"PELANGI SINGOSARI" merupakan cerita silat klasik dari berbagai cersil yang lain, dan karangan yang lainnya seperti "HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN" Karya oleh S.H. MINTARDJA.
*Hijaunya Lembah Jilid 00-01*
HIJAUNYA LEMBAH : JILID-000
Ternyata Mahendra tidak sempat beristirahat untuk menikmati satu ketenangan pada hari tuanya. Semula Mahendra menduga, bahwa apabila Mahisa Bungalan telah menemukan hari-hari yang mapan setelah perkawinannya dengan gadis yang dipilihnya sendiri, ia akan dapat tidur nyenyak tanpa kegelisahan.
Tetapi persoalan baru ternyata telah timbul.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin meningkat. Bukan saja umurnya, tetapi juga wawasannya tentang hidup dan kehidupan. Apa yang diketahuinya sehari-hari di sekelilingnya terasa sangat sempit dan terbatas. Keinginan yang tidak tertahankan telah mendorong mereka untuk melihat dunia yang lebih luas.
“Kalian tidak memberi kesempatan aku hidup tenang.” berkata ayahnya.
“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti.
“Kau sudah mulai merengek untuk melakukan perjalanan yang membuat ayah tidak dapat tidur di malam hari, dan tidak makan dengan tenang di siang hari.” berkata ayahnya.
Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Kakang Mahisa Bungalan juga pernah bahkan terlalu sering melakukan pengembaraan.”
”Karena itulah, aku ingin beristirahat dari kegelisahan semacam itu.” jawab Mahendra.
“Aku tidak pernah melihat ayah tidak dapat tidur di malam hari dan tidak dapat makan dengan tenang di siang hari. Selama kakang Mahisa Bungalan pergi, ayah juga selalu tidur nyenyak. Bahkan tidak saja di malam hari. Juga di siang hari. Demikian juga ayah dapat makan dengan sedapnya di siang hari, bahkan kadang-kadang juga di malam hari.” sahut Mahisa Pukat.
“Tentu saja tidak dalam arti sebenarnya,” jawab ayahnya, “tetapi dalam arti kiasan. Meskipun aku dapat tidur nyenyak, tetapi setiap saat aku teringat kepergian kakakmu, aku menjadi gelisah.”
“Sebaliknya ayah tidak memikirkan kami berdua,” berkata Mahisa Murti, “kami akan menempuh perjalanan yang paling aman bagi kami. Kami hanya ingin melihat-lihat. Tidak lebih dan tidak kurang.”
“Demikian juga yang dikatakan oleh kakakmu pada waktu itu. Tetapi bertualang seolah-olah tidak dapat terpisahkan lagi dari jalan hidupnya kemudian. Ia sudah menunda beberapa kali kesediaannya memasuki lingkungan keprajuritan sebagaimana sudah disangupkan.” berkata ayahnya.
Kedua adik Mahisa Bungalan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ternyata keduanya benar-benar sudah bertekad bulat. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Aku mohon ayah bersikap adil. Jika kakang Mahisa Bungalan pernah mendapat kesempatan, kami pun mohon untuk mendapat kesempatan.”
Mahendra tidak segera menjawab. Tetapi ia merasa bahwa ia tidak akan dapat menolak permintaan anak-anaknya itu. Bahkan seandainya ia berkeras untuk melarang, maka mungkin sekali akan dapat timbul persoalan baru yang justru akan lebih membuatnya berprihatin.
“Asal permintaan mereka itu dilambari dengan tujuan yang baik dan bermanfaat,” berkata ayahnya di dalam hatinya, “sehingga dengan demikian mereka justru memerlukan bekal yang lebih lengkap.”
Akhirnya Mahendra telah mengambil satu keputusan, bahwa ia tidak akan melarang anak-anaknya menempuh satu perjalanan, tetapi keduanya harus menurut segala petunjuknya.
“Apakah aku pernah menentang petunjuk-petunjuk yang pernah ayah berikan?” bertanya Mahisa Murti.
“Tidak,” jawab ayahnya, “aku tahu, kalian adalah anak yang baik. Meskipun demikian aku masih merasa perlu mengatakan hal itu kepadamu, karena aku melihat gejala-gejala bahwa kalian akan menentukan sikap yang sebelumnya belum pernah kalian ambil jika aku salah menanggapi permintaan kalian.”
Kedua anaknya terdiam. Sementara Mahendra berkata selanjutnya, “Karena itu aku ingin melakukan satu perbuatan yang tepat bagi kalian pada saat seperti ini.”
Kedua anaknya masih berdiam diri.
“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,” berkata ayahnya, “kalian memang sudah menjadi semakin dewasa. Karena itu, kalian harus sudah dapat menanggapi kata-kata ayah dengan sikap dewasa.”
Kedua anaknya itu mengangguk.
“Karena itu, maka dengarlah.” Mahendra terdiam sejenak.
Lalu, “Aku dapat melihat akibat petualangan kakakmu. Pada suatu saat, kakakmu terperosok ke dalam satu padepokan kecil. Di padepokan itu kakakmu bertemu dengan seorang gadis. Nah, kau tahu apa yang terjadi kemudian. Hidupnya seakan-akan telah dibakar oleh pertemuannya itu. Meskipun dalam beberapa hal terjadi peristiwa yang tidak langsung nampak bersangkut paut dengan pertemuannya itu. Tetapi kalau kau sempat melihat ke dalam dasar persoalannya, maka kau akan melihat semuanya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
“Untunglah, bahwa segalanya berakhir dengan baik. Kakakmu Mahisa Bungalan akhirnya menyelesaikan petualangannya dan bahkan ia telah kawin dengan Ken Padmi menurut tata cara yang sewajarnya. Dengan demikian, kita dapat bersyukur kepada Yang Maha Agung atas tuntunan Nya.” berkata Mahendra. Tetapi kemudian, “Namun demikian, aku minta kau dapat menilai apa yang telah terjadi. Aku tidak melarang anak-anakku berhubungan dengan seorang gadis, karena pada saatnya kalian akan hidup bersama dengan seorang perempuan. Tetapi dalam pengembaraan kalian nanti, hendaknya kalian dapat dapat menjaga diri. Bukankah kalian mengembara tidak untuk mendapatkan seorang jodoh?”
Kedua anak muda itu mendengar nasehat ayahnya dengan saksama. Hampir di luar sadar, mereka menilai apa yang telah dilakukan oleh kakaknya, Mahisa Bungalan.
Kedua anak muda itu kemudian telah mendengar apa yang terjadi setelah kakaknya bertemu dengan seorang gadis yang bernama Ken Padmi. Peristiwa demi peristiwa saling menyusul. Tidak jarang kakaknya dihadapkan pada bahaya yang mengancam jiwanya. Bahkan dalam perkembangan persoalannya, maka terpaksa ayahnya, kedua pamannya, Witantra dan Mahisa Agni, harus terlibat pula ke dalamnya.
Hanya karena kemurahan Yang Maha Agung sajalah maka akhirnya segalanya dapat diatasi. Ken Padmi yang sudah hampir terlepas dari hati Mahisa Bungalan itu pun akhirnya dapat bertaut kembali. Bahkan akhirnya ayahnya telah datang untuk melamar gadis itu, sehingga perkawinannya dapat berlangsung pada saat Mahisa Bungalan telah menerima wisuda sebagai seorang prajurit.
“Sebenarnyalah hanya karena kemurahan Yang Maha Agung persoalan-persoalan yang susul menyusul itu dapat diatasi.” berkata anak-anak muda itu di dalam hatinya.
Karena itu, maka mereka pun telah berjanji di dalam hati, untuk mematuhi pesan ayahnya, bahwa di dalam pengembaraan mereka, maka mereka akan berbuat lebih hati-hati dalam hubungan mereka dengan gadis-gadis di sepanjang perjalanan.
“Bagaimana pendapat kalian berdua?” anak-anak muda itu terkejut ketika mereka mendengar ayahnya bertanya.
Sekilas mereka saling berpandangan. Kemudian Mahisa Pukat menjawab dengan nada dalam, “Kami akan mematuhi pesan ayah. Kami menyadari, apa yang pernah terjadi dengan kakang Mahisa Bungalan.”
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Aku percaya kepada kalian. Dengan demikian kalian telah mengurangi satu segi kegelisahanku.” Mahendra berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku masih mempunyai syarat yang lain.”
Kedua anak muda itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu Mahisa Murti bertanya, “Syarat apa lagi, ayah?”
“Kalian harus melengkapi bekal perjalanan kalian,” berkata ayahnya, “aku masih ingin mengurangi beban perasaanku lagi, meskipun satu segi telah dapat aku kesampingkan.”
Kedua anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara ayahnya berkata, “Kalian masih memerlukan waktu beberapa bulan lagi, sebelum kalian meninggalkan rumah ini.”
”Beberapa bulan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya. Apakah artinya beberapa bulan dengan rencana pengembaraanmu? Kalian harus menyadari, bahwa dalam pengembaraan itu kadang-kadang kalian harus berusaha menyelamatkan diri sendiri dari bahaya yang tidak kalian perhitungkan sebelumnya. Meskipun sebenarnyalah bahwa pengembaraan kalian bukanlah berniat untuk mencari lawan. Justru kalian harus sejauh mungkin menghindarkan diri dari sikap dan tindak kekerasan. Kalian harus berusaha menyelesaikan semua persoalan yang timbul dengan sikap yang baik tanpa mempergunakan ilmu yang manapun juga dari olah kanuragan. Hanya dalam keadaan tertentu, di mana kalian harus melindungi hidup kalian, maka kalian terpaksa mempergunakan ilmu yang telah kalian pelajari.”
Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Agaknya mereka memang tidak dapat menolak maksud ayahnya untuk menunda perjalanan mereka dengan beberapa bulan. Karena yang beberapa bulan itu akan dapat menentukan akibat yang jauh dalam pengembangan mereka.
“Jika kalian bersedia, maka yang beberapa bulan itu harus kalian isi dengan kerja keras. Kalian harus mencapai satu tingkatan sebagaimana dicapai oleh kakakmu sebelum melakukan pengembaraan. Ternyata kakakmu berhasil mengembangkan ilmunya, sehingga pada saat pengembaraannya berakhir, Mahisa Bungalan telah memiliki tataran ilmu yang tinggi.” berkata Mahendra kemudian.
Kedua anaknya itu mengangguk. Mereka memang tidak dapat mengelak. Bahkan mereka merasa tertarik kepada tawaran ayahnya itu. Karena dengan memperdalam ilmu, maka mereka akan mendapat bekal yang lebih banyak dalam pengembaraan mereka, meskipun sebagaimana dikatakan oleh ayahnya, bahwa olah kanuragan adalah bekal yang boleh dipergunakan hanya dalam keadaan yang memaksa.
“Jika demikian,” berkata Mahendra, “mulai besok kalian harus mempergunakan waktu kalian sebagian besar di dalam sanggar untuk menempa diri.”
Kedua anak muda itu tidak mengelak. Mereka memang sudah mengerti, bahwa mereka harus bekerja keras sebelum mereka meninggalkan rumah mereka.
Demikianlah sejak berikutnya, kedua anak muda itu telah menempa diri. Mahendra memang telah memberikan semua dasar ilmu yang ada padanya. Namun sebelum kedua anaknya meninggalkan rumah mereka, maka Mahendra ingin membuka pintu bagi kedua anaknya untuk memperkembangkan ilmunya lebih luas lagi. Bahkan dalam waktu yang sudah direncanakan, ayahnya ingin memberikan ilmu pamungkas yang merupakan puncak kekuatan ilmunya kepada kedua anaknya itu.
Bahkan dalam saat-saat yang demikian, Mahendra telah berhubungan pula dengan Witantra dan Mahisa Agni, sehingga orang-orang tua itu pun telah ikut pula menempa kedua anak muda itu agar mereka benar-benar siap menghadapi sebuah pengembaraan.
“Kalian tidak tahu apa akan terjadi di perjalanan,” berkata Mahisa Agni ketika ia sudah berada di rumah Mahendra, “karena itu, kalian harus benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun demikian, perjalanan kalian memang tidak untuk memamerkan kemampuan kalian.”
Ketika Mahisa Bungalan mendengar rencana kedua adiknya untuk pergi meninggalkan rumahnya, maka ia pun hanya dapat mengelus dadanya. Ia tidak dapat mencegahnya, karena ia sendiri pernah melakukannya.
Namun justru karena itu, maka Mahisa Bungalan pun telah menemui kedua adiknya untuk memberikan beberapa pesan berdasarkan atas pengalamannya selama mengembara.
“Hindarkan diri dari persoalan-persoalan yang akan dapat menyeratmu ke dalam kesulitan. Karena jika kalian terjerat ke dalam persoalan yang tidak dapat lagi kalian lepaskan, maka kalian akan sampai pada suatu keputusan untuk mempergunakan kekerasan.” berkata Mahisa Bungalan.
Kedua adiknya mengangguk-angguk. Mereka percaya bahwa kakaknya mempunyai pengalaman yang luas dalam pengembaraan yang pernah dilakukan. Namun yang menurut ayahnya, justru kakaknya itu telah terjerat oleh persoalan yang justru menjadi sangat gawat. Karena kakaknya itu telah menyentuh bunga yang sedang mekar di sebuah padepokan kecil.
Tetapi kedua adiknya tidak menyentuh hal itu, karena keduanya tidak ingin membuat kakaknya itu tersinggung.
Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun ternyata sependapat pula dengan ayahnya, bahwa meskipun bukan bekal yang paling baik, namun anak muda itu harus menempa diri, meningkatkan ilmu kanuragan, sehingga jika diperlukan akan dapat melindungi mereka dari kesulitan yang tidak dikehendakinya.
Demikianlah, pada hari-hari berikutnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk meningkatkan ilmunya di bawah bimbingan ayahnya sendiri, Witantra dan dilengkapi oleh Mahisa Agni yang mempunyai sumber ilmu yang berbeda, namun yang dengan kemampuannya yang tinggi, dapat membantu Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengisi kekurangan yang terdapat pada ilmu yang telah diterimanya.
Ternyata kedua anak anak muda itu tidak kalah cerdas dari kakaknya. Ketika keduanya dengan sungguh-sungguh menempa diri, maka kemampuan mereka pun telah meningkat dengan cepat. Dasar-dasar ilmu yang telah mereka kuasai itu pun mekar dengan kelengkapan yang lebih luas justru karena hadirnya Mahisa Agni.
“Kau memiliki dasar yang baik,” berkata Mahisa Agni kepada kedua anak muda itu, “namun demikian, bukan berarti bahwa kalian telah berada di puncak kemampuan tanpa dapat di kalahkan oleh siapa pun juga. Jangan merasa bahwa ilmu yang kalian miliki adalah ilmu yang sempurna. Di atas ilmu yang bagaimanapun tinggi, tentu masih ada kekuatan yang akan dapat menghancurkannya. Kalian harus menyadarinya.”
Kedua anak muda itu mengangguk-angguk.
Namun dalam pada itu, dengan tanpa mengenal lelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melatih diri di dalam sanggar siang dan malam. Hanya dalam waktu-waktu yang pendek di siang hari dan apabila malam telah larut, keduanya beristirahat. Dengan atau tidak dengan ayah serta paman-paman mereka, mereka mempergunakan seluruh kesempatan yang ada.
Dengan demikian, maka terasa waktu perjalanan dengan cepat.
Sebulan telah dilalui. Dan kedua anak muda itu pun menjadi semakin tangkas dalam olah kanuragan.
Pada hari-hari berikutnya, mereka meningkatkan kemampuan mereka mempergunakan senjata. Segala jenis senjata. Senjata yang sebenarnya, maupun apa saja yang akan dapat mereka ketemukan di sembarang tempat. Potongan kayu turus pagar atau sulur pepohonan. Bahkan batu sekalipun.
Dengan sungguh-sungguh keduanya mengikuti segala petunjuk dan tuntutan yang diberikan kepadanya. Pada saat-saat tertentu mereka menyempurnakan ilmu pedang mereka. Namun pada saat lain mereka bermain-main dengan tombak pendek dan panjang.
Namun mereka masih harus mempertajam kemampuan bidik mereka.
Keduanya dengan tekun berlatih mempergunakan busur dan anak panah. Kemudian keduanya berlatih mempergunakan paser dan bahkan kemudian lemparan-lemparan dengan batu yang akan mereka dapatkan di sembarang tempat.
Pada kesempatan lain mereka berlatih mempergunakan senjata lentur. Mulai dari ujung rotan, sampai kepada cemeti pendek dan cambuk yang berjuntai panjang. Bahkan mereka mempelajari kemungkinan yang dapat mereka lakukan dengan mempergunakan tali dan sulur-sulur pepohonan.
Dengan tekad yang membara di dalam dada mereka, maka kedua anak muda itu dapat menyelesaikan bulan kedua dengan hasil yang dapat mereka banggakan. Namun, seperti yang dipesankan oleh ayah mereka, oleh Witantra dan Mahisa Agni, bahwa mereka jangan terlalu berbangga dengan ilmu kanuragan yang telah mereka kuasai.
Sementara itu, maka di bulan ketiga, Mahendra telah menyiapkan kedua anak-anaknya untuk menerima ilmu pamungkas yang jarang ada bandingnya. Bersama Witantra yang memiliki ilmu yang sejalan, kedua anak muda itu telah menempa lahir dan batinnya, agar mereka siap untuk menerima ilmu tertinggi dari jalur ilmu mereka.
Dalam pada itu, Mahisa Agni tidak lagi banyak dapat membantu, meskipun pada saat yang lain, jika diperlukan, ia pun akan dapat memberikan tuntunan untuk mencari kemungkinan agar puncak ilmu dari jalur perguruannya pun akan dapat di terima oleh anak-anak itu. Tetapi sudah barang tentu hal itu akan diperlukan waktu untuk dapat mencapai tujuan yang sebaik-baiknya.
Namun jika puncak ilmu dari jalur perguruan Mahendra dan Witantra itu dikuasai dengan baik oleh Mahisa Pukat dan Mahisa Murti meskipun masih belum dalam tataran tertinggi, karena masih akan dapat diperkembangkan lagi oleh pengalaman dan kematangan daya serap dari daya ungkapnya.
Dengan tekad yang membara di hati, maka waktu yang ditentukan oleh Mahendra itu pun akhirnya dapat diselesaikan sebagaimana seharusnya. Tiga bulan telah lewat. Dan saat-saat yang paling menegangkan dalam usaha menempa diri itu pun telah dilakukan.
Kedua anak muda itu mengurung diri di dalam sanggar tiga hari tiga malam menjelang saat-saat ayahnya dan Witantra sampai kepada satu keputusan untuk memberikan kemampuan dasar dari puncak ilmunya.
Sehari semalam setelah mereka mengurung diri tiga hari tiga malam, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyediakan dirinya untuk menyadap, selanjutnya menguasai puncak ilmu yang dimiliki oleh jalur ayahnya dan Witantra, dilambari laku pati geni.
Dalam tahap-tahap terakhir keduanya harus berjuang melawan hambatan di dalam dirinya sendiri. Mereka harus menyingkirkan perasaan ragu, cemas, dan kebimbangan. Mereka harus memusatkan segenap daya rasa dan pikir serta kewadagannya untuk sampai kepada penguasaan ilmu yang dahsyat itu.
Namun akhirnya segalanya dapat dilalui dengan selamat. Meskipun pada saat-saat terakhir, kedua anak muda itu bagaikan kehilangan segenap tulang-tulangnya. Kelelahan lahir dan batin membuat keduanya seolah-olah tidak mampu lagi menguasai diri, sehingga keduanya itu pun akhirnya menjadi pingsan.
Tetapi baik Mahendra, Witantra maupun Mahisa Agni tidak menjadi cemas karenanya. Mereka mengerti, apa yang telah terjadi atas kedua anak muda itu. Dengan titik-titik air di bibir mereka, maka sejenak kemudian mereka pun menjadi sadar kembali, meskipun kelelahan lahir dan batin itu masih mencengkam mereka.
“Beristirahatlah.” berkata Mahendra.
Tertatih-tatih keduanya berusaha untuk berjalan ke sebuah amben di dalam sanggar. Ketika keduanya berhasil mencapai amben bambu itu, maka keduanya kemudian membaringkan diri dengan lemahnya.
Mahendra tersenyum. Namun ia yakin, bahwa kedua anaknya telah memiliki kemampuan yang akan dapat melindungi diri mereka dalam pengembaraan yang akan mereka lakukan.
Setelah minum beberapa teguk, maka keduanya merasa menjadi semakin segar. Karena itu, maka ketika ayahnya memintanya, keduanya pun kemudian berusaha keluar dari sanggar dan pergi ke ruang dalam.
Ternyata keduanya dapat berjalan tanpa bantuan siapa pun juga betapapun lemahnya. Demikian mereka memasuki ruang dalam, maka mereka pun dihadapkan kepada makanan yang paling lunak.
Cairan yang mengandung gelepung beras yang lembut.
“Kalian telah berhasil.” berkata ayahnya.
“Terima kasih, ayah.” hampir berbareng keduanya menyahut.
“Kau telah menempuh jalan yang paling dekat, meskipun berat. Ada laku lain yang lebih ringan, tetapi memerlukan waktu yang lebih panjang.” berkata ayahnya pula.
“Tetapi laku yang berat ini telah dapat kalian selesaikan.” sela Witantra.
“Ya, paman,” jawab Mahisa Murti, “ternyata kami mampu melakukannya.”
“Bersukurlah kepada Yang Kuasa Agung.” berkata Mahisa Agni.
“Ya. Kami merasa sukur, bahwa kami telah dikurniai kekuatan untuk menyelesaikan laku yang berat ini.” sahut Mahisa Pukat.
“Untuk selanjutnya,” berkata Witantra, “setiap penggunaan dari ilmu puncakmu ini, harus selalu kau lambari dengan satu kesadaran, dari mana kau menerima ilmu itu. Orang-orang tua ini hanyalah merupakan lantaran saja. Dengan demikian, maka kau berdua tidak akan mempergunakan dengan semena-mena. Nilai penggunaan yang terkandung di dalamnya sejalan dengan nilai kalian berdua sebagai titah tertinggi dari Yang Maha Agung.”
Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa mereka tidak hanya boleh menyadap ilmu kanuragan saja, tetapi juga serba sedikit tentang kajiwan.
Hari-hari yang pendek telah dipergunakan oleh kedua anak muda itu untuk memulihkan keadaan tubuh mereka. Sekali-sekali mereka masih juga harus mengenang, apa yang telah mereka lakukan di dalam sanggar pada laku terakhir. Mereka harus memusatkan segenap rasa dan pikir, merenungi satu lambang gerak yang akan menuntun mereka kepada satu sikap untuk menerima ilmu puncak itu. Hampir di luar kesadaran, maka tubuh mereka pun telah bergerak dalam sikap itu. Kemudian satu loncatan yang dahsyat dengan ayunan tangan pada sasaran yang telah dipersiapkan.
Adalah satu pertanda bahwa mereka berhasil, ketika sasaran itu hancur berkeping-keping tersentuh oleh tangan mereka. Meskipun mengerahkan kekuatan lahir dan batin, menguras segenap tenaga cadangan mereka pada satu saat, sehingga tubuh mereka pun menjadi lemah dan bahkan keduanya menjadi pingsan.
“Semuanya telah lampau,” berkata Mahisa Murti, “rasa-rasanya ngeri juga untuk mengulanginya.”
“Ayah, paman Witantra dan paman Mahisa Agni tentu telah membuat perhitungan yang masak. Aku yakin, bahwa akan dapat melakukannya.” berkata Mahisa Pukat.
“Aku juga. Tetapi bukan karena kemampuan di dalam diriku untuk menyadap ilmu itu, tetapi semata-mata karena aku juga yakin, bahwa ayah telah memperhitungkan sebaik-baiknya.” sahut Mahisa Murti.
Namun ternyata bahwa keduanya tidak saja berpegang kepada kesadaran betapa mereka telah memiliki ilmu yang dahsyat, tetapi mereka juga berpegang kepada setiap pesan ayahnya, pamannya Witantra dan Mahisa Agni.
“Kau telah memperoleh ilmu itu dengan laku yang berat. Tetapi laku yang lebih berat, bagaimana kau mengamalkannya atas dasar perasaan kasih kepada sesama.” berkata Mahendra kepada kedua anaknya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengarkan pesan ayahnya dengan sungguh-sungguh. Dalam usianya yang menjelang dewasa penuh, mereka tahu makna dari pesan ayahnya itu. Sebenarnyalah bahwa ia akan menghadapi banyak tantangan dari mereka sendiri. Kesombongan, ketamakan, dengki dan iri hati akan dapat mewarnai hidupnya jika mereka tidak mampu menguasai diri, sehingga dengan demikian maka ilmu dan kemampuan yang ada di dalam diri, akan merupakan bencana bagi orang lain.
Tetapi dengan lambaran pesan ayahnya, paman-pamannya dan kakaknya, maka kedua anak muda itu akan mulai dengan satu pengembaraan bukan saja dengan wadagnya, tetapi juga untuk mematangkan jiwa mereka.
Demikianlah, setelah keadaan tubuh mereka pulih kembali setelah mesu diri di dalam sanggar pada laku terakhir, maka mereka pun telah bersiap-siap untuk menempuh satu perjalanan.
“Kau akan pergi ke tempat yang tidak kau ketahui,” berkata ayahnya, “karena itu kau berdua harus berusaha untuk mengenali lingkunganmu sebaik-baiknya. Dengan demikian maka kau akan mengenal daerah yang pernah kau ketahui, sehingga pada suatu saat dengan mudah kau akan menemukan jalan kembali.”
“Kami mohon restu dan doa.” berkata Mahisa Murti pada saat ia meninggalkan rumahnya.
“Ingatlah pesan-pesan kami.” berkata ayahnya.
“Kami akan selalu berusaha, ayah.” jawab Mahisa Pukat.
Seluruh keluarga melepaskan kedua anak muda itu dengan berat hati. Tetapi mereka tidak dapat menahan keduanya. Sebagaimana mereka melepaskan Mahisa Bungalan, maka mereka pun seakan-akan harus melepaskan kedua adiknya untuk mengenal lingkungan yang lebih luas.
Agar pengembaraan itu tidak berkesan bahwa keduanya ingin pergi berperang, maka keduanya tidak membawa senjata yang dapat segera dilihat oleh orang lain. Namun untuk kepentingan yang paling mendesak, keduanya membawa pisau belati di bawah kain panjang mereka. Mungkin mereka harus memotong sulur-sulur kayu atau akar yang diperlukan. Dalam kekeringan mereka mungkin akan memotong batang rotan untuk mendapatkan air atau jenis pepohonan merambat yang lain.
Demikianlah dengan tekad yang bulat keduanya telah meninggalkan rumah mereka. Ketika mereka keluar dari regol, sementara beberapa orang kawannya yang berpapasan bertanya, maka mereka selalu menjawab, bahwa mereka akan mengunjungi saudara mereka di Kota Raja.
Sepeninggal kedua anak-anak muda itu, rumah Mahendra memang terasa sepi. Mahisa Bungalan yang sudah kawin dan kemudian sebagaimana dijanjikannya, telah memasuki lingkungan keprajuritan telah tidak ada di rumah. Sementara itu Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah meninggalkan rumah itu pula. Apalagi jika kemudian Mahisa Agni dan Witantra meninggalkan rumah itu.
Tetapi ternyata Witantra dan Mahisa Agni mengerti perasaan Mahendra. Karena itu, untuk beberapa lama mereka telah menyanggupi untuk tetap tinggal di rumah itu.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Bungalan telah menyusuri jalan menuju ke Kota Raja. Namun mereka tidak memasuki gerbang. Mereka berbelok melalui jalan yang lebih kecil menuju ke arah yang berbeda.
Namun, tidak ada lagi orang yang mengenal mereka. Sehingga dengan demikian, maka keduanya benar-benar mulai berada di dalam pengembaraan mereka yang tidak dapat mereka batasi dalam waktu dan tempat. Mereka akan menjelajahi lembah dan lereng pegunungan sesuai dengan keinginan mereka. Dan mereka pun akan mengembara untuk waktu yang tidak terbatas.
“Rasa-rasanya memang asing di perjalanan.” berkata Mahisa Pukat.
“Ya. Meskipun kita sudah sering melakukan perjalanan bersama ayah dan kadang-kadang kakang Mahisa Bungalan, tetapi rasa-rasanya memang lain dengan perjalanan kita kali ini.” sahut Mahisa Murti.
Keduanya memperhatikan keadaan di sekelilingnya mereka dengan saksama, sebagaimana dipesankan oleh orang-orang tua yang mereka tinggalkan. Mereka memperhatikan pepohonan yang besar, bebatuan, sungai dan tanda-tanda alam yang lain. Sehingga mereka berharap bahwa jika mereka ke tempat itu lagi, mereka akan dapat mengenalinya kembali sebagai tempat yang pernah mereka lalui.
Dalam pada itu, sebagaimana pernah dilakukan oleh Mahisa Bungalan, maka mereka pun tidak menyatakan dari sebagai seorang anak saudagar besi aji dan dalam ujud yang lebih kecukupan. Tetapi mereka menyatakan diri dalam ujud yang lebih sederhana. Benar-benar sebagai dua orang perantau muda yang tidak mempunyai sandaran penghidupan yang tetap.
Namun keduanya masih juga membawa bekal uang yang akan dapat mereka pergunakan apabila diperlukan, di samping beberapa lembar pakaian yang juga sederhana seperti yang mereka pakai.
Tetapi seperti pesan ayahnya, mereka harus berhemat dengan uang yang mereka bawa. Uang itu tidak terlalu banyak, sementara mereka akan mengembara untuk waktu yang tidak ditentukan.
“Ayah mencemaskannya.” berkata Mahisa Murti.
“Tentang apa?” bertanya Mahisa Pukat.
“Uang yang kita bawa akan habis sebelum kita sampai ke rumah kita kembali.” jawab Mahisa Murti, “Pengembara sama sekali tidak memerlukan uang.”
“Tetapi apa salahnya jika kita bersedia jika sangat mendesak, sebagaimana dalam persoalan yang lain.” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Memang mungkin pada suatu saat mereka sangat memerlukan uang. Tetapi sudah barang tentu bekal uang tidaklah mutlak bagi mereka.
Ketika malam turun, keduanya masih belum terlalu jauh dari kota raja. Seperti pengembara yang lain, yang kemalaman di perjalanan maka mereka pun telah bermalam di banjar padukuhan yang kebetulan mereka lalui.
Ternyata malam itu selain kedua anak muda itu, masih ada seorang pengembara tua yang tidur di banjar itu pula. Mereka dipersilahkan tidur di serambi samping. Di sebuah amben yang besar dengan bentangan tikar pandan di atasnya.
Nampaknya orang tua itu benar-benar kelelahan. Demikian orang itu terbaring, maka ia pun segera tertidur dengan nyenyaknya.
”Siapa orang itu?” bertanya Mahisa Murti.
”Tentu aku tidak tahu.” jawab Mahisa Pukat.
”Nampaknya ia lelah sekali.” berkata Mahisa Murti.
”Mungkin ia lelah sekali. Tetapi mungkin ia berpura-pura lelah sekali.” sahut Mahisa Pukat hampir berbisik.
”Sst,” desis Mahisa Murti, ”jangan terlalu cepat mencurigai seseorang. Mungkin ia justru memerlukan pertolongan.”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti apa yang dikatakan oleh saudara laki-lakinya itu.
Dalam pada itu, hampir tengah malam seseorang telah membangunkan orang itu. Karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum tidur, maka orang itu tidak perlu membangunkannya.
”Marilah,” berkata orang itu, ”anak-anak yang sedang meronda mendapat makan malam. Jika kalian belum makan, marilah makan bersama kami.”
Orang tua yang terbangun dari tidurnya itu pun kemudian bangkit dengan cepat. Hampir tergesa-gesa ia pergi ke gardu di depan banjar itu. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melangkah juga menuju ke gardu itu.
”Marilah.” berkata anak-anak muda yang meronda itu. Ketika pengembara itu sudah duduk di bibir gardu, maka ia pun telah menyenduk nasi ke dalam mangkuknya tanpa ragu-ragu.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar