*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 012-02*
“Terima kasih” jawab Ki Sendawa, “kami sudah mengetahui dengan pasti, apa yang akan kalian lakukan. Kami akan mempersiapkan diri sejauh dapat kami lakukan. Namun mudah-mudahan kita mendapat cara pemecahan yang lain, yang tidak harus memberikan korhan terlalu banyak.
Dalam pada itu, sejenak kemudian, maka Senopati berdua dari Gagelang itu pun segera minta diri. Ki Waruju masih akan pergi bersama mereka, karena ia masih berusaha untuk tetap dianggap tawanan yang tidak memerlukan perhatian khusus.
Namun kepada kedua Senopati Gagelang ia sudah berpesan, agar bagi dirinya dan Ki Sanggarana dapat disediakan dua ekor kuda di tempat yang sudah ditentukan, agar pada saat yang tepat, kuda itu dapat dipergunakan.
Sejenak kemudian, maka kedua Senopati itu pun telah meninggalkan Talang Amba bersama Ki Waruju, setelah mereka menukarkan kuda-kuda mereka. Mereka berpacu menembus gelapnya malam. Sebelum fajar mereka harus sudah berada di Pakuwon Gagelang. Apalagi Ki Waruju. Ia sudah harus berada di dalam biliknya lagi sebelum para penjaga mengetahui, bahwa ia telah keluar dari biliknya dan pergi ke Talang Amba.
Ternyata baru mereka telah mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Mereka datang tepat pada saat langit menjadi kemerah-merahan.
Dengan tergesa-gesa Ki Waruju pun segera kembali ke halaman istana Akuwu setelah menyerahkan kudanya kepada kedua Senopati yang datang bersamanya itu. Seperti saat ia keluar, maka iapun telah memasuki halaman dengan diam-diam. Dengan tangkasnya ia meloncat dinding halaman dan merayap mendekati bilik tahanannya, iapun telah meloncat pula di atas genting. Tubuhnya seakan-akan tidak mempunyai bobot sehingga atap ijuk itu tidak rusak dibebaninya.
Sejenak kemudian Ki Waruju sudah berada di dalam bilik. Ia masih sempat membenahi atap ijuk yang disibakkannya. Kemudian meloncat turun di sebelah Ki Sanggarana yang masih tetap tidak dapat tertidur semalam suntuk.
“Kau tidak tertidur semalaman?” bertanya Ki Waruju.
“Aku tidak dapat tertidur sekejap pun. Hatiku pun menjadi sangat gelisah” jawab Ki Sanggarana.
“Baiklah. Sekarang masih ada waktu. Silahkan tidur barang sekejap. Aku pun akan tidur juga sampai matahari terbit” berkata Ki Waruju.
Keduanya pun kemudian berbaring. Tetapi keduanya sudah tidak berminat untuk tidur barang sekejap, karena jantung mereka yang berdegupan oleh kegelisahan yang tidak dapat disembunyikan.
Bahkan keduanya pun kemudian telah berbincang tentang hasil kunjungan Ki Waruju ke Talang Amba.
“Jadi Senopati itu benar-benar akan membantu kita?” bertanya Ki Sanggarana.
“Ya. Dan aku mempercayainya. Nampaknya ia bersungguh-sungguh dan jujur. Senopati itu tidak ingin melihat Pakuwon Gagelang menjadi sarang pengkhianatan terhadap Singasari” jawab Ki Waruju.
Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Ternyata aku sudah bersalah terhadap paman Sendawa. Aku telah menganggapnya tidak setia kepada janjinya yang diucapkannya di banjar. Namun ternyata bahwa paman Sendawa telah benar-benar menemukan pribadinya sebagai putera Talang Amba”
“Ya” jawab Ki Waruju, “namun demikian, kita memang sedang berprihatin. Jika kesediaan kedua Senopati Gagelang itu gagal karena sebab apapun juga, maka anak-anak muda Talang Amba akan menjadi banten. Korban akan jatuh. Kemampuan anak-anak muda Talang Amba tidak akan dapat mengimbangi kemampuan para pengawal Gagelang, sementara itu jumlahnya pun tentu tidak akan dapat memadai”
“Sayang” berkata Ki Sanggarana, “dalam keadaan yang demikian, aku tidak dapat berbuat apa-apa”
“Kenapa tidak?” bertanya Ki Waruju, “Jika benar hal itu akan terjadi, maka kita akan keluar dari tempat ini. Kita akan pergi ke Talang Amba sebagaimana aku lakukan”
“Aku tidak akan dapat meloncat seperti Ki Waruju” desis Ki Sanggarana.
Jika Waruju mengerutkan keningnya. Kemudian setelah mengamati ruangan itu ia berkata, “Jika kita ingin keluar dari ruangan ini, kita tidak harus meloncat melalui atap. Dinding ruangan ini juga tidak terlalu kuat. Papan di sudut ruang itu dengan mudah akan dapat di pecahkan. Gapit dan tali-talinya tidak terlalu kuat”
Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Mungkin sekali hal itu akan dapat dilakukan oleh Ki Waruju. Tetapi ia sendiri tentu tidak akan dapat melakukannya.
Dalam pada itu, ternyata di Talang Amba, anak-anak muda telah menjadi sibuk. Bahkan bukan saja anak-anak muda tetapi setiap laki-laki yang belum terlalu tua merasa terpanggil untuk ikut serta mempersiapkan diri.
Ternyata Ki Sendawa berhasil mendapat kepercayaan orang-orang Talang Amba dalam kedudukannya yang sementara itu. karena anak-anak muda sempat menjelaskan, apa yang sebenarnya dilakukan oleh Ki Sendawa.
“Tetapi bagaimana dengan Ki Sanggarana” bertanya seorang anak muda, “jika kita melawan Gagelang, apakah itu bukan berarti nasib buruk bagi Ki Sanggarana”
“Kita serahkan hal itu kepada Ki Waruju” berkata Ki Sendawa, “Mudah-mudahan ia dapat mengatur sehingga Ki Sanggarana tidak mengalami sesuatu. Bahkan mungkin Senapati yang berjanji berpihak kepada kita itu pun akan dapat melindunginya. Namun lebih daripada itu. Akuwu menganggap bahwa aku dan Ki Sanggarana masih tetap bermusuhan. Sehingga karena itu, maka Akuwu tidak akan mengambil tindakan terhadap Ke Sanggarana”
Namun nampaknya Mahisa Bungalan meragukannya. Mungkin Akuwu mendengar semua persoalannya. Juga hubungan antara Ki Sendawa dan Ki Sanggarana. Karena itu, Mahisa Bungalan lebih mempercayakan keselamatan Ki Sanggarana kepada Ki Waruju.
Namun bagaimanapun juga, kita masih tetap mempunyai harapan bahwa Ki Sanggarana akan selamat” berkata Mahisa Bungalan.
Demikianlah, semua laki-laki yang masih merasa dirinya mampu membawa senjata di Talang Amba telah bersiap. Meskipun mereka tidak terbiasa bermain dengan senjata, tetapi mereka bertekad melawan tingkah laku Akuwu di Gagelang yang tidak wajar.
Sementara itu, Mahisa Bungalan dan kedua kawannya yang datang dari Singasari bersama Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan seorang murid Ki Sarpa Kuning yang telah menentukan jalan hidupnya sendiri itu. telah berada diantara orang-orang Talang Amba meskipun mereka menyadari, bahwa jumlah mereka memang terlalu sedikit.
Namun Mahisa Bungalan mempunyai satu rencana yang mungkin akan dapat menahan tindakan Akuwu di Gagelang. Dengan menunjuk kedudukannya sebagai seorang Senopati yang mendapat tugas dari Panglima di Singasari berarti bahwa ia adalah ujud dari kuasa Singasari itu sendiri.
Sebenarnyalah bahwa rahasia yang tidak berhasil disembunyikan oleh orang-orang Talang Amba itu telah didengar oleh Akuwu di Gagelang. Sebuah laporan mengatakan, bahwa menurut pendengarannya. Ki Sendawa tidak bersungguh-sungguh bekerja bersama dengan Akuwu. Namun dengan demikian. Akuwu di Gagelang pun melihat hubungan antara Ki Sendawa dan Ki Sanggarana meskipun keduanya terpisah. Agaknya Ki Sendawa benar-benar telah berubah sejak ia menyatakan niatnya untuk memperbaiki kesalahannya di banjar Kabuyutan Talang Amba.
Rahasia itu benar-benar telah membuat Akuwu di Gagelang marah sekali. Ia merasa ditipu oleh Ki Sendawa. Dengan demikian maka Akuwu merasa wajib untuk menghukum Ki Sendawa.
Tetapi Akuwu ternyata bukan orang yang dikuasai oleh perasaannya. Ia tidak dengan tergesa-gesa memerintahkan pasukannya pergi ke Talang Amba. Namun ia masih sempat untuk mengirimkan petugas sandinya untuk mengamati keadaan.
Baru ketika petugas sandi itu melaporkan, bahwa orang-orang Talang Amba telah bersiap-siap, maka iapun berkata, “Agaknya waktunya memang sudah datang. Ki Sendawa ternyata orang yang sangat dungu. Ia tidak mau menerima kedudukan yang pantas baginya sebagaimana pernah diinginkannya. Ia lebih suka menjadi seorang yang harus diburu dan mendapat hukuman yang paling berat”
“Lalu. bagaimana dengan Sanggarana dan kawannya?” bertanya salah seorang kepercayaannya.
“Mereka sudah berada di dalam tahanan Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Perhatian kita lebih banyak harus tertuju kepada Sendawa yang bodoh itu. Ia mengira bahwa ia akan dapat melawan kekuasaan Gagelang” jawab Akuwu.
“Tetapi bagaimana dengan kuasa Singasari?” bertanya kepercayaannya.
“Kau juga bodoh” jawab Pangeran yang menjadi juru taman di Gagelang itu, “Kita akan dapat membuat sepuluh ribu macam alasan yang dapat kita laporkan ke Singasari”
Senapati kepercayaan Akuwu itu pun mengangguk-angguk, tetapi ia tidak bertanya lagi.
Dalam pada itu, maka Akuwu pun segera memerintahkan mempersiapkan para pengawal. Katanya kemudian Seberapa jumlah laki-laki di Talang Amba Jika mereka benar-benar akan melawan, maka mereka akan mengalami nasib yang sangat buruk. Tetapi perlawanan itu rasa-rasanya akan berakibat baik terhadap rencanaku, karena di Talang Amba akan dapat aku letakkan Buyut yang manapun juga, sehingga rencana kita untuk menjadikan bukit-bukit itu gundul tidak akan terhalang sama sekali.
Demikianlah, baru di hari berikutnya Gagelang mempersiapkan sebuah pasukan yang kuat untuk dibawa ke Talang Amba.
Dengan pasukan yang kuat, Akuwu di Gagelang benar-benar akan menghukum Ki Sendawa. Talang Amba harus benar-benar merasa dirinya terlalu kecil menghadapi Gagelang, sehingga langkah yang diambil oleh Ki Sendawa benar-benar satu langkah untuk menghancurkan diri sendiri.
Dengan cerdik Akuwu memberikan alasan yang mapan kepada para Senapatinya. Senapati yang tidak mengikuti tingkah laku Akuwu dengan cermat. Mereka hanya percaya bahwa Talang Amba telah meninggalkan ketentuan yang berlaku atas sebuah Kabuyutan.
Pergolakan yang terjadi di Talang Amba telah meluas. Meskipun salah satu pihak yang berselisih itu sudah aku tahan disini. tetapi ternyata keadaannya masih tetap kacau. Bahkan cenderung untuk tidak lagi mengakui kekuasaan Gagelang yang dilimpahkan oleh Maharaja di Singasari” berkata Akuwu Gagelang kepada para Senapati yang berkumpul sebelum mereka berangkat ke Talang Amba. Lalu katanya lebih lanjut, “Bahkan kini Talang Amba telah bersiap-siap untuk menentang kekuasaanku dengan kekerasan, karena Talang Amba telah bersiap untuk mempergunakan kekerasan”
Tidak ada yang membantah. Kenyataan itu memang benar. Hampir setiap Senapati telah mendapat laporan tentang persiapan yang dilakukan oleh orang-orang Talang Amba. Tetapi sebagian besar dari mereka tidak tahu, bahwa antara Ki Sendawa dan Akuwu di Gagelang telah pernah dicapai satu kesepakatan bahwa Ki Sendawa akan diangkat menjadi Buyut di Talang Amba dengan memberikan keleluasaan kepada orang-orang yang akan menebangi hutan di lereng perbukitan.
Namun dalam pada itu. dua diantara para Senapati yang akan ikut dalam pasukan Akuwu itu adalah Senapati yang mempunyai sikap sendiri. Bahkan keduanya telah berhasil mengembangkan sikapnya kepada beberapa orang Senapati yang mereka percayai dan memiliki kecerdasan berpikir sehingga dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang hidup menghadapi persoalan Talang Amba.
Dengan demikian, maka ada beberapa orang Senapati yang akan pergi ke Talang Amba dengan ciri-ciri yang sudah disepakati.
Namun dalam pada itu. Senapati yang telah berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu telah sempat memberitahukan kepada Ki Waruju, dimana mereka meletakkan kuda yang akan dapat dipakai oleh mereka berdua. Karena setelah Akuwu berangkat dengan pasukannya, maka Ki Sanggarana dan Ki Waruju pun akan berangkat pula ke Talang Amba. Namun seperti yang dipesankan oleh Senapati yang berpihak kepada Talang Amba itu, agar Ki Sendawa dan Ki Waruju mengambil jalan pintas, sehingga mereka akan dapat lebih dahulu sampai ke Talang Amba. Apalagi pasukan Gagelang yang kuat itu tidak seluruhnya berkuda, sehingga perjalanan mereka tentu jauh lebih lamban.
Dengan isyarat dan tanda-tanda kebesaran, pasukan Gagelang itu pun kemudian telah berangkat di bawah pimpinan Akuwu sendiri. Dengan pasukan yang kuat, maka Talang Amba tidak akan mampu bertahan untuk waktu seperempat hari. Kecuali jika anak-anak muda Talang Amba memang ingin membunuh diri mereka sendiri sampai orang yang terakhir.
Ki Waruju dan Ki Sanggarana yang ditahan di salah satu bilik di bagian belakang istana Akuwu itu pun mendengar suara sangkala di alun-alun. Dengan demikian, maka mereka pun mengetahui bahwa pasukan Akuwu benar-benar sudah berangkat.
“Apakah kita akan keluar sekarang?” bertanya Ki Waruju.
Ki Sanggarana masih juga ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Terserahlah kepada Ki Waruju. Aku hanya dapat mengikut saja apa yang Ki Waruju lakukan.
Ki Waruju menarik nafas dalam-dalam. Dari lubang udara ia tidak melihat apapun juga kecuali pepohonan yang bergoyang ditiup angin.
Namun nampaknya Ki Waruju masih akan menunggu sejenak Biarlah pasukan Akuwu itu sampai ke pinggir batas kota Gagelang. Baru kemudian Ki Waruju akan keluar dari halaman istana itu dan mengambil kuda yang sudah disediakan oleh Senapati yang telah mendahuluinya mengikuti pasukan Akuwu pergi ke Talang Amba.
Dalam pada itu, maka pasukan Akuwu pun berjalan menyusuri jalan raya dengan tanda-tanda kebesaran. Satu pasukan yang kuat, seolah-olah Gagelang memang sedang berperang melawan kekuatan yang sangat besar. Tidak seorang pun menyangka bahwa Gagelang hanya sekedar ingin menghukum seorang di Kabuyutan Talang Amba yang tidak mau mematuhi perintahnya. Tetapi perintah yang menyimpang dari paugeran dan kebenaran menurut tugas dana kewajiban Akuwu terhadap Singasari.
Ketika pasukan Akuwu sampai di batas kota. maka sebenarnyalah bahwa Ki Waruju tengah berusaha untuk membuka dinding di sudut biliknya. Ternyata dinding itu memang bukan dinding yang cukup kuat untuk mencegah rencana Ki Waruju keluar dari dalamnya. Dengan mengerahkan tenaga cadangannya, maka dinding bilik itu telah didorongnya perlahan-lahan, sehingga dinding itu pun telah terbuka.
“Keluarlah” desis Ki Waruju ketika ia melihat Ki Sanggarana agak ragu-ragu.
Namun akhirnya Ki Sanggarana itu pun keluar juga disusul oleh Ki Waruju.
Tetapi demikian mereka berdiri diluar, maka keduanya terkejut melihat seorang pengawal yang mengawasi mereka dari kejauhan. Seorang pengawal yang membawa tombak telanjang.
“KI Waruju” desis Ki Sanggarana.
Ki Waruju menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebenarnya aku tidak ingin membunuh disini. Tetapi jika terpaksa, apaboleh buat”
Sanggarana menjadi tegang. Apa yang dapat mereka lakukan berdua di halaman istana Akuwu yang tentu dijaga oleh sekelompok pasukan yang kuat meskipun Akuwu sendiri sedang tidak berada di istana.
Namun dalam pada itu, Ki Sanggarana pun kemudian menyadari, bahwa ia sedang mengemban satu tugas yang penting. Apapun yang terjadi, ia tidak boleh mengingkarinya.
Tetapi, kedua orang itu menjadi heran Pengawal itu ternyata tidak berbuat apa-apa. Ketika pengawal itu melihat kedua orang tawanan itu keluar dari biliknya, maka ia justru memberi isyarat dengan kepalanya, agar keduanya pergi ke arah yang ditunjukkannya.
Untuk sesaat Ki Waruju dan Ki Sanggarana masih ragu-ragu. Namun akhirnya Ki Waruju berkata Mungkin pengawal itu termasuk pengawal yang berada di bawah pimpinan Senopati yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu”
Dengan demikian maka keduanya tidak berpikir lebih panjang lagi. Keduanya pun dengan tergesa-gesa telah pergi ke arah yang diisyaratkan oleh pengawal yang melihatnya.
Demikianlah, akhirnya keduanya memang berhasil meloncat keluar dari halaman istana Akuwu. Dengan tergesa-gesa dan berlari-lari kecil keduanya telah pergi ke tempat yang sudah diberitahukan kepada mereka oleh Senopati yang berpihak kepada orang-orang Talang Amba itu.
Ternyata Senapati itu tidak berbohong. Di sebuah rumah yang ditentukan, dua ekor kuda sudah disiapkan. Dengan demikian maka kedua orang itu pun dengan cepat telah meninggalkan Gagelang menuju ke Talang Amba lewat jalan memintas.
Dalam pada itu, pasukan Gagelang pun telah semakin jauh dari istana Akuwu mendekati Kabuyutan Talang Amba. Tetapi karena sebagian besar pengawal Gagelang yang kuat itu hanya berjalan kaki. maka perjalanan itu pun menjadi tidak terlalu cepat.
Sementara itu, Ki Waruju dan Ki Sanggarana berpacu dengan kuda mereka justru mengambil jalan memintas. Karena itu, maka seperti yang diperhitungkan, maka keduanya itu lebih dahulu sampai di Talang Amba dari pasukan Gagelang yang kuat.
Kedatangan Ki Sanggarana dan Ki Waruju telah disambut oleh Ki Sendawa dan Mahisa Bungalan. Merekapun langsung membicarakan, langkah-langkah yang akan dapat mereka lakukan menghadapi pasukan Gagelang yang kuat.
“Kita harus menahan mereka dalam jarak tertentu” berkata Mahisa Bungalan.
Ki Waruju mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat Ngger. Agaknya senjata jarak jauh akan sangat bermanfaat, justru anak-anak muda Talang Amba tidak memiliki kemampuan mempermainkan senjata”
“Tetapi apakah hal itu tidak akan membuat pasukan Gagelang menjadi marah dan garang? Apalagi jika diantara mereka kemudian jatuh korban lebih dahulu. Mereka tentu akan membalas setiap nyawa dengan sepuluh kali lipat” potong Ki Sanggarana.
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Hal itu memang mungkin terjadi. Tetapi jika kedua pasukan itu langsung berbenturan, maka korban di pihak Talang Amba pun tentu tidak akan terhitung jumlahnya.
Namun agaknya tidak ada jalan lain untuk menghadapi pasukan Gagelang jika orang-orang Talang Amba ingin mempertahankan kampung halamannya dari perangkap orang-orang yang telah menantang kekuasaan Singasari.
Karena itu. maka akhirnya Mahisa Bungalan berkata, “Segala usaha memang dapat ditempuh. Aku tetap berpendirian, bahwa sebaiknya anak-anak muda Talang Amba memanfaatkan senjata jarak jauh. Mereka akan mempergunakan anak panah dan kemudian lembing-lembing dengan bedor besi seperti yang akan mereka pergunakan sebagai tombak. Namun menurut pendapatku jumlahnya cukup banyak, seandainya lembing-lembing itu dipergunakan untuk melakukan serangan berjarak. Sementara itu, sebelum segalanya terjadi, aku akan berusaha untuk mencegah pertempuran itu sambil melihat, apa benar diantara pasukan Akuwu ada yang mempergunakan isyarat seperti yang dikatakan oleh Senapati yang pernah datang ke Talang Amba bersama Ki Waruju”
“Apa yang akan kau lakukan Ngger?” bertanya Ki Waruju.
“Aku akan mempergunakan pakaian kebesaranku sebagai seorang Senapati dari Singasari bersama kedua orang kawanku. Aku ingin mencegah Sang Akuwu bertindak terlalu jauh. Jika ia memaksa, berarti bahwa ia benar-benar telah melawan Singasari karena aku adalah petugas yang sah dari Singasari”
Ki Waruju mengangguk-angguk. Katanya, “Terserah kepada Angger Mahisa Bungalan.
“Tetapi sementara itu, senjata berjarak itu harus sudah siap. Jika usahaku gagal, aku akan mundur dan memasuki pertahanan Talang Amba yang akan kita bangun di padukuhan ujung itu” berkata Mahisa Bungalan.
“Baiklah, Pasukan Akuwu kini tentu sudah menjadi semakin dekat. Karena itu. kita harus segera bersiap” berkata Ki Sendawa kemudian.
Demikianlah, maka anak-anak muda dan bahkan hampir semua laki-laki di Talang Amba telah bersiap di beberapa buah padukuhan yang terdekat dengan jalur jalan yang akan dilalui pasukan Gagelang menurut perhitungan mereka. Sementara itu, Mahisa Bungalan dan kedua orang kawannya telah mengenakan pakaian kebesaran mereka sebagai Senapati dari Singasari. Sementara itu, maka beberapa orang lainnya pun telah disebar untuk memimpin kelompok-kelompok orang-orang Talang Amba yang bersikap di beberapa padukuhan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berada di padukuhan yang langsung dibelah oleh jalan dari Gagelang yang menurut perhitungan akan dilalui oleh pasukan Akuwu
Sementara itu, Ki Sendawa dan Ki Sanggarana berada di padukuhan sebelah kanan, sedangkan Ki Waruju dan salah seorang murid Ki Sarpa Kuning berada di sebelah kiri. Jika pasukan Akuwu itu memang harus dilawannya, maka orang-orang Talang Amba yang ada di padukuhan sebelah menyebelah itu akan menyerang pasukan lawan dari arah lambung, dengan perhitungan, maka lontaran anak panah yang terlepas dari busurnya, akan dapat mencapai sasaran.
Dalam pada itu, jika Mahisa Bungalan gagal menahan pasukan Akuwu dari Gagelang itu, maka ia akan memasuki pertahanan yang berada di tengah, bergabung dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Demikianlah, maka Mahisa Bungalan pun telah bersiap di atas panggung kuda bersama dua orang Senapati yang lain untuk menyongsong pasukan Akuwu demikian mereka melihat pasukan itu dari kejauhan.
Ternyata Mahisa Bungalan tidak perlu menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian, maka mereka pun telah melihat sebuah iring-iringan di seberang bulak panjang dihadapan mereka.
Seorang pengamat yang memanjat sebatang pohon segera memberikan isyarat, bahwa pasukan itu memang sudah datang.
Mahisa Bungalan dan kedua Senapati pembantunya itu pun kemudian telah memacu kudanya menyongsong iring-iringan yang datang itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Jika Akuwu Gagelang sudah kehilangan nalarnya sama sekali, maka ia dan pasukannya akan dapat menangkap Mahisa Bungalan.
Dalam pada itu, pasukan yang dipimpin langsung oleh Akuwu Gagelang yang dibayangi oleh seorang Pangeran dari Kediri dalam pakaian seorang pengawal itu pun telah mendekati sasaran.
Namun Akuwu Gagelang menjadi berdebar-debar ketika di hadapannya muncul tiga orang dalam pakaian kebesaran Senapati dari Singasari.
“Siapakah mereka?” bertanya Akuwu Gagelang. Wajah-wajah pun menjadi tegang. Sementara Mahisa Bungalan menjadi semakin dekat.
“Kita jangan terpengaruh oleh penglihatan kita tanpa penalaran” berkata seorang pengawal yang sebenarnya adalah seorang Pangeran dari Kediri yang dalam keadaan sehari-hari bertugas sebagai juru taman di istana Akuwu Gagelang.
Akuwu Gagelang itu pun mengangguk-angguk. Namun pakaian kebesaran Senapati dari Singasari itu benar-benar telah membuatnya menjadi berdebar-debar.
Mahisa Bungalan dan dua orang Senapati dari Singasari itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Bahkan kemudian, Mahisa Bungalan itu pun langsung menuju ke hadapan Akuwu Gagelang yang juga berada di punggung kuda. Namun segala macam pertanda kebesaran yang dibawa oleh pasukan Akuwu itu telah menunjukkan, bahwa orang berkuda di paling depan, diapit oleh dua orang pengawal itu adalah Akuwu dari Gagelang yang memimpin langsung pasukannya yang akan menghukum Kabuyutan Talang Amba yang sudah menentang kehendak Akuwu, bahwa berniat untuk menjebak Akuwu dengan sikap pura-pura Ki Sendawa.
Beberapa langkah dihadapan iring-iringan pasukan dari Gagelang itu. Mahisa Bungalan berhenti. Dengan isyarat pula ia telah menghentikan iring-iringan pasukan Akuwu Gagelang.
Ketika pasukan Akuwu itu pun berhenti beberapa langkah dihadapan Mahisa Bungalan. maka Mahisa Bungalan itu pun kemudian mengangguk hormat sambil bertanya, “Apakah aku berhadapan dengan Akuwu di Gagelang?”
Akuwu di Gagelang itu pun mengangguk pula sambil menjawab, “Ya Ki Sanak. Kau berhadapan dengan Akuwu di Gagelang”
“Terima kasih” jawab Mahisa Bungalan. Lalu katanya, “Aku sudah mendengar laporan tentang segala peristiwa yang terjadi di Gagelang, termasuk Talang Amba. Karena itu. maka aku datang untuk melihat langsung kebenaran laporan itu”
Akuwu Gagelang mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya, “Laporan yang sampai ke Singasari itu, apakah laporan resmi dari Gagelang? Sebab hanya Akuwu di Gagelang sajalah yang wajib memberikan laporan dan dipercaya oleh Singasari”
“Apakah Gagelang pernah memberikan laporan tentang peristiwa yang terjadi di Talang Amba?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Laporan itu akan Kami berikan jika persoalannya sudah selesai. Seperti yang KI Sanak lihat, aku sedang berusaha menyelesaikan persoalan yang terjadi di Talang Amba” jawab Akuwu di Gagelang.
“Aku telah mengerahkan pasukan segelar sepapan. Tindakan ini adalah tindakan yang berat. Tindakan semacam ini seharusnya sudah diketahui oleh Singasari lewat laporan yang diberikan oleh Akuwu, karena tindakan ini akan menyangkut pertumpahan darah” berkata Mahisa Bungalan.
“Aku akan menghukum mereka yang telah bersalah. Mereka yang tidak mengakui kuasa Singasari yang dilaksanakan oleh Akuwu di Gagelang” jawab Akuwu.
“Tetapi ketahuilah Sang Akuwu. bahwa laporan yang sampai ke Singasari berbeda dari yang Akuwu katakan. Laporan yang kami terima dari petugas-petugas sandi kami” berkata Mahisa Bungalan, “nampaknya ada sesuatu yang sengaja Akuwu sembunyikan dalam peristiwa ini”
“Ki Sanak” berkata Akuwu, “Aku adalah Akuwu yang mendapat limpahan kuasa sepenuhnya dari Singasari untuk memerintah di Pakuwon Gagelang. Karena itu. jangan mencampuri persoalan kami dengan Talang Amba. Pada saatnya kami akan memberikan laporan selengkapnya. Langsung kepada Sri Maharaja, karena aku hanya bertanggung jawab kepada Sri Maharaja”
“Sebagai Senapati, maka aku pun mendapat limpahan kuasa dari Sri Maharaja. Aku bertugas untuk membantu penyelesaian persoalan yang terjadi di Gagelang” berkata Mahisa Bungalan kemudian.
Akuwu di Gagelang mengerutkan keningnya. Sementara itu pengawal yang mendampinginya berkata, “Akuwu harus bersikap tegas”
Akuwu itu menjadi semakin tegang. Bagaimanapun juga sikap Mahisa Bungalan itu telah mempengaruhinya. Namun pengawal yang sebenarnya adalah seorang Pangeran dari Kediri itu mempunyai pengaruh yang terlalu besar pada dirinya, sehingga karena itu, maka ia sama sekali tidak dapat melepaskan dirinya.
“Jawablah” desis Pangeran itu.
Akuwu memandang Mahisa Bungalan dengan tajamnya. Namun kemudian katanya, “Ki Sanak. Aku tahu bahwa Ki Sanak adalah seorang Senapati menurut ujud wadag yang dapat aku lihat. Tetapi sebaiknya Ki Sanak tidak mengganggu tugasku. Biarlah aku menyelesaikan tugasku dengan sebaik-baiknya agar aku tidak dianggap bersalah oleh pemimpin pemerintahan di Singasari”
“Marilah kita berusaha menyelesaikan persoalan ini dengan sebaik-baiknya” berkata Mahisa Bungalan, “tidak harus dengan pertumpahan darah akan melihat persoalan ini dari sudut yang benar dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat kita tempuh. Aku akan membantu. Tetapi Akuwu harus mencegah pertumpahan darah yang mungkin dapat terjadi pada hari ini”
“Aku mengerti maksud Ki Sanak. Tetapi itu tidak adil. Yang bersalah harus dihukum” jawab Akuwu.
“Kita harus menemukan siapa yang bersalah itu” berkata Mahisa Bungalan kemudian.
Wajah Akuwu menjadi bertambah tegang. Bahkan seolah-olah Mahisa Bungalan akan langsung menganggap bahwa ialah yang telah bersalah. Karena itu, maka katanya kemudian, “Sudahlah. Tidak ada gunanya kau mencampuri persoalan kami”
“Aku adalah seorang Senapati yang bertugas. Karena itu, maka aku akan mempergunakan segala wewenang yang ada padaku untuk mencegah pertumpahan darah ini”
“Aku peringatkan agar Ki Sanak menepi. Jika Ki Sanak masih tetap ingin mengganggu tugasku, maka akan dapat bersikap tegas demi kedudukanku dan kuasa yang diberikan oleh Sri Maharaja di Singasari” jawab Akuwu di Gagelang.
Wajah Mahisa Bungalan terasa menjadi panas. Tetapi ia masih menyadari kedudukannya. Karena itu, maka katanya, “Jadi Akuwu menolak kehadiran dalam tugas ini?”
“Maaf Ki Sanak. Aku berkeberatan” jawab Akuwu.
“Jika demikian, Akuwu telah menolak perintah yang aku emban Akuwu akan memaksakan pertumpahan darah terjadi di Gagelang. Mungkin Akuwu akan dapat memberikan laporan yang lain kepada para pemimpin di Singasari. Tetapi tanpa kehadiranku. Sekarang akan disini Laporan Akuwu akan dinilai dan diperbandingkan dengan laporan” geram Mahisa Bungalan.
Namun tiba-tiba Pangeran dari Kediri yang melihat hati Akuwu menjadi goyah dan terguncang-guncang telah berkata, “Laporan itu tidak akan pernah dapat kau buat”
Kata-kata pengawal itu membuat darah Mahisa Bungalan bagaikan mendidih, ia mengerti makna dari kata-kata itu. Karena itu maka katanya, “Akuwu di Gagelang. Apakah kata-kata yang diucapkan oleh pengawalmu itu juga kata-kata yang akan kau ucapkan”
Jantung Akuwu di Gagelang menjadi berdebar-debar. Sekilas dipandanginya wajah Pangeran yang berpakaian sebagai seorang pengawal itu. Lalu, katanya dengan ragu, “Ya Ki Sanak. Aku memang sudah berketetapan hati”
Jawaban itu terasa bagaikan bara api yang menyentuh telinga Mahisa Bungalan. Karena itu, maka katanya, “Jika demikian, aku akan berada diantara orang-orang Talang Amba. Kita akan melihat kelak, siapakah yang tidak akan dapat membuat laporan. Aku atau Akuwu di Gagelang. Meskipun menurut gelar kewadagan, pasukan Talang Amba bukan tandingan dari pasukan Gagelang, tetapi kita akan melihat, apakah Talang Amba akan mendapat perlindungan dari Sang Maha Kuasa”
Mahisa Bungalan tidak menunggu jawaban lagi. Iapun segera menarik kekang kudanya dan memberi isyarat kepada kedua orang Senapatinya untuk kembali ke Talang Amba.
Akuwu tidak mencegahnya atau memberikan perintah untuk mengejarnya. Dibiarkannya Mahisa Bungalan bergabung dengan orang-orang Talang Amba yang menurut perhitungannya tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Dalam sekejap Talang Amba tentu sudah akan disapu bersih.
Sementara itu Pangeran dari Kediri itu berkata, “Ketiga orang Senapati dari Singasari itu harus terbunuh dalam pertempuran ini, sehingga mereka tidak akan dapat memberikan laporan apapun juga. Sementara itu, kita harus menyusun satu ceritera tentang peristiwa yang terjadi sekarang ini. Sendawa , dan para pemimpin di Talang Amba harus mati juga dalam peperangan ini”
Akuwu di Gagelang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.
Demikianlah, ketika Mahisa Bungalan telah mendekati regol padukuhan yang berada dihadapan pasukan Gagelang, maka Akuwu pun telah memberikan isyarat kepada pasukannya untuk bersiap-siap. Katanya, “Agaknya Talang Amba benar-benar akan melawan”
Keterangan itu pun kemudian menjalar dari seorang Senapati kepada Senapati yang lain, sehingga Gagelang benar-benar telah mempersiapkan diri untuk berperang.
Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan yang meninggalkan pasukan Gagelang itu pun bertanya kepada kedua kawannya, “Apakah kalian melihat isyarat seperti yang dikatakan oleh Senapati Gagelang yang datang ke Talang Amba bersama Ki Waruju itu?”
“Ya, aku melihat seorang Senapati memakai ciri seperti yang pernah dikatakan” jawab seorang kawannya.
“Bagus” berkata Mahisa Bungalan, “setidak-tidaknya kita mempunyai kawan untuk memecahkan pemusatan kekuatan pasukan Gagelang, sehingga mereka tidak semata-mata membantai anak-anak muda Talang Amba saja.
Namun demikian, Mahisa Bungalan dan kedua Senapati itu masih meragukan jumlah pasukan Gagelang yang akan dapat membantu orang-orang Talang Amba. Jika jumlah mereka terlalu sedikit, maka akibatnya pun akan dapat menjadi parah.
“Tetapi orang-orang Talang Amba sudah bertekad bulat untuk melawan” berkata Mahisa Bungalan kemudian. Lalu, “Dengan demikian, maka kita pun akan membantu mereka dengan sepenuh kemampuan yang ada pada kita. Mungkin Akuwu memerlukan lawan yang mapan. Selebihnya, pengawal yang dengan berani mencampuri pembicaraanku dengan Akuwu di Gagelang itu juga memerlukan perhatian tersendiri”
“Ya jawab kawannya agaknya orang itu mempunyai pengaruh yang besar kepada Akuwu jauh melampaui ujudnya sebagai seorang pengawal”
“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus berhati-hati” berkata Mahisa Bungalan, “Aku yakin, mereka memiliki kemampuan melampaui para pengawal Gagelang. Tetapi ia akan bertempur diantara anak-anak muda yang kurang memiliki pengalaman dan kemampuan”
“Tugas kita memang sangat berat” jawab kawannya yang lain.
“Nampaknya memang demikian. Tetapi kita masih berpengharapan bahwa Ki Waruju akan dapat memanfaatkan kemampuannya untuk mengurangi korban diantara anak-anak Talang Amba” desis Mahisa Bungalan”
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun segera memasuki padukuhan yang akan menjadi sasaran pertama pasukan Akuwu Gagelang, karena padukuhan itu berada di jalan-jalan yang dilalui oleh pasukan Akuwu. Meskipun agaknya Akuwu akan menuju ke padukuhan induk kabuyutan Talang Amba, tetapi atas beberapa petunjuk, kekuatan Talang Amba tidak diletakkan di padukuhan induk, tetapi di padukuhan pertama yang akan dilalui oleh pasukan Akuwu.
Dari kejauhan Akuwu sudah melihat padukuhan itu. Agaknya iapun sudah menduga, bahwa pasukan Talang Amba berada di padukuhan di hadapannya itu. Tidak di padukuhan induk. Karena itu, maka Akuwu pun mulai memperlambat pasukannya.
Akuwu pun kemudian memberikan isyarat, agar pasukannya menjadi berhati-hati. Semua orang di dalam pasukan itu harus bersiap.
Dalam pada itu, pasukan Talang Amba pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Mereka ternyata menjadi berdebar-debar juga. Mereka bukan orang-orang yang mempunyai pengalaman berperang. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Ternyata pertentangan antara Ki Sanggarana dan Ki Sendawa ada juga manfaatnya”
“Apa?” bertanya kawannya.
“Kita sudah mempersiapkan senjata dan serba sedikit kita sudah memperkenalkan diri bagaimana kita harus menggenggam pedang, atau memegangi landean atau tombak” jawab orang yang pertama-tama itu.
“Ya” jawab kawannya. “Kita telah mempersiapkan busur dan anak panah …. (halaman sobek) Nanti akan kita pergunakan”
Kawannya mengangguk-angguk. Namun, debar jantungnya menjadi kian cepat ketika mereka melihat pasukan Akuwu menjadi semakin dekat dan kemudian berhenti beberapa puluh langkah dari …… (halaman sobek)
Ternyata Akuwu cukup berhati-hati. Pasukannya tidak langsung memasuki padukuhan. Tetapi pasukan itu telah menebar. Mereka akan memasuki padukuhan dalam gelar. Mereka tidak menyusuri jalan dan memasuki regol berurutan memanjang. Tetapi mereka akan memasuki padukuhan itu dalam tebaran yang memanjang dari ujung sampai ke ujung padukuhan. Mereka akan memasuki padukuhan dengan meloncati dinding-dinding pagar dan melintas di sepanjang kebun dan halaman.
“Jika mereka menemui lawan di padukuhan ini, maka mereka akan bertempur dan menghancurkan lawan mereka. Kemudian mendesak lawannya dalam jajaran yang rapat dan tidak seorang pun akan dapat terlepas dari jaring mereka” berkata Mahisa Bungalan kepada kawan-kawannya dan kepada kedua adiknya.
“Mudah-mudahan orang-orang Talang Amba di padukuhan-padukuhan sebelah juga sudah siap. Mereka akan menyerang dari lambung dengan senjata jarak jauh pula” desis Mahisa Murti.
Namun dalam pada itu, sebenarnyalah Ki Sanggarana benar-benar menjadi cemas. Ia sudah membayangkan bahwa korban akan berserakan di pematang, halaman dan kebun padukuhan-padukuhan di Talang Amba. Anak-anak muda akan menjadi sasaran kemarahan para pengawal yang akan mendapat serangan lebih dahulu dengan anak panah dan lembing-lembing. Satu saja diantara mereka menjadi korban, maka mereka akan menuntut sepuluh orang sebagai gantinya.
Namun Ki Sanggarana masih berharap bahwa Senapati Gagelang yang tidak senang melihat sikap Akuwu itu akan menepati janji. Tetapi seperti yang diragukan oleh setiap pemimpin dari Talang Amba, seberapa jumlah mereka yang bersedia berpihak kepada Talang Amba. Apalagi jika mereka sudah berada di dalam pasukan segelar sepapan seperti itu.
Tetapi semuanya sudah terlanjur. Tidak ada jalan lagi untuk kembali, sehingga oleh karena itu, maka orang-orang Talang Amba harus benar-benar siap untuk berperang.
Demikianlah, pasukan Gagelang dalam tebaran yang memanjang merayap semakin mendekati padukuhan.
Setiap jantung pun kemudian berdetak semakin cepat. Orang-orang Talang Amba benar-benar menjadi berdebar-debar ….. (halaman sobek) orang-orang yang berada di dalam pasukan Akuwu di Gagelang. Mereka rasa-rasanya tidak sedang bertugas dalam gelar perang. Mereka seolah-olah sedang beramai-ramai berburu seekor kijang di padang rumput di satu pagi yang cerah.
Ketika pasukan itu kemudian menjadi semakin dekat, maka Mahisa Bungalan pun telah memberikan isyarat untuk bersiap sepenuhnya.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba sebuah panah sendaren telah meluncur ke udara ke arah padukuhan disini padukuhan yang menjadi sasaran pasukan Gagelang, disusul oleh panah sendaren yang lain ke arah padukuhan di sebelah yang lain pula.
Panah-panah sendaren itu adalah perintah kepada orang-orang Talang Amba yang berada di padukuhan sebelah menyebelah untuk mulai menahan gerak maju pasukan Gagelang dari arah lambung.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, sebenarnyalah, orang-orang Talang Amba di padukuhan sebelah menyebelah itu telah bersikap dengan anak panah mereka.
Ki Sendawa dan Ki Sanggarana yang berada di Padukuhan sebelah kanan tidak dapat berbuat lain. Betapapun mereka mencemaskan nasib orang-orang Talang Amba, namun mereka menyadari bahwa yang mereka hadapi bukannya Akuwu yang patuh terhadap kewajibannya dan bertanggung jawab kepada Sri Maharaja di Singasari, namun justru sebaliknya. Akuwu di Gagelang telah berhubungan dengan seseorang yang justru berniat untuk melawan Singasari.
Karena itu, maka orang-orang Talang Amba telah bertekad untuk melawan meskipun mereka menyadari, bahwa mereka tidak memiliki bekal yang cukup. Namun kesediaan beberapa orang Senapati dari Gagelang sendiri untuk berpihak kepada mereka, serta kehadiran Mahisa Bungalan dan dua orang Senapati lainnya dari Singasari telah membuat tekad orang-orang Talang Amba menjadi semakin mantap.
Merekapun telah menyadari, seandainya mereka tidak melawan sekalipun, nasib mereka tentu akan menjadi sangat buruk, karena Akuwu di Gagelang nampaknya mengerti, bahwa sebenarnya orang-orang Talang Amba tidak akan dapat tunduk kepada perintahnya yang menyalahi kesetiaannya sebagai seorang Akuwu.
Dalam pada itu, maka panah-panah sendaren itu pun telah memperingatkan pasukan Akuwu di Gagelang, bahwa isyarat itu tentu mengandung makna.
Sebenarnyalah, bahwa sejenak kemudian, panah sendaren yang kedua pun telah meluncur di udara. Langsung disusul dengan serangan orang-orang Talang Amba ke arah lambung pasukan Akuwu Gagelang yang bergerak maju dengan anak panah pula.
Para pengawal dari Gagelang itu tidak terkejut. Meskipun mereka harus berusaha untuk melindungi diri mereka dengan perisai atau senjata yang ada pada mereka, namun serangan itu benar-benar merupakan perintah untuk bertindak.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, atas isyarat dari Akuwu Gagelang, perintah pun segera dijatuhkan. Senapati yang berkuda di sebelah Akuwu telah meneriakkan perintah untuk langsung menyerang dan memecah pasukan Gagelang ke arah tiga sasaran. Induk pasukan Gagelang akan menyerang pasukan yang ada dihadapan mereka, sedang ujung-ujung pasukan itu akan berbelok arah menghadapi padukuhan-padukuhan di sebelah menyebelah. Sementara itu, orang-orang Talang Amba yang merasa diri mereka tidak memiliki bekal kemampuan sebagaimana para, pengawal dari Gagelang, telah melontarkan anak-panah sebanyak dapat mereka lakukan.
Ternyata bahwa hujan anak panah itu mempunyai pengaruh juga atas pasukan Gagelang. Langkah mereka menjadi tersendat-sendat. Bahkan, betapapun juga, anak-panah orang-orang Talang Amba itu juga berujung runcing dan mampu menembus kulit para pengawal dari Gagelang.
Karena itu, satu dua orang pengawal dari Gagelang yang lengah telah terpatuk oleh ujung anak panah orang-orang Talang Amba.
Namun ternyata bahwa darah yang telah menitik, membuat orang-orang Gagelang benar-benar menjadi marah. Akuwu dan pengawal pengapitnya, yang salah seorang di antaranya adalah Pangeran dari Kediri itu, telah menjadi marah pula karenanya.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, Akuwu pun telah memberikan isyarat, agar para pengawal dari Gagelang, bertindak lebih cepat lagi. Tidak ada pertimbangan apapun lagi yang akan dapat menolong orang-orang Talang Amba dari malapetaka. Perintah Akuwu menjadi tegas. Hancurkan orang-orang yang tetap melawan. Sementara mereka yang menyerah masih dapat dipertimbangkan meskipun mereka tidak akan luput dari hukuman.
Karena itulah, maka para pengawal dari Gagelang itu bergerak lebih cepat. Mereka yang berada dalam kelompok pengawal yang mempergunakan perisai telah bergeser di paling depan. Sementara yang lain berusaha untuk berlindung di belakang pasukan yang mempergunakan perisai itu.
Tetapi orang-orang Talang Amba telah berusaha menyusupkan anak panah mereka ke sela-sela perisai yang melindungi pasukan Gagelang, sementara yang lain telah dilontarkan melampaui perisai yang merapat di depan pasukan yang bergerak maju itu.
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar