*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 021-04*
Dalam pada itu, maka Ki Ajar itu-pun dengan sabar menunggu perintah dari Pangeran Singa Narpada. Namun dalam pada itu, ia sudah tahu lebih banyak tentang keadaan Pangeran Lembu Sabdata. Bahkan lewat Ki Sadmaya yang mendengar dari Senapati pengawal Pangeran Singa Narpada, Ki Ajar sudah dapat membayangkan, dimana Pangeran Lembu Sabdata itu disimpan. Namun akan lebih baik baginya, jika benar Pangeran Singa Narpada memerintahkan kepadanya atas ijin Sri Baginda untuk mengobati sakit Pangeran Lembu Sabdata itu.
Namun dengan demikian, maka Ki Ajar itu-pun telah berkata kepada Pututnya dalam kesempatan tersendiri, “jalan kita sudah menjadi semakin lapang. Mudah-mudahan kita akan berhasil, sehingga dengan demikian kita akan dapat berbuat sesuatu bagi masa depan. Mungkin Pangeran Lembu Sabdata tidak akan dapat berbuat sesuatu dalam waktu dekat. Tetapi satu permulaan memang diperlukan untuk mencapai kelanjutannya dimasa datang.”
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada telah menyampaikan persoalan itu kepada Sri Baginda. Sebagaimana diinginkan oleh beberapa orang, bahwa sebaiknya Pangeran Lembu Sabdata disembuhkan dari sakitnya yang akan dapat menghancurkan wadag dan jiwanya itu selama ia berada dalam tahanan.
“Tetapi apakah hal itu akan menguntungkannya?” bertanya Sri Baginda. Lalu, “Sesudah adimas Lembu Sabdata sembuh, apakah ia akan mendapat kebebasannya?”
Pangeran Singa Narpada menjadi bingung mendapatkan pertanyaan justru dari Sri Baginda. Karena itu, maka jawabnya, “Segala sesuatu terserah kepada Sri Baginda.”
“Tetapi kau mempunyai hak untuk memberikan pertimbangan,” sahut Sri Baginda, “Kau dapat memberikan beberapa alasan sikap yang mana-pun yang akan kau ambil.”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Bagi hamba Sri Baginda, seandainya Pangeran Lembu Sabdata benar dapat disembuhkan, maka untuk sementara Sri Baginda sebaiknya melihat perkembangan jiwanya. Perubahan penalarannya terhadap keadaan yang dihadapinya. Baru kemudian Sri Baginda dapat menentukan sikap atas Pangeran Lembu Sabdata.”
Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Ternyata di dalam hati Sri Baginda telah bergejolak keragu-raguan. Bahkan kemudian katanya, “Jika adimas Lembu Sabdata harus mengalami perlakuan seperti sekarang, apakah artinya kesembuhannya?”
“Dengan demikian Pangeran Lembu Sabdata akan dapat mengatur diri dengan nalarnya. Mungkin pada suatu saat memang diketemukan satu sikap yang memungkinkannya untuk keluar dari biliknya. Tetapi jika ia masih dalam keadaan seperti sekarang, maka wadag dan jiwanya tentu akan bertambah parah,” jawab Pangeran Singa Narpada.
Sri Baginda mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka terserah kepadamu.”
Pangeran Singa Narpada justru menjadi gelisah. Seakan-akan semua tanggung jawab telah dibebankan kepadanya apa-pun yang terjadi. Sri Baginda seakan-akan tidak ada minat lagi untuk mengambil satu sikap bagi mereka yang terlibat dalam pemberontakan Pangeran Kuda Permati.
“Baginda telah dicengkam oleh kebimbangan lagi,” berkata Pangeran Singa Narpada di dalam hatinya.
Bahkan ketika Sri Baginda memandanginya dengan sorot mata yang redup, maka seolah-olah Sri Baginda itu berkata kepadanya, “Kaulah yang telah menjerumuskannya ke dalam keadaan seperti itu.”
Jantung Pangeran Singa Narpada bergejolak. Bukan keinginannya untuk menyulitkan keadaan Pangeran Lembu Sabdata pada saat itu. Ia tengah melakukan satu tugas bagi kepentingan Kediri. Bahkan ia-pun telah mengalami satu perlakuan yang pahit justru pada saat ia melakukan tugasnya.
Namun akhirnya Sri Baginda itu-pun berkata, “Lakukanlah yang paling baik menurut pertimbanganmu.”
“Hamba akan melakukannya atas perintah Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada.
Sri Baginda memandang Pangeran Singa Narpada sejenak. Sebenarnyalah Sri Baginda mengetahui dengan pasti, kesetiaan Pangeran Singa Narpada, meskipun kadang-kadang Pangeran itu telah melakukan tindakan yang bagi Sri Baginda terlampau keras, apalagi terhadap keluarga sendiri. Tetapi Sri Baginda menyadari, bahwa yang dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada itu semata-mata bagi kepentingan Kediri menurut keyakinan Pangeran Singa Narpada yang bertentangan dengan keyakinan Pangeran Kuda Permati.
Baru sejenak kemudian Sri Baginda itu mengangguk sambil berkata, “Baiklah, lakukanlah atas perintahku. Usahakan kesembuhan Pangeran Lembu Sabdata. Kemudian segala sesuatunya akan ditinjau kembali.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk hormat. Katanya, “Hamba akan melakukannya Baginda.”
Dengap demikian, maka Pangeran Singa Narpada merasa mendapat beban jiwani. Meskipun Sri Baginda telah menjatuhkan perintah, namun perintah itu seakan-akan tidak lepas atas dorongan keyakinannya.
“Aku akan bertanggung jawab,” geram Pangeran Singa Narpada sebagaimana sering dilakukannya. Justru sikap Sri Baginda telah mendorongnya untuk berbuat sesuatu.
Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada itu-pun telah menghubungi Ki Sadmaya untuk memberi kesempatan kepada pertapa yang berada di rumahnya mengobati Pangeran Lembu Sabdata yang sedang sakit didalam bilik tahanannya.
Perintah itu telah diterima oleh Ki Ajar dengan tarikan nafas panjang. Kepada Pututnya ia berkata tanpa didengar oleh orang lain, “Akhirnya kesempatan itu aku dapatkan juga.”
Pututnya itu-pun mengangguk kecil. Namun terbayang di angan-angannya satu tugas yang sangat berat terbentang di hadapannya.
Demikianlah, bersama dengan Ki Sadmaya, Ki Ajar dan muridnya telah menghadap Pangeran Singa Narpada. Dengan sikap seorang pertapa, maka Ki Ajar dapat meyakinkan Pangeran Singa Narpada, bahwa ia tidak mempunyai pamrih apa-pun juga, selain sekedar menolong berdasarkan kemanusiaan.
Kepada Ki Ajar Pangeran Singa Narpada itu-pun berkata, “Kau dapat melihat Pangeran Limbu Sabdata itu didalam biliknya.”
“Terima kasih Pangeran,” jawab Ki Ajar, “Aku hanya sekedar akan mencoba. Mudah-mudahan berhasil. Aku sendiri memang tidak yakin bahwa aku akan dapat mengobatinya, karena yang biasa aku lakukan adalah pertolongan bagi orang-orang yang bodoh dan berjiwa kerdil. Terhadap mereka aku dengan mudah dapat mengatasi getaran jiwa mereka dan mempengaruhinya. Tetapi aku tidak tahu, apakah aku dapat berbuat demikian atas Pangeran Lembu Sabdata yang keras hati dan sudah barang tentu berkepribadian kuat pula.”
“Cobalah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Tidak ada orang yang akan menyalahkanmu jika kau gagal mengobatinya.”
Ki Ajar itu mengangguk-angguk. Namun yang terasa mempunyai kepribadian yang sangat kuat mula-mula bukannya Pangeran Lembu Sabdata, tetapi adalah Pangeran Singa Narpada.
“Pangeran ini memang luar biasa,” berkata Ki Ajar didalam hatinya, “jika ia mendapat kesempatan berhadapan dengan Pangeran Kuda Permati secara pribadi, agaknya Pangeran Kuda Permati akan mendapat lawan yang tangguh. Bahkan agaknya Pangeran Singa Narpada memang lebih besar dari Pangeran Kuda Permati meskipun dalam lapis-lapis yang sangat tipis, sehingga dalam kesempatan demikian, masih ada harapan bagi Pangeran Kuda Permat, meskipun dalam perbandingan yang lebih kecil.”
Dengan hati-hati hal itu disampaikannya kepada muridnya yang dengan setia mengikuti segala petunjuk dan perintahnya. Ki Ajar bermaksud menunjukkan kepada muridnya sikap seseorang yang berpijak pada satu kepribadian yang kuat lepas dari ungkapan-ungkapan yang nampak dalam tingkah lakunya.
Sementara itu, diantar oleh Senapati kawan Ki Sadmaya yang menghubungkan keinginan Ki Ajar itu dengan Pangeran Singa Narpada mereka pergi ke bilik tempat Pangeran Lembu Sabdata ditahan.
Demikian mereka sampai ke bilik tahanan Pangeran Lembu Sabdata, maka kesan yang pertama-tama diterima oleh Ki Ajar adalah kegoncangan jiwani yang tidak terkendali. Ruangan tempat Pangeran Lembu Sabdata itu ditahan terasa pengab dan berserakkan. Kotor dan bertebaran dengan benda-benda yang tidak berarti.
“Apakah ruang ini selalu dalam keadaan yang demikian?” bertanya Ki Ajar kepada Senapati itu.
Senapati itu mengangguk. Katanya, “Sudah diusahakan untuk membersihkan ruangan itu. Menggantikan benda-benda yang tidak dapat dipakai lagi, termasuk pembaringan dan geledeg kecil itu. Tetapi dalam waktu satu hari, semuanya sudah rusak lagi. Makan dan minum yang disediakan, memang sering dimakan dengan lahap sebagaimana seharusnya, tetapi kadang-kadang makanan dan minuman itu hanya disebar di seluruh ruangan.”
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengira bahwa keadaan Pangeran Lembu Sabdata ternyata sudah sangat parah.
Namun demikian, sebagai seseorang yang telah mesu diri didalam sebuah padepokan untuk waktu yang lama, yang mempelajari berbagai ilmu dari yang kasar sampai yang paling lembut, maka Ki Ajar memang bertekad untuk berusaha mengobatinya.
Pada pertemuan yang pertama dengan Pangeran Lembu Sabdata, sama sekali belum tersentuh hubungan lahir mau-pun batin antara Pangeran yang sedang sakit itu dengan Ki Ajar yang ingin mengobatinya.
Namun Ki Ajar memang tidak tergesa-gesa. Untuk beberapa hari ia memang hanya akan melihat keadaan dan tingkah laku Pangeran Lembu Sabdata sampai pada saatnya ia akan menentukan apa yang harus dilakukannya.
“Terserah kepadamu Ki Ajar,” berkata Pangeran Singa Narpada pada suatu saat, “Kau mendapat ijin untuk berada di daerah dan didalam ruang tahanan Pangeran Lembu Sabdata bagi usahamu untuk mengobatinya.”
“Terima kasih Pangeran,” sahut Ki Ajar, “Keadaannya sudah agak parah. Tetapi aku akan berusaha dengan cara apa-pun yang aku kenal.”
Ternyata kesempatan yang terbuka itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Ki Ajar. Ia tidak saja mempelajari keadaan Pangeran Lembu Sabdata, tetapi Ki Ajar dan muridnya juga mempelajari keadaan ruang dan lingkungan tahanan Pangeran Lembu Sabdata itu. Sehingga dengan demikian, maka Ki Ajar itu akan dapat menyusun rencananya dengan sebaik-baiknya.
Jika pada saatnya ia harus mengambil Pangeran itu, maka ia tidak akan terlalu banyak mengalami kesulitan.
Diperintahkannya kepada muridnya untuk mengenali dengan sebaik-baiknya setiap lekuk dari lingkungan ruang tahanan Pangeran Lembu Sabdata itu.
Murid Ki Ajar itu-pun telah melakukan sebaik-baiknya sebagaimana diperintahkan oleh gurunya. Ia telah mengenali semua tempat. Semua liku-liku lingkungan itu tanpa menarik perhatian siapa-pun juga.
Pada hari-hari berikutnya, Ki Ajar mulai mencoba menyentuh perasaan Pangeran Lembu Sabdata yang seakan-akan telah tertutup. Ia mulai berdiri di luar bilik Pangeran Lembu Sabdata, pada batang-batang kayu yang dipasang lebih jarang untuk memungkinkan cahaya dan angin masuk kedalam ruangan.
Sekali-sekali Pangeran Lembu Sabdata telah melihatnya. Namun seperti biasanya, ia tidak mengacuhkan apa-pun di sekitarnya. Bukan saja benda-benda, tetapi juga orang-orang yang mencoba menghubunginya. Bahkan benda-benda yang ada didalam biliknya telah dirusaknya.
Tetapi Ki Ajar melakukannya dengan sabar. Sehari, dua hari. Sedangkan di hari-hari berikutnya, maka ia-pun mulai minta agar pintu bilik itu dibuka.
“Aku akan mulai memperkenalkan diriku,” berkata Ki Ajar kepada petugas yang menjaga Pangeran Lembu Sabdata.
Petugas itu-pun mengerti, bahwa yang dilakukan Ki Ajar itu adalah atas ijin Pangeran Singa Narpada. Tetapi penjaga itu meragukan, apakah usaha orang tua itu akan berhasil.
Pada hari pertama Ki Ajar memasuki bilik itu, maka ia berusaha untuk menarik perhatian Pangeran Lembu Sabdata. Dengan berjalan mengelilingi bilik itu, maka Ki Ajar berusaha untuk menjajagi sentuhan yang masih dapat mengenai perasaan Pangeran Lembu Sabdata yang seakan-akan telah tertutup rapat.
Ternyata Pangeran Lembu Sabdata masih tetap dalam sikapnya. Ia seakan-akan tidak menghiraukan apa-pun juga meskipun seseorang berada didalam biliknya.
Namun Ki Ajar adalah orang yang memiliki ilmu dan kemampuan yang tinggi, bukan saja dalam olah kanuraga.
Tetapi juga dalam olah kajiwan dan pengetahuan tentang pengobatan.
Namun sakit yang diderita oleh Pangeran Lembu Sabdata bukan sakit kewadagan. Tetapi goncangan jiwani yang luar biasa telah membuatnya kehilangan kesadarannya. Karena itu, maka pengobatan yang dilakukan oleh Ki Ajar-pun harus melalui hubungan jiwani di samping obat-obat yang dapat memperkuat daya tahan tubuh Pangeran Lembu Sabdata.
Demikianlah, sejak saat itu, Ki Ajar benar-benar telah melakukan pengobatan terhadap Pangeran itu. Ia mulai berhasil menyentuh perasaannya dan mendapat perhatiannya. Kemudian dengan kekuatan jiwanya Ki Ajar mulai mempengaruhi pribadi Pangeran Lembu Sabdata meskipun keduanya belum berhasil berbicara yang satu dengan yang lain.
Getaran-getaran kekuatan jiwa Ki Ajar seakan-akan telah terpancar dari dalam dirinya dan mempengaruhi getar jiwa Pangeran Lembu Sabdata yang terganggu itu.
Dengan demikian, maka perlahan-lahan Ki Ajar sedikit demi sedikit mempengaruhi jiwa Pengeran Lembu Sabdata, yang lambat laun, keduanya mulai dapat saling berhubungan meskipun masih dalam tataran yang kacau. Pangeran Lembu Sabdata mulai tertarik melihat kehadiran Ki Ajar meskipun keduanya belum dapat berhubungan dengan pembicaraan apa-pun juga.
Dengan telaten Ki Ajar menghadapi Pangeran yang sakit itu dibantu oleh muridnya. Meskipun masih belum dalam tataran yang tinggi, namun Putut itu mampu juga membantu Ki Ajar berhubungan dengan getar pribadinya untuk mempengaruhi pribadi Pangeran Lembu Sabdata yang seolah-olah hilang dari dirinya.
Sekali-sekali Pangeran Singa Narpada memerlukan melihat perkembangan keadaan Pangeran Lembu Sabdata. Namun pada beberapa pekan kemudian, ia masih belum melihat kemajuan keadaan Pangeran Lembu Sabdata itu.
“Tetapi aku sudah berhasil berhubungan,” berkata Ki Ajar.
Pangeran Singa Narpada hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi menurut penglihatannya, Pangeran Lembu Sab-data masih belum berubah sama sekali.
“Kita harus telaten,” berkata Ki Ajar.
Namun Pangeran Singa Narpada tidak dapat memaksakan keinginannya untuk mempercepat pengobatan yang dilakukan oleh pertapa tua itu. Apalagi pertapa itu sudah mengatakan, bahwa ia hanya sekedar mencoba. Jika ia gagal, maka tidak ada orang yang akan menyalahkannya.
Tetapi Ki Ajar sendiri ternyata kemudian mempunyai keyakinan bahwa ia tidak akan gagal. Perlahan-lahan tetapi pasti, ia mulai dapat meraba secara jiwani keadaan Pangeran Lembu Sabdata. Goncangan-goncangan yang telah membuatnya kehilangan kesadaran telah ditelusurinya dan kemudian pada saatnya, Pangeran Lembu Sabdata itu terkejut melihat seseorang berada didalam biliknya. Ia mulai dapat memusatkan perhatiannya dari untuk pertama kalinya Pangeran itu bertanya kepada Ki Ajar, “Siapa kau?”
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Pangeran Lembu Sabdata memang belum dapat dikuasai sepenuhnya. Tetapi pertanyaan itu merupakan kepastian hubungan antara Ki Ajar dengan Pangeran Lembu Sabdata itu.
Sejak itu, maka hubungan diantara keduanya-pun berjalan semakin rancak. Meskipun kadang-kadang masih terjadi benturan-benturan kecil. Namun beberapa hari kemudian, maka keduanya mulai dapat bercakap-cakap dalam pengertian yang masih simpang siur.
Tetapi Ki Ajar adalah orang yang benar-benar berilmu tinggi. Dengan kekuatan pancaran pribadinya, maka perlahan-lahan ia berhasil menguasai Pangeran Lembu Sabdata. Apalagi ketika kemudian Pangeran Lembu Sabdata sekali-sekali bersedia minum obat yang sudah dipersiapkan.
Kepada muridnya Ki Ajar berkata, “Aku yakin bahwa aku akan dapat mengobatinya dan menguasainya. Jika ia mulai menyadari apa yang terjadi, maka aku akan dapat membisikkan di telinganya apa yang seharusnya dilakukannya. Tetapi sudah tentu aku belum akan dapat berbicara tentang niatku dalam keseluruhan.”
Putut itu-pun mengangguk-angguk. Ia yakin bahwa gurunya akan dapat menyelesaikan semua rencananya dengan baik.
Demikianlah dari hari ke hari, Ki Ajar berupaya dengan segenap kemampuannya untuk mengobati Pangeran Lembu Sabdata. Dan dari hari ke hari pula terdapat kemajuan betapa lambatnya atas kesehatan Pangeran Lembu Sabdata.
Ketika pada suatu saat Pangeran Singa Narpada datang untuk menengok keadaan Pangeran Lembu Sabdata, maka ia sudah mulai melihat perubahan. Bilik Pangeran itu tidak lagi nampak kotor sekali. Dan Pangeran Lembu Sabdata sudah mulai mengenali pakaiannya kembali.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kepada Ki Ajar yang kebetulan juga berada di tempat itu pula, Pangeran Singa Narpada berkata, “Terima kasih atas jerih payah Ki Ajar. Nampaknya usaha Ki Ajar itu mulai nampak hasilnya. Meskipun jika Pangeran Lembu Sabdata itu sembuh, justru akan membuat aku lebih pening lagi menghadapinya, tetapi dengan demikian aku tidak lagi berhadapan dengan orang yang sakit ingatan.”
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia harus memperhitungkan sikap Pangeran Singa Narpada. Agaknya Pangeran Singa Narpada adalah seorang Senapati yang mempunyai penggraita yang sangat tajam, sehingga seakan-akan ia mampu membuat perhitungan-perhitungan yang tepat bagi keadaan yang bakal terjadi.
Namun Pangeran Singa Narpada tetap berpendirian, bahwa sebaiknya Pangeran Lembu Sabdata dapat disembuhkan. Karena dengan demikian, keadaan Pangeran Lembu Sabdata tidak lagi menggelitik perasaannya.
Beberapa hari kemudian, maka Pangeran Lembu Sabdata mulai dapat diajak berbicara. Ia mulai mengerti urutan kata-kata dan kalimat-kalimat dengan wajar. Namun dengan demikian, maka seperti di ramalkan oleh Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Lembu Sabdata mulai dipengaruhi oleh endapan-endapaan perasaannya dengan meninggalnya Pangeran Kuda Permati.
Sejalan dengan tumbuhnya kesadarannya yang maju perlahan-lahan, maka endapan-endapan itu-pun mulai bermunculan pula kepermukaan.
Ki Ajar memang sudah siap menghadapi keadaan yang demikian. Karena itu, maka ia-pun mulai berusaha untuk mengatasinya. Dengan pengaruh getaran pribadinya yang kuat, serta kemampuan penguasaannya atas Pangeran Lembu Sabdata secara jiwani, maka Ki Ajar dapat dengan cermat membatasi akibat-akibat yang tidak dikehendaki justru karena perkembangan penyembuhannya.
Namun perkembangan keadaan Pangeran Lembu Sabdata telah menimbulkan tanggapan baik dari berbagai pihak. Bahkan ketika Sri Baginda mendengar keadaan Pangeran Lembu Sabdata, maka Sri Baginda-pun telah berkenan untuk menengoknya.
Ternyata Pangeran Lembu Sabdata sudah dapat mengenali Sri Baginda dan menyambutnya kedatangannya sebagaimana seharusnya.
“Sokurlah,” berkata Sri Baginda, “Kau menjadi berangsur baik.”
Pengeran Lembu Sabdata yang sudah menyadari tentang keadaannya, dan bahwa ia sudah terganggu jiwanya untuk beberapa saat lamanya, hanya menundukkan kepalanya saja.
“Mudah-mudahan keadaan menjadi lekas pulih kembali,” berkata Sri Baginda.
“Hamba monon restu Sri Baginda,” jawab Pangeran Lembu Sabdata.
Dengan angan-angan yang berkembang didalam dirinya Sri Baginda kemudian meninggalkan kurungan Pangeran Lembu Sabdata. Namun seperti yang pernah dikatakannya, ia justru mulai memikirkan, bahwa Pangeran Lembu Sabdata akan menjadi sadar bahwa ia telah mengalami perlakuan yang sangat menekan, karena ia telah dikurung untuk waktu yang tidak ditentukan, sehingga seakan-akan Pangeran yang masih terhitung muda itu telah kehilangan masa depannya sama sekali.
Tetapi melihat ujud lahiriahnya, keadaannya menjadi jauh lebih baik. Pakaiannya menjadi semakin teratur, dan biliknya menjadi semakin bersih. Sementara itu, Pangeran Lembu Sabdata mulai makan dengan wajar dan teratur, karena setiap saat Ki Ajar membisikkan di telinganya, “Keadaan jasmani Pangeran harus baik sebelum Pangeran mempunyai rencana-rencana lain yang lebih baik daripada tinggal di bilik yang sempit ini.”
“Apa yang dapat aku lakukan?” bertanya Pangeran Lembu Sabdata.
“Mungkin Pangeran memang harus berada didalam bilik ini untuk waktu yang lama. Tetapi keadaan wadag Pangeran harus tetap baik,” jawab Ki Ajar.
Pangeran Lembu Sabdata menarik nafas dalam-dalam. Tetapi untuk berada dalam kurungan itu tanpa batas waktu, rasa-rasanya memang sangat menjemukan.
Pada saat ia sakit ingatan, maka ia sama sekali tidak merasakan kejemuan sama sekali. Ia berada di tempatnya tanpa kesadaran sama sekali. Namun dalam keadaan yang demikian, maka ia akan dapat benbuat sesuatu dibawah batas peradaban.
Karena itu, bagaimanapun juga, Pangeran Lembu Sabdata akhirnya memang memilih untuk tetap dalam kesadarannya.
Pilihan itu telah membatu mempercepat kesembuhannya. Bahkan kemudian Pangeran Lembu Sabdata itu-pun telah berusaha dengan sekuat tenaganya, sesuai dengan petunjuk Ki Ajar untuk segera sampai pada kesembuhan yang sebenarnya.
Ki Ajar memang belum pernah mengatakan niatnya dalam keseluruhan. Ia baru berusaha untuk membuat Pangeran Lembu Sabdata menemukan kembali dirinya yang seakan-akan telah hilang.
Pada tataran pertama, hanya itulah yang ingin diketemukana oleh Ki Ajar. Baru kelak, sebagaimana dikatakannya kepada muridnya. Ki Ajar akan datang lagi untuk mengambilnya.
Kesembuhan yang semakin mantap itu membuat orang-orang yang berkepentingan dengan Pangeran Lembu Sabdata di Kediri merasa berterima kasih kepada pertapa tua itu. Dengan demikian, maka pelayanan atasnya menjadi semakin mudah dilakukan. Dari para petugas yang membersihkan biliknya sampai kepada Pangeran Singa Narpada, merasa bahwa dengan kesembuhan itu, mereka akan menjadi lebih mudah berhubungan.
Namun Pangeran Singa Narpada sadar, bahwa dengan kesembuhan itu, maka Pangeran Lembu Sabdata akan menjadi beban yang semakin berat baginya, karena sikap Pangeran Lembu Sabdata yang tentu akan kembali kepada sikapnya semula.
Demikianlah, pada satu saat, Ki Ajar telah menghadap Pangeran Singa Narpada bersama Ki Sadmaya untuk melaporkan bahwa menurut penilaian Ki Ajar, Pangeran Lembu Sabdata telah menjadi sembuh. Ia sudah menyadari dirinya sepenuhnya dan telah menemukan pribadinya kembali secara utuh.
“Terima kasih Ki Ajar,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Sudah sepantasnya kami menyatakan perasaan terima kasih kami bukan sekedar dengan ucapan-ucapan. Mungkin Ki Ajar mempunyai kebutuhan yang barangkali kami akan dapat memenuhinya.”
“Ah,” sahut Ki Ajar, “Tidak ada kebutuhan apa-pun juga bagi orang seperti aku Pangeran. Aku hidup dalam serba kecukupan di padepokan. Kami di padepokan menanam segala kebutuhan makan kami. Dan kami di padepokan dapat menenun sendiri untuk kebutuhan pakaian kami. Karena itu, maka kami tidak lagi mempunyai kebutuhan apa-pun lagi. Semua kebutuhan kami telah terpenuhi.”
“Aku percaya Ki Ajar. Tetapi sebagai manusia yang hidup dalam pergaulan sesama, maka tentu mempunyai kebutuhan yang justru menjadi ciri kehidupan kita.”
“Terima kasih Pangeran,” jawab Ki Ajar, “hamba tidak memerlukan apa-apa. Namun jika Pangeran mempunyai rasa belas kasihan kepada kami, maka yang kami perlukan adalah berbagai macam benih yang akan dapat kami tanam di kebun-kebun kami.”
Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian, “Sungguh satu hal yang sangat menggetarkan hati. Baiklah Ki Ajar. Aku akan menghadap Sri Baginda dan menyampaikan permintaan Ki Ajar. Tetapi seandainya Sri Baginda berkenan memberikan berbagai macam benih, maka tentu akan diberikan bersama pedatinya sekaligus dan sapi-sapi penariknya. Ki Ajar pernah memelihara lembu?”
Ki Ajar itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Di padepokan kami memang terdapat beberapa ekor lembu yang dapat membantu kami dalam kerja kami di sawah.”
“Baiklah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Aku akan menghadap Sri Baginda. Jika Sri Baginda berkenan, maka aku akan membawamu menghadap pada suatu saat.”
“Terima kasih Pangeran. Kesempatan menghadap Sri Baginda adalah kesempatan yang sangat berarti bagiku,” berkata Ki Ajar.
Namun ternyata bahwa kesempatan itu didapatkannya. Sri Baginda memang merasa kagum, bahwa Ki Ajar itu berhasil menyembuhkan Pangeran Lembu Sabdata, sehingga pulih seperti sedia kala. Bahkan Pangeran Lembu Sabdata mampu mengingat apa yang pernah terjadi sebelum ia mengalami goncangan dengan kematian Pangeran Kuda Permati.
Dengan rendah hati Ki Ajar yang kemudian menghadap Sri Baginda bersama Ki Sadmaya dan Senapati yang menghubungkannya dengan Pangeran Singa Narpada, menyerahkan Pangeran Lembu Sabdata kepada Sri Baginda.
“Mudah-mudahan penyakitnya tidak menjadi kambuh lagi,” berkata pertapa tua itu, “Namun keinginan Pangeran Lembu Sabdata sendiri untuk tetap menyadari keadaan dirinya dan berpegang kepada kepribadiannya akan membantu menjauhkan kemungkinan untuk kambuh lagi.”
Sri Baginda mengangguk-angguk. Katanya, “Pangeran Singa Narpada telah mengatakan kepadanya, apa yang dibutuhkan oleh padepokan. Aku setuju dengan pendapatnya, bahwa kau akan membawa sebuah pedati yang penuh dengan benih-benih yang akan dapat kau tanam di padepokanmu. Selain benih-benih itu, maka pedati itu mungkin akan sangat berarti bagi padepokanmu.”
“Hamba Sri Baginda,” jawab Ki Ajar sambil menunduk dalam-dalam, “Adalah kurnia yang tiada taranya. Hamba dan para cantrik akan menerima dengan ucapan terima kasih yang tidak terhingga.”
Demikianlah, maka Sri Baginda di Kediri telah memerintahkan Pangeran Singa Narpada untuk menyediakan sebagai mana di kehendakinya. Seperti biji-bijian yang akan menjadi benih yang dapat ditanam dikebun padepokannya dan mungkin di pategalan.
Berulang kali Ki Ajar mengucapkan terima kasih. Demikian pula ketika ia sudah berada dirumah sahabatnya, Ki Sadmaya.
Ternyata aku mendapat kurnia yang besar sekali,” berkata Ki Ajar.
Ki Sadmaya tersenyum. Katanya, “Tetapi pengobatan yang kau berikan benar-benar tidak dapat dinilai dengan apa-pun juga. Jauh lebih besar dari sepedati emas sekali-pun. Karena kau telah membantu Pangeran Lembu Sabdata menemukan dirinya kembali. Aku memang tidak banyak berkepentingan selain perasaan belas kasihan semata-mata karena aku memang belum pernah berhubungan dengan Pangeran itu. Namun kesembuhannya membuat aku ikut bergembira.”
“Yang aku lakukan tidak lebih dari kewajiban semata-mata. Bukankah kita berkewajiban menolong sesama apabila kita mampu melakukannya?” bertanya Ki Ajar.
“Dan yang diberikan kepadamu itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagi Sri Baginda. Tidak lebih dari sebutir debu di antara banyaknya pasir di pesisir. Hanya sebuah pedati yang berisi biji-bijian untuk benih,” berkata Ki Sadmaya.
“Tetapi yang bagi kami, seisi padepokan, pedati dan isinya itu akan sangat berharga sekali,” jawab Ki Ajar.
“Pergunakan sebaik-baiknya. Tangkar-tumangkar. Mudah-mudahan akan memenuhi seluruh pategalanmu,” berkata Ki Sadmaya sambil tersenyum.
Dengan demikian, maka ketika tiba saatnya, setelah minta diri kepada semua pihak termasuk Pangeran Lembu Sabdata sendiri, maka Ki Ajar-pun meninggalkan Kota Raja. Sementara itu, Pangeran Lembu Sabdata-pun telah mengucapkan terima kasih yang tidak ada taranya kepada Ki Ajar.
Namun yang kemudian tidak disadari oleh Pangeran Lembu Sabdata, bahwa didalam penyembuhan itu, getaran-gertaran pribadi Ki Ajar telah mencengkam pribadi Pangeran Lembu Sabdata yang telah diketemukannya kembali. Pengaruh Ki Ajar tanpa terasa benar-benar telah menguasai pribadi Pangeran Lembu Sabdata, sehingga Pangeran itu merasa, bahwa hidupnya seakan-akan tergantung kepada Ki Ajar yang telah menyembuhkannya. Perasaan berhutang budi benar-benar telah berkembang menjadi perasaan tunduk siap melakukan segala perintahnya. Dan sebenarnyalah pribadi Pangeran Lembu Sabdata yang telah ditemukannya kembali itu sudah diwarnai oleh pengaruh kekuatan pribadi Ki Ajar yang ingin pada suatu saat mengambilnya dari kurungannya.
Selain Pangeran Lembu Sabdata tidak menyadarinya, maka hal itu sama sekali tidak nampak oleh siapa-pun. Tidak seorang-pun yang mengetahui apa yang telah terjadi didalam diri Pangeran Lembu Sabdata selain kesembuhan. Beberapa pihak telah menyatakan perasaan sokurnya, bahwa Pangeran Lembu Sabdata benar-benar telah sembuh, termasuk Pengeran Singa Narpada sendiri, meskipun ia sadar, bahwa ia akan lebih banyak mengalami kesulitan menghadapi Pangeran yang sudah menjadi sembuh itu.
Tetapi ternyata dugaan Pangeran Singa Narpada itu menilik gelar kewadagannya, justru tidak terjadi. Setelah Pangeran Lembu Sabdata itu sembuh, maka ia tidak terlalu banyak membuat orang lain kebingungan. Ia menerima apa yang ada baginya. Dan ia tidak pernah berusaha untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keharusan yang diterapkan kepadanya. Pangeran Lembu Sabdata itu menjadi tunduk kepada segala perintah dan melakukan segala kewajibannya sebaik-baiknya.
Justru karena itu, maka betapa-pun kerasnya hati Pangeran Singa Narpada kepada orang-orang yang menentang kuasa Sri Baginda, akhirnya menjadi luluh juga. Apalagi Pangeran Lembu Sabdata adalah masih kadang sendiri. Seorang Pangeran yang sebenarnya sangat dikasihi oleh Sri Baginda sendiri, meskipun ternyata telah menentangnya dengan mati-matian, sehingga telah jatuh korban yang tidak terhitung banyaknya. Namun kemudian sikap Pangeran Lembu Sabdata dibawah pengaruh sikap Pangeran Kuda Permati yang telah terbunuh itu sempat menumbuhkan kebingungan di hati Baginda.
Kebingungan itulah yang membuat segalanya justru berlarut. Bahwa ia berusaha untuk mengekang Pangeran Singa Narpada, telah memberikan kesempatan kepada Pangeran Kuda Permati untuk memperluas jaringan mautnya. Sehingga pada saat Pangeran Singa Narpada mendapat kesempatan untuk bertindak, jaringan itu telah menjerat seluruh Kota Raja dan sekitarnya. Untunglah bahwa Panji Sempana Murti telah bertindak sesuai dengan cara yang ditempuh oleh Pangeran Singa Narpada, sehingga kekuatan Pangeran Kuda Permati sebagian telah terkekang di perbatasan Utara.
Namun dalam pada itu, sisa-sisa kegarangan dan keras hati tidak lagi nampak pada Pangeran Lembu Sabdata setelah ia sembuh. Ia tidak lebih dari tahanan-tahanan yang lain dalam sikap dan perbuatan. Namun justru karena ia seorang Pangeran, maka pelayanan atas dirinya agak lebih baik dari pelayanan terhadap tahanan-tahanan yang lain.
Tetapi dibalik sikap dan ujud kewadagannya, maka tersimpan satu rencana yang rumit yang telah disusun oleh Ki Ajar yang berada di tempat yang jauh dari Kota Raja.
Sementara itu, Ki Ajar yang telah kembali ke padepokannya, merasa bahwa sebagian usahanya telah berhasil. Jauh lebih mudah dari yang diduga semula. Selain Ki Ajar itu sudah dapat berhubungan dengan Pangeran Lembu Sabdata dan mengikat pribadinya, maka ia-pun telah mengenali lingkungan tahanan itu dengan sebaik-baiknya, sehingga pada suatu saat, ia akan dapat melakukan rencananya dengan sebaik-baiknya. Mengambil Pangeran Lembu Sabdata.
Namun dalam pada itu, sebelum Ki Ajar melakukan rencananya, ia masih sempat memanfaatkan hadiah yang diterimanya dari Sri Baginda. Sepedati biji-bijian yang dapat dijadikan benih untuk ditanam di kebun pategalan. Jenis tanaman yang dapat tangkar-tumangkar menjadi berlipat banyaknya, yang pada saatnya akan dapat ditanam di pategalan yang luas. Biji-bijian yang dibawa itu adalah jenis tanaman yang sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Sementara itu, pedati dengan sepasang lembu itu-pun ternyata menjadi sangat bermanfaat pula bagi padepokannya.
Dalam pada itu, Ki Ajar ternyata mampu mengendalikan diri untuk tidak berbuat dengan tergesa-gesa. Ia tidak dengan segera berusaha mengambil Pangeran Lembu Sabdata. Tetapi ia menunggu sampat saatnya, orang-orang Kediri tidak akan menuduhnya menjadi sebab hilangnya Pangeran Lembu Sabdata.
Sementara itu Pangeran Lembu Sabdata sendiri memang tidak menunjukkan sesuatu yang menarik. Justru ia nampak menjadi semakin jinak. Dan bahkan seakan-akan ia sama sekali sudah tidak mempunyai niat apa-pun juga.
Dengan sikapnya itu, maka para penjaganya justru menjadi iba. Pangeran yang masih muda dan garang itu seakan-akan telah kehilangan gairah hidupnya. Ia sudah pasrah apa yang akan terjadi atas dirinya. Yang dilakukannya sehari-hari adalah merenungi keadaannya. Sekali-sekali berbicara dengan para penjaganya dengan ramah.
Namun Pangeran Lembu Sabdata tidak pernah lagi menolak pelayanan yang diberikan kepadanya. Ia selalu makan dengan lahapnya makanan yang diberikan kepadanya. Demikian malam turun, maka ia-pun segera naik kepembaringannya dan sejenak kemudian Pangeran itu-pun telah tertidur dengan nyenyaknya.
Dengan demikian, maka para penjaganya itu menduga, bahwa Pangeran yang masih muda itu benar-benar sudah tidak lagi mempunyai satu keinginan-pun. Ia sudah pasrah dengan bulat untuk menjalan hukuman sampai kapan-pun.
Sebenarnyalah, bahwa kesan yang demikian itulah yang dikehendaki oleh Ki Ajar, agar dengan demikian, maka orang-orang yang mengawasinya akan menjadi lengah dan kehilangan kewaspadaan.
Bahkan Pangeran Singa Narpada sendiri, setelah melihat keadaan dan perkembangan Pangeran Lembu Sabdata merasakan betapa Pangeran itu telah kehilangan gairah hidupnya sama sekali.
“Tetapi dengan demikian, ia akan menemukan ketenangan didalam pasrahnya,” berkata Pangeran Singa Narpada kepada Sri Baginda, ketika Sri Baginda menanyakan kepadanya tentang perkembangan keadaan Pangeran Lembu Sabdata.
Namun sementara itu. Sri Baginda itu-pun bertanya, “Tetapi apakah tidak ada kemungkinan, bahwa pada suatu saat Lembu Sabdata itu dibebaskan dari kurungannya?”
“Tentu Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada, “Hal itu dapat dilakukan kapan saja atas perintah Sri Baginda. Namun kita harus yakin, bahwa pembebasan itu akan dapat memberikan keuntungan bagi jalan hidup Pangeran Lembu Sabdata, sehingga ia tidak mengalami kesesatan lagi seperti yang pernah terjadi.”
Sri Baginda hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi dalam keadaan yang demikian, ia tidak dapat berbuat menurut kehendaknya sendiri. Setelah Pangeran Kuda Permati terbunuh, dan perlawanannya dapat dipadamkan, maka semua mata seakan-akan telah di arahkan kepada Pangeran Singa Narpada.
Meskipun demikian, bukan berarti bahwa Pangeran Singa Narpada tidak memikirkan kemungkinan seperti itu. Tetapi Pangeran Singa Narpada menunggu sampai keadaan benar-benar mereda. Meskipun perang sudah selesai, tetapi masih saja ada orang yang saling berbincang dan menyangsikan sikap Pangeran Singa Narpada. Beberapa orang yang sejak semula telah jatuh dibawah pengaruh Pangeran Kuda Permati masih menganggap bahwa langkah pilihan Pangeran Kuda Permati adalah pilihan yang paling tepat bagi Pangeran Kuda Permati.
“Orang-orang yang demikian memerlukan waktu untuk menerima satu keyakinan baru yang benar,” berkata Pangeran Singa Narpada kepada Sri Baginda, “Karena itu, jika datang seseorang kepadanya untuk membakar lagi gejolak didalam dadanya, maka api itu tentu akan menyala. Kesulitan akan terjadi lagi.”
Sri Baginda tidak segera menjawab. Namun setiap kali terasa jantungnya berdebar semakin cepat. Meskipun demikian, Sri Baginda tidak dapat mengambil sikap yang pasti dan meyakinkan dirinya sendiri.
Sementara itu, di padepokan, Ki Ajar sudah mulai dengan rencana-rencananya. Ia tidak mau api sudah menjadi padam sama sekali. Meskipun ia tidak ingin membakar Kediri seperti membakar daun kelapa kering, yang cepat menyala, namun dengan segera akan cepat pula padam. Namun ia ingin berbuat lebih baik dari yang pernah terjadi atas Pangeran Kuda Permati.
Karena itu, maka semua langkah harus diperhatikan dengan cermat. Jika ia tergelincir, maka akan terulang kembalilah kepahitan yang pernah dialami oleh Pangeran Kuda Permati.
Langkah yang pertama yang akan diambil oleh pertapa itu adalah mengambil Pangeran Lembu Sabdata. Menempanya, sehingga Pangeran itu menjadi seorang yang pilih tanding, kemudian melepaskannya di medan untuk mencapai satu tujuan yang tidak akan pernah padam dari hati pertapa itu dan orang-orang Kediri sejati.
Dengan demikian, maka pertapa itu-pun telah mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya bersama muridnya yang dianggapnya paling baik, yang sudah memiliki sebagian besar dari ilmu Ki Ajar itu sendiri.
“Kita akan mulai. Menurut perhitungan waktunya sudah cukup lama. Orang-orang Kediri tentu sudah melupakan apa yang pernah terjadi atas Pangeran Lembu Sabdata itu. Sehingga mereka tidak akan terlalu banyak memperhatikannya lagi. Namun mereka akan terkejut, bahwa pada suatu saat, bilik itu menjadi kosong dan Pangeran Lembu Sabdata tidak akan pernah mereka tangkap kembali,” berkata Ki Ajar.
“Tetapi jika terjadi satu dugaan, bahwa hilangnya Pangeran Lembu Sabdata ada hubungannya dengan kita, karena Pangeran Singa Narpada itu memiliki ketajaman pengamatan batin, serta berusaha untuk melacak sampai ke padepokan ini lewat Ki Sadmaya, apakah yang dapat kita lakukan?” bertanya Putut itu.
“Kita tidak akan membawa Pangeran Lembu Sabdata ke padepokan ini. Kita akan membuat satu pemukiman terpisah yang akan menjadi perapian yang akan membakar Pangeran Lembu Sabdata sebelum ia turun kemedan yang sebenarnya Ia akan mengalami tempaan yang kuat lahir dan batinnya.” berkata Ki Ajar.
“Salah satu jalan yang akan ditempuh,” berkata Ki Ajar, “Tetapi ia harus memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Pangeran Kuda Permati.”
Pututnya yang setia itu mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Apakah Pangeran Lembu Sabdata kelak akan mempergunakan cara sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati.”
“Memiliki apa guru?” bertanya Putut itu.
Ki Ajar itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata, “Kau adalah satu-satunya orang yang dapat mengetahuinya. Karena itu, maka aku minta bahwa kau bertanggung jawab atas apa yang kau ketahui.”
Putut itu tidak menjawab. Tetapi ia justru menundukkan kepalanya. Ia tahu apa arti pesan gurunya itu.
Dengan nada datar gurunya itu-pun kemudian berkata, “Ada sesuatu yang diabaikan oleh Pangeran Kuda Permati. Sebenarnya bukan salah Pangeran Kuda Permati saja. Aku-pun waktu itu tidak bertindak dengan pasti. Aku masih berharap bahwa sikap ragu-ragu Sri Baginda akan menguntungkan Pangeran Kuda Permati. Namun ternyata dugaan itu salah sekali. Ternyata Sri Baginda telah menjatuhkan perintah kepada Pengeran Singa Narpada untuk menumpas habis pasukan Pangeran Kuda Permati. Bahkan cara yang licik telah ditempuhnya. Ia melepaskan puteri Pumadewi, isteri Pangeran Kuda Permati untuk membunuhnya meskipun ia juga harus membunuh diri.”
Putut itu mengangguk-angguk kecil, sementara gurunya berkata selanjutnya, “Waktu itu aku tidak dengan pasti minta agar Pangeran Kuda Permati sebelum melangkah, lebih dahulu mengambil pertanda kebesaran Raja-raja Kediri. Tanda kebesaran itu bukan sekedar memberikan kemegahan, tetapi lebih daripada itu, karena didalamnya tersimpan wahyu keraton. Siapa yang menyimpannya, maka ia akan kuat menjadi Raja di Kediri. Waktu itu, aku tidak sependapat bahwa Pangeran Kuda Permati benar-benar akan merebut tahta. Ia hanya akan mengangkat derajat Kediri, sementara Sri Baginda masih tetap diatas tahta. Karena itu, maka tanda kebesaran itu tidak diperlukan. Namun ternyata perjuangan Pangeran Kuda Permati gagal. Sementara Sri Baginda benar-benar telah menjatuhkan perintah untuk menghancurkan Pangeran Kuda Permati.”
Putut itu mengangguk-angguk. Katanya, “jadi menurut guru, kita tidak perlu lagi menghormat Sri Baginda agar tahta Kediri tetap di tangannya.”
“Apa boleh buat,” berkata Ki Ajar, “Kita akan merenggut benda itu, dan kemudian menurunkan Pengeran Lembu Sabdata yang juga salah seorang keluarga istana yang tentu akan kuat mewarisi tahta dengan kekuatan tanda kebesaran itu.”
Namun Putut itu kemudian bertanya, “Apakah ujud tanda kebesaran itu, senjata?”
Gurunya menggeleng. Katanya, “Bukan. Bukan berupa senjata yang bertuah. Tetapi ujud dari tanda kebesaran yang sekaligus menyimpan wahyu keraton itu berupa sebuah Mahkota.”
“Mahkota?” bertanya putut itu.
“Ya, Mahkota yang jarang sekali keluar dari Gedung Perbendaharaan. Karena benda itu, selain mempunyai tuah yang sangat tinggi nilainya, harga benda itu sendiri-pun tentu sangat mahal karena terbuat daripada emas dan tertahtakan permata yang tidak terhitung banyaknya. Intan dan berlian,” berkata Ki Ajar.
Putut itu menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Jadi benda itu harus diambil?”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar