*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 10-03*
Sejenak kemudian, Ki Sarpa Kuning sendiri telah keluar pula. Ia pun mendekati orang yang tertidur itu. Sambil menyentuh tubuh orang itu Ki Sarpa Kuning bertanya, “He. kenapa kau tidur disitu”
Muridnya itu pun terbangun. Sambil bangkit ia pun menguap.
“Kenapa kau tidur disitu?” bertanya Ki Sarpa Kuning. “Udara panas sekali. Aku tidak tahan tidur di ruang yang pengab” jawab orang itu sambil mengusap matanya, “semalam aku pergi ke sungai. Tetapi aku segan masuk lagi ke dalam bilik itu. Ternyata aku dapat tidur nyenyak diluar”
Ki Sarpa Kuning mengerutkan keningnya. Tetapi ternyata ia tidak mencurigainya. Karena itu. maka katanya, “Bersiaplah”
“Apa yang lain sudah bangun pula?” bertanya orang itu. “Mereka sudah,bangun meskipun mereka masih ada dipembaringan. Kedua orang anak muda itu pun sudah bangun pula” jawab Ki Sarpa Kuning.
Murid Ki Sarpa Kuning itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan segera siap”
“Kita akan memanfaatkan waku sebaik-baiknya. Kita akan melakukan tugas kita di pagi hari. Siang nanti, biarlah Ki Sendawa mengadili kemanakanannnya itu” berkata Ki Sarpa Kuning.
“Baiklah” jawab muridnya, “aku akan pergi ke pakiwan”
Demikianlah murid Ki Sarpa Kuning itu pun segera bersiap-siap. Orang berkumis dan Gajah Wareng pun telah pergi ke pakiwan pula disusul oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dalam pada itu, ternyata Ki Sendawa pun telah bersiap pula Beberapa orang kepercayaannya pun telah berada idi halaman menunggu perintah.
Ki Sendawa yang kemudian berdiri di pendapa dengan tidak sabar menunggu kehadiran Ki Sarpa Kuning dengan murid-muridnya, yang baru sejenak kemudian telah naik kependapa itu pula.
Dalam kesempatan itu, murid Ki Sarpa Kuning yang telah mengunjungi menantu Ki Buyut telah memberitahukan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, tentang apa yang dilakukannya.
“Mudah-mudahan mereka telah bersiap menunggu kehadiran kita” desis Mahisa Pukat.
“Tetapi menantu Ki Buyut sebenarnyalah memang seorang yang lemah hati” jawab murid Ki Sarpa Kuning itu.
Sejenak kemudian, maka Ki Sarpa Kuning dan Ki Sendawa pun telah mengadakan pembicaraan yang bersungguh-sungguh. Nampaknya Ki Sarpa Kuning telah mendesak, agar segalanya segera diselesaikan dengan tuntas.
“Semakin lama persoalannya akan menjadi semakin berlarut-larut” berkata Ki Sarpa Kuning.
“Ya. Aku sependapat. Kita harus menyelesaikan dengan tuntas. Baru kemudian kita akan membuat laporan kepada Akuwu. Tentu Akuwu tidak akan menolak langkah-langkah yang sudah kita ambil” jawab Ki Sendawa.
Dengan demikian, maka aku pun akan segera dapat bekerja dengan tenang. Menebas hutan dan membuka satu padepokan di lereng bukit” berkata Ki Sarpa Kuning.
Demikianlah, sejenak kemudian orang-orang Ki Sendawa pun telah bersiap. Dikumpulkannya para pengikutnya. Hampir semua laki-laki yang masih muda telah ikut bersama mereka menuju ke padukuhan Ki Sanggarana. Bahkan mereka pun telah siap menghadapi para prajurit Ki Sanggarana apabila mereka harus mempergunakan kekerasan.
Karena di antara mereka terdapat Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya, maka para prajurit KI Sendawa itu merasa bahwa mereka tentu akan berhasil. Mereka tentu akan dapat menangkap menantu Ki Buyut dan jika para pengikutnya melawan maka mereka akan dihancurkannya.
“Jangan ragu-ragu” berkata Ki Sarpa Kuning meskipun mereka adalah saudara-saudara kalian, tetapi mereka telah merambah jalan yang salah. Kita akan membuat penyelesaian sebaik-baiknya. Tetapi jika mereka menolak, maka kita akan berbuat sesuatu yang akan dapat menegakkan kebenaran di Kabuyutan ini”
Ki Sendawa pun menjadi semakin mantap. Bersama Ki Sarpa Kuning, maka setiap kesulitan akan dapat diselesaikan, sementara upah yang dikehendaki oleh Ki Sarpa Kuning adalah sesuatu yang selama ini tidak pernah diperlukan. Hutan-hutan lebat di lereng pebukitan. Hutan yang dianggap daerah yang tidak berguna bagi orang-orang Talang Amba. Bahkan jika hutan itu dapat dijinakkan, mereka tidak akan diganggu lagi oleh binatang-binatang buas yang disaat-saat tertentu turun ke padesan.
Sebelum Ki Sendawa berangkat menuju ke tempat kemanakannya, maka ia telah memberikan beberapa pesan kepada para pengikutnya untuk meyakinkan bahwa langkah yang diambilnya itu adalah langkah yang paling baik bagi Kabuyutan Talang Amba.
Dalam pada itu, Ki Sarpa Kuning berkata pula kepada para pengikut Ki Sendawa itu, “Jika mereka memang menghendaki kekerasan, maka biarlah kami yang menyelesaikannya”
Demikianlah sejenak kemudian, maka Ki Sendawa pun telah memerintahkan orang-orangnya untuk mengikutinya ke padukuhan induk Kabuyutan Talang Amba.
Sebenarnyalah bahwa iring-iringan itu telah membuat penghuni padukuhan yang dilewatinya menjadi berdebar-debar. Setiap orang dengan tergesa-gesa telah masuk ke dalam rumah mereka dan menutup pintu. Bahkan ada beberapa orang yang dengan tergesa-gesa menutup pintu regol halaman rumah mereka.
Ki Sendawa sama sekali tidak menghiraukannya. Ia melihat pintu yang kemudian tertutup. Namun ia tidak menghiraukan, apakah yang menutup pintu itu laki-laki atau perempuan. Atau gadis-gadis atau anak-anak muda.
Sementara itu, iring-iringan, para pengikut Ki Sendawa itu lewat dengan langkah pasti, sebagai sekelompok prajurit yang maju ke medan perang. Apalagi orang-orang itu pun telah membawa senjata pula. Mereka bersiap-siap jika menantu Ki Buyut dan para pengikutnya akan menentang kehendak mereka.
Dalam pada itu, iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin mendekati padukuhan induk. Karena itu, maka Ki Sendawa pun kemudian menghentikan pasukannya di tengah-tengah bulak. Sekali lagi ia berpesan, bahwa yang mereka lakukan adalah langkah yang paling baik. Karena itu, jika terpaksa maka mereka akan mengambil sikap yang keras.
Mereka akan memaksa untuk membawa Ki Sanggarana yang telah bersalah, melakukan satu tindakan tercela. Dengan sengaja telah berusaha membunuh Ki Sendawa, pamannya sendiri dengan mempergunakan kekuatan tenung.
“Marilah” berkata Ki Sendawa, “kita berbuat dengan penuh keyakinan, bahwa kita akan berhasil. Kita adalah orang-orang yang dengan sepenuh hati mengabdikan diri kepada Kabuyutan ini, yang untuk beberapa saat lamanya berada di bawah kuasa orang-orang yang tidak berhak, yang justru telah dengan licik berhasil menguasai Kabuyutan ini.
Rasa-rasanya para pengikut Ki Sendawa itu pun menjadi semakin mantap. Mereka merasa bahwa mereka telah ikut serta dalam satu perjuangan untuk menegakkan kebenaran di Kabuyutan mereka.
Sesaat kemudian maka iring-iringan yang bersiaga sebagaimana sepasukan prajurit pergi ke medan perang itu telah bergerak pula langsung menuju ke padukuhan induk.
Sementara itu, Ki Sendawa dan orang-orang yang berada di dalam pasukannya menganggap bahwa langkah yang mereka ambil itu tidak akan banyak mengalami hambatan. Orang-orang yang bersikap lain dan berpihak kepada menantu Ki Buyut itu sama sekali tidak akan menghalangi mereka.
Kecuali karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi, mereka pun tidak akan mampu mencegahnya. Seandainya mereka bersiap dengan mengumpulkan setiap laki-laki di Kabuyutan Talang Amba, maka akibatnya justru akan menjadi semakin parah bagi mereka.
Demikianlah, maka iring-iringan itu mulai memasuki padukuhan induk Kabuyutan Talang Amha. Mereka mulai memasuki regol Kabuyutan yang ternyata sudah terbuka.
Tetapi sesuatu yang mengejutkan telah terjadi. Ki Sendawa yang melangkah di ujung iring-iringannya terkejut melihat jalan induk selewat mulut padukuhan itu.
Yang pertama-tama nampak oleh Ki Sendawa adalah sekelompok anak-anak muda yang berada di halaman rumah di sebelah regol padukuhan itu, Mereka tidak menghiraukan sama sekali iring-iringan yang memasuki padukuhan. Bahkan mereka seolah-olah tidak melihat Ki Sendawa yang berdiri keheranan di ujung iring-iringannya. Ketika iring-iringan itu memasuki regol, anak-anak itu tetap duduk bertebaran di halaman itu. Di antara mereka bersandar tiang-tiang pendapa, sementara yang lain bersandar pepohonan dan dinding halaman.
Ki Sendawa yang keheranan itu terhenti diluar sadarnya. Dengan wajah tegang ia memandangi anak-anak muda itu dengan jantung yang berdegup semakin cepat.
Namun dalam pada itu, Ki Sarpa Kuning mendekatinya sambil berdesis, “Apakah Ki Sendawa terpengaruh oleh sikap anak-anak gila itu?”
Ki Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara sendat ia berkata, “Terus terang, agaknya memang demikian”
Ki Sarpa Kuning mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian, lupakan saja apa yang telah kau lihat. Mereka tidak akan berarti apa-apa bagi kita. Jumlah mereka tidak terlalu banyak dibanding jumlah pengikut Ki Sendawa. Seandainya mereka ingin bersikap keras, maka anak-anakku akan dapat menyelesaikan mereka dengan cepat”
Ki Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian telah melanjutkan langkahnya menuju ke rumah menantu Ki Buyut yang dianggapnya telah menenungnya.
Ketika iring-iringan itu lewat, maka anak-anak muda yang berada di halaman itulah yang menarik nafas dalam-dalam. Seorang diantara mereka telah berdesis, “Jantungku hampir terlepas oleh ketegangan. Untunglah Ki Sendawa tidak mengambil sikap langsung terhadap kita”
“Aku juga menjadi berdebar-debar. Tetapi bukankah kita sudah siap menghadapi segala kemungkinan?” jawab kawannya.
“Aku mengerti. Tetapi kita adalah orang yang berada di paling depan. Jika terjadi benturan itu, maka kita akan menjadi orang pertama yang terjilat oleh api pertempuran ini” jawab yang pertama.
“Itu sudah kita ketahui. Tetapi kawan-kawan kita tentu tidak akan tinggal diam” jawab kawannya, “mereka sudah di persiapkan menghadapi segala kemungkinan”
Namun seorang yang duduk di sebelah mereka itu menyahut, “Kita bukan seorang prajurit. Kita tidak mampu mempermainkan senjata sebagaimana seharusnya. Aku sebenarnya juga berdebar-debar”
“Para pengikut Ki Sendawa adalah orang-orang yang juga seperti kita. Mereka adalah penghuni Kabuyutan ini pula. Mereka adalah petani-petani seperti kita. Mereka adalah orang-orang padesan. Bahkan seorang pamanku ternyata telah berpihak kepada Ki Sendawa” jawab yang lain.
Namun orang yang pertama menyahut, “Tetapi di antara mereka terdapat orang-orang upahan yang dapat berbuat jauh lebih berbahaya dari Ki Sendawa sendiri”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Tetapi kita tidak boleh membiarkan ketidak-adilan itu berlaku di Kabuyutan ini”
Yang lain pun mengangguk-angguk pula. Tetapi bagaimanapun juga mereka merasa cemas menghadapi kenyataan itu. Bahkan mereka mulai membayangkan apa yang akan terjadi.
“Tetapi bukankah kita sudah bertekad bulat?” tiba-tiba seseorang telah berdesis, “kitalah yang telah mendorong Ki Sanggarana untuk berdiri tegak menghadapi Ki Sendawa. Jika sekarang akibat seperti ini terjadi, kita harus ikut mempertanggung-jawabkannya”
Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak, namun mereka pun kemudian mengangguk-angguk. Bahkan seorang yang berkumis tipis dibawah hidungnya berkata, “Kita sudah siap, meskipun jantung kita berdegup semakin cepat. Akibat seperti inilah yang tidak dikehendaki oleh menantu Ki Buyut itu. Tetapi kita yang telah mendesaknya untuk melakukannya”
Anak-anak muda itu pun mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian berusaha untuk menemukan satu sikap yang selama ini telah mereka nyatakan kepada Ki Sanggarana. Bahkan di antara mereka pernah menganggap bahwa Ki Sanggarana adalah seorang yang berhati lemah.
Karena itu. betapapun mereka menjadi berdebar-debar, namun mereka berusaha untuk menunjukkan, bahwa mereka telah bertekad bulat untuk melawan Ki Sendawa. Kasar atau lembut.
Demikianlah Ki Sendawa itu pun meneruskan langkahnya bersama orang-orangnya. Para pengikutnya pun mulai di rayapi oleh perasaan gelisah. Meskipun di antara mereka terdapat Ki Sarpa Kuning bersama murid-muridnya, namun ternyata sikap anak-anak muda Talang Amba yang berpihak kepada Ki Sanggarana telah membuat mereka berdebar-debar
Apalagi ketika mereka sampai di tikungan. Jantung mereka menjadi semakin berdegupan. Ternyata di sebuah halaman di sudut tikungan itu. mereka melihat sekelompok anak-anak muda yang lain bertebaran. Sebagian duduk-duduk ditangga pendapa, yang lain berada di serambi gandok. Sekelompok yang lain berada di teritisan.
Seperti kelompok yang pertama mereka temui, anak-anak muda itu sama sekali tidak menghiraukan iring-iringan yang lewat di depan regol halaman. Mereka seolah-olah tidak melihat seorang pun lewat di sebelah mereka. Yang duduk tetap pada sikapnya. Yang berbincang tetap saja berbincang, sementara ada yang terkantuk-kantuk.
“Gila” geram Ki Sendawa.
“Jangan terpengaruh” berkata Ki Sarpa Kuning sambil tersebyum, “tidak ada yang aneh pada mereka. Mereka berusaha untuk mengatasi kekecutan hati dengan sikap yang aneh-aneh. Tetapi sebenarnyalah mereka dicengkam oleh kegelisahan yang tidak teratasi”
Ki Sendawa mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Sarpa Kuning benar. Seseorang yang ketakutan akan berusaha untuk berbuat dan bersikap tidak sewajarnya”
“Karena itu. marilah. Kita akan melakukan sesuai dengan rencana kita” berkata Ki Sarpa Kuning.
“Tetapi” berkata Ki Sendawa, “apakah mereka telah mengetahui rencana kita untuk mengambil Sanggarana?”
Pertanyaan itu telah menyentuh hati Ki Sarpa Kuning. Dengan dahi yang berkerut ia justru mengulangi pertanyaan itu, “Ya. Apakah mereka sudah mengetahui rencana kita sehingga mereka dengan sengaja telah mempersiapkan para pengikutnya?”
Namun sejenak kemudian Ki Sarpa Kuning itu tersenyum, “Seandainya mereka mengetahui rencana kita, apakah kita menjadi gentar dan mengurungkan niat kita?” Ki Sendawa mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian, “Tentu tidak. Kita akan melakukan sesuai dengan rencana kita yang telati kita sepakat bersama”
“Bagus” jawab Ki Sarpa Kuning. Lalu, “Kita akan menghadapi mereka meskipun mereka telah bersiap”
“Tetapi soalnya bukan sekedar menghadapi mereka” jawab Ki Sendawa, “bukankah dengan demikian berarti bahwa ada di antara kita yang berkhianat?”
Wajah Ki Sarpa Kuning menjadi tegang. Sambil mengangguk-angguk ia pun bergumam “Ya. Tentu ada yang berkhianat”
Kata-kata itu didengar oleh Murti dan Mahisa Pukat. Bahkan murid Ki Sarpa Kuning yang telah membocorkan rencana itu pun mendengarnya pula. Dengan demikian mereka pun menjadi berdebar-debar pula. Mungkin Ki Sarpa Kuning akan menghubungkan kebocoran itu dengan sikapnya semalam.
Namun dalam pada itu Ki Sarpa Kuning itu pun berkata, “Tetapi itu pun tidak mengherankan. Diantara sekian banyak orang pedukuhan Ki Sendawa, tentu ada orang yang tidak sependapat. Karena itu, pengkhianatan itu memang mungkin saja terjadi. Tetapi kita sudah siap menghadapi”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Meskipun demikian kegelisahan masih saja membayang di wajahnya.
Ternyata tidak hanya ada dua kelompok anak-anak muda yang bertebaran di halaman rumah di sebelah menyebelah jalan menuju ke rumah menantu Ki Buyut. Masih ada beberapa kelompok lagi anak-anak muda yang berada di halaman rumah. Bahkan ketika mereka menjadi semakin dekat dengan halaman, rumah Ki Sanggarana yang luas, mereka menemui sekelompok yang cukup besar dari anak-anak muda yang nampaknya berpihak kepada menantu Ki Buyut itu.
Tetapi sebelum Ki Sendawa berkata sesuatu, Ki Sarpa Kuning telah mendahului, “Menyenangkan sekali. Aku dan murid-muridku tidak akan tanggung-tanggung lagi bekerja hari ini”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Namun ia masih tetap gelisah. Bagaimanapun juga, jumlah anak-anak muda itu jauh melampui jumlah para pengikutnya yang sedang bersamanya saat itu”
Dalam pada itu, maka iring-iringan itu akhirnya telah sampai ke regol rumah Ki Sanggarana. Rumah yang mempunyai halaman yang cukup luas.
Namun dalam pada itu, baik Ki Sendawa maupun Ki Sarpa Kuning merasa heran. Ternyata bahwa dihalaman rumah itu tidak terdapat anak-anak muda yang berkelompok atau bertebaran sebagaimana terdapat di beberapa halaman dipinggir jalan yang mereka lalui.
Dalam pada itu, para pengikut Ki Sendawa pun menjadi saling bertanya. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka hadapi. Sikap anak-anak muda Talang Amba yang menjadi pengikut menantu Ki Buyut itu telah mengherankan mereka.
“Jangan ragu-ragu” berkata Ki Sarpa Kuning, “kita memasuki halaman rumahnya. Apa pun yang terjadi, kita sudah siap kasar atau halus. Cara yang mana yang akan dipilih oleh menantu Ki Buyut itu.
Ki Sendawa pun mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa orang-orang Talang Amba yang berpihak kepada menantu Ki Buyut itu lebih banyak daripada yang berpihak kepadanya. Tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya. Dengan kekerasan ia akan dapat merubah keadaan. Orang-orang yang semula berpihak kepada menantu Ki Buyut itu tidak akan dapat berbuat apa-apa jika ternyata menantu Ki Buyut itu sudah ditangkap. Sedangkan apabila ia dan para pengikutnya akan melawan, maka akibatnya justru akan menjadi lebih buruk lagi baginya.
Untuk beberapa saat Ki Sendawa termangu-mangu di regol halaman. Namun akhirnya ia pun mendorong pintu regol dan melangkah memasuki halaman.
Halaman rumah itu memang sepi. Tidak ada anak-anak muda yang berjaga-jaga atau tidak ada kesan bahwa menantu Ki Buyut itu sudah mempersiapkan sesuatu yang dapat dipergunakannya untuk berlindung.
“Terasa suasana yang aneh” berkata Ki Sendawa, “agaknya Sanggarana memang belum mengetahui apa yang akan terjadi atas dirinya”
“Tetapi bagaimana dengan anak-anak muda itu?” bertanya salah seorang kepercayaannya.
Ki Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang ke arah Ki Sarpa Kuning, maka Ki Sarpa Kuning itu pun berkata, “Tahu atau tidak tahu. Bukan masalah bagi kita”
Ki Sendawa mengangguk-angguk. Namun kemudian katarya, “Mungkin kebiasaan anak-anak muda itu sudah berlangsung sejak lama. Sejak mereka membantu Sanggarana untuk melontarkan tenungnya. Mereka di setiap padukuhan yang berpihak kepadanya telah membuat api semalam suntuk sesaat sebelum diketemukan benda-benda aneh di rumah.
“Sekarang panggil anak itu” geram Ki Sarpa Kuning yang tidak sabar.
Ki Sendawa pun mengangguk-angguk. Dipandanginya pendapa yang sepi. Seketheng yang masih tertutup dan gandok yang kosong.
Namun sejenak kemudian terdengar suara Ki Sendawa lantang, “Sanggarana. He, Sanggarana. Ini aku datang”
Tidak terdengar jawaban. Rumah itu menjadi sesepi kuburan.
“Sanggarana. He, Sanggarana.” Ki Sendawa itu pun berteriak.
Namun tidak seorang pun yang nampak keluar dari pintu rumah yang masih saja tertutup
“Gila” geram Ki Sendawa, “aku akan mencarinya ke dalam”
“Jangan” cegah Ki Sarpa Kuning, “mungkin anak itu sengaja memancingmu”
Ki Sendawa menjadi ragu-ragu. Namun sekali lagi ia berteriak, “He, Sanggarana. Ini aku pamanmu”
Tetapi rumah itu benar-benar kosong. Tidak ada seorang pun yang menanggapi suara Ki Sendawa yang bergetar oleh debar jantungnya.
“Jadi apakah kita akan tetap berteriak-teriak disini tanpa melihat ke dalam rumah itu?” tiba-tiba saja Ki Sendawa bertanya.
Ki Sarpa Kuning mengerutkan keningnya Rumah itu agaknya memang kosong Meskipun demikian ia tetap mencegah agar Ki Sendawa tidak memasuki rumah itu
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja dari seketheng sebelah kiri, seseorang menjengukkan kepalanya. Dengan wajah ketakutan ia memandang ke halaman rumah yang penuh para pengikut Ki Sendawa.
Hampir berteriak Ki Sendawa dan beberapa orang yang melihat orang yang menjengukkan kepalanya itu berkata, “He, ternyata ada orang di rumah ini”
Orang yang menjengukkan kepalanya itu masih berdiri di tempatnya. Ia tidak beranjak ketika seorang kepercayaan Ki Sendawa mendekatinya, “He, kau penghuni rumah ini?”
Orang itu termangu-mangu. Tetapi tiba-tiba aja kepercayaan Ki Sendawa itu justru menariknya dengan kasar sambil membentak, “Kau tinggal di rumah ini?”
Orang itu terlempar beberapa langkah keluar seketheng. Hampir saja ia jatuh terbanting. Namun ia masih berhasil bertahan meskipun terhuyung-huyung.
“Jawab” teriak kepercayaan Ki Sendawa itu, “kau penghuni rumah ini?”
“Ya, ya Ki Sanak” jawab orang itu, “aku ikut tinggal di rumah ini bersama Ki Sanggarana”
“Dimana Ki Sanggarana sekarang?” bertanya kepercayaan Ki Sendawa itu.
Orang itu nampaknya ragu-ragu untuk menjawab. Namun kepercayaan Ki Sendawa itu telah mencengkam pundaknya sambil membentak, “jawab. Dimana Ki Sanggarana sekarang?”
Orang itu menjadi gemetar. Namun kemudian jawabnya, “Ki Sangarana berada di banjar”
“Di banjar?” kepercayaan Ki Sendawa itu mengulang, “untuk apa ia pergi ke banjar?”
Orang yang gemetar itu tidak segera menjawab. Sementara kepercayaan Ki Sendawa itu bertanya pula
“Dimana isterinya? Apakah ia berada di rumah?”
“Tidak” orang itu semakin gemetar, “mereka memang tidak ada di rumah”
“Bohong” teriak kepercayaan Ki Sendawa itu, “di mana mereka sekarang, he? Bersembunyi? Jika kau berbohong, aku pilin lehermu sampai patah” geram kepercayaan Ki Sendawa yang garang itu.
“Aku berkata sebenarnya” jawab orang yang ke takutan itu.
Kepercayaan Ki Sendawa itu menggeram. Sejenak kemudian ia pun berpaling kearah Ki Sendawa. Dengan suara lantang ia bertanya, “Apakah kita begitu saja mempercayainya?”
Sendawa termangu-mangu sejenak. Namun Ki Sarpa Kuninglah yang menjawab, “Kita akan melihat, apakah ia berada di rumah atau tidak. Mungkin Ki Sanggarana itu hanya bersembunyi saja di kolong-kolong amben di biliknya atau di atas kandang”
“Kita akan menggeledah rumahnya” berkata kepercayaan Ki Sendawa itu.
“Ya” baru Ki Sendawa menyahut, “lihat semua ruang di rumah itu”
Kepercayaan Ki Sendawa itu pun kemudian memerintahkan para pengikut Ki Sendawa untuk dengan serentak memasuki rumah itu dan mencari apakah Ki Sanggarana ada di rumah. Sementara yang lain telah diperintahkannya untuk mengepung rumah itu, agar tidak seorang pun yang dapat ke luar atau memasuki halaman meskipun meloncati dinding.
Sejenak kemudian, maka para pengikut Ki Sendawa itu pun telah mengambur memasuki rumah Ki Sanggarana Mereka telah memasuki setiap ruangan dan memeriksa setiap sudut. Kolong-kolong amben pun mereka singkapkan sementara yang lain telah naik keatas kandang untuk melihat, apakah Ki Sanggarana bersembunyi di atas kandang itu.
Tetapi tidak seorang pun yang menjumpai Ki Sanggarana atau pun isterinya. Rumah itu benar-benar kosong. Selain orang yang menjengukkan kepalanya lewat seketheng dan yang kemudian telah memberitahukan bahwa Ki Sanggarana ada di banjar, di rumah itu sama sekali tidak dijumpai seorang pun juga.
Dengan geram para pengikut Ki Sendawa itu pun kemudian telah melaporkan apa yang mereka jumpai di rumah itu Mereka tidak menemukan Ki Sanggarana atau isterinya. Bahkan orang lain pun tidak ada di rumah itu pula.
Kepercayaan Ki Sanggarana yang jengkel itu pun kemudian mengguncang tubuh orang yang ditemuinya di seketheng itu sambil berkata, “Marilah. Ikut kami ke banjar. Jika kami tidak menemukan Ki Sanggarana di banjar, maka kau akan menjadi korhan tipu muslihatmu sendiri”
Wajah orang itu menjadi pucat. Katanya kemudian, “Aku mendapat perintah Ki Sanggarana untuk menunggui rumahnya. Karena itu aku tidak berani meninggalkan halaman ini”
“Persetan” geram kepercayaan Ki Sanggarana itu sambil mencengkam leher orang itu, “kau harus ikut kami atau kau akan kami bantai disini”
“Jangan. Jangan sakiti aku” pinta orang itu dengan memelas.
Tetapi kepercayaan Ki Sendawa itu sama sekali tidak menjadi belas kasihan. Bahkan ia bersikap semakin garang terhadap orang itu. Sambil mendorongnya ia berkata lantang, “Cepat. Lakukan perintahku. Ikuti kami pergi ke banjar. Jika orang yang kau katakan itu tidak terdapat di banjar, maka kau akan menjadi sasaran kemarahan kami.
Orang itu menjadi gemetar. Tetapi ia tidak dapat menolak untuk mengikuti iring-iringan itu pergi ke banjar.
Demikianlah, maka Ki Sendawa dan Ki Sarpa Kuning pun telah memutuskan untuk pergi ke Banjar. Dengan suara berat Ki Sarpa Kuning berkata, “Kita harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Mungkin menantu Ki Buyut itu memang sudah mengetahui bahwa kita akan datang pagi ini. Karena itu, .maka ia telah pergi mengungsi. Sementara itu di banjar telah terdapat pula anak-anak muda sebagaimana kita lihat berada dipinggir jalan itu”
Ki sendawa mengangguk-angguk. Ia pun kemudian memerintahkan kepada para pengikutnya agar mereka bersiap-siap menghadapi pertempuran yang mungkin terjadi. Menurut perhitungannya, Ki Sanggarana memang sengaja menunggunya di banjar sambil menyiapkan anak-anak muda yang berpihak kepadanya.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Sendawa dan Ki Sarpa Kuning bersama para pengikutnya telah pergi ke banjar. Orang yang mereka tangkap di rumah Ki Sanggarana itu pun mereka iring dipaling depan.
Dengan tubuh gemetar orang itu berjalan sambil” sekali-sekali berpaling kearah Ki Sendawa, Ki Sarpa Kuning atau kepercayaan Ki Sendawa yang telah menangkapnya.
Tetapi kepercayaan Ki Sendawa itu selalu membentak nya dan mendorongnya untuk berjalan terus.
Demikianlah, maka iring-iringan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan banjar Kabuyutan di padukuhan induk itu. Banjar yang menjadi pusat kegiatan penghuni padukuhan induk itu.
Dalam pada itu, maka orang-orang yang tinggal di pinggir jalan telah menutup pintu rumah mereka. Tidak seorang pun yang berani berada di jalan ketika iring-iringan Ki Sendawa itu lewat.
Karena itu, padukuhan itu terasa menjadi sepi. Halaman-halaman menjadi lengang, dan tidak ada seorang pun yang berjalan di jalan padukuhan itu.
Namun yang mendebarkan jantung, sekali lagi iring-iringan itu melihat sekelompok anak-anak muda di halaman rumah di sudut simpang jalan. Mereka pun sama sekali tidak menghiraukan ketika iring-iringan itu lewat, seolah-olah mereka tidak melihatnya.
Tetapi selagi orang-orang dalam iring-iringan itu termangu-mangu, Ki Sarpa Kuning berkata lantang, “Jangan hiraukan mereka sebagaimana mereka tidak menghiraukan kalian”
Para pengikut Ki Sendawa itu menggeretakkan giginya. Mereka mencoba untuk tidak menghiraukan anak-anak muda yang duduk dihalaman.
Dengan demikian maka iring-iringan itu berjalan terus. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan banjar Kabuyutan. Mereka tidak lagi menghiraukan, jika mereka melihat anak-anak muda yang duduk di halaman rumah, atau di kebun-kebun yang kosong.
Mereka telah membulatkan tekad mereka untuk menghadapi apa pun juga di banjar Kabuyutan. Mereka sama sekali tidak gentar menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Demikianlah maka akhirnya iring-iringan itu mendekati regol banjar Kabuyutan. Ki Sendawa yang menggiring orang yang mereka temukan di halaman rumah Ki Sanggarana berada di paling depan. Di sebelah Ki Sendawa, Ki Sarpa Kuning berjalan sambil menengadahkan kepalanya.
Namun iring-iringan itu menjadi termangu-mangu Ketika mereka melihat, bahwa di banjar Kabuyutan itu keadaannya jauh berbeda dari keadaan rumah Ki Sanggarana. Ternyata di banjar itu terdapat beberapa kelompok kecil anak-anak muda. Mereka bergerombol di beberapa tempat diluar regol halaman banjar. Namun ada beberapa kelompok lagi yang duduk-duduk di dalam regol halaman banjar.
Ki Sarpa Kuning melihat keragu-raguan yang mulai merayapi lagi perasaan orang-orang yang mengikuti Ki Sendawa. Sikap para pengikut Ki Sanggarana benar-benar telah mengguncang jantung mereka.
Namun dalam pada itu, Ki Sarpa Kuning itu pun berkata lantang tanpa menghiraukan para pengikut Ki Sanggarana, “Apakah kalian masih tetap pada sikap dan pendirian kalian? Nah, jika demikian, marilah. Kita sudah sampai pada langkah terakhir dari kerja kita”
Orang-orang yang mengikuti Ki Sendawa itu pun saling berpandangan sejenak. Namun ketika mereka melihat wajah Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya yang nampaknya tetap tenang, maka mereka pun menjadi semakin mantap.
“Nah” berkata Ki Sarpa Kuning, “Kita lakukan niat kita. Kita tangkap menantu Ki Buyut yang licik itu.
Ki Sendawa pun kemudian menggeretakkan giginya, la mencari kekuatan di dalam dirinya. Kemudian dengan langkah tetap ia melangkah memasuki regol halaman banjar Kabuyutan.
Demikian Ki Sendawa memasuki regol, maka para pengikutnya pun telah mengikutinya pula. Dengan demikian maka halaman banjar itu pun telah dipenuhi oleh para pengikut Ki Sendawa, sementara anak-anak muda yang berada di halaman itu masih tetap berada di tempatnya.
Namun dalam pada itu, kedatangan para pengikut Ki Sendawa bersama Ki Sarpa Kuning dengan murid-muridnya itu telah mendebarkan para pengikut Ki Sanggarana. Meskipun dalam sikap mereka, seolah-olah mereka acuh tak acuh saja atas kedatangan iring-iringan itu. namun sebenarnyalah bahwa mereka pun menjadi sangat gelisah.
Sementara itu, ketika Ki Sendawa telah berada di depan tangga pendapa banjar, maka ia pun telah bertanya kepada orang yang mengatakan bahwa Ki Sanggarana berada di banjar, “Nah, sekarang tunjukkan. Dimana Ki Sanggarana”
“Ia berada di banjar” jawab orang itu.
Sementara itu, kepercayaan Ki Sendawa telah mengguncangnya sambil membentak, “Tunjukkan. Dimana orang itu sekarang”
Orang-orang yang sejak semula berada di halaman itu menjadi semakin berdebar-debar. Orang yang mengguncang tubuh tanpa mengekang diri itu adalah seorang pengikut Ki Sendawa. Orang itu adalah orang Talang Amba sebagaimana dikenal oleh banyak orang. Namun sikapnya memang mendebarkan jantung.
Orang yang diketemukan di halaman rumah Ki Sanggarana itu pun menjadi gemetar. Dengan suara sendat ia berkata, “Yang mengatakan bahwa menantu Ki Buyut itu berada di banjar adalah ia sendiri”
“Ya, sekarang orang itu ada dimana” bentak kepercayaan Ki Sendawa itu semakin keras.
Orang yang ditanya itu menjadi semakin gemetar. Dipandanginya halaman rumah itu. Namun ia tidak melihat menantu Ki Buyut.
Anak-anak muda yang berada dihalaman itu menjadi semakin gelisah. Mereka memang mendapat pesan untuk tidak mengambil sikap sebelum mereka mendapat isyarat. Apa pun yang terjadi, mereka harus tetap berada di tempat, atau bergeser menepi. Tetapi mereka tidak boleh mengambil satu tindakan tertentu.
Disamping pesan itu, sebenarnyalah anak-anak muda itu memang dihinggapi satu kecemasan, bahwa Ki Sarpa Kuning dan murid-muridnya akan dapat melakukan kekerasan dan tidak akan terlawan.
Sementara itu, kepercayaan Ki Sendawa itu masih juga membentak-bentak sambil mengguncang tubuh orang yang diketemukannya di halaman rumah Ki Sanggarana, “Tunjukkan dimana menantu Ki Buyut itu bersembunyi. Jika kau tidak mau menunjukkan, atau kau memang membohongi kami dan berusaha menjebak kami, maka kau adalah orang yang pertama yang akan terbunuh disini”
“Tidak. Aku tidak berbohong. Aku mengatakan sebenarnya sebagaimana dikatakan oleh Ki Sanggarana.
Jika ia tidak ada disini, maka bukan akulah yang berbohong. Tetapi menantu Ki Buyut itulah yang membohongi aku dan akibatnya, kalian pun telah dibohonginya pula” jawab orang itu.
“Setan alas” tiba-tiba kepercayaan Ki Sendawa itu mencekiknya sehingga orang itu mengaduh tertahan.
Wajah anak-anak muda yang ada di halaman banjar itu menjadi tegang. Tetapi seperti yang dipesankan, sebelum ada isyarat apa pun juga, mereka tidak boleh bertindak. Bahkan seandainya isyarat itu mereka lihat juga, hati mereka menjadi sangat berdebar-debar melihat Ki Sendawa dan para pengikutnya bersama murid-muridnya.
Sementara itu, satu dua orang yang melihat satu diantara murid Ki Sarpa Kuning itu menjadi semakin tegang. Orang itu adalah orang yang semalam mereka lihat.
“Peran apakah yang sebenarnya dilakukan” bertanya anak-anak muda itu di dalam hatinya.
Meski pun mereka sudah menduga, bahwa orang itu mempunyai niat yang baik, tetapi mereka yang tidak tahu sama sekali tentang dirinya, bertanya-tanya juga di dalam hati.
Sementara itu, suasana benar-benar menjadi tegang. Apalagi ketika kemudian di luar regol itu menjadi semakin banyak anak-anak muda yang mengalir dari beberapa penjuru. Mereka yang sudah melihat kehadiran Ki Sendawa dengan para pengikutnya memasuki padukuhan induk, telah mendapat perintah untuk berkumpul didepan halaman banjar Kabuyutan.
Ki Sarpa Kuning yang menyadari, bahwa ternyata para pengikut Ki Sanggarana sudah siap menerima kedatangan Ki Sendawa, telah bersiap-siap pula. Bahkan ia pun telah berbisik kepada Gajah Wareng, “Hati-hatilah. Suruhlah anak-anak itu bersiap. Mungkin kita benar-benar akan bertempur”
Gajah Wareng berpaling kepada murid-murid Ki Sarpa Kuning yang lain. Namun ia pun mengangguk kecil ketika murid-murid Ki Sarpa Kuning itu pun mengangguk pula.
Namun dalam pada itu, kepercayaan Ki Sendawa agaknya sudah tidak sabar lagi. Orang yang membawa mereka ke banjar itu pun telah diguncang-guncangnya sambil mencekik lehernya dan berteriak, “Cepat. Katakan, dimana menantu Ki Buyut itu. Kalau kau tidak menjawab dan tidak dapat menunjukkannya, maka kau akan aku cekik sampai mati”
“Jangan” teriak orang itu. Lalu ia pun berteriak pula, “He, Ki Sanggarana. Apakah kau benar-benar berada di banjar ini?”
Sejenak halaman itu dicengkam oleh keheningan. Seolah-olah setiap orang menunggu jawaban yang akan mereka dengar dari pintu banjar yang terbuka.
Sebenarnyalah, setiap jantung telah berdegup semakin keras. Yang keluar dari pintu itu bukan sebuah teriakan nyaring, tetapi justru menantu Ki Buyut itu telah melangkah keluar dengan langkah ragu.
“Nah” desis orang yang sedang dicekik itu, “itulah orang yang kau cari. Bukankah ia benar-benar berada di banjar ini”
Orang itu pun perlahan-lahan telah dilepaskan. Dengan wajah yang garang, kepercayaan Ki Sendawa itu memandang menantu Ki Buyut yang berdiri di pendapa.
Dalam pada itu. ketegangan benar-benar telah mencengkam. Semua orang memandang menantu Ki Buyut itu dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan. Baik orang-orang yang datang bersama Ki Sendawa, maupun para pengikut Ki Sanggarana itu sendiri.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja terdengar suara menantu Ki Buyut itu, “Paman Sendawa. Selamat datang di banjar Kabuyutan ini?”
Pertanyaan itu membingungkan Ki Sendawa. Hampir diluar sadarnya ia mengumpat.
Namun dalam pada itu, Ki Sanggarana itu bertanya lebih lanjut, “Paman, apakah kepentingan paman datang ke banjar ini bersama dengan para pengikut paman?”
Ki Sarpa Kuning yang berdiri di sebelah Ki Sendawa berdesis perlahan, “Katakan terus terang, apakah keperluan kita datang kemari”
Ki Sendawa memandang kemanakannya yang berdiri tegak di pendapa itu. Baru sejenak kemudian ia berkata, “Sanggarana. Ketahuilah, bahwa aku benar-benar datang pagi ini. Aku kira kau sudah mengetahuinya, menilik persiapan yang telah kau lakukan untuk menyambut ke datangan kami”
Wajah Ki Sanggarana itu pun berkerut. Namun kemudian ia mengangguk-angguk. Katanya, “Kami tidak tahu pasti apa yang akan terjadi. Tetapi seorang yang berada di sawah melihat iring-iringan yang datang ke induk padukuhan ini”
“Omong kosong. Kau tidak akan sempat membuat persiapan yang demikian rapi. Tetapi aku tidak peduli. Mungkin kau sudah mengetahui pula bahwa aku datang untuk menangkapmu. Mengadilimu dan memberikan hukuman kepadamu, karena kau sudah berusaha membunuh aku”
Ki Sanggarana mengerutkan keningnya. Dengan ragu ia bertanya, “Apa yang sudah aku lakukan untuk membunuh paman?”
“Jangan berpura-pura. Kau sudah menenungku. Kau persiapkan semua orang yang dapat kau pengaruhi dengan janji-janji yang tidak akan mungkin kau penuhi. Semalam suntuk mereka menyalakan api, sementara itu kau sudah menyuruh seseorang melontarkan tenung kepadaku dengan dukungan sikap orang-orangmu. Tetapi untunglah bahwa tenungmu sama sekali tidak berarti bagiku. Meskipun demikian usaha pembunuhan itu harus dicegah. Kau harus ditangkap” berkata Ki Sendawa.
“Paman” jawab menantu Ki Buyut, “jangan asal saja menuduh. Sebenarnya sampai hari ini aku belum pernah mengambil sikap apa pun yang dapat diartikan menentang kehendak paman. Meskipun paman tentu merasa, bahwa aku telah memusuhi paman”
“Jangan ingkar” teriak Ki Sendawa, “apa pun yang kau katakan, aku mempunyai banyak saksi bahwa di rumahku ada Benda benda yang terlontar oleh kekuatan”
Ki Sanggarana menarik nafas dalam-dalam. Namun sebenarnyalah bahwa ia memang merasa telah melakukan satu langkah yang dikatakan oleh Ki Sendawa meskipun bukan satu kekuatan tenung.
Dalam pada itu, maka terdengar Ki Sendawa itu pun melanjutkan kata-katanya, “Sanggarana. Kau harus mempertanggung-jawabkan tingkah lakumu. Aku datang untuk menangkapmu”
Wajah menantu Ki Buyut itu menjadi tegang. Katanya, “Paman. Kita akan dapat menempuh jalan yang paling baik untuk memecahkan persoalan kita. Bukan cara seperti yang paman tempuh sekarang”
“Aku tidak melihat jalan lain” berkata Ki Sendawa, “menurut pendapatku. jalan ini adalah jalan yang paling adil. Kau telah mencoba membunuhku. Dan percobaan pembunuhan itu merupakan satu kejahatan yang harus dihukum. Apalagi menilik alasan pembunuhan yang akan kau lakukan itu adalah karena kau ingin merebut kedudukanku”
“Paman jangan asal saja menuduh” berkata Ki Sanggarana, “tetapi sebaiknya kita mempergunakan cara yang paling baik bagi keluarga manusia untuk memecahkan persoalannya. Kita bukan penghuni belantara yang buas yang tidak mengenal peradaban. Yang hanya mengenal kekerasan dan kekuatan”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar