*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 014-04*
“Apakah kau menolak kebenaran perjuanganku? Apakah kau tidak tahu bahwa aku ingin membebaskan Kediri dari kuasa Singasari?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.
“O, itukah yang Pangeran maksud?” bertanya seorang dari kedua pengawal itu.
“Ya” jawab Pangeran Lembu Sabdata tegas.
“Pangeran benar” desis pengawal itu.
“Jadi kau sependapat dengan aku?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.
“Pangeran benar, bahwa aku tidak tahu apa yang Pangeran perjuangkan. Aku tidak tahu bahwa Pangeran akan membebaskan Kediri dari kuasa Singasari” desis pengawal itu.
Pangeran Lembu Sabdata mengumpat. Dengan wajah yang tegang ia bergumam, “Penjilat, pengecut, pengkhianat. Alangkah bodohnya kau”
Tetapi para pengawal itu memang sudah mendapat pesan, bahwa mereka harus berhati-hati. Mereka harus mempersiapkan diri, bukan saja lahiriah, apabila Pangeran itu berusaha untuk melarikan diri. Tetapi juga sikap batin mereka menghadapi Pangeran yang keras kepala itu.
Karena itu, maka keduanya pun kemudian tidak menanggapinya. Dibiarkannya saja apa yang dikatakan oleh Pangeran Lembu Sabdata. Bahkan seorang diantara para pengawal itu sempat menjawab, “Pembicaraan diantara kita tidak akan ada gunanya Pangeran. Sikap kita berbeda. Landasan berpikir kita juga berbeda. Sebagaimana Pangeran mengatakan kepada Pangeran Singa Narpada bahwa lebih baik kita tidak ada pembicaraan sama sekali. Jika Pangeran masih ingin mengumpati kami berdua, silahkan. Memang aku tidak mendapat pesan untuk melarang”
“Gila” geram Pangeran Lembu Sabdata.
Kedua pengawal itu tidak menjawab lagi. Namun mereka tetap bersiaga mengamati tawanan mereka yang memang berhati batu.
Ternyata bahwa Pangeran Lembu Sabdata untuk selanjutnya, memang tidak mau berbicara. Karena itu. maka akhirnya Pangeran itu pun dikembalikan ke banjar pedukuhan induk.
Namun Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Hari ini pembicaraan diantara kita. kita akhiri. Besok kita akan berbicara lagi. Mungkin sikapku akan berbeda dengan sikapku hari ini. Agaknya adimas sudah mengetahui akan hal itu. Aku bukan seorang yang dapat terbatas. Pada suatu saat mungkin aku akan melakukan satu tindakan yang kurang bijaksana”
“Kakangmas mengancam aku. Apakah kakangmas masih menduga bahwa dengan cara apapun juga aku akan bersedia berbicara” geram Pangeran Lembu Sabdata
“Ya. Aku yakin bahwa pada Suatu saat kau akan berbicara. Ketahanan jasmani dan jiwani seseorang memang sangat terbatas. Dan kekerasan kepalamu pun akan terbatas” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Aku bukan pengecut. Bukan penjilat dan aku sama sekali tidak gentar meskipun tubuhku akan lumat dalam hukuman picis sekalipun” Pangeran Lembu Sabdata hampir berteriak.
Tetapi suaranya kemudian terputus ketika Pangeran Singa Narpada berkata, “Kau bukan orang yang berhati tabah. Kau tentu akan berbicara sebagaimana kau menyerah Hanya orang-orang yang tabah saja akan bertempur sampai saat terakhir. Tetapi yang kau lakukan adalah satu kelicikan pula. Menyerah Apakah itu sifat kesatria. Karena itu. dalam keadaan terpaksa kau nanti atau besok lusa. tentu akan berbicara Bukan salahku jika besok atau besok lusa kau tidak lagi dapat mengenali aku dan sifat sifatku hari ini. Sebenarnyalah aku memang seorang yang buas dan kasar”
Wajah Pangeran Lembu Sabdata memang menjadi tegang. Dengan sorot mata yang memancarkan gejolak perasaannya, ia memandang Pangeran Singa Narpada. Tetapi Pangeran Singa Narpada. itu pun tidak menghiraukannya lagi.
Yang kemudian dihargai oleh Pangeran Lembu Sabdata adalah Senapati prajurit Singasari yang akan membawanya ke banjar.
“Aku bukan Pangeran Singa Narpada, Pangeran. Aku bukan orang yang dapat berbicara dengan lemah lembut. Dan aku bukan saudaramu. Karena itu. Pangeran jangan bersikap kasar kepadaku sebagaimana Pangeran bersikap terhadap Singa Narpada yang sabarnya melampaui setiap orang yang pernah: aku kenal. Dadanya seakan-akan luasnya melampaui luasnya samodra”
“Jika demikian, aku mau apa?” Pangeran Lembu Sabdata masih mencoba mengatasi pribadi Senapati itu.
“Jika perlu, kami akan mengikat Pangeran dan menariknya di belakang pedati. Aku tidak perduli bahwa Pangeran akan menjadi tontonan dan dilempari batu oleh anak-anak?” sahut Senapati itu.
Darah Pangeran Lembu Sabdata bagaikan mendidih mendengar kata-kata Senapati itu. Tetapi menurut Pangeran Lembu Sabdata Senapati itu bukan orang yang berdiri pada tataran yang sama dengan dirinya, sehingga karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata menganggap bahwa ia tidak pantas berbantah dengan Senapati kecil itu.
Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata selanjutnya tidak lagi menolak untuk dibawa ke banjar.
“Silahkan masuk” berkata Senapati itu kepada Pangeran Lembu Sabdata ketika mereka sampai di banjar. Sebuah bilik khusus telah disediakan bagi Pangeran itu.
Ketika kemudian pintu bilik yang kuat itu ditutup dan diselarak, Pangeran Lembu Sabdata menghentakkan tangannya pada dinding biliknya sehingga dinding itu terguncang. Para pengawal dengan serta merta telah bersiaga, karena mungkin sekali Pangeran itu akan dapat memecahkan dinding.
Tetapi Pangeran Lembu Sabdata kemudian dengan lemahnya duduk diatas sebuah amben kayu di sudut bilik itu. Terdengar ia mengumpat kasar. Namun ia tidak dapat berbuat apapun juga untuk melawan keadaan yang harus dijalaninya.
Memang ada penyesalan bahwa ia menyerah dalam peperangan itu. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun demikian ia masih juga bergumam, “Kenapa aku tidak memilih mati waktu itu”
Di luar para pengawal mengamati. Dinding dan pintu bilik itu. Namun agaknya Pangeran itu menjadi lebih tenang menurut pengamatan dari luar.
Tetapi Sebenarnyalah bahwa jantung Pangeran itu masih tetap bergejolak. Kegagalannya itu benar-benar telah melenyapkan harapan yang telah disusunnya. Meskipun demikian ia masih mempunyai harapan, bahwa saudara-saudaranya yang lain akan berhasil dan bahkan berusaha untuk dapat melepaskannya.
Dalam pada itu, ketika malam menyelubungi Kabuyutan Talang Amba, maka terasa suasana menjadi lebih tenang. Para tawanan telah tertidur di ruang masing-masing, sementara itu di pendapat rumah Ki Sanggarana Pangeran Singa Narpada dan beberapa orang yang datang bersamanya, masih juga digelisahkan oleh sikap Pangeran Lembu Sabdata.
“Ki Sanggarana” berkata Pangeran Singa Narpada, “sebenarnya aku gelisah tentang diriku sendiri. Mungkin aku akan dapat berbuat di luar pengamatan nalarku. Aku memang orang yang kasar. Tetapi sebenarnya aku tidak ingin merusak citra para keluarga Keraton Kediri. Bahwa orang-orang Kediri pada umumnya adalah orang-orang kasar seperti aku. Tetapi tanpa berbuat demikian, aku nampak terlalu lemah di mata adimas Pangeran Lembu Sabdata.
“Memang diperlukan kesabaran Pangeran” berkata Ki Sanggarana, “Mudah-mudahan pada satu saat semuanya akan dapat dipecahkan”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun berharap agar ia akan dapat melakukan. tugas itu dengan baik tanpa menumbuhkan persoalan-persoalan baru bagi Kediri.
Dengan gejolak yang masih saja mengetuk-ketuk jantung Pangeran Singa Narpada dan mereka yang datang bersamanya itu pun kemudian dipersilahkan untuk beristirahat di gandok.
“Kami mohon maaf Pangeran, bahwa tempat yang dapat kami sediakan adalah tempat yang sangat sederhana” berkata Ki Sanggarana.
“Semuanya sudah memenuhi keperluan Ki Sanggarana, kami mengucapkan terima kasih” jawab Pangeran Singa Narpada.
Demikianlah, malam di Kabuyutan Talang Amba itu menjadi semakin sepi. Rumah-rumah pun telah ditutup, bukan saja pintu-pintunya, tetapi juga regol-regol halaman.
Hanya di gardu-gardu sajalah anak-anak muda masih berjaga-jaga, sebagaimana mereka lakukan. Sedangkan di banjar-banjar dan tempat para tataran, prajurit Singasari. melakukan tugas mereka sebaik-baiknya.
Dalam pada itu, selagi kesunyian semakin mencengkam, Ki Waruju telah memanggil Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan berbisik ia berkata, “Agaknya sesuatu akan terjadi malam ini. Aku mendapat firasat buruk, meskipun barangkali hanya sekedar bayangan-bayangan suram yang bermain di dalam angan-angan yang sedang dicengkam kegelisahan ini”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Pergilah ke Banjar. Aku tidak dapat pergi. Mungkin setiap saat aku diperlukan untuk berbicara disini. Jika persoalannya sangat gawat, suruhlah para peronda untuk membunyikan isyarat. Tetapi cobalah atasi agar tidak menimbulkan kegelisahan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa mereka harus berjaga-jaga sebaik-baiknya di banjar padukuhan induk, di tempat Pangeran Lembu Sabdata di tahan.
“Apakah mungkin Pangeran itu akan melarikan diri paman?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku tidak dapat mengatakannya” jawab Ki Waruju, “Aku hanya mendapat firasat tidak baik. Aku merasa dicengkam oleh kegelisahan dan dugaan bahwa sesuatu akan terjadi. Tetapi aku sama sekali tidak mengerti, apa yang akan terjadi itu. Bahkan mungkin memang tidak akan terjadi apa-apa. Namun demikian kita wajib berhati-hati.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk pula. Dengan nada datar Mahisa Murti berkata, “Kami akan pergi ke banjar. Kami akan menghubungi para petugas meskipun kami yakin bahwa mereka pun akan melakukan tugas mereka sebaik-baiknya
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun telah pergi ke banjar. Seperti biasanya, keduanya berada diantara anak-anak muda Kabuyutan Talang Amba yang berada di banjar. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menghubungi para prajurit Singasari yang bertugas di tempat itu pula.
“Pangeran itu memang keras kepala” berkata seorang prajurit, “berhadapan dengan Pangeran Lembu Sabdata, maka seseorang memang harus berlaku agak keras. seperti pada saat membawanya ke rumah Ki Sanggarana. Namun dengan sikap yang terlalu lunak seperti sikap Pangeran Singa Narpada, maka agaknya Pangeran Lembu Sabdata sulit untuk diharapkan dapat memberikan keterangan. Bahkan nampaknya ia telah menganggap para petugas yang datang dari Kediri dan Singasari itu terlalu lemah menghadapinya”
“Tetapi sudah tentu bahwa para petugas itu berlaku kasar” berkata Mahisa Murti, “mereka harus melakukan tugas mereka dengan bijaksana”
Prajurit itu mengangguk-angguk. Namun ia tidak akan dapat banyak mengharapkan hasilnya jika cara yang ditempuh oleh Pangeran Singa Narpada itu masih dilakukannya untuk selanjutnya.
Malam itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berada di gardu anak-anak muda Talang Amba dan para prajurit Singasari yang menjaga banjar Padukuhan Induk. Penjagaan yang harus mengawasinya beberapa orang tahanan terpenting, termasuk Pangeran Lembu Sabdata.
Nampaknya malam itu tidak ada tanda-tanda sebagaimana digelisahkan oleh Ki Waruju. Pangeran Lembu Sabdata justru telah tertidur dengan nyenyaknya. Demikian juga beberapa orang tawanan yang lain, yang diletakkan di bilik yang lain pula.
Meskipun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, tidak meninggalkan kewaspadaan. Meskipun yang dikatakan oleh Ki Waruju itu hanya berdasarkan kepada firasatnya saja, dan sama sekali tidak berdasarkan kepada keterangan-keterangan atau tanda-tanda lainnya, namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mengabaikannya.
Dalam pada itu, semakin malam, banjar Padukuhan Induk itu pun menjadi semakin sepi. Para pengawal Kabuyutan pun mulai membagi tugas. Sebagian dari mereka akan beristirahat, sedangkan yang lain akan berjaga-jaga. Demikian juga para prajurit Singasari yang berada di banjar pun sebagian telah beristirahat pula.
Dua orang Senopati bertanggung jawab atas tugas para prajurit Singasari itu. Mereka akan bertugas bergantian. Seorang diantara mereka akan beristirahat. Jika tengah malam telah lewat, maka mereka akan bergantian melakukan tugas mereka.
Namun dalam pada itu, yang berada diluar pembagian tugas itu adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka tidak termasuk ke dalam para pengawal Kabuyutan atau para prajurit Singasari, sehingga dengan demikian, mereka berdua harus membagi tugas mereka sendiri.
Mahisa Pukat yang kemudian mendapat giliran untuk beristirahat lebih dahulu, sementara Mahisa Murti akan berada diantara anak-anak muda Talang Amba yang bertugas.
Ketika malam menjadi semakin malam, maka banjar itu pun menjadi semakin sepi pula. Selain para petugas, maka orang-orang yang berada di halaman itu sudah tertidur nyenyak.
Hanya beberapa orang sajalah yang masih tetap berjaga-jaga. Beberapa orang bertugas di bagian belakang banjar, sedang yang lain ada di bagian depan. Sementara itu. khusus bilik yang dipergunakan oleh Pangeran Lembu Sabdata telah mendapat pengawasan khusus, karena banyak hal akan dapat terjadi. Pangeran yang keras hati itu akan dapat melakukan apa saja yang bahkan tidak diduga sebelumnya.
Tetapi jika terjadi sesuatu, maka para prajurit Singasari yang mengawasi bilik Pangeran Lembu Sabdata itu tentu akan dapat bertindak cepat. Bahkan jika mereka merasa tidak mampu melakukannya, maka mereka pun tentu akan memberikan isyarat kepada kawan-kawannya.
Namun dalam itu, Mahisa Murti yang terpengaruh oleh keterangan Ki Waruju menjadi sangat berhati-hati mengamati keadaan. Mungkin terjadi sesuatu diluar pengamatan wadag para prajurit dan anak-anak muda Talang Amba, sehingga akan dapat terjadi sesuatu yang tidak sewajarnya.
“Mudah-mudahan firasat K) Waruju itu tidak terjadi” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya. Meskipun demikian ia tidak akan lengah sama sekali.
Menjelang tengah malam, maka Mahisa Murti itu pun telah berada diantara para petugas yang berjaga-jaga di pintu butulan di halaman belakang. Dua orang anak muda Talang Amba duduk di sebelah pintu butulan itu dengan tombak tersandar di dinding.
Untuk beberapa saat, mereka masih berbincang tentang keadaan Kabuyutan Talang Amba. Namun suara kedua orang anak muda itu semakin lama serasa menjadi semakin dalam.
“Sst” desis Mahisa Murti, “apakah kalian sudah mulai mengantuk?”
Kedua orang anak muda itu menghentakkan diri dan bangkit sambil memandang langit yang digayuti oleh beribu bintang.
Namun salah seorang diantara mereka bergumam, “Malam ini memang agak lain. Rasa rasanya aku menjadi sangat mengantuk”
“Bukankah tugasmu sampai lewat tengah malam?” bertanya Mahisa Murti.
“Ya. Waktuku bertugas tidak terlalu lama lagi. Tetapi rasa-rasanya aku tidak dapat bertahan sampai tepat tengah malam” jawab seorang diantara kedua petugas itu.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Beberapa saat kedua orang yang bertugas mengawasi pintu butulan itu melangkah mondar-mandir untuk melenyapkan cengkaman perasaan kantuk mereka. Namun di luar kuasa mereka, maki mereka pun telah kembali duduk di tempat mereka semula sambil menyandarkan tombak mereka.
Mahisa Murti pun ternyata mulai disentuh oleh perasaan serupa. Matanya seakan-akan dibebani oleh kantuknya yang hampir tidak terlawan.
Mahisa Murti makin menjadi, cemas. Ia teringat kepada pesan Ki Waruju Mungkin sesuatu akan terjadi malam itu.
Ketika kedua orang pengawal itu justru telah benar-benar tertidur, maka Mahisa Murti pun semakin yakin, memang ada yang tidak wajar telah terjadi.
Karena itu, maka ia pun lelah mengerahkan segenap kemampuan ilmunya untuk melawan kantuknya. Bukan sekedar daya tahan wajarnya, tetapi ia mulai merambah kepada alas ilmunya untuk melawan udara yang tidak wajar di banjar Kabuyutan itu.
Mahisa Murti terkejut ketika ia menengok halaman depan banjar padukuhan Induk itu. Semua orang telah tertidur nyenyak bahkan pemimpin peronda diantara anak-anak muda Talang Amba itu pun telah tertidur pula.
Mahisa Murti menjadi semakin curiga. Iapun tergesa-gesa lelah menghampiri Mahisa Pukat yang sedang tidur dengan nyenyaknya pula.
Dengan hati-hati, agar tidak mengejutkannya, maka Mahisa Murti pun berusaha untuk membangunkan saudaranya sebelum ia terjerat semakin dalam oleh pengaruh yang tidak wajar yang mencengkam banjar Kabuyutan itu.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti mengalami kesulitan untuk membangunkan saudara laki-lakinya. Dalam keadaan tidur, maka Mahisa Pukat sama sekali tidak mampu melawan kekuatan yang mendesaknya ke dalam kelelapan yang semakin dalam itu.
Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian telah mengerahkan kemampuan ilmunya. Sambil memegang tangan Mahisa Pukat, maka Mahisa Murti telah mengerahkan daya tahannya untuk menolak pengaruh yang tidak sewajarnya itu.
Perlahan-lahan terasa arus yang hangat mengalir lewat genggaman tangan Mahisa Murti menjalar ke tubuh Mahisa Pukat, sehingga perlahan-lahan maka Mahisa Pukat pun diluar sadarnya telah melawan pengaruh yang mencengkam banjar itu.
Dengan demikian, maka akhirnya Mahisa Pukat itu pun mulai terbangun, sementara Mahisa Murti masih tetap membantunya mempertahankan kesadaran Mahisa Pukat yang baru saja terbangun dari tidurnya itu.
“Apa yang terjadi? bertanya Mahisa Pukat kemudian.
Perlahan-lahan Mahisa Murti melepaskan tangan Mahisa Pukat sambil berkata, “Pertahankan dirimu dari pengaruh ini. Jangan membiarkan dirimu tertidur lagi”
Mahisa Pukat mulai menyadari keadaannya. Karena itu, maka iapun telah mengerahkan daya tahannya pula.
“Pengaruh apakah ini?” bertanya Mahisa Pukat.
“Mungkin kita telah dicengkam oleh kekuatan sirep” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia telah berhasil menguasai dirinya dan mengatasi pengaruh sirep itu.
“Kita telah benar-benar menjumpai peristiwa yang dikatakan oleh Ki Waruju” berkata Mahisa Pukat.
“Ya. Tentu ada yang tidak wajar, sehingga seseorang telah melepaskan pengaruh sirep itu” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Marilah, kita melihat keadaan. Orang terpenting disini adalah Pangeran Lembu Sabdata.
Mungkin orang yang melepaskan sirep ini mempunyai hubungan dengan Pangeran Lembu Sabdata. Mungkin ada pihak yang ingin melepaskannya”“
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Marilah. Kita tidak boleh terlambat”
Keduanya pun kemudian dengan hati-hati telah turun ke halaman samping. Keduanya berusaha untuk tidak menampakkan diri, sehingga apabila mungkin dapat menjebak orang yang telah melepaskan sirep yang sangat tajam itu.
Pertama-tama keduanya berusaha untuk melihat, apakah para prajurit Singasari juga telah terkena pengaruh sirep itu, terutama Senopati yang bertugas malam itu.
Nampaknya mereka sama sekali tidak bersiap menghadapi pengaruh itu, sehingga agaknya mereka pun telah tertidur lelap.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun mereka sama sekali belum mendengar atau melihat sesuatu yang menarik perhatian dan kecurigaan.
Tetapi keduanya telah menjadi yakin, bahwa banjar kabuyutan itu tengah dikuasai oleh sirep yang tajam. Tanpa mempertahankan diri, Senopati yang memimpin tugas pengawalan itu pun telah tertidur pula.
“Untunglah bahwa kita telah mendapat pesan dari Ki Waruju” berkata Mahisa Murti sambil berbisik perlahan-lahan, “sehingga kita sempat mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan ini”
“Kau sempat mengenali suasana” sahut Mahisa Pukat, “tetapi aku justru tertidur dengan nyenyak”
“Pada saat kau tidur, belum terasa cengkaman ilmu ini” desis Mahisa Murti.
Mahisa Murti pun telah memberikan isyarat, agar keduanya berpura-pura tidur seperti orang-orang yang lain.
Demikialah, maka Mahisa Murti pun telah berada di depan pintu bilik, Dibawah selarak yang besar. Disampingnya telah tertidur pula seorang prajurit yang bertugas mengawasi pintu itu. Sedangkan Mahisa Pukat berbaring pula beberapa langkah dari seorang prajurit yang tertidur sambil menyandarkan tombaknya pada dinding.
Sedangkan Senopati yang memimpin penjagaan malam itu. telah tertidur pula di sudut ruang depan banjar bersama dua orang prajurit yang lain.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berbaring itu harus mengerahkan segenap daya mereka untuk tidak jatuh pula ke bawah pengaruh sirep. Apalagi keduanya memang sudah berbaring sambil memejamkan mata. Rasa-rasanya mereka memang telah menyerahkan diri pada cengkaman ilmu yang tajam itu.
Tetapi dengan penuh kesadaran, ternyata keduanya mampu bertahan untuk beberapa lamanya sambil menunggu perkembangan keadaan.
Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih menunggu. Agaknya orang yang melepaskan sirep itu masih ingin meyakinkan, apakah masih ada orang yang terbangun diantara mereka yang berada di banjar itu.
Demikianlah, maka dua orang telah berjalan dengan langkah yang lamban dan sangat berhati hati memasuki halaman banjar. Dengan penuh kewaspadaan keduanya memperhatikan keadaan di banjar itu.
“Tidak ada lagi yang terbangun” berkata seorang diantara mereka.
“Kita akan dapat bekerja dengan leluasa” sahut yang lain.
“Ya. Kita harus menyelamatkan Pangeran Lembu Sabdata dari tangan Pangeran Singa Narpada yang garang itu. Mungkin pada hari berikutnya, Pangeran Singa Narpada tidak akan menunjukkan sikap pada hari-hari pertama” berkata kawannya.
Namun orang yang lain bergumam, “Tetapi selagi Pangeran Lembu Sabdata masih diperiksa di Kabuyutan ini, maka keadaannya masih akan dapat diharapkan. Tetapi jika Pangeran Singa Narpada memintanya untuk dibawa ke Kediri dan diperiksa di dalam ruang khusus Pangeran Singa Narpada, maka keadaan Pangeran Lembu Sabdata akan menjadi sangat parah”
“Kita harus menyelamatkannya sebelum keputusan itu jatuh” jawab yang lain, “agaknya disini Pangeran Singa Narpada masih mempunyai perasaan segan dihadapan orang-orang Talang Amba, tetapi jika Pangeran Lembu Sabdata telah dibawa ke Kediri, maka keadaannya akan segera berubah”
Yang lain tidak menjawab. Tetapi keduanya pun mendekati banjar dengan sangat berhati-hati.
“Agaknya tidak seorang pun yang masih terbangun” berkata salah seorang dari mereka.
Kawannya mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya. Semuanya sudah tertidur nyenyak. Kau memang luar biasa. Ilmu sirepmu pun telah mencengkam seisi banjar. Bahkan agaknya orang yang tinggal di sebelah menyebelah banjar ini pun telah terkena ilmu sirepmu pula”
Yang lain tidak menjawab. Dengan hati-hati keduanya telah naik ke tangga pendapa banjar Kabuyutan itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendengar kehadiran mereka. Tetapi keduanya masih tetap terbaring sambil memejamkan mata mereka. Namun dengan demikian mereka masih harus berjuang untuk melawan kekuatan sirep yang seakan-akan telah membius seisi banjar.
Kehadiran kedua orang itu ternyata justru telah membantu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk tetap menyadari keadaan. Ketika keduanya mulai memusatkan perhatian mereka kepada kedua orang itu, maka rasa-rasanya kantuk yang menyentuh-nyentuh perasaan mereka pun telah terusir sama sekali.
Yang mencengkam jantung mereka adalah justru ketegangan. Apalagi ketika dua orang itu pun telah memasuki ruang dalam dan berdiri di ambang pintu.
“Semuanya sudah tertidur” desis yang seorang
“Luar biasa” sahut yang lain, “nah, marilah kita segera menyingkirkan Pangeran. Kesempatan kita tidak terlalu banyak. Di tangan Pangeran Singa Narpada, apalagi jika Pangeran Lembu Sabdata sempat dibawa ke Kediri, maka tidak akan ada yang dapat dirahasiakan lagi. Semuanya tentu akan dapat diperas oleh Pangeran Singa Narpada yang garang itu, sampai kepada orang yang paling tersembunyi sekalipun”
“Marilah” jawab kawannya, “Jika hal ini diketahui oleh orang-orang yang berada di rumah pemangku Buyut di Kabuyutan ini, mungkin usaha kita akan gagal”
Sejenak kemudian, maka suasana pun menjadi hening. Baru kemudian terdengar langkah kedua orang itu mendekati pintu.
Mahisa Murti yang berbaring di depan pintu bilik yang diselarak dari luar itu menjadi kian tegang. Sejenak ia justru memperhatikan keadaan di dalam bilik. Ia tidak mendengar suara apapun juga. Menurut dugaan Mahisa Murti, maka Pangeran Lembu Sabdata pun tentu tertidur nyenyak pula.
Beberapa saat lamanya Mahisa Murti menimbang-nimbang. Apakah ia menunggu sampai orang-orang itu membuka pintu, sehingga dengan demikian, maka terbukti bahwa keduanya benar-benar akan berbuat sesuatu atas tawanan yang sangat penting itu. Atau mereka akan menunggu saja sampai keduanya mendekat dan dengan demikian, Mahisa Murti akan dapat langsung menyerang keduanya.
“Mungkin keduanya memiliki ilmu yang melampaui kemampuan kami berdua” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya, “Jika demikian, maka salah seorang dari kami harus sempat membunyikan isyarat di serambi. Mudah-mudahan kekuatan sirep ini tidak sampai menjalar ke seluruh padukuhan”.
Namun demikian Mahisa Murti pun yakin, jika sirep ini merambah sampai ke rumah Ki Sanggarana, maka banyak orang yang akan dapat melepaskan diri dari kekuatannya. Bahkan akan menjadi sangat menarik perhatian sehingga mungkin ada diantara mereka yang datang ke banjar.
Tetapi Mahisa Murti tidak dapat minta pertimbangan kepada siapapun juga. Karena itu, maka ia sendiri harus memutuskannya.
“Aku akan membiarkan keduanya masuk. Kemudian aku akan menyelaraknya dari luar. Jika mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi, maka mereka akan segera memecahkan pintu. Dari cara mereka memecahkan pintu, aku akan melihat dan menjajagi, sampai seberapa tinggi tingkat ilmu kedua orang itu” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya.
Karena itu, maka iapun kemudian tidak bergerak sama sekali ketika keduanya mendekat. Ia masih tetap berbaring di tempatnya dan berusaha untuk tetap dalam keadaan sebagaimana orang-orang lain sedang tertidur nyenyak.
Ternyata kedua orang yang mendekati pintu itu tidak banyak memperhatikan Mahisa Murti yang terbaring. Keduanya menganggap bahwa tidak seorang pun yang dapat lolos dari pengaruh sirepnya. Bahkan Senopati yang memimpin pengawalan, yang dapat ditilik dari pakaian dan sikapnya diantara para pengawal yang lain, telah tertidur nyenyak pula.
“Pangeran Lembu Sabdata berada di bilik ini” berkata salah seorang dari kedua orang itu.
“Kau yakin?” bertanya orang itu.
“Aku sudah mendapat keterangan itu. Biliknya diselarak kuat, di seberang pintu pringgitan agak kekanan” jawab yang lain.
Kawannya mengangguk-angguk, katanya, “Jika demikian, kita akan membuka selarak itu. Agaknya Pangeran Lembu Sabdata pun telah terpengaruh oleh sirep itu dan tertidur pula dengan nyenyaknya, sehingga kita perlu membangunkannya”
“Aku akan menyalurkan kekuatan yang akan dapat melindunginya dari pengaruh ini, sehingga Pangeran itu akan segera terbangun” berkata yang lain.
Kawannya tidak menjawab lagi. Sementara itu. keduanya melangkah mendekati pintu.
Meskipun keduanya menganggap bahwa orang-orang yang ada di banjar itu telah tertidur nyenyak, namun keduanya masih juga membuka selarak pintu itu dengan sangat hati-hati.
Mahisa Murti yang berbaring didekat pintu itu menahan gejolak perasaannya. Ia harus dapat menahan diri sehingga pintu itu terbuka dan keduanya masuk ke dalam. Ia harus meloncat dengan cepat, menutup pintu dan memasang selarak.
“Mudah-mudahan Mahisa Pukat tidak membuat sesuatu yang menarik perhatian keduanya” berkata Mahisa Murti.
Sebenarnyalah Mahisa Pukat pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak mengerti rencana Mahisa Murti. Tetapi karena ia yakin bahwa Mahisa Murti tidak justru tertidur karenanya, maka iapun menahan ketegangan di dalam hatinya dan menunggu perintah Mahisa Murti selanjutnya.
“Tentu ia sudah membuat rencana menghadapi kedua orang itu” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya.
Bahkan Mahisa Pukat yang tidak langsung berada di bagian depan bilik tempat Pangeran Sabdata ditawan, maka ia sama sekali tidak dihiraukan oleh kedua orang itu.
Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun telah meletakkan selarak pintu yang besar itu perlahan-lahan. Ketika derit pintu itu terdengar, maka Mahisa Murti benar-benar menjadi berdebar-debar.
“Nah” desis yang seorang dari kedua orang yang berusaha untuk membebaskan Pangeran Lembu Sabdata itu, “Bukankah Pangeran tertidur nyenyak?”
“Aku akan membangunkannya. Ia harus dibawa menyingkir sebagaimana pesan Pangeran Kuda Permati” Jawab yang lain.
Kawannya tidak menjawab. Dengan sangat hati-hati keduanya pun melangkah masuk.
Mahisa Murti yang berbaring di depan pintu itu pun mulai mempersiapkan diri. Meskipun ia tidak melihat dengan mata terbuka sepenuhnya, namun ia dapat melihat disela-sela pelupuk matanya yang hanya sedikit terbuka.
Dengan cermat Mahisa Murti memperhatikan letak selarak di sebelah pintu. Kemudian daun pintu yang terbuka seterusnya kedua orang yang berada di dalam bilik.
“Aku harus dapat melakukan dalam sekejap. Meloncat, meraih selarak sambil menutup pintu, kemudian memasang selarak itu dengan cepat” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya, “Tetapi jika Mahisa Pukat itu tertidur, maka aku akan mengalami kesulitan”
Namun demikian Mahisa Murti tidak mempunyai kesempatan untuk melihat apakah Mahisa Pukat tidak tertidur. Namun ia percaya bahwa Mahisa Pukat akan bertahan sebaik-baiknya menghadapi keadaan yang gawat itu.
Demikianlah, maka Mahisa Murti telah membuat perhitungan sebaik-baiknya. Tepat pada saat kedua orang itu berjongkok di samping Pangeran Lembu Sabdata, maka Mahisa Murti pun telah bangkit dan meloncat sebagaimana telah diperhitungkan. Dengan kecepatan yang tinggi, maka iapun telah meraih selarak pintu dan sekaligus menutup daun pintu yang terbuka. Derit pintu itu bersamaan dengan derak selarak yang terpasang diluar pintu, sehingga dengan demikian, maka pintu itu telah tertutup rapat.
Pada saat yang demikian, maka Mahisa Pukat yang mengetahui bahwa Mahisa Murti telah bertindak, dengan cepat telah bangkit pula. Dengan serta merta maka iapun telah meloncat mendekat.
“Apa yang harus aku lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Cobalah, bangunkan Senopati itu jika mungkin. Aku akan melihat, bagaimana kedua orang itu memecahkan pintu untuk menjajagi kemampuan mereka” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat pun tidak bertanya lebih lanjut. Iapun segera berlari ke sudut ruangan untuk membangunkan Senopati yang tertidur nyenyak, karena agaknya ia sama sekali tidak menduga, bahwa banjar itu telah dicengkam oleh kekuatan sirep.
Dengan tergesa-gesa Mahisa Pukat telah menggenggam pergelangan tangan Senopati itu untuk mengguncang kesadarannya lewat aliran darahnya.
Pada saat yang demikian, kedua orang yang berada di dalam bilik Pangeran Lembu Sabdata terkejut bukan buatan. Dengan serta merta keduanya telah terloncat bangkit.
Tetapi pintu telah tertutup. Selarak telah dipasang, sehingga kedua orang itu tidak dapat keluar begitu saja tanpa memecah pintu atau dinding.
“Orang-orang Talang Amba dan para prajurit Singasari memang gila” geram salah seorang dari mereka.
Sejenak keduanya menjadi tegang. Namun mereka pun sadar, bahwa mereka harus berbuat sesuatu untuk mengatasi keadaan yang tidak mereka duga sebelumnya akan terjadi.
Dengan tegang keduanya memandang pintu yang telah tertutup. Merekapun sadar, bahwa pintu itu tentu sudah diselarak. Tetapi yang mendebarkan bagi mereka adalah, bahwa tentu ada orang-orang Talang Amba atau prajurit Singasari di banjar itu yang mampu melepaskan diri dari pengaruh sirep mereka.
Sebenarnyalah pintu itu sendiri tidak merupakan masalah yang terlalu sulit bagi mereka. Dengan kemampuan ilmu mereka, maka keduanya akan dapat memecahkan pintu itu. Namun dengan demikian, mereka bukan berarti akan dapat dengan leluasa meninggalkan tempat itu, karena di-belakang pintu itu terdapat orang yang tentu memiliki ilmu yang mapan.
“Tidak hanya seorang” desis salah seorang diantara keduanya.
“Ya. Aku mendengar mereka berbicara” jawab yang lain.
Namun dalam pada itu, seorang diantaranya telah mengambil satu sikap. Katanya, “Kita akan meninggalkan tempat ini. Tetapi biarlah kita bangunkan Pangeran. Kecuali Pangeran akan bebas dari kemungkinan yang paling buruk dan kemungkinan untuk membuka seluruh rahasia kita, maka Pangeran pun akan dapat membantu kita menerobos perlawanan orang-orang Talang Amba atau prajurit Singasari yang mampu melawan sirep. Tentu tidak banyak”
Sementara itu mereka tidak akan dapat membangunkan orang-orang yang tertidur, karena sebenarnya mereka bukan tertidur sewajarnya”
Kawannya mengangguk-angguk. Sementara yang lain melanjutkan, “Hanya orang yang pada dasarnya mempunyai daya tahan terhadap sirep inilah yang akan dapat kita bangunkan”
Demikianlah, maka kedua orang itu pun kemudian bersama-sama telah membangunkan Pangeran Lembu Sabdata dengan cara yang mirip dengan cara yang dipergunakan oleh Mahisa Pukat.
Karena itu, maka perlahan-lahan Pangeran Lembu Sabdata pun telah membuka matanya dan dengan serta merta berdesis, “Kau?”
“Ya. Kami telah mendapat tugas untuk membebaskan Pangeran. Cepat bangun. Kita akan keluar dari bilik ini” jawab salah seorang dari keduanya.
“Darimana kalian masuk?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.
Pangeran Lembu Sabdata mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan memecahkan pintu”
Kedua orang yang berusaha menolongnya sama sekali tidak ragu-ragu. Memang tidak ada cara lain. Kemudian setelah pintu itu pecah mereka masih harus bertempur.
Sejenak kemudian, mereka yang ada di dalam bilik itu pun telah bersiap. Dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka, maka mereka pun telah mengambil ancang-ancang.
Demikian Pangeran Lembu Sabdata menjatuhkan perintah, maka mereka bertiga pun telah meloncat untuk memecahkan pintu.
Dengan singkat salah seorang dari kedua orang itu pun menceriterakan apa yang telah mereka lakukan dan apa yang telah terjadi kemudian. Lalu katanya, “Kita harus segera keluar sebelum orang-orang yang ada di banjar itu datang”
Pangeran Lembu Sabdata pun segera bangkit. Salah seorang dari kedua orang itu telah menyerahkan sepucuk senjata kepada Pangeran Lembu Sabdata sambil berkata Dugaanku tidak salah. Kita harus keluar dari tempat ini dengan mempergunakan senjata. Itulah sebabnya aku telah membawa senjata ini Pangeran”
Sejenak kemudian, maka pintu itu pun telah bergerak. Selarak pintu yang kuat itu telah patah dan pintu pun telah terbuka lebar-lebar.
Namun pada saat yang demikian, tiga orang telah berdiri di luar pintu yang terbuka itu. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan senopati yang telah berhasil dibangunkan oleh Mahisa Pukat.
“Bukan main” desis Senopati itu, “hampir saja leherku dipenggal besok di halaman banjar ini jika aku kehilangan tahananku yang terpenting malam ini”
“Ternyata kemampuanmu tidak seberapa” desis Pangeran Lembu Sabdata, “Kau tidak dapat bertahan atas sirep yang dilontarkan oleh seorang kawanku. Karena itu. minggirlah Kau tidak akan dapat bertahan melawan kami”
“Dua orang anak muda ini dapat bertahan atas sirepmu yang licik itu” jawab Senopati itu, “Aku sama sekali tidak menduga, bahwa kepercayaan seorang Pangeran dari Kediri telah mempergunakan ilmu yang licik sekali. Kenapa kalian tidak datang dengan dada tengadah? Kalian telah datang sambil bersembunyi di balik ilmu sirepmu? Justru karena aku tidak menduga sama sekali itulah, maka aku telah menjadi lengah”
“Omong kosong” desis salah seorang yang telah menolong Pangeran Lembu Sabdata, “apapun yang kau katakan, tetapi ternyata kau tidak dapat bertahan. Jika aku licik seperti yang kau katakan, maka aku tentu sudah membunuhmu selagi kau tertidur nyenyak. Tetapi aku tidak berbuat demikian. Aku membiarkan kau hidup dan merasa betapa kecilnya kau dihadapan ilmuku yang mumpuni”
Senopati itu menggeram. Katanya, “Tetapi kalian tidak akan dapat keluar dari halaman banjar ini. Pangeran lembu Sabdata adalah tawananku”
Tetapi Pangeran Lembu Sabdata tertawa. Katanya, “Jangan mengigau. Sekarang aku mudah bebas. Di tanganku tergenggam pedang. Kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa atasku”
Yang menyahut adalah Mahisa Pukat, “Pangeran. Aku mengharap agar Pangeran tidak cepat melupakan kenyataan. Pangeran tidak dapat memenangkan perkelahian diantara kita. Dan sekarang kita telah bertemu kembali. Apakah Pangeran mengira, bahwa karena pengaruh sirep ini, aku menjadi semakin lemah?”
“Persetan” geram Pangeran Lembu Sabdata, “jika kau sekarang berani mencoba menghadapi aku, maka lehermu akan menjadi taruhan”
“Aku pertaruhan leherku. Jika aku kalah Pangeran dapat mengambilnya, tetapi jika aku menang?” bertanya Mahisa Pukat.
Pangeran Lembu Sabdata menggeram. Tetapi ia tidak mau kehilangan banyak waktu. Karena itu, maka iapun telah bergeser mendekati Mahisa Pukat sambil menggerakkan pedangnya.
“O” desis Mahisa Pukat, “Pangeran benar-benar ingin kembali dimasukkan ke dalam bilik itu dengan tangan terikat?”
Pangeran Lembu Sabdata tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Mahisa Pukat.
Tetapi Mahisa Pukat sudah bersiap menghadapi kemungkinan itu. Ia sudah menduga bahwa Pangeran Lembu Sabdata itu tentu akan menyerangnya. Karena itu, maka dengan cepat ia bergeser sehingga serangan Pangeran Lembu Sabdata itu tidak mengenainya.
Bahkan ketika Mahisa Pukat kemudian bersiap menghadap ke arah Pangeran Lembu Sabdata, maka ditangannya telah tergenggam sebilah pedang.
“Setan” geram Pangeran Lembu Sabdata. Serangannya pun kemudian datang membadai.
Tetapi Mahisa Pukat memang sudah bersiap menghadapinya, karena itu, ia sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan Mahisa Pukat itu pun tidak lagi bersedia menjadi sasaran serangan lawannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Pukat pun telah menyerang pula.
Sejenak kemudian, maka keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Sementara itu, Mahisa Murti dan Senapati yang memimpin tugas di banjar itu berdiri termangu-mangu menghadapi kedua prang yang telah berusaha membebaskan Pangeran Lembu Sabdata itu.
“Jangan ikut campur” berkata salah seorang dari keduanya, “Jika kalian minggir kami tidak akan membunuh kalian. Kami akan meninggalkan banjar ini bersama Pangeran Lembu Sabdata. Hanya orang yang telah bertempur melawan Pangeran itu sajalah yang akan kami bunuh”
“Apakah kami akan dapat membiarkan salah seorang diantara kami terbunuh?” bertanya Senapati itu.
“Ia telah berani melawan Pangeran” jawab orang itu.
“Kami pun berani melawan kalian. Karena itu, jangan mimpi dapat meninggalkan halaman banjar ini” geram Senapati itu.
Kedua orang itu pun segera bersiap. Senjata mereka pun segera teracu. Seorang diantara mereka berkata, “Kalian memang ingin mati”
Mahisa Murti dan Senapati yang memimpin tugas para prajurit Singasari di banjar itu tidak menjawab. Merekapun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah terjadi. Mahisa Murti dan Senapati yang bertugas itu telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Kedua orang yang menolong Pangeran Lembu Sabdata, itu agaknya ingin mengakhiri pertempuran dengan cepat.
Tetapi Mahisa Murti dan Senapati itu pun telah memberikan perlawanan yang sengit pula. Ternyata bahwa keduanya juga memiliki bekal yang cukup untuk melawan kedua orang yang berusaha membebaskan Pangeran Lembu Sabdata dengan ilmu sirep yang tajam itu.
Pangeran Lembu Sabdata sendiri yang bertempur melawan Mahisa Pukat telah mengerahkan Segenap kemampuannya. Meskipun dalam pertempuran sebelumnya ia tidak pernah dapat menang, namun pangeran Lembu Sabdata sama sekali tidak merasa cemas. Dengan ilmu pedang yang dikuasainya, Pangeran Lembu Sabdata telah melibat Mahisa Pukat dalam pertempuran yang cepat.
Tetapi Mahisa Pukat sama sekali tidak menjadi bingung menghadapi serangan-serangan Pangeran Lembu Sabdata yang cepat. Dengan tangkasnya ia melayaninya. Meloncat menghindari serangan yang datang, namun kemudian dengan garangnya telah menyerang lawannya pula.
Sebenarnyalah Pangeran Lembu Sabdata yang bertempur melawan Mahisa Pukat itu telah mempercayakan diri kepada kedua orang yang menolongnya. Ia merasa, bahwa keduanya akan dapat membebaskannya. Jika ia mampu bertahan untuk beberapa saat maka kedua orang itu tentu sudah dapat menyelesaikan tugasnya, yang selanjutnya akan dapat menolongnya melepaskan diri dari tangan Mahisa Pukat.
Tetapi ternyata harapan itu tidak segera terjadi. Kedua orang yang berusaha membebaskannya itu tidak dengan mudah dapat mengalahkan Mahisa Murti dan Senopati yang memimpin para prajurit di banjar itu. Ternyata bahwa Mahisa Murti dan Senopati itu telah bertempur dengan garangnya pula, sehingga kedua orang itu pun harus mengerahkan segenap kemampuan mereka pula.
Namun Mahisa Murti masih tetap dengan kemampuan yang ada padanya mengimbangi serangan-serangan lawannya yang garang.
Tetapi dalam pada itu. Senapati Singasari yang memimpin para prajurit yang tertidur di banjar itu, semakin lama semakin terasa betapa beratnya tekanan lawannya. Namun sebagai seorang prajurit ia telah bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Betapapun juga keadaannya, tetapi Senapati itu sama sekali tidak menjadi lemah hatinya. Ia tetap bertempur dengan sengitnya.
Dengan demikian, maka pertempuran di banjar itu pun kemudian menjadi semakin seru. Masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan mereka.
Namun demikian, hiruk -pikuk pertempuran itu sama sekali tidak dapat membangunkan para prajurit dan para pengawal yang sedang tertidur nyenyak. Bahkan kaki yang terinjak pun seakan-akan tidak lagi dapat merasakan betapa sentuhan itu membuatnya kesakitan.
Karena Itu, apapun yang terjadi, maka ketiga orang itu tidak dapat mengharapkan bantuan dari orang lain. Ketiganya harus bertempur dengan kekuatan sendiri melawan Pangeran Lembu Sabdata dan dua orang yang berusaha untuk membebaskannya.
Sementara itu, Mahisa Muni yang bertempur melawan orang yang telah melepaskannya sirep yang kuat itu, ternyata tidak segera dapat ditundukkannya. Meskipun lawannya itu mampu melepaskan kekuatan sirep, namun dalam olah kanuragan ia tidak dapat melampaui ketrampilan Mahisa Murti.
Dalam benturan-benturan kekuatan, ternyata bahwa Mahisa Murti justru memiliki sedikit kelebihan. Meskipun demikian, kadang-kadang orang yang memiliki ilmu sirep itu dapat membuatnya berdebar-debar. Orang itu memiliki kecepatan gerak yang tinggi yang kadang-kadang melampaui kecepatan gerak Mahisa Murti.
Karena itu, maka Mahisa Murti tidak mau terpancing ke dalam pertempuran yang cepat. Mahisa Murti yang kemudian meyakini bahwa ia memiliki kekuatan yang lebih besar dari lawannya, berusaha untuk tidak terlalu banyak bergerak. Kedua kakinya bagaikan terhunjam ke dalam tanah. Dalam menghadapi gerak lawannya yang cepat. Mahisa Murti hanya bergeser setapak-setapak. Tetapi Mahisa Murti masih selalu berhasil berdiri menghadap kepadanya.
Bahkan dalam pertempuran berikutnya, Mahisa Murti tidak lagi banyak berusaha untuk mengelakkan serangan-serangan lawannya. Namun ia lebih banyak membenturkan kekuatannya menghadapi serangan lawannya itu.
“Gila” geram lawannya yang mampu melontarkan kekuatan sirep yang sangat tajam, “anak ini memang cerdik. Ia tidak mau terpancing untuk mengadu kecepatan gerak. Tetapi ia lebih senang membenturkan kekuatannya”
Sebenarnya dalam benturan-benturan yang terjadi tangan lawan Mahisa Murti itu menjadi pedih. Bahkan setiap kali ia harus berloncatan mengambil jarak untuk memperbaiki genggaman senjatanya. Namun Mahisa Murti tidak berusaha memburunya. Ia sadar, bahwa lawannya memiliki kecepatan gerak yang sedikit lebih tinggi, sehingga jika ia terpancing untuk bertempur dalam loncatan-loncatan panjang, maka ia akan mengalami kesulitan.
Sementara itu, orang yang bertempur melawan Senapati Singasari itu berusaha dengan segenap kemampuannya untuk dengan cepat menyelesaikan tugasnya. Ia harus berusaha membawa Pangeran Lembu Sabdata secepatnya keluar dari halaman banjar.
Namun demikian, Senapati itu tidak dengan mudah dapat dikalahkannya, karena sebagai seorang prajurit Senapati itu telah mempertaruhkan semua kemampuan yang ada padanya untuk melawan orang yang datang untuk membebaskan Pangeran Lembu Sabdata itu.
Tetapi dalam pada itu, Mahisa Pukat pun telah berpacu dengan waktu pula. Dalam sekilas ia. melihat, bahwa Senapati Singasari itu justru telah terdesak oleh lawannya.
Dalam pertempuran yang semakin sengit, maka Pangeran Lembu Sabdata memang tidak dapat mengelakkan pengakuan atas satu kenyataan bahwa ia memang tidak dapat mengimbangi kemampuan Mahisa Pukat. Karena itu, maka yang dapat dilakukannya kemudian hanyalah sekedar bertahan. Ia hanya dapat menunggu kedua orang yang akan membebaskannya itu menyelesaikan tugas mereka dengan melumpuhkan lawan-lawan mereka. Dengan demikian, maka keduanya akan dapat menolongnya, membunuh anak muda yang keras kepala itu dan kemudian bersama-sama melarikan diri.
Tetapi Mahisa Pukat telah mendesaknya semakin berat. Mahisa Pukat tidak mau kehilangan waktu. Jika seorang lawannya mampu memenangkan pertempuran lebih dahulu, maka ia akan mengalami kesulitan. Apalagi nampaknya Mahisa Murti tidak akan segera dapat menyelesaikan pertempurannya meskipun keadaannya tidak mencemaskan sebagaimana Senopati dari Singasari itu. Bahkan dalam pertempuran selanjutnya, Mahisa Murti yang tidak saja bertempur dengan kemampuan ilmunya, tetapi juga dengan otaknya, berhasil memancing lawannya untuk menyerangnya lebih sering, sehingga dengan demikian ia mendapat kesempatan lebih banyak untuk membenturkan kekuatannya. Mahisa Murti sadar, bahwa benturan kekuatan berarti satu hentakkan yang dapat membuat tangan lawannya menjadi sakit.
Bahkan ketika kemudian lawannya berusaha untuk menghindari benturan-benturan senjata, maka Mahisa Murti hampir tidak berbuat apa-apa kecuali hanya bergeser saja menghadap ke arah lawannya, kemanapun ia meloncat.
“Anak setan” geram lawannya.
Tetapi Mahisa Murti tetap pada sikapnya.
Namun Mahisa Murti tidak membiarkan pertempuran itu menjadi semakin berlarut-larut. Dalam keadaan yang sudah diperhitungkan, Mahisa Murti lah yang meloncat menyerang dengan ayunan senjata yang melontarkan kekuatannya yang dahsyat.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar