Minggu, 27 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 017-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-017-01*

“Segalanya terserah kepada tuan” kata bebahu. Lalu, “namun demikian, kalau diperlukan, maka kami puntidak hanya akan melihat apa yang telah terjadi. Kadang-kadang seorang penakut sekalipun akan berani mencucurkan darahnya bila ia terjepit pada satu keadaan yang tak mungkin dihindari lagi. Ketakutan yang satu akan mendorongnya untuk melawan ketakutan yang lain. Kecemasan kami menghadapi hari-hari esok bagi anak cucu kami akan dapat menyingkirkan ketakutan kami menghadapi tantangan apa pun juga sekarang ini, termasuk orang-orang yang merampas milik kami itu”

“Panji Sempono Murti menarik nafas dalam-dalam. Hatinya tersentuh mendengar kata-kata bebahu itu, yang membicarakan dengan sepenuh hati. Panji Sempono Murti mengerti bahwa bebahu itu mengatakan sebagaimana tersirat dalam hati rakyat. Kabuyutan yang merasa tidak berpelindungan.

Karena itu, maka Panji Sempana Murti itu punberkata, “Baiklah. Aku akan mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan dapat aku ambil”

“Tetapi keadaan sudah menjadi semakin buruk” berkata bebahu itu.

“Ya. Aku mengerti. Tetapi kau lihat, betapa malasnya para prajurit itu sekarang. Pada masa-masa yang tidak dapat dibaca dengan tegas. Lngkah-langkah yang simpang siur, membuat para prajurit sulit untuk menentukan langkah. Mungkin aku sudah mengungkapkan satu rahasia yang tidak sebaiknya diketahui oleh orang lain. Tetapi kalian telah terlibat ke dalam satu persoalan yang harus aku tanggapi dengan sungguh-sungguh dan sebaiknya kalian pun mengetahui keadaan kami yang sebenarnya” berkata Panji Sempana Murti.

Kedua orang bebahu itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka memang sudah menduga, bahwa ada kekaburan sikap dari para pemimpin di Kediri. Tetapi itu bukan berarti bahwa kesewenang-wenangan dapat dibiarkan terjadi.

Namun dalam pada itu, Panji Sempana Murti seakan-akan dapat melihat isi jantung kedua bebahu itu. Karena itu, mana Katanya kemudian, “Tetapi aku tidak ingkar akan tanggung jawab. Aku akan menghadapi persoalan yang terjadi sebagai satu persoalan keja. hatan. Aku tidak akan melihat dari segi kepentingan orang-orang yang mengambil kuda itu serta keinginan mereka mendapat dukungan. Tetapi aku akan melihat persoalannya dari segi perampasan hak atas milik seseorang”

Kedua bebahu itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian keduanya mengangguk dalam-dalam. Salah seorang di antara mereka berkata, “Terima kasih tuan. Sikap tuan bagaikan sejuknya embun dalam panasnya udara yang membakar. Kami menunggu perintah tuan. Apa yang harus kami lakukan. Kami akan melakukan demi hari depan Kabuyutannya.

“Baiklah. Aku akan memberitahukan perkembangan sikapnya kepada kalian” jawab Panji Sempana Murti.

Kedua bebahu itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Tuan. Besok satu lagi anak Kabuyutan kami akan menangis karena kudanya akan diambil oleh orang-orang yang sewenang-wenang, tetapi tidak dapat kami lawan dengan kekuatan kami sendiri”

Panji Sempana Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi kalian perlukan datang menemui aku malam ini karena kalia tidak ingin melihat anak kalian yang seorang ini menangis sebagaimana yang pernah terjadi”

“Ya tuan. Kami tidak ingin satu lagi anak kami menangis” jawab bebahu itu.

“Baiklah. Besok aku akan datang kepada Ki Buyut” jawab Panji Sempana Murti.

“kami akan menunggu kehadiran tuan. Tetapi kami tidak tahu, kapan kuda itu akan mereka ambil. Mungkin demikian matahari terbit, mereka sudah datang. Tetapi mungkin agak siang atau bahkan sore” berkata bebahu itu

“Baiklah. Pulanglah. Aku akan membuat perhitungan-perhitungan” jawab Panji Sempana Murti.

Kedua orang bebahu itu mengangguk-angguk. Kemudian mereka pun mohon diri untuk kembali. Seorang di antara mereka berkata, “Sikap tuan menumbuhkan pengharapan di hati kami”

“Aku akan mencoba bahwa harapan kalian tidak akan sia-sia. Besok aku akan datang, meskipun mungkin yang terjadi belum seperti yang kalian harapkan” jawab Panji Sempana Murti.

Demkianlah, maka kedua orang bebahu itu pun segera meninggalkan rumah yang dipergunakan oleh Panji Sempana Murti. Di regol yang pecah ia melihat para prajurit bersiaga sepenuhnya. Namun kedua bebahu itu sama sekali tidak menyapa mereka, sebagaimana mereka masuk mengikuti Panji Sempana Murti.

Sejenak kemudian, maka kedua ekor kuda telah berpacu di bulak-bulak panjang. Malam menjadi semakin mendekati ujungnya, sehingga langit pun telah menjadi kemerah-merahan.

Sementara itu. sepeninggal kedua orang bebahu itu, maka Panji Sempana Murti pun telah memanggil beberapa orang perwira bawahnnya. Ia tidak menunggu matahari terbit. Ia memanggil mereka untuk segera datang.

“Sekarang” perintah Panji Sempana Murti dengan wajah garang.

Prajurit yang menerima perintah itu menjadi gemetar. Sudah lama ia tidak melihat wajah Paji Sempana Murti segarang wajahnya waktu itu.

Ketika beberapa orang perwira menerima perintah itu, maka mereka pun menggeliat sambil mengumpat. Salah seorang di antara mereka berkata, “Apakah Panji itu tidak dapat menunggu sampai esok?”

“Aku melihat sorot matanya menyala seperti bara” jawab prajurit yang menerima perintah.

“Ah, kau memang pengecut. Katakan, kami akan menghadap pada saat matahari terbit” jawab perwira itu.

“Aku tidak berani. Aku melihat sikapnya seperti sikapnya beberapa saat yang lalu” jawab pra jurit yang menerima perintah.

Perwira itu masih akan menjawab. Namun tiba-tiba mereka mendengar isyarat yang memekakkan telinga. Kentongan di regol telah di pukul dalam nada titir.

“Gila” geram perwira itu.

“Itulah sikapnya sekarang” jawab prajurit itu, “sejak dua orang bebahu dari Kabuyutan datang menghadapnya”

Perwira itu mengumpat. Namun yang mereka dengar kemudian bukan saja kentongan dalam nada titir, tetapi sejenak kemudian mereka mendengar sasangkala yang ditiup oleh seseorang di tangga pendapa.

“Panji sendirilah yang meniup” desis prajurit yang memanggil para perwira itu, “Aku melihat sendiri, ia memang membawa sangkakala”

Para perwira itu tidak dapat menunda lagi. Agaknya sikap Panji Sempana Murti memang sudah berubah. Karena itu, maka mereka pun dengan tergesa-gesa telah mempersiapkan diri. Sambil menyambar senjata masing-masing, maka mereka pun berlari-lari menuju ke halaman depan.

Para perwira itu memang melihat Panji Sempana Murti sendirilah yang membunyikan sangkakala itu. Ketika ia melihat beberapa orang perwira datang menghadap , maka ia pun berkata pendek, “Siapkan pasukan kalian masing-masing. Sekarang. Kita akan segera berangkat. Berkuda”

Ketika seorang perwira bertanya, maka segera Panji Sempana Murti memotong sebelum perwira itu mengucapkan satu kata penuh, “Kalian harus bersiap sekarang. Tidak ada pertanyaan”

Para perwira itu pun terdiam. Wajah, sikap dan kata-kata Panji Sempana Murti telah menunjukkan, bahwa ia telah menemukan kembali pribadinya yang selama ini seakan-akan telah hilang.

Karena itu, maka tidak seorang pun di antara para perwira itu yang bertanya dan apalagi membantah. Mereka pun kemudian sibuk mengumpulkan pasukan mereka masing-masing, yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak.

Sejenak kemudian, pasukan Kediri itu telah siap di bawah pimpinan langsung Panji Sempana Murti sendiri. Mereka membawa panji-panji dan tunggul kebesaran Panglima daerah perbatasan disisi Utara itu.

Panji Sempana Murti sama sekali tidak mengatakan, mereka akan pergi kemana. Tetapi semua orang di dalam pasukannya sudah mengira, bahwa mereka akan pergi ke Kabuyutan, setelah dua orang bebahu dari kabuyutan itu datang menghadap.

Para prajurit Kediri itu menjadi berdebar-debar. Mereka sadar, apa yang mungkin akan terjadi, karena mereka tahu, bahwa Pangeran Kuda Permati telah bergeser dari kedudukannya dan berada disebelah Utara Kota.

“Kemungkinan untuk berbenturan dengan kekuatan Pangeran Kuda Permati agaknya memang tidak dapat dihindarkan lagi” berkata salah seorang perwira.

“Tetapi ini adalah sikap gila Panji Sempana Murti. Jika ia berada melawan Pangeran Kuda Permati, maka ia akan ditangkap oleh Sri Baginda sebagaimana terjadi atas Pangeran Singa Narpada yang telah membawa adiknya sebagai tawanan”

“Tetapi Pangeran Lembu Sabdata itu pun masih tetap ditahan sampai saat ini” berkata perwira yang pertama.

Kawannya tidak menjawab. Mereka mengikuti saja perjalanan Panji Sempana Murti yang berkuda di paling depan. Dibelakangnya adalah dua orang Senapati pengapitnya. Kemudian seorang prajurit yang membawa tunggul kebesaran, diikuti oleh dua orang prajurit yang lain yang membawa panji-panji dan di belakangnya lagi adalah Kelebet pertanda pasukan yang dipimpin oleh Panji Sempana Murti itu. Baru kemudian para pengawal berkuda dengan senjata masing-masing di belakangnya.

Ternyata sikap Panji Sempana Murti itu telah berpengaruh pula pada sikap para pengawal Kediri di bawah pimpinannya. Mereka menyadari bahwa sebenarnyalah mereka seorang prajurit. Apalagi mereka yang malam itu bertugas di regol. Mereka bagaikan terbangun dari mimpi yang memabukkan. Demikian mereka diganti, demikian mereka telah ikut menyiapkan diri bersama seluruh pasukan.

“Aku tidak mempergunakan kesempatan beristirahat setelah bertugas malam” berkata salah seorang di antara mereka, “Aku berharap agar karena ini, aku tidak mendapat hukuman karena sikapku semalam”

Ternyata beberapa orang kawannya mempunyai sikap serupa, sehingga karena itu, maka mereka telah ikut semuanya dalam iring-iringan itu.

Ketika kemudian fajar menyingsing, maka pasukan yang dibayangi oleh cahaya kemerah-merahan itu bagaikan munculnya seekor ular raksasa dengan sisik yang membara dari dalam gelapnya malam yang pekat. Jalan yang berkelok-kelok di tengah hijaunya tanaman di sawah, ditelusurinya perlahan-lahan. Pasukan itu memang tidak berpacu terlalu cepat. Tetapi justru dengan demikian pasukan itu menjadi bagaikan teguhnya tubuh seekor ular raksasa dengan sisik baja yang membara.

Tunggul, panji-panji dan kelebet pertanda kebesaran pasukan Panji Sempana Murti membuat iring-iringan itu semakin nampak berwibawa.

Beberapa orang petani yang bangun pagi-pagi dan turun ke sawah terkejut melihat iring-iringan itu. Sudah lama mereka tidak menyaksikan pasukan Panji Sempana Murti menyusuri jalan di Kabuyutan mereka dengan tanda-tanda kebesarannya.

Namun sementara itu, dua orang yang berada di pematang benar-benar terkejut melihat iring-iringan itu. Dua orang itu bukan petani yang sedang bekerja di sawah. Tetapi dua orang itu adalah dua orang pengamat dari para pengikut Pangeran Kuda Permati.

“Gila. Apakah Panji Sempana Murti sudah gila” geram salah seorang dari mereka.

“Ya” sahut kawannya, “ia hadir dalam kebesarannya. Apakah ini satu tantangan”

Yang lain tidak segera menjawab. Keduanya memandang iring-iringan itu dengan tanpa berkedip.

“Mereka menuju ke Kabuyutan” suara itu merendah.

“Kita harus segera melaporkan kepada Ki Lurah” geram yang lain.

“Ya. Laporan ini harus segera sampai kepada Pangeran Kuda Permati” sahut kawannya.

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun dengan tergesa-gesa kembali ke tempat mereka tinggal selama pasukan Pangeran Kuda Permati bergeser keperbatasan.

Dalam pada itu, pasukan Panji Sempana Murti yang tidak begitu besar itu berjalan terus. Mereka menyusuri jalan langsung menuju ke rumah Ki Buyut yang telah mengirimkan dua orang bebahunya untuk melaporkan persoalan Kabuyutannya kepada Panji Sempana Murti.

Ketika pasukan itu mendekati padukuhan induk Kabuyutan. maka padukuhan itu menjadi gempar. Beberapa orang petani yang melihat iring-iringan itu dengan tergesa-gesa telah melaporkannya kepada para bebahu yang segera menyampaikannya kepada Ki Buyut.

“Mereka benar-benar datang” desis kedua orang bebahu hampir bersamaan.

Namun yang seorang menyambung, “Tetapi menurut perhitunganku tidak akan secepat ini”

“Panji Sempana Murti tidak mau tenggelam kedalam kemalasan yang berlarut-larut. Ia agaknya merasa perlu untuk bangkit sebagai seorang Panglima di daerah perbatasan disisi Utara ini” sahut yang lain.

Demikianlah, maka sejenak kemudian-iring-iringan itu sudah memasuki padukuhan induk dan langsung menuju ke Kabuyutan.

Ki Buyut dan para bebahu memang menjadi sibuk. Tetapi Panji Sempana Murti yang memasuki halaman rumah Ki Buyut membiarkan pasukannya tetap di punggung kuda. Sementara Panji Sempana Murti dan dua orang pengawalnya sajalah yang turun dan naik kependapa.

“Silahkan tuan” Ki Buyut mempersilahkan.

“Terima kasih Ki Buyut” berkata Panji Sempana Murti, “Aku tidak akan singgah terlalu lama. Aku akan membawa pasukanku berkeliling dari Kabuyutan ini ke Kabuyutan sebelah. Besok aku akan melanjutkan ke padukuhan dan padukuhan. Aku ingin memberitahukan kepada setiap orang, bahwa kekuasaan Kediri masih tegak di daerah ini”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya ia berkata, “Jika demikian, maka seluruh rakyat Kabuyutan ini pun akan segera bangkit pula”

“Tunjukkanlah kepadaku, dimanakah rumah anak-anak yang menangisi kudanya yang akan diambil oleh orang-orang yang tidak berhak itu” berkata Panji Sempana Murti.

“Marilah” berkata salah seorang bebahu yang telah menghadap Panji Sempana Murti, “Aku sudah mendapat keterangan dari dua orang peronda yang telah mengantarkan anak itu pulang semalam”

“Kami akan pergi ke padukuhan itu” desis Panji Sempana Murti.

Panji Sempana Murti memang ingin bergerak dengan cepat. Karena itu, maka sejenak kemudian iring-iringan itu sudah mulai bergerak lagi menuju kesebuah padukuhan kecil tempat anak yang menjadi sedih karena kudanya yang berwarna dawuk akan diambil oleh orang-orang yang tidak berwenang.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah melaporkan penglihatan dan pendengarannya semalam, telah mendapat persetujuan dari Pugutrawe untuk pergi ke padukuhan itu. Mereka diperkenankan untuk mengamati, apa yang akan terjadi.

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berada kembali di sekitar padukuhan itu ketika matahari mulai naik. Meskipun keduanya semalam suntuk seakan-akan tidak memejamkan matanya sama sekali, tetapi mereka dengan ketahanan tubuh yang sangat besar, telah melakukan tugas mereka tanpa merasa letih.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut ketika mereka melihat sebuah iring-iringan mendekati padukuhan itu. Bukan sekedar dua tiga orang atau sekelompok kecil datang untuk mengambil seekor kuda. Tetapi satu pasukan yang lengkap dengan tanda-tanda.

Tetapi, ternyata ada yang terlepas dari pengamatan Mahisa Murti. Justru pada saat itu, dua orang telah berada di kandang kuda yang berwarna Dawuk. Peristiwa semalam telah membuat orang-orang yang mengambil kuda dari padukuhan-padukuhan itu ingin bergerak cepat. Orang yang mengaku pedagang kuda itu membuat mereka bertindak lebih cepat dari yang biasa mereka lakukan. Pada saat matahari terbit, dua orang telah berada di rumah pemilik kuda berwarna dawuk itu.

Ketika dua orang itu melihat bahwa seekor kuda berwarna dawuk masih ada di kandang, maka keduanya hampir bersamaan telah menarik nafas. Seorang di antara mereka telah langsung pergi ke kandang. Sedang yang lain telah menemui pemiliknya.

“Kami datang untuk mengambil kuda itu” berkata orang yang langsung menemui pemilik kuda itu.

Pemilik kuda itu memang tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat menyerahkan kudanya dengan hati yang pahit.

Sementara itu, anak laki-lakinya pun telah berada di kandang pula. Ia tidak dapat menahan diri untuk tidak menitikkan mata. Kuda itu harus diserahkan.

Untunglah bahwa yang datang mengambil kuda itu bukan orang yang semalam bertemu dengan anak itu dan yang kemudian bertengkar dengan Mahisa Murti. Tetapi berdasarkan atas laporan orang-orang itu, maka keduanya datang lebih pagi untuk mengambil kuda yang mungkin akan jatuh ke tangan orang lain. Dan karena mereka datang lebih pagi dari yang diperhitungkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka kedua orang itu agaknya telah lepas dari pengamatannya pada saat keduanya itu datang.

Tetapi justru karena kedua orang itu datang terlalu pagi, maka telah terjadi yang tidak mereka duga sama sekali. Juga tidak terduga oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat Ketika kedua orang itu tengah sibuk menyiapkan kuda yang akan dibawanya, maka pasukan Panji Sempana Murti telah memasuki padukuhan itu.

Pada saat yang demikian kedua orang itu sibuk menyingkirkan anak yang berusaha untuk tidak terpisah dari kudanya.Ketika kuda itu sudah siap dibawa, anak itu masih memeluknya sambil menangis.

“Ambil anakmu” bentak salah seorang dari kedua orang yang mengambil kuda itu kepada pemiliknya.

Ayah anak itu berusaha untuk menenangkan anaknya. Dibimbingnya anaknya menjauhi kuda yang siap untuk dibawa itu sambil berkata, “Dawuk akan mengalami perlakuan yang jauh lebih baik daripada jika kuda itu masih ada bersama kita”

Anak itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak berusaha untuk menghalangi, karena ia sadar, jika ia mencoba untuk mempertahankan kudanya dengan cara apa pun juga, maka ayahnyalah yang akan mengalami kesulitan.

Namun dalam pada itu, ketika anak itu meninggalkan kudanya dan dibimbing olehi ayahnya ke tangga pendapa rumahnya, maka seisi padukuhan itu telah terkejut. Sebelum orang-orang itu menyadari apa yang terjadi, maka beberapa orang berkuda dari pasukan Panji Sempana Murti telah berada di muka regol halaman rumah yang kudanya sudah dituntun oleh dua orang yang akan mengambilnya. Namun demikian kedua orang itu meloncat ke punggung kudanya sendiri, maka mereka sudah kehilangan seluruh kesempatannya. Kedua orang itu tidak akan mungkin dapat keluar lagi dari halaman rumah itu.

“Gila” geram kedua orang itu.

Tetapi keduanya tidak lagi mampu berbuat sesuatu.

Pada saat yang demikian, laporan tentang kehadiran pasukan Panji Sempana Murti telah sampai pula kepada para pemimpin pengikut Pangeran Kuda Permati. Tetapi tidak seorang pun di antara mereka dapat mencegah apa yang akan terjadi atas kedua orang yang akan mengambil kuda itu.

Panji Sempana Murti sendirilah yang kemudian turun dari kudanya dan berjalan memasuki halaman, diikuti oleh seorang prajurit yang membawa tunggul kebesarannya. Sementara itu panji-panji dan kelebet masih berada di luar regol halaman.

Dua orang yang akan mengambil kuda itu menjadi berdebar-debar. Tetapi diluar kehendak mereka sendiri, maka mereka pun telah turun pula dari kuda mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” bertanya Panji Sempana Murti.

Kedua orang itu tidak akan dapat ingkar lagi. Karena itu, maka salah seorang di antara mereka menjawab sebagaimana mereka lakukan. Katanya, “Aku mengambil kuda penghuni rumah ini”

“Apa hakmu?” bertanya Panji Sempana Murti.

“Siapa kau?” seorang dari kedua orang itu bertanya meskipun ia melihat pertanda kebesaran dari Kediri.

“Aku Sempana Murti. Panglima daerah perbatasan Utara ini” jawab Panji Sempana Murti.

Kedua orang itu menjadi semakin gelisah. Namun ia mencoba untuk menyembunyikannya. Jawabnya, ”Kami adalah orang-orang yang mendapat kuasa dari Pangeran Kuda Permati. Karena itu apa yang kami lakukan, adalah ata kekuatan kuasa Pangeran KudaPermati itu.”

“Kau tahu, siapa Pangeran Kuda Permati?” bertanya Panji Sempana Murti.

“Aku tahu pasti” jawab salah seorang dari kedua orang itu, “Pangeran Kuda Permati adalah seorang Pangeran yang mendapat kuasa dari Sri Baginda untuk bergerak di luar dinding istana dan tidak mengatas namakan Kediri untuk menentang Singasari”

“Gila” geram Panji Sempana Murti, “akalmu sudah terbalik. Pangeran Kuda Permati adalah seorang pemberontak yang harus ditangkap”

Wajah orang itu menjadi merah. Hampir saja ia meloncat menyerang mendengar tuduhan itu. Tetapi ia harus menahan diri. Yang ada di luar regol adalah sepasukan prajurit Kediri.

Namun dalam pada itu, orang itu menjawab, “Mungkin kau tidak tahu kedudukan Pangeran Kuda Permati yang sebenarnya. Hanya orang-orang penting sajalah yang mendapat penjelasan, siapa sebenarnya orang-orang yang harus bergerak”

“Jika benar demikian maka kau adalah seorang yang paling dungu. Bahkan dapat dituduh seorang pengkhianat, karena kau sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya dirahasiakan” sahut Panji Sempana Murti.

Wajah orang itu yang sudah menjadi merah, menjadi semakin merah. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat berdiri gemetar menahan kemarahan yang menghentak-hentak didalam dadanya.

Dalam pada itu, maka Panji Sempana Murti pun berkata, “Karena itu, dengar perintahku. Lepaskan kuda itu dan kau menjadi tawananku”

Orang itu menggertakkan giginya, sementara kawannya termangu-mangu di sampingnya. Namun ia pun tidak bertindak sesuatu.

Sementara itu, agak jauh dari halaman rumah itu, beberapa orang memang ingin mengetahui apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak berani terlalu dekat. Jika terjadi sesuatu, maka penghuni padukuhan itu tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Namun dalam pada itu, berbaur dengan mereka adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena orang-orang itu memperhatikan halaman rumah itu dengan saksama, maka mereka tidak sempat menghiraukan siapa saja yang berdiri di antara mereka. Apalagi mereka berdiri berpencar di beberapa halaman rumah. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk dapat mengikuti peristiwa itu sebaik-baiknya.

Dengan sangat hati-hati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, berusaha mendekat, tetapi dari arah belakang rumah pemilik kuda itu. Demikian ada kesempatan, maka ke-duanya pun segera menyusup di longkangan, sementara pemilik rumah itu suami isteri dan anaknya berdiri gemetar di sisi pendapa.

Dari tempatnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kemudian mendengar Panji Sempana Murti berkata, “Jangan membantah dan jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakai dari kalian berdua”

Namun jawaban salah seorang dari kedua orang itu mengejutkan, “kami adalah utusan Pangeran Kuda Permati. Hanya Pangeran Kuda Permati sajalah yang dapat membatalkan tugas ini”

Wajah Panji Sempana Murti menegang sejenak. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “He, kelinci kecil. Kau mengemban tugas dari Pangeran Kuda Permati dan hanya Pangeran itu sajalah yang dapat membatalkan tugasmu? Tetapi coba katakan kepadaku, apakah kau sudah mengenal Pangeran Kuda Permati secara pribadi”

Kedua orang itu termangu-mangu. Tetapi salah seorang menjawab, “Buat apa aku harus mengenalnya secara pribadi. Dalam susunan tata keprajuritan, maka perintah dapat disampaikan menurut jalur yang seharusnya. Jika kau adalah Panji Sempana Murti, maka hal itu sudah kau ketahui”

“Bagus. Tetapi yakinkah bahwa yang kau dengar itu sebenarnya apa yang terjadi? Kedunguanmu dapat saja menyesatkanmu” jawab Panji Sempana Murti.

“Kau jangan menghina kami” berkata kedua prajurit itu, “sebenarnyalah kau akan menerima hukuman atas penghinaan itu dari Pangeran Kuda Permati”

“Aku tidak peduli dengan Pangeran Kuda Permati” jawab Panji Sempana Murti, “Aku justru akan menangkapnya”

Prajurit yang sedang mengambil kuda itu menggeram. Namun Panji Sempana Murti telah mendahului berkata, “Cepat. Menyerahlah. Kau tidak berhak mengambil milik rakyat kecil dengan sewenang-wenang. Karena itu maka kau harus aku tangkap”

Tetapi prajurit itu justru menjawab, “Kau jangan mengganggu tugasku. Tugas yang dibebankan oleh Pangeran Kuda Permati”

“Jadi inikah pekerjaan Pangeran Kuda Permati selama ini? Pekerjaan dari seseorang yang kau katakan menerima tugas dari Sri Baginda di Kediri? Merampas kuda dan menakut-nakuti orang?” bertanya Panji Sempana Murti.

Kedua orang prajurit itu benar-benar tidak dapat menahan kemarahan yang memuncak. Karena itu, maka katanya, “Pergi dari tempat ini, atau kalian akan disingkirkan oleh kekuatan Pangeran Kuda Permati”

“Gila” geram Panji Sempana Murti. Lalu katanya, “Akulah yang berkuasa di sini atas nama Sri Baginda, karena aku mendapat perintahnya langsung untuk menjabat sebagai Panglima di daerah perbatasan ini. Dengar, kalian berdua harus menyerah”

“Tidak mau” jawab keduanya hampir berbareng, “Aku hanya tunduk kepada Pangeran Kuda Permati”

Panji Sempana Murtilah yang kemudian kehilangan kesabarannya. Tiba-tiba saja ia menjatuhkan perintah kepada prajurit-prajuritnya, “Tangkap orang ini”

Beberapa orang prajurit yang mendengar perintah itu lelah memasuki regol. Namun dalam pada itu, kedua orang yang akan mengambil kuda itu pun telah menarik pedangnya.

Sikap itu ternyata sama sekali tidak menguntungkan keduanya. Ternyata Panji Sempana Murti tidak menunggu prajurit-prajuritnya bertindak. Demikian ia melihat kedua prajurit itu menarik senjatanya, maka Panji Sempana Murti sendirilah yang telah bertindak.

Dengan kecepatan yang tidak kasat mata, Panji Sempana Murti telah menarik pedangnya pula. Dalam waktu sekejap iaa sudah melihat kedua orang prajurit itu dalam satu perkelahian.

Sikap Panji Sempana Murti memang sangat mengejutkan. Kedua orang prajurit itu sama sekali tidak mengira bahwa Panji Sempana Murti sendiri akan menyerang mereka.

Namun sebenarnyalah bahwa Panji Sempana Murti adalah orang yang memiliki kemampuan jauh di atas kedua orang prajurit itu. Hanya dalam sekejap, maka pedang kedua mang prajurit itu sudah terlepas dari tangan mereka. Sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, maka ujung pedang Panji Sempana Murti telah melukai dada mereka bersilang. Keduanya dengan luka yang serupa.

Luka itu memang tidak dalam. Hanya tergores saja pada kulit kedua prajurit itu meskipun juga berdarah.

Sementara itu, ketika prajurit-prajurit Panji Sempana Murti siap menangkap mereka, maka Panji Sempana Murti «lu berkata, “Jangan sentuh mereka. Biarlah mereka kembali dengan luka itu di dadanya. Biarlah mereka melaporkan apa yang terjadi atas mereka Aku justru akan menitipkan satu tantangan buat Pangeran Kuda Permati. Aku Panji Sempana Murti, Panglima pasukan Kediri di daerah perbatasan Utara, minta agar Pangeran Kuda Permati menyerahkan diri untuk ditangkap dan dihadapkan kepada Sri Baginda”

Tantangan itu benar-benar menyakitkan hati. Tetapi kedua orang prajurit yang terluka di dadanya itu tidak dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu Panji Sempana Murti pun berkata kepada kedua orang prajurit itu, “Cepat. Aku persilahkan kalian pergi. Untuk sementara aku akan tetap berada di Kabuyutan ini. Aku ingin menunggu, apakah Pangeran Kuda Permati menanggapi tantanganku. Jika tidak, maka akulah yang akan pergi mencarinya. Tetapi aku merasa tidak dapat bertanya tentang Pangeran itu kepada kedua ekor tikus kecil ini. Mereka tidak akan tahu, dimana Pangeran itu tinggal. Bahkan mungkin kedua orang yang merasa membawa tugas dari Pangeran Kuda Permati ini belum pernah melihat wajah Pangeran itu”

Kedua orang prajurit itu menggeram. Tetapi mereka tidak mampu melawan kehendak Panji Sempana Murti. Karena itu, maka keduanya pun kemudian dengan wajah yang tegang dan dada yang berdarah meninggalkan halaman rumah itu.

Para prajurit Panji Sempana Murti memperlihatkan kedua orang yang meninggalkan halaman dengan penuh dendam. Dari sorot mata mereka terpencar kemarahan dan kebencian yang tiada taranya, sehingga para prajurit Panji Sempana Murti itu pun menjadi berdebar-debar karenanya. Mereka sadar, bahwa tindakan itu akan mengundang peristiwa yang sangat gawat di Kabuyutan itu.

Pangeran Kuda Permati akan dapat mengerahkan segenap kekuatan yang ada padanya untuk menggilas kekuatan Panji Sempana Murti yang memang tidak begitu besar.

Tetapi sebagaimana Panji Sempana Murti, maka mereka adalah prajurit. Apa pun yang terjadi, maka mereka harus berbuat sebagaimana seorang prajurit.

Sepeninggal kedua orang itu, maka Panji Sempana Murti pun melangkah mendekati pemilik kuda berwarna dawuk itu. Dengan nada yang berat ia berkata, “Ki Sanak. Hari ini kau tidak jadi kehilangan seekor kuda. Tetapi persoalannya tentu tidak akan berakhir hari ini. Persoalannnya memang tidak terbatas pada seekor kuda berwarna dawuk itu. Persoalannya hanya sekedar api yang menyalakan kebakaran yang akan menjadi semakin besar”

“Aku mohon maaf” berkata pemilik kuda itu, “Aku tidak bermaksud demikian”

“Memang bukan salahmu” berkata Panji Sempana Murti, “tetapi aku memang menganggap bahwa saatnya telah tiba. Mereka sudah terlalu banyak berbuat sewenang-wenang tanpa kesulitan apa pun juga. Sementara itu, kami pun sudah terlalu lama mengalami keragu-raguan. Tetapi sekarang segalanya sudah jelas bagi kami, pasukan Kediri didaerah Utara. Apa pun yang akan terjadi atas diri kami, namun tugas kami akan kami lakukan sebaik-baiknya”

“Terima kasih tuan. Hari ini kami masih diperkenankan memelihara kuda kami” berkata pemilik rumah itu.

“Ya. Hari ini. Aku tidak dapat mengatakan, apa yang akan terjadi besok. Tetapi kami, pasukan Kediri untuk sementara memang akan berada di Kabuyutan” berkata Panji Sempana Murti.

Pemilik kuda itu mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, kemungkinan yang lebih buruk memang dapat terjadi. Tetapi kemudian persoalannya memang sudah beralih. Persolannya akan menyangkut pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati.

Sejenak kemudian, maka Panji Sempana Murti itu pun meninggalkan padukuhan itu. Dengan pasukannya, Panji Sempana Murti telah menggugah kebanggaan rakyat padukuhan atas pasukan Kediri yang masih tetap nampak perkasa.

Dalam pada itu, sebagaimana dijanjikan, maka para bebahu Kabuyutan di perbatasan Utara itu tidak tinggal diam. Mereka pun telah melakukan usaha pula. Ketika Panji Sempana Murti telah berada di Kabuyutan, maka Ki Buyut telah memanggil semua bebahu, bukan saja bebahu Kabuyutan, tetapi semua bebahu padukuhan.

“Kita adalah rakyat Kediri” berkata Panji Sempana Murti kepada mereka. Lalu, “karena itu kita mempunyai hak dan kewajiban sebagai rakyat. Kita harus mempertahankan semua hak yang ada pada kita. Tetapi kita pun harus melakukan semua kewajiban kita. Dengan keseimbangan itu, kita berharap bahwa kita akan menemukan arti di dalam hidup kita selaku rakyat Kediri”

Para bebahu padukuhan yang berkumpul itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti apa yang dimaksud oleh Panji Sempana Murti. Dengan demikian maka mere-kapun tidak akan dapat berbuat lain apabila mereka kembali ke padukuhan masing-masing, untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

“Ki Sanak” berkata Panji Sempana Murti kemudian, “kembalilah ke padukuhan kalian. Siapkan semua laki-laki yang masih mampu memegang senjata. Siapkan pertanda isyarat. Jika terjadi sesuatu, kalian dapat membunyikan kentongan. Dalam waktu singkat, pasukan berkuda yang meskipun jumlahnya tidak begitu banyak akan segera datang membantu”

Para bebahu pun rasa-rasanya menjadi mantap. Mereka sudah melihat pasukan Panji Sempana Murti dengan tanda-tanda kebesarannya. meskipun jumlahnya tidak begitu banyak, tetapi pasukan itu nampaknya memang meyakinkan.

Karena itu, maka ketika mereka kemudian kembali ke padukuhan masing-masing, maka mereka pun segera mempersiapkan orang-orangnya. Setiap laki-laki di panggil untuk berkumpul. Mereka mendapat penjelasan dari para bebahu yang baru saja kembali dari Kabuyutan.

“Padukuhan ini milik kita bersama” berkata para bebahu, “Kita akan mempertahankannya. Dan mempertahankan milik kita itu merupakan kewajiban bagi kita sebagai imbangan atas hak kita itu”

Dengan demikian maka setiap laki-laki telah berusaha untuk mendapatkan jenis senjata apa pun yang akan dapat mereka pergunakan untuk mempertahanan hak mereka atas dasar kewajiban mereka. Di gardu-gardu, disetiap saat berjaga-jaga beberapa orang berganti-ganti. Hampir disetiap sudut rumah bergantung sebuah kantongan. Setiap padukuhan mempunyai tanda pukulan yang khusus, sehingt,a.jika kentongan di seluruh kabuyutan itu berbunyi, orang-orang Kabuyutan itu masih akan dapat mengenali sumber dari isyarat itu.

Dalam pada itu dirumah Pugutrawe, beberapa orang sedang duduk dalam suasana yang sungguh-sungguh. Pugutrawe yang sudah pulang dari warungnya itu telah mendengar semua yang telah terjadi di rumah orang yang memiliki kuda berwarna dawuk itu.

“Suasana akan menjadi panas” berkata Pugutrawe, “Panji Sempana Murti sudah kehilangan kesabaran. Nampaknya ia memang sudah menghubungi pimpinan pasukan Kediri, tetapi Panji Sempana Murti tidak pernah mendapat tambahan pasukan, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk bertindak dengan pasukan yang ada padanya”

“Panji Sempana Murti menyandarkan kekuatannya kepada rakyat” berkata Mahisa Murti, “menurut pendengaranku, rakyat telah dikumpulkan”

“Aku datang ke rumah bebahu padukuhan ini dan mendengarkan penjelasan itu jawab Pugutrawe, “memang ada beberapa kemungkinan dapat terjadi. Tetapi jalan yang diambil oleh Panji Sempana Murti adalah jalan yang terbaik, di padukuhan ini, kita pun harus ikut dalam kelompok-kelompok yang akan dibentuk. meskipun kita dikenal sebagai orang-orang yang menyelenggarakan sebuah warung, tetapi seperti juga para petani, peternak dan para pedagang terikat pada satu kewajiban”

“Kita semuanya akan terlibat kedalamnya?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya. Kita tidak akan dapat menghindar jika kita tidak ingin dicurigai” jawab Pugutrawe.

Watang Cemani dan Lembu Panegak pun mengangguk-angguk. Orang yang bertubuh raksasa itu pun harus ikut pula, meskipun sehari-hari ia dikenal sebagai salah seorang penebang kayu, pembantu pemilik warung yang bernama Pugutrawe.

Namun ikut dalam kelompok-kelompok itu ada juga untungnya. Tetapi dapat juga menimbulkan kesulitan. Jika mereka terikat pada kelompok-kelompok yang kemudian terbentuk, maka mereka tidak akan mendapatkan keleluasaan untuk melihat perkembangan keadaan secara menyeluruh.

“Kita akan mendapat akal pada saatnya” berkata Pugutrawe, “mungkin aku dapat mengatakan, bahwa seorang kemenakanku sudah terlanjur pergi ke pasar di saat-saat kita harus berkumpul, atau alasan-alasan yang lain yang akan dapat saja kita ketemukan”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sebagai penghuni sebuah padukuhan, meskipun mereka bukan penghuni yang berada di tempat itu sejak dilahirkan, namun mereka mempunyai kewajiban yang sama dengan penghuni-penghuni lainnya.

Dalam pada itu, para bebahu agaknya harus bekerja cepat menanggapi sikap Panji Sempana Murti. Panglima pasukan Kediri itu telah menentukan jangka waktu bagi pembentukan satu pasukan yang terbagi.

Ada beberapa kelompok harus dibentuk. Kelompok dari mereka yang memiliki kemampuan olah kanuragan, yang terdiri dari orang-orang yang memiliki ilmu seberapa pun tingkatnya. Mereka adalah bekas prajurit, pedagang yang sering berkeliling sehingga terpaksa mempelajari ilmu kanuragan untuk mengelilingi dirinya serta anak-anak muda yang berlatih bagi kepentingan-kepentingan yang lain. Kemudian kelompok dari mereka yang meskipun tidak memiliki kemampuan, oleh kanuragan, namun memiliki keberanian yang tinggi dan tenaga yang kuat. Mereka adalah anak-anak muda, para petani dan para pekerja, sedangkan kelompok yang lain adalah mereka yang merasa dirinya wajib melakukan kewajiban, namun tidak memiliki kekuatan sebagaimana anak-anak muda. Mereka adalah laki-laki yang pada umumnya sudah menginjak separo baya, tetapi masih nampak sehat dan segar.

Dengan cepat, setiap padukuhan telah mempersiapkan kelompok-kelompok itu. Sementara Panji Sempana Murti menjanjikan untuk memberikan petunjuk-petunjuk lebih lanjut.

Dalam pada itu, Pugutrawe dan keluarganya yang cukup besar, karena mereka adalah para pembantu dalam usahanya menyelenggarakan warung makan, telah ikut pula masuk ke dalam kelompok-kelompok itu. Tetapi agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih muda termasuk dalam kelompok kedua. Kelompok anak-anak muda, meskipun dianggap tidak mempunyai kemampuan da1am olah kanuragan, tetapi mempunyai kekuatan yang lebih besar dari orang-orang tua.

Tetapi Dandang Panumping, Watang Cemani dan Lembu Panenggak dengan nama mereka yang lain berada dalam satu kelompok pula. Sedangkan penebang kayu yang bertubuh raksasa itu berada di dalam satu kelompok dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun dalam pada itu, yang terjadi ternyata di luar dugaan setiap orang. Kedua orang yang dilukai Panji Sempana Murti di rumah pemilik kuda dawuk itu benar-benar telah melaporkan kepada pimpinannya, apa yang telah terjadi atas dirinya. Ternyata laporan itu bergerak demikian cepat, sehingga dalam waktu yang pendek. Pangeran Kuda Perniati telah mendengarnya.

“Panji Sempana Murti telah menjadi gila” geram Pangeran Kuda Permati, “Aku harus membuat imbangan atas pameran kekuatan yang telah dilakukannya”

Sebenarnyalah Pangeran Kuda Permati telah membuat satu pangeram-eram. Adalah kebetulan sekali bahwa pangeram-eram itu terjadi di sebuah padukuhan yang dihuni oleh Pugutrawe.

Pada saat beberapa anak muda bertugas di gardu, termasuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, pada satu malam yang dibakar oleh udara yang panas, padukuhan itu telah dikejutkan oleh satu peristiwa yang tidak diduga-duga.

Tiba-tiba saja, tanpa diketahui asal usulnya, padukuhan itu telah penuh dengan prajurit. Bukan prajurit Panji Sempana Murti, tetapi prajurit yang lain.

Beberapa anak muda telah berloncatan turun dari gardu ketika beberapa orang melaporkannya. Tetapi mereka tidak menemukan kentongan di serambi gardu mereka. Seorang di antara mereka segera berlari kerumah terdekat. Tetapi di rumah itu pun tidak terdapat kentongan.

“Biasanya kentonganku tergantung disitu” berkata pemilik rumah itu.

Ternyata semua kentongan di padukuhan itu telah tidak ada di tempatnya.

Anak-anak muda dan laki-laki yang lebih tua, bahkan mereka yang termasuk kelompok satu tidak dapat berbuat apa-apa ketika mereka melihat sepasukan prajurit lewat dengan tanda-tanda kebesarannya. Prajurit berkuda yang cukup meyakinkan sebagaimana pasukan Panji Sempana Murti. Bahkan pasukan itu lebih banyak dari pasukan Panji Sempana Murti dengan pertanda kebesaran yang lebih meriah. Tunggul, umbul-umbul dan rontek serta beberapa macam kelebet.

Pasukan itu telah berhenti di banjar padukuhan. Dengan membunyikan sangkakala pasukan itu telah memanggil semua laki-laki yang ada di padukuhan itu.

“Panggil semua laki-laki” beberapa orang memberikan aba-aba di samping suara sangkakala, “kami ingin berbicara dengan kalian.

Beberapa kelompok laki-laki tidak dapat berbuat lain kecuali berkumpul di halaman banjar. Dalam cahaya obor, mereka melihat senjata yang berkilat-kilat memantulkan cahaya itu.

Dalam pada itu, ketika sebagian besar dari laki-laki sudah berkumpul termasuk Pugutrawe, Watang Cemani, Lembu Panenggak, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka seseorang telah naik tangga pendapa banjar. Dengan suara yang menggelegar orang itu memberikan beberapa penjelasan tentang sikap Pangeran Kuda Permati.

“Jadi orang itu bukan Pangeran itu sendiri” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk sambil berbisik, “Ya. Agaknya orang itu memang bukan Pangeran Kuda Permati.

Akhirnya orang itu berkata, “Panji Sempana Murti telah menantang kami. Dan kami malam ini ingin menunjukkan, bahwa kami tidak akan mengingkarinya. Kami telah menunjukkan kepada kalian kelebihan kami dari pasukan Panji Sempana Murti. Karena itu, terserah kepada kalian. Apakah kalian akan berpihak” kepada Panji Sempana Murti yang ingin mempertahankan perbudakan atas Kediri oleh Singasari, atau kalian akan berpihak kepada Pangeran Kuda Permati, yang akan menegakkan kuasa Kediri bahkan atas Singasari yang semula adalah sekedar sebuah Pakuwon, Tumapel”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...