Selasa, 15 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 004-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID : 004-02*

“Tentu ada beberapa orang putut yang mempunyai kemampuan yang pantas diperhitungkan” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Perhitungan Empu Nawamula memang pantas diperhatikan. Empu Nawamula sama sekali tidak menjadi gentar Tetapi jika terjadi sesuatu atasnya, maka akibatnya akan sangat buruk bagi orang-orang yang tersisa. Sehingga dengan demikian, maka Empu Nawamula perlu membuat perhitungan yang sebaik-baiknya”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Ketika ia melihat seorang cantrik berjalan ke pakiwan, maka iapun berguman, “Anak itu tidak dapat tidur”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Seperti kita, ia juga gelisah karena perintah Singatama”

“Tentu banyak di antara para cantrik yang masih belum tertidur” berkata Mahisa Pukat.

“Ya. Dan kita tidak dapat membantu mereka” sahut Mahisa Murti.

Keduanya pun kemudian saling berdiam diri untuk beberapa saat. Mereka sedang merenungi, apa yang sebaiknya harus mereka lakukan. Waktu mereka tinggal sedikit. Esok, mereka akan menyampaikan pendapat mereka kepada Empu Nawamula, atau sebaliknya Empu Nawamulalah yang menemukan jalan yang paling baik untuk ditempuh.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Murti berkata, “Mahisa Pukat. Apakah kita bersalah, jika seandainya kita melibatkan orang lain dalam persoalan ini. justru dalam satu usaha untuk menumpas langsung sumber dari tindakan yang dapat mengotori pergaulan manusia itu”

“Maksudmu, kita melaporkannya kepada prajurit Singasari atau katakanlah kepada kakang Mahisa Bungalan agar ia membawa prajurit segelar sepapan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Jika demikian, belum tentu usaha itu akan berhasil” jawab Mahisa Murti, “sebelum pasukan itu mengepung padepokan Singatama, mereka tentu sudah berhasil melarikan diri. Atau berusaha untuk menghapuskan segala macam jejak kejahatan mereka sehingga para prajurit di Singasari tidak akan dapat bertindak tanpa bukti yang kuat”

“Lalu apa maksudmu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita melaksanakannya sendiri. Jika kami menyeret lingkungan keprajuritan dan kita tidak menunjukkan bukti- bukti yang cukup, maka justru kita akan dapat dituduh memfitnah sebuah padepokan” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Dan apakah yang akan kita lakukan?” Mahisa Pukat tidak sabar.

“Kita menghubungi ayah” jawab Mahisa Murti.

“Ayah? Kita ajak ayah, paman Witantra, paman Mahisa Agni dan beberapa orang lainnya untuk menyerang padepokan itu?” bertanya Mahisa Pukat, “apakah kita dapat menyerang satu padepokan tanpa menunjukkan alasan yang kuat. Kita tidak mempunyai persoalan apapun juga. Tiba-tiba saja kita menyerangnya”

“Bukan kita yang menyerang. Biarlah mereka yang menyerang kita” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ia menggeleng,, “Aku tidak mengerti”

“Aku akan minta ayah dan sokurlah jika paman Witantra dan paman Mahisa Murti bersedia melaksanakannya, untuk menjebak guru Singatama itu” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Tetapi ia belum jelas maksud Mahisa Murti. Maka katanya,, “Aku kurang mengerti. Bagaimana kau akan menjebak mereka”,

“Kita bujuk semua cantrik yang besok akan keluar dari padepokan ini untuk berkumpul di sebuah padepokan baru. Kita minta ayah, paman Witantra dan paman Mahisa Agni untuk memimpin padepokan itu. Dengan demikian, maka padepokan yang baru itu akan menarik perhatian padepokan Singatama. Ia tentu akan marah karena para cantriknya telah kita himpun”

“Dalam waktu lima hari?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita tidak perlu membuat sebuah padepokan yang sudah jadi. Kita akan memagari sebuah lingkungan di hutan. Kita bersama para cantrik akan membangun barak-barak untuk berteduh. Aku kira, tidak akan ada tenggang waktu lama, kita sudah berhasil memancing persoalan dengan padepokan Singatama” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi bagaimana sikap kita, jika ternyata guru Singatama tidak mengambil sikap apapun juga” berkata Mahisa Pukat.

“Kita bekerja bersama dengan Ki Raganiti dan Ki Buyut Randumalang” jawab Mahisa Murti.

“Caranya?” bertanya Mahisa Pukat pula.

“Jika kehadiran para cantrik di sini tidak dapat memancing persoalan, maka kita minta Ki Buyut Randumalang membawa anak gadisnya kemari. Memang perlu penjelasan. Tetapi untuk keselamatan gadis itu, dan lebih luas lagi, untuk keselamatan lingkungan hidup disekitar padepokan itu, aku kira mereka tidak akan berkeberatan” sahut Mahisa Murti.

“Satu kerja yang besar. Waktunya hanya lima hari. Aku kurang yakin, bahwa usaha ini akan berhasil” berkata Mahisa Pukat. Lalu, “Tetapi aku. tidak akan segan untuk mencobanya”

“Jika aku sependapat, kita temui Empu Nawamula. Kita akan melaporkan rencana ini. Jika Empu Nawamula setuju, kita akan melakukannya. Kita akan menghubungi para cantrik dan minta mereka berkumpul disatu tempat sepekan lagi. Sementara itu, kita akan minta ayah, paman Witantra dan paman Mahisa Agni atau salah seorang diantara mereka. Jika kita kemudian berhasil, kita akan menyerahkan para cantrik kembali kepada Empu Nawamula disini” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Rencana itu belum jelas dan belum terperinci. Tetapi Mahisa Pukat sudah mendapat gambaran akan ujudnya. Karena itu, maka ia pun sependapat untuk menyampaikannya kepada Empu Nawamula, untuk selanjutnya menghubungi para cantrik yang sedang gelisah.

Dengan hati-hati kedua orang anak muda itu pun kemudian berusaha menghubungi Empu Nawamula. Dengan singkat mereka pun memberitahukan rencana mereka.

“Apa kalian akan sempat melakukannya hanya dalam waktu sepekan?” bertanya Empu Nawamula.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ada juga terasa nada keraguan, tetapi ia berkata, “Kami berdua akan berusaha sebaik-baiknya Empu. Tetapi sudah tentu, kami akan memohon untuk mendapat pinjaman dua ekor kuda”

Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengusahakan dua ekor kuda. Jika Singatama menanyakannya, biarlah aku yang menjawabnya”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murtipun bertanya, “Empu. Bagaimana pendapat Empu jika mulai saat ini kami akan menghubungi para cantrik?”

“Baiklah. Kalian tidak usah menghubungi semua cantrik. Kalian cukup mengatakannya kepada satu dua orang di antara mereka dengan pesan agar mereka menyampaikannya pula kepada kawan-kawan mereka”

“Tetapi apakah dengan cara demjkian, tidak akan mungkin rencana ini sampai ke telinga Singatama?” bertanya Mahisa Pukat.

-Tidak. Tidak seorang pun di antara para cantrik yang tertarik untuk bekerja bersamanya” jawab Empu Nawamula.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun menjadi mantap. Seperti yang dikatakan oleh Empu Nawamula, maka mereka tidak lagi ingin menghubungi semua cantrik, karena dengan demikian maka bahayanya akan menjadi bertambah besar

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya menghubungi seorang cantrik yang kepanasan di dalam barak dan duduk di bawah sebatang pohon jambu.

“Kenapa kau tidak tidur?” bertanya Mahisa Murti.

“Udara panas sekali” jawab cantrik itu.

“Lebih panas lagi denyut jantung di dalam dada ini” desis Mahisa Pukat.

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menanggapinya. Ada semacam ketakutan untuk mengatakan sesuai dengan perasaannya, karena cantrik itu sudah mengenal Singatama dengan baik.

Namun dalam pada itu Mahisa Murtipun kemudian duduk di sebelahnya, sementara Mahisa Pukat duduk agak jauh dari keduanya mengamati keadaan di sekelilingnya.

Dengan hati-hati Mahisa Murti menyatakan rencananya. Dengan sungguh-sungguh cantrik itu pun mendengarkannya. Namun kemudian dengan nada cemas cantrik itu berkata, “Apa yang dapat kita lakukan? Setelah kita berkumpul, lalu apakah dengan demikian kita akan dapat menyelamatkan diri jika Singatama datang menghukum kita? Katakanlah, kita dapat melupakan kemungkinan Singatama mencari keluarga kita, karena waktu yang sepekan itu kita pergunakan untuk memberitahukan kepada keluarga kita agar menyingkir, tetapi apakah artinya kita sendiri berkumpul di satu tem-pat itu?”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya, “Kita akan menyusun kekuatan”

“Aku bukan pemimpin Ki Sanak” jawab cantrik itu, “jika kami melakukan seperti yang kau katakan, maka akan sama artinya bahwa kita akan bunuh diri”

Mahisa Murti termangu-mangu. Ia dapat mengerti jalan pikiran cantrik itu. Karena itu maka katanya, “Ki Sanak. Singatama bukan iblis yang tidak terkalahkan. Jika kita berani berbuat sesuatu bersama-sama, maka ia akan dapat kita tundukkan. Aku dan saudaraku telah bersepakat, bahwa kita semuanya tentu akan dapat mengalahkannya”

“Seandainya Singatama dapat kita kalahkan, bukankah berarti kita sudah mengundang gurunya untuk membantai kita semua?” berkata cantrik itu.

“Jika kita sendiri yang menghadapinya, memang benar. Tetapi kita percaya kepada Empu Nawamula” berkata Mahisa Murti ragu-ragu untuk menyebut nama itu. Tetapi kemudian, “Seandainya Empu Nawamula tidak mau melibatkan diri, karena Singatama adalah kemanakannya, maka aku mempunyai seorang paman yang memiliki ilmu yang tinggi”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau tidak dapat membayangkan, betapa tingginya ilmu Singatama dan apalagi gurunya”

“Tetapi kemampuan seseorang tetap terbatas” jawab Mahisa Murti, “aku yakin, bahwa pamanku dan kawan- kawannya akan dapat mengatasinya, jika kalian benar- benar berniat demikian. Jika kita berani mempertanggung jawabkan segala tindakan kita, maka kita akan berhasil. Seandainya tidak, kenapa kita takut mati? Aku orang baru disini. Tetapi aku tidak mau diperlakukan seperti kalian. Karena itu, aku akan memilih untuk melawan. Jika dengan demikian aku harus mati, apaboleh buat. Tetapi itu lebih baik bagi seorang laki-laki”

Cantrik itu termangu-mangu. Anak muda itu menyatakan satu sikap seorang laki-laki.

“He, apakah aku bukan laki-laki?” cantrik itu bertanya kepada diri sendiri.

Sejenak cantrik itu berpikir. Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Kita selama ini terlalu merasa kecil, sehingga kita tidak percaya bahwa di dalam diri kita pun tersimpan kemampuan yang dapat ikut menentukan hari depan kita sendiri. Seandainya kekuatan kita itu tidak berhasil memecah dinding yang membatasi hari depan kita, maka biarkan kita berkubur sebagai pejuang yang memperjuangkan masa depan kita sendiri”

Kata-kata cantrik itu benar-benar berpengaruh, sehingga akhirnya cantrik itu berdesis, “Kau dapat aku percaya?”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mulai berpengharapan bahwa usahanya akan berhasil.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun menjadi semakin bergairah untuk mempengaruhinya. Katanya, “Aku menjadi taruhan. Jika harus bertaruh nyawa, maka biarlah aku yang pertama-tama”

“Baiklah” berkata cantrik itu. Lalu, “Sebenarnya akupun telah menjadi jemu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Rasa-rasanya aku ingin membebaskan diri. Kini baru aku sadar, bahwa bagi laki-laki memang ada pilihan lain dari ketakutan itu sendiri”

“Nah, percayalah” berkata Mahisa Murti kemudian, “di tempat yang akan kita tentukan kemudian, kita dapat bertemu dan berkumpul untuk menentukan langkah, maka alangkah baiknya. Kita akan dapat berbuat sesuatu sebagai sekelompok laki-laki yang mempunyai pribadi yang mantap. Bukan sekedar budak yang harus melakukan perintah tanpa mengetahui ujung dan pangkalnya. Bahkan lebih dari itu. Kita telah diperlakukan sebagai seekor kuda yang berlari kalau dilecuti”

Cantrik itu mengangguk-angguk. Jiwanya tiba-tiba saja telah bergejolak. Namun ia masih bertanya, “Tetapi bagaimana dengan kawan-kawan kita?”

“Kita harus memberitahukan kepada mereka sesuatu yang paling baik kita lakukan” jawab Mahisa Murti, “kita akan menentukan satu tempat untuk bertemu setelah sepekan. Bahkan sebelum itu. Kita akan berkumpul dan membuat satu padepokan baru. Tentu sikap itu akan menantang kemarahan Singatama. Tetapi bukankah kita tidak takut lagi menghadapinya. Lebih baik kita lebur menjadi debu daripada kita dianggap sebagai seekor binatang yang dapat diperlakukan sewenang-wenang?”

Cantrik itu menganguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Tentukan, dimana kita berkumpul. Dan be ritahukan semua cantrik yang ada di padepokan ini. Besok pagi-pagi aku akan meninggalkan padepokan ini. Aku akan mencuri dua ekor kuda dan aku akan meninggalkan padepokan ini untuk mempersiapkan segala-galanya”

“Tetapi kau benar-benar dapat dipercaya?” cantrik itu masih bimbang.

“Aku orang baru di sini. Tetapi aku merasa bahwa tanpa berbuat sesuatu, kita akan benar-benar menjadi budak yang tidak lebih berharga dari debu” jawab Mahisa Murti.

“Baiklah. Jika demikian aku akan memberitahukan kepada para cantrik” jawab cantrik itu.

“Tetapi hati-hati. Jika ada seorang saja di antara para cantrik yang berkhianat, maka kita semuanya akan gagal. Sebelum aku keluar dari padepokan ini esok pagi, aku sudah harus membukukan kata-kataku bahwa aku lebih baik hancur menjadi debu daripada diperbudak oleh orang lain. Selama aku berada di sini, aku merasa alangkah damainya tempat ini. Tetapi kehadiran Singatama membuat aku menjadi orang yang liar dan berdarah panas seperti ini” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi apa gunanya kau mencuri kuda? Bukankah lebih baik kau pergi sebagaimana kami pergi. Dengan demikian kita tidak akan meninggalkan kesan apapun juga. Seolah-olah kita memang sedang melakukan tugas kita sebaik-baiknya” berkata cantrik itu.

“Tetapi tanpa kuda aku tidak akan dapat mencapai rumah orang yang aku harap dapat bekerja sama dengan kita” berkata Mahisa Murti, “waktu kita hanya sepekan”

Cantrik itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian berkata, “Terserahlah kepadamu. Tetapi jika kalian tertangkap esok pagi, aku akan menyesal sekali. Semua rencana tentu akan batal. Keberanian kita akan lenyap jika pada langkah pertama kita sudah gagal”

“Aku akan berusaha, agar aku tidak tertangkap” berkata Mahisa Murti.

Demikianlah, maka cantrik itupun telah menyatakan kesediaannya untuk melakukan rencana itu. Ia akan menghubungi cantri-cantrik yang lain.

Setelah mereka menentukan tempat untuk bertemu setelah mereka meninggalkan padepokan itu dengan batas waktu sepekan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah meninggalkan cantrik itu.

Seperti yang telah dijanjikan, maka cantrik itu pun telah menghubungi seorang kawannya. Ia mulai menjajagi sikap kawannya itu. Namun akhirnya ia berhasil mengajak kawannya itu untuk melakukannya. Demikianlah keduanya mulai menghubungi kawannya yang lain, bertunda dan berurutan, sehingga akhirnya sebelum pagi mereka semuanya telah mendengar dan menyepakati rencana itu. Kejantanan mereka ternyata telah tergugah, sehingga mereka memang memilih untuk melawan Singatama daripada mereka harus menjalani kehidupan tidak lebih dari budak yang tidak berarti apa-apa selain diperlakukan sebagai seekor-binatang.

Dengan demikian, maka para cantrik itu pun tidak lagi dapat tidur nyenyak di sisa malam. Mereka sudah membayangkan, apa .yang akan terjadi setelah sepekan.

Namun dalam pada itu, mereka telah berdoa, agar kedua anak muda yang akan melarikan diri dengan dua ekor kuda itu tidak tercium rencananya oleh Singatama, sehingga keduanya akan dapat mengalami nasib yang sangat buruk.

Seperti yang direncanakan, atas pengetahuan Empu Nawamula, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyiapkan dua ekor kuda. Mereka akan mempertanggung-jawabkan kedua ekor kuda itu. Keduanya tidak akan membebani kesulitan kepada Empu Nawamula jika Empu Nawamula yang harus mempertanggung-jawabkannya.

Empu Nawamula mengagumi sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bukan saja keberanian mereka mengambil sikap, tetapi juga karena mereka siap untuk bertanggung jawab atas sikap mereka.

Dalam keheningan pagi, padepokan itu telah dikejutkan oleh derap kaki kuda. Dua ekor kuda berlari meninggalkan padepokan itu dengan dua orang penunggangnya. Demikian cepatnya berlalu, sehingga tidak seorangpun yang sempat mencegahnya.

Singatama dan orang-orang yang mengawalnya terkejut. Mereka berloncatan dari pembaringan dan berlari keluar. Tetapi keheningan telah kembali mencengkam padepokan itu.

Dengan marah Singatama pun mengumpulkan semua cantrik. Ia ingin segera mengetahui, apakah ada diantara para cantrik itu yang meninggalkan padepokan.

Singatama yang marah itu pun segera mengetahui, dua di antara para cantrik telah lenyap. Dua orang cantrik yang paling baru datang kepadepokan itu.

Jantung Singatama hampir meledak karenanya. Dengan nada lantang ia berteriak Panggil paman Nawamula”

“Aku disini Singatama” jawab Empu Nawamula, “jangan berteriak-teriak begitu. Ada apa?”

Terasa sentuhan yang tajam di dadanya. Bagaimanapun juga orang tua itu mempunyai pengaruh yang besar atasnya. Bukan saja karena ia pamannya. Tetapi Singatama pun tahu bahwa pamannya adalah orang yang berilmu tinggi. Sehingga karena itu, maka ia pun harus menahan diri untuk tidak bertindak tergesa-gesa.

Namun dalam pada itu, ketika Empu Nawamula melangkah mendekatinya, Singatama itu bertanya, “Paman, apakah paman yang telah menerima kedua orang anak muda itu di padepokan ini?”

“Ya. Akulah yang telah menerimanya” jawab Empu Nawamula.

“Apakah paman mengetahui, dimana rumahnya dan siapa saja keluarganya?” bertanya Singatama pula.

Empu Nawamula menggeleng. Jawabnya, “Belum. Aku tidak mengenal kecuali kedua orang anak muda itu. Keduanya datang di padepokan ini untuk mohon perlindungan. Keduanya adalah perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tertentu”

“Paman terlalu memanjakan mereka” bentak Singatama.,

“Jangan membentak aku. Akulah yang lebih pantas membentakmu, karena akulah pengganti orang tuamu” sahut Empu Nawamula. Lalu katanya, “Ketahuilah Selama keduanya berada di padepokan ini, keduanya menunjukkan sikap yang sangat baik. Mereka sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala seperti yang baru saja terjadi. Tetapi kedatanganmu dan sikapmu telah merubah segala-galanya. Agaknya keduanya tidak terbiasa mengalami kekerasan seperti yang kau lakukan”

Wajah Singatama menjadi merah. Tetapi sebelum ia menjawab Empu Nawamula telah berkata, “Apalagi perintah yang kau keluarkan untuk mencari seseorang yang tidak dikenal dengan batas waktu sepekan. Benar-benar satu perintah yang tidak masuk akal. Karena itulah agaknya mereka telah memilih untuk melarikan diri. Celakanya, mereka telah membawa dua ekor kuda yang paling baik dari padepokan ini”

Singatama menggeretakkan giginya. Dengan nada kesal ia berkata, “Persetan dengan kedua orang itu. Tetapi bahwa mereka telah membawa dua ekor kuda dari padepokan ini, aku tidak akan pernah melupakan. Jika pada suatu saat aku dapat menjumpai keduanya, maka aku tidak akan memaafkannya. Aku akan mengambil tindakan yang paling sesuai dengan kesalahan mereka”

“Terserah kepadamu. Jika kau tidak sedang berada di padepokan ini, maka aku dapat kau tuntut untuk mempertanggung-jawabkan hilangnya dua ekor kuda. Tetapi justru kau berada di sini, maka tanggung jawab itu tidak seluruhnya terletak di pundakku” berkata Empu Nawamula.

Singatama hampir tidak dapat mengendalikan dirinya. Tetapi ia masih tetap sadar, bahwa pamannya adalah orang yang berilmu tinggi.

Karena itu, tiba-tiba ia telah menumpahkan kemarahannya kepada para cantrik. Katanya dengan keras, “Persetan semuanya. Aku tidak mau melihat kelambatan yang akan dapat membuat aku semakin marah. Kalian, para cantrik yang dungu. Aku tidak mau melihat kau dengan bodoh berdiri membeku. Sekarang juga kalian harus pergi. Sepekan lagi kalian harus kembali. Siapa yang tidak kembali akan mengalami hukuman yang sangat berat. Tetapi jika tidak seorang pun diantara kalian yang membawa gadis yang aku kehendaki, maka aku tidak akan memaafkan kalian lagi. Tingkah laku kedua orang cantrik itu membuat kepalaku pening dan darahku mendidih”

Para cantrik itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka merasa bersyukur bahwa Singatama tidak berbuat sesuatu yang dapat membuat mereka dalam kesulitan.

“Cepat” teriak Singatama semakin keras. “Bersiaplah. Sebelum matahari terbit, kalian harus sudah meninggalkan padepokan ini. Jika aku masih melihat seseorang di padepokan ini, maka ia akan aku cekik sampai mati”

Perintah itu tidak diulangi. Para cantrik pun dengan tergesa-gesa telah pergi ke dalam barak mereka untuk membenahi diri dan barang-barang yang akan mereka bawa dalam perjalanan mereka yang lima hari. Sebagaimana mereka sepakati, maka mereka pun telah membawa senjata yang mereka punyai tanpa menimbulkan kecurigaan pada Singatama, karena para cantrik itu akan menempuh sebuah perjalanan yang mungkin akan menjumpai bahaya.

Seperti yang diperintahkan oleh Singatama, maka sebelum matahari terbit, mereka pun telah meninggalkan padepokan itu.

Tetapi justru karena mereka meninggalkan padepokan sebelum matahari terbit dan dengan tergesa-gesa, maka mereka mendapat kesempatan lebih banyak untuk menentukan sikap mereka sebagaimana telah mereka bicarakan semalam.

Sambil meninggalkan padepokan, mereka sempat berbicara lebih mantap tentang rencana mereka. Sementara itu, mereka pun berusaha untuk mengelabui Singatama apabila ia melakukan pelacakan atas para cantrik dengan memencar diri barang semalam, sebelum mereka akan menuju ke satu tempat yang telah mereka sepakati.

Tetapi para cantrik itu tidak pergi sendiri-sendiri. Mereka telah membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang. Bertiga mereka akan memencar dan akhirnya akan berkumpul kembali tanpa menghiraukan apakah gadis yang dicari oleh Singatama itu akan dapat ditemukan.

Yang penting bagi mereka, justru kesempatan untuk menghubungi keluarga mereka. Agaknya ada diantara para cantrik yang menganggap bahwa untuk sementara keluarga mereka sebaiknya menyingkir saja dari rumah mereka ke tempat yang tidak diberitahukan kepada para tetangga, agar mereka tidak menjadi sasaran kemarahan Singatama.

Jika semuanya telah dapat diselesaikan, maka mereka akan kembali lagi ke tempat kediaman mereka semula.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah jauh meninggalkan padepokan. Kuda mereka berpacu dengan kecepatan yang tinggi. Sebagai pengembara, merekapun berusaha untuk mengenali jalan yang mereka tempuh, sehingga mereka akan dapat menemukan arah kembali ke rumahnya.

“Jarak kita dengan rumah kita belum terlalu jauh” berkata Mahisa Murti, “meskipun demikian, mungkin kita tidak akan dapat mencapai rumah kita pada malam ini”

“Kita akan bermalam di perjalanan” berkata Mahisa Pukat, “meskipun dengan seekor kuda, kita dapat mempersingkat jarak. Tetapi selambat-lambatnya esok kita sudah berada di rumah. Jika kita bermalam semalam, maka dihari berikutnya kita akan berangkat. Katakanlah kita akan bermalam lagi semalam di perjalanan. Maka kita telah mempergunakan tiga malam bagi perjalanan kita”

“Dengan demikian, kita masih mempunyai waktu untuk menyusun diri. Mudah-mudahan usaha ini berhasil, meskipun kita masih harus mengganggu ketenangan orang tua. Tetapi masalahnya adalah masalah yang penting, yang menyangkut peri kehidupan banyak orang” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Setidak-tidaknya kita sudah berusaha untuk dapat memberikan keterangan tentang orang-orang yang mempunyai sikap yang tidak terpuji itu. Mudah-mudahan ayah tidak menganggap bahwa ternyata kita masih terlalu kanak-kanak yang merengek dalam kesulitan”

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia yakin, bahwa ayahnya tidak akan menganggapnya demikian. Persoalan yang dihadapimya saat itu memang persoalan yang cukup berat, karena mereka harus berhadapan dengan satu padepokan yang dipimpin oleh seseorang yang menurut pendengaran mereka mempunyai kemampuan yang sangat tinggi, meskipun bersumber pada ilmu hitam.

Demikianlah, kedua anak muda itu berpacu terus. Sekali-sekali mereka memang berhenti untuk memberi kesempatan kepada kuda mereka untuk beristirahat, minum dan makan secukupnya. Sementara kedua anak muda itu justru tidak merasa lapar sama sekali perlu untuk berhenti dan makan secukupnya, karena mereka harus mempertahankan keseimbangan tubuh mereka.

Ternyata kedua orang anak muda itu tidak mengalami hambatan di sepanjang perjalanan. Mereka memang harus bermalam di lereng sebuah bukit padas kecil yang gundul. Hanya ada satu dua batang pohon yang tumbuh di lerengnya. Namun di sebelah bukit itu mengalir sebatang sungai yang berair sangat bening.

Kedatangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengejutkan Mahendra. Karena itu maka dengan tergopoh-gopoh ia menyongsong kedua anaknya sambil bertanya langsung apakah ada sesuatu kesulitan di perjalanan mereka.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak tergesa-gesa. Justru karena sikapnya itu, maka Mahendrapun menjadi tenang.

Baru setelah duduk, minum dan makan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mulai menceriterakan, dorongan apakah yang telah membawa mereka kembali kepada ayahnya setelah mereka menempuh perjalanan yang masih terhitung sangat pendek.

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Kalian telah mengambil langkah yang benar. Kalian memang tidak sepantasnya menghadapi satu kekuatan yang tidak kalian ketahui. Bahkan Empu Nawamula pun tidak dapat menentukan apakah ia akan dapat mengatasi atau tidak. Padahal menurut pengenalanku atas Empu itu, ia adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Semenntara itu, Mahisa Murtipun menceriterakan rencana mereka untuk memancing persoalan, sehingga ada alasan untuk melawan padepokan yang berilmu hitam itu. Yang akan dapat melakukan tindak sewenang-wenang terhadap pihak lain di sekitar daerah pengaruh padepokan itu, bahkan sampai ke tempat yang jauh.

“Satu contoh telah terjadi ayah” berkata Mahisa Pukat kemudian, “kesewenang-wenangan Singatama terhadap seorang gadis, anak Ki Buyut Randumalang. Jika keluarganya gagal melindunginya, maka ia akan mengalami nasib yang sangat buruk. Namun dalam pada itu, tentu kesewenang-wenangan yang lain akan mungkin saja terjadi, mereka sebaiknya menyingkir saja dari rumah mereka setempat yang tidak diberitahukan kepada para tetangga, agar mereka tidak menjadi sasaran kemarahan Singatama. Jika semuanya telah dapat diselesaikan, maka mereka akan kembali lagi ke tempat kediaman mereka semula”

Mahendra mendengarkan keterangan kedua anaknya itu dengan seksama. Sehingga dengan demikian, maka rasa keadilannya pun telah disentuh pula. Dengan demikian, maka ia pun merasa terpanggil untuk ikut bersama anak- anaknya itu menghadapi satu kekuatan hitam yang akan dapat mengguncangkan ketenangan hidup bebrayan.

Namun dalam pada itu, Mahisa Pukatpun bertanya, “Apakah ayah akan pergi sendiri atau seperti biasanya, ayah akan bertamasya bersama paman Witantra dan paman Mahisa Agni?”

“Paman-pamanpun sudah menjadi semakin tua. Tetapi jika aku mengajak mereka, aku kira merekapun tidak akan berkeberatan” berkata Mahendra.

“Waktu kita sangat sempit, ayah” berkata Mahisa Murti., “Baiklah. Hari ini aku akan menghubungi paman-pamanmu. Jika mereka tidak sedang terlalu sibuk aku kira mereka tidak akan berkeberatan pergi bersamaku” berkata Mahendra. Namun kemudian iapun bertanya, “Tetapi, dapatkah kau mengatakan, apakah para pengikut guru Singatama itu jumlahnya terlalu banyak?”

“Itulah yang sulit aku katakan, ayah” jawab Mahisa Murti, “tetapi menurut pendengaranku, padepokan itu berkembang dengan cepat. Dengan demikian, maka padepokan itu telah berhasil menghimpun kekuatan yang semakin besar dalam landasan ilmu hitam. Justru karena orang-orang padepokan itu merasa bahwa hidup dan sikap mereka bebas tanpa kekang sama sekali, dan tidak ada kekuatan yang akan dapat menghalanginya, maka padepokan itu menjadi sangat menarik bagi orang-orang yang menganut cara hidup yang sesat”

“Tetapi bagaimana Singatama itu dapat terjerat?” bertanya Mahendra.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian menceriterakan hal itu sebagaimana mereka dengar dari Empu Nawamula. Sehingga orang tua Singatama sendiri menjadi kehilangan kesempatan untuk memberikan arah bagi sikap hidup anaknya.

Manendra mengangguk-angguk. Ia sudah mempunyai gambaran sikap dari satu lingkungan yang memang dapat membahayakan sesama. Sehingga karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan menghubungi kedua pamanmu. Kalian dapat beristirahat barang sejenak disini.

Demikianlah, maka Mahendra pun kemudian meninggalkan rumahnya untuk menghubungi Witantra dan Mahisa Agni. Agaknya kedua orang itu akan dapat diajak berbuat sesuatu menghadapi tingkah laku yang menyimpang dari sikap kewajaran hidup diantara sesama.

Sebenarnyalah yang diharapkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terpenuhi. Menjelang malam hari keduanya telah datang ke rumah Mahendra untuk memenuhi permintaannya.

Namun dalam pada itu, Witantra pun sempat berkelakar. Katanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Ternyata pengembaraan kalian terlalu cepat berakhir”

“Tidak paman” jawab Mahisa Pukat, “jika tidak ada persoalan khusus, aku kira aku masih belum akan kembali Tetapi dalam hal ini. kami berdua merasa bahwa kami masih terlalu lemah untuk mengatasinya, sementara persoalannya kami anggap cukup besar untuk ditangani”

Witantra tersenyum. Katanya, “Sebenarnyalah kalian memang harus dapat menilai diri. Adalah tidak ada artinya sama sekali jika kalian memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang sudah kalian ketahui, diluar kemampuan kalian untuk melakukannya. Karena itu, ketika ayah kalian mengatakan persoalannya kepadaku, maka akupun merasa tidak berkeberatan untuk pergi bersama kalian”

“Terima kasih, paman” berkata Mahisa Murti, “ternyata bahwa kami menghadapi satu keadaan yang belum dapat kami jajagi”

Tetapi kalian sudah dapat memberikan sedikit gambaran tentang lingkungan yang akan kita hadapi” berkata Mahisa Agni. Lalu, “Karena itulah, maka ayahmu telah menghubungi kakakmu, Mahisa Bungalan pula”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan serta merta berpaling kepada ayahnya. Seolah-olah mereka ingin mendapat penjelasan, apakah benar ayahnya telah menghubungi Mahisa Bungalan yang sudah berada dilingkungan keprajuritan”

Mahendra yang dapat membaca pertanyaan yang terpancar pada sorot mata kedua anaknya itu pun berkata, “Ya. Aku sudah menghubungi kakakmu Mahisa Bungalan. Kakakmu sebagai seorang prajurit. Ia akan pergi bersama kami dalam tugasnya, karena jika kami menyelesaikan persoalan ini, kami tidak akan dapat berbuat sendiri. Kami juga harus menyerahkan orang-orang padepokan itu kepada para prajurit yang berwenang untuk mengambil tindakan selanjutnya”

“Tetapi kami dapat menyerahkan kepada Akuwu yang memerintah langsung daerah itu” berkata Mahisa Pukat.

“Kau tidak pernah menyebut-nyebut nama Akuwu. Kau juga tidak dapat menghubunginya untuk mengatasi persoalan itu. Sementara itu tidak akan ada salahnya, jika prajurit Singasari akan langsung mengambil tindakan, apabila mereka benar-benar melihat satu bukti pelanggaran yang dilakukan oleh padepokan itu. Bukan sekedar tuduhan atau dugaan, bahwa padepokan itu telah melanggar paugeran pergaulan antara sesama penghuni tlatah Singasari” jawab Mahendra.

“Tetapi mereka tidak akan terlalu bodoh untuk menjerumuskan diri mereka, jika mereka mengetahui bahwa mereka berhadapan dengan prajurit Singasari” sahut Mahisa Pukat, “dengan demikian kita justru tidak akan dapat berbuat apa-apa”

Mahendra tersenyum. Ia melihat sikap yang lugu dari kedua orang anaknya. Karena itu maka katanya, “Sudah tentu, Mahisa Bungalan tidak membawa pasukannya dalam ujudnya sebagai prajurit Singasari”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk Mereka mengerti maksud ayahnya, sementara merekapun menyadari, bahwa kekuatan padepokan yang akan mereka hadapi itu pun tidak akan dapat diabaikan. Mungkin di padepokan itu tinggal berpuluh-puluh orang yang memiliki ilmu yang setingkat dengan Singatama, atau bahkan ada di antara mereka yang telah melampauinya. Sehingga dengan demikian, maka para cantrik dari padepokan Empu Nawamula yang akan berkumpul itu tidak akan mampu berbuat sesuatu meskipun mereka akan berdiri disatu pihak dengan Mahendra, Witantra dan Mahisa Agni.

“Mungkin guru Singatama itu pun mempunyai satu dua orang kawan yang setingkat” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di dalam hati.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah ayah. Nampaknya memang lebih baik kita berjaga jaga menghadapi kekuatan di luar dugaan kita”

“Lebih baik kita menghadapi mereka dengan yakin” berkata Mahendra, “selebihnya, pasukan Singasari tentu juga berkewajiban untuk melakukannya”

Demikianlah maka mereka pun telah membenahi diri. Esok pagi mereka akan berangkat menuju ke tempat yang sudah disepakati oleh Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan para cantrik yang telah mendapat perintah untuk mencari seorang gadis yang bernama Widati.

Malam itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak segera dapat tidur lelap. Mereka merasa selalu gelisah. Seolah-olah mereka dibayangi oleh tingkah laku Singatama yang kasar dan memuakkan.

Di dinihari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dikejutkan oleh derap kaki kuda memasuki halaman rumahnya. Ketika mereka menjenguk ke halaman, ternyata Mahisa Bungalan telah berada di halaman bersama sepuluh orang prajurit yartg berpakaian orang kebanyakan.

Dengan tergesa gesa kedua anak muda itu telah menemui kakaknya. Dengan gembira pula Mahisa Bungalan mendengarkan kedua adiknya itu berbicara tentang rencananya.

“Aku sependapat dengan sikapmu” berkata Mahisa Bungalan, “padepokan yang mempunyai ciri-ciri demikian memang harus dihapuskan. Tetapi sudah tentu, bahwa kita tidak dapat menuduh tanpa dapat membuktikan. Karena itu, apa yang akan kalian lakukan akan dapat dengan langsung menjebak mereka, apabila benar-benar seperti yang kalian katakan, mereka adalah orang-orang yang tidak mengharap lagi kepentingan dan kebebasan orang lain”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka orang- orang yang akan melakukan perjalanan itu sudah siap untuk berangkat. Menjelang matahari terbit, maka mereka telah meninggalkan regol halaman.

Tetangga-tetangga Mahendra sudah tidak terkejut lagi jika di rumah itu nampak beberapa ekor kuda. Merekapun tahu, bahwa Mahisa Bungalan telah menjadi seorang prajurit, sehingga kawan-kawannya sering datang mengunjungi rumah itu. Atau kawan-kawan Mahendra sendiri dalam hubungan dengan pekerjaannya, saudagar wesi aji dan emas permata.

Dalam pada itu, iring-iringan itu tidak seterusnya menempuh perjalanan dalam satu kelompok. Agar tidak menarik banyak perhatian, maka mereka telah membagi diri dalam beberapa kelompok kecil. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di paling depan telah dengan sengaja membuat isyarat sehingga orang-orang lain yang mengikutinya akan tidak kehilangan jejak.

Seperti pada saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kembali ke rumahnya, maka perjalanan itupun harus disekat oleh pekatnya malam. Iring-iringan itu pun harus telah memilih satu tempat yang paling baik untuk bermalam.

Ternyata tidak terjadi sesuatu yang dapat menghambat perjalahan mereka di hari berikutnya, sehingga mereka dapat berangkat pagi-pagi sebelum cahaya matahari menembus rimbunnya dedaunan hutan.

Dalam pada itu, agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat memilih jalan lain kecuali jalan yang pernah mereka lalui. Meskipun mereka tidak menerobos Kabuyutan Randumalang tetapi mereka telah melintas di padang perdu di daerah Kabuyutan Randumalang itu pula.

Namun dalam pada itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang menjadi cemas, bahwa pada suatu saat Widati akan dapat diketemukan oleh Singatama. Seandainya tidak oleh para cantrik di padepokan Empu Nawamula, tetapi oleh para cantrik di padepokan Singatama sendiri. Jika terjadi demikian, maka keadaan gadis itu akan menjadi semakin gawat.

Ketika hal itu disampaikannya kepada Mahendra, maka Mahendrapun berkata, “Apakah tidak sebaiknya gadis itu berada didalam perlindungan kita?”

“Apakah ayahnya akan mempercayai kita?” bertanya Mahisa Pukat.

“Bukankah kalian dapat menguraikan apa yang mungkin terjadi?” bertanya Mahisa Bungalan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun akhirnya mengambil satu keputusan untuk membagi diri. Mahisa Pukat akan meneruskan perjalanan ke tempat yang sudah disepakati oleh para cantrik, sementara Mahisa Murti akan menempuh perjalanan kembali ke Randumalang. Untuk meyakinkan Ki Buyut Randumalang, maka Mahisa Bungalan akan menyertainya bersama Mahisa Agni.

Demikianlah, maka sepuluh orang prajurit yang tidak mengenakan ciri-ciri keprajuritannya itu pun telah dibagi pula. Lima orang bersama Mahisa Pukat dan lima orang bersama Mahisa Murti.

Kedatangan Mahisa Murti di rumah Ki Buyut bersama beberapa orang telah mengejutkan. Bahkan Ki Buyut telah mempunyai prasangka buruk. Ia pernah menasehati anak gadisnya agar anaknya itu memilih kawan, apalagi yang nampaknya akan dapat menyentuh hatinya. Oleh karena itu maka Ki Buyut menganggap bahwa anaknya merasa dihalanginya, sehinga Mahisa Murti mengambil langkah-langkah tertentu untuk menembus batasan yang telah diberikannya kepada anak gadisnya.

Dengan cemas ia kemudian menerima Mahisa Murti dan beberapa orang yang bersama di pendapa. Dengan cemas pula ia menanyakan, apakah maksud kedatangan Mahisa Murti dan beberapa orang itu.

Mahisa Murti melihat kecemasan di sorot mata Ki Buyut. Iapun mengerti, bahwa Ki Buyut yang merasa dirinya dan bahkan seisi Kabuyutannya itu terlalu lemah untuk menghadapi Mahisa Murti apalagi dengan beberapa orang yang tentu orang-orang pilihan, menemui kedatangannya dengan kecemasan.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah berusaha untuk menjelaskan, maksudnya dengan sangat hati-hati. Ia mulai dengan pertemuannya dengan seorang anak muda yang bernama Singatama.

“Aku berada di padepokannya. Dengan tidak kami rencanakan sebelumnya, kami telah bermalam di sebuah padepokan yang ditunggui oleh seorang Empu yang kami kenal. Namun ternyata bahwa padepokan itu adalah padepokan yang akan menjadi milik Singatama” berkata Mahisa Murti lebih lanjut.

Dengan terperinci Mahisa Murti menceriterakan pertemuannya dengan Ki Raganiti. Dari Ki Raganiti lah maka Mahisa Murti mengetahui semua persoalannya dengan jelas. Ternyata bahwa gadis yang disebut-sebut oleh Singatama itu adalah Widati.

Ki Buyut memang tidak segera mempercayainya. Tetapi karena Mahisa Murti dapat menjelaskan dengan lengkap dan terperinci, maka Ki Buyut mulai condong untuk mempercayainya bahwa yang dikatakan oleh Mahisa Murti itu benar. Namun untuk mempercayakan anak gadisnya kepada anak muda itu, Ki Buyut pun agaknya masih tetap ragu-ragu. Bagi Ki Buyut. Mahisa Murti adalah anak muda yang asing.

Karena itulah, maka Mahisa Murti tidak dapat menyembunyikan diri lagi terhadap Ki Buyut itu agar Ki Buyut dapat mempercayainya. Bahkan Mahisa Bungalan yang datang bersamanya kemudian menunjukkan timang keprajuritannya yang berada dibawah bajunya sambil berkata, “Aku adalah seorang prajurit. Beberapa orang yang ada disini sekarang ini adalah prajurit Singasari pula. Kami sedang berusaha untuk mengamankan daerah ini dari tangan-tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian, ia masih juga meyakinkan, bahwa anaknya tidak akan menemui kesulitan, sehingga karena itu, maka katanya, “Baiklah Ki Sanak. Tetapi aku minta, agar aku diijinkan pergi bersama kalian. Aku dapat menyerahkan pemerintahan di Kabuyutan ini kepada para bebahu yang lain”

Mahisa Agni yang datang pula bersama Mahisa Murti sama sekali tidak merasa berkeberatan. Karena itu, maka katanya, “Bagi kami Ki Buyut, kesediaan Ki Buyut akan merupakan penghargaan bagi kami. Bahkan mungkin dalam keadaan yang sulit, Ki Buyut akan dapat memberikan banyak bantuan kepada kami”

“Ah. Ki Sanak tentu sudah mendengar dari anak muda ini, bahwa aku dan orang-orang Kabuyutan ini tidak berarti apa-apa didalam olah kanuragan” jawab Ki Buyut.

“Karena itu Ki Buyut” sahut Mahisa Murti, “Widati harus mendapat perlindungan yang cukup. Singatama akan dapat melakukan segala cara untuk mencapai maksudnya. Bahkan mungkin dengan cara yang paling kasar”

Dalam pada itu, maka Ki Buyut pun telah membenahi diri. Demikian pula dengan Widati. Meskipun Widati tertarik kepada Mahisa Murti, tetapi perjalanan itu membuatnya sangat berdebar-debar. Ia akan berada di dalam satu lingkungan yang tidak diketahuinya. Sekelompok laki-laki yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Meskipun ia akan pergi bersama ayahnya, tetapi ayahnya tentu tidak akan berarti apa-apa bagi orang-orang itu seandainya mereka bermaksud buruk.

Karena itu, maka ketika mereka mulai dengan perjalanannya, setelah Ki Buyut menyerahkan pemerintahan Kabuyutan itu kepada para bebahu yang lain, Widati tidak terpisah dengan sebilah patrem. Ia akan dapat mempergunakan senjata itu untuk mempertahankan diri. Tetapi juga untuk menghindarkan diri dan kepahitan yang akan dapat menerkamnya.

Dengan demikian, maka sebuah iring-iringan telah menelusuri jalan yang kadang kadang terasa sangat sulit. Terutama bagi Widati. Namun Mahisa Murti yang paling mengetahui, kemana mereka akan pergi, berkuda di paling depan dengan agak tergesa-gesa.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat telah mendekat tempat yang sudah mereka sepakati. Meskipun yang sepekan itu masih belum habis, ternyata sudah ada beberapa orang cantrik yang mendahului sampai ke tempat yang sudah mereka sepakati itu. Bahkan mereka telah mulai mencari lingkungan yang paling baik untuk disebut sebuah padepokan baru yang akan di kembangkan untuk memancing persoalan dengan sebuah padepokan yang memiliki sumber ilmu hitam.

Kedatangan Mahisa Pukat dengan beberapa orang yang belum mereka kenal, telah disambut oleh para cantrik dengan gembira. Namun mereka menjadi heran, bahwa diantara orang-orang yang datang itu, tidak terdapat Mahisa Murti.

“Ia akan segera menyusul” berkata Mahisa Pukat, “sementara kita akan membenahi diri”

“Kawan-kawan kita telah menemukan satu lingkungan yang baik bagi sebuah padepokan. Lingkungan yang sepi yang tidak banyak diketahui orang” berkata seorang cantrik.

“Dimana?” bertanya Mahisa Pukat.

“Beberapa ratus langkah dari tempat ini. Di tepi hutan yang tidak terlalu lebat. Kita akan mendapat banyak kesempatan untuk melakukan banyak kegiatan tanpa diketahui oleh Singatama” jawab cantrik itu.

Tetapi ternyata Mahisa Pukat tidak sependapat. Katanya, “Kau aneh. Kita tidak sedang bersembunyi. Kita justru sedang memancing persoalan. Karena itu, kita akan mencari tempat yang justru banyak di ketahui orang, sehingga berita tentang sebuah padepokan baru yang akan dibangun menjadi segera tersebar. Kita pun akan mengatakan kepada orang-orang yang kita jumpai, bahkan para pedagang yang akan kita hentikan karena kita memerlukan untuk membeli barang jualannya, akan kita beritahu, bahwa para cantrik dari padukuhan Empu Nawamula telah berpindah ke sebuah padukuhan baru yang sedang dipersiapkan”

Wajah para cantrik menjadi tegang. Beberapa orang di antara mereka saling berpandangan. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Kau benar. Kita memang tidak sedang bersembunyi. Semakin cepat bersoalan ini selesai, akan menjadi semakin baik Kita bukan binatang yang dapat diperlakukan sekehendak hati Singatama. Karena itu. segeralah terjadi. Mati atau mukti menurut pengertian kita, para cantrik yang ingin hidup tenang di padepokan sambil menuntut ilmu kejiwaan dan kenuragan”

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun merekapun kemudian mengangguk-angguk. Bahkan beberapa orang bergumam, “Aku sependapat”

Dengan demikian, maka Mahisa Pukatlah yang kemudian bersama beberapa orang cantrik telah membicarakan tempat yang paling baik yang akan mereka buka untuk menjadi sebuah padepokan. Padepokan yang hanya akan mereka pergunakan beberapa saat saja.

Dalam pada itu, Mahendra, Witantra dan para prajurit Singasari segera mencari tempat untuk beristirahat, sementara Mahisa Pukat dan dua orang cantrik telah menyusuri tempat di sekeliling tempat peristirahatan itu untuk mereka jadikan satu lingkungan padepokan baru. Justru tempat yang banyak diketahui orang dan tidak tersembunyi.

Akhirnya mereka menemukan tempat itu. Memang sebuah padang perdu di tepi sebuah hutan kecil. Tetapi tidak jauh dari sebuah jalan yang menghubungkan satu padukuhan dengan padukuhan yang lain. Meskipun jalan itu tidak terlalu besar, tetapi satu dua orang yang lewat di jalan itu akan segera berceritera tentang sebuah padepokan baru. Ceritera itu akan segera tersebar sehingga akhirnya akan terdengar oleh Singatama atau orang-orangnya. Apalagi setelah ia menyadari, bahwa waktu yang sepekan itu telah habis dan orang-orangnya tidak segera kembali.

Tanpa menunggu Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat dan para cantrik telah mengambil satu keputusan. Mereka akan mulai membuat patok-patok kayu di sekeliling padang perdu. Mereka akan mengambil satu lingkungan yang tidak perlu terlalu luas. Di dalam pagar yang akan mereka buat. mereka akan mendirikan barak-barak yang akan mereka pergunakan untuk berteduh.

Ternyata bahwa perjalanan Mahisa Murti yang membawa Widati bersamanya telah terhambat, sehingga mereka harus bermalam semalam lagi di perjalanan. Dengan hati yang berdebar-debar Widati sama sekali tidak mau terpisah dari ayahnya dan tidak pula terpisah dari patrem yang diselipkan di ikat pinggangnya.

Namun malam itu, mereka tidak mengalami sesuatu. Ketika matahari menyingsing, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke tempat yang sudah ditentukan.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat dan para cantrik, bahkan para prajurit yang datang bersama Mahisa Pukat dalam pakaian orang kebanyakan itu, telah membantu mereka pula. Yang mula-mula mereka kerjakan, adalah memotong beberapa batang pohon di hutan yang tidak begitu besar. Mereka mengambil batang dan dahan-dahan yang rampak, untuk membuat dinding disekeliling tanah yang mereka perlukan. Mereka memotong dahan-dahan itu setinggi orang, kemudian mereka tanam rapat sehingga merupakan dinding yang cukup kuat. Apalagi mereka telah mengikat batang dan dahan-dahan kayu itu dengan lulup.

Tetapi kerja itu ternyata adalah kerja yang besar. Kerja yang sangat melelahkan. Namun mereka bertekad untuk melanjutkan kerja itu, meskipun kemudian kerja itu tidak lagi terlalu rapi, karena mereka sadar, bahwa padepokan itu bukannya padepokan yang sebenarnya.

Ketika Mahisa Murti kemudian sampai ke tempat itu, maka orang-orang yang datang bersamanya itu pun segera membantu Mahisa Pukat. Dengan tidak terlalu menghiraukan mutu kerja yang mereka lakukan, mereka ingin segera memberikan kesan, bahwa mereka telah membuat satu lingkungan kehidupan tersendiri, yang kemudian akan mereka sebut dengan sebuah padepokan.

Pada saat padepokan itu mulai dikerjakan, maka waktu yang sepekan itu telah habis. Dengan berdebar-debar Singatama menunggu kedatangan para cantrik yang telah menyebar.

Dihari pertama, Singatama menyangka, bahwa para cantrik masih berada di perjalanan kembali. Tetapi di hari kedua setelah batas waktu yang sepekan itu, belum juga ada seorang pun yang datang.

Singatama mulai menjadi gelisah. Tetapi ia masih tetap yakin bahwa tidak seorang pun dari para cantrik itu yang akan berani mengabaikan perintahnya, kecuali dua orang cantrik baru yang telah melarikan diri.

“Agaknya belum seorang pun yang menemukan gadis itu” berkata Singatama. Namun kemudian, “Tetapi dapat atau tidak dapat, mereka tentu akan kembali pada waktunya, meskipun mereka akan dihukum. Bahkan mungkin mereka dapat berharap, seorang kawannya telah berhasil menemukan gadis yang mereka cari”

Pada hari ketiga, kemarahan Singatama mulai membakar jantung. Dengan nada keras ia bertanya kepada Empu Nawamula, “Paman, kenapa para cantrik tidak seorangpun yang datang kembali setelah tiga hari berselang dari waktu yang telah aku berikan”

Tetapi jawab Empu Nawamula memang sangat mengecewakan, “Aku tidak tahu. Bukankah kau berhadapan langsung dengan para cantrik itu”

“Apakah mereka bersama-sama melarikan diri?” bertanya Singatama.

“Aku tidak tahu. Sebenarnya aku pun telah menanti- nanti. Kebun dan halaman padepokan ini telah menjadi sangat kotor. Kami yang tinggal tidak lagi mampu membersihkan halaman seluas ini” jawab Empu Nawamula.

“Persetan dengan kebun dan halaman” geram Singatama, “aku memerlukan laporan perjalanan mereka semuanya. Aku memerlukan keterangan tentang gadis itu”

Tetapi Empu Nawamula tidak membiarkannya membentak-bentak. Karena itu iapun menjawab, “Itu urusanmu. Bukan urusanku”

Singatama menggeram. Tetapi ia tidak berani membentak pamannya lagi. Jika pamannya benar-benar marah dan melakukan kekerasan, ia tidak akan dapat berbuat banyak.

Karena itu, maka yang dilakukannya kemudian adalah menunggu barang satu dua hari. Jika dalam dua hari para cantrik tidak datang, bahkan seorang pun, maka jelaslah bagi Singatama, bahwa para cantrik itu memang melarikan diri.

“Aku akan menghukum keluarga mereka” geram Singatama, yang kemudian berkata kepada pengikutnya, “Kita akan memburu keluarga mereka. Jangan berbelas kasihan”

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mulai membuat barak-barak sederhana. Dengan kayu mereka ambil di hutan dan atap ilalang, maka beberapa gubug telah berdiri, sekedar untuk berteduh.

Usaha mereka untuk menarik perhatian, ternyata tidak sia-sia. Beberapa orang yang lewat di jalan kecil tidak jauh dari sebuah padepokan kecil yang mereka bangun itu, telah saling memperbincangkannya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang dengan sengaja menghubungi orang-orang padukuhan untuk membeli makanan, telah mengatakan, bahwa mereka memang sedang menyiapkan sebuah padepokan.,

“Kami akan segera menghubungi Ki Buyut di Kabuyutan ini” berkata Mahisa Murti.

“Kalian nampaknya aneh” berkata seorang penghuni padukuhan di ujung bulak, “kalian tidak membuka sebuah padepokan seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Mereka mempersiapkan sebuah padepokan untuk waktu yang lama. Mereka mengatur lingkungan dengan saksama. Mereka memerlukan tanah yang luas sebagai tanah garapan. Tetapi kalian membuat sebuah padepokan dengan tergesa-gesa dan seolah-olah sekedar gubug-gubug yang mirip dengan kandang ayam”

“Semuanya itu baru persiapan” jawab Mahisa Pukat, “dengan modal gubug-gubug kecil itu, kita akan mempersiapkan sebuah padepokan yang baik. Hutan kecil itu akan kami tebas dan akan kami jadikan daerah persawahan yang subur. sudah tentu dengan ijin Ki Buyut” 

“Ki Buyut tentu tidak akan berkeberatan. Disini hutan masih sangat luas” jawab orang itu. 

Dalam pada itu, dengan sengaja pula Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengatakan, bahwa orang-orang yang ikut membangun padepokan itu adalah para cantrik dari sebuah 
padepokan yang dipimpin oleh Empu Nawamula dan kemenakannya yang bernama Singatama. 

“Tetapi kami tidak ingin kembali lagi ke padepokan itu” berkata Mahisa Pukat “kami ingin hidup disini. Bahkan seorang adik perempuanku ikut pula bersama kami. Karena sebenarnyalah sebuah padepokan memerlukan perempuan untuk menyiapkan makanan dan minuman” 

“Juga aneh” sahut orang padukuhan itu 

“bukankah para cantrik harus mampu menanak nasi, memasak dengan membuat minuman?“ 

“Ia. Tetapi bukankah lebih baik hal itu dilakukan oleh seorang perempuan?“ Selebihnya adik perempuanku memang sedang bersembunyi”

Dengan demikian, maka berita tentang padepokan baru itu segera tersebar. Bukan hanya di satu dua padukuhan. 

Tetapi telah tersebar semakin lama semakin luas. Dalam pada itu, meskipun letak padepokain itu tidak terlalu jauh dari sebuah sumber air dibawah sebatang pohon 
raksasa dipinggir hutan, tetapi mereka telah membuat sebuah sumur pula. 

Dengan demikian, maka padepokan itu telah dilengkapi dengan pemenuhan kebutuhan bagi satu lingkungan hidup, meskipun tidak disiapkan untuk seterusnya. 

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengatur diri sebaik-baiknya. Para cantrik harus tetap 
berhati-hati menghadapi perkembangan keadaan. Segalanya akan dapat berlangsung dengan cepat, sehingga memerlukan penanganan yang cepat pula. 

Sebenarnyalah, yang diharapkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun segera terjadi. Berita tentang sebuah padepokan baru yang dihuni oleh para cantrik yang melarikan diri dari sebuah padepokan yang lain, telah 
terdengar oleh Singatama. 

Berita itu rasa-rasanya telah membuat darahnya mendidih. Jantungnya bagaikan berdentang semakin cepat. 

“Orang-orang gila yang telah jemu hidup” geram Singatama “aku harus menghukum mereka” 

Kedua orang saudara seperguruan Singatama itupun mempunyai tabiat yang serupa. Karena itu, berita itu rasa-rasanya telah mendorong mereka untuk segera mencari 
padepokan baru itu. 

Tetapi Empu Nawamula sempat bertanya kepada mereka “Apa yang akan kalian lakukan?“ 

“Menghukum mereka” jawab Singatama “yang melawan akan aku bunuh”

“Apakah kau kira para cantrik itu tidak mampu 
mengadakan perlawanan?“ bertanya Empu Nawamula. 

“Persetan dengan mereka” geram Singatama 

“kami bertiga akan dapat membunuh mereka semua. Tidak seorangpun yang akan mampu menyelamatkan diri” 

kemudian hampir berteriak Singatama berkata “Mereka memang sengaja menantang aku. Ternyata gadis yang mereka cari itu sudah dapat mereka ketemukan. Sekarang 
gadis itu berada di satu tempat yang mereka sebut dengan sebuah padepokan baru” 

Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mengerti rencana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. 

Namun Empu Nawamula sebenarnya masih juga mencemaskan kedua anak muda itu. Jika seluruh padepokan yang dipimpin oleh guru Singatama itu bergerak, apakah padepokan baru itu akan mampu melawannya. 

Namun, seperti Empu Nawamula sendiri, maka tekad untuk menghancurkan padepokan yang berlandaskan pada ilmu hitam itu merupakan bagian dari pengabdian mereka terhadap sesama. 

Karena itu, maka mereka memang tidak 
mempunyai pilihan lain daripada melawan dengan sepenuh kemampuan dan kekuatan. 

Karena itu, maka Empu Nawamula tidak lagi berbuat sesuatu. Dibiarkannya saja Singatama mengambil satu sikap. 

Sebenarnyalah dengan darah yang serasa mendidih, Singatama dengan kedua orang saudara seperguruannya, benar-benar telah mencari padepokan baru yang didengarnya lewat orang-orang yang hilir mudik dari satu 
pasar kepasar yang lain yang mendengar berita itu sambung bersambung.

Meskipun kedatangan Singatama itu memang 
diharapkan, namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut juga, ketika seorang cantrik dengan pucat melaporkan kepadanya, bahwa tiga orang berkuda telah datang. 

“Siapa?“ bertanya Mahisa Murti. 

“Singatama dengan dua orang saudara seperguruannya” jawab cantrik itu dengan gemetar. 

“He, kenapa kau menjadi pucat dan gemetar?“ bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba. 

Cantrik itu tidak menjawab. Dalam pada itu, Mahisa Pukatpun tertawa sambil 
berkata “Bukankah kau sudah bertekad untuk menjadi seorang laki-laki. Apapun yang terjadi tidak akan menggetarkan tekad itu” 

Cantrik itu mengangguk. Namun mereka tidak mendapat kesempatan untuk berbicara lebih panjang. Sementara itu terdengar suara 
orang berteriak di luar pagar “He, orang-orang gila. Apakah kalian benar-benar menantang aku?“ 

Para cantrik yang mendengar suara Singatama itu memang menjadi berdebar-debar. 

Bagaimanapun juga mereka tidak dapat menyembunyikan perasaan mereka. Mereka sudah terbiasa berada dibawah pengaruh ketakutan yang sangat terhadap anak muda itu. 

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membuka pintu regol yang ditutup rapat oleh para cantrik dan diselarak rangkap. Sambil berdiri di muka pintu 
Mahisa Murti berkata “He, bukankah kau Singatama?“

“Ya. Aku Singatama. Kaukah cantrik yang telah mencuri dua ekor kuda dan melarikan diri di dini hari itu?“ bertanya Singatama. 

“Ya. Kami berdua memang telah melarikan diri. Tetapi kali ini kami sama sekali tidak akan melarikan diri” jawab Mahisa Pukat. Lalu “saat itupun sebenarnya kami tidak melarikan diri. Tetapi kami sedang menyiapkan satu 
rencana besar bagi kemanusiaan. Kami sedang mempersiapkan sebuah padepokan untuk menampung para cantrik yang tidak tahan lagi kau perlakukan dengan 
sewenang-wenang. 

Tetapi lebih dari itu, kami sedang menyiapkan sebuah perlawanan terhadap nafas kehidupan 
padepokanmu yang penuh dengan tingkah laku dan tindak tanduk yang bertentangan dengan peradaban manusia” 

“Persetan” geram Singatama “aku tidak perlu 
sesorahmu. Siapa yang akan melawan aku? Atau kalian ingin berkelahi berbareng? Marilah, dengan demikian maka tugasku akan segera selesai. Karena aku tahu, bahwa kalian 
telah menyembunyikan gadis yang aku cari itu disini” 

Tetapi sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sangat mengejutkan Singatama. Keduanya sama sekali tidak menjadi gentar. Tetapi keduanya justru tertawa. 

“Kau jangan mengumpat-umpat disini” berkata Mahisa Pukat “kau sangka bahwa dengan demikian, kami akan menjadi ketakutan?. Kami para cantrik telah bersepakat untuk tidak kembali lagi kepadamu, meskipun kami sudah 
berhasil menemukan gadis yang kau kehendaki? Kami telah membawanya ke tempat ini agar kau tidak akan dapat 
mengambilnya”


Bersambung...... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...