*HIJAUNYA LEMBAH. JILID : 003-02*
Justru karena keadaan yang sudah tersingkap itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengetahui, kenapa orang-orang dan para bebahu di Kabuyutan itu tidak melaporkan persoalan Hantu Jurang Growong itu kepada Akuwu. Agaknya kedua orang itu pulalah yang telah mempengaruhi mereka untuk tidak melaporkannya kepada Akuwu, karena jika demikian, maka pasukan pengawal Akuwu akan mengatasi kekalutan itu, sehingga keduanya tidak akan berkesempatan lagi untuk melakukan tindakan- tindakan yang nggegirisi yang dapat menakut-nakuti dan membuat rakyat seisi Kabuyutan menjadi resah.
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu mengikuti perkembangan keadaan Kabuyutan itu dengan saksama Ki Buyut yang telah melihat akibat pahit itu pun mulai berusaha untuk menyusun tertib pemerintahan di Kabuyutannya. Ia memanggil para bebahu untuk mengadakan pertemuan. Mereka diminta untuk menilai apa yang telah terjadi.
“Katakan dengan hati terbuka” berkata Ki Buyut kita akan mengambil pengalaman ini sebagai satu pelajaran yang berguna”
Beberapa orang semula merasa ragu-ragu, karena mereka merasa cemas, bahwa perlakuan yang tidak wajar itu akan dapat terjadi pula atas mereka.
Tetapi ternyata kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar memberikan arti. Para bebahu merasa mereka akan mendapat perlindungan jika ada perlakuan yang tidak adil atas mereka. Karena itulah, maka mereka pun kemudian dapat menyampaikan isi hati mereka dengan terbuka.
Ki Jagabaya menundukkan kepalanya. Para bebahu yang lain pun melihat, bahwa ia telah terseret. Meskipun ia berniat untuk membuat Kabuyutannya aman, tetapi ia telah mengambil langkah yang salah.
“Baiklah” berkata Ki Buyut kemudian, “kita sudah melihat langkah-langkah kita yang salah. Kita akan berusaha untuk memperbaikinya. Kita akan menjadi orang-orang baru yang akan memerintah daerah ini dengan sikap yang baru.
Para bebahu itu mengangguk-angguk. Ki Jagabaya pun mengangguk-angguk pula. Bahkan kemudian ia pun berkata, “Ki Buyut. Aku tidak akan ingkar, bahwa aku telah melakukan kesalahan. Tetapi aku mohon dinilai bahwa kesalahanku terletak tidak pada niat. Tetapi pada cara. sehingga menimbulkan kekalutan dan keresahan”
“Aku mengerti Ki Jagabaya” jawab Ki Buyut, “karena itu aku tidak mengambil satu tindakan terhadapmu dan terhadap kedudukanmu. Yang kami inginkan adalah perubahan sikap dan caramu. Tetapi niatmu untuk mengabdi kepada Kabuyutan ini tetap aku hargai”
“Terima kasih Ki Buyut” berkata Ki Jagabaya.
“Tetapi bagaimanapun juga,_kau tetap kami anggap pernah melakukan kesalahan. Karena itu, maka kau harus minta maaf kepada rakyat Kabuyutan ini. Bukan sekedar sopan santun, tetapi dengan satu kesanggupan di dalam hati untuk menebus kesalahan yang pernah kau lakukan” berkata Ki Buyut.
Ki Jagabaya mengangguk hormat sambil menjawab, “Aku mengerti Ki Buyut”
Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyaksikan perubahan sikap yang terjadi di Kabuyutan itu. Karena itu, maka keduanya merasa bahwa mereka tidak perlu lagi terlalu lama berada di Kabuyutan itu.
“Kita sudah dapat meninggalkan rumah ini” berkata Mahisa Murti.
“Ya” jawab Mahisa Pukat, “kapan saja kita dapat minta diri. Nampaknya segala sesuatunya telah dapat diatasi. Ki Jagabaya cukup jantan untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya, dan Ki Buyut pun cukup bijaksana dengan tanpa menghukumnya secara langsung”
“Tidak ada keberanian Ki Buyut untuk melakukannya” jawab Mahisa Murti, “tetapi dalam hubungannya dengan persoalan yang dihadapinya kini, adalah kebetulan. Dengan kelemahannya ia nampak bijaksana”
“Ah” Mahisa Pukat berdesis. Namun ia pun kemudian tertawa kecil.
“Kita bermalam satu malam lagi” berkata Mahisa Murti, “besok kita minta diri. Mudah-mudahan tidak ada lagi yang dapat menghambat kita. Kita akan melanjutkan pengembaraan. Sementara itu kita dapat berpesan kepada Ki Buyut untuk memperhatikan lereng yang gundul itu, sehingga tanahnya tidak akan menjadi semakin aus dimakan air hujan yang bukan saja turun dari langit, tetapi juga arus dari lereng yang lebih tinggi”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Malam nanti masih ada kesempatan untuk berbincang dengan Ki Buyut tentang banyak hal. Sekaligus mereka akan minta diri untuk melanjutkan perjalanan.
Namun dalam pada itu, ketika matahari condong ke Barat, Mahisa Murti yang keluar dari gandok dan duduk diserambi terkejut melihat seorang gadis yang melintasi halaman. Selama ia berada di rumah Ki Buyut itu, ia tidak pernah melihat gadis itu. Memang ada beberapa perempuan di rumah Ki Buyut itu. Selain Nyi Buyut, beberapa orang pembantunya terdiri dari perempuan dan mungkin juga diantara mereka terdapat gadis-gadis. Tetapi yang seorang ini belum pernah dilihatnya.
Sambil memperhatikan langkah gadis itu, terasa jantung Mahisa Murti berdegup semakin keras, sehingga akhirnya gadis itu melangkah naik kependapa dan hilang di pintu pringgitan.
“Tentu bukan sekedar pembantu Ki Buyut” berkata Manisa Murti dalam hatinya, “jika gadis itu sekedar pembantunya, maka ia tidak akan masuk lewat pintu itu”
Mahisa Murti terkejut, ketika ia mendengar Mahisa Pukat terbatuk-batuk kecil di belakangnya. Sambil berpaling ia berkata, “Kau mengejutkan aku”
Mahisa Pukat tersenyum. Katanya, “Apa yang kau perhatikan sehingga kau tidak tahu aku hadir di sini?”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau tentu juga melihatnya”
“Apa?” desak Mahisa Pukat.
“Seorang gadis” jawab Mahisa Murti.
“Darimana kau tahu, bahwa ia seorang gadis. Siapa tahu bahwa perempuan itu adalah isteri Ki Buyut” jawab Mahisa Pukat.
“Jangan berpikiran gila” potong Mahisa Murti, “gadis itu terlalu muda bagi isteri Ki Buyut. Mungkin ia anaknya, atau bahkan cucunya”
Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Jangan hiraukan perempuan itu”
“Aku hanya memperhatikannya. Bukankah aku tidak bersalah jika aku melihat kecantikan seseorang? Seperti aku juga tidak bersalah memperhatikan kecantikan sekuntum bunga ceplok piring. Bukankah begitu?” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat tertawa. Kemudian katanya, “Kau cerdik. Tetapi ingat pesan ayah. Kau harus belajar dari pengalaman Kakang Mahisa Bungalan. Seorang gadis telah mengikatnya sehingga pengembaraannya tidak lagi dapat berkisar lebih jauh dari putaran gadis itu saja”
“Tetapi dengan demikian, ia mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dalam pengembaraannya itu. He, kau katakan, bahwa kakang Mahisa Bungalan tidak berkisar jauh dari gadis itu?”
“Ya” jawab Mahisa Pukat.
“Kau keliru. Tetapi seandainya demikian, namun ia justru mendapat pengalaman yang terlalu hanyak. Bukan saja Pengalaman lahir, tetapi juga pengalaman batin.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Murti sejenak. Lalu katanya, “Tetapi bagaimanapun juga, jangan kau abaikan pesan ayah”
“Ah” desah Mahisa Murti, “aku tentu akan selalu mengingatnya. Bukankah aku tidak berbuat apa-apa. Aku pun tidak tahu, apakah gadis itu termasuk keluarga Ki Buyut atau bukan”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Marilah. Kita duduk di dalam saja”
“Udara terlalu panas. Aku akan duduk di sini” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian medangkah masuk ke dalam gandok, yang disediakan oleh Ki Buyut bagi tempat mereka berdua.
Untuk beberapa saat Mahisa Pukat duduk sendiri di dalam gandok itu sambil bersandar tiang. Diluar sadarnya, ia pun mulai menelusuri perjalanannya berdua dengan Mahisa Murti yang masih terhitung sangat pendek itu. Namun dalam perjalanan yang pendek itu, mereka ternyata telah mengalami berbagai peristiwa yang dapat dijadikan bekal dalam hidupnya kelak. Namun kadang- kadang terasa ngeri juga jika ia memikirkan kemungkinan yang paling buruk dalam pengembaraannya itu. Meskipun ia mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, tetapi jika jiwanya terampas karenanya, maka pengalaman itu tidak akan berarti apa-apa baginya.
“Tetapi akau tidak boleh menjadi seorang pengecut” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya.
Namun dalam pada itu ia terkejut ketika ia mendengar suara Mahisa Murti bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Sambil mengangkat wajahnya ia bergeser. Dan didengarnya suara perempuan itu, “Silahkan minum Ki Sanak”
“Ya, ya. Terima kasih” jawab Mahisa Murti.
“Apakah mangkuk ini harus aku letakkan didalam atau disini saja?” bertanya perempuan itu.
Dengan gagap Mahisa Murti menjawab, “Baiklah di dalam, ah, maksudku di sini saja”
“Mangkuk yang satu?” bertanya perempuan itu., “Biarlah di sini juga” jawab Mahisa Murti.
Suara itu pun terdiam. Yang didengar oleh telinga tajam Mahisa Pukat dalam langkah yang menjadi semakin jauh.
Mahisa Pukat pun bangkit dari duduknya dan melangkah keluar. Dilihatnya dua buah mangkuk minuman panas dan beberapa potong gula kelapa.
“Segarnya” desis Mahisa Pukat, “air sere atau air jahe?” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Kedua-duanya. Air jahe dengan sere. Terasa sedapnya kayu legi pula didalamnya”
“Kau sudah minum?” bertanya Mahisa Pukat. Mahisa Murti tersenyum. Jawabnya, “Belum”
“Darimana kau tahu, bahwa terasa sedapnya kayu legi di dalam minuman itu?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti masih tersenyum. Katanya kemudian, “Duduklah. Marilah kita minum”
“Kenapa tidak ditaruh di dalam saja?” bertanya Mahisa Pukat selanjutnya.
“Kita minum diserambi saja” jawab Mahisa Murti.
“Perempuan yang membawa minuman ini tidak mau masuk”
“Bohong” sahut Mahisa Pukat, “kau yang minta kepadanya untuk meletakkan minuman ini di sini”
“Kau dengar pembicaraan kami?” bertanya Mahisa Murti.
Aku mendengar” jawab Mahisa Pukat” siapakah perempuan yang membawa minuman itu?”
“Kau tentu sudah mengintipnya” tebak Mahisa Murti. “Tidak. Aku duduk saja diamben itu” Mahisa Pukat menjelaskan.
“Salah seorang pelayan Ki Buyut. Seorang perempuan tua yang tadi pagi juga membawa minuman kita” jawab Mahisa Murti.
“Jangan bohong. Suaranya lain. Tentu bukan perempuan tua itu” bantah Mahisa Pukat.
“Jadi siapa? Bukankah kau tidak melihatnya?” bertanya Mahisa Murti.
Mahisa Pukat yang duduk di sebelah Mahisa Murti itu tersenyum. Jawabnya, “Meskipun aku tidak melihatnya, tetapi aku dapat membedakan warna suara. Aku yakin, yang membawa minuman ini tentu perempuan yang kau sangka gadis yang tadi melintasi halaman, dan yang belum pernah kita lihat sebelumnya”
“Ah darimana kau tahu? Kau belum pernah mendengar suaranya. Kau tentu tidak akan dapat mengatakan bahwa kau mengenalinya lewat suaranya” sahut Mahisa Murti.
“Aku tidak mengenalinya lewat suara perempuan itu. Tetapi lewat suaramu” jawab Mahisa Pukat.
“Bagaimana mungkin lewat suaraku?” bertanya Mahisa Murti heran.
“Suaramu menjadi gagap dan seolah-olah kau menjadi bingung menjawab pertanyaan-pertanyaannya” tebak Mahisa Pukat.
“Ah desah Mahisa Murti, “kau hanya menduga-duga”, “Katakan, apakah dugaanku salah?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia hanya tersenyum saja sambil mengusap keringatnya di dahinya.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat lah yang kemudian meraih mangkuk berisi minuman hangat itu. Sambil meneguk isinya ia berdesis, “Merasa segar sekali. Apakah dengan gula kelapa?”
“Ya, dengan gula kelapa. He, bukankah benar dugaanku, bahwa minuman itu memakai kayu legi?” bertanya Mahesa Murti.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Minuman ini tidak diberi kayu legi”
“He?” dahi Mahisa Murti berkerut, “tetapi meskipun tidak diberi kayu legi tetapi minuman itu tetap segar bukan?”
“Ya. Segar sekali. Kenapa kau tidak minum?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti pun kemudian mengambil sepotong gula kelapa Kemudian mengangkat mangkok berisi minuman hangat itu dan menghirupnya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Pukat berkata, “Malam nanti kita akan minta diri. Bukankah besok kita akan melanjutkan perjalanan? Bagaimana jika kita minta beberapa ruas pering cendani yang beruas panjang itu? Dengan supit kita akan dapat berburu burung”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menjawab, “Kita akan mengambil beberapa ruas pering cendani itu Pukat. Besok kita akan pergi ke padang perdu itu. Tetapi dengan demikian kita tidak akan dapat meninggalkan Kabuyutan ini besok”
“Kenapa? Kita minta diri. Sambil meninggalkan Kabuyutan ini kita mengambil beberapa ruas pering cendani itu. Jika pada saat kita meninggalkan Kabuyutan ini, kita sudah menyatakan keinginan kita untuk mengambil pering cendani itu, maka aku kira kita tidak akan dapat dianggap bersalah, apalagi dituduh mencuri. Ki Jagabaya tidak akan lagi berbuat seperti itu” berkata Mahisa Pukat kemudian.
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak Namun kemudian sambil menggeleng ia berkata, “Kita tidak akan berbuat demikian. Sebaiknya kita mengambil beberapa ruas pering cendani itu, dan kemudian membawanya ke Kabuyutan ini sehingga dengan demikian Ki Buyut dan para bebahu Kabuyutan ini tahu, seberapa banyak kita telah mengambilnya. Dengan demikian, hal itu akan baik pula akibatnya bagi kita. Jika ternyata ada kerusakan pada rumpun pering cendani itu, bukan kitalah yang telah merusaknya”
“Jika demikian” jawab Mahisa Pukat, “marilah. Kita sekarang pergi ke padang itu dan mengambilnya. Malam ini kita dapat menunjukkan kepada Ki Buyut beberapa ruas paring cendani yang akan kita bawa”
“Kenapa sekarang” sahut Mahisa Murti, “kenapa kau tiba-tiba menjadi begitu tergesa-gesa? Bukankah pengembaraan kita masih panjang. Apa artinya satu dua hari bagi kita seandainya kita masih tertahan di Kabuyutan ini. Sekaligus kita dapat melihat, apakah keadaan di Kabuyutan ini benar-benar sudah mantap”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukan aku yang tiba-tiba saja menjadi tergesa-gesa. He, bukankah kita sudah sepakat untuk meninggalkan Kabuyutan ini esok pagi setelah malam nanti kita memberikan beberapa pesan kepada Ki Buyut tentang lereng yang gundul itu?”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya Namun kemudian sambil menarik nafas dalam dalam ia berkata, “Sebaiknya kita pun pergi ke lereng bukit yang gundul itu. Kita tidak saja memberikan pesan, tetapi kita akan dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang berarti bagi mereka”
“Kau keliru Murti” jawab Mahisa Pukat” kita hanya tahu arti keseluruhan dari tanah yang dihijaukan itu. Tetapi kita bukan orang-orang yang mengerti cara-cara yang paling baik untuk menanam jenis-jenis pepohonan di lereng itu. Mungkin Ki Buyut dan orang-orang Kabuyutan ini justru lebih banyak mengetahui”
“Yang aku katakan tidak pernah sesuai dengan pendapatmu. Tetapi baiklah aku berharap, kau tidak terlalu tergesa-gesa meninggalkan Kabuyutan ini. Masih ada beberapa persoalan yang dapat kita sumbangkan kepada penghuni Kabuyutan ini” berkata Mahisa Murti.
“Sebenarnya ada apa dengan kau?” bertanya Mahisa Pukat, “kaulah yang tiba-tiba saja merubah sikapnya”
Mahisa Murti tidak segera menjawab. Sementara itu Mahisa Pukat melanjutkan, “agaknya telah terjadi satu gejolak di dalam dirimu, sehingga kau sudah berubah sikap. Tetapi jika perubahan sikap itu beralasan, aku tidak akan berkeberatan”
“Ya. Aku mempunyai alasan” jawab Mahisa Murti, “bukankah aku sudah mengatakan beberapa alasan?”
“Bukan alasan yang sebenarnya” jawab Mahisa Pukat. “Apa yang kau maksud dengan alasan yang sebenarnya?” bertanya Mahisa Murti.
“Tentu kaulah yang tahu. Cobalah bertanya kepada dirimu sendiri. Alasan apakah yang sebenarnya telah menahan kau disini?” berkata Mahis Pukat.
Mahisa Murti termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab, sehingga karena itu. Mahisa Pukat lah yang memberikan jawabnya, “He, bukankah karena kau telah melihat perempuan yang kau sebut gadis itu?”
“Ah” desah Mahisa Murti.
Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Kau tidak usah melingkar-lingkar. Katakan terus terang. Dan aku akan mencoba mengekang diri agar aku tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat ini. Tetapi sekali lagi aku peringatkan pesan ayah kepada kita, bahwa kita harus berhati-hati”
Mahisa Murti menarik nafas panjang. Dipandanginya Mahisa Pukat sejenak. Namun ia pun kemudian mengalihkan tatapan matanya ke halaman, sementara langit pun menjadi semakin terasa dingin karena matahari yang merendah.
Namun dengan demikian, maka Mahisa Pukat pun menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat meninggalkan rumah Ki Buyut esok pagi karena Mahisa Murti agaknya mempunyai pertimbangan lain.
Meskipun sebenarnya Mahisa Pukat tidak sesuai dengan sikap Mahisa Murti, tetapi ia tidak ingin mengecewakan saudaranya. Namun demikian, ia memang berniat untuk selalu memberi peringatan kepada Mahisa Murti agar tidak terjerat oleh satu keadaan seperti yang di cemaskan oleh ayahnya, justru karena Mahisa Bungalan pernah mengalaminya. Untunglah bahwa Mahisa Bungalan berhasil menyelesaikan persoalannya dalam libatan hubungannya dengan Ken Padmi dengan baik. Jika ia gagal, maka persoalan itu akan dapat membawa nyawanya.
Demikianlah ketika lewat senja, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk-duduk di pendapa bersama Ki Buyut dan beberapa orang bebahu yang hadir, maka anak-anak muda itu sama sekali tidak menyinggung rencana mereka untuk minta diri. Yang mereka katakan hanyalah, bahwa mereka ingin mendapatkan beberapa batang pering cendani yang beruas panjang.
“Tentu kami tidak akan berkeberatan” berkata Ki Buyut” pering cendani itu tidak akan banyak artinya lagi bagi kami”
“Tetapi tidak ada jeleknya jika ketrampilan mempergunakan supit itu dikembangkan” jawab Mahisa Murti.
“Tetapi kami tidak akan berkelahi lagi melawan Hantu Jurang Growong” jawab seorang bebahu.
“Sekarang tidak” jawab Mahisa Pukat, “mungkin lain kali ada pihak lain lagi yang ingin mengganggu Kabuyutan ini”
“Tetapi, bagaimana dengan anak panah dan busur?” bertanya seorang yang bertubuh, tinggi besar pembantu Ki Jagabaya.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Jika kalian berminat, kalian dapat menyiapkan justru pada saat-saat kalian mempunyai waktu untuk melatih diri”
Ki Jagabaya yang juga hadir, mengangguk-angguk. Katanya, “Pendapat yang baik sekali”
“Bukan saja berlatih mempergunakan busur dan anak panah. Tetapi memperdalam olah kanuragan pun akan sangat bermanfaat. Pada keadaan yang gawat, baru terasa bahwa ilmu kanuragan itu kita perlukan” Orang-orang yang berada di pendapa itu mengangguk-angguk. Mereka memang memerlukan perlindungan. Pada saat-saat yang gawat sangat terasa, bahwa mereka tidak dapat berbuat banyak untuk melindungi diri sendiri.
“Anak muda” berkata Ki Buyut tiba-tiba, “bagaimana jika kami minta kalian berdua untuk tinggal barang beberapa lamanya, sekedar untuk memberikan dasar-dasar pengetahuan olah kanuragan?”
Mahisa Pukat menjadi ragu-ragu. Namun sebelum ia menjawab, Mahisa Murti telah mendahului, “Jika hanya untuk beberapa hari saja, kami tidak akan berkeberatan Ki Buyut. Tetapi, sudah barang tentu, bahwa pada saatnya kami akan meninggalkan tempat ini untuk melanjutkan pengembaraan kami”
“Ya. Tentu hanya beberapa hari saja. Tetapi yang beberapa hari itu tentu akan sangat bermanfaat bagi kami” jawab Ki Buyut.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak ingin menyakiti hati saudaranya. Jika ia bersikap lain, maka persoalannya tentu akan menjadi rumit.
Karena itu. Mahisa Pukat hanya dapat memandangi Mahisa Murti dengan senyum yang masam.
Demikianlah, ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih akan tetap berada di padukuhan itu untuk beberapa lama. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat telah mengetahui dengan pasti, kenapa Mahisa Murti masih lebih senang tinggal beberapa lama di padukuhan itu.
Dihari berikutnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mulai memberikan beberapa tuntunan olah kanuragan bagi anak-anak muda. Beberapa orang terpilih telah terbagi menjadi dua kelompok, yang masing-masing dibimbing oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyempatkan diri mengambil beberapa ruas pering cendani. Mereka telah membuat sumpit tidak untuk membunuh seseorang, tetapi mereka pergunakan untuk berburu burung yang banyak terdapat di pategalan dan di pinggir-pinggir hutan.
Dalam pada itu, pada kesempatan yang lain, Mahisa Murti telah mengenal gadis yang baru kemudian hadir di rumah Ki Buyut. Ternyata gadis itu adalah anak Ki Buyut.
“Kenapa kau baru hadir beberapa hari yang lalu?” bertanya Mahisa Murti ketika keduanya sempat berbicara di serambi gandok, pada saat gadis itu mengantarkan minuman panas.
“Aku berada di rumah paman” jawab gadis itu, “sebenarnya aku sudah lama ingin pulang. Tetapi daerah ini justru tidak aman”
“Kau tidak kerasan di rumah pamanmu?” bertanya Mahisa Murti.
“Sebenarnya aku kerasan tinggal di rumah paman. Tetapi pada saat terakhir, aku mengalami beberapa gangguan, sehingga paman menganggap bahwa lebih baik aku kembali ke rumah ayah. Apalagi setelah Kabuyutan ini menjadi tenang”
“Gangguan apakah yang kau alami?” bertanya Mahisa Murti.
Gadis itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Bahkan sejenak kemudian ia berkata, “Sudahlah. Tidak ada apa-apa”
Mahisa Murti masih akan bertanya, tetapi gadis itu sudah lari.
Sebenarnyalah gadis anak Ki Buyut itu sangat menarik perhatian Mahisa Murti. Dalam setiap kesempatan ia berusaha untuk dapat berbincang tentang apa saja dengan gadis itu. Apalagi nampaknya gadis itu pun telah memberikan banyak peluang pula kepada Mahisa Murti.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat tidak jemu- jemunya memperingatkan Mahisa Murti, bahwa mereka baru mulai dengan suatu pengembaraan.
“Kita belum terlalu jauh dari Kota Raja” berkata Mahisa Murti, “jika perjalanan kita terhenti di sini, maka jarak yang pernah kita tempuh dalam pengembaraan ini untuk mendapatkan pengalaman hidup tidak lebih jauh dari jarak anak-anak bermain sembunyi-sembunyian di terang bulan.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya iapun berkata, “Baiklah Mahisa Pukat. Aku mengerti. Aku akan berusaha menguasai perasaanku. Kita akan segera melanjutkan perjalanan. Seandainya aku tidak dapat melupakan tempat ini, maka biarlah kelak aku akan kembali lagi apabila aku masih mendapat kesempatan” Mahisa Pukat memandang wajah saudaranya yang menjadi buram. Terbersit pula perasaan iba didalam hatinya. Karena itu. katanya, “Baiklah Mahisa Murti, aku berjanji, bahwa dalam perjalanan kita kembali kelak, kita akan berusaha untuk melalui Kabuyutan ini. Kabuyutan Randumalang”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya Kita akan mengingat nama Kabuyutan ini. Kabuyutan Randumalang”
“Dan kita akan selalu teringat kepada nama seorang gadis He. siapa namanya?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tidak segera menjawab. Tetapi sebenarnyalah ia merasa berat untuk meninggalkan rumah Ki Buyut itu. Tetapi iapun menyadari, bahwa ia tidak boleh tinggal terlalu lama di tempat itu.
Karena Mahisa Murti tidak segera menjawab, maka Mahisa Pukat mendesaknya, “Siapa nama yang sebenarnya gadis itu? Tentu Ireng itu bukan namanya. Bukankah itu hanya sebutannya saja karena gadis itu berkulit agak kehitaman. Dan nampaknya justru hitam-hitam manis itulah yang telah menarik perhatianmu”
“Sebut saja dengan Ireng. Aku tidak pernah bertanya siapakah namanya yang sebenarnya, karena setiap kali aku bertanya, ia selalu menjawab nama panggilannya itu pula” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat tertawa pendek. Katanya, “Baiklah. Aku-pun sudah puas menyebutnya Ireng. Rara Ireng”
Dalam pada itu, pada saat-saat kedua anak muda itu siap meninggalkan Kabuyutan itu, maka mereka masih juga memberikan tuntunan olah kanuragan.
Anak-anak muda di Kabuyutan itu. ternyata dengan tekun mengikuti bimbingan itu. Mereka seolah-olah tidak mengenal letih. Kapan saja mereka justru meminta kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk memberikan latihan-latihan, karena mereka pun sadar, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak akan terlalu lama berada di Kabuyutan mereka.
Sebenarnyalah, maka pada suatu saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyatakan niatnya untuk meninggalkan Kabuyutan itu. Mereka harus meneruskan pengembaraan mereka untuk waktu yang tidak ditentukan.
Niat itu telah menumbuhkan kerisauan pada beberapa orang di Kabuyutan itu. Beberapa orang anak muda ingin menahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat agar mereka lebih lama lagi tinggal bersama anak-anak muda di Kabuyutan Randumalang. Namun agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memutuskan, bahwa mereka harus segera melanjutkan perjalanan.
“Kau akan pergi besok?” bertanya gadis itu.
“Ya Ireng. Aku harus melanjutkan perjalanan kembaraku. Aku tidak dapat tinggal terlalu lama di satu tempat” jawab Mahisa Murti.
Gadis itu menunduk. Namun ia mengangkat wajahnya ketika tiba-tiba saja Mahisa Murti bertanya, “Tetapi apakah aku dapat mendengar namamu sebelum aku pergi?”
Gadis itu memandang wajah Mahisa Murti. Lalu katanya Bukankah kau sudah mengenal namaku?”
“Belum. Aku hanya mengenal sebutan atau panggilanmu sehari-hari. Tetapi namamu tentu bukan Rara Ireng” sahut Mahisa Murti. Lalu, “Sebelum aku pergi, maka aku ingin dapat selalu mengingat namamu”
Gadis itu menunduk. Namun kemudian katanya, “Namaku memang Ireng. Tetapi kadang-kadang paman memanggil aku Widati”
“Widati” desis Mahisa Murti, “aku lebih senang memanggilmu dengan Widati. Bukan Ireng”
“Tidak. Disini namaku Ireng. Panggil aku dengan Ireng. jawab gadis itu.
“Ya. Disini aku akan tetap memanggilmu Ireng. Tetapi aku akan lebih senang mengenang namamu Widati. Besok pada suatu saat, jika aku kembali lagi. aku akan mencari Widati” berkata Mahisa Murti.
Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Bahkan sejenak kemudian, maka gadis itupun telah berlari meninggalkan Mahisa Murti yang termangu-mangu di serambi gandok memandanginya sampai hilang di balik pendapa.
Mahisa Murti terkejut ketika ia mendengar Mahisa Pukat menegurnya, “Sudahlah. Agar kau tidak menunda lagi perjalanan kita. Pada saatnya kita akan kembali”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Tanpa berkedip ia masih saja memandangi pintu yang sudah tertutup. Namun kemudian katanya, “Aku mempunyai perasaan aneh terhadap gadis itu”
Mahisa Pukat tersenyum. Katanya, “Kau tentu dapat menyebut perasaan apa yang sebenarnya mencengkammu”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi sebelum ia menjawab Mahisa Pukat telah berkata, “Karena itu, maka biarlah kita segera meninggalkan tempat ini sebelum perasaan itu berakar dihatimu. Jika Yang Maha Agung memang mengijinkan, gadis itu akan menjadi jodohmu, maka pada suatu saat kau akan bertemu lagi dimana pun juga”
Mahisa Murti mengangguk-angguk Katanya, “Kau benar Mahisa Pukat. Kita memang harus segera meninggalkan tempat ini”
Ketika kemudian malam turun, untuk terakhir kalinya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berbincang-bincang dengan Ki Buyut dan para bebahu Kabuyutan. Pada kesempatan terakhir itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sekali lagi menyinggung lereng pegunungan yang menjadi gundul. Keduanya juga memberikan beberapa petunjuk tentang penggunaan berbagai macam senjata jarak jauh. Keduanya menganjurkan agar orang-orang Kabuyutan itu lebih banyak mempelajari cara mempergunakan anak panah dan busur daripada mempergunakan supit. Mereka pun memberitahukan beberapa jenis senjata lontar yang lain. Bandil dan paser. Bahkan pisau-pisau kecil.
Sebenarnyalah bahwa Ki Buyut dan para bebahu masih ingin menahan kedua anak muda itu barang satu dua pekan. Tetapi keduanya ternyata telah mengambil satu keputusan untuk meninggalkan Kabuyutan itu, betapapun berat hati mereka. Terlebih-lebih adalah Mahisa Murti.
Demikianlah, maka malam itu, para bebahu dan Ki Buyut sendiri telah mengucapkan beribu terima kasih kepada kedua orang anak muda itu. Ada keinginan mereka untuk memberikan sesuatu kepada keduanya sebagai tanda terima kasih orang-orang seluruh Kabuyutan.
Namun dengan hati-hati Mahisa Murti menjawab, “Terima kasih Ki Buyut. Bukan berarti aku menolak, tetapi aku masih ingin mengembara. Karena itu, maka hadiah yang akan aku terima, tentu tidak sewajarnya jika aku bawa berkeliaran tanpa tujuan”
“Kami mempunyai sepasang cincin dengan sebuah permata yang baik” berkata Ki Buyut mungkin kalian berdua pada suatu saat membutuhkannya. Tentu cincin itu tidak akan memberati beban kalian diperjalanan”
Tetapi Mahisa Murti menjawab, “Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Tetapi biarlah kami menitipkan cincin itu disini”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah dengan demikian berarti bahwa kalian berdua akan kembali lagi ke Kabuyutan ini?”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun Mahisa Pukatlah yang menjawab, “Ya. Kami memang berniat demikian. Pada suatu saat yang tidak dapat kami sebutkan, karena kami sendiri belum dapat menentukan, kami berdua berusaha untuk dapat singgah di padukuhan ini. Pada saat itu kami akan mengambil barang-barang kami yang kami titipkan”
“Barang-barang apa saja yang kalian titipkan selain sepasang cincin yang akan kami serahkan?” Ki Jagabaya bertanya.
Mahisa Pukat tersenyum. Tetapi Mahisa Murti cepat menyahut tidak ada. Memang tidak ada Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi akhirnya mereka tidak mempersoalkannya lagi.
Meskipun demikian, Mahisa Murti masih saja cemas, bahwa Mahisa Pukat pada suatu saat akan menyebut hubungannya dengan gadis yang bernama Widati itu. Tetapi ternyata bahwa Mahisa Pukat tidak tergelincir dengan ucapan ucapannya, meskipun kadang-kadang Mahisa Murti menjadi tegang juga.
Kedua anak muda itu duduk di pendapa sampai jauh malam, justru karena malam itu adalah malam terakhir mereka berada di Kabuyutan itu. Tetapi akhirnya Ki Buyut pun telah mempersilahkan keduanya untuk beristirahat, karena esok harinya keduanya akan menempuh perjalanan yang tidak diketahui, betapa jauh dan betapa lamanya.
Malam itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengemasi bekal mereka yang tidak terlalu banyak, selain sebungkus kecil pakaian yang tidak berarti. Tetapi sesaat kemudian, ternyata bahwa Mahisa Pukat telah tertidur nyenyak, sementara Mahisa Murti masih tetap terjaga, meskipun ia pun sudah berbaring dipembaringan. Setiap kali ia memejamkan matanya, justru ingatannya kepada gadis yang bernama Widati itu serasa menjadi semakin tajam. Namun bagaimanapun juga ia sudah bertekad bulat untuk meninggalkan padukuhan itu.
Sesaat menjelang dini hari, Mahisa Murti sempat terlena beberapa waktu. Namun justru Mahisa Pukat lah yang kemudian telah terbangun. Meskipun demikian, Mahisa Pukat tidak membangunkan Mahisa Murti karena ia pun seolah-olah dapat mengerti, bahwa hampir semalaman Mahisa Murti tidak tidur, ternyata bahwa nampaknya ia masih lelap menjelang dini hari. Karena bukan demikianlah kebiasaannya.
Karena itu, maka Mahisa Pukat lah yang kemudian mendahului pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri.
Tetapi Mahisa Murti tidak terlalu lama pulas dalam tidurnya. Ia tidak terbiasa bangun setelah terbit. Karena itu, maka ia pun kemudian terbangun juga sebelum langit menjadi terang.
Namun pada pagi hari itu. keduanya benar-benar telah berniat untuk meninggalkan tempat itu.
Dengan berat hati, orang-orang Kabuyutan itu telah melepaskan kedua anak muda itu pergi. Apalagi mereka yang serba sedikit telah menerima terutama olah kanuragan. Mereka merasa bahwa yang mereka terima masih terlalu sedikit, sehingga mereka masih memerlukan jauh lebih banyak lagi.
Tetapi kedua anak muda itu tidak lagi dapat ditahan. Mereka benar-benar siap meninggalkan Kabuyutan itu. Ketika keduanya sudah berada di regol, maka seorang gadis berdiri di bawah sebatang pohon kemuning yang tumbuh di halaman. Dengan wajah yang suram gadis itu memperhatikan kedua anak muda yang sudah siap untuk berangkat.
Namun adalah diluar kehendaknya, ketika Mahisa Murti tiba-tiba saja sudah berpaling. Ketika dilihatnya gadis itu berdiri termangu-mangu, maka Mahisa Murti itu pun menarik nafas dalam-dalam.
Ki Buyut mengerutkan keningnya ketika ia melihat sikap anak muda itu. Ketika ia berpaling ke arah pandangan Mahisa Murti, maka dilihatnya anak gadisnya berdiri dengan kepala tunduk.
Meskipun tidak terucapkan, agaknya Ki Buyut bertanya di dalam hatinya, hubungan apakah yang sudah terjalin antara anak gadisnya dengan anak muda pengembara itu?
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat kemudian berkata, “Ki Buyut, sebagaimana sudah kami katakan, pada suatu saat kami akan kembali. Seandainya kami tidak akan mengambil kenangan yang akan diberikan oleh orang-orang di Kabuyutan ini, kami memang benar-benar akan singgah”
Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia melihat Mahisa Pukat tersenyum sambil memandangi Mahisa Murti, maka Ki Buyut pun dapat memaklumi, perasaan apakah yang tersirat di hati anak muda itu.
Karena itu, sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Segala terserah kepada kehendak Yang Maha Agung.”
Mahisa Pukat mengangguk sambil berkata, “Demikianlah Ki Buyut. Tetapi bukankah kita wenang memohon kepada-Nya?”
“Ya. Kita memang wenang memohon” sahut Ki Buyut.
“Sudah tentu, dengan pengharapan, bahwa permohonan kita akan terkabul” sambung Mahisa Pukat.
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Kita akan memohon”
Demikianlah, sejenak kemudian, maka kedua anak muda itu pun telah meninggalkan halaman rumah Ki Buyut. Mahisa Murti sempat berpaling dan seleret pandang anak muda itu telah membentur mata Widati.
Namun gadis itu kemudian menunduk dalam-dalam. Bahkan ia pun telah berlari masuk ke ruang dalam.
Ki Buyut hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak berkata apapun juga tentang anaknya.
Dalam pada itu. maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian menyusuri jalan padukuhan induk menjauhi rumah Ki Buyut. Beberapa orang anak muda telah mengikutinya sampai keregol padukuhan.
Sepeninggal kedua anak muda itu, maka Ki Buyut pun kemudian masuk keruang dalam, “Dilihatnya anak gadisnya duduk tepekur di pembaringannya, sementara pintu biliknya masih terbuka.
Perlahan-lahan Ki Buyut mendekati anaknya, yang terkejut melihat kehadirannya.
“Ireng, apa yang sebenarnya kau pikirkan?” bertanya Ki Buyut.
Widati menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya, “Tidak ada ayah”
“Jangan kau bohongi orang tua ini Ireng” berkata ayahnya kemudian, “meskipun tidak kau ucapkan, aku melihat sorot matamu ketika kau memperhatikan kedua anak muda itu telah membentur mata Widati anak muda yang meninggalkan Kabuyutan ini”
Widati menundukkan kepalanya. Terdengar suaranya lirih, “Tidak ada apa-apa ayah”
“Baiklah” berkata ayahnya, “Syukurlah jika tidak ada apa-apa di antara kalian. Namun demikian, baiklah ayah ingin mengatakan sesuatu serba sedikit”
Widati menjadi tegang. Sementara itu ayahnya berkata lebih lanjut, “Aku tidak menyesali hubunganmu dengan anak-anak muda. Aku kira hal itu wajar sekali. Tetapi ternyata bahwa kau tidak kerasan tinggal dirumah pamanmu, justru karena kau merasa diganggu oleh anak muda yang tidak kau sukai”
Widati tidak menyahut.
“Tetapi bagaimanapun juga, ayah mempunyai satu sikap, bahwa hubunganmu dengan anak-anak muda itu, harus kau batasi pada hubungan persahabatan saja. Jika hubungan itu terasa menjadi semakin dalam, maka banyak hal yang harus di amati. Misalnya, keturunan. Watak dan tingkah laku, juga kemungkinan masa depan. Mungkin kita bertemu dengan seseorang yang langsung kita kagumi. Tetapi kita tidak tahu asal usulnya, kita tidak tahu sifat dan tabiatnya yang sebenarnya, karena kita baru mengenal dalam waktu singkat. Sebab seseorang dapat saja menyelubungi sifat-sifatnya yang sebenarnya untuk sesuatu maksud”
Wajah Widati menjadi tegang, la mengerti maksud ayahnya. Yang disebut-sebut itu tentu anak-anak muda yang baru saja meninggalkan Kabuyutan itu, karena sebenarnyalah Ki Buyut tidak tahu asal-usul anak-anak muda itu. Ki Buyut pun tidak tahu sifat dan watak yang sebenarnya.
Bahkan Ki Buyut itu berkata lebih lanjut, “Aku dapat memberikan contoh yang jelas Ireng. Sebelum anak-anak muda itu datang, maka seorang tamu di Kabuyutan ini merupakan orang yang kita kagumi. Sikapnya yang tegas penuh wibawa, kepandaiannya bermain senjata dan nasehat-nasehatnya yang semula terasa sangat berarti bagi kita disini. Tetapi ternyata sikap itu adalah sikap yang terselubung. Sikap yang semu seperti salah seorang tetangga kita sendiri, yang bersikap semu pula. Seolah-olah ia tidak lebih dari petani biasa seperti kebanyakan penghuni Kabuyutan ini. Tetapi apa yang sebenarnya kita hadapi”
Widati menundukkan kepalanya. Ia mengerti maksud ayahnya dan ia pun tidak menganggap bahwa yang dikatakan oleh ayahnya itu keliru. Tetapi ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Menurut pendapatnya, salah seorang dari kedua anak muda itu adalah seorang anak muda yang mempunyai ciri yang terlalu baik. Ramah, sopan dan mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Menurut seorang kawannya, anak muda itu tentu tidak ada yang mengalahkan. Tetapi ia pun melihat tirai yang menyelubungi anak-anak muda itu. Mereka tentu tidak mengatakan tentang diri mereka yang sebenarnya. Karena itu, tentulah beralasan bahwa ayahnya mempunyai sikap tertentu.
Namun agaknya sulit bagi Widati untuk menghilangkan kenangannya terhadap anak muda yang seorang. Yang nampaknya lebih lembut dari yang lain. Seolah-olah segalanya mapan sebagaimana diidamkan pada seorang laki-laki muda. Tetapi Widati sama sekali tidak menjawab. Sementara itu ayahnya pun berkata selanjutnya, “Seterusnya Widati, kau harus selalu berhati-hati menghadapi masa datang. Kecuali kau harus dapat menjaga dirimu, maka kau pun harus memperhitungkan apa yang kira-kira bakal terjadi atasmu”
Widati masih menunduk. Namun terasa degup jantungnya menjadi semakin cepat.
Dalam pada itu, sepeninggalan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, anak-anak Kabuyutan itu pun seolah-olah mendapat kesempatan untuk melihat kedalam diri sendiri. Dua orang pengembara itu umurnya masih semuda dengan mereka. Tetapi keduanya sudah memiliki ilmu yang luar biasa. Yang menggelitik hati anak-anak muda itu adalah pertanyaan salah seorang dari kedua anak muda itu, “Jika kami mampu melakukannya, kenapa kalian tidak? Apa bedanya?”
Anak-anak-muda itu memang berpikir untuk mencari jawabnya. Anak muda yang menyebut diri mereka pengembara itu memang mengatakan, mungkin kesempatanlah yang telah membuat tingkatan mereka demikian. Tetapi untuk seterusnya apakah anak-anak muda itu tidak dapat berbuat sesuatu untuk menciptakan satu kesempatan, meskipun tidak sama dan setingkat.
Karena itu, sepeninggalan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, anak-anak muda yang mengantarkannya sampai ke gerbang padukuhan induk itupun berbicara diantara mereka”
Kita harus mengembangkan apa yang telah diberikan oleh kedua anak-anak muda itu”
“Ya” sahut yang lain, “kita dapat berlatih terus. Kita sudah menerima pokok-pokok unsur yang diperlukan. Jika kita tidak terlalu bodoh, maka kita akan dapat mengembangkannya meskipun serba sedikit”
“Kita akan mengembangkannya” jawab yang lain lagi. Bahkan katanya kemudian, “Bukan saja olah kanuragan. tetapi pesan-pesannya yang lainpun perlu kita perhatikan. Kita memang prihatin terhadap hutan dilereng yang gundul itu. Kita memang cemas menghadapi tanah longsor. Menghadapi banjir seperti yang dikatakannya itu”
“Ya. Sementara itu kita pun cemas menghadapi kejahatan seperti yang pernah terjadi. berkata yang lain lagi.
Dengan demikian, maka kehadiran mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang hanya beberapa hari saja di Kabuyutan itu telah dapat menumbuhkan kesan yang mendalam, terutama di antara anak-anak muda. Mereka merasa tersentuh, bahwa pengembara yang asing bagi Kabuyutan mereka, telah berbuat terlalu banyak terhadap Kabuyutan itu melampaui apa yang pernah dilakukan oleh anak-anak muda di padukuhan itu sendiri”
Dengan demikian, maka anak-anak muda itu pun telah berjanji kepada diri sendiri, bahwa mereka akan lebih banyak bekerja bagi Kabuyutan mereka sendiri”
Bekas yang ditinggalkan oleh kedua pengembara itu memang terasa oleh Ki Buyut, terutama dilingkungan anak anak mudanya. Bukan saja di bidang kewadagan dan ilmu kanuragan, tetapi ternyata kehadiran mereka telah menggetarkan gejolak jiwa anak-anak muda di padukuhan itu sendiri.
Meskipun demikian, ia tidak dapat bersikap seperti itu, tanpa pengamatan yang lebih mendalam, apabila anaknya telah memandang anak muda itu dari segi yang terlalu khusus, justru karena anak gadisnya itu sudah menjelang gadis dewasa.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berjalan semakin jauh. Mahisa Murti sendiri sama sekali tidak pernah berpaling. Justru Mahisa Pukat lah yang sering berpaling kearah jalur jalan yang panjang yang telah dilewatinya. Rasa-rasanya jalan itu panjang sekali sehingga malaslah untuk menjalaninya kembali di satu saat mendatang.
Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat menutup mata. Mahisa Murti agaknya benar-benar tertarik kepada seorang gadis yang bernama Widati, yang sehari-hari dipanggil Ireng itu.
Sementara itu Ireng sendiri sedang menelungkup di pembaringannya. Meskipun ia tidak menjawab sepatah kata pun ketika ayahnya memberinya nasehat, tetapi ketika ayahnya kemudian meninggalkannya, maka ia tidak dapat menahan lagi gejolak perasaannya. Betapapun juga ia berusaha, namun titik-titik air matanya telah mengembun di pelupuknya.
Anak muda yang meninggalkan halaman rumah itu tentu bukan orang-orang yang bertabiat buruk. Seorang di antaranya benar-benar telah memikat hatinya. Namun agaknya ayahnya kurang sependapat, karena beberapa hal seperti yang dikatakannya. Terutama bahwa ayahnya sama sekali tidak mengenal asal-usul anak muda itu.
“Tetapi apakah asal-usul itu mutlak harus ditelusuri?” bertanya Widati di dalam hatinya, “jika seseorang ternyata menunjukkan sikap, sifat dan watak yang baik serta bertanggung jawab, apakah artinya asal-usul itu Sebaliknya, meskipun menurut silsilahnya seseorang adalah orang yang terpandang, tetapi orang itu tidak bersikap dan bersifat terpuji apalagi tidak bertanggung jawab, apakah artinya nilai asal-usulnya itu?”
Namun demikian Widati tidak berani mengatakannya kepada ayahnya. Ia pun tidak berani pula mengatakannya kepada ibunya, karena menurut dugaannya, ibunya tentu sudah mendengarnya dari ayahnya, apa yang telah terjadi atas dirinya serta sikap ayahnya itu sendiri.
Karena itu. ia berusaha untuk membawa beban perasaan nya itu seorang diri. betapapun beratnya
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memasuki satu daerah yang mendebarkan. Mereka mulai melintasi lereng pegunungan yang menjadi gersang. Jaiur-jalur air hujan yang mengalir dengan membawa lapisan tanah nampak semakin lama agaknya menjadi semakin dalam, sementara pepohonan yang nampak menjadi semakin jarang.
Mahisa Pukat memperhatikan lereng pegunungan itu dengan hati yang berdebaran. Terbayang masa-masa mendatang yang panjang. Jika tanah di lereng ini terus- menerus di hanyutkan oleh air hujan, maka akibatnya akan sangat terasa. Bukan saja saat-saat air hujan itu mengalir tanpa kendali sehingga dapat menimbulkan bahaya yang dahsyat di kaki pegunungan itu, namun akhirnya pegunungan itu benar-benar akan terkelupas sehingga yang tersisa dalah seonggok batu-batu padas raksasa yang kering dan tandus.
“Belum terlambat” desis Mahisa Pukat.
Mahisa Murti berpaling. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kau berkata sesuatu?”
Mahisa Pukat mengangguk. Jawabnya, “Ya. Aku mengatakan bahwa usaha menyelamatkan lereng pegunungan ini masih belum terlambat. Mudah-mudahan Ki Buyut bersama-sama dengan Kabuyutan tetangganya di sekitar daerah ini akan berhasil mengatasi keadaan ini dengan satu kesadaran baru”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Agaknya angan-angannya masih saja meloncat kembali ke Kabuyutan yang baru saja ditinggalkannya.
Mahisa Pukat pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka pun kemudian melangkah dengan cepat di lereng pegunungan melintas ke lembah di sebelahnya.
Keduanya tidak menghiraukan matahari yang menjadi terik di puncak langit. Ketika mereka menyuruk di bawah hutan yang tidak terlalu lebat, maka panasnya sinar matahari tidak begitu terasa membakar kulit.
Meskipun demikian, ketika mereka sampai di pinggir sebuah sungai kecil yang mengalirkan air yang jernih, maka mereka pun memerlukan untuk berhenti barang sejenak.
Namun Mahisa Murti itu pun kemudian berkata, “Kita dapat beristirahat di sini. Di sini banyak burung yang dapat kita tangkap dengan sumpit. sehingga kita tidak akan kelaparan”
Mahisa Pukat memandang berkeliling. Memang terasa sejuknya udara. Namun ternyata Mahisa Pukat itu menjawab, “Apakah tidak lebih baik kita berjalan terus sampai saatnya matahari terbenam?”
“Jika kita tidak lagi menemukan tempat sesejuk ini” berkata Mahisa Murti.
“Tentu bukan tempat yang sejuk yang penting bagi kita” Jawab Mahisa Pukat, “jika demikian, maka kita tidak akan bergeser dari tempat ini”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Nanti kita akan meneruskan perjalanan”
Demikianlah keduanya memang melanjutkan pengembaraan mereka. Mereka berjalan menyusuri lereng-lereng pegunungan, lembah lembah dan melintasi padang perdu. Tetapi sekali-sekali mereka pun berjalan melalui daerah berpenghuni yang padat tanpa menarik perhatian.
Demikianlah, mereka melakukan dari hari kehari. Padukuhan demi padukuhan mereka lalui, sehingga dengan demikian mereka menjadi semakin jauh dari sebuah Kabuyutan yang menyimpan seorang gadis yang bernama Widati. Seorang gadis yang belum lama kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa lamanya ia berada di rumah pamannya.
Tetapi berjalan terus meskipun dalam pengembaraan adalah menjemukan. Mereka tidak menemukan pengalaman baru yang dapat meningkatkan pengamatan mereka terhadap kehidupan, sehingga karena itu, maka mereka mulai berpikir lain.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata telah bersepakat untuk mencari tempat pemberhentian. Mungkin di tempat itu mereka akan mendapatkan pengalaman yang akan bermanfaat bagi hidup mereka kelak.
Ketika mereka mendekati sebuah padepokan yang besar, maka Mahisa Murtipun berkata, “Apakah kita akan memasukinya?”
“Ada juga baiknya” berkata Mahisa Pukat, “mungkin kita akan mendapat kesempatan barang sepekan untuk tinggal di padepokan ini. Beruntunglah kita jika selama kita tinggal di padepokan itu, kita akan mendapatkan sesuatu”
“Aku setuju” berkata Mahisa Murti, “nampaknya padukuhan ini sebuah padukuhan yang tenang. Di sekitarnya terdapat sawah yang hijau dan pategalan yang subur”
“Mudah-mudahan di padukuhan ini tidak ada seorang gadis yang dapat menyentuh dasar perasaan yang paling dalam” desis Mahisa Pukat.
“Ah” Mahisa Murti berdesah. Tetapi ia tidak berkata lebih lanjut.
Demikianlah keduanya pun kemudian memasuki jalur jalan menuju ke padukuhan itu. Padukuhan yang nampak hijau subur dan bahkan terasa ketenangan menyentuh hati kedua anak muda itu. Sejenak kemudian mereka telah memasuki lingkungan sebuah padepokan. Ketika mereka sampai di regol halaman yang luas. maka mereka pun menjadi termangu-mangu.
Sebelum mereka berbuat sesuatu, mereka melihat seorang cantrik yang tergesa-gesa mendekat. Sambil membungkuk hormat, cantrik itu pun Kemudian bertanya, “Ki Sanak, apakah kepentingan Ki Sanak mendekati regol padepokan kami yang sunyi ini”
Mahisa Murti pun mengangguk pula. Katanya, “Ki Sanak. Kami adalah dua orang bersaudara yang sedang mengembara. Kami melihat betapa sejuk dan damainya lingkungan padepokan ini. sehingga rasa-rasanya kami ingin singgah barang sejenak”
“O, tentu kami tidak akan berkeberatan. Marilah Ki Sanak, aku akan menyampaikan kedatangan Ki Sanak kepada Empu Nawamula yang untuk sementara memimpin padepokan ini”
Kedua anak muda itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu Mahisa Pukat, “Kenapa untuk sementara?”
“Ya. Hanya untuk sementara. Pemimpin padepokan kami yang sebenarnya sudah meninggal dunia hampir setahun yang lalu. Empu Nawamula adalah adik satu- satunya dari pemimpin padepokan kami yang telah meninggal itu. Karena tidak ada orang lain, maka Empu Nawamula untuk sementara diserahi pimpinan padepokan ini, sementara anak pemimpin padepokan kami yang telah meninggal itu sedang berguru kepada seorang pertapa yang tidak ada duanya di tempat yang jauh. Jika ia kembali kelak, maka ialah yang berhak untuk menggantikan kedudukan ayahnya yang telah meninggal itu” jawab cantrik yang menemui mereka.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan rendah hati Mahisa Murti berkata, “Ki Sanak, apakah kiranya kami diperkenankan untuk singgah barang satu dua hari di padepokan ini.
“Tentu. Empu Nawamula adalah orang yang baik. Ia tentu tidak akan berkeberatan untuk menerima kedatangan Ki Sanak berdua” jawab cantrik itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah dibawa oleh cantrik itu memasuki padepokan. Sejak keduanya melangkah di halaman, terasa betapa tenangnya kehidupan di padepokan itu. Di antara beberapa buah rumah yang terdapat di padepokan itu terdapat pohon buah-buahan yang rimbun. Pohon jambu air yang berbuah lebat. Manggis dan Srikaya yang berbuah pula. Agak menyudut, nampak sebuah belumbang yang besar. Beberapa ekor angsa berenang di airnya yang kehijauan.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Padepokan itu benar-benar merupakan sebuah padepokan yang asri.
“Ki Sanak” bertanya Mahisa Murti, “apakah Empu Nawamula tidak mempunyai sebuah padepokan tersendiri sebelum ia berada di padepokan ini?”
Cantrik itu menggeleng. Jawabnya, “Empu Nawamula bukan seorang pemimpin padepokan Ia tinggal di satu lingkungan yang kecil. Empu Nawamula tenggelam dalam pekerjaannya bersama tiga orang cantriknya”
“Pekerjaan apa yang dilakukannya? bertanya Mahisa Murti.
“Empu Nawamula adalah seorang ahli membuat keris. Ia memang benar-benar seorang empu” jawab cantrik itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Sementara itu, Mahisa Murtipun bertanya, “Apakah di sini Empu Nawamula juga masih membuat keris?”
“Ya” jawab cantrik itu, “tiga orang pembantunya berada di sini pula. Jika kau melihat asap di kebun belakang yang agak jauh itu, disanalah Empu Nawamula melakukan tugasnya. Meskipun Empu Nawamula bukan seorang Empu yang banyak menghasilkan. Tetapi satu dua keris yang dibuatnya merupakan pusaka yang sangat berharga”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu maka cantrik itu pun telah mempersilahkannya naik kependapa sambil berkata “Silahkan. Aku akan menyampaikannya kepada Empu Nawamula”
Terima kasih” jawab Mahisa Murti” biarlah aku
menunggu disini saja. Aku bukan seorang tamu yang pantas. Kami berdua hanyalah pengembara yang ingin singgah barang satu dua hari”
Cantrik itu tidak memaksanya. Dibiarkannya saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk di tangga pendapa, karena mereka memang merasa bukan tamu tamu yang harus mendapat penghormatan.
Sepeninggal cantrik itu. maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang duduk di tangga pendapa itupun sempat mengamati halaman padepokan yang luas tetapi bersih.
Sekali-sekali terdengar lenguh lembu di kandang di kebun belakang.
Sementara itu terdengar pula suara lesung dengan iramanya yang rampak. Agaknya beberapa orang perempuan tengah menumbuk padi didekat lumbung padepokan itu.
Namun dalam pada itu. tiba-tiba saja Mahisa Murti berdesis Mahisa Pukat, rasa-rasanya aku pernah mendengar nama Empu Nawamula.
Dimana dan kapan, aku masih belum berhasil mengingatnya.
“Ya. aku juga pernah mendengarnya. Mungkin pada saat-saat kita ikut ayah yang sering memperjual belikan batu-batu berharga dan kadang-kadang membawa pula wesi
aji. Agaknya ayah memang pernah berhubungan dengan Empu Nawamula“ jawab Mahisa Pukat.
“Ya” sahut Mahisa Murti dengan serta merta
”ayah memang pernah menemui seorang Empu untuk memesan sebilah keris. Bukan untuk ayah sendiri, tetapi untuk
Seorang sahabatnya. Empu itu bernama Nawamula” Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Katanya
“Ya. Agaknya memang demikian. Jika Empu itu melihat kita di sini. maka ia akan segera mengenal kita pula. Tetapi apakah Empu itu bernama Nawamula?”
Bersambung......
******************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar