*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 011-04*
Namun dengan demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi yakin, bahwa Ki Sendawa tidak akan menelan kembali kata-katanya yang pernah diucapkan di banjar. Ia dengan tegas telah menolak laporan untuk menjadi Buyut di Talang Amba. Meskipun masih harus diperhitungkan alasan-alasan penolakan itu. Mungkin Ki Sendawa curiga bahwa kedua orang itu akan, sekedar memancing sikapnya dan kemudian menjerumuskannya ke dalam kesulitan. Tetapi mungkin juga, Ki Sendawa tidak yakin, bahwa keduanya memang utusan Akuwu.
“Kita masih harus menunggu sampai esok” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “apakah yang akan dikatakannya kepada Akuwu“
“Sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya akan mereka bicarakan” jawab Mahisa Pukat, “tetapi sebagian dari sikap Ki Sendawa telah kita ketahui”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita akan dapat melihat, apa yang akan dilakukannya besok. Mungkin ia akan menyatakan dirinya Buyut di Talang Amba dengan dukungan Akuwu Gagelang, atau sikap yang lain yang masih harus kita nilai lagi”
“Ya“ Mahisa Pukat mengangguk-angguk, “Kita memang masih harus menunggu. Jika anak-anak-muda itu kehilangan kesabaran maka kita akan mengalami kesulitan”
“Tetapi tidak ada jalan lain” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi.
Malam itu, ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kembali ke banjar, maka beberapa orang anak muda yang meronda, bertanya kepadanya. Namun kedua anak-anak muda itu mengatakan kepada anak-anak muda yang meronda itu, bahwa mereka baru datang dari sungai.
Anak-anak muda yang meronda itu sama sekali tidak mencurigakan keduanya, karena keduanya telah ternyata berbuat sesuatu yang berarti bagi Kabuyutan mereka.
Tetapi ketika seorang di antara anak-anak muda itu bertanya, “Kapan kita menentukan sikap?”
Barulah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Pertanyaan itu telah membuka pertanyaan-pertanyaan yang lain pula. Seorang yang berkumis lebat bertanya, “Apakah kita masih harus bersabar?”
“Waktunya sudah dekat” berkata Mahisa Murti, “Kita hanya menunggu dua atau tiga hari. Kali ini aku tidak akan salah lagi”
“Apa peganganmu, bahwa dalam dua atau tiga hari lagi kita akan dapat menentukan sikap” bertanya seorang yang bertubuh tinggi.
“Ya. Apa dasarmu” bertanya yang lain.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu. Namun demikian Mahisa Murti masih mencoba untuk menyahut, “Kawan-kawan, rasa-rasanya seseorang memang mempunyai penggraita. Mungkin ada semacam naluri yang dapat memberikan isyarat. Tetapi memang sulit dibuktikan dengan dasar-dasar yang dapat masuk di akal”
“Ki Sanak” berkata seorang yang bertubuh raksasa, “Jika kali ini apa yang kalian katakan itu tidak terbukti, maka kami akan mengambil jalan sendiri. Kami minta maaf, bahwa kami tidak akan dapat menurut petunjuk-petunjuk kalian lagi”
“Baiklah. Aku minta kalian sekali lagi memperhatikan pendapatku. Jika kali ini kami berdua keliru lagi, maka kalian dapat mengambil sikap sendiri”
“Kami sudah kehabisan kesabaran Ki Sanak” berkata yang lain lagi, “kami akan menyesal sepanjang hidup kami, jika pada suatu saat, ternyata bahwa kami telah terlambat bertindak”
Ternyata jantung kedua anak muda itu pun berdebaran. Jika anak-anak Talang Amba itu terlambat, maka yang datang ke rumah Ki Sendawa itu adalah utusan Akuwu, maka perlu dipertimbangkan penilaian khusus terhadap Akuwu di Gagelang.
“Apakah ada maksud-maksud tertentu pada Akuwu di Gagelang itu?” tiba-tiba saja Mahisa Pukat berdesis.
“Ya. Pertanyaan itu wajar sekali” sahut Mahisa Murti.
Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mulai memberikan penilaian kepada Akuwu itu sendiri. Mereka melihat satu sikap yang ganjil.
“Tetapi jika dua orang itu yang palsu, maka persoalannya akan gawat bagi Ki Sendawa” berkata Mahisa Pukat.
“Kita akan mengamati perjalanannya sampai ke istana Akuwu” berkata Mahisa Murti.
“Apakah itu mungkin?”bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti merenung sejenak. Lalu katanya, “Bagaimana jika kita berterus terang saja kepada Ki Sendawa. Nampaknya Ki Sendawa memang dapat dipercaya”
Mahisa Pukat berpikir sejenak. Lalu katanya, “Kita dapat mencobanya. Besok pagi-pagi benar sebelum ia berangkat, kita menemuinya”
Mahisa Murti pun mengangguk-angguk. Keduanya kemudian bersepakat untuk menemui Ki Sendawa dan mengatakan persoalan yang bergejolak di Talang Amba sepeninggal Ki Sanggarana dan Ki Waruju”
Demikianlah seperti yang direncanakan, maka pagi-pagi benar, sebelum matahari terbit, kedua anak muda itu telah berada di rumah Ki Sendawa dengan diam-diam. Mereka pun dengan terus terang mengatakan kepada Ki Sendawa, apa yang mereka lihat semalam.
“Jadi kalian mengetahuinya?” bertanya Ki Sendawa.
“Ya. Kami mendengarkan pembicaraannya Ki Sendawa dengan kedua orang itu. Kami pun mengetahui sikap Ki Sendawa. Dan kami pun mendengar bahwa Ki Sendawa akan menghadap Akuwu pagi ini untuk membuktikan kebenaran kata-kata kedua orang itu” jawab Mahisa Murti.
“Ya. Aku memang menghadap Akuwu. Aku ingin kepastian, apakah yang dikatakan oleh kedua orang itu benar” berkata Ki Sendawa.
“Jika tidak benar?” bertanya Mahisa Pukat.
“Persoalannya menjadi jelas. Kedua orang itu adalah orang-orang yang akan mengail di air keruh. Aku akan melaporkannya kepada Akuwu, sekaligus menanyakan tentang Sanggarana dan Ki Waruju” jawab Ki Sendawa.
“Tetapi jika yang dikatakan oleh kedua orang itu benar?” bertanya Mahisa Pukat pula.
“Jika demikian, maka kita perlu menilai sikap Akuwu. Apa sebenarnya yang dikehendakinya” jawab Ki Sendawa.
“Jika demikian, apakah berarti bahwa kita pun harus berhati-hati terhadap sikap Akuwu?” desak Mahisa Pukat.
“Ya. Dan itu berarti satu masalah yang besar. Jika aku tetap menolak, maka aku pun tentu tidak akan pernah kembali seperti Sanggarana” jawab Ki Sendawa pula
“Jadi bagaimana sikap Ki Sendawa?” bertanya Mahisa Murti.
