*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 015-04*
Namun dalam pada itu, diluar dugaan, maka mereka pun telah dihadapkan pada satu keadaan yang sulit. Selagi keduanya sibuk dengan nasi hangat masing-masing, maka terdengar derap kaki kuda. Demikian tiba-tiba dua ekor kuda telah berada di hadapan warung itu.
Kedua orang yang sudah lebih dahulu berada di warung itu pun menjadi tegang. Salah seorang diantara keduanya itu pun berdesis, “Bagaimana mereka mengetahui bahwa aku ada disini”
Kawannya pun menjadi pucat. Katanya, “Tentu ada penjilat yang menunjukkannya. Agaknya kita tidak akan dapat menghindar lagi”
Yang lain tidak menjawab. Kedua orang penunggang kuda itu pun kemudian turun dan menjengukkan kepalanya ke dalam warung itu. Tiba-tiba saja salah seorang dari keduanya tersenyum. Namun senyumnya rasa-rasanya menusuk sampai ke pusat jantung.
“Ternyata kalian benar-benar ada disini” berkata orang yang tersenyum itu.
Orang yang berada di dalam warung itu tidak menjawab. Tetapi wajah mereka nampak menjadi tegang.
“Marilah” berkata orang berkuda itu, “jangan membuat aku marah. Bukankah kuda yang aku kehendaki itu kau jual?”
“Tidak. Tidak aku jual” jawab orang itu dengan suara patah-patah
“Lalu, mana kuda itu?” desak orang berkuda itu.
“Kemenakanku menghendakinya” jawab orang itu.
“Kenapa kau berikan juga kepadanya, sementara kau mengerti bahwa aku menghendakinya” berkata orang berkuda itu.
“Kau tidak berani membayar seperti yang aku kehendaki” jawab orang itu.
Orang berkuda itu membelalakkan matanya. Akhirnya ia membentak, “Aku tidak perlu membayar. Aku dapat mengambil apa saja yang aku kehendaki. Apalagi seekor kuda. Bahkan nyawamu pun dapat aku ambil tanpa ada orang mencegahnya”
Orang yang berada di dalam warung itu menjadi gemetar.
“Sekarang tunjukkan, dimana rumah kemanakanmu. Aku akan mengambil kuda itu. Jika kemanakanmu mencegahnya, maka nyawanya sekaligus akan aku ambil” berkata orang berkuda itu, “dengar, kami memang sedang memerlukan kuda-kuda yang baik untuk perjuangan kami. Jika kau menolak memberikan kuda itu, maka berarti kau telah mengkhianati perjuangan kami”
Kedua orang itu tidak dapat menjawab. Tetapi mereka benar-benar merasa cemas akan nasib mereka.
Namun akhirnya salah seorang dari keduanya berkata, “Kami tidak dapat mencegah kemanakanku mengambil kuda itu. Sebenarnya kami memang sangat memerlukannya. Kemanakanku telah banyak menolong aku dalam kesulitanku. Bahkan kemanakankulah yang seakan-akan selama ini membiayai hidupku”
“Kau dapat berkata apa saja” berkata orang berkuda itu, “tetapi aku telah mengatakan kepadamu, bahwa aku memerlukan kuda itu”
“Tetapi, apakah kau dapat mengambil kuda itu begitu saja?” desis orang yang berada di dalam warung itu, “Bukankah seharusnya kau membelinya”
“Jangan banyak bicara” geram orang itu, “katakan bahwa kuda itu sudah kau jual. Sekarang kau harus mengganti. Kau harus menyiapkan seekor kuda bagi kami. Aku memberi waktu kepadamu dalam sepekan. Jika kau tidak dapat menyediakan seekor kuda dalam waktu sepekan, maka rumahmu akan kubakar. Anak dan isterimu akan menderita, karena kau akan ikut sertakan terbakar di dalam rumahmu itu”
“Tetapi kau tidak berhak mengambil kudaku” desis orang itu.
Wajah orang berkuda itu menjadi merah. Tetapi ia tidak menjawab. Sejenak kemudian keduanya telah meninggalkan warung itu. Sementara kedua orang itu masih saja gemetar ketakutan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi termangu-mangu. Mereka merasakan, bahwa satu ketidak-adilan tentu telah terjadi di daerah itu. Ada satu pihak yang sedang berusaha untuk memaksakan kekuasaannya atas pihak yang lemah. Bahkan agaknya mereka tidak ragu-ragu untuk mengambil jiwa korbannya pula.
Keadaan itu membuat keduanya menjadi bimbang. Rasa-rasanya ada dorongan untuk berbuat sesuatu melihat ketidak-adilan itu. Tetapi apakah dengan demikian, hal itu akan mengganggu tugas mereka?.
Karena itu, maka keduanya tidak segera mengambil sikap. Keduanya menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Tetapi waktu yang diberikan oleh kedua orang berkuda itu cukup lama. Sepekan. Tetapi agaknya bagi kedua:, orang itu, waktu yang sepekan itu terlalu pendek untuk dapat menyediakan seekor kuda.
Dalam pada itu, kedua orang itu pun agaknya dengan tergesa-gesa telah menyelesaikan minuman dan makanan mereka. Setelah membayarnya, maka keduanya pun telah minta diri meninggalkan warung itu.
Sepeninggal orang itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian bertanya kepada pemilik warung itu tentang kedua orang yang sedang berada di warung itu dan tentang kedua orang berkuda itu.
“Siapakah kedua orang berkuda itu?” bertanya Mahisa Murti.
“Kami tidak begitu jelas” jawab pemilik warung itu, “tetapi rasa-rasanya mereka belum terlalu lama berada disini. Mereka adalah termasuk dalam sekelompok orang yang tinggal di sekitar daerah ini. Tetapi kami tidak tahu secara pasti”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat pun bertanya, “Siapakah dua orang yang dipaksa untuk menyerahkan kudanya itu?”
“Penghuni padukuhan sebelah” jawab pemilik warung itu. Lalu, “Orang-orang yang belum banyak kami kenal telah berkeliaran di daerah ini. Yang menarik perhatian mereka terutama adalah kuda. Masih belum ada korban lain. Entah kemudian jika kuda yang ada di padukuhan itu telah habis”
“Bagaimana dengan para pengawal dari Kediri? Apakah mereka tidak berbuat sesuatu terhadap sikap yang demikian?” bertanya Mahisa Murti.
“Daerah ini adalah daerah wewenang Panji Sampana Murti. jawab pemilik warung itu” ada beberapa Kabuyutan yang termasuk daerah kuasanya. Seharusnya Panji Sampana Murti lah yang mengambil sikap. Baru kemudian, jika ia tidak berhasil mengatasi kesulitan itu, barulah pengawal dari Kediri akan turun. Namun dengan demikian, penilaian Sri Baginda terhadap Panji Sampana Murti menjadi turun, karena ia tidak mampu mengatasi kesulitan di daerah yang dipercayakan kepadanya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya, “Apakah Panji Sampana Murti itu Akuwu di daerah ini?” bertanya Mahisa Murti.
“Apakah kalian bukan orang daerah ini?” pemilik warung itu ganti bertanya.
“Kami adalah pengembara” jawab Mahisa Murti.
“Daerah di sekeliling Kota Raja ini dipimpin oleh seorang Senopati untuk setiap kiblat. Berbeda dengan daerah yang berada jauh dari Kota Raja, yang untuk satu lingkungan tertentu dipimpin oleh seorang Akuwu. Panji Sampana Murti adalah seorang Senopati yang berkuasa di bagian Barat, Selatan dan Timur, ada lagi pemimpin-pemimpin yang setingkat dengan Panji Sampana Murti” pemilik warung itu menjelaskan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ada semacam persoalan yang tumbuh di hati mereka. Senopati Singasari di Talang Amba tidak menyebutkan kekuasaan yang demikian. Namun Senopati itu memang menyebutkan daerah-daerah perbatasan.
“Agaknya kekuasaan semacam inilah yang disebut daerah perbatasan” berkata keduanya di dalam hatinya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat pun bertanya, “Jika terjadi hal seperti yang menimpa kedua orang itu, apakah yang akan dilakukan oleh Panji Sampana Murti?”
Pemilik warung itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku adalah penjual makanan dan minuman disini. Aku tidak dapat menjawab pertanyaanmu anak muda. Selain aku tidak berani, aku pun tidak tahu”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia masih mencoba untuk mendesak, “Jangan kau tebak apa yang akan terjadi atau kemungkinan-kemungkinan yang dapat keliru. Tetapi apa yang sudah terjadi. Bukankah yang sudah terjadi itu bukan rahasia lagi? Bukankah hal itu sudah diketahui banyak orang?”.
Pemilik warung itu termangu-mangu. Namun kemudian, “Belum pernah, terjadi sesuatu”
“Maksudmu pengambilan kuda milik seseorang baru terjadi kali ini?” bertanya Mahisa Pukat.
“Tidak. Bukan demikian” jawab pemilik warung itu.
“O” Mahisa Murti mengangguk-angguk, aku mengerti sekarang. Hal yang serupa sudah pernah terjadi. Tetapi tidak ada tindakan apa-apa yang pernah dilakukan oleh Panji Sampana Murti. Bukankah begitu?”
Orang itu menjadi tegang. Kemudian katanya, “Aku tidak mengatakan demikian. Kalian sendirilah yang mengambil kesimpulan itu. Terserah saja kepada kalian”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi jawaban itu justru telah mengiakannya.
Meskipun demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mendesaknya lagi. Keduanya menyadari, bahwa pemilik warung itu tentu ingin mengalami kesulitan dengan keterangan-keterangan yang diberikannya kepada orang yang tidak begitu dikenalnya.
Dalam pada itu, maka sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah minta diri setelah mereka membayar makanan dan minuman yang telah mereka makan dan minum di dalam jurang itu.
Namun demikian ketika keduanya telah berada dipintal, Mahisa Murti masih bertanya, “Siapakah orang yang memiliki kuda itu he?”
“Sudah aku katakan, orang padukuhan sebelah” jawab pemilik warung itu.
“Namanya?” desak Mahisa Pukat.
“Untuk apa kau tahu namanya?” bertanya pemilik warung itu.
“Tidak untuk apa-apa. Hanya sekedar mengetahui saja” jawab Mahisa Pukat.
“Agaknya kau tidak bersangkut paut. Mungkin hari ini kau sudah meninggalkan tempat ini, berkata pemilik warung itu.
“Namun aku akan tetap mengingatnya bahwa hal serupa ini pernah terjadi disini atas seseorang. Nah. barangkali aku memang ingin mengetahui namanya? Bukankah nama orang itu bukannya merupakan satu rahasia? Bukankah setiap orang di daerah ini sudah mengenal namanya?” Mahisa Pukat masih mendesak.
Pemilik warung itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Yang seorang bernama Kudatu”
“Kudatu” ulang Mahisa Pukat.
“Ya. Ialah yang memiliki kuda itu. Nah, aku sudah cukup memberikan keterangan” berkata pemilik warung itu.
“Terima kasih. Aku akan meneruskan pengembaraanku. Namun jika aku masih betah tinggal disini, aku kira aku masih akan singgah di warung ini. Masakan Ki Sanak sesuai bagiku” berkata Mahisa Pukat kemudian.
Namun pemilik warung itu tiba-tiba saja berkata, “Warung ku adalah warung yang terkecil yang ada di deretan ini. Aku belum lama membuka warung ku ini. Syukurlah jika seleramu sesuai. Aku masih mengharapkan kau singgah”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tertegun sejenak. Baru saja mereka mulai melangkah. Tetapi mereka telah berhenti lagi.
“Jadi Ki Sanak belum lama membuka warung ini?” bertanya Mahisa Pukat.
“Belum. Lihatlah dengan warung-warung yang ada di sebelah. Mereka sudah mempunyai jauh lebih banyak langganan dari warung ku ini” jawab orang itu.
“Baiklah. Aku akan menjadi langganan barumu. Tetapi hanya untuk satu atau dua hari. Setelah itu, maka aku akan melanjutkan pengembaraanku” berkata Mahisa Pukat.
Pemilik warung itu mengangguk-angguk. Tetapi berbeda dengan pembeli-pembeli yang lain, maka pemilik warung itu telah keluar dari pintu warungnya ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melangkah meninggalkannya.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang kemudian menyusuri jalan yang masih agak ramai itu, memang melihat beberapa warung yang lain yang lebih besar dan lebih banyak dikunjungi orang meskipun jumlahnya tidak lebih dari tiga dan yang terpisah agak jauh ada sebuah warung yang agaknya terbesar diantara warung-warung yang ada.
“Daerah perbatasan yang menarik” desis Mahisa Pukat. Lalu, “aku menghubungkan kedua orang berkata itu dengan menyingkirkan Pangeran Kuda Permati dan pasukannya dari Kota Raja”
“Mungkin” jawab Mahisa Murti. sehingga dengan demikian Panji Sempana Murti tidak dapat dengan tergesa-gesa mengambil langkah-langkah tegas karena ia menghadapi satu kekuatan yang cukup besar”
“Tetapi tentu tidak seperti yang dikatakan oleh pemilik warung itu, bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa dalam hubungannya dengan Kediri” berkata Mahisa Pukat, “Jika ia dapat memberikan laporan yang sewajarnya, maka Kediri tentu akan mengambil langkah-langkah yang paling pantas”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kita sedang menghadapi satu daerah yang bergolak. Kita tidak mengetahui apa yang terkandung di dalam perut Kediri sekarang ini. Sikap Baginda atas Pangeran Singa Narpada sudah menimbulkan satu persoalan tersendiri. Kepercayaan Sri Baginda yang tiba-tiba saja berbalik dari Pangeran Singa Narpada kepada Pangeran Lembu Sabdata. Dan masih banyak lagi persoalan yang mungkin sedang bergerak di Kediri”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kita memang sedang menghadapi satu pergolakan yang sulit untuk ditebak”
Untuk beberapa saat kemudian, kedua anak muda itu saling berdiam diri. Mereka meninggalkan tempat yang menjadi titik pertemuan beberapa orang pedagang itu, dan kemudian mengamati ciri-ciri yang pernah diberitahukan oleh Senapati dari Singasari yang berada di Talang Amba, untuk menempuh perjalanan menuju kepada seseorang yang akan dapat bekerja bersamanya.
Tetapi rasa-rasanya keduanya masih belum bisa ingin meninggalkan tempat yang menarik itu. Mereka sudah berjanji dengan pemilik warung untuk datang kembali.
Rasa-rasanya ada sesuatu yang menarik pada tukang warung itu. Meskipun keduanya tidak tahu, apakah yang menarik itu. Mungkin keramahannya. Mungkin usahanya menarik langganan baru. Atau mungkin keterangan-keterangan yang lebih terperinci tentang peristiwa yang telah terjadi di warung itu yang menyangkut hadirnya kekuasaan yang aneh di daerah itu.
Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memutuskan untuk tetap berada di tempat itu barang satu dua hari.
Namun demikian, untuk kepentingan langkah-langkah berikutnya, mereka mulai mengenali arah yang harus mereka tempuh pada sisa perjalanan mereka. Meskipun sudah tidak terlalu jauh, tetapi justru merupakan bagian yang paling rumit dari seluruh perjalanannya.
Dalam beberapa puluh langkah mereka mulai mengenali salah satu pertanda yang diberikan oleh Senopati itu. Sebuah gumuk kecil berbatu padas dengan sebatang pohon besar di sebelahnya.
“Itulah pohon preh itu” berkata Mahisa Murti.
“Ya. Pada saatnya kita harus menempuh perjalanan ini. Kita menuju ke arah yang benar. Beberapa ratus langkah lagi tentu akan terdapat sebatang sungai kecil yang airnya berwarna keputih-putihan. Agaknya air sungai itu mengandung kapur yang larut ke dalam airnya” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Tugas kita sekarang adalah mencari tempat untuk bermalam nanti”
“He?” Mahisa Pukat menjadi heran, “Bukankah hari masih terlalu pagi untuk mencari tempat bermalam?”
Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Lalu, apakah yang akan kita lakukan sekarang? Jika kita berkeliaran, maka kita tentu akan menarik perhatian. Kita akan mencari tempat bersembunyi. Nanti sore kita akan pergi ke warung itu jika masih buka untuk makan. Kita kemudian kembali bersembunyi”
“Apakah dengan demikian kita akan dapat melihat sesuatu di tempat ini?” bertanya Mahisa Pukat.
“Tentu. Kita akan dapat melihat lewat penglihatan pemilik warung itu” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun akhirnya iapun mengangguk-angguk pula. Katanya, “Benar juga. Jika kita hilir mudik disini, maka kita akan dapat dicurigai. Apalagi jika kita bertemu dengan orang-orang yang sengaja mengamati keadaan darimana pun juga asalnya”
“Kita akan berjalan sampai ke sungai itu lebih dahulu” berkata Mahisa Murti, “mungkin kita akan menemukan belik yang airnya tidak berwarna keputih-putihan karena larutan kapur. Baru kemudian kita akan beristirahat untuk waktu yang terlalu lama”
“Kita dapat tidur sepuas-puasnya” berkata Mahisa Pukat, “mungkin malam nanti kita akan tidak mendapat kesempatan untuk tidur sama sekali”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara itu mereka melanjutkan perjalanan. Sesuai dengan petunjuk yang mereka dapat dari Senopati di Talang Amba, maka mereka akan sampai ke sebatang sungai yang tidak begitu besar alirannya.
Sebenarnyalah, mereka, telah berjalan menuju sebatang sungai seperti yang mereka sebutkan. Jalan pun mulai menurun berbatu-batu.
“Ternyata Senapati di Talang Amba itu cukup teliti” berkata Mahisa Murti, “ia ingat ciri-ciri yang paling kecil sekalipun”
“Ia termasuk salah seorang Senopati dalam tugas sandi” sahut Mahisa Pukat, “ia adalah justru orang terlatih. Agak berbeda dengan kita. Kita adalah benar-benar petualang yang agak ceroboh menentukan pilihan atas pekerjaan yang akan kita lakukan”
“Justru dengan demikian kita akan mendapatkan pengalaman yang berharga” berkata Mahisa Murti.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja pembicaraan mereka terhenti. Dengan hati yang berdebar-debar mereka melihat seorang yang bertubuh tinggi besar berdiri di-tengah-tengah jalan yang semakin menurun tepat di balik sebuah tikungan. Seakan-akan orang itu memang sengaja menunggu kedua orang anak muda itu. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Tanpa berpaling ke arah Mahisa Pukat ia berkata, “Ingat. Kita adalah pengembara. Kita bukan petugas sandi yang memiliki kemampuan untuk berkelahi”
“Jika orang itu benar-benar mengancam jiwa kita?” bertanya Mahisa Pukat.
“Apa boleh buat. Kita akan menyelematkan diri. Namun kita harus semakin berhati-hati atas tugas-tugas kita. Bahkan mungkin kita tidak akan dapat kembali lagi ke warung itu. Kita justru harus segera sampai ke tujuan jika terjadi satu peristiwa yang memaksa kita berbuat demikian”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia meraba pisau belatinya yang tersembunyi di bawah kain panjangnya. Dalam keadaan memaksa, mungkin sekali ia memerlukan senjata itu.
Seakan-akan tidak ada perasaan apapun juga, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berjalan terus. Tetapi orang yang berdiri di tengah jalan itu memandangi keduanya dengan sorot mata yang tajam.
Tetap akhirnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun harus berhenti. Jalan yang mereka lalui adalah jalan yang tidak terlalu luas. Sementara itu, di sebelah menyebelah adalah tebing yang membatasi jalan yang sudah menurun ke sungai itu.
Sejenak mereka hanya saling berpandangan saja. Namun kemudian Mahisa Murti berkata, “Ki Sanak. Apakah aku boleh lewat?”
Orang yang berdiri di tengah jalan itu justru mengeram. Dengan suara datar la bertanya, “Kalian akan kemana anak-anak muda?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi temangu-mangu. Namun Mahisa Murti pun kemudian menjawab, “kami akan pergi ke sungai itu Ki Sanak. Kami akan mandi dan mencuci.
“Apakah kalian bukan orang dari daerah ini?” bertanya orang bertubuh tinggi kekar itu.
“Kami adalah pengembara” jawab Mahisa Pukat, “kami tidak mempunyai tempat tinggal, “
“Jadi kalian selalu berkeliaran saja di mana-mana?” bertanya orang itu pula.
“Kami menjelajahi padukuhan demi padukuhan. Selain untuk melupakan kehidupan kami yang pahit, kami ingin lebih banyak mengenali isi kehidupan ini jawab Mahisa Murti.
“Jika demikian, kalian termasuk orang-orang yang hanya memenuhi jagad ini saja tanpa mempunyai arti apa-apa. Kalian makan dan minum tanpa memberikan jasa apapun juga bagi kehidupan” tiba-tiba orang itu menjadi garang.
“Aku tidak mengerti maksud Ki Sanak” desis Mahisa Pukat.
“Kalian memang dungu” geram orang itu, “dengar. Kalian adalah benalu yang harus di lenyapkan. Kalian hanya dapat makan dan minum. Kalian hanya dapat mengotori lingkunganmu dan sama sekali melakukan satu kerja yang berarti”
“Bukan maksud kami” jawab Mahisa Pukat, “kami pun telah melakukan kerja yang dapat kami kerjakan. Di padukuhan-padukuhan yang kami lewati, kadang-kadang kami pun telah melakukan kerja yang berarti”
“Apa? Apa yang pernah kau lakukan?” bertanya orang itu.
“Kami pernah tinggal untuk beberapa lamanya pada seseorang yang tengah membuka tanah persawahan. Kami ikut menebangi pepohonan dan ikut mengerjakan tanahnya sehingga terjadilah kotak-kotak sawah yang kemudian dapat ditanami. Tetapi tenaga yang kemudian dibutuhkan tidak sebanyak saat hutan sedang ditebang, sehingga orang-orang yang bekerja di tempat itu, terbatas pada orang-orang dari padukuhan itu sendiri” jawab Mahisa Pukat.
“Omong-omong, “ bentuk orang itu, “Kalian tentu terhitung orang-orang yang malas, yang tidak diperlukan lagi sehingga kalian telah diusirnya”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti pun berkata dengan nada rendah, “Mungkin memang nasib kami terlalu buruk. Sebenarnya kami pun sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga hidup kami bukanlah semata-mata hidup yang sia-sia”
“Tidak ada artinya lagi bagiku” berkata orang itu, “Aku termasuk salah seorang dari sekelompok orang yang telah berhimpun dan menentukan atau sikap. Kami akan menghapuskan benalu-benalu macam kalian. Aku sudah menyingkirkan lebih dari sembilan orang. Jika hal semacam ini aku lakukan terus-menerus bersama dengan kawan-kawan sekelompok yang mempunyai keinginan yang sama, maka dalam waktu beberapa tahun, orang-orang seperti kau ini akan habis. Dunia akan bersih dari benalu-benalu yang hanya dapat menghisap tanpa memberikan imbalan apapun juga bagi lingkungannya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Sekilas mereka merasa . telah berhadapan dengan seseorang dalam hubungan yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan persoalan-persoalan yang timbul di Kediri. Tidak ada hubungannya dengan sikap Pangeran Kuda Permati atau sikap Pangeran Singa Narpada.
Tetapi keduanya pun tidak langsung mempercayai sikap itu sebagai sikap yang wajar. Mungkin ada alasan tertentu yang tersembunyi dibalik sikapnya yang nampaknya tidak ada hubungannya sama sekali dengan perkembangan keadaan di Kediri.
Meskipun demikian untuk sementara mereka masih tetap bersikap sebagai dua orang pengembara yang sederhana dan tidak memiliki bekal apapun terutama kemampuan oleh kanuragan.
Karena itu, ketika orang itu kemudian melangkah maju. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bergeser mundur.
“Jangan menyesal” geram orang itu, “Meskipun kalian masih muda, tetapi kalian tidak berguna sama sekali bagi kehidupan, sehingga karena itu, maka sebaiknya kalian aku lenyapkan saja. Aku menunggu kehadiran anak-anak muda yang dapat memberikan arti dalam hidupnya dan berguna bagi sesamanya”
“Jangan” desis Mahisa Murti, “Bukanlah aku tidak mengganggumu Ki Sanak. Aku tidak pernah mengambil milik orang lain. Aku tidak pernah memaksa orang lain untuk memberikan apapun juga kepadaku. Sementara kami berdua pun selalu berusaha untuk dapat berbuat apa saja untuk mendapatkan upah yang dapat kami makan dari hari ke hari. Jika kami tidak mempunyai persediaan lagi, maka kami berusaha untuk menangkap binatang buruan untuk mempertahankan hidup kami”
“Persetan dengan igauanmu” geram orang itu, “sembilan orang yang terdahulu, atau bahkan lebih, aku bantai tanpa kesulitan. Seorang kawanku bahkan telah membunuh lebih dari dua puluh orang pengembara dan peminta-minta. Dengan demikian maka dalam waktu yang tidak terlalu lama Kediri akan bersih dari benalu-benalu”
“Jangan Ki Sanak. Aku mohon, “ Mahisa Murti hampir berteriak.
“Aku tahu. Kau berusaha untuk mendapat bantuan orang lain dengan berteriak-teriak begitu. Tetapi tidak ada gunanya anak muda. Seandainya ada orang yang mendengar dan datang untuk menolongmu, mereka akan segera meninggalkan tempat ini jika mereka melihat bahwa kau telah menjadi urusanku” berkata orang yang bertubuh tinggi besar itu.
Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang. Sementara itu orang bertubuh tinggi besar itu telah melangkah maju lagi, sehingga kedua anak itu terpaksa bergeser surut.
“Aku mohon jangan” minta Mahisa Murti, “kami berjanji untuk tidak menjadi benalu yang hanya dapat mengotori tanah ini. Aku akan bekerja. Dan kami berdua memang sedang mencari pekerjaan itu”
“Tidak ada gunanya anak-anak malas” jawab orang itu, “Kalian terpaksa aku singkirkan, jika aku tidak melakukannya, maka aku telah berkhianat terhadap sekelompok kawan-kawanku yang telah menentukan tekad bersama.
“Ki Sanak” berkata Mahisa Pukat, “Jika ada sekelompok orang yang berpendirian sama dengan Ki Sanak, aku mohon untuk dapat menghadap mereka bersama-sama. Biarlah mereka menilai, apakah orang-orang seperti kami berdua ini termasuk sampah yang harus dibuang, atau justru tenaga yang dapat dimanfaatkan oleh lingkungannya, karena aku tidak segan untuk bekerja apa saja asalkan kami berdua mampu melakukannya”
“Itulah persoalannya” jawab orang itu, “Kau akan melakukan pekerjaan yang kau mampu, tetapi kau tidak mampu berbuat apa-apa” wajah orang itu menjadi semakin garang. Lalu, “Karena itu, menyerah sajalah. Aku akan menghabisi nyawamu. Jika kau berusaha melarikan diri, apalagi melawan, maka kau tentu akan menyesal karena cara matimu akan sangat menyakitimu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja bergeser surut. Dengan nada ketakutan Mahisa Murti Berkata, “Tetapi kami masih ingin hidup. Kami masih ingin melihat matahari terbit. Kami masih ingin melihat hijaunya lembah dan lereng pegunungan”
“Persetan. Kalian harus mati” orang itu meloncat mendekat namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian berlari menjauh. Ketika orang itu berusaha mengejarnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun berlari semakin cepat dan semakin jauh.
“Orang itu mengejar kita” desis Mahisa Murti. Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi kedua anak muda itu berlari semakin cepat.
“Orang gila” geram Mahisa Pukat, “hampir saja aku kehilangan kesabaran. Aku ingin merendamnya ke dalam air yang berwarna kapur itu sampai ia menyesali perbuatannya”
“Tetapi rasa-rasanya orang itu tidak mengejar kita dengan sungguh-sungguh. Aku tidak melihatnya lagi” berkata Mahisa Murti.
“Tetapi nampaknya orang itu memang tidak dapat lari secepat kita. Mari kita tunggu” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih saja berlari meskipun sudah tidak terlalu cepat.
“Untuk apa kita menunggu? Jika orang itu benar-benar mengejar kita, apakah kita akan berbuat sesuatu?” bertanya Mahisa Murti.
Mahisa Pukat berpaling. Ia kemudian benar-benar berhenti sambil berkata, “Orang itu memang tidak mengejar kita”
Mahisa Murti pun kemudian berhenti juga. Namun orang bertubuh tinggi besar itu memang tidak mengejarnya.
“Satu lagi peristiwa yang menarik perhatian” berkata, “Mahisa Murti lalu, “Setelah kita melihat daerah ini menjadi mundur dan kemudian tingkah laku orang-orang berkuda itu, sekarang kita melihat satu lagi orang aneh”
“Apakah kau pikir ia berbuat sebagaimana dikatakannya” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku kira tidak. Iapun tidak mengejar kita” jawab Mahisa Murti.
“Jadi apa menurut dugaanmu?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku masih belum dapat menyebut apapun juga. Kita masih harus melihat perkembangannya lebih lanjut” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku berpendapat, justru kita akan tetap tinggal untuk sementara. Maksudku barang satu dua hari lagi. Mungkin kita akan dapat melihat sesuatu yang berguna bagi tugas kita” Mahisa Murti terdiam sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku sependapat. Kita akan tinggal disini untuk dua tiga hari lagi. Namun apabila terjadi satu perkembangan yang penting dan memaksa, kita akan segera melaporkan diri kepada orang yang pernah disebut oleh Singasari itu”
Demikianlah, keduanya justru telah tertarik kepada peristiwa yang mereka alami, sehingga mereka berniat untuk tetap tinggal”
Tetapi keduanya telah mengurungkan niat mereka untuk pergi ke sungai. Mereka kemudian mengambil jalan setapak untuk mencari tempat yang paling baik buat menyembunyikan diri, selama mereka akan beristirahat.
Namun demikian, pada saat matahari condong ke Barat, mereka telah bersepakat untuk melihat, apakah warung itu masih tetap terbuka.
“Marilah, kita pergi. Kita akan mendengar lagi ceritera yang barangkali menarik. Mungkin dapat kita pergunakan sebagai bahan berkeliaran malam nanti” ajak Mahisa Murti.
Mahisa Pukat pun mengiakannya. Tetapi mereka sadar, bahwa mereka harus berhati-hati. Orang bertubuh tinggi besar itu dapat mereka jumpai dimana saja. Bahkan mungkin orang itu berada di warung itu pula, sehingga keduanya tidak akan dapat menghindarinya lagi”
Demikianlah sejenak kemudian, kedua orang anak muda itu sudah berada lagi di persimpangan yang ramai itu. Tetapi pada menjelang sore hari, nampaknya tempat itu sudah menjadi semakin sepi, meskipun nampak ada beberapa pedati yang justru sedang memuat beberapa hasil bumi. Nampaknya masih saja ada orang yang saling menukarkan kebutuhan. Bahkan ada juga yang menukarkan dengan alat-alat pertanian, di samping sebagian dari mereka telah membeli kebutuhan-kebutuhan yang mereka perlukan.
Dalam pada itu ternyata warung itu masih tetap terbuka sebagaimana masih ada juga satu dua warung yang lainnya yang lebih besar. Tidak banyak orang yang berada di dalam warung-warung itu. Bahkan warung yang satu itu justru tidak ada pengunjungnya sama sekali.
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki warung itu, pemilik warung itu terkejut. Dengan serta merta bertanya, “Kau masih ada disini?”
“Ya” jawab Mahisa Murti, “Sebenarnya kami sudah ingin pergi. Tetapi perjalanan kami terhalang, sehingga terpaksa kami kembali lagi”
“Duduklah” pemilik warung itu mempersilahkan. Namun kemudian iapun bertanya, “kenapa terhalang?”
Sebenarnya kami telah meninggalkan tempat ini, “Mahisa Murti pula, “kami menuju ke arah sungai, karena kami akan mencuci pakaian kami pula. Baru kemudian kami akan pergi. Tetapi kami telah bertemu dengan seorang yang bertubuh tinggi besar dan menakutkan. Seperti seorang raksasa yang marah orang itu berusaha untuk menangkap kami dan membinasakan kami”
“Kenapa?” pemilik warung itu menjadi heran, “Bukankah kalian tidak berbuat apa-apa?
“Ya kami tidak berbuat apa-apa” jawab Mahisa Murti.
“Tetapi kenapa orang itu marah kepada kalian?” desak pemilik warung itu.
“Kami telah mengaku, bahwa kami adalah dua orang pengembara” Mahisa Pukat lah yang menjawab, “orang itu berpendirian sebagaimana kawan-kawannya bahwa semua orang pengembara harus dimusnahkan”
“Kenapa begitu?” bertanya pemilik warung itu.
“Aku tidak tahu latar belakang yang sebenarnya dari sikap mereka. Tetapi orang-orang seperti kami hanya akan mengotori dunia saja” jawab Mahisa Pukat.
Pemilik warung itu tertawa. Katanya, “Orang itu bermain-main. Ia tidak akan bersungguh-sungguh”
“Sikapnya bersungguh-sungguh” jawab Mahisa Pukat.
Pemilik warung itu mengerutkan keningnya. Lalu tiba-tiba saja ia berdesis, “apakah kau beranggapan bahwa orang itu benar-benar bersungguh-sungguh.
“Ya” jawab Mahisa Pukat.
Pemilik warung itu mengerutkan keningnya, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.
Namun tiba-tiba ia bertanya, “He, jika demikian, kenapa kalian tidak pergi saja dari sini? kalian agaknya telah mendapat kesempatan untuk terlepas dari tangannya. Tetapi kalian justru masih tetap berada disini”
Pertanyaan itu memang membingungkan kedua anak muda itu. Namun kemudian Mahisa Murti lah yang menjawab, “apakah orang itu pernah datang kemari?”
“Kenapa?” Bukankah setiap orang dapat saja datang ke tempat ini?” pemilik warung itu justru bertanya.
“Seandainya raksasa itu datang dan berusaha menangkap kami, apakah orang-orang yang ada di tempat ini tidak akan menolong kami dan mengusir raksasa itu?” bertanya Mahisa Murti pula.
Pemilik warung itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Raksasa itu memang pernah datang kemari. Tidak ada orang yang berani melawan orang yang bertubuh tinggi besar itu. Apalagi ia memang mempunyai beberapa kawan. Tetapi yang belum kami ketahui, bahwa orang itu berusaha untuk memusnahkan para pengembara seperti yang kalian lakukan”
“Tetapi orang itu tidak bergurau” desis Mahisa Pukat.
“Ya” pemilik warung itu mengangguk-angguk, “agaknya kau benar, “orang itu memang tidak sedang bergurau. Itulah agaknya maka setiap ada pengembara yang datang ke tempat ini, aku tidak pernah melihatnya lagi, kecuali kalian berdua. Apakah kalian memang beruntung bahwa kalian mampu melepaskan diri dari tangannya. He apakah kalian melawan?”
“Melawan?” Mahisa Murti mengulang, “bagaimana mungkin kami berani melawan. Kami hanya melarikan diri secepat-cepat dapat kami lakukan. Untunglah bahwa orang itu tidak berhasil menangkap kami”
“Beruntunglah kalian, sehingga kalian masih dapat datang ke warung ini” bertanya pemilik warung itu, “Jika demikian, maka cepat sajalah meninggalkan tempat ini. Mungkin orang itu akan datang lagi seperti yang pernah dilakukannya. Jika ia merasa kehilangan, maka mungkin ia akan mencarinya. Dan salah satu tempat yang dikenalnya adalah tempat ini.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat berkata, “Baiklah. Tetapi beri kami makan. Kami akan segera meninggalkan tempat ini”
“Apakah kau minta semangkok nasi?” bertanya pemilik warung itu.
“Tidak. Seperti tadi. Kami akan membayar” jawab Mahisa Pukat.
Pemilik warung itu mengerutkan keningnya, namun iapun kemudian mengangguk-angguk. Disiapkannya dua mangkuk nasi seperti yang diminta oleh kedua anak muda itu. Kedua anak muda yang menyebut diri mereka pengembara.
Sambil menyuapi mulutnya, Mahisa Murti masih juga bertanya, “Ki Sanak, apakah ada hubungannya antara raksasa yang akan membunuh orang-orang yang disebutnya tidak berguna itu dengan dua orang berkuda kemarin?”
“Aku tidak tahu anak muda. Tetapi menurut pendapatku, mereka mempunyai kepentingan yang berbeda. Kedua orang berkuda itu selalu berbicara tentang satu perjuangan sehingga mereka memerlukan dana dan peralatan yang cukup banyak, sedangkan raksasa itu hanya melakukan bagi diri mereka sendiri. Sekelompok orang yang mempunyai pendirian bahwa orang yang tidak memiliki arti bagi sesamanya dan bagi dunia sebaiknya dibinasakan saja. Orang-orang seperti itu hanya akan mempercepat habisnya persediaan makan di musim paceklik” jawab pemilik warung itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja terlontar pertanyaan Mahisa Pukat, “Ki Sanak. Apakah kira-kira yang terjadi jika raksasa itu bertemu dengan kedua orang berkuda itu? Bukankah keduanya memiliki kemampuan untuk berkelahi?”
Pemilik warung itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menggeleng, “Aku tidak tahu, apa kira-kira yang akan terjadi. Tetapi kedua belah pihak nampaknya memang belum pernah bertemu”
“Aku agak sangsi. Bukankah mereka telah berada di tempat ini untuk waktu yang lama? Baik kedua penunggang kuda itu, maupun raksasa yang akan membunuh para pengembara itu? Apakah mungkin keduanya justru pihak yang sama-sama ingin menentukan sikap tersendiri? Atau keduanya berusaha untuk menimbulkan ketakutan dan kegelisahan dilingkungan rakyat. kecil di padukuhan ini”
Sejak Mahisa Pukat.
Tetapi pemilik warung itu menggeleng. Katanya, “Menurut dugaanku, raksasa dan dua orang penunggang kuda itu berdiri di pihaknya masing-masing dengan kepentingannya masing-masing. Soalnya hanyalah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka saling bertemu disini? Mungkin kedua pihak menjadi saling menyegani sehingga kedua pihak tidak berbuat apa-apa dan tidak saling mengganggu. Tetapi entahlah. Aku tidak dapat membuat ramalan-ramalan seperti itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak bertanya lagi. Keduanya mulai menyuapi mulut mereka. Masakan di warung itu memang dapat memenuhi selera kedua anak muda pengembara itu, sehingga keduanya nampaknya makan dengan sangat lezatnya.
Namun demikian, keduanya merasa bahwa mereka tidak mendapat apa-apa yang baru dari pemilik warung itu. Agaknya pemilik warung itu terlalu berhati-hati, Ia tidak berani mengatakan sesuatu yang akan dapat membuat dirinya terjerat ke dalam kesulitan. Karena itu, lebih baik baginya untuk mengatakan tidak tahu apa-apa.
Ketika kedua anak muda itu sudah selesai, maka Mahisa Murti pun segera membayar harga makanan yang dimakannya bersama Mahisa Pukat. Kemudian keduanya minta diri untuk beristirahat.
“Dimana kalian beristirahat?” bertanya pemilik warung itu.
“Dimana saja” jawab Mahisa Murti, “kami adalah dua orang pengembara yang tidak mempunyai rumah tempat tinggal. Kami dapat tidur di sembarang tempat. Beratapkan langit dan berselimutkan mega”
“Tetapi kalian akan dapat menjadi kedinginan. Jika kalian tidak berkeberatan, kalian dapat tidur disini” berkata tukang warung itu.
“Disini dimana?” bertanya Mahisa Murti.
“Di warung ini” jawab pemilik warung itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun agaknya keduanya meraba sesuatu dengan firasatnya. Karena itu, meskipun tidak berjanji ternyata keduanya ingin untuk menerima tawaran itu.
Dalam pada itu, Mahisa Murti lah yang menjawab, “Apakah Ki Sanak bersungguh-sungguh?”
“Ya. Aku bersungguh-sungguh. Kau dapat tidur di dalam warung ini. Diatas dingklik itu. Sementara itu, kalian akan mendapat makan tanpa membeli lagi. Biasanya tentu ada sisa sedikit dari jualanku ini. Kita akan dapat makan bersama-sama menjelang malam. Jika kemudian aku pulang, kalian berdua dapat tidur di dingklik tempat kalian duduk itu. Bukankah lebih baik tidur di situ daripada tidur di pematang atau di padang perdu?”
“Terima kasih” jawab Mahisa Murti, “Tentu kami berdua tidak akan berkeberatan. Bahkan kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
“Jika demikian, kalian berdua tidak usah pergi dari sini. Duduk sajalah sambil menunggu matahari tenggelam” berkata pemilik warung itu.
“Tetapi jika raksasa itu kemari atau lewat jalan ini? Bukankah kau mengatakan, bahwa tidak ada seorang pun yang akan berani melawannya?” bertanya Mahisa Murti.
“Kau dapat bersembunyi di bawah gedeg bambu itu. Tetapi raksasa itu tentu tidak akan kemari. Ia memang jarang-jarang sekali datang ke tempat ini” berkata pemilik warung itu.
Ketika Mahisa Murti memandang Mahisa Pukat, maka Mahisa Pukat pun telah menganggukkan kepalanya sebagai isyarat.
Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian menyatakan kesediaannya mereka untuk bermalam di dalam warung itu.
“Kami sangat berterima kasih atas kesempatan ini” berkata Mahisa Murti kemudian.
“Nah, baiklah. Aku juga berterima kasih. Dengan demikian maka warungku ini tentu akan aman dimalam hari” berkata pemilik warung itu.
Demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akhirnya tidak beranjak dari warung itu. Masih ada satu dua orang yang memasuki warung itu dan makan sekedarnya. Tetapi seperti yang dikatakan oleh pemilik warung itu. bahwa akhirnya nasi yang dijualnya memang tidak habis.
Ketika matahari kemudian bersembunyi dibalik pegunungan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat kesempatan untuk makan bersama pemilik warung itu. Tetapi keduanya menolak karena mereka masih cukup kenyang.
Karena itu, maka pemilik warung itu berkata, “Baiklah. Jika kau tidak ingin makan sekarang, maka terserahlah. Kapan saja kau ingin makan. Aku tinggalkan nasi dan lauknya di gledeg itu. Tetapi ingat. Disini banyak tikus. Mungkin kalian tidak akan sempat makan, jika nasi dan lauknya telah lebih dahulu dimakan tikus”
“Kami akan menunggunya dengan baik” berkata Mahisa Murti.
“Baiklah. Aku akan pulang dahulu. Nanti malam, kau dapat tidur di dingklik itu” berkata pemilik warung itu.
Demikianlah, maka pemilik warung itu pun telah meninggalkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang dimintanya untuk menyelarak pintu dari dalam.
Ketika pemilik warung itu telah meninggalkan warungnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melihat-lihat isi dari warung itu. Sisa beberapa macam makanan telah dijadikan satu, dalam sebuah irig yang besar. Kemudian di dalam geledeg memang disediakan sisa nasi dan lauknya yang akan dapat dimakan oleh kedua anak muda itu.
Dalam pada itu, sebuah lampu minyak telah dinyalakan di dalam ruang yang tidak terlalu sempit itu. Sementara beberapa macam makanan dapat menjadi kawan berjaga-jaga.
Tetapi dalam pada itu Mahisa Pukat pun mulai membaringkan dirinya diatas dingklik bambu sambil bergumam, “udara terasa sangat pengap di dalam”
“Terasa cukup hangat dibanding dengan udara di padang perdu itu” jawab Mahisa Murti.
“Tentu” sahut Mahisa Pukat, “Tetapi rasa-rasanya kita disini justru terkurung di dalam satu ruang yang sempit yang tidak memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk bergerak”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Aku setuju. Rasanya kita memang seperti seekor ayam di dalam kurungan”
Keduanya pun terdiam sejenak. Mahisa Murti pun kemudian membaringkan diri pula di dingklik yang lain. Sejenak keduanya mengamati atap warung yang pendek itu.
Namun tiba-tiba Mahisa Pukat telah bangkit. Diambilnya sisa makanan yang tidak terjual yang ada di dalam irig yang besar. Kemudian ia duduk lagi diatas dingklik bambu sambil mengunyah makanan.
“Enak juga makanan di warung ini” berkata Mahisa Pukat, “kebetulan aku telah memungut sepotong jenang alot”
“Manis sekali” jawab Mahisa Murti.
“Jika kau ingin makanan yang gurih, ambil sajalah” berkata Mahisa Pukat kemudian, “besok makanan itu tentu hanya akan dibuang”
Mahisa Murti berdesis, “Aku akan tidur. Kau duduk sajalah di situ. Nanti kau dapat membangunkan. aku jika kau sudah mengantuk”
Mahisa Pukat mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Aku akan berjaga-jaga. Tetapi rasa-rasanya aku memang tidak akan dapat tidur di ruang sempit ini”
Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia mulai memejamkan matanya.
Tetapi sebenarnyalah, seperti Mahisa. Pukat, ia tidak dapat lelap, dalam kegelisahan. Memang rasa-rasanya ia berada di dalam sebuah kurungan. Setiap saat seseorang akan dapat datang untuk menangkap mereka dalam genggamannya.
Karena itu, maka tiba-tiba Mahisa Murti itu pun bangkit kembali sambil berkata, “Aku tidak akan dapat juga tidur. Rasa-rasanya kita memang berada dalam perangkap. Sengaja atau tidak sengaja”
“Apakah sebaiknya kita berada diluar?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku setuju. Kita akan tidur diluar. Di tempat yang tidak mudah dilihat dari arah manapun juga” jawab Mahisa Murti. Lalu katanya, “Kita dapat memanjat pohon mahoni”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Tetapi biarlah kita makan dahulu. Kita tentu tidak perlu tergesa-gesa. Seandainya benar kita berada di dalam perangkap, tentu lewat tengah malam kita akan ditangkap”
“Aku setuju. Marilah kita makan dahulu” jawab Mahisa Murti.
Demikianlah, maka keduanya pun telah makan nasi dan lauk yang memang ditinggalkan bagi mereka oleh pemilik warung itu. Namun yang tidak mereka lakukan sebagaimana yang dikehendaki oleh pemilik warung itu, setelah mereka makan sekenyang-kenyangnya, maka mereka pun justru telah meninggalkan warung itu dengan diam-diam. Meskipun susana sangat sepi dan tidak ada seorang pun yang nampak di sekitar tempat itu, namun kedua anak muda itu cukup berhati-hati.
Demikianlah, maka kedua orang anak muda itu pun benar-benar telah memanjat pohon mahoni. Dari salah satu dahan yang cukup besar mereka dapat melihat warung yang baru saja ditinggalkannya
“Sebenarnya aku lebih senang tidur di bawah daripada tidur diatas dahan seperti ini” desis Mahisa Pukat.
“Hati-hatilah, agar kau tidak jatuh dalam tiduran” berkata Mahisa Murti.
Tetapi sebagai pengembara, maka keduanya bukannya untuk pertama kali tidur diatas sebatang pohon. Karena itu. maka keduanya pun dapat menempatkan diri mereka sebaik-baiknya.
Seperti yang selalu mereka lakukan, maka mereka telah mengatur waktu mereka. Mahisa Pukat mendapat giliran untuk beristirahat lebih dahulu. Baru kemudian Mahisa Murti.
Demikianlah, keduanya duduk diam bertengger diatas dahan. Namun demikian, ada semacam ketegangan yang menyusup di dalam hati mereka. Keduanya seakan-akan telah mendapatkan satu firasat bahwa akan terjadi sesuatu pada warung yang ditinggalkannya.
Sampai tengah malam, tidak nampak terjadi sesuatu pada warung itu. Karena itu, maka sejenak kemudian Mahisa Pukat akan mendapat giliran untuk berjaga-jaga, sementara Mahisa Murti akan beristirahat sambil memeluk batang Mahoni itu.
Namun dalam pada itu, sebelum Mahisa Murti memejamkan matanya, tiba-tiba saja matanya justru terbuka lebar-lebar. Kedua anak muda itu telah mendengar desir langkah yang mendekat.
Mahisa Murti menggamit Mahisa Pukat sambil menunjuk ke satu arah. Mereka telah melihat dua orang yang berjalan dengan hati-hati mendekati warung itu. Yang seorang diantara mereka adalah orang yang bertubuh tinggi besar itu.
“Raksasa itu memang gila” geram Mahisa Murti di dalam hatinya.
Bahkan Mahisa Pukat berdesis, “Aku ingin memilih kumisnya”
“Sst” Mahisa Murti menempatkan jarinya di muka mulutnya.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya, sementara kedua orang itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan warung itu.
Dalam pada itu, kedua anak muda itu menjadi berdebar-debar ketika mereka kemudian melihat meskipun dalam keremangan malam, bahwa yang seorang lagi adalah justru pemilik warung itu sendiri. Wajah itu dapat mereka lihat, ketika orang itu dengan hati-hati mendorong pintu warung yang ternyata tidak diselarak dari dalam.
Wajah itu nampak berkerut. Namun kemudian menjadi tidak jelas bagi kedua anak muda itu. Tetapi mereka mendengar orang itu berkata, “Pintunya tidak diselarak dari dalam”
Dengan hati-hati keduanya kemudian memasuki warung itu, yang diterangi dengan lampu minyak. Sekaligus anak-anak muda itu melihat wajah-wajah itu lagi dibawah sorot minyak. Namun sejenak kemudian keduanya telah ditelan pintu warung kecil itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang. Sementara keduanya tidak tahu apa yang telah terjadi di dalam warung itu.
Namun sejenak kemudian keduanya telah keluar lagi dari warung itu. Dari atas dahan pohon mahoni keduanya mendengar pemilik warung itu berkata, “Aku sudah menduga, keduanya cukup cerdik”
“Jadi bagaimana pendapatmu?” bertanya orang bertubuh raksasa itu.
“Aku tidak tahu, untuk siapa keduanya bekerja. Tetapi aku kira keduanya bukan para pengikut Pangeran Kuda Permati” jawab pemilik warung itu.
“Apakah mungkin keduanya petugas langsung dari Kediri?” bertanya orang bertubuh raksasa itu.
“Entahlah. Tetapi jika mereka kau temui menyusuri jalan menuju ke sungai itu, mungkin mereka mempunyai kepentingan arah itu” berkata pemilik warung itu.
Orang bertubuh raksasa itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Kita tidak dapat menyebut apapun juga tentang keduanya. Masih ada kemungkinan keduanya pengikut Pangeran Kuda Permati. Tetapi mungkin pula keduanya adalah pengikut setia Pangeran Singa Narpada: Bahkan mungkin keduanya adalah petugas dari Singasari”
“Kita akan menunggu, apa yang akan mereka lakukan” berkata orang bertubuh raksasa itu.
“Tetapi kemungkinan bahwa mereka kembali ke warung ini sangat kecil” berkata pemilik warung itu.
“Lalu mereka akan kemana?” bertanya orang bertubuh raksasa
“Tentu saja kita tidak tahu. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi dengan anak-anak itu dan mendapat sedikit gambaran tentang kepentingan mereka” berkata pemilik warung itu.
Sejenak kedua orang itu masih termangu-mangu. Namun kemudian pintu warung itu pun telah ditutup tanpa diselarak baik dari luar maupun dari dalam.
Setelah kedua orang itu meninggalkan warung kecil itu. maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi keduanya masih tetap berhati-hati. Mungkin kedua orang itu masih belum meninggalkan tempat itu terlalu jauh. Bahkan mungkin kedua orang itu masih berusaha untuk menjebak kedua anak muda itu dari tempat yang tersembunyi.
Namun ternyata bahwa pemilik warung dan orang bertubuh raksasa itu pun telah meninggalkan warung itu tanpa menunggu lebih lama lagi Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kedua orang anak muda itu berada di tempat yang tidak jauh dari warung itu.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah meninggalkan tempat itu pula meskipun mereka tahu, bahwa kedua orang itu tidak akan datang lagi.
Namun agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengambil satu keputusan tersendiri.
“Kita harus segera sampai kepada orang yang disebut oleh Senopati Singasari di Talang Amba itu” berkata Mahisa Murti, “dengan demikian kita akan segera mendapat kepastian dengan siapa kita harus berhadapan. Tanpa mengetahui serba sedikit keadaan disini, maka mungkin kita justru akan terjebak tanpa dapat berbuat apa-apa”
“Baiklah kita melanjutkan perjalanan sekarang” berkata Mahisa Pukat” meskipun malam hari, aku kira kita akan dapat menemukan jalan sampai ke tempat yang ditunjuk tanpa banyak kesulitan. Bukankah tempatnya sudah tidak terlalu jauh lagi dari sini?”
“Tentu tidak. Menilik tempat ini dan sungai yang bertebing agak tinggi itu, maka kita sudah berada tidak jauh lagi dari tujuan” berkata Mahisa Murti.
Demikianlah keduanya kemudian telah meninggalkan tempat itu. Dalam kelamnya malam mereka menelusuri jalan menuju ke sungai sebagaimana pernah mereka tempuh. Tetapi di siang hari.
Dalam pada itu, kedua anak muda itu berjalan dengan cepat tanpa berprasangka apapun juga. Mereka ternyata kurang memperhatikan jalan yang akan mereka lalui. Selain mereka ingin cepat-cepat sampai, maka agaknya kekelaman malam memang ikut menentukan.
Karena itu, ketika mereka berbelok pada jalan yang menurun ke sungai yang dibatasi oleh dinding di sebelah menyebelah, maka keduanya terkejut. Bukan keduanya saja yang terkejut, tetapi seseorang yang duduk di pinggir jalan itu pun terkejut pula.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bergeser surut. Namun mereka menjadi berdebar-debar ketika orang itu kemudian berdiri. Ternyata orang itu adalah orang yang bertubuh tinggi besar yang baru saja mendatangi warung bersama pemiliknya itu.
“Gila” geram Mahisa Murti.
Namun dalam pada itu, ternyata orang bertubuh raksasa itu pun cepat bertindak. Ia pun telah siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Bahkan katanya kemudian dengan suara berat, “Kita telah bertemu lagi anak-anak. Kau kemarin berhasil lolos dari tanganku. Tetapi kau sekarang tidak akan mendapat kesempatan lagi”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun terpancar di wajah mereka satu tekad untuk berjalan terus. Mereka ingin sampai ketujuan pada saat yang cepat, karena ternyata daerah itu adalah daerah yang memiliki beribu kemungkinan di bawah pengamatan beribu pasang mata.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar