Selasa, 29 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 023-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-023-01*

Pangeran Singa Narpada bergeser surut. Tetapi kedua orang itupun bergeser pula.

Bagaimanapun juga terasa sesuatu bergetar di dada Pangeran Singa Narpada.

“Jika berbuat sesuatu yang akan dapat menyulitkanmu. Serahkan saja kampilmu itu apapun isinya,” berkata Sadkala itu kemudian.

“Lalu kenapa? Kenapa aku harus berteriak?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Baiklah. Aku akan mengatakan niatku. Aku minta kampilmu,” berkata orang yang disebut Sadkala itu dengan tegas.

“Ki Sanak,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Tampil ini berisi bekalku selama aku mengembara. Jika kampil ini kau minta, aku akan kehabisan bekal.”

“Jangan menentang keinginanku. He, kau tahu, siapa aku?” bertanya Sadkala.

Pangeran Singa Narpada menggeleng. Jawabnya, “Aku belum mengenal Ki Sanak.”

“Aku adalah Sadkala. Setiap orang tentu pernah mendengar namaku,” berkata orang itu.

Tetapi Pangeran Singa Narpada menggeleng. Katanya, “Aku belum pernah mendengarnya.”

“Persetan,” bentak Sadkala itu pula, “Semua orang sudah mendengar. Kau tentu juga sudah mendengarnya. Aku adalah orang yang paling ditakuti. Karena itu, jangan mencoba mempertahankan milikmu itu jika kau tidak ingin kehilangan nyawamu.”

“Kedua-duanya tidak,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Nyawaku tidak. Kampilku pun tidak.”

“Setan alas,” orang itu mengumpat, ”Kau memang belum pernah mendengar namaku? He, kau berasal dari nama?”

“Gunung Lawu,” jawab Pangeran Singa Narpada asal saja menjawab.

Kedua orang itu memandang Pangeran Singa Narpada dengan tajamnya, sementara Sadkala pun berkata, “Pantas kau orang Gunung Lawu, bahwa kau berani menolak keinginanku. Tetapi aku peringatkan bahwa jika kau tidak mau menyerahkan kampilmu, maka yang akan aku ambil adalah jiwamu. Bagiku justru akhirnya sama saja. Kampilmu akan jatuh juga ke tanganku.”

“Jangan suka membunuh,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”yang pantas dibunuh adalah penjahat-penjahat seperti kalian. Seharusnya Kediri dan Singasari bersih dari penjahat-penjahat seperti kalian itu.”

Wajah kedua orang itu menjadi merah. Dengan suara gemetar Sadkala menggeram menahan marah, “Kau memang sudah gila. Kau memang harus dibunuh.”

Pangeran Singa Narpada pun telah menjadi muak. Karena itu, iapun menjawab, “Ketahuilah, aku adalah prajurit Kediri yang mendapat tugas untuk menemukan orang yang bernama Sadkala dimanapun ia berada. Aku harus memenggal kepalanya dan melemparkannya kepada anak-anak muda di gerbang padukuhan itu.”

“Setan,“ geram Sadkala. Tetapi ia justru melangkah surut untuk mengambil jarak.

Pengakuan Pangeran Singa Narpada bahwa ia adalah seorang prajurit Kediri telah menimbulkan tanggapan tersendiri bagi Sadkala. Dengan demikian ia menduga bahwa petugas sandi itu dengan sengaja telah menunjukkan uang di dalam kampilnya untuk memancingnya.

Karena itu, maka iapun justru menjadi berhati-hati. Sementara kawannya pun telah bergeser pula sambil berkata, “Kau kira, jika kau menggertak kami dengan menyebut dirimu sebagai prajurit dalam tugas sandi, kami akan menjadi ketakutan?”

“Tidak. Aku justru mengharap kalian melawan. Barulah kalian dapat disebut perampok yang jantan. Jika kalian menyerah, maka kalian tidak lebih dari seekor kelinci pengecut,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Kedua orang itu ternyata tidak dapat menahan diri lagi. Merekapun segera bersiap untuk memaksa Pangeran Singa Narpada menyerahkan kampilnya yang berisi uang.

“Siapapun kau, tetapi kampilmu berisi uang,” geram Sadkala.

Pangeran Singa Narpada pun segera bersiap. Ia sadar, bahwa orang yang ingin merampok uangnya adalah perampok yang agaknya ditakuti orang. Sehingga mereka tentu mempunyai kemampuan yang dapat dibanggakannya.

Sejenak kemudian, maka Sadkala pun mulai menyerangnya sambil menggeram, “Aku akan berbangga bahwa aku telah membunuh seorang petugas sandi dari Kediri.”

Pangeran Singa Narpada yang memang sudah bersiap itupun dengan tangkasnya mengelak, Tetapi ia belum sempat membalas dengan serangan ketika perampok yang lain telah menyerangnya pula.

Demikianlah, maka pertempuran pun segera berkobar diantara kedua orang perampok itu melawan Pangeran Singa Narpada.

Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada memang tida dapat melepaskan diri dari sifat dan wataknya. Baginya kedua penjahat itu memang harus dimusnahkan agar mereka tidak dapat lagi mengganggu orang-orang lain. Bahkan kedua orang itu telah sampai hati merampok seorang pengembara sebagaimana Pangeran Singa Narpada pada waktu itu.

Namun ternyata kedua perampok itu memang memiliki bekal yang cukup untuk dapat menakut-nakuti orang.

Dengan demikian, maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin seru. Kedua orang perampok itu mulai merasa, bahwa mereka ternyata telah membentur satu kekuatan yang tidak mereka duga. Bahkan kedua perampok itu. mulai meyakini, bahwa lawannya memang seorang prajurit yang tangguh.

Dalam pada itu, sambil membawa kampilnya yang talinya diikatkannya di pinggangnya, Pangeran Singa Narpada bertempur dengan tangkasnya. Untuk beberapa saat Pangeran itu masih berusaha untuk manjajagi kemampuan lawannya.

Namun akhirnya Pangeran Singa Narpada, seorang Panglima yang ditakuti di Kediri bukan saja oleh prajurit-prajuritnya, tetapi juga oleh orang-orang yang dianggap berilmu tinggi itu, mulai menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.

Dengan tata gerak yang mengejutkan, Pangeran Singa Narpada mulai mendesak kedua lawannya yang bertempur semakin lama menjadi semakin kasar.

Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada pun menyadari, bahwa kedua perampok itu tentu murid dari salah satu perguruan yang memang menyebarkan ilmu yang sesat dan kasar. Sehingga dengan kemampuan yang mereka dapatkan, maka mereka telah melakukan kejahatan tanpa belas kasihan.

“Tidak ada tempat bagi kalian untuk tetap hidup, baik di Kediri maupun di Singasari,“ geram Pangeran Singa Narpada setelah ia mulai melihat kekasaran tata gerak lawannya.

“Persetan,“ Sadkala itu tiba-tiba saja berteriak, “Jangan menyesali kematianmu.”

Justru dengan demikian, maka Sadkala itupun telah menghentakkan ilmunya. Ilmu yang semakin keras dan kasar. Kedua orang perampok itu bertempur sambil berteriak dan mengumpat-umpat. Apalagi ketika mereka tidak lagi menahan diri untuk mempergunakan senjata mereka.

Ternyata Sadkala telah mempergunakan senjatanya yang dibanggakan, sebaliknya keris yang sangat besar, sementara kawannya telah mempergunakan sebilah golok yang berwarna kehitam-hitaman.

Pangeran Singa Narpada bergeser surut. Sebagai seorang pengembara, Pangeran Singa Narpada tidak nampak membawa senjata apapun.

Namun menghadapi kedua orang kasar yang bersenjata itu, maka Pangeran Singa Narpada telah melepas ikat pinggang kulitnya yang tebal dan besar.

Ternyata ikat pinggang Pangeran Singa Narpada itu merupakan senjata yang menggetarkan bagi lawan-lawannya. Ketika Sadkala mengayunkan kerisnya ke kening Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Singa Narpada telah merentangkan ikat pinggangnya. Demikian sentuhan terjadi, Pangeran Singa Narpada telah mengendorkan ikat pinggangnya itu, namun dengan tiba-tiba saja ia telah menghentakkannya.

Hampir saja keris Sadkala itu terlempar. Hentakan ikat pinggang Pangeran Singa Narpada mempunyai kekuatan yang tidak terduga.

Dengan demikian, maka kedua orang perampok itupun semakin yakin, bahwa yang dihadapi memang seseorang yang berilmu tinggi.

Dengan demikian maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin seru. Kedua perampok dengan senjata mereka masing-masing bergerak semakin cepat. Menyerang dari arah yang berbeda dengan mengayunkan senjata-senjata mereka yang mengerikan.

Tetapi ikat pinggang Pangeran Singa Narpada yang nampaknya dibuat dari kulit itu, ternyata merupakan senjata yang aneh. Ikat pinggang itu mampu melawan pedang dan keris. Dalam benturan-benturan yang terjadi, kedua perampok itu merasa seolah-olah senjata mereka telah membentur senjata yang terbuat dari baja yang terpilih. Namun kadang-kadang ikat pinggang itu mampu menggapainya sebagai senjata yang lentur.

“Anak setan,“ Sadkala menggeram. Namun ia tidak dapat ingkar dari kenyataan bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi.

Sebenarnyalah Pangeran Singa Narpada menguasai senjatanya dengan sebaik-baiknya. Meskipun ujud dari senjata itu adalah sebuah ikat pinggang kulit, tetapi penggunaannya ternyata melampaui kemampuan keris yang dipergunakan oleh Sadkala maupun golok kawannya. Bahkan kemudian ikat pinggang itulah yang bergerak menyambar-nyambar, sehingga kedua perampok itu sulit untuk dapat berbuat lain kecuali sekedar menangkis dan menghindar.

Tetapi Pangeran Singa Narpada telah mengambil keputusan sebagaimana yang sering diambil pada saat-saat ia berada di Kediri. Ia adalah seorang Pangeran yang sangat membenci kejahatan sebagaimana dilakukan oleh kedua orang itu. Dan orang-orang Kediri pun selalu dapat menebak, apa yang akan dilakukan oleh Pangeran yang keras hati itu.

Apalagi menghadapi kedua orang perampok itu Pangeran Singa Narpada telah dengan langsung membenturkan senjatanya. Sehingga dengan demikian, maka upaya untuk mengatasi gejolak perasaannya agak sulit dilakukannya.

Karena itulah, maka kedua orang perampok itu kemudian harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit.

Setelah mereka bertempur beberapa saat, maka sampailah Pangeran Singa Narpada pada batas kesempatan yang diberikannya kepada kedua orang itu untuk berusaha membela diri.

Ketika kedua orang itu bertempur semakin keras dan kasar, maka Pangeran Singa Narpada pun telah menjadi jemu karenanya. Dengan demikian, maka iapun berusaha untuk segera mengakhiri permainan itu.

Menghadapi Pangeran Singa Narpada yang menjadi bersungguh-sungguh, maka kedua orang itu benar-benar telah kehilangan kesempatan. Keris yang besar, yang merupakan kebanggaan Sadkala dan golok yang berat, senjata andalan kawannya, sama sekali tidak berarti menghadapi senjata Pangeran Singa Narpada yang asing itu.

Sementara itu, Pangeran Singa Narpada yang sudah muak dengan tingkah laku yang keras dan kasar itupun, telah mengambil sikap terakhir terhadap keduanya.

Karena itulah maka ikat pinggangnya pun telah berputaran. Namun ketika sekali menebas, menyusup pertahanan salah seorang dari kedua perampok itu, maka akibatnya benar-benar telah mengejutkan. Sentuhan sisi ikat pinggang kulit yang mengenai lengan perampok itu telah mengoyak kulit dagingnya, sebagaimana sebilah mata pedang yang sangat tajam.

Kawan Sadkala yang ditakuti itu melompat surut. Terasa tangannya yang disentuh oleh ikat pinggang itu dicengkam oleh perasaan sakit dan pedih.

Namun orang itu masih sempai mengumpat dan meneriakkan kata-kata kotor. Darah yang mengalir dari lukanya menandai tingkat ilmu pengembara yang disangkanya tidak lebih dari orang-orang lemah yang akan mati dengan sekali hentak di tengkuknya.

Meskipun lengannya sudah terluka, tetapi ternyata perampok itu masih beringsut maju dengan golok yang teracung, sementara Sadkala sendiri telah mengambil kesempatan dan meloncat menyerang dengan garangnya. Kerisnya yang besar terayun dengan derasnya menyambar dada Pangeran Singa Narpada.

Namun ternyata Pangeran Singa Narpada sempat merentangkan ikat pinggangnya. Demikian keris itu mengenai ikat pinggangnya, maka Pangeran Singa Narpada telah menghentakkannya. Tetapi Sadkala sudah mendapatkan satu pengalaman, sehingga karena itu, maka iapun dengan kuatnya telah mempertahankan kerisnya dan justru masih sempat memutar dan dengan langkah panjang ia meloncat maju dengan ujung keris mematuk lurus ke depan mengarah ke lambung.

Tetapi segalanya sudah saatnya berakhir. Pangeran Singa Narpada sebagaimana dilakukan di Kediri, telah mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman yang paling keras terhadap kejahatan.

Demikian keris itu mematuknya, maka dengan tangkas ia bergeser menghindar. Namun demikian ia meloncat selangkah, tangannya telah mengayunkan ikat pinggangnya.

Ternyata ikat pinggang itu mampu menebas seperti pedang langsung mengoyak dada Sadkala yang masih berusaha untuk memutar kerisnya dan menyerang lawannya.

Terdengar Sadkala mengumpat dengan kasarnya. Namun iapun telah terhuyung-huyung beberapa langkah surut, sementara kawannya yang terluka di lengannya berusaha untuk melindunginya.

Tetapi Pangeran Singa Narpada bergerak terlalu cepat. Sambil merendah ia menyerang lawannya tepat pada lambungnya, sehingga sebuah luka yang dalam dan panjang telah menganga.

Kedua orang perampok itu ternyata tidak mampu berbuat sesuatu lagi. Luka-luka itu terlalu berat untuk diatasi. Darah menyembur tanpa dapat terbendung.

Sejenak kemudian, maka keduanya telah terjatuh di tanah. Sadkala masih menggeliat. Tetapi kemudian, iapun telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, sementara kawannya sama sekali tidak berdaya untuk berbuat apapun juga. Untuk beberapa saat orang itu masih sempat memandangi pengembara itu dengan penuh kebencian. Namun sejenak kemudian, mata itu menjadi redup dan tertutup sama sekali.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kematian kedua orang perampok itu akan dapat mengurangi ketegangan-ketegangan yang terjadi di Kediri dan Singasari, yang masih saja dilanda pertentangan yang nampaknya tidak berkeputusan. Hilangnya Pangeran Lembu Sabdata, kemudian disusul hilangnya mahkota yang menjadi tempat semayam wahyu keraton.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya kedua sosok tubuh yang kemudian tidak bergerak sama sekali itu.

Namun Pangeran Singa Narpada tidak membiarkan tubuh itu silang melintang di jalan. Tetapi iapun kemudian menempatkan tubuh yang membeku itu dibawah sebatang pohon perindang di pinggir jalan.

“Anak-anak muda di padukuhan itu akan segera menemukannya dan menyelenggarakannya,” berkata Pangeran Singa Narpada di dalam hatinya. Bahkan kemudian seakan-akan ia bergumam diluar sadarnya, “Jangan menambah beban para prajurit Kediri yang sedang disibukkan oleh pemberontakan yang belum dapat teratasi sampai tuntas.”

Demikianlah, setelah membenahi pakaiannya, maka Pangeran Singa Narpada pun telah melanjutkan perjalanannya. Ia masih saja selalu dibayangi oleh kemungkinan-kemungkinan yang dapat meledak di Kediri. Tetapi jika mahkota yang hilang itu dapat diketemukan, maka kemungkinan itu akan dapat dikuranginya.

Tetapi hambatan itu tidak terlalu banyak menyita waktu Pangeran Singa Narpada. Iapun segera melanjutkan perjalanannya. Namun ia tidak sekedar berjalan saja. Tetapi ia juga berusaha mendengar dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat menuntunnya untuk mendapat petunjuk jejak sasaran yang dicarinya.

Namun tidak ada yang dapat memberikan sedikit petunjuk pun tentang Pangeran Lembu Sabdata maupun mahkota yang hilang. Semakin jauh ia meninggalkan Kota Raja, maka semakin jauh pula ia dari kemungkinan untuk mendapatkan petunjuk itu.

Karena itu, maka yang kemudian menjadi tujuan Pangeran Singa Narpada satu-satunya adalah Singasari.

Tidak ada hambatan yang berarti yang mengganggu perjalanan Pangeran Singa Narpada selanjutnya. Sehingga kemudian iapun dengan selamat telah memasuki Kota Raja Singasari. Sebagaimana yang direncanakan, maka Pangeran Singa Narpada tidak akan menghubungi Singasari sebagai satu kekuasaan yang membawahi kekuasaan di Kediri, tetapi ia lebih condong untuk menghubungi orang-orang yang akan dapat diajak untuk bekerja bersama dengan tidak banyak diketahui oleh pihak lain.

Tujuan utamanya adalah untuk menemui Mahisa Bungalan lewat Mahisa Agni. Orang-orang yang telah banyak berbuat sesuatu untuk kepentingan Singasari dan Kediri.

Karena itu, maka sebagai seorang pengembara, maka Pangeran Singa Narpada yang tidak ingin banyak terganggu karena kedudukannya di Kediri jika ia dikenalinya sebagaimana ia sebenarnya, iapun telah berusaha untuk datang langsung ke tempat tinggal Mahisa Agni.

Tidak terlalu sulit untuk menemukannya. Sehingga karena itu, maka pada satu pagi, kedatangannya telah mengejutkan Mahisa Agni yang berada di lingkungan istana Singasari.

Seorang prajurit yang mengantarkannya menjadi curiga, ketika ternyata Mahisa Agni nampak belum mengenalnya. Sementara itu, kepada prajurit itu Pangeran Singa Narpada mengakunya bahwa ia adalah masih mempunyai hubungan darah dengan Mahisa Agni.

“Apakah orang ini berbohong?” bertanya prajurit itu.

Tetapi bukan kebiasaan Mahisa Agni untuk dengan begitu saja mengambil sikap yang dapat menyulitkan orang lain. Karena itu maka katanya, “Biarlah aku berbicara.”

Prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Agni adalah orang yang memiliki kematangan sikap dan ilmu, sehingga seandainya orang itu ingin berbuat jahat, maka ia akan terlalu mudah untuk dapat berhasil.

Apalagi Mahisa Agni sendiri kemudian mempersilahkan prajurit itu untuk meninggalkannya, “Jika aku memerlukanmu aku akan memanggilmu.”

Prajurit itupun kemudian minta diri. Meskipun demikian sekali-sekali ia masih juga berpaling ke arah pengembara yang berdiri termangu-mangu.

Sepeninggal prajurit itu, maka Mahisa Agni pun segera mempersilahkan pengembara itu memasuki ruang dalam. Dengan nada datar ia bergumam, “Jika tidak penting sekali, kau tentu tidak akan menemui aku. Siapakah kau sebenarnya?”

Pangeran Singa Narpada pun kemudian bertanya, “Apakah kau benar-benar lupa kepadaku?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun kemudian tiba-tiba saja ia berdesis, “Apakah kau seorang Pangeran dari Kediri?”

Pangeran Singa Narpada tersenyum. Katanya, “Kau tentu masih dapat mengingat, siapakah aku?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengira, bahwa Pangeran mengenakan pakaian seperti itu. Aku benar-benar tidak dapat langsung mengenal karena aku sama sekali tidak menyangka. Tetapi akhirnya aku dapat juga mengenalimu. Bukankah aku berhadapan dengan Pangeran Singa Narpada?”

“Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Tetapi kenapa kau datang dengan mengenakan pakaian dan melakukan penyamaran seperti itu? Kenapa kau tidak datang dalam kedudukanmu, Pangeran?” bertanya Mahisa Agni.

Pangeran Singa Narpada pun kemudian menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan iapun mengatakan dengan terus terang, keinginannya untuk minta bantuan Mahisa Bungalan atau siapapun yang menurut Mahisa Agni dapat dihubunginya.

“Kediri memang tidak melakukannya dengan resmi karena kehilangan itu masih dirahasiakan. Jika kehilangan mahkota itu diketahui oleh orang banyak, maka akan terjadi keresahan di Kediri, karena banyak orang yang mengungkap bahwa mahkota itu adalah tempat bersemayam wahyu keraton Kediri,” berkata Pangeran Singa Narpada kemudian, “Karena itu, aku datang dalam penyamaran ini. Aku tidak dapat berbuat banyak bersama orang-orang Kediri sendiri, karena aku mengira masih ada orang-orang yang tidak dapat dipercaya di lingkungan kami. Tetapi aku pun tidak dapat minta bantuan Singasari dengan terus terang, karena kami orang-orang Kediri tidak ingin menggantungkan diri kepada Singasari. Karena itu, maka aku telah menempuh jalan tersendiri.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti rencana Pangeran Singa Narpada. Pangeran Singa Narpada ingin satu atau dua orang kawan untuk bersama-sama menemukan mahkota yang hilang. Adalah lebih baik apabila mereka sekaligus dapat menemukan Pangeran Lembu Sabdata.

“Keduanya hilang dengan cara yang sama. Karena itu, maka di belakang hilangnya keduanya, tentu ada kekuatan yang sangat besar yang menggerakkan peristiwa itu.“ berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Seseorang yang berilmu sangat tinggi telah mencampuri persoalan pertentangan antara keluarga Kediri itu.”

“Ya,” sahut Pangeran Singa Narpada, ”Tetapi persoalannya lebih luas dari pertentangan antara keluarga di Kediri. Tetapi jika aku boleh berterus-terang, persoalannya menyangkut hubungan antara Kediri dan Singasari.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Agaknya Pangeran sudah bertindak dengan bijaksana, bahwa Pangeran tidak langsung melaporkan dan minta bantuan Singasari. Karena itu, maka biarlah kami akan membantu sejauh dapat kami lakukan. Jika Pangeran menghendaki, seorang yang masih termasuk tataran yang masih muda, maka aku sependapat bahwa Pangeran berhubungan dengan Mahisa Bungalan. Aku akan mempertemukan Pangeran dengan orang muda itu. Aku akan berusaha agar ia mendapat ijin untuk melakukan tugas khusus seperti ini.”

“Terima kasih,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Mudah-mudahan ia bersedia.”

“Jika demikian silahkan Pangeran tinggal disini barang satu dua hari sambil menunggu ijin khusus itu,” berkata Mahisa Agni, “Karena ia baru saja minta ijin untuk satu kepentingan pribadi.”

“Terima kasih,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Aku akan tinggal disini dengan senang hati. Bahkan rasa-rasanya aku lebih senang untuk tinggal disini saja, jika aku tidak mengingat tanggung jawabku atas Kediri.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ungkapan itu menunjukkan betapa kelelahan jiwani telah mencengkam Pangeran Singa Narpada. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kewajiban dan tanggung jawabnya. Karena itu, maka Mahisa Agni merasa wajib untuk memberikan bantuan kepada Pangeran yang letih itu.

Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada itu telah berada di Singasari untuk beberapa hari. Sementara itu, Mahisa Bungalan pun telah dipertemukannya pula dengan Pangeran Singa Narpada.

“Aku sama sekali tidak berkeberatan,” berkata Mahisa Bungalan, “Tugas itu adalah tugas kita semuanya. Tetapi aku mohon paman mempergunakan pengaruh paman, agar aku mendapat ijin untuk meninggalkan tugasku di Singasari.”

“Aku akan berusaha,” berkata Mahisa Agni, “Dalam satu dua hari ini, aku akan dapat mengatakan, apakah kau diijinkan atau tidak.”

“Jika paman yang memberikan penjelasan, maka aku justru akan mendapat tugas untuk membantu Pangeran Singa Narpada. Satu tugas yang berat, tetapi akan dapat memberikan arti kepadaku, bahwa aku telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi Tanah yang aku huni ini,” sahut Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sependapat dengan Mahisa Bungalan, sehingga iapun kemudian berusaha dengan sungguh-sungguh untuk dapat menjelaskan bahwa Mahisa Bungalan akan melakukan satu tugas yang penting tanpa menyebutkan rencana yang sebenarnya ingin dilakukannya.

“Tugas yang sebenarnya itu masih perlu dirahasiakan,” berkata Mahisa Agni kepada Mahisa Bungalan, “Sebagaimana orang-orang di Kediri, mungkin orang-orang di Singasari pun mempunyai sikap yang lain dengan sikap kita. Jika hal ini diketahui oleh orang-orang yang berwatak keras, maka mungkin sekali mereka akan melakukan langkah-langkah yang tidak sesuai dengan rencana kita. Mungkin Singasari akan menggerakkan satu kesatuan petugas sandi dalam jumlah yang besar, yang justru akan dapat mengacaukan suasana.”

“Segalanya aku serahkan kepada kebijaksanaan paman. Aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya,“ jawab Mahisa Bungalan.

Sementara itu, apalagi Mahisa Agni berusaha mempergunakan pengaruhnya, untuk memberikan kesempatan kepada Mahisa Bungalan membantu Pangeran Singa Narpada, maka tidak seorang pun yang mengetahui bahwa seorang Pangeran dari Kediri telah berada di dalam lingkungan istana Singasari. Dengan sangat hati-hati Pangeran Singa Narpada menjaga dirinya, karena jika ia salah langkah, maka ia tentu akan segera dikenal oleh beberapa orang Pangeran di Singasari yang memang pernah mengenalnya sebelumnya.

Ternyata Mahisa Agni berhasil mempergunakan pengaruhnya sehingga Mahisa Bungalan justru mendapat tugas dalam tugas sandi untuk mencari keterangan yang lebih mendalam tentang sikap orang-orang Kediri terhadap Singasari setelah pemberontakan Pangeran Kuda Permati dapat diatasi setelah kematian Pangeran Kuda Permati itu sendiri.

“Satu tugas yang berat. Kau harus melakukan keduanya. Tugas yang memang dibebankan kepadamu, dan tugas yang harus kau lakukan bagi kepentingan Pangeran Singa Narpada.“ pesan Mahisa Agni.

“Aku akan mencoba melakukannya dengan sebaik-baiknya,” berkata Mahisa Bungalan.

“Kau harus melakukannya segera. Pangeran Singa Narpada sudah terlalu lama berada di Singasari,” berkata Mahisa Agni yang mengerti bahwa Pangeran Singa Narpada sangat diperlukan kehadirannya di Kediri pada saat-saat yang penting.

Demikianlah, maka pada saat yang ditentukan, menjelang fajar menyingsing, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada telah meninggalkan lingkungan istana di Singasari. Tetapi mereka tidak langsung pergi ke Kediri. Mereka masih akan singgah di rumah Mahendra. Mahisa Bungalan ingin minta diri kepada ayahnya sekaligus melihat perkembangan kedua adiknya dalam olah kanuragan, karena Mahisa Bungalan pun mengetahui, bahwa kedua adiknya sedang dalam puncak usahanya untuk mewarisi ilmu ayahnya dan pamannya Witantra yang seperguruan, meskipun ada perbedaan tekanan dalam pengembangan ilmunya.

Ketika mereka sampai di rumah ayahnya Mahisa Bungalan, ternyata bahwa kedua adiknya tengah berada dalam puncak laku yang sangat berat. Karena itu, maka Mahisa Bungalan tidak ingin mengganggunya agar kedua adiknya dapat menyelesaikan usahanya dalam waktu yang direncanakan. Namun demikian Mahisa Bungalan memerlukan untuk minta diri kepada ayahnya Mahendra dan Pamannya Witantra.

“Hati-hatilah,” berkata Mahendra dengan sungguh-sungguh, “Kau akan melakukan satu kewajiban yang sangat berat. Kau akan memasuki daerah kegelapan yang belum kau ketahui apa yang ada didalamnya. Mudah-mudahan Pangeran Singa Narpada akan dapat menuntunmu.”

“Aku akan berhati-hati ayah,” jawab Mahendra. Namun sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata, “Bukan aku yang akan dapat menuntunnya. Justru aku akan tergantung kepadanya.”

“Pangeran selalu merendahkan diri,” sahut Witantra, ”Semua orang tahu tentang Pangeran Singa Narpada. Mudah-mudahan Mahisa Bungalan akan dapat membantu Pangeran dan tidak justru mengecewakan.”

“Aku yakin akan kemampuannya,” berkata Pangeran Singa Narpada. Bahkan kemudian, “Apalagi bahwa dalam waktu singkat kedua adiknya pun akan dapat menyelesaikan laku yang berat untuk mencapai ilmu puncaknya.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih memerlukan beberapa waktu lagi. Mudah-mudahan mereka dapat menyelesaikannya dengan tuntas.”

“Mungkin pada saatnya kami memerlukan bantuan mereka,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika mereka dapat melakukannya, maka mereka tentu akan dengan senang hati memenuhinya.”

“Suatu waktu aku akan datang lagi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada pun telah minta diri bersama Mahisa Bungalan untuk melakukan tugas mereka yang tidak mereka ketahui, kapan akan dapat mereka selesaikan atau justru sebaliknya, mereka akan hilang dalam arus tugas mereka itu.

Setelah minta diri kepada adik-adiknya pula, maka Mahisa Bungalan pun meninggalkan rumah ayahnya untuk satu tugas yang berat.

“Kalian harus bekerja dengan sungguh-sungguh,“ pesan Mahisa Bungalan kepada adik-adiknya, “Kalian akan dapat membantu kami, karena kalian telah mempunyai hubungan dengan jalur yang mungkin kita perlukan dalam tugas ini di Kediri.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk. Mereka memang menyadari sepenuhnya bahwa mereka harus bekerja keras apalagi justru pada saat-saat terakhir.

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan pun segera menuju ke Kediri. Pada saat sebagaimana Pangeran Singa Narpada meninggalkan istananya, maka iapun kembali pada saat tidak ada orang yang dapat melihatnya. Dengan diam-diam Pangeran Singa Narpada telah mengetuk pintu bilik kepercayaannya yang merupakan satu-satunya orang yang mengetahui bahwa Pangeran Singa Narpada meninggalkan istananya. Para petugas yang berada di istana itupun tidak mengetahui sama sekali, bahwa yang keluar pintu gerbang di malam hari beberapa hari yang lalu adalah Pangeran Singa Narpada karena pakaian yang dikenakannya. Mereka menganggap bahwa yang keluar saat itu adalah seorang abdi yang akan pulang di malam hari.

Ketika pintu itu terbuka, maka kepercayaannya itupun terkejut. Hampir saja ia menyapanya, namun Pangeran Singa Narpada segera berdesis, “Tidak ada orang yang melihat aku memasuki halaman.”

“Apakah para petugas di regol tidak menyapa sebagaimana saat Pangeran keluar? Tetapi agaknya bagi mereka yang akan memasuki regol, akan lebih cepat mengundang kecurigaan daripada mereka yang keluar. Apalagi saatnya sudah terlalu malam.”

“Aku tidak memasuki halaman lewat regol,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Jadi, Pangeran memasuki halaman lewat mana?” bertanya kepercayaannya.

“Aku telah meloncati dinding.“ jawab Pangeran Singa Narpada.

Kepercayaannya itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Tetapi sekilas dipandanginya Mahisa Bungalan yang datang bersama Pangeran Singa Narpada.

“Ini adalah saudaraku,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Kami bersama-sama telah menempuh laku prihatin dalam sepinya samadi.”

“O.” Kepercayaannya itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah silahkan Pangeran. Dan apakah yang Pangeran kehendaki sekarang? Mungkin ada sesuatu yang harus aku kerjakan?“

“Sekarang tidak ada. Besok pagi-pagi saja sediakan aku air abu merang. Aku akan mandi keramas, karena aku sudah keluar dari samadiku di dalam sanggar.“ Pangeran Singa Narpada berhenti sejenak lalu, “Apakah ada seseorang yang menanyakan aku pada saat pergi?”

“Sri Baginda memanggil Pangeran,” jawab kepercayaannya itu, “Tetapi aku memberikan jawaban sebagaimana Pangeran kehendaki. Namun agaknya Sri Baginda tidak sabar. Jika dalam dua hari ini Pangeran masih belum melepaskan samadi, maka Sri Baginda akan memerintahkan membuka pintu sanggar dengan paksa.”

“O, apakah ada berita dari istana?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Tidak ada selain panggilan Sri Baginda,” jawab kepercayaannya.

Demikianlah, maka dengan diam-diam Pangeran Singa Narpada memasuki istananya lewat pintu butulan. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Besok pagi, orang-orang seisi istana itu, bahkan para pengawal akan menduga, bahwa Pangeran Singa Narpada telah keluar dari sanggarnya dan menyucikan diri dengan air abu merang untuk mandi keramas.

Mahisa Bungalan pun dipersilahkannya masuk pula ke dalam istana itu. Ia akan menjadi tamu Pangeran Singa Narpada. Tetapi dengan satu penyamaran, seolah-olah Mahisa Bungalan akan mengabdikan diri pula di istana itu.

Kepada kepercayaannya ia berkata, “Saudaraku yang mengalami masa prihatin bersama ini, telah aku bawa kemari dan agaknya iapun ingin mengabdikan diri di istana ini, setelah ia mengenali aku bahwa aku adalah seorang Pangeran. Dan aku akan menempatkannya sebagai seorang pelayan dalam.”

Kepercayaannya itu mengangguk-angguk. Tetapi ia mengerti, bahwa setiap langkah Pangeran Singa Narpada telah dipikirkannya masak-masak. Karena itu, maka ia tidak mempersoalkannya lagi. Bahkan kepercayaannya itu menduga, bahwa dalam samadinya, agaknya Pangeran Singa Narpada telah mendapat petunjuk tentang orang itu yang mungkin akan dapat membantu menjernihkan kekalutan pikiran Pangeran Singa Narpada.

Demikianlah, sejak hari itu, Mahisa Bungalan berada di istana Pangeran Singa Narpada sebagai seorang pelayan dalam. Dengan demikian ia akan lebih banyak berada dekat dengan Pangeran Singa Narpada. Namun dengan bijaksana Pangeran Singa Narpada tidak membuat kepercayaannya menjadi kecewa, karena hadirnya seorang yang lain di dalam istana itu. Demikian pula para pelayan dalam yang lain serta para pemimpin pengawalnya. Namun pada saat-saat tertentu keduanya sempat berbicara tanpa diketahui oleh orang lain.

“Maaf, bahwa aku harus bermain dengan agak kasar, sehingga kau terpaksa menjalani peran yang barangkali tidak menyenangkan,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Ah, tidak,” jawab Mahisa Bungalan, “Aku senang dengan perananku. Tetapi dalam keadaan seperti ini, maka langkah kita akan terhenti.”

“Aku akan menghadap Sri Baginda,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Jika aku datang, maka mungkin Sri Baginda benar-benar akan marah. Baru kemudian kita akan menentukan langkah-langkah.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Agaknya Sri Baginda mempunyai kepentingan yang mendesak Pangeran Singa Narpada.

Ketika Pangeran Singa Narpada menghadap, maka wajah Sri Baginda nampak terlalu marah. Dengan nada datar Sri Baginda itu bertanya, “Apa yang kau lakukan selama ini.”

“Ampun Sri Baginda. Hamba mencoba untuk mencari jalan dengan cara yang lain dari yang hamba tempuh selama ini. Hamba berada di dalam sanggar,” jawab Pangeran Singa Narpada. Lalu, “Selama ini hamba merasa kehilangan jalan. Hamba telah dicekam oleh perasaan yang belum pernah hamba rasakan sebelumnya. Hamba hampir berputus asa. Sementara itu perhitungan hamba melihat akan timbulnya satu kemungkinan yang sangat gawat bagi Kediri. Karena itu, hamba tidak ingin terjebak dalam keputus asaan. Hamba telah mencoba untuk mencari ketenangan di dalam sanggar, agar hamba tetap dapat berdiri teguh dalam kewajiban hamba.“ Pangeran Singa Narpada berhenti sejenak, lalu iapun bertanya, “Apakah ada sesuatu yang sangat mendesak Sri Baginda?”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara berat Sri Baginda berkata, “Aku tidak dapat menyingkir dari belitan kegelisahan. Ternyata aku memerlukan tempat untuk menampung kegelisahan ini. Selama ini kau dapat menyelamatkan Kediri yang sudah goyah dan lemah ini. Karena itu, ketika kau untuk beberapa hari tidak nampak di paseban, aku menjadi gelisah. Jika di saat-saat yang demikian datang bencana, maka Kediri benar-benar akan tumbang.”

“Hamba mohon maaf,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Tetapi sebenarnyalah bahwa hamba pun sedang berusaha untuk memecahkan kegelisahan di hati hamba. Namun sementara itu, jika terjadi sesuatu yang gawat, maka para Panglima di perbatasan telah mampu untuk bertindak cepat. Terutama Panji Sempana Murti. Pengalaman telah menempa mereka menjadi prajurit yang lebih baik.”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun bertanya, “Tetapi, apakah kau sama sekali belum menemukan jejak tentang benda pusaka yang hilang itu?”

“Belum Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Justru karena itu hamba berusaha untuk menemukan keheningan budi, agar hamba dapat menelusuri jejak mahkota yang hilang itu.”

“Sampai kapan kau memerlukan waktu untuk itu?” bertanya Sri Baginda.

“Hamba tidak dapat menyebut Sri Baginda. Satu perjuangan yang harus hamba lakukan tanpa dapat memperhitungkan waktu. Namun hamba menyadari, bahwa hamba harus melakukannya dengan sekuat tenaga. Sebesar kemampuan hamba dan dengan taruhan yang paling berharga yang hamba miliki, nyawa hamba.”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah pada saat-saat Pangeran Singa Narpada tidak kelihatan di paseban, hati Sri Baginda menjadi sangat cemas. Seakan-akan ia telah kehilangan perisai yang akan dapat menjaga tegaknya tahta Kediri, meskipun Sri Baginda menyadari, bahwa para Panglima di perbatasan justru telah ditempa oleh pengalaman. Para prajurit pun menjadi semakin dewasa menanggapi keadaan.

Namun Sri Baginda pun justru percaya, bahwa mahkota yang hilang itu adalah tempat semayam wahyu keraton Kediri.

Tetapi demikian Pangeran Singa Narpada menghadap, maka rasa-rasanya hati Sri Baginda menjadi tenang. Seakan-akan perlindungan yang selama beberapa saat bagaikan lenyap, telah kembali sebagaimana sebelumnya.

Dalam keadaan yang demikian, Pangeran Singa Narpada justru menjadi bimbang. Seharusnya ia berterus terang kepada Sri Baginda, bahwa untuk menemukan jejak mahkota yang hilang itu ia memerlukan waktu dan bahkan harus meninggalkan Kota Raja.

Jika ia tidak berbuat apa-apa dan hanya menunggui istana dan Sri Baginda, maka seperti yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan, semua usaha akan terhenti sampai sekian. Dan mahkota yang hilang itu apalagi Pangeran Lembu Sabdata tidak akan mungkin dapat diketemukan.

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak sampai hati untuk dengan serta merta menyampaikan maksudnya meninggalkan Kota Raja. Sri Baginda yang baru saja menemukan ketenangannya akan menjadi gelisah kembali.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada telah menunda kepergiannya. Kepada Mahisa Bungalan Pangeran Singa Narpada setibanya di istananya menjelaskan, “Aku tidak sampai hati untuk meninggalkan Kota Raja dalam satu dua hari ini. Bahkan mungkin dalam dua tiga pekan. Sri Baginda benar-benar berada dalam kecemasan.”

“Kita akan dapat menunggu,” berkata Mahisa Bungalan, “Tetapi sudah barang tentu, bahwa tanpa berbuat sesuatu, kita tidak akan dapat menemukan apapun juga.”

“Aku menyadari,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Namun demikian, aku akan dapat melakukannya di Kota Raja satu usaha yang setidak-tidaknya akan dapat membantu merintis jalan.”

“Apa yang dapat Pangeran lakukan?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku akan melanjutkan usahaku untuk mengetahui, siapakah yang telah berhubungan dengan Pangeran Kuda Permati pada masa pemberontakannya dan sebelumnya.

Aku akan dapat menghubungi orang-orangnya yang terdekat yang berhasil ditangkap dan dipenjarakan oleh para prajurit Kediri. Dengan demikian kita akan mendapatkan nama-nama dari orang-orang yang pernah berdiri di belakangnya dan mungkin, hanya satu kemungkinan, bahwa orang yang telah mengambil Pangeran Lembu Sabdata dan kemudian mahkota itu adalah salah seorang diantara mereka meskipun kita harus mengamatinya dengan sangat cermat,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Memang hal itu dapat dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada sebagai penunjuk arah, langkah yang manakah yang pertama-tama dapat dilakukan meskipun mungkin langkah itu tidak akan sampai ke sasaran, tetapi mungkin juga akan dapat membuka tirai yang menyelubungi rahasia hilangnya Pangeran Lembu Sabdata dan mahkota yang dipercaya menjadi tempat semacam Wahyu Keraton itu.

“Pangeran dapat mencobanya,” berkata Mahisa Bungalan.

“Ya. Namun aku harus melakukannya sendiri. Seandainya aku sempat menemukan nama yang aku perlukan, hanya aku sajalah yang mengetahuinya. Aku memang mencurigai orang-orang Kediri.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi tidak ada salahnya bahwa Pangeran Singa Narpada bekerja dengan cermat dan berhati-hati dalam kemelut yang ternyata masih belum padam. Sepercik api yang tersisa dari pemberontakan Pangeran Kuda Permati itu masih akan dapat menjadi besar dan kembali membakar Kediri dengan api pemberontakan yang semakin besar dan berbahaya.

Dengan demikian, sambil menunggu kesempatan untuk dapat meninggalkan Kota Raja, maka Pangeran Singa Narpada yang sudah menghentikan pemeriksaan terhadap para pengikut Pangeran Kuda Permati, telah mulai lagi dengan caranya.

Pangeran Singa Narpada telah memanggil orang-orang yang dianggapnya dekat dengan Pangeran Kuda Permati dan bertanya kepada mereka. Siapa sajalah yang pernah berhubungan dan dekat dengan Pangeran Kuda Permati yang mempunyai kemampuan yang tinggi dan tidak tertangkap sampai saat terakhir dari pemberontakan Pangeran Kuda Permati itu.

Orang-orang itu sudah mengenal dengan baik, siapakah Pangeran Singa Narpada. sehingga demikian seorang diantara mereka memasuki ruangan seorang diri berhadapan dengan Pangeran Singa Narpada, maka rasa-rasanya orang itu tidak lagi mempunyai kesempatan untuk keluar dengan kaki tegak.

Karena itu sebagian dari mereka tidak lagi berusaha untuk menyembunyikan sesuatu. Meskipun Pangeran Singa Narpada tidak berbuat apa-apa, namun setiap orang diantara mereka merasa, setiap cercah bagian dari tubuh mereka seolah-olah telah mulai meremang.

Tetapi yang disebut oleh sebagian besar dari mereka adalah para Senapati yang hampir seluruhnya telah tertangkap atau terbunuh di peperangan. Jika ada juga satu dua orang Senapati yang disebut namanya dan tidak diketahui apakah mereka masih hidup sudah mati, maka Pangeran Singa Narpada yakin bahwa Senapati itu tidak akan mampu melakukan sebagaimana pernah terjadi atas Pangeran Lembu Sabdata dan mengambil mahkota di Gedung Perbendaharaan itu.

Ketika Pangeran Singa Narpada berhadapan dengan seorang perwira yang terdekat dengan Pangeran Kuda Permati yang justru pada saat-saat setelah kematian Pangeran Kuda Permati dan isterinya yang membunuh diri telah menghentikan perlawanannya meskipun sebagian besar dari para pengikut Pangeran Kuda Permati masih bertempur terus, maka ia berusaha untuk mendapat keterangan yang lain dari yang selalu didengarnya dari orang-orang yang pernah dihadapkan kepadanya sebelumnya.

“Aku tidak memerlukan lagi nama-nama orang-orang yang berada di dalam lingkungan keprajuritan Kediri yang telah memberontak itu,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Nama itu sudah cukup lengkap aku ketahui. Aku menginginkan nama-nama orang yang pernah berhubungan dengan Pangeran Kuda Permati diluar lingkungan keprajuritan. Mungkin ia pernah berhubungan dengan satu padepokan atau siapapun juga.”

“Siapakah nama pertapa itu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Tidak seorang pun yang tahu. Tetapi kami hanya mendengar Pangeran Permati memanggilnya Guru,” jawab Senapati itu. Lalu, “Tetapi meskipun ia seorang pertapa, namun ia bukan orang yang terasing. Ia mengetahui banyak hal tentang hubungan antara Kediri dan Singasari, serta tata pemerintahan yang ada di Singasari.”

“Aku akan berhubungan dengan Arya Rumpit,” berkata Pangeran Singa Narpada. Namun iapun kemudian bertanya, “Apakah ia juga tahu orang ketiga?”

“Entahlah,” jawab Senapati itu, “Mudah-mudahan ia mengetahuinya.”

“Sulit lagi orang ketiga itu,“ minta Pangeran Singa Narpada.

“Empu Lengkon,” jawab Senapati itu, “Aku tidak tahu apakah itu memang namanya atau sekedar sebutan. Orang itu telah memberikan sipat kandel kepada Pangeran Kuda Permati berupa sebilah keris. Agaknya keris itu adalah keris bertuah yang mampu menopang kemampuan Pangeran Kuda Permati yang memang sudah berada diatas kemampuan orang kebanyakan.”

“Apakah kau dapat membuka sedikit kemungkinan untuk dapat menemuinya dimanapun?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Aku sama sekali tidak tahu. Entahlah dengan Arya Rumpit yang banyak mendapat tugas sebagai penghubung daripada aku sendiri. Justru karena ia seorang perwira dari pasukan berkuda,” jawab Senapati itu.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Ia percaya sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Senapati itu. Justru karena itu maka Pangeran Singa Narpada sama sekali tidak berusaha mendesak tentang orang yang disebut terakhir, mPu Lengkon. Namun demikian ia berkata di dalam hatinya, “Mudah-mudahan Arya Rumpit pun mengetahui pula.”

Dengan demikian, maka Senapati itupun segera dikembalikan ke bilik tahanannya. Sementara itu, Pangeran Singa Narpada telah berusaha untuk dapat menemukan seorang tahanan yang bernama Arya Rumpit.

Usaha Pangeran Singa Narpada tidak terlalu sulit. Ternyata bahwa Arya Rumpit itu tidak menjadi bebanten di medan perang. Sehingga dengan demikian, maka ia akan dapat menjadi sumber keterangan bagi Pangeran Singa Narpada.

“Pada pemeriksaan yang terdahulu, orang ini justru terlampaui, atau ia dapat ingkar di hadapan orang yang memeriksanya,” berkata Pangeran Singa Narpada di dalam hatinya. Namun seingat Pangeran Singa Narpada, bukan ialah yang telah memeriksa Arya Rumpit itu.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Ia percaya kepada keterangan Senapati itu, bahwa Pangeran Kuda Permati memang tidak pernah mempergunakan ilmu seperti itu. Bahkan seandainya Pangeran Kuda Permati memilikinya, maka ia akan lebih senang datang dengan dada tengadah, kemudian bertempur untuk mencapai sasaran dengan membunuh lawan-lawannya.

Namun demikian, Pangeran Singa Narpada akhirnya bertanya juga tentang ketiga orang yang dimaksud itu.

Senapati itupun kemudian berkata, “Aku hanya dapat menyebut beberapa hal tentang mereka. Tetapi belum satu-pun padepokan mereka yang aku ketahui.”

Pangeran Singa Narpada termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Sebut apa yang kau ketahui.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...