*Hijaunya Lembah Jilid 00-02*
Mahisa Pukat menyentuh lengan Mahisa Murti. Sementara Mahisa Murti berkata, ”Bukankah orang itu memang memerlukan pertolongan. Nampaknya ia memang lapar sekali.”
Agak berbeda dengan orang itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih juga merasa segan untuk makan terlalu banyak. Karena itu, maka mereka pun mengambil nasi sekedarnya. Apalagi keduanya memang tidak merasa terlalu lapar, karena mereka terbiasa mesu diri dan mengurangi makan dan minum.
Setelah makan, mereka bertiga pun dipersilahkan untuk kembali ke tempat mereka semula. Namun mereka tidak dapat segera berbaring karena perut mereka yang kenyang.
Tetapi agaknya orang tua itu tidak terlalu tertarik untuk berbicara. Ketika Mahisa Murti bertanya kepadanya, ke mana orang tua itu akan pergi, maka ia hanya menjawab pendek, ”Aku seorang pengembara, anak muda.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa dengan demikian, orang tua itu tidak mempunyai tujuan yang pasti.
Sejenak mereka bertiga duduk tanpa berbicara apapun juga. Sejenak kemudian, maka orang tua itu pun telah berbaring lagi dan tidak ada sepenginang, ia sudah tidur mendekur.
”Nampaknya tidak ada persoalan apapun di dalam hidupnya.” berkata Mahisa Murti.
”Ya. Segalanya disandang dengan pasrah.” berkata Mahisa Pukat. Namun kemudian, ”Dengan pasrah, putus asa atau seorang pemalas?”
Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “kita memang tidak dapat menilainya hanya dengan sekedar berpapasan di banjar ini.”
Mahisa Pukat pun tersenyum pula. Namun ia masih belum ingin berbaring. Sambil menjelujurkan kakinya, ia bersandar dinding. Namun Mahisa Murti lah yang kemudian berbaring sambil berdesis, “Aku pun telah mengantuk.”
”Tidurlah. Nanti saatnya kau harus bangun.” jawab Mahisa Pukat.
Barulah Mahisa Murti sadar, bahwa Mahisa Pukat memang menaruh kecurigaan terhadap orang tua yang tidur nyenyak itu.
Menjelang dini hari, Mahisa Pukat telah menggamit Mahisa Murti yang tidur pulas oleh sejuknya udara pagi.
Sambil mengusap matanya ia pun kemudian bangkit sambil bertanya, ”Ada apa?”
”Aku mengantuk.” desis Mahisa Pukat.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia pun masih ingin tidur. Tetapi ia ingin memberi kesempatan kepada Mahisa Murti, sehingga ia pun kemudian bersandar dinding sambil berkata, ”Tidurlah.”
Mahisa Pukatlah yang kemudian tidur menjelang fajar. Namun ia memang masih mendapat waktu sesaat untuk beristirahat. Sementara Mahisa Murti duduk bersandar dinding sambil menahan kantuknya yang belum juga beranjak pergi.
Tetapi Mahisa Murti mampu bertahan sampai wajah langit menjadi cerah. Ia pun kemudian membangunkan Mahisa Pukat yang telah mendapat kesempatan lelap barang sesaat.
”Sudah pagi. Kita harus melanjutkan perjalanan. Jika kita masih mengantuk, kita akan dapat melanjutkan tidur di belukar perdu siang nanti tanpa ada yang mengganggu.” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat pun kemudian bangkit. Diamatinya orang tua yang ternyata masih tidur dengan nyenyaknya.
”Bukankah ia tidak berbuat apa-apa?” berkata Mahisa Murti kemudian.
”Ya. Ternyata ia memang seorang yang memerlukan pertolongan. Makan semalam tentu sangat berarti baginya.” jawab Mahisa Pukat.
Kedua anak muda itu pun kemudian pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri. Baru kemudian keduanya ingin minta diri kepada penunggu banjar itu, setelah mereka membenahi pakaian, karena anak-anak muda yang meronda telah pulang ke rumah masing-masing.
Tetapi ketika mereka kembali ke serambi, ternyata orang tua yang semalam tidur nyenyak itu telah pergi. Agaknya orang itu tidak perlu pergi ke pakiwan untuk mandi dan membenahi diri.
Namun kedua anak muda itu segera melupakannya. Orang tua yang nampaknya agak malas itu tidak banyak menarik perhatian mereka.
Demikianlah setelah minta diri dan mengucapkan terima kasih kepada penunggu banjar itu, maka kedua anak muda itu pun melanjutkan perjalanan mereka. Seperti saat mereka meninggalkan rumahnya, maka mereka pun sama sekali tidak menentukan tujuan.
Mereka berjalan mengikuti langkah kaki mereka. Tetapi seperti pesan orang-orang yang ditinggalkannya, mereka memperhatikan setiap pertanda yang dapat mereka kenali dengan mudah. Apalagi mereka belum terlalu jauh berjalan.
Dalam pada itu, udara pagi tetap terasa segar di tubuh mereka. Matahari yang belum terlalu tinggi memancarkan cahayanya yang cerah memantul di dedaunan yang basah oleh embun.
Tetapi suasana pagi yang cerah itu rasa-rasanya telah menjadi hambar, ketika kedua anak muda itu merasa, seolah-olah mereka telah diikuti oleh empat orang di belakang mereka. Namun demikian Mahisa Murti masih berkata, “Mungkin mereka memang menuju ke arah yang sama.”
Namun agaknya Mahisa Pukat memiliki sifat yang lebih berhati-hati. Katanya, “Mungkin. Tetapi mungkin iuga mereka memang mengikuti kita.”
Mahisa Murti berpaling. Jarak antara keduanya dengan keempat orang itu menjadi semakin dekat.
“Marilah, kita berbelok di tengah bulak itu.” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti sependapat. Ketika mereka sampai ke simpang empat di jalan bulak, maka mereka pun telah berbelok ke kanan, mengikuti jalan yang menuju ke arah yang tidak banyak dilalui orang, karena agaknya jalan itu telah menuju ke padang perdu yang gersang.
Mahisa Pukat menggamit Mahisa Murti ketika ternyata keempat orang itu pun berbelok pula mengikuti mereka. Bahkan semakin lama menjadi semakin dekat.
“Aku tidak peduli,” berkata Mahisa Murti, “marilah kita memasuki padang perdu itu. Apakah mereka masih tetap akan mengikuti kita. Jika mereka juga memasuki padang perdu itu, maka sebaiknya kita menunggu.”
Mahisa Pukat mengangguk. Ia pun sependapat bahwa mereka akan memasuki padang perdu untuk melihat, apakah orang-orang itu benar-benar mengikuti mereka.
Namun ternyata orang-orang itu membuat kedua anak muda itu menjadi berdebar-debar. Ketika kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki padang perdu yang jarang sekali diinjak kaki orang itu, selain orang-orang yang mencari kayu bakar, maka keempat orang itu pun masuk pula ke padang perdu itu.
“Sekarang kita pasti.” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baru beberapa langkah dari rumah. Kita sudah menghadapi persoalan yang tidak menarik sama sekali.”
“Apakah kita akan menunggu seperti yang kau katakan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Bukankah sebaiknya demikian, agar kita segera mendapatkan kepastian?” sahut Mahisa Murti.
“Baiklah. Kita berhenti di sini.” jawab Mahisa Pukat.
Kedua anak muda itu pun kemudian justru berhenti. Mereka pun kemudian duduk di atas rerumputan kering di bawah sebatang pohon perdu yang agak besar dibanding dengan pepohonan di sekitarnya.
Sambil bersandar batangnya, Mahisa Murti berkata, ”Mudah-mudahan mereka orang-orang yang sedang mencari kayu.”
Tetapi Mahisa Murti sendiri tidak yakin akan kata-katanya. Apalagi ketika kemudian ia melihat keempat orang itu menuju ke arahnya.
Sejenak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tertegun. Ternyata salah seorang dari empat orang itu adalah orang tua yang tidur semalam suntuk di serambi.
“Orang itu lagi.” desis Mahisa Murti.
“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “aku justru menjadi semakin curiga.”
Untuk sesaat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tidak menghiraukan keempat orang itu. Tetapi ketika keempat orang itu sudah berdiri di hadapan mereka, maka kedua anak muda itu tidak dapat berpura-pura tidak menghiraukan mereka lagi.
“Anak muda.” berkata orang yang semalam suntuk tidur dengan nyenyak. Lalu, “Siapakah sebenarnya kalian berdua?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap duduk di atas rerumputan kering. Dengan sikap yang nampaknya tidak berprasangka Mahisa Murti bertanya, “Apakah yang menarik pada kami? Kami adalah dua orang pengembara yang tidak berarti apa-apa.”
“Bukankah kalian berdua semalam berada di banjar?” bertanya orang yang tidur nyenyak itu.
“Ya. Aku berada di banjar, seperti juga kau.” jawab Mahisa Murti.
”Apakah kau telah dengan sengaja mengganggu rencanaku, he?” bertanya orang itu.
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya, “Aku tidak mengerti yang kau maksudkan. Apakah kiranya kami berdua sudah mengganggu?”
Orang yang semalam tidur nyenyak itu melangkah maju sambil menggeram, “Ya. Kalian telah mengganggu kami.”
“Kami tidak berbuat apa-apa.” jawab Mahisa Pukat.
“Apa yang kau lakukan semalam?” bertanya orang itu.
“Tidak apa-apa. Aku hanya duduk saja.” jawab Mahisa Pukat.
“Kau tidak tidur semalam.” geram orang itu.
“Aku tidak dapat tidur semalam. Baru menjelang pagi aku tertidur.” jawab Mahisa Pukat.
“Tetapi kawanmu itulah yang kemudian bangun.” bentak orang itu.
“Ya,” jawab Mahisa Murti, “aku memang terbangun dan tidak dapat tidur lagi.”
“Itulah sebabnya kalian telah mengganggu aku.” bentak orang itu pula.
Kedua orang saudara itu termangu-mangu. Namun mereka sudah dapat merasa, apa maksud orang itu. Agaknya mereka memang ingin melakukan sesuatu. Tetapi karena salah seorang dari kedua orang anak muda itu berganti-ganti duduk berjaga-jaga, maka orang itu merasa terganggu.
“Anak muda,” berkata orang itu, “apakah kau sengaja telah menggangguku semalam?”
“Tidak. Sama sekali tidak.” jawab Mahisa Murti.
”Baiklah. Aku masih mempercayaimu. Tetapi jika malam nanti kalian berada lagi di banjar itu atau di sekitar padukuhan, maka kau akan mengalami nasib yang sangat buruk. Ketahuilah, bahwa kami tidak segan-segan membunuh seseorang yang mengganggu pekerjaan kami.” geram orang itu.
“Tidak. Jangan bunuh kami,” minta Mahisa Murti, “kami tidak akan berbuat apa-apa. Kami akan pergi jauh meninggalkan padukuhan itu.”
“Aku tidak yakin,” tiba-tiba salah seorang di antara mereka yang mengikuti kedua bersaudara itu berdesis, “nampaknya kedua anak itu licik sekali. Mungkin ia justru ingin mendapat pujian orang-orang padukuhan.”
“Kami tidak akan ikut campur.” sahut Mahisa Murti. Tetapi ketika ia berpaling kepada Mahisa Pukat, dilihatnya kening anak muda itu berkerut. Agaknya Mahisa Pukat sedang menahan diri agar ia tidak bersikap sendiri.
Orang yang dikira semalam tidur nyenyak semalam suntuk itu kemudian bertanya, “He, apakah benar kau akan mencari pujian? Apakah kau justru akan pergi ke padukuhan itu dan melaporkan kepada Ki Buyut?”
“Tidak. Tidak.” jawab Mahisa Murti.
“Ingat. Aku dapat membunuhmu dengan cara yang paling buruk. Jika aku melihat kau berada di sekitar padukuhan itu maka kau akan mengalaminya.”
“ Kami akan pergi sangat jauh.” suara Mahisa Murti menjadi gemetar.
Orang yang disangka tidur nyenyak semalam suntuk itu pun berkata, “Aku masih mempercayaimu sekarang. Tetapi kau jangan mencari kesulitan. Sebab seandainya kau melaporkan hal ini kepada orang-orang padukuhan itu, akibatnya akan terjadi tidak seperti yang kau harapkan. Sebenarnya kami sama sekali tidak takut kepada orang-orang padukuhan itu. Jika kami masih mempergunakan pertimbangan, adalah justru karena kami tidak ingin membunuh seorang pun di antara mereka. Tetapi jika mereka berusaha menggagalkan niat kami, maka kami akan berbuat sesuatu yang akan dapat menimbulkan korban di antara orang-orang padukuhan itu. Sehingga yang kami lakukan, justru untuk keselamatan orang-orang padukuhan itu sendiri. Karena tidak seorang pun yang akan dapat menahan keinginan kami.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk, sementara Mahisa Pukat duduk dengan gelisah.
“Kau tahu maksud kami?” bertanya orang itu.
“Ya. Ya. Kami tahu.” jawab Mahisa Murti. Orang-orang itu masih berdiri tegang untuk beberapa saat. Namun kemudian, orang yang disangka tidur semalam suntuk itu berkata, “Ingatlah pesan kami, agar kaliar tidak mengalami kematian yang paling parah.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara orang itu berkata kepada kawan-kawannya, “Marilah. Kita tinggalkan mereka.”
Kawan-kawannya masih nampak ragu-ragu. Tetapi ketika orang itu melangkah pergi, maka yang lain pun mengikutinya. Seorang yang paling muda di antara mereka masih berpaling dengan tatapan mata penuh kebencian.
Ketika mereka sudah menjadi semakin jauh, maka Mahisa Pukat pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Untunglah aku masih dapat menahan diri.”
“Kita tidak akan mencari perkara.” jawab Mahisa Murti.
“Tetapi apakah yang akan mereka lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Itulah yang agak membingungkan. Sebenarnya kita dapat saja melupakan mereka. Tetapi pertanyaan seperti yang kau ucapkan itu tentu akan selalu mengganggu kita.” jawab Mahisa Murti.
“Bagaimana jika mereka bermaksud buruk?” bertanya Mahisa Pukat pula.
“Ya. Itulah soalnya.” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sikap mereka memang sangat mencurigakan. Dan sudah barang tentu, kita ikut bertanggung jawab jika terjadi sesuatu, karena kita sudah mengetahuinya lebih dahulu.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata bahwa terlalu sulit bagi kita untuk menghindarkan diri dari persoalan seperti ini. Kita sudah dihadapkan kepada teka-teki yang harus kita jawab, belum begitu jauh dari rumah kita.”
Mahisa Pukat menundukkan kepalanya. Ia mulai merenungi segala macam pesan orang-orang tua yang ditinggalkannya di rumah. Namun agaknya menghadapi sikap yang sangat mencurigakan itu, ia tidak melihat satu keberatan apapun dari pesan-pesan itu apabila ia berusaha untuk mengetahui dan apabila mungkin menghindarkan persoalan yang akan dapat berakibat buruk bagi banyak orang yang tidak bersalah.
Dalam pada itu, agaknya Mahisa Murti pun melihat kembali ke dalam persoalan yang sama, kepada pesan-pesan yang pernah diberikan sebelum ia meninggalkan rumahnya.
Karena itulah, maka akhirnya Mahisa Murti pun berkata, “Bagaimana jika kita nanti malam melihat apa yang terjadi di padukuhan itu?”
“Aku sependapat.” jawab Mahisa Pukat
Keduanya pun kemudian telah membulatkan tekad mereka untuk mengamati padukuhan yang baru saja mereka tinggalkan, justru karena orang yang semalam mereka anggap tidur mendekur itu telah mengancam mereka.
Karena itulah, maka sehari itu keduanya tidak beranjak dari tempat itu. Mereka hanya beringsut saat mereka mencari air. Sementara keduanya sempat membeli makanan sekedar untuk melawan lapar.
Rasa-rasanya mereka terlalu lama menunggu matahari yang dengan malasnya bergeser ke Barat. Meskipun mereka sudah mengisi waktu mereka dengan berbaring di bawah sebatang pohon yang agak rimbun di tempat yang jarang disentuh kaki manusia itu, namun waktu terasa maju dengan sangat lamban.
Namun akhirnya matahari pun telah turun. Perlahan-lahan langit pun menjadi kelabu dan akhirnya senja yang suram turun menyelubungi padang perdu yang sepi itu.
“Waktunya telah tiba.” berkata Mahisa Pukat.
”Baiklah. Tetapi kita harus berhati-hati. Kita harus menghindarkan diri dari persoalan-persoalan yang tidak perlu. Lebih baik kehadiran kita tidak diketahui sama sekali, agar bukan kitalah yang memancing keributan. Kecuali jika ternyata bahwa seseorang akan berbuat jahat di padukuhan itu.” berkata Mahisa Murti kemudian.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk sambil membenahi diri. Namun bagaimanapun terasa juga jantungnya berdebar-debar. Yang akan mereka lakukan akan merupakan pengalaman yang menarik. Tetapi jika justru karena itu mereka akan mengalami bencana, maka pengembaraan mereka akan berakhir pada hari ketiga saja.
Setelah malam menjadi semakin gelap, maka kedua orang anak muda itu pun dengan sangat hati-hati telah mendekati padukuhan yang mereka tinggalkan malam sebelumnya. Dengan sangat berhati-hati mereka mengendap mendekati dinding padukuhan. Ketika ternyata mereka berada di bagian yang tidak diawasi, maka keduanya pun segera meloncati dinding padukuhan memasuki sebuah halaman yang gelap.
“Kita tidak tahu, di manakah arah banjar itu.” desis Mahisa Pukat.
“Rasa-rasanya banjar itu berada di tengah-tengah padukuhan,” jawab Mahisa Murti, “kita akan dapat menduga arahnya.”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian bergeser dengan sangat hati-hati bersama Mahisa Murti.
Ternyata dengan tidak menimbulkan keributan, keduanya berhasil mendekati bajar. Mereka dengan sabar menunggu di belakang banjar. Meskipun gelap malam menjadi semakin pekat serta nyamuk yang berterbangan di sekitar mereka, namun keduanya masih harus menunggu.
“Apakah orang itu bermalam lagi di banjar?” bertanya Mahisa Murti.
“Kita akan melihat menjelang tengah malam. Agaknya orang-orang yang bermalam akan mendapat bagian jika para pemuda itu makan.” desis Mahisa Pukat.
“Ya. Kita akan dapat melihat dari seberang jika pintu regol tidak ditutup.” desis Mahisa Murti.
“Semalam pintu itu tidak tertutup.” jawab Mahisa Pukat.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun mengusap dahinya sambil berdesis, “He, bukankah menurut penglihatan kita, peronda di banjar ini terlalu kuat? Apakah memang kebiasaan padukuhan ini berbuat demikian, atau justru karena sesuatu sebab?”
“Tetapi nampaknya di gardu-gardu lain, anak-anak muda pun meronda pula.” jawab Mahisa Pukat.
“Ya, justru karena itu. Seolah-olah padukuhan ini memang sedang berjaga-jaga.” desis Mahisa Murti kemudian.
Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Kemudian ia bergumam, “Ya. Ya. Padukuhan ini nampaknya memang sedang berjaga-jaga.”
Sambil mengangguk-angguk Mahisa Pukat merenungi beberapa kemungkinan yang dapat dilakukannya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kita berpindah di halaman di depan banjar. Kita akan melihat apakah orang itu akan ikut makan para peronda seperti semalam. Sementara itu, jika kita mendapat kesempatan mendekati regol, mungkin kita dapat mendengar serba sedikit tentang keadaan padukuhan ini.”
“Bagus,” sahut Mahisa Murti, “kita akan pergi ke halaman di depan banjar ini.”
Kedua anak muda itu pun kemudian beringsut mengelilingi banjar itu. Dengan sangat berhati-hati mereka berhasil mendekati regol dan melihat lewat pintu gerbang yang terbuka. Tetapi ternyata dua orang tengah berjaga-jaga di depan regol sebagaimana dilakukan malam sebelumnya.
Ternyata kedua orang di pintu regol itu tidak banyak berbicara. Namun salah seorang di antara mereka bertanya, “Sampai kapan kita harus berjaga-jaga seperti ini?”
“Sampai upacara selesai. Dua hari lagi. Semua persiapan sudah diatur. Benda-benda yang diperlukan sudah berkumpul.”
Sejenak kedua orang anak muda yang berjaga-jaga di pintu gerbang itu terdiam sejenak. Namun kemudian yang seorang berkata lagi, “Apakah benda yang tersimpan itu mutlak harus ada dalam upacara seperti yang akan berlangsung ini?”
“Sudah beberapa kali hal itu dilakukan,” jawab kawannya, “tidak hanya di padukuhan kita. Di tempat-tempat lain pun dalam upacara wisuda seorang Buyut, topeng emas itu harus ada. Akuwu sendiri menetapkan hal itu. Karena itu, maka topeng itu diserahkan kepada padukuhan yang memerlukan. Karena benda itu sangat berharga, maka empat orang pengawal telah di tempatkan di banjar ini, di samping kita semuanya.”
Mahisa Murti pun menggamit Mahisa Pukat yang nampaknya juga sedang mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Pembicaraan yang tidak terlalu panjang itu agaknya telah memberikan keterangan yang jelas kepada kedua orang anak muda yang sedang bersembunyi itu. Ternyata bahwa di banjar itu sedang disimpan sebuah benda yang sangat berharga. Sebuah topeng yang terbuat dari emas, yang merupakan benda keramat bagi Pakuwon yang memerintah sampai ke padukuhan itu.
“Sudah ada empat orang pengawal.” bisik Mahisa Murti.
“Tetapi orang yang berniat jahat itu tentu sudah memperhitungkannya.” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Nampaknya benda itulah yang telah menarik perhatian orang-orang yang berniat jahat itu.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih harus menunggu apa yang akan terjadi. Nampaknya di banjar itu masih belum ada tanda-tanda yang mencurigakan.
Ketika menjelang tengah malam, serta para peronda itu pun dipersilahkan makan, kecuali dua orang yang berada di regol yang harus menunggu penggantinya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun berusaha untuk dapat melihat, apakah orang yang semalam bermalam di banjar nampak masih berada di banjar itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus menunggu semua peronda itu selesai makan. Bahkan kemudian dua orang yang berada di regol setelah dua orang kawannya yang lain menggantikannya.
Hampir saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat gagal untuk melihat gardu di bagian depan banjar itu, karena pintu regol telah ditutup sebagian. Namun mereka masih dapat menembus di celah-celah daun pintu yang terbuka.
“Justru kita akan dapat mendekat.” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dua orang penjaga gerbang yang menutup gerbang itu sebagian ternyata berjaga-jaga di bagian dalam pintu gerbang itu.
Sejenak kemudian, ketika para peronda telah selesai, maka seperti kebiasaan di malam-malam sebelumnya, maka orang-orang yang kemalaman dan bermalam di banjar itu pun dipersilahkan untuk makan pula.
“Tidak seterusnya.” berkata seorang peronda yang membangunkan orang yang bermalam di banjar itu. Lalu, “Kebetulan beberapa malam ini ada persediaan. Marilah. Mungkin di kesempatan lain kami tidak dapat menjamu kalian.”
Dalam pada itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk bergeser mendekat. Tetapi mereka tidak pergi ke pintu yang terbuka. Mereka lebih senang melihat apa yang terjadi di dalam dinding halaman itu dari sebatang pohon di halaman di seberang jalan.
Dari pohon itu mereka dapat melihat dua orang pengembara yang ikut makan di dalam gardu setelah para peronda selesai. Seorang di antaranya adalah orang yang semalam juga bermalam di banjar itu.
“Orang itu ada di gardu.” desis Mahisa Murti.
“Ya. Tentu akan terjadi sesuatu.” jawab Mahisa Pukat.
Keduanya pun kemudian turun dari pohon itu dan duduk di tempat yang terlindung. Dengan sabar mereka menunggu, apa yang akan terjadi di banjar itu lewat tengah malam.
Beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang ikut makan setelah para peronda itu pun telah kembali ditem-patnya. Sejenak mereka duduk tanpa berbicara. Namun sejenak kemudian keduanya telah berbaring lagi, seolah-olah mereka telah tidur dengan nyenyak.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun duduk dengan menahan kantuk yang mulai menjamah mereka. Perasaan itu semakin lama terasa semakin menekan, sehingga hampir-hampir saja keduanya tidak dapat bertahan lagi.
“Kita bergantian tidur.” berkata Mahisa Pukat.
“Tidurlah,” jawab Mahisa Murti, “jika terjadi sesuatu, aku akan membangunkanmu.”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Ia pun kemudian bersandar sebatang pohon sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Sejenak kemudian matanya pun telah terpejam, meskipun ia masih belum benar-benar nyenyak.
Semula Mahisa Murti pun tidak merasa curiga bahwa matanya hampir tidak dapat dibukanya lagi. Bahkan hampir saja ia juga tertidur. Namun justru karena itu, maka ia pun segera memaksa diri untuk bangkit berdiri sambil mengamati keadaan.
Ternyata menurut tanggapan Mahisa Murti, ada sesuatu yang tidak wajar. Karena itu, maka ia pun segera membangunkan Mahisa Pukat yang tidur sambil duduk bersandar sebatang pohon.
Ternyata sulit juga membangunkan Mahisa Pukat yang nyenyak. Sesuatu yang tidak seperti kebiasaannya. Anak muda itu akan segera bangkit jika tubuhnya disentuh. Tetapi ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuat Mahisa Pukat benar-benar terbangun dari tidurnya.
“Ada yang tidak wajar.” berkata Mahisa Murti.
“Apa?” bertanya Mahisa Pukat.
“Perasaan kantuk ini,” jawab Mahisa Murti, “cobalah kau melihat suasana malam ini dengan ketajaman inderamu.”
Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia pun menyadari, bahwa memang sesuatu telah terjadi di luar kewajaran.
Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah berusaha untuk mengetrapkan daya tahannya, sehingga akhirnya ia benar-benar dengan mantap menghadapi suasana yang terasa asing.
“Sirep.” tiba-tiba ia berdesis.
”Ya,” sahut Mahisa Murti, ”semuanya sudah hampir jelas. Kita berhadapan dengan usaha yang gawat bagi keselamatan barang-barang berharga bagi kelengkapan wisuda yang akan diselenggarakan di Kabuyutan ini.”
“Apa yang harus kita lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Di dalam lingkungan banjar itu ada beberapa orang pengawal. Mudah-mudahan mereka mengerti apa yang sedang mereka hadapi.” sahut Mahisa Murti.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih belum melihat sesuatu bakal terjadi. Banjar itu memang nampak sepi sekali.
“Bagaimana dengan para peronda itu?” desis Mahisa Pukat.
“Aku akan melihat.” sahut Mahisa Murti, ”Berjaga-jagalah di bawah. Aku akan memanjat.”
Mahisa Pukat mengangguk. Ia pun bergeser mendekati sebatang pohon yang pernah dipanjatnya pula untuk melihat keadaan di dalam dinding halaman banjar itu.
Mahisa Murtilah yang kemudian memanjat naik. Ketika ia sudah sampai ketinggian yang cukup, maka ia pun menjadi semakin berdebar-debar. Ia melihat orang-orang yang berada di dalam gardu itu pun telah tertidur dengan nyenyaknya.
Dengan tergesa-gesa Mahisa Murti pun meluncur turun. Dengan sungguh-sungguh ia berkata, ”Mereka telah tertidur. Mungkin dua orang penjaga regol itu pun telah tertidur.”
“Bukankah semakin jelas bagi kita,” berkata Mahisa Pukat kemudian, ”agaknya semalam orang yang berpura-pura tidur nyenyak itu akan mengetrapkan ilmu sirepnya. Tetapi karena salah seorang dari kita berjaga-jaga maka ia justru merasa terganggu karenanya. Sekarang, ia mendapat kesempatan itu.”
“Ya,” jawab Mahisa Murti, ”karena itu kita wajib untuk berbuat sesuatu. Tetapi aku belum tahu pasti, apakah yang sebaiknya kita lakukan sekarang.”
“Kita akan menunggu sejenak. Bukankah orang itu mempunyai beberapa orang kawan?” desis Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia sadar, jika sesuatu terjadi di dalam lingkungan banjar itu, maka ia akan dapat terlambat.
Karena itu, akhirnya ia berkata, ”Marilah. Kita memasuki halaman banjar.”
Mahisa Pukat termangu-mangu, sementara Mahisa Murti menjelaskan, ”Di sini kita tidak melihat apa yang terjadi. Mungkin orang itu telah memasuki ruang penyimpanan barang-barang berharga dan mencurinya.”
Mahisa Pukat berpikir sejenak. Kemudian katanya, ”Baiklah. Tetapi apakah kita akan memasuki regol itu?”
“Sangat berbahaya. Sebaiknya kita meloncat saja di arah belakang banjar itu.” jawab Mahisa Murti.
Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah merayap dengan hati-hati. Ketika mereka yakin, bahwa di bagian belakang banjar itu tidak terdapat seseorang yang akan dapat melihat mereka, maka Mahisa Murti pun mulai meloncat naik. Dengan kedua tangannya ia menggapai bibir dinding halaman itu. Kemudian dengan hati-hati ia pun mengangkat tubuhnya dan berbaring di atas dinding.
Sejenak ia memperhatikan keadaan. Ternyata bahwa di bagian belakang banjar itu memang sepi.
Dengan isyarat ia memanggil Mahisa Pukat agar mengikutinya meloncati dinding itu.
Sesaat kemudian, keduanya telah berada di dalam lingkungan dinding banjar. Dengan sangat hati-hati keduanya merayap mendekati banjar yang sepi itu.
Ternyata bahwa keduanya sama sekali tidak mendengar suara apapun juga. Bahkan suara desah nafas sekalipun.
Dengan sangat hati-hati keduanya bergeser melingkari banjar itu. Ketika mereka sampai di sebelah serambi, maka mereka pun berhenti. Dengan penuh kesungguhan mereka mendengarkan setiap bunyi yang dapat mereka tangkap. Namun mereka tidak mendengar suara apapun juga yang memberikan isyarat bahwa di serambi ada seseorang.
Selangkah lagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat maju. Mahisa Murti memberanikan diri untuk menjenguk serambi yang diterangi dengan lampu minyak yang redup. Namun ternyata serambi itu sudah kosong.
“Di sini semalam kita tidur bersama orang itu.” desis Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk. Namun nampaknya ia masih tetap ragu untuk bergerak maju.
Namun dalam pada itu, selagi keduanya termangu-mangu, tiba-tiba saja mereka telah mendengar lengking panah sendaren yang meluncur dari halaman depan banjar itu.
“Panah sendaren.” desis Mahisa Pukat.
“Ya. Orang itu tentu berada di halaman.” desis Mahisa Murti, ”Marilah. Kita masuk ke dalam lewat pintu butulan. Orang itu tentu memanggil kawan-kawannya setelah ia yakin bahwa orang-orang yang meronda telah tertidur. Agaknya mereka akan mengambil barang-barang berharga itu dalam jumlah yang cukup banyak.”
“Mungkin ada benda lain selain topeng seperti yang dikatakan peronda itu.” sahut Mahisa Pukat. Lalu, ”Marilah. Kita masuk ke dalam.”
Kedua anak muda itu pun kemudian dengan sangat berhati-hati mendekati pintu butulan banjar itu.
Dengan tidak menimbulkan bunyi, mereka perlahan-lahan mendorong pintu butulan yang ternyata tidak diselarak dari dalam. Namun hampir saja mereka melonjak ketika mereka melihat sepasang kaki yang menjelujur di balik pintu itu.
”Pintu ini dijaga meskipun tidak diselarak,” bisik Mahisa Murti, ”tetapi lihat, penjaga itu tidur dengan nyenyaknya.”
Ketika keduanya memasuki ruang dalam banjar itu, ternyata di ruang itu ada tiga orang yang tertidur. Seorang di pintu butulan, dua orang lainnya di pintu utama yang masih tertutup. Tetapi pintu itu juga tidak diselarak dari dalam.
“Marilah pintu-pintu itu kita selarak.” ajar Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, ”Bagus. Kita akan menyelarak pintu-pintu itu.”
Kedua anak muda itu pun segera menyelarak pintu butulan dan pintu utama dari dalam. Kemudian mereka pun memasuki ruang penyimpanan benda-benda berharga di sebuah sentong yang tidak berpintu.
Mereka tertegun ketika mereka berada di dalam ruang itu. Mereka melihat dua orang pengawal tidur dengan nyenyaknya di depan pintu, sedangkan dua orang lainnya tidur di amben, di dekat dua buah peti yang cukup besar.
“Para pengawal ini pun ternyata tidak sempat melawan sirep yang tajam ini.” berkata Mahisa Murti.
“Ya. Nampaknya mereka tidak curiga sebelumnya, sehingga mereka tidak bersikap untuk melawannya.” desis Mahisa Pukat.
“Apakah mereka akan kita bangunkan?” bertanya Mahisa Murti. Mahisa Pukat merenung sejenak. Katanya kemudian, ”Bukankah sebaiknya demikian?”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. ”Marilah. Sebentar lagi orang-orang itu tentu akan datang.” jawabnya.
Kedua anak muda itu pun kemudian berusaha membangunkan para pengawal. Namun dalam pada itu, selagi mereka mengguncang tubuh yang terbujur di lantai dan di amben itu, mereka mendengar suara pintu diguncang.
“Mereka berusaha membuka pintu.” desis Mahisa Pukat.
“Cepat, bangunan para pengawal.” sahut Mahisa Murti sambil mengguncang pengawal yang tertidur di lantai, sementara Mahisa Pukat berusaha membangunkan pengawal yang tertidur di amben.
Sejenak kemudian, pengawal-pengawal itu mulai menggeliat. Dengan hati-hati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berbisik di telinga mereka, ”Bangun. Bangunlah, Ki Sanak. Kau telah diracuni dengan ilmu sirep yang tajam. Bukankah kau bertugas menjaga peti-peti itu?”
Beberapa kali mereka berusaha dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, pintu butulan pun telah mulai diguncang pula.
“Setan!” geram orang yang di luar, “Pintu ini biasanya tidak pernah diselarak. Orang-orang dungu itu terlalu percaya kepada kemampuan mereka yang tidak berarti apa-apa itu.”
“Tetapi ternyata kali ini mereka telah menyelarak pintu.” sahut yang lain.
“Kita akan memecahkannya,” berkata suara yang besar dan berat, ”orang-orang yang tertidur oleh ilmu sirep itu tentu tidak akan terbangun.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi gelisah. Pengawal-pengawal itu masih belum menyadari keadaannya sepenuhnya. Sementara itu, keadaan menjadi semakin gawat.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian berusaha mempergunakan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Mereka berusaha untuk mempengaruhi orang-orang yang sedang tertidur itu dengan kata-kata yang mereka lontarkan dengan dorongan kemampuan di dalam diri mereka.
“Bangun. Kalian berada dalam bahaya. Bangun jika kalian tidak ingin mati.”
Ternyata kedua anak muda itu berhasil. Kata-kata itu dapat mempengaruhi para pengawal yang memang sudah mulai terbangun.
Karena itu, maka oleh dorongan dan pengaruh kata-kata kedua anak muda itu di telinga mereka, maka mereka pun mulai menyadari diri mereka. Perlahan-lahan mereka pun bangkit dan duduk dengan lesu.
“Cepat, kuasai diri kalian,” kedua anak muda itu masih terus berbisik, ”jika tidak, kalian akan mati di banjar ini.”
Lambat laun, para pengawal itu pun terbangun sepenuhnya. Sorang di antara mereka justru telah meloncat bangkit. Hampir saja ia berteriak menyapa anak-anak muda yang belum dikenalnya itu. Tetapi Mahisa Murti memberi isyarat, agar orang itu terdiam.
”Kalian telah tertidur oleh pengaruh sirep.” bisik Mahisa Murti.
Pengawal itu termangu-mangu. Ketika ia melihat kedua peti itu masih ada, maka dengan tergesa-gesa ia pun menggapai tutup peti itu dan membukanya. Sementara kawan-kawannya pun telah beringsut mendekat.
“Masih ada.” desis pengawal yang pertama.
“Tetapi lihat, apakah benda-benda itu masih ada di dalam peti-peti kecil itu.” sahut yang lain.
”Tetapi cepat.” berkata Mahisa Murti, “Sebentar lagi orang yang mengingini benda-benda itu akan segera masuk. Dengarlah, mereka sedang berusaha memecahkan pintu.”
“Pintu itu tidak diselarak.” sahut pengawal yang seorang.
”Aku yang telah menyelarak.” sahut Mahisa Pukat.
Keempat pengawal itu ternyata ingin melihat, apakah benda-benda berharga itu masih berada di dalam peti-peti kecil di dalam kedua peti yang besar itu. Ketika mereka melihat beberapa peti tanpa berubah letak dan isinya, maka mereka pun mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, ”Aku percaya kepada kalian berdua. Tetapi siapakah kalian ini?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Mereka ternyata ragu-ragu untuk menyatakan diri.
Namun dalam pada itu, selagi kedua anak muda itu masih ragu-ragu, terdengar pintu didorong dengan kekerasaan sehingga suaranya berderak-derak, meskipun ada usaha agar gemeretak palang selarak yang patah tidak membangunkan orang-orang yang tertidur nyenyak.
“Jangan takut,” geram seseorang di luar, ”mereka tidak akan terbangun meskipun seandainya banjar ini roboh.”
Namun sebenarnyalah empat orang pengawal itu telah benar-benar bangun dan menguasai diri sepenuhnya.
“Kita harus berbuat sesuatu untuk mengatasi kehadiran mereka,” berkata Mahisa Murti kemudian, ”nanti sajalah aku berceritera tentang diri kami berdua.”
Para pengawal itu memang tidak sempat bertanya lagi. Pintu butulan sudah mulai terdorong setapak. Palang selarak telah menjadi patah dan suaranya berderak ketika yang patah itu jatuh di lantai.
Dua di antara para pengawal itu memencar, sementara yang dua berdiri tegak di depan pintu ruang tempat barang-barang itu diletakkan.
“Masuklah ke dalam ruang penyimpanan itu,” desis salah seorang pengawal kepada kedua orang anak muda itu, ”mereka akan bertindak kasar. Agar kau tidak disakitinya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun seorang pengawal telah mendorongnya sambil berdesis, ”Cepat. Mungkin kau tidak hanya disakitinya, tetapi kepalamu dapat dipenggalnya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang belum sempat memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan, telah masuk ke dalam ruang penyimpanan benda-benda berharga itu. Mereka mengerti, bahwa para pengawal itu memang ingin melindungi mereka.
Sejenak kemudian, maka pintu butulan pun terbuka. Beberapa orang telah meloncat memasuki ruang dalam banjar itu.
Namun mereka terperanjat ketika mereka melihat empat orang pengawal berdiri tegak dengan pedang di tangan mereka.
“Anak setan!” geram seorang yang bertubuh tinggi besar dan berkumis lebat. ”Kenapa kalian tidak tertidur he?”
Seorang di antara para pengawal, yang nampaknya penanggung jawab dari pusaka-pusaka di dalam peti itu berkata, ”Permainan yang tidak berarti. Kau sangka ilmu sirepmu itu berharga bagi kami?”
“Persetan,” geram orang bertubuh tinggi besar itu, ”meskipun kau tidak dapat terpengaruh oleh ilmu sirep ini, tetapi kalian akan mengalami nasib yang lebih buruk. Jika kalian tertidur, maka kalian tidak akan aku sentuh dalam tidur. Besok kau akan bangun dalam keadaan segar bugar.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar