Rabu, 30 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN 024-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 024-04*

“Jika kita harus melawan seluruh isi padepokan maka paser-paser ini akan berguna sekali,” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Bagus. Kau benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dengan demikian maka kita tidak perlu cemas lagi menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara itu Pangeran Singa Narpada pun lelah bersiap pula. Katanya, “Marilah. Kita akan pergi ke medan perang. Kita adalah pasukan yang tidak bertunggul dan tidak berpanji-panji. Tetapi didalam dada kita terpancang beban pengabdian yang bergelora.”

Ketiga orang yang lain tidak menjawab. Tetapi terasa kata-kata itu menyentuh perasaan mereka. Sehingga dengan demikian, rasa-rasanya mereka benar-benar menjalankan satu tugas yang akan memberikan arti yang sangat besar bagi Kediri dan Singasari. Demikianlah sejenak kemudian keempat orang itupun telah berangkat. Sisa malam masih cukup gelap. Namun langit di ujung Timur telah mulai nampak kemerah-merahan.

“Jangan terlambat,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Kita buka hari ini dengan tantangan.”

Keempat orang itu berjalan semakin cepat, seakan-akan mereka benar-benar menuju ke medan yang sudah siap, sehingga mereka tidak mau datang terlambat dan tidak mendapat tempat di barisan paling depan.

Sejenak kemudian, maka padepokan itu telah nampak dalam keremangan cahaya fajar. Dikelilingi oleh sebuah pategalan, padepokan itu nampaknya tenang dan tidak terusik. Tetapi dengan laku yang khusus, Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan berhasil melihat cahaya teja yang memancar dari padepokan itu.

Mereka berempat yang sudah bertekad untuk memasuki padepokan itu tidak lagi ingin mengendap-endap dari belakang dan memanjat dinding. Tetapi mereka ingin memasuki padepokan itu lewat pintu depan.

Meskipun demikian mereka tidak ingin langsung dikenal pada saat mereka memasuki padepokan itu. Jika demikian maka ada kemungkinan Pangeran Lembu Sabdata akan bersembunyi.

Karena itu, maka mereka pun telah mengenakan pakaian yang paling sederhana yang ada pada mereka. Mereka mengenakan ikat kepala tidak sebagaimana seharusnya, tetapi asal saja ikat kepala itu tersangkut di kepala mereka.

Sementara itu mereka telah berjalan berurutan seorang demi seorang, sehingga kedatangan mereka menimbulkan kesan yang khusus bagi isi padepokan itu jika mereka menyaksikannya.

Namun Pangeran Singa Narpada yakin bahwa tentu sudah ada yang bangun diantara para cantrik. Mungkin menyapu halaman, mungkin kerja yang lain.

Sebenarnyalah, ketika mereka memasuki regol halaman dengan belaian berurutan seorang demi seorang, maka seorang cantrik yang sedang menyapit halaman telah melihatnya.

Dalam keremangan fajar, terasa tengkuk cantrik itu meremang. Mereka melihat empat orang berjalan berurutan. Tanpa berpaling dan tanpa kesan apapun juga. Mereka berjalan seperti tubuh-tubuh tidak berjiwa memasuki halaman dan langsung menuju ke rumah induk padepokan itu.

“He, Ki Sanak,” sapa cantrik itu.

Tidak ada jawaban. Bahkan berpaling pun tidak. Keempat orang itu masih berjalan dengan langkah-langkah kaku menuju ke pendapa.

“Ki Sanak,” cantrik itu mengulangi.

Tetapi masih saja tidak ada jawaban dan orang-orang yang berjalan berurutan itu masih saja berjalan tanpa berpaling sama sekali.

“Apakah masih ada sosok hantu menjelang fajar begini,” desis cantrik itu.

Namun ia tidak ingin menunggu lagi. Iapun kemudian berlari-lari menuju ke rumah induk itu melewati pintu butulan.

“Ki Ajar,” berkata cantrik itu ketika ia bertemu dengan Ki Ajar, “Ada empat sosok bayangan memasuki halaman padepokan ini. Mereka bagaikan patung-patung yang berjalan. Sama sekali tidak mendengar ketika aku menyapanya.”

“Siapakah mereka,” bertanya Ki Ajar.

“Kami tidak tahu,” jawab cantrik itu.

Ki Ajar termangu-mangu. Sementara itu Panembahan Bajang pun telah keluar dari biliknya. Bahkan Pangeran Lembu Sabdata pula.

“Siapa?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.

“Tidak tahu,” jawab cantrik itu.

Namun sementara itu, tiba-tiba saja diluar terdengar suara, “He, seisi padepokan ini. Dengar kata-kataku. Aku ingin berbicara dengan panembahan Kerdil yang ada di padepokan ini. Menurut keterangan mPu Lengkon, Panembahan Kerdil itu bersembunyi di padepokan ini karena menghindari tangan-tangan kami. Dengar isi padepokan ini. Persoalan ini adalah persoalan kami dengan panembahan Kerdil. Karena itu, jangan ikut campur. Kami datang berempat dengan perhitungan, bahwa Panembahan Bajang itu mempunyai empat orang kawan yang ikut bersembunyi disini.”

Panembahan Bajang benar-benar terkejut, ia sama sekali merasa tidak pernah mempunyai persoalan yang sungguh-sungguh. Jika mPu Lengkon telah sampai hati berbuat sesuatu yang mencelakakannya, itu tentu karena salah paham saja.

Namun ternyata Panembahan Bajang bukan seorang pengecut. Meskipun ia tidak merasa mempunyai persoalan, namun iapun kemudian berdesis, “Biarlah aku lihat, siapakah yang telah datang itu.”

“Mereka berempat,” desis Pangeran Lembu Sabdata.

“Meskipun mereka bersepuluh, aku tidak akan lari,” jawab Panembahan Bajang.

Sementara itu terdengar lagi suara, “He, Panembahan Bajang. Kau harus segera mengembalikan keris itu. Keris itu harganya lebih mahal dari nyawamu. Keluarlah bersama tiga orang pengawalmu yang paling kau banggakan. Kami akan melawan kalian dalam perkelahian seorang lawan seorang secara adil dan jujur. Jika kau kalah, maka sebelum kau mati, kau harus menunjukkan dimana keris itu kau sembunyikan.”

“Keris apa,” desis Panembahan Bajang didalam rumah, “Aku tidak pernah mempunyai persoalan dengan sebilah keris. Mungkin terjadi salah paham atau Lengkon memang gila. Lengkon lah yang banyak bermain dengan keris. Bukan aku.”

“Jangan keluar sendiri,” berkata Ki Ajar.

“Aku tidak peduli,” jawab Panembahan Bajang. “Kau sangka aku tidak berani menghadapi empat orang sekaligus.”

Tetapi mereka sudah memperhitungkan kemampuanmu sementara mereka berani menyatakan dalam tantangannya, seorang lawan seorang,” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

Panembahan Bajang termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Terserahlah. Tetapi kalian tidak perlu ikut campur persoalanku.”

Sejenak kemudian, maka Panembahan Bajang itu-pun telah bersiap-siap untuk keluar. Ternyata Ki Ajar dan Pangeran Lembu Sabdata tidak membiarkannya. Bahkan Putut yang paling terpercaya dari padepokan itu, yang mendengar suara diluar segera berlari-lari ke ruang dalam rumah induk di padepokan itu.

Demikian ia berada didalam, maka dilihatnya Panembahan Bajang sudah siap untuk keluar.

“Apa sebenarnya yang telah terjadi Panembahan,” bertanya Putut itu.

“Entahlah,” jawab panembahan Bajang. “Mungkin ada orang gila yang datang ke padepokan ini. Aku tidak pernah mempunyai persoalan apapun juga dengan siapapun juga. Apalagi persoalan sebilah keris. Aku tidak pernah merasa memerlukan sebilah keris. Karena itu, menurut dugaanku, semua ini adalah kesalah pahaman dengan Lengkon yang gila itu. Tentu orang itulah yang mengigau tentang keris, sehingga keempat orang itu datang dan langsung berbicara tentang keris itu pula.”

“Lalu apa kehendaknya? Apakah ia bersungguh-sungguh? Menurut keterangannya, ia tidak akan mencampuri persoalan kita. Tiba-tiba saja ia datang atau setidak-tidaknya mengupah orang atau mungkin murid-muridnya untuk datang menemui Panembahan,” berkata Putut itu.

“Ia benar-benar sudah gila jika ia berani memerintahkan murid-muridnya. Ia mengenal aku dan ia tahu kemampuanku,” jawab Panembahan Bajang.

“Jika demikian, tentu bukan mPu Lengkon,” desis Ki Ajar.

“Persetan, siapapun mereka,” jawab Panembahan Bajang. “Aku akan menemui mereka. Jika hanya karena salah paham, maka aku akan dapat meluruskannya. Tetapi jika keempat orang itu benar-benar gila, maka aku tidak tahu, apa yang akan terjadi. Mungkin aku harus membunuh keempatnya disini. Mungkin aku harus membasahi halaman padepokan dengan darah orang-orang yang tidak tahu diri itu.”

“Bagaimanapun juga, aku ingin melihat, apa yang akan terjadi,” desis Pangeran Lembu Sabdata.

Selagi mereka berbincang, terdengar lagi suara diluar, “He Panembahan Bajang. Apakah kau sedang lari lewat pintu butulan. Jika kau memang takut menghadapi kami, kau harus berterus terang. Kami akan mengampunimu. Tetapi barang yang kau curi itu harus kau kembalikan.”

“Setan alas,” geram Panembahan Bajang. “ia tidak berpikir panjang lagi. Dengan tergesa-gesa iapun segera melangkah menuju ke pintu.

Namun seperti yang dikatakannya, maka Pangeran Lembu Sabdata pun telah mengikutinya pula bersama Ki Ajar Bomantara serta seorang pututnya yang sudah putus segala macam ilmu sebagaimana telah dimiliki pula oleh Pangeran Lembu Sabdata, meskipun belum matang sebagaimana putut itu sendiri.

Ketika keempat orang itu keluar dari pintu ke pendapa, mereka melihat empat orang berdiri berurutan seorang-seorang. Sementara itu langit telah menjadi semakin terang.

Meskipun demikian, dari atas pendapa, orang-orang yang keluar dari ruang dalam itu tidak segera dapat mengenali keempat orang itu seorang demi seorang. Dalam pakaian yang kusut dan ikat kepala yang asal saja membelit kepala, maka keempat orang itu memang tidak mudah dikenalinya.

Namun dalam pada itu, keempat orang yang berada di halaman dalam keremangan fajar itu segera dapat mengenali orang-orang yang berada di pendapa, yang diterangi oleh sisa cahaya obor yang kemerah-merahan. Yang tidak dapat dielakkan lagi adalah pengenalan mereka atas Panembahan Bajang yang kerdil. Kemudian mereka pun telah menjadi berdebar-debar ketika ternyata diantara orang-orang yang keluar dari ruang dalam itu terdapat seorang yang mereka cari. Pangeran Lembu Sabdata.

Namun demikian Pangeran Singa Narpada yang berdiri di paling depan tidak segera langsung mempersoalkan hadirnya Pangeran Lembu Sabdata dan pusaka yang mereka cari itu.

Bahkan dengan suara lantang ia masih berkata, “Panembahan Bajang. Apakah kau benar-benar sudah melupakan tingkah lakumu itu, atau sekedar ingin membersihkan dirimu, sehingga kau tidak lagi mau datang mengunjungi kami berbicara tentang keris yang kau bawa itu? Waktu yang kau janjikan telah lewat dua putaran musim, sehingga menurut pendapatmu, kau benar-benar tidak lagi bermaksud mengembalikannya. Padahal keris itu mempunyai nilai yang tidak terhingga bagi kami.”

“Ki Sanak,” bertanya Panembahan Bajang yang kebingungan. “Siapakah sebenarnya kalian? Dan apakah sebenarnya yang ingin kalian lakukan atasku? Sebenarnya kalian dapat berterus terang saja tanpa memberikan persoalan yang berbelit-belit yang justru tidak aku ketahui ujung pangkalnya.”

Orang yang berdiri di paling depan diantara empat orang yang berada di halaman itu berkata, “Apakah sebaiknya begitu?”

“Ya. Dengan demikian aku menjadi jelas. Apa yang akan aku lakukan menjadi jelas pula. Kau tidak usah berteka-teki dengan menyebut persoalan-persoalan yang tidak pernah terjadi,” jawab Panembahan Bajang.

“Jika demikian yang kau kehendaki, baiklah Panembahan,” jawab orang yang berdiri di paling depan. “Ternyata Panembahan adalah orang yang cukup bijaksana. Karena itu, kami mohon maaf, bahwa kami tidak langsung berterus-terang. Sekarang aku akan berterus terang.”

“Ya. Berterus teranglah,” berkata Panembahan Bajang.

“Tetapi apakah Panembahan tidak akan marah kepada kami?” bertanya orang yang berdiri di paling depan.

“Aku memang sudah marah,” jawab Panembahan Bajang. “Tetapi jika kalian menjadi jujur dan berkata terus terang, aku akan menjadi lebih senang.”

Orang yang berdiri di paling depan dari keempat orang yang memasuki padepokan itu tidak segera menjawab. Sementara itu beberapa orang cantrik yang mendengar pembicaraan yang ribut itupun telah turun pula ke halaman. Dari jarak beberapa puluh langkah mereka menyaksikan dengan hati yang tegang. Bahkan ada satu dua diantara mereka yang bergeser mendekati pendapa.

Langit telah menjadi semakin terang. Wajah-wajah dari keempat orang itupun menjadi semakin jelas. Tetapi orang-orang di pendapa itu memang tidak menduga sama sekali bahwa keempat orang itu telah dipimpin oleh Pangeran Singa Narpada. Dalam pada itu, sejenak kemudian maka Pangeran Singa Narpada itupun berkata, “Baiklah Panembahan. Jika kami harus berterus terang, maka kami akan berterus terang Panembahan, sebenarnya persoalannya tidak terletak kepada Panembahan.”

“Lalu apa yang ingin kalian lakukan sebenarnya?” bertanya Panembahan Bajang. “Kalian tidak boleh berbuat seperti orang gila disini.”

“Maaf. Yang sebenarnya ingin kami temui sekarang ini adalah justru Pangeran Lembu Sabdata,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Jawaban itu memang sangat mengejutkan. Kata-kata yang diucapkan dengan jelas dan tidak terlalu keras itu terdengar seperti ledakan petir di telinga orang-orang padepokan itu.

Sementara itu Pangeran Lembu Sabdata yang disebut namanya justru bergeser maju. Dengan kerut di keningnya, ia berusaha mengamati orang-orang yang berdiri di halaman itu.

Jantung Pangeran Lembu Sabdata bergetar semakin cepat. Oleh cahaya pagi yang semakin terang, ia melihat dengan jelas siapakah yang berdiri di hadapannya itu.

“Kakangmas Pangeran Singa Narpada,” desis Pangeran Lembu Sabdata.

Nama itupun telah menggetarkan jantung Ki Ajar Bomantara dan Panembahan Bajang. Karena itu, maka Ki Ajar pun telah bergeser maju pula.

Namun mereka tidak akan dapat mengingkari kenyataan itu. Pangeran Singa Narpada telah berada di padepokan mereka dalam usahanya mencari Pangeran Lembu Sabdata dan pusaka yang telah hilang dari gedung perbendaharaan berupa sebuah mahkota.

“Luar biasa,” desis Ki Ajar, “Ternyata Pangeran adalah seorang yang memiliki ketajaman nalar budi dan pengamatan. Tentu tidak seorang pun yang mengira, bahwa Pangeran akan dapat menemukan Pangeran Lembu Sabdata di tempat ini.”

“Ki Ajar,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Kerja yang kami lakukan bukan kerja yang mudah. Kami telah berusaha dengan susah payah, sehingga akhirnya kami menemukan yang kami cari di tempat ini. Meskipun wajah Pangeran Lembu Sabdata sudah berubah, tetapi bentuk yang sebenarnya tetap kami kenali.”

“Baiklah kakangmas,” berkata Pangeran Lembu Sabdata, “Ternyata seperti kata Ki Ajar, kakangmas memang seorang yang luar biasa, sehingga kakangmas dapat menemukan aku disini meskipun aku mempergunakan penyamaran dengan membiarkan wajahku dikotori oleh jambang, janggut dan kumis. Namun demikian, apakah yang sebenarnya kakangmas kehendaki dengan mencari aku sampai ke tempat ini?”

“Adimas Pangeran Lembu Sabdata,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Mungkin jawaban atas pertanyaan itu telah kau ketahui.”

“Baiklah kakangmas,” berkata Pangeran Lembu Sabdata, “Tetapi aku masih juga ingin bertanya, apakah yang akan kakangmas lakukan sekarang?”

“Adimas Lembu Sabdata,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Aku ingin mempersilahkan adimas kembali ke istana. Sri Baginda ternyata merasa sangat rindu kepada adinda.”

“Jangan membujuk aku seperti membujuk anak-anak,” sahut Pangeran Lembu Sabdata, “Tetapi berkatalah terus terang sebagaimana yang sebenarnya.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Aku harus membawamu kembali menghadap Sri Baginda adimas.”

“Aku sudah mengerti. Tetapi cara apakah yang akan kakangmas tempuh sekarang?” bertanya Lembu Sabdata.

“Tergantung atas sikapmu,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Jika kau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan niatku, maka sudah barang tentu aku tidak akan berbuat apa-apa.”

“Jika aku menolak?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.

“Apakah kau akan menolaknya?” Pangeran Singa Narpada ganti bertanya.

“Kakangmas pun seharusnya tidak usah bertanya. Kakangmas tentu tahu, bahwa sikapku tidak akan lain daripada itu.” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

“Jadi kau benar-benar menolaknya?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ya. Sudah tentu, karena kakangmas tidak akan dapat berbuat apa-apa disini. Aku sekarang bukan aku yang dahulu. Aku sudah masak untuk berdiri tegak sekarang ini,” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Diamatinya orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia tahu bahwa tidak banyak cantrik yang terdapat di padepokan itu selama ia mengamati padepokan itu. Agaknya Ki Ajar memang tidak menerima terlalu banyak orang di padepokannya yang memang tidak begitu besar.

“Pangeran,” berkata Ki Ajar kemudian, “Sikap kami sudah jelas meskipun seandainya Pangeran membawa pasukan segelar sepapan.”

“Kami datang hanya berempat,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Seolah-olah ia tidak percaya bahwa Pangeran Singa Narpada benar-benar hanya berempat. Namun menurut perhitungan nalarnya, seorang Pengeran Singa Narpada tentu tidak akan berbohong.

Namun bahwa Pengeran itu dapat mencapai padepokannya dan sekaligus berhasil memancing Pangeran Lembu Sabdata keluar, tepat pada saat Penembahan Bajang ada di padepokan itu merupakan satu keberhasilan yang mengagumkan.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada seolah-olah dapat membaca kebimbangan di hati Ki Ajar. Karena itu maka katanya, “Ki Ajar. Aku masih berpegang kepada martabat kesatrianku. Aku masih menghargai kata-kataku. Aku memang hanya berempat.”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah Pangeran. Aku mengerti. Karena itu, maka kedatangan Pangeran akan kami terima dengan senang hati. Apapun yang ingin Pangeran lakukan atas kami. Karena sebenarnyalah bahwa kami akan tetap berpegang kepada keyakinan kami.”

“Ki Ajar,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Aku, masih ingin sedikit berbicara. Kenapa kau masih juga selalu mengganggu kedudukan Kediri. Jika kau tidak sependapat dengan sikap Kediri terhadap Singasari, sebenarnya kau dapat menempuh jalan lain. Mungkin kau dapat berbicara dengan Sri Baginda. Tetapi cara yang kau tempuh ini adalah cara yang paling kasar. Setelah kau gagal memperalat Adimas Kuda Permati, maka kini kau dengan kekuatan kepribadianmu kau pengaruhi Adimas Lembu Sabdata sehingga ia tidak lebih dari seekor lembu yang telah dicocok hidungnya. Ia tidak mempunyai sikap sendiri sehingga kau dapat memperalatnya sebagaimana Adimas Kuda Permati, karena sebenarnyalah bahwa kau sendiri tidak akan mungkin dapat menguasai tahta sesuai dengan martabatmu.”

Wajah Ki Ajar menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia berkata, “Jangan terlalu sombong Pangeran. Kau tidak lebih dari aku. Jika aku dapat mengalahkan kekuatan Kediri dengan cara apapun juga, maka akulah yang berkuasa. Tetapi kau masih menghormati keturunan Raja-raja di Kediri. Karena itu, maka sama sekali tidak memperalat para Pangeran. Aku justru menyediakan diri untuk menjadi alatnya.”

“Kami bukan anak-anak lagi Ki Ajar,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Namun dalam pada itu, Pangeran Lembu Sabdata pun menyahut, “Kakangmas masih saja menghina aku. Kakangmas mengira bahwa aku tidak lebih pandai dari seekor kerbau. Bukankah itu sangat menyakitkan hati? Tetapi tidak apa. Kami akan memberi kesempatan kepada kakangmas menghina aku untuk yang terakhir kalinya, karena sejak hari ini kakangmas tidak akan dapat melakukannya lagi.”

“Jangan berkata begitu,” sahut Pangeran Sing Narpada, “Justru aku masih menawarkan sekali lagi kepadamu. Marilah kita menghadap Sri Baginda dengan cara yang baik. Kita akhiri kemelut di Kediri dengan cara yang baik pula. Dengan demikian maka kita akan mempunyai kesempatan untuk membangun Kediri yang besar dan kuat. Kediri yang besar dan kuat, yang kemudian akan menjadi kurus dan kering karena dihisap oleh Singasari,” sahut Pangeran Lembu Sabdata. Lalu katanya kemudian, “Sudahlah kakangmas. Hati kita tidak akan bertemu karena kita berdiri berseberangan. Sekarang kita akan mengambil langkah-langkah sesuai dengan keyakinan kita masing-masing. Kakangmas akan menangkap aku dan aku tidak mau ditangkap.”

Wajah Pangeran Singa Narpada menegang. Rasa-rasanya ia ingin mengoyak mulut Pangeran Lembu Sabdata. Namun Pangeran Singa Narpada masih selalu ingat apa yang pernah terjadi atas dirinya pada saat ia membawa Pangeran Lembu Sabdata sebagai tangkapan. Justru ia sendiri telah ditangkap sebagaimana Pangeran Lembu Sabdata.

Karena itu, maka menghadapi anak muda itu harus sangat berhati-hati. Ia tidak boleh terbunuh dalam benturan yang akan terjadi.

Sementara itu Pangeran Lembu Sabdata masih juga berkata, “Kakangmas, sekali lagi aku peringatkan, bahwa Lembu Sabdata sekarang bukan lagi Lembu Sabdata beberapa saat yang lalu. Jika aku dahulu hanya dapat menundukkan kepala dan mungkin menangis jika kakangmas marah kepadaku, apalagi memukulku, maka sekarang tentu akan berbeda.”

“Aku mengerti Adimas,” sahut Pangeran Singa Narpada yang merasa sangat tersinggung. Namun ia masih tetap pada sikapnya, “Aku memang mengira bahwa selama ini adimas telah ditempa oleh Ki Ajar Bomantara agar Adimas dapat menjadi alat yang baik, sebagaimana seekor kerbau jantan yang kuat dan tidak akan mengecewakan jika dipergunakan untuk menarik bajak sebagaimana Adimas Pangeran Kuda Permati.”

“Kakangmas,” geram Pangeran Lembu Sabdata, “Kakangmas sudah cukup menghina aku. Karena itu, kita tidak usah banyak berbicara lagi. Sekarang tunjukkan kepadaku nama yang besar Kakangmas seperti yang pernah Kakangmas miliki. Apalagi nama yang besar itu masih Kakangmas miliki di hadapanku. Atau sebenarnyalah nama besar itu hanya sekedar kebetulan, karena sebenarnyalah Kakangmas tidak sepantasnya memilikinya.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jika ia terpancing, maka ia akan kehilangan perhitungan. Di tempat itu ada Panembahan Bajang dan Ki Ajar Bomantara. Karena itu sudah sewajarnyalah bahwa ia harus melawan salah seorang diantara mereka. Biarlah Pangeran Lembu Sabdata mencoba kemampuan puncak ilmu Mahisa Murti atau Mahisa Pukat yang telah disadapnya sampai tuntas.

Bahkan dengan demikian maka jika dalam, pertempuran itu Pangeran Lembu Sabdata gagal ditangkap hidup-hidup, tetapi harus mengalami nasib yang lebih buruk, maka bukan dirinyalah yang menjadi penyebab. Sementara itu untuk menghukum orang-orang Singasari maka Sri Baginda tentu akan berpikir dua tiga kali. Karena itu maka Pangeran Singa Narpada pun menjawab, sekaligus untuk mengimbangi sikap Pangeran Lembu Sabdata yang sombong, katanya, “Adimas, apakah benar Adimas sekarang pantas untuk berhadapan dengan aku? Apakah dalam waktu singkat Adimas sudah mampu meningkatkan ilmu demikian tinggi?”

“Apapun yang terjadi atas diriku, Kakangmas tidak usah mempersoalkannya. Tetapi kehadiranku di padepokan ini telah membuat aku menjadi seorang yang tentu pantas untuk berdiri berhadapan dengan Kakangmas,” jawab Pangeran Lembu Sabdata.

“Aku mengerti,” Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Lalu, “Tentu Adimas telah ditempa oleh Ki Ajar Bomantara sehingga Adimas merasa bahwa Adimas pantas untuk berhadapan dengan aku.”

“Ya,” jawab Pangeran Lembu Sabdata, “Tetapi itu tidak penting. Yang penting bahwa aku akan mampu membuktikan bahwa Kakangmas Singa Narpada bukan orang yang harus paling ditakuti di seluruh Kediri.”

Betapa jantung Pangeran Singa Narpada bergejolak mendengar kata-kata Pangeran yang masih jauh lebih muda daripadanya itu. Tetapi ia masih sadar, bahwa ia harus lebih tenang menanggapinya. Katanya dengan nada yang pasti, “Adimas Lembu Sabdata. Dalam kesempatan ini aku datang berempat. Disini ada orang-orang tua yang barangkali lebih pantas aku layani daripada kau yang masih sangat muda. Karena itu, seandainya kau merasa dirimu mampu melawan aku karena tuntunan Ki Ajar Bomantara, maka biarlah aku mencoba melawan gurumu. Jika aku kalah, maka aku telah salah menilaimu. Tetapi menurut perhitunganku, aku akan lebih pantas bermain-main dengan orang-orang tua. Disini ada anak-anak muda yang lebih pantas melayanimu.”

“Gila,” Pangeran Lembu Sabdata hampir berteriak, “itu adalah sesuatu yang sangat licik. Kau hindari kekuatan yang kau kira tidak akan kau lawan.”

“Jangan terlalu sombong Adimas. Bukan karena Adimas menganggap aku lebih rendah dalam tataran ilmu dengan Adimas, tetapi bahwa Adimas telah menganggap guru Adimas lebih rendah martabat ilmunya dari Adimas sendiri.”

Wajah Pangeran Lembu Sabdata menjadi merah. Tetapi dengan nada sangat marah ia menggeram. “Jangan mengambil keuntungan dengan sifat-sifat licik, seperti itu. Kakangmas, hadapi aku.”

Tetapi Pangeran Singa Narpada yang berhasil menekan perasaannya itu tersenyum. Katanya,” bermain-mainlah dengan anak-anak muda itu Adimas.”

Kemarahan Pangeran Lembu Sabdata tidak tertahankan lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan sepenuh tenaganya.

Tetapi Pangeran Singa Narpada yang telah memiliki perbendaharaan pengalaman yang tiada taranya itu sama sekali tidak terkejut mengalami serangan itu. Dengan tenang ia bergeser sehingga serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat lah yang hampir tidak dapat menahan diri. Hanya karena ia masih menghormati kakaknya Mahisa Bungalan, maka Mahisa Pukat tidak segera menerkam Pangeran Lembu Sabdata.

Dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada telah berdiri kembali di tempatnya. Dengan lantang ia berkata, “Ki Ajar, urusan ini adalah urusanku dengan Ki Ajar. Serahkan kembali Mahkota yang kau curi dan sekaligus aku akan mengambil adikku.”

“Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Aku setuju bahwa persoalan ini adalah persoalan orang-orang tua. Biarlah yang muda bermain dengan anak-anak muda pula. Tetapi jika anak-anak muda yang kau bawa itu terbunuh disini, itu bukan salahku, melainkan karena kesombonganmu dan kesombongan mereka semata-mata.”

“Apapun yang terjadi atas diri kami masing-masing adalah akibat dari tingkah kami sendiri. Tetapi sebaliknya apa yang akan terjadi atas diri kalian adalah karena tingkah kalian pula. Nah, siapakah yang akan turun ke arena? Jika. kalian menurunkan dua orang, maka kami pun akan melayaninya dengan dua orang. Tetapi jika kalian akan hadir bertiga di arena, maka kami akan turun bertiga pula.”

Ki Ajar mengerutkan keningnya. Kemudian dipandanginya Panembahan Bajang sambil berkata, “Apakah kau akan ikut serta atau tidak?”

“Aku sudah berada disini. Aku akan ikut bermain-main. Biarlah mereka mengenal orang yang disebut Panembahan Bajang,” jawab orang Kerdil itu.

“Jika demikian, kita akan turun masing-masing bertiga,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Berempat,” terdengar satu suara. Putut padepokan itulah yang melangkah maju sambil memandang wajah Ki Ajar, seolah-olah minta ijinnya.

“Bagus,” berkata Ki Ajar, “Kau selesaikan anak-anak muda itu bersama Pangeran Lembu Sabdata.”

Putut itupun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun melangkah ke halaman memisahkan diri sambil berkata, “Aku tidak akan memilih lawan. Siapa yang datang, maka aku akan menyelesaikannya.”

Mahisa Bungalan pun berpaling kepada dua adiknya sambil berdesis, “Salah seorang diantara kalian. Pergilah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Mereka masing-masing ingin bertempur melawan Pangeran Lembu Sabdata.

Namun akhirnya Mahisa Murti lah yang mengalah. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia keluar dari urut-urutannya melangkah mendekati putut yang terpercaya di padepokan itu.

Sementara itu Mahisa Pukat pun segera bersiap-siap pula. Ia yakin, bahwa ialah yang akan melawan Pangeran Lembu Sabdata.

Namun dalam pada itu. Pangeran Lembu Sabdata pun berkata kepada Ki Ajar, “Guru, biarlah aku menyelesaikan Kakangmas Singa Narpada. Dengan demikian tidak ada lagi kebanggaan yang dapat diteriakkannya ke seluruh penjuru Kediri, seolah-olah ia adalah orang yang paling berharga di tanah ini.”

Namun Mahisa Pukat lah yang menjawab, “Jika kau berhasil, maka Pangeran Singa Narpada bukan saja tidak akan meneriakkan lagi kebanggaan atas dirinya. Tetapi ia memang tidak akan dapat lagi berbuat demikian.”

“Diam,” geram Pangeran Lembu Sabdata, “Kau jangan ikut campur. Anak-anak ingusan seperti kau tidak pantas ikut mencampuri persoalan-persoalan yang besar seperti ini. Kau hanya pantas untuk dicekik dan dilempar ke luar dinding padepokan.”

Tetapi Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya, “Siapakah yang akan dapat mencekik aku dan melemparkan aku keluar dari padepokan ini? Para cantrik yang menyaksikan pembicaraan ini dengan wajah yang kosong? Atau barangkali Panembahan Bajang, atau Ki Bomantara? Aku adalah orang yang tidak terkalahkan lawanku. Bahkan Pangeran Singa Narpada pun mengakui, bahwa aku adalah orang terkuat diantara empat orang yang datang di padepokan ini.”

“Jangan gila,” desis Mahisa Bungalan.

Tetapi mahisa Pukat hanya tertawa saja. Bahkan katanya, “Nah Pangeran Lembu Sabdata. Jika kau ingin disebut orang yang memiliki kelebihan dari sesama, maka kau harus berani melawan aku.”

Darah Pangeran Lembu Sabdata telah mendidih karenanya. Namun terdengar Ki Ajar Bomantara justru tertawa. Katanya, “Aku senang melihat sikapmu anak muda. Sayang bahwa kau datang untuk melawan kami. Jika kau datang untuk mengunjungi kami dalam suasana persahabatan, aku merasa senang sekali dengan sikap jenakamu itu.”

Wajah Mahisa Pukat menjadi tegang. Namun Pangeran Singa Narpada pun kemudian berkata, “Sudahlah. Biarlah anak-anak muda bergurau. Turunlah ke halaman. Kita akan bermain-main menurut cara orang tua.”

“Ya,” sahut Panembahan Bajang. “Kita sudah terlalu lama berbicara. Marilah kita mulai, mumpung hari masih panjang.”

“Turunlah,” sahut Pangeran Singa Narpada, “Biarlah kita mulai secepatnya, agar pekerjaan kita segera selesai, siapapun yang akan keluar hidup dari arena ini.”

Panembahan Bajang pun telah turun pula ke halaman. Katanya, “Aku tidak akan dapat memilih lawan. Hanya seorang diantara kalian yang tersisa. Apakah orang itu memadai untuk melawan aku?”

“Entahlah Panembahan,” jawab Mahisa Bungalan, “Tetapi marilah kita coba. Nanti jika ternyata kita tidak sesuai, kita akan mengadakan pertukaran lawan.”

Panembahan Bajang tiba-tiba saja telah tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kau juga cukup jenaka. Tetapi baiklah, kita akan mencobanya, meskipun nampaknya kau masih terlalu muda untuk melawanku.”

Mahisa Bungalan pun telah melangkah mendekatinya. Sementara itu wajah Pangeran Lembu Sabdata menjadi sangat gelap. Ia merasa terhina bahwa ia harus melawan Mahisa Pukat. Namun kekecewaannya itupun ingin dikerahkannya kepada anak muda itu. Ia merencanakan untuk menghancurkan Mahisa Pukat dalam sekejap, sehingga dengan demikian Pangeran Singa Narpada akan mengakui, bahwa ia memang seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Dengan demikian, maka masing-masing telah mendapat lawannya. Ki Ajar yang kemudian juga turun ke halaman telah berhadapan pula dengan Pangeran Singa Narpada.

“Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Pangeran adalah seorang prajurit. Karena itu, maka kemampuan Pangeran yang paling berharga adalah justru dalam perang antara dua kelompok prajurit yang bertempur dalam gelar. Tetapi untuk bertempur seorang lawan seorang seperti ini, agaknya Pangeran masih harus berguru tiga atau empat tahun lagi.”

“Sayang, aku terlambat melakukannya,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Dalam waktu tiga atau empat tahun lagi, maka segalanya sudah berubah di Kediri jika mahkota itu masih tetap disini. Karena itu, biarlah aku menghadapimu dengan apa adanya. Menang atau kalah bagiku tidak penting. Tetapi aku sudah berusaha berbuat sebaik-baiknya menurut kemampuanku.”

“Pangeran,” berkata Ki Ajar, “Aku sangat menghargai Pangeran yang sangat ikhlas melakukan pengabdian bagi Kediri. Jika ada sepuluh orang saja di Kediri sebagaimana Pangeran, maka nasib Kediri tentu akan berubah.”

“Terima kasih Ki Ajar. Tetapi jangankan sepuluh orang. Jika benar penilaian Ki Ajar atasku, maka yang seorang ini pun akan kau bunuh pula.”

“Ah,” desah Ki Ajar, “Jangan mengungkit perasaan belas kasihanku Pangeran. Jika demikian tentu aku tidak akan sampai hati membunuhmu.”

“Aku memang berusaha Ki Ajar,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Bukankah dengan demikian akulah yang akan berhasil membunuhmu.”

Ki Ajar mengerutkan keningnya. Namun iapun segera tersenyum. Katanya, “Marilah, kita akan dapat memulainya Pangeran.”

Pangeran Singa Narpada tidak menjawab. Tetapi iapun segera bersiap.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Putut yang terpercaya dari padepokan itu telah mulai terlibat dalam perkelahian. Putut itu adalah orang yang paling dekat dengan Ki Ajar di padepokan itu, sehingga ilmunya telah manjadi mumpuni.

Sementara itu, beberapa orang cantrik yang ada di halaman itu berdiri termangu-mangu. Tidak ada perintah Ki Ajar bagi mereka untuk melibatkan diri. Bahkan nampaknya Ki Ajar sudah bertekad untuk bertempur seorang melawan seorang.

Dengan demikian maka para cantrik itupun hanya berdiri saja mengamati keadaan. Sambil berdebar-debar para cantrik itu menyaksikan empat lingkaran pertempuran di halaman itu. Saudara tertua mereka, Putut yang paling terpercaya itu melawan seorang anak muda, sebagaimana Pangeran Lembu Sabdata. Sedangkan Panembahan Bajang pun telah mulai dengan melepaskan ilmunya dengan hati-hati. Sedangkan Ki Ajar sendiri harus bertempur menghadapi Pangeran Singa Narpada.

Dalam pada itu mereka yang telah terlibat ke dalam pertempuran itu, masih belum sampai pada mengerahkan kemampuan mereka sepenuhnya. Mereka masih berusaha untuk menjajagi kemampuan lawan masing-masing.

Nampak agak berbeda dengan yang lain, Pangeran Lembu Sabdata yang merasa terhina karena mendapat lawan yang dianggapnya tidak cukup pantas baginya, telah berusaha untuk mengerahkan ilmu dan menyelesaikan pertempuran itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Tetapi lawannya adalah Mahisa Pukat, yang telah pernah menyelesaikan laku dan mencapai ilmu puncaknya pula. Karena itu maka yang dihadapi oleh Pangeran Lembu Sabdata itu bukannya Mahisa Murti atau Mahisa Pukat sebagaimana pernah dikenalnya. Pangeran Lembu Sabdata salah menilai kemungkinan yang dapat terjadi pada seseorang. Ia lupa tentang dirinya sendiri, bahwa pada saatnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu memiliki kelebihan pula daripadanya. Tetapi karena Pangeran Lembu Sabdata merasa telah meningkatkan ilmunya sampai ke puncak setelah ia ditempa oleh Ki Ajar Bomantara, maka ia menganggap bahwa anak-anak muda itu tidak berarti apa-apa lagi baginya.

Namun ternyata bahwa Pangeran Lembu Sabdata telah dikejutkan oleh kenyataan, bahwa Mahisa Pukat tidak dapat dilumpuhkannya pada benturan-benturan pertama.

Namun ternyata bahwa Mahisa Pukat pun harus mengakui kemampuan Pangeran Lembu Sabdata. Agaknya Pangeran Lembu Sabdata telah menyadap ilmu sampai ke puncak kemungkinannya pula.

Dengan demikian, maka Pangeran Lembu Sabdata pun tidak lagi menahan diri. Keinginannya untuk menghancurkan lawannya dalam waktu dekat telah mendorongnya untuk menghentakkan ilmunya dan menumpahkannya dalam serangan-serangannya yang cepat dan berat.

Tetapi yang terjadi tidak seperti yang diharapkannya. Lawannya ternyata tidak segera dapat dilumpuhkannya. Mahisa Pukat ternyata mampu mengimbangi kecepatan geraknya. Bahkan, dengan perhitungan yang cermat, maka Mahisa Pukat pun telah didorong pula oleh kemudaannya untuk menunjukkan kepada lawannya, bahwa tidak dapat di perlakukan sekehendak hati Pangeran Lembu Sabdata.

Karena itulah, maka Mahisa Pukat pun telah bersiap untuk pada satu saat membenturkan kekuatannya melawan serangan-serangan Pangeran Lembu Sabdata yang datang membadai.

Pangeran Lembu Sabdata yang belum menyadari kemungkinan yang dapat terjadi, masih saja berusaha untuk menghancurkan lawannya dengan serta merta.

Tetapi, ketika dengan segenap kekuatannya Pangeran Lembu Sabdata menyerang Mahisa Pukat yang nampak agak terbuka pertahanannya, ternyata telah membentur satu kekuatan yang tidak diduganya. Mahisa Pukat tidak berusaha menghindari serangan itu. Namun ia justru telah berusaha menangkisnya dengan membenturkan kekuatannya pula melawan kekuatan Pangeran Lembu Sabdata.

Benturan itu ternyata telah menimbulkan akibat yang sangat mengejutkan. Mahisa Pukat telah terdorong be berapa langkah susut. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Namun dengan susah payah ia berhasil bertahan dan tidak jatuh tertelentang. Namun dalam pada itu. Pangeran Lembu Sabdata pun telah terpental pula be berapa langkah. Bahkan karena keyakinannya akan kemampuannya. Pangeran Lembu Sabdata tidak mengira bahwa kekuatannya akan membentur kekuatan yang seimbang. Karena itulah maka ia pun telah kehilangan kewaspadaan. Setelah terhuyung-huyung sejenak, maka iapun telah jatuh di tanah. Namun demikian ia terguling, maka iapun dengan cepat telah melenting berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun bahwa ia terjatuh di tanah itu telah merupakan satu peringatan yang keras. Dengan demikian bahwa perhitungannya atas kekuatan lawannya ternyata kurang cermat, sehingga ia telah jatuh berguling di tanah.

Untuk mengatasi gejolak perasaan didalam dirinya, Pangeran Lembu Sabdata itu telah berkata lantang, “Jangan kau anggap bahwa kau mampu mengimbangi kekuatanku. Ternyata bahwa aku telah melakukan satu kesalahan sehingga aku terjatuh. Bukan karena kelebihanmu atas aku.”

Mahisa Pukat yang berdiri tegak menyahut, “Pangeran. Bukankah aku tidak berkata apapun juga tentang keadaan Pangeran? Aku memang tidak menganggap bahwa aku mempunyai kelebihan. Aku juga tidak pernah menganggap ringan lawan-lawanku meskipun seandainya ia tidak berdaya sama sekali. Aku menghargai lawan-lawanku sehingga dengan demikian aku tidak akan mengalami goncangan sebagaimana Pangeran alami.”

“Tutup mulutmu,” geram Pangeran Lembu Sabdata, “Kau jangan menjadi sombong karenanya.”

“Aku tidak pernah menyombongkan diri,” jawab Mahisa Pukat, “Tetapi jika peristiwa seperti yang baru saja ini terjadi, sama sekali bukan karena kesombonganku. Tetapi justru karena kelengahan Pangeran dan barangkali juga karena kemampuanku yang memadai.”

Pangeran Lembu Sabdata mengumpat kasar Kata-kata Mahisa Pukat itu membuat telinganya menjadi merah. Ternyata anak muda itu benar-benar anak yang sangat sombong.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan lah yang berdesis, justru disela-sela perlawanannya terhadap Panembahan Bajang. Katanya, “Kau memang sombong Pukat.”

“Tidak,” Panembahan Bajang lah yang menyahut, “Aku senang mendengar kelakarnya. Tentu Pangeran Lembu Sabdata pun senang mendengarnya. Anak itu tidak berniat untuk menyombongkan diri. Tetapi kebiasaannya bergurau membuatnya seolah-olah ia adalah anak yang sangat sombong.”

Pangeran Lembu Sabdata mengerutkan keningnya. Sementara itu Panembahan Bajang pun masih berkata, “Karena itu, Pangeran jangan menanggapinya dengan hati yang panas.”

Pangeran Lembu Sabdata tidak menjawab. Tetapi ia merasa bahwa Panembahan Bajang telah memperingatkannya, agar hatinya tidak menjadi gelap karena kemarahan yang tidak tertahankan. Sementara itu, lawannya telah dengan sengaja membuatnya marah dengan kata-katanya yang dapat membakar jantung.

Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata telah berusaha untuk mengekang diri, agar ia dapat menanggapi lawannya dengan sikap yang tenang.

Dengan demikian, maka keduanya telah berhadapan pula dengan sikap yang lebih hati-hati. Pangeran Lembu Sabdata yang telah menjajagi ilmu lawannya, tidak dapat mengingkarinya, bahwa anak muda yang dihadapinya memang mempunyai kemampuan yang tinggi.

Karena itu, maka pertempuran yang kemudian terjadi, dilandasi oleh perhitungan-perhitungan yang lebih matang, bukan sekedar didorong oleh kemarahan yang meluap-luap.

Sementara itu, ternyata bahwa pertempuran antara Putut yang terpercaya dari padepokan Ki Ajar melawan Mahisa Murti menjadi lebih bersungguh-sungguh. Putut itu bukan seorang yang kurang dapat mengendalikan diri seperti Pangeran Lembu Sabdata. Tetapi ia adalah orang yang telah terlatih menghadapi segala macam keadaan. Cara hidupnya yang lebih banyak ditempa oleh tata kehidupan yang keras di padepokan, ternyata mempunyai pengaruh pula didalam dirinya. Sehingga dengan demikian, maka nampaknya ia lebih masak dari Pangeran Lembu Sabdata.

Karena itu, Mahisa Murti pun menghadapinya dengan sangat berhati-hati. Setiap langkahnya diperhitungkannya dengan cermat. Sementara Putut itu sendiri, nampaknya tidak tergesa-gesa dan tidak menghentak-hentak. Satu-satu langkahnya nampaknya diperhitungkannya pula dengan sungguh-sungguh.

“Ternyata orang ini memiliki kemampuan yang mantap,” berkata Mahisa Murti didalam hatinya.

Sementara itu, Mahisa Bungalan telah berhadapan dengan seorang yang bertubuh kerdil, tetapi mampu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa Tubuhnya seolah-olah tidak berbobot sama sekali. Dengan cepat orang kerdil itu melenting, namun kemudian kedua kakinya bagaikan berakar dalam menusuk ke pusat bumi.

“Kau lucu sekali,” desis Mahisa Bungalan, “kau mengingatkan aku kepada sesuatu.” berkata Mahisa Bungalan.

“Aku tahu,” jawab Panembahan Bajang. “Aku tidak akan marah jika kau sebutkan saja dengan terus terang.”

Mahisa Bungalan meloncat menghindar ketika Panembahan Bajang itu menerkamnya.

“Apakah kau mengetahui, apakah kira-kira yang akan aku katakan,” bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku tahu pasti. Kau akan mengatakan, bahwa kau teringat kepada seekor kera,” jawab Panembahan Bajang.

Mahisa Bungalan tertawa. Tetapi suara tertawanya tiba-tiba saja terputus. Panembahan Bajang, yang kerdil itu menyambarnya. Hampir saja menyambar kepalanya.

Tetapi Panembahan Bajang pun kemudian tertawa pula. Katanya, “Bukankah begitu?”

“Bukan aku yang menyebutnya. Tetapi kau sendiri,” berkata Mahisa Bungalan.

“Kau bukan orang yang pertama mengatakan aku seperti itu,” berkata Panembahan Bajang. “Di kaki Gunung Semeru aku pernah dikatakan pula sebagai seekor kera. Caraku berkelahi dan malahan katanya rupaku juga.”

“O,” desis Mahisa Bungalan, “Dan kau tidak marah?”

“Tidak,” jawab Panembahan Bajang. “Tetapi entahlah, bahwa akhirnya aku membunuhnya. Ia mati karena aku mencekiknya.” Panembahan Bajang berhenti sejenak. Lalu katanya sambil bergeser ke samping, “Tetapi seandainya ia tidak mati tercekik, mak
a aku akan dapat membunuhnya dengan cara tersendiri. Dari manapun juga atau dimanapun juga ia bersembunyi.”

“Jika demikian, maka untuk menghindarkan diri dari kemungkinan itu, maka aku harus membunuhmu,” berkata Mahisa Bungalan.

“O, lucu sekali,” jawab Panembahan Bajang. Lalu katanya, “Sampai sekarang Panembahan Bajang belum pernah dibunuh orang. Jika kau berhasil membunuhku, itu adalah satu kelainan. Tetapi yang biasa terjadi Panembahan Bajang akan membunuh musuh-musuhnya dengan cara apapun juga.”

“Apakah kau kira sudah ada orang yang pernah membunuhku sebelumnya?” bertanya Mahisa Bungalan.

Sekali lagi Panembahan tertawa. Tetapi ternyata ia harus melenting beberapa langkah surut ketika dengan garangnya Mahisa Bungalan menyerangnya.

“Uh,” desis Panembahan Bajang. “Kekuatanmu melampui kekuatan seekor gajah,” lalu katanya, “Tetapi kau memang lucu seperti anak muda yang bertempur melawan Pangeran Lembu Sabdata. Sedangkan anak muda yang bertempur melawan Putut itu nampaknya agak pendiam.”

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti tidak terlalu banyak berbicara. Bukan saja karena ia sendiri memang tidak terlalu banyak berbicara, lawannya pun agaknya seorang yang bersungguh-sungguh menghadapi satu persoalan.

Karena itu, maka keduanya pun bertempur dengan sangat berhati-hati. Keduanya menanggapi perkembangan keadaan dengan cermat dan dengan perhitungan yang mapan, agar tidak membuat kesalahan.

Keduanya menyadari, bahwa kesalahan sedikit saja yang diperbuat, akan dapat menjerumuskan mereka ke dalam kesulitan yang berkepanjangan. Bahkan mungkin akan dapat menyeretnya ke dalam lingkaran maut.

Setingkat demi setingkat, mereka meningkatkan ilmu mereka. Seperti seseorang yang menyeberangi sebatang sungai, mereka menjajagi kedalamannya setapak demi setapak.

Katanya, “Benar-benar bukan anak muda kebanyakan. Agaknya memang tidak perlu aku berpura-pura. Tetapi aku pun tidak perlu mengatakan sebab yang sebenarnya. Yang dapat aku katakan sekarang adalah, bahwa aku ingin membunuh kalian. Tidak lebih dan tidak kurang.”

“Baiklah,” jawab Mahisa Murti, “Jika demikian, maka kami berdua wajib membela diri. Bahkan jika dalam keadaan membela diri itu kami harus membunuh, maka kami tidak akan menyesal, karena kau pun telah berniat untuk membunuh kami.”

“Jika demikian, maka kita tidak usah banyak berbicara,” berkata orang bertubuh kecil itu, “Jalan ini tidak terlalu sering dilalui orang. Tetapi sekali-kali dalam saat seperti ini kadang-kadang ada juga orang lewat. Orang yang keluar masuk padukuhan itu. Karena itu, marilah kita memasuki pategalan sebelah, agar aku dapat membunuh kalian dengan tenang.”

“Gila,” geram Mahisa Pukat, “Kau ingin menggiring kami seperti seekor lembu yang dibawa ke tempat penjagaan? Tetapi baiklah. Mungkin akibatnya akan berbeda, karena dengan …

Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi katanya, “Kalian masih terlalu muda untuk dapat mengalahkan aku, meskipun kalian berdua. Tetapi sebaiknya memang kita coba sebelum aku benar-benar membunuhmu. Membunuh orang yang berani melawan memberikan kepuasan tersendiri daripada membunuh seorang pengecut yang menyerahkan lehernya.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...