*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 013-03*
“Baiklah Ki Waruju” berkata Mahisa Murti “kami akan membiasakannya berlari-lari ke lereng bukit itu setiap pagi dan sore. Kita akan mulai besok pagi”
“Apakah biasanya kau juga berbuat demikian?” bertanya Ki Waruju.
“Tidak selalu Ki Waruju” jawab Mahisa Murti “tetapi aku akan mulai acara itu sejak esok. Dan barangkali menarik juga untuk sekali-sekali menempuh jalur jalan yang lain. Kali ini pergi kelereng bukit, tetapi dihari lain pergi ke daerah rawa-rawa yang jarang dilalui orang itu”
Ki Waruju mengangguk-angguk. Bahkan iapun berkata “Dan pada saat yang lain, kau dapat saja berlari-lari menyusuri jalan dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang lain. Naik ke bukit padas yang gundul itu, sehingga dengan demikian kau akan dapat mengalihkan perhatian para pengawas, karena jika kalian pergi ke bukit gundul itu, kalian benar-benar tidak akan dapat berbuat apa-apa, selain latihan menempuh perjalanan yang terjal, sulit dan cukup jauh”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerti maksud Ki Waruju. Karena itu, maka merekapun mengangguk-angguk mengiakan.
Demikianlah, maka ketiga orang itupun lelah menemui para petugas sandi di rumah Ki Sanggarana itu untuk menyampaikan pikiran mereka tentang kemungkinan yang akan dapat mereka tempuh dalam usaha mereka untuk memasukkan orang-orang Singasari kedalam lingkungan Kabuyutan Talang Amba.
Para petugas sandi yang mendengarkan pendapat itupun mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya “Satu pikiran yang baik. Aku sependapat”
“Tetapi bagaimana mengatur dan mempersiapkan para prajurit Singasari di hutan, atau di rawa-rawa atau di-tempat lain yang tersembunyi untuk sedikit demi sedikit bergabung dengan anak-anak muda itu?“
“Kami akan mengatur. Seorang atau dua orang diantara kami akan keluar dari padukuhan ini setelah semua rencana kita susun dengan matang” berkata petugas-petugas sandi itu” Kita akan menentukan hari demi hari dengan arah yang sudah diperhitungkan. Kecuali jika karena satu dan lain hal yang tiba-tiba saja terjadi, sehingga terpaksa membatalkan rencana yang sudah tersusun. Dalam keadaan yang demikian seorang diantara kami akan memberitahukan kepada pasukan yang sudah siap ikut dalam lingkungan anak-anak muda Talang Amba untuk hari dan dari tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Bahkan dalam keadaan yang memaksa, pembatalan dapat saja terjadi tanpa pemberitahuan apapun juga”
Dengan demikian maka para petugas sandi dan para pemimpin dari Talang Amba itu telah menyusun rencana yang paling baik yang akan dapat mereka lakukan.
“Semakin cepat, semakin baik” berkata petugas sandi itu “tetapi tidak tergesa-gesa sehingga dapat menarik perhatian”
Ketika segala rencana itu telah masak, maka anak-anak muda Talang Amba telah mulai dengan rencana itu di keesokan harinya. Pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, maka anak-anak muda Talang Amba itu telah berlari-lari memanjat lereng bukit yang terjal. Tidak terlalu cepat, bahkan kadang-kadang mereka merayap mendaki dan kemudian turun lagi.
Hal seperti itu memang pernah dilakukan oleh anak-anak muda Talang Amba untuk melatih ketahanan tubuh dan ketrampilan. Sehingga karena itu, maka para peng-awaspun telah pernah melihat kegiatan yang demikian.
Karena itu, kegiatan itu tidak terlalu menarik bagi para pengawas. Apalagi anak-anak muda itu telah berputar dan kemudian memasuki daerah rawa-rawa. Para pemimpin di Talang Amba telah membekali anak-anak muda itu dengan obat-obat yang dapat menolong jika salah seorang diantara mereka mengalami kesulitan dengan ular-ular air. Sementara Ki Waruju, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak akan terganggu oleh jenis ular yang bagaimanapun juga. Bahkan akik dan gelang akar yang ada pada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan dapat membantu untuk mengobati orang-orang yang digigit ular sebagaimana yang dimiliki oleh Ki Waruju.
Di hari itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lelah membawa dua kelompok anak-anak muda di saat yang tidak bersamaan. Sekelompok di pagi hari dan sekelompok yang lain disore hari.
Sementara itu, dua orang petugas sandi yang ada di Talang Ambapun telah meninggalkan Kabuyutan itu dengan diam-diam. Mereka harus menyiapkan sepasukan prajurit Singasari di tempat-tempat yang sudah ditentukan di mulai sejak empat hari mendatang.
“Mudah-mudahan tidak terlambat” berkata Ki Sanggarana ketika ia melepas petugas sandi yang meninggalkan KabuyutanTalang Amba itu.
“Hari-hari itu adalah saat yang paling. cepat yang dapat kami tempuh” jawab petugas sandi itu ”tetapi hal itu akan lebih baik daripada kita harus menunggu kesempatan lain”
Demikianlah, masing-masing telah melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Sementara petugas sandi itu menghubungi pimpinan prajurit Singasari dalam rencana mereka menjebak seorang Pangeran Kediri yang telah melakukan perlawanan terhadap Singasari, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melakukan tugasnya pula. Memberikan latihan-latihan seperti yang biasanya dilakukan. Sementara itu, di pagi hari dan di sore hari ia telah membawa anak-anak itu berlari-lari di bukit atau ke daerah berawa-rawa. Mendaki lereng yang terjal dan kemudian menyeberangi daerah berlumpur yang ditumbuhi rerumputan liar dan batang-batang pandan eri.
Sebagaimana sudah diperhitungkan, maka para pengawas yang dikirim oleh Pangeran Lembu Sabdata telah melihat semuanya itu. Mereka melihat anak-anak muda Talang Amba berlatih keras, bahkan kadang-kadang agak berlebih-lebihan.
Seorang diantara para pengawas itu tersenyum sambil berkata “Orang-orang Talang Amba memang gila. Mereka mengira dengan memaksa diri akan dapat membentuk suatu pasukan yang kuat yang akan dapat melindungi Kabuyutannya dari kemungkinan buruk atas balas dendam orang-orang Kediri”
Kawannya tertawa. Katanya “Mereka mengira, bahwa orang-orang Kediri tidak lebih baik dari orang-orang Gagelang yang dungu.
“Kita masih harus membuat perhitungan jika kita ingin menghancurkan Gagelang, karena kekuatan pokok Gagelang adalah para pengawal yang terlatih baik disamping orang-orang baru yang ditempa siang dan malam” berkata orang yang pertama “tetapi orang-orang Gagelang memang menyatakan dirinya sebagai pengawal. Sedangkan anak-anak Talang Amba hanya mempergunakan waktu luangnya saja, karena mereka harus bekerja di sawah dan di ladang”
Keduanyapun tertawa. Bagi mereka, yang dilakukan oleh anak-anak muda Talang Amba itu adalah satu kesia-siaan belaka.
Namun salah seorang diantara keduanya kemudian berkata “Meskipun demikian, latihan-latihan itu tentu ada juga gunanya”
“Tentu” jawab kawannya “mereka akan dapat mempergunakan senjata meskipun baru pada tataran permulaan. Dan usaha mereka untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka dan ketrampilan serta keseimbangan itupun berguna pula. Tetapi tidak akan berarti dibandingkan dengan kemampuan seorang prajurit yang sebenarnya”
Yang lain mengangguk-angguk. Lalu katanya “Namun bagaimanapun juga kita harus mengawasi Kabuyutan itu. Kita tidak akan mengulangi kegagalan yang memalukan itu”
“Hal itu terjadi bukan saja atas kelebihan orang-orang Singasari yang berhasil menyusup. Tetapi juga karena pengkhianatan orang-orang Gagelang” berkata kawannya.
Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian menggeram “Tidak akan terjadi lagi sekarang dan nanti. Kita akan mengawasi semua jalan masuk. Kita tidak akan tertipu lagi dengan cara-cara orang-orang Singasari berpakaian seperti petani“
“Mereka tidak akan dapat lolos “ berkata kawannya “Jika orang Singasari ingin menjebak, maka yang datang tentu tidak hanya sepuluh. Dua puluh orang. Tetapi seratus atau dua ratus. Kita tidak akan terkelabui lagi”
Dengan demikian, maka latihan-latihan anak-anak muda Talang Amba itu tidak lagi sangat menarik perhatian orang-orang Kediri. Mereka menganggap latihan-latihan itu sebagai sesuatu yang dipaksakan. Namun bagaimanapun juga. peningkatan ilmu anak-anak muda Talang Amba tidak akan dapat terjadi dalam waktu dua tiga hari atau bahkan dua pekan.
Sementara itu. Pangeran Lembu Sabdatapun telah selesai dengan persiapannya. Atas bantuan beberapa orang saudaranya maka sepasukan prajurit Kediri telah dapat dikumpulkannya dengan diam-diam.
“Kita menunggu laporan dari Talang Amba” berkata Pangeran Sabdata.
Sebenarnyalah laporan dari Talang Amba telah memberikan petunjuk, bahwa Pangeran Lembu Sabdata dapat bergerak kapan saja. Tidak ada prajurit Singasari seorangpun yang berada di daerah Kabuyutan Talang Amba.
Tetapi pada saat yang demikian, maka diluar kemampuan pengamatan para pengawas di Kediri, anak-anak muda yang mengadakan latihan ketrampilan telah melakukan satu tugas yang menentukan.
Ketika pagi-pagi hari anak-anak muda itu berlari-lari mendaki tebing, maka lima orang telah menunggu mereka di tempat sepi yang telah ditentukan. Dalam pakaian sebagaimana kebanyakan dipakai oleh anak-anak muda Talang Amba, maka kelima orang itu telah memasuki barisan yang sedang berserakan mendaki tebing. Tanpa diketahui oleh seorangpun diluar barisan itu sendiri, bahwa jumlah anak-anak muda yang ada di dalam barisan itu telah bertambah.
Demikian pula ketika pasukan kecil anak-anak muda Talang Amba itu turun dengan nafas yang tersenggal senggal dan berlari dengan lelah memasuki padukuhan-padukuhan di Kabuyutan, tidak seorangpun yang sempat menjumlah anak-anak muda yang ada di dalam pasukan itu.
Hal yang sama telah diulang disore harinya. Di pagi berikutnya dan di hari hari mendatang sebagaimana telah direncanakan.
Namun sementara itu, pasukan Kediri dengan diam-diam dan sangat hati-hati telah mendekati Kabuyutan Talang Amba. Pangeran Lembu Sabdata tidak dapat melupakan seorang anak muda yang telah melawannya. Seorang yang bertempur dengan serunya melawan Akuwu Gagelang dan seorang anak muda yang lain yang memiliki ilmu yang tinggi.
Bagi Pangeran Lembu Sabdata, maka pekerjaannya kali ini merupakan pekerjaan yang tidak terlalu berat, karena ia hanya akan datang dan dengan mudahnya menghancurkan sebuah Kabuyutan untuk melepaskan sakit hatinya. la akan berbicara dengan dua orang anak muda dan seorang laki-laki yang mampu mengimbangi kemampuan Akuwu di Gagelang sebelum mereka juga akan dibinasakan. Ketiga orang itu harus melihat bagaimana Talang Amba dihancurkannya. Kemudian hutan di lereng bukit itupun akan menjadi lautan api sehingga dihari berikutnya lereng bukit itu akan tinggal abu yang hitam berserakan.
Sementara itu laporan dari pengawasnya memberikan isyarat bahwa semua rencana akan dapat dilakukan dengan aman. Tidak ada prajurit-prajurit Singasari atau Gagelang yang ada di Talang Amba yang akan dapat mengganggu pekerjaan para pengawal terpilih dari Kediri yang berhasil dipengaruhi oleh Pangeran lembu Sabdata dan saudara-saudaranya yang memihak sikap yang sama, meskipun kadang-kadang alasannya agak berbeda dan tujuannyapun berbeda pula.
Namun dalam pada itu, yang dilakukan oleh anak-anak muda Talang Ambapun tidak pula ada henti-hentinya. Kadang-kadang mereka berlari-lari ke bukit terjal, ke hutan di lereng bukit atau ke semak-semak di rawa-rawa. Namun setiap mereka kembali, maka jumlah mereka selalu bertambah tanpa diketahui oleh orang lain. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang yang memasuki Talang Amba dengan cara yang aneh itu semakin lama menjadi semakin banyak.
Tetapi jumlah itu tidak dapat bertambah dengan cepat, karena mereka harus menghindari kecurigaan para pengawas yang menurut perhitungan mereka pasti ada di sekitar Kabuyutan Talang Amba.
Sementara itu, ketika pasukan Kediri mulai bergerak, maka Pangeran Lembu Sabdatapun telah memerintahkan untuk mengamati daerah di sekitar Kabuyutan Talang Amba. Mungkin ada sepasukan yang kuat yang ada di daerah di sekitar Kabuyutan itu.
Dan perhitungan Pangeran Sabdatapun agaknya mendekati kebenaran. Para pengawasnya harus mengamati hutan di lereng bukit dan daerah yang berawa-rawa.
Namun ketika para pengawas itu mulai memperhatikan daerah itu. maka pasukan Singasari yang bersembunyi di hutan-hutan dan di rawa-rawa telah terhisap habis memasuki Kabuyutan Talang Amba.
Dalam pada itu, maka para prajurit Singasari yang sudah berada di Talang Ambapun berusaha untuk tidak menarik perhatian. Sebagian besar dari mereka berada di-rumah Ki Sanggarana, di rumah Ki Sendawa dan di banjar-banjar padukuhan. Namun dengan keras mereka berpesan kepada anak-anak muda agar kehadiran mereka tetap dirahasiakan. Bahkan sebagian dari orang-orang Talang Amba sendiri tidak tahu, bahwa ada sepasukan Singasari yang kuat berada di Kabuyutan mereka.
Ternyata anak-anak muda Talang Ambapun telah memegang rahasia itu sebaik-baiknya. Mereka sadar akan arti kehadiran pasukan itu. Singasari benar-benar ingin menjebak Pangeran dari Kediri yang telah menyusup ke Gagelang dan bahkan telah merencanakan penebangan hutan di lereng bukit dengan segala macam cara.
Yang kemudian dilihat oleh para pengawas adalah kesiagaan anak-anak muda Talang Amba. Menurut pengamatan mereka, jumlah anak-anak muda itu tidak berubah. Setiap kali para pengawas melihat anak-anak itu berlari-lari. Berlatih dan bersiaga sepenuhnya menghadapi segala keadaan.
Tetapi yang dilakukan oleh anak-anak muda Talang Amba itu sangat menggelikan bagi para pengawas. Para pengawas itu menganggap anak-anak muda Talang Amba menjadi tamak dan kehilangan penilaian atas diri mereka sendiri.
Sambil tertawa seorang pengawas berkata “Alangkah lucunya. Orang-orang Talang Amba itu menganggap diri mereka sebagai prajurit-prajurit yang akan mampu mempertahankan diri. Setiap malam mereka berada di gardu-gardu. Meronda mengelilingi setiap padukuhan. Sekali-kali berlatih perang di malam hari. Seolah-olah mereka akan mendapat wisuda menjadi prajurit-prajurit terpilih di Singasari”
“Kita akan menghentikan permainan yang memuakkan itu. Bukankah Pangeran Lembu Sabdata telah mulai bergerak?“ sahut kawannya.
Dalam waktu dua atau tiga hari lagi, mereka sudah akan berada di hutan itu: Mereka akan segera turun dan menghancurkan Kabuyutan ini. Dalam kesempatan yang lebih baik, maka Gagelanglah yang akan dihancurkan. Namun jika kita sudah dapat membakar hutan itu, maka rasa-rasanya kita sudah dapat menyelesaikan sebagian besar dari tugas-tugas kita” berkata orang yang pertama.
Kawannya mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa mereka sudah mulai jemu dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan di Talang Amba itu.
Demikianlah, maka dihari berikutnya mereka mendapat perintah untuk bersiap-siap sepenuhnya. Pasukan yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Lembu Sabdata benar-benar telah bergerak. Mereka akan berada dihutan di lereng bukit sebelum mereka akan turun menghancurkan Talang Amba.
Namun ternyata bahwa Singasari tidak sekedar menempatkan orang-orang di Talang Amba. Tetapi merekapun mempunyai kelengkapan pula dengan petugas-petugas sandi sebagaimana orang-orang Kediri. Karena itu ketika isyarat dari Kediri telah sampai kepada para petugas di Talang Amba, bahwa pasukan yang dipersiapkan untuk menghancurkan Talang Amba diduga sudah berangkat, maka Talang Ambapun benar-benar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Sementara itu, maka Singasari sengaja tidak mencegah pasukan itu di Kediri. Karena dengan demikian maka mereka tidak akan dapat melihat langsung di medan, siapakah diantara para Pangeran yang telah menyusun rencana perlawanan terhadap Singasari itu.
Dalam pada itu, kesiagaan di Talang Amba telah diatur sebaik-baiknya. Dengan sengaja Talang Amba tidak memberikah laporan kepada Gagelang, karena dengan demikian maka Pangeran Lembu Sabdata dapat mengurungkan niatnya apabila Gagelang mengirimkan bantuan ke Talang Amba.
Namun dalam pada itu. prajurit Singasari yang ada di Talang Amba telah membaur dengan anak-anak muda. Namun agar jumlah mereka tidak menumbuhkan kecurigaan, maka sebagian besar dari mereka tetap berada di banjar-banjar di rumah Ki Sanggarana dan di rumah Ki Sendawa. Sehingga dengan demikian maka yang nampak bersiaga diluar padukuhan, di jalan-jalan menuju ke padukuhan induk dan di pintu-pintu gerbang adalah anak-anak muda Talang Amba.
Pada saat-saat yang demikian, maka tiba-tiba saja seorang pencari kayu di lereng bukit, telah berlari-lari menuju ke padukuhan induk. Kayu bakar yang sudah di ikat dan tinggal membawanya pulang, telah ditinggalkannya.
“Ada apa Ki Tanu?” bertanya seorang anak muda yang berjaga-jaga di pintu gerbang.
“Aku akan menghadap Ki Sanggarana” jawab orang itu.
“Ya ada apa?“ desak anak muda itu.
Ki Tanu termangu-mangu. Lalu katanya “Ada yang akan aku laporkan”
“Ya, apa?“ desak anak muda itu ”Mungkin aku dapat membantu. Atau mungkin kau ingin langsung bertemu dengan Ki Sanggarana sendiri”
“Ya” jawab orang itu.
“Marilah. Aku akan mengantarmu” berkata anak muda itu.
Dengan demikian, maka. anak muda itupun telah membawa Ki Tanu ke rumah Ki Sanggarana. Anak muda itupun yakin, tentu ada sesuatu yang penting. Orang itu adalah orang tua yang sederhana dan tidak mempunyai banyak persoalan di dalam hidupnya. Karena itu, jika ia sudah dengan tergesa-gesa ingin berbicara langsung dengan Ki Sanggarana, maka masalahnya tentu masalah yang sangat menarik perhatiannya.
Dengan nafas terengah-engah maka orang itupun akhirnya berhasil menemui Ki Sanggarana yang untuk sementara telah memangku jabatan Buyut di Talang Amba. Orang itu termasuk salah seorang yang harus disingkirkan menurut keinginan Pangeran Lembu Sabdata.
“Ada ada Ki Tanu?” bertanya Ki Sanggarana.
“Ki Sanggarana” berkata Ki Tanu dengan gelisah “Aku baru saja turun dari bukit”
“O, begitu?” sahut Ki Sanggarana”
“Ya Ki Sanggarana “ nafas orang itu masih terengah-engah. Lalu katanya “Ketika aku selesai mencari kayu bakar dipinggir hutan di lereng bukit, maka aku telah melihat sebuah barisan di lereng bukit itu. Untuk beberapa saat, aku memperhatikan barisan itu dari balik pepohonan. Ternyata iring-iringan itu telah memasuki hutan itu pula. Karena itulah, maka aku telah melarikan diri tanpa membawa kayu hasil kerjaku yang sebenarnya sudah aku ikat dan siap aku bawa turun”
Ki Sanggarana mengerutkan keningnya. Dengan sungguh-sungguh ia bertanya “Apakah kau melihat ciri-ciri khusus dari iring-iringan itu?“
“Tidak Ki Sanggarana. Tetapi menurut penglihatanku yang kurang jelas, orang-orang di dalam iring-iringan itu semuanya membawa senjata” jawab Ki Tanu.
Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Karena ditempat itu hadir juga Ki Waruju maka iapun kemudian berkata kepadanya “Bagaimana menurut pendapat Ki Waruju?“
Ki Waruju mengangguk-angguk. Katanya “Apakah Ki Sanggarana menghubungkan hal itu dengan kemungkinan kehadiran orang-orang Kediri?“
“Ya” jawab Ki Sanggarana.
“Aku sependapat” jawab Ki Waruju.
Karena itulah, maka Ki Saggaranapun kemudian berkata “Ki Tanu, kami mengucapkan terima kasih atas keteranganmu. Karena itu, sekarang beristirahatlah. Keteranganmu penting sekali bagi kami. Kami akan membicarakannya”
Ki Tanupun kemudian minta diri. Namun ada semacam kebanggaan di dalam dirinya, bahwa ia telah berbuat sesuatu yang penting bagi Kabuyutannya.
Sementara itu, sepeninggal Ki Tanu, maka Ki Sanggaranapun telah mengumpulkan orang-orang yang dianggapnya penting bagi Kabuyutannya. Disamping Ki Waruju, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Ki Warujupun telah mengundang beberapa orang yang sebenarnya adalah Senopati dari Singasari.
Dengan jelas maka keterangan Ki Tanu itupun telah diulanginya. Sehingga dengan demikian, maka setiap orang yang mendengarnya akan memberikan tanggapan yang sama, bahwa yang datang itu adalah pengawal pilihan dari Kediri.
“Mulai hari ini, maka latihan-latihan kebukit itu akan dihentikan” berkata Ki Waruju “Karena hal itu akan sangat berbahaya. Meskipun kita sudah tidak lagi memancing prajurit-prajurit Singasari yang akan memasuki iring-iringan anak muda Talang Amba, namun jika anak-anak muda Talang Amba berpapasan dengan mereka, akibatnya akan dapat menjadi gawat bagi anak anak muda Talang Amba”
“Aku sependapat Ki Waruju. B,ahkan kita harus meningkatkan kesiagaan dan pengawasan. Kita harus mengamati semua jalan menuju ke Kabuyutan Talang Amba” sahut Ki Sanggarana.
“Serangan itu dapat datang setiap saat” berkata salah seorang dari prajurit Singasari”
Dengan demikian, maka kesiagaan Di Talang Ambapun menjadi semakin meningkat. Namun dengan demikian, maka hubungan Talang Amba dengan Kabuyutan disebelah menyebelah rasa-rasanya menjadi terhambat. Orang-orang Talang Amba memberikan alasan-alasan yang masuk akal, kenapa Talang Amba tidak lagi mengirimkan hasil buminya keluar dan seakan-akan Kabuyutan itu menjadi tertutup.
“Kami tidak dapat berterus terang” berkata Ki Sanggarana “Jika demikian, maka rasa-rasanya kami sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Karena itu, pengurangan pengiriman barang-barang keluar dan sebaliknya dilakukan sedikit demi sedikit”
“Ya” jawab Ki Sendawa “kami harus menjaga anggapan orang-orang Kediri, bahwa kami tidak tahu apa-apa sekarang ini. Yang kami lakukan adalah mempersiapkan diri. Latihan-latihan yang keras dan kesiagaan sepenuhnya. Namun jika orang-orang Kediri berpendapat, bahwa semuaa itu dilakukan oleh anak-anak muda Talang Amba sendiri, maka mereka tentu tidak akan mengurungkan niatnya”
Namun dalam pada itu, dihari berikutnya. Talang Amba telah dikejutkan oleh kehadiran ampat orang berkuda yang langsung memasuki Kabuyutan Talang Amba.
Di ujung lorong dan depan pintu gerbang, anak-anak muda yang sedang berjaga-jaga menghentikan keempat orang itu. Dengan ragu pemimpin anak-anak muda yang bertugas itupun bertanya “Siapakah Ki Sanak berempat ini. Nampaknya Ki Sanak bukan orang-orang yang sekedar lewat di Kabuyutan kami”
“Kami ingin bertemu dengan Ki Sanggarana, yang sekarang memangku jabatan Buyut di Talang Amba” jawab salah seorang dari keempat orang itu.
“Untuk apa?” bertanya anak muda yang sedang bertugas.
“Aku akan berbicara dengan Ki Sanggarana. Tidak dengan orang lain” jawab orang itu.
Anak muda yang sedang bertugas itu mengerutkan keningnya. Nampaknya orang itu memang terlalu sombong.
“Cepat. Antarkan kami atau kami akan pergi tanpa kalian” berkata orang berkuda itu.
Anak muda itu benar benar telah tersinggung Tetapi ia menyadari tugasnya. Karena itu, maka katanya “Kami akan mengantarkan kalian. Sikap kalian mencurigakan”
“Aku tidak peduli. Apakah aku kau anggap mencurigakan atau tidak. Cepat. Bawa kami kepada Ki Sanggarana. orang itu justru membentak.
Tetapi anak muda itu tidak mau merendahkan dirinya untuk dibentak-bentak, karena itu jawabnya “Kaulah yang harus menunggu kesempatan yang akan aku berikan. Bukan kami yang harus tunduk kepada perintahmu”
“Jangan sombong” anak muda orang berkuda itu mengeram “dengan demikian kalian akan dapat menyesal”
“Kami adalah pengawal Kabuyutan ini” jawab anak muda itu tidak kalah lantangnya”
Orang berkuda itu menjadi tegang. Namun kemudian katanya “Baiklah Tetapi bawa aku kepada Ki Sanggarana”
Anak muda itupun kemudian menunjuk beberapa orang kawannya bersama dirinya sendiri untuk mengantarkan keempat orang berkuda itu bukan ke rumah Ki Sanggarana. tetapi ke sebuah rumah lain yang cukup besar tidak jauh dari rumah Ki Sanggarana. sementara itu. seorang diantara anak-anak muda yang bertugas itu harus memberitahukan Ki Sanggarana dan sekaligus seorang yang lain lagi memberitahukan kepada pemilik rumah itu untuk meminjam rumahnya menerima empat orang tamu berkuda yang belum dikenal.
“Hati-hatilah” bisik anak muda itu ”kita memang harus berahasia dengan orang orang yang tidak kita kenal”
Demikianlah, maka anak muda itupun kemudian memperpanjang waktu dengan membagikan lugas-tugas yang sebenarnya tidak penting kepada kawan-kawannya. Dengan demikian maka ia telah memberi kesempatan kepada Ki Sanggarana untuk pergi ke rumah di sebelah rumahnya itu dan mengatur agar orang orang Singasari yang ada di rumahnya tidak berkeliaran. Sementara itu pemilik rumah itu sendiri tidak menjadi bingung atas kehadiran orang orang tanpa dimengerti persoalannya.
“Apakah kami harus menunggu tiga hari disini“ orang-orang berkuda itu akhirnya tidak sabar lagi.
“Baiklah” jawab anak muda itu “tetapi sebagaimana Ki Sanak mengetahui, kami tidak akan dapat meninggalkan gerbang ini begitu saja”
“Sudahlah” potong salah seorang dari keempat orang berkuda itu “jangan bicara saja”
Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ke mudian bersama dengan kawan-kawannya yang telah ditunjuknya iapun mengantarkan keempat orang berkuda itu untuk menemui Ki Sanggarana Karena anak-anak muda itu tidak berkuda, maka jarak yang tidak terlalu jauh itu telah mereka tempuh dalam waktu yang cukup menjemukan bagi keempat orang berkuda itu. Apalagi mereka masih harus melintasi bulak kecil untuk mencapai padukuhan induk, di mana Ki Sanggarana tinggal.
Demikianlah, akhirnya keempat orang berkuda itu telah dibawa memasuki sebuah halaman yang cukup luas. Di atas tangga pendapa seseorang telah menunggunya. Orang itu adalah Ki Sanggarana. Di belakangnya berdiri Ki Sendawa dan dua orang bebahu yang lain. melengkapi penerimaan mereka atas ampat orang berkuda yang tidak di kenal itu.
Namun dalam pada itu. baik anak-anak muda yang sedang bertugas, maupun Ki Sanggarana dan para bebahu telah menduga bahwa keempat orang itu tentu merupakan bagian dari orang-orang yang berada di lereng bukit.
Sejenak kemudian maka keempat orang itupun telah dipersilahkan duduk di pendapa “Setelah Ki Sanggarana mengucapkan basi-basi bertanya tentang keselamatan tamu-tamunya diperjalanan, maka kemudian iapun bertanya “Siapakah sebenarnya Ki Sanak berempat ini?“
Orang yang tertua diantara keempat orang itupun kemudian menyahut “Baiklah aku berterus-terang. Aku adalah utusan dari Kediri. Dengar baik-baik, bukan dari Singasari. Aku mendapat perintah untuk mengambil tiga orang pengkhianat yang ada di padukuhan ini. Kemudian dua orang yang telah menghembus-hembuskan nafas permusuhan dengan Kediri”
Ki Sanggarana mengerutkan keningnya. Namun ia memang menjadi berdebar-debar.
“Siapakah yang Ki Sanak maksudkan?” bertanya Ki Sanggarana.
“Tiga orang yang di saat-saat terakhir sibuk melatih anak-anak muda Talang Amba. Mereka tentu menyiapkan satu pasukan untuk melawan Kediri. Karena itu, serahkan ketiga orang itu. Kau tentu sudah tahu maksudnya. Kemudian yang dua orang lagi adalah Ki Sanggarana sendiri dan Ki Sendawa” jawab orang itu.
“Ki Sanak” jawab Ki Sanggarana “Yang kini memegang pemerintahan adalah Singasari. Meskipun Kediri masih tetap berwenang untuk mengurus dirinya sendiri, tetapi sejak semula kami berada dibawah pemerintahan Singasari. Karena itu, maka kami akan melakukan segala perintah dari Singasari. Bukan dari Kediri meskipun kami tidak memusuhi Kediri karena kami adalah satu keluarga yang besar yang diatur dengan paugeran-paugeran dibawah pengawasan Singasari”
“Jangan berpegang pada paugeran itu. Dengarlah. Sejak semula kami sudah tidak mau menganut paugeran itu, Kami tidak akan tunduk lagi kepada semua perintah Singasari, karena sebenarnya Kedirilah yang harus memerintah Singasari, sejak Singasari masih disebut Pakuwon Tumapel. Karena itu, jangan menyebut peraturan atau paugeran yang dibuat oleh Singasari karena kami tidak mengakuinya lagi” jawab orang tertua diantara empat orang itu.
“Ki Sanak membingungkan kami. Tetapi baiklah kami menentukan satu sikap. Kami tidak dapat menyerahkan orang-orang kami. Justru orang-orang kami yang terbaik, termasuk aku sendiri” berkata Ki Sanggarana kemudian.
“Ki Sanggarana” berkata orang itu “Jika kau menolak, maka kami akan menentukan langkah berikutnya Kami memang sudah menduga, bahwa kau menjadi sombong karena kau menganggap bahwa latihan-latihan itu meskipun keras dan tidak mengenal lelah tetapi baru dilakukan dalam waktu terlalu singkat itu tidak cukup untuk melindungi Kabuyutanmu ini”
“Ki Sanak salah mengerti” jawab Ki Sanggarana “kami sama sekali tidak ingin menyombongkan diri. Kami mengerti bahwa apa yang kami lakukan itu tidak berarti apa-apa. Kamipun menyadari sepenuhnya. Tetapi kamipun tidak akan berani melawan kuasa Singasari”
“Kalian hanya tinggal menyerahkan lima orang yang kami kehendaki Selanjutnya, terserah kepada kalian, apakah kalian akan tetap tunduk kepada Singasari atau bergabung bersama kami” berkata orang dari Kediri itu.
“Maaf Ki Sanak” jawab Ki Sanggarana “lima orang yang kalian sebut adalah orang-orang yang sangat kami perlukan. Aku sendiri adalah orang yang memangku jabatan Buyut di Talang Amba. Sedangkan paman Sendawa adalah orang yang sangat aku perlukan untuk membimbing aku dalam tugas-tugasku. Sementara tiga orang yang kini sedang menempa anak-anak muda Talang Amba itu adalah orang-orang yang aku harapkan akan dapat membentuk satu pasukan yang kuat bagi Talang Amba dihari-hari mendatang”
“Ki Sanggarana” berkata orang itu “Aku tidak menanyakan apakah orang-orang itu diperlukan oleh Talang Amba atau tidak. Aku memerlukan mereka. Dan aku akan membawa mereka”
“Jangan begitu Ki Sanak” jawab Ki Sanggarana “dengan demikian maka kau akan memaksakan kehendakmu terhadap kami, orang-orang Talang Amba”
“Tepat. Kami memerlukan orang-orang itu” geram orang tertua diantara keempat orang itu “Meskipun kalian berkeberatan, namun itu tidak akan berarti apa-apa. Kami akan tetap memaksakan kehendak kami”
“Ki Sanak” berkata Ki Sanggarana “Aku tidak mengerti wewenang apakah yang ada pada Ki Sanak, sehingga Ki Sanak akan memaksakan kehendak itu atas kami”
“Wewenang yang ada pada kami adalah kekuatan kami” jawab orang itu “Jika kau menolak untuk menyerahkan lima orang yang kami kehendaki, maka Talang Amba ini akan menjadi karang abang. Hutan di lereng bukit akan menjadi debu. Sementara itu akhirnya yang lima orang itupun akan kami dapatkan, hidup atau mati”
“Jangan menakut-nakuti Ki Sanak” jawab Ki Sanggarana “Talang Amba bukannya tidak memiliki kekuatan sama sekali. Anak-anak kami telah melakukan latihan tanpa mengenal lelah. Ketrampilan bermain senjata dan sekaligus ketahanan tubuh dan peningkatan kekuatan. Meskipun yang kami lakukan itu masih terhitung belum terlalu lama, tetapi latihan-latihan itu dilakukan dengan tidak mengenal lelah.
“Kau kira berlari-lari di lereng buki dan menyebrangi rawa-rawa itu akan dapat meningkatkan kemampuan kalian lima kali lipat?“ potong orang Kediri itu “Nah, pikirkan baik-baik. Aku masih memberimu kesempatan untuk satu dua saat. Jika kalian memikirkan kepentingan Talang Amba dalam keseluruhan, maka kalian tentu akan menerima tawaran kami. Menyerahkan lima orang yang aku kehendaki. Kemudian kami akan meninggalkan Talang Amba tanpa mengusikmu sama sekali”
Ki Sanggarana menggelengkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap dapat menguasi dirinya. Di wajahnya sama sekali tidak nampak gejolak perasaannya.
Namun dalam pada itu, Ki Sendawalah yang berkata “Ki Sanak. Sanggarana adalah ikatan bagi rakyat Talang Amba. Jika ia pergi maka Talang Amba akan kehilangan ikatannya sehingga rakyatnya akan menjadi bercerai-berai. Aku yang pernah mencoba untuk memutuskan ikatan itu. akhirnya akulah yang hampir saja menjadi korban. Untunglah aku menyadari kesalahanku sebelum terlambat. Karena itu, maka sebaiknya Ki Sanak tidak melanjutkan usaha Ki Sanak untuk membawanya pergi. Mungkin aku memang orang yang tidak berarti di Talang Amba. Tetapi bukan Sanggarana dan tiga orang yang sedang menempa anak-anak Talang Amba sekarang ini “
“Kami bukan seorang penjaja yang sedang menawarkan barang-barang dagangan yang akan dapat ditawar” berkata orang Kediri itu “kami datang untuk melakukan tugas kami dengan sebaik-baiknya. Hanya ada dua ke mungkinan Menyerahkan orang-orang yang kami kehendaki, atau Talang Amba akan menjadi abu bersama hutan di lereng bukit”
“Ki Sanak” berkata Ki Sendawa “bukankah sebenarnya yang kedua itulah yang kalian kehendaki? Kalian sudah memperhitungkan, bahwa orang-orang Talang Amba akan mempertahankan orang-orang yang kalian kehendaki. Dengan demikian kalian mempunyai alasan untuk melakukan sebagaimana yang kalian katakan Membakar Talang Amba dan yang lebih penting adalah menghancurkan hutan di lereng bukit itu.
“Gila” geram orang Kediri itu. Namun dalam pada itu. Ki Sanggaranapun berkata “Ki Sanak. Aku yakin bahwa yang kau lakukan itu sama sekali bukan atas perintah pimpinan kekuasaan di Kediri. Yang kau lakukan justru telah merusakkan citra Kediri itu sendiri. Tetapi kalian memang tidak peduli karena kalian mempunyai arah perjuangan menurut selera kalian sendiri, tanpa menghiraukan hubungan dalam keluarga besar antara Kediri dan Singasari”
Orang tertua yang datang ke Talang Amba itu tiba-tiba tertawa. Katanya “O. Orang-orang Kabuyutan yang jauh dari ratu tetapi dekat dengan batu. Apa yang kau ketahui tentang kekuasaan di Kediri? Apa yang kau ketahui tentang hubungan antara Kediri dan Singasari. Apa pula yang kau ketahui tentang citra Kediri itu sendiri? Orang-orang yang dungu. Menyerahlah. Aku hanya memerlukan lima orang”
“Apapun yang kau katakan, bukankah kau menghendaki perselisihan terjadi dan kalian akan dapat melakukan keganasan seperti yang kau katakan? jawab Ki Sendawa Ki Sanak. Kami tidak akan menyerahkan orang-orang terbaik dari Talang Amba. Kami akan mempertahankannya dengan cara yang dapat kami lakukan. Jika Talang Amba harus hancur, biarlah Talang Amba menjadi perlambang tekad dari rakyatnya untuk mempertahankan diri terhadap kekuasaan yang hanya berlandaskan pada kekuatan seperti yang kalian lakukan. Tetapi kehancuran Talang Amba akan membawa akibat yang parah bagi kalian. Karena Singasari dan Kediri akan segera turun tangan. Kalian tidak akan dapat melepaskan diri dari kekuasaan yang sebenarnya ada di Singasari dan Kediri”
Keempat orang itu menjadi tegang. Namun kemudian salah seorang diantara mereka, justru yang paling muda menggeram “jangan menyesal. Kami akan segera datang kembali dengan kekuatan kami untuk memaksakan kehendak kami”
“Kami akan bersiap menunggu kedatangan kalian jawab Ki Sendawa “sebagaimana kalian lihat, disini ada beberapa orang bebahu dan anak-anak muda yang mewakili tekad seisi Kabuyutan ini. Selebihnya. Gagelang, Singasari dan Kediri akan melakukan tugas mereka sebagaimana seharusnya kelak jika kalian tidak menarik diri dari persoalan ini.
Orang-orang Kediri itu tertawa. Katanya “Kalian adalah sejenis kecoak yang sombong. Baiklah. Tunggu dalam satu dua hari ini. Kami akan datang kembali. Kabuyutan ini akan menjadi lautan api”
“Aku tidak yakin bahwa kalian berani melakukan” jawab Ki Sendawa, biarpun kata-kata itu mengejutkan juga bukan saja bagi orang-orang. Kediri itu, tetapi juga bagi Ki Sanggarana dan orang-orang lain yang mendengarkan. Lalu, “Yang mungkin kalian lakukan adalah sekedar melepaskan kejengkelan kalian atas kegagalan ini dengan membakar hutan atau tingkah laku lainnya yang justru menunjukkan kekecilan jiwa kalian. Tetapi sama sekali bukan bertempur beradu dada dengan anak-anak muda Talang Amba”
“Gila“ orang tertua diantara mereka membentak. Ki Sendawa. Agaknya kau adalah orang yang pertama-tama akan menjadi korban dari kesombonganmu”
“Aku memang orang sombong dan tidak tahu diri, sebagaimana aku pernah ingin merampas kekuasaan kemenakanku di Talang Amba. Tetapi kemudian aku sadar bahwa aku salah. Namun agaknya kali ini akupun sadar, bahwa aku benar menghadapi sikap kalian” jawab Ki Sendawa.
Orang-orang berkuda itu hampir tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi mereka tetap menahan darah mereka yang mendidih. Mereka sadar, bahwa mereka berempat tidak akan dapat berbuat banyak. Namun dengan demikian orang tertua diantara mereka itupun berkata “Aku akan pergi. Tetapi aku berjanji untuk memasuki rumah ini sekali lagi selambat-lambatnya dua hari mendatang. Kalian akan mengenai sikap kami yang sebenarnya. Kami akan membawa tali gantungan dan menggantung kalian di dahan batang pohon di halaman itu”
Orang-orang itu tidak menunggu jawaban. Merekapun segera berdiri dan meninggalkan tempat itu dengan jantung yang membara.
Namun agaknya Ki Sendawa masih belum puas untuk melepaskan mereka begitu saja. Ternyata ketika orang-orang itu sudah berada di punggung kudanya, Ki Sendawa masih berteriak “Kami menunggu kalian selambat-lambatnya dua hari mendatang. Jika kalian benar-benar merasa mempunyai kekuasaan karena kekuatan kalian, maka kalian tentu tidak hanya sekedar membakar hutan untuk membalas sakit hati dan dendam karena kegagalan kalian berturut-turut”
Orang termuda diantara orang-orang Kediri itu hampir saja meloncat dari kudanya. Tetapi orang tertua diantara mereka telah mengantarnya sambil berkata “Kita akan membuktikan apa yang kita katakan”
Sejenak kemudian, maka keempat ekor kuda itupun telah berpacu membawa penunggang-penunggangnya. Hanya dalam sesaat mereka telah hilang dibalik regol halaman.
Sepeninggal orang-orang itu, maka Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun masih bertanya kepada Ki Sendawa “Kenapa paman dengan sengaja membual hati mereka menjadi panas”
Ki Sendawa mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya “Sebenarnya aku mencemaskan hutan itu. Mungkin mereka tidak berbuat apa-apa atas kita. Tetapi mereka hanya membakar dan menghancurkan hutan di lereng bukit. Karena itu, aku sengaja membakar kemarahannya, agar mereka benar-benar turun dan menyerang Kabuyutan ini. Bukankah memang demikian yang kita kehendaki termasuk orang-orang Singasari yang ada disini?“
Ki Sanggarana mengangguk-angguk. Ternayata dalam keadaan yang panas, pamannya masih sempal membual perhitungan untuk menghindarkan hutan di lereng bukit itu menjadi sasaran kemarahan orang orang Kediri.
Karena itu, maka Ki Sanggaranapun kemudian berkata “Jika demikian, kita harus benar-benar bersiap. Kita akan segera memerintahkan setiap anak muda untuk bersikap dengan senjata ditangan. Dalam dua hari ini tidak seorangpun yang kita benarkan meninggalkan Kabuyutan. sementara kita dapal memberikan keterangan kepada tetangga Kabuyutan kita agar mereka tidak terkejut dan terjebak dalam pertengkaran kita dengan orang-orang yang ingin membinasakan hutan diwilayah kita itu” berkata Ki Sendawa kemudian.
Demikianlah maka perintah itupun segera dilaksanakan. Anak-anak muda Talang Amba tiba-tiba lelah hilir mudik dari satu pedukuhan ke padukuhan yang lain. sehingga kesibukanpun nampaknya telah berubah menjadi semacam kebingungan.
“Kita tidak dapat memilih jalan lain” berkata Ki Sanggarana, meskipun dengan demikian berakibat kegelisahan di lingkungan rakyat Talang Amba.
Dalam pada itu. beberapa orang pengawas yang dipasang oleh orang-orang Kediri yang menjadi pengikut Pangeran Lembu Sabdata mengamati keadaan di Talang Amba sambil tersenyum. Mereka melihat anak-anak muda Talang Amba seperti kebingungan. Mereka berjaga-jaga di padukuhan-padukuhan yang terpencar, tetapi dalam waktu yang terhitung singkat mereka telah ditarik kembali ke padukuhan induk. Tetapi beberapa saat kemudian, maka merekapun telah memencar lagi.
“Mereka tidak tahu, bagaimana harus mempertahankan padukuhan mereka,” berkata salah seorang pengamat. “Mereka menjadi bingung dari arah mana kawan-kawan kita akan memasuki Kabuyutan. Sehingga degan demikian, maka anak-anak muda itu seperti kehilangan pegangan. Mereka berjaga-jaga di padukuhan-padukuhan kecil di sekitar padukuhan induk mereka, atau mereka harus berkumpul untuk mempertahankan padukuhan induk”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar