*Hijaunya Lembah Jilid 00-03*
“Aku bertanggung jawab atas benda-benda itu. Kau kira aku akan memilih besok pagi bangun dengan segar bugar, tetapi barang-barang itu jatuh ke dalam tanganmu daripada mati mempertahankannya.” sahut pengawal itu.
“Orang-orang dungu,” bentak orang bertubuh tinggi itu, ”jadi kalian memilih mati, he? Berapa gajimu mengabdi kepada Akuwu sehingga kau rela mengorbankan nyawamu?”
“Ukurannya bukan gaji atau upah. Tetapi bagiku mempertahankan benda-benda itu adalah pengabdian.” jawab pengawal itu.
Orang bertubuh tinggi itu mengumpat. Lalu katanya dengan kasar, “Kalian akan aku bunuh di banjar ini. Besok kalau para peronda dari padukuhan ini terbangun, mereka akan melihat mayat kailan yang sudah terpisah kepala dari badan kalian berserakkan di dalam banjar ini. He, apakah memang ingin terjadi seperti itu?”
“Persetan,” geram pengawal itu, ”aku akan mempertahankan benda-benda yang memang menjadi tanggung jawab kami.”
Orang bertubuh tinggi itupun kemudian memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiap-siap. Ternyata mereka terdiri dari sekelompok yang cukup besar. Lebih dari sepuluh orang. Agaknya mereka memang akan membawa semua benda-benda yang berada di dalam peti-peti kecil yang tersimpan di dua peti yang besar itu.
Sejenak kemudian sepuluh orang yang memasuki ruang dalam itu pun memencar pula, sementara masih ada di antara mereka yang berdiri di luar pintu untuk mengamati keadaan di luar banjar itu.
Namun agaknya para peronda memang tertidur nyenyak. Tiga orang yang berada di ruang dalam itu pun sama sekali tidak menggeliat. Bahkan seorang yang tertidur di muka pintu butulan itu sama sekali tidak mereka ketika dengan kaki orang-orang yang memasuki banjar itu menggeser tubuh mereka ke tepi.
Para pengawal yang berjumlah hanya empat orang itu pun telah bersiap sepenuhnya. Meskipun mereka sadar, bahwa jumlah mereka jauh lebih sedikit, tetapi mereka merasa bertanggung jawab atas benda-benda berharga yang berada di dalam ruang penyimpanan. Namun di dalam ruang itu terdapat bukan hanya peti-peti yang berisi benda-benda berharga itu. tetapi juga terdapat dua orang anak muda. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Sejenak kemudian, maka orang-orang yang menginginkan benda-benda berharga itu telah mulai menggerakkan senjata mereka, sementara para pengawal pun telah bersiaga sepenuhnya.
Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran di dalam ruang dalam banjar yang tidak terlalu luas itu. Namun dengan demikian, keadaan ruang itu agak menguntungkan keempat orang pengawal yang harus melawan orang lain dalam jumlah yang lebih banyak.
Dua orang pengawal yang berpencar telah bertempur di sudut agar mereka tidak dapat diserang dari belakang, sementara dua yang lain telah bersiap di depan pintu.
Orang yang bertubuh tinggi besar itulah yang pertama-tama mulai menjulurkan senjatanya. Meskipun ia belum benar-benar mulai menyerang, namun yang dilakukan itu merupakan isyarat bahwa pertempuran segera terjadi.
Demikianlah dalam waktu yang singkat, pertempuran itu pun telah menjadi semakin seru. Para pengawal yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan benda-benda berharga itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk bertahan.
Ternyata bahwa para pengawal itu adalah benar-benar pengawal yang terpilih dalam tugas mereka. Mereka menguasai ilmu pedang dengan baik, sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka mampu bertahan meskipun mereka harus menghadapi jumlah yang lebih banyak.
Namun demikian beberapa orang di antara mereka yang ingin merampas benda-benda keramat itu pun memiliki bekal yang cukup.
Orang yang bertubuh tinggi besar itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Bersama beberapa orang kawannya mereka berhasil mendesak dua orang yang berjaga-jaga di depan pintu itu sehingga keduanya benar-benar telah melekat pada lubang pintu.
“Jangan beri kesempatan,” teriak orang bertubuh tinggi besar itu, ”dan jangan ragu-ragu seandainya senjata kalian menusuk ke dada orang itu. Biarlah ia mati dengan luka arang kranjang dan biarlah kepalanya kita penggal sebagaimana sudah aku katakan.”
Kedua pengawal itu menggeram marah. Tiba-tiba saja seorang di antara mereka telah menghentakkan kemampuannya. Dengan kecepatan yang tidak diduga-duga, tiba-tiba saja padangnya telah terjulur lurus sehingga seorang yang berdiri di hapannya telah berteriak tertahan sambil meloncat surut.
“Orang gila,” teriaknya, ”kau sangka tingkah lakumu ini tidak akan membuat kau lebih menderita.”
“Kau dilukai?” bertanya orang yang bertubuh tinggi besar.
“Ya,” jawab orang itu, ”tetapi aku masih siap membunuhnya.”
“Kalau begitu jangan biarkan keduanya mati,” berkata orang bertubuh tinggi besar itu, ”aku akan membunuh mereka perlahan-lahan.”
Namun dalam pada itu, ternyata seseorang yang bertempur melawan pengawal yang berada di sudut pun telah mengeluh tertahan. Seorang di antara mereka telah terluka pula.
Namun luka-luka itu telah membuat orang-orang yang ingin merampas benda-benda berharga itu menjadi semakin gila. Mereka bertempur semakin garang, sehingga para pengawal pun menjadi semakin mengalami kesulitan.
Dalam pada itu, di ruang penyimpanan pusaka yang keramat itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri termangu-mangu. Mereka dapat melihat sepintas-sepintas bahwa orang-orang yang datang itu berhasil mendesak.
“Apa yang akan kita lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Apa boleh buat,” desis Mahisa Murti, ”kita tidak dapat tinggal diam dengan keadaan seperti ini.”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun meraba pisau belatinya.
Tetapi Mahisa Murti berkata, ”Jika kita dapat mencapai para peronda yang tertidur itu, maka kita akan dapat meminjam senjatanya tanpa menunjukkan bahwa kita sendiri memang bersenjata.”
”Kalau mungkin,” jawab Mahisa Pukat, ”tetapi kalau tidak, apakah sebenarnya keberatannya jika mereka melihat kita bersenjata?”
Mahisa Murti menggeleng. Katanya, ”Tidak. Tidak ada keberatannya apa-apa.”
Mahisa Pukat menarik nafas panjang. Sementara itu pertempuran menjadi semakin sengit. Para pengawal menjadi semakin terdesak oleh kemarahan orang-orang yang merasa terhambat usahanya untuk memiliki benda-benda berharga di dalam peti-peti itu.
Mahisa Murti yang sudah bersiap pun telah memberi isyarat, agar mereka mulai menampakkan diri.
Demikianlah, maka tiba-tiba saja terdengar Mahisa Murti tertawa sambil berdiri di pintu ruang penyimpanan benda-benda berharga itu, disusul oleh Mahisa Pukat, tepat di belakang dua orang pengawal yang sedang mempertahankan benda-benda berharga itu.
Semua orang yang mendengar suara tertawa itu terkejut. Bahkan para pengawal pun terkejut. Sekilas timbul kecurigaan mereka, bahwa sebenarnya kedua orang anak muda itu adalah kawan dari orang-orang yang mengingini benda-benda berharga itu.
Namun tiba-tiba di antara suara tertawanya Mahisa Murti berkata, ”Inikah cara yang kalian pergunakan untuk merampok benda-benda berharga? Kenapa kalian tidak bersikap jantan dengan menantang para pengawal bertempur seorang melawan seorang. Siapa yang menang, ialah yang berhak atas pusaka keramat ini.”
Orang bertubuh tinggi besar yang dengan serta merta telah menghentikan serangan-serangannya itu pun memandanginya dengan wajah tegang.
“Siapa kau, he anak gila?” bertanya orang bertubuh tinggi besar itu.
“Kau tidak perlu tahu, siapakah kami berdua,” jawab Mahisa Pukat, ”tetapi tingkah laku kalian membuat aku muak.”
“Kau!” desis orang yang bermalam bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Kau kembali lagi ke banjar ini?”
“Siapakah mereka?” bertanya orang tinggi besar itu.
“Anak-anak gila. Jika tahu kau berbuat gila seperti ini, aku bunuh kau kemarin di padang perdu itu.” geram orang yang bermalam bersama keduanya itu.
Tetapi Mahisa Murti kemudian menjawab, ”Nanti aku akan memberitahukan kepada kalian, siapa aku. Tetapi kalian harus meletakkan senjata kalian lebih dahulu.”
“Anak ini benar-benar gila. Bunuh saja mereka seperti pengawal-pengawal.” perintah orang bertubuh tinggi besar.
“Tunggu,” berkata Mahisa Murti, ”aku tidak akan ingkar seandainya kalian akan membunuh kami. Tetapi jika ada sedikit keberanian pada kalian, biarlah kami berdua bersenjata.”
Kemarahan yang tidak tertahankan hampir meledakkan kepala orang yang bertubuh tinggi besar yang agaknya adalah pemimpin dari orang-orang yang ingin merampas benda-benda berharga itu.
Namun dalam pada itu Mahisa Murti pun berkata, ”Tetapi seandainya kalian menjadi ketakutan, maka kami tidak akan surut meskipun kami tidak bersenjata.”
Orang bertubuh tinggi besar itu tidak dapat menahan diri lagi. Dengan lantang ia berteriak, ”Bunuh semuanya.”
Orang-orangnya pun telah mulai bergerak. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun bergeser ke luar pintu. Di antara kedua pengawal yang bertahan itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyusup menghadap orang-orang yang bersiap menyerang. Sementara Mahisa Pukat berkata, ”Aku akan bertempur di luar bilik yang sangat sempit itu.”
“Gila!” geram seorang berkumis panjang. Tingkah laku kedua anak muda itu benar-benar membuat mereka kehilangan kesabaran. Karena itu, maka mereka pun mulai bergeser sambil menggerakkan senjata mereka.
Dalam pada itu, Mahisa Murti melihat tiga orang peronda masih saja tertidur. Agaknya memang sulit untuk dapat membangunkan mereka karena pengaruh sirep. Namun demikian, agaknya senjata para peronda itu akan dapat dimanfaatkan meskipun sudah tentu bukan senjata yang baik.
Karena itulah, maka Mahisa Murti pun berdesis sambil menggamit Mahisa Pukat dengan sikapnya, ”Peronda yang tidur itu bersenjata. Kita dapat mengambilnya.”
Mahisa Pukat memandang mereka sejenak. Seorang berbaring di dekat pintu butulan. Yang seorang di sebelah pintu utama sedang yang lain telah terdorong menjauh ke sudut. Orang-orang yang ingin merampas benda-benda berharga itu dengan semena-mena menyingkirkan para peronda yang tertidur itu dengan kakinya. Namun demikian para peronda itu sama sekali tidak terbangun.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mendapat kesempatan lagi untuk berbicara lebih banyak.
Tiba-tiba saja orang-orang yang marah itu telah menyerangnya.
“Minggirlah!” desis kedua orang pengawal yang heran melihat tingkah laku Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Namun keduanya pun menjadi semakin heran, ketika mereka melihat, bagaimana kedua anak muda itu dengan cepat dan tangkasnya menyusup di antara mereka.
Memang satu langkah yang tidak terduga-duga, sehingga dengan demikian keduanya telah mengejutkan lawan-lawannya. Bahkan keduanya sempat mendorong beberapa orang menyibak tanpa berbuat apa-apa.
”Bunuh semuanya!” teriak orang bertubuh tinggi besar ketika ia menyadari apa yang terjadi.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berlari ke arah yang berbeda. Mahisa Murti dengan cepatnya telah memungut parang yang tergolek di dekat peronda yang tertidur di dekat pintu butulan, sementara Mahisa Pukat telah mengambil tombak pendek yang tersandar di uger-uger pintu. Agaknya salah seorang peronda itu tengah menyadarkan tombaknya di uger-uger pintu itu ketika tiba-tiba perasaan kantuk yang tidak dapat dilawannya telah mencengkamnya.
Yang terjadi itu demikian cepat, tiba-tiba dan tidak diduga lebih dahulu oleh orang-orang yang datang ingin merampas benda-benda berharga itu. Menurut dugaan mereka, anak-anak muda itu tidak akan dapat banyak berbuat, sehingga mereka kurang memperhatikannya. Mereka menganggap anak-anak muda itu sekedar berbuat aneh-aneh tanpa mereka sadari akibatnya.
Namun ternyata bahwa anak-anak muda itu kemudian telah bersenjata.
Karena itu, bagaimanapun juga anak-anak muda itu harus mendapat perhatian. Dengan kemarahan yang bergelora orang bertubuh tinggi besar itu menggeram, “Cepat. Kita tidak mempunyai banyak waktu.”
Orang-orangnya yang bagaikan telah terbangun dari sebuah mimpi yang aneh itu pun segera menempatkan diri. Yang menghadapi dua orang pengawal di pintu ruang penyimpanan itu telah mengacukan senjata mereka. Yang bertempur melawan pengawal yang lain, yang menempatkan diri di sudut ruang dalam itu pun telah bersiap pula. Namun dua di antara orang-orang itu telah bergeser menghadapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Demikianlah, sejenak kemudian pertempuran di ruang dalam yang tidak terlalu luas itu pun telah terjadi lagi. Namun sementara itu, ternyata Mahisa Pukat justru telah membuka pintu utama dan ia pun telah bergeser ke luar, sehingga dengan demikian maka ia pun telah berada di pringgitan.
“Mahisa Murti, di sini tempatnya lebih luas.” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti pun telah mengikuti Mahisa Pukat ke luar dari ruang dalam itu dan ia justru telah bergeser semakin jauh, sehingga ia pun telah bertempur di pendapa.
Namun dalam pada itu, meskipun orang-orang yang ingin merampas benda-benda berharga itu telah berkurang dengan dua orang yang harus menghadapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun keempat pengawal yang mempertahankan benda-benda berharga itu masih tetap dalam kesulitan. Lawan mereka yang marah telah menekan semakin berat, sementara ujung-ujung senjata seolah-olah telah menggapai-gapai tubuh mereka dan siap untuk mengoyaknya.
Tetapi dalam kesulitan yang memuncak, tiba-tiba saja terdengar keluh tertahan di luar pintu. Sementara itu lawan Mahisa Murti telah terdorong beberapa langkah surut. Ternyata senjata orang itu telah terlepas, sementara segores luka telah menyilang di dadanya.
Orang itu terhuyung-huyung melangkah ke ruang dalam untuk melaporkan keadaannya kepada kawan-kawannya, sementara itu Mahisa Murti sama sekali tidak berbuat apa-apa. Bahkan ia mengikuti orang itu di belakangnya sambil menimang-nimang senjatanya.
Keadaan orang itu ternyata sangat mengejutkan. Tidak seorang pun di antara orang-orang yang ingin merampas senjata itu yang menyangka bahwa anak muda yang tidak mereka kenal sebelumnya itu mampu mengalahkan salah seorang di antara mereka.
Karena itu, dengan kemarahan yang menghentak di dalam dadanya, orang yang bertubuh tinggi besar itu berteriak, ”Bunuh anak itu lebih dahulu.”
Tiga orang serentak meninggalkan tempatnya. Seorang dari antara kawan-kawannya yang bertempur di sudut, dua orang dari antara mereka yang bertempur di depan pintu ruang penyimpanan.
Mahisa Murti melihat tiga orang mendekatinya. Karena itu, maka Murti pun berkata, ”Baiklah, marilah kita bertempur di tempat yang lebih baik. Kita pergi ke pendapa.”
Tiga orang itu mengikutinya dengan hati-hati, sementara Mahisa Murti melangkah mundur menuju ke pendapa.
Namun Mahisa Murti itu pun terkejut ketika ia melihat dua orang yang meloncat naik ke pendapa langsung mendekati Mahisa Pukat. Agaknya mereka adalah kawan-kawan dari lawan Mahisa Pukat yang mendapat tugas berjaga-jaga di luar. Tetapi ketika mereka melihat keadaan lawan Mahisa Pukat itu dalam bahaya, maka merekapun bersama-sama telah naik untuk membantunya.
Tetapi sebelum kedua orang itu mencapai kawannya yang terdesak oleh Mahisa Pukat, mereka telah melihat lawan Mahisa Pukat itu terdorong surut dengan luka menganga di pundaknya.
Meskipun demikian orang yang terluka itu tidak mau menyingkir. Ternyata ia masih mampu menggenggam senjatanya, meskipun darahnya telah mengalir dari lukanya.
Dengan demikian, maka baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat harus bertempur masing-masing menghadapi tiga orang. Namun dengan demikian mereka telah mengurangi jumlah orang yang bertempur di ruang dalam.
Tiga orang yang kemudian menghadapi Mahisa Murti memang mempunyai pengaruh bagi mereka yang bertempur di dalam. Para pengawal itu merasa, bahwa tekanan lawan-lawan mereka menjadi agak susut karena jumlah yang susut pula.
Namun dalam pada itu, ternyata lawan-lawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat segera menguasai lawannya. Bahkan tiba-tiba seorang lawan Mahisa Pukat mengumpat dengan kasarnya. Ternyata tombak pendek Mahisa Pukat telah berhasil merobek lambung seorang lawannya yang lain, sehingga orang itu terdorong dan tidak mampu lagi untuk bertahan agar tetap berdiri.
Sambil memegangi lukanya yang memancarkan darah, maka orang itu telah terduduk lesu. Wajahnya menjadi pucat dan bibirnya nampak gemetar.
Seorang yang masih belum terluka di antara lawan-lawan Mahisa Pukat itu pun berteriak pula. Dengan garangnya ia berusaha menyerang. Tetapi ternyata ia tidak mampu berbuat banyak. Apalagi seorang kawannya yang telah terluka lebih dahulu semakin lama ternyata menjadi makin lemah pula.
Dalam pada itu, para pengawal yang masih harus bertempur dengan lawan lebih banyak itu pun masih harus mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun mereka pun adalah orang-orang yang terlatih dan terpilih di antara para pengawal. Karena itu, maka mereka telah menunjukkan kemampuan mereka dengan penuh tanggung jawab. Benda-benda berharga itu harus mereka pertahankan sampai batas kemampuan mereka yang terakhir.
Seorang di antara mereka yang ingin merampas benda-benda berharga itu pun berteriak nyaring, ketika ia merasa ujung senjatanya berhasil melukai lengan salah seorang dari para pengawal itu.
Ketika ia melihat darah memancar dari luka itu, maka ia pun berteriak, “Sekarang ajalmu telah sampai.”
“Aku tidak apa-apa,” jawab pengawal itu, “jantungku pernah dikoyak pedang lawan. Tetapi aku masih tetap hidup. Apalagi hanya segores luka kecil ini.”
“Jangan menyembunyikan kegelisahan.” jawab lawannya.
Namun dalam pada itu, di luar Mahisa Pukatlah yang berteriak nyaring, “He, apakah masih ada orang di dalam? Lawan-lawanku telah lumpuh semuanya. Jika tidak ada yang keluar lagi, maka akulah yang akan pergi ke dalam.”
Namun sementara itu, orang-orang yang berada di dalam sedang berusaha untuk menghabisi pengawal yang sudah terluka. Justru terhadap pengawal yang sudah terluka itulah, tekanan yang paling berat diberikan oleh lawan-lawannya. Dengan demikian, maka mereka akan dapat mengurangi lawan mereka dengan seorang.
Ketiga orang pengawal yang lain berusaha untuk mengerahkan kemampuan mereka. Pengawal yang terluka itu harus diselamatkan.
Meskipun nampaknya terlalu sulit untuk dilakukan. Orang-orang marah itu telah berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka segera dapat berhasil, sementara beberapa orang kawannya telah terluka. Bahkan kawan-kawannya yang bertugas berjaga-jaga di luar.
Sementara itu, Mahisa Pukat yang telah kehabisan lawan telah menjenguk keadaan di ruang dalam. Namun ia melihat bahwa keadaan para pengawal masih tetap gawat. Bahkan seorang di antara mereka justru telah terluka.
Ketika segores luka lagi menyilang di dadanya, maka lawannya berteriak sekali lagi, “Kau ternyata akan mati paling cepat.”
“Tidak,” terdengar suara Mahisa Pukat, “aku akan membantumu. Bertahanlah. Luka di dadamu itu tidak akan banyak berpengaruh. Luka itu hanyalah segores tipis pada kulitmu.”
Orang itu ternyata masih mampu menanggapi kata-kata Mahisa Pukat. Ia tetap bertahan meskipun menunggu lawan datang menyerang. Ia pun segera mendekati pengawal yang terluka itu dan langsung melibatkan diri ke dalamnya. Bahkan kemudian ia masih sempat berkata, “Minggirlah. Obati luka-lukamu. Aku akan menyelesaikan lawan-lawanmu.”
Tetapi pengawal itu masih tetap berdiri sambil menggenggam senjatanya, meskipun tubuhnya mulai terasa bergetar.
Tetapi anak muda yang telah langsung melibatkan diri itu benar-benar mengejutkan. Dengan tombak pendeknya Mahisa Pukat telah mengacaukan orang-orang yang berniat merampas benda-benda berharga itu. Bahkan orang yang bertubuh tinggi besar itu pun terpaksa meloncat mundur ketika ujung tombak Mahisa Pukat hampir menyinggung keningnya.
“Bocah tidak tahu diri!” geram orang tinggi besar itu.
Mahisa Pukat tertawa. Tetapi belum lagi ia berbuat sesuatu orang bertubuh tinggi besar itu berkata, “Bunuh dahulu bocah ini. Baru kita berbicara tentang orang-orang yang lain.”
Para pengikutnya ternyata mengerti benar apa yang dimaksudkannya. Orang-orang yang masih mampu bertempur itu pun segera bergeser. Mereka hanya menyisakan seorang untuk melawan setiap pengawal. Hanya tiga. Karena yang seorang telah dianggap tidak akan mampu berbuat apa-apa. Sementara yang lain telah siap menghadapi Mahisa Pukat.
Ternyata masih ada orang-orang lain yang semula berada di luar telah memasuki ruangan dalam dan membantu kawan-kawannya yang ternyata mengalami kesulitan.
“Ternyata kalian mempunyai kawan cukup banyak.” berkata Mahisa Pukat sambil memutar tombaknya.
“Kau akan mati dengan penuh penyesalan.” gumam orang bertubuh tinggi besar itu.
Mahisa Pukat pun bertempur dengan tangkasnya, sementara para pengawal yang masing-masing tinggal menghadapi seorang lawan itu pun justru telah mendesak lawan-lawan mereka. Sementara yang terluka mendapat kesempatan untuk duduk di tlundak pintu sambil mengobati luka-lukanya agar darah tidak terlalu banyak mengalir, meskipun ia tidak lagi akan mampu ikut bertempur.
Para pengawal menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat lawan Mahisa Pukat justru menjadi terlalu banyak. Karena itu, maka para pengawal itu telah bertempur dengan sepenuh kemampuan mereka, agar mereka segera berhasil menyelesaikan tugas mereka. Dengan demikian mereka akan dapat membantu Mahisa Pukat melawan sejumlah orang yang garang itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar