Selasa, 29 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 023-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 023-04*

Wajah-wajah di halaman menjadi semakin tegang. Namun ketika Ki Bekel meneriakkan aba-aba, maka mereka pun mulai bergerak juga mendekati tangga pendapa banjar.

Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada itupun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan, sementara Mahisa Bungalan pun telah bergeser menjauhi Pangeran Singa Narpada dan bersiap menghadapi orang-orang yang datang dari arah yang lain, yang telah mulai menaiki pendapa itu pula.

Namun menurut penglihatan keempat orang pengembara itu, ada semacam keragu-raguan yang mengekang orang-orang padukuhan itu. Agaknya sikap keempat orang yang sama sekali tidak menunjukkan kegentarannya itu justru membuat mereka menjadi ragu-ragu.

Tetapi teriakan-teriakan Ki Bekel telah mendorong mereka untuk maju mendekat. Sementara itu, Ki Bekel telah mendekati dua orang kepercayaannya sambil berkata, “Apakah kau hanya akan menonton saja seperti biasanya.”

“Kita akan melihat Ki Bekel,” jawab salah seorang dari keduanya, “Jika agaknya mereka memang memiliki kemampuan untuk membela diri, biarlah keempatnya aku selesaikan.”

“Tetapi kau lihat, bahwa keempat orang itu nampaknya sangat meyakinkan,” berkata Ki Bekel.

“Menghadapi orang-orang yang sebanyak ini memang memerlukan kemampuan yang tinggi. Jika mereka mampu, maka barulah mereka pantas untuk melawan kami berdua. Aku kira tidak sepenginang, keempatnya akan terkapar di halaman ini,” berkata salah seorang dari keduanya.

“Sebaiknya kau tidak usah menunggu beberapa orang terbunuh,” berkata Ki Bekel.

Keduanya mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata, “Baiklah. Aku akan melihat dahulu apa yang dapat mereka lakukan. Baru kemudian aku akan mengambil sikap.”

Ki Bekel tidak menjawab. Perhatiannya mulai terikat kepada orang-orangnya yang telah terlibat ke dalam pertempuran.

Sebenarnyalah, bahwa pertempuran telah berkobar. Sejumlah laki-laki dari satu pedukuhan bertempur melawan empat orang yang dianggapnya empat orang pengembara. Namun yang kemudian pendapat Ki Bekel pun telah berubah. Keempat orang itu tentu empat orang perampok yang menyamar sebagai pengembara. Ternyata dari kemampuan mereka bertempur.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telah turun ke halaman. Mereka bertempur sambil beradu punggung menghadapi lawan yang mengepung mereka.

Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat memang menjadi ragu-ragu. Karena itu, maka ia masih sempat berbisik kepada Mahisa Murti, “Bagaimana jika aku dengan tidak sengaja telah membunuh.”

“Kita tidak bermaksud membunuh,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi kita pun tidak ingin dibunuh.”

Mahisa Pukat mengerti maksud Mahisa Murti. Karena itu, maka geraknya pun kemudian menjadi lebih mantap. Dengan sigapnya ia memutar tombak pendeknya untuk melindungi serangan-serangan yang datang beruntun. Namun sekali-sekali ujung tombaknya juga mematuk lawan.

Sebenarnyalah dengan memegang tombak di tangan, keempat orang yang dianggap pengembara itu merasa dirinya terlindungi. Karena itu, mereka tidak mempergunakan ilmu puncaknya yang dapat sekaligus membakar sekelompok orang yang tidak mempunyai daya tahan yang memadai itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang kadang-kadang masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Namun ketika serangan-serangan datang beruntun seperti datangnya ombak di lautan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah didera oleh satu keinginan untuk mengurangi jumlah lawannya.

“Bukan maksudku untuk membunuh orang-orang yang tidak berdaya ini,” berkata keduanya di dalam hatinya. Tetapi mereka tidak dapat ingkar, bahwa mereka harus mempertahankan diri dari serangan yang datang bergelombang itu.

Karena itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mulai menjulurkan tombaknya. Tidak sekedar menangkis serangan. Tetapi ujung tombak itu mulai mematuk lawannya.

Tiba-tiba saja terdengar seorang diantara lawan-lawannya yang berteriak kesakitan. Ujung tombak Mahisa Pukat lah yang telah mengoyak lengan seorang lawannya, sehingga orang itu telah berteriak kesakitan..

Dengan serta merta orang itu telah meloncat keluar dari arena dengan darah yang meleleh dari lukanya.

Tetapi belum lagi gema suaranya hilang, terdengar seorang yang lain telah mengaduh. Ujung tombak Mahisa Pukat lah yang telah mengenai lambung lawannya. Tidak terlalu dalam, tetapi luka yang menganga itu telah memancarkan pula darah dari tubuhnya. Sentuhan ujung tombak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu memang telah mempengaruhi pertempuran. Namun karena jumlah lawan yang banyak, maka mereka pun telah menyerang dalam gelombang-gelombang yang tiada berkeputusan.

Namun ujung tombak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun bergerak lebih cepat. Ketika lawan datang beruntun semakin cepat, maka kedua orang anak muda itu mulai menjadi jengkel.

Karena itulah, maka setiap kali keduanya seakan-akan diluar kehendak sendiri, telah menggerakkan ujung tombaknya terlalu cepat, sehingga telah menyentuh tubuh salah seorang diantara lawan-lawan mereka. Bahkan dalam keadaan yang mendesak oleh beberapa ujung senjata yang berbareng menyerang, kadang-kadang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kehilangan kemampuan untuk mengekang juluran tombaknya.

Dalam serangan yang cepat dari beberapa orang, maka tiba-tiba saja seorang diantara mereka telah meloncat keluar. Tetapi ia tidak mampu melangkah lagi lebih dari tiga langkah. Sejenak kemudian iapun terhuyung-huyung dan jatuh di tanah. Seorang kawannya berusaha menahannya. Tetapi terlambat, karena tubuh itu telah terjatuh berguling di tanah.

Sejenak kawannya mengamatinya. Namun tiba-tiba ia berteriak, “Mati! Kawan kita telah terbunuh!”

Orang-orang padukuhan itu telah dicengkam oleh dua jenis perasaan yang berlawanan. Kemarahan yang meluap-luap karena seorang diantara kawan mereka telah terbunuh. Namun juga karena itu mereka menjadi ketakutan bahwa nasib seperti itu akan dapat menimpa diri mereka.

Meskipun demikian ada juga diantara orang-orang padukuhan itu yang berani menghadapi akibat yang betapapun juga. Mereka adalah orang-orang yang memang menjadi bebahu padukuhan itu, serta sudah beberapa kali menangani perampokan seperti yang sedang terjadi itu, justru di paling depan. Bahkan mereka jugalah yang dengan tanpa merasa menyesal telah membantai beberapa orang yang sebenarnya tidak pernah melakukan perlawanan.

Tetapi mereka jugalah yang biasanya menghabisi nyawa orang-orang yang menentang kehendak Ki Bekel. Bahkan perampok-perampok yang tersesat memasuki padukuhan itu dengan hasil rampokannya, telah menjadi korban mereka pula.

Seorang diantara mereka dengan suara geram berkata, “Kalian akan mengalami nasib yang sangat buruk. Kalian telah menimbulkan kematian di padukuhan ini. Perampok-perampok yang namanya ditakuti orang pun terbunuh di padukuhan ini. Apalagi pengemis-pengemis buruk seperti kalian.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mendengar kata-kata itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi mereka sadar, bahwa ke matian akan membuat orang-orang itu menjadi semakin buas.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sadar, bahwa orang-orang itu harus dihadapi dengan kekerasan pula.

Karena itu, maka dengan tombak pendek yang berputar di tangan masing-masing, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat siap menghadapi segala kemungkinan. Merekapun melihat beberapa orang yang menyibak diantara laki-laki padukuhan itu. Mereka adalah orang-orang yang berwajah garang. Di tangan mereka terdapat berbagai jenis senjata yang agak lain dari senjata-senjata laki-laki padukuhan itu yang lain.

Seorang laki-laki berjambang dan berkumis panjang dengan sebuah bindi di tangannya mendorong seorang laki-laki kurus sambil berdesis, “Minggir sajalah daripada tanganmu dipatahkan oleh pengemis-pengemis itu.”

Orang bertubuh kurus itu bergeser. Sebenarnyalah hatinya sudah menjadi kecut ketika seorang kawannya terbanting mati karena luka-lukanya.

Mahisa Murti melihat orang bersenjata bindi itu mendekatinya. Disusul oleh seorang yang bertubuh tinggi kekar dengan tongkat baja yang panjang, hampir sepanjang tombak pendek. Pada ujung tongkat baja itu terdapat sebuah bulatan baja pula sebesar kepalan tangan.

Sementara itu, beberapa orang yang lain telah mendekati Mahisa Pukat. Seorang yang bertubuh pendek dengan wajah yang kasar berjalan disela-sela laki-laki padukuhan itu. Di tangannya tergenggam sepasang golok yang tidak begitu panjang, tetapi cukup besar. Sementara seorang yang berkepala botak dengan mengikatkan ikat kepalanya di lambung telah mendekatinya pula. Senjatanya nampak agak aneh, tetapi berbahaya. Semacam tombak yang sangat pendek, tetapi berujung di sebelah menyebelah. Bahkan dengan kaitan semacam kail di pangkal mata senjata itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi lebih berhati-hati. Mereka sadar, bahwa orang-orang itu tentu orang-orang yang memiliki tataran yang lebih tinggi dari pada orang-orang yang telah bertempur sebelumnya.

Sementara itu, dua orang kepercayaan khusus Ki Bekel masih saja berdiri sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Seorang diantara mereka berdesis, “Agaknya pengemis-pengemis itu memang memiliki kelebihan. Aku condong kepada pendapat Ki Bekel. Agaknya mereka adalah perampok-perampok yang menyamar sebagai pengembara. Dengan demikian maka mereka dapat melakukan pekerjaan mereka dengan leluasa.”

“Tetapi di padukuhan ini mereka membentur batu,” sahut yang lain, “Mereka tidak akan dapat mempertahankan dirinya betapapun tinggi ilmu mereka. Seandainya mereka lolos dari tangan para bebahu, maka kita akan dapat menyelesaikannya.”

Kawannya tidak segera menjawab. Tetapi terdengar ia tertawa. Sementara itu yang lain melanjutkan, “Sebenarnya aku lagi segan membunuh malam ini, karena hari ini adalah hari kelahiranku. Aku sudah berjanji kepada isteriku yang ketiga untuk makan-makan bersama sanak kadang. Sedangkan isteriku yang keempat sudah membuat bancakan siang tadi.”

“He, kau tidak mengirimkan bancakan itu kepadaku?” bertanya kawannya.

“Hanya untuk orang sebelah menyebelah. Isteriku hanya menyembelih tujuh ekor ayam,” jawab yang lain.

“Tujuh ekor dan kau tidak memberi aku seekor pun dari ayam yang kau sembelih itu,“ gumam kawannya.

Yang lain tertawa. Namun katanya, “Saat makan bersama sanak kadang itu sudah lewat.”

“Semua orang ada disini. Siapa yang akan datang ke rumahmu untuk makan-makan? Jika isterimu yang ketiga itu memang sudah masak bagi sebuah pertemuan bujana andra-wina, biarlah kami datang setelah keempat orang itu terbunuh,“ berkata kawannya.

“Siapa yang berkata akan diselenggarakan bujana,” sahut yang lain, “isteriku yang ketiga hanya menyembelih seekor kambing saja.”

“Kau memang gila. Lalu apa yang disembelih oleh isterimu yang pertama dan kedua?” bertanya kawannya.

“Akulah yang mungkin akan menyembelih keempat pengembara yang gila itu,“ jawab yang lain.

Kawannya tidak menjawab. Diamatinya pertempuran yang berlangsung semakin seru, sementara Ki Bekel mendekati lagi mereka berdua sambil berkata, “Kau menunggu sampai pagi?”

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bergeser. Tetapi sama sekali bukan karena mereka terdesak. Orang-orang yang kemudian memasuki gelanggang itu ternyata memang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari laki-laki kebanyakan di padukuhan itu, sehingga karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang harus lebih mapan lagi menghadapi mereka.

Namun demikian memang mulai terasa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa orang-orang padukuhan itu benar-benar berusaha untuk menekan mereka semakin ketat. Tetapi kedua orang anak muda itu adalah anak-anak muda yang telah menyelesaikan laku untuk mendalami ilmu mereka sampai tuntas.

Tekanan yang semakin berat, hanya menggugah gejolak perasaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saja, sehingga justru semakin lama mereka menjadi semakin marah. Dengan demikian maka putaran tombak mereka pun menjadi semakin cepat. Setiap kali tombak itu telah mematuk menyerang orang-orang yang mengepung mereka. Kadang-kadang demikian cepatnya, sehingga sasarannya sama sekali tidak mampu bergeser sejengkal pun.

Ujung tombak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat semakin lama semakin menggetarkan jantung lawan-lawannya. Karena itu, maka orang-orang kebanyakan dari padukuhan itu menjadi semakin bergeser menjauh. Para bebahu yang merasa memiliki kelebihan sajalah yang kemudian mengepung mereka semakin rapat. Lebih dari enam orang telah terluka diantara mereka yang melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi sangat parah dan seorang yang terbunuh. Sementara itu ujung tombak kedua anak muda itu masih saja selalu mematuk-matuk dengan cepatnya, sehingga lawan-lawannya menjadi ngeri karenanya.

Tetapi para bebahu merasa bahwa mereka memiliki kelebihan. Karena itu, maka mereka pun kemudian berada di paling depan diantara laki-laki yang telah bertempur bersama-sama melawan keempat orang pengembara itu.

Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan masih berusaha untuk membatasi gerak mereka sendiri. Namun agaknya Pangeran Singa Narpada bukan orang yang sabar. Hanya dengan susah payah ia berhasil mengendalikan diri sehingga ia tidak membunuh lawan-lawannya meskipun sekali-sekali ujung tombaknya telah menyentuh lawannya, sehingga telah menggoreskan luka. Beberapa orang lawan Pangeran Singa Narpada pun telah terluka pula. Bahkan ada diantara mereka yang terluka berat. Memang sulit untuk mengendalikan diri diantara lawan yang semakin banyak dan semakin rapat mengepungnya. Apalagi ketika kemudian diantara mereka terdapat para bebahu yang memang memiliki kemampuan mempermainkan senjata.

Bahkan akhirnya Pangeran Singa Narpada tidak dapat menghindarkan diri dari kemungkinan menimbulkan kematian. Pada saat kemarahannya sulit untuk dikekang lagi, tiba-tiba saja tangannya seakan-akan diluar sadarnya telah memutar tombaknya dengan sangat cepat. Tiga senjata lawannya terlempar dan ujung tombak yang berputar itu telah mengoyak beberapa sosok tubuh di seputarnya. Dua diantara mereka mengalami luka yang sangat parah, sehingga ketika kawan-kawannya membawa mereka menepi, keduanya sudah tidak bernyawa lagi.

Mahisa Bungalan pun sebenarnya mengalami kesulitan untuk tidak melakukan pembunuhan dalam keadaan yang demikian. Namun dengan susah payah Mahisa Bungalan berusaha untuk melindungi dirinya dan tidak membunuh lawannya yang memang bukan orang yang memiliki kemampuan cukup untuk berkelahi.

Tetapi ketika kemudian para bebahu memasuki arena dan mulai menekannya, maka Mahisa Bungalan pun mengalami kesulitan untuk tetap dalam keadaannya. Para bebahu yang melawannya memiliki kecepatan gerak dan permainan senjata yang cukup berbahaya, sehingga karena itu, maka Mahisa Bungalan pun harus bergerak semakin cepat.

Dengan demikian maka pertempuran di halaman itupun menjadi semakin lama semakin seru. Hampir semua laki-laki di padukuhan itu yang mampu memainkan senjata telah berada di banjar. Namun ternyata bahwa tidak semua orang dapat ikut dalam pertempuran yang terjadi di tiga lingkaran, karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertempur berpasangan dan saling membelakangi.

Namun ternyata bahwa keempat orang pengembara itu tidak dengan mudah dapat mereka tundukkan. Bahkan satu-satu orang-orang padukuhan itu telah terjatuh dan terluka parah.

Dalam pada itu Ki Bekel yang menyaksikan pertempuran itupun telah berkata di telinga kedua orang kepercayaannya, “Sudah ada lima orang yang terbunuh. Mungkin lebih. Apakah kau masih akan membiarkannya saja? Seorang dari bebahu padukuhan ini pun telah terbunuh pula melawan kedua orang anak muda yang bertempur berpasangan itu.”

Kedua orang itu saling berpandangan. Seorang diantara mereka kemudian berkata sambil tertawa, “Baiklah Ki Bekel. Aku akan membunuh kedua anak muda yang gila itu. Tetapi aku minta agar Ki Bekel juga membantu aku.”

“Membantu apa?” bertanya Ki Bekel, ”Bukankah aku sudah memberikan kesempatan kepadamu untuk hidup baik di padukuhan ini dan aku pun telah memberikan tanah yang cukup luas bagi kalian.”

“Bukan itu,“ jawab kepercayaannya itu, “Aku ingin anak si Rempit itu.”

“Setan,“ geram kawannya, “Baru saja kau katakan bahwa kau sudah beristeri empat.”

“Apa salahnya tambah seorang lagi?” bertanya orang itu.

“Anak Rempit masih terlalu kanak-kanak,” berkata Ki Bekel, ”Bukankah maksudmu Rempit di ujung lorong?”

“Mana mungkin masih kanak-kanak,” jawab orang itu, “umurnya sudah menjelang tiga belas.”

“Umurmu?” bertanya kawannya.

“Ah, bukankah kita sebaya?” sahut orang itu.

“Jika demikian umurmu sudah menjelang lima puluh tahun,” jawab kawannya.

“Belum. Aku baru empat puluh lima,” jawab orang itu.

“Gila,“ geram Ki Bekel, ”Jika kau mampu membunuh empat orang itu, anak Rempit akan dapat kau ambil. Aku yang bertanggung jawab.”

Orang itu tertawa. Lalu katanya kepada kawannya, “Marilah, kita selesaikan kedua anak iblis itu.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bergumam, “Ternyata kali ini korban akan terlalu banyak dibandingkan dengan apa yang akan kita dapatkan dari orang-orang itu.”

“Tetapi mereka harus dibunuh. Jika mereka berempat tidak mati dan dicincang di halaman ini, maka akibat dari peristiwa ini akan membuat hati seisi padukuhan ini menjadi kecil menghadapi peristiwa yang serupa di masa depan.”

Kedua orang itu tertawa. Tetapi mereka pun sependapat dengan Ki Bekel. Keempat orang itu memang harus dibunuh. Dengan demikian maka kebanggaan orang-orang padukuhan itu atas pekerjaan yang selama ini mereka lakukan tidak akan pudar.

Sejenak kemudian maka kedua orang itupun mulai bergerak. Seorang diantara mereka pun berkata, “Kita selesaikan kedua orang anak muda yang memiliki kemampuan iblis itu. Agaknya mereka memang sudah membunuh beberapa orang lagi, atau setidak-tidaknya melukai mereka.“

“Marilah,” sahut kawannya, “Sesudah kita membunuh mereka berdua maka dua orang yang lain akan segera dapat kita selesaikan pula.”

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berkesempatan bertempur melawan para bebahu. Pada saat-saat yang gawat, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sulit untuk menjaga diri, agar ujung tombaknya tidak melukai atau bahkan membunuh lawan-lawannya.

Bahkan beberapa saat kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dipengaruhi oleh pertempuran dalam jumlah yang tidak seimbang itu. Meskipun ujung senjatanya beberapa kali menggores lawan, tetapi ternyata kepungan itu masih saja tetap pepat dengan senjata teracu.

Keadaan itu ternyata mempengaruhi gejolak perasaan ke dua orang anak muda itu. Rasa-rasanya mereka menjadi jemu menghadapi keadaan yang demikian itu. Ada dorongan di dalam hati mereka, bahwa pertempuran yang demikian itu harus segera diakhiri.

Karena itu, meskipun tidak saling bersepakat, keduanya telah digelitik untuk mempergunakan ilmu pamungkas mereka. Dengan demikian, maka perkelahian yang menjemukan itu akan segera dapat diakhiri.

Namun sebelum mereka sampai pada langkah yang demikian, tiba-tiba saja dua orang telah menyibak orang-orang yang mengepung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Seorang telah menuju ke arah Mahisa Murti sedang yang lain melangkah ke arah Mahisa Pukat.

Orang-orang padukuhan itupun segera menyibak. Kedua orang itu sudah dikenal dengan baik oleh seisi padukuhan karena keduanya memang orang yang memiliki ilmu tidak terlawan di padukuhan itu. keduanya adalah kepercayaan Ki Bekel dan keduanya adalah orang-orang yang akan mampu menyelesaikan segala pekerjaan yang sulit bagi orang-orang padukuhan yang lain.

Namun agaknya kedua orang itu memiliki kesombongan pula. Ketika keduanya sudah berdiri di hadapan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka salah seorang diantara mereka berteriak, “Hentikan pertempuran ini.”

Orang-orang padukuhan itu ternyata telah mengerti maksud keduanya. Karena itu, maka mereka pun telah menghentikan pertempuran dan bergeser surut.

“Tetapi jangan urai kepungan ini, agar mereka tidak dapat melarikan diri,” berkata orang yang lain.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Pertempuran itupun telah berhenti dengan sendirinya karena lawan-lawan kedua anak muda itu telah bergeser surut. Agaknya mereka memang lebih senang berbuat demikian setelah beberapa orang kawan mereka terbunuh di medan.

Kedua orang itupun kemudian masing-masing telah menghadapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan suara lantang seorang diantara mereka berkata, “Agaknya aku memang terlambat. Kalian telah berhasil membunuh beberapa orang kawan kami. Karena itu, maka tidak ada hukuman lain yang pantas bagi kalian kecuali hukuman picis di halaman banjar ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Tetapi mereka pun menyadari, bahwa kedua orang ini adalah orang-orang dalam tataran puncak bagi orang-orang padukuhan itu. Karena itu, maka mereka pun harus sangat berhati-hati. Mungkin keduanya memang memiliki bekal yang cukup untuk memasuki arena tanpa seorang kawan pun bagi masing-masing.

Namun sementara itu, Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan telah terpaksa membunuh pula. Tidak ada cara yang dapat mereka lakukan untuk menghindari pembunuhan dalam pertempuran seperti itu.

Meskipun demikian, dalam kesibukan itu keduanya juga mendengar suara seseorang yang berdiri menghadapi Mahisa Marti atau Mahisa Pukat. Seolah-olah mereka benar-benar seorang yang akan dapat menyelesaikan persoalan yang sudah berkepanjangan menjadi benturan kekerasan itu.

Tetapi keduanya tidak sempat memperhatikan keadaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan baik, karena mereka harus melayani sekelompok orang bersenjata. Bahkan diantara mereka terdapat beberapa orang bebahu padukuhan itu.

Namun keduanya mengerti, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan menghadapi orang-orang dalam jumlah yang terbatas. Bahkan mereka akan berhadapan seorang melawan seorang.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah berhadapan seorang dengan seorang. Bahkan dengan lantang orang yang berdiri di hadapan Mahisa Murti berkata, “Aku akan menangkapmu hidup-hidup, agar kami, orang-orang padukuhan ini dapat menjatuhkan hukuman atasmu. Bukan hanya kau sendiri, tetapi juga ketiga orang kawanmu itu.”

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap dengan tombak pendeknya untuk menghadapi lawannya yang baru itu.

Sejenak kemudian orang itupun telah menarik sebilah pedang yang panjang. Namun kemudian tangan kirinya juga menarik sebuah pedang pendek yang ternyata dipergunakannya sebagai perisai.

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Orang itu ingin menangkapnya hidup-hidup. Tetapi ia justru menggenggam sepasang senjata.

Namun Mahisa Murti tidak bertanya apapun juga. Ujung tombaknya sajalah yang bergetar siap untuk mematuk lawan.

Tetapi lawannya masih juga berbicara, “Jika kau meletakkan tombakmu, maka kami akan dengan cepat membunuhmu. Tetapi jika tidak, maka sekali lagi aku peringatkan, bahwa kau harus menjalani hukuman picis.”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.

Sementara itu, lawannya telah mulai menggerakkan ujung pedangnya. Sekali-kali berputar, namun tiba-tiba dengan loncatan panjang ujung pedang itu telah mematuk dadanya.

Namun Mahisa Murti sempat bergeser surut. Ujung pedang itu sama sekali tidak menyentuh. Ketika lawannya memburu dengan loncatan panjang, maka Mahisa Murti bergerak menyamping. Namun ia sempat memberikan isyarat kepada Mahisa Pukat yang membelakanginya.

“Hati-hatilah,” desis Mahisa Murti, “Mungkin kau diserang oleh orang yang justru berada di belakangmu.”

“Kita mengambil jarak,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah berusaha mengambil jarak meskipun tidak terlalu jauh. Apalagi ketika mereka berada di arena seorang melawan seorang. Orang-orang padukuhan itu yang semula mengepungnya, telah berdiri melingkar, membentuk sebuah arena.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyadari, bahwa pagar yang terdiri dari ujung-ujung senjata orang-orang padukuhan itu, setiap saat dapat bergerak dan menyerangnya bersama-sama. Sehingga dengan demikian maka kedua orang anak muda itu masih saja sangat berhati-hati menghadapi perkembangan pertempuran itu.

Namun untuk sementara, mereka akan berhadapan seorang melawan seorang.

Orang yang bertempur melawan Mahisa Pukat ternyata telah terkejut ketika senjatanya yang berupa sebuah bindi yang besar menyentuh tombak Mahisa Pukat. Ternyata Mahisa Pukat sudah jemu dengan permainan yang kasar itu. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk dengan cepat mengatasi lawannya.

Tombak pendeknya berputaran dan sekali-sekali terjulur, menyusup, di celah-celah pertahanan lawannya.

Lawannya benar-benar tidak menduga, bahwa anak muda itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Ia menyangka bahwa ia akan dapat dengan mudah membunuhnya dan membunuh kawan-kawannya.

Namun ternyata bahwa anak muda itu justru telah mendesaknya pada benturan-benturan pertama.

“Anak ini agaknya mempunyai ilmu iblis,“ geram lawan Mahisa Pukat di dalam hatinya.

Namun iapun kemudian telah mengerahkan kemampuannya. Sebagai seorang yang merasa dirinya menjadi tumpuan harapan seisi padukuhan dalam benturan ilmu seperti yang terjadi pada saat itu, maka ia harus mampu mengatasi lawan yang betapapun tinggi ilmunya.

Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Lawannya memang memiliki bekal untuk terjun ke dalam dunia kanuragan. Tetapi sudah barang tentu tidak untuk bertempur melawan orang-orang yang sudah berada dalam tataran puncak.

Karena itu, berhadapan dengan Mahisa Pukat, maka orang itu tidak banyak dapat berbuat sesuatu. Bindinya yang besar ternyata tidak mengejutkan anak muda yang membawa tombak pendek yang dirampas dari orang-orang padukuhan itu sendiri. Bahkan ketika orang itu mengayunkan bindinya ke arah ubun-ubun Mahisa Pukat, Mahisa Pukat menangkisnya dengan menyilangkan landean tombaknya diatas kepalanya.

Benturan yang terjadi benar-benar seram dan gemeretak gigi memastikan bahwa landean tombak itu akan patah.

Tetapi yang terjadi benar-benar mengejutkannya. Bindinya bagaikan membentur dinding baja. Landean tombak yang terbuat dari kayu itu sama sekali tidak patah, bahkan retakpun tidak.

“Benar-benar kekuatan iblis,“ geram orang itu.

Mahisa Pukat memandang orang itu dengan tajamnya. Ia melihat kegelisahan yang membayang di wajah itu. Orang itu sama sekali tidak menyangka bahwa Mahisa Pukat mampu mengalirkan kekuatan ilmunya pada senjata yang tersentuh tangannya, sehingga dengan demikian landean tombak itupun telah menjadi sekuat besi baja yang tidak dapat dipatahkan oleh kekuatan lawannya yang dihentakkannya lewat ayunan bindinya.

Dengan demikian maka kecemasan mulai merambat di hati lawannya. Ternyata orang itu tidak dapat berbuat banyak menghadapi Mahisa Pukat.

Sementara itu, Mahisa Murti masih juga sempat bermain-main dengan lawannya. Ujung tombaknya telah memancing lawannya untuk berjuang menangkis dan menghindarinya meskipun ia bersenjata rangkap. Dengan demikian maka keringat telah mengalir membasahi seluruh tubuhnya.

Di lingkaran pertempuran lain, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada masih sibuk dengan lawan-lawannya. Tetapi semakin lama orang-orang padukuhan itu menjadi semakin cemas tentang diri mereka sendiri. Setiap kali seorang kawannya telah memekik kesakitan, dan terlempar keluar arena. Ada yang hanya tergores kecil, tetapi ada pula yang terluka parah.

Yang benar-benar berhasrat dengan cepat menyelesaikan lawannya adalah Mahisa Pukat. Dengan cepat ia melihat bin-di lawannya dengan serangan-serangan yang membingungkan. Bindinya yang berat ternyata tidak mampu bergerak setangkas ujung tombak yang ringan, meskipun orang itu merasa mempunyai kekuatan yang sangat besar, sehingga orang kebanyakan menganggap bahwa bindi baginya tidak lebih berat dari sebatang lidi.

Namun menghadapi Mahisa Pukat orang-orang itu benar-benar menjadi kebingungan. Apalagi ketika ujung tombak itu telah beberapa kali menyentuh dan bahkan menggores kulitnya.

Kegelisahan yang sangat telah membayang di matanya. Geraknya pun bagaikan tertahan-tahan oleh kebimbangan menghadapi kecepatan gerak lawannya.

Dalam keadaan yang demikian Mahisa Pukat semakin mendesaknya. Bukan saja ujung tombaknya yang mengenai lawannya, bahkan sekali-sekali pangkal landeannya telah menghantam tubuh orang itu. Ketika lututnya terkena pangkal tangkai tombak Mahisa Pukat, rasa-rasanya tulang lututnya telah pecah karenanya, sehingga kakinya pun telah menjadi timpang.

Kemarahan yang membakar jantung orang itu telah diwarnai pula dengan kegelisahan. Agaknya ia telah menyadari bahwa ia tidak akan dapat mengimbangi kemampuan lawannya yang masih muda itu. Tetapi mengingat kedudukannya yang dianggap sebagai orang yang tidak terkalahkan, maka rasa-rasanya ia tidak mempunyai jalan keluar dari kesulitannya.

Sementara itu, Mahisa Pukat pun tiba-tiba saja telah bertanya, “Apakah kau akan melawan terus? Aku sudah jemu dengan permainan seperti.ini. Jika kau masih akan terus melawan, maka aku akan berkelahi dengan sungguh-sungguh. Tidak ada sepenginang, maka kau pun akan terkapar mati di halaman banjar ini. Sementara itu, jika orang-orang lain masih juga akan bertempur terus, maka seperti yang telah terjadi, seorang demi seorang mereka akan terbunuh sampai orang yang terakhir.”

Orang itu meloncat mundur. Sejenak ia mendapat kesempatan untuk memandangi wajah Mahisa Pukat. Pada kerut keningnya nampak bahwa Mahisa Pukat agaknya memang bersungguh-sungguh.

Berbeda dengan Mahisa Murti, maka ia agaknya masih merasa mempunyai banyak kesempatan. Dengan demikian maka ia tidak dengan tergesa-gesa menyelesaikan lawannya itu. Ia justru ingin menunjukkan kepada orang-orang padukuhan itu, bahwa orang yang mereka banggakan, yang telah mencoba melawannya seorang dengan seorang itu, tidak banyak memberikan arti dalam keseimbangan pertempuran itu.

Karena itulah, maka seperti anak yang sedang bermain-main saja Mahisa Murti melayani lawannya. Sekali meloncat sambil tertawa. Kemudian menangkis serangan lawannya dan memutar pedangnya sehingga pedang itu terlepas. Namun kemudian dengan tangkai tombaknya Mahisa Murti mendorong pedang itu ke arah lawannya yang kebingungan.

Dengan demikian, maka dua lingkaran pertempuran telah diwarnai oleh nafas yang berbeda. Tetapi memberikan kesan yang hampir sama.

Orang-orang padukuhan itupun melihat, bahwa lawan Mahisa Pukat yang bersenjata bindi itu sama sekali tidak berdaya melawan anak yang masih muda itu. Luka-lukanya menjadi semakin banyak meskipun Mahisa Pukat belum sampai pada satu kesimpulan untuk membunuhnya. Ia masih terikat kepada satu keinginan, apabila tidak terpaksa, ia tidak akan membunuh lawannya. Tetapi luka-luka yang kemudian timbul, bagaikan memenuhi seluruh permukaan tubuhnya.

Sedangkan lawan Mahisa Murti, meskipun dengan tangkasnya mempermainkan pedang rangkapnya, tetapi ia tidak lebih sebagaimana seekor kelinci di tangan seekor harimau atau seekor cicak di tangan seekor kucing. Tidak ada kesempatan sama sekali untuk melawan. Meskipun lawannya belum dengan sungguh-sungguh, tetapi semua orang yang menyaksikan pertempuran itu mengerti, bahwa orang berpedang rangkap itu memang bukan lawan anak muda yang bersenjata tombak, yang diambilnya dari antara para pengawal itu sendiri.

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada menjadi semakin gelisah. Diluar kehendaknya maka mereka telah melukai orang semakin banyak. Bahkan ada yang terpaksa harus mengalami luka-luka berat, dan satu dua diantara mereka, sulit untuk dapat ditolong lagi jiwanya.

Dalam kegelisahan itu, maka tiba-tiba saja terdengar Mahisa Bungalan berteriak, “He, orang-orang padukuhan ini, serta Ki Bekel yang aku kira masih berada pula di halaman.ini. Apakah kalian memang masih ingin meneruskan pertempuran ini? Dengar. Kami sudah menjadi jemu. Dengan demikian kalian dapat membayangkan apa yang akan aku lakukan dalam kejemuan itu. Aku minta Ki Bekel membuat pertimbangan sekali lagi sebelum mengambil keputusan. Kami akan tetap mempertahankan milik kami meskipun kami harus dengan terpaksa membunuh kalian semuanya.”

Ki Bekel memang masih berada di halaman itu. Mendengar suara salah seorang dari keempat pengembara itu, hatinya menjadi kecut. Selama ini belum pernah terjadi kegagalan yang sangat menyinggung perasaan seperti ini. Menurut perhitungan nalarnya, tidak akan ada sekelompok kecil orang yang hanya terdiri dari empat orang akan dapat melawan seisi padukuhan.

Karena itu, maka akibat yang timbul pada Ki Bekel justru bukan yang diharapkan. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Jangan berkelahi seorang melawan seorang. Selesaikan tugas kalian dengan cepat bersama semua orang padukuhan ini.”

Perintah itu memang menggerakkan setiap laki-laki yang ada di halaman banjar. Namun mereka pun dibayangi pula oleh keragu-raguan. Ternyata mereka tidak dapat ingkar menyaksikan kenyataan tentang kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh.

Mahisa Pukat yang mendengar perintah Ki Bekel itu menjadi semakin marah. Dengan lantang iapun berteriak, “Marilah. Siapakah yang akan maju bersama orang yang sudah hampir mati ini? Selama ini kami tidak bertempur dengan mata gelap. Kami masih berusaha menghindari korban sejauh dapat kami lakukan. Tetapi kalian sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kalian masih saja berusaha untuk menangkap dan membunuh kami. Tetapi kesabaran kami ada batasnya. Pada saatnya maka kami tidak akan mengekang diri lagi, seperti yang dikatakan oleh salah seorang diantara kami, apa saja yang dapat kami lakukan jika kami mulai menjadi jemu dengan permainan kalian. Dengan kebodohan kalian dan dengan kesombongan kalian. Terutama karena ketamakan kalian.”

Orang-orang padukuhan itu menjadi semakin ragu-ragu. Bahkan mereka yang sedang bertempur melawan Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan pun telah mengurangi tekanan mereka dan satu dua diantara mereka mulai dibayangi oleh kebimbangan.

Ki Bekel pun menjadi semakin gelisah. Tetapi ia tidak mau gagal. Meskipun iapun menyadari, bahwa apa yang akan didapatkannya tentu tidak akan seimbang dengan korban yang jatuh, tetapi ia tidak ingin rakyatnya menjadi kehilangan keberanian sehingga pada saat lain rakyatnya itu tidak berani lagi bertindak sesuai dengan pekerjaan yang telah mereka lakukan untuk waktu yang lama.

Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Bekel itupun berteriak pula, “Jangan takut. Orang-orang itu hanya membual saja. Jika kalian bersungguh-sungguh, maka mereka tentu akan segera dapat kalian selesaikan.”

Sekali lagi Mahisa Pukat kehilangan pengekangan diri sendiri. Dalam gejolak perasaan yang gemuruh, tiba-tiba saja ia telah menyerang lawannya yang bersenjata bindi itu. Demikian cepatnya sehingga orang itu sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa. Ia masih berusaha menangkis ketika Mahisa Pukat menyerang dadanya. Tetapi Mahisa Pukat mengurungkan serangannya itu dan justru ujung tombak pendeknya kemudian berputar melibat bindi lawannya. Dengan sekali sentak, maka bindi itupun telah terlepas dari genggaman. Demikian mudahnya, sehingga orang-orang yang menyaksikannya menjadi sangat heran. Namun, sementara itu, kemarahan Mahisa Pukat yang memuncak telah mendorongnya untuk mengayunkan ujung tombaknya ke arah leher.

Tetapi pada saat terakhir, ternyata masih ada sepercik kekangan yang menghambat tangannya, sehingga ia justru telah menahan ujung tombaknya yang hampir saja mengoyak leher lawannya dengan ayunan mendatar. Namun Mahisa Pukat kemudian telah mendorong ujung tombaknya ke arah pundak lawannya.

Lawannya tidak sempat berbuat apa-apa. Bindinya yang terlepas dari tangannya telah membuatnya bagaikan kehilangan kesadaran. Ujung tombak yang terayun mendatar ke arah lehernya membuatnya justru memejamkan matanya. Tetapi ujung tombak itu tidak mengoyak lehernya dan memotong kerongkongan dan jalan pernafasannya, tetapi yang kemudian disengat oleh perasaan sakit adalah justru pundaknya.

Orang itu terdorong surut. Ketika ia membuka matanya, maka dilihatnya Mahisa Pukat berdiri dekat di hadapannya. Belum sempat ia berbuat sesuatu, maka dengan tangan kirinya Mahisa Pukat telah menghantam keningnya.

Orang itu terhuyung-huyung. Namun malang baginya, bahwa ketika ia tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya, maka iapun telah terjatuh. Kepalanya menimpa bindinya yang terjatuh dari tangannya.

Mata orang itu menjadi berkunang-kunang. Ia tidak sempat berbuat sesuatu. Perlahan-lahan semua yang nampak di matanya menjadi kabur.

Ternyata sejenak kemudian orang itupun menjadi pingsan. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi pada lawannya. Mungkin pingsan tetapi mungkin juga mati.

Namun ia tidak dapat termenung untuk waktu yang lama. Ia, harus dapat mengambil satu sikap. Justru ketika lawannya telah kehilangan kemampuan untuk melawannya.

Karena itu, maka sambil mengangkat tombaknya yang ujungnya berlumuran darah, Mahisa Pukat berkata keras-keras, “Lihat. Inikah orang kebanggaanmu yang telah dengan sombong menantang aku berkelahi seorang melawan seorang. Ia bagiku tidak lebih dari seorang kanak-kanak yang merengek minta permainan. Namun aku tidak akan berbelas kasihan kepadanya dan kepada siapapun juga yang telah berusaha merampok dan membunuh kami berempat. Mungkin ketiga orang kawanku masih sempat bersabar. Tetapi aku tidak. Aku akan membunuh sebanyak-banyaknya.”

Wajah orang-orang padukuhan itu menjadi tegang. Sementara itu lawan Mahisa Murti telah kehilangan senjatanya lagi yang terlepas dari tangannya. Tetapi Mahisa Murti tidak lagi mendorong pedang itu dengan tangkai tombaknya kepada lawannya itu lagi. Bahkan daun pedang itu telah diinjaknya dengan kakinya.

Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Bahkan mereka yang sedang bertempur melawan Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada pun telah semakin dicengkam oleh kebimbangan. Beberapa orang diantara mereka telah tidak lagi berani menyerang. Bahkan bergeser selangkah surut.

Orang-orang padukuhan itupun menjadi semakin menyadari kenyataan yang mereka hadapi. Empat orang itu ternyata bukannya orang-orang sebagaimana pernah mereka bantai di padukuhan itu dan mayatnya mereka kubur di pinggir padukuhan. Tetapi mereka justru harus bersiap-siap untuk mengubur kawan: kawan mereka sendiri yang terbunuh dalam pertempuran itu.

Apalagi ketika dua orang kebanggaan mereka sama sekali sudah tidak berdaya. Seorang diantaranya sudah terbaring diam, yang seorang lagi kehilangan senjata rangkapnya dengan cara yang sangat menyakitkan hati. Seolah-olah orang yang dianggap tidak terkalahkan itu tidak lebih dari seorang yang pantas dipermainkan dalam benturan kanugaran.

Ki Bekel pun melihat keadaan yang tidak diduganya sama sekali itu. Dua orang kepercayaannya yang sanggup membunuh keempat orang itu ternyata tidak berdaya menghadapi anak-anak yang masih sangat muda dibandingkan dengan dua orang yang lain.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat telah berkata lantang, “Ki Sanak dari padukuhan ini. Masih ada kesempatan. Jika kalian meletakkan senjata kalian, maka kami akan mengakhiri pembunuhan yang dapat kami lakukan sekehendak kami. Siapa yang masih memegang senjata akan kami anggap sebagai musuh yang harus dibinasakan. Tetapi siapa yang melepaskan senjatanya, akan kami anggap telah menghentikan permusuhan sehingga kami akan memperlakukan mereka dengan baik.”

Halaman banjar itu menjadi tegang. Setiap orang berada dalam kebimbangan. Apakah mereka akan meletakkan senjata mereka atau tidak.

Ternyata Mahisa Pukat menjadi tidak sabar. Dengan suara yang bergetar ia berteriak, “Aku akan menghitung sampai sepuluh. Siapa yang tidak meletakkan senjatanya akan kami binasakan dengan tanpa ampun. Tidak akan ada kesempatan lagi setelah hitungan keselupuh itu.”

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...