“Ki Sanak” jawab Ki Sendawa dengan nada dalam, “jika kedua orang itu adalah utusan Akuwu yang sebenarnya, mungkin aku harus berkelahi di perjalanan. Mungkin keduanya membawa sekelompok kawan-kawannya yang memaksa aku untuk menyerah, atau bahkan membunuhku sama sekali. Tetapi aku benar-benar menghadap Akawu dan sikap Akuwu adalah sebagaimana dikatakan oleh kedua orang itu. maka aku memang harus berpura-pura”
“Pura-pura bagaimana?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku harus berpura-pura menerimanya agar aku dapat kembali ke Talang Amba” jawab Ki Sendawa, “selanjutnya, kita akan dapat berbicara apa yang sebaiknya harus kita lakukan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk Mereka menjadi semakin yakin, bahwa Ki Sendawa tidak akan ingkar aari sikapnya Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Jika Ki Sendawa tidak berkeberatan, kami berdua bersedia mengawasi Ki Sendawa pergi ke Gagelang. Mungkin Ki Sendawa akan membawa dua atau tiga orang pengawal yang lain”
“Ya. Aku memang akan membawa pengawal. Jika kedua orang itu bukan utusan Akuwu yang sebenarnya dan akan menjebakku di perjalanan, biarlah aku mati sebagai laki-laki dengan menggenggam pedang di tangan, “ jawab Ki Sendawa. Namun kemudian, “Tetapi sebaiknya. kalian tidak usah pergi bersamaku. Kalian masih terlalu muda. Mungkin kalian masih akan melihat matahari terbit untuk berpuluh, beratus bahkan beribu kali lagi”
Tetapi Mahisa Pukat tersenyum. Katanya, “Aku yakin akan kuasa Sang Maha Pencipta”
Ki Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Jika demikian terserah kepada kalian”
Dengan wajah tengadah Mahisa Pukat menjawab, “kami akan ikut bersama Ki Sendawa nanti”
Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berkeras untuk ikut bersama Ki Sendawa. Karena itu, maka Ki Sendawa pun tidak mencegahnya lagi.
Ketika kemudian matahari terbit, maka Ki Sendawa pun telah bersiap. Tiga orang pengawal akan menyertainya, sehingga dengan demikian, maka mereka akan menempuh perjalanan berenam.
Setelah mereka bersiap sepenuhnya, maka dengan mempergunakan kuda Ki Sendawa, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun ikut pula dalam kelompok itu berbaur dengan para pengawal, sehingga keduanya tidak merupakan pengikut yang khusus.
Dengan jantung yang berdebar-debar Ki Sendawa memacu kudanya. Rasa-rasanya ia segera ingin sampai ke Gagelang. Jika mereka harus dijebak oleh kedua orang semalam datang berkunjung ke rumahnya, biarlah segera terjadi. Mungkin mereka adalah pengawal-pengawal Akuwu yang bertindak atas nama mereka sendiri dan memanfaatkan nama Akuwu. Tetapi memang mungkin Akuwu benar-benar memerintahkan mereka.
Demikianlah, akhirnya mereka menjadi semakin dekat dengan pusat pemerintahan Pakuwon Gagelang. Dengan demikian, maka Ki Sendawa pun menjadi semakin condong untuk mempercayai bahwa kedua orang itu memang benar-benar utusan Akuwu di Gagelang.
“Jika keduanya bukan utusan Sang Akuwu, maka mereka tentu akan mengambil sikap sebelum aku memasuki pusat pemerintahan Gagelang” berkata Ki Sendawa kepada para pengiringnya.
“Benar Ki Sendawa” sahut Mahisa Murti, “tetapi segalanya masih mungkin terjadi”
“Ya. Masih ada kemungkinan yang pahit yang dapat terjadi atas kita. berkata Ki Sendawa kemudian, “namun seandainya keduanya benar-benar utusan Akuwu, maka kita pun harus mempersiapkan diri menghadapi sikap itu”
“Bukankah Ki Sendawa sudah menentukan sikap?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya. Jika Akuwu yang memerintahkan keduanya dengan maksud tertentu, mungkin aku memang harus bersikap pura-pura. Sebab jika aku menolaknya, maka mungkin kita semuanya tidak akan dapat kembali ke Kabuyutan Talang Amba” jawab Ki Sendawa seperti pernah dikatakannya sebelumnya.
Demikianlah mereka kemudian memasuki gerbang Pakuwon Gagelang. Ada beberapa orang pengawal yang mengawasi regol yang memasuki kota Gagelang. Tetapi dalam keadaan yang tenang, maka para pengawas itu tidak selalu menghentikan orang-orang yang keluar masuk gerbang kota. Mereka hanya mengamati saja dari gardu yang dibuat tidak terlalu jauh dari gerbang.
Ketika kuda-kuda itu berderap di dalam gerbang kota, maka hati Ki Sendawa pun menjadi semakin berdebar-debar. Sudah beberapa kali ia memasuki kota Gagelang untuk keperluan yang bermacam-macam sebelumnya. Bahkan ia pun pernah pergi ke kota untuk sekedar mengunjungi seorang sahabatnya.
Namun kini ia memasuki kota Gagelang berketetapan hati untuk menghadap Akuwu, apapun yang akan terjadi. Karena itu, maka bersama dengan para pengawalnya ia pun langsung menuju ke gerbang istana Akuwu di Gagelang.
Ketika mereka berenam mendekati gerbang istana Akuwu, maka mereka memang telah menarik perhatian para penjaga. Karena itu, maka mereka pun telah dihentikan oleh para pengawal pintu gerbang untuk dimintai keterangan seperlunya.
“Siapakah Ki Sanak?” bertanya salah seorang pengawal.
“Aku Ki Sendawa Ki Sanak” jawab Ki Sendawa, “Aku ingin menghadap Akuwu”
“Menghadap Akuwu?” bertanya pengawal itu, “Kau kira kau akan dapat langsung menghadap begitu saja tanpa melalui keharusan tata cara dan unggah-ungguh”
Ki Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya baru ia menyadari, hahwa ia bukan orang penting yang dapat dengan sekehendak sendiri menghadap Akuwu. Apalagi ia tidak mempunyai pertanda apa pun yang memungkinkannya untuk mendapat pelayanan khusus dari para pengawal istana Akuwu.
Karena itu, maka Ki Sendawa pun kemudian berkata, “Maaf Ki Sanak. Aku memang tidak mempunyai hak untuk berbuat demikian. Tetapi ada masalah yang mendesak, yang memaksaku untuk segera melaporkannya kepada Sang Akuwu”
“Apakah kau tidak tahu bahwa semua laporan dapat kau berikan kepada para petugas di Gagelang? Tidak usah langsung kepada Sang Akuwu?” bertanya oengawal itu, “Kau dapat menghadap Senopati yang sekarang memimpin pengawalan untuk hari ini. Kau dapat menyampaikan persoalanmu. Jika persoalanmu tidak dapat ditangani oleh orang lain kecuali Akuwu sendiri, maka persoalanmu akan dilaporkan kepada Akuwu. Baru jika Sang Akuwu menghendaki kau menghadap, maka kau diperkenankan untuk menghadap”
Jantung Ki Sendawa menjadi berdebar-debar. Terbersit di dalam hatinya, bahwa ia justru telah dipermainkan seseorang.
“Tetapi apa kepentingannya mempermainkan aku?” bertanya Ki Sendawa kepada diri sendiri.
Tetapi kemungkinan yang demikian memang dapat saja terjadi. Mungkin untuk membakar hatinya, atau dengan sengaja menimbulkan kekeruhan suasana di Talang Amba.
“Nah Ki Sanak” tiba-tiba saja pengawal itu berkata, “sekarang, pergilah menghadap Senopati yang bertugas di gardu itu. Katakan, apa yang ingin kau laporkan”
Ki Sendawa menjadi ragu-ragu. Jika ia berterus terang, mungkin akan dapat menimbulkan persoalan tersendiri. Tetapi jika ia tidak berterus terang, mungkin para pengawal itu akan mencurigainya.
Dengan demikian, maka Ki Sendawa menjadi ragu-ragu. Beberapa saat ia berdiri termangu-mangu. Sementara itu, pengawal pintu gerbang itu menjadi tidak telaten. Katanya, “He, apa yang kau renungkan? Jangan mengharap untuk dengan serta merta kau dapat menghadap Akuwu. Apalagi kau bukan orang yang dikenal di Pakuwon Gagelang ini”
Ki Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang Mahisa Murti, maka anak muda itu berdesis, “Baiklah. Kita menghadap Senopati. Ki Sendawa dapat mengatakan tentang kehadiran kedua orang itu, karena mereka telah menyebut-nyebut nama Sang Akuwu. Itu saja”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah Ki Sanak. Aku akan menyampaikan persoalanku kepada Senopati. Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan untuk menghadap. Seandainya tidak sekarang, mungkin nanti atau besok”
Pengawal itu memandang Ki Sendawa dengan tajamnya. Dengan sikap yang garang ia pun berkata, “Mari, aku akan membawa kalian menghadap Senopati. Kedatangan kalian dalam kelompok itu telah mengejutkan kami. Beruntunglah kalian bahwa kami tidak dengan serta merta menindak kalian”
Ki Sendawa tidak menjawab. Karena ia pun sadar, bahwa sikap pengawal itu akan dapat menjadi semakin garang.
Tetapi, ketika mereka mulai berkisar dari tempatnya, tiba-tiba saja mereka mendengar suara seseorang tertawa. Dengan nada berat terdengar kata-kata disela-sela suara tertawanya, “Kau benar-benar datang Ki Sendawa”
Semua orang telah berpaling kearah suara itu, termasuk pengawal yang akan mengantar Ki Sendawa ke gardu para pengawal.
Dengan jantung yang berdebar-debar mereka melihat seseorang berdiri di bawah tangga serambi samping istana Akuwu di Gagelang.
Ki Sendawa segera dapat mengenali orang itu. Orang itulah yang telah datang ke rumahnya semalam dan minta kepadanya untuk datang ke Pakuwon.
“Kau?” hampir diluar sadarnya Ki Sendawa itu menyapa.
Namun pengawal yang mengantarnya itu pun mendesaknya, “Kau harus menghadap Senopati. He, apakah kau kenal orang itu?”
“Ya” jawab Ki Sendawa, “apakah kau justru tidak mengenalnya?”
“Aku pernah melihatnya. Ia juga seorang abdi di istana ini” berkata pengawal itu.
Ki Sendawa termangu-mangu. Ia tidak mengerti keadaan yang dihadapinya itu. Apalagi ketika pengawal itu berkata, “Ia seorang juru taman”
Ki Sendawa mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengumpat di dalam hatinya, “Orang gila. Ternyata ia hanya seorang juru taman”
Tetapi adalah di luar dugaan, ketika kemudian seorang pengawal khusus turun dari tangga istana langsung mendekati pengawal yang akan mengantarkan Ki Sendawa menghadap Senopati yang baru bertugas.
“Aku mendapat perintah dari Akuwu untuk membawa orang ini langsung menghadap” berkata pengawal khusus itu.
Pengawal yang bertugas di gerbang itu termangu-mangu Tetapi pengawal yang datang kepadanya itu adalah pengawal khusus yang bertugas pengawal Akuwu.
Karena itu, maka pengawal yang bertugas di pintu gerbang itu tidak dapat mencegahnya, meskipun berbagai pertanyaan telah bergejolak di dalam hatinya.
Demikianlah, maka kemudian Ki Sendawa itu pun telah dibawa langsung menghadap Akuwu. tetapi para pengawal harus tetap tinggal di gardu penjaga selama Ki Sendawa dibawa memasuki istana Akuwu Gagelang.
Dengan jantung yang rasa-rasanya berdegup semakin keras, Ki Sendawa akhirnya duduk menghadap Akuwu.
Dengan kepala menunduk dan tatapan mata yang rendah menyentuh kaki Akuwu, Ki Sendawa rasa-rasanya harus menahan nafasnya.
Akhirnya Akuwu pun telah bertanya kepadanya, “Apakah kau mempunyai satu kepentingan tertentu sehingga kau ingin menghadap?”
“Ampun Akuwu” suara Ki Sendawa gemetar, “sebenarnyalah hamba telah mendapat kunjungan dua orang yang telah minta agar hamba menghadap Sang Akuwu”
“Apakah kau mengenal orang itu?” bertanya Akuwu.
“Hamba Akuwu. Orang itu adalah orang yang telah menyapa hamba di luar istana. Menurut pengawal yang bertugas di pintu gerbang, orang itu adalah juru taman”
“Juru taman?” ulang Akuwu.
Ki Sendawa menjadi bingung. Namun kemudian jawabnya, “Hamba Akuwu. Menurut pengawal yang telah mengantar hamba menghadap Senopati yang bertugas. Tetapi sebelum hamba sampai ke gardu. Sang Akuwu telah memanggil hamba”
Akuwu itu mengangguk-angguk. Sementara itu dalam kebimbangan Ki Sendawa telah menceriterakan kehadiran dua orang di rumahnya semalam.
Dalam pada itu, selagi Ki Sendawa dengan gelisah mengatakan tentang kehadiran kedua orang di rumahnya, maka tiba-tiba saja orang yang disebutnya juru taman itu telah berada pula di ruangan itu.
“Selamat datang Ki Sendawa” sapa orang itu.
Ki Sendawa berpaling. Ketika dilihatnya orang itu, maka jantungnya menjadi semakin keras berdenyut.
“Aku memang sudah mengira, bahwa kau akan benar-benar menghadap Akuwu hari ini” berkata juru taman itu.
“Ya, aku memang datang menghadap” jawab Ki Sendawa.
“Nah, apa katamu tentang yang aku katakan semalam?” bertanya juru taman itu.
Jantung Ki Sendawa menjadi semakin berdebar-debar. Sikap orang itu sama sekali bukannya sikap seorang juru taman, meskipun ia duduk pula dilantai seperti dirinya.
“Ki Sendawa” berkata Akuwu kemudian, “sebenarnya apa yang kau laporkan itu sudah aku ketahui semuanya. Aku memang menunggu kedatanganmu untuk mendapatkan ketegasan sikapmu”
Wajah Ki Sendawa menjadi bertambah tegang. Sementara Akuwu berkata selanjutnya, “Keterangan yang aku dengar tentang sikapmu agak mengecewakan aku. Tetapi kedatanganmu memberikan harapan baru bagiku”
Sejenak Ki Sendawa termangu-mangu. Keheranannya telah mencengkam jantung bahwa sebenarnyalah Akuwu telah menghendakinya menjadi Buyut di Talang Amba. Satu sikap yang sama sekali tidak dapat dimengertinya.
Justru karena itu, maka Ki Sendawa pun telah termenung untuk beberapa saat. Ia mencoba untuk menjajagi keadaan dihadapinya.
Sementara itu, orang yang disebutnya sebagai juru taman itu pun tersenyum sambil berkata, “Nah Ki Sendawa, bukankah aku tidak berbohong? Aku adalah utusan Akuwu. Dan sekarang, katakanlah, apakah kau bersedia menjadi Buyut di Talang Amba, atau setidak-tidaknya kau dapat memangku jabatan itu sebelum ada kejelasan tentang pengangkatan seorang Buyut yang pantas bagi kabuyutan itu. Tetapi menilik kedudukan, maka kaulah orang yang paling berhak untuk menjadi Buyut sebagaimana pernah kau perjuangkan bersama Ki Sarpa Kuning. Tetapi perjuangan itu gagal karena Ki Sarpa Kuning nampaknya menjadi terlalu tamak”
Ki Sendawa menjadi semakin bimbang. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.
Dalam pada itu, Akuwu pun berkata lebih lanjut, “Ki Sendawa, aku adalah Akuwu Gagelang. Aku bukan Ki Sarpa Kuning. Karena itu, jika kau bersedia, maka kedudukanmu akan menjadi kuat. Akulah yang memang mempunyai kekuasaan untuk mengesahkan kedudukanmu. Karena itu. jangan bimbang. Sementara itu, aku tidak akan minta imbalan apa pun juga, kecuali sebagaimana diinginkan oleh Ki Sarpa Kuning. Tanah di lereng bukit yang masih berujud hutan belukar. Aku akan menebangnya dan membuatnya menjadi pedukuhan-pedukuhan yang ramai. Aku memerlukan daerah itu”
Jantung Ki Sendawa menjadi berdentang semakin cepat. Ia mengerti arti hutan di lereng bukit itu. Jika Akuwu juga menghendaki hutan itu sebagaimana dikehendaki oleh Ki Sarpa Kuning, maka keadaan yang dihadapinya sungguh membingungkan.
Tetapi dalam pada itu, sejak Ki Sendawa berangkat dari Kabuyutan, ia sudah mempunyai bekal sikap yang sebaiknya dilakukan menghadapi keadaan itu. Seperti sudah direncanakan, jika Akuwu sendiri menghendakinya, maka ia tentu tidak akan dapat menolak. Jika ia mempunyai sikap yang berbeda dengan kehendak Akuwu, maka ia tentu tidak akan dapat pulang kembali ke Kabuyutan Talang Amba.
Karena Ki Sendawa masih belum menjawab, maka Akuwu itu pun berkata, “Ki Sarpa Kuning telah gagal tetapi apakah dengan demikian kau benar-benar telah kehilangan keinginanmu untuk menjadi Buyut di Talang Amba? Ki Sendawa, mungkin kematian Ki Sarpa Kuning telah menghancurkan gairah perjuanganmu, karena kau menjadi putus asa. Tetapi sekarang, bukan sekedar Ki Sarpa Kuning yang akan mendukungmu. Tetapi aku Akuwu Gagelang. Yang mempunyai kekuasaan untuk menentukan apakah kau dapat diangkat menjadi Akuwu atau tidak”
Ki Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar sepenuhnya dengan siapa ia berhadapan. Karena itu, maka Ki Sendawa itu tidak mempunyai pilihan lain. Sambil menundukkan kepalanya ia berkata, “Ampun Akuwu. Hamba tidak menyangka, bahwa hamba masih mempunyai kesempatan untuk menjadi seorang Buyut di Talang Amba. Kekalahan Ki Sarpa Kuning memang membuat hamba menjadi berputus asa. Kedatangan utusan Sang Akuwu, membuat hati hamba menjadi curiga. Hamba menyangka, bahwa utusan itu sekedar memancing sikap hamba, apakah hamba benar-benar sudah menyesal atau sekedar menyembunyikan keinginan hamba yang sebenarnya. Karena itu, hamba bersikap seakan-akan hamba benar-benar telah menyesali sikap hamba yang gagal itu.
“Dan sekarang? apa katamu?” bertanya Sang Akuwu.
“Sang Akuwu. Sebenarnya hamba tidak akan pernah dapat melupakan warisan yang seharusnya hamba terima itu. Namun apaboleh buat. Sanggarana mempunyai kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatan hamba” jawab Ki Sendawa. Lalu, “Dengan demikian, jika ada perkenaan tuanku, maka hamba tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Namun demikian, hamba harus memperhatikan keadaan di sekitar hamba. Jika rakyat Talang Amba menolak hamba, maka hamba harus memperhatikannya”
“Hatimu lemah seperti batang ilalang” berkata Akuwu.
Ki Sendawa menjadi semakin tunduk. Lalu katanya, “Sebenarnyalah hamba tidak akan dapat menentang sikap Sanggarana, kemanakan hamba itu”
“Sanggarana sekarang ada disini” berkata Akuwu.
“Hamba mengetahuinya tuanku. Tetapi pengikutnya tetap berada di Talang Amba” jawab Ki Sendawa.
“Jangan takut. Dalam keadaan yang gawat, pengawal-pengawalku akan membantumu” berkata Akuwu kemudian, “apalagi jika lereng pegunungan itu sudah menjadi ramai. Maka orang-orang yang akan tinggal di lereng pegunungan itu tentu akan berpihak kepadamu”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Ia harus berhati-hati agar sikapnya tidak mencurigakan. Jika ia dengan serta merta menerima tanpa ragu-ragu. Akuwu justru akan menjadi curiga. Karena itu, maka katanya, “Ampun tuanku. Jika hamba kemudian menyatakan kesediaan hamba, maka hamba tidak akan mempunyai kekuatan apa pun untuk mempertahankan diri dari kemarahan orang-orang yang berpihak kepada Sanggarana. Karena itu, segala sesuatunya kami serahkan kepada Akuwu. Di Banjar, saat Ki Sarpa Kuning terbunuh, aku merasa bahwa aku sudah tidak akan mempunyai harapan lagi untuk keluar dari halaman. Namun akhirnya dengan menyesali perbuatanku, aku tidak dibunuh oleh para pengikut Sanggarana”
“Lupakan” berkata Akuwu, “jangan takut kepada pengikut Sanggarana. Para pengawal dari Gagelang akan selalu mengamati keadaan”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah jantungnya serasa bergejolak. Ia mulai jelas, siapa yang sebenarnya dihadapinya. Agaknya Akuwu di Gagelang telah menempatkan dirinya dipihak yang berlawanan dengan kekuasaan Singasari.
Dalam pada itu. Akuwu di Gagelang itu pun kemudian berkata, “Ki Sendawa. Kembalilah. Bersiap-siaplah untuk memangku jabatan Buyut di Talang Amba atas kehendak Akuwu di Gagelang, karena orang yang berhak menurut pendapat mereka. Sanggarana sedang dalam pengusutan."
“Hamba tuanku. Hamba akan melakukannya” jawab Ki Sendawa, “hamba akan menunggu sementara itu. hamba akan mempersiapkan diri hamba sebaik-baiknya”
“Sekarang, pulang” berkata Akuwu Gagelang, “segalanya akan berjalan dengan baik”
Ki Sendawa pun kemudian dengan jantung yang bergejolak meninggalkan Gagelang. Para pengawalnya mengikutinya dengan penuh pertanyaan di dalam hati, termasuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Namun ketika mereka telah berpacu di bulak-bulak panjang menuju ke Talang Amba, Ki Sendawa mulai berbincang dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat setelah mereka memperlambat lari kuda mereka.
“Memang aneh” berkata Mahisa Murti setelah ia mendengar ceritera tentang sikap Akuwu. Lalu, “Namun dengan demikian kita dapat menilai sikap itu. Kita mengetahui bahwa beberapa orang bangsawan di Kediri berusaha menghancurkan kuasa Singasari dengan perlahan-lahan.
“Nah, agaknya Akuwu di Gagelang berdiri dipihak beberapa orang bangsawan Kediri itu”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukat melanjutkan, “Usaha untuk melemahkan tata kehidupan di Singasari dengan menghancurkan daerah-daerah yang subur merupakan satu usaha yang sangat mengerikan akibatnya. Sebagian tata kehidupan akan musnah. Sementara untuk memperbaiki tata kehidupan itu diperlukan waktu yang sangat panjang. Lereng-lereng pegunungan itu harus dihijaukan kembali. Untuk itu maka diperlukan tenaga, dana dan kesediaan bekerja yang sangat besar”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Katanya, “Beruntunglah aku, bahwa aku belum menyerahkan usaha maut itu ke dalam tangan Ki Sarpa Kuning. Bersukurlah aku bahwa di Talang Amba hadir orang yang bernama Ki Waruju serta kalian berdua, sehingga dengan demikian kehancuran itu tidak terjadi. Agaknya aku kurang berhati-hati menanggapi permintaan Ki Sarpa Kuning itu. Ia berhasil mengungkat nafsu ketamakanku sehingga aku seolah-olah menjadi buta karenanya. Tetapi sekarang aku tidak akan terjebak lagi ke alam persoalan itu. Aku tidak akan menyerahkan Talang Amba untuk ditelan banjir dan tanah longsor, sehingga kehidupan akan terbenam dibawah arus lumpur dari lereng bukit”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian bertanya hampir berbareng, “Lalu. apa yang akan Ki Sendawa lakukan?”
“Aku harus menentang niat Akuwu di Gagelang. Tetapi aku tidak mempunyai kekuatan untuk itu” berkata Ki Sendawa.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka menyadari, bahwa Talang Amba tidak akan mampu berbuat banyak atas niat Akuwu di Gagelang.
Karena itu, tiba-tiba saja Mahisa Pukat berkata, “Apakah Ki Sendawa akan melaporkannya ke Singasari?”
Ki Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Apakah aku akan dapat membuktikannya? Seandainya aku akan berbuat demikian, maka aku harus berhati-hati. Jika para pemimpin di Singasari meragukan laporanku, maka aku tidak mempunyai bukti apa pun juga yang dapat aku pergunakan untuk memperkuat laporanku.
“Apakah Ki Waruju dan Ki Sanggarana tidak akan dapat menjadi bukti yang kuat?” bertanya Mahisa Murti.
“Jika alasan penahanan mereka disebut dengan sewajarnya, memang akan demikian. Tetapi aku curiga, apakah Akuwu tidak akan memutar balikkan keadaan. Mungkin Akuwu akan dapat saja menyebut, bahwa penahanan itu didasarkan justru atas laporan yang aku buat atau alasan-alasan lain yang masuk akal, sehingga tidak ada hubungannya sama sekali dengan sikap Akuwu dalam hubungannya dengan tanah di lereng pegunungan itu” jawab Ki Sendawa.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ternyata pertimbangan Ki Sendawa cukup tajam menghadapi sikap Akuwu Gagelang sehingga dengan demikian ia harus benar-benar berhati-hati.
“Kita harus membuat perhitungan sebaik-baiknya” berkata Mahisa Murti. Lalu, “Jika keadaan memaksa, aku akan dapat membantu Ki Sendawa menghubungi pimpinan prajurit di Singasari”
Wajah Ki Sendawa menjadi tegang. Namun Mahisa Murti-cepat-cepat menyambung, “Mungkin aku akan dianggap sebagai orang yang tidak terlalu berkepentingan dengan perselisihan antara keluarga di Talang Amba sehingga akan sulit dikaitkan dengan tuduhan seolah-olah Ki Sendawa lah yang telah melaporkan dan memfitnah Ki Sanggarana dan Ki Waruju”
Ki Sendawa termangu-mangu. Sementara itu kuda-kuda mereka meluncur di bulak panjang ditengah-tengah tanah persawahan yang subur. Namun hampir diluar sadarnya, Ki Sendawa memandang ke arah pegunungan yang hijau di seberang daerah yang luas. Jika pegunungan itu menjadi gundul dan kehilangan hutan-hutannya, maka sawah yang hijau itu pun akan menjadi kering dan gersang. Bahkan mungkin akan terbenam dalam lumpur yang mengeras bagaikan batu-batu padas.
Ki Sendawa itu pun menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat satu masa depan yang suram bagi kampung halamannya itu.
Demikianlah kuda-kuda itu pun berjalan tidak terlalu cepat menuju ke Kabuyutan Talang Amba. Orang-orang yang berada dipunggung kuda itu pun nampak merenungi persoalan yang sedang mereka hadapi.
Namun dalam pada itu, Ki Sendawa pun berkata, “Kita tidak boleh tergesa-gesa. Kita harus menemukan satu langkah yang paling tepat. Namun sementara itu, aku akan berbicara dengan anak-anak muda Talang Amba tentang Ki Sanggarana. Dan aku pun akan minta ijin kepada anak-anak muda itu untuk menerima kedudukan sementara Buyut di Talang Amba”
Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berkerut. Tetapi cepat Ki Sendawa berkata, “Jangan cemas anak-anak muda. Aku tidak akan terseret lagi kedalam arus ketamakan itu. Aku akan menunggu perkembangan keadaan, sementara itu kita harus menemukan jalan untuk melepaskan Sanggarana dan Ki Waruju”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka masih tetap mempercayai Ki Sendawa. Namun yang tidak mereka mengerti apakah anak-anak muda Talang Amba mempercayainya.
Tetapi di dalam hati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berjanji untuk membantu meyakinkan anak-anak muda Talang Amba untuk menempatkan diri mereka dipihak Ki Sendawa.
“Tidak ada pilihan lain” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya.
Demikianlah, ketika mereka sampai di rumah Ki Sendawa, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun sempat berbicara untuk beberapa saat. Ki Sendawa pun sadar, bahwa anak-anak muda di Talang Amba tentu sulit untuk mempercayainya, karena namanya memang telah ternoda.
“Aku akan mencoba” berkata Mahisa Murti.
“Terima kasih. Kita harus berusaha, agar Akuwu di Gagelang tidak mengambil tindakan apa pun dalam waktu dekat. Baik terhadap Kabuyutan Talang Amba, maupun terhadap Ki Sanggarana dan Ki Waruju” berkata Ki Sendawa.
Dengan jantung yang berdebar-debar, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah meninggalkan rumah Ki Sendawa. Mereka berusaha untuk menemukan cara agar mereka dapat meyakinkan anak-anak muda di Talang Amba, bahwa mereka memang harus menembus langkah yang mungkin harus melingkar-lingkar.
Kedatangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di rumah Ki Sanggarana telah disambut dengan perasaan curiga. Beberapa orang anak muda yang mewakili kawan-kawannya telah menemuinya.
Seorang di antara mereka bertanya, “Kau pergi dari mana? Seorang kawan kami melihat, kau pergi hersama Ki Sendawa”
“Ya” jawab Mahisa Murti, “kami pergi bersama Ki Sendawa ke Pakuwon Gagelang”
“Untuk apa?” bertanya yang lain, “apakah kau berusaha untuk melepaskan Ki Sanggarana atau justru sebaliknya, agar Ki Sanggarana tetap berada di dalam tahanan?”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian terlalu curiga. Apakah ada tanda-tanda pada kami berdua untuk berbuat demikian?”
Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun tidak seorang pun yang dapat menjawab.
Dalam pada itu, Mahisa Murti berkata seterusnya, “Aku sama sekali tidak mempunyai kepentingan langsung dengan Kabuyutan ini. Jika aku ikut terlibat di dalamnya. semata-mata hanya karena aku merasa berkewajiban untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Jika aku melihat ketidak-adilan terjadi disini, maka rasa-rasanya aku terpanggil untuk melibatkan diri”
Anak-anak muda Talang Amba itu menjadi semakin tunduk. Mereka mengakui di dalam hati, bahwa kedua orang anak muda itu telah berbuat banyak bagi Kabuyutan Talang Amba bersama seorang murid Ki Sarpa Kuning yang kini ada diantara mereka dan bekerja bersama mereka.
Dalam kesempatan itu, maka Mahisa Murti justru telah berusaha untuk dengan langsung mengatakan rencana yang harus disusun oleh Kabuyutan Talang Amba meskipun dengan sangat berhati-hati. Mahisa Murti menceriterakan apa yang telah terjadi di rumah Ki Sendawa dan apa yang telah dikatakan oleh Akuwu.
“Aku yakin bahwa kalian menanggapi masalah ini dengan sikap dewasa. Setuju atau tidak setuju, kalian harus mempertimbangkan kepentingan Talang Amba dalam keseluruhan” berkata Mahisa Murti kemudian, “karena itu, aku minta kalian berpikir dengan hati yang bening. Bukar sekedar didorong oleh perasaan. Tetapi kalian harus mencari keseimbangan dengan penalaran”
Anak-anak muda Talang Amba itu menjadi tegang. Mereka dicengkam oleh ketidak pastian sikap. Bagaimanapun juga mereka sulit untuk dapat mempercayai Ki Sendawa.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat nampaknya terlalu yakin akan kejujuran sikap orang yang pernah mengguncang Kabuyutan Talang Amba dengan ketamakannya.
“Aku yakin, bahwa Ki Sendawa benar-benar menyadari kesalahannya, menyesalinya dan berusaha untuk menebus kesalahannya itu. Ia berjanji untuk berusaha mencari jalan agar Ki Sanggarana dapat terlepas dari tahanan. Karena itu, maka ia harus menerima keadaan yang ditawarkan oleh Akuwu. Jika ia menentang, maka ia pun tidak akan dapat kembali lagi ke Kabuyutan ini. Dengan demikian, maka Akuwu mungkin sekali akan mengambil sikap yang lebih keras lagi terhadap Talang Amba”
Anak-anak muda itu termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Murti melanjutkan, “Ingat. Semua langkah harus kita lakukan bagi kepentingan Talang Amba. Kalianlah yang lebih berkepentingan dengan hari depan Kabuyutan ini. Bukan aku”
Untuk beberapa saat suasana dicengkam oleh ketegangan. Anak-anak muda Talang Amba itu berusaha nempertimbangkan keterangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang ikut pergi ke Pakuwon Gagelang.
Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Sudahlah, renungkan untuk satu dua hari. Tetapi ingat, hal ini jangan kalian percakapkan dengan orang-orang yang tidak berpentingan, jika hal ini didengar oleh orang-orang Akuwu Gagelang, maka akibatnya akan menjadi lebih parah lagi lagi Talang Amba dan bagi Ki Sanggarana”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Kami akan memikirkannya. Mudah-mudahan kami menemukan kesamaan pengertian dengan kalian”
“Kami berharap demikian” jawab Mahisa Murti.
“Aku kira, yang ditempuh oleh Ki Sendawa adalah satu-satunya jalan sekarang ini,” sambung Mahisa Pukat, “Jika kita salah satu langkah saja dalam persoalan ini, maka akibatnya akan kita sesali untuk waktu yang sangat panjang”
Anak-anak muda itu masih mengangguk-angguk. Agaknya mereka benar benar ingin memikirkannya dan mempertimbangkannya diantara kawan-kawan mereka.
Sementara itu, Ki Sendawa pun telah dicengkam oleh kegelisahan. Ia berharap bahwa anak-anak muda Talang Amba mempercayainya. Dengan demikian, maka Talang Amba akan mendapat kesempatan untuk merencanakan sikap yang paling baik menghadapi Akuwu di Gagelang yang agaknya telah menyimpang dari paugeran seorang pemimpin yang mendapat kepercayaan dari Singasana Singasari. Agaknya beberapa orang dari Kediri telah berhasil membujuknya untuk memusuhi Singasari dengan cara yang sangat keji, karena langkah yang mereka ambil adalah satu penghancuran terhadap tata kehidupan yang menjadi semakin mapan.
Dalam pada itu, tanpa hadirnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, beberapa orang anak-anak muda yang dianggap mempunyai pengaruh di Talang Amba telah berbincang. Beberapa orang di antara mereka memang masih tetap meragukan Ki Sendawa. Tetapi yang lain berusaha untuk mengajak kawan-kawannya agar mereka memberi kesempatan kepada Ki Sendawa.
“Kita tidak mempunyai jalan lain” berkata salah seorang di antara mereka, “Ki Sanggarana telah berada di tangan Akuwu. Seperti yang dikatakan oleh anak-anak muda itu, jika kita salah langkah, maka kita akan menyesal untuk waktu yang panjang. Karena sebenarnyalah bahwa Akuwu akan dapat bertindak lebih keras lagi”
“Ya” desis yang lain, “penahanan Ki Sanggarana itu telah menunjukkan satu gejala yang aneh pada Akuwu”
Tetapi masih ada yang berdesis, “Apakah hal itu bukan sekedar permainan Akuwu dengan Ki Sendawa”
“Memang mungkin terjadi” sahut yang lain, “permainan yang kotor itu harus kita cegah”
“Bagaimana kita dapat melihatnya sekarang” sahut anak muda yang pertama, “tetapi aku percaya kepada kedua orang anak muda yang melihat dua orang yang datang ke rumah Ki Sendawa. Jika Ki Sendawa telah menempuh satu permainan dengan Akuwu. maka tidak akan terjadi bahwa dua orang telah mendatanginya atas nama Akuwu dan terjadi satu pembicaraan yang tegang”
Yang lain mengangguk-angguk. Mereka memang dihadapkan kepada persoalan yang pelik. Kepercayaan mereka terhadap Ki Sendawa sudah sangat tipis, sementara itu, mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebagai sandaran mereka, sehingga karena itu mereka telah mempercayai keduanya sepenuhnya.
Namun akhirnya, anak-anak muda Talang Amba itu telah meletakkan semua harapan kepada sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka memang tidak mempunyai cara lain yang mereka anggap cukup meyakinkan. Untuk mempergunakan kekerasan, mereka merasa tidak mempunyai kemampuan. Apalagi menghadapi kekuatan Pakuwon Gagelang.
Demikianlah, maka pada langkah yang pertama, Ki Sendawa telah menyatakan dirinya sebagai pemangku jabatan Akuwu di Talang Amba.
Atas permainan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka terjadi pergolakan di Talang Amba di saat Ki Sendawa menyatakan dirinya memegang kendali kepemimpinan di Kabuyutan Talang Amba. Tetapi persoalan itu dapat segera diatasi ketika sekelompok pasukan Gagelang datang ke Kabuyutan itu.
“Satu permainan berbahaya” berkata Ki Sendawa.
“Sekedar untuk meyakinkan Akuwu tentang kedudukan Ki Sendawa. Bukankah Ki Sendawa pernah mengatakan bahwa anak-anak muda di Talang Amba lebih banyak yang berpihak kepada Ki Sanggarana?” sahut Mahisa Murti.
Ki Sendawa mengerti maksud tersebut. Beberapa pemimpin anak-anak muda Talang Amba pun mengerti permainan itu. Tetapi sebagaimana dipesankan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa para pemimpin anak-anak muda di Talang Amba harus merahasiakannya sebaik-baiknya bagi kepentingan Ki Sanggarana.
Demikianlah maka untuk beberapa saat kemudian. Ki Sendawa lah yang telah memerintah di Kabuyutan Talang Amba.
Ternyata hal itu telah disampaikan pula oleh Akuwu kepada Ki Sanggarana dan Ki Waruju. Seolah-olah dengan sengaja Akuwu ingin menunjukkan kepada Ki Sanggarana bahwa ia sudah tidak mempunyai kesempatan lagi meskipun jika kelak ia kembali ke Talang Amba.
“Paman memang orang yang licik” geram Ki Sanggarana. Lalu katanya, “Sebenarnya aku tidak berkeberatan untuk menyerahkan pimpinan itu. Tetapi tidak dengan cara ini”
Tetapi keluhan Ki Sanggarana itu telah ditertawakan oleh Akuwu di Gagelang. Dengan nada tinggi ia berkata, “Sanggarana yang malang. Karena kau telah dengan sombong melampaui kuasaku dan langsung berhubungan dengan Singasari, maka kau sekarang akan merasakan, betapa sakitnya kuasa yang terlampaui itu. Aku lebih senang melihat pamanmu menjadi Buyut di Talang Amba dari kau sendiri. Aku akan menyusun laporan yang akan meyakinkan Singasari, bahwa kau telah melakukan satu kesalahan sehingga kau tidak akan dapat kembali ke Talang Amba sebagai seorang Buyut”
“Apakah dalam hal ini berarti bahwa paman Sendawa telah sepakat mengambil langkah-langkah seperti ini dengan Akuwu?” bertanya Ki Sanggarana.
Akuwu di Gagelang itu mengangguk-angguk kecil Katanya, “Bagiku Sanggarana, yang akan terpilih menjadi Buyut di Talang Amba adalah orang yang terbaik. Karena menurut penilaianku Sendawa memiliki kematangan berpikir dan bersikap lebih dari kau, maka aku telah menetapkan bahwa Ki Sendawa lah yang akan menjadi Buyut di Talang Amba”
“Atas dasar apakah Akuwu menilai kemampuan kami berdua? Kematangan berpikir yang bersikap yang bagaimanakah yang tuanku maksudkan?” bertanya Ki Sanggarana.
“Aku adalah seorang Akuwu” jawab akuwu, “Aku mempunyai penilaian yang tajam terhadap kalian berdua”
Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam, ia merasa bahwa tidak akan ada artinya jika ia harus berbantah dengan Akuwu di Gagelang.
Dalam pada itu, ketika Akuwu meninggalkannya, maka Ki Waruju pun berkata, “Sudahlah. Kita masih mempunyai waktu untuk menentukan sikap. Aku yakin bahwa kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di Talang Amba akan membawa akibat yang berarti”
Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah bahwa kita tidak menyebut mereka dalam laporan-laporan yang kita sampaikan. Tetapi yang aku tidak mengerti, bagaimana sikap Ki Sendawa terhadap keduanya. Apakah Ki Sendawa tidak memberikan laporan khusus mengenai kedua anak muda itu?”
Atau Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyingkir lebih dahulu dari Talang Amba?” bertanya Ki Waruju pula.
Namun dalam pada itu, Ki Waruju masih mempunyai harapan bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan ikut menentukan akhir dari persoalan yang berbelit itu.
“Mudah-mudahan ia memberikan laporan yang. sebenarnya kepada ayahnya yang akan dapat menyampaikannya kepada Mahisa Bungalan” berkata Ki Waruju kepada diri sendiri.
Namun seandainya tidak demikian, maka Ki Waruju masih mempunyai jalan lain. Tempat ia dan Ki Sanggarana ditahan itu terbuat dari Kayu. Dinding-dindingnya terbuat dari papan meskipun cukup tebal. Tetapi dalam keadaan yang memaksa, maka Ki Waruju akan dapat memecahkan pintu bilik yang diselarak dari luar itu.
“Tetapi itu adalah jalan yang terakhir” berkata Ki Waruju di dalam hatinya.
Dalam pada itu, di Talang Amba, Ki Sendawa benar-benar berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari anak-anak muda. Meskipun ia sadar, bahwa kerja itu adalah kerja yang sangat berat. Namun bersama-sama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akhirnya mereka berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin anak-anak muda yang berpengaruh, bahwa yang dilakukan Ki Sendawa itu benar-benar bagi keseluruhan Talang Amba dan Ki Sanggarana.
Meskipun masih juga ada kecurigaan kepada Ki Sendawa, namun langkah-langkah yang diambil oleh Ki Sendawa ternyata telah menunjukkan kepada mereka, bahwa Ki Sendawa yang telah menerima kedudukan sementara itu berbeda dengan Ki Sendawa sebelumnya.
“Ternyata perjuangan untuk melepaskan Sanggarana akan memerlukan waktu yang agak panjang” berkata Ki Sendawa.
“Ya” jawab Mahisa Murti, “tetapi kita sudah memulainya. Dan itu lebih baik daripada kita masih harus menunggu”
“Tetapi, agaknya memang tidak ada cara lain yang dapat dipergunakan kecuali dengan kekerasan” berkata Mahisa Pukat. Lalu, “Kita dapat menghimpun anak-anak muda dan memberikan latihan-latihan dasar bagi mereka.
“Tetapi kita tidak akan dapat melawan para pengawal dari Gagelang” jawab Ki Sendawa, “Jika kita memaksakan cara itu, maka akibatnya akan menjadi sangat parah bagi Talang Amba. Kita akan ditumpas dan pimpinan Kabuyutan ini akan jatuh ketangan orang lain yang tidak kita kenal sifat dan tabiatnya”
“Aku mengerti Ki Sendawa” berkata Mahisa Murti, “karena itu, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah memberikan laporan kepada Singasari, bahwa Akuwu di Gagelang telah melakukan satu tindakan yang melawan paugeran Singasari. Seandainya Singasari tidak mempercayainya, maka sejak semula kita minta agar Singasari berusaha menyelidikinya. Mereka akan dapat mengirimkan petugas-petugas sandinya sebelum benar-benar mengambil tindakan tertentu”
Ki Sendawa mulai memikirkannya. Namun kemudian katanya, “Kita akan mengambil langkah-langkah yang lain lebih dahulu. Tetapi jika semuanya gagal, maka kita akan mengambil langkah terakhir itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga keduanya menyadari, bahwa Akuwu di Gagelang akan dapat memutar balikkan keadaan yang sebenarnya dan akibatnya akan sangat merugikan Ki Sendawa dan bahkan mungkin Talang Amba dalam keseluruhan.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus memperhitungkan batas kesabaran anak-anak muda Talang Amba. Jika perkembangan persoalan itu berjalan sangat lamban, maka akibatnya akan sangat pahit. Kepercayaan kepada Ki Sendawa akan menjadi semakin susut, seolah-olah Ki Sendawa sedang melakukan satu permainan yang sangat lembut untuk mencapai tujuannya. Menguasai Talang Amba dengan dukungan Sang Akuwu di Gagelang.
Sementara itu, ternyata Ki Sendawa sendiri mulai disudutkan kepada satu keadaan yang pelik. Jantungnya serasa berhenti berdetak ketika dua orang utusan Akuwu datang ke rumahnya dan menyampaikan pesan Akuwu tentang lereng bukit gundul itu
“Akuwu akan mulai sewaktu-waktu” berkata utusan itu, “bukit itu akan dibersihkan dan akan dibangun satu daerah pemukiman di lereng gunung itu”
“Demikian cepatnya?” bertanya Ki Sendawa, “Bukankah aku masih belum disahkan dalam kedudukanku? Apakah dengan demikian aku mempunyai wewenang untuk mengiakan?”
“Semua tanggung jawab ada pada Akuwu” berkata utusan itu, “Bukankah daerah ini juga daerah Gagelang? Adalah wajar bahwa Akuwu melakukan satu kebijaksanaan di daerahnya, termasuk kebijaksanaan mengenai hutan di lereng bukit itu”
“Ki Sanak benar” jawab Ki Sendawa, “tetapi daerah Gagelang terbagi dalam Kabuyutan yang bertanggung jawab atas wilayahnya. Karena itu maka Buyut di Talang Amba bertanggung jawab pula atas wilayahnya. Hijau atau kuning. Hitam atau putih”
“Bagaimanapun juga Talang Amba berada di bawah perintah Gagelang Ki Sendawa. Jika Akuwu mengangkat seorang Buyut yang dapat mengerti kebijaksanaannya itu, sekedar untuk mengurangi persoalan. Tetapi seorang Buyut tidak dapat mencegah kebijaksanaan Akuwu meskipun itu terjadi di wilayahnya” berkata utusan itu.
Ki Sendawa tidak dapat menjawab lagi. Akuwu memang mungkin mempergunakan kekerasan dan tidak lagi menghiraukan kuasa Buyut di Talang Amba. Dalam pada itu. berbareng dengan langkah-langkah itu, Akuwu dapat memberikan laporan tindakan-tindakan yang akan diambilnya meskipun dengan cara yang tidak sewajarnya
Karena itu, maka yang kemudian dapat dikatakan oleh Ki Sendawa adalah, “Ki Sanak. Jika hal itu yang dikehendaki oleh Akuwu, apaboleh buat. Akuwu sudah terlalu baik terhadapku, sehingga aku berkesempatan untuk memegang jabatan ini. Tetapi aku mohon agar Akuwu dapat memberikan ancar-ancar waktu yang akan dipergunakan oleh Akuwu untuk membuka hutan itu”
“Apakah kau mempunyai kepentingan?” bertanya utusan itu.
“Kepentingan hanyalah sekedar mengetahui. Mungkin ada orang Talang Amba yang bertanya, atau mereka yang berkepentingan karena mereka mempunyai rencana tertentu atas hutan itu meskipun belum disampaikannya kepadaku” jawab Ki Sendawa.
“Aku tidak dapat mengatakannya Ki Sendawa. Tetapi tentu dalam waktu yang tidak terlalu lama” jawab utusan itu.
Ki Sendawa menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia harus menyimpan perasaan itu di dalam hatinya.
Ketika utusan itu kembali, maka dengan tergesa-gesa Ki Sendawa telah memanggil Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk memberitahukan persoalan yang sedang dihadapinya.
“Jika Akuwu benar-benar menebang hutan itu, maka kepercayaan anak-anak muda itu tentu akan larut. Mereka menganggap bahwa aku telah memindahkan perjanjian dengan Ki Sarpa Kuning dan berlindung di bawah kuasa Akuwu. Anak-anak muda itu tentu menuduh aku pulalah yang telah menyebabkan Ki Sanggarana dan Ki Waruju ditahan di Gagelang” berkata Ki Sendawa yang kecemasan.
“Karena itu Ki Sendawa. Tidak ada cara lain yang lebih baik dari melaporkan hal ini kepada Singasari” jawab Mahisa Murti.
“Alasan itu pulalah yang dipakai oleh Akuwu untuk menahan Sanggarana dan Ki Waruju” jawab Ki Sendawa, “tetapi baiklah jika itu jalan satu-satunya. Jadi apakah aku harus pergi ke Singasari?”
“Ki Sendawa tidak usah pergi. Biarlah kami berdua sajalah yang pergi” jawab Mahisa Murti.
“Apakah kau akan dapat menyelesaikan persoalannya dengan pihak Singasari?” bertanya Ki Sendawa.
“Kami akan berusaha” jawab Mahisa Pukat.
“Tetapi bagaimana dengan anak-anak Talang Amba jika kalian tinggalkan mereka” desis Ki Sendawa yang cemas
“Kami akan berpesan kepada mereka, agar mereka tetap menahan diri. Kami akan menyelesaikan segala sesuatunya bagi kepentingan Talang Amba. Ki Sanggarana dan Ki Waruju” jawab Mahisa Murti.
Ki Sendawa sudah tidak mempunyai jalan lain. Karena itu, maka diserahkannya segalanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Demikianlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai dengan rencana mereka. Mereka telah menemui para pemimpin anak-anak muda Talang Amba bersama murid Ki Sarpa Kuning yang tinggal. Dengan sungguh-sungguh mereka berpesan, agar anak-anak muda itu tidak bertindak sendiri-sendiri.
“Aku akan pergi ke Singasari” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Lalu Mahisa Murti pun melanjutkan, “jaga segala rahasia sebaik-baiknya jika kalian ingin berhasil”
“Apakah kau benar-benar masih akan kembali?” bertanya seorang anak muda dengan curiga.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Kecurigaan yang demikian itu memang wajar sekali. Namun mereka harus yakin, bahwa tidak ada ialah lain yang akan dapat ditempuh.
“Kawan-kawan” berkata Mahisa Murti, “Aku memang tidak mempunyai cara lain. Dalam keadaan yang paling sulit, maka kita harus mencari perlindungan kepada orang yang paling berwenang. Kita sudah berusaha untuk mencari perlindungan kepada Akuwu di Gagelang. Tetapi usaha itu kandas karena sikap dan tanggapan Akuwu terhadap Kabuyutan Talang Amba. Karena itu, maka harapan kita satu-satunya adalah Singasari. Jika kita gagal mencari perlindungan di Singasari, maka kita akan menarik kepercayaan terhadap keadilan di tanah ini”
Anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun akhirnya mereka memang harus masih menunggu lagi. Apalagi ketika kemudian mereka menyadari, bahwa mereka memang tidak akan dapat banyak berbuat. Jika mereka mempergunakan kekerasan, maka keselamatan Ki Sanggarana dan Ki Waruju tentu akan terancam. Lebih dari itu keselamatan Talang Amba sendiri juga tentu akan terancam.
Akhirnya dengan susah payah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat meyakinkan beberapa orang anak muda yang mempunyai pengaruh atas anak-anak muda di Talang Amba, tentang rencana yang akan dilakukannya.
Demikianlah, maka tanpa membuang waktu lagi, dinari berikutnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan Talang Amba. Pagi-pagi benar. Sebelum matahari terbit. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak ingin dilihat orang-orang yang tidak berkepentingan dan tidak mengetahui seluk-beluk dari persoalan yang sedang dihadapi oleh Talang Amba daiam keseluruhan.
Namun sementara itu, Ki Sendawa selalu diliputi oleh kegelisahan. Setiap saat, Akuwu dapat melakukan rencananya, membuat hutan di lereng pegunungan itu menjadi gundul, sementara itu anak-anak muda Talang Amba, terutama para pemimpin mereka telah mengetahui arti dari tanah yang akan menjadi gundul itu. Sebagaimana pernah dituntut oleh Ki Sarpa Kuning pada saat ia mengikat satu kesepakatan dengan Ki Sendawa.
Sehingga apabila hal itu benar-benar dilakukan oleh Akuwu atau orang-orang yang ditugaskannya, maka akan sulit bagi Ki Sendawa, apalagi tanpa Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat, untuk mencegah langkah yang mungkin akan diambil oleh anak-anak muda Talang Amba.
“Aku telah diombang-ambingkan oleh tingkah Akuwu” berkata Ki Sendawa kepada dirinya sendiri
“pada saat aku mendapat terang di hati, maka aku terbentur kepada Muka Akuwu yang justru telah tersesat. Nampaknya langkah orang-orang Kediri itu sudah mencengkam lewat banyak jalur untuk menusuk kekuasaan singasari kearah jantung“
Dengan demikian, maka kadang-kadang Ki Sendawa itu telah dikuasai oleh kegelisahan yang sulit untuk diatasinya.
Bahkan kadang-kadang ia telah kehilangan akal, apa yang sebaiknya dilakukan.
Namun satu hal yang tidak dilepaskannya dari
kesadarannya, bahwa ia benar-benar ingin menebus kesalahannya yang telah dilakukan sehingga keadaan yang parah itu menjadi berlarut-larut dan berkepanjangan. Dan
salah satu jalan yang harus ditempuhnya adalah harus menerima tawaran Akuwu Gagelang untuk memangku jabatan Buyut di Talang Amba. Bahkan mungkin jabatan
itu akan dikukuhkan agar Akuwu dapat dengan mudah melakukan rencananya.
Rencana yang dikendalikan oleh beberapa orang yang berada di Kediri yang merasa
berkewajiban untuk membebaskan Kediri dari kekuasaan Singasari.
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah menempuh satu perjalanan yang panjang. Mereka tidak dapat mencapai Singasari dalam satu hari perjalanan meskipun mereka mempergunakan kuda yang dapat mereka pinjam dari Talang Amba.
Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu tidak langsung menuju ke Singasari dan menemui kakak mereka, Mahisa Bungalan. Tetapi mereka telah menemui ayah mereka lebih dahulu untuk mendapatkan pertimbangan.
Ketika Mahendra mendengarkan keterangan anaknya maka hatinya menjadi berdebar-debar. Karena rencana orang-orang Kediri itu sudah menyusun diantara para pemimpin
pemerintahan yang seharusnya menjadi jalur kekuasaan Singasari.
“Baiklah” berkata Mahendra “Aku akan menyertai menemui kakakmu Mahisa Bungalan. Ia akan berbicara dengan pamannya Mahisa Agni dan Witantra. Mudah-mudahan mereka dapat memecahkan persoalannya. Mereka harus mendapat bukti keingkaran Akuwu itu”
“Ya ayah“ jawab Mahisa Murti
“Yang penting, Singasari harus meyakini bahwa Akuwu Gagelang telah melakukan satu kesalahan”
Mahendrapun mengangguk-angguk. Ia berpendapat bahwa Singasari tidak akan dapat begitu saja mengirimkan sepasukan yang akan dapat menangkap Akuwu Gagelang.
Dengan demikian, maka Akuwu itu akan dapat ingkar dan Singasari akan menemui kesulitan untuk membuktikannya.
ooodwooo
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar