*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 020-04*
Pangeran Kuda Permati dengan para pengawalnya mengenal betul jalan yang harus mereka lalui. Mereka mengenal padukuhan-padukuhan yang dapat mereka lewati tanpa hambatan. Dan mereka-pun tahu benar, bahwa mereka tidak akan bertemu dengan pasukan Kediri disepanjang jalan-jalan yang akan mereka lalui.
Demikianlah, dengan selamat Pangeran Kuda Permati sampai ke sebuah padukuhan yang telah ditentukannya bagi tempat isterinya.
Puteri Purnadewi menerima Pangeran Kuda Permati dengan penuh harapan. Sebagaimana Pangeran Kuda Permati ingin meyakinkan isterinya tentang perjuangan yang sedang dilakukannya, maka puteri Purnadewipun berpengharapan bahwa ia akan dapat menghentikan pertempuran yang membakar Kediri dan menuntut kematian yang tidak terhitung jumlahnya.
Ketika lewat makan malam, maka Pangeran Kuda Permatilah yang mulai berbicara tentang perjuangannya yang masih akan berkelanjutan.
“Mungkin pertempuran-pertempuran masih akan membakar Kediri,” berkata Pangeran Kuda Permati, “Aku minta kau mengerti. Kau harus menerima keadaanmu seperti sekarang ini sebagai satu pengorbanan yang akan memberikan arti yang sangat besar bagi Kediri.”
“Aku tidak pernah menyesali pengorbanan yang pernah aku berikan,” berkata Purnadewi, “pengorbananku tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan pengorbanan yang sudah jatuh di seluruh Kediri.”
“Ya,” sahut Pangeran Kuda Permati, “Karena itu pengorbanan yang sudah jatuh itu jangan menjadi pengorbanan yang sia-sia. Pengorbanan mereka harus kita hargai, sehingga akhirnya cita-cita kita, cita-cita mereka yang telah berkorban itu akan dapat kita ujudkan.”
Puteri Purnadewi menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara lembut ia berkata, “Kakangmas, apakah kakangmas yakin akan dapat memenangkan perjuangan ini? Menurut penglihatanku, kekuatan dikedua belah pihak tampaknya bukan saja seimbang, tetapi kekuatan Sri Baginda ternyata jauh lebih besar dari dukungan kekuatan pada kakangmas Kuda Permati.”
“Diajeng,” berkata Pangeran Kuda Permati, “pada saat seperti ini aku memerlukan dukungan jiwani, terutama dari kau. Tetapi agaknya kau justru memperlemah hasrat dan tekadku untuk berjuang terus justru pada saat aku mengalami kelelahan jiwa.”
“Kakangmas,” jawab Purnadewi, “Aku hanya ingin meyakinkan kakangmas, bahwa apa yang kakangmas lakukan sekarang ini adalah satu kesia-siaan. Yang terjadi hanyalah pembantaian disegala tempat. Tetapi cita-cita kita, cita-cita kakangmas merupakan cita-cita yang tidak akan mungkin terjangkau, betapa-pun besarnya korban yang akan jatuh. Pertempuran di sisi Barat daerah perbatasan membuktikan bahwa kakangmas tidak akan dapat menembus kekuatan pasukan yang setia kepada Sri Baginda.”
Tetapi puteri Purnadewi menggeleng. Katanya, “Kakangmas terlampau dalam terbenam kedalam sebuah mimpi yang indah. Hanya indah bagi kakangmas sendiri. Tetapi bagi orang lain mimpi itu merupakan bencana yang tidak ada taranya.”
“Cukup,” Tiba-tiba saja Pangeran Kuda Permati berteriak, “Jika kau benar-benar telah kehilangan tekad perjuanganmu, terserah. Aku akan meneruskan perjuangan ini sampai batas yang tidak tertentu.”
Ketika Purnadewi akan menjawab, Pangeran Kuda Permati telah menutup pembicaraan. Katanya, “jangan berbicara lagi tentang perjuanganku. Kau akan membuat aku menjadi gila.”
Puteri Purnadewi termangu-mangu. Namun Pangeran Kuda Permati benar-benar tidak ingin berbicara lagi tentang perjuangannya.
Dengan demikian, maka puteri Purnadewi-pun menjadi sangat berprihatin. Ia tidak lagi dapat berharap bahwa pertempuran yang menelan banyak sekali korban itu dihentikan.
“Hanya kakangmas Kuda Permati yang dapat melakukannya,” desis puteri Purnadewi itu bagi dirinya sendiri, “Atau, jika kakangmas Kuda Permati tidak lagi dapat mengendalikan pasukannya dengan perintah-perintahnya.”
Didalam biliknya puteri Purnadewi menelungkupkan wajahnya dalam dekapan kedua telapak tangannya, sementara Pangeran Kuda Permati masih berbicara dengan para perwiranya.
Dalam tekanan jiwani yang semakin menghimpit, maka puteri Purnadewi berusaha untuk menemukan satu penyelesaian yang akan mengakhiri segala bencana yang terjadi di Kediri. Bukan saja bahwa ia sudah terpengaruh oleh saudara sepupunya, Pangeran Singa Narpada, tetapi apa yang telah dilihatnya dan didengarnya tentang peperangan telah memaksanya mengambil satu sikap.
Ternyata bahwa puteri Purnadewi tidak melihat satu cara apa-pun yang dapat menyelesaikan perang yang membakar Kediri itu selain sumber api itulah yang dipadamkannya.
“Betapa-pun pedihnya,” berkata puteri itu kepada diri sendiri.
Dengan demikian, maka puteri Purnadewi-pun telah bangkit dari pembaringannya. Ia menghentakkan tangannya untuk mendapatkan satu kekuatan yang dapat mendukungnya melaksanakan rencananya.
Purnadewi itu-pun kemudian membenahi dirinya. Wajahnya yang basah telah dikeringkannya. Sikapnya dan kata-katanya telah disusunnya, sehingga tidak memberikan kesan betapa dadanya dihimpit oleh ketegangan yang memuncak.
Lewat tengah malam, Pangeran Kuda Permati telah selesai berbicara dengan para perwiranya. Bukan satu kebiasaan bagi Pangeran Kuda Permati, namun saat itu badannya terasa sangat letih. Karena itu, maka katanya kemudian kepada para perwira kepercayaannya, “Aku akan beristirahat. Bicarakan diantara kalian, yang mana yang akan kita lakukan lebih dahulu.”
“Baik Pangeran,” jawab salah seorang diantara para perwira itu.
“Daerah di sisi Selatan itu harus kita hancurkan,” berkata Pangeran Kuda Permati, “Justru pada saat di beberapa tempat terdapat kekosongan. Kita tidak akan melibatkan diri dengan pasukan Kediri yang kuat, apalagi pasukan kakangmas Singa Narpada yang tentu akan datang ke arena. Kita akan segera menarik diri dan meninggalkan korban yang sebanyak-banyaknya diantara lawan dan sedikit-dikitnya diantara kita.”
“Baik Pangeran,” jawab perwiranya itu, “Bagian-bagian yang lebih terperinci akan kita bicarakan.”
Pangeran Kuda Permati-pun kemudian meninggalkan para perwiranya untuk beristirahat.
Keputusan Pangeran Kuda Permati untuk menghancurkan sisi Selatan yang didengar pula oleh Purnadewi bukan saja dari pembicaraan yang kurang jelas diantara Pangeran Kuda Permati dengan para perwiranya, namun juga dari keterangan Pangeran Kuda Permati sendiri, telah menguatkan niat Purnadewi untuk bertindak. Karena menurut gambarannya, pertempuran itu benar-benar akan berubah menjadi arena pembantaian yang tidak terkendali. Sementara itu, puteri Purnadewi masih berusaha dengan perasaan putus asa untuk memperingatkan suaminya. Namun semuanya itu adalah sia-sia belaka.
“Jika itu sudah menjadi tekad kakangmas, apa boleh buat,” berkata Purnadewi.
“Sudahlah Diajeng,” sahut suaminya, “jangan kau pikirkan lagi peperangan yang sedang membakar Kediri sekarang pada saatnya, perang ini akan selesai, dan rencana kita akan terwujud.”
Puteri Purnadewi tidak menyahut. Sementara itu Pangeran Kuda Permati yang lelah telah membaringkan dirinya untuk beristirahat.
Diluar beberapa orang perwira masih berbicara diantara mereka. Suara mereka perlahan-lahan karena pembicaraan mereka merupakan pembicaraan rahasia. Keputusan mereka harus mereka sampaikan besok kepada Pangeran Kuda Permati. Baru jika Pangeran itu menyetujui, para perwira akan melakukan rencana yang mereka putuskan itu.
“Tidak ada yang boleh lepas dari tangan kita,” berkata salah seorang perwira itu, “Di sisi Barat kita sudah melepaskan banyak sekali korban. Karena itu, besok kita akan menuntut balas. Prajurit Kediri yang kita jumpai akan menjadi mayat meskipun mereka sudah menyerah.”
Setelah berbicara cukup lama, maka akhirnya para perwira itu-pun mengakhiri pembicaraan mereka. Sejenak kemudian, maka pendapa rumah yang dipergunakan oleh puteri Purnadewi itu-pun menjadi sepi. Para perwira itu kemudian telah memasuki bilik yang disediakan bagi mereka. Ada yang memang disediakan tempat di gandok rumah itu juga. Tetapi ada pula yang tinggal di rumah sebelah.
Dengan demikian, maka menjelang dini hari, rumah itu telah benar-benar menjadi sepi. Yang kemudian masih berjaga-jaga hanyalah para peronda yang bertugas mengamati rumah itu. Sekelompok pengawal yang kuat dan terpilih berada di sekitar rumah itu dalam lapis-lapis yang rapat. Sebagian diantara mereka berjaga-jaga diluar dinding halaman, sementara sekelompok yang lain berada didalam halaman. Bahkan dua orang diantara mereka berganti-ganti bertugas didalam seketheng sebelah menyebelah.
Dengan demikian, maka rumah itu benar-benar telah terjaga sangat rapat. Tidak ada seekor lalat-pun yang dapat memasuki rumah itu tanpa setahu para petugas.
Dalam pada itu, menjelang dini hari, Pangeran Kuda Permati-pun telah tertidur lelap. Ia sama sekali tidak berprasangka apa-pun juga, karena ia tahu, betapa kuatnya penjagaan di sekitar rumah itu.
Namun dalam pada itu, ternyata bahwa petugas sandi dari Kediri telah berhasil mencium tempat yang menjadi landasan perjuangan Pangeran Kuda Permati untuk sementara itu. Justru pada saat Pangeran Kuda Permati menemui isterinya, maka ketajaman hidung para petugas sandi segera menciumnya. Ternyata bahwa pengawal terdekat Pangeran Kuda Permati telah dengan tidak sengaja melakukan satu kesalahan. Ia telah minta diri kepada seseorang untuk meninggalkan padukuhan tempat ia tinggal. Namun orang itu telah menyampaikan rencana kepergiannya kepada seorang petugas sandi dari Kediri yang berada di padukuhan itu.
Dengan cepat petugas sandi itu menghubungkan tugas dan kedudukan orang itu dengan rencana kepergiannya, sehingga petugas sandi itu mengambil satu kesimpulan, pengawal itu harus mengawal Pangeran Kuda Permati meninggalkan padukuhan itu untuk pergi ke suatu tempat.
Dengan cermat petugas sandi itu mengikuti perkembangan berikutnya. Namun seorang kawannya telah mempersiapkan beberapa orang yang akan mengikuti kepergian pengawal itu, dengan atau tidak dengan Pangeran Kuda Permati.
Ternyata bahwa dugaan petugas sandi itu benar. Pengawal itu meninggalkan padukuhannya bukan karena tugas lain, tetapi adalah tugas yang sangat besar dan rahasia, mengawal Pangeran Kuda Permati yang ingin beristirahat barang dua tiga hari sebelum penyerbuannya ke sisi Selatan. Sementara itu Pangeran Kuda Permati tetap memerintahkan untuk mengadakan gerakan di bagian Barat itu untuk memberikan kesan, bahwa pasukan Pangeran Kuda Permati masih tetap memusatkan gerakannya di sisi Barat dan tidak menimbulkan perhitungan lain, sehingga kekosongan dibeberapa bagian di sisi Selatan itu terisi.
Dengan demikian, maka kepergian Pangeran Kuda Permati dari padukuhan yang dipergunakannya sebagai tempat mengatur dan mengendalikan pasukannya itu berada di bawah pengamatan sekelompok petugas sandi dari Kediri, yang berbaur dengan penduduk di padukuhan itu.
Para petugas sandi itu ternyata mempunyai tugas yang sangat berat. Mereka harus membuat perhitungan-perhitungan yang cermat. Selama itu pasukan Kediri tidak dapat menyergap tempat persembunyian Pangeran Kuda Permati, karena tempat itu mendapat penjagaan yang berlapis-lapis, seningga setiap usaha untuk menyerang tempat itu akan sia-sia. Jauh sebelum pasukan Kediri sampai ketujuan, maka Pangeran Kuda Permati tentu sudah tidak ada di tempatnya. Karena itu, maka para petugas sandi, meskipun disaat terakhir berhasil menyusup dan berada di padukuhan itu, tidak mengisyaratkan pasukan Kediri untuk menyerang.
Pasukan, sandi itu berpengharapan, bahwa dengan kepergian Pangeran Kuda Permati, maka mereka akan dapat menemukan kelemahan-kelemahan pengawalannya.
Adalah tidak mungkin untuk menyergap Pangeran Kuda Permati di perjalanan. Tidak ada kesempatan untuk melakukannya, karena hubungan yang memerlukan waktu dengan pasukan Kediri di sisi Barat serta pasukan Pangeran Singa Narpada.
Karena itu, dengan sangat berhati-hati sekelompok dalam pakaian yang diusahakan mirip dengan para pengawal iringan Pangeran Kuda Permati itu, yang pada dasarnya semula adalah memang pakaian prajurit Kediri, tetapi yang dalam keadaan berikutnya justru telah berubah dan tidak teratur lagi, telah mengikuti perjalanan pasukan Pangeran Kuda Permati. Dua orang ahli mengikuti jejak telah ikut bersama mereka. Meskipun malam gelap, tetapi mengikuti jejak itu dapat mengenali jejak iring-iringan berkuda yang masih belum terlalu lama.
Memang iring-iringan itu akan mungkin sekali terjebak kedalam satu bahaya. Tetapi ketika mereka dihentikan oleh sekelompok peronda di sebuah padukuhan yang menurut perhitungan para petugas sandi yang ada didalam iring-iringan itu termasuk daerah pengaruh yang kuat dari Pangeran Kuda Permati, maka salah seorang diantara mereka menjawab, “Kami mengikuti dan mengadakan pengamatan demi keselamatan Pangeran Kuda Permati.”
“Apa yang kalian lakukan?” bertanya peronda itu.
“Kami adalah pengawal-pengawal yang memang mendapat tugas untuk mengikuti perjalanan Pangeran dalam jarak tertentu, agar dengan demikian kami dapat mengamati kemungkinan jika ada bahaya di belakang perjalanan Pangeran.”
Kata-kata itu diucapkan dengan tanpa ragu-ragu. Demikian pula sikap sekelompok orang berkuda itu dalam pakaian yang mereka kenali sebagaimana pakaian para pengawal Pangeran Kuda Permati.
Namun dalam gerak mereka selanjutnya, maka mereka harus menjadi sangat berhati-hati. Mereka harus mengenali setiap regol padukuhan sebelum mereka memasukinya. Dengan demikian, maka perjalanan mereka menjadi sangat lamban.
“Perjalanan yang sulit,” berkata ahli pengamat jejak. Lalu, “Kita tidak boleh bergerak dalam iring-iringan begini. Beri aku kesempatan untuk mengikuti perjalanan ini. Aku akan melaporkan hasilnya.”
“Apakah keselamatan dapat dijamin?” bertanya pemimpin dari sekelompok prajurit Kediri itu.
“Aku minta menempuh pengamatan ini bersama petugas sandi saja. Kalian kami harap berada di tempat yang tersembunyi. Aku akan datang lagi untuk memberikan laporan.”
Pemimpin kelompok itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ia dapat mengerti pendapat pengamat jejak itu. Dengan kelompok yang kecil, maka tugas mereka akan menjadi lebih cepat diselesaikan. Tetapi sudah tentu dengan kemungkinan yang sangat berbahaya bagi yang melaksanakan.
Tetapi pengamat jejak itu berkata pula, “Kami bertanggung jawab atas keselamatan kami sendiri.”
Dengan demikian, maka pemimpin kelompok kecil itu tidak berkeberatan. Dua orang pengamat jejak dan seorang petugas sandi akan melanjutkan pelacakan mereka atas iring-iringan Pangeran Kuda Permati.
“Kami harus dapat menyelesaikan malam ini,” berkata pengamat jejak itu, “Jika tidak, maka akan sulit bagiku untuk mengikuti jejaknya besok malam. Mungkin sudah terhapus oleh langkah-langkah kaki orang di siang hari. Mungkin oleh jejak-jejak lain pula.”
“Sebenarnya tidak begitu,” berkata pemimpin pasukan Kediri itu, “Jalan ini tentu menjadi sangat sepi. Tidak akan ada orang yang lewat di jalan-jalan ini.”
“Tentu ada,” jawab pengamat jejak itu, “Apalagi di padukuhan-padukuhan. Meskipun suasananya tetap gawat, tetapi tentu ada orang yang melintasi jalan dari rumah ke rumah tetangganya untuk keperluan-keperluan yang tidak dapat ditunda.”
“Terserahlah,” berkata pemimpin itu kemudian, “Kami akan berada di hutan itu. Kami menunggu laporanmu.”
“Kami akan berada di hutan itu selambat-lambatnya saat matahari terbit. Jika sampai sepenggalah kami tidak datang, maka berarti kami menemui kegagalan. Lebih baik kalian meninggalkan tempat itu. Siapa tahu, bahwa mulut kami tidak akan dapat menahan rahasia kehadiran kalian jika kami tertangkap dan diperas untuk berbicara,” jawab pengamat jejak itu.
Dengan demikian, maka pengamat jejak itu-pun kemudian telah melanjutkan tugasnya, bertiga dengan seorang petugas sandi yang menguasai daerah yang sedang mereka jelajahi.
Sementara itu, sekelompok prajurit Kediri itu-pun kemudian telah pergi ke sebuah hutan yang tidak terlalu lebat. Mereka akan berada di hutan itu menunggu petugas-petugas yang sedang melanjutkan usaha pelacakan. Mereka sadar, bahwa mereka mungkin akan berada di hutan itu untuk sisa malam itu dan sehari kemudian. Tetapi sebagai prajurit mereka telah mengalami latihan khusus menempuh perjalanan, di hutan untuk beberapa hari tanpa bekal sebutir nasi-pun. Mereka dapat juga hidup dari tetumbuhan dan binatang yang ada di dalam hutan itu.
Ada-pun dua orang pengamat jejak dan seorang petugas sandi telah melakukan tugas mereka sebaik-baiknya. Ternyata perjalanan mereka justru menjadi lebih cepat.
Mereka tidak terlalu terikat kepada sebuah kelompok yang besar, sehingga mereka lebih mudah untuk menyusup diantara semak-semak, memasuki padukuhan dengan memanjat dinding kemudian menelusuri kelanjutan jejaknya di jalan di seberang padukuhan.
Cara yang ditempuh oleh kedua pengamat jejak dan seorang petugas sandi itu ternyata membawa hasil. Kedua pengamat dan petugas sandi itu akhirnya sampai ke sebuah padukuhan yang dijaga dengan sangat ketat, sehingga sulit bagi mereka bertiga untuk dapat mendekat.
Tetapi mereka bertiga adalah petugas-petugas yang terlatih baik, sehingga dengan sangat hati-hati mereka berhasil mendekati dinding padukuhan. Mereka menyadari bahwa mereka sedang melakukan satu tugas yang sangat berbahaya dengan memasuki padukuhan itu.
Seorang demi seorang mereka memanjat dinding dan masuk kedalamnya. Barulah mereka menyadari, bahwa mereka berada di sebuah padukuhan.yang dijaga dengan sangat ketat, sehingga mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa di padukuhan itu.
Karena itu, maka ketiga orang itu-pun justru telah meloncat kembali keluar padukuhan. Kedua pengamat jejak itu kemudian bersama petugas sandi itu telah mengamati jalur jalan yang keluar dari padukuhan itu. Tidak ada jejak yang keluar dari padukuhan itu, sehingga ketiga orang itu mengambil kesimpulan bahwa iring-iringan Pangeran Kuda Permati yang memasuki padukuhan itu tidak lagi keluar. Dengan demikian, maka para pengamat dan petugas sandi itu berkesimpulan bahwa Pangeran Kuda Permati berada di padukuhan itu.
Kesimpulan itulah yang kemudian dilaporkan kepada pemimpin kelompok yang membawa beberapa orang prajurit Kediri dan untuk beberapa saat lamanya bersembunyi di hutan. Mereka tidak dapat keluar dari hutan itu di siang hari, karena kekuatan mereka yang kurang memadai. Jika mereka bertemu dengan para pengikut Pangeran Kuda Permati, maka mereka akan menemui kesulitan.
Tetapi meskipun demikian, mereka telah mengirimkan dua orang petugas untuk melaporkan hasil penyelidikan para pengamat dan petugas sandinya.
Akhirnya jatuh keputusan, bahwa padukuhan itu akan disergap menjelang dini hari di malam berikutnya, di malam Pangeran Kuda Permati terbaring tidur di samping isterinya setelah mereka berbincang dengan para perwiranya, sementara para perwira itu-pun telah kembali kedalam bilik masing-masing.
Pangeran Kuda Permati sendiri menganggap bahwa penjagaan di padukuhan itu cukup kuat, sementara padukuhan itu cukup jauh dari kesatuan-kesatuan Kediri.
Penjagaan di padukuhan itu memang tidak sekuat penjagaan pada padukuhan yang dipergunakan oleh Pangeran Kuda Permati sebagai pusat kendali bagi pasukannya. Meskipun demikian, maka di padukuhan itu terdapat sepasukan pengawal terpilih yang akan melindungi Pangeran Kuda Permati dan isterinya Purnadewi.
Sementara itu Pangeran Singa Narpada telah mempersiapkan sebuah pasukan yang kuat, yang berdasarkan laporan para pengamat jejak dan petugas sandi tidak akan mengalami kegagalan jika mereka menyergap padukuhan tempat Pangeran Kuda Permati beristirahat.
Dengan cermat Pangeran Singa Narpada membagi pasukannya. Agar perjalanan mereka tidak segera diketahui, apalagi sempat dilaporkan kepada Pangeran Kuda Permati, maka perjalanan pasukannya harus sangat berhati-hati dan menempuh garis perjalanan yang diperhitungkan dengan cermat.
Ketika hari menjadi gelap, maka pasukan itu-pun telah bersiap. Petugas sandi yang telah berhasil menemukan padukuhan tempat tinggal Pangeran Kuda Permati itu masih sempat memberikan laporan yang lebih terperinci, sehingga pada saat terakhir, Pangeran Singa Narpada masih dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang lebih cermat kepada para perwiranya.
Sejenak kemudian, maka pasukan Pangeran Singa Narpada-pun telah berangkat. Tetapi pasukan itu telah dibagi dalam kelompok-kelompok yang kecil, yang akan mendekati sasaran dari beberapa arah. Dengan isyarat tertentu, maka pasukan itu pada saatnya akan menerobos memasuki padukuhan itu, dekat menjelang pagi hari.
Dengan perhitungan yang cermat serta kesungguhan para perwiranya melakukan segala perintah Pangeran Singa Narpada, maka pasukan yang kuat itu pada waktu yang ditentukan telah berada di sekitar sasaran. Mereka tinggal menunggu langit menjadi merah dan isyarat untuk menyerang sebagaimana ditentukan oleh Pangeran Singa Narpada.
Namun pada saat-saat yang demikian itu ketegangan bagaikan mencekam setiap jantung. Rasa-rasanya waktu berjalan terlalu lambat. Rasa-rasanya para prajurit Kediri itu tidak sabar lagi menunggu langit dibayangi oleh cahaya pagi.
Tetapi betapa-pun lambatnya, akhirnya waktu yang ditentukan itu tiba juga. Bayangan warna merah di langit menjadi semakin jelas, sementara koko ayam jantan berangsur menurun.
Waktu itulah yang ditunggu-tunggu oleh seluruh prajurit Kediri yang kuat. Karena saat yang demikian itu sudah ditentukan, merupakan saat yang paling tepat untuk menyerang dengan tiba-tiba.
Yang mereka tunggu kemudian adalah perintah untuk menyerang. Demikian mereka mendengar desing panah sendaren, maka mereka dengan serentak memasuki padukuhan itu. Tentu bukan satu tugas yang ringan. Mereka tidak dapat memasuki padukuan itu sebagaimana mereka memasuki halaman rumah mereka sendiri. Di belakang regol dan dibalik dinding halaman itu, berjejal pasukan lawan menunggu kedatangan mereka dengan ujung tombak. Seandainya mereka belum menyadari kehadiran pasukan Pangeran Singa Narpada, maka dengan satu teriakan perintah, maka mereka-pun akan bersiap menyambut kedatangan pasukan Kediri itu.
“Satu diantara dua,” gumam seorang diantara para prajurit itu, karena ia menyadari, betapa sulitnya untuk menyelamatkan jiwanya dalam pertempuran yang dahsyat sebagaimana pernah dialaminya.
Akhirnya saat yang mereka tunggu dengan hati yang tegang itu-pun datang. Pada saat langit menjadi semakin cerah, terdengar lengking panah sendaren yang terlontar ke udara seakan-akan menusuk langit.
Tiga anak panah sendaren terbang diatas padukuhan yang masih sepi itu. Para pengawal di padukuhan itu sebagian besar masih berada didalam barak masing-masing. Beberapa orang memang sudah terbangun sementara para petugas berjaga-jaga dengan patuh.
Namun sesaat sebelumnya kesibukan yang luar biasa telah terjadi di rumah yang dipergunakan oleh Pangeran Kuda Permati. Beberapa orang berlari-lari menghubungi orang lain, sehingga kesibukan itu telah menarik perhatian para pengawal di seluruh padukuhan itu.
Pada saat semua perhatian tertuju ke rumah itu, maka panah sendaren itu telah mengejutkan seisi padukuhan.
Dengan serta merta, maka para pengawal di padukuhan itu-pun telah berlari-lari untuk menyambar senjata mereka. Dengan cepat mereka bersiap menghadapi segala kemungkinan, karena mereka menyadari, bahwa isyarat itu tentu isyarat pasukan Kediri. Apa-pun yang mereka maksudkan, maka seisi padukuhan itu harus bersiap-siap.
Dalam pada itu, di serambi rumah yang dipergunakan Pangeran Kuda Permati dan puteri Purnadewi, dua orang perwira sedang berbantah untuk mempertahankan sikap masing-masing. Seorang diantaranya berniat untuk melawan pasukan Kediri sampai orang yang terakhir, namun yang lain berpendirian, tidak ada gunanya lagi untuk bertempur.
“Tetapi kita tidak ingin mati seperti seekor cengkerik dimuka lubangnya tanpa berbuat apa-apa,” jawab yang lain.
Tetapi nampaknya perwira yang seorang lagi tidak sependapat. Dengan lantang ia berkata, “Kita akan saling membantai. Jumlah lawan banyak sekali. Bukankah dengan demikian, maka yang akan terjadi adalah kematian yang tidak berarti. Jika kita tidak bertempur, maka sikap orang-orang Kediri-pun akan berbeda.”
“Tidak,” perwira yang lain berteriak. Bahkan kemudian ia-pun telah berkata kepada para perwira yang lain yang ada di serambi itu, “Siapa yang merasa dirinya kelinci kecil, menyerahlah. Tetapi siapa yang merasa dirinya serigala, matilah dengan jantan,” perwira itu berhenti sejenak, lalu, “Marilah, siapa ikut bersama aku.”
Perwira itu segera menarik pedangnya dan berlari-lari kecil turun ke halaman.
Sementara itu pasukan Kediri telah mulai bergerak mendekat, sedangkan para pengikut Pangeran Kuda Permati telah menutup semua pintu gerbang di dinding padukuhan yang tidak begitu besar itu.
Ternyata bahwa para pengikut Pangeran Kuda Permati condong untuk memberikan perlawanan. Mereka memang tidak ingin menyerah dan menjadi tawanan.
Karena itu, maka sebagian diantara mereka telah bersiap di belakang pintu gerbang yang tertutup. Sebagian yang lain memanjat pepohonan dan tangan yang tersandar didinding dengan anak panah yang siap pada busurnya. Sedangkan yang lain menebar disegala sudut untuk menghadapi segala kemungkinan.
Perwira yang berpendirian lain, masih berdiri diserambi. Rasa-rasanya jantungnya berdentang semakin keras. Ada kebimbangan yang bergejolak didalam dirinya.
Ternyata ada tiga orang yang kemudian mendekatinya. Seorang diantaranya berkata, “perlawanan kali ini memang tidak ada artinya lagi. Selama ini perasaan kita telah tertutup oleh suasana yang keras dan bayangan kematian demi kematian. Justru pada saat terakhir hati kita mulai terbuka.”
“Tetapi sudah terlambat,” sahut yang lain, “Sebentar lagi kita memang akan dibantai di halaman rumah ini.”
“Aku memang akan mati. Tetapi aku tidak ingin menambah kotor tanganku dengan darah sesama. Aku sudah terlalu banyak membunuh,” berkata perwira itu.
Sementara itu, seorang yang lain berkata, “Aku sendiri tidak mengerti, apa yang terjadi didalam diri ini. Tiba-tiba saja aku merasa bahwa aku-pun sudah terlalu banyak membunuh.”
“Aku sudah siap untuk mati,” berkata yang lain pula, “Kematian yang mungkin tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tetapi aku akan menerimanya dengan dada tengadah.”
Ampat orang perwira itu-pun kemudian berdiri sejenak memandang halaman rumah yang dilapisi oleh para pengikut Pangeran Kuda Permati dalam beberapa baris pertahanan.
Mereka sudah membayangkan bahwa di halaman itu akan terjadi pertumpahan darah yang sangat mengerikan. Baru setelah pertahanan itu patah, maka prajurit-prajurit Kediri akan datang kepada mereka berempat dan membunuh mereka sekaligus.
Namun keempat orang itu tidak berada di serambi, mereka-pun kemudian memasuki rumah itu dan pintu-pun kemudian ditutup meskipun tidak terlalu rapat, untuk memberikan kesan bahwa pintu itu tidak diselarak.
Pada saat yang demikian, maka pasukan Kediri telah menjadi semakin dekat. Mereka melihat pintu-pintu regol yang kemudian tertutup. Kemudian mereka-pun melihat ujung-ujung tombak yang mulai menciut diatas dinding diseputar padukuhan itu.
Karena itu, maka para prajurit Kediri itu-pun telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Mereka menyadari bahwa pertempuran yang keras dan kasar akan segera terjadi, sebagian pernah mereka alami di sisi Utara dan Barat dari Kota Raja.
Pangeran Singa Narpada sendirilah yang memimpin pengepungan dengan harapan, bahwa pasukannya saat itu akan dapat menangkap Pangeran Kuda Permati hidup atau mati.
Para prajurit Kediri dibawah pimpinan Pangeran Singa Narpada itu-pun ternyata memiliki sikap dan watak sebagaimana Pangeran Singa Narpada sendiri. Ujung-ujung tombak yang memagari dinding padukuhan itu telah membuat darah mereka justru semakin mendidih.
Demikianlah, maka ketika para prajurit Kediri itu sudah siap di depan dinding, maka sekali lagi terdengar desing panah sendaren. Pangeran Singa Narpada telah memerintahkan melepaskan anak panah sendaren untuk yang kedua kalinya. Isyarat setiap prajurit bersiap untuk menyerang.
Ketegangan menjadi semakin memuncak. Para pengikut Pangeran Kuda Permati-pun mengerti, bahwa isyarat kedua bagi para prajurit Kediri adalah perintah untuk bersiap menyerang, sedangkan isyarat berikutnya, maka gelombang pasukan Kediri itu akan mulai melanda dinding padukuhan itu.
Para pengikut Pangeran Kuda Permati-pun melihat pasukan Kediri dengan hati yang berdebar-debar. Dari atas dinding mereka melihat pasukan yang mengepung padukuhan itu tidak terhitung jumlahnya. Sementara itu sebagian dari mereka tengah mengawasi kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi, seandainya ada juga pasukan Pangeran Kuda Permati yang ada di padukuhan sebelah menyebelah.
Sejenak kemudian, maka saat yang paling menegangkan itu telah dipecahkan oleh isyarat ketiga.
Sekali lagi, panah sendaren telah berdesing di udara. Suaranya bagaikan siulan maut yang mengumandang dari sudut sampai ke sudut padukuhan itu.
Sebenarnyalah, bahwa isyarat ketiga itu adalah perintah untuk langsung menyerang pasukan Pangeran Kuda Permati yang ada di padukuhan itu.
Sementara itu, memang ada sebagian yang tidak terlalu besar, pengawal Pengeran Kuda Permati yang ada di padukuhan sebelah menyebelah. Mereka ternyata terkejut melihat serangkaian yang tiba-tiba saja telah melanda padukuhan yang justru dipergunakan untuk beristirahat Pangeran Kuda Permati dan isterinya, Purnadewi.
Karena itu, pengawal yang tidak terlalu banyak yang berada di padukuhan sebelah menyebelah, yang tugas pokok mereka adalah sebagai pengamat, telah bersiap untuk segera melibatkan diri kedalam pertempuran yang sebentar lagi akan terjadi.
“Kita tentu akan mendapat hukuman dari Pangeran Kuda Permati,” berkata salah seorang perwira yang memimpin pasukan itu.
“Kita memang lengah. Kita menganggap daerah ini terlalu aman, sehingga kita mengendor. Pada saat yang demikian mereka telah datang dan langsung mengepung padukuhan itu. Agaknya ada seorang pengkhianat yang telah memberitahukan tempat tinggal Pangeran Kuda Permati,” berkata perwira yang lain, “Tanpa seorang pengkhianat, maka mereka tidak akan dapat menemukan padukuhan tempat tinggal Pangeran Kuda Permati.”
Para perwira itu tidak sempat untuk mengurai persoalan yang mereka hadapi lebih lama lagi. Pasukan Kediri yang dipimpin langsung oleh Pangeran Singa Narpada benar-benar telah menggempur pintu gerbang padukuhan yang telah menjadi tempat beristirahat Pangeran Kuda Permati dan Purnadewi.
Karena itu, maka para pengikut Pangeran Kuda Permati di padukuhan-padukuhan yang lain tidak menunggu lebih lama lagi. Tidak ada perintah yang memanggil mereka. Namun ketika sekelompok para pengikut Pangeran Kuda Permati keluar dari sebuah padukuhan, maka kelompok yang lain telah muncul dari padukuhan yang lain pula.
Namun Pangeran Singa Narpada sudah memperhitungkannya. Karena itu, maka pasukan yang tersedia untuk itu-pun segera memisahkan diri. Mereka tidak ikut menyerang para pengikut Pangeran Kuda Permati di padukuhan di depan mereka, tetapi mereka akan menghadapi langsung pasukan lawan yang datang dari arah yang lain.
Dengan demikian, maka pertempuran diluar padukuhan itu ternyata telah terjadi lebih dahulu dari pertempuran didalam padukuhan itu sendiri.
Namun dalam waktu yang pendek, maka pasukan Pangeran Singa Narpada telah mulai menggempur pintu-pintu gerbang di ampat jurusan.
Sementara itu, dari atas dinding di sebelah menyebelah pintu gerbang itu, para pengikut Pangeran Kuda Permati telah menyerang mereka dengan melontarkan anak-anak panah yang meluncur bagaikan hujan.
Tetapi hal seperti itu sudah diperhitungkan oleh para perwira pasukan Pangeran Singa Narpada. Karena itu, maka ketika anak panah itu menghujani mereka mereka-pun telah melindungi diri mereka dengan perisai-perisai yang sudah mereka persiapkan lebih dahulu.
Dengan demikian, maka tidak ada lagi yang dapat menahan arus pasukan Pangeran Singa Narpada. Pintu gerbang padukuhan yang tidak terlalu kuat itu-pun dengan cepat dapat dipecahkan, sehingga pasukan Pangeran Singa Narpada-pun telah menghambur memasuki padukuhan itu.
Meskipun didalam pintu gerbang itu telah menunggu pasukan Pangeran Kuda Permati, namun agaknya arus yang kuat, bagaikan banjir bandang yang telah berhasil memecahkan bendungan itu tidak dapat ditahan sama sekali. Arus itu mendesak meluap memasuki jalan-jalan dan halaman-halaman didalam padukuhan.
Dengan demikian, maka pertempuran-pun segera telah menebar di seluruh padukuhan. Sementara itu, sebagian dari pasukan Kediri yang tidak sabar menunggu kesempatan memasuki padukuhan lewat pintu gerbang, telah memanjat dinding dan berloncatan masuk.
Karena itulah, maka pertempuran telah terjadi disegala sudut. Bagaikan luapan air yang mengalir kesegala penjuru.
Namun pasukan Kediri memang lebih banyak. Ketika semua kekuatan yang ada di padukuhan itu telah dikerahkan, maka masih ada sebagian dari pasukan Kediri yang belum sempat memasuki pintu gerbang.
Karena itu, maka pertempuran yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang berat sebelah. Pasukan Kediri benar-benar bagaikan banjir bandang yang tidak tertahankan.
Meskipun demikian, namun para pengikut Pangeran Kuda Permati telah bertempur dengan gagah berani. Justru karena mereka merasa bahwa mereka tidak akan mampu mengimbangi kekuatan lawan, maka dengan putus asa mereka telah bertempur tanpa pengendalian diri sama sekali.
Sebenarnyalah seperti yang sudah diduga. Kematian dan kematian yang tidak terelakkan sudah terjadi di padukuhan itu. Bukan saja para pengikut Pangeran Kuda Permati, tetapi juga para prajurit Kediri.
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada sendiri telah mengamuk bagaikan seekor singa yang terluka. Menurut pengertiannya, kepergian Purnadewi menemui suaminya, tidak akan ada gunanya sama sekali. Bahkan Pangeran Kuda Permati justru telah menjadi semakin ganas dengan serangan-serangannya di sisi Barat perbatasan Kota Raja Kediri. Karena itu, maka agaknya tidak ada lagi jalan laran daripada menghancurkan sama sekali kekuatan Pangeran Kuda Permati.
Meskipun Pangeran Singa Narpada menyadari, bahwa yang ada di padukuhan itu sebenarnya bukan pasukan induk Pangeran Kuda Permati, tetapi sepasukan pengawal yang kuat yang melindungi Pangeran Kuda Permati dan isterinya, puteri Purnadewi.
“Jika aku dapat menangkap hidup atau mati Pangeran Kuda Permati, maka semuanya tentu akan berubah. Tanpa Pangeran Kuda Permati, maka tidak akan ada lagi sandaran perjuangan para pengikutnya, sehingga kekuatan mereka akan dengan mudah dipatahkan,” berkata Pangeran Singa Narpada didalam hatinya.
Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada-pun tidak lagi mengekang pasukannya. Ia sudah berusaha dengan segala cara untuk menyelesaikan perang itu dengan korban yang sekecil-kecilnya. Tetapi usahanya itu agaknya sia-sia saja.
Ternyata bahwa Pangeran Singa Narpada adalah seorang Senapati yang memiliki kemampuan yang jarang ada duanya. Tanpa dapat ditahan lagi, maka Pangeran Singa Narpada telah bergerak menuju ke rumah yang telah diisyaratkan oleh pasukan sandinya. Meskipun tidak pasti, tetapi menurut perhitungan, rumah yang paling kuat mendapatkan penjagaan tentu rumah yang dipergunakan oleh Pangeran Kuda Permati.
Para pengawalnyalah yang dengan susah payah harus menyesuaikan diri. Mereka-pun harus berusaha dengan segenap kemampuan untuk ikut menusuk memasuki daerah pertahanan yang berlapis-lapis dari pasukan Pangeran Kuda Permati.
Namun pasukan yang berlapis itu tidak mampu membendung arus prahara yang melanda mereka. Kekuatan Pangeran Singa Narpada dan kekuatannya benar-benar tidak tertahankan.
Betapa-pun para pengikut Pangeran Kuda Permati berusaha namun akhirnya mereka-pun telah dibabat bagaikan batang ilalang, sehingga akhirnya Pangerah Singa Narpada-pun berhasil mencapai tangga rumah yang diperkirakan menjadi tempat tinggal Pangeran Kuda Permati.
Dengan senjata teracu, maka Pangeran Singa Narpada itu-pun kemudian telah berusaha untuk memasuki pringgitan rumah itu. Perlahan-lahan dengan tangan kirinya Pangeran Singa Narpada mendorong pintu yang tidak diselarak itu. Namun ketika pintu terbuka, ia tidak melihat seorang-pun didalam ruangan itu.
Beberapa orang pengawalnya telah menyusulnya. Seorang perwira yang mengenal benar-benar watak Pangeran Singa Narpada memperingatkan, “berhati-hatilah Pangeran. Pangeran tentu tahu, bahwa Pangeran Kuda Permati seorang yang memiliki kemampuan yang sulit dicari bandingnya.”
“Kau anggap aku tidak dapat mengimbangi kemampuannya?” geram Pengeran Singa Narpada.
“Tidak, Pangeran. Tetapi Pangeran Kuda Permati mempunyai kelebihan dari Pangeran Singa Narpada,” jawab perwira itu.
“Persetan. Apalagi kelebihannya?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Kelicikannya,” jawab Perwira itu.
“Gila,” sahut Pangeran Singa Narpada, “Aku bukan anak-anak yang dapat dikelabuinya.”
Perwira itu tidak menjawab lagi. Tetapi diikutinya Pangeran Singa Narpada yang memasuki ruang tengah yang kosong.
Namun tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Ia melihat bayang-bayang didalam sebuah bilik salah satu dari tiga bilik di ruang dalam. Justru bilik yang paling tengah.
“Aku melihat ada seseorang disenthong tengah,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Para Pengawalnya-pun menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya serentak mereka mengacukan senjata mereka ketika mereka melihat seseorang membuka tirai pintu bilik itu dan melangkah keluar. Seseorang yang tidak bersenjata sama sekali.
“Marilah Pangeran. Silahlan masuk ke senthong tengah,” orang itu mempersilahkan.
Pangeran Singa Narpada ragu-ragu, sementara perwira pengawalnya berdiri lekat di sisinya sambil berbisik, “jangan.”
Tetapi orang itu menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Pangeran akan melihat akhir dari semua pembantaian yang telah terjadi.”
“Apa yang terjadi?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
Orang itu membuka tirai itu selebar-lebarnya. Ada tiga orang lainnya didalam bilik itu. Mereka semuanya telah melangkah keluar tanpa memegang senjata apa-pun juga.
Beberapa orang pengawal telah berdiri di belakang keempat orang itu dengan senjata teracu, sementara Pangeran Singa Narpada dengan beberapa pengawalnya yang lain telah mendekati pintu.
“Lihat, apa yang ada didalam,” perintah Pangeran Singa Narpada.
Seorang diantara pengawalnya-pun telah melangkah dengan hati-hati. Dengan senjata teracu pengawal itu melangkah memasuki senthong tengah itu dengan sangat berhati-hati.
Namun ketika tubuhnya hilang ditelan pintu, maka ia-pun telah berdiri tegak dengan tegang. Bahkan kemudian ia-pun melangkah keluar dengan wajah gelisah.
Pangeran Singa Narpada heran melihat sikap pengawalnya itu. Tanpa mengatakan sesuatu ia-pun telah melangkah ke pintu. Beberapa saat itu termangu-mangu. Namun ia-pun telah melangkah masuk.
Ketika dilihatnya pembaringan yang ada didalam bilik itu, maka Pangeran Singa Narpada-pun terkejut bukan buatan. Ia melihat dua sosok mayat yang terbaring berjajar dengan darah yang sudah membeku.
“Adimas Kuda Permati,” desis Pangeran Singa Narpada, “Diajeng Purnadewi.”
Sesaat Pangeran Singa Narpada berdiri tegak mematung. Namun dalam pada itu, seorang perwira pengikut Pangeran Kuda Permati mendekatinya sambil berkata, “Sebagaimana Pangeran lihat, keduanya telah meninggal.”
Suasana menjadi hening. Para pengawal Pangeran Singa Narpada sama sekali tidak mencegah ketika salah seorang pengawal Pangeran Kuda Permati itu masuk kedalam bilik itu dan berbicara kepada Pangeran Singa Narpada.
Dengan wajah yang tegang Pangeran Singa Narpada bertanya, “Apa yang telah terjadi. Siapkah yang telah membunuh mereka berdua?”
Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Pangeran. Kami mohon maaf, bahwa hal ini terjadi tanpa dapat dicegah oleh seorang-pun. Ternyata bahwa puteri Purnadewi telah mengambil satu langkah yang sama sekali tidak terduga. Puteri Purnadewi telah membunuh Pangeran Kuda Permati, namun kemudian puteri Purnadewi telah membunuh dirinya sendiri. Namun sebelumnya puteri Purnadewi sempat memanggil aku yang bertugas di serambi rumah ini dan menyaksikan saat terakhir puteri Purnadewi.”
Wajah Pangeran Singa Narpada menjadi semakin tegang. Dengan nada sendat ia bertanya, “Kenapa Purnadewi berbuat demikian?”
“Puteri telah berpesan kepadaku pada saat terakhir agar aku menyampaikan pesan ini kepada seseorang yang akan dapat menyampaikan kepada Pangeran Singa Narpada. Ternyata bahwa aku telah bertemu sendiri dengan Pangeran, sehingga aku akan dapat menyampaikan pesan ini langsung.”
“Bagaimana bunyi pesan itu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Puteri berusaha untuk menjelaskan semua masalah kepada Pangeran Kuda Permati. Tetapi usaha itu sia-sia. Karena puteri sendiri kemudian yakin akan kebenaran sikap Pangeran Singa Narpada, maka ia telah mengambil satu keputusan. Bukan karena tekanan paksaan Pangeran Singa Narpada, tetapi karena keyakinan puteri sendiri. Karena itulah, maka akhirnya puteri telah mengambil langkah demikian.”
Pangeran Singa Narpada tercenung sejenak. Pesan itu benar-benar telah mengguncang perasaannya. Karena itu, maka untuk beberapa saat ia tidak dapat mengucapkan kata-kata.
Sementara itu, perwira itu-pun berkata, “Pangeran, sebenarnyalah puteri Purnadewi sangat mencintai Pangeran Kuda Permati. Puteri telah menghunjamkan keris pusaka Pangeran Kuda Permati sambil menangisinya. Namun kemudian puteri telah melakukannya pula atas dirinya sendiri. Agaknya puteri benar-benar telah menemukan satu keyakinan, bahwa perjuangan Pangeran Kuda Permati sekedar menimbulkan malapetaka dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Tetapi karena usahanya untuk meyakinkan Pangeran Kuda Permati tidak berhasil, maka puteri telah mengambil jalan sendiri. Ia telah mengorbankan suaminya dan dirinya sendiri bagi satu keyakinan yang kemudian dipegangnya sebagai satu kebenaran.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Beberapa langkah ia bergeser. Ia melihat luka di dada Pangeran Kuda Permati dan juga di dada puteri Purnadewi.
“Kenapa kau tidak mencegah puteri membunuh diri?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Aku tidak sempat melakukannya. Demikian puteri mengakhiri pesannya, maka ia-pun dengan serta merta telah menusuk ke arah jantungnya sendiri. Aku memang berusaha. Tetapi ketika aku melompat untuk menggapai keris itu, ternyata aku telah terlambat. Keris itu telah menyentuh jantung puteri Purnadewi. Aku hanya sempat menangkap ketika puteri akan jatuh dan kemudian membaringkannya di pembaringan, disini Pangeran Kuda Permati. Agaknya puteri telah menusuk Pangeran Kuda Permati disaat sedang tidur lelap, sehingga ia hanya bergeser sedikit saja dari letak tidurnya semula,” berkata perwira itu.
“Luar biasa,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Keyakinan itu benar-benar telah mencengkam jantung Diajeng Purnadewi, sehingga ia dapat melakukan semua itu. Kayakinannya telah memberikan kepadanya kekuatan yang luar biasa, sehingga ia dapat menentukan satu sikap yang sulit dapat dimengerti.”
“Ya Pangeran. Tetapi semua itu telah terjadi,” jawab perwira itu, “Namun demikian, ternyata bahwa di padukuhan ini masih terjadi pembantaian yang sama sekali tidak terkendali. Meskipun puteri Purnadewi telah mengorbankan dirinya namun hasilnya agaknya sia-sia.”
“Tidak,” jawab Pangeran Singa Narpada, “hasilnya tentu bukan kesia-siaan. Mungkin saat ini belum. Tetapi pembantaian kali ini adalah pembantaian yang mudah-mudahan yang terakhir kalinya.”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar