Selasa, 29 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 021-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-021-01*

Pengawal Pangeran Kuda Permati itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Pangeran Singa Narpada adalah seorang Senapati dengan dalam keadaan yang panas, jantungnya masih tetap dingin. Ia masih mampu berpikir dengan baik dan menilai keadaan dengan pertimbangan yang tenang.

Dalam pada itu pengawal Pangeran Kuda Permati itu berkata, “Aku sudah berusaha untuk mencegah pertempuran yang terjadi sepeninggal Pangeran Kuda Permati dan puteri Purnadewi. Namun beberapa orang perwira yang tidak mau mempergunakan nalarnya tidak menghiraukan keadaan yang kami hadapi. Selain Pangeran Kuda Permati sudah meninggal, maka keadaan pasukan kami di padukuhan ini sama sekali tidak berimbang dengan pasukan Kediri. Jika kami menyampaikan sebagaimana adanya tentang Pangeran Kuda Permati dan puteri Purnadewi, mungkin sikap Kediri-pun akan berbeda. Mereka tidak asal saja membantai kami yang tidak lagi mempunyai sandaran sepeninggal Pangeran Kuda Permati.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Ia percaya kepada pengawal itu tentang semua yang dikatakannya.

Ternyata bahwa puteri Purnadewi telah mengorbankan bukan saja suaminya, tetapi juga dirinya sendiri. Ia telah mengorbankan orang yang dicintainya, sehingga hidupnya sendiri menjadi tidak berarti sama sekali.

Sejenak Pangeran Singa Narpada merenungi kedua sosok tubuh yang telah membeku itu. Bagaimanapun juga ia menaruh hormat yang sebesar-besarnya kepada puteri Purnadewi. Namun ia tidak sampai hati memisahkan kedua tubuh yang terbaring diam itu, karena bagi Kediri keduanya mempunyai kedudukan yang berbeda. Yang seorang bagi Kediri merupakan seorang pengkhianat, sedangkan seorang yang lain adalah seorang pahlawan. Namun keduanya adalah sepasang suami isteri yang saling mencintai.

Karena itu, akhirnya Pangeran Singa Narpada mengambil kesimpulan, agar keduanya biar saja tetap berbaring berdampingan.

Sementara itu, maka Pangeran Singa Narpada berkata kepada salah seorang pengawalnya, “perintahkan beberapa orang mengawal kedua sosok tubuh itu. Jangan diganggu. Sementara aku akan melihat apa yang terjadi di medan perang.”

Beberapa pengawal Pangeran Singa Narpada-pun kemudian berada di dalam dan diluar bilik itu. Sementara yang lain mengawal Pangeran Singa Narpada keluar dari rumah itu.

Demikian Pangeran Singa Narpada berada di halaman, maka suasananya telah berubah sama sekali. Ia tidak melihat dengan kepala tunduk sosok-sosok mayat yang terbaring diam. Namun di halaman Pangeran Singa Narpada merasakan betapa panasnya suasana. Yang terdengar adalah sorak gemuruh dan teriakan-teriakan kesakitan. Umpatan kasar dan caci maki yang kotor. Sementara itu senjata masih saja berdentangan saling beradu.

Namun sementara itu, Pangeran Singa Narpada telah melihat mayat yang terbujur lintang di halaman. Sebagian besar dari sosok-sosok mayat itu adalah mayat para pengikut Pangeran Kuda Permati.

“Jika dibiarkan saja pertempuran ini, akan berarti para pengikut Pangeran Kuda Permati akan dibabat habis oleh prajurit Kediri yang marah.”

Sejenak Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun kemudian ia-pun telah memerintahkan kepada seorang prajurit yang bertugas untuk memberikan isyarat, agar dilontarkan ke udara anak panah sendaren untuk mengisyaratkan, agar lawan diberi kesempatan menyaksikan semua bagian dari medan pertempuran itu.

Sejenak kemudian, maka beberapa anak panah sendaren telah berterbangan di udara. Bagi yang mengenal isyarat-isyarat sandi, maka mereka-pun segera mengetahui, bahwa bunyi isyarat itu adalah, “beri kesempatan yang menyerah.”

Seorang perwira mengumpat sambil berkata, “Gila, Siapakah yang telah dengan lemah hati memerintahkan pertempuran ini dihentikan? Mungkin isyarat itu dilontarkan tanpa setahu Pangeran Singa Narpada.”

“Tidak seorang-pun yang akan berani melontarkan isyarat yang berisi perintah diluar pengetahuan Pangeran Singa Narpada. Orang yang demikian tentu akan mengalami nasib yang buruk,” jawab yang lain.

“Jadi kita harus melepaskan kesempatan ini. Pada satu saat aku memang ingin melihat mayat bertebaran membujur lintang, seperti membabat batang ilalang,” berkata yang pertama.

Keduanya terdiam, ternyata banyak Senapati yang agaknya mempunyai keberatan atas isyarat itu.

Baru ketika isyarat itu dilontarkan untuk kedua kalinya, maka para perwira itu mempercayainya bahwa mereka harus memberi kesempatan kepada lawan menyerah.

Tidak seorang-pun diantara para perwira Pangeran Singa Narpada yang berani menentang perintah, bagaimanapun perintah itu tidak sesuai dengan kemarahan yang bergolak didalam jantung mereka, namun mereka harus melaksanakan perintah itu. Memberi kesempatan lawan mereka untuk menyerah.

Karena itu, maka beberapa orang perwira yang memimpin kelompok-kelompok pasukan telah meneriakkan perintah kepada lawan, agar mereka menyerah.

Memang tidak mudah untuk memaksa lawan yang putus asa itu menyerah. Para pengikut Pangeran Kuda Permati yang kehilangan nalar itu justru telah bertempur seperti orang yang kesurupan. Seperti orang yang tidak mempunyai perasaan lagi justru karena putus asa.

Meskipun demikian ada juga diantara mereka yang masih sempat berpikir. Bahwa tidak akan ada gunanya untuk bertempur terus, sebagaimana mereka menyadari bahwa tidak akan ada gunanya untuk membunuh diri. Dengan demikian ketika lawan mereka meneriakkan perintah untuk menyerah, maka mereka-pun telah melemparkan senjata-senjata mereka.

Dengan demikian, maka pertempuran-pun semakin berat sebelah. Namun bagi para perwira pasukan Pangeran Singa Narpada yang keras, menghadapi para pengikut Pangeran Kuda Permati yang tidak mau menyerah, agaknya benar-benar satu sikap yang keras pula.

Meskipun demikian, setiap kali para perwira dari pasukan Pangeran Singa Narpada masih memberi kesempatan kepada lawan-lawan mereka untuk menyerah.

Bagaimanapun juga bergeloranya api didalam dada para pengikut Pangeran Kuda Permati, namun akhirnya mereka tidak dapat kenyataan bahwa mereka tidak dapat berbuat lain, kecuali mereka yang memang sengaja ingin membunuh diri. Apalagi mereka yang sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi atas Pangeran Kuda Permati.

Demikianlah, akhirnya pertempuran itu-pun berhenti juga. Masih ada sebagian dari para pengikut Pangeran Kuda Permati yang ditangkap hidup-hidup. Meskipun ada juga diantara para prajurit Kediri yang ingin mereka tertumpas habis, namun mereka harus menghormati paugeran kastria. Mereka tidak memperlakukan lawan yang sudah menyerah dengan cara yang sama dengan menghadapi mereka yang tetap pada pendiriannya, melawan pasukan Kediri.

Pangeran Singa Narpada memandangi mereka yang menyerah itu dengan sorot mata yang bagaikan menyala. Tangan mereka yang menyerah itu-pun tentu telah bernoda darah orang-orang Kediri. Mungkin prajurit Kediri, tetapi mungkin orang-orang lemah yang tidak berdaya.

Tetapi Pangeran Singa Narpada masih tetap menyadari kedudukannya. Karena itu, maka ia-pun telah memerintahkan agar para tawanan diperlakukan sebagaimana seorang tawanan.

Ketika pertempuran di padukuhan itu akhirnya selesai juga, maka bekasnya benar-benar telah mendirikan bulu tengkuk. Mayat bergelimpangan terbujur lintang di halaman-halaman, di kebun-kebun dan bahkan benar di jalan-jalan padukuhan. Benar-benar pertempuran yang mengerikan.

Dengan demikian, maka tugas para prajurit Kediri-pun adalah mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh di peperangan itu, sementara para tawanan dengan mendapat pengawalan yang kuat, harus mengumpulkan kawan-kawan mereka pula.

Untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, maka kedua pihak telah mengumpulkan kawan-kawan mereka, terutama yang terluka, di tempat yang berbeda.

Dengan demikian, maka pekerjaan yang berat-pun telah menunggu. Mengubur mayat yang jumlahnya bagaikan tidak terhitung dan mereka-pun harus merawat kawan-kawan mereka yang terluka dari kedua belah pihak.

Namun sementara itu, Pangeran Singa Narpada telah mengirimkan beberapa orang penghubung untuk mencapai Kediri dan melaporkan apa yang telah terjadi. Sementara itu, Pangeran Singa Narpada dengan sengaja, telah membiarkan beberapa orang lawan yang melarikan diri dari padukuhan itu.

Pangeran Singa Narpada berharap, bahwa orang-orang yang melarikan diri itu justru akan menyebarkan berita kematian Pangeran Kuda Permati diantara kawan-kawan, sehingga akhirnya berita kematian itu akan didengar oleh semua pengikut Pangeran Kuda Permati.

Para penghubung itu dengan hati-hati berpacu meninggalkan padukuhan justru menjelang senja menuju ke Kota Raja. Mereka berharap bahwa perjalanan di malam hari akan dapat memberikan, sedikit perlindungan bagi mereka, karena jika mereka bertumpu dengan kesatuan para pegikut Pangeran Kuda Permati, maka mereka tidak akan pernah sampai ke Kota Raja.

Dengan bekal pengalaman dan pengenalan mereka atas daerah yang mereka lalui, maka para penghubung itu akhirnya sampai juga ke Kota Raja. Mereka tidak membuang waktu lebih lama lagi. Karena itu, maka mereka-pun malam itu juga telah menghadap Panglima prajurit Kediri.

Laporan itu memang sangat mengejutkan. Namun laporan, itu merupakan satu peristiwa yang sangat penting.

Meskipun demikian Panglima pasukan Kediri masih harus menunggu keesokan harinya untuk menghadap Sri Baginda.

Ketika berita itu disampaikan kepada Sri Baginda, maka wajah Sri Baginda menjadi tegang. Namun kemudian wajah itu tertunduk dalam-dalam. Untuk beberapa saat Sri Baginda tidak mengatakan sesuatu. Bagaimanapun juga Pangeran Kuda Permati adalah keluarga sendiri. Sementara itu Sri Baginda menjadi sangat terharu mendengar sikap, puteri Purnadewi. Betapa-pun pedihnya, tetapi ia telah melakukannya. Membunuh suaminya yang sangat dicintainya, karena ia telah menemukan satu keyakinan tentang usaha penyelamatan Kediri.

Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Tidak seorang-pun yang mendahului Sri Baginda berkata sesuatu.

Dengan demikian, maka untuk sejenak, ruangan itu menjadi sepi hening. Namun terasa disetiap hati, sentuhan oleh peristiwa yang telah terjadi.

Baru kemudian Sri Baginda berkata, “Aku tidak mengira betapa tingginya kesetiaan Purnadewi terhadap Kediri. Ia mencintai Kediri melampaui segalanya. Suaminya yang sangat dicintainya telah dikorbankannya.”

“Dan dirinya sendiri,” desis salah seorang Senapati.

“Tidak,” berkata Sri Baginda, “ia tidak mengorbankan diri bagi Kediri. Tetapi tanpa suaminya ia merasa bahwa hidupnya tidak akan berarti lagi.”

Senapati itu menunduk dalam-dalam. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Sejenak kemudian, maka Sri Baginda itu-pun berkata, “Siapkan prajurit segelar sepapan. Jika terjadi sesuatu diperjalanan, jangan mengecewakan. Ambil tubuh Pangeran suami isteri itu atas namaku. Bawa tunggul kebesaran kerajaan, sebagai pertanda bahwa kepergian kalian atas perintahku pribadi.”

Panglima prajurit Kediri itu-pun mengangguk. Ia mengerti perasaan yang bergejolak di dalam hati Sri Baginda. Namun ia tidak mengatakan sesuatu.

Demikianlah, maka Sri Baginda-pun segera memerintahkan Panglima prajurit untuk bersiap dan berangkat, agar pasukan itu tidak terlambat, bahwa tubuh kedua suami isteri itu sudah dimakamkan.

Panglima pasukan Kediri itu tidak menunda waktu lagi. Ia-pun segera mengerahkan semua pasukan berkuda yang ada di dalam Kota Raja. Namun demikian, Panglima itu tetap berhati-hati. Pasukan yang tersisa seluruhnya telah disiagakan jika terjadi sesuatu. Mungkin para pengikut Pangeran Kuda Permati justru menjadi putus asa dan mengamuk tanpa menghiraukan apa-pun lagi.

Karena itu, setiap barak prajurit di Kediri telah bersiaga sepenuhnya, sementara semua pasukan berkuda dari beberapa barak dan kesatuan telah diperintahkan untuk berkumpul di alun-alun segera.

Ternyata prajurit Kediri masih mampu bergerak cepat. Dengan segera sepasukan prajurit berkuda yang besar dan kuat telah siap di alun-alun, lengkap dengan pertanda dan umbul-umbul kerajaan. Mereka-pun membawa rontek, pan-ji-panji dan klebet kebesaran pasukan mereka masing-masing.

Panglima prajurit Kediri itu-pun telah memimpin sendiri pasukan itu dengan penunjuk jalan penghubung yang telah menyampaikan laporan tentang kematian Pangeran Kuda Permati dan isterinya.

Beberapa saat kemudian, maka pasukan yang besar dengan segala macam pertanda kebesaran itu-pun telah berderap di jalan-jalan menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh para penghubung.

Iring-iringan pasukan itu ternyata telah mengejutkan orang-orang yang menyaksikan. Mereka belum pernah melihat iring-iringan sekuat itu. Apalagi dengan pertanda utusan Sri Baginda dan tanda-tanda kebesaran di setiap kelompok pasukan.

Sementara itu, prajurit yang tersisa dan ditinggalkan di Kota Raja-pun telah bersiap-siap sepenuhnya. Kekuatan mereka tidak begitu besar lagi. Jika terjadi sesuatu, maka mereka harus mampu mengatasi dengan kekuatan yang ada. Namun demikian, Senapati yang mewakili Panglima yang sedang memimpin sendiri pasukan yang menjemput sosok tubuh Pangeran Kuda Permati suami isteri itu, telah menghubungi para pemimpin pasukan di perbatasan. Jika diperlukan, maka pasukan di perbatasan itu akan ditarik masuk ke dalam Kota Raja.

Dalam pada itu, maka iring-iringan pasukan berkuda itu-pun berpacu dengan cepat melintasi bulak-bulak panjang dana padukuhan-padukuhan. Tidak seorang-pun yang berani mengganggu pasukan itu. Bahkan pasukan Pangeran Kuda Permati yang mengetahui pasukan yang besar itu lewat, telah menyibak dan bahkan bersembunyi. Mereka tidak akan berani mengambil akibat yang pahit jika mereka berani mengganggu pasukan itu. Pasukan yang sangat besar dan kuat, yang belum pernah dilihat oleh para pengikut Pangeran Kuda Permati.

Namun sementara itu, beberapa orang pengikut Pangeran Kuda Permati memang sudah berhasil melarikan diri. Mereka berusaha untuk dapat bergabung dengan pasukan-pasukan yang berada di padukuhan yang bertebaran.

Tetapi mereka ternyata telah membawa berita yang sangat mengejutkan bagi para pengikut Pangeran Kuda Permati. Mereka yang melarikan diri, pada umumnya sudah mengetahui, setidak-tidaknya mendengar dari kawan-kawan mereka, bahwa Pangeran Kuda Permati telah terbunuh bersama istrinya puteri Purnadewi.

Berita itu ikut tersebar ke lingkungan para pengikut Pangeran Kuda Permati.

“Bohong,” teriak seorang perwira yang memimpin sekelompok pasukan di sebuah padukuhan.

“Aku berkata sebenarnya,” jawab pengikut yang melarikan diri itu.

Perwira itu terpaksa memikirkannya. Namun ia kemudian berkata, “Aku tidak dapat dengan tergesa-gesa mempercayaimu. Aku harus membuat hubungan dengan beberapa orang kawan.”

“Padukuhan itu sudah direbut oleh pasukan Pangeran Singa Narpada,” berkata pengikut Pangeran Kuda Permati yang melarikan diri itu.

“Pengecut. Kenapa Pangeran Singa Narpada tidak berani menghadapi pasukan induk kita?” bertanya perwira itu.

Pengikut Pangeran Kuda Permati yang sempat melarikan diri itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Tetapi apa yang dapat dilakukan oleh pasukan induk ini kemudian. Pangeran Kuda Permati sudah terbunuh. Dan apakah kekuatan pasukan induk ini masih tetap sebagaimana kita duga sebagaimana semula? Sebagian diantara kekuatan induk ini, justru kekuatan yang paling terpercaya yang justru sedang mengawal Pangeran Kuda Permati telah dimusnahkan oleh pasukan Pangeran Singa Narpada? Sementara itu, kekuatan Kediri jika dikerahkan dan mendapatkan sasaran yang benar, tidak akan dapat kita lawan.”

“Omong kosong,” bentak perwira itu, “aku tidak akan mengambil kesimpulan dengan tergesa-gesa. Apalagi mengorbankan diri untuk digantung di alun-alun.”

Pengikut Pangeran Kuda Permati yang melarikan diri itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Memang sebaiknya kita mencari hubungan untuk mendapatkan keterangan yang pasti.”

Dengan demikian, maka perwira itu telah memanggil beberapa orang pembantunya. Mereka mulai berbincang tentang berita yang dibawa oleh salah seorang diantara mereka yang sempat melarikan diri dari pertempuran di padukuhan itu.

Ternyata bahwa semuanya berpendirian, bahwa mereka harus mendapatkan satu kepastian tentang kebenaran berita itu.

Karena itu, maka mereka-pun telah menugaskan beberapa orang dalam tugas sandi untuk mencari berita dan juga untuk mengetahui tempat dan gerak pasukan Kediri.

Dengan hati-hati mereka-pun telah berusaha melakukan tugas mereka sebaik-baiknya. Tugas yang tidak akan dapat mereka selesaikan dalam waktu satu hari saja.

Namun akhirnya mereka-pun mendapat keterangan bahwa sepasukan Kediri yang kuat telah ke sebuah padukuhan tempat Pangeran Kuda Permati dan isterinya puteri Purnadewi terbunuh.

Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan untuk mendekat. Nampaknya penjagaan yang dilakukan oleh pasukan yang menduduki padukuhan itu benar-benar ketat. Namun dari orang-orang yang menyaksikan, petugas itu mendapat gambaran tentang pasukan berkuda yang menuju ke padukuhan itu.

“Satu pasukan yang sangat kuat,” berkata orang-orang yang menyaksikan.

Para petugas sandi itu dapat membayangkan sebagaimana diceriterakan oleh orang-orang yang melihatnya. Umbul-umbul rontek dan klebet dari setiap kesatuan, serta tanda kebesaran dari pasukan Kediri dengan umbul-umbul kerajaan.

“Satu pameran kekuatan yang belum pernah terjadi,” berkata petugas sandi itu, “Bergabung dengan pasukan Singa Narpada, maka kekuatan itu akan benar-benar merupakan kekuatan yang tidak terpatahkan.”

Sementara itu, pasukan berkuda Kediri itu telah memasuki padukuhan yang telah diduduki oleh Pangeran Singa Narpada itu, dengan membawa perintah Sri Baginda, bahwa kedua tubuh Pangeran Kuda Permati dan putri Purnadewi harus dibawa kembali ke Istana Kediri.

Pangeran Singa Narpada yang sudah menguasai padukuhan itu sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan sebenarnyalah didalam hati, Pangeran Singa Narpada juga merasa kehilangan, karena keduanya masih keluarga sendiri. Apalagi cara keduanya meninggal. Terutama hormat Pangeran Singa Narpada yang terbesar ditujukan kepada puteri Purnadewi.

Nampaknya Pengeran Singa Narpada juga tidak ingin menduduki tempat itu terlalu lama. Pasukannya juga ingin kembali bersama pasukan berkuda itu. Namun karena diantara mereka adalah orang-orang yang terluka, baik para prajurit Pangeran Singa Narpada sendiri, mau-pun para pengikut Pangeran Kuda Permati, maka perjalanan mereka-pun akan menjadi sangat lambat, karena mereka akan membawa beberapa buah pedati.

Karena itu, maka pasukan berkuda itu-pun telah dibagi. Sebagian dari mereka akan mendahului dengan membawa tubuh Pangeran Kuda Permati dan puteri Purnadewi. Sedangkan sebagian kecil diantara mereka akan kembali bersama pasukan Pangeran Singa Narpada membawa mereka yang terluka, yang terbunuh di peperangan telah dikubur di padukuhan yang telah mereka duduki itu untuk sementara.

Kepergian pasukan Pangeran Singa Narpada itu juga memberi kesempatan, agar berita tentang kematian dan sebab-sebab kematiannya lebih cepat tersebar.

Sebenarnyalah, sepeninggal pasukan Pangeran Singa Narpada, maka beberapa orang petugas yang dikirim oleh para perwira dari pasukan yang berpijak kepada Pangeran Kuda Permati telah datang ke padukuhan itu untuk mendapatkan keterangan yang dapat memastikan kematian Pangeran Kuda Permati dan sebab-sebabnya.

Ternyata berita tentang kematian dan sebab-sebab kematian Pangeran Kuda Permati telah menimbulkan berbagai tanggapan dikalangan pasukan Pangeran Kuda Permati sendiri. Namun sebagian dari mereka merasa, bahwa mereka telah kehilangan sandaran untuk meneruskan peperangan. Mereka tidak tahu lagi apa yang sebaiknya mereka lakukan. Karena itu sebagian dari mereka telah mengambil sikap menunggu perkembangan keadaan dengan hati yang patah.

Sementara itu, di Kediri telah dilakukan satu upacara yang wajar bagi seorang Pangeran dan isterinya yang meninggal. Mayat keduanya diselenggarakan sebagaimana seharusnya. Sementara itu, Pangeran Lembu Sabdata yang diberitahukan tentang kematian Pangeran Kuda Permati, telah terkejut bukan buatan. Rasa-rasanya hidupnya diguncangkan oleh satu putaran badai yang menggulung segala masa disaat lalu dan yang bakal datang. Kematian Pangeran Kuda Permati telah merampas segala harapannya, sehingga Lembu Sabdata-pun merasa seakan-akan ia-pun telah ikut terbunuh pula.

Pangeran yang garang itu tiba-tiba saja telah menangis seperti kanak-kanak. Menangisi dua sosok mayat yang terbujur diam, sebelum diselenggarakan upacara sebagaimana seharusnya.

Namun demikian Sri Baginda masih memerintahkan Pangeran Lembu Sabdata untuk tetap ditahan setelah ia mendapat kesempatan melihat kedua orang suami isteri yang telah menjadi sosok tubuh yang membeku. Ada beberapa pertimbangan yang mendorong Sri Baginda untuk tetap memperlakukannya seperti itu. Jika Pangeran Lembu Sabdata kemudian dibebaskan, maka mungkin ia akan dapat mengambil alih pimpinan yang ditinggalkan oleh Pangeran Kuda Permati. Bahkan mungkin Pangeran itu akan dapat berbuat jauh lebih kasar dari Pangeran Kuda Permati sendiri.

Karena itu, untuk menjaga segala kemungkinan, maka untuk sementara Pangeran Lembu Sabdata masih harus dibatasi kebebasannya.

Namun sebenarnyalah kebencian Pangeran Lembu Sabdata kepada Pangeran Singa Narpada menjadi semakin memuncak. Ketika ia mendapat kesempatan untuk melihat Pangeran Singa Narpada yang telah datang pula ke Kediri dengan membawa orang-orang yang sakit, maka dengan kasar Pangeran Lembu Sabdata telah memakinya.

Pangeran Singa Narpada memandanginya dengan tajamnya. Namun kemudian Pangeran Singa Narpada itu berkata, “bersikaplah sebagai seorang Pangeran yang baik. Meskipun kau berada didalam pembatasan kebebasanmu, namun kau tetap seorang kesatria. Jangan melakukan satu tindakan yang dapat mencemarkan namamu lebih parah lagi. Bahwa kau sudah melawan Sri Baginda itu, namamu sudah dapat disebut pengkhianat. Apalagi jika bertindak laku kasar.”

“Persetan,” geram Pangeran lembu Sabdata, “Aku tantang kau berperang tanding. Kau telah membunuh Pangeran Kuda Permati dengan curang.”

“Aku tidak membunuhnya. Mungkin kau sudah mendengar berita kematiannya, “jawab Pangeran Singa Narpada.

“Omong kosong,” geram Pangeran Lembu Sabdata, “Kau bunuh Pangeran Kuda Permati dan puteri Purnadewi. Kemudian kau membuat ceritera yang tidak masuk akal itu.”

“Bukan aku yang membuat ceritera,” jawab Pangeran Singa Narpada yang berusaha untuk menahan diri, “Justru aku mendapat ceritera itu dari para pengawal setianya yang langsung dapat berbicara dengan Purnadewi pada saat-saat ia berada di ambang kematiannya.”

“Kami bukan orang-orang dungu yang dapat kau kelabui dengan ceritera-ceritera cengeng itu,” bentak Pangeran Lembu Sabdata, “Karena itu, aku tantang kau berperang tanding dengan sikap seorang kesatria, seandainya kelak aku dihukum mati, maka aku sudah dapat membunuhmu digelanggang perang tanding yang jujur.”

“Adimas Lembu Sabdata,” jawab Pangeran Singa Narpada dengan suara gemetar karena menahan gejolak perasaannya, “Kau jangan bersikap seperti orang linglung. Kau tahu siapa aku, dan aku-pun tahu siapa kau. Kau tahu tingkat kemampuanku dan aku tahu tingkat kemampuanmu. Jangan berkata begitu. Seandainya kita memasuki perang tanding, maka hal itu tidak akan berarti apa-apa. Tetapi seandainya aku menolak perang tanding, itu-pun tidak berarti apa-apa pula. Karena setiap orang mengetahui tingkat kemampuan kita masing-masing.”

“Pengecut,” teriak Pangeran Lembu Sabdata, “Kau tidak berani menerima tantanganku?”

“Sudahlah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Tenanglah. Aku tidak mau kau jadikan alat untuk membunuh diri.”

Pangeran Lembu Sabdata merasa benar-benar terhina. Karena itu, maka ia-pun berteriak lebih keras lagi, “Kau jangan terlalu sombong pengecut. Kita lihat, siapakah diantara kita yang memiliki ilmu lebih tinggi.”

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak menanggapinya. Ia sadar sepenuhnya, bahwa Pangeran itu bukan lawannya. Mungkin ia akan berpikir dan bahkan menerima tantangan itu jika Pangeran Kuda Permati yang mengucapkannya, Tetapi jika ia menerima tantangan Pangeran Lembu Sabdata, maka beberapa orang Senopati justru akan mempersalahkannya. karena Pangeran Lembu Sabdata bukannya lawannya yang seimbang didalam olah kanuragan.

Karena itu, maka ditinggalkannya Pangeran Lembu Sabdata didalam biliknya. Masih terdengar Pangeran yang marah, kecewa, bingung dan perbagai perasaan bercampur baur itu memakinya dengan kasar. Bahkan kemudian kata-katanya tidak lagi merupakan kata-kata pilihan seorang Pangeran.

“Pangeran Lembu Sabdata memerlukan perhatian yang sangat khusus,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Aku cemas jika ia justru terganggu ingatannya.”

Sebenarnyalah kematian Pangeran Kuda Permati telah membuat Pangeran Lembu Sabdata terguncang. Apalagi berita yang mengatakan bahwa yang membunuh Pangeran Kuda Permati adalah isterinya Purnadewi. Dengan segenap kekuatan nalarnya ia berusaha untuk menolak bahwa berita itu tidak benar. Didalam angan-angannya ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa berita itu tidak benar. Kematian Pangeran Kuda Permati adalah semata-mata karena kelicikan Pangeran Singa Narpada, sehingga dengan demikian, maka Pangeran Lembu Sabdata justru telah kehilangan kepercayaannya kepada kenyataan yang terjadi. Kenyataan baginya kemudian adalah apa yang terjadi didalam angan-angannya.

Karena itulah, maka kenyataan bagi Pangeran Lembu Sabdata adalah berbeda dengan kenyataan yang dialami oleh orang-orang lain.

Dengan demikian, maka seperti yang dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada, bahwa Pangeran Lembu Sabdata memerlukan perhatian tersendiri, karena sifat dan tingkah lakunya kemudian telah berubah. Ia memandang segala sesuatu atas dasar keyakinan kebenarannya yang berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Peristiwa-peristiwa itu memang membuat Sri Baginda menjadi semakin berprihatin. Sementara itu, masih belum ada tanda-tanda bahwa dengan kematian Pangeran Kuda Permati, maka permusuhan akan mereda.

Namun Pangeran Singa Narpada, Senapati yang keras dan bersikap tegas tanpa ragu-ragu itu benar-benar telah mengalami kejenuhan, dengan saling berbunuhan. Karena itu, maka ia-pun telah mengusulkan kepada Sri Baginda, agar Sri Baginda membuat maklumat untuk memerintahkan semua pengikut Pangeran Kuda Permati untuk menyerah. Barang siapa yang menyerah akan dipertimbangkan pengampunan dan pengurangan hukuman. Tetapi siapa yang berkeras untuk melanjutkan pemberontakan akan ditindas dengan sikap yang lebih keras lagi.

Ternyata Sri Baginda menerima usul Pangeran Singa Narpada. Diperintahkannya untuk membuat pengumuman bagi semua orang yang telah tersesat kedalam lingkungan Pangeran Kuda Permati. Pahkan Sri Baginda-pun tanpa ragu-ragu memberikan batasan waktu untuk dua bulan. Jika dalam waktu yang ditetapkan masih ada orang atau sekelompok orang yang tidak bersedia menyerah, maka persoalannya kemudian adalah persoalan Pangeran Singa Narpada.

Ternyata bahwa pengumuman itu membawa banyak sekali pengaruh kepada para pengikut Pangeran Kuda Permati. Perintah yang disebarkan keseluruh wilayah Kediri itu telah menyentuh hati para pengikut Pangeran Kuda Permati yang masih sempat mempergunakan nalarnya.

Karena itulah, maka berurutan, beberapa kelompok dari mereka telah mendatangi kesatuan-kesatuan prajurit Kediri untuk menyerahkan diri.

Namun demikian masih juga ada orang yang mengeraskan hatinya, untuk tetap dalam, sikapnya. Mereka justru telah berusaha untuk menghalang-halangi kawan-kawan mereka yang ingin menyerahkan diri. Bahkan kadang-kadang dengan kekerasan.

Karena itu, maka ada sekelompok pengikut Pangeran Kuda Permati yang merasa dirinya terlalu lemah, berusaha untuk justru minta perlindungan kepada para prajurit terhadap ancaman kawan-kawan mereka sendiri sebelum mereka menyerah.

Terhadap kelompok-kelompok yang demikian, maka para prajurit Kediri telah mendapat perintah unt uk menjemput mereka dan melindungi mereka dari ancaman kawan-kawan mereka yang tidak ingin melihat Kediri menjadi tenang.

Dengan demikian, maka dalam waktu yang ditentukan, sebagian dari para pengikut Pangeran Kuda Permati sudah berada di Kediri, didalam pengawasan para prajurit. Sehingga usaha Pangeran Singa Narpada dan pengorbanan puteri Purnadewi dengan kematian suaminya yang dicintainya tidak sia-sia. Bahkan kemudian puteri Purnadewi yang merasa tidak ada lagi gunanya untuk hidup tanpa suaminya telah membunuh diri pula.

“Purnadewi telah menyelamatkan beribu jiwa orang Kediri dari kedua belah pihak,” berkata Sri Baginda kepada Pangeran Singa Narpada, “Karena itu, pantas baginya untuk mendapat penghormatan yang setinggi-tingginya.”

Pengorbanan itu memang diakui oleh semua unsur yang ada di Kediri. Bahkan para pengikut Pangeran Kuda Permati sendiri kemudian melihat bahwa dengan demikian kematian-kematian dapat sangat dibatasi.

Meskipun demikian, ternyata bahwa keadaan masih belum tenang seluruhnya. Ternyata sampai pada batas waktu yang ditentukan, masih ada kelompok-kelompok pengikut Pangeran Kuda Permati yang tetap pada pendiriannya. Bahkan mereka menjadi kehilangan pegangan dan liar. Sehingga dengan demikian mereka justru menjadi gerombolan-gerombolan yang sangat berbahaya.

Karena itulah, maka setelah batas waktunya lewat, maka menyusul perintah berikutnya dari Sri Baginda di Kediri kepada semua Senapati. Bahwa mereka harus bertindak tegas terhadap sisa-sisa pengikut Pangeran Kuda Permati. Rakyat Kediri yang menjadi ketakutan terhadap gerombolan-gerombolan liar yang menjadi buas itu memerlukan perlindungan.

Dengan demikian, maka pertempuran-pertempuran-pun telah mulai menjalar lagi dibeberapa padukuhan. Tetapi suasananya sudah jauh berbeda dengan sebelumnya.

Yang terjadi kemudian, bukan lagi pertempuran-pertempuran yang sengit dari dua kekuatan yang seimbang, atau hampir seimbang, tetapi yang terjadi kemudian adalah bahwa pasukan Kediri sedang memburu kelompok-kelompok perlawanan yang keras kepala, putus asa dan bahkan sebagai laku untuk membunuh diri.

Namun dengan demikian, akibatnya bagi rakyat tidak jauh berbeda. Kelompok-kelompok yang putus asa itu menjadi liar dan buas. Mereka ternyata membunuh bukan saja prajurit-prajurit, tetapi juga rakyat yang sama sekali tidak bersalah.

Justru kelompok-kelompok kecil itu sangat merugikan rakyat Kediri. Meskipun mereka juga orang-orang Kediri tetapi dengan putus asa mereka menganggap bahwa semua orang Kediri justru telah memusuhinya.

Dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada mempunyai tugas yang tidak susut beratnya. Ia harus menggerakkan pasukannya dengan cepat dari satu tempat ke lain tempat.

Namun akhirnya Pangeran Singa Narpada telah mempelajari apa yang terjadi di daerah perbatasan sebelah Utara. Di daerah yang dipimpin oleh Panji Sempana Murti.

Karena itulah, maka Pangeran Singa Narpada telah menganjurkan rakyat Kediri untuk menyusun kekuatan disetiap padukuhan.

Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada telah memberikan tugas kepada para Senapati di daerah perbatasan untuk menyusun kekuatan sebagaimana dilakukan oleh Panji Sempana Murti. Prajurit Kediri akan selalu membantu mereka. Pasukan Pangeran Singa Narpada dan prajurit Kediri yang bertugas di daerah perbatasan akan selalu berusaha untuk berada disegala tempat yang membutuhkan. Karena itu, kecuali pasukan Pangeran Singa Narpada, maka disetiap daerah perbatasan telah disusun pula pasukan berkuda yang kuat. Para Senapati telah mempergunakan cara sebagaimana dilakukan oleh pasukan Pangeran Kuda Permati dan pasukan yang dipimpin oleh Panji Sempana Murti.

Mereka mempergunakan kuda yang ada di daerah mereka, “Masing-masing. Namun rakyat Kediri ternyata lebih ikhlas memberikan kudanya kepada para prajurit Kediri daripada para Pengikut Pangeran Kuda Permati, karena kemungkinan untuk dikembalikan jika kuda itu berada di tangan prajurit Kediri adalah jauh lebih besar daripada jika kuda itu diambil oleh para pengikut Pangeran Kuda Permati. Selain itu, maka kuda yang dapat dirampas dari pasukan Pangeran Kuda Permati yang menyerah-pun cukup banyak, meskipun kuda itu juga berasal dari Rakyat Kediri sendiri.

Demikian usaha yang dilakukan sebagaimana dilakukan di daerah perbatasan Utara, maka gerak pasukan Pangeran Kuda Permati yang tersisa dan terkoyak-koyak itu menjadi semakin terbatas.

Dengan demikian, maka usaha Pangeran Singa Narpada semakin terasa tidak sia-sia. Senapati yang keras dan bertindak dengan tegas itu telah berusaha untuk mengurangi jumlah kematian akibat pertentangan diantara orang-orang Kediri sendiri.

Nampaknya usaha Pangeran Singa Narpada untuk mengurangi korban masih dilakukan. Sekali lagi ia memohon kepada Sri Baginda untuk memanggil mereka yang sesat itu agar mencari jalan kembali, dengan janji pengurangan hukuman bagi mereka yang memenuhi panggilan itu. Tetapi bagi mereka yang menolak pada kesempatan terakhir itu, maka Pangeran Singa Narpada dan para Senapati di semua daerah perbatasan dan daerah kekuasaan Kediri, akan menyapu mereka tanpa ampun.

Panglima itu-pun ternyata masih ada gunanya. Beberapa kelompok diantara mereka ternyata telah menyerah, sehingga dengan demikian, maka usaha itu telah berhasil mengurangi lagi korban yang akan jatuh di peperangan.

Tetapi sesudah panggilan itu lewat waktunya, maka Pangeran Singa Narpada dan para Senapati benar-benar lelah melakukan sebagaimana dikatakan sebelumnya. Sisa-sisa pasukan Pangeran Kuda Permati telah disapu disegala medan.

Namun dalam pada itu, ketika pasukan Kediri bergerak disemua medan dan menghancurkan sisa-sisa pasukan yang memberontak itu, maka di Singasari telah timbul pula akibatnya. Pasukan yang dikejar-kejar di Kediri itu sebagian telah menyusup ke daerah Singasari. Sementara itu pada dasarnya memang sudah ada, alas bagi mereka untuk bergerak. Ada beberapa kelompok yang dapat mereka jadikan lan-dasan gerak selama mereka berada di Singasari. Mereka adalah kelompok-kelompok yang pada gerakan Pangeran Kuda Permati mulai, telah menyusup di daerah Singasari. Mereka adalah kelompok-kelompok yang mendapat tugas untuk menebangi hutan yang menghadap ke daerah-daerah yang merupakan lumbung makanan bagi Singasari dan juga Kediri.

Karena itu, maka yang kemudian terasa adalah justru pergolakan yang terjadi di daerah Singasari.

Dalam pada itu, para petugas sandi baik dari Kediri mau-pun dari Singasari yang berada di Kediri telah memberikan isyarat. Kelompok-kelompok yang kehilangan pegangan dan putus asa itu tidak mendapat tempat lagi di Kediri, sehingga mereka telah menyusup keluar daerah kuasa Kediri, dalam lingkungan kesatuan Singasari.

Dengan demikian, maka pasukan Singasari yang berada di perbatasan-pun telah siap untuk bergerak. Tetapi ternyata bahwa tugas mereka tidak semudah yang mereka duga.

Pasukan yang tersisa dari para pengikut Pangeran Kuda Permati itu, tidak melintasi perbatasan lewat jalan yang seharusnya dilalui. Mereka telah memilih jalan yang lain, jalan yang sesuai dengan keadaan mereka. Menyusup diantara hutan-hutan yang lebat, melintasi daerah yang berawa-rawa dan jalan-jalan memintas lainnya yang biasanya sulit untuk dilalui.

Dengan susah payah mereka mencari hubungan dengan orang-orang yang pernah bekerja sama dengan mereka. Padepokan-padepokan dan kelompok-kelompok yang untuk beberapa saat harus menghentikan kegiatan mereka karena sikap para prajurit Singasari yang tegas dan Pakuwon-pakuwon yang setia yang dengan sungguh-sungguh berusaha ikut mencegahnya.

“Sementara itu, di Kediri sendiri, keadaan semakin bertambah baik. Kelompok-kelompok kecil yang tidak berarti telah dihancurkan sama sekali. Bukan saja oleh pasukan Pangeran Singa Narpada dan para Senapati di daerah perbatasan, tetapi anak-anak muda di padukuhan-padukuhan yang bangkit bersama para prajurit telah membantu mempercepat penyelesaian.

Meskipun masih ada juga, kelompok-kelompok yang berhasil mengacaukan satu dua padukuhan, tetapi dengan isyarat yang sambung bersambung, maka biasanya pasukan berkuda yang disiapkan oleh para Senapati di daerah perbatasan akan dapat mengatasi. Seandainya kelompok-kelompok itu sempat meninggalkan padukuhan yang menjadi sasaran pengacauannya, namun kemudian mereka tidak akan luput dari tangan pasukan berkuda yang mampu bergerak cepat, karena kemampuan kelompok itu pergi, maka mereka akan dikejar oleh suara kentongan di segala penjuru.

Karena itulah, maka hampir semua kelompok yang tersisa telah berusaha untuk keluar dari daerah Kediri. Tetapi karena kebencian mereka terutama tertuju kepada Singasari, maka mereka-pun berusaha untuk dapat menyusup memasuki wilayah Singasari atau Pakuwon-pakuwon yang setia kepada Singasari untuk melepaskan dendam mereka.

Sikap mereka yang demikian itulah yang ternyata kemudian memang menyulitkan Singasari. Pada saat yang demikian, maka dengan tergesa-gesa Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah dikirim dengan membawa pesan dari pemimpin petugas sandi di Kediri, bahwa Singasari harus bersiap menghadapi akibat yang demikian.

Mahisa Bungalan dan sekelompok pasukan memang sudah berada di perbatasan. Namun persoalan kemudian yang timbul bukan persoalan pasukan di perbatasan.

Tetapi sebenarnyalah di samping perintah yang cepat untuk memberikan keterangan terperinci tentang gerak sisa pasukan Kediri, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga mendapat perintah untuk menyampaikan laporan tentang akhir yang pahit dari kehidupan Pangeran Kuda Permati suami istri.

Berita itu diterima di Singasari sebagaimana diterima oleh Sri Baginda di Kediri. Betapa kagumnya para pemimpin di Singasari terhadap puteri Purnadewi yang telah mengorbankan nilai hidupnya yang paling tinggi, yaitu cintanya, bagi keselamatan beribu jiwa orang-orang Kediri.

Namun di samping kekaguman itu, maka di Singasari-pun telah dikeluarkan perintah untuk bertindak tegas terhadap orang-orang Kediri yang menyusup ke Singasari dengan sikap yang garang karena dendam dan kebencian.

Mahisa Bungalanlah yang mendapat perintah untuk melakukannya. Ia harus mengambil langkah-langkah sesuai dengan langkah-langkah yang diambil oleh Kediri sendiri. Jika tidak, maka Singasari justru akan menjadi tempat bersembunyi yang sejuk bagi sisa-sisa pengikut Pangeran Kuda Permati.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja bertugas hilir mudik antara Kediri dan Singasari. Namun dalam keadaan terakhir, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lebih sering berada di Singasari. Bahkan sekali-sekali ia ikut bersama Mahisa Bungalan untuk mengadakan pengamatan di daerah-daerah yang dilaporkan menjadi jalur jalan pelarian dari Kediri.

Sementara itu, maka memang mulai terdengar lagi berita tentang penebangan hutan. Bahkan pada suatu ketika, kerusakan hutan di lereng gunung yang langsung menghadap ke Kota Raja sudah meningkat menjadi parah.

Mahisa Bungalan berusaha untuk menindas gerakan itu dengan hati-hati. Namun ternyata bahwa Mahisa Bungalan telah dipaksa oleh keadaan untuk bertindak lebih tegas lagi, sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada.

Jantung Mahisa Bungalan tidak lagi dapat disabarkan ketika orang-orang yang berkeliaran itu tidak saja menebangi hutan, tetapi ternyata mereka telah mulai membakar hutan.

Karena itu, maka perintah terakhir-pun telah dijatuhkan. Tidak ada ampun lagi bagi mereka yang telah mengacaukan ketenangan hidup di Singasari. Terlebih-lebih lagi, mereka itu telah merusakkan citra masa depan dengan cara yang paling keji.

Karena itulah, maka Mahisa Bungalan telah memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan sisa-sisa pengikut Pangeran Kuda Permati itu di daerah Singasari.

Namun dalam pada itu, maka Singasari-pun harus mengerahkan pasukannya untuk membantu memadamkan kebakaran di hutan di lereng sebuah bukit Sepasukan prajurit itu harus memisahkan daerah yang terbakar dengan daerah yang masih belum dijamah oleh api.

Dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mahisa Bungalan telah mendapat gambaran, apa yang terjadi di Kediri. Karena itu agar prajurit Singasari tidak dianggap terlalu lemah dan tidak mempunyai kekuatan, maka Mahisa Bungalan-pun telah melakukan langkah-langkah yang paling baik menurut pertimbangannya. Sementara sebagian dari para prajurit berjuang untuk menguasai api, maka yang lain-pun telah melakukan langkah-langkah yang paling baik bagi Mahisa Bungalan dalam menghadapi orang-orang Kediri yang melarikan diri ke Singasari itu.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...