Rabu, 30 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 024-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 024-03*

Kedua orang itu tidak terbiasa mempergunakan tenaga cadangan yang ada di dalam diri mereka untuk mengungkit ketajaman pengamatan jiwani atas sasaran yang berada dibalik tirai kewadagan. Tetapi kedua percaya sepenuhnya, bahwa mereka akan mampu melakukannya. Mereka pernah mencapai tataran tertinggi dari laku mereka tempuh untuk menyerap kekuatan puncak dari ilmu masing-masing, sehingga dengan demikian mereka seakan-akan telah mampu membuka pintu jiwani sebagaimana pernah mereka lakukan. Namun untuk kepentingan yang berbeda.

Tetapi ternyata bahwa keduanya benar-benar orang yang mampu menguasai diri mereka lahir dan batin. Ketika saat-saat puncak pengamatan mereka sampai pada batas penglihatan batin, maka rasa-rasanya mereka tidak lagi berhubungan dengan wadag mereka yang masih duduk tepekur dibawah pengawasan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dua orang anak muda yang juga pernah mengalami satu laku untuk menyerap puncak ilmu mereka. Tetapi keduanya tidak berani melakukannya, karena mereka harus menjaga kedua wadag yang sedang mesu diri memasuki batas kekuatan penglihatan jiwani.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mengawasi tubuh-tubuh yang duduk diam itu menjadi berdebar-debar. Mereka melihat tubuh-tubuh itu bagaikan gemetar. Dalam ujud kewadagan mereka melihat kedua sosok tubuh itu bagaikan terhimpit oleh kekuatan yang tidak kasat mata. Namun kemudian keduanya mampu mengatasi sesak nafas mereka, sehingga pernafasan mereka seakan-akan sama sekali tidak terganggu.

Dalam pada itu, ternyata kedua orang yang memiliki kemampuan ilmu yang tinggi itu, akhirnya berhasil mempergunakan penglihatan batin mereka untuk menangkap satu getaran yang memancar dari sebuah benda yang dianggap memiliki kekuatan yang mampu dihuni oleh wahyu keraton.

Dalam rabaan penglihatan batin mereka, maka mereka melihat cahaya yang berwarna kebiru-biruan seakan-akan memancar naik sampai ke langit. Tidak terlalu besar dan terang. Hanya sebesar jari.

Kedua orang itu untuk beberapa saat berada dalam keadaannya. Namun kemudian, mereka pun mulai melepaskan diri dari pengamatan batin mereka dan kembali memasuki dunia kewadagan, meskipun tidak tepat bersamaan waktunya.

Demikian mereka kembali dalam kesadaran kewadagan, maka mereka pun merasakan betapa tubuh mereka menjadi sangat letih. Keringat mereka mengalir di seluruh tubuh membasahi pakaian mereka.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata, “Tentu Panembahan Bajang tidak memerlukan laku seperti ini.”

“Ya,” jawab Mahisa Bungalan, “Kita belum terbiasa melakukannya. Karena itu, maka kita mengalami sedikit kesulitan. Kita harus mengarahkan segenap kemampuan yang ada didalam diri kita. Namun akhirnya kita berhasil. Justru dengan pengalaman ini kita akan dapat berbuat lebih banyak lagi dengan penglihatan batin kita.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang bergeser mendekat, ingin mengetahui, apa yang telah mereka lihat, sehingga karena itu, maka Mahisa Murti pun bertanya, “Apa yang nampak olehmu kakang?”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Aku melihat sesuatu yang dapat menjadi petunjuk. Mudah-mudahan Pangeran Singa Narpada juga melihatnya. Cahaya yang memancar naik ke udara, tegak sebesar jari berwarna kebiru-biruan. Tidak terlalu terang, tetapi cukup meyakinkan, bahwa cahaya itu memiliki getar kewibawaan sehingga memang sewajarnya jika Panembahan Bajang menyebutnya sebagai teja dari benda yang keramat.”

“Apakah benda itu yang kita cari,” bertanya Mahisa Pukat.

“Aku belum dapat mengatakannya,” jawab Mahisa Bungalan. “Tetapi mungkin Pangeran Singa Narpada dapat menyebutkannya.”

Tetapi Pangeran Singa Narpada pun menggeleng sambil menyahut, “Aku tidak dapat mengatakan sesuatu kecuali sebagaimana kau katakan. Yang aku lihat tidak lebih dari yang kau lihat. Tetapi kita dapat mengurai hasil penglihatan kita dengan perhitungan-perhitungan.”

“Bagaimana menurut perhitungan Pangeran tentang hasil penglihatan kita?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Apakah ada benda keramat yang lain yang hilang dari gedung perbendaharaan? Jika demikian, kita dapat mempertanyakan, benda yang manakah yang kita lihat itu.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Menurut jalan pikiran itu, maka tidak ada lain yang kita lihat cahaya tejanya itu adalah benda yang kita cari.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Kemungkinan yang paling besar.”

“Jika demikian, maka kemungkinan yang paling besar pula adalah bahwa Pangeran Lembu Sabdata ada disini pula. Setidak-tidaknya tempatnya diketahui oleh Ki Ajar dan Penembahan Bajang,” berkata Pengeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Kemudian katanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Nah, adalah kewajiban kalian untuk melihat-lihat padepokan ini sebagaimana sudah kalian mulai. Kalian harus berusaha untuk melihat bahwa Pangeran Lembu Sabdata ada disini.”

“Jika menurut keyakinan kita memang demikian maka kenapa kita tidak memasuki saja padepokan itu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita tidak tahu pasti, apakah Pangeran Lembu Sabdata memang berada di padepokan ini atau tidak. Baru setelah kita yakin kita akan bertindak,” jawab Mahisa Bungalan.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Mahisa Bungalan. Jika Pangeran Lembu Sabdata tidak berada di padepokan itu, maka mungkin sekali ia justru melarikan diri ke tempat yang lebih sulit lagi untuk dicapai.

Dengan demikian ia akan tetap menjadi api didalam sekam, yang setiap saat akan dapat membakar seluruh lumbung.

Karena itu, maka jalan yang akan mereka tempuh adalah memastikan, apakah Pangeran Lembu Sabdata ada di padepokan itu.

“Kita akan mengawasi padepokan itu untuk waktu yang mungkin cukup lama,” berkata Mahisa Murti.

“Mungkin. Tetapi bukanlah kita tidak tergesa-gesa?” bertanya Mahisa Bungalan.

Kedua adiknya mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa tugas itu adalah tugas mereka.

Dengan demikian, maka keempat orang itupun segera meninggalkan padepokan yang sepi itu. Mereka merasa semakin dekat dengan sasaran perjalanan mereka. Bahkan mereka sudah setengah memastikan, bahwa yang mereka cari memang berada di padepokan itu. Namun tanpa keyakinan, maka mereka masih mungkin akan gagal.

Malam itu, sebagaimana malam-malam sebelumnya, keempat orang itu sempat beristirahat, meskipun tidak terlalu lama. Bergantian mereka mengambil keadaan, karena bagaimanapun juga mereka harus berhati-hati.

Ketika cahaya pagi mulai membayang, maka mereka pun telah terbangun dan bersiap-siap, terutama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka telah mandi di sungai kecil yang mengalir dekat tempat mereka tinggal untuk beberapa saat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan pergi ke tempat-tempat yang banyak dikunjungi orang. Pasar-pasar atau warung-warung dan kedai-kedai. Mungkin mereka akan bertemu dengan Pangeran Lembu Sabdata yang membeli sesuatu bagi padepokan itu atau bagi dirinya sendiri, atau mungkin keperluan-keperluan lain.

“Aku kira Pangeran Lembu Sabdata tidak akan berada di pasar membeli keperluan sehari-hari. Tentu para cantrik yang akan melakukannya,” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Tetapi mungkin Pangeran Lembu Sabdata akan membeli alat-alat pertanian di pande-pande besi atau mungkin berbuat apa saja di pasar. Aku kira ia tidak akan selalu mengurung diri di padepokan. Apalagi Pangeran Lembu Sabdata tentu tidak akan mengira bahwa kita akan berada disini,” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Mahisa Pukat. Namun untuk dapat melihat langsung kehadiran Pangeran Lembu Sabdata di padepokan itu tentu memerlukan waktu.

Namun mereka harus berbuat. Kapan pun tugas itu dapat mereka selesaikan, namun mereka memang harus segera memulainya.

Setelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selesai berkemas dan berbenah diri lahir dan batin, maka mereka pun segera meninggalkan tempat tinggal mereka di celah-celah perbukitan itu, menuju ke padukuhan.

Sebagaimana yang mereka rencanakan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk dapat bertemu dengan Pangeran Lembu Sabdata di tempat-tempat orang banyak berkumpul. Yang menjadi sasaran pengamatan mereka adalah pande-pande besi yang berada di sudut-sudut pasar. Mungkin Pangeran Lembu Sabdata dengan seorang dua orang cantrik memerlukan alat-alat pertanian atau alat-alat besi yang lain bagi padepokan mereka.

Namun di hari itu, keduanya sama sekali tidak melihat seseorang yang dapat mereka hubungkan dengan Pangeran Lembu Sabdata.

Namun demikian, mereka telah bertemu dengan seorang cantrik dari padepokan Ki Ajar karena ciri-ciri pakaian yang mereka kenali sebagaimana mereka lihat di depan regol padepokan.

“Ternyata mereka mengenakan pakaian seperti itu dimanapun mereka berada,” berkata Mahisa Pukat ketika mereka berpapasan dengan cantrik itu.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Meskipun mereka belum bertemu dengan Pangeran Lembu Sabdata, namun mereka mengetahui dengan pasti, bahwa orang-orang padepokan yang meskipun agak terpencil, namun mempunyai hubungan dengan orang-orang di padukuhan-padukuhan di sekitarnya.

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin bersungguh-sungguh untuk menemukan Pangeran Lembu Sabdata apabila ia berada di padepokan itu.

Namun akhirnya kedua orang itu telah berusaha mengamati lingkungan yang lebih luas. Bukan saja di tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang. Tetapi pada saat-saat tertentu mereka telah mengamati pintu gerbang padepokan itu.

Demikianlah tugas itu mereka lakukan dari hari ke hari. Tanpa mengenal lelah dan kejemuan. Bahkan mereka telah didorong oleh satu harapan untuk dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik.

“Kita harus menunjukkan bahwa kepergian kita bersama dengan Pangeran Singa Narpada dan kakang Mahisa Bungalan , bukan sekedar karena kita ingin mengikutinya saja. Tetapi kita ternyata mampu berbuat sesuatu, sehingga kepergian kita bukanlah sia-sia berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Iapun ingin menunjukkan, bahwa mereka mampu melakukan sesuatu sebagaimana dilakukan oleh orang-orang dewasa. Tidak sebagai anak-anak yang sekedar ingin ikut tanpa memberikan arti apapun juga.

Demikianlah keduanya telah berbuat dengan penuh kemauan untuk menemukan Pangeran Lembu Sabdata.

Dengan kekerasan tekad itulah, maka keduanya ternyata tidak mengenal kejemuan. Dari gumuk kecil mereka melihat Panembahan Bajang keluar dari regol padepokan bersama Ki Ajar. Tetapi tidak lama. Keduanya pun segera Kembali memasuki padepokan mereka.

Namun pada kesempatan yang lain, keduanya telah melihat dua orang yang berdiri di regol itu. Seorang cantrik keluar mendahuluinya dan pergi menuju ke kebun di sebelah padepokan itu.

Jantung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Dua orang yang didahului oleh cantrik itu ternyata diikuti oleh dua orang cantrik yang lain.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengamati mereka dengan jantung yang berdebar-debar. Dua orang cantrik yang di belakang membawa masing-masing sebuah bakul. Agaknya mereka akan mengambil beberapa batang ketela pohon dari petegalan di sebelah padepokan itu.

Sebenarnyalah, mereka telah mencabut beberapa batang ketela pohon yang berakar lebat, yang kemudian mereka masukkan ke dalam bakul yang dibawa oleh dua orang cantrik.

“Satu usaha untuk mengatasi kejemuan,” berkata Mahisa Murti.

“Siapa? Kita?” bertanya Mahisa Pukat.

“Bukan. Kedua orang itu tentu bukan cantrik-cantrik. Mereka berusaha mengisi kejemuan tinggal di padepokan tanpa berbuat sesuatu selain berada di sanggar. Agaknya mereka adalah murid-murid terpilih dari Ki Ajar.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Diperhatikannya kedua orang yang sedang sibuk bekerja dengan para cantrik, mencabuti batang ketela pohon di pategalan, diluar dinding halaman padepokan.

Ternyata ketela pohon itu menghasilkan akar yang lebat dan besar, sehingga beberapa batang saja, kedua bakul itu telah penuh. Untuk beberapa saat kedua orang itu dengan ketiga orang cantrik yang bersamanya, sempat mengamati pohon-pohon ketela di pategalan itu. Bahkan mereka sempat melintasi beberapa bujur pematang mencapai pategalan yang ditanami batang-batang ketimun. Mereka sempat memetik beberapa buah ketimun yang masih muda dan alangkah segarnya ketika mereka mengunyah ketimun-ketimun itu, sambil berjalan kembali ke padepokan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menelan ludahnya. Bahkan Mahisa Pukat pun bergumam, “Aku akan memetik ketimun itu juga nanti.”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Nanti malam kita mencuri ketimun.”

“Ah, kenapa nanti malam? Mumpung matahari terik. Alangkah segarnya,” jawab Mahisa Pukat.

“Tetapi kau akan segera diburu oleh para cantrik karena kau mencuri ketimun,” berkata Mahisa Murti kemudian.

“Aku kira mereka tidak akan memburu seseorang yang mencuri ketimun. Mereka tentu akan berbaik hati dengan memberikan berapa saja ketimun yang dibutuhkan oleh seseorang yang kehausan,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti tertawa. Namun tiba-tiba saja ia mengerutkan keningnya. Orang-orang dari padepokan itu telah berjalan mendekati regol halaman padepokannya. Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat melihat lebih jelas lagi ke arah orang-orang itu.

Sambil mengusap dahinya Mahisa Murti pun berkata, “Rasa-rasanya aku pernah melihat salah seorang dari kedua orang itu.”

“Yang mana?” bertanya Mahisa Pukat.

“Yang berjambang, berkumis, dan berjenggot. Wajahnya nampak menyeramkan. Tetapi tingkah lakunya tidak menunjukkan watak sebagaimana yang nampak pada wajahnya itu,” berkata Mahisa Murti.

Kedua orang anak muda itupun kemudian mengerahkan segenap kemampuannya pada ketajaman penglihatannya. Meskipun mereka tidak memiliki ilmu Sapta Pandulu, tetapi mereka mampu serba sedikit mempertajam penglihatan mereka.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Murti berdesis, “Pukat. Cobalah kau membayangkan, bagaimanakah rupanya orang itu jika jambang, kumis dan janggutnya dihilangkan.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Sejenak ia memusatkan perhatiannya kepada wajah itu dan dengan ketajaman angan-angannya ia melihat wajah itu seakan-akan tidak berjambang, berkumis dan berjenggot. Dengan kemampuan tanggapannya atas ujud yang direkanya, maka tiba-tiba saja ia berdesis, “Pangeran Lembu Sabdata.”

“Kau masih mengenalinya meskipun kita belum mengenalinya dengan akrab?” bertanya Mahisa Murti.

“Tidak salah lagi. Aku masih yakin akan kekuatan ingatanku atas sasaran penglihatanku, apalagi yang sangat menarik perhatian seperti Pangeran Lembu Sabdata. Meskipun ia menyamar wajahnya dan mengenakan pakaian padepokan, namun aku yakin, bahwa orang itu adalah Pangeran Lembu Sabdata,” jawab Mahisa Pukat.

“Kau yakin, atau sekedar karena kau dipengaruhi oleh penglihatan Pangeran Singa Narpada dan kakang Mahisa Bungalan atas teja yang katanya memancar dari padepokan itu. Sehingga menurut perhitunganmu, jika benda keramat yang hilang itu berada di padepokan itu, maka Pangeran Lembu Sabdata pun tentu berada di padepokan itu pula,” berkata Mahisa Murti.

“Tidak. Aku yakin,” jawab Mahisa Pukat. Lalu iapun bertanya, “Tetapi bagaimana pendapatmu sendiri?”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku sependapat Aku ingin menyesuaikan pendapatku dengan pendapatmu.”

“Nah, jika demikian, maka semuanya sudah pasti. Di padepokan itu terdapat Ki Ajar Bomantara, Panembahan Bajang, benda yang dikeramatkan dan memancarkan teja itu dan Pangeran Lembu Sabdata,” berkata Mahisa Pukat.

“Ya,” desis Mahisa Murti, “Sesudah sekian lama kita disiksa di lingkungan padukuhan di sekitar padepokan dan di gumuk kecil ini, akhirnya kita melihat Pangeran Lembu Sabdata. Agaknya orang itu pernah kita lihat satu dua kali sebelumnya di jalan-jalan yang ramai, tetapi kita tidak menghiraukannya.”

“Tidak. Aku merasa belum pernah melihatnya,” jawab Mahisa Pukat, “Bahkan seandainya kita pernah berpapasan, maka tentu orang itu akan mengenali kita pula.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Meskipun demikian kita harus mengatakan kepada Pangeran Singa Narpada dan kakang Mahisa Bungalan, bahwa yang kita lihat adalah orang berjambang, berkumis dan berjenggot.”

“Apakah kau ingin mereka menunggu juga sampai pada suatu saat mereka keluar dari regol? Sampai pada suatu saat mereka melihat sendiri?” bertanya Mahisa Pukat.

Mahisa Murti termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Pukat berkata selanjutnya, “Jika demikian, sampai kapan kita harus menunggu. Belum tentu sepekan lagi orang itu keluar dari padepokan.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita memerlukan pertimbangan Pangeran Singa Narpada dan kakang Mahisa Bungalan.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah, kita menemui mereka.”

Kedua orang itupun kemudian, meninggalkan tempatnya dan kembali ke tempat mereka tinggal untuk sementara disela-sela bebatuan di bukit.

Ketika apa yang telah dilihat oleh kedua orang anak muda itu disampaikan kepada Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan, maka keduanya benar-benar terkejut. Meskipun mereka memang berharap sejak semula untuk menemukan Pangeran Lembu Sabdata di tempat itu, namun ketika kedua anak muda itu benar-benar melaporkan maka rasa-rasanya jantung mereka berdetak semakin cepat. Dengan nada dalam Pangeran Singa Narpada bertanya, “Apakah kalian yakin bahwa orang itu adalah Lembu Sabdata?”

“Kami yakin,” jawab Mahisa Murti.

Pengeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Namun demikian kepada Mahisa Bungalan ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagaimana jika kita berusaha untuk membuktikannya?”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk.

Tetapi dalam pada itu, Mahisa Pukat lah yang menyahut, “Jika demikian, sampai berapa hari lagi kita harus menunggu. Apakah dalam waktu sepekan dua pekan Pangeran Lembu Sabdata itu akan keluar dari padepokan?”

“Ah, ia tentu sering keluar dari padepokan,” jawab Mahisa Bungalan.

“Tetapi baru kali ini kami menjumpainya setelah beberapa lama kami mengadakan pengamatan,” jawab Mahisa Pukat.

“Tetapi kau tidak selalu berada di gumuk itu. Kau justru berpindah-pindah,” jawab Mahisa Bungalan, “Jika kita tekun berada di gumuk itu, maka dalam satu dua hari, kita melihatnya keluar dari padepokan untuk satu keperluan.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun bertanya, “Kakang akan pergi juga ke gumuk itu?”

“Ya. Kita semuanya akan pergi ke gumuk itu sampai saatnya kita benar-benar yakin bahwa yang kalian lihat itu adalah Pangeran Lembu Sabdata,” jawab Mahisa Bungalan.

Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun Mahisa Murti lah yang kemudian berkata, “Tetapi di gumuk itu banyak sekali terdapat binatang berbisa. Kami telah mendapatkan kesempatan untuk memiliki benda-benda penangkal racun dan bisa.”

Pangeran Singa Narpada tersenyum. Katanya, “Kami memang tidak memilikinya. Tetapi kami mempunyai obatnya untuk menolak bisa dan racun. Jika kami menelannya sebelumnya, maka untuk jangka waktu tertentu, kami pun akan terbebas dari gigitan racun dan bisa.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun keduanya tidak dapat mengelak. Baik Pangeran Singa Narpada maupun Mahisa Bungalan agaknya condong untuk lebih dahulu membuktikan bahwa orang berjambang, berkumis dan berjanggut itu benar-benar Pangeran Lembu Sabdata.

“Kita tidak boleh salah langkah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “lebih baik agak lambat daripada gagal sama sekali. Seperti yang sudah beberapa kali aku katakan. Jika kita kali ini gagal, dan kemudian didengar oleh Pangeran Lembu Sabdata, maka ia akan bersembunyi di tempat yang lebih sulit untuk dicari.

“Jika Pangeran Lembu Sabdata tidak berada di tempat ini?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita memang masih harus mencari,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Tetapi ia tidak akan berpindah ¡pindah tempat sehingga menurut pertimbanganku, agaknya lebih baik daripada jika ia menyadari, bahwa ia sedang dicari. Seandainya ia sudah merasa aman untuk berada di satu tempat, maka ia akan berusaha untuk berada di tempat yang lebih tersembunyi.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapat mengangguk-angguk saja. Sehingga sebenarnyalah seperti yang direncanakan, maka di hari berikutnya Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada telah ikut pula berada di gumuk kecil yang tidak pernah didatangi orang, namun banyak sekali dihuni oleh binatang-binatang berbisa termasuk beberapa jenis ular.

Sebagaimana diduga oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka tidak setiap saat mereka akan dapat melihat orang yang berjambang, berkumis dan berjanggut itu. Sehari mereka berada di gumuk itu. Namun orang yang mereka tunggu benar-benar tidak keluar dari regol. Demikian pula pada hari kedua.

Namun pada hari ketiga, dalam kejemuan yang mulai mencengkam Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, mereka telah melihat orang yang berjambang, berkumis dan berjanggut itu. Pangeran Singa Narpada yang memperhatikan orang itu dengan mata tanpa berkedip akhirnya berkata, “Ya. Orang itu adalah Adimas Lembu Sabdata. Jambang, kumis dan janggut itu membuatnya nampak jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.”

Untuk beberapa saat lamanya keempat orang itu justru terdiam. Mereka mengamati tingkah laku Pangeran Lembu Sabdata. Sebagaimana yang pernah dilihat oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Pangeran Lembu Sabdata telah pergi ke pategalan. Namun ia tidak terlalu lama berada di pategalan itu. Beberapa saat kemudian, Pangeran Lembu Sabdata telah masuk ke dalam padepokannya.

“Ia lebih banyak berada didalam padepokan,” berkata Pangeran Singa Narpada yang tidak mengetahuinya, bahwa dengan penyamarannya Pangeran Lembu Sabdata telah pernah memasuki Kota Raja Kediri.

Namun dengan demikian, maka keempat orang itu akan dapat mengambil sikap yang lebih mantap.

Beberapa saat mereka berempat masih tetap berada di gumuk kecil.itu. Mereka menunggu apabila masih ada perkembangan yang akan terjadi. Namun ternyata padepokan itu nampaknya menjadi sepi-sepi saja.

“Marilah, kita kembali,” desis Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Merekapun kemudian berempat meninggalkan gumuk itu, menelusuri sungai dan hilang dikelokan. Keempat orang itu semakin menjadi semakin jauh dari padepokan Ki Ajar.

Ketika mereka telah berada di tempat mereka tinggal untuk sementara, maka mereka mulai berbicara tentang padepokan itu.

“Yang kita cari agaknya berada di padepokan itu,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Ya. Sementara itu Ki Ajar dan Panembahan Bajang serta Pangeran Singa Narpada sendiri belum mengambil langkah-langkah yang menunjukkan bahwa mereka akan mengulangi perlawanan Pangeran Kuda Permati,” berkata Mahisa Bungalan.

“Mereka tentu lebih berhati-hati. Bukankah yang dilakukan Ki Ajar selama ini cukup meyakinkan?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Iapun mendengar bahwa Ki Ajar bertindak dengan penuh perhitungan dan pertimbangan. Ia mengambil Pengeran Lembu Sabdata pada saat-saat Kediri telah menjadi lengah. Hilangnya Pangeran Lembu Sabdata membuat Kediri kembali bergejolak. Sementara itu Ki Ajar tidak berbuat apa-apa untuk waktu yang lama. Baru kemudian, setelah Kediri kembali terlena, terjadi pula kegemparan karena sebuah benda yang dikeramatkan telah hilang. Dengan nada rendah Mahisa Bungalan pun kemudian bergumam. “Ki Ajar melangkah dengan perhitungan yang sangat cermat. Meskipun terasa lambat.”

“Justru pada ketelatenan Ki Ajar untuk merayap dengan lambat itulah letak kekuatan rencana Ki Ajar. Pada saat-saat lawannya menjadi lengah, maka ia mulai melangkah,” sahut Pangeran Singa Narpada, “Agaknya iapun akan berbuat seperti itu pula nanti. Pada saat Kediri masih dipanaskan oleh hilangnya pusaka itu, Ki Ajar sama sekali tidak bergerak. Baru kemudian, setelah hal itu dilupakan oleh Kediri, dan apabila orang-orang Kediri merasa bahwa kehilangan itu tidak berpengaruh, barulah Ki Ajar melangkah. Ia mempergunakan Pangeran Lembu Sabdata sebagaimana Pangeran Kuda Permati. Tetapi tentu dengan lebih cermat. Jika wahyu keraton benar berada di benda yang berada di padepokan itu, sementara darah keturunan keraton ada pula disini, maka tahta Kediri benar-benar akan beralih.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Kedua-duanya harus kita ambil.”

“Ya. Tetapi kita harus menyadari, bahwa dibalik dinding padepokan terdapat Ki Ajar, Panembahan Bajang dan setidak-tidaknya Pangeran Lembu Sabdata yang tentu sudah ditempa menjadi seorang yang pilih tanding. Mungkin ada satu dua murid Ki Ajar yang sudah mencapai tataran tertinggi sehingga memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan Pangeran? Apakah kita harus kembali dan mencari dukungan kekuatan untuk memasuki padepokan itu?” bertanya Mahisa Bungalan.

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika kita tempuh cara yang demikian maka kita mungkin akan terlambat.”

“Ya,” tiba-tiba saja Mahisa Pukat menyahut, “Kita harus bertindak cepat. Memang mungkin kita akan menemui kesulitan. Tetapi kita harus berusaha untuk mengatasinya.”

“Kita tidak mempunyai banyak waktu,” berkata Mahisa Murti, “Apakah kita yakin bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak akan berpindah tempat, atau bahkan pusaka itu akan dipindahkannya ke tempat yang lain?”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian. Namun kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita mampu untuk menembus memasuki padepokan itu dan menangkap Pangeran Lembu Sabdata, sekaligus menemukan kembali pusaka yang tersembunyi di padepokan itu?”

Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun katanya, “Tidak ada alat yang dapat untuk menjajagi. Kita harus melakukannya sekali dan berhasil atau gagal sama sekali. Mungkin buruan kita terlepas. Tetapi mungkin nyawa kitalah yang terlepas.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya. “Malam ini kita masih sempat merenungkan apakah yang sebaiknya kita lakukan. Besok kita akan mengambil keputusan.”

“Kita tidur dengan nyenyak,” desis Mahisa Pukat, “Mungkin mimpi kita dapat memberi petunjuk.”

“Ah kau,” desis Mahisa Bungalan, “Namun dengan ketenangan berpikir kita akan mendapatkan jalan yang paling baik.”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi baginya semakin cepat semakin baik. Apapun yang terjadi atas mereka. Namun kesempatan itu tidak boleh mereka lewatkan.

Mahisa Pukat menyadari bahwa di padepokan itu ada Ki Ajar dan Panembahan Bajang. Tetapi Pangeran Singa Narpada yang memiliki ilmu dan pengalaman yang luas, serta kakaknya Mahisa Bungalan yang selain pengalaman juga telah mencapai tataran puncak ilmu pamannya Mahisa Agni yang nggegirisi akan merupakan tandingan dari Ki Ajar dan Panembahan Bajang.

Namun demikian, segala sesuatunya terserah kepada Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada, Tetapi menilik gelagatnya, maka keduanya pun akan mengambil sikap sebagaimana diinginkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikianlah, maka malam yang kemudian turun, merupakan malam yang terasa sangat panjang oleh angan-angan.

Tetapi ternyata keempat orang itu tidak melihat cara yang lain yang sebaiknya ditempuh daripada memasuki padepokan itu apapun yang terjadi. Jika mereka segera melakukannya, mungkin terjadi perubahan yang dapat menggagalkan semua usaha yang sudah dirintis sekian lamanya.

Meskipun demikian menyadari, bahwa kemungkinan gagal pada usaha yang akan mereka lakukan itupun tetap ada. Jika isi padepokan itu ternyata memiliki kekuatan yang lebih besar dari kekuatan mereka berempat, maka usaha mereka bukan saja akan gagal, tetapi mereka tidak akan sempat lagi keluar dari padepokan itu.

Tetapi jika memang harus terjadi demikian, maka mereka tidak akan dapat ingkar. Itu adalah akibat dari satu perjuangan bagi tegaknya Kediri dalam hubungan sebagaimana sedang berlaku dengan Singasari.

Karena itu, ketika malam hari perlahan-lahan tersingkap oleh cahaya fajar, keempat orang itu telah menemukan ketetapan didalam hati masing-masing.

Setelah membenahi diri, maka keempat orang itu telah mengadakan pembicaraan yang mendalam tentang rencana mereka menghadapi Ki Ajar, Panembahan Bajang, dan orang-orang yang berada di padepokan itu.

“Kita tidak tahu apa yang ada didalam padepokan itu,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Tetapi kita pun tidak boleh tenggelam ke dalam ketidak tahuan itu.”

“Kami mengerti,” jawab Mahisa Bungalan, “itu akan meloncat ke dalam kegelapan. Mudah-mudahan kita tidak masuk ke dalam mulut harimau yang kelaparan.”

“Tetapi bukan tidak berperhitungan,” tiba-tiba saja Mahisa Pukat memotong. “Tetapi bukan maksudku untuk menyombongkan diri. Jika kita memasuki padepokan itu, kita yakin bahwa kita sudah membekali diri. Jika dengan demikian kita harus dihancurkan oleh isi padepokan itu, maka kita memang bernasib buruk.”

Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kita bersama-sama telah bertekad untuk memasuki padepokan itu. Dan kita sudah bersiap sejauh dapat kita lakukan. Beruntunglah kami karena kalian berdua mengikut kami.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun dengan demikian mereka merasa bahwa mereka benar-benar mendapat kepercayaan sebagai orang-orang yang telah dewasa. Mereka akan menghadapi tugas yang sangat berat.

“Tetapi kita tidak akan memasuki padepokan itu hari ini,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Kenapa?” Mahisa Pukat menjadi heran.

“Hari ini kita mempersiapkan diri lahir dan batin. Besok sebelum fajar kita akan memasuki padepokan itu dan bertindak sesuai dengan rencana. Aku akan mencoba menghadapi Ki Ajar Bomantara. Mahisa Bungalan akan berusaha untuk mengimbangi kemampuan Panembahan Bajang. Salah seorang diantara kalian berdua harus menghadapi Pangeran Lembu Sabdata, sementara itu yang lain akan mengamati keadaan. Mungkin ada diantara para cantrik yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga cantrik itu harus mendapat perhatian secara khusus.”

Demikian hari itu keempat orang itu telah mempersiapkan diri lahir dan batin. Mereka berusaha untuk berada dalam puncak kemampuannya, sehingga pada saatnya mereka tidak akan merasa kecewa.

Namun hari itu terasa sangat panjang. Mereka merasa seakan-akan matahari memang beredar dengan sangat malasnya.

Tetapi akhirnya malam pun turun. Tempat keempat orang itu tinggal untuk sementara, lelah diselubungi oleh kegelapan, sehingga dengan demikian maka keempat orang itupun menempatkan dirinya di pembaringan yang telah mereka siapkan. Namun sebagaimana biasa, salah seorang diantara mereka harus tetap jaga untuk mengamati keadaan berganti-ganti.

Saat yang mereka tunggu-tunggu itupun akhirnya tiba juga. Sebelum fajar keempat orang itu telah bangun. Mereka tidak boleh lengah sehingga pada saatnya, ternyata senjata mereka tidak dapat membantu.

Ternyata keempat orang itu tidak membawa senjata yang lebih panjang daripada pedang-pedang pendek yang dapat mereka sembunyikan dibawah kain mereka. Namun demikian. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata telah bersiap pula dengan paser-paser kecil yang dapat mereka pergunakan pada saat-saat yang paling gawat.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...