-olah tergetar di dalam hati mereka, bahwa mereka berdua mempunyai kewajiban untuk kepentingan sesama. Mereka harus memenuhi darma seorang kesatria.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun berkata, “Baik Empu. Jika Empu memang ingin mencobanya, agaknya dapat dicoba. Tanpa menakut-nakuti dan tanpa memaksa. Tetapi jika gadis itu atau orang tuanya menolak, maka seperti yang Empu katakan, mereka memang sewajarnya mendapat perlindungan”

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Lalu Katanya, “Kalian ternyata dapat menanggapi sikapku. Baiklah. Aku terpaksa mempergunakan cara ini. Aku tidak mempunyai cara lain yang lebih baik”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Tetapi rasa-rasanya mereka telah membulatkan tekad untuk melibatkan diri kedalam persoalan yang sebenarnya tidak menyangkut mereka berdua. Tetapi sepanjang mereka berkepentingan bagi sesama, maka rasa-rasanya mereka terpanggil untuk melakukannya.

Karena itu, maka keduanyapun berpendapat, bahwa cara yang akan ditempuh oleh Empu Nawamula itu adalah cara yang paling baik. Jika anak muda yang menyebut dirinya Singatama itu dapat menerima kenyataan, bahwa ia telah ditolak, alangkah baiknya. Tetapi seandainya ia berkeras. maka apaboleh buat.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun kemudian menunggu perkembangan keadaan. Sehingga pada suatu saat Empu Nawamula akan memberitahukan kepada mereka lebih lanjut.

Sebenarnyalah, bahwa pada akhirnya, rencana Empu Nawamula itu pun harus dilaksanakan. Anak muda yang menyebut dirinya Singatama itu memang memaksa Empu Nawamula untuk pergi melamar gadis yang dikehendakinya itu.

“Paman dan bertanya kepada paman gadis itu. Aku tidak tahu, dimana gadis itu telah disembunyikan” berkata Singatama. Lalu, “Selama ini aku masih mencoba bersabar. Aku memang ingin menempuh jalan yang sebaik-baiknya. Paman yang akan mewakili orang tuaku datang melamar gadis itu. Aku masih belum menempuh jalan yang paling singkat, mengambil gadis itu disetujui atau tidak disetujui”

“Baiklah ngger” jawab Empu Nawamula, “aku akan menemui pamannya. Tetapi segala sesuatunya terserah kepada paman gadis itu”

“Paman sudah cukup berpengalaman” jawab Singatama, “terserah cara yang akan paman tempuh”

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia berkata, “Aku akan pergi bersama dua orang cantrik padepokan ini, sementara tiga orang pembantuku masih harus menyelesaikan keris yang telah dipesan oleh seseorang sahabatku”

“Terserah dengan siapa saja paman akan pergi” jawab Singatama, “dan aku pun tidak peduli apakah pembantu paman itu akan membuat keris atau tidur selama paman pergi”

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah. Besok aku akan berangkat”

“Semakin cepat semakin baik paman. Aku sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi. Umurku sudah menjadi semakin tua sementara tidak ada perempuan lain yang dapat menarik perhatianku kecuali gadis yang telah disembunyikan oleh pamannya itu. Aku yakin bahwa gadis itu tidak akan menolak. Tetapi pamannyalah yang menjadi dengki. Agaknya pamannya ingin aku mengambil anak pamannya itu sendiri. Tetapi aku tidak menyukainya” berkata Singatama.

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Jika benar demikian, gadis itu sebenarnya menerimanya, tetapi karena pamannya sajalah yang mempunyai pokal tersendiri, persoalannya akan berbeda.

Dalam pada itu, maka malam itu Empu Nawamula telah mempersiapkan diri. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah diberitahu pula, bahwa esok pagi mereka akan berangkat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat masing-masing seekor kuda bagi perjalanan yang akan ditempuhnya.....

Bersambung....!


*****************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...