*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-013-01*
Meskipun demikian, Akuwu itu masih sempat terkejut ketika ia melihat perubahan sikap Mahisa Bungalan. Ketika kemudian terjadi benturan yang dahsyat, maka terasa tangan Akuwu menjadi pedih.
Luka dipundak Mahisa Bungalan membuatnya agak cemas. Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun bertempur dengan tegang. Darah yang meleleh dari luka itu terasa semakin banyak.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun telah mempergunakan segala kemampuannya. Ketika Akuwu meloncat menusuk ke arah lambungnya, maka Mahisa Bungalan sempat bergeser setapak. Dengan tangkasnya ia menebaskan pedangnya ke arah lambung. Namun Akuwu masih sempat menangkisnya dan memutar pedangnya dan menyerang mendatar.
Mahisa Bungalan meloncat surut. Ketika Akuwu memburunya, maka pedang Mahisa Bungalan terjulur lurus, sehingga langkah Akuwu itupun tertahan.
Mahisa Bungalan sudah siap untuk meloncat. Tetapi ternyata ia masih ragu-ragu untuk mengayunkan pedangnya pada saat Akuwu sedang menarik diri.
“Gila” geram Mahisa Bungalan “Apa yang telah menahanku. Mungkin ia terluka. Tetapi ia tidak akan mati”
Justru pada saat Mahisa Bungalan tercenung itulah, maka dengan kecepatan tinggi, pedang Akuwu mematuk lengan Mahisa Bungalan. Demikian cepatnya, sehingga Mahisa Bungalan tidak sempat berbuat apa-apa.
Mahisa Bungalan terdorong selangkah. Namun agaknya Akuwu yang sudah tidak dapat berpilir jernih itu ingin memanfaatkan kesempatan itu. Pada saat Mahisa Bungalan merasa betapa pedihnya sengatan pedang Akuwu, maka Akuwu itu telah menyerangnya pula. Pedangnya menyambar mendatar.
Tetapi Mahisa Bungalan telah mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan berikutnya yang sudah diperhitungkan oleh Mahisa Bungalan, sehingga karena itu, maka ia pun dengan tangkasnya telah meloncat menghindar.
Namun demikian, luka di lengan Mahisa Bungalan itu telah membuatnya menjadi benar-benar marah. Darah yang telah menitik dari lukanya itu membuatnya bersikap lain.
“Jika aku berusaha untuk selalu berhati-hati agar aku tidak melukainya, maka akulah yang justru akan menjadi korban dalam pertempuran ini” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.
Karena itu, maka setelah lukanya terasa semakin pedih, Mahisa Bungalan tidak lagi berusaha menahan dirinya. Apalagi ketika ia menyadari, bahwa darahnya yang mengalir itu akan dapat mempengaruhi ketahanan tubuhnya. Semakin banyak darah yang meleleh, maka semakin lemahlah ketahanan tubuhnya itu. Luka di pundak dan lengannya itu selain menyakikan tubuhnya juga sangat menyakitkan hatinya.
“Aku tidak akan ragu-ragu lagi” geramnya. Sebenarnyalah bahwa sikap Mahisa Bungalan telah benar-benar berubah. Langkahnya menjadi semakin cepat dan garang. Ia tidak lagi memikirkan apakah Akuwu akan terbunuh atau tidak. Tetapi Mahisa Bungalan tidak mau mati. Ia harus dapat menyelesaikan pertempuran itu sebelum darahnya terperas habis dari luka-lukanya.
Dengan demikian, maka serangan-serangannya pun kemudian telah datang membadai. Ia tidak lagi bertahan dan menghindar, menunggu sampai Akuwu di Gagelang itu kelelahan. Karena dengan demikian, yang terjadi adalah justru kesulitan bagi dirinya sendiri.
Dalam keadaan yang demikian, maka ternyata Akuwu di Gagelang itu telah mengalami kesulitan yang lebih besar. Jika ia semula merasa berbangga bahwa ia berhasil melukai Mahisa Bungalan, maka kemudian Akuwu itu harus menggeram dan mengumpat-umpat. Ternyata sikap keras yang kemudian ditunjukkan oleh Mahisa Bungalan itu telah membuat Akuwu semakin kehilangan perhitungan. Ketika ujung pedang Mahisa Bungalan kemudian mulai menyentuh tubuhnya, maka Akuwu di Gagelang yang dalam kegelapan nalar itu telah menjadi semakin garang. Tetapi nalarnya pun menjadi semakin kabur, dengan demikian, maka yang dilakukan oleh Akuwu itu kemudian bukan lagi kegarangan ilmu yang tinggi, tetapi sekedar ungkapan kemarahan dan kebingungan yang campur baur dengan keputus-asaan.
Sementara itu, lawannya adalah seorang Senapati muda yang telah terluka dan darahnya telah membasahi kulitnya, sehingga karena itu. menjadi semakin lama semakin garang pula.
Dalam pada itu, ternyata bahwa Mahisa Bungalan yang mulai terluka, tubuhnya terpengaruh oleh keletihan dan darah yang mengalir telah mempergunakan kemampuannya dalam ilmu pedang sebaik-baiknya. Meskipun kemarahan telah mencengkam jantungnya, tetapi Mahisa Bungalan masih sempat melihat dengan jernih putaran senjata lawannya. Bahkan justru karena luka-lukanya, maka Mahisa Bungalan berusaha, agar ia tidak akan kehabisan tenaga sebelum ia berhasil mengalahkan lawannya.
Dengan demikian, maka semakin lama akhir pertempuran itu pun menjadi semakin dekat. Mahisa Bungalan yang dengan hati-hati beralaskan segenap kemampuannya, berhasil menguasai Akuwu Gagelang yang kehilangan kendali penalarannya itu.
Sementara itu, beberapa orang pemimpin Talang Amba dan para Senapati dari Singasari pun telah berada di padukuhan itu, sementara orang-orang yang datang dalam pakaian petani dan menggabungkan dirinya dengan orang-orang Talang Amba telah menguasai semua orang Gagelang yang menyerah.
Dengan tegang mereka menyaksikan, bagaimana Mahisa Bungalan yang telah terluka berusaha menguasai lawannya. Namun Mahisa Bungalan tidak lagi terikat kepada keinginannya untuk menangkap Akuwu dalam keadaan hidup, apalagi setelah terasa pengaruh dari luka-lukanya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kadang-kadang harus menahan nafasnya. Bahkan pada saat-saat tertentu, Mahisa Pukat hampir tidak dapat mengendalikan diri lagi. Namun setiap kali ia bergeser terlalu maju, Mahisa Murti telah menggamitnya dan kemudian menariknya mundur beberapa langkah.
Tetapi darah yang meleleh dari luka-luka di tubuh kakaknya, membuat Mahisa Pukat benar-benar gelisah.
Namun, ternyata kemudian bahwa ujung pedang Mahisa Bungalan telah merhasil menyusup di antara ayunan pedang lawannya. Dengan tusukan lurus, Mahisa Bungalan berhasil menyentuh langsung dada Akuwu di Gagelang.
Akuwu itu menggeram. Selangkah ia meloncat mundur. Dengan sorot mata yang menyala ia mengacukan pedangnya sambil berkata “Kau gila. Kau berani menyentuh tubuhku dengan ujung pedang? He, apakah kau, apa hukumannya?“
Mahisa Bungalan tidak lagi ingin melayani sikap yang gila itu. Dengan geram ia menjawab “Menyerahlah, atau aku akan membunuhmu”
Tetapi yang terdengar adalah suara Akuwu yang rasa-rasanya sudah berubah disela-sela tertawanya “Kau sudah terluka anak manis. Meskipun kau seorang Senapati dari Singasari. tetapi ternyata kau tidak mampu lagi melawanku”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi sekali lagi pedangnya telah menyentuh tubuh Akuwu dipundaknya.
Tubuh Akuwu itu terdorong surut. Namun Mahisa Bungalan tidak memberinya kesempatan lagi. Sekali lagi Mahisa Bungalan meloncat dengan pedang terjulur.
Akuwu Gagelang masih berusaha menangkisnya. Tetapi ternyata bahwa ujung pedang Mahisa Bungalan itu sekali lagi mematuk dada, sehingga sekali lagi Akuwu terdorong surut. Luka di dadanya itu membuatnya mengeluh kesakitan. Namun kemudian terdengar ia berteriak “Anak iblis. Aku bunuh kau”
Mahisa Bungalan yang marah karena luka-luka di tubuhnya melihat satu kesempatan. Akuwu yang semakin lemah itu tidak segera sempat memperbaiki kedudukannya dan mempersiapkan pedangnya. Karena itu, maka sekali lagi Mahisa Bungalan mendapat kesempatan. Ia pun segera mengangkat pedangnya untuk menebas ke arah leher lawannya.
Akuwu yang berusaha memperbaiki keadaannya itu tidak sempat berbuat banyak ketika Mahisa Bungalan meloncat mendekat dengan pedang terayun. Jika pedang itu kemudian menebas leher Akuwu, maka Mahisa Buhgalan akan segera mengakhiri pertempuran.
Tetapi sekali lagi, Mahisa Bungalan merasa seakan-akan sesuatu telah menahan tangannya. Pedangnya yang telah terangkat itu telah tertahan oleh satu kekuatan yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri. Rasa-rasanya ia tidak dapat mengayunkan pedang itu dan memenggal leher lawannya, meskipun kemarahan yang tiada taranya telah menghentak-hentak di dalam dadanya.
Karena itu, maka pedang yang sudah terangkat itu tidak juga terayun. Mahisa Bungalan justru telah meloncat surut sambil memperhatikan keadaan lawannya.
Akuwu Gagelang masih terhuyung-huyung. Luka di dadanya mengalirkan darah yang membasahi tubuhnya.
Tetapi Akuwu itu masih berteriak “Jangan lari anak iblis. Jika kau takut menghadapi Akuwu di Gagelang, maka berlututlah. Aku akan memenggal kepalamu dan semua pemimpin Kabuyutan Talang Amba pun akan mengalami nasib yang sama”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi sesuatu terasa semakin bergejolak di dalam dadanya. Darah di tubuh Akuwu itu membuatnya menjadi ngeri, meskipun tubuhnya sendiri iuga sudah basah oleh darah.
Ketika Akuwu itu dengan terhuyung-huyung melangkah maju, Mahisa Bungalan justru melangkah surut.
Bukan saja Mahisa Bungalan yang menjadi ngeri. Akuwu yang sudah bermandikan darah dan tidak lagi mampu berdiri tegak itu masih juga tertawa sambil berkata “Ayo Senopati muda yang perkasa dari Singasari yang besar. Marilah kita selesaikan pertempuran ini dengan jantan. Tetapi jika kau tidak berani lagi bertempur dalam perang tanding, maka perintahkan prajurit-prajuritmu untuk mengeroyok aku”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Dipandanginya saja Akuwu yang sudah kehilangan sebagian besar dari kekuatannya karena darahnya yang mengalir dari tubuhnya.
Tetapi Akuwu itu masih berteriak “Ayo, menyerahlah. Jangan ingkar dari kenyataan, bahwa tubuhmu telah merah oleh darah”
Mahisa Bungalan memang tidak dapat ingkar dari kenyataan itu. Tubuhnya memang sudah merah pula oleh darah. Tetapi ia masih memiliki kekuatan dan kemampuannya, meskipun sudah menjadi susut. Tetapi tidak secepat susutnya tenaga Akuwu dari Gagelang itu.
Dalam keadaan yang demikian, maka setiap mata menjadi tidak berkedip karenanya. Kedua orang yang berperang tanding itu sudah sama-sama terluka. Darah telah memerahi tubuh masing-masing dan nampaknya tangan mereka pun telah menjadi gemetar pula.
Namun sebagian besar dari mereka pun melihat, bagaimana Mahisa Bungalan menarik tangannya yang sudah hampir terayun menebas leher Akuwu yang sudah tidak berdaya itu.
Dengan demikian, maka mereka dapat menilai apa yang sebenarnya tersirat di hati Mahisa Bungalan. Meskipun kemarahan yang tidak terkatakan telah menghentak jantungnya, tetapi ia bukan pembunuh yang tidak terkendali menghadapi lawannya yang sudah tidak berdaya.
Tetapi sementara itu, adalah di luar kemampuan Mahisa Bungalan untuk menjaga agar ujung pedangnya tidak membahayakan jiwa lawannya. Apalagi setelah ia sendiri terluka. Maka menurut perhitungan Mahisa Bungalan, ia tidak ingin mati karena ia terlalu berhati-hati menghadapi lawannya agar ia tidak melukainya.
Dalam kebimbangan itu Mahisa Bungalan melihat Akuwu yang menjadi semakin lemah itu melangkah maju. Sambil menyeret kakinya Akuwu itu tiba-tiba saja telah bertelekan pada pedangnya.
“Ia benar-benar sudah kehilangan kesadarannya” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya “ia sudah tidak teringat lagi bahwa yang ada ditangannya itu adalah pusakanya. Bukan sebatang tongkat penjalin”
Namun sementara itu, agaknya Akuwu telah benar-benar tidak mampu menahan dirinya sendiri. Ketika ia melangkah semakin mendekati Mahisa Bungalan, maka tiba-tiba saja tubuhnya telah bergetar. Nafasnya menjadi terengah-engah dan matanya menjadi semakin merah.
Akuwu dari Gagelang itu tertegun. Tetapi rasa-rasanya matanya menjadi berkunang-kunang. Ketika ia kemudian benar-benar kehilangan keseimbangannya, maka hampir saja Akuwu itu terjatuh. Namun untunglah, bahwa pengawalnya yang telah menyerah lebih dahulu sempat meloncat mendekatinya dan menangkapnya, sehingga Akuwu itu tidak terbanting jatuh di tanah.
Tetapi ketika pengawalnya itu perlahan-lahan meletakkan tubuh Akuwu itu di tanah, maka tiba-tiba saja Akuwu itu pun mengumpat “Pengecut, pengkhianat. Jangan sentuh aku. Bukankah kau sudah kehilangan sifat kejantananmu dan menyerahkan diri sekedar untuk mendapatkan pengampunan dan tidak mati di peperangan ini?“ usaha untuk meronta dan melepaskan diri “jangan sentuh aku pengkhianat. Tetapi ingat. Kau dapat tetap hidup sekarang ini. Tetapi besok kau akan mendapatkan kematianmu dengan cara yang lebih buruk. Kau akan digantung di alun-alun.
“Mungkin Akuwu. Mungkin hamba akan digantung di alun-alun Singasari. Tetapi dasar penyerahan hamba adalah untuk mengurangi jumlah kematian di peperangan ini meskipun hamba sendiri tidak akan dapat menghindari kematian, bahkan di tiang gantungan sekalipun”
“Tutup mulutmu pengecut. Jangan sentuh aku” teriak Akuwu. Namun iapun kemudian menyeringai sambil berdesah “O, sakitnya tubuhku”
Pengawalnya itu masih tetap berusaha untuk menahannya Tetapi sekali lagi Akuwu meronta dengan tenaganya yang semakin lemah. Tetapi suaranya masih tetap garang “Cepat. Lepaskan aku. Jangan kau kotori tubuhku dengan pengkhianatanmu itu. Biar tubuhku tetap bersih sebagaimana seorang pahlawan yang gugur di peperangan”
Namun tiba-tiba sebuah pertanyaan telah menggetarkan perasaan Akuwu “Akuwu, jika Akuwu merasa menjadi seorang pahlawan, maka apakah yang sebenarnya Akuwu perjuangkan selama ini?“
Akuwu itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun berdesah “Pertanyaan yang gila” Tetapi tiba-tiba ia berteriak “Kediri memang harus bangkit. Tumapel yang sombong dengan menamakan diri Singasari harus dilenyapkan dan di kembalikan sebagaimana seharusnya. Keturunan perempuan Panawijen itu tidak berhak memerintah Tanah ini”
“Itukah alasan perjuanganmu sehingga kau pasrahkan dirimu untuk menjadi bebanten?“ terdengar pertanyaan itu pula.
“Cukup. Jangan bayangi kematianku dengan pertanyaan-pertanyaan yang gila itu. Aku sudah memperjuangkan hak atas Tanah ini bagi Kediri” teriaknya pula. Namun nafasnyapun kemudian, menjadi terengah-engah.
“Kenapa kau memilih Kediri dari Singasari?” bertanya suara itu pula.
“Gila. Kau gila. Aku adalah keturunan Kediri yang merasa ikut berhak pula atas kekuasaan Kediri atas Tanah ini” jawab Akuwu.
“Tetapi siapakah Pangeran yang telah ikut serta dalam pertempuran ini, tetapi kemudian meninggalkan medan?“ terdengar pertanyaan pula.
Akuwu mencoba memandangi orang-orang yang ada di sekitarnya. Tetapi matanya telah menjadi semakin kabur. Tubuhnya menjadi semakin lemah. Apalagi Akuwu itu masih juga berusaha melepaskan diri dari tangan pengawalnya yang dianggapnya telah berkhianat. Sehingga dengan demikian, maka darahpun bagaikan terperas dari tubuhnya.
Dengan demikian Akuwu tidak berhasil melihat dengan jelas, siapakah yang sudah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang gila itu.
Sementara itu, Mahisa Bungalan yang berusaha untuk memancing keterangan Akuwu pada saat-saat yang gawat itu pun akhirnya merasa bahwa ia tidak akan berhasil mendapatkan keterangan apapun juga. Ternyata Akuwu yang sudah sangat lemah itupun menjawab “Kau kira aku mau berkhianat terhadap Pangeran itu”
Mahisa Bungalan tidak bertanya lagi. Tubuhnya sendiri terasa menjadi semakin lemah.
Dalam saat yang demikian, Mahisa Bungalan telah memanggil tabib yang mengikuti pasukan Singasari yang telah menyamar sebagaimana orang-orang Talang Amba itu. Kalanya “Lihat Akuwu itu. Apakah mungkin untuk diselamatkan jiwanya. Aku memerlukannya”
Tabib itupun bergeser mendekatinya. Namun ketika ia meraba pergelangan tangan Akuwu, maka iapun kemudian dengan serta merta menempelkan telinganya kedada Akuwu itu.
Namun tabib itupun kemudian menggeleng. Katanya “Akuwu sudah meninggal”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga ia merasa, bahwa ia telah membunuh Akuwu Gagelang meskipun ia sudah berusaha untuk meng hindari kematian itu.
“Bukan maksudku” desis Mahisa Bungalan.
Tetapi tabib itu berkata “Sekarang, lukamu sendiri memerlukan pengobatan. Senopati”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya memang terasa semakin lemah. Luka-lukanya menjadi sangat pedih.
Tetapi pertempuran di Kabuyutan Talang Amba itu sudah berakhir. Akuwu yang telah meninggal di dalam pertempuran itupun kemudian telah diserahkan kepada pasukan Gagelang yang semula berpihak kepada orang-orang Talang Amba. Merekalah yang untuk sementara harus menampung semua tugas Akuwu yang terbunuh itu.
Mahisa Bungalan yang lemah itu pun kemudian berkata kepada Senopati yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu “Sebelum Singasari dapat mengambil sikap selanjutnya, kaulah yang bertanggung jawab”
“Apakah Senopati tidak akan singgah ke Gagelang?” bertanya Senopati itu. Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Ada beberapa pertimbangan, apakah sebaiknya ia singgah atau tidak.
Dalam pada itu, Senapati Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu pun berkata “Sebaiknya Senapati Mahisa Bungalan dan pasukan Singasari yang ada di Talang Amba singgah meskipun untuk waktu yang singkat di Gagelang. Dengan demikian, maka kedudukanku dapat diyakini oleh para pengawal yang sekarang tidak ada di sini. Yang terjadi bukannya sekedar permainan kami. Tetapi benar-beanr satu peristiwa yang telah membuat Gagelang menjadi berantakan”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Baiklah. Tetapi tentu belum hari ini. Aku memerlukan waktu untuk mengobati luka-lukaku dan beristirahat barang sehari”
“Aku akan menunggu” berkata Senapati itu “sehari ini aku akan tinggal di Talang Amba. Sementara itu, kami berharap bahwa besok kami akan dapat kembali bersama pasukan Singasari serta membawa tubuh Akuwu di Gagelang”
Mahisa Bungalan tidak berkeberatan. Ia mengerti, bahwa Senapati di Gagelang itu tidak menginginkan terjadi salah paham dengan pasukan pengawal Gagelang yang tidak ikut pergi ke Talang Amba.
Karena itulah, maka ternyata para pengawal di Gagelang itu telah bermalam di Talang Amba. Tetapi bukan berarti bahwa mereka dapat bersitirahat sepenuhnya. Pada malam hari mereka telah menyelenggarakan mayat para pengawal yang terbunuh di peperangan, sebagaimana orang-orang Talang Amba pun melakukannya pula. Selain itu maka mereka pun telah mengumpulkan pula kawan-kawan mereka yang terluka, untuk mendapat perawatan dan pengobatan seperlunya.
Dalam pada itu Mahisa Bungalan sendiri memerlukan pengobatan atas luka-lukanya yang cukup parah. Meskipun demikian Mahisa Bungalan masih dapat mengatasi keadaannya. Setelah mendapat pengobatan maka Mahisa Bungalan masih dapat memeriksa pasukan Singasari yang ada di medan yang semula mereka telah mengenakan pakaian petani kebanyakan sehingga mereka disangka benar-benar orang Talang Amba.
Orang-orang Gagelang yang telah tertawan masih juga ada yang mengumpat. Kepada kawan yang berada di dekatnya ia berkata “Ternyata tikus-tikus buruk itu adalah prajurit-prajurit Singasari”
“Apakah kau baru tahu sekarang ini?” bertanya kawannya.
Pengawal yang pertama tidak menjawab. Tetapi masih terdengar ia mengumpat kecil.
Demikianlah, maka Talang Amba telah benar-benar menjadi sibuk. Orang-orang Talang Amba tidak henti-hentinya menyalakan perapian untuk memasak, karena mereka yang berada di Talang Amba, apakah mereka kawan atau lawan yang sudah tertawan memerlukan makan dan minum sekadarnya.
Sementara itu, maka telah dilangsungkan pula pertemuan antara para pemimpin Talang Amba yang disaksikan oleh para Senapati dari Gagelang yang berpihak kepada Taalng Amba dan para Senapati.
Dengan mantap maka Talang Amba telah menentukan siapakah yang akan menggantikan Buyut Talang Amba yang telah meninggal.
“Aku mohor maaf bahwa pada satu saat aku menjadi kehilangan” berkata Ki Senapati.
“Kita telah melupakannya sekarang” jawab Ki Sanggarana “Yang kita hadapi sekarang adalah kemungkinan-kemungkinan mendatang yang lebih baik bagi Talang Amba”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Namun Ki Sendawa itu merasa bahwa ia telah menebus kesalahan yang dibuatnya sehingga dadanya telah menjadi lapang.
Sementara itu, Ki Waruju, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menjadi saksi apa yang telah terjadi di Talang Amba disamping para prajurit Singasari.
“Atas nama orang-orang Talang Amba, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya” berkata Ki Sanggarana.
“Segalanya memang sudah menjadi kewajiban kami,” jawab Mahisa Bungalan. Kemudian, “Akulah yang wajib mengucapkan terima kasih kepada para pengawal Gagelang yang tetap berpegang teguh kepada paugeran seorang prajurit. Tanpa mereka, maka kita tidak akan berhasil memaksa orang-orang Gagelang yang lain menyerah”
“Yang Kami lakukan sama sekali tidak berarti” jawab Senapati Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba.
Demikianlah, maka keadaan di Talang Amba pun telah menjadi pasti. Juga Gagelang pun telah tersingkap, bahwa justru Akuwu Gagelang sendirilah yang telah membuat satu permainan yang sama sekali tidak menarik dan telah menjatuhkan korban yang tidak sedikit.
Namun dalam pada itu, maka Singasari harus mengarahkan perhatiannya kepada Kediri. Ada beberapa orang yang perlu mendapat perhatian secara khussus. Agaknya mereka adalah sekelompok pemimpin di Kediri yang tidak mau melihat kenyataan tentang hubungan antara Kediri dan Singasari. Mereka adalah orang-orang yang masih merindukan kebesaran Kediri sebagaimana sebelum dikalahkan oleh Tumapel, tanpa melihat satu kenyataan bahwa yang ada kemudian adalah satu kesatuan antara Kediri dan Singasari.
Demikianlah, saat-saat istirahat yang pendek itu ternyata cukup berarti bagi Mahisa Bungalan, Tubuhnya serasa menjadi segar setelah ia mendapat pengobatan yang baik. Luka-lukanya tidak lagi berdarah. Meskipun ia masih memerlukan beberapa hari untuk menyembunyikan seluruh luka-lukanya, namun luka-lukanya itu tidak menghalanginya untuk menyelenggarakan tugas-tugasnya
Di hari berikutnya, Mahisa Bungalan tatah bersiap bersama pasukan Singasari untuk pergi ke Gagelang, memenuhi permintaan Senepati Gagelang yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba, agar tidak terjadi salah paham dengan para pengawal yang tidak ikut pergi ke Talang Amba. Jika mereka menganggap bahwa Senopati yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu sebagai pengkhianat, maka persoalannya akan berkisar. Dan pasukan Gagelang itu sekali lagi akan saling bertempur diantara mereka.
Dalam pada itu, maka seluruh pasukan Singasari yang sedang berada di Talang Amba itu ternyata telah mengenakan pakaian keprajuritan mereka. Tidak sebagaimana mereka pakai pada saat mereka membaurkan diri dengan orang-orang Talang Amba.
Karena itu, maka pasukan Singasari yang meninggalkan Talang Amba itu telah berbaris dalam kelengkapan kebesaran sepasukan prajurit Singasari.
Mahisa Bungalan dan kedua orang Senopati yang datang-bersamanya ke Talang Amba ikut pula dalam pasukan itu. Mahisa Bungalanlah yang akan memberikan penjelasan tentang keadaan yang telah berkembang di Talang Amba.
Namun dalam pada itu, sekelompok kecil pasukan Singasari telah ditinggalkan di Talang Amba untuk mengawasi para tawanan yang kelak akan dibaca ke Singasari. Para tawanan itu memang tidak akan dibawa ke Gagelang untuk menghindari perasaan yang kurang mapan, karena bagaimanapun juga orang-orang Gagelang akan mempunyai penilaian tersendiri Kepada sanak kanangnya.
Para prajurit Singasari itu akan mendapat bantuan dari anak-anak muda Talang Amba dalam tugas mereka mengamati para tawanan. Sementara Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Ki Waruju tinggal pula untuk sementara di Talang Amba.
Demikianlah, maka iring-iringan pasukan Singasari dan Gagelang telah meninggalkan Talang Amba menuju ke Gagelang. Disepanjang perjalanan mereka, orang-orang menyaksikan dengan kagum. Tetapi terbersit juga berbagai pertanyaan di hati mereka. Ketika pasukan itu berangkat, maka yang yang mereka saksikan hanyalah pasukan Gagelang semata-mata dai m jumlah yang besar. Tetapi kini pasukan Gagelang itu menjadi jauh susut, sementara pasukan Singasari telah ikut pula dalam barisan itu.
Ketika pasukan itu kemudian mendekati Gagelang, maka Mahisa Bungalan menjadi sangat berhati-hati. Diletakkannya pasukan Gagelang diujung pasukan. Namun Mahisa Bungalan telah berpesan kepada Senopati yang memimpin pasukan Gagelang itu, agar tetap berhati-hati.
“Mungkin sudah ada berita yang mendahului kehadiran kita disini” berkata Mahisa Bungalan “mungkin berita itu benar, tetapi mungkin pula tidak. Karena itu kita harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang-mungkin dapat terjadi”
Senopati Gagelang itu menyadari. Pasukan Gagelang memang sudah terbagi, sementara mereka tidak tahu dengan pasti, apakah yang sebenarnya telah dilakukan oleh Akuwu. Sebagian dari para pengawal di Gagelang hanya berpegang kepada Kesetiaan saja Kepada Akuwu tanpa mengetahui persoalan besar yang sedang dihadapi oleh Gagelang dalam hubungannya dengan Kediri dan Singasari.
Tetapi untunglah, bahwa sebelum pasukan Gagelang berangkat. Senopati yang berpihak kepada orang-orang Gagelang itu telah meninggalkan beberapa orang petugas yang terpercaya untuk memberikan penjelasan tentang keadaan yang sebenarnya. Bahkan sebagian dari pengawal yang ditinggalkan itu telah tahu pasti apa yang akan dilakukan oleh Senopati Gagelang dan pasukannya untuk berpihak kepada orang-orang Talang Amba.
Karena itulah agaknya, maka ketika Ki Waruju dan Ki Sanggarana keluar dari bilik tahanan mereka, seorang pengawal sama sekali tidak mengambil tindakan apapun juga.
Demikianlah, ketika pasukan Gagelang dan Singasari itu memasuki kota Gagelang, memang timbul ketegangan. Seorang Senopati yang diserahi tugas menjaga pusat kedudukan Pakuwon Gagelang itu ternyata telah bersiap-siap pula menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi. Ia memang sudah mendengar apa yang terjadi di medan. Tetapi Senopati itu masih belum jelas mendengar persoalan yang sebenarnya. Namun demikian kehadiran pasukan Singasari yang kuat itu memang harus mendapat pertimbangan sebaik-baiknya.
Karena itu, maka pasukan yang memasuki Gagelang itu harus berhenti sebelum mereka sampai ke alun-alun. Senopati yang menunggui kota itupun telah minta kepada pasukan yang datang itu untuk memberikan penjelasan.
Karena itulah, maka Mahisa Bungalan telah minta untuk berbicara Dengan dihadiri oleh Senopati yang memimpin pasukan yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba dan Senopati yang berada di kota Gagelang, maka Mahisa Bungalanpun memberikan penjelasan sesuai dengan kenyataan yang telah terjadi.
“Karena itu, maka aku telah mangambil satu sikap” berkata Mahisa Bungalan “atas nama kekuasaan yang dilimpahkan oleh pemimpin pemerintahan di Singasari. maka aku telah menunjuk Senopati yang telah mengambil satu sikap yang tepat pada saat Akuwu Gagelang mengalami gangguan batin dalam tugasnya, yang sayang sekati harus ditebus dengan Jiwanya, untuk sementara memerintah Pakuwon ini. Pada saat yang pendek maka pimpinan pemerintahan di Singasari tentu akan segera menentukan langkah-langkah berikutnya“
Ternyata dengan penjelasan Mahisa Bungalan, maka tidak ada pihak yang masih ragu-ragu untuk menerima keadaan itu. Para Senopati dan pimpinan pemerintahan di Pakuwon Gagelang dapat mengerti dan memahami sikap Mahisa Bungalan itu.
Meskipun untuk sementara pemerintahan di Gagelang akan merasa terguncang, tetapi lambat laun pemerintahan itu akan segera pulih kembali. Sementara itu Singasari akan dapat memberikan pengarahan dan petunjuk-petunjuk yang diperlukan.
Ternyata bahwa untuk satu dua hari Mahisa Bungalan masih harus berada di Gagelang untuk membantu Senopati yang akan memangku tugas Akuwu Gagelang. Dengan sisa tenaga yang ada, maka Gagelang harus melengkapi dirinya. Bagaimanapun juga Gagelang harus tetap menjaga diri dari kemungkinan-kemungkinan yang buruk yang dapat terjadi. Tidak mustahil bahwa ada pihak lain yang ingin mempergunakan keadaan yang parah itu untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan mungkin akan dilakukan tindak kejahatan tanpa menghiraukan keadaan yang sesungguhnya terjadi di Gagelang yang diselubungi suasana prihatin.
Untuk menjaga segala kemungkinan, selagi mahisa Bungalan dan pasukannya masih ada di Gagelang, maka telah dipanggil anak-anak muda yang bersedia menjadi pengawal. Meskipun sebagian besar dari mereka masih belum memiliki bekal yang cukup, namun dengan bekerja keras, maka anak-anak muda itu akan segera dapat mengisi kekosongan, karena pengawal Gagelang yang ada telah jauh menjadi susul.
Sementara itu agaknya langkah lain telah diambil pula. Senopati yang memegang pimpinan untuk sementara di Gagelang telah setuju untuk memilih diantara para pengawal yang tertawan dan tidak menghukumnya dan bahkan mengembalikan mereka pada kedudukannya sebagai pengawal, karena yang telah mereka lakukan di Talang Amba sama sekali bukan karena kesadaran mereka untuk berbuat demikian.
Dalam pada itu. di Talang Ambapun telah terjadi kesibukan tersendiri. Ki Sanggarana yang sudah disetujui oleh beberapa pihak untuk menggantikan kedudukan Ki Buyut telah mengambil langkah langkah yang penting pula. Ki Sendawa yang semula menentangnya dan menginginkan kedudukan itu. telah menyadari keadaannya dan bahkan membantu Ki Sanggarana menyelesaikan persoalan yang rumit, justru pada saat-saat Talang Amba memasuki satu masa yang menentukan untuk waktu yang panjang di hari depan.
Kita harus mampu melupakan segala persoalan yang pernah tumbuh diantara kita” berkata Ki Sanggarana kepada anak-anak muda di Talang Amba. Diantara mereka terdapat anak-anak muda yang semula berpihak kepada Ki Sendawa dan yang lain berpihak kepada Ki Sanggarana. Lalu “Dihadapan kita terbentang tugas yang maha berat. Bukan saja mengatasi kesulitan batiniah yang tumbuh di hati kita masing-masing, tetapi kita harus meyakini, bahwa daerah ini telah menjadi sasaran tindakan yang licik. Kita harus selalu ingat tentang sikap Ki Sarpa Kuning yang ingin membenturkan kekuatan-kekuatan yang ada di Talang Amba ini untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Jika ia berhasil mendapatkan wewenang untuk menebang hutan di lereng bukit, maka ia tentu akan mendapatkan upah yang sangat besar. Sementara itu, dikemudian hari Talang Amba akan menjadi daerah yang kering dan gersang. Sementara banjir yang besar selalu melanda dan menghanyutkan tanah yang mengandung kesuburan di atas daerah Kabuyutan ini. Sehingga dengan demikian kehidupan kita akan menjadi semakin sulit”
Ki Waruju yang mendengar penjelasan itu menyambung “Jika hal seperti itu terjadi di banyak daerah di Singasari. maka seperti yang diharapkan oleh sementara orang yang tidak setuju dengan pemerintahan Singasari, maka daerah Singasari akan mengalami bencana dimasa mendatang”
Anak-anak muda Talang Amba itu mengagguk-angguk. Hutan di lereng bukit itu semakin menarik perhatian mereka justru setelah terjadi persoalan di dalam tubuh mereka sendiri. Hutan itu semula sama sekali tidak mereka hiraukan. Hutan itu ada di lereng bukit tanpa mereka kehendaki. Hutan itu begitu saja sudah ada disana. Bahkan umurnya jauh lebih tua dari umur mereka. Namun tiba tiba hutan itu telah menjadi pusat perhatian.
Demikianlah, justru karena keinginan mereka, untuk melihat hutan itu dari segala sisinya, maka pada hari berikutnya beberapa orang anak muda bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendaki lereng bukit dan memasuki hutan yang hijau lebat.
Anak-anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang diantara mereka berkata Inilah hutan itu”
“Ya” jawab yang lain “hutan yang bukan saja menjadi sasaran ketamakan Ki Sarpa Kuning. Tetapi karena kegagalannya, maka Akuwu di Gagelang telah mengambil alih persoalannya”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Hutan itu memang tidak memiliki hal-hal yang dapat menumbuhkan perhatian secara khusus. Hutan itu adalah satu daerah yang jarang dilalui dan bahkan tersentuh kaki manusia. Sehingga akhirnya hutan itu menjadi pusat perhatian manusia di sekitarnya”
“Apa yang dapat kita lakukan dengan hutan ini?” bertanya salah seorang anak muda.
“Kita tak akan berbuat apa-apa” jawab Mahisa Murti “tetapi kita harus menyelamatkannya. Karena dengan demikian kita akan menyelamatkan diri kita sendiri dan keturunan kita”
Anak-anak muda itu memahaminya. Karena itu, tiba-tiba hutan itu menjadi sesuatu yang lain dari tanggapan mereka sebelumnya. Hutan yang hijau yang membentang di lereng bukit itu, rasa-rasanya menjadi sangat cantik. Udara di lembah itu terasa semakin segar. Tanah yang lembab di bawah pepohonan raksasa itu memberikan warna harapan bagi hijaunya sawah dibawah bukit.
Dengan demikian, maka anak-anak muda itupun tidak lagi menganggap hutan itu sebagai daerah yang tidak perlu mendapat perhatian. Jika mereka semula menganggap bahwa hutan itu tidak memberikan apapun juga kepada mereka, selain tempat untuk berburu binatang buas, maka kemudian merekapun merasa diri mereka menjadi akrab dengan hutan itu. Mereka mulai menyadari, bahwa air yang mengalir di kotak-kotak sawah mereka adalah air dari hutan itu. Sehingga dengan demikian, maka hutan itu pulalah yang telah memberikan makan dan minum bagi seisi Kabuyutan Talang Amba.
Dalam pada itu, maka kehidupan di Talang Ambapun telah menjadi wajar kembali. Tidak ada lagi bekas-bekas pertentangan yang telah terjadi diantara mereka. Tidak lagi terdapat bekas-bekas luka karena tingkah laku Ki Sarpa Kuning dan Akuwu dari Gagelang.
Sementara itu di Gugelangpun keadaan telah hampir pulih pula Meskipun masih ada beberapa orang yang ditawan, dan bahkan ada diantara mereka yang harus dibawa ke Singasari, namun persoalannya sudah dapat dimengerti oleh rakat Gagelang. Mereka telah mengetahui duduk persoalannya. Dan merekapun mengerti apa yang sebenarnya terjadi ala Akuwu di Gagelang yang sebelumnya mereka anggap sebagai orang yang paling baik yang mereka kenal.
Mahisa Bungalan yang telah menyelesaikan tugasnya di Talang Amba dan Gagelangpun telah kembali pula ke Singasari dengan membawa laporan yang terperinci tentang segala peristiwa yang telah terjadi. Namun untuk sementara
Singasaripun tidak tergesa-gesa menetapkan seorang Aku wu yang baru. Senopati yang untuk sementara melakukan tugas-tugas seorang Akuwu itu akan diamati dengan seksama. Jika ia berhasil melakukannya dengan baik, maka Singasari menganggap bahwa tidak perlu mengangkat orang lain yang baru sama sekali bagi Pakuwon Gagelang.
Namun dalam pada itu, Singasari menganggap perlu untuk mengamati perkembangan Kediri untuk selanjutnya. Ternyata masih ada orang-orang Kediri yang menentang kekuasaan Singasari dan berusaha untuk menumbangkannya.
“Satu hal yang sulit untuk dihapuskan sama sekali” berkata Mahisa Agni pada satu saat ketika ia berbincang dengan Mahisa Bungalan, Witantra dan Mahendra.
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya “Para bangsawan di Kediri masih tetap mengenang masa jaya mereka. Pada suatu saat Kediri adalah satu Kerajaan yang besar. Mereka tentu tetap merasa berhak aus kekuasaan yang turun temurun. Ken Arok yang bergelar Sang Amurwabumi, menurut mereka, adalah orang yang sama sekali tidak berhak menurunkan kekuasaan bagi Tanah ini. Karena itu, usaha untuk melenyapkan Singasari itu masih akan berkepanjangan”
“Tetapi kita tidak berhasil mendapat keterangan tentang seorang Pangeran yang telah berada di Gagelang” berkata Witantra kemudian.
“Tidak seorangpun yang tahu dengan pasti. Pengawal Akuwu yang paling dipercaya itupun tidak mengenal nama yang sebenarnya dari Pangeran yang membayangi kekuasaan Akuwu di Gagelang itu. Di Gagelang Pangeran itu kadang-kadang berujud sebagai seorang juru taman, namun kadang-kadang seorang pengawal yang berpengaruh meskipun tidak memegang pasukan” berkata Mahisa Bungalan.
“Apakah pengawal yang terdekat dari Akuwu itu tidak mengetahuinya bahwa ia seorang pangeran?” bertanya Witantra.
“Nampaknya ia mengetahui. Dalam setiap pemeriksaan, iapun mengakui bahwa ia mengetahui tentang Pangeran itu. Tetapi nama yang dikenalnya tidak diyakininya bahwa nama itu adalah nama Pangeran itu yang sebenarnya. Karena ternyata nama yang disebutkan itu memang tidak ada di dalam urutan nama para Pangeran di Kediri sekarang ini” jawab Mahisa Bungalan.
Witantra mengangguk-angguk. Agaknya yang mengetahui tentang Pangeran itu sepenuhnya hanyalah Akuwu di Gagelang yang telah terbunuh. Bagaimanapun juga Mahisa Bungalan berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup adalah sia-sia. Bahkan Mahisa Bungalan sendirilah yang justru hampir tidak dapat meninggalkan arena pertempuran itu
Namun dalam pada itu, maka Singasaripun telah mengambil satu keputusan untuk menelusuri sikap Pangeran dari Kediri yang membahayakan perkembangan Singasari dan Kediri itu sendiri.
“Yang satu dapat diselesaikan, tumbuh pula yang lain” desis Mahisa Bungalan.
“Ya. Banyak alasan yang dapat mendorong para bangsawan di Kediri untuk melakukan hal seperti ini. Tetapi nampaknya yang dilakukan sekarang ini lebih teratur dengan rencana-rencana yang diperhitungkan. Persoalannya benar-benar menyangkut hubungan antara Kediri dan Singasari. Bukan sekedar persoalan pribadi yang disangkutkan kepada persoalan yang pada dasarnya memang ada antara Kediri dan Singasari seperti yang pernah terjadi” berkata Mahisa Agni.
Karena itu, kitapun harus lebih berhati-hati untuk menanggapi persoalan ini” berkata Witantra “dalam hubungan ini Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus mendapatkan penjelasan, sehingga jika sesuatu harus dihadapinya, mereka sudah bersiap secara jiwani”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia menyadari, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sedang menyelesuri lembah dan lereng pegunungan dalam pengembaraannya, akan dapat terjerumus kedalam persoalan yang rumit tentang gejolak yang terjadi diantara beberapa bangsawan Kediri.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk sementara masih tetap berada di Talang Amba. Bagaimanapun juga, orang-orang Talang, Amba menganggap, bahwa persoalan yang serupa masih akan dapat terjadi. Meskipun orang-orang Talang Amba sendiri sudah menyadari betapa pentingnya hutan di lereng pegunungan, serta kesadaran mereka untuk tidak mudah diadu domba,,namun orang-orang yang menghendaki lereng gunung itu menjadi gundul, akan dapat mengambil seribu macam cara. Mereka pada akhirnya akan dapat mempergunakan kekerasan.
“Mungkin sekali bahwa sekelompok orang-orang yang garang akan datang menebang pepohonan di hutan itu. Disetujui atau tidak disetujui oleh orang-orang Talang Amba” berkata Ki Sendawa.
“Jika keadaan memaksa, kita dapat memohon bantuan kepada para pemimpin yang sekarang berkuasa di Gagelang” sahut Mahisa Murti.
“Tetapi seperti kita ketahui, Gagelangpun baru membentuk diri” berkata Ki Sanggarana “sekarang Gagelang sedang memanggil anak-anak muda itu menjadi pengawal.
Tetapi mereka tentu memerlukan waktu yang lama untuk menempa diri sehingga menjadi seorang pengawal yang sebenarnya”
“Tetapi kekuatan Gagelang sekarang tidak dalam keadaan lumpuh seluruhnya” berkata Mahisa Pukat “dalam keadaan tertentu Gagelang masih akan mampu bertindak. Beberapa orang Senopati dari Singasari masih berada di Gagelang untuk membantu memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda yang menyatakan diri mereka menjadi pengawal. Dengan demikian, maka jika diperlukan sekali, maka Gagelang tentu akan mampu bertindak. Sementara para pengawal yang lama masih pula cukup jumlahnya”
Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian “Aku mengerti. Tetapi yang dimaksud oleh paman Sendawa, hendaknya Talang Amba juga mempunyai kekuatan sendiri betapapun kecilnya untuk menjaga agar orang lain tidak dapat berbuat sewenang-wenang. Sebelum kita sempat mendatangkan bantuan dari Gagelang, maka kita akan dapat berbuat sesuatu sambil menunggu. Namun dengan demikian, maka Kabuyutan ini tidak akan dapat dianggap tidak memiliki kekuatan sama sekali”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya “Bagus. Aku mengerti maksud kalian. Bukankah dengan demikian kalian ingin membentuk satu pasukan yang ujud di dalam lingkungan Kabuyutan Talang Amba?“
“Ya. Sementara ini kita menggantungkan diri kepada kerelaan anak-anak muda untuk berbuat sesuatu. Meskipun hal itu telah terbukti banyak manfaatnya, namun alangkah baiknya jika kita memiliki apa yang disebut sepasukan pengawal. Meskipun dengan demikian bukan berarti bahwa kita sama sekali tidak memerlukan lagi kekuatan diluar pasukan pengawal itu. Pasukan pengawal sekedar penggerak utama. Selanjutnya akan tergantung kepada anak-anak muda seluruhnya” sahut Ki Sanggarana.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa bersama Mahisa Pukat, mereka akan diminta untuk memberikan sedikit tuntunan bagi anak-anak muda yang akan disebut dengan pasukan pengawal Kabuyutan itu.
“Tetapi disini ada Ki Waruju” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya, sehingga dengan demikian maka tugasnya akan lebih ringan, karena Ki Waruju tentu akan mampu melakukan lebih banyak hal daripada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Karena itu anak muda“ Ki Sanggarana melanjutkan “kami akan minta kalian berdua untuk tetap tinggal Setidak-tidaknya untuk beberapa saat lamanya. Kami sangat memerlukan bimbingan kalian untuk membentuk satu pasukan yang akan mampu berbuat sesuatu sebelum kami sempat mohon bantuan ke Gagelang”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun sambil memandang Ki Waruju Mahisa Murti berkata “Ki Sanggarana kami tidak akan berkeberatan Tetapi disini ada Ki Waruju dan seorang murid Ki Sarpa Kuning yang telah memilih jalan yang benar datam sisa hidupnya yang masih panjang”
Ki Sanggarana memandang kearah Ki Waruju yang duduk termangu-mangu. Namun katanya kemudian “Sebenarnyalah kami akan memohon kepada Ki Waruju. Tetapi kami tidak akan dapat menyatakannya dengan terbuka sebagaimana kami menyatakan kepada kedua anak muda yang sebaya dengan anak-anak muda yang akan menjadi pasukan pengawal di Kabuyutan Talang Amba. Sebenarnyalah kami merasa sangat segan. Apakah kami berhak untuk memohon kepadanya”
Mahisa Murti tersenyum. Bahkan Ki Warujupun tersenyum pula sementara Mahisa Pukat melanjutkan Bukankah demikian Ki Waruju. Aku berharap bahwa Ki Waruju tidak berkeberatan. Aku dan Mahisa Murti akan membantu sejauh kami lakukan”
Ki Waruju justru tertawa. Katanya “Jadi Mahisa Pukat minta kepadaku atas nama orang-orang Talang Amba?“
“Ya” jawab Mahisa Pukat “Karena orang-orang Talang Amba tidak berani menyatakannya secara langsung”
Ki Waruju masih tertawa. Kalanya “Baiklah. Aku tidak berkeberatan. Tetapi aku minta, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat membantuku disini”
“Aku hanya akan mengawani saja disini” jawab Mahisa Pukat sambil tersenyum pula.
“Terima kasih Ki Waruju” sahut Ki Sanggarana “sebenarnyalah aku memang sangat mengharapkan. Mudah-mudahan dengan, demikian. Kabuyutan ini bukannya sekedar Kabuyutan yang tidak mempunyai arti sama sekali, karena tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk melindungi diri sendiri”
Ki Waruju menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia melihat kemauan yang menyala di hati orang-orang Talang Amba untuk memiliki satu kemampuan melindungi diri mereka sendiri. Hutan di lereng bukit itu nampaknya menarik perhatian orang-orang tertentu, bukan untuk dipelihara, tetapi untuk dimusnahkan, karena hutan itu ternyata merupakan sumber kesuburan dari lembah di sekitarnya. Bukan saja Kabuyutan Talang Amba yang memiliki daerah di lereng bukit berhutan itu, tetapi untuk daerah yang lebih luas. Beberapa Kabuyutan disekitar Kabuyutan Talang Amba juga menggantungkan air bagi sawah dan pategalannya dari sungai-sungai yang bermata air di lereng pegunungan itu.
Karena itu, maka Ki Waruju itupun kemudian berkata “Kemauan yang kuat yang membayang di wajah-wajah orang-orang Talang Amba memang memberikan kepastian, bahwa kalian akan bersungguh-sungguh. Jika demikian, maka kita akan segera mulai. Aku dan barangkali juga angger Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak akan terlalu lama berada di Kabuyutan ini”
“Kalian akan menunggu sampai hari wisuda” berkata Ki Sendawa.
Tetapi Ki Waruju menjawab “Kapan hari wisuda itu diadakan. Sementara itu, Akuwu di Gagelang yang akan mewisuda itupun masih belum ditentukan”
“Tidak akan menjadi soal” jawab Ki Sendawa “sebab orang yang mendapat wewenang melakukan tugas Akuwu itupun berhak melakukannya atas ijin Singasari. Karena itu. sebaiknya kalian menunggu hari itu. Jika kalian bersedia, hal itu akan berarti satu kenormatan yang tidak terhingga bagi kami. Apalagi jika angger Mahisa Bungalan itu bersedia pula hadir bersama para Senopati prajurit Singasari itu”
“Aku belum dapat mengatakan apa-apa, Ki Sendawa” jawab Ki Waruju “tetapi sebaiknya kita segera saja mulai. Jika hari wisuda itu tidak terlalu lama, maka kami tentu masih ada disini. Tetapi jika hari wisuda itu masih terlalu lama, maka kami tentu saja tidak akan dapat menunggu”
“Baiklah” jawab Ki Sendawa “Yang penting bagi kami, kesediaan Ki Waruju untuk menempa anak-anak kami, sehingga dengan demikian Kabuyutan ini akan mendapat penilaian yang lain dari keadaan masa lampau yang suram itu”
Demikianlah, maka di hari-hari berikutnya, anak-anak muda Talang Amba telah dipersiapkan untuk mendapat tuntutan oiah kanuragan. Mereka menyadari, bahwa hutan di lereng bukit itu adalah sesuatu yang sangat berharga, yang memerlukan pengawalan yang sebaik-baiknya. Kemungkinan masih ada, bahwa ada pihak yang ingin memusnahkannya. Jika perlu bahkan mungkin akan dilakukan dengan kekerasan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun ternyatj kemudian telah bekerja keras pula untuk kepentingan anak-anak muda Talang Amba. Seperti yang dilakukan oleh Ki Waruju, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bekerja keras sebagaimana anak-anak muda talang Amba.
Pada saat yang demikian, maka di Gagelangpun telah dilakukan latihan-latihan yang keras. Anak-anak muda yang memenuhi panggilan pan pemimpin Pakuwon Gagelang untuk menjadi pasukan pengawal telah mengikuti latihan-latihan yang berat.
Beberapa orang Senopati dari Singasari telah berada di Gagelang, membantu para Senopati yang masih ada di Gagelang untuk membentuk satu pasukan yang memadai di Gagelang.
Meskipun sebagian dari pasukan Gagelang yang ditangkap telah dibebaskan dan dikembalikan ke kesatuannya, namun Gagelang masih memerlukan pasukan yang lebih kuat untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi.
Seperti Talang Amba, maka para pemimpin yang melakukan tugas di Gagelang, merasa perlu untuk menyusun pasukan yang kuat. Tidak mustahil bahwa Pangeran yang semula membayangi kekuasaan Akuwu di Gagelang itu telah mengambil satu sikap yang keras bagi Gagelang.
Anak-anak muda yang menyatakan dirinya menjadi pasukan pengawal di Gagelang telah dibagi dalam kelompok-kelompok yang kecil untuk mendapat latihan yang lebih terperinci. Mereka mendapatkan latihan-latihan perang gelar dan kemampuan secara pribadi. Agar mereka tidak tertinggal oleh perkembangan kemungkinan yang tidak dikehendaki, maka anak-anak muda yang memasuki lingkungan pasukan pengawal itu harus bekerja keras. Hampir tidak ada kesempatan baei anak-anak muda itu untuk beristirahat. Di siang hari mereka berlatih olah kanuragan dan perang gelar, sedangkan dimalam hari mereka berlatih untuk mempertajam panca indera mereka, terutama indera penglihatan dan pendengaran. Perang dalam kegelapan merupakan acara latihan yanp memerlukan ketekunan dan ketabahan hati.
Tetapi ternyata anak-anak muda di Talang Amba bekerja keras pula sebagaimana dilakukan oleh anak-anak muda yang memasuki pasukan pengawal di Gagelang.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menempa anak-anak muda itu dengan cara mereka, Anak-anak muda itu telah mendapat latihan siang dan malam pula. Bahkan kadang-kadang membuat anak-anak muda Talang Amba mengeluh kelelahan. Tetapi oleh tekad yang menyala di dalam hati, maka anak-anak muda itu tidak melangkah surut.
Namun Ki Warujulah yang memberikan beberapa petunjuk kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa anak-anak muda yang sedang berlatih itu bukan sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri.
“Mereka adalah anak-anak muda yang baru mulai” berkata Ki Waruju “Karena itu, cara yang kalian pergunakan agaknya terlalu berat bagi mereka. Cobalah menyesuaikan diri dengan kemungkinan yang ada pada diri anak-anak muda itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akhirnya mengerti juga maksud Ki Waruju. Mereka kemudian menyadari, bahwa anak-anak muda Talang Amba itu belum memiliki kesiapan sebagaimana mereka berdua.
Dengan demikian, maka merekapun mulai mencari kemungkinan yang lebih baik bagi anak-anak muda Talang Amba itu.
“Kami ingin meningkatkan kemampuan mereka secepat-cepatnya” berkata Mahisa Murti kepada Ki Waruju. Lalu “Mungkin kami tidak akan dapat terlalu lama tinggal di Kabuyutan ini. Bukankah kami meninggalkan rumah kami untuk satu pengembaraan, agar kami mendapatkan pengalaman yang cukup dihari-hari mendatang. Namun ternyata bahwa cara yang demikian itu kurang menguntungkan bagi anak-anak muda Talang Amba sebagaimana yang Ki Waruju katakan”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar