Jumat, 11 Desember 2020

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 001-03

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID 001-03*

“Empat orang” jawab kawannya, “tetapi di sana penuh dengan anak-anak muda bersenjata”

“Tetapi sebaiknya pusaka-pusaka itu besok kita bawa kembali” berkata pengawal itu dengan demikian. Akuwu tidak akan selalu digelisahkan oleh kemungkinan-kemungkinan buruk, “meskipun pusaka-pusaka itu dapat menolong diri mereka sendiri”

Kawannya mengangguk-angguk saja, sementara pengawal itu pun kemudian pergi ke banjar.

Dalam pada itu, meskipun para pengawal yang mengejar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengarkan pula ceritera tentang dua orang anak muda yang diduga keluar dari pusaka-pusaka yang tersimpan itu dan menjelma menjadi dua orang yang memiliki ilmu yang tidak ada taranya, namun mereka sama sekali tidak sampai pada pikiran, bahwa dua orang yang dikejarnya itulah sebenarnya anak-anak muda yang dimaksudkan.

Karena itu, maka keduanya sama sekali tidak mempunyai arah perhitungan yang demikian.

Tetapi sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mempunyai pertimbangan tentang diri mereka. Untuk menghindari perhatian orang yang mungkin saja tertuju kepada mereka yang berdua, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah sepakat, mereka tidak akan menampakkan diri berdua. Ketika hari itu mereka memerlukan sesuatu, maka Mahisa Pukat lah yang pergi ke kedai untuk membelinya.

Meskipun Mahisa Pukat datang sendiri, tetapi agaknya ia sudah menarik perhatian. Untunglah bahwa pakaiannya memberikan kesan bahwa ia memang seorang pengembara. Karena itu, ketika pemilik itu bertanya kepadanya, dan dijawabnya bahwa ia memang seorang pengembara, maka pemilik warung itu tidak mempersoalkannya lebih lanjut.

Namun dalam pada itu, selagi Mahisa Pukat membeli beberapa potong ketela pohon rebus, ia sempat mendengar pembicaraan beberapa orang yang kebetulan ada di kedai itu.
“Kabuyutan ini sedang tidak tenang” berkata orang itu., “Ya. Justru karena pusaka-pusaka yang dipergunakan dalam wisuda itu” jawab yang lain.

“Tetapi menurut pendengaranku, besok barang-barang itu akan dibawa langsung oleh Akuwu” berkata orang pertama.

“Syukurlah. Tetapi sayang juga dengan dua orang anak muda itu. Seandainya keduanya bersedia tinggal di sini dan tidak lagi memasuki selongsongnya, maka keduanya akan menjadi pepunden di sini”

“Apa yang mereka ingini tentu akan dipenuhi, karena keduanya akan dapat menjadi lambang keselamatan. mana mungkin keduanya tinggal jika pusaka-pusaka itu tidak dibiarkan tinggal disini. Keduanya dengan sendirinya akan ikut terbawa jika pusaka itu dibawa oleh Akuwu. Kita tidak akan dapat menahannya dengan cara apapun juga”

Mahisa Pukat tidak tahan mendengarkan pembicaraan itu lebih lama lagi. Karena itu, maka iapun segera meninggalkan tempat itu. Ketika Mahisa Murti mendengar ceritera Mahisa Pukat, maka ia pun hanya dapat tersenyum. Katanya, “Salah kita. Tetapi apakah kita akan tetap membiarkan anggapan yang keliru tentang diri kita itu?”

“Aku tidak mempunyai keberatan apa-apa” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Murti menarik nafas dalam dalam Maka katanya, “Sebenarnya aku merasa kasihan kepada mereka. Mereka akan dapat tersesat dengan anggapannya itu. Pada suatu saat mereka akan menyadarkan diri kepada kekuatan benda-benda upacara itu, seolah-olah benda benda itu benar-benar mempunyai kekuatan yang langsung dapat hadir dalam ujud anak-anak muda seperti kita ini”

“Mereka tidak akan berbuat demikian” jawab Mahisa Pukat, “mereka tidak mempunyai cara untuk memanggil ujud yang mereka sangka ada di dalam benda benda keramat mereka”

“Tetapi mereka akan dapat mempercayakan segala sesuatunya kepada sikap benda-benda itu sendiri. Justru mereka menganggap bahwa benda-benda itu akan dapat menyelamatkan diri mereka. Bukankah hal itu berbahaya? Mereka akah menjadi lengah. Sedangkan barang-barang itu nilainya tidak terkira. Benda-benda yang terbuat dari emas. tretes berlian dan logam-logam berharga lainnya. Juga bebatuan yang mereka anggap mempunyai kekuatan gaib dan kemampuan yang tidak terjadi lagi” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mulai merenungi kata-kata Mahisa Murti. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk sambil bergumam

“Aku mengerti. Tetapi semuanya sudah telanjur. Jika sejak semula kau berkata seperti itu, maka aku tentu akan bersikap lain”

“Akupun tidak memikirkannya sebelumnya” jawab Mahisa Murti.

“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Memang memerlukan satu langkah yang tepat. Jika tidak, maka akibatnya akan jauh berbeda dari yang kita kehendaki” jawab Mahisa Murti pula.

“Apakah yang sebenarnya kita kehendaki?” desis Mahisa Pukat, “apakah kita akan memberikan keyakinan kepada mereka, bahwa anggapan mereka tentang dua orang anak muda itu keliru? Juga tentang dua orang yang mereka kejar- kejar menjelang pagi di halaman banjar itu?”

“Kita akan memikirkannya” berkata Mahisa Murti, “kitapun harus tahu, apakah pusaka itu masih tetap berada di padukuhan itu, atau akan segera dibawa pergi bersama Akuwu”

Memang sulit bagi keduanya untuk mendapatkan keterangan yang pasti tentang benda-benda berharga itu. Namun Mahisa Pukat pun mengatakan kepada Mahisa Murti tentu apa yang didengarnya dari orang di kedai itu, bahwa benda-benda berharga itu akan segera di bawa bersama Akuwu esok pagi”

“Kita masih mempunyai waktu untuk merenung cara yang paling baik yang dapat kita tempuh untuk memberikan keyakinan, bahwa ceritera yang mereka terima sebagai satu kenyataan itu tidak benar. Tidak ada pusaka yang dapat menjelma menjadi manusia dari antara pusaka-pusaka yang dipergunakan untuk kelengkapan upacara itu”

Dengan demikian, maka kedua anak muda itu telah mencoba merenungkan cara yang paling baik untuk mengatakan kepada orang-orang dipadukuhan itu, atau kepada Akuwu dan para pengawalnya, bahwa anggapan mereka tentang dua orang anak muda itu keliru.

Namun justru karena itu, maka kedua orang anak muda itu. tidak meninggalkan tempat itu sehari penuh. Mereka tidak melanjutkan perjalanan mereka ke tempat yang tidak pasti. Tetapi mereka tetap saja menunggumatahari tenggelam di balik cakrawala.

“Tidak ada cara yang dapat kita tempuh” berkata Mahisa Murti kecuali malam nanti kita memasuki padukuhan itu dan berkata terus terang tentang diri kita masing-masing”

“Apakah mereka akan percaya?” bertanya Mahisa Pukat.

“Para pengawal akan mengenal kita. Orang-orang yang tertangkap itu pun mengenal kita pula” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Mudah-mudahan mereka tidak melupakan wajah-wajah kita yang hanya dapat mereka lihat sekilas, berkata Mahisa Pukat kemudian.

“Tetapi rasa-rasanya aku tidak sampai hati melihat wajah-wajah mereka yang tentu akan menjadi sangat kecewa melihat kenyataan yang tidak mereka kehendaki” berkata Mahisa Murti kemudian.

“Jadi rencanamu goyah? Kau akan membiarkan orang-orang itu tetap pada pendapatnya? Sudah aku katakan, aku tidak berkeberatan jika anggapan itu masih tetap ada di dalam diri mereka. Meskipun demikian aku dapat mengerti keberatanmu. Karena itu aku setuju untuk menyatakan kebenaran ini. Sekarang kau sendiri yang menjadi ragu” sahut Mahisa Pukat.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah. Mungkin memang pahit untuk melihat kenyataan yang tidak dikehendaki. Tetapi mereka harus berani menatap kenyataan itu sebagai satu kebenaran. Dua orang anak muda itu bukan tuah dari pusaka-pusaka yang besok akan dibawa oleh Akuwu kembali ke istananya itu”

“Apakah kita akan langsung menghadap Akuwu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya. Malam nanti kita memasuki regol padukuhan. Mungkin kita akan ditangkap. Kita tidak akan melawan. Jika kita dihadapkan kepada Akuwu, atau kepada Ki Buyut yang baru itu, kita akan berkata terus terang, apa yang pernah terjadi. Justru karena kita mendengar bahwa mereka mempunyai anggapan yang keliru tentang diri kita. maka kita datang untuk meluruskan kekeliruan itu” jawab Mahisa Murti

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya”Baiklah. Aku dapat mengerti. Tetapi kita harus bersiap menghadapi kemungkinan yang barangkali juga tidak pernah kita duga sebelumnya. Mungkin kita akan menghadapi tindak kekerasan. Bagaimanapun juga, aku tetap tidak mau dianggap sebagai orang-orang yang dikirim oleh sekelompok penjahat untuk mengamati padukuhan itu”

“Tentu. Bagaimanapun juga kita masih mempunyai harga diri.

Apalagi untuk menjalani hukuman gantung di alun- alun” berkata Mahisa Murti kemudian.

“Akhirnya keduanya mendapatkan satu kesepakatan. Namun keduanya menyadari, mungkin ada perlakuan yang kurang menyenangkan bagi mereka. Bahkan mungkin mereka harus berbuat sesuatu untuk melindungi diri mereka sendiri.

Demikianlah, ketika langit menjadi suram, keduanya pun telah berkemas. Mereka akan pergi ke padukuhan yang mempunyai anggapan yang aneh tentang diri mereka berdua. Pada suatu saat mereka disanjung karena mereka dianggap sebagai perwujudan dari kesaktian pusaka-pusaka yang dipergunakan untuk upacara, tetapi pada saat yang lain mereka diburu seperti memburu binatang buas yang masuk ke padukuhan untuk mencuri ternak.

Dengan hati yang berdebar-debar, kedua orang anak muda itu mendekati regol. Di bawah cahaya obor yang cukup besar, keduanya melihat kesiagaan di regol itu. Di samping anak-anak muda yang bertugas, ternyata di dalam regol masih terdapat beberapa orang anak-anak muda yang hilir mudik. Mereka ikut membantu kawan-kawan mereka.

“Beberapa langkah dari regol kedua anak muda itu berhenti. Keragu-raguan masih selalu membayangi mereka. Namun akhirnya Mahisa Murti berkata, “Marilah. Kita berniat baik. Kita tidak akan merugikan mereka, kecuali jika mereka sendiri memaksa kita berbuat demikian.

Dengan langkah pasti kedua anak muda itu pun kemudian mendekat regol padukuhan itu sebagaimana sudah mereka duga maka anak-anak muda yang berjaga-jaga di regol itu telah menghentikan keduanya

“Siapa kalian” bertanya pemimpin dari anak anak muda itu.

“Kami dua uang kakak beradik yang merantau tanpa tujuan” jawab Mahisa Murti.

Jawaban itu mengejutkan. Namun kemudian anak muda itu bertanya pula, “Apa maksudmu memasuki padukuhan kami?”

“Kami hanya ingin bermalam saja di padukuhan ini jika kami mendapat tempat untuk berteduh. Mungkin di serambi banjar atau ditempat-tempat lain” jawab Mahisa Pukat.

Sebelumnya memang pernah terjadi. Orang-orang yang sedang merantau atau pejalan yang kemalaman, dapat bermalam di banjar padukuhan itu Bahkan sekali-sekali dalam satu kesempatan, kadang-kadang mereka mendapatkan makan atau sepotong ketela rebus dari para peronda.

Tetapi anak muda itu menjadi ragu-ragu, justru dalam keadaan yang terasa gawat pada waktu itu. Beberapa orang kawannya pun kemudian telah mengerumuni dua orang anak muda yang mengaku sebagai perantau itu.

Ternyata anak-anak muda itu tidak cepat menghubungkan kedua orang anak muda yang memasuki padukuhan mereka itu dengan dua orang anak muda yang hadir di banjar sebagai ujud dari pusaka-pusaka Akuwu yang dipergunakan dalam kelengkapan wi suda Ki Buyut yang baru. Atau mereka pun tidak cepat menganggap bahwa dua orang itu adalah orang yang telah dikejar-kejar oleh para pengawal dan orang-orang padukuhan itu sendiri. Yang tumbuh di hati anak-anak muda pada waktu itu hanyalah sekedar kecurigaan karena keadaan yang sedang gawat pada waktu itu.

“Maaf Ki Sanak” berkata pemimpin dari anak-anak muda itu, “kedatangan kalian justru pada saat yang tidak menguntungkan. Padukuhan kami sedang di bayangi oleh kejahatan yang dapat membahayakan. Karena itu, untuk satu dua hari ini, kami tidak dapat memberikan kesempatan kepada Ki Sanak berdua untuk bermalam”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi termangu- mangu sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Bukankah kami hanya berdua saja? Apa yang dapat kami lakukan. Sementara itu kami pun tidak bersenjata. Kami hanya ingin menumpang tidur. Tidak lebih”

Sekali lagi pemimpin dari anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu. Ia pun sependapat dengan Mahisa Murti. Hanya dua orang anak muda. Apakah yang dapat mereka lakukan? Apalagi jika keduanya mendapat pengawasan yang ketat. Jika keduanya dibiarkan tidur di serambi depan banjar, tidak diserambi samping, maka para peronda akan dapat mengawasi mereka dengan langsung.

Apalagi di ruang dalam ada beberapa orang pengawal yang juga berjaga-jaga. Selebihnya, pusaka-pusaka itu sendiri akan mampu melindungi diri mereka.

Selagi pemimpin anak-anak muda di regol itu merenung, tiba-tiba saja seorang anak muda yang bertubuh pendek dengan otot yang mencuat di wajah kulitnya telah melangkah maju sambil membentak, “Apakah kalian tidak mendengar bahwa kalian harus pergi?”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Ia tidak senang mendengar kata-kata yang kasar itu. Tetapi ia masih mencoba menahan diri.

“Ki Sanak” berkata ppemimpin anak-anak muda itu kemudian, “apa boleh buat. Agaknya kawan-kawanku berkeberatan”

“Belum tentu” tiba-tiba saja Mahisa Pukat menyahut, “hanya seorang diantara kawan-kawan Ki Sanak yang tidak sependapat dengan Ki Sanak, bahwa memberikan tempat bermalam bagi orang yang kemalaman merupakan satu perbuatan yang terpuji”

Anak muda yang bertubuh pendek dengan otot-otot yang mencuat kemerah-merahan, kemarahannya nampak semakin memuncak.

“Kau mencari perkara anak setan” geram orang bertubuh pendek itu.

Mahisa Murtilah yang kemudian menyahut, “Sama-sekali tidak, Saudaraku, aku hanya ingin mengatakan apa yang terakhir olehnya menilik sikap kawan-kawanmu, “

Orang bertubuh pendek itu meloncat maju. Tangannya telah terayun menampar pipi Mahisa Murti.

Mahisa Murti sama sekali tidak menghindar. Ia menyeringai menahan sakit. Tetapi justru karena daya tahannya yang tinggi, maka perasaan sakit itu pun segera dapat diatasinya.

Mahisa Pukat lah yang hampir saja menerkam orang itu. Tetapi Mahisa Murti sempat menggamitnya. Sementara itu. kawan kawan anak muda itu pun berusaha melerainya.

“Jangan” berkata pemimpin dari anak-anak muda itu, “jika kita menolak, biarlah kita menolak. Tetapi jangan menyakitinya. Mungkin mereka benar-benar orang yang memerlukan pertolongan”

Orang bertubuh pendek dan berotot mencuat menjulur di bermukaan kulitnya itu menggeram. Tetapi, ia tidak memukul lagi.

“Ki Sanak” berkata pemimpin anak-anak muda itu, “sebaiknya kalian meninggalkan padukuhan ini. Bermalamlah di padukuhan lain. Mereka yang tidak sedang mengalami kesulitan seperti kita disini. tentu akan dapat menerima kalian dengan baik”

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak segera pergi. Mereka memang tidak ingin pergi ke padukuhan- padukuhan yang lain. Mereka ingin bermalam di padukuhan itu.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba seorang di antara orang-orang padukuhan itu yang datang mengerumuni Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang semalam berdiri di sebelahnya dan yang ternyata telah melarikan diri. Karena itu, maka dengan lantang ia berkata, “Orang itulah yang kita buru semalam”

“He” Orang yang bertubuh rendah dengan otot-otot di kulitnya itu terkejut.

“Ya. Aku tidak keliru. Aku berdiri disebelahnya. Meskipun saat itu gelap, dan cahaya obor tidak terlalu banyak menggapai wajahnya, tetapi aku yakin” berkata orang yang mengenalinya itu.

“Jika demikian, jelas, keduanya adalah penjahat-penjahat itu” teriak yang lain.

“Biarlah kita buat keduanya jera” geram orang bertubuh pendek.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Sementara itu Mahisa Pukatpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun Mahisa Murti justru berbisik, “Kebetulan sekali. Mereka akan menangkap kita. Kita akan mereka bawa menghadap Ki Buyut”, “Jika mereka berbuat kasar?” bertanya Mahisa Pukat.

Namun dalam pada itu. pemimpin anak-anak muda diregol itu berkata, “Kita tangkap mereka. Tetapi jangan disakiti. Kita akan dapat memperlakukan mereka dengan cara lain. Tentu mereka mempunyai maksud tertentu bah wa mereka datang kembali malam ini setelah malam-malam sebelumnya”

Kawan-kawannya memandangi pemimpin anak-anak muda itu dengan heran. Seorang di antara mereka berkata, “Sudah tentu, maksudnya tentu akan melakukan kejahatan lagi, karena malam kemarin ia gagal berbuat sesuatu. Mereka tentu sudah mendengar bahwa malam ini adalah malam terakhir benda-benda berharga itu disini. Karena itu, maka mereka tentu akan berusaha dengan cara yang lebih kasar lagi dari cara-cara sebelumnya”

“Aku mempunyai pertimbangan lain” berkata pemimpin anak-anak muda yang berada di regol itu, “mereka datang justru melalui regol ini. Mereka sadar, bahwa diregol ini tentu banyak penjaganya”

“Itu adalah sekedar cara. Mereka minta ijin untuk bermalam”

“Tetapi jika kita mengijinkan, maka mereka akan berbuat jahat” berkata anak muda yang lain.

“Mungkin” jawab anak muda itu, “tetapi biarlah Ki Buyut yang baru itu memeriksanya Mungkin mereka akan berbuat jahat”

“Tetapi mungkin pula tidak”

Kawan-kawannya nampaknya masih belum puas. Tetapi dalam pada itu Mahisa Murti berkata, “Kami bersedia ditangkap dan dihadapkan kepada siapa saja. Kami memang tidak akan berbuat apa-apa selain mohon tempat untuk bermalam”

Pemimpin anak-anak muda itu pun kemudian berkata, “Marilah. Kita akan membawanya menghadap Ki Buyut”

“Ki Buyut tidak ada di banjar” berkata salah seorang dari anak-anak muda itu, “aku baru saja datang dari banjar”

“Kita akan membawanya ke rumahnya” berkata pemimpin dari anak-anak muda itu.

Demikianlah, maka anak-anak muda itu tidak dapat memaksakan kehendaknya. Mereka kemudian membiarkan pemimpin anak-anak muda itu membawa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pergi kerumah Ki Buyut diiringi beberapa orang anak-anak muda. Bahkan anak muda yang ingin berbuat kasar terhadap kedua orang anak muda itupun telah mengikut pula. Jika ada kesempatan, maka mereka sudah siap untuk bertindak tegas terhadap kedua orang yang dianggapnya sebagai dua orang penjahat itu.

Ketika mereka sampai kerumah Ki Buyut yang baru, mereka pun segera dibawa naik ke pendapa, sementara seseorang di antara mereka telah mengatakan kepada Ki Buyut yang sedang berada di ruang dalam, “Ada apa?” berkata Ki Buyut.

“Dua orang yang mencurigakan telah memasuki regol” berkata orang yang menghadap Ki Buyut itu, “mereka sudah kami bawa ke pendapa ini”

“Apa yang telah mereka lakukan?” bertanya Ki Buyut., “Belum ada” jawab pemimpin anak-anak muda yang berada di regol itu.

“Kenapa kalian dapat menuduh bahwa keduanya adalah penjahat” bertanya Ki Buyut kemudian.

Orang itu pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi di regol. Bahwa ada orang yang langsung dapat mengenalinya sebagai orang yang dikejar-kejar pada malam sebelumnya.

“Apakah kalian yakin akan hal itu?” bertanya Ki Buyut.

“Keduanya tidak membantah” jawab orang itu.

Ki Buyut kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan melihatnya di pendapa”

Sejenak kemudian, setelah membenahi pakaiannya, Ki Buyut pun telah keluar di pendapa. Di antara anak-anak muda dan orang-orang yang mengikuti Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Ki Buyut pun mulai bertanya tentang beberapa hal kepada kedua orang anak muda itu.

“Siapa namamu?” bertanya Ki Buyut.

“Namaku Pinta” jawab Mahisa Murti, “saudaraku itu bernama Soma”

“Kalian berasal dari mana?” bertanya Ki Buyut pula.

“Kami adalah pengembara Ki Buyut” jawab Mahisa Murti.

Ki Buyut itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah benar bahwa kau kemarin telah dikejar-kejar oleh orang-orang di padukuhan ini?”

Mahisa Murti yang memang ingin mengatakan yang sebenarnya tentang pusaka-pusaka itu tidak membatah. Jawabnya, “Ya. Akulah yang kemarin di kejar-kejar bersama saudaraku”

“Jadi benar bahwa kalian adalah penjahat-penjahat?” bertanya Ki Buyut pula.

“Tentu tidak Ki Buyut” jawab Mahisa Pukat, “kami bukan penjahat. Sebenarnya kemarin pun kami hanya ingin bermalam di banjar. Tetapi ternyata banjar itu penuh dengan orang”

“Apa yang dikatakannya?” bertanya Ki Buyut.

“Mereka mengaku orang-orang dari padukuhan sebelah” jawab orang itu.

“Benarkah kalian berhobong?” bertanya Ki Buyut pula. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun agaknya sudah waktunya untuk menolong orang-orang Kabuyutan itu yang mempunyai pandangan yang keliru terhadap pusaka-pusaka yang berada di banjar, yang agaknya telah mempengaruhi pendapat Akuwu pula. Akuwu yang memiliki benda-benda itu sejak turun tumurun, yang selamanya tidak pernah memikirkan ceritera yang aneh itu, tiba-tiba telah menjadi ragu-ragu.

“Benar Ki Buyut” berkata Mahisa Murti, “tetapi aku mempunyai alasan. Aku tidak mau ditangkap dan diperlakukan tidak baik. Sebenarnyalah aku ingin mengatakan sesuatu yang barangkali mengejutkan bagi Ki Buyut dan orang-orang Kabuyutan ini”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun seorang anak muda telah berkata, “Jangan mengatakan yang tidak benar. Jika kau masih saja mengigau, maka kau akan mengalami perlakuan yang kurang baik disini”

Mahisa Murti berpaling ke arah orang itu. Namun baginya, saatnya memang sudah tiba. Betapapun keragu- raguan menggelitik jantungnya, namun ia sudah berniat dengan pasti, untuk menyampaikan ceritera yang sebenarnya tentang dua orang anak muda yang disangka ujud dari pusaka-pusaka yang berada di banjar. Karena itu, maka Mahisa Murtipun kemudian berkata, “Ki buyut. Kami berdua kemarin telah menyaksikan wisuda yang dilakukan oleh Akuwu. Kami berdua ikut merasa bangga bahwa wisuda itu telah berlangsung dengan baik, selamat dan hidmat. Namun dalam pada itu. kamipun telah mendengar satu ceritera yang sangat menarik tentang benda-benda keramat yang menjadi kelengkapan upacara wisuda itu”

“Apa yang menarik” bertanya Ki Buyut.

“Yang menarik adalah nilai dari benda-benda itu” sahut seorang anak muda.

“Jangan memotong” berkata Ki Buyut kemudian. Lalu katanya kepada Mahisa Murti, “lanjutkan”

“Ki Buyut’ sambung Mahisa Murti, “apakah benar bahwa benda-benda berharga itu dapat menjelma menjadi dua orang anak muda?”

“Ya” jawab Ki Buyut, “para pengawal telah membuktikannya. Orang-orang yang tertangkap itu pun mengatakannya”

“Itulah yang ingin aku jelaskan. Ceritera itu sama sekali tidak benar” berkata Mahisa Murti.

“Tutup-mulutmu” bentak seorang anak muda, “apakah kau tidak takut kuwalat?”

“Aku dapat menjelaskan” jawab Mahisa Murti.

“Apa yang dapat kau jelaskan?” bertanya Ki Buyut. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Ki Buyut. Bukan maksudku untuk merusak satu anggapan tentang pusaka-pusaka itu. Aku menghormati benda-benda keramat itu. Justru karena itu, maka aku ingin mengatakan yang sebenarnya” Mahisa Murti berhenti sejenak, lalu, “sebenarnyalah aku ingin bertanya, kecuali yang mengenali aku pada saat wisuda, apakah ada yang pernah mengenali aku sebelumnya? Kami berdua pernah bermalam di banjar itu. Para peronda pada waktu itu telah menempatkan kami di serambi samping. Di malam hari kami telah mendapat makan hangat bersama seorang laki- laki tua”

Ki Buyut memandang anak-anak muda yang ada di pendapa itu. Kemudian iapun bertanya, “Siapa yang berada di banjar pada malam sebelum wisuda”

“Dua malam sebelum wisuda” potong Mahisa Pukat. Ternyata tidak seorangpun yang kebetulan berada di pendapa rumah Ki Buyut itu melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bermalam di banjar.

Karena itu, maka Ki Buyut berkata, “Tidak seorangpun yang pernah mengenalimu, kecuali pada malam wisuda”

“Baiklah Ki Buyut. Jika aku mengatakan sesuatu sama sekali bukan terdorong oleh satu sikap sombong. Tetapi kami berdua hanya ingin menempatkan persoalannya pada tempat yang sebenarnya”

“Apa yang ingin kau katakan?”desak Ki Buyut tidak sabar.

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya iapun mengatakan, apa yang telah dilakukannya. Ialah yang datang bersaudara laki-lakinya pada saat Kabuyutan itu di cengkam oleh sirep yang tajam. Ia lah yang membangunkan, para pengawal pada malam pertama, dan ia berdua pulalah yang telah melawan para perampok pada malam menjelang malam wisuda Sehingga dengan demikian, maka ceritera tentang dua orang anak muda yang merupakan ujud dari benda-benda keramat itu sama sekali tidak benar.

“Omong kosong” teriak seorang anak muda, “kau nampaknya benar-benar orang gila”

“Jangan menghina pusaka-pusaka itu” sahut anak muda yang lain.

“Ki Sanak” potong Mahisa Pukat, “sebaiknya Ki Sanak menghubungi para pengawal di malam perampokan yang pertama. Mereka tentu masih mengenal kami berdua”

“Itu adalah pekerjaan sia-sia” jawab seorang yang lain, “kalian memang pantas untuk dihukum dera sampai kalian jera”

“Aku berkata sebenarnya” Mahisa Murti menjelaskan. Sementara Mahisa Pukat menyambung, “cara yang paling baik adalah, kalian memanggil ampat orang pengawal yang terdahulu. Mereka melihat aku dan tentu merekapun mengenal aku. Juga para peronda di malam sebelumnya. Aku sudah bermalam di banjar itu”

“Omong kosong” teriak seorang anak muda yang kehilangan kesabaran, “kalian ternyata masih juga mengigau”

“Kami berkata sebenarnya” jawab Mahisa Pukat, “memang tidak ada cara lain, kecuali memanggil para pengawal itu. Biarlah mereka mengenali kita”

“Ada cara yang lebih baik” berkata seorang anak muda yang bertubuh raksasa, “jika kalian dapat menunjukkan kemampuan sebagaimana ditunjukkan oleh kedua anak muda itu, maka kami akan mempercayaimu. Kami akan mengundang para pengawal untuk membuktikan, apakah kalian benar-benar orang yang telah menyelamatkan pusaka-pusaka itu di dua malam berturut-turut”

“Sebenarnya cara itu tidak perlu” berkata Mahisa Murti, “karena menurut pendapatku, ada cara yang lebih baik, yaitu mengundang para pengawal. Bukankah mereka masih berada di Kabuyutan ini?”

“Persetan” bantah anak muda bertubuh raksasa itu, “kalian ingin mempermainkan kami. Sudah aku katakan, aku sendiri akan mengundang para pengawal itu, jika kalian mampu menunjukkan sebagian kecil saja dari kemampuan ujud dari benda-benda keramat iiu”

“Ki Sanak” berkata Mahisa Murti, “sebenarnya kami dapat meninggalkan Kabuyutan ini, apapun yang terjadi. Mungkin kalian akan mendapatkan satu kepercayaan yang sesat tentang benda-benda upacara itu. Aku tidak peduli. Tetapi aku tidak, dapat membiarkan Akuwu mempunyai dugaan seperti itu pula”

Ki Buyut merenungi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan saksama. Sebenarnyalah di dalam hatinya timbul keragu-raguan. Jika kedua anak-anak muda itu bukan dua orang anak muda yang berada di banjar melawan para perampok, apakah mereka berani menyebut dirinya seperti itu. Tetapi jika benar seperti apa yang dikatakannya, maka ujud kedua orang anak muda itu memang kurang meyakinkannya.

Dalam pada itu orang bertubuh raksasa itupun berkata, “Kau tidak perlu mengada-ada. Yang penting kau harus membuktikan kata-katamu. Melawan sejumlah perampok bukan pekerjaan yang dapat disebut begitu saja oleh setiap orang. Apalagi di malam kedua. Dua orang anak-anak muda telah berjuang tanpa orang lain untuk mematahkan perlawanan para perampok yang telah berhasil mengetrapkan ilmu sirep mereka yang sangat tajam. Dan kalian dengan tanpa malu-malu telah menyebut diri kalian sebagaimana dua orang anak muda itu”

“Kami hanya mengatakan yang sebenarnya” berkata Mahisa Pukat yang mulai panas, “tetapi jika kalian lebih senang menyebut bahwa dua orang anak muda itu merupakan ujud dari benda-benda upacara itu, terserahlah. Kami semula memang bermain-main dengan para perampok dan benda-benda upacara itu. Kami memang memberikan kesan yang demikian, meskipun pada malam pertama hal itu sama sekali tidak kami sengaja. Kami hanya akan menghindarkan diri dari keterlibatan lebih jauh. Sehingga karena itu, kami dengan diam-diam telah menyingkir. Namun ternyata telah timbul dugaan yang salah. Jika dugaan yang salah itu menjadi semakin berlarut-larut, maka kami berdua merasa ikut bersalah atas timbulnya kesan yang keliru itu”

“Omong kosong” bentak orang bertubuh raksasa itu, “kami hanya ingin kalian membuktikannya. Tidak hanya dengan banyak bicara saja”

“Bagaimana cara yang sebaik-baiknya untuk membuktikan seperti yang kau maksudkan?” bertanya Mahisa Pukat yang sudah tidak sabar lagi.

“Kalian harus mampu berbuat sebagaimana dilakukan oleh kedua orang anak-anak muda itu” jawab orang bertubuh raksasa.

“Mengalahkan sejumlah perampok itu? Kau maksudkan, perampok-perampok yang sudah tertangkap itu akan kau bawa kemari dan kami berdua harus bertempur melawan mereka?” bertanya Mahisa Pukat.

Tetapi Mahisa Murti cepat menyahut, “Daripada kalian membawa perampok-perampok itu kemari, lebih baik kalian menghubungi empat orang pengawal yang terdahulu untuk mengenali kami. Tanpa benturan kekerasan, tetapi maksud kalian sudah terpenuhi”

“Persetan” geram orang bertubuh raksasa itu, “aku tidak perlu memanggil para perampok itu. Jika salah seorang dari kalian berdua dapat mengalahkan aku, maka aku akan mempercayai kalian. Bahwa kalian memang pantas untuk menyebut diri kalian seperti yang kalian katakan”

Mahisa Pukat yang hampir kehilangan kesabarannya itu bergeser setapak. Tetapi Mahisa Murti nampaknya masih tetap berusaha menguasai diri. Katanya, “Apakah hal itu perlu? Sebenarnya aku lebih senang jika kalian memanggil para pengawal. Itu saja”

“Kau ulangi sampai seribu kali” bentak orang bertubuh raksasa itu, “aku akan membuktikannya”

Mahisa Murti memandang Ki Buyut sejenak. Kemudian katanya, “Segalanya terserah kepada kebijaksanaanKi Buyut”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Memang sulit untuk mengambil keputusan. Tetapi aku condong untuk memanggil empat orang pengawal itu, atau membawa kalian berdua menghadap mereka di banjar”

“Itu tidak perlu Ki Buyut” bantah orang bertubuh raksasa itu, “seolah-olah kita, isi dari Kabuyutan ini tidak dapat mengambil sikap sendiri. Kenapa kita harus tergantung sekali kepada para pengawal yang berada di banjar? Seolah-olah kita tidak mampu berbuat apa-apa hanya karena pokal anak-anak muda pemimpi ini”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “terserahlah kepadamu. Tetapi aku tidak ingin melihat pertumpahan darah. Jika kau merasa yakin akan pendapatmu, maka kau harus berhenti. Menang atau kalah”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar- debar. Tetapi jika cara itu yang harus mereka tempuh, maka mereka pun tidak akan berkeberatan.

Namun sebelum Mahisa Pukat menyatakan dirinya, Mahisa Murti telah mendahuluinya, “Baiklah. Aku akan melayanimu Ki Sanak”

Mahisa Pukat menggamit Mahisa Murti sambil berbisik, “Biar aku sajalah”

Tetapi Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Biarlah kau menyaksikan apa yang terjadi”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Mahisa Murti tidak ingin ia terseret arus perasaannya. Karena itu maka Mahisa Pukat pun tidak membantahnya lagi. Ia merasa bahwa Mahisa Murti lebih mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Dalam pada itu, maka Ki Buyut pun dengan hati yang berdebar-debar telah memberikan kesempatan orang bertubuh raksasa itu membuktikan, apakah benar-benar Mahisa Murti mampu menunjukkan kemampuannya sehingga ia dapat dipercaya, bahwa kedua anak muda itulah yang telah mereka sangka anak-anak muda yang menjadi ujud dari benda-benda keramat dalam upacara wisuda itu.

Sebenarnyalah halaman rumah Ki Buyut itupun telah dicengkam oleh ketegangan. Anak-anak muda dan orang- orang yang berada di halaman itu telah membentuk sebuah putaran yang akan menjadi arena perkelahian antara Mahisa Murti dan orang bertubuh raksasa itu. Orang yang merasa dirinya memiliki kekuatan dan kemampuan melampaui kawan-kawan dan tetangga-tetangganyadi Kabuyutan itu.

Sejenak orang bertubuh raksasa itu berdiri ter-mangu-mangu. Dihadapannya Mahisa Murti sudah siap melawannya. Meskipun nampaknya keadaan tubuh mereka tidak seimbang, namun pada wajah anak muda itu nampak sesuatu keyakinan yang mantap.

Ki Buyut berdiri di pinggir arena yang dilingkari oleh orang-orang yang ingin menyaksikan, apakah anak muda itu benar-benar memiliki kelebihan sebagaimana dikatakannya. Mereka telah mengenal bahwa orang bertubuh raksasa itu memang orang yang disegani di Kabuyutan itu.

Tetapi agaknya Ki Buyut tidak akan dapat mencegah orang bertubuh raksasa itu untuk menjajagi kemampuan Mahisa Murti. Karena itu, maka Ki Buyut itupun berkata didalam hatinya, “Biarlah orang itu sekali-kali mengenal kemampuan orang lain. Jika ia kalah, itu adalah satu pengalaman yang baik. Tetapi jika ia menang, maka agaknya anak muda itu benar-benar orang-orang yang sekedar mengaku-aku saja. Karena kemampuan anak-anak muda yang disebut sebagai ujud dari pusaka-pusaka itu benar-benar mengagumkan”

Demikianlah, maka kedua orang yang berada di arena itu pun sudah siap. Ki Buyut yang kemudian melangkah maju berkata, “Ingat. Aku tidak ingin kalian kehilangan akal. Yang akan terjadi adalah sekedar penjajakan. Jika salah satu pihak sudah mengaku kalah, maka perkelahian akan berakhir. Jika anak muda itu kalah, maka segala keterangannya dianggap tidak benar. Tetapi jika ia menang, maka ia akan menghadap Akuwu untuk menyatakan dirinya. Tetapi segalanya terserah kepada Akuwu. Apakah Akuwu percaya atau tidak, bukanlah persoalan kami”

“Baiklah Ki Buyut” sahut Mahisa Murti, “sebenarnyalah jika Ki Buyut membawa kami menghadap, maka kami tidak perlu melakukan penjajakan seperti ini. Kemudian terserah kepada Akuwu, apakah Akuwu percaya atau tidak”

“Tutup mulutmu” bentak orang bertubuh raksasa yang sudah merasa gatal, “Sudah aku katakan. Kalahkan aku sebelum kau dibawa menghadap Akuwu”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku sudah bersiap”

Nampaknya orang bertubuh raksasa itu sudah tidak sabar lagi. Iapun mulai bergeser. Kemudian mereka pun mulai berputar di tengah tengah arena.

Sesaat kemudian, maka orang bertubuh raksasa itu mulai menjulurkan tangannya, sekedar untuk memancing gerak Mahisa Murti.

Namun ternyata Mahisa Murti telah menanggapi dengan sikapnya yang khusus. Ia memang ingin mengganggu orang bertubuh raksasa itu. Karena itulah, maka ketika tangannya terjulur, diluar dugaan, Mahisa Murti telah menyerang tangan itu. Dengan pukulan sisi telapak tangannya, Mahisa Murti menghantam lengah orang bertubuh raksasa itu di atas pergelangannya, karena Mahisa Murti memang tidak ingin merusakkan pergelangan tangan raksasa itu.

Namun sentuhan sisi telapak tangan Mahisa Murti itu membuat tangan raksasa itu bagaikan patah. Terdengar ia mengaduh tertahan. Dengan loncatan panjang ia surut.

Sejenak orang itu berdiri termangu-mangu. Namun kemudian terdengar ia mengumpat sambil berkata, “Anak iblis. Kau telah berhasil mencuri serangan. Aku tidak menyangka bahwa kau ternyata sangat licik”

“Apa artinya licik menurut penilaianmu Ki Sanak” jawab Mahisa Murti, “Bukankah kau sudah mulai, dan aku menyerangmu dengan terbuka. Tidak dengan sembunyi- sembunyi atau dari belakang?”

Orang bertubuh raksasa itu menjadi semakin marah, sementara orang-orang yang menyaksikannya menjadi berdebar-debar.

Sejenak kemudian, orang bertubuh raksasa itupun tidak lagi sekedar memancing gerak lawannya. Tetapi ketika kemudian ia mendapat kesempatan, maka iapun telah benar-benar melantarkan serangan dengan kakinya.

Mahisa Murti melihat serangan itu. Karena itu, maka ia pun sempat menghindar. Tetapi orang bertubuh raksasa itu ternyata telah menarik serangannya. Kakinya yang terjulur itupun kemudian justru menjadi tumpuan kakinya yang lain berputar mendatar.

Serangan itu datang beruntun. Namun Mahisa Murti tidak menjadi bingung. Ia pun masih sempat meloncat menghindari serangan itu. Bahkan Mahisa Murti justru mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Agaknya Mahisa Murti memang memiliki kemampuan gerak yang sangat cepat. Tetapi ia tidak ingin bersungguh-sungguh menyakiti lawannya. Karena itu, demikian kaki orang bertubuh raksasa yang berputar itu menjejak tanah, tiba-tiba saja terasa tubuhnya terdorong oleh tenaga yang kuat pada punggungnya.

Orang bertubuh raksasa itu tiba-tiba saja telah kehilangan keseimbangannya. Sesaat ia terhuyung-huyung dan mencoba mempertahankan keseimbangannya. Namun akhirnya, ia benar-benar telah terjatuh terjerembab.

Orang-orang yang menyaksikannya menjadi berdebar-debar. Ketika orang itu bangkit, maka dibawah cahaya obor, orang-orang yang berkerumun itu melihat, betapa kemarahan telah membakar jantung.

“Kau anak iblis” geramnya, “kau menghendaki aku bersungguh-sungguh. Jika aku masih menaruh belas kasihan kepadamu, karena aku mengingat umurmu yang masih sangat muda. Tetapi ternyata bahwa kau tidak tahu diri. Kau anggap belas kasihanku itu sebagai satu kelemahan”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Agaknya orang itu memang tidak tahu diri. Karena itu, maka Mahisa Murti pun harus bersiap-siap untuk menghadapi kemarahannya yang tentu akan semakin memuncak.

“Aku harus berhati-hati” berkata Mahisa Murti didalam hatinya, “mungkin ia benar-benar kehilangan pengendalian diri”

Sebenarnyalah orang bertubuh raksasa itu tidak lagi mengendalikan dirinya. Ia telah bertempur dengan segenap kemampuannya. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun menjadi semakin mapan, karena kemampuan orang itu tidak banyak berarti baginya.

Tetapi Mahisa Murti memang tidak mau menyakiti tubuhnya dan tidak mau membuatnya semakin marah, karena itu, maka ia pun lebih banyak sekedar melayani tingkah laku lawannya yang marah itu. Seperti yang dikehendaki oleh Mahisa Murti, maka orang itupun akhirnya menjadi letih dengan sendirinya. Serangan-serangannya yang garang sama sekali tidak pernah mengenai sasarannya.

Betapa ia berloncatan dan mengayunkan tangan serta kakinya, namun lawannya bagaikan iblis yang tidak dapat disentuh oleh wadagnya. Bagaimanapun juga, kemampuan dan tenaga orang bertubuh raksasa itu memang terbatas. Karena itu, maka semakin ia mengerahkan tenaganya, maka kemampuannya itu pun menjadi semakin cepat larut bagaikan dihembus angin yang deras.

Akhirnya, kenyataan itu tidak dapat dihindarinya. Ketika ia menyerang dengan ayunan tangannya dan Mahisa Murti sekedar bergeser surut setapak sambil menarik dadanya, maka orang itu pun telah terhuyung-huyung terseret oleh ayunan tangan itu sendiri. Hampir saja ia jatuh terjerembab. Namun Mahisa Murti cepat menahannya.

“Gila” geramnya. Dengan sisa-sisa kekuatannya ia menyerang dengan kakinya. Tetapi karena kakinya tidak menyentuh sasaran, maka ia justru terputar tanpa dapat menguasai keseimbangannya lagi, sehingga sekali lagi Mahisa Murti harus menangkapnya.

Orang itu membentak kasar. Tetapi ia benar-benar sudah tidak berdaya lagi.

Ki Buyut yang menyaksikannya pun tersenyum. Ia melihat kelebihan pada anak muda yang mengaku telah membantu para pengawal melepaskan diri dari kesulitan menghadapi ilmu sirep yang sangat tajam itu.

“Sudahlah” berkata Ki Buyut, “kita hentikan permainan ini sampai disini”

“Aku akan membuatnya jera. Ia telah menyakiti hati kita semuanya” jawab orang bertubuh raksasa itu.

Tetapi Ki Buyut masih saja tersenyum sambil berkata, “Jangan bermimpi. Semua orang melihat, bahwa kau tidak mampu mengimbangi ilmunya. Itu pun aku melihat, bahwa anak muda itu belum mengerahkan segenap kemampuannya. Karena itu, biarlah kita pergi ke banjar. Kita berbicara dengan para pengawal atau dengan Akuwu sendiri yang esok pagi akan meninggalkan banjar ini. Aku sependapat dengan anak-anak muda ini, bahwa sebaiknya kesan tentang benda-benda berharga itu dikembalikan kepada yang sebenarnya. Namun segalanya masih harus diuji kebenarannya oleh Akuwu atau para Senopati kepercayaannya”

Beberapa orang yang berdiri di seputaran arena itu mengangguk-angguk. Mereka tidak melihat gunanya lagi untuk berbuat sesuatu atas anak-anak muda itu Segala-galanya terserah kepada keputusan Akuwu. seandainya Akuwu menganggap kedua anak muda itu bersalah atau justru berterima kasih kepada mereka.

Karena itu, maka Ki Buyut berkata, “Baiklah. Kita akhiri permainan kita disini. Kita akan pergi ke banjar”

Orang bertubuh raksasa itu tidak menyahut. Ia memang tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Dengan demikian, maka Ki Buyut pun kemudian telah membawa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang menyebut diri mereka bernama Pinta dan Soma ke banjar.

Orang-orang yang berkerumun di halaman banjar itu pun kemudian mengikutinya dalam iring-iringan yang semakin lama menjadi semakin panjang. Anak-anak muda di gardu- gardu yang melihat iring-iringan itu lewat dan bertanya apa yang mereka ikuti, maka jawaban orang-orang yang berada di dalam iring-iringan itu memang sangat menarik perhatian.

Hanya mereka yang sedang meronda sajalah yang kemudian tinggal di gardu-gardu. Sebenarnya mereka pun ingin mengikuti Ki Buyut ke banjar. Tetapi mereka tidak dapat meninggalkan Kabuyutan mereka tanpa pengawasan.

Kedatangan Ki Buyut ke Banjar memang mengejutkan. Beberapa pengawal dan peronda yang bertugas di luarpun segera ingin tahu, apa yang telah terjadi.

“Aku ingin menghadap Akuwu jika Akuwu berkenan” berkata Ki Buyut.

Salah seorang Senopati kepercayaan Akuwu yang sedang berada di banjar untuk mengawasi benda-benda berharga yang di keesokan harinya akan dibawa kembali oleh Akuwu itupun termangu-mangu.

Dengan curiga ia bertanya, “Apakah ada kepentingan yang sangat mendesak Ki Buyut?”

“Ya. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang barangkali penting sekali bagi Akuwu dan mungkin akan dapat merubah pendapat banyak orang tentang benda-benda keramat itu” berkata Ki Buyut kemudian.

Senopati itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Pendapat apakah yang Ki Buyut maksudkan?”

“Baiklah, aku akan mengatakannya kepada Akuwu” jawab Ki Buyut.

Senopati itu memaksa Ki Buyut untuk mengatakan sesuatu kepadanya. Tetapi ia pun kemudian pergi ke rumah di sebelah banjar itu untuk menghadap Akuwu yang ternyata belum juga tidur. Ia masih duduk berbincang dengan Senopati kepercayaannya yang seorang lagi.

Ketika Senopati itu mengatakan tentang maksud Ki Buyut, maka Akuwu itupun berkata, “Bagus sekali ki Buyut mau menemani aku berbincang. Persilahkan ia datang”

Senopati itupun kemudian mengajak Ki Buyut langsung menghadap Akuwu, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus menunggu di banjar, dibawah pengawasan beberapa orang pengawal dan para peronda

Namun dalam pada itu, seorang pengawal telah mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan ragu- ragu pengawal itu pun duduk di sebelah anak muda itu sambil bertanya, “Kenapa dengan kalian berdua?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berpaling ke arah pengawal itu. Segera keduanya mengenal bahwa pengawal itu adalah salah seorang dari empat pengawal yang berada di banjar itu sebelum kawan-kawannya datang.

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kemudian beringsut mendekati pengawal itu sambil bertanya, “He, bukankah kau pengawal yang malam itu mengawasi benda-benda keramat itu?”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia bertanya, “Malam yang manakah yang kau maksudkan?”

“Ketika sekelompok penjahat akan mengambil benda- benda upacara itu? Bukankah saat itu mereka telah menyebarkan sirep yang tajam, yang tidak terlawan oleh kalian?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya. Aku memang tidak dapat melawan sirep waktu itu” jawab pengawal itu.

“Dan kami berdua telah membangunkan para pengawal” berkata Mahisa Pukat pula.

“Kalian berdua? Apakah kalian berdua yang telah menolong kami?” bertanya pengawal heran.

“Ya. Apakah kau tidak ingat lagi?” bertanya Mahisa Murti.

Pengawal itu termangu-mangu. Tetapi yang disaksikannya pada waktu itu agak berbeda dengan lukisan angan-angannya. Pengawal itu menganggap bahwa ujud dua orang anak muda itu bukannya ujud wadag seperti kedua anak muda yang duduk di sebelahnya. Yang berbicara sebagaimana ia berbicara. Pengawal itu menganggap bahwa anak muda yang telah ikut bertempur pada malam itu adalah ujud-ujud semu yang tidak dapat disebutnya sebagai badan wantah seperti kebanyakan orang.

Ternyata bahwa anak-anak muda yang duduk disebelahnya itu mengaku, bahwa merekalah yang menolong para mengawal pada malam itu.

“Ya, ternyata kedua anak muda pada malam itu adalah kalian. Aku sudah terpaku terhadap benda-benda keramat itu sehingga aku telah lihat sesuatu yang tidak wajar”

Pengawal itu kemudian berpaling kepada orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang memang sedang memperhatikannya. Seolah-olah mereka memandanginya dengan heran.....

Bersambung.....!



****************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...